Anda di halaman 1dari 17

Lahirnya Pancasila

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Artikel ini membahas mengenai sebuah pidato bersejarah. Lahirnya Pancasila adalah judul
pidato yang disampaikan oleh Soekarno dalam sidang Dokuritsu Junbi Cosakai (bahasa
Indonesia: "Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan") pada tanggal 1 Juni 1945. Dalam
pidato inilah konsep dan rumusan awal "Pancasila" pertama kali dikemukakan oleh Soekarno
sebagai dasar negara Indonesia merdeka. Pidato ini pada awalnya disampaikan oleh Soekarno
secara aklamasi tanpa judul dan baru mendapat sebutan "Lahirnya Pancasila" oleh mantan Ketua
BPUPK Dr. Radjiman Wedyodiningrat dalam kata pengantar buku yang berisi pidato yang
kemudian dibukukan oleh BPUPK tersebut. Sejak tahun 2017, hari tersebut resmi menjadi hari
libur nasional.

Latar belakang[sunting | sunting sumber]


Gedung Chuo Sangi In di Jakarta yang digunakan sebagai gedung Volksraad pada tahun 1925.
Menjelang kekalahan Tentara Kekaisaran Jepang di akhir Perang Pasifik, tentara pendudukan
Jepang di Indonesia berusaha menarik dukungan rakyat Indonesia dengan membentuk Dokuritsu
Junbi Cosakai(bahasa Indonesia: "Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan"atau
BPUPKI, yang kemudian menjadi BPUPKI, dengan tambahan "Indonesia").
Badan ini mengadakan sidangnya yang pertama dari tanggal 29 Mei(yang nantinya selesai
tanggal 1 Juni 1945).Rapat dibuka pada tanggal 28 Mei 1945 dan pembahasan dimulai keesokan
harinya 29 Mei 1945 dengan tema dasar negara. Rapat pertama ini diadakan di gedung Chuo
Sangi In di Jalan Pejambon 6 Jakarta yang kini dikenal dengan sebutan Gedung Pancasila. Pada
zaman Belanda, gedung tersebut merupakan gedung Volksraad (bahasa Indonesia: "Perwakilan
Rakyat").
Setelah beberapa hari tidak mendapat titik terang, pada tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno
mendapat giliran untuk menyampaikan gagasannya tentang dasar negara Indonesia merdeka,
yang dinamakannya "Pancasila". Pidato yang tidak dipersiapkan secara tertulis terlebih dahulu
itu diterima secara aklamasi oleh segenap anggota Dokuritsu Junbi Cosakai.
Selanjutnya Dokuritsu Junbi Cosakai membentuk Panitia Kecil untuk merumuskan dan
menyusun Undang-Undang Dasardengan berpedoman pada pidato Bung Karno tersebut.
Dibentuklah Panitia Sembilan (terdiri dari Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Mr. AA
Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Abdul Kahar Muzakir, Agus Salim, Achmad
Soebardjo, Wahid Hasjim, dan Mohammad Yamin) yang ditugaskan untuk merumuskan kembali
Pancasila sebagai Dasar Negara berdasar pidato yang diucapkan Bung Karno pada tanggal 1 Juni
1945, dan menjadikan dokumen tersebut sebagai teks untuk memproklamasikan kemerdekaan
Indonesia.
Setelah melalui proses persidangan dan lobi-lobi akhirnya rumusan Pancasila hasil penggalian
Bung Karno tersebut berhasil dirumuskan untuk dicantumkan dalam Mukadimah Undang-
Undang Dasar 1945, yang disahkan dan dinyatakan sah sebagai dasar negara Indonesia merdeka
pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh BPUPKI. [1]
Dalam kata pengantar atas dibukukannya pidato tersebut, yang untuk pertama kali terbit pada
tahun 1947, mantan Ketua BPUPKI Dr. Radjiman Wedyodiningrat menyebut pidato Ir. Soekarno
itu berisi “Lahirnya Pancasila”.
”Bila kita pelajari dan selidiki sungguh-sungguh “Lahirnya Pancasila” ini, akan ternyata bahwa
ini adalah suatu Demokratisch Beginsel, suatu Beginsel yang menjadi dasar Negara kita, yang
menjadi Rechtsideologie Negara kita; suatu Beginsel yang telah meresap dan berurat-berakar
dalam jiwa Bung Karno, dan yang telah keluar dari jiwanya secara spontan, meskipun sidang
ada dibawah penilikan yang keras dari Pemerintah Balatentara Jepang. Memang jiwa yang
berhasrat merdeka, tak mungkin dikekang-kekang! Selama Fascisme Jepang memperjuangkan
dan menyempurnakan Kemerdekaan Negara berkuasa dinegeri kita, Demokratisch Idee tersebut
tak pernah dilepaskan oleh Bung Karno, selalu dipegangnya teguh-teguh dan senantiasa
dicarikannya jalan untuk mewujudkannya. Mudah-mudahan ”Lahirnya Pancasila” ini dapat
dijadikan pedoman oleh nusa dan bangsa kita seluruhnya dalam usaha.”

Rujukan[sunting | sunting sumber]

"Gedung Pancasila", situs resmi Universitas Pancasila, diakses 1 Juni 2011.

Referensi[sunting | sunting sumber]

^ "Pancasila Bung Karno", Paksi Bhinneka Tunggal Ika,


2005
para hadirin yang saya hormati,
Pada dasarnya Manusia adalah makhluk Sosial. Artinya makhluk yang tidak bisa hidup sendiri, melainkan secara berkelompok.
Satu sama lain saling membutuhkan.Untuk mendapatkan kesejahteraan kita tidak bisa hidup seorang diri. Kita pasti bergantung
dan membutuhkan pertolongan orang lain. Demikian pula orang lain, pasti membutuhkan kehadiran kita. Sikap saling membantu
sangat dianjurkan dalam islam.membiarkan saling membantu sesame manusia merupakan akhlak mulia. Karena itulah maka
dalam islam dikenal dengan istilah ta’awun (saling menolong).

Allah berfirman dalam surat Al-Maidah ayat 2:


"Dan tolong menolonglah kalian dalam mengerjakan kebaikan dan taqwa. Dan jangan tolong menolong dalam perbuatan dosa
dan pelanggaran dan bertaqwalah kalian kepada Allah amat berat siksaan-Nya."
Bapak-bapak, ibu-ibu dan saudara sekalian,
Pada dasarnya Ta’awun atau tolong- menolong itu dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu tolong-menolong secara moral dan
tolong-menolong secara material.
Tolong-menolong secara moral adalah saling membantu member nasihat tentang kebaikan. Memberi jalan keluar atas kesulitan
teman atau orang lain.mencagah perbuatan munkar dan menunjukan bagaimana seorang itu berbuat. Atau bisa juga memberikan
gagasan-gagasan positif, dan masih banyak lagi.
Sedangkan tolong-menolong dari segi material ialah membantu orang lain misalkan berupa tenaga,harta,modal,sedekah,zakat dan
sebagainya. Dalam islam anjuran untuk membantu lagi fakir miskin melalui zakat merupakan bentuk ta’awun secara nyata.

