Anda di halaman 1dari 18

A.

Topik :
Roller Coaster

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari roller coaster?
2. Bagaimana prinsip/hukum fisika yang bekerja pada roller coaster?

C. Tujuan
1. Mengetahui pengertian dari roller coaster
2. Mengetahui prinsip/hukum fisika yang bekerja pada roller coaster

D. Landasan Teori

Roller coaster merupakan wahana permainan berupa kereta yang dipacu


dengan kecepatan tinggi pada rel khusus. Rel ini ditopang oleh rangka baja yang
disusun sedemikian rupa. Wahana ini pertama kali ada di Disney Land Amerika
Serikat.

Bentuk permainan ini ternyata mempunyai sejarah yang cukup panjang.


Prinsip permainannya sudah dikenal pada abad ke 16,di Rusia. Dimana pada musim
dingin, bukit yang membeku dengan bermodalkan balok kayu dijadikan tempat
berselancar. Dimusim panas papan seluncur dilengkapi dengan roda. Kemudian ide
ini dibawa oleh tentera Napoleon ke Eropa barat (Perancis), hingga disana dikenal
dengan nama Montagnes Russes(Gunung Rusia). Roller coaster pertama
(konstruksi angka 8) yang bentuknya seperti sekarang ini dibuka di Coney Island
(Brooklyn, New York, Amerika), tahun 1884,dengan nama Gravity Pleasure
Switch Back Railway.

Roller Coaster merupakan wahana permainan yang menggunakan konsep


fisika dalam beroperasi. Tanpa konsep-konsep fisika tersebut roller coaster tidak
dapat beroperasi dengan baik. Dan seandainya salah satu konsep fisika tersebut tidak
berfungsi, maka wahana roller coaster dapat mengakibatkan kecelakaan yang fatal
bagi yang bermain pada wahana tersebut. Jadi konsep fisika merupakan sesuatu

166
yang sangat penting dalam mengoperasikan sistem dari wahana permainan roller
coaster.

Berbicara mengenai konsep fisika yang berperan penting dalam wahana roller
coaster yakni seperti gaya gravitasi, gaya sentripetal, gaya sentrifugal:

1. Gaya Gravitasi

Gravitasi merupakan gaya tarik-menarik yang terjadi antara semua partikel


yang mempunyai massa di alam semesta. Gravitasi matahari mengakibatkan benda-
benda langit berada pada orbit masing-masing dan mengitari matahari. Fisika modern
mendeskripsikan gravitasi menggunakan Teori Relativitas umum dari einstein namun
hukum gravitasi universal newton yang lebih sederhana merupakan hampirann yang
cukup sederhana dalam kebanyakan kasus.
Gaya gravitasi adalah gaya yang berperan penting dalam mempertahankan
kestabilan roller coaster agar berjalan dengan baik, bisa kita bayangkan bagaimana
jika gaya gravitasi tidak ada, entah apa yang akan terjadi pada roller coaster. Pada
roller coaster, setiap orang tentu mengalami gaya gravitasi, yakni gaya (interaksi)
yang disebabkan oleh tarikan massa bumi terhadap massa tubuh (karena massa bumi
jauh lebih besar dibandingkan dengan massa tubuh). gaya gravitasi tersebut diartikan
=> F 10.000 N . tetapi dari hasil penelitian setiap roller coaster tergantung dengan
berat, dan putarannya.

167
Gravitasi pada roller coaster berfungsi untuk menetralkan gaya akibat
percepatan, yakni gaya yang membuat penumpangnya terdorong ke depan. Selain itu,
gaya gravitasi bekerja pada roller coaster yang membuat roller coaster mengalami
perubahan kecepatan. Saat roller coaster bergerak naik menuju suatu puncak,
gravitasi menarik roller coaster tersebut dan mengurangi percepatan pada roller
coaster. Pada saat itu energi kinetik akan berubah menjadi energi potensial. Setelah
roller coaster mencapai puncak, energi potensial pada roller coaster akan diubah
menjadi energi kinetik dan gravitasi akan menarik roller coaster ke bawah. Hal ini
menyebabkan roller coaster akan mengalami percepatan.
2. Gaya Sentripetal
Gaya sentripetal merupakan gaya yang bekerja untuk mempertahankan kerja
roller coaster. Gaya sentripetal adalah gaya yang berusaha menarik objek mengarah
ke titik pusat (sumbu). Ketika roller coaster bergerak melalui lintasan memutar, gaya
sentripental mempertahankan roller coaster agar tetap bergerak memutar.

