Anda di halaman 1dari 19

UPAYA PEMBERANTASAN

Upaya pemberantasan penyakit demam berdarah


dengue dilaksanakan dengan cara tepat guna oleh
pemerintah dengan peran serta masyarakat yang
meliputi : (1) pencegahan, (2) penemuan,
pertolongan dan pelaporan, (3) penyelidikan
epidemiologi dan pengamatan penyakit demam
berdarah dengue, (4) penanggulangan seperlunya,
(5) penanggulangan lain dan (6) penyuluhan.

1. PENCEGAHAN

Pencegahan dilaksanakan oleh masyarakat di


rumah dan Tempat umum dengan melakukan
Pemberantasan sarang Nyamuk (PSN) yang
meliputi:

a. menguras tempat penampungan air sekurang-


kurangnya seminggu sekali, atau menutupnya
rapat-rapat.
b. Mengubur barang bekas yang dapat menampung
air
c. Menaburkan racun pembasmi jentik (abatisasi)
d. Memelihara ikan
e. Cara-cara lain membasmi jentik.

2. PENEMUAN, PERTOLONGAN DAN


PELAPORAN

penemuan, pertolongan dan pelaporan penderita


penyakit demam berdarah dengue dilaksanakan
oleh petugas kesehatan dan masyarakat dengan
cara-cara sbb:

a. Keluarga yang anggotanya menunjukkan gejala


penyakit demam berdarah dengue memberikan
pertolongan pertama (memberi minum banyak,
kompres dingin dan dan obat penurun panas yang
tidak mengandung asam salisilat) dan dianjurkan
segera memeriksakan kepada dokter atau unit
pelayanan kesehatan.
b. Petugas kesehatan melakukan pemeriksaan,
penentuan diagnosa dan pengobatan/perawatan
sesuai dengan keadaan penderita dan wajib
melaporkan kepada puskesmas.
c. Kepala keluarga diwajibkan segera melaporkan
kepada lurah/kepala desa melalui kader, ketua
RT/RW, Ketua Lingkungan/Kepala Dusun.
d. Kepala asrama, ketua RT/RW, Ketua Lingkungan,
Kepala Dusun yang mengetahui adanya
penderita/tersangka diwajibkan untuk melaporkan
kepada Puskesmas atau melalui lurah/kepala desa.
e. Lurah/Kepala Desa yang menerima laporan, segera
meneruskannya kepada puskesmas.
f. Puskesmas yang menerima laporan wajib
melakukan penyelidikan epidemiologi dan
pengamatan penyakit.

3. PENGAMATAN PENYAKIT DAN


PENYELIDIKAN EPIDEMIOLOGI

a. pengamatan penyakit dilaksanakan oleh


Puskesmas yang menemukan atau `
menerima laporan penderita tersangka
untuk:
1) Memantau situasi penyakit demam berdarah
dengue secara teratur sehingga kejadian luar biasa
dapat diketahui sedini mungkin
2) Menentukan adanya desa rawan penyakit demam
berdarah dengue.

b. Penyelidikan epidemiologi dilaksanakan oleh


petugas kesehatan dibantu oleh masyarakat, untuk
mengetahui luasnya penyebaran penyakit dan
langkah-langkah untuk membatasi penyebaran
penyakit sebagai berikut:
1) Petugas Puskesmas melakukan penyelidikan
epidemiologi.
2) Keluarga penderita dan keluarga lain disekitarnya
membantu kelancaran pelaksanaan penyelidikan.
3) Kader, Ketua RT/RW, Ketua lingkungan, Kepala
Dusun, LKMD, membantu petugas kesehatan
dengan menunjukkan rumah penderita/tersangka
dan mendampingi petugas kesehatan dalam
pelaksanaan penyelidikan epidemiologi.

c. Kepala Puskesmas melaporkan hasil penyelidikan


epidemiologi dan adanya kejadian luar biasa
kepada Camat dan Dinas Kesehatan Dati II,
disertai rencana penanggulangan seperlunya.
4. PENANGGULANGAN SEPERLUNYA

a. Penanggulangan seperlunya dilakukan oleh petugas


kesehatan dibantu oleh masyarakat untuk
membatasi penyebaran penyakit.

b. Jenis kegiatan yang dilakukan disesuaikan


dengan hasil penyelidikan epidemiologi sebagai
berikut:
1) Bila:
- ditemukan penderita/tersangka demam berdarah
dengue lainnya

atau
- ditemukan 3 atau lebih penderita panas tanpa sebab
yang jelas dan ditemukan jentikdilakukan
penyemprotan insektisida (2 siklus interval 1
minggu) disertai penyuluhan di rumah
penderita/tersangka dan sekitarnya dalam radius 200
meter dan sekolah yang bersangkutan bila
penderita/tersangka adalah anak sekolah.

