Anda di halaman 1dari 22

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Topik : Hipertensi
Sasaran : Keluarga klien hipertensi
Tempat : Koridor Paviliun ICU
Hari/ tanggal : Rabu, 20 Maret 2013
Waktu : 30 menit
Penyuluh : Mahasiswa Program Studi S1 Keperawatan STIKES Katolik
St. Vincentius a Paulo Surabaya

1. Tujuan Instruksional Umum


Setelah dilakukan penyuluhan keluarga diharapkan mampu mengenal
penyakit hipertensi dan dapat melakukan perawatan terhadap klien hipertensi.
2. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah satu kali pertemuan diharapkan keluarga mampu :
1) Menyebutkan arti dari hipertensi.
2) Menyebutkan penyebab hipertensi
3) Menyebutkan klasifikasi
4) Menyebutkan tanda dan gejala hipertensi.
5) Menyebutkan pemeriksaan diagnostik
6) Menyebutkan komplikasi hipertensi
7) Menyebutkan pencegahan dan penanganan hipertensi.
3. Materi
1) Pengertian hipertensi.
2) Penyebab hipertensi.
3) Klasifikasi hipertensi.
4) Tanda dan gejala hipertensi.
5) pemeriksaan diagnostic hipertensi.
6) Komplikasi hipertensi.
7) Pencegahan dan Penanganan hipertensi
4. Metode: Ceramah dan tanya jawab
5. Media: LCD dan Leaflet
6. Pengorganisasian:
Moderator : Dian
Pembawa materi : Dian, Vera, Mimin dan Tata
Fasilitator :
Observer :
7. Kegiatan Penyuluhan
No. Waktu Kegiatan penyuluhan Kegiatan peserta
1. 2 menit Pembukaan: Menjawab salam
Membuka kegiatan dengan
mengucapkan salam
2. 20 menit Pelaksanaan: Memperhatikan dan
1) Menjelaskan pengertian menjawab pertanyaan
hipertensi. yang diajukan
2) Menjelaskan penyebab
hipertensi
3) Menjelaskan klasifikasi
4) Menjelaskan tanda dan
gejala hipertensi.
5) Menjelaskan
pemeriksaan diagnostik
6) Menjelaskan komplikasi
hipertensi
7) Menjelaskan pencegahan
dan penanganan
hipertensi.
3. 5 menit Evaluasi: Menjawab pertanyaan
Menanyakan kepada para
pesertatentang materi yang
telah diberikan dan meminta
pada beberapa untuk
mengulang kembali.
4. 3 menit Terminasi: Mendengarkan dan
a. Mengucapkan terima kasih menjawab salam
atas peran serta peserta.
b. Mengucapkan salam
penutup.
1.1 Konsep Dasar Hipertensi
1.1.1 Pengetian
Hipertensi adalah tekanan darah tinggi yang bersifat abnormal dan diukur
paling tidak pada tiga kesempatan berbeda. Tekanan darah normal bervariasi sesuai
usia, sehingga setiap diagnosis hipertensi harus bersifat spesifik usia. Namun,
secara umum seseorang dianggap mengalami hipertensi apabila tekanan darahnya
lebih tinggi dari 140 mmHg sistolik atau 90 mmHg diastolik (Corwin, 2001).
Hipertensi merupakan suatu kelainan yang ditandai dengan peningkatan
tahanan perifer. Hal ini menyebabkan penambahan beban jantung (afterload)
sehingga terjadi hipertrofi ventrikel kiri sebagai proses kompensasi atau adaptasi
(Tjokronegoro, 2001).
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik dan diastolik dengan
konsisten di atas 140/90 mmHg. Diagnosis hipertensi tidak berdasarkan pada
peningkatan tekanan darah yang hanya sekali. Tekanan darah harus diukur dalam