Allah berfirman:
"Ambilah zakat dari sebagian harta mereka,dengan zakat itu kami membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdo’alah untuk
mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu menjadi ketentraman jiwa bagi mereka,dan Allah Maha Mendengar lagi maha
Mengetahui."

Sungguh indah ayat-ayat Al-Qur’an. Ayat tersebut mengandung makna saling tolong-menolong.di mana para Amil (petugas
pemungut zakat) meminta atau mengambil sebagian dari harta orang kaya untuk zakat. Kemudian harta zakat dibagikan kepada
fakir miskin, yatim piatu dan mereka yang berhak.
Ini contoh tolong-menolong. Dimana para, amil menolong orang kaya agar mereka tidak terkena siksa Allah akibat kelalaian
zakatnya. Sedangkan orang kaya yang mengeluarkan zakat akan menolong fakir miskin, anak yatim dan mereka yang berhak. Hal
inilah bentuk ta’awun material.

Para hadirin rahimahumullah,


Islam member tuntunan dan ajaran bahwa sesame muslim adalah saudara. Jika sesama muslim telah mengaku saudara, maka
sungguh keterlaluan jika muslim yang kaya enggan menolong muslim yang miskin. Sungguh keterlaluan muslim yang pandai
enggan memberi ilmunya kepada miskin yang bodoh. Karena itu yang kaya hendaknya memberi yang miskin dan yang berilmu
hendaknya mengajari yang bodoh.

Dalam ikatan persaudaraan atau persahabatan, maka ada hak-hak dan kewajiban yang harus dipenuhi. Rosulullah saw. Bersabda:

"Ada empat perkara hak orang islam yang harus engkau penuhi yaitu agar membantu kepada yang berbuat
kebaikan,memohonkan ampunan kepada yang berbuat dosa, mendoakan kepada yang membelakangi agamanya dan agar senang
kepada mereka yang melakukan taubat."

Bapak-bapak,ibu-ibu dan saudara sekalian,


Namun selama ini dikalangan semua muslim,ta’awun dalam bentuk material ini masih belum membudaya. Banyak orang islam
yang kaya raya namun kepedulian social terhadap sesame saudara muslim kurang maksimal. Tidak sedikit mereka yang
berlimpah kekayaan namun masih kikir. Padahal seandaianya di Negara ini, orang islam yang kaya peduli terhadap orang islam
yang miskin, yang pengangguran dan yatim piatu, maka masyarakat islam akan menjadi makmur.

Oleh karena itu diharapkan kita melatih diri untuk dermawan dan suka mengulurkan tangan kepada sesame muslim yang miskin.
Memberi lapangan pekerjaan bagi muslim yang fakir. Dan tidak segan-segan menolong yatim piatu. Sesungguhnya harta yang
kita keluarkan untuk menolong mereka tidak akan berkurang, melainkan bertambah.

Demikianlah sedikit apa yang bisa saya sampaikan pada kesempatan ini. Jika ada kesalahan, maka hal itu karena khilaf dan
kebodohan ilmu saya. Namun jika dalam materi itu dapat dipetik kebenarannya,maka hal itu semata-mata karena ilmu Allah.
Mohon maaf atas segala kekurangannya.
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Ilmu merupakan sesuatu yang paling penting bagi manusia, karena dengan ilmu semua
keperluan dan kebutuhan manusia bisa terpenuhi secara cepat dan mudah. Dan merupakan kenyataan
yang tak dapat dimungkiri bahwa peradaban manusia sangat berhutang pada ilmu. Ilmu telah banyak
mengubah wajah dunia seperti hal memberantas penyakit, kelaparan, kemiskinan, dan berbagai
wajah kehidupan yang sulit lainnya. Dengan kemajuan ilmu juga manusia bisa merasakan
kemudahan lainnya seperti transportasi, pemukiman, pendidikan, komunikasi, dan lain sebagainya.
Singkatnya ilmu merupakan sarana untuk membantu manusia dalam mencapai tujuan hidupnya.
Aksiologi merupakan bagian dari filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimanana manusia
menggunakan ilmunya. Aksiologi adalah istilah yang berasal dari bahasa Yunani axios yang artinya
nilai dan logosartinya teori atau ilmu. Jadi aksiologi adalah teori tentang nilai dalam berbagai bentuk
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia aksiologi adalah kegunaan ilmu pengetahuan bagi
kehidupan manusia tentang nilai-nilai khususnya etika.
Pembahasan aksiologi menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu. Ilmu tidak bebas nilai.
Artinya pada tahap-tahap tertentu kadang ilmu harus disesuaikan dengan nilai-nilai budaya, moral
suatu masyarakat, sehingga nilai kegunaan ilmu tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat dalam
usahanya meningkatkan kesejahteraan bersama bukan sebaliknya menimbulkan bencana.
B. RUMUSAN MASALAH
A. Apa yang dimaksud dengan Aksiologi Filsafat?
B. Apa fungsi Aksiolgi Filsafat?
C. Bagaimana cara Aksiologi Filsafat memecahkan masalah?
C. TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan penulisan yaitu sebagai berikut :
A. Mengetahui apa yang dimaksud dengan Aksiologi Filsafat
B. Mengetahui fungsi Aksiologi Filsafat
C. Mengetahui cara Aksiologi Filsafat memecahkan masalah

