Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PENDAHULUAN

KARSINOMA BRONKOGENIK

Disusun untuk memenuhi tugas profesi


Departemen Medikal Ruang 23i RSUD Dr. Saiful Anwar Malang

Oleh:
IFA KARIMATUN NISAK

PROGRAM STUDY PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS KADIRI
TAHUN 2017
1. ANATOMI FISIOLOGI SALURAN PERNAFASAN

Anatomi pernafasan
Sistem pernafasan berfungsi sebagai pendistribusi udara dan pertukaran gas sehingga
oksigen dapat disuplai dan karbon dioksida dikeluarkan dari sel-sel tubuh (Asih, 2003:2).
Secara sistematis saluran pernafasan dibagi menjadi saluran pernafasan atas dan saluran
pernafasan bawah. Organ saluran pernafasan atas terletak di luar toraks atau rongga dada,
sementara saluran pernafasan bawah terletak hampir seluruhnya di dalam toraks (Asih,
2003:2).
a. Saluran pernafasan atas terdiri dari:
- Hidung
Hidung adalah pintu masuk pertama udara yang kita hirup. Udara keluar
melalui sistem pernafasan yaitu hidung yang terbentuk atas dua tulang hidung dan
beberapa kartilago. Terdapat dua pipi pada dasar hidung-nostril (lubang hidung),
atau nares eksternal yang dipisahkan oleh septum nasal di bagian tengah. Lapisan
mukus hidung adalah sel epitel bersila dengan sel goblet yang menghasilkan
lendir dan juga sebagai sistem pembersih pada hidung( Asih, 2003:2). Zat mukus
yang disekresi hidung mengandung enzim lisosom yang dapat membunuh bakteri
(Alsagaff, 2006:9).
- Faring
Faring atau tenggorokan adalah tuba muskular yang terletak di posterior
rongga nasal dan oral dan di anterior vertebra servikalis. Faring dapat dibagi
menjadi tiga segmen, setiap segmen dilanjutkan oleh segmen lain nasofaring,
orofaring, dan laringofaring. Nasofaring terletak di belakang rongga nasal,
orofaring terletak di belakang mulut sedangkan laringofaring terletak di belakang
laring (Asih, 2003:5).
- Laring
Laring menghubungkan trakhea dengan faring (Underwood, J.C.E, :1999:14).
Laring sering disebut kotak suara fungsinya untuk berbicara, selain itu juga untuk
mencegah benda padat agar tidak masuk ke dalam trakhea. Dinding laring
dibentuk oleh tulang rawan (kartilago) dan bagian dalamnya dilapisi oleh
membran mukosa bersilia, kartilago laring tersusun 9 buah, kartilago yang
terbesar adalah kartilago tiroid atau disebut dengan buah jakun pada pria, terkait
di puncak tulang rahang tiroid terdapat epiglotis yang fungsinya membantu
menutup laring sewaktu orang menelan makanan. Pita suara terletak di kedua sisi
selama bernafas, pita suara tertahan di kedua sisi glotis sehingga untuk dapat
masuk dan keluar dengan bebas dari trakhea. Selama berbicara otot intrinsik laring
menarik pita suara untuk menghasilkan bunyi yang selanjutnya diubah menjadi
kata-kata. Saraf kranial motorik yang mempersarafi faring untuk berbicara adalah
nervus vagus dan nervus aksesorius (Asih, 200:5).
b. Saluran pernafasan bawah terdiri atas
- Trakhea (pipa udara)
Adalah saluran udara tubular yang mempunyai panjang sekitar 13 cm. Trakhea
terletak di depan esofagus, tepat di permukaan leher. Dinding trakhea disangga
oleh cincin-cincin kartilago, otot polos dan serat elastik. Cincin kartilago
berbentuk kaku guna mencegah agar tidak kolaps dan menutup jalan udara.
Bagian dalam trakhea dilapisi membran mukosa bersilia (Asih, 2003:5).
- Bronkhial
Ujung distal trakhea terbagi menjadi bronkhus primer kanan dan kiri yang
terletak di dalam rongga dada. Bronkhus kanan lebih pendek dan lebih besar
daripada yang kiri. Fungsi percabangan bronkhial untuk memberikan saluran bagi
udara antara trakhea dan alveoli agar jalan udara tetap terbuka dan bersih (Pearce,
2006:215).
- Alveoli
Alveoli berjumlah sekitar 300 sampai 500 juta di dalam paru-paru orang
dewasa. Fungsinya adalah sebagai satu-satunya tempat pertukaran gas antara
lingkungan eksternal dan aliran darah. Alveoli dikelilingi oleh dinding yang tipis
yang terdiri atas satu lapis epitel skuamosa. Di antara sel epitel terdapat cairan
khusus yang menyekresi lapisan molekul lipid yang disebut surfaktan. Cairan ini
dibutuhkan untuk menjaga agar permukaan alveolar tetap lembab, tanpa surfaktan
tekanan permukaan akan menjadi demikian besar sehingga membutuhkan upaya
muskular yang sangat besar untuk mengembangkan alveoli (Asih, 2003:3-8).
Surfaktan adalah suatu zat campuran antara lemak fosfat, lemak jenis lain, protein
dan karbohidrat yang disekresi oleh epitel alveol tipe II, surfaktan berperan
menurunkan tegangan permukaaan pada cairan alveol sehingga alveol lebih
