Anda di halaman 1dari 12

PENINGKATAN NILAI TAMBAH MINERAL DAN BATUBARA DI INDONESIA

Dibuat Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Nilai


Pada Mata Kuliah Kebijakan Mineral

Disusun Oleh :

Nama NIM
Muhammad Amiruddin Nurullah 712215208
Oktri Winanggih 711216192
Ficco Ardiansyah 711216186

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN


SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NASIONAL
YOGYAKARTA
2017
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya
makalah yang berjudul " Peningkatan Nilai Tambah Mineral Dan Batubara Di Indonesia". Atas
dukungan moral yang diberikan dalam penyusunan makalah ini, maka penulis mengucapkan
banyak terima kasih kepada Bapak Mustapa Ali Mohamad, S.T, M.T, selaku dosen pengampu
pada mata kuliah Kebijakan Mineral.

Penulis menyadari bahwa makalah ini belumlah sempurna. Oleh karena itu, saran dan
kritik yang membangun dari rekan-rekan sangat dibutuhkan untuk penyempurnaan makalah
ini.

Yogyakarta, Juni 2017

Penulis

2
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sesuai dengan pasal 102 dan pasal 103 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2010 tentang
Pertambangan Mineral dan Batubara, yang kemudian dijabarkan dalam Peraturan Pemerintah
Nomor 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan
Batubara, maka pemegang IUP Operasi Produksi, IUPK Operasi Produksi, dan IUP Operasi
Produksi khusus pengolahan dan pemurnian wajib melakukan peningkatan nilai tambah
terhadap mineral atau batubara yang diproduksinya. Ketentuan ini langsung mengikat bagi
mereka yang akan berinvestasi di bidang pertambangan mineral dan batubara, serta diberi
kesempatan lima tahun kepada perusahaan yang sedang berjalan (existing) setelah Undang-
undang Nomor 4 Tahun 2009 diberlakukan.

Upaya untuk meningkatkan nilai tambah mineral dan batubara ternyata dihadapkan
kepada tantangan yang cukup besar, meskipun tetap memberikan harapan bagi terealisasinya
kedua peraturan di atas. Tantangan ini tidak saja akan dihadapi oleh perusahaan, tetapi juga
pemerintah. Tantangan terbesar pemerintah adalah bagaimana menyiapkan infrastruktur, fisik
dan nonfisik, yang dirasakan masih minim, sehingga perusahaan memperoleh jaminan terhadap
investasi yang ditanamkan untuk peningkatan nilai tambah. Sedangkan tantangan perusahaan
yang cukup krusial adalah "merekonstruksi" investasi yang akan ditanamkan berikut
keuntungan yang akan diperoleh

1.2 Maksud dan Tujuan

Maksud dari penyusunan makalah ini adalah agar mahasiswa dapat lebih aktif dalam
mempelajari materi yang didapatkan dikampus, sedangkan tujuannya sendiri antara lain :

1. Memahami tujuan peningkatan nilai tambah mineral


2. Mengetahui tantangan yang dihadapi dalam melakukan peningkatkan nilai tambah mineral
di Indonesia

3
BAB II PEMBAHASAN

2.1 Penerapan UU Minerba

Sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan


Mineral dan Batubara, pengolahan dan pemurnian mineral harus dilakukan di dalam negeri,
sehingga terjadi peningkatan nilai tambah dan pengendalian produksi komoditas mineral.
Pemerintah akan terus mengawal dan mengawasi pelaksanaan kebijakan peningkatan nilai
tambah ini. Kebijakan peningkatan nilai tambah ini diterapkan bukan tanpa dasar dan tujuan
yang jelas. Isu yang berkembang beberapa tahun belakangan ini adalah tingginya ekspor bahan
baku hasil tambang yang seolah-olah menjual tanah air, sehingga dikhawatirkan ketersediaan
bahan baku tidak akan mencukupi kebutuhan industri-industri sektor hilir di dalam negeri.

Adapun tujuan dari Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan


Mineral dan Batubara (UU Minerba) adalah agar Indonesia dapat merasakan nilai tambah dari
produk-produk tambang dan mineral sehingga dapat meningkatkan produk domestik bruto dan
bahkan jika produk turunan dari peraturan tersebut diimplementasikan dengan baik dapat
memberikan peluang pekerjaan bagi masyarakat lokal dengan didirikannya pabrik pengolahan
dan pemurnian (smelter).