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Aksiologi Filsafat
1. Pengerttian Aksiologi
Menurut bahasa Yunani AKSIOLOGI berasal dari kata axios artinya nilai dan logos artinya
Teori atau Ilmu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995:19) Aksiologi adalah kegunaan ilmu
pengetahuan bagi kehidupan manusia kajian tentang nilai-nilai khususnya etika. Dalam Encyclopedia
of philosophy (Dalam Amsal : 164) dijelaskan aksiologi disamakan dengan value dan valuation :
1. Nilai digunakan sebagai kata benda abstrak. Dalam pengertian yang lebih sempit seperti baik,
menarik dan bagus. Sedangkan dalam pengertian yang lebih luas mencakup sebagai tambahan segala
bentuk kewajiban, kebenaran, dan kesucian.
2. Nilai sebagai kata benda konkret. Contohna ketika kita berkata sebuah nilai atau nilai-nilai. Ia sering
dipakai untuk merujuk kepada sesuatu yang bernilai, sepertinya atau nilai dia.
3. Nilai juga dipakai sebagai kata kerja ekspresi menilai, memberi nilai atau dinilai.
Dari definisi aksiologi diatas terlihat dengan jelas bahwa permasalahan utama adalah
mengenai nilai. Nilai yang dimaksud adalah sesuatu yang dimiliki manusia untuk melakukan
berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai. Teori tentang nilai yang dalam filsafat mengacu
pada masalah etika dan estetika.
Aksiologi ilmu terdiri dari nilai-nilai yang bersifat normatif dalam pemberian makna
terhadap kebenaran atau kenyataan sebagaimana dijumpai dalam kehidupan yang menjelajahi
berbagai kawasan seperti kawasan sosial, kawasan simbolik ataupun fisik material (koento 2003:13)
Jadi, aksiologi adalah teori tentang nilai. Beriku ini dijelaskan beberapa definisi aksiologi :
a. Menurut Suriasumantri (1990:234) aksiologi adalah teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari
pengetahuan yang diperleh
b. Menurut Wibosono (dalam Surajiyo, 2009:152) aksiologi adalah nilai-nilai sebagai tolak ukur
kebenaran, etika, dan moral sebagai dasar normative penelitian dan panggilan, serta penerapan ilmu.
c. Scheleer dan Langeveld mengontraskan aksiologi dengan praxeology, yaitu suatu teori dasar tentang
tindakan tetapi lebih sering dikontraskan dengan deontology, yaitu suatu teori mengenai tindakan
baik secara normal
d. Langeveld memberikan pendapat bahwa aksiologi terdiri atas dua hal utama, yaitu etika dan estetika.
Etika merupakan begian filsafat nilai dan penilaian yang membicarakan perilaku orang, sedangkan
estetika adalah bagian filsafat nilai dan penilaian mengandung karya manusia dari sudut indah dan
jelek.
e. Kattsoff (2004:319) mendefinisian aksiologi sebagai ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakekat
nilai yang umunya ditinjai dari sudut pandang kefilsafatan
f. Menurut Bramel (dalam Asmal 2009:163) aksiologi terbagi tiga bagian yaitu sebagai berikut :
1. Moral Conduct, yaitu tindakan moral, bidang ini melahirkan disiplin khusus yaitu etika.
2. Estetic expression, yaitu ekspresi keindahan, bidang ini melahirkan keindahan.
3. Socio-political lifa, yaitu kehidupan sosial politik, yang akan melahirkan filsafta sosial politik.
2. Pengertian Filsafat
Istilah filsafat berasal dari bahasa Yunani “Philosophia” yang dalam perkembanagan
berikutnya dikenal dalam bahasa lain yaitu : Philosophie (jerman, belanda, dan prancis); philosophy
(Inggris); Philosophia (Latin); dan falsafah (Arab).
Pengertian fisafat berdasarkan asal kata tersebut diatas akan menghasilkan pengertian yang
berbeda-beda dalam makna yang tidak hakiki, jadi perbedaan tersebut hanya bersifat gradasi saja.
Aktivitas akal budi yang dilakukan oleh filsuf yang berupa philosophien memiliki dua usur pokok
yaitu; pertama philien dan Sophos, kedua philos dan shopia.
Ketua kelompok upaya mencari akar pengertian istilah tersebut dapat diurai sebagai berikut.
Pertama unsur philien dan Sophos; “Philien” berarti mencintai, dan Sophos berarti bijaksana. Istilah
philosophia dengan kar kata philien dan Sophos berarti mencintai akan hal-hal yang bersifat
bijaksana. Istilah philosopia dengan akar kata philos dan Sophia berarti kawan kebijaksanaan.
Philosopie menurut arti katanya adalah cinta akan keijaksanaan dan berusaha untuk memilikinya.
Para filsuf memberikan batas filsafat pada umumnya berbeda satu sama lain. Tiap-tiap filsuf
memiliki rumusan atau batasan tersendiri tentang filsafat. Perbedaan terseut tampak bervariasi,
kadang-kadang menyangkut masalah yang esensial, akan tetapi erbedaan tersebut tidak mendasar.
Batan filsafat dapat ditinjau dari dua segi yang secara etomologi dan secara terminologi.
Secara etimologi istilah fisafat berasal dari bahasa Arab, yaitu falsafah, ada pula yang
berpendapat bahwa istilah tersebut berasal dari bahasa inggris “Philosophy”. Kedua istilah tersebut
berakar kepada bahasa Yunani yaitu “Philosopia”. Istilah tersebut memiliki dua unsur asasi, yaitu :
“Philein” dan “Sopia”, Philein berarti cinta , sopia berarti kebijaksanaan.
Berdasarkan uraian diatas dapat dipahami bahwa filsafat (philosophia) berarti cinta
kebijaksanaan. Seorang filsuf adalah pencari kebijksanaan, ia adalah pencinta kebijaksanaan dalam
arti hakikat. Seorang ilsuf mencintai atau mencari kebijaksanaan dlam arti yang sedalam-dalamnya.
Seorang fisuf adalah pencinta atau pemakaian istilah filsafat pertama kali digunakan oleh Pytagoras.
Pada saat itu pengertian filsafat meurutnya sebelum begitu jelas , kemudian pengertian itu diperjelas
seperti halnya yang banyak dipakai sekaran. Kaum sophist yang dipelopori oleh Socrates telah
menjelaskan pengertian filsafat yang tetap terpakai sampai saat ini.
Pengertian filsafat secara termonologi sangat berguna. Dalam hal ini para filsuf merumuskan
pengertian filsafat sesuai dengan kecenderungan pemikiran kefilsafatan yang dimilikinya. Para filsuf
tela merumuskan pengertian filsafat sebagai berikut :
1. Plato
Filsafat adalah pengetahuan yang berminat mencapai pengetahuan kebenaran yang asli.
