Anda di halaman 1dari 16

30

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Tempat Penelitian

Puskesmas Tanjung Puri terletak di Kecamatan Sintang merupakan 1

dari 23 Pukesmas yang ada di Kabupaten Sintang, dan termasuk Puskesmas

perkotaan. Terdiri dari 3 desa dan 2 kelurahan binaan dengan luas wilayah 119,60

km2 dan merupakan kecamatan terkecil dengan kepadatan penduduk tertinggi

yaitu 157,83/km3. Jumlah penduduk pada tahun 2003 adalah 24.349 jiwa (Profil

Puskesmas Tanjung Puri 2004).

Puskesmas induk Tanjung Puri memiliki 2 unit poli umum, 1 unit poli

anak, 1 unit poli KIA, 1 unit poli gigi, laboratorium, apotek, dll. Data jumlah

kunjungan ke Poli Umum tahun 2004 rata-rata per hari kerja adalah 40 pasien.

Sedangkan tenaga yang ada di Puskesmas Induk 30 orang terdiri dari : Kepala

Puskesmas 1 orang, dokter umum 3 orang, dokter gigi 1 orang, perawat 9, bidan 3

orang, perawat gigi 3 orang paramedis non keperawatan 5 orang dan non

paramedis 5 orang

Pelayanan yang diberikan di Puskesmas Tanjung Puri adalah semua

Program kesehatan dasar Puskesmas yang meliputi: promosi kesehatan, kesehatan

lingkungan, Kesehatan Ibu dan Anak, Perbaikan Gizi, Pemberantasan Penyakit

Menular, dan Pengobatan dasar. Sedangkan Program kesehatan pengembangan

meliputi: program kesehatan kerja, program kesehatan manula, program kesehatan

lainya sesuai dengan kebutuhan.


31

B. Karakteristik Responden Penelitian

Responden penelitian ini adalah masyarakat pengguna pelayanan

kesehatan yang berkunjung ke Poli Umum Puskesmas Tanjung Puri, Sintang.

Karakteristik responden dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 2.1 Distribusi karakteristik responden kuesioner di Poli Umum


Puskesmas Tanjung Puri, Sintang tahun 2005
(N = 45)
No Karakteristik Jumlah Persentase
1. Jenis Kelamin
Laki-laki 27 60
Perempuan
18 40
2. Tingkat Pendidikan
SD 3 6,67
SMP 5 11,11
SMA 25 55,56
Diploma 7 15,56
S1
5 11,11
3. Usia
15-22 tahun 5 11,11
23-45 tahun 28 62,22
45 tahun
12 26,67
4. Kunjungan ke
2 kali 19 42,22
Lebih dari 2 kali 26 57,78

Sumber : data primer diolah

Tabel 2.1 menunjukkan responden yang mengisi kuesioner 60% berjenis

kelamin laki-laki, sebagian besar berpendidikan SMA (55,56%), 62,22% berusia

23-45 tahun dan sebagian besar (57,78%) dalam 1 tahun terkahir pernah

berkunjung lebih dari 2 kali.


32

Untuk karakteristik responden yang diwawancara dapat dilihat pada tabel

berikut :

Tabel 2.2 Distribusi karakteristik responden wawancara di Poli Umum


Puskesmas Tanjung Puri, Sintang tahun 2005
(N = 5)
No Karakteristik Jumlah Persentase
1. Jenis Kelamin
Laki-laki 3 60
Perempuan 2 40

2. Tingkat Pendidikan
SD 1 20
SMP 1 20
SMA 1 20
Diploma/S1 1 20
S1 1 20

3. Umur
15-22 tahun 1 20
23-45 tahun 3 60
> 45 tahun 1 20

4. Kunjungan ke
2 kali 1 20
Lebih dari 2 kali 4 80

Sumber : data primer diolah

Karakteristik responden yang di wawancarai, tabel 2.2 menunjukkan

sebagian besar berjenis kelamin laki-laki (60%), berpendidikan SD sampai tingkat

S1 masing-masing 20%, dan sebagian besar (80%) dalam 1 tahun terkahir pernah

berkunjung lebih dari 2 kali.


