Anda di halaman 1dari 13

2.

Riwayat Pengobatan:
Pasien sudah berobat jalan ke Puskesmas dekat rumah pada hari pertama demam dan
telah menerima obat penurun panas berupa Paracetamol 500 mg dan Vitamin C

3. Riwayat kesehatan/ Penyakit:


Tidak ada

4. Riwayat keluarga:
Tidak ada

5. Riwayat pekerjaan:
Pasien bekerja sebagai buruh harian lepas
Datar Pustaka:

Delliana, J., 2008. Dengue Hemorrhagic Fever in Indonesia. Dengue Report: Asia-Pacific
a.
Dengue Program Managers Meeting. World Health Organization, Geneva.
Suhendro, Nainggolan, L., Chen, K., dan Pohan, H.T., 2006. Demam Berdarah Dengue.
b.
1.
Dalam: Sudoyo, A.W., Setiyohadi, B., Alwi, I., Simadibrata, M., dan Setiati, S., eds.. Buku
2.
c. Ajar
WorldIlmu Penyakit
Health Dalam. 2009.
Organization, Jakarta: Pusat Guidelines
Dengue Penerbitanfor
Ilmu PenyakitTreatment,
Diagnosis, Dalam FKUI, 1709-
Prevention
and Control New Edition, 2009. Geneva:World Health Organization.
1713.
Hasil pembelajaran:
1. Diagnosis Demam Berdarah Dengue
2. Tatalaksana Demam Berdarah Dengue
3. Pencegahan Demam Berdarah Dengue

1
Subyektif :
Pasien datang dengan keluhan demam sejak 4 hari SMRS. Demam dirasakan bersifat
mengigil dan dapat turun dengan obat penurun panas. Keluhan demam juga disertai dengan
nyeri otot dan sakit kepala yang dirasakan terutama dibalik bola mata. Pasien juga
mengeluhkan adanya mual dan nyeri ulu hati. Riwayat mimisan tidak dijumpai. Riwayat gusi
berdarah tidak dijumpai. Nafsu makan dan minum berkurang. BAK jumlah dan frekuensi
cukup, warna kuning jernih, BAB tidak ada keluhan, riwayat BAB hitam tidak dijumpai.

Objektif.
Berdasarkan pemeriksaan didapatkan hasil berupa:
Airway: Clear, tidak ada sumbatan jalan nafas, pasien dapat berbicara bebas
Breathing: Respiration Rate (RR): 20x/menit, gerakan teratur
Circulation: Tekanan Darah (TD):110/80, Frekuensi Nadi (FN): 88 x/m regular
Status generalis
Keadaan umum : Sakit sedang
GCS : E4V5M6
Kesadaran : Compos mentis

Tanda vital
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Frekuensi nadi : 80 kali / menit
Frekuensi napas : 20 kali / menit
Suhu : 38.70 celcius

Mata : CA -/-, SI -/-


Hidung : deviasi septum -/-, mukosa edem -/-, secret -/-
Mulut : mukosa hiperemis (-), lidah kotor (-), T1-T1
Leher :
KGB tidak teraba membesar
JVP tidak meningkat
Cor :
Jantung Hasil Pemeriksaan
Inspeksi Iktus Cordis tidak terlihat

2
Palpasi Ictus Cordis di SIC VI Linea Midclavicularis Sinistra
Perkusi Batas atas jantung, SIC III linea parasternalis sinistra
Batas jantung bawah, SIC VI linea midclavicularis
sinistra
Auskultasi Suara Jantung S1S2 reguler, Suara Tambahan (-)

Pulmo :
Pemeriksaan Kanan Kiri
Inspeksi depan Bentuk dada: pectus excavatum, simetris saat statis dan
dinamis.
Inspeksi belakang Simetris saat statis dan dinamis
Palpasi depan Vokal fremitus sama kiri dan kanan
Palpasi belakang Vokal fremitus sama kiri dan kanan
Perkusi Sonor Sonor
Perkusi belakang Sonor Sonor
Suara napas vesikuler Suara napas vesikuler
Auskultasi depan Rhonciikasar (-), Rhoncii kasar (-)
Wheezing (-) Wheezing (-)
Suara napas vesikuler Suara napas vesikuler
Auskultasi Rhoncii (-) Rhoncii (-)
belakang Wheezing (-) Wheezing (-)

