Anda di halaman 1dari 5

INI 5 KEBOHONGAN MANFAAT SUSU, WAJIB ANDA KETAHUI!!!

Kebohongan Manfaat Susu yang Harus Diketahui – Berikut ini adalah penjelasan dr. Tan Shot Yen
tentang Kebohongan Manfaat Susu yang belum diketahui masyarakat awam. Apa benar susu sapi
baik untuk kesehatan, benarkah susu sapi baik untuk tulang? Atau malah sebaliknya. Bahkan itu
hanya sekedar bualan belaka, sebagai copywriting sebuah iklan produk susu? Mari kita simak
ulasan berikut ini…
Dear dr Tan, saya senang sekali membaca rubrik yang Dokter asuh. Jawaban dokter dari setiap
pertanyaan sangat tegas, lugas dan cerdas.
Saya pernah dengar seminar dari salah seorang ahli gizi manusia harus mengonsumsi susu sejak
lahir hingga menutup mata (meninggal) sedangkan menurut dokter Tan manusia hanya
mengonsumsi susu sejak 0-2 tahun saja itupun hanya ASI.
Saya yang orang awam ini jadi bingung Dok. Anak saya sudah berumur 3 tahun, apakah anak saya
masih perlu mengonsumsi susu?
Saya harap Dokter berkenan untuk menjawabnya.
Veni, Bekasi
——————————————
Jawaban :
dr. Tan Shot Yen:
Hai Veni,Jika anda mengikuti rubrik saya sungguh-sungguh dan MEMBACA SEMUA
INFORMASI BERMANFAAT melalui jalur internet dengan situs-situs yang dapat
dipertanggungjawabkan sebagaimana pernah saya kutipkan sebelumnya, tentu anda tidak akan
bingung.
Anda akan terbiasa bertanya,”Mengapa?” dan “Mengapa?” lagi dan selanjutnya menjadi kritis
dengan jawaban yang diberikan sebelum ‘menelan’ mentah-mentah jawaban dari siapa pun, pakar
di bidang apa pun.
Letak permasalahannya bukan pada perdebatan atau siapa yang salah dan siapa yang benar. Jika
pendapat pakar (yang bisa salah bisa benar) saja yang dijadikan pegangan, maka kepentingannya
terletak justru pada si pakar tersebut – dan apa/siapa yang dibelanya, ada unsur kepentingan apa di
balik opini-opininya, pihak mana yang mendukungnya untuk menyuarakan pendapatnya itu.
Begitu pula dengan menghadapi semua paparan saya. Karena itu saya selalu sertakan bacaan atau
sumber informasi lain sebagai pembanding, jika pembaca membutuhkannya untuk memperluas
pandangan serta menilai. Sehingga pada akhirnya kita sama-sama paham, siapa yang diuntungkan
atau sebenarnya masyarakat diperlakukan sebagai tujuan atau sekadar dijadikan sarana diam-diam
demi kepentingan yang sesungguhnya BUKAN untuk setinggi-tingginya kesehatan manusia.
Karena itu, ilmu kesehatan sangat tidak mungkin berdiri sendiri. Kita perlu merujuk pada
antropologi, sejarah pola hidup dan pola makan manusia, sejarah kepentingan teknologi industri
pangan maupun kesehatan, dan kembali lagi : apakah cocok untuk kesejahteraan manusia yang
optimal lahir-batin-mental-spiritual?
Saya tidak pernah paham dengan alasan mengapa manusia harus mengonsumsi susu selama usia
pertumbuhan yang bukan dari ASI, apalagi sepanjang hayat – seakan-akan bahasanya seperti yang
sering dipakai di kalangan pergaulan anak gadis saya: “Nggak cocok? Paksain ajaaaaaaa!!”
1. Kita perlu belajar dari hewan menyusui. Bahwa susu hanya cocok sebagai “makanan antara”,
ketika bayinya belum sanggup mengunyah dan mencerna.
Begitu bisa tegak, berjalan, mencari makan dan mampu mengunyah makanan padat, maka SUSU
BUKAN LAGI KONSUMSI ALAMIAHNYA. Saya tidak menyamakan manusia dengan hewan
menyusui, tapi kita perlu belajar dari alam, fakta dan menyadari berbagai unsur permainan
“kepentingan yang lain” di balik jargon kesehatan yang hanya dipakai untuk nilai jual.
