Anda di halaman 1dari 3

Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan struktur dan fungsi tubuh yang lebih

kompleks jadi bersifat kualitatof yang pengukurannya yang jauh lebih sulit dari pada
pengukuran pertumbuhan.
2.2. Rasa Aman: seorang anak akan merasa diterima bahwa iya mempunyai tempat dalam
keluarga, keinginananya diperhatikan, apa yang dikatakannya ingin didengar orang tua, tidak
diacuhkan.
2.3. Harga Diri: setiap anak ingin merasa bahwa ia mempunyai tempat dalam keluarga,
keinginannya diperhatikan, apa yang dikatakannya ingin didengar orang tua, tidak diacuhkan.
2.4. Kebutuhan akan sukses: setiap anak ingin merasa bahwa apa yang diharapkan daripadanya
dapat dilakukannya dan ia merasa sukses mencapai sesuatu yang diinginkan orang tua.
Janganlah anak dipaksa melakukan sesuatu diluar kemampuannya. Oleh karena besar
kemungkinan ia gagal. Jika kegagalan terjadi berulang-ulang, ia akan merasa kecewa dan
akhirnya merasa kehilangab kepercayaan dirinya. Ia akan merasa rendah diri dari pergaulan
dengan teman-temannya.
2.5. mandiri: kemandirian pada anak hendaknya selalu didasarkan pada perkembangna anak.
Apabila orang tua masih menuntut anaknya mandiri yang melampaui kemampuannya, maka
anak menjadi tertekan. Anak masih perlu bantuan untuk belajar mandiri, belajar untuk
memahami persoalan, memahami apa yang harus diperhatikan dan kesemuanya iti memerluakn
waktu.
2.6. Dorongan: anak membutuhkan dorongan dari orang-orang disekelilingnya apabila tak
mampu menghadapi situasi atau masalah. Tentu saja dorongan yang diberikan bukan
merupakan bantuan yang seutuhnya sehingga anak tinggal menerima jadi tetapi dapat berupa
langkah-langkah yang dapat diambil memberi semangat bahwa dia dahulu dapat mengatasi
dengan baik dan sebagainya. Dengan demikian anak merasa dapat dorongan dan mempunyai
semangat untuk menghadaoi situasi-situasi atau masalah.
2.7. Kebutuhan mendapatkan kesempatan dan pengalaman. Anak-anak membutuhkan
dorongan orang tua dan orang-orang disekelilingnya dengan diberikan kesempatan dan
pengalaman dalam mengembangkan sifat-sifat bawaannya. Apabila anak menerima hasil tanpa
usaha, anak justru tidak senang. Dia ingin diberikan kesempatan menunjukan kemampuan
ingin mempunyai pengalaman.
2.8. Rasa memiliki: kebutuhan anak akan rasa memiliki sesuatu (betapapun kecilnya) harus
diperhatikan. Semua benda-benda miliknya yang dianggap berharga harus dapat dia miliki
sendiri (bagi orang tua barang-barang tersebut tidak berharga sama sekali). Orang tua harus
dapat memberikan rasa memiliki pada anak. Penghargaan orang tua pada benda milik anak
sangat diperlukan anak.
Ikatan ibu-anak yang erat, mesra, selaras, seawal dan sepermanen mungkin sangatlah penting
karena:
a. Turut menentukan perilaku anak di kemudian hari
b. Merangsang perkembangan otak anak
c. Merangsang perhatian anak kepada dunia luar
Pemenuhan kebutuhan emosi (asih) ini dapat dilakukan sedini-seawal mungkin yaitu dengan
mendekapnya bayi pada ibunya sesegera mungkin setelah lahir. Keadaan ini akan
menimbulkan kontak fisis (kontak kulit) dan psikis (kontak mata) sedini mungkin.
Bahkan dimasa pranatal pun kebutuhan emosi anak (janin) seharusnya sudah harus dipenuhi
yaitu dengan mengupayakan agar kehamilannya merupakan kehamilan yang diinginkan,
sewaktu hamil ibu berbicara dengan bayi yang dikandungan.
3. Kebutuhan akan stimulasi (asah)
Merupakan cikal bakal proses pembelajaran anak: pendidikan dan pelatihan. Yang dimaksud
dengan stimulasi disini adalah perangsangan yang datang dari lingkungan luar anak antara lain
berupa latihan atau bermain. Stimulasi merupakan hal yang sangat penting dalam tumbuh
kembang anak. Anak yang yang banyak mendapat stimulasi yang terarah akan cepat
berkembang dibandingkan dengan anak yang kurang atau bahkan tidak mendapat stimulasi.
Stimulasi juga dapat berfungsi sebagai penguat yang bermanfaat bagi perkembangan anak.
Stimulasi harus dilaksanakan dengan penuh perhatian dan kasih sayang.
Bermain, mengajak anak berbicara (komunikasi verbal) dengan penuh kasih sayang adalah
makanan yang penting bagi perkembangan anak, seperti halnya kebutuhan makanan untuk
pertumbuhan badan. Bermain pada anak tidak hanya sekedar mengisi waktu luang anak saja,
tetapi melalui bermain anak bisa belajar mengendalikan dan mengkoordinasikan otot-ototnya
melibatkan perasaan emosi dan pikiran. Dengan demikian melalui bermain anak mendapat
berbagai pengalaman hidup.
Manfaat lain dari bermain apabila dilakukan bersama orang tuanya adalah hubungan orang tua
dan anak menjadi semakin akrab dan juga orang tua mengetahui secara dini kalau anaknya
mengalami gangguan perkembangan.
Agar dapat bermain, diperlukan juga tersedianya alat permainan edukatif dan kratif yang layak
sesuai dengan kematangan mental anak.
Stimulasi mental ini diperlukan seawal dan sedini mungkin, terutama sampai 4-5 tahun pertama
setelah lahir. Bhakan sewaktu dalam kandungan, asah ini sudah diperlukan. Hal ini dapat
dilakukan dengan berbicara dengan anak dalam kandungan serta memperdengarkan jenis-jenis
musik klasik yang protoritmenya sesuai dengan protoritme anak (janin) serta merangsang
hemisfer (belahan) otak kanan. Setelah lahir stimulasi mental sudah dapat diberikan sedini
mungkin (setelah bayi dibersihkan) menetekkan bayi pada ibunya. Tindakan ini pada bayi akan
asah yang akan menyempurnakan refleks menghisap, refleks menelan dan refleks menemukan
puting susu (rooting refleks). Karena asah ini diperlukan sedini mungkin (sampai 4-5tahuns
setelah lahir) maka periode ini sering disebut sebagai tahun-tahun keemasan (golden years).
Stimulasi mental akan menunjang perkembangan mental-psikososial, antara lain: sifat agamis
moral etika, budi luhur, keperibadian mantap, kecerdasan (kognitif, emosi-sosial, spiritual),
kemandirian, kreativitas, ketrampilan, produktivitas dan sebagainya.
Menurut tempat didapatnya, asah (pendidikan) dibagi menjadi:
1. Pendidikan informal (dirumah, dalam keluarga)
2. Pendidikan formal: SD, SLP, SMU, PT dan sebagainya
3. Pendidikan non-formal
Pendidikan ketiga: dimasyarakat; kelompok pengajian anak, sekolah minggu, pramuka,
palang merah remaja dan sebagainya.