3. Gaya Sentrifugal

Roller coaster merupakan wahana yang memiliki banyak lintasan yang


menikung. Bentuk alur lintasan roller coaster yang menikung ini menjadikan pada
pengendara bekerja gaya sentrifugal. Tergantung di tikungan mana ia berada, gaya

168
sentrifugal dapat menyebabkan berat pengendara bertambah (G>1)atau berkurang
(G<1).

Gaya sentrifugal yang dirasakan penumpang bukan hanya pada loop saja,
tetapi juga pada setiap tikungan yang dibuat sepanjang lintasan. Ketika penumpang
berbelok kekanan, penumpang akan terlempar ke kiri. Sebaliknya ketika berbelok ke
kiri penumpang akan berbelok ke kanan. Orang akan terpental lebih keras jika
berpegang eraterat pada batang pengaman, karena itu agar lebih nyaman banyak
penumpang membiarkan tangan mereka bebas.

Ketika roller coaster melaju turun (lihat kurva yang rendah), gaya berat akan
searah dengan gaya centrifugal, yang menyebabkan gaya keseluruhan bertambah
(gaya yang searah akan dijumlahkan), sehingga anda seperti merasa tertekan ke
bawah (G>1).
Sebaliknya ketika roller coaster melaju naik (lihat kurva yang tinggi), gaya
berat akan berlawanan arah dengan gaya centrifugal, sehingga gaya keseluruhan akan
menjadi kecil (gaya yang searah akan dikurangi). Ini menyebabkan ada gaya yang
seolah-olah menarik anda keatas (G<1).
Ketiga gaya inilah yang menjaga dan mempertahankan agar supaya roller
coaster tetap berjalan dan beroperasi sesuai dengan lintasan yang ada.
Ketika roller coaster telah dijalankan pada lintasannya maka konsep fisika
tentang energi bekerja penuh. Diantaranya :
1) Energi kinetik
Energi Kinetik (EK), merupakan salah satu energi yang terdapat pada roller
coaster dimana energi ini dihasilkan oleh roller coaster karena geraknya dalam hal
tersebut yang dimaksud dengan geraknya yaitu kecepatan yang dihasilkan oleh roller
coaster pada saat beroperasi. Dimana kecepatan tersebut bernilai nol di posisi puncak
lintasan ( Ek = 0 ). Dan memiliki nilai yang maksimum jika berada di posisi
lembah (posisi terendah) dari lintasan ( Ek = 1/2mv2 ). Energi kinetik di ubah
menjadi energi potensial ketika roller coaster bergerak menaik atau ke atas.

169
2) Energi Potensial

Energi potensial maksimum

Energi potensial (EP) merupakan energi yang terdapat pada sebuah roller
coaster disebabkan oleh posisi dari roller coaster tersebut. bernilai maksimum di
posisi puncak lintasan ( Ep = mgh ). bernilai nol di posisi lembah (posisi terendah)
lintasan ( Ep = 0 ).

Energi potensial diubah menjadi energi kinetik ketika roller coaster bergerak
menurun.

3) Energi Mekanik

Puncak titik A sengaja dirancang lebih tinggi dari pada loop B, hal tersebut
memungkinkan energi potensial di A lebih besar sehingga mampu beralan melalui
lintasan di B dengan baik. Lintasan roller coaster sengaa di rancang seperti teteasa air
mata yang terbalik. Karena jika lintasannya di rancang seperti tetesan air mata yang
sesungguhnya atau lingkaran penuh maka saat kendaraan berada pada posisi terendah,

170
maka bobot beban akan terasa enam kali lebih berat dari pada berat normalnya. Dan
halitu dapat menyebabkan pusing yang begitu dahsayat dan berakibatkan pingsan.
Tetapi ika lintasan di rancang sepertiair mata terbalik, maka beban kendaraan saat
berada di titik terendah akan terasa 3,7 lebih berat dari pada berat normalnya. Dan itu
tidak akan menimbulkan pusing yang begitu dahsyat.

