Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN

KEBUTUHAN OKSIGENASI
Disusun oleh

AYAT SETIAWAN

NIM: SN161017

PROGRAM PROFESI NERS

STIKES KUSUMA HUSADA SURAKARTA

TAHUN 2016 / 2017


LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN

KEBUTUHAN OKSIGENASI

KONSEP GANGGUAN KEBUTUHAN DASAR

DEFINISI

Oksigenasi adalah proses penambahan oksigen O2 ke dalam sistem (kimia atau


fisika). Oksigenasi merupakan gas tidak berwarna dan tidak berbau yang sangat
dibutuhkan dalam proses metabolisme sel. Sebagai hasilnya, terbentuklah karbon
dioksida, energi, dan air. Akan tetapi penambahan CO2 yang melebihi batas normal
pada tubuh akan memberikan dampak yang cukup bermakna terhadap aktifitas sel.
(Mubarak, 2007)

Oksigen adalah salah satu komponen gas dan unsur vital dalam proses
metabolisme untukmempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel-sel
tubuh. Secara normal elemen ini diperoleh dengan cara menghirup O2
ruangan setiap kali bernapas (Tarwanto, 2006).

Oksigen adalah salah satu komponen gas dan unsur vital dalam proses
metabolisme untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel tubuh.
Secara normal elemen ini diperoleh dengan cara menghirup O 2 ruangan
setiap kali bernafas. Oksigenasi adalah tindakan, proses, atau hasil
pengambilan oksigen.

Terapi oksigen merupakan salah satu terapi pernafasan dalam mempertahankan


oksigenasi. Tujuan dari terapi oksigen adalah untuk memberikan transpor oksigen yang
adekuat dalam darah sambil menurunkan upaya bernafas dan mengurangi stress pada
miokardium. Beberapa metode

pemberian oksigen:

1) Low flow oxygen system


Hanya menyediakan sebagian dari udara inspirasi total pasien. Pada
umumnya sistem ini lebih nyaman untuk pasien tetapi pemberiannya
bervariasi menurut pola pernafasan pasien.

2) High flow oxygen system

Menyediakan udara inspirasi total untuk pasien. Pemberian oksigen


dilakukan dengan konsisten, teratur, teliti dan tidak bervariasi dengan pola
pernafasan pasien.
2. ETIOLOGI

Adapun faktor-faktor yang menyebabkan klien mengalami gangguan


oksigenasimenurut NANDA (2013),yaitu hiperventilasi, hipoventilasi, deformitas
tulang dan dinding dada, nyeri,cemas, penurunan energy,/kelelahan, kerusakan
neuromuscular, kerusakan muskoloskeletal, kerusakan kognitif / persepsi,
obesitas, posisi tubuh, imaturitas neurologis kelelahan otot pernafasan dan
adanya perubahan membrane kapiler-alveoli.

Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presipitasi


timbulnya serangan asma bronkhial.

Faktor predisposisi a. Genetik

Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum


diketahui cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit
alergi biasanya mempunyai keluarga dekat juga menderita penyakit
alergi. Karena adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah terkena
penyakit asma bronkhial jika terpapar dengan foktor pencetus. Selain itu
hipersentifisitas saluran pernafasannya juga bisa diturunkan.

Faktor presipitasi

Alergen

Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :

Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan

contoh: debu, bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan
polusi.

Ingestan, yang masuk melalui mulut contoh: makanan dan obat-obatan


Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit contoh: perhiasan,
logam dan jam tangan

Perubahan cuaca

Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi


asma. Atmosfir yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu
terjadinya serangan asma. Kadang-kadang serangan berhubungan
dengan musim, seperti: musim hujan, musim kemarau, musim bunga. Hal
ini berhubungan dengan arah angin serbuk bunga dan debu.

Stress

Stress/ gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain itu
juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping gejala
asma yang timbul harus segera diobati penderita asma yang mengalami
stress/gangguanemosi perlu diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah
pribadinya. Karena jika stressnya belum diatasi maka gejala asmanya belum
bisa diobati.

Lingkungan kerja

Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan asma. Hal


ini berkaitan dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang yang bekerja
dilaboratorium hewan, industri tekstil, pabrik asbes, polisi lalu lintas. Gejala ini
membaik pada waktu libur atau cuti.