33

C. Hasil Penelitian dan Pembahasan

1. Persepsi masyarakat pengguna pelayanan kesehatan terhadap peran

perawat secara umum

a. Hasil Penelitian

Hasil yang didapat melalui wawancara seperti pada lampiran 9,

adalah sebagai berikut :

Tabel 3 Hasil Wawancara Persepsi Masyarakat Pengguna Pelayanan


Kesehatan terhadap Peran Perawat secara umum di Poli Umum
Puskesmas Tanjung Puri, Sintang tahun 2005.
Topik Core Categories
Peran perawat secara umum - Peran perawat baik dan sudah sesuai
- Peran perawat belum sesuai, masih ada yang
mempersepsikan peran perawat adalalah
mengobati.

Persepsi masyarakat pengguna pelayanan kesehatan terhadap peran

perawat secara umum sudah baik dan sesuai, seperti yang disampaikan

oleh responden berikut :

“Menurut saya peran perawat menanyakan keluhan yang saya


rasakan, mengukur tekanan, menyiapkan ruang periksa agar pasien
jadi nyaman, kalau nimbang saya rasa tidak terlalu perlu, kalau
mengobati lebih baik dokter”.

“..Ya… sudah sesuai sekalilah ! mereka menayakan keluhanku, mengukur


tekanan darah dan memberikan pengobatan o…o kepada aku, sesuai
sekalilah tu.!

Responden juga ada yang mempersepsikan bahwa peran perawat

menentukan penyakit dan belum sesuai, seperti hasil wawancara pada

beberapa responden berikut :

“Ya memeriksalah, menentukan penyakit dan ngasih obat gitu, buat


reseplah, menjelaskan penyakit.
34

“..Ya… justru yang memeriksa kalau tanjung puri perawat.


Dokternya biasanya dokter perempuan di poli anak bu Veron, jadi
kalau dikatan sesuai, sepertinya disini belum.

b. Pembahasan

Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa persepsi

masyarakat tentang peran perawat secara umum baik dan sudah sesuai,

namun masih ada responden yang mempersepsikan peran perawat di Poli

Umum Puskesmas Induk Tanjung Puri belum sesuai.

Persepsi masyarakat yang demikian terbentuk karena pengalaman

sebelumnya pada saat mereka berkunjung. Hal ini sesuai dengan pendapat

Wilson (2000) yang menyebutkan salah satu faktor dari dalam yang

mempengaruhi persepsi adalah assumptions, yang mempengaruhi persepsi

sesuai dengan pengalaman melihat, merasakan dan lain-lain. Menurut

Rahmat (2005) faktor-faktor personal yang mempengaruhi persepsi

interpersonal salah satunya adalah: pengalaman, seseorang yang telah

mempunyai pengalaman tentang hak-hak tertentu akan mempengaruhi

kecermatan seseorang dalam memperbaiki persepsi.

Menurut Kusnanto (2004) peran merupakan seperangkat tingkah

laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang, sesuai

kedudukannya dalam suatu system. Peran perawat dipengaruhi oleh

keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar profesi keperawatan dan

bersifat konstan, oleh karena itu bila peran yang dilakukan tidak sesuai

dapat menimbulkan salah persepsi.


35

2. Persepsi terhadap peran perawat sebagai pelaksana

a. Hasil Penelitian

Persepsi masyarakat pengguna pelayanan kesehatan terhadap peran

perawat sebagai pelaksana dapat dilihat pada tabel 4 berikut.