Abdomen
Inspeksi Kulit berwarna kuning (-), Sikatrik (-), Dinding
perut dan dinding dada sama rata, Ascites (-)
Auskultasi Bising usus (+) Normal
Palpasi Hepatomegali (-), nyeri tekan epigastrik (+)
Perkusi Timpani

Ekstremitas
Extremitas Superior Dextra Akral hangat (+), Edema (-); Clubbing
Finger (-)
Extremitas Superior Sinistra Akral hangat (+), Edema (-); Clubbing

3
Finger (-)
Extremitas Inferior Dextra Akral hangat (+), Edema (-)
Extremitas Inferior Sinistra Akral hangat (+), Edema (-)

Pemeriksaan penunjang
Laboratorium (20/06/2017)
WBC 5,1 x 103/ uL
HGB 14,7 gr/ dL
RBC 5,03 x 106/ uL
HCT 45,5 %
MCV 90,6 fL
MCH 29,2 pg
MCHC 32,3 gr/ dL
PLT 82 x 103/ uL

Laboratorium (21/06/2017)
WBC 3,2 x 103/ uL
HGB 12,6 gr/ dL
RBC 4,17 x 106/ uL
HCT 41,6 %
MCV 88 fL
MCH 26,7 pg
MCHC 30,3 gr/ dL
PLT 86 x 103/ uL

Laboratorium (22/06/2017)
WBC 5,3 x 103/ uL
HGB 11,4 gr/ dL
RBC 4.15 x 106/ uL
HCT 36,1 %
MCV 87 fL
MCH 27,5 pg
MCHC 31,6 gr/ dL

4
PLT 92 x 103/ uL

Assessment(penalaran klinis):
Berdasarkan data yang diperoleh melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik serta pemeriksaan
penunjang diagnosis pasien ini adalah demam berdarah dengue derajat I. Anamnesis didapatkan
pasien wanita berusia 45 tahun dengan demam sejak 4 hari SMRS Demam dirasakan bersifat
mengigil dan dapat turun dengan obat penurun panas. Keluhan demam juga disertai dengan mual,
nyeri otot dan sakit kepala yang dirasakan terutama dibalik bola mata. Pada pemeriksaan fisik
didapatkan tekanan darah pasien 110/70 mmHg dan nyeri tekan epigastrium positif.
Demam dengue atau dengue fever (DF) dan demam berdarah dengue (DBD) atau dengue
haemorrhagic fever (DHF) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue yang
disebarkan oleh nyamuk aedes aegypti dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot atau nyeri sendi
yang disertai leucopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia, dan diatesis hemoragik.
Demam dengue dan DHF disebabkan oleh virus dengue, yang termasuk dalam genus
Flavivirus, keluarga Flaviviridae. Flavivirus merupakan virus dengan diameter 30 nm terdiri dari
asam ribonukleat rantai tunggal dengan berat molekul 4x106 (Suhendro, 2006). Virus ini termasuk
genus flavivirus dari family Flaviviridae. Ada 4 serotipe yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4.
Patogenesis terjadinya demam berdarah dengue sampai saat ini masih diperdebatkan.
Berdasarkan data yang ada, terdapat bukti yang kuat bahwa mekanisme imunopatologis berperan
dalam terjadinya demam berdarah dengue dan sindrom renjatan dengue. Virus dengue (Aedes
aegypti), setelah memasuki tubuh akan melekat pada monosit dan masuk ke dalam monosit.
Kemudian terbentuk mekanisme aferen (penempelan beberapa segmen dari sehingga terbentuk
reseptor Fc). Monosit yang mengandung virus menyebar ke hati, limpa, usus, sumsum tulang, dan
terjadi viremia (mekanisme eferen). Pada saat yang bersamaan sel monosit yang telah terinfeksi akan
mengadakan interaksi dengan berbagai system humoral, seperti system komplemen, yang akan
mengeluarkan substansi inflamasi, pengeluaran sitokin, dan tromboplastin yang mempengaruhi
permeabilitas kapiler dan mengaktifasi faktor koagulasi. Mekanisme ini disebut mekanisme efektor.
Selain itu masuknya virus dengue akan membangkitakn respons imun melalui system
pertahanan alamiah (innate immune system), pada system ini komplemen memegang peran utama.
Aktifitas komplemen tersebut dapat memalui monnosa-binding protein, maupun melaui antibody.
Komponen berperan sebagai opsonin yang meningkatkan fagositosis, dekstruksi dan lisis virus
dengue. Untuk menghambat laju intervensi virus dengue, interferon dan interferon berusaha
mencegah replikasi virus dengue di intraselular. Pada sisi lain limfosit B, sel plasma akan merespons

