Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

Dalam dunia pendidikan agama Katolik di sekolah, sebenarnya sejak Kurikulum 1984, sudah terjadi
pergeseran oritentasi, yaitu dari orientasi pada materi kepada orientasi pada peserta didik, tepatnya
orientasi pada situasi dan kemampuan peserta didik. Sejak saat itu sudah diyakini bahwa keberhasilan
dalam hidup dan beragama tidak terletak terutama pada apa yang diketahui, tetapi lebih pada kemampuan
untuk mengolah pengetahuan itu (termasuk pengetahuan iman) supaya hidup lebih berhasil dan beriman.
Kemampuan atau kompetensi peserta didik untuk mencernakan dan mengaplikasikan apa yang diketahui dan
dimiliki dalam hidup nyata, akan merupakan modal untuk hidupnya supaya lebih berkembang secara rohani
dan jasmani. Pengetahuan dapat terlupakan atau berubah, tetapi kompetensi dalam mengolah hidupnya akan
terus terbawa dan berkembang sebagai modal yang akan senantiasa memperkaya hidup peserta didik.

Gagasan pemerintah (Depdiknas) untuk mengembangkan suatu kurikulum yang berdasarkan “basic
competency” tentu saja diterima oleh dunia pendidikan agama Katolik dengan antusiasme yang besar. Maka
sejak “Pertemuan Komisi Kateketik Keuskupan se Indonesia (PKKI VII) di Sawiran, Jawa Timur tahun 2000,
Gereja Katolik Indonesia telah bersungguh-sungguh memikirkan kurikulum pendidikan agama Katolik yang
berbasiskan kompetensi itu. Sejak saat itu telah dilakukan serangkaian lokakarya, yang melibatkan Komisi
Kateketik Keuskupan seluruh Indonesia, para pakar Teologi, Kitab Suci, Pedagogi, Psikologi, Sosiologi dan
Kateketik, untuk menyusun suatu kurikulum yang berbasiskan kompetensi yang dapat dipertanggungjawabkan
dari segala segi.

Kurikulum yang telah disusun ini adalah hasil dari kerja keras selama 2 tahun, dimana terlibat semua
perwakilan Gereja-Gereja lokal dan para pakar dari pelbagai disiplin ilmu yang ada sangkut-pautnya dengan
dunia pendidikan agama Katolik di sekolah.

Kurikulum nasional ini adalah kurikulum global yang minimal, namun disusun dan dilengkapi dengan
pencapaian target yang jelas, materi pokok, standar hasil belajar peserta didik, dan dapat dibayangkan proses
pelaksanaan pembelajaran yang berkesinambungan. Dari segi materi pokok kurikulum ini sungguh kurikulum
minimal, yang membuka peluang bagi pengayaan lokal. Namun harus tetap diperhatikan bahwa dalam
kurikulum yang berbasiskan kompetensi, materi sedikit banyaknya hanya merupakan sarana untuk
merangsang kompetensi peserta didik, walaupun penguasaan materi tetaplah penting pula.

A. Rasional

Dari pengalaman dapat dilihat bahwa apa yang diketahui (pengetahuan, ilmu) tidak selalu membuat hidup
seseorang sukses dan bermutu. Tetapi kemampuan, keuletan dan kecekatan seseorang untuk
mencernakan dan mengaplikasikan apa yang diketahui dalam hidup nyata, akan membuat hidup
seseorang sukses dan bermutu. Demikian pula dalam kehidupan beragama. Orang tidak akan beriman
dan diselamatkan oleh apa yang ia ketahui tentang imannya, tetapi terlebih oleh pergumulannya
bagaimana ia menginterpretasikan dan mengaplikasikan pengetahuan imannya dalam hidup nyata sehari-
hari. Seorang pakar ilmu agama belum tentu seorang beriman dan diselamatkan, tetapi seorang yang
senantiasa berusaha untuk melihat, menyadari dan menghayati kehadiran Allah dalam hidup
nyatanya, ia sungguh seorang beriman dan dapat diselamatkan. Jadi yang menyelamatkan, bukanlah
terutama pengetahuan, tetapi kompetensi untuk mencernakan dan mengaplikasikan pengetahuan itu.
Selanjutnya dapat dikatakan bahwa kemampuan dan kompetensi peserta didik semakin dituntut pada
saat ini, dimana arus globalisasi dan krisis multi dimensi sedang melanda negeri dan bangsa kita.
Budaya global yang dibangun oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi media
informasi, telah membawa banyak perubahan, termasuk perubahan nilai-nilai. Perubahan-perubahan nilai
ini bisa bersifat konstruktif, tetapi juga dekstruktif. Sementara itu bangsa Indonesia sedang mengalami
krisis multi dimensi. Krisis di bidang politik, hukum, ekonomi, budaya, lingkungan hidup dan sebagainya.
Menurut para pakar, krisis multi dimensi itu berakar pada krisis etika, krisis moral. Bangsa Indonesia telah
berpolitik, berekonomi, melaksanakan hukum dan sebagainya tanpa etika, tanpa moral.