Tabel 4.1 Hasil Kuesioner Persepsi Masyarakat Pengguna Pelayanan


Kesehatan terhadap Peran perawat sebagai pelaksana
Nilai Jawaban
No Aspek yang dinilai x % Nilai
4 3 2 1
1. Perawat berperan mena-
nyakan keluhan yang saya
26 18 1 0 160 88,89 Baik
rasakan saat berkunjung ke
kamar periksa.
2. Di ruang periksa, perawat
21 24 0 0 156 86,67 Baik
memeriksa tekanan darah.
3. Di ruang periksa, perawat
15 24 6 0 144 80 Baik
mengukur panas
4. Di ruang periksa, perawat
19 23 3 0 151 83,89 Baik
menghitung denyut nadi
5. Menimbang berat badan,
sebaiknya dilakukan oleh 13 27 4 1 142 78,89 Baik
perawat.
6. Mengukur tinggi badan
sebaiknya dilakukan oleh 9 29 4 3 134 74,44 Cukup
perawat.
7. Sebelum melakukan peme-
riksaan, perawat mengatur
10 31 4 0 141 78,33 Baik
ruangan periksa (menutup
gorden).
8. Perawat menjelaskan
prosedur dan tindakan yang 17 26 1 1 149 82,78 Baik
akan dilakukan
9. Perawat memberikan rasa
21 24 0 0 156 86,67 Baik
nyaman
10. Tidak menceritakan kepada
orang lain, apa yang dilihat 32 9 4 0 163 90,56 Baik
waktu memeriksa pasien.
11. Hasil pemeriksaan dicatat dan
disimpan untuk menjaga 31 11 1 2 161 89,44 Baik
kerahasiaan pasien.
12. Di kamar periksa perawat
sebaiknya menentukan 3 7 20 15 88 48,89 Kurang
penyakit dan memberikan Baik
pengobatan kepada pasien.
Sumber : data primer diolah
36

Tabel 4.1 tersebut menunjukkan bahwa persepsi masyarakat

pengguna pelayanan kesehatan yang berkunjung ke Poli Umum

Puskesmas Tanjung Puri, terhadap peran perawat sebagai pelaksana

80,79% dikategorikan baik. Aspek yang dikategorikan cukup yaitu

mengukur tinggi badan sebaiknya dilakukan oleh perawat sebanyak

74,44%, sedangkan aspek yang dikategorikan kurang baik adalah di kamar

periksa perawat sebaiknya menentukan penyakit dan memberikan

pengobatan kepada pasien sebanyak 48,89% dari 45 orang.

Hasil observasi selama penelitian didapatkan bahwa 41.07%

pelayanan pengobatan di Poli Umum Puskesmas Tanjung Puri masih

dilakukan perawat. Hasil yang diperoleh dari wawancara seperti pada

lampiran 9 adalah sebagai berikut :

Tabel 4.2 : Hasil wawancara Persepsi Masyarakat Pengguna Pelayanan


Kesehatan terhadap Peran perawat sebagai pelaksana
Pertanyaan Core Categories
Perawat menentukan - Tidak setuju dan masalah
penyakit dan - Setuju dan tidak masalah bila penyakit
memberikan pengobatan ringan dan biasa
Sikap perawat pada saat - Bagus dan sangat ramah
memberikan pelayanan - Baik dan melayani
Setelah ditriangulasi dari wawancara mendalam pada 5 responden,

masyarakat pengguna pelayanan kesehatan mempersepsikan bahwa peran

perawat sebagai pelaksana dalam hal memberikan pengobatan sebagian

besar setuju dan tidak ada masalah. Seperti disampaikan oleh beberapa

responden berikut :

“A .. Sama saja a… sama saja, karena memang obat itu sudah dipatok,
masalahnya. Dokterpun tidak bisa memberikan obat yang diluar patokan”.
37

“Setujulah kan memang mereka bertugas disini untuk malayani termasuk


memberikan pengobatan, ya setujulah

“Tidak ada masalah! Merekakan ramah-ramah, bagus pelayanannya,


kalau hanya penyakit biasa seperti batuk, pilek pusing … tu! Dak masalah
perawat yang memberikan pelayanan, tapi kalau penyakitnya dah berat ke
dokter juga gitu o .. harus ke dokter, mereka ada surat rujukan dari sini
nyuruh kita ke dokter ke dokter gitu. Jadi tidak masalah bagi aku! Kan
kalau kita dah rutin kesini penyakit kita tidak sembuh-sembuh, kan
biasanya ada anu surat rujukan ke Rumah Sakit besar sana, Rumah Sakit
umum kita periksa disana”.