Ketika roller coaster berada di titik terendah yaitu B maka:

EMb = EMc
Ekb + Epb = Ekc + Epc
1/2mv2b + mghb = 1/2mv2b + mghb

Energi Mekanik bernilai tetap sepanjang lintasan karena kita menganggap


bahwa tidak ada gaya gesekan, maka Roller coaster akan terus bergerak lagi ke titik C
dan seterusnya.

4) Hukum Kekalan Energi

Dalam proses perubahan energi Ek menjadi Ep dan Ep menjadi Ek ini,


sebagian energi diubah menjadi energi panas (kalor) karena adanya gesekan (friksi).
Misal, roda roller coaster dengan rel lintasan. Energi total sistem tidak bertambah
atau berkurang. Energi hanya berubah bentuk (misal: Ek, Ep, kalor).

Dan untuk konsep fisika yang terakhir yang berlaku pada wahana roller
coaster yakni dinamika roller coaster.

Gerak roller coaster mengalami percepatan. Yakni perubahan kecepatan


terhadap waktu. Kecepatan bertambah terhadap waktu ketika bergerak menurun.
Roller coaster mengalami perlambatan (percepatan negatif). Yakni kecepatan
berkurang terhadap waktu ketika bergerak naik. Perubahan kecepatan ini juga terjadi
saat roller coaster berubah arah.

171
Itulah beberapa konsep fisika yang bekerja pada sistem kerja roller coaster.
Dimana jika salah satu konsep ini tidak bekerja maka sistem kerja daro roller coaster
akan terganggu, dan tidak bia beroperasi secara maksimal.

E. Alat dan Bahan


1. System Roller Coaster Lengkap (1 buah) tipe ME-9812
2. Photogate Head (2 buah)
3. Smart Timer (1buah)

F. Variable
1. Variable bebas
Variable bebas yaitu, suatu yang nilainya sudah ditentukan atau
ditetapkan, dimana nilai ini dapat mempengaruhi nilai lainnya atau nilainya
sealu diubah-ubah. Adapun variable bebas pada percobaan ini adalah:
Jarak lintasan dan jarak horizontal

2. Variable terikat
Variable terikat yaitu, sesuatu yang nilainya dipengaruhi oleh nilai dari
variable bebas atau nilai lainnya tergantung dari variable bebas. Adapun
variable terikat pada percobaan ini adalah:
Jarak photohgate
Mobil roller couster

172
3. Variable control
Variable control yaitu, sesuatu yang nilainya sebagai pengontrol
variable terikat dan bebas selama percobaan dilakukan. Adapun variable
control dalam percobaan ini adalah:
Merupakan nilai yang di peroleh dari selisih jarak antara kedua photogate

G. Prosedur kerja
1. Menyusun lintasan mobil
2. Menempatkan photgate pada posisi tegak di titik a dan titik b.
3. Meletakkan penangkap mobil di ujung lintasan agar mobil tidak melompat
keluar.
4. Menghubungkan photogate dengan smart timer.
5. Meletakan mobil mini pada posisi awal.
6. melakukan pengaturan pada smart timer pada timer:two gate mode, untuk
mengukur selisih waktu yang dibutuhkan dari titik a ke titik b, kemudian
tekan start.
7. Meletakkan mobil pada posisi awal yang telah ditentukan kemudian lepaskan.
8. Mengulangi percobaan sebanyak 9 kali pada lintasan yang berbeda sebanyak
3 lintasan kemudian menghitung rata-rata hasil percobaan.
9. Mencatat angka yang tertera pada smart timer.
10. Mengukur jarak horizontal dari titik a ke titik b.
11. Mengukur jarak lintasan dari titik a ke titik b.