5
melalui pembentukan antibodi. Limfosit T mengalami ekpresi oleh indikator berbagai molekul yang
berperan sebagai regulator dan efektor.
Limfosit T yang teraktivasi mengakibatkan ekspresi protein permukaan yang disebut ligan
CD40, yang kemudian mengikat CD40 pada limfosit B, makrofag, sel dendritik, sel endotel serta
mengaktivasi berbagai tersebut. CD40L merupakan mediator penting terhadap berbagai fungsi
efektor sel T helper, termasuk menstimulasi sel B memproduksi antibodi dan aktivasi makrofag
untuk menghancurkan virus dengue.
Infeksi virus dengue menyebabkan aktivasi makrofag yang memfagositosis kompleks virus-
antibodi non netralisasi sehingga virus bereplikasi di makrofag. Terjadinya infeksi makrofag oleh
virus dengue menyebabkan aktivasi T helper dan T sitotoksik sehingga diproduksi limfokin dan
interferon gamma. Interferon gamma akn mengaktivasi monosit sehingga disekresi berbagai mediator
radang seperti TNF-, IL-1, PAF (platelet activating factor), IL-6 dan histamin yang menyebabkan
terjadinya disfungsi endotel dan terjadi kebocoran plasma. Peningkatan C3a dan C5a terjadi melalui
aktivasi kompleks virus-antibodi yang dapat mengakibatkan terjadinya kebocoran plasma.
Manifestasi klinis infeksi virus dengue dapat bersifat asimptomatik, atau dapat berupa demam
yang tidak khas, demam, demam berdarah dengue, atau syndrome syok dengue (SSD). Pada
umumnya pasien mengalami fase demam selama 2-7 hari, yang diikuti oleh fase kritis selam 2-3 hari.
Pada waktu fase ini pasien sudah tidak demam, akan tetapi mempunyai risiko untuk terjadi renjatan
jika tidak mendapat pengobatan yang adekuat.
DHF adalah komplikasi serius dengue yang dapat mengancam jiwa penderitanya, ditandai oleh
:
Demam tinggi yang terjadi tiba-tiba
Manifestasi perdarahan
Hepatomegali/pembesaran hati kadang-kadang terjadi syok manifestasi perdarahan pada DHF
dimulai dari tes torniquet positif dan bintik-bintik perdarahan di kulit (ptechiae). Ptechiae ini bisa
terlihat di seluruh anggota gerak, ketiak, wajah dan gusi, juga bisa terjadi perdarahan hidung,
perdarahan gusi, perdarahan dari saluran cerna dan perdarahan dalam urin.
Langkah diagnostik demam dengue dapat dilakukan melalui:
a. Laboratorium
Pemeriksaan darah yang rutin dilakukan untuk menapis pasien tersangka demam dengue adalah
melalui pemeriksaan kadar hemoglobin, hematokrit, jumlah trombosit, dan hapusan darah tepi untuk
melihat adanya limfositosis relative disertai gambaran limfosit plasma biru.
Diangnosis pasti didapatkan dari hasil isolasi virus dengue (cell culture) ataupun deteksi

