Anda di halaman 1dari 23

Kecelakaan Kerja dan Manajemen Keselamatan Kerja

Universitas Kristen Krida Wacana


Jl. Terusan Arjuna No.6 Jakarta Barat 11510
Telp. 021-56942061 Fax. 021-5631731

Pendahuluan

Kecelakaan akibat kerja adalah kecelakaan berhubung dengan hubungan kerja pada
perusahaan. Hubungan kerja di sini dapat berarti, bahwa kecelakaan terjadi dikarenakan oleh
pekerjaan atau pada waktu melaksanakan pekerjaan. Seperti kita ketahui bersama selama ini
angka kecelakaan yang disebabkan akibat kerja sangatlah tinggi. Di Indonesia sendiri,
berdasarkan data yang diterbitkan oleh Jamsostek, pada tahun 2007 tercatat terjadi 65.474
kecelakaan yang mengakibatkan 1.451 orang meninggal, 5.326 orang cacat tetap dan 58.697
orang cedera. Selain mengakibatkan kerugian jiwa, kerugian materi yang ditimbulkan akibat
kecelakaan kerja juga sangat besar yang berupa kerusakan sarana produksi, biaya pengobatan
dan kompensasi yang dibayarkan. Masalah keselamatan dan kesehatan kerja (K3) secara umum
di Indonesia masih sering terabaikan. Hal ini ditunjukkan dengan masih tingginya angka
kecelakaan kerja. Tingkat kepedulian dunia usaha terhadap K3 masih rendah, padahal karyawan
adalah aset penting perusahaan. Kecelakaan kerja yang mengakibatkan cacat seumur hidup, di
samping berdampak pada kerugian non-materil, juga menimbulkan kerugian materil yang
sangat besar.1

7 Langkah Diagnosis Okupasi

Ada 7 langkah untuk mendiagnosis suatu penyakit akibat kerja, yang disebut dengan 7
langkah diagnosis okupasi. Diagnosis penyakit akibat kerja adalah landasan terpenting bagi
manajemen penyakit tersebut promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Diagnosis penyakit
akibat kerja juga merupakan penentu bagi dimiliki atau tidak dimilikinya hak atas manfaat jaminan
penyakit akibat kerja yang tercakup dalam program jaminan kecelakaan kerja. Sebagaimana
berlaku bagi smeua penyakit pada umumnya, hanya dokter yang kompeten membuat diagnosis
penyakit akibat kerja. Hanya dokter yang berwenang menetapkan suatu penyakit adalah penyakit
akibat kerja. Tegak tidaknya diagnosis penyakit akibat kerja sangat tergantung kepada sejauh mana
metodologu diagnosis penyakit akibat kerja dilaksanakan oleh dokter yang bersangkutan.1

1
Cara menegakkan diagnosis penyakit akibat kerja mempunyai kekhususan apabila
dibandingkan terhadap diagnosis penyakit pada umumnya. Untuk diagnosis penyakit akibat kerja,
anamnesis dan pemeriksaan klinis serta laboratoris yang biasa digunakan bagi diagnosis penyakit
pada umumnya belum cukup, melainkan harus pula dikumpulkan data dan dilakukan pemeriksaan
terhadap tempat kerja, aktivitas pekerjaan dan lingkungan kerja guna memastikan bahwa pekerjaan
atau lingkungan kerja adalah penyebab penyakit akibat kerja yang bersangkutan. Selain itu,
anamnesis terhadap pekerjaan baik yang sekrang maupun pada masa sebelumnya harus dibuat
secara lengkap termasuk kemungkinan terhadap terjadinya paparan kepada faktor mekanis, fisik,
kimiawi, biologis, fisiologis/ergonomis, dan mental-psikologis.1

7 langkah Diagnosis Okupasi:1

1. Diagnosis Klinis
a. Anamnesis
Identitas meliputi : nama pasien, usia, jenis kelamin, jabatan, unit/ bagian kerja,
lama bekerja, nama perusahaan, jenis perusahaan dan alamat perusahaan.
Riwayat penyakit : keluhan utama, riwayat penyakit sekarang (RPS), riwayat
penyakit dahulu (RPD), riwayat penyakit keluarga (RPK).
Riwayat pekerjaan :
o Sudah berapa lama bekerja sekarang ?
o Riwayat pekerjaan sebelumnya ?
o Alat kerja, bahan kerja, proses kerja ?
o Barang yang diproduksi/dihasilkan ?
o Waktu bekerja dalam sehari ?
o Kemungkinan pajanan yang dialami ?
o Alat pelindung diri yang dipakai ?
o Hubungan gejala dan waktu kerja ?
o Apakah pekerja lain ada yang mengalami hal sama ?

Anamnesis tentang riwayat penyakit dan riwayat pekerjaan dimaksudkan untuk mngetahui
kemungkinan salah satu faktor di tempat kerja, pada pekerjaan dan atau lingkungan kerja menjadi
penyebab penyakit akibat kerja. Riwayat penyakit meliputi antara lain awal-mula timbul gejala

2
atau tanda sakit pada tinggkat dini penyakit, perkembangan penyakit, dan terutama penting
hubungan antara gejala serta tanda sakit dengan pekerjaan dan atau lingkungan kerja.1

