Anda di halaman 1dari 38

LAPORAN ASISTENSI

MODUL 1

PENGAMBILAN KEPUTUSAN DAN KLASIFIKASI INVENTORI

Nama Instruktur: Muhammad Fauzi, S.T.


Nama Asisten: Devi Frida Sagala
Riska Maudina

Disusun Oleh:
Bayu Suardi 0515104009
Fithri Luthfiyanti 0515104032
Helmi H. Ramdhan 0515104010

LABORATORIUM PERANCANGAN DAN OPTIMASI SISTEM INDUSTRI


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS WIDYATAMA
BANDUNG
2017

1
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG MASALAH

Jaman sekarang pengambilan keputusan di suatu perusahaan sangat penting,


terkadang pimpinan perusahaan sulit mengetahui proses dalam pengambilan
keputusan yang berlangsung pada perusahaan tersebut. Umumnya semua
pengambilan keputusan yang dilakukan ditunjukkan untuk meningkatkan kualitas
dan kemajuan perusahaan sehingga pengambilan keputusan merupakan alat yang
baik dipakai untuk menganalisa hasil atau keluaran dari proses mental atau
kognitif pada pemilihan suatu jalur final diantara alternative yang ada.
Setiap proses pengambilan keputusan akan menghasilkan satu pilihan final yang
dibuat untuk tujuan melalui suatu proses dan tindakan.Tindakan tersebut akan
diklasifikasikan dengan berbagai metode seperti metode AHP,metode point
rating,dan metode ABC yang akan diperoleh nilai-nilai dalam pengambilan
keputusan. Praktikum modul I yang akan kami lakukan ini, kami mencoba
menggunakan proses dan tahapan pengambilan keputusan di antara alternative di
PT Duta Pratama Asia.

1.2 TUJUAN

1. Memahami manajemen pengadaan sebagai bagian dari organisasi terpadu.

2. Memahami teknik untuk menentukan dan mengevaluasi supplier.

3. Mampu menggunakan software expert choice dalam membantu pemilihan


supplier.

4. Mampu mengetahui urutan prioritas faktor-faktor yang mempengaruhi


pemilihan supplier.

2
5. Memahami teknik untuk menentukan dan mengevaluasi supplier.

6. Mampu menggunakan software expert choice dalam membantu pemilihan


supplier.

7. Mampu mengetahui urutan prioritas faktor-faktor yang mempengaruhi


pemilihan supplier.

8. Sebagai langkah untuk pengambilan keputusan dalam pemilihan supplier.

9. Dapat menggali informasi awal atau memanfaatkan informasi yang ada


disekitar kita untuk menentukan calon supplier.

10. Dapat menentukan rating faktor untuk setiap supplier.

11. Dapat mengevaluasi masing-masing alternatif dalam pemilihan supplier.

12. Mampu mengetahui urutan prioritas faktor-faktor yang mempengaruhi


pemilihan supplier.

13. Sebagai langkah pengambilan keputusan dalam pemilihan calon supplier.

14. Mampu memahami cara mengklasifikasikan pengelolaan inventori.

15. Mampu mengetahui karakteristik jenis-jenis barang yang dikelola.

16. Mampu memilah jenis barang berdasarkan tingkat kepentingannya.

3
BAB II

LANDASAN TEORI

2. 1 PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Keputusan adalah hasil pemecahan masalah yang dihadapinya dengan tegas. Hal itu
berkaitan dengan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mengenai ‘apa yang harus
dilakukan’ dan seterusnya mengenai unsur-unsur perencanaan. Dapat juga dikatakan
bahwa keputusan itu sesungguhnya merupakan hasil proses pemikiran yang berupa
pemilihan satu diantara beberapa alternatif yang dapat digunakan untuk memecahkan
masalah yang dihadapinya.
Keputusan itu sendiri merupakan unsur kegiatan yang sangat vital. Jiwa
kepemimpinan seseorang itu dapat diketahui dari kemampuan mengatasi masalah dan
mengambil keputusan yang tepat. Keputusan yang tepat adalah keputusan yang
berbobot dan dapat diterima bawahan. Ini biasanya merupakan keseimbangan antara
disiplin yang harus ditegakkan dan sikap manusiawi terhadap bawahan. Keputusan
yang demikian ini juga dinamakan keputusan yang mendasarkan diri pada human
relations.
Pengertian Pengambilan Keputusan dikemukakan oleh,
a) Ralp C. Davis.
b) Mary Follet.
c) James A.F. Stoner.
Keputusan dapat dijelaskan sebagai hasil pemecahan masalah, selain itu juga harus
didasari atas logika dan pertimbangan, penetapan alternatif terbaik, serta harus
mendekati tujuan yang telah ditetapkan.
Seorang pengambil keputusan haruslah memperhatikan hal-hal seperti; logika, realita,
rasional, dan pragmatis.
Secara umum pengertian teori pengembilan keputusan adalah, teknik pendekatan
yang digunakan dalam proses pengambilan keputusan atau proses memilih tindakan
sebagai cara pemecahan masalah.
2. 2 Fungsi dan Tujuan Pengambilan Keputusan

4
Fungsi Pengambilan Keputusan individual atau kelompok baik secara institusional
ataupun organisasional, sifatnya futuristik.
Tujuan Pengambilan Keputusan tujuan yang bersifat tunggal (hanya satu masalah dan
tidak berkaitan dengan masalah lain) Tujuan yang bersifat ganda (masalah saling
berkaitan, dapat bersifat kontradiktif ataupun tidak kontradiktif).
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam organisasi itu dimaksudkan untuk mencapai
tujuan organisasinya yang dimana diinginkan semua kegiatan itu dapat berjalan lancer
dan tujuan dapat dicapai dengan mudah dan efisien. Namun, kerap kali terjadi
hambatan-hambatan dalam melaksanakan kegiatan. Ini merupakan masalah yang
hatus dipecahkan oleh pimpinan organisasi. Pengambilan keputusan dimaksudkan
untuk memecahkan masalah tersebut.

2. 3 Unsur-unsur Pengambilan Keputusan


a) Tujuan dan pengambilan keputusan
b) Dentifikasi alternatif-alternatif, keputusan untuk pemecahan masalah
c) Perhitungan mengenai faktor-faktor yang tidak dapat diketahui,
d) Sarana atau alat untuk mengevaluasi atau mengukur hasil.