6
antigen virus RNA dengue dengan teknik RT-PCR (Reverse Transcriptase Polymerase Chain
Reaction), namun karena teknik yang lebih rumit, saat ini tes serologis yang mendeteksi adanya
antibody spesifik terhadap dengue berupa antibody total, IgM maupun IgG lebih banyak.
Parameter laboratorium yang dapat diperiksa antara lain :
Leukosit
Dapat normal atau menurun. Mulai hari ke 3 dapat ditemukan limfositosis relative (>45% dari
leukosit) disertai adanya lifosit plasma biru (LPB) > 15% dari jumlah total leukosit pada fase
syok akan meningkat.
Trombosit
Umumnya terdapat trombositopenia pada hari ke 3-8.
Hematokrit
Kebocoran plasma dibuktikan peningkatan hematokrin 20% dari hematokrin awal, umumnya
dimulai pada hari ke-3 demam
Hemostasis
Dilakukan pemeriksaan AP, APTT, Fibrinogen, D- Dimer atau FDP pada keadaan yang dicurigai
terjadi perdarahan atau kelainan pembekuan darah.
Protein/albumin
Dapat terjadi hipoalbuminemia akibat kebocoran plasma
Elektrolit
Sebagai parameter pemantauan pemberian cairan
Serelogi
Dilakukan pemeriksaan serologi IgM dan IgG terhadap dengue, yaitu:
- IgM muncul pada hari ke 3-5, meningkat sampai minggu ke 3, menghilang setelah 60-90 hari
- IgG terdeteksi mulai hari ke 14 (infeksi primer), hari ke 2 (infeksi sekunder).
NS1
Antigen NS1 dapat terdeteksi pada awal demam hari pertama sampai hari kedelapan. Sensitivitas
sama tingginya dengan spesitifitas gold standart kultur virus. Hasil negatif antigen NS1 tidak
menyingkirkan adanya infeksi virus dengue.
b. Pemeriksaan Radiologis
Pada foto dada didpatkan efusi pleura, terutama pada hematoraks kanan tetapi apabila terjadi
perembesan plasma hebat, efusi pleura dapat dijumpai kedua hemitoraks. Pemeriksaan foto rontgen
dada sebaiknya dalam posisi lateral dekubitus kanan (pasien tidur pada sisi badan sebelah kanan).
Asites dan efusi pleura dapat pula dideteksi dengan pemeriksaan USG.

7
Masa inkubasi dalam tubuh mausia sekitar 4-6 hari (rentang 3-14 hari), timbuk gejala
prodormal yag tidak khas seperti nyeri kepala, nyeri tulang, belakang dan perasaan lelah. Klasifikasi
derajat penyakit Infeksi Virus Dengue, dapat dilihat pada table berikut:
DD/DBD Derajat Gejala Lab
DD Demam disertasi 2 Leukopenia Serologi
atau lebih tanda : Trombositopenia, dengue
sakit kepala, nyeri tdk ada kebocoran (+)
retro-orbital, plasma
mialgia, artralgia
DBD I Gejala diatas, Trombositopenia
ditambah dgn uji (<100.000), bukti
bendung (+) ada kebocoran
plasma
II Gejala diatas, Trombositopenia
ditambah dgn (<100.000), bukti
perdarahan spontan ada kebocoran
plasma
III Gejala diatas Trombositopenia
ditambah dengan (<100.000), bukti
kegagalan sirkulasi ada kebocoran
(kulit dingin dan plasma
lembab, serta
gelisah)
IV Syok berat disertai Trombositopenia
dengan tekanan (<100.000), bukti
darah dan nadi ada kebocoran
tidak terukur plasma
Sementara untuk diagnosis Sindrom Syok Dengue (SSD) adalah ditemukannya semua kriteria
di atas untuk DBD disertai kegagalan sirkulasi dengan manifestasi nadi yang cepat dan lemah,
tekanan darah turun (20 mmHg), hipotensi dibandingkan standar sesuai umur, kulit dingin dan
lembab serta gelisah.
Dalam penatalaksanaan demam berdarah dengue, protokol dibagi dalam 5 kategori:
1. Protokol 1: Penanganan Tersangka (Probable) DBD Dewasa tanpa Syok