Riwayat pekerjaan harus ditanyakan kepada penderita dnegan seteliti-telitinya dari


pemrulaan sekali smapai dengan waktu terakhir bekerja. Jangan sekali-kali hanya mencurahkan
perhatian pada pekerjaan yangg dilakukan waktu sekarang, namun harus dikumpulkan informasi
tentang pekerjaan sebelumnya, sebab selalu mungkin bahwa penyakit akibat kerja yang diderita
waktu ini penyebabnya adalah pekerjaan atau lingkungan kerja dari pekerjaan terdahulu. Hal ini
lebih penting lagi jika tenaga kerja gemar pindah kerja dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya.
Buatlah tabel yang secara kronologis memuat waktu, perusahaan, tempat bekerja, jenis pekerjaan,
aktivitas pekerjaan, faktor dalam pekerjaan atau lingkungan kerja yang mungkin menyebabkan
penyakit akibat kerja. Penggunaan kuestioner yang direncanakan dengan tepat sangat membantu.1

Perhatian juga diberikan kepada hubungan antara bekerja dan tidak bekerja dengan gejala
dan tanda penyakit. Pada umumnya gejala dan tanda penyakit akibat kerja berkurang, bahkan
kadang-kadang hilang sama sekali, apabila penderita tidak masuk bekerja; gejala dan tanda itu
timbul lagi atau menjaid lebih berat, apabila ia kembali bekerja. Fenomin seperti itu sangat jelas
misalnya pada penyakit dermatosis akibat kerja atau pada penyakit bissinosis atau asma bronkhiale
akibat kerja atau lainnya. Informasi dan dan data hasil pemeriksaan kesehata khusus sangat penting
artinya bagi keperluan menegakkan diagnosis penyakit akibat kerja. Akan lebih mudah lagi
menegakkan diagnosis penyakit akibat kerja, jika tersedia data kualitatif dan kuantitatif faktor-
faktor dalam pekerjaan dan lingkungan kerja yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan dan
penyakit akibat kerja.1

b. Pemeriksaan Fisik :
Pemeriksaan fisik dimaksudkan untuk menemukan gejala dan tanda yang sesuai untuk
suatu sindrom, yang sering-sering khas untuk suatu penyakit akibat kerja.
Kesadaran
Tanda-tanda vital (TTV) berupa tekanan darah, suhu, denyut nadi, dan
frekuensi napas.
Pemeriksaan secara sistematik dari kepala, leher, dada, perut, kelenjar getah
bening, ekstremitas atas dan bawah serta tulang belakang.

3
Status Lokalis (keadaan lokal). Pada pemeriksaan muskuloskeletal yang
penting:
1. Look (inspeksi)
Perhatikan apa yang dapat dilihat:
- Sikatriks (jaringan parut alamiah atau post operasi).
- Warna kemerahan/kebiruan atau hiperpigmentasi.
- Benjol/pembengkakan/cekungan dengan hal-hal yang tidak biasa.
- Posisi serta bentuk dari ekstremitas (deformitas).
- Cara berjalan (gait waktu pasien masuk kamar periksa).
- Kulit utuh/ robek dan luka memiliki hubungan dengan fraktur, cidera
terbuka.
2. Feel (palpasi)
- Perubahan suhu terhadap sekitarnya serta kelembaban kulit.
- Bila ada pembengkakan, apakah terdapat fluktuasi atau hanya edema
terutama daerah persendian.
- Nyeri tekan (tenderness), krepitasi, catat letak kelainannya (1/3
proksimal/tengah/ distal).
- Otot: tonus pada waktu relaksasi atau kontraksi; benjolan yang terdapat
di permukaan tulang atau melekat pada tulang. Selain itu juga diperiksa
status neurovaskuler. Apabila ada benjolan, maka sifat benjolan perlu di
diskripsi (tentukan) permukaannya, konsistensinya dan pergerakan
terhadap permukaan atau dasar, nyeri atau tidak dan ukurannya.
3. Move (gerak)
- Krepitasi terasa bila fraktur digerakkan, tetapi ini bukan cara yang
baik dan kurang halus. Krepitasi timbul oleh pergeseran atau beradunya
ujung tulang kortikal.
- Nyeri bila digerakkan, baik pada gerakan aktif dan pasif.
- Memeriksa seberapa jauh gangguan fungsi, gerakan yang tidak mampu
dilakukan, range of motion dan kekuatan.
- Gerakan yang tidak normal gerakan yang terjadi tidak pada sendi.
Misalnya: pertengahan femur dapat digerakan. Ini adalah bukti paling

4
penting adanya fraktur. Hal ini penting untuk membuat visum, bila tidak
ada fasilitas rontgen.

c. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium ditujukan untuk mencocokkan benar tidaknya penyebab
penyakit akibat kerja yang bersangkutan ada dalam tubuh tenaga kerja yang menderita
penyakit tersebut. Guna menegakkan diagnosis penyakit akibat kerja, biasanya tidak
cukup sekedar pembuktian secara kualitatif yaitu tentang adanya faktor penyebab
penyakit, melainkan harus ditunjukkan juga banyaknya atau pembuktian secara
kuantitatif.
Berikut ini adalah jenis pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menunjang
anamnesis dan pemeriksaan fisik:
- Pemeriksaan rontgen. Untuk menentukan lokasi, luasnya, trauma, dan
jenis fraktur.
- Scan tulang, CT scan/MRI. Memperlihatkan tingkat keparahan fraktur,
juga dan mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak.
- Arteriografi : jika dicurigai ada kerusakan vaskuler.
- Kreatinin : trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens
ginjal.
- Hitung darah lengkap. Ht mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau
menurun (perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada
multipel trauma) peningkatan jumlah SDP adalah proses stres normal
setelah trauma.
d. Pemeriksaan tempat kerja : misalnya kelembaban, kebisingan, penerangan.
Pemeriksaan tempat dan ruang kerja untuk memastikan adanya faktor penyebab
penyakit di tempat atau ruang kerja serta mengukur kadarnya. Hasil pengukuran
kuantitatif di tempat kerja sangat perlu untuk melakukan penilaian dan mengambil
kesimpulan, apakah kadar zat sebagai penyebab penyakit akibat kerja cukup dosisnya
untuk menyebab sakit. Meliputi faktor lingkungan kerja yang dapat berpengaruh
terhadap sakit penderita (faktor fisis, kimiawi, biologis, psikososial), faktor cara kerja

