Anda di halaman 1dari 10

Adab-Adab Dalam Berdoa

ADAB-ADAB DALAM BERDOA

Oleh
Syaikh Abdul Hamid bin Abdirrahman as-Suhaibani

1. Mengucapkan pujian kepada Allah terlebih dahulu sebelum berdoa dan diakhiri dengan
mengucapkan shalawat kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam

Hal itu karena engkau memohon kepada Allah suatu pemberian rahmat dan ampunan, maka
pertama kali yang harus dilakukan olehmu adalah memberikan sanjungan dan pengagungan
sesuai dengan kedudukan Allah Yang Mahasuci.

: :




















.

Dari Fadhalah bin Ubad Radhiyallahu anhu, ia berkata: Ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wa
sallam dalam keadaan duduk-duduk, masuklah seorang laki-laki. Orang itu kemudian
melaksanakan shalat dan berdoa: Ya Allah, ampunilah (dosaku) dan berikanlah rahmat-Mu
kepadaku. Maka, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Engkau telah tergesa-gesa,
wahai orang yang tengah berdoa. Apabila engkau telah selesai melaksanakan shalat lalu engkau
duduk berdoa, maka (terlebih dahulu) pujilah Allah dengan puji-pujian yang layak bagi-Nya dan
bershalawatlah kepadaku, kemudian berdoalah. Kemudian datang orang lain, setelah
melakukan shalat dia berdoa dengan terlebih dahulu mengucapkan puji-pujian dan
bershalawat kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, maka Rasulullah Shallallahu alaihi
wa sallam berkata kepadanya, Wahai orang yang tengah berdoa, berdoalah kepada Allah
niscaya Allah akan mengabulkan doamu.[1]

2. Husnuzhzhan (berbaik sangka) kepada Allah


Allah Subhanahu wa Taala berfirman,

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada-mu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya
Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa. [Al-Baqarah/2: 186]

Allah dekat dengan kita dan Allah bersama kita dengan ilmu-Nya (pengetahuan-Nya),
pengawasan-Nya dan penjagaan-Nya. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah meme-
rintahkan kepada kita untuk menyerahkan masalah pengabulan doa hanya kepada Allah dan
harus me-rasa yakin dengan terkabulnya doa.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam
bersabda,
.

Berdoalah kepada Allah dalam keadaan engkau merasa yakin akan dikabulkannya doa.[2]

Maksud hadits ini adalah kalian harus merasa yakin dan percaya bahwa Allah dengan
kemurahan-Nya dan karunia-Nya yang agung tidak akan mengecewakan seseorang yang
berdoa kepada-Nya, apabila dipanjatkan dengan penuh pengharapan dan ikhlas yang sebenar-
benarnya. Hal ini disebabkan apabila seseorang yang berdoa tidak percaya dan yakin akan
terkabulnya doa yang ia panjatkan, maka tidaklah mungkin ia memanjatkan doanya dengan
bersungguh-sungguh.

3. Mengakui dosa-dosa yang diperbuat. Perbuatan tersebut mencerminkan sempurnanya


penghambaan terhadap Allah

Hal ini berdasarkan hadits dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu, ia berkata, Telah
bersabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam:


:
:


.

Sesungguhnya Allah kagum kepada hamba-Nya apabila ia berkata: Tidak ada sesembahan
yang hak kecuali Engkau, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, maka ampunilah
dosa-dosaku karena sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa-dosa itu kecuali Engkau.
Allah berfirman, Hamba-Ku telah mengetahui bahwa baginya ada Rabb yang mengampuni dosa
dan menghukum.[3]

4. Bersungguh-sungguh dalam berdoa


Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu,
bahwasanya ia berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

Apabila salah seorang di antara kalian berdoa maka hendaklah ia bersungguh-sungguh dalam
permohonannya kepada Allah dan janganlah ia berkata, Ya Allah, apabila Engkau sudi, maka
kabulkanlah doaku ini, karena sesungguhnya tidak ada yang memaksa Allah.[4]

Maksud dari bersungguh-sungguh dalam berdoa adalah terus-menerus dalam meminta dan
memohon kepada Allah dengan mendesak.