2. 4 Dasar-dasar Pengambilan Keputusan


George R. Terry menjelaskan dasar-dasar dari pengambilan keputusan yang berlaku,
a) Intuisi
Keputusan yang diambil berdasarkan intuisi atau perasaan lebih bersifat subjektif
yaitu mudah terkena sugesti, pengaruh luar, dan faktor kejiwaan lain. Sifat
subjektif dari keputusuan intuitif ini terdapat beberapa keuntungan, yaitu :
1. Pengambilan keputusan oleh satu pihak sehingga mudah untuk memutuskan.
2. Keputusan intuitif lebih tepat untuk masalah-masalah yang bersifat
kemanusiaan.
Pengambilan keputusan yang berdasarkan intuisi membutuhkan waktu yang
singkat Untuk masalah-masalah yang dampaknya terbatas, pada umumnya
pengambilan keputusan yang bersifat intuitif akan memberikan kepuasan. Akan

5
tetapi, pengambilan keputusan ini sulit diukur kebenarannya karena kesulitan
mencari pembandingnya dengan kata lain hal ini diakibatkan pengambilan
keputusan intuitif hanya diambil oleh satu pihak saja sehingga hal-hal yang lain
sering diabaikan.
b) Pengalaman
Dalam hal tersebut, pengalaman memang dapat dijadikan pedoman dalam
menyelesaikan masalah. Keputusan yang berdasarkan pengalaman sangat
bermanfaat bagi pengetahuan praktis. Pengalaman dan kemampuan untuk
memperkirakan apa yang menjadi latar belakang masalah dan bagaimana arah
penyelesaiannya sangat membantu dalam memudahkan pemecaha masalah.
c) Fakta
Keputusan yang berdasarkan sejumlah fakta, data atau informasi yang cukup itu
memang merupakan keputusan yang baik dan solid, namun untuk mendapatkan
informasi yang cukup itu sangat sulit.
d) Wewenang
Keputusan yang berdasarkan pada wewenang semata maka akan menimbulkan
sifat rutin dan mengasosiasikan dengan praktik dictatorial. Keputusan
berdasarkan wewenang kadangkala oleh pembuat keputusan sering melewati
permasahan yang seharusnya dipecahkan justru menjadi kabur atau kurang jelas.
e) Rasional
Keputusan yang bersifat rasional berkaitan dengan daya guna. Masalah –
masalah yang dihadapi merupakan masalah yang memerlukan pemecahan
rasional. Keputusan yang dibuat berdasarkan pertimbangan rasional lebih bersifat
objektif. Dalam masyarakat, keputusan yang rasional dapat diukur apabila
kepuasan optimal masyarakat dapat terlaksana dalam batas-batas nilai
masyarakat yang di akui saat itu.

2. 5 Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam Pengambilan Keputusan

6
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam pengambilan keputusan
menurut Terry, yaitu :
a. Hal-hal yang berwujud maupun yang tidak berwujud, yang emosional maupun
yang rasional perlu diperhitungkan dalam pengambilan keputusan.
b. Setiap keputusan harus dapat dijadikan bahan untuk mencapai tujuan organisasi.
c. Setiap keputusan jangan berorientasi pada kepentingan pribadi, tetapi harus lebih
mementingkan kepentingan organisasi.
d. Jarang sekali pilihan yang memuaskan, oleh karena itu buatlah altenatif-alternatif
tandingan.
e. Pengambilan keputusan merupakan tindakan mental dari tindakan ini harus diubah
menjadi tindakan fisik.
f. Pengambilan keputusan yang efektif membutuhkan waktu yang cukup lama.
g. Diperlukan pengambilan keputusan yang praktis untuk mendapatkan hasil yang
lebih baik.
h. Setiap keputusan hendaknya dilembagakan agar diketahui keputusan itu benar.
i. Setiap keputusan merupakan tindakan permulaan dari serangkaian kegiatan mata
rantai berikutnya.

2. 6 Keputusan Individual dan Kelompok


Pengambilan keputusan dapat dilakukan secara individual atau kelompok, tergantung
bagaimana sifat dan corak permasalahannya. Keputusan individual dibuat oleh
seorang pemimpin sendirian, sedangkan keputusan kelompok dibuat sekelompok
orang. Keputusan kelompok dibedakan dalam :
a. Sekelompok pimpinan
b. Sekelompok orang-orang bersama pimpinannya.
c. Sekelompok orang yang mempunyai kedudukan sama dan keputusan kelompok

2. 7 Proses Pengambilan Keputusan

7
a. Identifikasi masalah
Dalam hal ini pemimpin diharapkan mampu mengindentifikasikan masalah yang
ada di dalam suatu organisasi.
b. Pengumpulan dan penganalisis data
Pemimpin diharapkan dapat mengumpulkan dan menganalisis data yang dapat
membantu memecahkan masalah yang ada.
c. Pembuatan alternatif-alternatif kebijakan
Setelah masalah dirinci dengan tepat dan tersusun baik, maka perlu dipikirkan
cara-cara pemecahannya.
d. Pemilihan salah satu alternatif terbaik
Pemilihan satu alternatif yang dianggap paling tepat untuk memecahkan masalah
tertentu dilakukan atas dasar pertimbangan yang matang atau rekomendasi. Dalam
pemilihan satu alternatif dibutuhkan waktu yang lama karena hal ini menentukan
alternative yang dipakai akan berhasil atau sebaliknya.
e. Pelaksanaan keputusan
Dalam pelaksanaan keputusan berarti seorang pemimpin harus mampu menerima
dampak yang positif atau negatif. Ketika menerima dampak yang negatif,
pemimpin harus juga mempunyai alternatif yang lain.
f. Pemantauan dan pengevaluasian hasil pelaksanaan
Setelah keputusan dijalankan seharusnya pimpinan dapat mengukur dampak dari
keputusan yang telah dibuat.

2. 8 Jenis - Jenis Keputusan


Terdapat beberapa jenis keputusan dalam proses pengambilan keputusan.Berdasarkan
keputusan yang harus diambil oleh level manajemen di perusahaan jenis keputusan
terdiri atas:
a. Keputusan Strategis, adalah keputusan yang dibuat oleh manajemen puncak dalam
sebuh perusahaan.
b. Keputusan taktis, adalah keputusan yang dibuat oleh manajemen menengah

8
c. Keputusan operasional, adalah keputusan yang dibuat oleh tingkat manajemen
yang paling bawah,misalnya operator mesin di lantai produksi.