Bidakara, 11 – 13 Nop 2005 (376072670.doc) 1


Menghadapi situasi yang memprihatinkan seperti itu, bagaimana dunia pendidikan, khususnya pendidikan
agama harus membekali generasi mudanya untuk menghadapi budaya global dan krisis multi dimensi
yang sedang melanda negeri ini. Seperti telah disinggung di atas bahwa membekali mereka dengan
pengetahuan saja kiranya tidak cukup. Mereka hendaknya dibekali dengan pelbagai kemampuan dan
keterampilan untuk:
 berpikir dan memilih secara kritis. Tahu menentukan mana yang baik dan mana yang buruk.
Mana yang benar dan mana yang salah.
 berinisiatif dan mengambil prakarsa. Dalam situasi yang sulit ia mampu membuat terobosan-
terobosan. Mampu bersikap dan bertindak inovatif.
 bersikap mandiri, tidak bergantung pada orang lain dan keadaan
 membangun relasi, berdialog dan terbuka.
Semua sikap dan tindakan itu tentu saja menyangkut kemampuan dan kompetensi, bukan sekedar
pengetahuan saja. Peserta didik-siswi hendaknya mampu berpikir (kognitif), mampu menentukan sikap
(affektif) dan mampu bertindak (psikomotorik). Dengan demikian ia menjadi manusia yang bermartabat,

Dalam bidang pendidikan agamapun seharusnya demikian. Pendidikan agama bukan sekedar proses
pengalihan pengetahuan iman dari guru kepada peserta didik, tetapi suatu proses pergumulan untuk
menginterpretasikan ajaran imannya dalam kehidupan nyata sehari-hari. Kalau proses ini dilatih terus
menerus, maka peserta didik akan terampil dan kompeten untuk selalu melihat intervensi Allah dalam
Kehidupan nyata sehari-hari. Dan itulah artinya hidup beriman. Dengan demikian keterampilan dan
kompetensi ini akan merupakan bekal bagi hidupnya yang tak ternilai.

Pendidikan Agama Katolik adalah usaha yang dilakukan secara terencana dan berkesinambungan dalam
rangka mengembangkan kemampuan pada peserta didik untuk memperteguh iman dan ketaqwaan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan ajaran iman agama Katolik, dengan tetap memperhatikan
penghormatan terhadap agama lain dalam hubungan kerukunan antarumat beragama dalam masyarakat
untuk mewujudkan persatuan nasional.

Secara lebih tegas dapat dikatakan bahwa pendidikan agama Katolik di sekolah merupakan salah satu
usaha untuk memampukan peserta didik berinteraksi (berkomunikasi) pemahaman, pergumulan dan
penghayatan iman. Jadi interaksi ini mengandung unsur pengetahuan iman, unsur pergumulan iman dan
unsur penghayatan iman. Dengan kemampuan berinteraksi pemahaman iman, pergumulan iman dan
penghayatan iman itu, diharapkan iman peserta didik semakin diperteguh.

B. Tujuan

Pendidikan Agama Katolik (PAK) pada dasarnya bertujuan memampukan peserta didik untuk membangun
hidup yang semakin beriman. Membangun hidup beriman Kristiani berarti membangun kesetiaan pada Injil
Yesus Kristus, yang memiliki keprihatinan tunggal, yakni Kerajaan Allah. Kerajaan Allah merupakan situasi
dan peristiwa penyelamatan: situasi dan perjuangan untuk perdamaian dan keadilan, kebahagiaan dan
kesejahteraan, persaudaraan dan kesetiaan, kelestarian lingkungan hidup, yang dirindukan oleh setiap
orang dari pelbagai agama dan kepercayaan.