5. Mendesak terus-menerus dalam berdoa


Hal ini berdasarkan hadits dari Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata,

:



.

Mantel kepunyaannya telah dicuri, kemudian ia mendoakan kejelekan kepada orang yang
mencurinya, maka Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Jangan engkau
meringankannya.[5]

Maksudnya janganlah engkau meringankan dosa perilaku mencurinya dengan doamu untuk
kejelekannya.
6. Berdoa dengan mengulanginya sebanyak tiga kali
Telah diriwayatkan dengan shahih dalam as-Sunnah, sebagaimana hadits riwayat Muslim yang
panjang dari Sahabat Ibnu Masud Radhiyallahu anhu, ia berkata,

:












.

Setelah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam selesai dari shalatnya, beliau mengeraskan
suaranya, kemudian mendoakan kejelekan bagi mereka dan apabila Rasulullah Shallallahu
alaihi wa sallam berdoa, beliau ulang sebanyak tiga kali dan apabila beliau Shallallahu alaihi
wa sallam memohon, diulanginya sebanyak tiga kali kemudian beliau Shallallahu alaihi wa
sallam berdoa: Ya Allah, atas-Mu kuserahkan kaum Quraisy, Ya Allah, atas-Mu kuserahkan
kaum Quraisy, Ya Allah, atas-Mu kuserahkan kaum Quraisy.[6]

7. Berdoa dengan lafazh yang singkat dan padat namun maknanya luas
Yaitu dengan perkataan ringkas dan bermanfaat yang menunjukkan pada makna yang luas
dengan lafazh yang pendek dan sampai kepada maksud yang diminta dengan menggunakan
susunan kata yang paling sederhana (tidak bersajak-sajak) sebagaimana keterangan yang
terdapat dalam Sunan Abi Dawud dan Musnad Imam Ahmad dari Aisyah bahwasanya ia
berkata:

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam sangat menyukai berdoa dengan doa-doa yang
singkat dan padat namun makna-nya luas dan tidak berdoa dengan yang selain itu.[7]

Salah satu contoh dari doa ini adalah hadits yang diriwayatkan dari Farwah bin Naufal, ia
berkata: Aku bertanya kepada Aisyah tentang doa yang senantiasa dipanjatkan oleh
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, ia berkata, Beliau Shallallahu alaihi wa sallam
senantiasa mengucapkan doa:

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keburukan apa yang telah aku
kerjakan dan dari keburukan yang belum aku kerjakan.[8]

Sedangkan contoh yang lain adalah hadits Abu Musa al-Asyari, dari Nabi Shallallahu alaihi wa
sallam bahwasanya beliau senantiasa berdoa dengan doa berikut:

Ya Allah, berikanlah ampunan kepadaku atas kesalahan-kesalahanku, kebodohanku, serta


sikap berlebihanku dalam urusanku dan segala sesuatu yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada diriku. Ya Allah, berikanlah ampunan kepadaku atas keseriusanku dan candaku,
kekeliruanku dan kesengajaanku, semua itu ada pada diriku. Ya Allah, berikanlah ampunan
kepadaku atas apa-apa yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan, apa-apa yang aku
sembunyi-kan dan yang aku tampakkan, serta apa-apa yang Engkau lebih mengetahui daripada
aku, Engkaulah Yang Mahamendahulukan (hamba kepada rahmat-Mu) dan Yang
Mahamengakhirkan, Engkaulah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.[9]
8. Orang yang berdoa hendaknya memulai dengan mendoakan diri sendiri (jika hendak
mendoakan orang lain)

Sebagaimana firman Allah Taala:

Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih
dahulu dari kami [Al-Hasyr/59: 10]

Firman-Nya yang lain:

Musa berdoa: Ya Rabbku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam
rahmat Engkau [Al-Araaf/7: 151]

Firman-Nya yang lain:

Ya Rabb-ku, berikanlah ampun kepadaku dan kedua ayah ibuku dan sekalian orang-orang
mukmin pada hari terjadinya hisab (hari Kiamat). [Ibrahim/14: 41]