2) Bila terjadi Kejadian Luar Biasa atau wabah, dilakukan


penyemprotan insektisida (2 siklus dengan interval 1
minggu) dan penyuluhan di seluruh wilayah yang
terjangkit.

3) Bila tidak ditemukan keadaan seperti di atas, dilakukan


penyuluhan di RW/Dusun yang bersangkutan.

c. Langkah Kegiatan
1) Pertemuan untuk
musyawarah masyarakat
desa dan
RW/Lingkungan/Dusun
2) Penyediaan tenaga untuk pemeriksa jentik dan
penyuluhan untuk dilatih
3) Pemantauan hasil pelaksanaan di tiap
RW/lingkungan/Dusun.
Penularan dan masa inkubasi

a. Vektor DBD

Virus Dengue ditularkan dari orang ke orang


melalui gigitan nyamuk Aedes (Ae). Ae aegypti
merupakan vektor epidemi yang paling utama, namun
spesies lain seperti Ae.albopictus, Ae.polynesiensis
dan Ae. niveus juga dianggap sebagai vektor sekunder.
Kecuali Ae.aegypti semuanya mempunyai daerah
distribusi geografis sendiri-sendiri yang terbatas.
Meskipun mereka merupakan host yang sangat baik
untuk virus dengue, biasanya mereka merupakan
vektor epidemi yang kurang efisien dibanding
Ae.aegypti.

Nyamuk Ae.aegypti

Nyamuk penular dengue ini terdapat hampir di seluruh


pelosok Indonesia, kecuali di tempat-tempat dengan
ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan
laut.
b. Siklus penularan

Nyamuk Aedes betina biasanya terinfeksi virus


dengue pada saat dia menghisap darah dari seseorang yang
sedang dalam fase demam akut (viraemia) yaitu 2 hari
sebelum panas sampai 5 hari setelah demam timbul.
Nyamuk menjadi infektif 8-12 hari sesudah mengisap
darah penderita yang sedang viremia (periode inkubasi
ekstrinsik) dan tetap infektif selama hidupnya Setelah
melalui periode inkubasi ekstrinsik tersebut, kelenjar ludah
nyamuk bersangkutan akan terinfeksi dan virusnya akan
ditularkan ketika nyamuk tersebut menggigit dan
mengeluarkan cairan ludahnya ke dalam luka gigitan ke
tubuh orang lain. Setelah masa inkubasi di tubuh manusia
selama 3 - 4 hari (rata-rata selama 4-6 hari) timbul gejala
awal penyakit secara mendadak, yang ditandai demam,
pusing, myalgia (nyeri otot), hilangnya nafsu makan dan
berbagai tanda atau gejala lainnya.

Viremia biasanya muncul pada saat atau


sebelum gejala awal penyakit tampak dan berlangsung
selama kurang lebih lima hari. Saat-saat tersebut
penderita dalam masa sangat infektif untuk vektor
nyamuk yang berperan dalam siklus penularan, jika
penderita tidak terlindung terhadap kemungkinan
digigit nyamuk. Hal tersebut merupakan bukti pola
penularan virus secara vertikal dari nyamuk-nyamuk
betina yang terinfeksi ke generasi berikutnya.
Siklus penularan penyakit DBD

c. Masa inkubasi
Infeksi Dengue mempunyai masa inkubasi
antara 2 sampai 14 hari, biasanya 4-7 hari.

d. Host
Virus dengue menginfeksi manusia dan
beberapa spesies dari primata rendah. Tubuh manusia
adalah reservoir utama bagi virus tersebut, meskipun
studi yang dilakukan di Malaysia dan Afrika
menunjukkan bahwa monyet dapat terinfeksi oleh virus
dengue sehingga dapat berfungsi sebagai host
reservoir.