posisi duduk dan berbaring (Baradero, dkk., 2008).
1.1.2 Penyebab
Menurut Corwin (2001), ada tiga penyebab hipertensi, yaitu:
1) Peningkatan Kecepatan Denyut Jantung
Peningkatan kecepatan denyut jantung dapat terjadi akibat rangsangan
abnormal saraf atau hormon pada nodus SA. Peningkatan kecepatan denyut jantung
yang berlangsung kronik sering menyertai keadaan hipertiroidisme. Namun,
peningkatan kecepatan denyut jantung biasanya dikompensasi oleh penurunan
volume sekuncup atau TPR sehingga tidak menimbulkan hipertensi.
2) Peningkatan Volume sekuncup (Peningkatan TPR )
Peningkatan TPR yang berlangsung lama dapat terjadi pada peningkatan
rangsangan saraf atau hormon pada arteriol atau responsivitas yang berlebihan dari
arteriol terhadap rangsangan normal. Kedua hal tersebut akan menyebabkan
penyempitan pembuluh. Peningkatan TPR, jantung harus memompa secara lebih
kuat dan dengan demikian menghasilkan tekanan yang lebih besar, untuk
mendorong darah melintasi pembuluh yang menyempit. Hal ini disebut tekanan
afterload jantung, biasanya berkaitan dengan peningkatan tekanan diastolik.
Apabila peningkatan diastolik berlangsung lama, maka ventrikel kiri mungkin
mulai mengalami hipertrofi (membesar). Hipertrofi menyebabkan kebutuhan
ventrikel akan oksigen semakin meningkat sehingga ventrikel harus memompa
darah secara lebih keras lagi untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Saat terjadi
hipertrofi serat otot jantung juga mulai teregang melebihi panjang normalnya yang
pada akhirnya menyebabkan penurunan kontraktilitas dan volume sekuncup.
Menurut Sufrida Yulianti dan Maloediyn S. (2006:19-23), faktor penyebab
hipertensi adalah:
1) Faktor yang tidak dapat diubah
(1). Usia
Pertambahan usia dapat meningkatkan resiko terjadinya penyakit
hipertensi. Walaupun penyakit hipertensi bisa terjadi pada segala usia, tetapi
paling sering menyerang orang dewasa yang berusia 35-50 tahun atau lebih.
Meningkatnya tekanan darah seiring dengan bertambahnya usia memang sangat
wajar. Hal ini disebabkan adanya perubahan alami pada jantung, pembuluh
darah, dan hormon. Namun, jika perubahan ini disertai dengan faktor resiko lain
bisa memicu terjadinya hipertensi.
(2). Keturunan
Hipertensi merupakan penyakit keturunan. Jika salah satu dari orang tua
kita menderita penyakit hipertensi, sepanjang hidup kita memiliki resiko terkena
hipertensi sebesar 25%. Jika kedua orang tua kita menderita hipertensi,
kemungkinan kita terkena penyakit ini sebesar 60%. Namun, kemungkinan itu
tidak selamanya terjadi. Ada seseorang yang sebagian besar keluarganya
penderita hipertensi, tetapi dirinya tidak terkena penyakit tersebut.
2) Faktor yang dapat diubah
(1). Obesitas
Curah jantung dan sirkulasi volume darah pada penderita hipertensi yang
obesitas lebih tinggi dari penderita tidak obesitas. Pada obesitas tahanan perifer
pembuluh darah berkurang atau normal sedangkan aktivitas saraf simpatis
meninggi dengan aktivitas renin plasma yang rendah.