Berdasarkan tersedianya pemecahan masalah, jenis keputusan yang biasanya muncul


adalah:
a. Keputusan Terprogram. Keputusan ini berkaitan dengan kebiasaan, aturan, dan
prosedur. Dalam hal ini kondisi yang dihadapi semuanya dapat diketahui dengan
pasti.
b. Keputusan tidak terprogram. Keputusan tidak terprogram ini adalah keputusan
yang tidak mempunyai suatu aturan yang baku, tergantung pada jenis masalahnya.
Biasanya, masalah yang membutuhkan keputusan tidak terprogram ini terjadinya
tidak dapat diprediksi.
c. Keputusan tidak terstruktur. disebut tidak terstruktur karena tidak diketahui
pemecahannya karena ketidakjelasan masalahnya.

9
BAB IV

PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

4.1 PENGUMPULAN DATA

4.1.1 Metode Analytic Hierarchy Process (AHP)


Studi Kasus

PT Duta Pratama Asia merupakan sebuah industri garment yang berada di Kota
Bandung, pada tahun ini PT Duta Pratama Asia akan memilih supplier baru.
Kebijakan PT Duta Pratama Asia dalam memilih supplier harus mengajukan minimal
3 calon supplier sebagai pembanding. Setiap supplier harus memiliki kriteria yang
sama agar dapat dibandingkan. Sebagai seorang Teknik Industri Anda diminta untuk
memilih supplier menggunakan metode AHP berdasarkan kriteria yang sudah Anda
tentukan!

Berdasarkan prosedur praktikum, studi kasus dilakukan terhadap kasus pemilihan


supplier yang terjadi di tempat kerja. Studi kasus dilakukan disalah satu perusahaan
garment, dimana pemilihan supplier dilakukan terhadap supplier kain dan diperoleh
data sebagai berikut ini:

Tabel 4. 1 Alternatif Supplier

No Keterangan Nama Supplier


1 Alternatif 1 Laimei Keiji
2 Alternatif 2 Great Mountain
3 Alternatif 3 Nanthong
(Sumber: Pengumpulan Data)

10
Tabel 4. 2 Kriteria Dalam Pemilihan Supplier

No Keterangan Nama Kriteria


1 Kriteria 1 Harga
2 Kriteria 2 Kualitas
3 Kriteria 3 Jaminan & Klaim
(Sumber: Pengumpulan Data)

Tabel 4. 3 Sub-Kriteria dalam pemilihan supplier yang relevan terhadap Harga

No Keterangan Nama Sub-Kriteria


1 Sub-Kriteria 1a Harga Murah
2 Sub-Kriteria 1b Metode Pembayaran
(Sumber: Pengumpulan Data)

Tabel 4. 4 Sub-Kriteria dalam pemilihan supplier yang relevan terhadap Kualitas

No Keterangan Nama Sub-Kriteria


1 Sub-Kriteria 2a Spesifikasi kain sesuai standar
2 Sub-Kriteria 2b Packaging dan Kuantiti sesuai
(Sumber: Pengumpulan Data)

Tabel 4. 5 Sub-Kriteria dalam pemilihan supplier yang relevan terhadap Jaminan &
Kualitas

No Keterangan Nama Sub-Kriteria


1 Sub-Kriteria 3a Klaim barang cacat
2 Sub-Kriteria 3b Pemecahan Masalah
(Sumber: Pengumpulan Data)

4.1.2 Metode Point Rating

Studi Kasus

PT Duta Pratama Asia merupakan sebuah industri garment yang berada di Kota
Bandung, pada tahun ini PT Duta Pratama Asia akan memilih supplier baru.
Kebijakan PT Duta Pratama Asia dalam memilih supplier harus mengajukan minimal
3 calon supplier sebagai pembanding. Setiap supplier harus memiliki kriteria yang
sama agar dapat dibandingkan. Menggunakan kasus 4.1.1. Anda di minta untuk
melakukan pemilihan supplier dengan menggunakan metode Point Rating!

11
Berdasarkan studi kasus diatas, diperoleh data sebagai berikut ini:

Tabel 4. 6 Alternatif Supplier

No Keterangan Nama Supplier


1 Alternatif 1 Laimei Keiji
2 Alternatif 2 Great Mountain
3 Alternatif 3 Nanthong
(Sumber: Pengumpulan Data)

Tabel 4. 7 Kriteria Dalam Pemilihan Supplier

No Keterangan Nama Kriteria


1 Kriteria 1 Harga
2 Kriteria 2 Kualitas
3 Kriteria 3 Jaminan & Klaim
4 Kriteria 4 Kelengkapan Dokumen
5 Kriteria 5 Waktu Pengiriman
(Sumber: Pengumpulan Data)

Tabel 4. 8 Bobot setiap Kriteria

No Keterangan Bobot
1 Harga 0.20
2 Kualitas 0.30
3 Jaminan & Klaim 0.25
4 Kelengkapan 0.15
Dokumen
5 Waktu 0.10

12
Pengiriman
(Sumber: Pengumpulan Data)

4.1.3 Metode ABC

PT Duta Pratama Asia merupakan sebuah industri yang bergerak di bidang industri
garment yang mempunyai 10 item barang. Permasalahan yang sedang dihadapi PT
Duta Pratama Asia yaitu pengelolaan inventori yang kurang maksimal yang
menyebabkan penyerapan dana inventori sangat tinggi. Anda sebagai seorang Teknik
Industri diminta untuk melakukan klasifikasi barang dengan menggunakan metode
ABC!