Dari kelima responden yang diwawancara ada 1 responden yang tidak

setuju dan merupakan masalah baginya bila perawat yang memberikan

pelayanan pengobatan bila ada dokter, seperti petikan wawancara berikut :

“Tidak setuju , karena kalau masih ada dokter setempat ditugaskan di


Puskesmas mengapa harus perawat kan ada dokter, perawat cuma bantu-
bantu dokter untuk mengobati pasien.

“Menjadi masalah karena ada dokter, mengapa harus perawat kecuali


tidak ada dokter ditugaskan pada Puskesmas apa boleh buat baru
perawat. Sepengetahuan saya di Puskesmas Tanjung Puri ini ada 3 dokter
mengapa harus perawat! Seharusnya 3 dokter itu bisa bergiliran…”
Dari wawancara tentang sikap perawat dalam memberikan pelayanan

didapatkan persepsi masyarakat pengguna pelayanan kesehatan bahwa sikap

perawat bagus, sangat ramah, baik dan melayani perawat

b. Pembahasan

Hasil penelitian ini, yang menyangkut persepsi masyarakat pengguna

pelayanan kesehatan terhadap peran perawat sebagai pelaksana di Poli Umum

secara umum baik 80,79%. Hal tersebut terlihat pada tabel 4.1.

Pada item pernyataan perawat berperan menanyakan keluhan saat

berkunjung didapatkan hasil bahwa sebagian besar menyatakan sangat setuju,

namun masih ada sebagian kecil menjawab tidak setuju. Hal ini menunjukkan
38

bahwa masih ada masyarakat yang mempersepsikan bahwa perawat tidak

harus bertanya tentang permasalahan yang dialami pasien. Menanyakan

keluhan utama merupakan salah satu peran perawat sebagai pelindung dan

penjamin hak dan kewajiban pasien terlaksana dengan seimbang Peran ini

dikenal dengan “care giver”. Dalam melaksanakan peran ini perawat bertindak

sebagai comforter, protector dan advocate, communicator serta rehabilitator.

Peran sebagai protector dan advocate lebih berfokus pada kemampuan

perawat melindungi dan menjamin hak dan kewajiban klien terlaksana dengan

seimbang dalam memperoleh pelayanan kesehatan.

Item dikamar periksa perawat memeriksa tekanan darah, mengukur

panas, menghitung denyut nadi sebagian besar masyarakat menyatakan setuju,

namun masih ada sebagian kecil yang menjawab tidak setuju. Pada item

menimbang berat badan sebaiknya dilakukan perawat sebagian besar

responden menyatakan setuju, walaupun masih ada yang menyatakan tidak

setuju.

Pada item yang menyatakan mengukur tinggi badan sebaiknya

dilakukan oleh perawat, didapatkan hasil bahwa sebagian besar menyatakan

setuju, namun dari 12 item yang diukur ini tergolong salah satu item yang

rendah. Hal ini menunjukan bahwa sebagaian besar masyarakat

mempersepsikan bahwa pemeriksaan dan pengukuran tersebut merupakan

peran perawat, namun masih ada juga masyarakat yang mempersepsikan

pemeriksaan-pemeriksaan tersebut tidak perlu dilakukan perawat, terutama

pengukuran berat badan dan tinggi badan bila hanya sebatas sakit ringan,
39

karena membuat pelayanan makin lama. Menurut organisasi keperawatan

sedunia ICN (1973) bahwa fungsi unik perawat yaitu melakukan pengkajian

kepada individu, yang meliputi pemeriksaan tanda vital, menimbang berat

badan, mengukur tinggi badan.