2. Aristoteles
Filsafat adalah ilmu (Pengetahuan) yang meliputi kebenaran yang terkandung didalamnya ilmu-ilmu
metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik dan estetika,(Filsafat Keindahan).adapun
contohnya adalah
a. Logika,dengan logika kita dapat melakukan sesuatu dengan benar karena sebelum melakukan suatu
hal kita akan melogikan masalah tersebut terlebih dahulu.
b. Ekonomi,dengan menghubungkan ekonomi dan filsafat maka akan tercipta ekonomi yang jujur
berdasarkan aturan yang berlaku dan tidakakan ada istilah penipuan.
c. Politik,dengan menggabungkan politik dan filsafat maka akan terciptallah politik yang santun,bersih
dan bermartabat.
3. Al Farabi
Filsafat ilmu (pengetahuan) tentang alam maujud bagaimana hakikat yang sebenarnya.
4. Rene Descartes
Filsafat ilmu adalah kumpulan segala pengetahuan dimana tuhan, alam dan manusia mennjadi pokok
penyelidikan
5. Immanuel Kant
Filsafat ilmu adalah ilmu (Pengetahuan) yang menjadi pokok pangkal dari segala pengetahuan, yang
didalamnya tercakup masalah efistemologi (Filsafat pengetahuan) yang menjawab persoalan apa
yang harus kita ketahui? Masalah etika yang menjawab persoalan apa yang harus kita kerjakan?
Masalah ke Tuhananan (Keagamaan) yang menjawab persoalan harapan kita dan masalah manusia.
6. Langeveld
Filsafat adalah berfikir tentang masalah masalah-masalah yang akhir dan yang menentukan, yaitu
masalah-masalah yang mengenai makna keadaan, tuhan keabadian dan kebebasan.
7. Hasbullah Bakry
Ilmu filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai kebutuhan,
alam semesta dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya
sejauh yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah
mencapai pengetahuan.
B. Kegunaan Aksiologi Filsafat
Apa guna pengetahhuan filsafat? Atau, apa kegunaan filsafat? Tidak setiap orang perlu
mengetahui filsafat. Tetapi orang yang merasa perlu berpartisipasi dalam membangun dunia perlu
mengetahui filsafat. Mengapa? Karena dunia dibangun oleh dua kekuatan : agama dan filsafat.
Untuk mengetahui kegunaan filsafat, kita dafat memulainya dengan melihat filsafat sebagai
tiga hal, pertama filsafat sebagai kumpulan teori pilsafat, kedua filsafat sebagai metode pemecahan
masalah, ketiga, filsafat sebagai pandangan hidup (Philosophy of life).
Mengetahui teori-teori filsafat amat perlu karena dunia dibentuk oleh teori-teori itu. Jika anda
tidak senang pada komonisme maka anda harus mengetahui Marxisme, karena teori filsafat untuk
komonisme itu ada dalam marxisme. Jika anda menyenangi ajaran Syari’ah Dua belas di Iran, Maka
anda hendaknya mengetahui filsafat Mulla Shadra. Begitulah kira-kira. Dan jika anda hendak
membentuk dunia, baik dunia besar ataupun dunia kecil (Diri Sendiri), maka anda tidak dapat
mengelak dari penggunaan teori filsafat. Jadi, mengetahui teori-teori filsafat amatlah perlu. Filsafat
sebagai teori filsafat juga perlu dipelajar dalam bidang filsafat.
Yang amat penting ialah filsafat sebagai Methodology yaitu cara memecahkan masalah yang
dihadapi. Disini filsafat digunakan sebagai satu cara atau model pemecahan masalah secara
mendalam dan universal. Filsafat perlu mencari sebab terakhir dan dari sudut pandang seluas-
luasnya. Hal ini diuraikan pada bagian lain sesudah ini.
Filsafat sebagai pandangan hidup tentu perlu juga diketahui. Mengapa Misalnya salah
seorang presiden Amerikaa (Bill Clinton, 1998), telah mengaku berzina, dan masyarakatnya yang
memberikan dukungan? Mungkinkah hal ini seperti itu untuk Indonesia? Presiden Indonesia yang
mengaku berzina pasti akan dicopot oleh masyarakat Indonesia. Mengapa berbeda? Karena
masyarakat Indonesia berbeda pandangan hidup dengan masyarakat Amerika.
Filsafat sebagai Fhilosophy of live sama dengan agama, dalam hal sam mempengaruhi sikap
dan tindakan penganutnya, bila agama dari tuhan atau dari langit maka filsafat (Sebagai Pandangan
Hidup) yang berasal dari pandangan manusia.
Berikut uraian yang membahas tentang kegunaan filsafat dalam menentukan Philosophy of
life. Banyak orang memiliki pandangan hidup, banyak orang yang menganggap Philosophy of life itu
sangat penting dalam menjalani kehidupan.
A. Kegunaan Filsafat Bagi Akidah
Akidah adalah bagian dari ajaran islam yang mengatur cara berkeyakinan. Pusatnya ialah
keyakinan kepada tuhan. Posisinya dalam keseluruhan ajaran islam sangat penting, merupakan
fondasi ajaran islam secara keseluruhan, diatas kaidah itulah keseluruhan ajaran Islam berdiri dan
didirikan. Keterangan seperti ini berlaku juga bagi Agama selain Islam.
Karena kedudukan akidah seperti itu, maka akidah seseorang muslim haruslah kuat, dengan kuat
akidah akan kuat pula keislamannya secara keseluruhan. Untuk memperkuat akidah perlu dilakukan
sekurang-kurangnya dua hal, pertama, mengamalkan keseluruhan ajaran islam secara sungguh-
sungguh, Kedua, mempertajam pengertian ajaran Islam itu. Jadi, akidah dapat diperkuat dengan
pengalaman dan pemahaman kita tentang tuhan?
Thomas Aquinas (1225-1274) berusaha menyusun argumen logis untuk membuktikan
membuktikan adanya Tuhan. Dalam bukunya Buku Theologia ia berhasil menyusun lima argumen
tentang adanya Tuhan.
Pertama, argumen gerak. Alam ini selalu bergerak. Gerak itu tidak mungkin berasal dari alam itu
sendiri, gerak itu menunjukan adanya Penggerak. Tuhan adalah Penggerak.
Kedua, argument kuasalitas.tidak ada seasuatu yang mempunai penyebab pada dirinya sendiri,
sebab itu harus diluar dirinya. Dalam kenyatan ada rangkaian penyebab. Penyebab pertama adalah
tuhan yang tidak memerlukan penyebab yang lain.
Ketiga, argument kemungkinan. Adanya alam ini bersifat mungkin: mungkin ada dan mungkin
tidak ada. Kesimpulan diperoleh dari kenyataan alam ini dimulai dari tidak ada, lalu muncul atau ada
kemudian berkembang, akhirnya rusak dan hilang dan didalam al-qur’an juga sudah dijelaskan
didalam surah Ar-Rum ayat 41 yaitu :