Dari Ibnu Abbas dari Ubay bin Kaab, ia berkata,

Apabila Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam ingat kepada seseorang, maka beliau
mendoakannya dan sebelumnya beliau mendahulukan berdoa untuk dirinya sendiri.[10]

Namun hal tersebut bukan merupakan kebiasaan dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam
dan terkadang memang benar Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mendoakan orang lain
tanpa mendoakan dirinya sendiri sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam
dalam kisah Hajar:

Semoga Allah memberikan rahmat kepada Ibu Nabi Ismail, seandainya beliau membiarkan air
Zamzam (mengalir bebas) niscaya ia menjadi mata air yang terus mengalir.[11]

9. Memilih berdoa di waktu yang mustajab (waktu yang pasti dikabulkan), di antaranya adalah:
a. Pada waktu tengah malam[12]
b. Di antara adzan dan iqamah[13]
c. Di saat dalam sujud[14]
d. Ketika adzan
e. Ketika sedang berkecamuk peperangan[15]
f. Setelah waktu Ashar pada hari Jumat[16]
g. Ketika hari Arafah[17]
h. Ketika turun hujan[18]
i. Ketika 10 hari terakhir bulan Ramadhan (Lailatul Qadar). (Lihat ad-Dua, karya Abdullah al-
Khudhari).[19]
[Disalin dari kitab Aadaab Islaamiyyah, Penulis Abdul Hamid bin Abdirrahman as-Suhaibani,
Judul dalam Bahasa Indonesia Adab Harian Muslim Teladan, Penerjemah Zaki Rahmawan,
Penerbit Pustaka Ibnu Katsir Bogor, Cetakan Kedua Shafar 1427H Maret 2006M]
_______
Footnote
[1]. Shahih: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 3476) dan Abu Dawud (no. 1481). Dishahihkan
oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah dalam Shahiihul Jaami (no. 3988).
[2]. Hasan: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dalam Sunannya (no. 3479). Dihasankan oleh Syaikh
al-Albani rahimahullah dalam Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 594).
[3]. Shahih: Diriwayatkan oleh al-Hakim (II/98-99) dari Sahabat Ali bin Rabiah. Lihat Silsilah
al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 1653), karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani
rahimahullah.
[4]. Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 6338) dan Muslim (no. 2678). Lafazh hadits ini
berdasarkan riwayat al-Bukhari.
[5]. Dhaif: Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya (no. 1497). Didhaifkan oleh Syaikh
al-Albani t dalam Dhaiif Sunan Abi Dawud (no. 1050).
[6]. Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 240) dan Muslim (no. 1794 (107)).
[7]. Shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 1482), Ahmad (VI/148, 189) dan al-Hakim
(I/539). Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahiih al-Jaamiish Shaghiir
(no. 4949).
[8]. Shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 2716).
[9]. Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 6399) dan Muslim (no. 2719 (70)).
[10]. Shahih: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 3385) dan Abu Dawud (no. 3984). Dishahihkan
oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahiih al-Jaamiish Shaghiir (no. 4723).
[11]. Shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya (V/ 121, no. 21163). Dishahihkan
oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 1669).
[12]. Dalilnya firman Allah Taala:

Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah). [Adz-Dzaaariyat/51: 18]

Hadits dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

:


.

Rabb kita (Allah)


turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir seraya
berfirman; Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku saat ini, niscaya Aku akan
memperkenankannya, barangsiapa yang meminta kepada-Ku niscaya Aku akan
memberikannya, barangsiapa yang meminta ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan
mengampuninya. [HR. Al-Bukhari no. 1145, Muslim no. 758 dan at-Tirmidzi no. 3498]

[13]. Dalilnya sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam:

Doa yang dipanjatkan antara adzan dan iqamah tidak akan ditolak, maka berdoalah. [HR. Abu
Dawud no. 521, at-Tirmidzi no. 212, Ahmad III/155 dan at-Tirmidzi berkata: Hadits hasan
shahih. Syaikh al-Albani menshahihkan dalam Shahiihul Jaami no. 3408).

[14]. Dalilnya sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:



.