8
Protokol ini digunakan sebagai petunjuk dalam pemberian pertolongan pertama pada penderita DBD
atau yang diduga DBD di Instalasi Gawat Darurat dan juga dipakai sebagai petunjuk dalam
memutuskan indikasi rawat.
Seseorang yang tersangka menderita DBD Unit Gawat Darurat dilakukan pemeriksaan
hemonglonin (Hb), hematokrin (Ht), dan trombosit, bila:
Hb, Ht dan trombosit normal atau trombosit antara 100.000-150.000, pasien dapat dipulangkan
dengan anjuran kontrol atau berobat jalan ke Poliklinik dalam waktu 24 jam berikutnya
(dilakukan pemriksaan Hb, Ht, leukosit dan trombosit tiap 24 jam) atau bila keadaan penderita
memburuk segera kembali ke Unit Gawat Darurat.
Hb, Ht normal tetapi trombosit , 100.000 dianjurkan untuk dirawat
Hb, Ht meningkat dan tombosit normal atau turun juga dianjurka untuk dirawat

2. Protokol 2. Pemberian Cairan pada Tersangka DBD Dewasa di Ruang Rawat


Pasien yang tersangka DBD tanpa perdarahan spontan dan masih dan tanpa syok maka di ruang
rawat diberikan cairan infus kristaloid dengan jumlah seperti rumus berikut ini :
Volume cairan kristaloid / hari yang diperkukan, sesuai rumus berikut :
1500+ (20 x (BB dalam kg 20 )

Setelah pemberian cairan dilakukan dilakukan pemberian Hb, Ht tiap 24 jam:


Bila Hb, Ht meningkan 10-20% dan tombosit < 100.000 jumlah pemberian cairan tetap seperti
rumus diatas tetapi pemantauan Hb, Ht, trombo dilakukan tiap 12 jam.
Bila Hb, Ht meningkat > 20% dan trombosit <100.000 maka pemberian cairan sesuai dengan
protocol penatalaksanaan DBD dengan peningkatan Ht >20%.

3. Protokol 3. Penatalaksaan DBD dengan Peningkatan Ht > 20%


Meningkatnya Ht > 20% menunjukkan bahwa tubuh mengalami defisit cairan sebanyak 5%. Pada
keadaan ini terapi awal pemberian cairan adalah dengan memberikan infus cairan kristaloid
sebanyak 6-7 ml/kg/jam. Pasien kemudian dipantau setelah 3-4 jam pemberian cairan.
Bila terjadi perbaikkan perbaikan yang ditandai dengan tanda-tanda hematokrin turun,
frekuensi nadi turun tekanan darah stabil, produksi urin meningkat maka jumlah cairan infuse
dikurangimenjadi 5 ml/KgBB/jam. Dua jam kemudian dilakukan pemantauan kembali dan bila
keadaan tetap menunjukkan perbaikkan maka jumlah cairan infuse dikurangi 3ml/KgBB/jam. Bila
dalam pemantauan keadaan tetap membaik cairan dapat dihentikan24-48 jam kemudian.