Pernyataan peran pelaksana lainnya yaitu perawat mengatur ruangan,

menjelaskan prosedur dan tindakan yang dilakukan, memberikan rasa nyaman,

perawat tidak menceritakan kepada orang lain apa yang dilihat, hasil

pemeriksaan dicatat dan disimpan didapatkan hasil bahwa sebagian besar

menyatakan setuju, namun ada sebagian kecil yang menjawab tidak setuju dan

sangat tidak setuju. Sesuai pernyataan-pernyataan tersebut menunjukkan

bahwa responden sangat membutuhkan kenyamanan dan keamanan dalam

mendapat pelayanan oleh perawat. Persepsi ini sesuai dengan apa yang

dikemukakan Gaffar (1999) bahwa sebagai pelaksana perawat berperan

sebagai comforter, yaitu perawat berusaha memberi kenyamanan dan rasa

aman kepada klien.

Pernyataan lain yang mengukur peran pelaksana adalah dikamar

periksa perawat sebaiknya menentukan penyakit dan memberikan pengobatan

kepada pasien, didapatkan hasil bahwa sebagian besar responden menyatakan

setuju dan sangat setuju. Namun ada sebagian kecil sangat tidak setuju dan

tidak setuju. Hasil dari kuesioner tersebut sesuai dengan hasil triangulasi dari

wawancara mendalam pada 5 responden, bahwa masyarakat pengguna

pelayanan kesehatan mempersepsikan peran perawat sebagai pelaksana

khususnya dalam hal memberikan pengobatan sebagian besar setuju dan tidak
40

ada masalah bila perawat yang melakukan, namun ada juga 1 responden yang

mempersalahkan hal tersebut bila ada dokter.

Persepsi masyarakat yang demikian bisa dipahami karena berdasarkan

pengalaman dan dari kenyatan bahwa perawat sering memberikan pengobatan

di Poli Umum. Menurut Wilson (2000) salah satu faktor dari dalam yang

mempengaruhi persepsi adalah assumptions, yang mempengaruhi persepsi

sesuai dengan pengalaman melihat, merasakan dan lain-lain. Menurut Rahnat

(2005) faktor-faktor personal yang mempengaruhi persepsi interpersonal salah

satunya adalah: pengalaman, seseorang yang telah mempunyai pengalaman

tentang hak-hak tertentu akan mempengaruhi kecermatan seseorang dalam

memperbaiki persepsi.

Memberikan pelayanan pengobatan bukan peran perawat sebagai

pelaksana, tetapi karena ketidakjelasan uraian tugas dan perawat

berpendidikan Sekolah Perawat Kesehatan/SPK masih banyak, yaitu sekitar

86,53 persen. ''Di satu sisi, kondisi tenaga kesehatan di Puskesmas masih

terbatas dan di sisi lain tuntutan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan

Puskesmas yang bermutu, merata dan terjangkau semakin meningkat,'' kata

Herawani (2005). Karena itu, diperlukan kejelasan peran dan fungsi setiap

tenaga kesehatan di Puskesmas, termasuk perawat.

Direktur Keperawatan dan Keteknisan Medik, Herawani (2005)

mengatakan, berdasarkan kompetensi, seharusnya tanggung jawab perawat di

puskesmas adalah pada upaya promotif dan preventif. ''Ini dilakukan pada

semua tingkat pencegahan (levels of prevention) tanpa mengabaikan upaya


41

kuratif dan rehabilitatif. Tapi kenyataannya di lapangan, perawat justru lebih

banyak melaksanakan tugas-tugas di luar kewenangannya.''