5
yang dapat berpengaruh terhadap sakit penderita (peralatan kerja, proses produksi,
ergonomi), waktu paparan nyata (per hari, perminggu) dan alat pelindung diri.
2. Pajanan yang dialami
Meliputi pajanan saat ini dan sebelumnya. Informasi ini diperoleh terutama dari anamnesis
yang teliti. Akan lebih baik lagi jika dilakukan pengukuran lingkungan kerja.
3. Hubungan pajanan dengan penyakit
Untuk mengetahui hubungan pajanan dengan penyakit dilakukan identifikasi pajanan yang
ada. Evidence based berupa pajanan yang menyebabkan penyakit. Perlu diketahui
hubungan gejala dan waktu kerja, apakah keluhan ada hubungan dengan pekerjaan.
4. Pajanan yang dialami cukup besar
Mencari tahu patofisiologi, bukti epidemiologis, cara atau proses kerja, lama kerja,
lingkungan kerja. Kemudian dilakukan observasi tempat dan lingkungan kerja, pemakaian
APD, serta jumlah pajanan berupa data lingkungan, data, monitoring biologis.
5. Peranan faktor individu
Berupa status kesehatan fisik adakah alergi /atopi, riwayat penyakit dalam keluarga, serta
bagaimana kebiasaan berolah raga, status kesehatan mental, serta higiene perorangan.
6. Faktor lain di luar pekerjaan
Adakah hobi, kebiasaan buruk (misalnya merokok) yang dapat menjadi faktor pemicu
penyakit yang diderita.
7. Diagnosis okupasi
Diagnosis okupasi dilakukan dengan meneliti dari langkah 1-6, referensi atau bukti ilmiah
yang menunjukkan hubungan kausal pajanan & penyakit.

Pembahasan

Definisi Kecelakaan Kerja

Pengertian kecelakaan kerja berdasarkan Frank Bird Jr adalah kejadian yang tidak
diinginkan yang terjadi dan menyebabkan kerugian pada manusia dan harta benda. Ada tiga jenis
tingkat kecelakaan berdasarkan efek yang ditimbulkan :

1. Accident : adalah kejadian yang tidak diinginkan yang menimbulkan kerugian baik
bagi manusia maupun terhadap harta benda
2. Incident : adalah kejadian yang tidak diinginkan yang belum menimbulkan kerugian.

6
3. Near miss : adalah kejadian hampir celaka dengan kata lain kejadian ini hampir
menimbulkan kejadian incident maupun accident.

Sedangkan berdasarkan sumber UU No 1 tahun 1970 kecelakaan kerja adalah suatu kejadian yang
tidak diduga semula dan tidak dikehendaki, yang mengacaukan proses yang telah diatur dari suatu
aktifitas dan dapat menimbulkan kerugian baik korban manusia atau harta benda. Menurut UU No.
3 tahun 1992 tentang jaminan social tenaga kerja, kecelakaan kerja adalah kecelakaan terjadi
dalam pekerjaan sejak berangkat dari rumah menuju ke tempat kerja dan pulang ke rumah melalui
jalan yang biasa atau wajar dilalui.

Berdasarkan undang-undang mengenai keselamatan dan kecelakaan kerja dapat terlihat


ada 3 aspek utama dari kecelakaan :

Keadaan apapun yang membahayakan pada tempat kerja maupun di lingkungan kerja.
Hazard ini untuk manusia menimbulkan cedera (injury) dan sakit (illness)
Cedera dan sakit adalah hasil dari kecelakaan akan tetapi kecelakaan tidak terbatas pada
cedera dan sakit saja.
Jika dalam suatu kejadian menyebabkan kerusakan atau kerugian (loss) tetapi tidak ada
cedera pada manusia, hal ini termasuk juga kecelakaan. Kecelakaan dapat menyebabkan
hazard pada orang, kerusakan pada peralatan atau barang dan terhentinya proses
pekerjaan.1

Faktor faktor Penyebab Kecelakaan Kerja

Terdapat berbagai macam teori yang menjelaskan mengenai factor penyebab kecelakaan
kerja, beberapa contoh teori tersebut adalah :

Tabel 1. Teori Faktor Penyebab Kecelakaan Kerja2

1. Teori Faktor Manusia Menekankan bahwa pada akhirnya semua kecelakaan kerja baik
(Human Factor Theory) langsung maupun tidak langsung disebabkan oleh kesalahan
manusia.

7
2. Teori Kebetulan Murni Kecelakaan terjadi atas kehendak Tuhan sehingga tidak ada pola
(Pure Chance Theory) yang jelas dalam rangkaian peristiwanya, karena itu kecelakaan
kerja terjadi secara kebetulan saja.

3. Teori Kecenderungan Pada pekerja tertentu lebih sering tertimpa kecelakaan karena
Celaka (Accident Phone sifat-sifat pribadinya yang memang cenderung untuk mengalami
Theory) kecelakaan.

4. Teori Tiga Faktor Utama Penyebab kecelakaan adalah faktor peralatan, lingkungan dan
(Three Main Factors manusia pekerja itu sendiri.
Theory)

5. Teori Dua Faktor Utama Kecelakaan disebabkan oleh kondisi berbahaya (unsafe
(Two Main Factors condition) dan tindakan atau perbuatan berbahaya (unsafe
Theory) action).