(2). Kurang olah raga


Kurang melakukan aktivitas fisik dapat meningkatkan resiko seseorang
terserang penyakit hipertensi. Hal ini berkaitan dengan masalah kegemukan.
Orang yang tidak aktif cenderung memiliki denyut jantung lebih tinggi sehingga
otot jantung harus bekerja lebih keras pada saat kontraksi.
(3). Merokok
Zat kimia dalam tembakau dapat merusak lapisan dinding arteri sehingga
arteri lebih rentan terhadap penumpukan plak. Nikotin dalam tembakau dapat
membuat jantung bekerja lebih keras karena terjadi penyempitan pembuluh
darah sementara. Selain itu, juga dapat meningkatkan frekuensi denyut jantung
dan tekanan darah. Keadaan ini terjadi karena adanya peningkatan produksi
hormon selama kita menggunakan tembakau, termasuk hormon epinefrin
(adrenalin). Selain itu, karbon monoksida dalam asap rokok akan menggantikan
oksigen dalam darah. Akibatnya, tekanan darah akan meningkat karena jantung
dipaksa bekerja lebih keras untuk memasok oksigen ke seluruh organ dan
jaringan tubuh.
(4). Minum-minuman beralkohol secara berlebihan
Hampir 5-20% kasus hipertensi diperkirakan terjadi akibat konsumsi
alkohol berlebihan. Mengkonsumsi tiga gelas atau lebih minuman beralkohol per
hari dapat meningkatkan resiko.
(5). Stres
Stres tidak menyebabkan hipertensi permanen (menetap). Namun, stres
berat dapat menyebabkan kenaikan tekanan darah menjadi sangat tinggi untuk
sementara waktu. Jika sering mengalami stres, akan terjadi kerusakan pembuluh
darah, jantung, dan ginjal seperti hipertensi permanen. Stres dapat memicu
timbulnya hipertensi karena akan membawa pada kebiasaan buruk terbukti akan
meningkatkan risiko hipertensi.
(6). Minum kopi
Kandungan utama kopi adalah kafein, yang berfungsi sebagai perangsang
susunan saraf pusat (otak), system pernafasan, serta system pembuluh darah
jantung. Selain itu kafein juga dijadikan salah satu bahan pelengkap pada obat
sakit kepala. Hal ini dikarenakan kafein memiliki kemampuan mempersempit
pembuluh darah ke otak (vasokonstriksi). Dampak lain dari kafein adalah
meningkatkan kadar kolesterol dan kadar trigliserida yang menjadikan darah
lebih rawan dan lebih pekat, dan kondisi ini lebih rawan karena dapat
mengakibatkan penyempitan lubang pembuluh darah akibat endapan lemak
yang beresiko mengundang serangan jantung dan stroke. Selain itu kafein
sangat berbahaya bagi penderita hipertensi karena dapat meningkatkan tekanan
darah secara tajam.
1.1.3 Klasifikasi Hipertensi
Adapun klasifikasi hipertensi yaitu (Mansjoer, 2000:519):
Klasifikasi sesuai WHO/ISH
Klasifikasi Sistolik (mmHg) Diastolik (mmHg)
Normoltensi <140 <90
Hipertensi ringan 140-180 90-105
Hipertensi perbatasan 140-160 90-95
Hipertensi sedang dan berat >180 >105
Hipertensi sistolik terisolasi >140 <90
Hipertensi sistolik perbatasan >140-160 <90
1.1.4 Tanda dan Gejala pada Hipertensi
Menurut Widian Nur Indriyani (2009), pada sebagian besar penderita,
hipertensi tidak menimbulkan gejala. Kalaupun menunjukkan gejala, gejala
tersebut biasanya ringan dan tidak spesifik, misalnya pusing-pusing. Meskipun jika
kebetulan beberapa gejala muncul bersamaan dan diyakini berhubungan dengan
hipertensi, gejala-gejala tersebut sering kali tidak terkait dengan hipertensi. Akan
tetapi, jika hipertensinya berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul gejala,
antara lain: sakit kepala, kelelahan, mual dan muntah, sesak napas, napas pendek
(terengah-engah), gelisah, pandangan menjadi kabur, mata berkunang-kunang,
telinga berdengung, sulit tidur, rasa berat di tengkuk, nyeri di daerah kepala bagian
belakang, nyeri di dada, otot lemah, pembengkakan pada kaki dan pergelangan
kaki, keringat berlebihan, kulit tampak pucat atau kemerahan, denyut jantung yang
kuat, cepat, atau tidak teratur, impotensi, darah di urine, mimisan (jarang
dilaporkan).