Faktanya, enzim pencernaan manusia untuk mencerna susu juga sudah mulai menyusut pada usia
2-3 tahun.
Berbarengan dengan itu, gigi manusia pun SUDAH KOMPLIT di usia 2 tahun. Aha! Cocok,
bukan? Lepas dari susu, kunyah makanan padatnya!
2. Alam tidak menyediakan susu apa pun selain ASI untuk konsumsi manusia.
Susu sapi hanya untuk generasi penerus sapi. Susunannya pun sama sekali tidak cocok untuk
manusia.
Sekali lagi, komposisi susu sapi hanya untuk membuat anak-anak sapi gemuk, bertulang besar,
tidak perlu pandai apalagi menikmati umur panjang.
Susu sapi alami sama sekali tidak cocok untuk manusia. Karena “dipaksakan” supaya cocok, maka
agar tidak mengandung bakteri, manusia melakukan sterilisasi susu antara lain dengan pasteurisasi
– efek sampingnya? semua zat gizi susu rusak total (karena itu setelah proses sterilisasi perlu
diimbuhkan berbagai zat dari luar supaya kelihatan “bergizi”-proses pasca sterilisasi inilah
membuat heboh ‘menyusup’nya bakteri beberapa waktu yang lalu).
Begitu pula agar kolesterol susu sapi yang tinggi tidak membuat manusia kegemukan dan naik
kolesterolnya, ditemukanlah teknik yang membuat susu sapi mendapat istilah ‘skim’, karena
minyaknya ditarik/diambil – efek sampingnya? manusia tetap gemuk.
Karena bukan melulu kolesterol yang bermasalah, tapi GULA SUSU (Laktosa) dan
KEASAMANNYA yang membuat tulang justru semakin keropos.
Supaya “cocok” juga untuk kebutuhan kecerdasan anak manusia, maka pemaksaannya adalah
lewat jalur teknologi.
Susu sapi yang miskin gizi itu ditambahkan zat-zat/asam amino yang diduga sebagai bagian dari
kebutuhan perkembangan saraf dan otak.
Padahal, kecerdasan LEBIH DARI SEKADAR ASAM AMINO atau zat yang diimbuhkan
tersebut. Kecerdasan anak berkaitan sangat erat dengan IMD (Inisiasi Menyusu Dini) saat anak
mengintegrasikan KECERDASAN PERTAMANYA secara instinktual untuk merayap menemukan
puting susu ibu selepas dilahirkan sekaligus gerakan merayap tersebut menyelesaikan dan
mengintegrasikan refleks-refleks primitifnya!
Kecerdasan terletak pada antibodi prima MANUSIA yang alami, yang hanya terdapat dalam ASI
hingga usia 2 tahun saja.
Kecerdasan juga berhubungan dengan pematangan “sambungan-sambungan sistem syaraf” dari 3
susunan otak manusia (reptilian brain yang primitif: hanya mengurus sistem pertahanan
diri/survival, mamalian brain yang berfungsi mengenali cinta, rasa aman, peduli, kekeluargaan dan
neo-mamalian brain yang baru setelah usia 6 tahun mengenal istilah cara pikir ‘rasional’.
Kecerdasan manusia bukan melulu tentang pandai berhitung dan berbahasa asing, tapi cerdas
secara emosional, spiritual. Sehingga yang membuat manusia maju dan makmur bukan hanya
mereka yang ber IQ (Intelligence Quotient) tinggi, tapi juga ber EQ (Emotional Quotient) tinggi
sehingga mampu menjalin relasi, serta ber SQ (Spiritual Quotient) membanggakan- sehingga
mampu bersyukur, berhubungan mesra dengan Penciptanya.
Mana ada anak sapi bisa begini?
3. Jika argumen bahwa susu diasup sebagai sumber kalsium (yang dipercaya menguatkan tulang),
maka perlu ditegaskan kembali :
APAKAH HANYA SUSU SATU-SATUNYA SUMBER KALSIUM?
Saya mencurigai ‘nasehat-nasehat’ yang menganjurkan orang minum susu akhirnya sebatas karena
penelitian yang sangat sepihak, sangat kadaluwarsa bahkan, dan celakanya : karena ‘kepercayaan’
seri nutrisi jaman penjajahan Belanda yang masih berurat akar.