Data yang digunakan untuk pengolahan data dengan metode ABC yaitu data
komoditas yang terdapat diperusahaan, berikut ini merupakan data komoditas yang
terdapat di perusahaan PT Duta Pratama Asia yaitu:

Tabel 4. 9 Data komoditas perusahaan

No. Jenis Barang yang dikelola Jumlah pemakaian Harga satuan


tiap jenis barang barang (Rp)
(dalam 1 tahun)
1 Sprei Single Full 120 x 200 cm 4000 Rp 50,000.00
2 Sprei Single Duo 120 x 200 2500 Rp 130,000.00
3 Sprei Queen 160 x 200 cm 3000 Rp 70,000.00
4 Sprei King Bantal 2 180 x 200 cm 5000 Rp 72,000.00
5 Sprei King Bantal 4 180 x 200 cm 2500 Rp 82,000.00
6 Sprei Komponen Bed Cover King 400 Rp 102,000.00

13
Rumbai Bantal 2
7 Bed Cover Single Full 120 x 200 350
Rp 170,000.00
cm
8 Sprei Komponen Bed Cover King 300
Rp 112,000.00
Rumbai Bantal 4
9 Bed Cover King 750 Rp 245,000.00
10 Balmut 200 Rp 90,000.00
(Sumber: Pengumpulan Data)

4.2 PENGOLAHAN DATA

4.2.1 Metode Analytic Hierarchy Process

4.2.1.1 Pohon Hierarki


Setelah menentukan kriteria dan sub kriteria dalam pemilihan supplier,
kemudian gambarkan kedalam diagram atau disebut sebagai pohon hierarki.

Gambar 4. 1 Pohon Hierarki


(Sumber: Pengolahan Data)

14
4.2.1.2 Interpretasi Perbandingan Berpasangan
Setelah menentukan kriteria dan sub kriteria dalam pemilihan supplier dan
gambarkan kedalam pohon hierarki, kemudian menentukan interpretasi
perbandingan berpasangan terhadap setiap kriteria dan menentukan bobotnya.

Tabel 4. 10 Interpretasi Perbandingan Berpasangan untuk setiap Kriteria

Jaminan &
Harga Kualitas
Klaim
Harga 1 1/9 1/7
Kualitas 9 1 7
Jaminan & Klaim 7 1/7 1
(Sumber: Pengolahan Data)

Tabel 4. 11 Interpretasi Perbandingan Berpasangan untuk setiap Kriteria

Jaminan &
Harga Kualitas
Klaim
Harga 1 0.111 0.143
Kualitas 9 1 7
Jaminan & Klaim 7 0.143 1
Total 17 1.25 8.14
(Sumber: Pengolahan Data)

Tabel 4. 12 Interpretasi Perbandingan Berpasangan untuk setiap Kriteria


Jaminan & Bobot
Harga Kualitas
Klaim (EV)
Harga 0.059 0.088 0.018 0.055
Kualitas 0.529 0.797 0.860 0.729
Jaminan & Klaim 0.412 0.114 0.123 0.216
Total 1.00
(Sumber: Pengolahan Data)

Berikut ini adalah contoh perhitungan bobot relatif untuk mariks Xharga,harga

15
Berikut ini contoh perhitungan bobot atau Eighen Vactor (EV)

Kemudian melakukan perhitungan pengecekan Consistency Ratio (CR)

λmax = (17 × 0.055) + (1.25 × 0.729)+ (8.14 × 0.216)


λmax = 0.935 + 0.911 + 1.75
λmax = 3.596
Untuk n = 3, maka nilai RI = 0.58

298

Karena hasil perhitungan CR > 0.1 → 0.514> 0.1 maka hasilnya adalah tidak
konsisten maka informasi data harus dilakukan validitas kembali.

4.1.1.2 Interpretasi Perbandingan Berpasangan untuk Setiap Sub Kriteria


A. Harga

Tabel 4. 13 Interpretasi Perbandingan Berpasangan untuk Sub-Kriteria Harga

Harga Murah Metode Pembayaran


Harga murah 1 7
Metode Pembayaran 1/7 1
(Sumber: Pengolahan Data)

16
Tabel 4. 14 Interpretasi Perbandingan Berpasangan Sub Kriteria Harga

Harga Murah Metode Pembayaran


Harga murah 1 7
Metode Pembayaran 0.143 1
Total 1.143 8.00
(Sumber: Pengolahan Data)

Tabel 4. 15 Interpretasi Perbandingan Berpasangan Sub Kriteria Harga

Harga Murah Metode Pembayaran Bobot (EV)


Harga murah 0.875 0.875 0.875
Metode Pembayaran 0.125 0.125 0.125
Total 1.000
(Sumber: Pengolahan Data)

Kemudian melakukan perhitungan pengecekan Consistency Ratio (CR)

λmax = (1.143 × 0.875) + (8 × 0.125)


λmax = 1 + 1
λmax = 2

Untuk n = 2, maka nilai RI = 0

Karena CR < 0.1 → 0 < 0.1 maka hasilnya adalah konsisten maka informasi data
tidak perlu dilakukan validitas kembali.

B. Kualitas

17
Tabel 4. 16 Interpretasi Perbandingan Berpasangan untuk Sub-Kriteria Kualitas

Spesifikasi Sesuai Packaging dan


Standar Kuantiti Sesuai
Spesifikasi Sesuai
1.00 1/9
Standar
Packaging dan
9.00 1.00
Kuantiti Sesuai
(Sumber: Pengolahan Data)

Tabel 4. 17 Interpretasi Perbandingan Berpasangan


Sub Kriteria Kualitas
Spesifikasi Sesuai Packaging dan
Standar Kuantiti Sesuai
Spesifikasi Sesuai
1 0.11
Standar
Packaging dan
9 1
Kuantiti Sesuai
Total 10 1.11
(Sumber: Pengolahan Data)

Tabel 4. 18 Interpretasi Perbandingan Berpasangan Sub Kriteria Kualitas

Spesifikasi Sesuai Packaging dan


Bobot
Standar Kuantiti Sesuai
Spesifikasi Sesuai
0.100 0.100 0.100
Standar
Packaging dan
0.900 0.900 0.900
Kuantiti Sesuai
Total 1.000
(Sumber: Pengolahan Data)

Kemudian melakukan perhitungan pengecekan Consistency Ratio (CR)

18
λmax = (10 × 0.1) + (1.11 × 0.9)
λmax = 1 + 1
λmax = 2

Untuk n = 2, maka nilai RI = 0

Karena CR < 0.1 → 0 < 0.1 maka hasilnya adalah konsisten maka informasi data
tidak perlu dilakukan validitas kembali.