Walaupun pertambangan di Indonesia sudah berjalan sejak di zaman penjajahan


Belanda, namun sebagian besar adalah sejauh exploitasi bahan tambang tanpa pengolahan
untuk memberikan nilai tambah. Sebagai contoh, Indoneisa masih mengimport 66% dari
kebutuhan besi dalam negeri sedangkan sebagian besar batuan tambang besi diekspor ke luar
negeri, terutama Cina untuk diolah di sana. Demikian pula yang terjadi terhadap aluminium,
tembaga, dan bahan metal lainnya.

UU Minerba akan secara bertahap mengubah hal tersebut. Para pemegang Izin Usaha
Pertambangan akan diwajibkan untuk memberikan nilai tambah kepada hasil tambangnya dan
akan secara bertahap mengurangi penjualan bahan mentah hasil tambang ke luar negeri.

2.1.1 Keuntungan Penerapan Kebijakan UU Minerba

Beberapa keuntungan akan timbul dari diterapkannya kebijakan tersebut. Keuntungan


pertama adalah meningkatnya harga jual hasil tambang, karena tentunya bahan tambang olahan
akan memiliki nilai yang lebih tinggi daripada bahan tambang mentah yang selama ini
diperjual-belikan dengan pihak luar.

4
Keuntungan kedua adalah terbukanya lapangan kerja baru yang akan menyerap tenaga
kerja dalam jumlah yang signifikan, mulai dari para tenaga ahli di bidang pengolahan mineral
hingga tenaga kerja kasar dengan pendidikan terbatas.

Keuntungan ketiga adalah penguasaan teknologi pengolahan mineral oleh bangsa


Indonesia yang artinya pemanfaatan dan pengolahan sumber daya alam yang lebih efisien dan
berkesinambungan.

Dengan mulai diolahnya sumber daya mineral di dalam negeri, akan makin banyak lagi
tenaga kerja Indonesia yang terlibat dalam proses pengolahan sehingga akan meningkatkan
pengalaman kerja dan pengetahuannya mereka dalam hal tersebut. Hal ini sangat penting
mengingat era globablisasi akan membuka persaingan bebas dalam segala hal, termasuk pasar
tenaga kerja.

2.2 Tantangan Dalam Peningkatan Nilai Tambah Mineral dan Batubara

Pengertian nilai tambah yang umum dikenal di kalangan yang menggunakan parameter
ekonomi sebagai acuan adalah perbedaan antara nilai output dan nilai input atau peningkatan
harga material yang dihasilkan dari proses pengolahan mineral dan logam persatuan berat
logam/mineral. Sementara itu, kalau pengertian nilai tambah juga dikaitkan dengan
kepentingan lain yang lebih luas, seperti bukan saja peningkatan GDP tetapi juga peningkatan
lapangan kerja baru, multiplier effect sektor lain, penguasaan IPTEK, kemudahan dan
kecepatan proses, serta peningkatan ketahanan nasional, maka setiap manfaat ekonomi, sosial
dan peradaban yang dihasilkan dari kegiatan produksi (pengolahan mineral dan logam lebih
lanjut) dikategorikan sebagai peningkatan nilai tambah.

Isu peningkatan nilai tambah hasil tambang telah lama bergaung meskipun hanya di
kalangan terbatas. Kesadaran bahan tambang perlu diolah terlebih dahulu, agar terjadi
peningkatan nilai tambah yang setinggitingginya di dalam negeri, dan tidak diekspor begitu
saja seolah menjual tanah air, sebenarnya telah lama disadari. Namun demikian kesadaran
pentingnya peningkatan nilai tambah hasil tambang ini semakin menguat akhir-akhir ini.
Membidik peluang ini agar terjadi peningkatan pendapatan daerah maupun pusat, peningkatan
kesempatan kerja, dorongan terhadap terciptanya peluang usaha di sektor lain, penguasaan ilmu
dan teknologi, mengurangi ketergantungan luar negeri dalam penyediaan bahan baku untuk
industri hilir, yang bahan dasarnya tersedia sebagai bahan tambang di Indonesia, dirasakan
sangat mendesak. Beberapa kalangan telah dengan tegas mengatakan untuk secepatnya
melarang ekspor bahan tambang secara langsung ke luar negeri, karena ujung-ujung hanya

5
akan memberikan manfaat yang besar di pihak pengimpor karena mendapat kesempatan
melakukan usaha peningkatan nilai tambah di negaranya, sementara Indonesia hanya
mendapatkan penghasilan dari penjualan bahan tambang saja. Namun demikian, usaha
peningkatan nilai tambah hasil tambang di Indonesia tampaknya belum sepenuhnya dapat
berjalan dengan baik karena beberapa kendala, diantaranya yang penting menurut Edi A
Basuki, dkk., 2007:

1. Belum terbangunnya kesadaran akan manfaat dan pentingnya usaha peningkatan nilai
tambah bahan tambang di dalam negeri di semua pemangku kepentingan.