1.1.5 Pemeriksaan Penunjang


1.1.5.1 Pemeriksaan Utama
1) Tensi
Menurut Baradero, dkk. (2008), diagnosis awal hipertensi ditentukan
berdasarkan hasil pemeriksaan tekanan darah yang tinggi. Pemeriksaan dilakukan
paling sedikit dua kali dalam waktu yang tidak bersamaan.
2) Ambulatory blood pressure machine
Ambulatory blood pressure machine (ABPM) adalah alat untuk mengukur
tekanan darah selama 24 jam yang diikatkan pada pergelangan tangan
pasien.
1.1.5.1 Pemeriksaan Penunjang
1) Pemeriksaan darah lengkap:
Glukosa: hiperglikemia (DM adalah pencetus hipertensi) dapat diakibatkan
oleh peningkatan kadar katekolamin (meningkatkan hipertensi)
Kalium serum: hipokalemia dapat menindikasikan adanya aldosteron utama
penyebab atau menjadi efek samping terapi diuretik.
Kalsium serum: peningkatan kadar kalsium serum dapat meningkatkan
hipertensi.
Kolestrol/ trigliserida serum: peningkatan kadar dapat mengindikasikan
pencetus untuk/ adanya pembentukan plak (efek kardiovaskuler).
Asam urat: hiperurisemia telah menjadi implikasi sebagai faktor risiko
terjadinya hipertensi.
2) Fungsi ginjal:
BUN/ kreatinin: mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume cairan
(viskositas) dan dapat mengindikasikan faktor-faktor risiko seperti
hiperkoagulabilitas, anemia.
3) EKG, dapat menunjukkan pembesaran jantung, pola regangan, gangguan
konduksi.
1.1.6 Komplikasi hipertensi
Komplikasi penyakit yang dapat timbul atau menyertai hipertensi adalah :
1) Stroke
Stroke adalah kerusakan di bagian otak yang disebabkan terganggunya
penyediaan darah atau salah satu pembuluh darah di bagian otak pecah. Akibat dari
keadaan ini adalah cacat dan kematian (Bangun, 2002:17).
2) Gagal Jantung
Tekanan darah yang terlalu tinggi memaksa jantung bekerja lebih berat untuk
memompa darah dan menyebabkan pembesaran otot jantung kiri sehingga jantung
gagal fungsi. Pembesaran pada otot jantung kiri disebabkan kerja keras jantung
memompa darah (Redaksi AgroMedia, 2009:9).
3) Gagal Ginjal
Tingginya tekanan darah membuat pembuluh darah dalam ginjal tertekan dan
akhirnya menyebabkan pembuluh darah rusak. Akibatnya fungsi ginjal menurun
hingga mengalami gagal ginjal. Ada dua jenis kelainan ginjal akibat hipertensi,
yaitu:
(1) Nefrosklerosis benigna, terjadi pada hipertensi yang sudah berlangsung
lama sehingga terjadi pengendapan pada pembuluh darah akibat proses
menua. Hal ini menyebabkan permeabilitas (kelenturan) dinding pembuluh
darah berkurang.
(2) Nefrosklerosis maligna, merupakan kelainan ginjal yang ditandai dengan
naiknya tekanan diastole di atas 130 mmHg yang disebabkan terganggunya
fungsi ginjal.
4) Kerusakan pada Mata
Tekanan darah yang terlalu tinggi dapat menyebabkan kerusakan pembuluh
darah dan saraf pada mata (Redaksi AgroMedia, 2009:10).
1.1.7 Penatalaksanaan
1.1.7.1 Non Farmakologis
Hal yang bisa dilakukan oleh penderita hipertensi antara lain (Bangun, 2002):
Mengubah gaya hidup
1) Mengurangi kelebihan bobot berat badan
Kelebihan berhubungan dengan peningkatan tekanan darah, tingkat lipid
(lemak darah) tinggi yang abnormal, diabetes, dan penyakit jantung koroner.
Kuncinya adalah dengan membatasi asupan kalori dan tingkat latihan fisik.
Penurunan bobot sebanyaknya 4,5 kg saja sudah sangat berarti dalam penurunan
tekanan darah tinggi. Penurunan bobot juga dapat mempercepat turunnya tekanan
darah dalam pengobatan. Latihan aerobik secara teratur tiga atau empat kali
seminggu dengan lama 30-45 menit bisa membantu mengurangi risiko hipertensi
dan penyakit kardiovaskuler.
2) Membatasi asupan alkohol
Alkohol bisa memberikan konstribusi terhadap hipertensi. Alkohol bisa