Semua orang rentan terhadap penyakit ini, pada


anak-anak biasanya menunjukkan gejala lebih ringan
dibandingkan dengan orang dewasa. Penderita yang
sembuh dari infeksi dengan satu jenis serotipe akan
memberikan imunitas homolog seumur hidup tetapi
tidak memberikan perlindungan terhadap terhadap
infeksi serotipe lain dan dapat terjadi infeksi lagi oleh
serotipe lainnya.
5. Faktor Risiko Penularan Infeksi Dengue

Beberapa faktor yang berisiko terjadinya penularan


dan semakin berkembangnya penyakit DBD adalah
pertumbuhan jumlah penduduk yang tidak memiliki pola
tertentu, faktor urbanisasi yang tidak berencana dan
terkontrol dengan baik, semakin majunya sistem
transportasi sehingga mobilisasi penduduk sangat mudah,
sistem pengelolaan limbah dan penyediaan air bersih yang
tidak memadai, berkembangnya penyebaran dan kepadatan
nyamuk, kurangnya sistem pengendalian nyamuk yang
efektif, serta melemahnya struktur kesehatan masyarakat.
Selain faktor-faktor lingkungan tersebut diatas status
imunologi seseorang, strain virus/serotipe virus yang
menginfeksi, usia dan riwayat genetik juga berpengaruh
terhadap penularan penyakit.

METODE PENGENDALIAN VEKTOR

Pengendalian vektor adalah upaya menurunkan


faktor risiko penularan oleh vektor dengan meminimalkan
habitat perkembangbiakan vektor, menurunkan kepadatan
dan umur vektor, mengurangi kontak antara vektor dengan
manusia serta memutus rantai penularan penyakit

Metode pengendalian vektor DBD bersifat spesifik


lokal, dengan mempertimbangkan faktorfaktor lingkungan
fisik (cuaca/iklim, permukiman, habitat
perkembangbiakan); lingkungan sosial-budaya
(Pengetahuan Sikap dan Perilaku) dan aspek vektor.
Pada dasarnya metode pengendalian vektor DBD
yang paling efektif adalah dengan melibatkan peran serta
masyarakat (PSM). Sehingga berbagai metode
pengendalian vektor cara lain merupakan upaya pelengkap
untuk secara cepat memutus rantai penularan.

Berbagai metode PengendalianVektor (PV) DBD, yaitu:


- Kimiawi
- Biologi
- Manajemen lingkungan
- Pemberantasan Sarang Nyamuk/PSN
- Pengendalian Vektor Terpadu (Integrated Vector
Management/IVM)

1. Kimiawi

Pengendalian vektor cara kimiawi dengan


menggunakan insektisida merupakan salah satu metode
pengendalian yang lebih populer di masyarakat
dibanding dengan cara pengendalian lain. Sasaran
insektisida adalah stadium dewasa dan pra-dewasa.
Karena insektisida adalah racun, maka penggunaannya
harus mempertimbangkan dampak terhadap lingkungan
dan organisme bukan sasaran termasuk mamalia.
Disamping itu penentuan jenis insektisida, dosis, dan
metode aplikasi merupakan syarat yang penting untuk
dipahami dalam kebijakan pengendalian vektor.
Aplikasi insektisida yang berulang di satuan ekosistem
akan menimbulkan terjadinya resistensi serangga
sasaran.
Sasaran dewasa (nyamuk) adalah : Organophospat
(Malathion, methyl pirimiphos), Pyrethroid
(Cypermethrine, lamda-cyhalotrine, cyflutrine,
Permethrine & S-Bioalethrine). Yang ditujukan
untuk stadium dewasa yang diaplikasikan dengan
cara pengabutan panas/Fogging dan pengabutan
dingin/ULV. senyawa kimia yang digunakan yaitu
malathion dan fenthion.
Sasaran pra dewasa (jentik) : Organophospat
(Temephos).