173
H. Analisisi Data
Table 1
Hasil Pengamatan

WAKTU Jarak Lintasan A ke Jarak Lintasan A ke Jarak Lintasan A ke


(S) B 180 cm B 162 cm B 133 cm
Jarak lintasan Jarak lintasan Jarak lintasan
Horizontal A ke B Horizontal A ke B Horizontal A ke B
107 cm 81 cm 125 cm
t1 0,7569 (s) O,7065 (s) 0,7281 (s)
t2 0,7525 (s) 0,7185 (s) 0,7294 (s)

t3 0,7514 (s) 0,6586 (s) 0,7288 (s)


t4 0,7550 (s) 0,6711 (s) 0,7314 (s)
t5 0,7542 (s) 0,6657 (s) 0,7261 (s)
t6 0,7528 (s) 0,6667 (s) 0,7322 (s)
t7 0,7568 (s) 0,6516 (s) 0,7320 (s)
t8 0,7578 (s) 0,6528 (s) 0,7273 (s)
t9 0,7575 (s) 0,6543 (s) 0,7285 (s)
tavg 0,7549 (s) 0,6717 (s) 0,7293 (s)

Tabel 2 :

WAKTU Jarak Lintasan A ke B Jarak Lintasan A ke Jarak Lintasan A ke


(S) 177 cm B 111 cm B 113 cm
Jarak lintasan Jarak lintasan Jarak lintasan
Horizontal A ke B 87 Horizontal A ke B Horizontal A ke B
cm 120 cm 107 cm
t1 0,6918 (s) O,5904 (s) 0,5213 (s)
t2 0,6758 (s) 0,5592 (s) 0,5111 (s)

t3 0,6702 (s) 0,5603 (s) 0,5184 (s)


t4 0,6737 (s) 0,5607 (s) 0,5143 (s)
t5 0,6717 (s) 0,5603 (s) 0,5241 (s)
t6 0,6751 (s) 0,5564 (s) 0,5297 (s)
t7 0,6675 (s) 0,5438 (s) 0,5111 (s)
t8 0,6659 (s) 0,5326 (s) 0,5107 (s)

t9 0,6729 (s) 0,5463 (s) 0,5100 (s)


tavg 0,6738 (s) 0,5566 (s) 0,5167 (s)

174
Tabel 3 :

WAKTU Jarak Lintasan A ke Jarak Lintasan A ke Jarak Lintasan A ke


(S) B 84 cm B 110 cm B 50 cm
Jarak lintasan Jarak lintasan Jarak lintasan
Horizontal A ke B 81 Horizontal A ke B Horizontal A ke B 47
cm 108 cm cm
t1 0,4945 (s) O,3940 (s) 0,3277 (s)

t2 0,4941 (s) 0,3851 (s) 0,3181 (s)

t3 0,4820 (s) 0,3883 (s) 0,3156 (s)

t4 0,4793 (s) 0,3858 (s) 0,3189 (s)

t5 0,4818 (s) 0,3865 (s) 0,3139 (s)

t6 0,4845 (s) 0,3839 (s) 0,3166 (s)

t7 0,4813 (s) 0,3851 (s) 0,3125 (s)


t8 0,4792 (s) 0,3869 (s) 0,3134 (s)
t9 0,4794 (s) 0,3868 (s) 0,3135 (s)
tavg 0,4840 (s) 0,3869 (s) 0,3863 (s)

Tabel A
1. Menghitung kecepatan dari titik a ke titik b dengan menggunakan jarak horizontal
dan waktu tempuh a ke b!
Jawab:
V =
1,07
= 0,7549 = 1,4174 /

Menghitung kecepatan dari titik a ke titik b dengan menggunakan jarak lintasan


dan
waktu tempuh a ke b!
V =
1,8
= 0.7549 = 2,3844 /

Membandingkan hasil perhitungan a dan b dengan V di titik a, v di titik b, dan v


avg!

V jarak horizontal = 1,4174 m/s

175
V jarak lintasan = 2.3844 m/s
V avg = 1,9009 m/s

2. Menghitung kecepatan dari titik a ke titik b dengan menggunakan jarak horizontal


dan
waktu tempuh a ke b!

Jawab:
V =
0,81
= 0.6717 = 1,2058 /

Menghitung kecepatan dari titik a ke titik b dengan menggunakan jarak lintasan


dan

waktu tempuh a ke b!
V =
1,62
= 0,6717 = 2,4117 /

Membandingkan hasil perhitungan a dan b dengan V di titik a, v di titik b, dan v


avg!