Saat yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika dia sedang sujud
(kepada Rabb-nya), maka perbanyaklah doa (dalam sujud kalian). [HR. Muslim no. 482, Abu
Dawud no. 875 dan an-Nasa-i II/226 no. 1137]

[15]. Dalilnya sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

Dua waktu yang tidak akan ditolak (permohonan yang dipanjatkan di dalamnya, atau sedikit
kemungkinan untuk ditolak, yaitu doa setelah (dikumandangkan) adzan dan doa ketika
berkecamuk peperangan, tatkala satu dan lainnya saling menyerang. [HR. Abu Dawud no. 2540,
ad-Darimi no. 1200, Syaikh al-Albani menshahihkan dalam Shahiihul Jami no. 3079].

[16]. Setelah Ashar pada hari Jumat, dalilnya:

Pada hari itu (hari Jumat) terdapat waktu-waktu tertentu, tidaklah seorang hamba berdiri
melaksanakan shalat dan berdoa memohon sesuatu kepada Allah, melainkan Allah pasti akan
mengabulkannya. Kemudian beliau Shallallahu alaihi wa sallam memberikan isyarat dengan
tangannya (yang menggambaran) waktu itu pendek. [HR. Al-Bukhari no. 935 dan Muslim no.
852 (13)]

Waktu itu adalah saat setelah shalat Ashar sebagaimana yang dikuatkan oleh Ibnul Qayyim
dalam kitabnya Zaadul Maad (I/390).

[17]. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

Sebaik-baik doa ialah doa hari Arafah [HR. At-Tirmidzi no. 3585, Malik dalam al-
Muwaththa no. 500, hadits ini dihasankan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani di
dalam Shahiihul Jami no. 3274 dan Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 1503]

[18]. Dari Sahl bin Saad Radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam
bersabda:

Dua waktu yang padanya sebuah permohonan (doa) tidak akan ditolak oleh Allah, doa ketika
setelah dikumandangkan adzan dan doa ketika turun hujan. [HR. Al-Hakim II/114, Abu Dawud
no. 3540. Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani menghasankannya dalam Shahihul Jami no.
3078]

[19]. 10 hari terakhir bulan Ramadhan (di dalamnya terdapat Lailatul Qadar). Dari Aisyah
Radhiyallahu anhuma ia berkata, Aku bertanya, Wahai Rasulullah, apakah yang sebaiknya aku
baca pada Lailatul Qadar? Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menjawab, Bacalah:


.

Ya Allah, sesungguhnya Engkau Mahapemberi maaf dan mencintai pemberian maaf, maka
maafkanlah aku. [HR. At-Tirmidzi no. 3513 dan Ibnu Majah no. 3850. Dishahihkan oleh Syaikh
al-Albani dalam Shahiihul Jami no. 4423].