mengurangi kemampuan pompa jantung dan kadang-kadang membuat pengobatan
hipertensi kurang efektif. Karenanya, lebih baik menghindarinya sama sekali.
3) Membatasi konsumsi garam
Garam mengandung ion Natrium (Na+) dan klorida (Cl-) merupakan ion
utama dalam cairan ekstraseluler. Konsumsi natrium yang berlebih menyebabkan
konsentrasi natrium di dalam cairan ekstraseluler meningkat (Martuti, 2009:46).
Asupan garam yang tinggi, meskipun tidak selalu, bisa meningkatkan tekanan
darah, khususnya pada orang tua, penderita darah tinggi, dan pasien dengan
diabetes mellitus. Menghindari atau mengurangi garam adalah salah satu contoh
cara mengurangi natrium, meskipun tidak menjamin seseorang tidak terkena
hipertensi (Bangun, 2002:24).
4) Berhenti merokok
Merokok memang tidak menyebabkan hipertensi. Namun, merokok adalah
salah satu faktor risiko utama dari penyakit kardiovaskuler. Merokok juga
menghalangi efek obat antihipertensi. Orang yang menderita tekanan darah tinggi,
sebaiknya berhenti dan tidak merokok sama sekali. Meskipun demikian perlu
diperhatikan kenaikan berat badan akibat berhenti merokok. Sementara itu, orang
yang tidak merokok lebih baik tidak mulai atau coba-coba merokok.
5) Mengurangi lemak
Seorang penderita darah tinggi dengan kadar lemak yang banyak, mungkin
memerlukan modifikasi diet atau terapi obat untuk menormalkannya. Batasan
utama asupan lemak adalah kurang dari 30% total kalori. Dietary Approaches to
Stop Hypertension DASH) di Amerika Serikat menyarankan diet rendah lemak,
yakni mengonsumsi buah dan sayuran.
Menurut Baradero (2008) contoh diet bagi penderita hipertensi, yaitu :
Golongan/ Makanan yang boleh dimakan Makanan yang tidak boleh
Hidrat arang Beras,kentang, Roti,biscuit, kue yang dimasak
singkong,terigu,tapioca,maka dengan garam dapur atau soda
roni, mie,roti,biscuit,kue
kering
Protein hewani Daging dan ikan max Otak,ginjal,sardin,ikan/telur yang
100gr/hr, telur max diawetkan dengan garam
1butir/hr,susu max 200 g/hr dapur,ham,daging
asap,dendeng,abon,ikan
kaleng,kornet
Protein nabati Semua kacang-kacangan yang Keju,kacang tanah dan semua
diolah tanpa garam dapur kacang-kacangan yang diolah
dengan garam dapur.
Sayuran Semua sayuran segar,tanpa Sayuran yang diawetkan dengan
diawet dengan garam garam,sayuran dalam kaleng,sawi
asin,asinan,acar
Buah Semua buah segar tanpa Buah yang diawetkan dengan
diawetkan garam dapur
Lemak Minyak,margarin,mentega Margarin dan mentega biasa
tanpa garam
Bumbu Semua bumbu kering dan Garam dapur, soda
segar tanpa garam kue,vetsin,kecap,terasi,tomato
ketchup,petis,tauco
Minuman Teh,coklat,minuman botol Kopi
ringan
1.1.7.2 Penatalaksanaan Farmakologi
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian atau pemilihan
obat anti hypertensi (Corwin, 2001) yaitu:
1) Diuretika, bekerja melalui berbagai mekanisme untuk mengurangi curah
jantung dengan menyebabkan ginjal meningkatkan ekskresi garam dan air.
2) Penghambat saluran kalsium menurunkan kontraksi otot polos jantung dan
atau arteri dengan mengintervensi influks kalsium yang dibutuhkan untuk
kontraksi. Sebagian penghambat saluran kalsium bersifat lebih spesifik
untuk saluran lambat kalsium otot jantung, sebagian lain lebih spesifik
untuk saluran kalsium otot vaskular.
3) Penghambat enzim pengubah angiostensin II (inhibitor ACE) berfungsi
untuk menurunkan angiostensin II dengan menghambat enzim yang
diperlukan untuk mengubah angiotensin I menjadi angiotensin II. Hal ini
menurunkan TPR, volume plasma dan curah jantung.
4) Antagonis (penyekat) reseptor-beta, untuk menurunkan kecepatan denyut
dan curah jantung.
5) Antagonis reseptor-alfa, untuk menurunkan TPR.