mudah berkembang pada waktu inspirasi dan mencegah alveol menutup pada
akhir respirasi. Faktor yang dapat mempengaruhi sintesa surfaktan adalah hormon
tiroid dan hormon kortikosteroid.(Alsagaff, 2006:12)
- Paru-paru
Paru-paru terletak di kedua sisi jantung di dalam rongga dada dan dikelilingi
serta dilindungi oleh sangkar iga. Bagian dasar setiap paru terletak atas diafragma,
bagian apeks paru (ujung superior) terletak setinggi klavikula. Pada permukaan
tengah dari setiap paru terdapat identasi yang disebut hilus tempat bronkus primer
dan masuknya arteri serta vena pulmonasi ke dalam paru. Bagian kanan dan kiri
paru terdiri atas percabangan saluran yang membentuk jutaan alveoli, jaring-jaring
kapiler dan jaringan ikat.
Setiap paru dibagi menjadi kompartemen yang lebih kecil pembagian pertama
disebut lobus. Paru kanan terdiri atas 3 lobus dan lebih besar dari kiri yang hanya
terdiri 2 lobus. Lapisan yang membatasi antara lobus disebut fisura. Lobus
kemudian dibagi lagi menjadi segmen. Setiap segmen terdiri atas banyak lobulus
yang masing-masing mempunyai bronkhiale, arterioale, venula dan pembuluh
limfatik. Dua lapis membran serosa mengelilingi setiap paru dan disebut sebagai
pleura. Lapisan terluar disebut pleura parietal yang melapisi dinding dada dan
mediastinum. Lapisan dalamnya disebut pleura viseral yang mengelilingi paru.
Rongga pleura ini mengandung cairan yang dihasilkan sel-sel serosa di dalam
pleura. Jika cairan yang dihasilkan berkurang atau membran pleura membengkak,
akan terjadi suatu kondisi yang disebut pleuritis dan terasa sangat nyeri karena
membran pleura saling bergesekan (Asih, 2003:9).
- Toraks
Rongga toraks terdiri atas rongga pleura kanan dan kiri dan bagian tengah
yang disebut mediastinum. Satu-satunya organ dalam rongga toraks yang tidak
terletak di dalam mediastinum adalah paru-paru. (Asih, 2003:9).
Fisiologi pernafasan
Fisiologi pernafasan adalah serangkaian proses interaksi dan koordinasi yang
kompleks yang mempunyai peranan sangat penting dalam mempertahankan kestabilan
atau homeostasis lingkungan internal tubuh kita. Ventilasi pulmonal adalah istilah teknis
dari bernafas terdiri dari inspirasi yaitu gerakan perpindahan udara masuk ke dalam paru-
paru dan ekspirasi yaitu gerakan udara meninggalkan paru-paru. Adapun prosesnya
adalah sebagai berikut:
a. Inspirasi
Diafragma berkontraksi, bergerak ke arah bawah dan mengembangkan rongga
dada dari atas ke bawah. Otot-otot interkosta eksternal menarik iga dari atas keluar
yang mengembangkan rongga dada ke arah samping kiri dan kanan, dengan begitu
pleura parietal ikut mengembang diikuti oleh pleura viseral, yang menyebabkan
tekanan intrapulmonal turun di bawah tekanan atmosfer dan udara masuk melalui
hidung dan akhirnya sampai alveoli (Asih, 2003:11). Otot – otot yang digunakan
untuk inspirasi adalah difragma (paling utama), muskulo intercostalis externus,
muskulo scaleneus, muskulo sternocleidomastoideus dan muskulo pectoralis minor
(Alsagaff, 2006:13)
b. Ekspirasi
Diafragma dan otot-otot interkosta rileks, karena rongga menjadi lebih sempit,
paru-paru terdesak dan jaringan elastiknya meregang selama inhalasi, mengerut dan
juga mendesak alveoli. Dengan meningkatnya tekanan intrapulmonal di atas tekanan
atmosfir, udara didorong keluar paru sampai kedua tekanan sama kembali (Asih,
2003:10-11). Otot-otot yang digunakan untuk ekspirasi adalah intercostalis internus
dan otot-otot dinding perut (Alsagaff, 2006:13)
2. DEFINISI KARSINOMA BRONKOGENIK
Karsinoma bronkogenik atau kanker paru adalah tumor ganas paru primer yang
berasal dari saluran napas atau epitel bronkus. Terjadinya kanker ditandai dengan
pertumbuhan sel yang tidak normal, tidak terbatas, dan merusak sel-sel jaringan yang
normal. Proses keganasan pada epitel bronkus didahului oleh masa pra kanker. Perubahan
pertama yang terjadi pada masa prakanker disebut metaplasia skuamosa yang ditandai
dengan perubahan bentuk epitel dan menghilangnya silia (Robbin & Kumar, 2007).
Karsinoma bronkogenik atau kanker paru dapat berupa metastasis atau lesi primer.
Tumor ganas dapat ditemukan di bagian tubuh mana saja. Metastasis pada kolon dan
ginjal merupakan tumor ganas yang paling sering ditemukan di klinik, keduanya dapat
menyebabkan tumor paru. Metastasis tumor paru sering ditemukan terlebih dahulu
sebelum lesi primernya diketahui. Hal yang berbahaya adalah pada keadaan klinis lokasi
lesi primer sering tidak diketahui selama hidup klien (Muttaqin, 2007).

