Anda di halaman 1dari 71

Masih Adakah Paru-Paru Dunia?

PONIRAN

2017
Riwayat Penulis

Nama lengkap penulis adalah Poniran,


lahir di Sei Pagar pada tanggal 07 Agustus
1997 merupakan anak ke tiga dari tiga
bersaudara dari pasangan Sukirman dan
Parni. Dan penulis merupakan salah satu
alumni terbaik yang dimiliki oleh SMA
Negeri 1 Perhentian Raja, Kampar. Dan di
SMA Negeri 1 Perhentian Raja selalu

3
mempunyai banyak sekali prestasi dengan
kegiatannya yang ia sukai yaitu menulis.
Penulis juga merupakan anggota pada
Gerakan Menulis Indonesia Balai Bahasa
Prop. Riau dan pernah menjadi juara 1
Menulis Cerpen Se-Indonesia. Dan prestasi di
tahun 2017 berhasil mendapatkan juara 2
pada Pekan Olahraga dan Seni di FISIP UR.
Saat ini, penulis sedang menyelesaikan studi
di Universitas Riau sebagai mahasiswa
jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, yang saat ini bergabung
di organisasi Alkamil FMIPA UR serta
Forum Penerima Bidikmisi Universitas Riau.
KATA PENGANTAR

Bersyukur kepada Allah karena berkat


karunia, rahmat, hidayah dan taufiq-Nya
penulis dapat menyelesaikan buku tentang
“Masih Adakah Paru-Paru Dunia?” Buku ini
membahas hutan yang ada di Provinsi
Sumatera Barat dan Kalimantan Timur. Buku
ini merupakan salah satu syarat untuk
memenuhi ujian mata kuliah Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan.

Banyak pihak yang telah membantu


dan membimbing penulis dalam penulisan
buku ini. Untuk itu dalam hal ini dengan
segala kerendahan hati penulis mengucapkan
terimakasih kepada :

i
1. Drs. H.T.Ariful Amri, MS selaku dosen
pengampu mata kuliah Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan.

2. Orang tua yang selalu memberi saran


kepada penulis serta selalu mendoakan
penulis untuk menjadi yang terbaik.

3. Sahabat penulis, Twin Alfansuri yang


merupakan mahasiswa ITB, Bandung. Selalu
memberi motivasi kepada penulis.

4. Semua pihak yang membantu dan terlibat


dalam penyusunan buku ini.

Penulis juga menyadari di dalam buku


ini masih terdapat kekurangan. Oleh karena
itu, penulis berharap adanya kritik dan saran
yang membangun. Semoga buku yang
sederhana ini dapat di pahami bagi siapapun
yang membacanya. Dan tentunya bisa untuk
berguna bagi penulis khusunya dan pembaca

ii
umumnya. Serta penulis mohon maaf apabila
terdapat kesalahan.

Pekanbaru, Oktober 2017

Penulis

iii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..........................................i


PENDAHULUAN ...............................................1
A. LATAR BELAKANG ................................1
B.TUJUAN ......................................................2
C. TARGET .....................................................3
TINJAUAN PUSTAKA ......................................5
A.PENGERTIAN.............................................5
B. INDAHNYA HUTAN SUMATERA
BARAT ............................................................6
C. JENIS HUTAN DI SUMATERA BARAT
...................................................................... 10
D. KANDUNGAN KARBON HUTAN
MANGROVE DI SUMATERA BARAT .... 24
E. STUDI KASUS PT. DUTA MAJU
TIMBER, SUMATERA BARAT ................. 28
SEPETAK PARU-PARU DUNIA DI RANAH
MINANG .......................................................... 52
DAFTAR PUSTAKA ....................................... 61

iii
iv
BAB 1

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Negara Indonesia merupakan salah
satu negara terbesar yang mempunyai luas
hutan 40% di dunia. Luas hutan Indonesia
yaitu sebesar 884.950 km², sekitar 46,46%
wilayah Indonesia merupakan kawasan
perhutanan. Namun, negara Indonesia bukan
merupakan negara yang memiliki hutan
terbesar di dunia Indonesia hanya menduduki
urutan ke-9 dalam peringkat negara dengan
hutan terluas di Dunia.