Olah raga/ aktifitas jasmani yang berat

Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan


aktifitas jasmani atau olah raga yang berat. Lari cepat paling mudah
menimbulkan serangan asma. Serangan asma karena aktifitas biasanya terjadi
segera setelah selesai aktifitas tersebut.

3. PATOFISIOLOGI

Peristiwa bernapas terdiri dari 2 bagian: 1) Menghirup udara (inpirasi)

Inspirasi adalah terjadinya aliran udara dari sekeliling masuk melalui saluran
pernapasan sampai keparu-paru. Proses inspirasi : volume rongga dada
naik/lebih besar tekanan rongga dada turun/lebih kecil.

2) Menghembuskan udara (ekspirasi)

Tidak banyak menggunakan tenaga, karena ekspirasi adalah suatu


gerakan pasif yaitu terjadi relaxasi otot-otot pernapasan. Proses ekspirasi
: volume rongga dada turun/lebih kecil, tekanan rongga dada naik/lebih
besar.

Proses pemenuhan oksigen di dalam tubuh terdiri dari atas tiga tahapan,
yaitu ventilasi, difusi dan transportasi

1) Ventilasi

Merupakan proses keluar masuknya oksigen dari atmosfer ke dalam


alveoli atau dari alveoli ke atmosfer. Proses ini di pengaruhi oleh
beberapa factor:
Adanya kosentrasi oksigen di atmosfer. Semakin tingginya suatu
tempat, maka tekanan udaranya semakin rendah.

Adanya kondisi jalan nafas yang baik.

Adanya kemampuan toraks dan alveoli pada paru-paru untuk mengembang


di sebut dengan compliance. Sedangkan recoil adalah kemampuan untuk
mengeluarkan CO atau kontraksinya paru-paru.

2) Difusi

Difusi gas merupakan pertukaran antara O dari alveoli ke kapiler


paru-paru dan CO dari kapiler ke alveoli. Proses pertukaran ini
dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:

Luasnya permukaan paru-paru.

Tebal membrane respirasi/permeabilitas yang terdiri atas epitel alveoli


dan interstisial. Keduanya dapat mempengaruhi proses difusi apabila
terjadi proses penebalan.

Pebedaan tekanan dan konsentrasi O. Hal ini dapat terjadi


sebagaimana O dari alveoli masuk kedalam darah secara berdifusi
karena tekanan O dalam rongga alveoli lebih tinggi dari pada tekanan
O dalam darah vena vulmonalis.

Afinitas gas yaitu kemampuan untuk menembus dan mengikat HB.

3. Transportasi

Transfortasi gas merupakan proses pendistribusian O kapiler ke


jaringan tubuh dan CO jaringan tubuh ke kaviler. Transfortasi gas
dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:

curah jantung (kardiak output), frekuensi denyut nadi.


kondisi pembuluh darah, latihan perbandingan sel darah dengan darah secara
keseluruhan (hematokrit), serta elitrosit dan kadar Hb.
PATHWAY

Obstruksi dispnea yang disebabkan oleh berbagai etiologi

pola nafas tidak efektif

Fungsi pernafasan terganggu

Ventilasi
pernafasan

Perubahan volume sekuncup,


pre load, after load serta
kontraktilitas
Hipoventilasi/
hiperventilasi
Obstruksi jalan nafas, pengeluaran
mucus

yang banyak

Takhipneu/
bradipnea Bersihan jalan nafas tidak
efektif

Terganggunya difusi pertukaran O2 dan CO2 di alveoli


Gangguan perukaran gas
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBUTUHAN OKSIGEN

Faktor fisiologis

Faktor fisiologis yang mempengaruhi oksigenasi meliputi :

Penurunan kapasitas membawa oksigen

Penurunan konsentrasi oksigen oksigen yang diinspirasi

Faktor perkembangan

Saat lahir terjadi perubahan respirasi yang besar yaitu paru-paru yang
sebelumnya berisi cairan menjadi berisi udara. Bayi memiliki dada yang kecil dan
jalan nafas yang pendek. Bentuk dada bulat pada waktu bayi dan masa kanak-
kanak, diameter dari depan ke belakang berkurang dengan proporsi terhadap
diameter transversal. Pada orang dewasa thorak diasumsikan berbentuk oval.
Pada lanjut usia juga terjadi perubahan pada bentuk thorak dan pola napas. Tahap
perkembangan klien dan proses penuaan yang normal mempengaruhi oksigenasi
jaringan:

Bayi Prematur.