V jarak horizontal = 1,2058 m/s


V jarak lintasan = 2,4117 m/s
V avg = 1,8087 m/s
3. Menghitung kecepatan dari titik a ke titik b dengan menggunakan jarak horizontal
dan waktu tempuh a ke b!
Jawab:
V =
1.25
= 0,7293 = 1,7142 /

176
Menghitung kecepatan dari titik a ke titik b dengan menggunakan jarak lintasan
dan

waktu tempuh a ke b!
V =
1.33
= 0,7293 = 1,8236 /

Membandingkan hasil perhitungan a dan b dengan V di titik a, v di titik b, dan v


avg!

V jarak horizontal = 1,7142 m/s


V jarak lintasan = 1,8236 m/s
V avg = 1,7689 m/s

Tabel B

1. Menghitung kecepatan dari titik a ke titik b dengan menggunakan jarak horizontal


dan waktu tempuh a ke b!
Jawab:
V =
0,87
= 0,6738 = 1,2911 /

Menghitung kecepatan dari titik a ke titik b dengan menggunakan jarak lintasan


dan

waktu tempuh a ke b!
V =
1,77
= 0,6738 = 2,6268 /

Membandingkan hasil perhitungan a dan b dengan V di titik a, v di titik b, dan v


avg!

V jarak horizontal = 1,2911 m/s


V jarak lintasan = 2,6268 m/s

177
V avg = 1,9589 m/s

2. Menghitung kecepatan dari titik a ke titik b dengan menggunakan jarak horizontal


dan waktu tempuh a ke b!
Jawab:
V =
1,20
= 0,5566 = 2.1559 /

Menghitung kecepatan dari titik a ke titik b dengan menggunakan jarak lintasan


dan

waktu tempuh a ke b!
V =
1,11
= 0,5566 = 1.9942 /

Membandingkan hasil perhitungan a dan b dengan V di titik a, v di titik b, dan v


avg!

V jarak horizontal = 2.1559 m/s


V jarak lintasan = 1.9942 m/s
V avg = 2,0750 m/s

3. Menghitung kecepatan dari titik a ke titik b dengan menggunakan jarak horizontal


dan waktu tempuh a ke b!
Jawab:
V =
1,07
= 0,5167 = 2,0708 /

Menghitung kecepatan dari titik a ke titik b dengan menggunakan jarak lintasan


dan waktu tempuh a ke b!

V =
1,13
= 0,5167 = 2,1869 /

178
Membandingkan hasil perhitungan a dan b dengan V di titik a, v di titik b, dan v
avg!

V jarak horizontal = 2,0708 m/s


V jarak lintasan = 2,1869 m/s
V avg = 2,1288 m/s

Tabel C

1. Menghitung kecepatan dari titik a ke titik b dengan menggunakan jarak horizontal


dan waktu tempuh a ke b!
Jawab:
V =
0,81
= 0,4840 = 1,67351 /

Menghitung kecepatan dari titik a ke titik b dengan menggunakan jarak lintasan


dan waktu tempuh a ke b!

V =
0,84
= 0,4840 = 1,7355

Membandingkan hasil perhitungan a dan b dengan V di titik a, v di titik b, dan v


avg!
V jarak horizontal = 1,6735 m/s
V jarak lintasan = 1,7355 m/s
V avg =1.7045 m/s

2. Menghitung kecepatan dari titik a ke titik b dengan menggunakan jarak horizontal


dan waktu tempuh a ke b!
Jawab:
V =
1.08
= 0,3869 = 2.7914 /

179
Menghitung kecepatan dari titik a ke titik b dengan menggunakan jarak lintasan
dan waktu tempuh a ke b!

V =
1.10
= 0,3869 = 2,8431 /

Membandingkan hasil perhitungan a dan b dengan V di titik a, v di titik b, dan v


avg!