3. ETIOLOGI KARSINOMA BRONKOGENIK


Seperti umumnya kanker yang lain, penyebab yang pasti dari kanker paru belum
diketahui, tapi paparan atau inhalasi berkepanjangan suatu zat yang bersifat karsinogenik
merupakan faktor pyebab utama disamping adanya faktor lain seperti kekebalan tubuh,
genetik, dan lain-lain (Amin, 2006).
1. Merokok
Menurut Van Houtte, merokok merupakan faktor yang berperan paling
penting, yaitu 85% dari seluruh kasus (Wilson, 2005). Rokok mengandung lebih dari
4000 bahan kimia, diantaranya telah diidentifikasi dapat menyebabkan kanker.
Kejadian kanker paru pada perokok dipengaruhi oleh usia mulai merokok, jumlah
batang rokok yang diisap setiap hari, lamanya kebiasaan merokok, dan lamanya
berhenti merokok (Stoppler,2010).
2. Perokok pasif
Semakin banyak orang yang tertarik dengan hubungan antara perokok pasif,
atau mengisap asap rokok yang ditemukan oleh orang lain di dalam ruang tertutup,
dengan risiko terjadinya kanker paru. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa
pada orang-orang yang tidak merokok, tetapi mengisap asap dari orang lain, risiko
mendapat kanker paru meningkat dua kali (Wilson, 2005).
3. Polusi udara
Kematian akibat kanker paru juga berkaitan dengan polusi udara, tetapi
pengaruhnya kecil bila dibandingkan dengan merokok kretek. Kematian akibat kanker
paru jumlahnya dua kali lebih banyak di daerah perkotaan dibandingkan dengan
daerah pedesaan. Bukti statistik juga menyatakan bahwa penyakit ini lebih sering
ditemukan pada masyarakat dengan kelas tingkat sosial ekonomi yang paling rendah
dan berkurang pada mereka dengan kelas yang lebih tinggi.Hal ini, sebagian dapat
dijelaskan dari kenyataan bahwa kelompok sosial ekonomi yang lebih rendah
cenderung hidup lebih dekat dengan tempat pekerjaan mereka, tempat udara
kemungkinan besar lebih tercemar oleh polusi. Suatu karsinogen yang ditemukan
dalam udara polusi (juga ditemukan pada asap rokok) adalah 3,4 benzpiren (Wilson,
2005).
4. Paparan zat karsinogen
Beberapa zat karsinogen seperti asbestos, uranium, radon, arsen, kromium,
nikel, polisiklik hidrokarbon, dan vinil klorida dapat menyebabkan kanker paru
(Amin, 2006). Risiko kanker paru di antara pekerja yang menangani asbes kira-kira
sepuluh kali lebih besar daripada masyarakat umum. Risiko kanker paru baik akibat
kontak dengan asbes maupun uranium meningkat kalau orang tersebut juga merokok.
5. Diet
Beberapa penelitian melaporkan bahwa rendahnya konsumsi terhadap
betakarotene, selenium, dan vitamin A menyebabkan tingginya risiko terkena kanker
paru (Amin, 2006).
6. Genetik
Terdapat bukti bahwa anggota keluarga pasien kanker paru berisiko lebih
besar terkena penyakit ini. Penelitian sitogenik dan genetik molekuler
memperlihatkan bahwa mutasi pada protoonkogen dan gen-gen penekan tumor
memiliki arti penting dalam timbul dan berkembangnya kanker paru. Tujuan
khususnya adalah pengaktifan onkogen (termasuk juga gen-gen K-ras dan myc), dan
menonaktifkan gen-gen penekan tumor (termasuk gen rb, p53, dan CDKN2) (Wilson,
2005).
7. Penyakit paru
Penyakit paru seperti tuberkulosis dan penyakit paru obstruktif kronik juga
dapat menjadi risiko kanker paru. Seseorang dengan penyakit paru obstruktif kronik
berisiko empat sampai enam kali lebih besar terkena kanker paru ketika efek dari
merokok dihilangkan (Stoppler, 2010).