‫ض ٱلَّذِي‬ َ ‫سادُ فِي ۡٱلبَ ِر َو ۡٱلبَ ۡح ِر بِ َما َك‬


ِ َّ‫سبَ ۡت أ َ ۡيدِي ٱلن‬
َ ۡ‫اس ِليُذِيقَ ُهم بَع‬ َ َ‫ظ َه َر ۡٱلف‬
َ
٤١ َ‫َع ِملُواْ لَعَلَّ ُه ۡم يَ ۡر ِجعُون‬
41. telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan
manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan
mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
Dari ayat di atas jelaslah ALLAH SWT dalam firmanya menjelaskan jika kerusakan di bumi ini
yang pada awalnya tidak ada menjadi ada karena ulah manusia yang ada di bumi ini.hal inilah yang
menjelaskan bahwa kegunaan filsafat dalam akidah berfungsi untuk menuntun manusia dapat
senantiasa menjaga lingkunganya dari kerusakan. Atau tidak ada. Kenyataan ini menyimpulkan
bahwa tidak mungkin selalu ada. Dalam diri alam ini ada dua kemungkinan atau ada dua potensi,
yaitu ada dan tidak ada, tetapi dua kemungkinan itu tidak akan muncul bersamaan pada waktu yang
sama. Mula-mula alam ini tidak ada, lalu ada. Diperlukan yang ada untuk mengubah alam dari tiada
menjadi ada, sebab tidak mungkin muncul sesuatu dari tiada keada secara otomatis. Jadi, Ada
pertama itu harus ada. Akan tetapi ada pertama yang harus ada itu dari mana?kembali lagi kita
menghadapi rangkaian penyebab (tasalsul). Kita harus berhenti pada ada pertama yaitu yang harus
ada.
Keempat, argument tingkatan. Isi alam ini ternyata bertingkat-tingkat(levels). Ada yang
dihormati, lebih dihormati, terhormat. Ada indah, lebih indah, sangat indah, dan seterusnya. Tingkat
tertinggi menjadi penyebab tingkat dibawahnya, panas yang rendah menjadi penyebab yang
sempurna. Yang atas menjadi penyebab yang bawahna. Api yang mempunyai panas yang tinggi
menjadi penyebab panas yang randah dibawahnya, begitu seterusnya. Yang Maha Sempurna adalah
penyebab yang sempurna, yang sempurna adalah penyebab yang kurang sempurna. Yang atas
menjadi penyebab yang bawah. Tuhan adalah yang tertinggi, ia penyebab yang dibawah-Nya
Kelima, argument teologis. Ini adalah argument tujuan. Alam ini bergerak menuju sesuatu,
padahal mereka tidak tahu tujuan itu. Ada sesuatu yang mengatur alam menuju tujuan alam. Itu
adalah tuhan (lihat Ahmad tafsir, Filsafat Umum, 1997:86-88).
Argument yang dikemukakan oleh Thomas Aquinas itu sebenarnya tidak akan membawa kita
memahami Tuhan secara sempurna. Argumen-argumen itu memiliki kelemahan. Karena itu kant
menyatakan bahwa Tuhan tidak dapat dipahami melalui akal (ia menyebutkan akal teroris) tuhan
dapat dipahami melalui suara hati yang disebut moral, adanya tuhan itu bersifat harus, hati saya –kata
Kant- yang mengatakan Tuhan harus ada. Kant mengatakan bahwa adanya Tuhan itu bersifat
imferatif. Siapa yang memerintah? Ya, suara hatiatau moral itu.
Menurut Kantindera dan akal itu terbatas kemampuanya. Indra dan akal (maksunya:rasio) hanya
mampu memasuki daerah fenomena, bila indra masuk kedaerah neumena ia akan tersesat
dalam paralogism. Daerah noumena itu hanya mungkin diarungi oleh akal praktis, demikian kata
Kant (lihat Ahmad Tafsir 1997:159). Akal praktis adalah moral atau suara hati.
Menurut Kant akal teoritis (akal rasional) tidak melarang kita mempercayai Tuhan, kesadaran
moral (Suara hati) kita memerintahkan untuk mempercayainya. Rousseau benar ketika ia mengatakan
bahwa diatas akal rasional di kepala ada perasaan hati; Pascal benar tatkala ia menyatakan bahwa hati
mempunyai akal miliknya sendiri yang tidak pernah dapat dipahami oleh akal rasional.
Agaknya kita dapat menyimpilkan bhwa filsafat (dalam hal ini akal logis) dapat berguna untuk
dapat memperkuat keimanan, ini menurut sebagian filosof, seperti Thomas Aquinas; tetapi menurut
filosof lain, seperti Kant bahwa bukti yang sangat kuat tentang tuhan adalah suara hati. Suara hati itu
memerintah, bahkan rasiopun tidak mampu melawannya.
B. Kegunaan Filsafat Bagi Hukum
Istilah hukum islami sering rancu. Kadang-kadang hokum islami itu diartikan syari’ah,
kadang-kadang pikih (fiqh). Yang dimaksud disini ialah fikih.
Fikih secara bahasa berrti mengetahui. Al-Qur’an menggunkan kata Al-fiqh dalam pengertian
memahami atau paham. Pada zaman Nabi Muhammad SAW kata Al-fiqh tu tidak hanya berarti
paham tentang hukum tetapi paham dalam arti uum. Fiqiha artinya paham, mengerti, tahu.
Dalam perkembangan terakhir fikir diahami oleh kalangan pakar usul ul-fiqih sebagai hukum
praktis hasil ijtihat. Sementara dikalangan pakar fikih, al-fiqh dipahami sebagai kumpulan hukum
islami yang mencakup semua aspek syar’iy baik yang tertuang secara tekstual maupun hasil
penalaran terhadap sesuatu teks. Itulah sebabnya dikalangan ahli ushul al-fiqh konsep syariah
dipahami sebagai teks syar’iy yakni Al-Qur’an dan al-sunah yang tetap dan tidak pernah mengalami
perubahan.
Butir-butir aturan dan ketentuan hukum yang ada dalam fikih pada garis besarnya cukup tiga
unsur pokok. Pertama, perintah seperti shalat, zakat, puasa, dan sebagainya. Kedua, larangan, seperti
larangan musyrik, zina, dan sebagainya. Ketiga, petunjuk, seperti cara shalat, cara puasa, dan
sebagainya.
Keseluruhan unsur pokok diatas bila dilihat dari sudut sifatnya, ia dapat dibagi menjadi
dua. Pertama, bersifat tetap, tidak terpengaruh oleh kondisi tertentu, seperti sebagian aqidah dan
seluruh ibadah mahdhah; dalam hal ini ijtihat tidak berlaku padanya. Kedua, yang bersifat dapat
berubah sesuai dengan kondisi tertentu.
Tujuan utama diturunkan hukum islami (fikih) ialah untuk menciptakan kemaslahatan hidup
manusia, yang dimaksud dengan kemaslahatan ialah kebaikan. Jelasnya, pembentukan fikih itu
sejalan dengan tuntutan kemaslahatan mannusia. Untuk menjamin kemaslahatan itu ditetapkan
beberapa asas hukum islami, yaitu :
1. ‘Adam al-haraj, artinya tidak sulit dalam melaksanakannya (QS.7:
2. Al-tkhlif, ringan serta mampu dilaksanakan (QS.2:286; 4:28);
3. Al-taysir, mudah sesuai dengan kemampuan (QS. 2:185; 22:78
`Itu berarti hukum islami dibentuk atas dasar prinsip menghilangkan kesempitan karena