C. Jaminan & Kualitas

Tabel 4. 19 Interpretasi Perbandingan Berpasangan


Sub Kriteria Jaminan & Kualitas
Klaim barang cacat Pemecahan Masalah
Klaim barang cacat 1 7
Pemecahan Masalah 1/7 1
(Sumber: Pengolahan Data)

Tabel 4. 20 Interpretasi Perbandingan Berpasangan Sub Kriteria Jaminan &


Kualitas

Klaim barang cacat Pemecahan Masalah


Klaim barang cacat 1 7
Pemecahan Masalah 0.143 1
Total 1.143 8
(Sumber: Pengolahan Data)

Tabel 4. 21 Interpretasi Perbandingan Berpasangan Sub Kriteria Jaminan & Kualitas

19
Klaim barang cacat Pemecahan Masalah Bobot (EV)
Klaim barang cacat 0.875 0.875 0.875
Pemecahan Masalah 0.125 0.125 0.125
Total 1.000
(Sumber: Pengolahan Data)

Kemudian melakukan perhitungan pengecekan Consistency Ratio (CR)

λmax = (1.143 × 0.875) + (8 × 0.125)


λmax = 1 + 1
λmax = 1

Untuk n = 2, maka nilai RI = 0

Karena CR < 0.1 → 0 < 0.1 maka hasilnya adalah konsisten maka informasi data
tidak perlu dilakukan validitas kembali.

4.1.1.3 Interpretasi Perbandingan Berpasangan untuk setiap Alternatif

A. Kriteria Harga dengan Sub Kategori Murah

Tabel 4. 22 Interpretasi Perbandingan Berpasangan untuk setiap Alternatif

Laimei Keiji Great Mountain Nanthong


Laimei Keiji 1 1/7 5
Great Mountain 7 1 1/9
Nanthong 1/5 9 1
(Sumber: Pengolahan Data)

20
Tabel 4. 23 Interpretasi Perbandingan Berpasangan
Alternatif dengan Kategori Harga dan Sub Kategori
Murah
Laimei Keiji Great Mountain Nanthong
Laimei Keiji 1 0.143 5
Great Mountain 7 1 0.11
Nanthong 0.2 9 1
Total 8.2 10.143 6.111
(Sumber: Pengolahan Data)

Tabel 4. 24 Interpretasi Perbandingan Berpasangan


Alternatif dengan Kategori Harga dan Sub Kategori
Murah
Laimei Keiji Great Mountain Nanthong Bobot
Laimei Keiji 0.077 0.014 0.818 0.303
Great Mountain 0.538 0.099 0.018 0.218
Nanthong 0.385 0.887 0.164 0.479
Total 1.000 1.000 1.000 1.000
(Sumber: Pengolahan Data)

Kemudian melakukan perhitungan pengecekan Consistency Ratio (CR)

λmax = (8.2 × 0.303) + (10.143 × 0.218) + (6.111 x 0.479)


λmax = 2.48 + 2.21 + 2.93
λmax = 7.62
Untuk n = 3, maka nilai RI = 0.58

21
Karena CR > 0.1 → 3.98 > 0.1 maka hasilnya adalah tidak konsisten maka informasi
data harus dilakukan validitas kembali.

B. Kriteria Harga dengan Sub Kategori Metode Pembayaran

Tabel 4. 25 Interpretasi Perbandingan Berpasangan


Alternatif dengan Kategori Harga dan Sub Kategori
Metode Pembayaran
Laimei Keiji Great Mountain Nanthong
Laimei Keiji 1 1/7 1/5
Great Mountain 7 1 1/3
Nanthong 5 3 1
(Sumber: Pengolahan Data)

Tabel 4. 26 Interpretasi Perbandingan Berpasangan


Alternatif dengan Kategori Harga dan Sub Kategori
Metode Pembayaran
Laimei Keiji Great Mountain Nanthong
Laimei Keiji 1 0.143 0.2
Great Mountain 7 1 0.333
Nanthong 5 3 1
Total 13 4.143 2
(Sumber: Pengolahan Data)

Tabel 4. 27 Interpretasi Perbandingan Berpasangan Alternatif dengan Kategori Harga dan Sub
Kategori Metode Pembayaran

Laimei Keiji Great Mountain Nanthong Bobot


Laimei Keiji 0.077 0.034 0.130 0.081
Great Mountain 0.538 0.241 0.217 0.332
Nanthong 0.385 0.724 0.652 0.587
Total 1.000
(Sumber: Pengolahan Data)

Kemudian melakukan perhitungan pengecekan Consistency Ratio (CR)

22
λmax = (13 × 0.081) + (4.143 × 0.332) + (2 x 0.587)
λmax = 1.053 + 1.375 + 1.174
λmax = 3.602

Untuk n = 3, makanilai RI = 0.58

Karena CR > 0.1 → 0.519 > 0.1 maka hasilnya adalah tidak konsisten maka informasi
data harus dilakukan validitas kembali.

C. Kriteria Kualitas dengan sub Kategori Spesifikasi Sesuai Standar

Tabel 4. 28 Interpretasi Perbandingan Berpasangan


Alternatif dengan Kategori Kualitas dan Sub
Kategori Spesifikasi Sesuai Standar
Laimei Keiji Great Mountain Nanthong
Laimei Keiji 1 1/7 1/5
Great Mountain 7 1 3
Nanthong 5 1/3 1

23
(Sumber: Pengolahan Data)

Tabel 4. 29 Interpretasi Perbandingan Berpasangan


Alternatif dengan Kategori Kualitas dan Sub
Kategori Spesifikasi Sesuai Standar
Laimei Keiji Great Mountain Nanthong
Laimei Keiji 1 0.143 0.2
Great Mountain 7 1 3
Nanthong 5 0.333 1
Total 13 1.476 4.2
(Sumber: Pengolahan Data)

Tabel 4. 30 Interpretasi Perbandingan Berpasangan Alternatif dengan Kategori Kualitas dan Sub
Kategori Spesifikasi Sesuai Standar

Laimei Keiji Great Mountain Nanthong Bobot


Laimei Keiji 0.077 0.097 0.048 0.074
Great Mountain 0.538 0.677 0.714 0.643
Nanthong 0.385 0.226 0.238 0.283
Total 1.000
(Sumber: Pengolahan Data)

Kemudian melakukan perhitungan pengecekan Consistency Ratio (CR)

λmax = (13 x 0.074) + (1.476 × 0.643) + (4.2 x 0.283)


λmax = 0.962 + 0.949 + 1.189
λmax = 3.1

Untuk n = 3, maka nilai RI = 0.58

.086

24
Karena CR < 0.1 → 0.086 < 0.1 maka hasilnya adalah konsisten maka informasi data
tidak perlu dilakukan validitas kembali.