Sumber: https://almanhaj.or.id/4003-adab-adab-dalam-berdoa.html

ADAB BERDOA DAN CARA BERDOA 10 Adab Agar Doa Dikabulkan Ulis Tofa, Lc
31/08/09 | 11:35 Fiqih Islam Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com.
Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan
kepada kami, klik di sini. masjid dan doadakwatuna.com Ramadhan adalah syahrud duaa
bulan berdoa-. Sehingga rangkaian ayat-ayat shaum yang panjang itu, disisipi seruan untuk
berdoa. Allah swt. berfirman: Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang
Aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang
yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala
perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam
kebenaran. (QS. Al-Baqarah: 186) Pengalihan seruan dari orang-orang beriman terkait
dengan hukum-hukum shaum, beralih pada seruan untuk Rasulullah saw. agar beliau
mengajarkan dan mengingatkan orang-orang beriman, apa-apa yang mesti mereka perhatikan
dalam pelaksanaan ibadah, baik berupa ketaatan maupun sikap ikhlas, juga bersimpuh hanya
kepada-Nya dengan doa, doa yang mengantarkan mereka pada petunjuk dan jalan kebaikan.
Ini menunjukkan betapa pentingnya ibadah doa. Bahkan ada tiga kelompok yang doanya
tidak akan tertolak: :
( : ) Tiga
kelompok yang tidak akan ditolak doanya: Orang yang berpuasa sampai ia berbuka.
Pemimpin yang adil. Dan doa orang yang teraniaya. Allah menyibak awan dan membuka
pintu-pintu langit seraya berfirman: Demi kemulian-Ku dan keagungan-Ku, pasti Aku
tolong kamu, walau setelah beberapa waktu. Ahmad dan At Tirmidzi Doa adalah
perwujudan rasa cinta seorang hamba kepada Allah swt., sekaligus pengakuan akan
kebutuhan dan pertolongan-Nya. Hakikat doa sebenarnya juga meminta kekuatan dan
kesanggupan dari Allah swt. Dalam doa ada makna memuji Allah swt., ada pengakuan bahwa
Allah Maha Mulia lagi Maha Pemurah. Itu semua menjadi ciri pengabdian dan penghambaan.
Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa yang tidak meminta kepada
Allah, Allah marah padanya. Beliau juga bersabda: . Sebaik-baik ibadah
adalah doa Diriwayatkan dari Numan bin Basyir dari Nabi saw. bersabda: Doa adalah
ibadah. Dan Tuhan Kalian menyeru: Berdoalah kalian kepada-Ku, Pasti Aku kabulkan doa
kalian. Rasulullah saw. juga bersabda: Sesungguhnya orang yang paling bakhil di antara
manusia adalah orang yang pelit salam. Dan selemah-selemah manusia adalah orang yang
tidak mau berdoa. Dari Salman berkata, Rasulullah saw. bersabda: (
( Putusan atau qadha Allah tidak bisa ditolak kecuali dengan doa. Dan
sesuatu tidak akan menambah umur kecuali kebaikan atau al-birr. Diriwayatkan dari imam
Ahmad, Bazzar dan Abu Yala dengan sanad jayyid, dari Abu Said bahwa Nabi saw.
bersabda: : - -
.
: . :. Tiada setiap muslim berdoa dengan suatu doa, dalam doa itu tidak
ada unsur dosa dan memutus tali silaturahim, kecuali Allah pasti memberikan kepadanya
salah satu dari tiga hal; adakalanya disegerakan doanya baginya, adakalanya disimpan
untunya diakhirat kelak, dan adakalanya dirinya dihindarkan dari keburukan. Para sahabat
bertanya: Jika kami memperbanyak doa? Rasulullah saw. bersabda: Allah lebih banyak
(mengabulkan doa). Rasulullah saw. bersabda: Tiada di atas permukaan bumi seorang
muslim yang berdoa kepada Allah dengan suatu doa kecuali Allah akan mendatangkan
kepadanya apa yang ia pinta, atau Allah palingkan darinya keburukan. Ketika ia tidak berbuat
dosa atau sedang memutus hubungan silaturahim. Rasulullah saw. juga bersabda dalam
hadits Qudsi, Allah swt. berfirman: : :- -
. Aku tergantung persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersamanya
ketika ia berdoa kepada-Ku. Adab Berdoa Pertama, Memakan makanan dan memakai
pakaian dari yang halal. Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:
Seorang laki-laki yang lusuh lagi kumal karena lama bepergian mengangkat kedua tanganya
ke langit tinggi-tinggi dan berdoa : Ya Rabbi, ya Rabbi, sementara makanannya haram,