4. KLASIFIKASI KARSINOMA BRONKOGENIK


a. Karsinoma epidermoid (skuamosa).
Kanker ini berasal dari permukaan epitel bronkus. Perubahan epitel termasuk
metaplasia atau displasia akibat merokok jangka panjang, secara khas mendahului
timbulnya tumor. Terletak sentral sekitar hilus dan menonjol kedalam bronki besar.
Diameter tumor jarang melampaui beberapa centimeter dan cenderung menyebar
langsung ke kelenjar getah bening hilus, dinding dada dan mediastinum.
b. Karsinoma sel kecil.
Biasanya terletak ditengah disekitar percabangan utama bronki. Tumor ini
timbul dari sel – sel Kulchitsky, komponen normal dari epitel bronkus. Terbentuk dari
sel – sel kecil dengan inti hiperkromatik pekat dan sitoplasma sedikit. Metastasis dini
ke mediastinum dan kelenjar limfe hilus, demikian pula dengan penyebaran
hematogen ke organ – organ distal.
c. Adenokarsinoma (termasuk karsinoma sel alveolar).
Memperlihatkan susunan selular seperti kelenjar bronkus dan dapat
mengandung mukus. Kebanyakan timbul di bagian perifer segmen bronkus dan
kadang – kadang dapat dikaitkan dengan jaringan parut local pada paru – paru dan
fibrosis interstisial kronik. Lesi seringkali meluas melalui pembuluh darah dan limfe
pada stadium dini, dan secara klinis tetap tidak menunjukkan gejala – gejala sampai
terjadinya metastasis yang jauh.
d. Karsinoma sel besar.
Merupakan sel – sel ganas yang besar dan berdiferensiasi sangat buruk dengan
sitoplasma yang besar dan ukuran inti bermacam – macam. Sel – sel ini cenderung
untuk timbul pada jaringan paru - paru perifer, tumbuh cepat dengan penyebaran
ekstensif dan cepat ke tempat – tempat yang jauh.
e. Gabungan adenokarsinoma dan epidermoid.
f. Lain – lain.
- Tumor karsinoid (adenoma bronkus).
- Tumor kelenjar bronchial.
- Tumor papilaris dari epitel permukaan.
- Tumor campuran dan Karsinosarkoma.
- Sarkoma.
- Tak terklasifikasi
- Mesotelioma.
- Melanoma.
Pembagian praktis untuk tujuan pengobatan (Sudoyono, 2007).
a. SCLC (small ceel lung cancer)
Karsinoma sel kecil biasanya terletak di tengah di sekitar percabangan utama
bronki. Karsinoma sel kecil memiliki waktu pembelahan yang tercepat dan prognosis
yang terburuk dibandingkan dengan semua karsinoma bronkogenik.Sekitar 70% dari
semua pasien memiliki bukti-bukti yang ekstensif (metastasis ke distal) pada saat
diagnosis, dan angka kelangsungan hidup 5 tahun kurang dari 5%. Gambaran
histologi karsinoma sel kecil yang khas adalah nominasi sel-sel kecil hampir
semuanya diisi oleh mukus dengan sebaran kromatin dan sedikit sekali/tanpa nukleoli.
Bentuk sel bervariasi dan fusiform, poligonal, dan bentuk seperti limfosit.
b. NSCLC (non small cell lung cancer) karsinoma skuamosa, adenokarsinoma,
karsinoma sel besar
- Karsinoma Epidermoid/ Karsinoma Sel Skuamos
Perubahan karsinoma sel skuamosa biasanya terletak sentral di sekitar
hilus, dan menonjol ke dalam bronki besar. Diameter tumor jarang melampaui
beberapa sentimeter dan cenderung menyebar secara langsung ke kelenjar
getah benig hilus, dinding dada dan mediastinum. Karsinoma sel skuamos
seringkali disertai batuk dan hemoptisis akibat iritasi atau ulserasi, pneumonia,
dan pembentukan abses akibat obstruksi dan infeksi sekunder. Karena tumor
ini cenderung agak lambat dalam bermetastasis, maka pengobatan dini dapat
memperbaiki prognosis.
- Adenokarsinoma
Adenokarsinoma memperlihatkan susunan seluler seperti kelenjar
bronkus dan dapat mengandung mukus. Kebanyakan dari jenis tumor ini
timbul di bagian perifer segmen bronkus dan kadang-kadang dapat dikaitkan
dengan jaringan parut lokal pada paru dan fibrosis interstisial kronik. Lesi
sering kali meluas ke pembuluh darah dan limfe pada stadium dini, dan sering
bermetastatis jauh sebelum lesi primer.
- Karsinoma Sel Besar
Karsinoma sel besar adalah sel-sel ganas besar dan berdiferensiasi
sangat buruk dengan sitoplasma yang besar dan ukuran inti bermacam-macam.
Sel-sel ini cenderung muncul pada jaringan paru perifer, tumbuh cepat dengan
penyebaran ekstensif dan cepat ke tempat-tempat yang jauh.
Pembagian stadium klinis kanker paru berdasarkan sistem TNM menurut
International Union Against (IUAC) /The American Joint Comittee on Cancer
(AJCC) 1997 adalah sebagai berikut :
STADIUM TNM
Karsinoma tersembunyi Tx, N0, M0
Stadium 0 Tis, N0, M0
Stadium IA T1, N0, M0
Stadium IB T2, N0, M0
Stadium IIA T1, N1, M0
Stadium IIB T2, N1, M0
T3, N0, M0
Stadium IIIA T3, N1, M0
T1-3, N2, M0
Stadium IIIB T berapa pun, N3, M0
T4, N berapa pun, M0
Stadium IV T berapa pun, N berapa pun, M1
Keterangan :
Status Tumor Primer (T)
T0 : tidak terbukti adanya tumor primer.
Tx : kanker yang tersembunyi terlihat pada sitologi bilasan bronkus, tetapi tidak terlihat
pada radiogram atau bronkoskopi.
Tis : karsinoma in situ.
T1 : tumor berdiameter ≤ 3 cm dikelilingi paru atau pleura viseralis yang normal.
T2 : tumor > 3 cm atau ukuran berapa pun yang sudah menyerang pleura viseralis atau
mengakibatkan ateletaksis yang meluas ke hilus, harus berjarak > 2 cm distal dari karina.
T3 : Tumor ukuran berapa saja yang langsung meluas ke dinding dada, diafragma, pleura
mediastinalis, dan perikardium parietal atau tumor di bronkus utama yang terletak 2 cm
dari distal karina, tetapi tidak melibatkan karina, tanpa mengenai jantung, pembuluh
darah besar, trakea, esofagus, atau korpus vertebra.
T4 : Tumor ukuran berapa saja dan meluas ke mediastinum, jantung, pembuluh darah
besar, trakea, esofagus, korpus vertebra, rongga pleura/perikardium yang disertai efusi
pleura/perikardium, satelit nodul ipsilateral pada lobus yang sama pada tumor primer.
Keterlibatan Kelenjar Getah Bening Regional (N)
N0 : Tidak dapat terlihat metastasis pada kelenjar getah bening regional.
N1 : Metastasis pada peribronkial dan/atau kelenjar hilus ipsilateral.
N2 : Metastasis pada mediastinal ipsilateral atau kelenjar getah bening subkarina.
N3 : Metastasis pada mediastinal atau kelenjar getah bening hilus kontralateral; kelenjar
getah bening skalenus atau supraklavikular ipsilateral atau kontralateral.
Metastasis Jauh (M)
M0 : Tidak diketahui adanya metastasis jauh.
M1 : Metastasis jauh terdapat pada tempat tertentu misalnya otak (Huq, 2010).
6. MANIFESTASI KLINIS KARSINOMA BRONKOGENIK
Pada fase awal kebanyakan kanker paru tidak menunjukkan gejala-gejala klinis.Bila
sudah menampakkan gejala berarti pasien dalam stadum lanjut.
Gejala – gejala dapat bersifat (Amien, 2009) :
a. Lokal (tumor tumbuh setempat)
- Batuk baru atau batuk lebih hebat pada batuk kronis.
- Hemoptisis
- Mengi (wheezing, stridor) karena ada obstruksi saluran nafas
- Kadang terdapat kavitas seperti abses paru dan atelectasis
b. Invasi local :
- Nyeri dada
- Dyspnea karena efusi pleura
- Invasi ke pericardium terjadi tamponade atau aritmia
- Sindrom vena cava superior
- Sindrom Horner (facial anhidrosis, ptosis, miosis)
- Suara serak, karena penekanan pada nervus laryngeal recurrent
- Sindrom Pancoast, karena invasi pada pada pleksus brakialis dan saraf simpatis
servikalis.
c. Gejala Penyakit Metastasis
- Pada otak, tulang, hati, adrenal.
- Limfadenopati servikalis dan supraklavikula (sering menyertai metastasis)
d. Sindrom Paraneoplastik : terdapat pada 10 persen kanker paru, dengan gejala :
- Sistemik : penurunan berat badan, anoreksia, demam.
- Hematologi : leukositosis, anemia, hiperkoagulasi
- Hipertropi osteoartropati
- Neurologik : dementia, ataksia, termor, neuropati perifer
- Neuromiopati
- Endokrin : sekresi berlebihan hormon paratiroid (hiperkalsemia)
- Dermatologik : eritema multiform, hyperkeratosis, jari tabuh
- Renal : syndrome of inappropriate andiuretic hormone (SIADH)
e. Asimtomatik dengan kelainan radiologis
- Sering terdapat pada perokok dengan PPOK/COPD yang terdeteksi secara
radiologis
- Kelainan berupa nodul soliter

7. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK KARSINOMA BRONKOGENIK


a. Radiologi
- Massa Radiopaque di paru
- Obstruksi jalan nafas dengan akibat atelektasis
- Pneumonia
- Pembesaran Kelenjar Hilar
- Tumor Pancoast.Ca. Bronchogenik yang terdapat disuperior pulmonary sulcus,
pada apek lobus superior.
- Kelainan pada pleura
- Kelainan tulang
b. Bronkografi
Adapun gambaran bronkografi yang dianggap patognomonik adalah obstruksi
stenosis irreguler, stenosis ekor tikus dan indentasi cap jempol.
c. Sitologi
Dahak yang representatif dapat diperoleh melalui batuk spontan, dengan
bantuan aerosol (20% propylene glycol dalam larutan 10% NaCl. Dihangatkan
sampai kurang lebih 45-50 C) atau melalui bilasan/sikatan aspirasi bronkial.
Tatalaksana pada Lung Cancer Detection Program di New York adalah sbb.
Saliva dan post nasal discharge dikeluarkan dahulu, lalu penderita disuruh batuk
dalam , dahak yang dihasilkan segera difiksasi, kesemuanya ini dilakukan pada 3
hari berturut-turut, sebaiknya pada pagi hari.
d. Endoskopi
Meliputi pemeriksaan laringoskopi dan bronkoskopi serta bilasan bronkial,
kerokan/sikatan serta biopsi. Tujuan pemeriksaan bronkoskopi (serat optik)
adalah:
- Mengetahui perubahan pada bronkus akibat kanker paru.
- Mengambil bahan untuk pemeriksaan sitologis.
- Memperhatikan perubahan pada permukaan tumor/mukosa untuk
memperkirakan jenis keganasan.
- Menilai keberhasilan terapi.
- Menentukan operbilitas kanker paru.
e. Biopsi
Bahan biopsi dapat diperoleh melalui cara biopsi perkutaneus transbronkial
ataupun open biopsi. Sedangkan bahannya dapat berupa jaringan kelenjar regional
jaringan pleura ataupun jaringan paru. Biopsi dengan TTB (biopsi Trans Torakal)
terutama untuk lesi yang letaknya perifer dengan ukuran < 2 cm, sensitivitasnya
mencapai 90 – 95 %.
f. CT-Scanning, untuk mengevaluasi jaringan parenkim paru dan pleura.