D. Kriteria Kualitas dengan sub kategori Packaging & Kuantiti Sesuai

Tabel 4. 31 Interpretasi Perbandingan Berpasangan


Alternatif dengan Kategori Kualitas dan Sub
Kategori Packaging & Kuantiti Sesuai
Laimei Keiji Great Mountain Nanthong
Laimei Keiji 1 1/3 1/5
Great Mountain 3 1 7
Nanthong 5 1/7 1
(Sumber: Pengolahan Data)

Tabel 4. 32 Interpretasi Perbandingan Berpasangan


Alternatif dengan Kategori Kualitas dan Sub
Kategori Packaging & Kuantiti Sesuai
Laimei Keiji Great Mountain Nanthong
Laimei Keiji 1 0.333 0.2
Great Mountain 3 1 7
Nanthong 5 0.143 1
Total 9 1.476 8.2
(Sumber: Pengolahan Data)

Tabel 4. 33 Interpretasi Perbandingan Berpasangan Alternatif dengan Kategori


Kualitas dan Sub Kategori Packaging & Kuantiti Sesuai

Laimei Keiji Great Mountain Nanthong Bobot


Laimei Keiji 0.111 0.226 0.024 0.120
Great Mountain 0.333 0.677 0.854 0.621
Nanthong 0.556 0.097 0.122 0.258
Total 1.000
(Sumber: Pengolahan Data)

Kemudian melakukan perhitungan pengecekan Consistency Ratio (CR)

25
λmax = (9 x 0.120) + (1.476× 0.621) + (8.2 x 0.258)
λmax = 1.08 + 0.917 + 2.116
λmax = 4.113

Untuk n = 3, maka nilai RI = 0.58

Karena CR > 0.1 → 0.959 > 0.1 maka hasilnya adalah tidak konsisten maka informasi
data harus dilakukan validitas kembali.

E. Kriteria Jaminan & Klaim dengan Sub Kriteria Klaim barang cacat

Tabel 4. 34 Interpretasi Perbandingan Berpasangan


Alternatif dengan Kategori Jaminan & Klaim dan
Sub Kategori Klaim barang Cacat
Laimei Keiji Great Mountain Nanthong
Laimei Keiji 1 1/3 1/5
Great Mountain 3 1 5
Nanthong 5 1/5 1
(Sumber: Pengolahan Data)

Tabel 4. 35 Interpretasi Perbandingan Berpasangan Alternatif dengan Kategori


Jaminan & Klaim dan Sub Kategori Klaim barang Cacat

Laimei Keiji Great Mountain Nanthong


Laimei Keiji 1 0.333 0.2
Great Mountain 3 1 5
Nanthong 5 0.2 1
Total 9 1.533 6.2

26
(Sumber: Pengolahan Data)

Tabel 4. 36 Interpretasi Perbandingan Berpasangan Alternatif dengan Kategori


Jaminan & Klaim dan Sub Kategori Klaim barang Cacat

Laimei Keiji Great Mountain Nanthong Bobot


Laimei Keiji 0.111 0.217 0.032 0.120
Great Mountain 0.333 0.652 0.806 0.597
Nanthong 0.556 0.130 0.161 0.282
Total 1.000
(Sumber: Pengolahan Data)

Kemudian melakukan perhitungan pengecekan Consistency Ratio (CR)

λmax = (9 × 0.120) + (1.533 × 0.597) + (6.2 x 0.282)


λmax = 1.08 + 0.915 + 1.748
λmax = 3.743

Untuk n = 3, maka nilai RI = 0.58

Karena CR > 0.1 → 0.641 > 0.1 maka hasilnya adalah tidak konsisten maka informasi
data harus dilakukan validitas kembali.

F. Kriteria Jaminan & Klaim dengan sub Kriteria Pemecahan Masalah

Tabel 4. 37 Interpretasi Perbandingan Berpasangan


Alternatif dengan Kategori Jaminan & Klaim dan
Sub Kategori Pemecahan Masalah
Laimei Keiji Great Mountain Nanthong

27
Laimei Keiji 1 1/7 3
Great Mountain 7 1 1/5
Nanthong 1/3 5 1
(Sumber: Pengolahan Data)

Tabel 4. 38 Interpretasi Perbandingan Berpasangan


Alternatif dengan Kategori Jaminan & Klaim dan
Sub Kategori Pemecahan Masalah
Laimei Keiji Great Mountain Nanthong
Laimei Keiji 1 0.143 3
Great Mountain 7 1 0.2
Nanthong 0.333 5 1
Total 8.333 6.143 4.2
(Sumber: Pengolahan Data)

Tabel 4. 39 Interpretasi Perbandingan Berpasangan


Alternatif dengan Kategori Jaminan & Klaim dan
Sub Kategori Pemecahan Masalah
Laimei Keiji Great Mountain Nanthong Bobot
Laimei Keiji 0.120 0.023 0.714 0.286
Great Mountain 0.840 0.163 0.048 0.350
Nanthong 0.040 0.814 0.238 0.364
Total 1.000
(Sumber: Pengolahan Data)

Kemudian melakukan perhitungan pengecekan Consistency Ratio (CR)

λmax = (8.33 × 0.286) + (6.143 × 0.350) + (4.2 x 0.364)


λmax = 2.382 + 2.15 + 1.529
λmax = 6.061

28
Untuk n = 3, maka nilai RI = 0.58

Karena CR > 0.1 → 2.639 > 0.1 maka hasilnya adalah tidak konsisten maka informasi
data perlu dilakukan validitas kembali.