minumannya haram, pakaiannya haram dan dagingnya tumbuh dari yang haram, maka
bagaimana doanya bisa terkabulkan.? Imam Muslim Kedua, Hendaknya memilih waktu dan
keadaan yang utama, seperti: 1. tengah malam, Rasulullah saw. bersabda: :
:.
Keadaan yang paling dekan antara Tuhan dan hambanya adalah di waktu tengah malam
akhir. Jika kamu mampu menjadi bagian yang berdzikir kepada Allah, maka kerjakanlah pada
waktu itu. Dari Jabir berkata, Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya bagian dari malam
ada waktu yang apabila seorang hamba muslim meminta kebaikan kepada Allah dan sesuai
dengan waktu itu, pasti Allah mengabulkannya. Imam Ahmad menambah: Itu terjadi di
setiap malam. 2. saat sujud. Rasulullah saw. bersabda: Dan adapun ketika sujud, maka
bersungguh-sungguhlah kalian berdoa, niscaya akan diijabahi doa kalian. 3. ketika adzan.
Rasulullah saw. bersabda: Ketika seorang muadzin mengumandangkan adzan, maka pintu-
pintu langit dibuka, dan doa diistijabah. 4. antara adzan dan iqamat. Rasulullah saw.
bersabda: Doa antara adzan dan iqamat mustajab, maka berdoalah. 5. ketika bertemu
musuh. Dari Sahl bin Saad, dari Nabi saw. bersabda: Dua keadaan yang tidak tertolak atau
sedikit sekali tertotak; doa ketika adzan dan doa ketika berkecamuk perang. 6. ketika hujan
turun. Dari Sahl bin Saad dari Nabi saw. bersabda: Dan ketika hujan turun. 7. potongan
waktu akhir di hari Jumat. Rasulullah saw. bersabda: Hari Jumat 12 jam tiadalah seorang
muslim yang meminta kepada Allah sesuatu, kecuali pasti Allah akan memberinya. Maka
carilah waktu itu di akhir waktu bakda shalat Ashar. 8. doa seseorang untuk saudaranya
tanpa sepengetahuan saudaranya. Dalam riwayat Imam Muslim dari Abu Darda berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Tiada seorang muslim yang berdoa bagi saudaranya tanpa
sepengetahuan saudaranya itu, kecuali Malaikat berkata, bagimu seperti apa yang kamu
doakan untuk saudaramu. Dalam kesempatan yang lain Rasulullah saw. bersabda: Doa
seorang al-akh bagi saudaranya tanpa sepengetahuan dirinya tidak tertolak. 9. hendaknya
ketika tidur dalam kondisi dzikir, kemudian ketika bangun malam berdoa. Dari Muadz bin
Jabal dari Nabi saw. bersabda: Tiada seorang muslim yang tidur dalam keadaan dzikir dan
bersuci, kemudian ketika ia bangun di tengah malam, ia meminta kepada Allah suatu
kebaikan dunia dan akhirat, kecuali Allah pasti mengabulkannya. Ketiga, Berdoa
menghadap kiblat dan mengangkat doa tangan. Dari Salman Al-Farisi berkata, Rasulullah
saw. bersabda: Sesungguhnya Allah Maha Hidup lagi Maha Pemurah. Dia malu jika ada
seseorang yang mengangkat kedua tangannya berdoa kepada-Nya, Dia tidak menerima
doanya, nol tanpa hasil. Keempat, Dengan suara lirih, tidak keras dan tidak terlalu pelan.
Rasulullah saw. bersabda: Wahai manusia, sesungguhnya Dzat yang kalian berdoa kepada-
Nya tidak tuli dan juga tidak tidak ada / gaib. Kelima, Tidak melampaui batas dalam berdoa.
Allah swt. berfirman: Berdoalah kepada Tuhan kalian dengan penuh rendah diri dan takut
(tidak dikabulkan). Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang yang melampaui batas. Al-
Araf:55. Contoh melampai batas dalam berdoa adalah minta disegerakan adzab, atau doa
dalam hal dosa dan memutus silaturahim dll. Keenam, Rendah diri dan khusyu. Allah swt.
berfirman: Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Al-Araf:55. Allah
swt. berfirman dalam surat Al-Anbiya:90: Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami
anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung.
Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan)
perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas.
Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu kepada Kami. Ketujuh, Sadar ketika berdoa,
yakin akan dikabulkan dan benar dalam pengharapan. - :
:- Dari Abu Hurairah
ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda: Berdoalah kepada Allah, sedangkan kalian yakin akan
dikabulkan doa kalian. Ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.