8. PENATALAKSANAAN MEDIS KARSINOMA BRONKOGENIK


a. Penatalaksanaan Nonbedah
- Terapi Oksigen.
Jika terjadi hipoksemia perawat dapat memberikan oksigen via masker/nasal
kanula sesuai dengan permintaan.
- Terapi Obat.
Jika klien mengalami bronkospasme dokter dapat memberikan obat golongan
bronkodilator (seperti pada klien asma) dan kortikosteorid untuk mengurangi
bronkospasme, inflamasi dan edema.
- Kemoterapi.
Kemoterapi dan radioterapi dada dapat diberikan pada pasien-pasien dengan
stadium penyakit yang terbatas. Pasien dengan stadium penyakit yang ekstensif
(luas) ditangani dengan kemoterapi saja. Kombinasi kemoterapi meningkatkan
median kelangsungan hidup pasien yang tidak diobati dari 6 hingga 17 minggu
menjadi 40 sampai 70 minggu (Prince, 2001).
Regimen untuk kanker paru jenis karsinoma bukan sel kecil adalah :
 Platinum based therapy ( sisplatin atau karboplatin)
 PE (sisplatin atau karboplatin + etoposid)
 Paklitaksel + sisplatin atau karboplatin
 Gemsitabin + sisplatin atau karboplatin
 Dosetaksel + sisplatin atau karboplatin
Syarat standar yang harus dipenuhi sebelum kemoterapi:
 Tampilan > 70-80, pada penderita dengan PS < 70 atau usia lanjut, dapat
diberikan obat anti kanker dengan regimen tertentu dan/atau jadual
tertentu.
 Hb > 10 g%, pada penderita anemia ringan tanpa perdarahan akut, meski
Hb < 10 g% tidak pertutranfusi darah segera, cukup diberi terapi sesuai
dengan penyebab anemia.
 Granulosit > 1500/mm3
 Trombosit > 100.000/mm3
 Fungsi hati baik
 Fungsi ginjal baik (creatinin clearance lebih dari 70 ml/menit)
- Imunoterapi.
Banyak klien kanker paru mengalami gangguan imun. Obat imunoterapi
(cytokin) biasa di berikan.
- Terapi Radiasi
Terapi radiasi umumnya dianjurkan untuk lesi-lesi stadium I, dan II jka terdapat
kontraindikasi pembedahan, dan untuk lesi-lesi stadium III jika penyakit terbatas
pada hemitoraks dan kelenjar limfe supraklavikular ipsilateral. Jika NSCLC
tersebar, terapi radiasi dapat diberikan pada daerah lokal untuk tujuan paliatif.
Median kelangsungan hidup bagi pasien NSCLC yang tidak dapat direseksi
adalah kurang dari 1 tahun, sekalipun dengan radiasi dan atau kemoterapi.
Sebagian kecil (6%) akan bertahan selama 5 tahun (Prince, 2001). Radioterapi
pada kanker paru dapat menjadi terapi kuratif atau paliatif. Pada terapi kuratif,
radioterapi menjadi bagian dari kemoterapi neoadjuvan untuk kanker paru jenis
karsinoma bukan sel kecil stadium IIIA. Pada kondisi tertentu, radioterapi saja
tidak jarang menjadi alternatif terapi kuratif. Radiasi sering merupakan tindakan
darurat yang harus dilakukan untuk meringankan keluhan penderita, seperti
sindroma vena kava superiror, nyeri tulang akibat invasi tumor ke dinding dada
dan metastasis tumor di tulang atau otak. Terapi dilakukan dengan indikasi
sebagai berikut:
 Klien tumor paru yang operable tetapi risiko jika dilakukan pembedahan
 Klien adenokarsinoma/sel skuomosa inoperable yang mengalami
pembesaran kelenjar getah bening pada hilus ipsilateral dan mediastinal.
 Klien dengan Ca. Bronkus dengan oat cell.
 Klien kambuhan sesudah lobektomi atau pneumonektomi.
Penetapan kebijakan radiasi pada kanker paru jenis karsinoma bukan sel kecil
ditentukan beberapa faktor
 Staging penyakit
 Status tampilan
 Fungsi paru
Bila radiasi dilakukan setelah pembedahan, maka harus diketahui :
 Jenis pembedahan termasuk diseksi kelenjar yang dikerjakan
 Penilaian batas sayatan oleh ahli Patologi Anatomi (PA)
Dosis radiasi yang diberikan secara umum adalah 5000 – 6000 cGy, dengan
cara pemberian 200 cGy/x, 5 hari perminggu.
Syarat standar sebelum penderita diradiasi adalah :
 Hb > 10 g%
 Trombosit > 100.000/mm3
 Leukosit > 3000/dl
Radiasi paliatif diberikan pada unfavourable group, yakni :
 PS < 70.
 Penurunan BB > 5% dalam 2 bulan.
 Fungsi paru buruk.
b. Penatalaksanaan Pembedahan.
Pembedahan adalah pengobatan pilihan bagi pasien-pasien NSCLC stadium I, II,
dan beberapa kasus stadium IIIa, kecuali jika tumor tidak dapat direseksi (misal pada
penyakit jantung). Pembedahan dapat berupa pengangkatan paru-paru parsial atau
total. Sekitar 30% pasien NSCLC dianggap dapat direseksi untuk penyembuhan
dengan kelangsungan hidup 5 tahun sekitar 30%. Dengan demikian, sebagian besar
pasien yang mula-mula diperkirakan dapat direseksi untuk kesembuhan akan
meninggal karena penyakit metastasis (biasanya dalam 2 tahun). Prognosis dari 70%
penderita NSCLC yang tersisa dan tidak dapat direseksi lebih buruk lagi (Bahar,
1998). Pembedahan juga merupakan bagian dari “combine modality therapy”,
misalnya kemoterapi neoadjuvan untuk kanker paru jenis karsinoma bukan sel kecil
stadium IIIA. Indikasi lain adalah bila ada kegawatan yang memerlukan intervensi
bedah, seperti kanker paru dengan sindroma vena kava superiror berat.
- Toraktomi eksplorasi. Untuk mengkomfirmasi diagnosa tersangka penyakit paru
atau toraks khususnya karsinoma, untuk melakukan biopsy.
- Pneumonektomi (pengangkatan paru). Karsinoma bronkogenik bilamana dengan
lobektomi tidak semua lesi bisa diangkat.
- Lobektomi (pengangkatan lobus paru). Karsinoma bronkogenik yang terbatas
pada satu lobus, bronkiaktesis bleb atau bula emfisematosa; abses paru; infeksi
jamur; tumor jinak tuberkulois.
- Resesi segmental. Merupakan pengankatan satu atau lebih segmen paru.
- Resesi baji. Tumor jinak dengan batas tegas, tumor metas metik, atau penyakit
peradangan yang terlokalisir. Merupakan pengangkatan dari permukaan paru-paru
berbentuk baji (potongan es).
- Dekortikasi. Merupakan pengangkatan bahan – bahan fibrin dari pleura viscelaris

9. KOMPLIKASI KARSINOMA BRONKOGENIK


a. Sesak nafas
b. Batuk darah
c. Rasa nyeri akibat penyebaran kanker
d. Penyebaran kanker ke organ tubuh lainnya (metastasis)
e. Kematian
f. Tamponade Jantung. Tamponade jantung adalah pengumpulan cairan di dalam
kantong jantung (kantong perikardium, kantong perikardium), yang menyebabkan
penekanan terhadap jantung dan kemampuan memompa jantung. Pengumpulan
cairan terjadi jika kanker menyusup ke dalam perikardium dan menyebabkan
terjadinya iritasi. Kanker yang paling mungkin menyusup ke dalam perikardium
adalah penyakit kanker paru-paru, payudara dan limfoma. Untuk mengurangi
penekanan, dimasukkan jarum ke dalam kantong perikardium dan cairan
dikeluarkan dengan bantuan alat suntik. Prosedur ini dinamakan
perikardiosintesis. Contoh cairan diperiksa di bawah mikroskop untuk melihat
apakah cairan mengandung sel-sel kanker. Selanjutnya, dibuat sayatan pada
perikardium untuk mencegah kambuhnya tamponade. Pengobatan lainnya
tergantung kepada jenis kanker yang terjadi.
g. Efusi Pleura. Efusi pleura merupakan pengumpulan cairan di dalam kantong yang
mengelilingi paru-paru (kantong pleura), yang bisa menyebabkan sesak napas.
Pengumpulan cairan di kantong pleura bisa disebabkan oleh berbagai hal, salah
satunya adalah kanker. Untuk mengeluarkan cairan, dimasukkan jarum suntik
diantara tulang iga menuju ke kantong pleura. Jika setelah prosedur ini cairan
dengan cepat mulai terkumpul kembali, akan dimasukkan selang melalui dinding
dada menuju ke kantong pleura, yang akan tetap terpasang disini sampai keadaan
penderita membaik.
h. Sindroma Vena Kava Superior. Sindroma vena kava superior terjadi jika kanker
menyumbat sebagian atau seluruh vena-vena (vena kava superior), yang
mengalirkan darah dari tubuh bagian atas ke dalam jantung. Penyumbatan vena
kava superior menyebabkan vena-vena di dada bagian atas dan di leher
membengkak, sehingga terjadi pembengkakan di wajah, leher dan dada bagian
atas.
i. Sindroma Penekanan Tulang Belakang. Sindroma penekanan tulang belakang
terjadi jika kanker menekan tulang belakang atau saraf-saraf tulang belakang, dan
menyebabkan nyeri serta hilangnya fungsi. Semakin lama penderita mengalami
kelainan neurologis, semakin kecil kemungkinan kembalinya fungsi saraf yang
normal. Biasanya pengobatan akan memberikan hasil yang terbaik jika dilakukan
dalam 12-24 jam setelah timbulnya gejala.
j. Sindroma Hiperkalemia. Sindroma hiperkalemia terjadi jika kanker menghasilkan
hormon yang akan meningkatkan kadar kalsium darah atau hormon yang secara
langsung mempengaruhi tulang. Pasien mengalami kebingungan, yang bisa
berlanjut menjadi koma dan menyebabkan kematian. Berbagai macam obat dapat
mengurangi kadar kalsium.

10. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


Pengkajian
a. Keadaan umum : lemah, sesak yang disertai dengan nyeri dada.
b. Riwayat kesehatan sekarang: apa yang diderita px, misalnya nyeri pada dada dan
sesak napas
c. Riwayat kesehatan masa lalu: apakah dahullu px mempunyai riwayat PPOK
d. Riwayat kesehatan keluarga: apakah ada keluarga yang menderita penyakit paru
e. Kebutuhan dasar :
- Pola makan : nafsu makan berkurang karena adanya secret dan terjadi kesulitan
menelan (disfagia), penurunan berat badan.
- Pola minum : frekuensi minum meningkat (rasa haus)
- Pola tidur : susah tidur karena adanya batuk dan nyeri dada
- Aktivitas : keletihan, kelemahan
f. Pemeriksaan fisik
- Sistem pernafasan: Sesak nafas, nyeri dada. Batuk produktif tak efektif. Suara
nafas : mengi pada inspirasi. Serak, paralysis pita suara.
- Sistem kardiovaskuler: Takikardi, disritmia, Menunjukkan efusi (gesekan
peikardial)
- Sistem Gastrointestinal: Anoreksia, disfagia, penurunan intake makanan, berat
badan menurun
- Sistem urinarius: Peningkatan frekuensi/jumlah urine
- Sistem neurologis: Perasaan takut terhaap pembedahan, Kegelisahan
g. Data penunjang
- Foto dada, PA, dan lateral
- CT Scan/MRI
- Bronchoscope
- Sitologi
- TTB, biopsy kelenjar getah bening leher
Diagnosa Keperawatan
a. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas bd obstruksi bronkus
b. Gangguan pertukaran gas bd empisema
c. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh bd intake menurun
d. Intoleransi aktivitas bd suplai O2 ke jaringan menurun
Intervensi Keperawatan
NO MASALAH KRITERIA HASIL INTERVENSI
KEPERAWATAN
1. Ketidakefektifan Kriteria Hasil: Airway suction:
bersihan jalan nafas - Mendemonstrasikan - Pastikan kebutuhan oral/tracheal
bd obstruksi batuk efektif dan suara suctioning
bronkus nafas bersih, tidak ada - Auskultasi suara nafas sebelum dan
sianosis dan dyspneu sesudah suctioning.
(mampu mengeluarkan - Informasikan pada klien dan keluarga
sputum, mampu tentang suctioning
bernafas dengan - Minta klien nafas dalam sebelum
mudah, tidak ada suction dilakukan.
pursed lips) - Berikan O2 dengan menggunakan
- Menunjukkan jalan nasal untuk memfasilitasi suksion
nafas paten (klien tidak nasotrakeal
merasa tercekik, irama - Gunakan alat yang steril sitiap
nafas, frekuensi nafas melakukan tindakan
normal, tidak ada suara - Anjurkan pasien untuk istirahat dan
nafas abnormal) napas dalam setelah kateter
- Mampu mencegah dikeluarkan dari nasotrakeal
factor yang dapat - Monitor status oksigen pasien
menghambat jalan - Hentikan suksion dan berikan
nafas oksigen apabila pasien menunjukkan
NOC: bradikardi, peningkatan saturasi O2,
- Respiratory status : dll.
Ventilation Airway Management:
- Respiratory status : - Posisikan pasien untuk
Airway patency memaksimalkan ventilasi
- Aspiration Control - Identifikasi pasien perlunya
pemasangan alat jalan nafas buatan
- Pasang mayo bila perlu
- Lakukan fisioterapi dada jika perlu
- Keluarkan sekret dengan batuk atau
suction
- Auskultasi suara nafas, catat adanya
suara tambahan
- Berikan bronkodilator bila perlu
- Berikan pelembab udara Kassa basah
NaCl Lembab
- Atur intake untuk cairan
mengoptimalkan keseimbangan.
- Monitor respirasi dan status O2
2. Gangguan Kriteria Hasil : Airway Management
pertukaran gas bd - Mendemonstrasikan - Posisikan pasien untuk
empisema peningkatan ventilasi memaksimalkan ventilasi
dan oksigenasi yang - Identifikasi pasien perlunya
adekuat pemasangan alat jalan nafas buatan
- Memelihara kebersihan - Pasang mayo bila perlu
paru paru dan bebas - Lakukan fisioterapi dada jika perlu
dari tanda tanda - Keluarkan sekret dengan batuk atau
distress pernafasan suction
- Mendemonstrasikan - Auskultasi suara nafas, catat adanya
batuk efektif dan suara suara tambahan
nafas yang bersih, tidak - Lakukan suction pada mayo
ada sianosis dan - Berika bronkodilator bial perlu
dyspneu (mampu - Barikan pelembab udara
mengeluarkan sputum, - Atur intake untuk cairan
mampu bernafas mengoptimalkan keseimbangan.
dengan mudah, tidak - Monitor respirasi dan status O2
ada pursed lips) Respiratory Monitoring
- Tanda tanda vital - Monitor rata – rata, kedalaman,
dalam rentang normal irama dan usaha respirasi
NOC : - Catat pergerakan dada,amati
- Respiratory Status : kesimetrisan, penggunaan otot
Gas exchange tambahan, retraksi otot
- Respiratory Status : supraclavicular dan intercostal
ventilation - Monitor suara nafas, seperti dengkur
- Vital Sign Status - Monitor pola nafas : bradipena,
takipenia, kussmaul, hiperventilasi,
cheyne stokes, biot
- Catat lokasi trakea
- Monitor kelelahan otot diagfragma
(gerakan paradoksis)
- Auskultasi suara nafas, catat area
penurunan / tidak adanya ventilasi
dan suara tambahan
- Auskultasi suara paru setelah
tindakan untuk mengetahui hasilnya
3. Nutrisi kurang dari Kriteria Hasil : Nutrition Management
kebutuhan tubuh bd - Adanya peningkatan - Kaji adanya alergi makanan
intake menurun berat badan sesuai - Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
dengan tujuan menentukan jumlah kalori dan nutrisi
- Berat badan ideal yang dibutuhkan pasien.
sesuai dengan tinggi - Anjurkan pasien untuk meningkatkan
badan intake Fe
- Mampu - Anjurkan pasien untuk meningkatkan
mengidentifikasi protein dan vitamin C
kebutuhan nutrisi - Berikan substansi gula
- Tidak ada tanda tanda - Yakinkan diet yang dimakan
malnutrisi mengandung tinggi serat untuk
- Tidak terjadi mencegah konstipasi
penurunan berat badan - Berikan makanan yang terpilih (
yang berarti sudah dikonsultasikan dengan ahli
NOC : gizi)
- Nutritional Status : - Monitor jumlah nutrisi dan
food and Fluid Intake kandungan kalori
- Berikan informasi tentang kebutuhan
nutrisi
- Kaji kemampuan pasien untuk
mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan
Nutrition Monitoring
- BB pasien dalam batas normal
- Monitor adanya penurunan berat
badan
- Monitor tipe dan jumlah aktivitas
yang biasa dilakukan
- Monitor lingkungan selama makan
- Monitor kulit kering dan perubahan
pigmentasi
- Monitor turgor kulit
- Monitor kekeringan, rambut kusam,
dan mudah patah
- Monitor mual dan muntah
- Monitor kadar albumin, total protein,
Hb, dan kadar Ht
- Monitor pertumbuhan dan
perkembangan
- Monitor pucat, kemerahan, dan
kekeringan jaringan konjungtiva
- Monitor kalori dan intake nuntrisi
- Catat adanya edema, hiperemik,
hipertonik papila lidah dan cavitas
oral.
4. Intoleransi aktivitas Kriteria Hasil : Energy Management
bd suplai O2 ke - Berpartisipasi dalam - Observasi adanya pembatasan klien
jaringan menurun aktivitas fisik tanpa dalam melakukan aktivitas
disertai peningkatan - Dorong klien untuk mengungkapkan
tekanan darah, nadi perasaan terhadap keterbatasan
dan RR - Kaji adanya factor yang
- Mampu melakukan menyebabkan kelelahan
aktivitas sehari hari - Monitor nutrisi dan sumber energi
(ADLs) secara tangadekuat
mandiri - Monitor pasien akan adanya
NOC : kelelahan fisik dan emosi secara
- Energy conservation berlebihan
- Self Care : ADLs - Monitor respon kardivaskuler
terhadap aktivitas
- Monitor pola tidur dan lamanya
tidur/istirahat pasien
Activity Therapy
- Kolaborasikan dengan Tenaga
Rehabilitasi Medik
dalammerencanakan progran terapi
yang tepat.
- Bantu klien untuk mengidentifikasi
aktivitas yang mampu dilakukan
- Bantu untuk memilih aktivitas
konsisten yangsesuai dengan
kemampuan fisik, psikologi dan
social
- Bantu untuk mengidentifikasi dan
mendapatkan sumber yang
diperlukan untuk aktivitas yang
diinginkan
- Bantu untuk mengidentifikasi
aktivitas yang disukai
- Bantu pasien untuk mengembangkan
motivasi diri dan penguatan
- Monitor respon fisik, emosi, social
dan spiritual
DAFTAR PUSTAKA