Penyebab Kecelakaan Kerja

Efek Domino Kecelakaan Kerja (H.W. Heinrich)

Menurut teori domino effect kecelakaan kerja H.W Heinrich, kecelakaan terjadi melalui
hubungan mata-rantai sebab-akibat dari beberapa faktor penyebab kecelakaan kerja yang saling
berhubungan sehingga menimbulkan kecelakaan kerja (cedera ataupun penyakit akibat kerja /
PAK) serta beberapa kerugian lainnya.

Terdapat faktor-faktor penyebab kecelakaan kerja antara lain : penyebab langsung


kecelakaan kerja, penyebab tidak langsung kecelakaan kerja dan penyebab dasar kecelakaan kerja.

Termasuk dalam faktor penyebab langsung kecelakaan kerja ialah kondisi tidak
aman/berbahaya (unsafe condition) dan tindakan tidak aman/berbahaya (unsafe action).

Kondisi tidak aman (unsafe condition), beberapa contohnya antara lain : tidak
dipasang (terpasangnya) pengaman (safeguard) pada bagian mesin yang berputar,
tajam ataupun panas, terdapat instalasi kabel listrik yang kurang standar (isolasi

8
terkelupas, tidak rapi), alat kerja/mesin/kendaraan yang kurang layak pakai, tidak
terdapat label pada kemasan bahan (material) berbahaya.
Termasuk dalam tindakan tidak aman (unsafe action) antara lain : kecerobohan,
meninggalkan prosedur kerja, tidak menggunakan alat pelindung diri (APD),
bekerja tanpa perintah, mengabaikan instruksi kerja, tidak mematuhi rambu-
rambu di tempat kerja, tidak melaporkan adanya kerusakan alat/mesin ataupun
APD, tidak mengurus izin kerja berbahaya sebelum memulai pekerjaan
dengan resiko/bahaya tinggi.

Termasuk dalam faktor penyebab tidak langsung kecelakaan kerja ialah faktor pekerjaan
dan faktor pribadi. Termasuk dalam faktor pekerjaan antara lain : pekerjaan tidak sesuai dengan
tenaga kerja, pekerjaan tidak sesuai sesuai dengan kondisi sebenarnya, pekerjaan beresiko tinggi
namun belum ada upaya pengendalian di dalamnya, beban kerja yang tidak sesuai. Termasuk
dalam faktor pribadi antara lain : mental/kepribadian tenaga kerja tidak sesuai dengan pekerjaan,
konflik, stress, keahlian yang tidak sesuai.

Termasuk dalam faktor penyebab dasar kecelakaan kerja ialah lemahnya manajemen dan
pengendaliannya, kurangnya sarana dan prasarana, kurangnya sumber daya, kurangnya komitmen,
dsb.

Menurut teori efek domino H.W Heinrich juga bahwa kontribusi terbesar penyebab kasus
kecelakaan kerja adalah berasal dari faktor kelalaian manusia yaitu sebesar 88%. Sedangkan 10%
lainnya adalah dari faktor ketidaklayakan properti/aset/barang dan 2% faktor lain-lain. Gambar di
bawah ialah ilustrasi dari teori domino effect kecelakaan kerja H.W. Heinrich.3

9
Gambar 1. Teori Kecelakaan Kerja menurut Heinrich3

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Kecelakaan Kerja


Menurut Sumamur (1989) menyatakan bahwa kecelakaan kerja yang terjadi dapat disebabkan
oleh dua faktor, yaitu :
1. Faktor manusia meliputi aturan kerja, kemampuan pekerja (usia, masa kerja/pengalaman,
kurangnya kecakapan dan lambatnya mengambil keputusan), disiplin kerja, perbuatan-perbuatan
yang mendatangkan kecelakaan, ketidak cocokan fisik dan mental. Kesalahan-kesalahan yang
disebabkan oleh pekerja dan karena sikap yang tidak wajar seperti terlalu berani, sembrono, tidak
mengindahkan instruksi, kelalaian, melamun, tidak mau bekerja sama, dan kurang sabar.
Kekurangan kecakapan untuk mengerjakan sesuatu karena tidak mendapat pelajaran mengenai
pekerjaan. Kurang sehat fisik dan mental seperti adanya cacat, kelelahan dan penyakit.

2. Faktor mekanik dan lingkungan, letak mesin, tidak dilengkapi dengan alat pelindung, alat
pelindung tidak pakai, alat-alat kerja yang telah rusak. Lingkungan kerja berpengaruh besar
terhadap moral pekerja. Faktor-faktor keadaan lingkungan kerja yang penting dalam kecelakaan
kerja terdiri dari pemeliharaan rumah tangga (house keeping), kesalahan disini terletak pada
rencana tempat kerja, cara menyimpan bahan baku dan alat kerja tidak pada tempatnya, lantai yang

10
kotor dan licin. Ventilasi yang tidak sempurna sehingga ruangan kerja terdapat debu, keadaan
lembab yang tinggi sehingga orang merasa tidak enak kerja. Pencahayaan yang tidak sempurna
misalnya ruangan gelap, terdapat kesilauan dan tidak ada pencahayaan setempat.