9
Apabila setelah pemberian terapi cairan awal 6-7 ml/KgBB/jam dalam tapi keadaan tetap
tidak membaik, yang ditndai dengan Ht dan nadi meningkat, tekanan nadi menurun < 20 mmHg,
produksi urin menurun, maka kita harus menaikkan jumlah cairan infuse menjadi 10 ml/kgBB/jam.
Dua jam kemudian dilakukan pemantauan kembali dan bila keadaan menunjukkan perbaikkan maka
jumlah cairan dikuarangi menjadi 5 ml/KgBB/jam tetapi bila keadaan tidak menunjukkan perbaikkan
maka jumlaah cairan infuse dinaikkan 15ml/KgBB/jam dan bila dalam perkembangannya kondisi
menjadi memburuk dan didapatkn tanda-tanda syok maka pasien ditananganisesuai protocol
tatalaksana sindrom syok dengue pada dewasa. Bila syok telah teratasi maka pemberian cairan
dimulai lagi seperti terapi pemberian cairan

4. Protokol 4. Penatalaksaan Perdarahan Spontan pada DBD Dewasa


Perdarahan spontan dan masif pada penderita DBD dewasa adalah : perdarahan hidung/epistaksis
yang tidak terkendali walaupun telah diberikan tampon hidung, perdarahan saluran cerna
(hematemesis dan melena atau hematoskesia), perdarahan saluran kencing ( hematuria, perdarahan
otak atau perdarahan sembunyi dengan jumlah perdarahan sebanyak 4-5 ml/KgBB/jam. Pada
keadaan seperti ini jumlah dan kecepatan pemberian cairan tetap seperti keadaan DBD tanpa syok.
Pemeriksaan TD, nadi, pernapasan, dan jumlah urin dilakukan sesering mungkin dengan
kewaspadaan Hb, Ht, dan trombosit sebaiknya diulang setiap 4-6 jam. Pemberian heparin diberikan
apabila secara klinis dan laboratoris didapatkan tanda-tanda koagulasi intravaskuler diseminata
(KID). Taranfusi komponen darah diberikan sesuai indikasi. FFP diberikan bila didapatkan defisiensi
factor-faktor pembekuan darah (PT dan aPTT) yang memanjang), PRC diberikan bila nilai Hb
kurang dari 10 g/dl.
Transfusi trombosit hanya diberikan pada pasien DBD yang perdarahan spontan dan massif
dengan jumlah tromboit <100.000/mm3 disertai atau tanpa KID

5. Protokol 5. Tatalaksanaan Sindrom Syok Dengue pada Dewasa


Bila berhadapan dengan SSD maka hal pertama yang harus diingat adalah renjatan harus segera
diatasi dan oleh karena itu penggantian cairan dilakukan intravaskuler yang hilang harus segera
dilakukan. Angka kematian SSD 10 kali lipat dibandingakan dengan penderita DBD tanpa renjatan.
Dan renjatan dapat terjadi karena kerelambatan penderita DBD mendapat pertolongan.
Pada kasus SSD cairan kritaloid adalah pilihan utama yang diberikan. Penderita juga
diberikan O2 2-4 liter/menit. Pemeriksaan yang harus dilakukan adalah pemeriksaan darah perifer