C. Ruang Lingkup

Bidakara, 11 – 13 Nop 2005 (376072670.doc) 2


Bahan-bahan yang dibahas dalam Pendidikan Agama Katolik di Sekolah Menengah Pertama merupakan
kelanjutan bahan Pendidikan Agama Katolik di Sekolah Dasar. Keempat aspek yang telah dibahas di
Sekolah Dasar yaitu: Pribadi peserta didik, Yesus Kristus, Gereja dan Kemasyarakatan dibahas secara
lebih mendalam sesuai tingkat kemampuan pemahaman peserta didik. Dalam Aspek pribadi peserta
didik dibahas tentang pemahaman diri sebagai pria dan wanita yang memiliki kemampuan dan
keterbatasan, kelebihan dan kekurangan dalam berelasi dengan sesama serta lingkungan sekitarnya.
Dalam aspek Yesus Kristus dibahas tentang bagaimana meneladani pribadi Yesus Kristus yang
mewartakan Allah Bapa dan Kerajaan Allah. Dalam aspek Gereja dibahas tentang makna Gereja,
bagaimana mewujudkan kehidupan menggereja dalam realitas hidup sehari-hari. Dalam aspek
kemasyarakatan dibahas secara mendalam tentang hidup bersama dalam masyarakat sesuai
firman/sabda Tuhan, ajaran Yesus dan ajaran Gereja.

D. Beberapa Hal yang Perlu Diperhatikan

a. Standar kompetensi yang disusun ini berbasis pada kompetensi peserta didik. Orientasinya
bukan terutama pada materi, tetapi pada kompetensi peserta didik. Materi di sini menjadi sarana
supaya kompetensi peserta didik bisa dirangsang, namun materi tetap juga penting dalam PAK.
b. Standar kompetensi PAK SLTP yang disusun di sini ada yang bersifat linier dan ada yang
bersifat spiral. Aspek-aspek yang bersifat linier harus disampaikan dan diterima peserta didik secara
tuntas. Sedangkan aspek yang bersifat spiral, muncul di setiap tahun tetapi selalu diperdalam dan
diperluas.
c. Pendekatan Pembelajaran yang dipakai hendaknya menunjang ketercapaian kompetensi
peserta didik itu. Oleh karena itu pendekatan yang dipakai hendaknya:
- Memungkinkan peserta didik untuk aktif. Dia menjadi partisipan aktif dalam proses PAK.
- Kalau peserta didik menjadi patrisipan, maka diandaikan dalam proses PAK ada interaksi antar
peserta didik serta antara peserta didik dan guru.
- Interaksi yang terjadi hendaknya terarah, sehingga diandaikan ada suatu proses yang
berkesinambungan.
- Interaksi yang berkesinambungan ini bertujuan untuk menginterpretasikan dan mengaplikasikan
ajaran iman dalam hidup nyata sehingga peserta didik semakin beriman.
Pendekatan atau pola yang dipakai dapat dikatakan pendekatan atau pola interaksi (komunikasi)
aktif untuk menginterpretasikan dan mengaplikasikan ajaran imannya dalam hidup nyata
(dalam Kurikulum PAK' 84 disebut pendekatan atau pola "pergumulan").
h. PAK bukan segala-galanya. Maka PAK perlu ditunjang dengan kegiatan ekstra-kurikuler dan pastoral
sekolah.
i. Bila di suatu sekolah PAK tidak terlaksana karena tidak adanya guru agama Katolik, maka peserta
didik dan atau orang tua peserta didik dapat mencari kemungkinan pelaksanaannya bersama dengan
pastor setempat atau yang mewakilinya.
j. Buku pegangan pokok adalah Kitab Suci. Adapun buku-buku pegangan yang lain, baik buku
pegangan untuk guru maupun buku pegangan untuk peserta didik, harus mendapat pengesahan dari
Pimpinan Gereja atau yang diberi wewenang olehnya. Pengesahan ini tampak dengan adanya tulisan
‘NIHIL OBSTAT” dan “IMPRIMATUR”.