1) Faktor Pekerjaan
a. Jam Kerja
Dimaksud jam kerja adalah jam waktu bekerja termasuk waktu istirahat dan lamanya bekerja
sehingga dengan adanya waktu istirahat ini dapat mengurangi kecelakaan kerja.
b. Pergeseran Waktu
Pergeseran waktu dari pagi, siang dan malam dapat mempengaruhi terjadinya peningkatan
kecelakaan akibat kerja.
2) Faktor Manusia (Human Factor)
a. Umur Pekerja
Penelitian dalam test refleks memberikan kesimpulan bahwa umur mempunyai pengaruh penting
dalam menimbulkan kecelakaan akibat kerja. Ternyata golongan umur muda mempunyai
kecenderungan untuk mendapatkan kecelakaan lebih rendah dibandingkan usia tua, karena
mempunyai kecepatan reaksi lebih tinggi. Akan tetapi untuk jenis pekerjaan tertentu sering
merupakan golongan pekerja dengan kasus kecelakaan kerja tinggi, mungkin hal ini disebabkan
oleh karena kecerobohan atau kelalaian mereka terhadap pekerjaan yang dihadapinya.
b. Pengalaman Bekerja
Pengalaman bekerja sangat ditentukan oleh lamanya seseorang bekerja. Semakin lama dia
bekerja maka semakin banyak pengalaman dalam bekerja. Pengalama kerja juga mempengaruhi
terjadinya kecelakaan kerja. Pengalaman kerja yang sedikit terutama di perusahaan yang
mempunyai.
c. Tingkat Pendidikan dan Keterampilan
Pendidikan seseorang mempengaruhi cara berpikir dalam menghadapi pekerjaan, demikian juga
dalam menerima latihan kerja baik praktek maupun teori termasuk diantaranya cara pencegahan
ataupun cara menghindari terjadinya kecelakaan kerja.
d. Lama Bekerja
Lama bekerja juga mempengaruhi terjadinya kecelakaan kerja. Hal ini didasarkanpada lamanya
seseorang bekerja akan mempengaruhi pengalaman kerjanya.

11
e. Kelelahan
Faktor kelelahan dapat mengakibatkan kecelakaan kerja atau turunnya produktifitas kerja.
Kelelahan adalah fenomena kompleks fisiologis maupun psikologis dimana ditandai dengan
adanya gejala perasaan lelah dan perubahan fisiologis dalam tubuh. Kelelahan kan berakibat
menurunnya kemampuan kerja dan kemampuan tubuh para pekerja.4

Fishbone Diagram

Fishbone diagram atau diagram tulang ikan sering juga disebut Cause-and-Effect
Diagram atau Ishikawa Diagram diperkenalkan oleh Dr. Kaoru Ishikawa, seorang ahli
pengendalian kualitas dari Jepang, sebagai satu dari tujuh alat kualitas dasar (7 basic quality
tools). Fishbone diagram digunakan ketika kita ingin mengidentifikasi kemungkinan penyebab
masalah dan terutama ketika sebuah team cenderung jatuh berpikir pada rutinitas.

Suatu tindakan dan langkah improvement akan lebih mudah dilakukan jika masalah dan
akar penyebab masalah sudah ditemukan. Manfaat fishbone diagram ini dapat menolong kita
untuk menemukan akar penyebab masalah secara user friendly, tools yang user friendly disukai
orang-orang di industri manufaktur di mana proses di sana terkenal memiliki banyak ragam
variabel yang berpotensi menyebabkan munculnya permasalahan.

Fishbone diagram akan mengidentifikasi berbagai sebab potensial dari satu efek
atau masalah, dan menganalisis masalah tersebut melalui sesi brainstorming. Masalah akan
dipecah menjadi sejumlah kategori yang berkaitan, mencakup manusia, material, mesin, prosedur,
kebijakan, dan sebagainya. Setiap kategori mempunyai sebab-sebab yang perlu diuraikan melalui
sesi brainstorming.

Untuk lebih jelasnya akan diuraikan prosedur atau langkah-langkah pembuatan fishbone
diagram di bawah ini.

Langkah-Langkah Pembuatan Fishbone Diagram

Pembuatan fishbone diagram kemungkinan akan menghabiskan waktu sekitar 30-60 menit
dengan peserta terdiri dari orang-orang yang kira-kira mengerti/paham tentang masalah yang
terjadi, dan tunjuklah satu orang pencatat untuk mengisi fishbone diagram. Alat-alat yang perlu
disiapkan adalah: flipchart atau whiteboard dan marking pens atau spidol.

12
Langkah 1: Menyepakati pernyataan masalah

Sepakati sebuah pernyataan masalah (problem statement). Pernyataan masalah ini


diinterpretasikan sebagai effect (cidera), atau secara visual dalam fishbone seperti
kepala ikan.

Tuliskan masalah tersebut di tengah whiteboard di sebelah paling kanan, misal: Bahaya
Potensial Pembersihan Kabut Oli.

Gambarkan sebuah kotak mengelilingi tulisan pernyataan masalah tersebut dan buat panah
horizontal panjang menuju ke arah kotak (lihat Gambar 2).

Gambar 2. Pembuatan Fishbone Diagram5

Langkah 2: Mengidentifikasi kategori-kategori

Dari garis horisontal utama, buat garis diagonal yang menjadi cabang. Setiap cabang
mewakili sebab utama dari masalah yang ditulis. Sebab ini diinterpretasikan sebagai
cause, atau secara visual dalam fishbone seperti tulang ikan.

Kategori sebab utama mengorganisasikan sebab sedemikian rupa sehingga masuk akal
dengan situasi. Kategori-kategori ini antara lain:

o Kategori 6M yang biasa digunakan dalam industri manufaktur:

Machine (mesin atau teknologi),

Method (metode atau proses),

13
Material (termasuk raw material, consumption, dan informasi),

Man Power (tenaga kerja atau pekerjaan fisik) / Mind Power (pekerjaan
pikiran: kaizen, saran, dan sebagainya),

Measurement (pengukuran atau inspeksi), dan

Milieu / Mother Nature (lingkungan).