4.1.1.3 Tabel hasil penilaian akhir pemilihan supplier berdasarkan perhitungan


bobot

Tabel 4. 40 Penilaian Akhir Pemilihan Supplier


Great
Bobot Laimei Nanthong
Mountain
Harga 0.055
Harga Murah 0.875 0.303 0.015 0.218 0.010 0.479 0.023
Metode
0.125 0.081 0.001 0.332 0.002 0.587 0.004
Pembayaran

Kualitas 0.729
Spesifikasi Sesuai
0.1 0.074 0.005 0.643 0.047 0.283 0.021
standar
Packaging &
0.9 0.120 0.079 0.621 0.408 0.258 0.169
Kuantiti Sesuai

Jaminan &
0.216
Klaim
TOTAL
Klaim Barang
0.875 0.120 0.023 0.597 0.113 0.282 0.053
Cacat
Pememcahan
0.125 0.286 0.008 0.350 0.009 0.364 0.010
Masalah 1.000
Jumlah 0.130 Jumlah 0.590 Jumlah 0.280
(Sumber: Pengolahan Data)

29
4.2.2 Metode Point Rating

Tabel 4. 41 Perhitungan Berdasarkan Rating


LAIMEI GREAT
NANTHONG
KEIJI MOUNTAIN
Kriteria Bobot
Ratin Scor Ratin Scor Ratin
Score
g e g e g
Harga 0,2 80 16 85 17 90 18
Kualitas 0,3 70 21 75 22,5 50 15
Jaminan & 0,25
75 18,75 60 15 80 20
Klaim
Kelengkapan 0,15
65 9,75 90 13,5 75 11,25
Dokumen
Waktu 0,1
90 9 50 5 70 7
Pengiriman
Total 1 74,5 73 71,25
(Sumber: Pengolahan Data)

30
4.2.3 Metode ABC Clasification

Tabel 4. 42 Kuantitas dan Harga Satuan Komoditas


Jenis Kuantitas
No Nama Produk Satuan Harga Satuan (pi)
Produk (Dt)
Sprei Single Full 120 x Alat Rumah
1 set 4000 Rp50.000,00
200 cm Tangga
Sprei Single Duo 120 x Alat Rumah
2 set 2500 Rp130.000,00
200 Tangga
Sprei Queen 160 x 200 Alat Rumah
3 set 3000 Rp70.000,00
cm Tangga
Sprei King Bantal 2 180 Alat Rumah
4 set 5000 Rp72.000,00
x 200 cm Tangga
Sprei King Bantal 4 180 Alat Rumah
5 set 2500 Rp82.000,00
x 200 cm Tangga
Sprei Komponen Bed
Alat Rumah
6 Cover King Rumbai set 400 Rp102.000,00
Tangga
Bantal 2
Bed Cover Single Full Alat Rumah
7 set 350 Rp170.000,00
120 x 200 cm Tangga
Sprei Komponen Bed
Alat Rumah
8 Cover King Rumbai set 300 Rp112.000,00
Tangga
Bantal 4
Alat Rumah
9 Bed Cover King set 750 Rp245.000,00
Tangga
Alat Rumah
10 Balmut set 200 Rp90.000,00
Tangga
(Sumber: Pengolahan Data)

31
Tabel 4. 43 Penyerapan Dana Komoditas

Kuantitas
%
Satuan

Nama Jenis % Jenis Harga Nilai Penyerapan Dana

(Dt)
No Penyerapan
Produk Produk Produk Satuan (pi) (Mi)
Dana (Pi)
Sprei Single Alat
1 Full 120 x set Rumah 20.94% 4000 Rp50.000,00 Rp200.000.000,00 12.13%
200 cm Tangga
Sprei Single Alat
2 Duo 120 x set Rumah 13.61% 2600 Rp130.000,00 Rp338.000.000,00 20.50%
200 Tangga
Sprei Alat
3 Queen 160 set Rumah 15.71% 3000 Rp70.000,00 Rp210.000.000,00 12.74%
x 200 cm Tangga
Sprei King
Alat
Bantal 2
4 set Rumah 26.18% 5000 Rp72.000,00 Rp360.000.000,00 21.84%
180 x 200
Tangga
cm
Sprei King
Alat
Bantal 4
5 set Rumah 13.09% 2500 Rp82.000,00 Rp205.000.000,00 12.43%
180 x 200
Tangga
cm
Sprei
Komponen
Alat
Bed Cover
6 set Rumah 2.09% 400 Rp102.000,00 Rp40.800.000,00 2.47%
King
Tangga
Rumbai
Bantal 2
7 Bed Cover set Alat 1.83% 350 Rp170.000,00 Rp59.500.000,00 3.61%
Single Full Rumah

32
120 x 200
Tangga
cm
Sprei
Komponen
Alat
Bed Cover
8 set Rumah 1.57% 300 Rp112.000,00 Rp33.600.000,00 2.04%
King
Tangga
Rumbai
Bantal 4
Alat
Bed Cover
9 set Rumah 3.93% 750 Rp245.000,00 Rp183.750.000,00 11.15%
King
Tangga
Alat
10 Balmut set Rumah 1.05% 200 Rp90.000,00 Rp18.000.000,00 1.09%
Tangga
Total 100.0 % 19100 Rp1.648.650.000,00 100%
(Sumber: Pengolahan Data)

Berikut ini merupakan contoh perhitungan untuk nilai pada tabel diatas, yaitu:

A. Menghitung jumlah penyerapan dana (Mi) untuk setiap jenis barang per tahun
(Mi)

Jadi, jumlah penyerapan dana untuk produk Sprei Single Full 120 adalah sebesar
Rp 200.000.000 per tahun.
(Rumus perhitungan tersebut berlaku untuk semua jenis produk)
B. Menghitung total penyerapan dana (M) dari setiap jenis produk

338.000.000 + … + … + 18.000.000
1.648.650.000
Jadi, total penyerapan dana dari semua jenis produk adalah sebesar
Rp1.648.650.000

C. Menghitung persentase jenis item (Ii)

33
Berdasarkan hasil perhitungan diatas, didapatkan persentase produk Sprei Single
Full 120 dari seluruh jenis produk sebesar 20.94 %
(Rumus perhitungan tersebut berlaku untuk semua jenis produk)

Tabel 4. 44 Persentase Penyerapan Dana


%
% Jenis
No Nama Produk Kumulatif Penyerapan Kumulatif Kategori
Produk
Dana (Pi)
Sprei King Bantal 2
1 26.18% 26.18% 21.84% 21.84% A
180 x 200 cm
Sprei Single Duo
2 13.61% 39.79% 20.50% 42.34% A
120 x 200
Sprei Queen 160 x
3 15.71% 55.50% 12.74% 55.08% B
200 cm
Sprei King Bantal 4
4 13.09% 68.59% 12.43% 67.51% B
180 x 200 cm
Sprei Single Full
5 20.94% 89.53% 12.13% 79.64% B
120 x 200 cm
6 Bed Cover King 3.93% 93.46% 11.15% 90.79% B
Bed Cover Single
7 1.83% 95.29% 3.61% 94.40% C
Full 120 x 200 cm
Sprei Komponen
8 Bed Cover King 2.09% 97.38% 2.47% 96.87% C
Rumbai Bantal 2
Sprei Komponen
9 Bed Cover King 1.57% 98.95% 2.04% 98.91% C
Rumbai Bantal 4
10 Balmut 1.05% 100.00% 1.09% 100.00% C
Total 100.00% 100.00%
(Sumber: Pengolahan Data)

34
Kategori A Penyerapan dana sekitar 80% dari seluruh modal inventori dan jumlah
jenis barangnya sekitar 20%

Kategori B Penyerapan dana sekitar 15% dari seluruh modal inventori dan jumlah
jenis barangnya sekitar 30%

Kategori C Penyerapan dana sekitar 5% dari seluruh modal inventori dan jumlah jenis
barangnya sekitar 50%.