10
lengkap (DPL), hemostalisi, analisis gas darah, kadar natrium, kalium dan klorida, serta ureum dan
kreatinin.
Pada fase awal, cairan kristaloid diguyur sebanyak 10-20ml/kgBB dan evaluasi 15-30 menit.
Bila renjatan telah teratasi ( ditandai dengan TD sistolik 100mmHg dan tekanan nadi > 20mmHg,
frekuensi nadi <100 x/menit dengan volume yang cukup, akral teraba hangat, dan kulit tidak pucat
srta dieresis 0,5-1 ml/kgBB/jam) jumlah cairan dikurangi 7 ml/kgBB/jam. Biala dalam waktu 60-120
menit keadaan tetap stabil pemberian cairan menjadi 5ml/kgBB/jam. Bila dam waktu 60-120 menit
keadaan tetap stabil pemberian cairan dikurangi 3 ml/kgBB/jam. Bila 23-48 jam setelag renjatan
teratasi tanda-tanda vital, hematokrin tetap stabil srta dieresis cukup maka pemberian cairan perinfus
dihentikan.
Penmberian dini tetap dilakukan tertama dalam 24 jam pertama sejak terjadi renjatan. Oleh
karena itu untuk mengetahui apakah renjatan telah teratasi dengan baik, diperlukan pemantauan tanda
vital, pembesaran hati, nyeri tekan didaerah hipokondrium kana dan epigastrium serta jumlah dieresis
(diusahakan 2ml/kgBB/jam). Pemantauan DPL dipergunakan untuk pemantauan perjalanan penyakit.
Bila fase awal pemberian ternyata renjatan belum teratasi, maka pemberan cairan kristaloid
dapat ditingkatkan menjadi 20-30ml/kgBB, dan kemudian dievaluasi setelah 20-30 menit.
Bila keadaan tetap belum teratasi, maka perhatikan nilai Ht.
Bila Ht meningkat berarti perembesan plasma masih berlangsung maka pemberian cairan koloid
merupakan pilihan.
- Pemberian koloid mula-mula diberikan 10-20ml.kgBB dan dievaluasi setelah 10-30 menit.
Bila keadaan tetap belum teratasi maka pemantaun cairan dilakukan pemasangan kateter vena
sentral, dan pmberian dapat ditambah hingga jumlah maksimum 30ml/kgBB ( maksimal 1-
1,5/hari) dengan sasaran tekanan vena sentral 15-18cmH2O
- Bila keadaan belum teratasi harus diperhatikan dan dilakukan koreksi terhadap gangguan
asam basa, elektrolit, hipoglikemia, anemia, KID, infeksi sekunder.
- Bila tekanan vena sentral penderita sudah sesuai dengan target tetapu renjatan tetap belum
teratasi maka dapat diberikan obat inotropik / vasopresor.
Bila Ht menurun, berarti terjadi perdarahan (internal bleeding) maka pada penderita diberikan
transfuse darah segar 10ml/kgBB dan dapat diulang sesuai kebutuhan.

Plan
Diagnosis:
Berdasarkan gejala klinis meliputi munculnya demam dengan adanya gejala penyerta berupa nyeri

11
retroorbital dan nyeri ulu hati. Selain itu dari pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan darah rutin
berupa nilai HCT 45.5% dan PLT 87 x 103/ uL tanpa adanya tanda manifestasi perdarahan spontan.
Kedua hal tersebut makin memperkuat diagnosis pasien kearah demam berdarah dengue derajat I.
Penatalaksanaan:
Pasien ini datang ke IGD dengan kondisi sadar penuh dengan tekanan darah suhu aksila 28.7
C dan mengeluh demam dan nyeri ulu hati. Saat di IGD dilakukan pemeriksaan vital sign
lain berada pada batas normal. Pada pemeriksaan darah rutin dijumpai marker penanda
adanya suatu kebocoran plasma yang merupakan tanda khas dari demam berdarah dengue,
yaitu nilai HCT 45.5% dan PLT 87 x 103/ uL tanpa adanya manifektasi perdarahan spontan.
Sehingga pasien direncanakan untuk mendapat observasi rawat inap dengan terapi cairan
serta pemeriksaan darah rutin harian untuk mengevaluasi keadaan hematologi pasien. Selain
itu, juga akan diberikan obat-obatan simtomatis untuk meringankan gejala penyerta pasien.
IVFD RL 28 gtt/i
Inj. Topazole 1 vial/ IV/ 24 jam
Paracetamol 500 mg tab 3 x I
Aviter Sch 1 x I
Edukasi:
Menjelaskan kepada keluarga bahwa pasien perlu dirawat inap untuk mendapat pengawasan
ketat ketika pasien memasuki fase kritis dari demam berdarah dengue.
Menjelaskan kepada keluarga bahwa terapi cairan merupakan tatalaksana kunci dari
pengobatan demam berdarah dengue.
Menjelaskan kepada keluarga bahwa respon imun tiap-tiap individu berbeda dan
peningkatan marker hematologi pasien juga bervariasi bergantung kepada asupan gizi dan
respon imun pasien.

12
13