Bayi dan Todler.

Anak usia sekolah dan remaja.

Dewasa muda dan dewasa pertengahan.

Lansia.

Faktor lingkungan

Ketinggian, panas, dingin dan polusi mempengaruhi oksigenasi. Makin


tinggi daratan, makin rendah PaO2, sehingga makin sedikit O2 yang dapat
dihirup individu. Sebagai akibatnya individu pada daerah ketinggian
memiliki laju pernapasan dan jantung yang meningkat, juga kedalaman
pernapasan yang meningkat.

Sebagai respon terhadap panas, pembuluh darah perifer akan berdilatasi, sehingga
darah akan mengalir ke kulit. Meningkatnya jumlah panas yang hilang dari permukaan
tubuh akan mengakibatkan curah jantung meningkat sehingga kebutuhan oksigen
juga akan meningkat. Pada lingkungan yang dingin sebaliknya terjadi kontriksi
pembuluh darah perifer, akibatnya meningkatkan tekanan darah yang akan
menurunkan kegiatan-kegiatan jantung sehingga mengurangi kebutuhan akan
oksigen.

4) Gaya hidup

Aktifitas dan latihan fisik meningkatkan laju dan kedalaman pernapasan

dan denyut jantung, demikian juga suplay oksigen dalam tubuh. Merokok
dan pekerjaan tertentu pada tempat yang berdebu dapat menjadi
predisposisi penyakitparu.

5) Status kesehatan

Pada orang yang sehat sistem kardiovaskuler dan pernapasan dapat


menyediakan oksigen yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Akan
tetapi penyakit pada sistem kardiovaskuler kadang berakibat pada
terganggunya pengiriman oksigen ke sel-sel tubuh. Selain itu penyakit-
penyakit pada sistem pernapasan dapat mempunyai efek sebaliknya
terhadap oksigen darah. Salah satu contoh kondisi kardiovaskuler yang
mempengaruhi oksigen adalah anemia, karena hemoglobin berfungsi
membawa oksigen dan karbondioksida maka anemia dapat mempengaruhi
transportasi gas-gas tersebut ke dan dari sel.

6) Narkotika

Narkotika seperti morfin dan dapat menurunkan laju dan kedalam


pernapasan ketika depresi pusat pernapasan dimedula. Oleh karena
itu bila memberikan obat-obat narkotik analgetik, perawat harus
memantau laju dan kedalaman pernapasan.

7) Perubahan/gangguan pada fungsi pernapasan

Fungsi pernapasan dapat terganggu oleh kondisi-kondisi yang dapat

mempengarhi pernapasan yaitu:

Pergerakan udara ke dalam atau keluar paru

Difusi oksigen dan karbondioksida antara alveoli dan kapiler paru

Transpor oksigen dan transpor dioksida melalui darah ke dan sel


jaringan.
8) Perubahan pola nafas

Pernapasan yang normal dilakukan tanpa usaha dan pernapasan ini


sama jaraknya dan sedikit perbedaan kedalamannya. Bernapas yang
sulit disebut dyspnoe (sesak). Kadang-kadang terdapat napas cuping
hidung karena usaha inspirasi yang meningkat, denyut jantung
meningkat. Orthopneo yaitu ketidakmampuan untuk bernapas kecuali
pada posisi duduk dan berdiri seperti pada penderita asma.
9) Obstruksi jalan nafas

Obstruksi jalan napas lengkap atau sebagaian dapat terjadi di sepanjang saluran
pernapasan di sebelah atas atau bawah. Obstruksi jalan napas bagian atas
meliputi: hidung, pharing, laring atau trakhea, dapat terjadi karena adanya benda
asing seperti makanan, karena lidah yang jatuh kebelakang (otrhopharing) bila
individu tidak sadar atau bila sekresi menumpuk disaluran napas. Obstruksi jalan
napas di bagian bawah melibatkan oklusi sebagian atau lengkap dari saluran
napas ke bronkhus dan paru-paru. Mempertahankan jalan napas yang terbuka
merupakan intervensi keperawatan yang kadang-kadang membutuhkan tindakan
yang tepat. Onbstruksi sebagian jalan napas ditandai dengan adanya suara
mengorok selama inhalasi (inspirasi).

MASALAH YANG BERHUBUNGAN DENGAN FUNGSI RESPIRASI

Hypoxia

Merupakan kondisi ketidakcukupan oksigen dalam tubuh, dari gas yang

diinspirasi ke jaringan.