Definisi dan Bentuk Fogging


Fogging merupakan salah satu kegiatan
penanggulangan DBD (Demam Berdarah Dengue) yang
dilaksanakan pada saat terjadi penularan DBD melalui
penyemprotan insektisida daerah sekitar kasus DBD yang
bertujuan memutus rantai penularan penyakit. Sasaran
fogging adalah rumah serta bangunan dipinggir jalan yang
dapat dilalui mobil di desa endemis tinggi.
Cara ini dapat dilakukan untuk membunuh nyamuk
dewasa maupun larva. Pemberantasan nyamuk dewasa tidak
dengan menggunakan cara penyemprotan pada dinding
(resisual spraying) karena nyamuk Aedes aegypti tidak suka
hinggap pada dinding, melainkan pada benda-benda yang
tergantung seperti kelambu pada kain tergantung.
Fogging dilaksanakan dalam bentuk yaitu :
a) Fogging Fokus
Adalah pemberantasan nyamuk DBD dengan cara
pengasapan terfokus pada daerah tempat ditemukannya
tersangka / penderita DBD.
b) Fogging Massal
Adalah kegiatan pengasapan secara serentak dan
menyeluruh pada saat terjadi KLB DBD.

Tata Laksana Fogging


a) Fogging dilaksanakan sebanyak 2 putaran dengan
interval minggu oleh petugas dalam radius 200 meter
untuk penanggulangan fokus dan untuk penanggulangan
fokus untuk KLB meliputi wilayah yang dinyatakan
sebahai tempat KLB DBD.

b) Fogging dilaksanakan oleh petugas kesehatan atai pihak


swasta yang telah menjadi anggota IPPHAMI (Ikatan
Perusahaan Pengendalian Hama Indonesia) dan harus
mendapat rekomendasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten
/ Kota. Selain itu khusus untuk fogging fokus dapat
dilakukan oleh masyarakat dengan tenaga terlatih
dibawah pengawasan Puskesmas yang telah memperoleh
izin dari Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota.

Peralatan dan Bahan Fogging


Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam kegiatan fogging,
yaitu :
a) Alat yang dipakai swing fog SN 1 untuk bangunan dan mesin
ULV (Ultra Low Volume) untuk perumahan.
b) Malathion dalam campuran solar dosis 438 g/ha. (500 ml
malathion 96% technical grade/ha). Malathion adalah bahan
teknis pestisida yang dapat diemulsikan untuk mengendalikan
nyamuk Aedes Aegypti, culex, dan anopheles di dalam dan
diluar ruangan. Malathion termasuk golongan organofosfat
parasimpatometik, yang berkaitan irreversibel dengan enzim
kolinesterase pada sistem saraf serangga. Akibatnya otot tubuh
serangga mengalami kejang, kemudian lumpuh dan akhirnya
mati. Malathion digunakan dengan cara pengasapan
(Kasumbogo, 2004).
c) Untuk pemakaian di rumah tangga dipergunakan berbagai
jenis insektisida yang disemprotkan kedalam kamar atau
ruangan misalnya, golongan Organofosfat adalah insektisida
yang paling toksik diantara jenis pestisida lainnya dan sering
menyebabkan keracunan pada orang. Termakan hanya
dalamjumlah sedikit saja dapat menyebabkan kematian, tetapi
diperlukan beberapa milligram untuk dapat menyebabkan
kematian pada orang dewasa. Organofosfat menghambat aksi
pseudokholinesterase dalam plasma dan sel darah merah dan
pada sinapsisnya (Darmono, 2003). Insektisida dari kelompok
piretroid merupakan insektisida sintetik yang merupakan
tiruan (analog) dari piretrium. Insektisida piretroid

merupakan racun yang mempengaruhi syaraf serangga (racun


syaraf) dengan berbagai macam cara kerja pada susunan syaraf
sentral (Djojosumarto, 2008). Piretroid adalah racun syaraf
yang bekerja dengan cepat dan menimbulan paralis yang
bersifat sementara. Efek piretroid sama dengan DDT tetapi
piretroid memiliki efek tidak persisten.