Imam Ahmad Rasulullah saw. juga bersabda: Jika salah satu di antara kalian berdoa, maka
jangan berkata: Ya Allah ampuni saya jika Engkau berkenan. Akan tetapi hendaknya
bersungguh-sungguh dalam meminta, dan menunjukkan kebutuhan. Sufyan bin Uyainah
berkata: Janganlah salah seorang dari kalian menahan doa apa yang diketahui oleh hatinya
(dikabulkan), karena Allah swt. mengabulkan doa makhluk terkutuk, iblis laknatullah alaih.
Allah swt. berfirman: Berkata iblis: Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah
kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan. Allah berfirman: (Kalau begitu) maka
sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh. Al-Hijr:36-37 Kedelapan,
Hendaknya ketika berdoa memelas, menganggap besar apa yang didoakan dan diulang tiga
kali. Ibnu Masud bekata: Adalah Rasulullah saw. jika berdoa, berdoa tiga kali. Dan ketika
meminta, meminta tiga kali. Rasulullah saw. bersabda: Jika salah satu di antara kalian
meminta, maka perbanyaklah atau ulangilah, karena ia sedang meminta kepada Tuhannya.
Kesembilan, Hendaknya ketika berdoa dimulai dengan dzikir kepada Allah dan memujinya
dan agar mengakhirinya dengan shalawat atas nabi saw. Kesepuluh, Taubat dan
mengembalikan hak orang yang dizhalimi, menghadap Allah dengan ringan. Dari Umar bin
Khattab ra. berkata: Sesungguhnya saya tidak memikul beban ijabah, akan tetapi memikul
doa, maka ketika saya telah berupaya dalam doa, maka ijabah atau dikabulkan akan
bersamanya. Ia melanjutkan: Dengan sikap hati-hati dari apa yang diharamkan Allah swt.
Allah akan mengabulkan doa dan tasbih. Dari Abdullah bin Masud ra berkata:
Sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkan kecuali orang yang sadar dalam berdoa.
Sesungguhnya Allah tidak mengabulkan dari orang yang mendengar, melihat, main-main,
sendau-gurau, kecuali orang yang berdoa dengan penuh keyakinan dan kemantapan hati.
Dari Abu Darda berkata: Mintalah kepada Allah pada hari di mana kamu merasa senang.
Karena boleh jadi Allah mengabulkan permintaanmu di saat susah. Dia juga berkata:
Bersungguhlah dalam berdoa, karena siapa yang memperbanyak mengetok pintu, ia yang
akan masuk. Dari Hudzaifah berkata: Akan datang suatu zaman, tidak akan selamat pada
zaman itu, kecuali orang yang berdoa dengan doa seperti orang yang akan tenggelam.
Menghindari kesalahan dalam berdoa Ada beberapa praktek doa yang disebagian umat
muslim masih terus berlangsung, padahal itu menjadi penghalang doa dikabulkan. Di
antaranya adalah: Pertama, Berdoa untuk keburukan keluarga, harta dan jiwa. Dari Jabir ra.
berkata, Rasulullah saw. bersabda: Janganlah kalian berdoa untuk kemadharatan diri kalian,
dan jangan berdoa untuk keburukan anak-anak kalian. Jangan berdoa bagi keburukan harta-
harta kalian. Janganlah kalian meminta kepada Allah di satu waktu yang diijabah Allah,
padahal doa kalian membawa keburukan bagi kalian. Imam Muslim Kedua, Terlalu keras
dalam berdoa. Allah berfirman: Katakanlah: Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman.
Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai Al-Asmaaul Husna (nama-nama
yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu (doamu) dan
janganlah pula merendahkannya. Dan carilah jalan tengah di antara kedua itu. Al-Isra:110
Ketiga, Melampau batas. Seperti berdoa agar disegerakan adzab, doa dengan dicampuri dosa
dan memutus tali silaturahim. Keempat, Berdoa dengan pengecualian. Contoh: Ya Allah,
ampuni saya jika Engkau berkenan. Kelima, Tergesa-gesa. Dari Abu Hurairah, bahwasanya
Rasulullah saw. bersabda: Akan diijabahi doa kalian, jika tidak tergesa-gesa. Sungguh kamu
telah berdoa, maka atau kenapa tidak diijabahi? Imam Bukhari Demikian, uraian singkat
tentang keutamaan doa di bulan Ramadhan, adab berdoa, waktu-waktu yang istijabah, dan
hal-hal yang harus dihindari ketika berdoa. Semoga kesungguhan doa kita, terutama di bulan
suci ini didengar Allah swt., Amin. Allahu alam.

Cheap Offers: http://bit.ly/gadgets_cheap