Ditinjau dari legalitas sesuai yang tertera dalam Undang Undang

Kesehatan No.23 tahun 1992 pasal 32 ayat 3 menyatakan bahwa ”Pengobatan

dan atau perawatan dapat dilakukan berdasarkan ilmu kedokteran dan ilmu

keperawatan”, dan ayat 4 menyatakan ” Pelaksanaan pengobatan dan atau

perawatan berdasarkan ilmu kedokteran dan ilmu keperawatan hanya dapat

dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan

untuk itu. Sesuai dengan penjelasan pasal tersebut bahwa tugas perawat secara

primer adalah perawatan, sedangkan dokter adalah pengobatan.

Untuk memfasilitasi persepsi masyakat tersebut dan mengaplikasikan

Undang Undang bahwa perawat mempunyai tugas perawatan sedangkan

kenyataan dilapangan bahwa perawat masih melakukan pengobatan.

Sedangkan pengobatan merupakan tugas primer dari medis, untuk itu perlu

adanya fungsi pendelegasian yang jelas dari medis kepada perawat mengenai

tindakan-tindakan yang boleh dilakukan oleh perawat sehingga dalam

malaksanakannya secara legal ada yang bertanggung jawab. Agar kondisi ini

dapat dilaksanakan tentunya diperlukan keterlibatan berbagai pihak seperti :

Kepala Puskesmas, Organisasi Profesi dan Dinas Kesehatan.

Melihat kondisi tenaga perawat Puskesmas seperti saat ini, maka

minimal perawat di Puskesmas memiliki peran dan fungsi sebagai berikut :

mereka menjadi pendidik/penyuluh kesehatan, pemberi pelayanan kesehatan,

penemu kasus, konselor, koordinator dan penghubung ''Artinya, perawat di


42

Puskesmas diharapkan dapat menjadi koordinator pelayanan kesehatan yang

dilakukan di keluarga, kelompok maupun masyarakat”.

3. Persepsi Terhadap Peran Perawat sebagai Pedidik

a. Hasil Penelitian

Hasil penelitian Persepsi responden terhadap peran perawat sebagai

Pendidik di Poli umum Puskesmas dapat dilihat pada tabel 5.1 berikut.

Tabel 5.1: Persepsi Masyarakat Pengguna Pelayanan Kesehatan


terhadap Peran Perawat sebagai Pendidik
Nilai Jawaban
No Aspek yang dinilai 4 3 2 1 x % Nilai

1. Setelah melakukan pemeriksaan,


perawat menjelaskan keadaan 22 21 2 155 86,11 Baik
0
penyakit yang saya derita.
2. Setelah ditentukan pengobatan oleh
dokter, perawat tidak perlu 8 27 7 3 130 72,22 Cukup
menjelaskan cara penggunaan obat .
3. Perawat berperan menjelaskan
aturan pengobatan yang saya 17 27 1 0 151 83,89 Baik
dapat.dan efek samping obat.
4. Perawat perlu menjelaskan akibat
21 22 2 0 154 85,56 Baik
dari pemberian obat.
5. Perawat perlu memiliki
pengetahuan yang baik tentang 38 7 0 173 96,11 Baik
0
penyakit dan pengo-batan.
6. Perawat berperan memberikan
penyuluhan kesehatan tentang 29 15 1 0 163 90,56 Baik
pencegahan penya-kit.
7. Perawat memberikan penyuluhan
26 19 0 0 161 89,44 Baik
cara penularan penyakit
8. Perawat berperan menjelaskan
tindak lanjut yang harus dilakukan
27 16 2 0 160 88,89 Baik
di rumah dalam membantu proses
penyembuhan di rumah.
9. Penyuluhan kesehatan oleh perawat
25 20 0 0 160 88,89 Baik
sangat kami perlukan.
10. Perawat sebaiknya dapat
memberikan penyuluhan/ 30 13 1 1 162 90 Baik
pendidikan kesehatan dengan baik.
Jumlah N = 45 87,17 Baik
Sumber : data primer diolah
43

Dari hasil pengolahan data dapat dilihat pada tabel di atas bahwa

persepsi masyarakat pengguna pelayanan kesehatan terhadap peran perawat

sebagai pendidik di poli umum Puskesmas Tanjung Puri Sintang secara umum

87,17% dikategorikan baik. Namun dari sepuluh aspek tersebut ada satu asek

peran perawat sebagai pendidik yang digolongkan cukup, yaitu setelah

ditentukan pengobatan oleh dokter perawat tidak perlu menjelaskan cara

penggunaan obat, dinilai 72,22%.