Tulang pun menjadi kuat BUKAN SEMATA-MATA HANYA KARENA KALSIUM. Melainkan
kita perlu mengasup Magnesium, Seng (Zinc), Boron, Mangaan, Provitamin D-3, dll.
Nenek moyang kita sebelum mengenal pabrik susu tidak pernah menderita patah tulang akibat
keropos sebelum waktunya. mengapa? sekali lagi, mereka mengonsumsi makanan ALAM yang
DIKUNYAH, yang juga memperkuat tulang selepas susu ibu di atas 2 tahun!
Saya pernah menulis di tabloid ini pula, bahwa mengonsumsi 1 cangkir selada bokor (iceberg
lettuce) memberikan kekuatan tulang yang di hari tua, mencegah terjadinya patah tulang panggul!
(telah dirisetkan oleh para ahli dari Harvard University, Amerika Serikat yang melibatkan 72.000
wanita).
Kalsium pada susu yang bukan ASI sekali lagi saya tegaskan, TIDAK DIKENAL oleh tubuh
manusia. Oleh karenanya bersifat “Non-bio-available”- jadi, bukannya membuat tulang lebih kuat,
malah kalsium akan ‘nyasar’ ke tempat yang salah… dan tempat yang paling sering menjadi
sasaran pendaratan kalsium adalah.. dinding pembuluh darah!
Bukannya mendapatkan manfaat positif dari susu, malah mendapat bonus penyakit yang sangat
tidak menyenangkan: penebalan dinding pembuluh darah dan segala akibatnya (sebagaimana telah
dipaparkan dalam salah satu jurnal kedokteran anak oleh Dr. Frank Oski, Upstate Medical Center
Department of Pediatrics, USA). Orang Amerika dan Eropa Utara mengonsumsi 800 mg – 1200
mg kalsium sehari, tapi tetap saja mereka lebih menderita osteoporosis/keropos tulang daripada
orang Asia dan Afrika yang mengonsumsi 300 mg – 500 mg kalsium per hari.
Mengapa? daging merah, gula, tepung dan bahan makanan berupa bumbu non-alam menyebabkan
keasaman darah meningkat.
Untuk menetralisirnya, tubuh mengambil kalsium (yang bersifat alkalis) dari tulang. Sehingga
masalah osteoporosis bukanlah bahwa seseorang itu tidak cukup memakan kalsium.
Masalahnya adalah mereka kehilangan kalsium. Dengan demikian, mengasup lebih banyak
kalsium ke dalam tubuh bukanlah jawabannya, karena Anda bisa kehilangan lebih banyak
daripada yang Anda asup (misalnya dengan tetap memakan daging merah, gula, terigu, beras,
berbagai saus dan kecap produksi pabrik, dll).
Apabila ekstra kalsium yang dikonsumsi berasal dari makanan yang mengandung protein tinggi
seperti susu, keju dan es krim, keadaan menjadi lebih buruk karena makanan ini adalah pembentuk
asam yang sangat tinggi. Tubuh semakin kehilangan kalsium.
4. Dari hasil konvensi dunia (World Breastfeeding Week, 1-7 Agustus 2006), Elisabeth Sterken,
BSc.MSc Nutritionist INFACT Canada/North America menuliskan bahwa susu bukan ASI
menyebabkan: meningkatnya risiko asma, alergi, penurunan perkembangan kecerdasan,
peningkatan risiko infeksi saluran napas atas, kekurangan nutrisi yang tidak didapatkan dalam
susu non ASI, risiko kanker masa anak, risiko penyakit kronik, risiko diabetes, risiko penyakit
kardiovaskuler, risiko kegemukan, risiko infeksi pencernaan, risiko radang telinga, risiko semua
efek samping akibat PENAMBAHAN ZAT YANG TIDAK SEMESTINYA DALAM SUSU
BUBUK/CAIR (sudah terbukti mulai bakteri hingga melamin, bukan? tunggu saja ‘seri
berikutnya’)
Anda belum mengikuti pelatihan saya mengenai “teknik membaca label makanan produksi
pabrik”, bukan? Naaaaaahh!! ada baiknya anda mulai membalik kemasan susu anak anda. Banyak
istilah “ajaib” yang membuat anda mengerenyitkan dahi.