Persyaratan Penggunaan Fogging


Adapun syarat-syarat untuk melakukan fogging, yaitu :
a) Adanya pasien yang meninggal disuatu daerah akibat DBD.
b) Tercatat dua orang yang positif yang terkena DBD di daerah
tersebut.
c) Lebih dari tiga orang di daerah yang sama mengalami demam
dan adanya jentik-jentik nyamuk Aedes Aegypti.
Apabila ada laporan DBD di rumah sakit atau Puskesmas di
suatu daerah, maka pihak rumah sakit harus segera melaporkan
dalam waktu 24 jam, setelah itu akan diadakan penyelidikan
epidemiologi kemudian baru fogging fokus.
Hal Yang Perlu Dipertimbangkan Dalam Melakukan Fogging
a) Konsentrasi bahan fogging
Konsentasi bahan yang digunakan harus mengacu pada label,
karena bila dosis yang digunakan tidak tepat akan
menimbulkan kerugian, tidak hanya dari segi biaya dan efikasi
pengendalian tetapi juga berpengaruh terhadap keamanan
manusia itu sendiri serta lingkungannya (magallona, 1980).
b) Arah dan kecepatan angin
Dalam melakukan fogging, arah angin harus diperhatikan.
Kecepatan akan berpengaruh terhadap pengasapan di luar
ruangan. Untuk diluar ruangan space spray berkisar 1-4
m/detik atau sekitar 3,6-15 km/jam. Angin diperlukan untuk
membawa asap masuk kedalam celah-celah bangunan, namun
jika terlalu

kencang maka asap akan cepat hilang terbawa angin.


Pengasapan harus berjalan mundur melawan arah angin
sehingga asap tidak menganai petugas fogging.
c) Suhu
Suhu adalah keadaan udara yang akan mempengaruhi
pengasapan. Pengasapan diluar ruangan pada waktu tengah
hari atau pada suhu tinggi akan sia-sia karena asap akan
menyebar keatas, bukan kesamping sehingga pengasapan tidak
maksimal. Oleh sebab itu fogging sebaiknya dilakukan pada
pagi hari atau sore hari.

d) Waktu
Waktu fogging harus disesuaikan dengan puncak aktivitas
nyamuk Aedes aegypti yang aktif mencari mangsa pada pagi
hari sekitar pukul 07.00-10.00, dan sore hari sekitar pukul
14.00-17.00.
Dampak Pelaksanaan Fogging
Bahan yang digunakan dalam fogging merupakan jenis
insektisida untuk membunuh serangga dalam hal ini adalah
nyamuk. Insektisida tersebut merupakan racun yang dapat
mematikan jasad hidup, maka dalam penggunaannya harus lebih
bersikap hati-hati.
Fogging tidak hanya memberikan dampak positif dalam
pengandalian nyamuk Aedes aegypti namun disisi lain juga
menghasilkan dampak negatif terhadap lingkungan dan
kesehatan masyarakat, misalnya pencemaran air, tanah, udara,
terbunuhnya organisme non target, dan resiko bagi orang, hewan
dan tumbuhan (Djojosumarto, 2008).
Dampak kesehatan
a) Iritasi pada kulit
Tidak menimbulkan iritasi pada kulit tikus setelah 3 kali
aplikasi 500 mg/kg yang dibalut rapat dan yang dilakukan
secara bergantian.
b) Sensitisasi
Metil Pirimiphos tidak menimbulkan sensitiser kulit dan dibuktikan
dengan uji Stevens pada marmut.
c) Inhalasi
Tikus dapat terpengaruh terhadap uap Metil Pirimiphos selama 6
jam sehari, 5 hari seminggu selama 3 minggu.
Dampak terhadap tanah
Metil Pirimiphos tidak terikat pada tanah. Dalam berbagai jenis
tanah, akan terurai dalam waktu kurang dari sebulan. Metil
Pirimiphos memiliki mobilitas terbatas dalam tanah.
Dampak terhadap air
Metil Pirimiphos cepat terdegradasi dalam air, terutama oleh
hydrolisis dengan hilangnya rantai samping gugus phosphorothioate
ester. Proses ini akan lebih cepat 50% dibawah cahaya matahari
selama sehari.