2. Belum ada kajian yang komprehensif mengenai rantai kebutuhan dan penyediaan bahan
untuk produksi barang jadi di Indonesia.

3. Kajian mengenai peluang yang dapat dilakukan bagi bahan tambang di Indonesia untuk
ditingkatkan nilai tambahnya masih sangat minim.

Untuk dapat menjadi barang jadi, bahan tambang memerlukan rantai proses yang cukup
panjang dengan masing-masing tahap proses merupakan proses peningkatan nilai tambah,
seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1.

Gambar 1. Life Cycle dari Proses dan Produksi Berbasis Mineral dan Logam (Edi A Basuki,dkk
2007)

Proses added-value mineral tidak terlepas dari alur proses pengolahan dan ekstraksi
bahan galian bijih yang telah cukup lama dikenal dalam kegiatan industri metalurgi. Secara
skematis jalur utama proses pengolahan bahan galian bijih ditunjukkan dalam Gambar 2,
dimana pada pandangan konvensional semua jalur proses diarahkan menjadi hasil akhir logam
murni atau paduannya. Masing-masing tahap pemrosesan tersebut memiliki tingkat
pertambahan kualitas dari produk yang dihasilkan. Meskipun hanya pengolahan mineral seperti

6
pencucian dan pengayakan (screening) pada mineral aluvial, bisa dimungkinkan terjadi
peningkatan nilai tambahnya karena pengurangan kandungan clay-nya dan mineral berharga
terkonsentrasi pada fraksi ukuran tertentu. Peran sampling dan analisisnya sangat menentukan
dalam merancang langkah-langkah pengolahan yang tepat. Proses ekstraksi lebih lanjut yang
melibatkan proses kimia dan/atau suhu tinggi pada umumnya memerlukan investasi yang
tinggi sehingga perlu dipertimbangkan keekonomiannya apabila skala produksinya tidak cukup
tinggi.

Gambar 2. Jalur Utama Proses Pengolahan Bahan Galian (Edi A Basuki, dkk,2007)

Sudah barang tentu cukup banyak - atau bahkan banyak sekali - tantangan dalam rangka
mewujudkan "sesuatu yang baru" di tengah kemapanan yang telah tercipta dan kenikmatan
yang telah diperoleh selama ini; tantangan yang bukan saja akan dihadapi oleh perusahaan,
tetapi juga oleh pemerintah sendiri.

7
2.2.1 Tantangan Pemerintah

Sebagai "penguasa tunggal" mineral dan batubara, tantangan pertama pemerintah


adalah menyiapkan infrastruktur fisik dan nonfisik. Termasuk ke dalam infrastruktur fisik
adalah prasarana jalan, energi, dan lain-lain, sedangkan infrastruktur nonfisik berupa data dan
informasi, penyediaan peraturan, dan bahkan pola pikir (mind set) dalam mengelola
pertambangan minerba.

Kondisi infrastruktur di Indonesia terbilang payah dan tertinggal jauh dibandingkan


dengan negaranegara ekonomi utama di kawasan Asia Tenggara. Berdasarkan hasil kajian dan
laporan terbaru Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Bank Pembangunan
Asia (Asia Development Bank/ADB), dan Organisasi Buruh Internasional (International
Labour Organization/ ILO) bertajuk "Indonesia Critical Constraints", ketersediaan dan
kualitas infrastruktur menjadi salah satu dari tiga masalah yang harus segera dibenahi
Pemerintah Indonesia.

Berdasarkan World Economic Forum Report 2010, kualitas infrastruktur Indonesia


secara keseluruhan berada di peringkat ke-96 dari 133 negara yang diteliti. Posisi ini jauh di
belakang dua negara tetangga, Malaysia dan Thailand, yang masing-masing berada di peringkat
27 dan 41. Kendala kritis dalam pembangunan infrastruktur adalah lantaran rendahnya
investasi publik, lemahnya kemitraan pemerintah dan swasta, dan minimnya investasi swasta,
termasuk penanaman modal langsung oleh asing. Adapun faktor yang berdampak negatif pada
pembangunan infrastruktur di Indonesia antara lain pembebasan lahan yang sulit, kapasitas
sumber daya manusia dan kelembagaan yang masih lemah, tata kelola pemerintah yang buruk,
serta pembiayaan yang minim.