DAFTAR PUSTAKA
Agro Media, Redaksi. (2009). Solusi Sehat Mengatasi Hipertensi. Jakarta:
Agromedia Pustaka

Bangun, A. P. (2002). Terapi Jus dan Ramuan Tradisional untuk Hipertensi.


Jakarta: Agromedia Pustaka

Baradero, dkk., (2008). Seri Asuhan Keperawatan Klien Gangguan


Kardiovaskular. Jakarta: EGC

Corwin, Elizabeth (2001). Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC

Mansjoer, Arif. (2000). Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jakarta: Media


Aesculapius

Price & Wilson (2006). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.


Jakarta: EGC

Smeltzer, Suzanne C (2002). Keperawatan Medikal Bedah vol.2. Jakarta: EGC

Tjokronegoro, Arjatmo (2001). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI

DAFTAR HADIR PENYULUHAN HIPERTENSI DI ICU


RSK ST.VINCENTIUS A PAULO SURABAYA
20 MARET 2013
No. Nama Tanda Tangan

KUESIONER PENYULUHAN
A. PETUNJUK SOAL !
1. Pilihlah salah satu jawaban yang menurut anda benar dengan memberikan
tanda centang () pada kotak yang tersedia.
2. Jawaban tidak dipengaruhi oleh orang lain.
No. Soal Benar Salah
1. Hipertensi adalah keadaan dengan tekanan darahnya
kurang dari 140 mmHg sistolik atau 90 mmHg diastolik.

2. Keturunan dan konsumsi garam yang berlebihan dapat


menjadi pemicu timbulnya hipertensi
3. Tanda dan gejala yang tampak pada hipertensi adalah Sakit
kepala sebelah kanan/ kiri saja dan sesak napas
4. Apakah dengan sekali tensi dapat disimpulkan bahwa kita
menderita hipertensi
5. Sering kencing pada malam hari merupakan dampak dari
hipertensi
6. Cara praktis yang dapat dilakukan untuk mengataasi
hipertensi adalah lari pagi, senam, kurangi alkohol,
kurangi rokok
LAPORAN HASIL PENYULUHAN HIPERTENSI
HARI RABU TANGGAL 20 MARET 2013
DI CORIDOR ICU RSK ST. VINCENTIUS A PAULO SURABAYA

Moderator : Dian Kusuma Nigrum


Pembawa Materi :
1. Anita Sahara
2. Dian Kusuma Nigrum
3. Fransiska Wogo
4. Mimin Novita Sari
Media yang digunakan : Leaflet + LCD
Jumlah peserta : 8 orang
Proses Kegiatan :
Waktu kegiatan :
Penyuluhan dimulai pukul 11.00 11.30 WIB.
Evaluasi :
Struktur:
Pembagian tugas sudah jelas dan dilaksanakan sesuai dengan tugasnya masing-
masing. Media yang digunakan menarik karena berwarna dan bergambar.
Proses :
- Suara penyaji lantang, jelas dan intonasi tidak monoton
- Penyuluhan berjalan lancar
- Peserta mengikuti jalannya penyuluhan sampai selesai dan tidak
meninggalkan tempat hingga penyajian materi selesai
- Respon dari peserta bagus dan mengikuti jalannya penyuluhan dengan
baik, sehingga terjadi feedback yaitu dengan adanya pertanyaan-pertnyaan
sebagai berikut:
1. Pak Arief Tanjung : Apakah bahaya hipertensi bawaan sama dengan
hipertensi yang terjadi karena gaya hidup dan bagaimana mengatasiya?
2. Pak Arion : Berapa kali perlu dilakukan tes untuk memastikan adanya
hipertensi?
3. Pak Arion : Apakah konsumsi alcohol dan kopi diperbolehkan dengan
frekuensi sering?
4. Pak Heru : Apakah dengan tekanan darah yang awalnya 110/80 mmHg
menjadi 130/90 sudah dikatakan hipertensi dengan tanda-tanda yang
ada dan bagaimana penangannya?
Jawaban :
1. Bahaya yang akan terjadi baik dari hipertensi bawaan maupun hipertensi
karena gaya hidup sama. Karena proses terjadinya kompikasi sama-sama
berawal dari kontraksi pembulu darah yang berlebihan.
2. Baiknya pengukuran tekanan darah dilakukan 2 kali dalam sehari, yakni
waktu pagi hari saat bagun tidur dan malam hari sebelum tidur.
3. Konsumsi alcohol diperbolehkan 1 sloki (10cc) namun tidak setiap hari,
sedangkan kopi dapat meningkatkan kerja jantung sehingga menimbulkan
hipertensi. Sebaiknya usia diatas 40 tahun dikurangi atau dihindari karena
pada usia tersebut lebih berisiko akibat dari penurunan elastisitas pembuluh
darah dan fungsi organ tubuh .
4. Tidak. Hal ini dikarenakan untuk memastikan diagnose hipertensi bukan
hanya dengan pengukuran tekanan darah tetapi perlu pemeriksaan penunjang
lainnya.
Penanganan yang dilakukan tergantung dari factor penyebab seperti jika
penyebabnya strees maka yang dilakukan adalah beristirahat, jika
penyebabnya adalah hiperkolestrol maka yang dilakukan diet lemak,
berolahraga dan minum obat untuk hiperkolesterol.
Hasil :
Hasil kuesioner pra penyuluhan didapatkan sebanyak 50% responden menjawab
dengan benar, sedangkan post 75% responden menjawab dengan benar. Hal ini
menunjukkan bahwa adanya peningkatan pengetahuan responden tentang hipertensi.