kesempitan itu menyebabkan kesulitan. Prinsip lain yang mendasari hukum islami ialah daf’ al-
dlarar, menghilangkan bahaya (QS. Al-imron ayat 25, 195; QS. An-nisa ayat 12; QS. Al-Baqarah
ayat 231). Prinsip lain lagi adalah al-ta’assuf fi isti’mal al-haqq yakni boleh melakukan sesuatu asal
tidak membahayakan yang lain (QS. Al-baqarah: 223; QS. At-Talaq: 06; QS. Al-A’raf: 31; QS. Al-
Ma”idah: 87). Dari sini lahirlah kaidah usul Al-fiqh yang berbunyi “menolakberbahaya dari pada
mengambil maslahat”.
Hukum islami yang dijadikan aturan beramal ada didalam fikih sebagai kumpulan hukum.
Fikih (dalam arti kumpulan hukum) itu dibuat berdasarkan kaidah-kaidah hukum (yang berfungsi
sebagai teori) yang digunakan dalam menetapkan hukum tersebut. Ternyata kaidah-kaidah
pembuatan hukum (usul al-fiqh) itu dibuat berdasarkan teori-teori filsafat. Karena
itu manthiq (mantik, logika) amat penting bagi ulama usul al-figh. Jadi, kesimpulannya, memang
benar, filsafat, khususnya filsafat sebagai metodologi.
C. Kegunaan Filsafat Bagi Bahasa
Disepakati oleh para ahli bahwa bahasa berfungsi sebagai alat untuk mengekspresikan perasaan
dan pikiran. Telihat adanya hubungan yang erat antara bahasa dan pikiran. Akhmad Abdurrahman
hamad (Al-‘Alaqah bayn al-Lughah wa al-Fikr, dan al-Ma’rifah al-jami’iyyah) menggambarkan
hubungan itu bagaikan satu mata uang yang mempunyai dua sisi.
Tatkala bahasa berfungsi sebagai alat berfikir ilmiah muncul problem yang serius, ini
diselesaikan anatara lain dengan bantuan filsafat. Begitu juga tatkala pemikiran (filsafat) sampai pada
perumusan konsep yang rumit, bahasa juga memahami persoalan, yaitu bahasa sering kurang mampu
menggambarkan isi konsep itu. Bahasa dalam hal ini harus mencari kata dan menyusun baru untuk
menggambarkan isi konsep itu.
Filosof adalah “prototype” orang bijaksana. Orang bijaksana tentu harus menggunkana bahasa
yang benar. Bahasa yang benar itu akan mampu mewakili konsep logis yang dibawakannya. Karena
itu pada pada logika lah kita menemukan kaitan erat antara bahasa dan filsafat dan pada logika pula
kita temukan manfaaty kontret bahasa, peran logika dalam bahasa ialah memperbaiki bahasa, logika
dapat mengetahui kesalan bahasa.
Kesimpulannya adalah filsafat sangat berperan didalam menentukan kualitas bahasa tanpa peran
serta filsafat (logika) kekeliruan dalam bahasa tidak mungkin dapat diperbaharui.
C. Cara Aksiologi Filsafat memecahkan masalah
Kegunan filsafat yang lain ialah sebagai methodology, maksudnya sebagai metode dalam
menghadapi dan menyelesaikan masalah bahkan sebagai metode dalam memandang dunia (world
view).
Dalam hidup kita, pasti kita banyak masalah. Masalah artinya kesulitan. Kehidupan akan
dijalani lebih enak bila masalah terseleaikan. Ada banyak cara dalam menyelesaikan masalah, mulai
dari yang amat sederhana sampai yang rumit.
Ada rapat disebuah RT. Yang dibicarakan masalah keamanan. Pak ketua RT. Menyatakan
bahwa akhir-akhir ini dikampung kita banyak pencurian, tidak seperti biasanya. Menanggapi itu
hamper semua orang yang hadir mengususlkan agar ronda malam dipergiat inilah kira-kira cara
orang awam menyelesaikan masalah.
Disitu ada orang yang berpendapat lain ia bertanya barang apa saja yang biasanya dicuri.
Sejak bulan apa, pada ukul berapa biasanya terjadi. Lantas ia mengusulkan selain meningkatkan
ronda, sebalinya digiatkan juga pengajian. Ia melakukan identifikasi lebih dahulu, lantas ia melihat
penyebab lebih mendasar, ia piker bila perondanya bermoral buruk, bias-bisa peronda itu sendiri
yang mencuri. Orang ini ilmuan. Kira-kira beginilah penyelesaian sains. Filsafat pun mempunyai
cara tersendiri dalam menyelesaikan masalah.
Sesuai dengan sifatnya, filsafat menyelesaikan masalah secara mendalam dan universal.
Penyelesaian filsafat bersifat mendalam, artinya ia ingin mencari asal masalah. Universal, artinya
filsafat ingin masalah itu dilihat dalam hubungan seluas-luasnya agar nantinya penyelesaian itu cepat
dan berakibat seluas mungkin
Banyak orang Islam tidak menyenangi sebagian Budaya Barat, khususnya tentang kebebasan
seks. Mereka mengatakan kebebasan seks harus diberantas. Ini penyelesaian langsung sedikit
mendalam bila kita mengusulkan perketat masuknya informasi dari Barat terutama yang menyangkut
kebebasan seks, atau kita mengusulkan sensor film biperberat. Filsafat belum puan dengan
penyelesaian itu. Lalu bagaimana?
Menyelesaian ini mendalam, karena telah menemukan penyebab yang paling asal.
Penyelesaian itu juga universal, karena akan diperbaiki pada akhirnya kelak bukan hanya persoalan
kebebasan seks,hal lain yang merupakan turunan Rasionalisme juga akan dengan sendirinya hilang.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Kesimpulan dari makalah ini adalah :
1. Menurut bahasa Yunani AKSIOLOGI berasal dari kata axios artinya nilai dan logos artinya Teori
atau Ilmu
2. Aksiologi adalah kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia kajian tentang nilai-nilai
khususnya etika
3. Istilah filsafat berasal dari bahasa Yunani “Philosophia” yang dalam perkembanagan berikutnya
dikenal dalam bahasa lain yaitu : Philosophie (jerman, belanda, dan prancis); philosophy (Inggris);
Philosophia (Latin); dan falsafah (Arab).
4. Tujuan utama diturunkan hukum islami (fikih) ialah untuk menciptakan kemaslahatan hidup
manusia, yang dimaksud dengan kemaslahatan ialah kebaikan
5. Kegunan filsafat yang lain ialah sebagai methodology, maksudnya sebagai metode dalam
menghadapi dan menyelesaikan masalah bahkan sebagai metode dalam memandang dunia (world
view).
6. Sesuai dengan sifatnya, filsafat menyelesaikan masalah secara mendalam dan universal.
7. filsafat sangat berperan didalam menentukan kualitas bahasa tanpa peran serta filsafat (logika)
kekeliruan dalam bahasa tidak mungkin dapat diperbaharui.
8. Nilai adalah sesuatu yang dimiliki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa
yang dinilai. Teori tentang nilai yang dalam filsafat mengacu pada masalah etika dan estetika.