Alsagaff, H dan Mukty, A. 2006. Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Paru. Surabaya: Airlangga
University Press.

Amin. Z. 2006. Kanker Paru dalam : Sudoyo, A.W. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam
Edisi IV.Jakarta : Pusat Penerbit FK UI.

Asih, Niluh Gede Yasmin. 2003. Keperawatan Medikal Bedah : Klien dengan Gangguan
Sistem Pernapasan. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC

Bahar A., 1998., Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam., Jilid II., Balai Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia., Jakarta.,Hal: 915-926.

Kumar V., Robbin, SL. 2007. Buku Ajar Patologi : Paru dan Saluran Nafas Atas. 7thed, vol.
2. Jakarta : EGC.

Muttaqin, A. 2007.Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernafasan.Jakarta :


Salemba Medika.

Pearce, Evelyn C, 2006, Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis, Jakarta : PT Gramedia
Pustaka Utama.

Prince A.S, Wilson M.L., 2001., Patofisiologi ; Konsep Klinis Proses-proses Penyakit ;
Tumor Ganas Paru-paru., EGC., Jakarta.,Hal: 745-751.

Sudoyo, Aru W, dkk. 2007. Buku Ajar Ilmu penyakit Dalam. Edisi 4, Jilid 1. Jakarta :
Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI.

Stoppler, MC. 2010.Lung Cancer. Available from :http://www.emedicinehealth/ di akses 28


Agustus 2013.

Underwood, JCE. Patologi umum dan sistematik. Jakarta: EGC;1999.

Wilson, LM. 2005. Patofisiologi. Konsep Klinik Proses-proses Penyakit. Jakarta : EGC.