Penyebab terjadinya hipoksia :

gangguan pernafasan

gangguan peredaran darah

gangguan sistem metabolism

gangguan permeabilitas jaringan untuk mengikat oksigen (nekrose).

2) Hyperventilasi
Jumlah udara dalam paru berlebihan. Sering disebut hyperventilasi
elveoli, sebab jumlah udara dalam alveoli melebihi kebutuhan tubuh, yang
2
berarti bahwa CO yang dieliminasi lebih dari yang diproduksi
menyebabkan peningkatan rata rata dan kedalaman pernafasan. Tanda
dan gejala :

pusing

nyeri kepala

henti jantung

koma

ketidakseimbangan elektrolit
3) Hypoventilasi

Ketidak cukupan ventilasi alveoli (ventilasi tidak mencukupi kebutuhan


2
tubuh), sehingga CO dipertahankan dalam aliran darah. Hypoventilasi
dapat terjadi sebagai akibat dari kollaps alveoli, obstruksi jalan nafas,
atau efek samping dari beberapa obat

Tanda dan gejala:

napas pendek

nyeri dada

sakit kepala ringan

pusing dan penglihatan kabur

4) Cheyne Stokes

Bertambah dan berkurangnya ritme respirasi, dari perafasan yang


sangat dalam, lambat dan akhirnya diikuti periode apnea, gagal
jantung kongestif, dan overdosis obat. Terjadi dalam keadaan dalam
fisiologis maupun pathologis.

Fisiologis :

orang yang berada ketinggian 12000-15000 kaki

pada anak-anak yang sedang tidur


pada orang yang secara sadar melakukan hyperventilasi Pathologis :

gagal jantung

pada pasien uraemi ( kadar ureum dalam darah lebih dari 40mg%)

5) Kussmauls ( hyperventilasi )

Peningkatan kecepatan dan kedalaman nafas biasanya lebih dari 20 x


per menit. Dijumpai pada asidosisi metabolik, dan gagal ginjal.

6) Apneu

Henti nafas , pada gangguan sistem saraf pusat

Biots

Nafas dangkal, mungkin dijumpai pada orang sehat dan klien dengan
gangguan sistem saraf pusat. Normalnya bernafas hanya membutuhkan

sedikit usaha. Kesulitan bernafas disebut dyspnea.

PENATALAKSANAAN

a. Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif

Pembersihan jalan nafas

Latihan batuk efektif

Suctioning

Jalan nafas buatan

Pola Nafas Tidak Efektif

Atur posisi pasien ( semi fowler )

Pemberian oksigen

Teknik bernafas dan relaksasi

Gangguan Pertukaran Gas

Atur posisi pasien ( posisi fowler )

Pemberian oksigen

Suctioning
PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan untuk mengetahui adanya


gangguan oksigenasi yaitu:

Pemeriksaan fungsi paru

Untuk mengetahui kemampuan paru dalam melakukan pertukaran gas


secara efisien.

b. Pemeriksaan gas darah arteri

Untuk memberikan informasi tentang difusi gas melalui membrane kapiler


alveolar dan keadekuatan oksigenasi.

Oksimetri

Untuk mengukur saturasi oksigen kapiler d. Pemeriksaan sinar X dada

Untuk pemeriksaan adanya cairan, massa, fraktur, dan proses-proses


abnormal.

Bronkoskopi

Untuk memperoleh sampel biopsy dan cairan atau sampel sputum/benda


asing yang menghambat jalan nafas.
Endoskopi

Untuk melihat lokasi kerusakan dan adanya lesi.

g. Fluoroskopi

Untuk mengetahui mekanisme radiopulmonal, misal: kerja jantung dan

kontraksi paru.

CT-SCAN

Untuk mengintifikasi adanya massa abnormal.