B. SARAN
Semoga makalah yang kami buat dapat bermanfaat bagi kita semua yang membacanya. Dan
dalam pembuatan makalah ini kami sadar bahwa masih banyak kekurangan yang perlu di perbaiki.
Keritik dan saran yang sifatnya membangun kami harapkan untuk masukan dalam pembuatan
makalah selanjutnya.
Makalah ini dapat digunakan oleh pembaca sebagi referensi untuk menambah wawasan dan
pengetahuan mengenai kurikulum pendidikan.Pesan penulis,” jaga adap terhadap orang lain terutama
orang-orang yang mengerjakan ilmu dan kebaikan kepada kita, karena adap itu lebih utama dari pada
ilmu.”

DAFTAR PUSTAKA
Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2003
Jurnal HMJ Aqidah dan Filsafat UIN SGD Bandung Vol. I No. 1, April 2013
Tafsir,Ahmad.Prof.Dr.Filsafat Ilmu.Bandung:PT Remaja Rosdakarya.
http://ilmukriminologi.blogspot.com/2012/09/filsafat-aksiologi-naldi.html (akses tgl 12 mei 2014)
http://www.academia.edu/5571813/MAKALAH_AKSIOLOGI_FILSAFAT_ISLAM(akses tgl 12
Mei 2014)
A. PENGERTIAN HADITS, SUNNAH, KHABAR DAN ATSAR
1. Definisi Al-Hadits
Dalam kamus besar bahasa Arab [al-‘ashri], Kata Al-Hadits berasal dari bahasa Arab “al-
hadist” yang berarti baru, berita. Ditinjau dari segi bahasa, kata ini memiliki banyak arti,
dintaranya:
a. al-jadid (yang baru), lawan dari al-Qadim (yang lama)
b. Dekat (Qarib), tidak lama lagi terjadi, lawan dari jauh (ba’id)
c. Warta berita (khabar), sesuatu yang dipercayakan dan dipindahkan dari sesorang kepada orang
lain.[1]
Allah juga menggunakan kata hadits dengan arti khabar sebagaimana tersebut dalam
firman-Nya:
Artinya: “Maka hendaklah mereka mendatangkan suatu kabar (kalimat) yang semisal Al-Qur’an itu, jika
mereka orang-orang yang benar” (QS. At-Thur: 34).[2]
Secara terminologis, hadits ini dirumuskan dalam pengertian yang berbeda-beda diantara
para muhadditsin dan ahli ushul.mereka berbeda-beda pendapatnya dalam menta’rifkan Al-
hadits. Perbedaan tersebut disebabkan karena terpengaruh oleh terbatas dan luasnya objek
peninjauan mereka masing-masing, yang tentu saja mengandung kecenderungan pada aliran ilmu
yang didalaminya.[3]
Ibnu Manzhur berpendapat bahwa kata ini berasal dari kata Al-Hadits, jamaknya: Al-
Ahadits, Al-Haditsan dan Al-Hudtsan. Ada juga sebagian Ulama yang menyatakan, bahwa
ahadits bukan jamak dari haditsyang bermakna khobar, tetapi meruppakan isim jamak.Mufrad
ahadits yang sebenarnya, adalah uhdutsah, yang bermakna suatu berita yang dibahas dan sampai
dari seseorang ke seseorang.(Hasbi Ashidiqi, sejarah pengantar ilmu hadits : 2)
Menurut istilah ahli ushul fiqih, pengertian hadits ialah:
‫كل ماصدر عن النبي صلى هللا عليه وسلم غيرالقرأن الكريم من قول او فعل اوتقرير‬
‫مما يصله ان يكون دليال لحكم شرع‬
“Hadits yaitu segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW selain Al-Qur’an al-
Karim, baik berupa perkataan, perbuatan maupun taqrir Nabi yang bersangkut paut dengan
dengan hukum syara”.
Sedangkan Ulama Hadits mendefinisikan Hadits sebagai berikut:
‫كل ما أثرعن النبي صلى هللا عليه وسلم من قول او فعل اوتقرير اوصفة خلقية او‬
‫خلقية‬
“Segala sesuatu yang diberikan dari Nabi SAW baik berupa sabda, perbuatan, taqrir, sifat-sifat
maupun hal ihwal Nabi”.[4]
Yang dimaksud dengan “hal ihwal” ialah segala yang diriwayatkan dari Nabi SAW yang
berkaitan dengan himmah, karakteristik, sejarah kelahiran dan kebiasaan-kebiasaan.
Kedua hadits tersebut di atas menyatakan bahwa unsur Hadits itu terdiri dari tiga unsur
yang ketiga unsur ini hanya bersumber dari Nabi Muhammad, ketiga unsur itu adalah:
a. Perkataan. Yang dimaksud dengan perkataan Nabi Muhammad ialah sesuatu yang pernah
dikatakan oleh beliau dalam berbagai bidang.
b. Perbuatan. Perkataan Nabi merupakan suatu cara yang praktis dalam menjelaskan peraturan
atau hukum syara’. Contohnya cara Sholat.
c. Taqrir. Arti taqrir adalah keadaan beliau mendiamkam, tidak menyanggah atau menyetujui apa
yang dilakukan para sahabat.
Sementara kalangan ulama ada yang menyatakan bahwa apa yang dikatakan hadits itu
bukan hanya yang berasal dari Nabi SAW, namun yang berasal dari sahabat dan tabi’in disebut
juga hadits. Sebagai buktinya, telah dikenal adanya istilah hadits marfu’, yaitu hadits yang
dinisbahkan kepada Nabi SAW, hadits mauquf, yaitu hadits yang dinisbahkan pada shahabat dan
hadits maqtu’ yaitu hadits yang dinisbahkan kepada tabi’in.Jumhur Al-Muhadditsin berpendapat
bahwa pengertian hadits merupakan pengertian yang terbatas sebagai berikut: “Sesuatu yang
disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW. Baik berupa perkataan, perbuatan, penyataan
(taqrir) dan sebagainya”
Sebagaimana disebutkan oleh Muhammad Mahfuzh Al-Tirmizi, yaitu:
‫أن الحديث اليحتث بالمرفوع اليه صلى هللا عليه وسلم بل جاء بلموقوف وهو ما‬
‫أضيف الى الصحابى والمقطوع وهو ما أضيف للتبعي‬
Artinya: “Bahwasanya hadits itu bukan hanya untuk sesuatu yang marfu’ yaitu sesuatu yang disandarkan
kepada Nabi SAW, melainkan bisa juga untuk sesuatu yang mauquf,yang disandarkan kepada
sahabat dn yang maqtu, yaitu yang disandarkan kepada tabi’in” Munzier Suparta (2001:3)
Berdasarkan pengertian hadits diatas maka kami menyimpulkan bahwa hadits adalah
segala sesuatu yang bersumber dari Nabi SAW baik ucapan, perbuatan maupun ketetapan yang
berhubungan dengan hukum atau ketentuan-ketentuan Allah yang disyariatkan kepada
manusia. Selain itu tidak bisa dikatakan hadits karena ahli ushul membedakan diri Nabi
Muhammad dengan manusia biasa. Yang dikatakan hadits adalah sesuatu yang berkaitan dengan
misi dan ajaran Allah yang diemban oleh Muhammad SAW sebagai Rasulullah. Ini pun, menurut
mereka harus berupa ucapan, perbuatan dan ketetapannya. Sedangkan kebiasaan-kebiasaan, tata