Kategori di atas hanya sebagai saran, kita bisa menggunakan kategori lain yang dapat
membantu mengatur gagasan-gagasan. Jumlah kategori biasanya sekitar 4 sampai dengan
6 kategori. Kategori pada contoh ini lihat Gambar 3.

Gambar 3. Pembuatan Fishbone Diagram5

Langkah 3: Menemukan sebab-sebab potensial dengan cara brainstorming

Setiap kategori mempunyai sebab-sebab yang perlu diuraikan melalui sesi brainstorming.

Saat sebab-sebab dikemukakan, tentukan bersama-sama di mana sebab tersebut harus


ditempatkan dalam fishbone diagram, yaitu tentukan di bawah kategori yang mana gagasan
tersebut harus ditempatkan, misal: Mengapa bahaya potensial? Penyebab: Karyawan tidak
mengikuti prosedur Karena penyebabnya karyawan (manusia), maka diletakkan di bawah
Man.

14
Sebab-sebab ditulis dengan garis horisontal sehingga banyak tulang kecil keluar dari
garis diagonal.

Pertanyakan kembali Mengapa sebab itu muncul? sehingga tulang lebih kecil (sub-
sebab) keluar dari garis horisontal tadi, misal: Mengapa karyawan disebut tidak mengikuti
prosedur? Jawab: karena tidak memakai APD (lihat Gambar 4).

Satu sebab bisa ditulis di beberapa tempat jika sebab tersebut berhubungan dengan
beberapa kategori.

Gambar 4. Pembuatan Fishbone Diagram5

Langkah 4: Mengkaji dan menyepakati sebab-sebab yang paling mungkin

Setelah setiap kategori diisi carilah sebab yang paling mungkin di antara semua sebab-
sebab dan sub-subnya.

Jika ada sebab-sebab yang muncul pada lebih dari satu kategori, kemungkinan merupakan
petunjuk sebab yang paling mungkin.

Kaji kembali sebab-sebab yang telah didaftarkan (sebab yang tampaknya paling
memungkinkan) dan tanyakan , Mengapa ini sebabnya?

Pertanyaan Mengapa? akan membantu kita sampai pada sebab pokok dari permasalahan
teridentifikasi.

15
Tanyakan Mengapa ? sampai saat pertanyaan itu tidak bisa dijawab lagi. Kalau sudah
sampai ke situ sebab pokok telah terindentifikasi.

Lingkarilah sebab yang tampaknya paling memungkin pada fishbone diagram (lihat
Gambar 5).

Gambar 5. Pembuatan Fishbone Diagram5

Keselamatan dan Keamanan Kerja (K3)

Sistem keamanan dan keselamatan kerja terhadap keseluruhan personil baik Pengawas,
Pelaksana dan juga pekerja terutama yang ada di dalam lingkungan pekerjaan menjadi hal yang
sangat penting dan perlu mendapat perhatian.

Untuk mencegah terjadinya kecelakaan antara lain mengadakan sosialisasi K3, memasang
rambu-rambu peringatan agar bekerja hati-hati dan pemakaian alat-alat pengamanan untuk
keselamatan kerja dan perlindungan terhadap pekerjaan itu sendiri. Untuk melayani apabila terjadi
kecelakaan kecil disediakan kotak/almari P3K mengadakan kerja-sama dengan Puskesmas
terdekat. Apabila Puskesmas tidak mampu akan dirujuk ke Rumah Sakit terdekat.

Seluruh tenaga kerja yang bekerja pada proyek ini akan diikut sertakan dalam program Astek
ataupun Jamsostek.

16
Secara umum dapat diartikan tujuan penerapan K3 di proyek adalah agar tidak terjadi
kecelakaan kerja (zero accident)

Pencegahan dan Penanggulangan Kecelakaan :

Pemasangan poster/himbauan tentang K3


Penggunaan alat keselamatan kerja yang memadai (helm, sarung tangan, sepatu, dll)
Pemberian rambu-rambu petunjuk dan larangan.
Pemasangan pagar pengaman di antara lantai dan tangga
Briefing setiap pagi kepada Mandor dan Sub yang terlibat.
Menjaga kondisi jalan kerja agar tetap layak pakai
Penempatan material/bahan yang sensitive/berbahaya dengan benar
Menjaga kondisi jalan kerja agar tetap layak pakai
Perlu mendapat perhatian terhadap alat yang menimbulkan suara bising, asap dan residu
lainnya.
Penyediaaan alat pemadam kebakaran
Penempatan Satpam
Kerjasama dengan klinik atau rumah sakit terdekat.

Alat Perlengkapan Diri (APD)

Perlindungan tenaga kerja melalui usaha-usaha tehnis pengamanan tempat, peralatan dan
lingkungan kerja adalah sangat perlu diutamakan. Namun kadang-kadang keadaan bahaya masih
belum dapat dikendalikan sepenuhnya, sehingga digunakan alat-alat pelindung diri (personal
protective devices). Alat-alat demikian harus memenuhi persyaratan:8
1. Enak dipakai.
2. Tidak mengganggu kerja.
3. Memberikan perlindungan efektif terhadap jenis bahaya.
Pakaian kerja harus dianggap suatu alat perlindungan terhadap bahaya-bahaya kecelakaan.
Pakaian tenaga kerja pria yang bekerja melayani mesin seharusnya berlengan pendek, pas (tidak
longgar) pada dada atau punggung, tidak berdasi dan tidak ada lipatan-lipatan yang mungkin
mendatangkan bahaya. Wanita sebaiknya memakai celana panjang, jala rambut, baju yang pas dan
tidak memakai perhiasan-perhiasan. Pakaian kerja sintetis hanya baik terhadap bahan-bahan kimia