Infrastruktur energi juga terbilang masih minim; jangankan untuk kepentingan industri,
untuk masyarakat luas saja pemerintah belum mampu menyediakan energi secara memadai.
Boleh jadi pembangkit listrik harus dibangun sendiri oleh pihak perusahaan, dan hal ini
mungkin bukan masalah buat mereka. Persoalannya tidak ada jaminan dari pemerintah
mengenai pasokan untuk bahan bakar pembangkit listrik tersebut. Akibatnya operasi produksi
dapat terganggu ketika pasokan bahan bakar mengalami kendala. Sementara tentang
infrastruktur nonfisik, di bidang data dan informasi, pemerintah terkesan kurang serius
menanganinya. Orang bijak mengatakan, memperoleh data (dan informasi) itu mahal, tetapi
lebih mahal lagi membangun tanpa data (dan informasi). Sama halnya dengan infrastruktur
jalan, kekurangseriusan pemerintah menangani data dan informasi menyebabkan calon

8
investor harus mengeluarkan biaya ekstra, sehingga dapat mengurangi daya tarik Indonesia di
mata mereka.

Ditinjau dari segi peraturan, sebenarnya pemerintah telah banyak mengeluarkan


peraturan yang memberi ruang bagi pengusaha untuk mendapatkan insentif bagi bidang usaha
tertentu dan di wilayah tertentu. Peraturan yang dikeluarkan oleh berbagai kementerian atau
lembaga pemerintah setingkat kementerian di tingkat Pusat, serta pemerintah daerah, seringkali
kurang tersosialisasi dengan baik. Kalaupun dapat diketahui oleh pengusaha, tetapi dengan
berbagai alasan, ternyata cukup berbelitbalit atau bahkan sulit direalisasikan.

Last but not least, dari seluruh faktor yang dapat diukur (tangible) seperti diuraikan di
atas, masih ada faktor lain yang tidak dapat diukur (intangible) tapi menentukan, yaitu terkait
dengan pola pikir (mind set) dari instansi pengelola pertambangan minerba. Sebaik apapun
jalan, energi, data dan informasi, serta peraturan dibuat oleh pemerintah untuk menyukseskan
program PNT, diyakini tidak akan pernah berjalan selama sikap mental orang-orang yang
berada di balik pengelolaan pertambangan minerba masih seperti sekarang. Orientasi kepada
peningkatan penerimaan negara, terutama penerimaan daerah yang mengatasnamakan otonomi
daerah, semata-mata dengan mengabaikan kepentingan negara dalam jangka panjang, niscaya
akan menjadi batu sandungan dalam penerapan dan pelaksanaan PNT.

2.2.2 Tantangan Perusahaan

Di manapun dan kapanpun, perusahan selalu berorientasi kepada mencari untung


sebanyakbanyaknya, yang bila ada peluang, harus dilakukan dengan cara enteng - untuk tidak
dikatakan dengan cara melanggar peraturan. Terlebih-lebih di bidang pertambangan minerba
yang notabene dikenal sebagai bidang usaha yang memakai teknologi tinggi, padat
modal,berisiko, serta tingkat pengembalian modal relatif lama, setiap perusahaan pasti
berupaya mencari celah untuk menekan semua risiko tersebut ke tingkat minimal.

Ketentuan untuk melaksanakan PNT jelas menjadi beban baru bagi perusahaan yang
sedang berjalan (existing). Memang iming-iming keuntungan yang akan diraih bisa lebih besar,
tetapi persoalan yang dihadapi pasti lebih rumit, baik secara teknis maupun nonteknis. Sebab,
selain perlu kajian ulang yang menyangkut besarnya investasi, suku bunga, pengembalian
modal, dan lain-lain, juga yang tak kalah rumit adalah mengubah segmen pasar. Rentetan

9
terhadap perubahan segmen pasar akan berakibat pencarian pelanggan baru dan kompetitor
baru.