cara berpakaian dan sejenisnya merupakan kebiasaan manusia dan sifat kemanusiaan tidak dapat
dikategorikan sebagai hadits. Dengan demikian, pengertian hadits menurut ahli ushul lebih
sempit dibanding dengan hadits menurut ahli hadits.[5]
Disamping itu, ada beberapa kata yang bersinonim (muradif) dengan kata hadits seperti:
sunnah, khabar, dan atsar.
2. Definisi As-Sunnah
Menurut bahasa sunnah berarti
‫الطريقة محمودة كانت اومذمونة‬
“Jalan yang terpuji atau tercela”.[6]
Firman Allah s.w.t
“Dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati peubahan pada sunnah Allah”.
Adapun menurut istilah, ta’rif Sunnah antara lain sebagaimana dikemukakan oleh
Muhammad ajaj al-khathib:
‫م من قول اوفعل اوتقريراوصفةخلقية‬.‫ما أثر عن النبى ص‬
Artinya: “Segala yang dinukilkan dari Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, pengajaran,
sifat, kelakuan, perjalanan hidup baik sebelum Nabi diangkat jadi rasul atau sesudahnya”.
Sabda Nabi SAW,
‫لتتبعن سنن من قبلكم شبرا بشبرودراعابدراع حتى لودخلواحجرالضب لدخلتموه‬
Artinya:”sungguh kamu akan mengikuti sunnah-sunnah (perjalanan-perjalan) orang yang sebelummu”
sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga sekiranya mereka memasuki seorang
dan (berupa biawak) sungguh kamu memasuki juga”.[7](HR. Muslim)
Menurut istilah as-sunnah adalah pensarah Al-Qur’an, karena Rasulullah bertugas
menyampaikan Al-Qur’an dan menjelaskan pengertiannya. Maka As-asunnah menerangkan
ma’na Al-Qur’an, adalah dengan cara:
a. Menerangkan apa yang dimaksud dari ayat-ayat mudjmal, seperti menerangkan waktu-waktu
sembayang, bilangan raka’at, kaifiyat ruku’, kaifiyat sujud, kadar-kadar zakat, waktu-waktu
memberikan zakat, macam-macamnya dan cara-cara mengerjakan haji. Karena inilah Rasulullah
s.a.w. bersabda:
Artinya “ambillah olehmu dariku perbuatan-perbuatan yang dikerjakan dalam ibadah haji”.
a. Menerangkan hukum-hukum yang tidak ada didalam Al-Qur’an seperti mengharamkan kita
menikahi seseorang wanita bersamaan dengan menikahi saudaranya ayahnya, atau saudara
ibunya, seperti mengharamkan kita makan binatang-binatang yang bertaring.
b. Menerangkan ma’na lafad, seperti mentafsirkan al maghdlubi ‘alaihim dengan orang yahudi dan
mantafsirkan adldlallin, dengan orang nasroni.[8]
3. Khabar
Secara etimologis khabar berasal dari kata :khabar, yang berarti ‘berita’.Adapun secara
terminologis, para ulama Hadits tidak sepakat dalam menyikapi lafadz tersebut.sebagaimana
mereka berpendapat adalah sinonim dari kata hadits dan sebagian lagi tidak demikian.Karena
Khabar adalah berita, baik berita dari Nabi SAW, maupun dari sahabat atau berita dari tabi’in.[9]
Sementara Khabar menurut ahli Hadits, yaitu : “Segala sesuatu yang disandarkan atau
berasal dari Nabi SAW atau dari yang selain Nabi SAW”. [10]
Ulama lain mengatakan Khabar adalah sesuatu yang datang selain dari Nabi SAW, sedang
yang datang dari Nabi SAW disebut Hadits. Ada juga ynag mengatakan bahwa Hadits lebih
umum dan lebih luas daripada Khabar, sehingga tiap Hadits dapat dikatakan Khabar, tetapi tidak
setiap Khabar dikatakan Hadits.[11]Karena itu, sebagian ulama berpendapat bahwa Khabar itu
menyangkut segala sesuatu yang datang dari selain Nabi SAW. Sedangkan Hadits khusus untuk
segala sesuatu yang berasal dari Nabi SAW.[12]
4. Atsar
Atsar dari segi bahasa artinya bekas sesuatu atau sisa. Sesuatu dan berarti pula nukilan
(yang dinukilkan). Karena doa yang dinukilkan / berasal dari Nabi SAW. Dinamkan doa
maksur.[13]
Sedangkan atsar menurut istilah terjadi perbedaan pendapat diantara pendapat para
ulama. Sedangkan menurut istilah:
‫ماروي عن الصحابة ويحوزاطالقه على كالم النبى ايضا‬
Artinya: “yaitu segala sesuatu yang diriwayatkan dari sahabat danboleh juga disandarkan
pada perkataan Nabi SAW”.[14]Jumhur ulama mengatakan bahwa atsar sama dengan khabar,
yaitu sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW, sahabat dan tabi’in. sedangkan menurut
ulama Khurasan bahwa atsar untuk yang mauquf dan khabar untuk yang marfu’. (Mudasir :
1999: 32).
5. ANALISIS
Perbedaan Hadits dengan Sunnah, Khabar dan Atsar
Dari keempat istilah, yaitu hadits, sunnah, khabar dan atsar, menurut jumhur ulama hadits
dapat dipergunakan untuk maksud yang sama, yaitu bahwa hadits disebut juga dengan sunnah,
khabar dan atsar. Begitu pula halnya sunnah, dapat disebut dengan hadits, khabar dan atsar.
Maka hadits mutawatir dapat juga disebut dengan sunnah mutawatir atau khabar mutawatir.
Begitu juga hadits shahih dapat disebut dengan sunnah shahih, khabar shahih dan astar
shahih. Dari keempat tema tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa tema tersebut sangat
berguna sebagai ilmu tambahan bagi masyarakat Islam untuk mengembangkan ilmu pengetahuan
dan menentukan kulitas dan kuwantitas Hadits, sunnah, Khabar dan Atsar.[15]
Para ulama juga membedakan antara hadits, sunnah, khabar dan atsar sebagai berikut:
a. Hadits dan sunnah: hadits terbatas pada perkataan, perbuatan, takrir yang bersumber pada Nabi
SAW, sedangkan sunnah segala yang bersumber dari Nabi SAW baik berupa perkataan,
perbuatan, takrir, tabiat, budi pekerti atau perjalanan hidupnya, baik sebelum di angkat menjadi
rasulmaupun sesudahnya.
b. Hadits dan khabar: sebagian ulama hadits berpendapat bahwa khabar sebagai suatu yang berasal
atau disandarkan kepada selain nabi SAW., hadits sebagai sesuatu yang berasal atau disandarkan
pada Nabi SAW.
c. Hadits dan atsar: jumhur ulama berpendapat bahwa atsar sama artinya dengan khabar dan hadits.
Ada juga ulama yang berpendapat bahwa atsar sama dengan khabar, yaitu sesuatu yang
disandarkan pada Nabi SAW, sahabat dan tabiin.[16]