17
korosif, tetapi justru berbahaya pada lingkungan kerja dengan bahan-bahan dapat meledak oleh
aliran listrik statis.
Alat-alat proteksi diri beraneka ragam macamnya. Jika digolong-golongkan menurut
bagian-bagian tubuh yang dilindunginya, maka jenis alat-alat proteksi diri dapat dilihat pada daftar
dibawah ini:8
1. Kepala : pengikat rambut, penutup rambut, topi dari berbagai bahan.
2. Mata : kaca-mata dari berbagai gelas (googles).
3. Muka : perisai muka.
4. Tangan dan jari-jari : sarung tangan.
5. Kaki : sepatu.
6. Alat pernafasan : respirator/masker khusus.
7. Telinga : sumbat telinga, tutup telinga.
8. Tubuh : pakaian kerja dari berbagai bahan.

Perlengkapan K3

Tandu Orang, Alat pemadam kebakaran, Rambu-rambu petunjuk, Spanduk K3, MCK,
Pompa air, Mushola, Bedeng pekerja, Ruang Klinik, P3K, Papan pengumuman.

Sistem Managemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SMK3)

Undang-Undang Ketenagakerjaan mewajibkan setiap perusahaan yang memiliki lebih dari


100 pekerja, atau kurang dari 100 pekerja tetapi dengan tempat kerja yang berisiko tinggi
(termasuk proyek konstruksi), untuk mengembangkan SMK3 dan menerapkannya ditempat kerja.
SMK3 perlu dikembangkan sebagai bagian dari sistem manajemen suatu perusahaan secara
keseluruhan. SMK3 mencakup hal-hal seperti struktur organisasi, perencanaan, pelaksanaan,
tanggung jawab, prosedur, proses dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan
penerapan, pencapaian, pengkajian, dan pemeliharaan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja
dalam rangka pengendalian resiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat
kerja yang aman, efisien, dan produktif. Sistem Managemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja
harus diperhatikan terlebih bagi pemrakarsa supaya proses produksi, peningkatan kualitas dan
kendali biaya dapat terus dioptimalkan. Fungsi managemen mengarah di aspek kualitas, produksi,
kecelakaan/kerugian dan biaya. Terdapat 4 program K3 di tempat kerja , yaitu :7

18
1) Komitmen manajemen dan keterlibatan pekerja.
2) Analisis risiko di tempat kerja.
3) Pencegahan dan pengendalian bahaya.
Menetapkan prosedur kerja berdasarkan analisis, pekerja memahami dan
melaksanakannya.
Aturan dan prosedur kerja dipatuhi.
Pemeliharaan sebagai usaha preventif.
Perencanaan untuk keadaan darurat.
Pencatatan dan pelaporan kecelakaan.
Pemeriksaan kondisi lingkungan kerja.
Pemeriksaan tempat kerja secara berkala.
4) Pelatihan untuk pekerja, penyelia dan manager.

SMK3 memiliki peran yang cukup penting dalam proses kerja dalam suatu perusahaan
(pemrakarsa). Apabila SMK3 yang diberlakukan tidak cukup baik maka akibatnya dapat
dilihat dari banyaknya pekerja yang mengalami kecelakaan kerja dan juga proses produksi
mengalami kemunduran. Tujuan khusus dari SMK3 adalah mencegah atau mengurangi
kecelakaan kerja, kebakaran, peledakaan dan PAK, mengamankan mesin instalasi, pesawat,
alat, bahan dan hasil produksi, menciptakan lingkungan kerja yang aman, nyaman, sehat dan
penyesuaian antara pekerjaan dengan manusia atau antara manusia dengan pekerjaan.
Penerapan K3 yang baik dan dan terarah dalam suatu wadah industri tentunya akan
memberikan dampak lain, salah satunya adalah sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas
dan optimal.7

Tujuan dari Sistem Manajemen K3 adalah:7


1. Sebagai alat uniuk mencapai derajat kesehatan tenaga kerja yang setinggi-tingginya, baik
buruh. petani. nelayan. pegawai negeri atau pekerja-pekerja bebas.
2. Sebagai upaya untuk mencegah dnn memberantas penyakit dan kecelakaan-kecelakaan
akibat kerja, memelihara, dan meningkatkan kesehatan dan gizi para tenaga kerja, merawat
dan meningkatkan efisiensi dan daya produktifitas tenaga manusia, memberantas
kekelahan kerja dan melipatgandakan gairah serta semangat bekerja.

19
Langkah-langkah Penerapan SMK3

Setiap jenis Sistem Manajemen K3 mempunyai elemen atau persyaratan tertentu yang harus
dibangun dalam suatu organisasi. Sistem Manajemen K3 tersebut harus dipraktekkan dalam
semua bidang/divisi dalam organisasi. Sistem Manajemen K3 harus dijaga dalam operasinya
untuk menjamin bahwa sistem itu punya peranan dan fungsi dalam manajemen perusahaan. Untuk
lebih memudahkan penerapan standar Sistem Manajemen K3, berikut ini dijelaskan mengenai
tahapan-tahapan dan langkah-langkahnya. Tahapan dan langkah-langkah tersebut dibagi menjadi
dua bagian besar:7