Larvasiding
Larvasiding adalah pemberantasan jentik dengan bahan
kimia dengan menaburkan bubuk larvasida. Pemberantasan jentik
Aedes sp. dengan bahan kimia terbatas untuk wadah (peralatan)
rumah tangga yang tidak dapat dimusnahkan, dibersihkan,
dikurangi atau diatur. Dalam jangka panjang penerapan kegiatan
larvasiding sulit dilakukan dan mahal. Kegiatan ini tepat
digunakan apabila surveilans penyakit dan vektor menunjukkan
adanya periode berisiko tinggi dan di lokasi dimana wabah
mungkin timbul. Menentukan waktu dan tempat yang tepat untuk
pelaksanaan larvasiding sangat penting untuk memaksimalkan
efektifitasnya.
Terdapat 2 jenis larvasida yang dapat digunakan pada
wadah yang dipakai untuk menampung air minum (TPA) yakni:
temephos (Abate 1%) dan Insect growth regulators (pengatur
pertumbuhan serangga)

Kegiatan larvasiding meliputi:


Abatisasi selektif
Abatisasi selektif adalah kegiatan pemeriksaan tempat
penampungan air (TPA) baik didalam maupun diluar rumah pada
seluruh rumah dan bangunan di desa atau kelurahan endemis dan
sporadik dan penaburan bubuk abate (larvasida) pada TPA yang
ditemukan jentik dan dilaksanakan 4 kali setahun. Pelaksana
abatisasi adalah kader yang telah dilatih oleh petugas Puskesnas.
Tujuan pelaksanaan abatisasi selektif adalah sebagai tindakan
sweeping hasil penggerakan masyarakat dalam PSN-DBD.
Abatisasi massal
Abatisasi massal adalah penaburan abate atau altosid
(larvasida) secara serentak diseluruh wilayah atau daerah tertentu
disemua TPA baik terdapat jentik maupun tidak ada jentik di seluruh
rumah atau bangunan. Kegiatan abatisasi massal ini dilaksanakan
dilokasi terjadinya KLB DBD. Dalam kegiatan abatisasi massal
masyarakat diminta partisipasinya untuk melaksanakan
pemberantasan Aedes sp. di wilayah masing-masing. Tenaga diberi
latihan sebelum melaksanakan abatisasi.

2. Biologi

Pengendalian vektor biologi menggunakan agent biologi


seperti predator/pemangsa, parasit, bakteri, sebagai musuh alami
stadium pra dewasa vektor DBD. Jenis predator yang digunakan
adalah Ikan pemakan jentik (cupang, tampalo, gabus, guppy, dll),
sedangkan larva Capung, Toxorrhyncites, Mesocyclops dapat juga
berperan sebagai predator walau bukan sebagai metode yang lazim
untuk pengendalian vektor DBD.

Jenis pengendalian vektor biologi :


Parasit : Romanomermes iyengeri
Bakteri : Baccilus thuringiensis israelensis
Golongan insektisida biologi untuk pengendalian DBD
(Insect Growth Regulator/IGR dan Bacillus Thuringiensis
Israelensis/BTi), ditujukan untuk stadium pra dewasa yang
diaplikasikan kedalam habitat perkembangbiakan vektor.

Insect Growth Regulators (IGRs) mampu menghalangi


pertumbuhan nyamuk di masa pra dewasa dengan cara
merintangi/menghambat proses chitin synthesis selama masa jentik
berganti kulit atau mengacaukan proses perubahan pupae dan nyamuk
dewasa. IGRs memiliki tingkat racun yang sangat rendah terhadap
mamalia (nilai LD50 untuk keracunan akut pada methoprene adalah
34.600 mg/kg ).

Bacillus thruringiensis (BTi) sebagai pembunuh jentik


nyamuk/larvasida yang tidak menggangu lingkungan. BTi terbukti
aman bagi manusia bila digunakan dalam air minum pada dosis
normal. Keunggulan BTi adalah menghancurkan jentik nyamuk tanpa
menyerang predator entomophagus dan spesies lain. Formula BTi
cenderung secara cepat mengendap di dasar wadah, karena itu
dianjurkan pemakaian yang berulang kali. Racunnya tidak tahan sinar
dan rusak oleh sinar matahari.

3. Manajemen lingkungan

Lingkungan fisik seperti tipe pemukiman, sarana-prasarana


penyediaan air, vegetasi dan musim sangat berpengaruh terhadap
tersedianya habitat perkembangbiakan dan pertumbuhan vektor DBD.
Nyamuk Aedes aegypti sebagai nyamuk pemukiman mempunyai
habitat utama di kontainer buatan yang berada di daerah pemukiman.
Manajemen lingkungan adalah upaya pengelolaan lingkungan
sehingga tidak kondusif sebagai habitat perkembangbiakan atau
dikenal sebagai source reduction seperti 3M plus (menguras, menutup
dan memanfaatkan barang bekas, dan plus: menyemprot, memelihara
ikan predator, menabur larvasida dll); dan menghambat pertumbuhan
vektor (menjaga kebersihan lingkungan rumah, mengurangi tempat-
tempat yang gelap dan lembab di lingkungan rumah dll).