ASUHAN KEPERAWATAN

PENGKAJIAN

a. Bersihan jalan nafas tidak efektif

Data Subjektif

Pasien mengeluh sesak saat bernafas

Pasien mengeluh batuk tertahan

Pasien tidak mampu mengeluarkan sekresi jalan nafas

Pasien merasa ada suara nafas tambahan


Data Objektif

Pasien tampak tersengal-sengal dan pernafasan dangkal

Terdapat bunyi nafas tambahan

Pasien tampak bernafas dengan mulut

Penggunaan otot bantu pernafasan dan nafas cuping hidung

Pasien tampak susah untuk batuk

Pola nafas tidak efektif

Data Subjektif

Pasien mengatakan nafasnya tersengal-sengal dan dangkal

Pasien mengatakan berat saat bernafas

Data Objektif

Irama nafas pasien tidak teratur

Orthopnea

Pernafasan disritmik

Letargi

Gangguan pernafasan gas

Data Subjektif
Pasien mengeluh pusing dan nyeri kepala

Pasien mengeluh susah tidur


Pasien merasa lelah

Pasien merasa gelisah

Data Objektif

Pasien tampak pucat

Pasien tampak gelisah

Perubahan pada nadi

Pasien tampak lelah

DIAGNOSA KEPERAWATAN

a. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan:

Sekresi kental/belebihan sekunder akibat infeksi, fibrosis kistik atau


influenza.

Imobilitas statis sekresi dan batuk tidak efektif

Sumbatan jalan nafas karena benda asing

b. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara


kebutuhan dan suplai oksigen.

c. Cemas berhubungan dengan perubahan starus kesehatan


PERENCANAAN KEPERAWATAN

Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan hyperventilasi. NOC,


Respiratory status 0403

040301 Frekwensi pernapasan rentang normal.

040302 - Irama pernapasan teratur.

040303 - Kedalaman inspirasi .

040304 Ekspansi dada simetris.

040305 Mudah untuk bernafas.

040314 Tidak ada dispnea.

040316 Tidak terdapat nafas pendek.

NIC, Respiratory monitoring 3350

Monitor tingkat, irama kedalaman dan usaha nafas.

Catat pergerakan dada, kesimetrisan.

Monitor kebisingan respirasi.

Palpasi ekpansi dada.

Auskultasi suara nafas.


Membuka jalan napas.

Memberi terapi oksigen.

Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi.

Monitor pernapasan lewat hidung

Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara


kebutuhan dan suplai oksigen.

NIC, Activity tolerance 0005

000501 - Saturasi oksigen pada saaat beraktivitas dalam batas


normal. 000502 - nadi dalam batas normal saat beraktivitas.

000503 - respirasi rate dalam batas normal saat beraktifitas.

000508 - mudah bernafas dalam beraktifitas.

000504 tekanan siastolik dalam batas normal saat beraktifitas. 000505


tekanan darah diastolic dalam batas normal saat beraktifitas.

NIC, Activity therapy 4310

Kolaburasi dengan dokter & tenaga pendidik.

bantu untuk memfokuskan apa yang harus pasien lakukan.

Bantu untuk mengelompok kan dan mandapatkan penghasilan dari


kegiatan yang di inginkan.
Intruksikan pasien atau keluarga bagaimana menampilkan keinginan
aktivitas yang di inginkan.

Bantu dengan aktivitas fisik yang biasa di lakukan.

Cemas berhubungan dengan perubahan starus kesehatan. NOC,


Anxienty control 1402

140202 tanda-tanda cemas hilang.

140203 - stimulasi lingkungan ketika cemas hilang

140205 informasi yang dapat mengurangi cemas

140216 tidak ada manifestasi prilaku kecemasan NIC, Anxiety


reduction 5820

Gunakan pendekatan yang menyenangkan pasien.

Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur


tindakan.

Pahami perspektif pasien terhadap situasi stress keamanan dan


mengurangi rasa takut
Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan kecemasan.

Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan ketakutan


persepsi.

Instruksikan pasien menggunakan tehnik relaksasi

Berikan obat untuk mengurangi kecemasan.


DAFTAR PUSTAKA

Mubarak, Wahit Iqbal. 2007. Buku ajar kebutuhan dasar


manusia : Teori & Aplikasi dalam praktek. Jakarta: EGC

Tarwanto, Wartonah. 2006. Kebutuhan dasar manusia dan


proses keperawatan edisi 3. Salemba:Medika.

Docterman dan Bullechek. Nursing Invention Classifications


(NIC), Edition 6, United States Of America: Mosby Elseveir
Acadamic Press, 2013.

Maas, Morhead, Jhonson dan Swanson. Nursing Out Comes


(NOC), United States Of America: Mosby Elseveir Acadamic Press,
2013.

Nanda International (2009). Diagnosis Keperawatan: definisi &


Klasifikasi. 2009-2011. Penerbit buku kedokteran EGC : Jakarta