1. Tahap Persiapan
Merupakan tahapan atau langkah awal yang hams dilakukan suatu organisasi/perusahaan.
Langkah ini melibatkan lapisan manajemen dan sejumlah personel, mulai dari menyatakan
komitmen sampai dengan menetapkan kebutuhan sumber daya yang diperlukan. Adapun, tahap
persiapan ini, antara lain:7
Komitmen manajemen puncak.
Menentukan ruang lingkup.
Menetapkan cara penerapan.
Membentuk kelompok penerapan.
Menetapkan sumber daya yang diperlukan.
2. Tahap pengembangan dan penerapan
Sistem dalam tahapan ini berisi langkah-langkah yang hams dilakukan oleh
organisasi/perusahaan dengan melibatkan banyak personal, mulai dari menyelenggarakan
penyuluhan dan melaksanakan sendtri kegiatan audit internal serta tindakan perbaikannya
sampai dengan melakukan sertifikasi.7

Berikut ini langkah-langkah spesifik dalam menerapkan Sistem Manajemen K3 dalam suatu
perusahaan:7
Menyatakan komitmen

20
Pernyataan koniitmen dan penetapan kebijakan untuk menerapkan sebuah Sistem
Manajemen K3 dalam organisasi/manajemen harus dilakukan oleh manajemen puncak.
Penerapan Sistem Manajemen K3 tidak akan berjalan tanpa adanya komitmen terhadap
sistem manajemen tersebut. Manajemen harus benar-benar menyadari bahwa merekalah
yang paling bertanggung jawab terhadap keberhasilan atau kegagalan penerapan Sistem
Manajemen K3.
Menetapkan cara penerapan
Perusahaan dapat menggunakan jasa konsultan untuk menerapkan Sistem
Manajemen K3.Namun dapat juga tidak menggunakan jasa konsultan jika organisasi yang
bersangkutan memiliki personel yang cukup mampu untuk mengorganisasikan dan
mengarahkan orang.
Membentuk kelompok kerja
Jika perusahaan akan membentuk kelompok kerja sebaiknya anggota kelompok
kerja tersebut terdiri atas seorang wakil dari setiap unit kerja, biasanya manajer unit kerja.
Hal ini penting karena merekalah yang tentunya paling bertanggung jawab terhadap unit
kerja yang bersangkutan.

Menetapkan sumber daya yang diperlukan


Sumber daya di sini mencakup orang, perlengkapan, waktu dan dana. Orang yang
dimaksud adalah beberapa orang yang diangkat secara resmi di luar tugas-tugas pokoknya
dan terlibat penuh dalam proses penerapan.
Kegiatan penyuluhan
Penerapan Sistem Manajemen K3 adalah kegiatan dari dan untuk kebutuhan
personal perusahaan. Oleh karena itu perlu dibangun rasa adanya keikutsertaan dari seluruh
karyawan dalam perusahaan melalui program penyuluhan.
Peninjauan sistem
Kelompok kerja penerapan yang telah dibentuk kemudian mulai bekerja untuk
meninjau sistem yang sedang berlangsung dan kemudian dibandingkan dengan persyaratan
yang ada da lam Sistem Manajemen K3. Peninjauan ini dapat dilakukan melatui dua cara
yaitu dengan meninjau dokumen prosedur dan meninjau pelaksanaannya.
Penyusunan Jadwal Kegiatan

21
Setelah melakukan peninjauan sistem maka kelompok kerja dapat menyusun suatu jadwal
kegiatan.
Pengembangan Sistem Manajemen K3
Beberapa kegiatan yang perlu dilakukan dalam tahap pengembangan sistem
manajemen K3 antara lain mencakup dokumentasi, pembagian kelompok, penyusunan
bagan alir, penulisan manual sistem manajemen K3, prosedur dan instruksi kerja.
Penerapan sistem
Setelah semua dokumen selesai dibuat, maka setiap anggota kelompok kerja kembali ke
masing-masing untuk menerapkan sistem yang telah ditulis.
Proses sertifikasi
Ada sejumlah lembaga sertifikasi Sistem Manajemen K3. Misalnya sucofindo melakukan
sertifikasi terhadap Permenaker 05/Men/1996. Namun untuk OHSAS 18001:1999
organisasi bebas menentukan lembaga sertifikasi manapun yang diinginkan.7

Kesimpulan

Kecelakaan kerja adalah kejadian yang tak terduga dan tidak diharapkan dan tidak
terencana yang mengakibatkan luka, sakit, kerugian baik pada manusia, barang maupun
lingkungan. Latar belakang terjadinya kecelakaan di pengaruhi oleh 2 faktor, yaitu unsave action
dan unsave condition. Kecelakaan kerja pada dasarnya disebabkan oleh suatu kejadian yang tidak
diduga semula dan tidak dikehendaki yang mengacaukan proses yang telah diatur dari suatu
aktivitas kerja.

22
Daftar Pustaka

1. Ridley J. Kesehatan dan keselamatan kerja ikhtisiar. Edisi 5. Jakarta: Erlangga;2013.h.62-


22;139-44.

2. Lestari T. Hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dengan produktifitas kerja
karyawan. Bogor: Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut
Pertanian Bogor;2015.

3. Gafhar H. Pengaruh stres kerja terhadap kinerja karyawan. Makasar: Fakultas Ekonomi Bisnis
Universitas Hasanudin; 2012.
4. Sumamur PK. Keselamatan kerja dan pencegahan kecelakaan. Edisi 9. Jakarta: Gunung
Agung;1996.h.11-2;44-50;287-91.
5. Hutadjulu Irwanto. Fishbone diagram dan langkah-langkah pembuatannya. 24 Desember
2011. Diunduh dari :
http://www.academia.edu/7751112/Fishbone_Diagram_dan_Langkah-
Langkah_Pembuatannya, 13 Oktober 2015.
6. Ladou J. Current occupational dan environmental medicine. United States of America: The
McGraw-Hill;2007.p.3-19;579-612.
7. Sedarmayati. Sumber daya manusia dan produktifitas kerja. Bandung: Mandar Maju; 2011.

23