Bidakara, 11 – 13 Nop 2005 (376072670.doc) 3


BAB II
STANDAR KOMPETENSI DAN KOMPETENSI DASAR

KELAS : VII
Semester : 1
Aspek : Pribadi Peserta Didik

Standar kompetensi Kompetensi Dasar


1. Kemampuan memahami diri sebagai 1.1 Peserta didik mampu memahami dan menyadari pribadinya
laki-laki atau perempuan yang diciptakan sebagai citra Allah yang tumbuh dan berkembang
memiliki rupa-rupa kemampuan dan bersama orang lain:
keterbatasan agar dapat berelasi  Menyadari martabat luhur sebagai citra Allah
dengan sesama dan lingkungannya  Menjelaskan tugas manusia sebagai citra Allah
dengan meneladani Yesus 1.2 Peserta didik mampu menyadari kemampuan dan
Kristus yang mewartakan Bapa dan keterbatasan dirinya sehingga terpanggil untuk
Kerajaan-Nya mensyukurinya:
 Menyadari bahwa dirinya memiliki kemampuan yang
merupakan anugerah Tuhan untuk mengembangkan
hidupnya, baik secara pribadi maupun bersama
 Menyadari keterbatasan kemampuan yang dimiliki dan
berusaha mengatasinya
 Peserta didik mampu mengungkapkan rasa syukur
atas hidup yang dikaruniakan Tuhan
1.3 Peserta didik mampu memahami bahwa manusia diciptakan
sebagai perempuan atau laki-laki dan dipanggil untuk
mengembangkan kesederajatan dalam hidup sehari-hari:
 Mensyukuri bahwa dirinya diciptakan dengan sangat
baik sebagai perempuan atau laki-laki
 Menyadari bahwa perempuan dan laki-laki itu
sederajad
 Menghargai adanya perbedaan antara pria dan wanita
1.4 Peserta didik mampu memahami bahwa seksualitas sebagai
anugerah Allah yang perlu dihayati secara benar demi
kehidupan bersama yang lebih baik:
 Menyadari bahwa seksualitas merupakan anugerah
Tuhan
 Menghayati seksualitas secara benar sesuai dengan
ajaran gereja
 Memahami makna dan tujuan pacaran dalam hidup
manusia
1.5 Peserta didik mampu memahami arti dan tujuan
persahabatan sehingga dapat membangun persahabatan
yang sejati dengan sesama:
 Menjelaskan makna dan tujuan persahabatan.
 Menjelaskan makna persahabatan sejati dan cara
membangun serta mengembangkannya

Bidakara, 11 – 13 Nop 2005 (376072670.doc) 4


Semester : 2
Aspek :  Pribadi Peserta Didik
 Yesus Kristus

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar


1. Kemampuan memahami diri sebagai 1.1 Peserta didik mampu menyadari bahwa pertumbuhan dan
laki-laki atau perempuan yang perkembangan dirinya tidak dapat lepas dari peran serta
memiliki rupa-rupa kemampuan dan keluarga dan sesama di sekitarnya, sehingga terpanggil untuk
keterbatasan agar dapat berelasi bekerjasama dan menghargai sesama:
dengan sesama dan lingkungannya  Menjelaskan peran keluarga dalam pertumbuhan dan
dengan meneladani Yesus kristus perkembangan dirinya
yang mewartakan bapa dan  Menjelaskan arti manusia sebagai makluk sosial
Kerajaan-Nya  Menjelaskan perannya dalam hidup bersama orang
lain
 Memahami Allah mencintai manusia
1.2 Peserta didik mampu memahami berbagai sifat dan sikap
Yesus Kristus sehingga dapat meneladani dan
menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari:
 Memahami bahwa Yesus senantiasa berbelas kasih
kepada manusia
 Mewujudkan sikap belas kasih dalam hidup sehari-hari
 Mengungkapkan niatnya untuk mengampuni seperti
yang dilakukan Yesus
 Memahami sikap Yesus yang rela berkorban
 Mengungkapkan niatnya untuk bersedia berkorban
 Menjelaskan sikap kepedulian Yesus terhadap sesama
 Melaksanakan aksi nyata “ peduli sesama”
 Meneladani Yesus sebagai tokoh pendoa
1.3 Peserta didik mampu memahami perjuangan Yesus untuk
menegakkan nilai-nilai dasar hidup bersama sehingga mampu
menghayati dan menerapkan dalam hidupnya sehari-hari:
 Memahami sikap dan sifat Yesus yang mencintai
sesama tanpa pandang bulu
 Menerapkan sikap Yesus yang mencintai dalam
kehidupan sehari-hari
 Memahami maksud ajaran Yesus tentang sabda
bahagia
 Mewujudkan sabda bahagia dalam kehidupan sehari-
hari
 Memahami perjuangan Yesus yang mewartakan
kebebasan anak-anak Allah dan dapat bertindak bebas
sebagai anak-anak Allah
 Memahami sikap dan undangan Yesus dalam
menegakkan kesetaraan martabat manusia
 Mengungkapkan niat-niat untuk meneladani Yesus
dalam menegakkan kesetaraan martabat manusia