Gambar 4. 2 Diagram Pareto


(Sumber: Pengumpulan Data)

BAB V

PEMBAHASAN

 Bobot kriteria rencana pemilihan supplier baru untuk PT Duta Pratama


Asiadengan metode Analytic Hierarchy Process menggunakan bobot relatif antar
kriteria dalam satu set perbandingan matriks. Kriteria-kriteria pemilihan supplier

35
baru untuk PT Duta Pratama Asia meliputi kriteria Harga, Kualitas dan Jaminan
dan Klaim. Untuk analisis bobot kriteria dan nilai performansi pemilihan supplier
baru dengan menggunakan program Expert Choice dapat dilihat pada tabel diatas.

 Pada tabel tersebut dapat dilihat bahwa kriteria kualitas memiliki bobot terbesar
yaitu0.729 disusul berturut-turut kriteria Jaminan & Klaim dengan bobot 0.216
dan terakhir kritera Hargadengan bobot 0.055. Hal inimenunjukkan bahwa para
responden dalam pemilihan supplier baru mengutamakan criteria kualitas sebagai
kriteria terpenting agar hasil produksi dari pabrik garmen tersebut bisa
menghasilkan produk yang berkualitas tinggi dan bisa membuat konsumen puas,.

 Kriteria jaminan & klaim menjadi kriteria kedua terpenting setelah kriteria
kualitasmenunjukkan bahwa para responden dalam memilih supplier baru
mengutamakan kondisikriteria Jaminan & klaim setelah kriteria kualitas. Jaminan
& klaim yang jelas dan baik dari supplier dapat membuat PT Duta Pratama Asia
merasa aman jiga ada hal hal atau promlem yang tidak diinginkan oleh PT Duta
Pratama Asia sehingga jika terjadi hal tersebut supplier bisa menjamin dan klaim
masalah tersebut sehingga tidak merugikan perusahaan.

 Kriteria terakhir yang dipertimbangkan dalam memilih supplier baru untuk PT


Duta Pratama Asiaadalah harga. Hal ini menunjukkan bahwa harga bukanlah hal
yang sangat dipertimbangkan bagi PT Duta Pratama Asia untuk memilih supplier
baru disbanding criteria yang lain, PT Duta Pratama Asia lebih memilih kualitas
menjadi pertimbangan utama dalam melilih supplier baru.

 Rencana pemilihan supplier baru dengan metode PR untuk PT Duta Pratama Asia
meliputi kriteria Harga, Kualitas, Jaminan & Klaim, Kelengkapan Dokumen dan
Waktu Pengiriman.

 Pada tabel tersebut dapat dilihat bahwa kriteria kualitas memiliki bobot terbesar
yaitu 0,3 disusul berturut-turut kriteria Jaminan & Klaim dengan bobot 0,25;

36
Harga dengan bobot 0,2; Kelengkapan dokumen dengan bobot 0,15 dan terakhir
kriteria waktu pengiriman dengan bobot 0,1.

 Dari kelima kriteria diatas didapat LAIMEI KEIJI mendapatkan score terbesar
yaitu dengan score 74,5 disusul dengan supplier GREAT MOUNTAIN sebesar 73
dan terkahir supplier NANTHONG sebesar 71,25.

Agar pengelolaan inventori PT Duta Pratama Asia menjadi maksimal yang pada
akhirnya agar penyerapan dana inventori nantinya bisa jadi rendah didapat
diklasifikasikan 10 item barang yang dimiliki tersebut dengan menggunakan
metode ABC dimana penyerapan tertinggi adalah Sprei Single Duo 120 x 200
sebesar 20.50% dan penyerapan dana terendah adalah Balmut sebesar 1.09%.

BAB VI

KESIMPULAN

1. Hasil penelitian atas rencana pemilihan supplier baru untuk PT. Duta Pratama Asia
dengan menggunakan metode AHP adalah sebagai berikut:

a. Kriteria-kriteria yang menjadi dasar penentuan pemilihan supplier baru untuk


PT. Duta Pratama Asia mencakup kriteria Harga, Kualitas dan Jaminan dan
Klaim dengan bobottertinggi adalah kriteria Kualitassebesar 0,725 dan bobot
terendah adalah kriteria Hargasebesar 0,055

b. Berdasarkan perhitungan nilai performansi, supplier Great Mountain


mendapatkan nilai terbesardiantara supplier lainnya yaitu sebesar0,722

37
2. Hasil penelitian atas rencana pemilihan supplier baru untuk PT. Duta Pratama
Asia dengan menggunakan metode PR adalah sebagai berikut:

a. Kriteria-kriteria yang menjadi dasar penentuan pemilihan supplier baru


untuk PT. Duta Pratama Asia mencakup kriteria Harga, Kualitas, Jaminan &
Klaim, Kelengkapan Dokumen, Dan Waktu Pengirimandengan bobot
tertinggi adalah kriteria Kualita sebesar 0,3 dan bobot terendah adalah
kriteria waktu pengiriman sebesar 0,1.

b. Berdasarkan perhitungan score, supplier LaimeiKeiji mendapatkan nilai


terbesardiantara supplier lainnya yaitu sebesar74,5

3. Hasil penelitian atas pengelolaan inventori untuk PT. Duta Pratama Asia dengan
menggunakan metode ABC adalah sebagai berikut:

a.Pengelolaan inventoriuntuk PT. Duta Pratama Asiadengan penyerapan dana


tertinggi adalah Sprei Single Duo 120 x 200 sebesar 20.50% dan penyerapan
dana terendah adalah Balmut sebesar 1.09%.

38