4. Pemberantasan Sarang Nyamuk / PSN-DBD

Pengendalian Vektor DBD yang paling efisien dan efektif


adalah dengan memutus rantai penularan melalui pemberantasan
jentik. Pelaksanaannya di masyarakat dilakukan melalui upaya
Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN-
DBD) dalam bentuk kegiatan 3 M plus. Untuk mendapatkan hasil
yang diharapkan, kegiatan 3 M Plus ini harus dilakukan secara
luas/serempak dan terus menerus/berkesinambungan. Tingkat
pengetahuan, sikap dan perilaku yang sangat beragam sering
menghambat suksesnya gerakan ini. Untuk itu sosialisasi kepada
masyarakat/ individu untuk melakukan kegiatan ini secara rutin serta
penguatan peran tokoh masyarakat untuk mau secara terus menerus
menggerakkan masyarakat harus dilakukan melalui kegiatan promosi
kesehatan, penyuluhan di media masa, serta reward bagi yang
berhasil melaksanakannya.

a. Tujuan
Mengendalikan populasi nyamuk Aedes aegypti, sehingga penularan
DBD dapat dicegah atau dikurangi.

b. Sasaran
Semua tempat perkembangbiakan nyamuk penular DBD :
Tempat penampungan air (TPA) untuk keperluan sehari-hari
Tempat penampungan air bukan untuk keperluan sehari-hari (non-TPA)
Tempat penampungan air alamiah

c. Ukuran keberhasilan
Keberhasilan kegiatan PSN DBD antara lain dapat diukur dengan
Angka Bebas Jentik (ABJ), apabila ABJ lebih atau sama dengan 95%
diharapkan penularan DBD dapat dicegah atau dikurangi.

d. Cara PSN DBD


PSN DBD dilakukan dengan cara 3M-Plus, 3M yang dimaksud
yaitu:
Menguras dan menyikat tempat-tempat penampungan air, seperti bak
mandi/wc, drum, dan lain-lain seminggu sekali (M1)

Menutup rapat-rapat tempat penampungan air, seperti gentong


air/tempayan, dan lain-lain (M2)

Memanfaatkan atau mendaur ulang barang-barang bekas yang dapat


menampung air hujan (M3).

Selain itu ditambah (plus) dengan cara lainnya, seperti:


Mengganti air vas bunga, tempat minum burung atau tempat-tempat
lainnya yang sejenis seminggu sekali.

Memperbaiki saluran dan talang air yang tidak lancar/rusak


Menutup lubang-lubang pada potongan bambu/pohon, dan lain-lain
(dengan tanah, dan lain-lain)

Menaburkan bubuk larvasida, misalnya di tempat-tempat yang sulit


dikuras atau di daerah yang sulit air

Memelihara ikan pemakan jentik di kolam/bak-bak penampungan air


Memasang kawat kasa
Menghindari kebiasaan menggantung pakaian dalam kamar
Mengupayakan pencahayaan dan ventilasi ruang yang memadai
Menggunakan kelambu
Memakai obat yang dapat mencegah gigitan nyamuk
Cara-cara spesifik lainnya di masing-masing daerah.
Keseluruhan cara tersebut diatas dikenal dengan istilah dengan 3M-
Plus.

e. Pelaksanaan
1) Di rumah
Dilaksanakan oleh anggota keluarga.
2) Tempat tempat umum
Dilaksanakan oleh petugas yang ditunjuk oleh pimpinan atau
pengelola tempat tempat umum.

5. Pengendalian Vektor Terpadu (Integrated Vektor Management)

IVM merupakan konsep pengendalian vektor yang diusulkan


oleh WHO untuk mengefektifkan berbagai kegiatan pemberantasan
vektor oleh berbagai institusi. IVM dalam pengendalian vektor DBD
saat ini lebih difokuskan pada peningkatan peran serta sektor lain
melalui kegiatan Pokjanal DBD, Kegiatan PSN anak sekolah dll.