Bidakara, 11 – 13 Nop 2005 (376072670.doc) 5


KELAS : VIII
Semester : 1
Aspek : Yesus Kristus

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar


1. Kemampuan memahami pribadi 1.1 Peserta didik mampu memahami makna sengsara, wafat dan
Yesus Kristus dan konsekuensi kebangkitan Yesus sebagai konsekuensi atas perjuangan-Nya
perjuangan-Nya dalam upaya menegakkan nilai-nilai Kerajaan Allah, sehingga peserta didik
mengikuti dan mewujudkan nilai-nilai berani meneladani perjuangan Yesus dalam hidup sehari-hari:
perjuangannya di dalam kehidupan  Menjelaskan makna kisah sengsara dan wafat Yesus
menggereja  Memahami makna kebangkitan Yesus bagi hidupnya
1.2 Peserta didik mampu memiliki pengetahuan dasar tentang
pribadi Yesus Kristus sehingga mereka dapat bercermin pada
pribadi Yesus Kristus dalam hidup sehari-hari.
 Memahami bahwa Yesus Kristus adalah pemenuhan
janji Allah
 Memahami Yesus Kristus itu sungguh Allah dan
sungguh manusia
1.3 Peserta didik mampu memahami peristiwa panggilan dan
pengutusan Yesus Kristus kepada murid-murid-Nya sehingga
terdorong untuk mengikuti Yesus Kristus dalam hidupnya
sehari-hari:
 Menjelaskan kisah Yesus memanggil murid-murid-Nya
 Memahami cara hidup Yesus dalam persekutuan
 Menyebutkan contoh-contoh dari pengalaman sendiri
dalam kegiatan persekutuan di lingkungannya
 Memahami makna tugas perutusan para murid Yesus
bagi dirinya
 Meneladani Maria dalam mengikuti Yesus

Bidakara, 11 – 13 Nop 2005 (376072670.doc) 6


Semester : 2
Aspek : Gereja

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar


1. Kemampuan memahami pribadi 1.1 Peserta didik mampu memahami peranan Roh Kudus sebagai
Yesus Kristus dan konsekwensi daya hidup setiap orang dalam mengembangkan hidup
perjuangan-Nya dalam upaya bersama sebagai murid-murid Yesus:
mengikuti dan mewujudkan nilai-  Memahami makna perutusan Roh Kudus
nilai perjuangan-Nya di dalam  Memahami bahwa Roh Kudus mempersatukan para
kehidupan menggereja murid Yesus
1.2 Peserta didik mampu memahami memahami Gereja sebagai
persekutuan murid-murid Yesus yang terdiri atas rupa-rupa:
 Menjelaskan makna gereja sebagai persekutuan
 Menjelaskan contoh-contoh kegiatan gereja sebagai
persekutuan
 Menjelaskan makna dan tanggung jawabnya sebagai
anggota gereja
1.3 Peserta didik mampu memahami gereja sebagai tanda dan
sarana penyelamat (sakramen) bagi semua orang:
 Memahami sakramen-sakramen dalam gereja
1.4 Peserta didik mampu memahami macam-macam sakramen
inisiasi beserta konsekuensinya dalam hidup menggereja:
 Memahami makna sakramen baptis dan konsekuensi
dari setiap orang yang menerima sakramen baptis
 Menjelaskan kisah perjamuan malam terakhir
 Memahami makna sakramen Ekaristi
 Menjelaskan makna sakramen Krisma
1.5 Peserta didik mampu memahami sakramen tobat sebagai
tanda dan sarana rekonsiliasi (pendamaian) antara manusia
dengan Allah dan manusia dengan sesamanya:
 Memahami hakikat dan makna sakramen tobat
1.6 Peserta didik mampu memahami makna sakramen pengurapan
orang sakit sebagai wujud pendampingan Gereja terhadap
orang yang menderita sakit:
 Memahami arti dan hakikat sakramen pengurapan
orang sakit
1.7 Peserta didik mampu memahami bentuk-bentuk pelayanan
gereja dalam upaya mewujudkan karya penyelamatan Allah,
sehingga terdorong untuk melibatkan diri secara aktif:
 Memahami bentuk-bentuk kegiatan pelayanan Gereja
 Menjelaskan contoh-contoh keterlibatan karya
pelayanan Gereja