V jarak horizontal = 2,7914 m/s


V jarak lintasan = 2,8431 m/s
V avg = 2,8172 m/s

3. Menghitung kecepatan dari titik a ke titik b dengan menggunakan jarak horizontal


dan waktu tempuh a ke b!
Jawab:
V =
0,47
= 0,3863 = 1,2166 /

Menghitung kecepatan dari titik a ke titik b dengan menggunakan jarak lintasan


dan waktu tempuh a ke b!

V =
0,50
= 0,3863 = 1.2943

Membandingkan hasil perhitungan a dan b dengan V di titik a, v di titik b, dan v


avg!
V jarak horizontal = 1,2166 m/s
V jarak lintasan = 1.2943 m/s
V avg = 1.2554 m/s

180
Analisis Hasil Pengamatan
Pada percobaaan dihasilkan analisis data percobaan sebagai berikut:
Tabel a
Hasil Pengamatan

No Jarak Jarak lintasan vjarak horizontal a ke Vjarak lintasan Vperbandingan jarak


horizontal a a ke b(m) b (m/s) a ke b (m/s) horizontal dan jarak
ke b lintasan a ke b (m/s)
(m)
1 1,07 1,8 1,4174 2,3844 1,9009

2 0,81 1,62 1,2058 2,4117 1,8087

3 1,25 1,33 1,7139 1,8236 1,7687

Tabel b
Hasil Pengamatan

No Jarak horizontal Jarak lintasan Vjarak horizontal Vjarak lintasan a Vperbandingan jarak
a ke b a ke b a ke b (m/s) ke b (m/s) horizontal dan jarak lintasan
(m) (m) a ke b (m/s)

1 0,87 1,80 1,2911 2,6714 1,9812

2 1,20 1,11 2,1559 1,9942 2,0750

3 1,07 1,13 2,0708 2,1869 2,1288

181
Tabel c
Hasil Pengamatan

No Jarak horizontal Jarak lintasan Vjarak Vjarak lintasan a Vperbandingan jarak


a ke b a ke b horizontal a ke b ke b (m/s) horizontal dan jarak
(m) (m) (m/s) lintasan a ke b (m/s)

1 0,81 0,84 1,6735 1,7355 1,7045

2 1,08 1,10 2,7914 2,8431 2,8172

3 0,47 0,50 1,2166 1,2943 1,2554

I. Kesimpulan

Roller coaster merupakan wahana yang banyak menggunakan prinsip energi


yang sangat berkaitan dan merupakan aplikasi dari fisika.Mesin (berupa conveyor
belt ) digunakan untuk menjalankan roller coaster sampai ketinggian tertentu, akan
tetapi setelah itu mesin dimatikan dan roller coaster berjalan tanpa menggunakan
energi dari mesin. Prinsip yang digunakan dalam roller coaster sehingga dapat
berjalan adalah gravitasi, energi mekanik, dinamika gerak, gaya sentripetal, dan gaya
gesek.
Ketika roller coaster berada di puncak maka akan berlaku nilai maksimum di
puncak lintasan ( Ep = mgh ) dan akan bernilai nol di posisi lembah (posisi
terendah) lintasan ( Ep = 0 ). Di karenakan Energi potensial diubah menjadi energi
kinetik ketika roller coaster bergerak menurun. Sedangkan pada saat ketika roller
coaster bergerak melalui lintasan memutar, gaya sentripental mempertahankan
roller coaster agar tetap bergerak memutar.
J. Kemungkinan Kesalahan
1. Kurangnya ketelitian praktikan saat melakukan praktikum.
2. Posisi atau jarak photogate yang tidak sama untuk setiap lintasan pada saat
pengambilan data, sehingga mempengaruhi keakuratan data yang diperoleh.
3. Penyusunan atau perakitan alat yang kurang tepat sehingga mempengaruhi
keakuratan pengambilan data.

182
4. Peletakan mobil roller coaster yang kurang tepat pada lintasan sehingga
mempengaruhi photogate pada saat dilewati mobil roller coaster, karenanya
data yang diambil kurang tepat.

K. Daftar Pustaka

[ 1] Giancoli, Douglas C.2014.Fisika Edisi Ke Tujuh Jilid 1.Jakarta.Penerbit


Erlangga.
[2] Laboratorium-fisika-1 html (di akses pada tanggal 15 november 2016 pukul 10.34
WITA)

183