Hasil yang diperoleh dari wawancara seperti pada lampiran 9 adalah

sebagai berikut :

Tabel 5.2 : Hasil wawancara Persepsi Masyarakat Pengguna Pelayanan


Kesehatan terhadap Peran perawat sebagai pendidik
Topik Core Categories
Peran perawat - Perlu memberikan penjelasan
sebagai pendidik - Perlu menjelaskan agar pasien semakin
mengerti
- Tidak perlu karena dokter sudah menjelaskan
Setelah ditriangulasi dari wawancara mendalam pada 5 responden,

masyarakat pengguna pelayanan kesehatan mempersepsikan bahwa peran

perawat sebagai pendidik khususnya dalam hal Setelah ditentukan pengobatan

oleh dokter, perawat perlu menjelaskan cara penggunaan obat sebagian besar

menyatakan perlu. Seperti ungkapan beberapa responden berikut :

“Sebaiknya perlu perawat menjelaskan lagi, karena terkadang penjelasan


dokter kurang lengkap

“Ya pak, setuju, memang sebaiknya perawat perlu menjelaskan lagi, agar
pasien semakin mengerti.

“Kalau saya sih setuju! Kadang dokterkan ndak sempat, jadi sebaiknya
perawatlah yang menjelaskan kepada pasien agar tahu.
44

Dari kelima responden yang diwawancara ada 1 responden yang

menganggap tidak perlu perawat menjelaskan lagi karena dokter sudah

memberikan penjelasan, seperti petikan wawancara berikut :

”Biasanya dokter menjelaskan kegunaan obat untuk apa dan cara


minumnya, serta efek samping obat, jadi saya rasa tidak perlu perawat
menjelaskan lagi kalau diobati dokter”

2. Pembahasan

Hasil ini menunjukan bahwa responden mempersepsikan bahwa peran

perawat memberikan pendidikan (penyuluhan atau nasehat) kepada

masyarakat yang berkunjung agar mereka mengerti tentang permasalahan

kesehatan yang mereka hadapi. Item pernyataan peran perawat sebagai

pendidik yaitu setelah ditentukan pengobatan oleh dokter, perawat tidak perlu

menjelaskan cara penggunaan obat merupakan item pernyataan terendah dari

10 item, sebagian responden menyatakan tidak setuju dan sangat tidak setuju.

Hasil ini setelah ditriangulasi dengan wawancara menunjukan bahwa masih

ada masyarakat yang mempersepsikan bahwa tidak perlu lagi dijelaskan bila

dokter yang memberikan pengobatan.

Secara konteks walaupun telah diberikan penjelasan oleh dokter,

perawat perlu menjelaskan, menayakan dan mengecek kembali pemahan dari

masyarakat tentang apa yang dijelaskan. Sebagai pendidik perawat berperan

mendidik individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat serta tenaga

kesehatan atau tenaga kesehatan yang berada di bawah tanggung jawabnya.

Peran ini dapat berupa penyuluhan kepada peserta didik keperawatan, antara

sesama perawat atau tenaga kesehatan lain.


45

Herawani (2005) mengatakan, berdasarkan kompetensi, seharusnya

tanggung jawab perawat di puskesmas adalah pada upaya promotif dan preventif.

''Ini dilakukan pada semua tingkat pencegahan (levels of prevention) tanpa

mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif. Tapi kenyataannya di lapangan,

perawat justru lebih banyak melaksanakan tugas-tugas di luar kewenangannya''.