Bidakara, 11 – 13 Nop 2005 (376072670.doc) 7


KELAS : IX
Semester : 1
Aspek :  Yesus Kristus
 Gereja
 Kemasyarakatan

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar


1. Kemampuan memahami dan 1.1 Peserta didik mampu Memahami kehendak Allah untuk
melaksanakan nilai-nilai Kerajaan menyelamatkan semua orang, yang perlu ditanggapi dengan
Allah dalam hidup beriman di beragama dan beriman:
tengah jemaat dan masyarakat  Memahami kehendak Allah yang menyelamatkan
sesuai dengan yang diwartakan semua orang
Yesus Kristus dalam rangka  Memahami arti hakikat beragama bagi hidupnya
membangun kehidupan masa  Memahami arti beriman dan beragama
depan yang lebih baik.  Memberikan contoh perwujudan iman dalam hidup
sehari-hari
1.2 Peserta didik mampu memahami arti dan nilai hidup beriman
kristiani beserta konsekuensinya, sehingga berusaha untuk
mengembangkan dirinya dalam kebersamaan dengan jemaat:
 Memahami ciri khas iman Kristiani dan maknanya
dalam hidup sehari-hari
 Menjelaskan usaha-usaha konkrit untuk
mengembangkan imannya
 Menjelaskan macam-macam peran jemaat dan peran
dirinya untuk mengembangkan iman dalam
kebersamaan
1.3 Peserta didik mampu memahami menyadari hak dan
kewajibannya sebagai orang beriman kristiani di tengah
masyarakat, yang dipanggil untuk ikut bertanggung jawab
dalam mengembangkan hidup bersama:
 Memahami hak-hak dan kewajibannya sebagai warga
masyarakat, menurut pandangan Kristiani
 Memahami makna kepemimpinan yang baik
 Menyebutkan kriteria kepemimpinan yang baik
 Menyusun doa untuk para pemimpin
 Memahami makna kebebasan yang bertanggung jawab
1.4 Peserta didik mampu memahami, menyadari dan menjunjung
tinggi nilai martabat manusia, dengan senantiasa melindungi
dan membela hidup manusia secara bertanggung jawab:
 Memahami arti dan hakikat martabat manusia
sebagaimana yang diajarkan Yesus
 Memahami firman kelima
 Memahami pandangan tentang memelihara hidup
secara sehat berdasarkan visi Kristiani
 Memperjuangkan hidup secara sehat, berdasarkan visi
Kristiani
1.5 Peserta didik mampu memahami dan menyadari perlunya
keutuhan alam ciptaan bagi kehidupan sehingga terdorong
untuk menjaga dan melestarikannya.
 Menjaga dan melestarikan linkungan hidup

Bidakara, 11 – 13 Nop 2005 (376072670.doc) 8


Semester : 2
Aspek :  Kemasyarakatan
 Gereja

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar


1. Kemampuan memahami 1.1 Peserta didik mampu menyadari pentingnya kejujuran dan
melaksanakan nilai-nilai Kerajaan keadilan sebagai nilai-nilai luhur yang harus diwujudkan dalam
Allah dalam hidup beriman di kehidupan sehari-hari:
tengah jemaat dan masyarakat  Memahami arti kejujuran
sesuai dengan yang diwartakan  Menjelaskan upaya-upaya untuk mewujudkan kejujuran
Yesus kristus dalam rangka dalam hidupnya
membangun kehidupan masa  Memahami arti keadilan
1.2 Peserta didik mampu memahami dan menyadari bahwa
depan yang lebih baik.
penganut agama dan kepercayaan lain adalah sesama
saudara, sehingga mereka berani dan mampu bersikap hormat
dan bersahabat dengan mereka dalam hidup sehari-hari
dalam ikatan persaudaraan sejati:
 Memahami sikap resmi Gereja terhadap agama dan
kepercayaan lain
 Memahami pandangan gereja dalam membangun
persahabatan/persaudaraan dengan penganut agama
dan kepercayaan lain lewat dialog kehidupan
1.3 Peserta didik mampu memahami, menyadari dan menemukan
cita-cita/arah hidup sesuai dengan kehendak Allah, seperti
terkandung dalam Sakramen Perkawinan dan Sakramen
Imamat sehingga berusaha mempersiapkan diri untuk
mencapai cita-cita tersebut:
 Menemukan cita-cita hidupnya dan bagaimana kiatnya
untuk mencapai cita-citanya itu
 Memahami makna sakramen perkawinan
 Menjelaskan arti dan haikat sakramen imamat

Bidakara, 11 – 13 Nop 2005 (376072670.doc) 9