"Beban kerumitan" juga akan dialami oleh perusahaan (calon investor) yang baru mau
masuk ke bidang pertambangan, tetapi jelas memiliki kualitas dan kuantitas yang lebih ringan
karena mereka dapat mempersiapkan lebih awal perencanaan investasi sembari melihat
perkembangan yang ada; siapa tahu ada perubahan kebijakan yang "menguntungkan" investor
baru. Jika menguntungkan, mereka pasti masuk; jika tidak, maka otomatis mereka akan
mengurungkan niatnya untuk berinvestasi di bidang pertambangan.

Dengan melihat dua sisi seperti gambaran di atas, yaitu sisi pemerintah dan sisi
perusahaan, maka permasalahannya ibarat "telur dan ayam"; apakah pemerintah harus
menyiapkan berbagai sarana secara komprehensif terlebih dulu baru perusahaan melakukan
PNT (opsi pertama), atau perusahaan melakukan PNT terlebih dulu sesuai perintah undang-
undang baru pemerintah menyiapkan sarana secara bertahap (opsi kedua). Jelas bahwa
perusahaan menginginkan opsi pertama, sedangkan pemerintah pasti lebih memilih opsi kedua.
Dengan alasan amanat undang-undang, tidak ada pilihan lain kecuali menjalankan opsi kedua.
Persoalannya adalah, bagaimana pemerintah menyiapkan sarana secara optimal agar
"kerugian" perusahaan dapat diminimalkan. Dalam konteks seperti ini, sudah sepatutnya
Kementerian ESDM melakukan langkah cepat sesuai kewenangan yang dimilikinya sembari
melakukan koordinasi dengan Kementerian/instansi terkait secara lebih intens.

Langkah pertama yang perlu diambil adalah mengeluarkan Peraturan Menteri ESDM
tentang tata cara PNT minerba sesuai amanat yang terkandung dalam pasal 96 Peraturan
Pemerintah No.23/2010. Langkah selanjutnya adalah mengeluarkan berbagai Keputusan
Direktur Jenderal Mineral dan Batubara sebagai petunjuk teknis dalam pelaksanaan PNT
minerba, seperti aturan teknis, pengawasan, pembuatan road map PNT minerba, dan lainlain.
Dalam proses pembuatan peraturan ini pemangku kepentingan perlu dilibatkan agar terjadi
interaksi antara pemerintah cq Kementerian ESDM dengan perusahaan tambang. Memang
akan berat mengingat penanganan infrastruktur untuk kepentingan subsektor pertambangan
minerba, boleh jadi, bukan termasuk skala prioritas bagi instansi lain tersebut. Untuk itu
diperlukan pendekatan - lobby - terhadap para petinggi di masing-masing Kementerian,
bahkan, jika perlu, sampai ke lembaga legislatif.

10
BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Uraian yang telah dikemukakan, maka dapat ditarik kesimpulan diantaranya yang
penting sebagai berikut :

Tantangan terbesar yang kini dihadapi dalam PNT minerba adalah perlunya jaminan
terhadap keberlangsungan investasi - terlebih investasi di bidang pertambangan minerba relatif
sangat besar dengan risiko tinggi, sehingga investor merasa nyaman (secure) dalam
menjalankan usahanya. Dalam konteks yang sama, selama pola pikir birokrat berorientasi pada
peningkatan pendapatan negara/daerah dalam jangka pendek (instan), selama itu PNT minerba
sulit untuk berjalan dengan mulus.

Pemerintah harus menyiapkan segala infrastruktur dan insentif pada setiap usaha
peningkatan nilai tambah mineral, mengingat pendirian smelter membutuhkan biaya yang
sangat besar, dan pengusaha tambang skala kecil dan menengah (investor domestik) tidak
mempunyai kecukupan modal dalam kegiatan usaha tersebut.

Perlu pula disadari bahwa keberhasilan dalam merealisasikan program PNT minerba
akan sangat menguntungkan kepada negara; bukan semata-mata pemerintah yang akan
menikmatinya, tetapi juga perusahaan dan masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

11
DAFTAR PUSTAKA

H. Djamaluddin, Meinarni Thamrin & Alfajrin Achmad, (2012), Potensi Dan Prospek
Peningkatan Nilai Tambah Mineral Logam Di Indonesia (Suatu Kajian Terhadap Upaya
Konservasi Mineral), Program Studi Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik Universitas
Hasanuddin.

Permana, Darsa, 2010 , Tantangan Dalam Peningkatan Nilai Tambah Mineral Dan Batubara,
Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara

12