DOKUMENTASI HASIL PENYULUHAN


Penyajian Diskusi
Pencegahan & Penanganan HIPERTENSI
A. Non Farmakologi
Mengurangi kelebihan bobot berat badan

Membatasi asupan alcohol

Membatasi konsumsi garam

Berhenti merokok

Mengurangi lemak Mahasiswa Prodi S1 Keperawatan


Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Katolik
St. Vincentius a Paulo

Bekerja sama dengan


B. Farmakologi
RSK St. Vincentius a Paulo
Surabaya
Diuretika, misal Lasix 2 013
Penghambat saluran kalsium
Penghambat enzim pengubah angiotensin II
Antagonis resptor-beta
Antagonis reseptor-alfa
Hipertensi Apa itu ???
Kurang olah raga
Kurang melakukan aktivitas fisik dapat meningkatkan resiko
Komplikasi
seseorang terserang penyakit hipertensi Orang yang tidak 1) Stroke
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah aktif cenderung memiliki denyut jantung lebih tinggi Pecahnya pembuluh darah di otak yg menyebabkan
sistolik dan diastolic dengan konsisten diatas sehingga otot jantung harus bekerja lebih keras pada saat perdarahan sehingga dapat terjadi kelumpuhan.
140/90 mmHg
kontraksi.
Minum-minuman beralkohol
Jika sering mengalami stres, akan terjadi kerusakan
pembuluh darah, jantung, dan ginjal seperti hipertensi
permanen.
Konsumsi kopi berlebihan 2) Gagal Jantung
Hal ini dikarenakan kafein dapat mengakibatkan
penyempitan lubang pembuluh darah akibat endapan lemak
Pembesaran pada otot jantung kiri disebabkan
yang beresiko mengundang serangan jantung dan stroke. kerja keras jantung memompa darah
Merokok
Zat kimia dalam tembakau dapat merusak lapisan dinding
Penyebab arteri sehingga arteri lebih rentan terhadap penumpukan
plak
Usia
Hal ini disebabkan adanya perubahan alami pada jantung,
pembuluh darah, dan hormon. Namun, jika perubahan ini disertai
dengan faktor resiko lain bisa memicu terjadinya hipertensi Tanda & Gejala 3) Gagal Ginjal
Keturunan - Sakit Kepala terutama pada daerah tengkuk Beresiko untuk cuci darah
Hipertensi merupakan penyakit keturunan. Jika kedua orang tua - Rasa Cepat Lelah
kita menderita hipertensi, kemungkinan kita terkena penyakit ini - Kadang bengkak pada pergelangan kaki
sebesar 60%.
- Gelisah &Sulit tidur
Obesitas
Kerja jantung dan sirkulasi volume darah pada penderita
hipertensi yang obesitas lebih tinggi dari penderita tidak - Pemeriksaan
obesitas. - Pemeriksaan utama:
Tensi
ABPM 4) Kerusakan pada mata
Kerusakan pembuluh darah dan saraf pada mata
- Pemeriksaan penunjang:
menyebabkan kebutaan
Pemeriksaan darah lengkap
Fungsi ginjal
EKG (rekam jantung)