Semua susu sudah mengandung laktosa/gula susu, seperti saya sebut di atas. Namun supaya
“betah” di lidah anak yang doyan manis “tingkat tinggi” (yang penting doyan, kan?
Mana ada pabrik mau peduli dengan masalah kelebihan karbohidrat buruk!) tetap diimbuhi
“sukrosa” (gula rantai panjang!) atau “corn syrup” (gula ‘pembunuh’ nomor satu di Amerika
Serikat), belum lagi “perisa” (Apakah anda paham betul istilah ini? Nama lainnya adalah rasa
SINTETIS!), dan susunya pun berasal dari “skimmed, powdered, milk”.
Bahkan susu cair pun melalui proses skim dahulu. Anda perlu pun bisa terheran-heran, mengapa
susu yang sudah cair perlu dijadikan bubuk, lalu dibuat ‘cair’ lagi.
30-40 tahun yang lalu (ketika anak Indonesia mentah-mentah menolak susu karena tidak doyan
bau susu dan harus ‘dipaksa’ minum), label komposisi susu bubuk cukup tertulis: WHOLE MILK.
Titik.
Risiko whole milk pun membuat manusia terpaksa seperti sapi sungguhan: gemuk, bodoh,
lamban, berusia pendek).
Semestinya para pakar yang memang mau menyuarakan tentang susu, sebelumnya perlu
mengikuti konvensi dunia serupa ini yang memang diselenggarakan bagi para pakar, pengayom
kesehatan dan informasi yang terbaru bagi masyarakatnya.
Konvensi ilmiah yang berkualitas tinggi dan kredibel tentu diselenggarakan tanpa sponsor pabrik
teknologi pangan atau farmasi yang mempunyai kepentingan di dalamnya!
5. Sebagai tambahan, salah satu pilihan : anda bisa membuka situs Dr. Mercola,
http://www.mercola.com, ketik “milk” (atau topik apa pun yang anda ingin ketahui) di kolom
mesin pencari artikelnya. Anda akan berkelana ke ‘dunia baru’ dan membaca berbagai hal yang
telah diperjuangkan banyak orang saat ini, sementara negara kita masih menjadi ‘keranjang
pembuangan’ berbagai produk yang sudah tidak lagi diterima masyarakat dari mana produk itu
berasal.
Saya sangat menyesali kepercayaan dan mitos akan susu ini merasuk di benak ibu-ibu yang hidup
dengan ekonomi pas-pas-an, sehingga ada faham ‘asal anak sudah minum susu, rasanya aman!’ –
padahal gizi anak membutuhkan lebih.
Anak bergigi membutuhkan makanan untuk dikunyah, dengan sumber karbohidrat-protein-dan
lemak yang jauh lebih tinggi tingkatannya.
Bukan susu yang berasal dari sapi dengan pakan buatan manusia bernama MBM/Meat-Bone-Meal
yang menyebabkan sapi membentuk protein asing bernama Prion sebagai cikal bakal sapi
gila/madcow (Lihat Nyata edisi II Agustus 08, edisi IV Mei 08)
Anak-anak kita bertulang dan bergigi kuat hingga akhir hayatnya karena gaya hidup sehat, bukan
minum susu segelas tiap malam sambil terpana di depan televisi atau game komputer, yang lincah
hanya kedua jempol tangan kanan-kirinya.
Gaya hidup sehat mengandalkan makanan alam lepas campur tangan industri, tubuh bergerak
keseluruhan bermain petak umpet, lompat tali atau layang-layang.
Sumber : Rubrik dr. Tan Shot Yen di tabloid Nyata.
Tolong ditanggapi dengan bijak dan kepala dingin. Yang di bahas lebih menitik beratkan kepada
susu buatan pabrik. Ambil sisi positifnya, tinggalkan bagian negatif. Salam Herbalogi.
Info herbal ini yang kamu cari : manfaat susu, manfaat minum susu, susu manusia, dr tan shot yen
tentang susu, manfaat susu ovaltine, manfaat susu sapi, susu sehat, dr tan shot yen agama, khasiat
susu, manfaat susu murni

Credits: http://www.herbalogi.com/kebohongan-manfaat-susu/