Kondisi hutan di Indonesia cukup


memprihatinkan pada abad ke-21. Hal ini
terbukti dengan maraknya eksploitasi besar-
besaran yang dilakukan beberapa pihak,
pembangunan Stadion, Pembangunan Jalan

1
Tol atau Bandar Udara yang menyebabkan
kondisi hutan yang ada di Indonesia semakin
berkurang.

Di dalam buku ini akan di bahas


mengenai kondisi hutan, jenis-jenis hutan
baik hutan primer, hutan sekunder dan hutan
tersier yang ada di wilayah Sumatera Barat
dan sebagian Kalimantan Timur. Buku ini
berjudul “Masih Adakah Paru-Paru Dunia?”.

B.TUJUAN
Buku ini dibuat penulis dengan
berbagai tujuan, diantaranya :

1. Untuk menjelaskan jenis-jenis hutan di


Sumatera Barat

2. Untuk mengetahui kondisi hutan yang ada


di Sumatera Barat

2
3. Untuk mengetahui pentingnya hutan bagi
dunia

4. Untuk mengetahui pelestarian hutan yang


baik dan benar

5. Untuk mengetahui pemanfaatan hutan


yang ada di Sumatera Barat

C. TARGET
Target-target ataupun sasaran yang
akan di bidik penulis dalam usaha merawat
hutan meliputi sebagai berikut :

1. Pemerintah dan jajarannya untuk membuat


regulasi yang baik dan benar tentang
keberadaan hutan di Sumatera Barat

2. Semua usia yang meliputi, anak-anak,


remaja dan orang tua.

3
BAB II

4
TINJAUAN PUSTAKA

A.PENGERTIAN
Hutan adalah suatu kawasan yang
dipenuhi dengan jutaan pohon dan tumbuh-
tumbuhan lainnya. Selain pepohonan dan
tumbuh-tumbuhan, di dalam hutan juga ada
terdapat berbagai hewan-hewan yang hidup
didalamnya baik hewan yang dilindungi
maupun hewan langka, seperti harimau
Sumatera, Badak Bercula Satu, Gajah, Orang
utan dan lain-lain. Salah satu fungsi hutan
yang sangat penting adalah sebagai paru-paru
bagi dunia, hal ini terjadi karena hutan yang
ada di Indonesia mampu untuk menyerap
yaitu banyak karbondioksida yang sangat
dapat membahayakan manusia serta dan
menghasilkan gas oksigen yang diperlukan
manusia. Fungsi-fungsi hutan yang ada di
Indonesia diantaranya adalah sebagai habitat
bagi berbagai flora dan fauna, sebagai tempat

5
penyimpanan air dan mengatur keseimbangan
air pada musim hujan dan musim kemarau
serta dapat mengendalikan bencana seperti
bencana banjir dan tanah longsor.

B. INDAHNYA HUTAN
SUMATERA BARAT
Keindahan alam yang ada di Sumatera
Barat memang tidak bisa untuk dipungkiri
lagi. Selain dari penduduknya yang ramah,
keindahan alam yang masih alami juga
menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan,
baik wisatawan lokal maupun wisatawan
mancanegara untuk mengunjungi Sumatera
Barat. Salah satu hutan yang bisa dijadikan
objek wisata adalah Lawang Adventure Park
atau Puncak Lawang. Puncak Lawang
terletak di Kabupaten Agam Sumatera Barat.
Dengan luas area kurang lebih 15 ha, 5 ha. di
antaranya efektif digunakan untuk kegiatan,

6
selebihnya adalah kawasan hutan sekunder.
“Lawang Park,” begitu sebutan lokasi ini,
dirilis sejak penghujung tahun 2009.

Gambar 2.1 Puncak Lawang yang


merupakan Hutan sekunder di Sumatera
Barat.

Sumber : Dinas Kebudayaan dan


Pariwisata Kota Padang

Hutan sekunder adalah hutan primer


yang ditebang untuk memenuhi kebutuhan
kayu oleh manusia atau dibuka untuk ladang,

7
atau terbuka karena banjir atau bencana alam
lain, kemudian secara alami terbentuk hutan
baru, yang belum mencapai klimaks seperti
hutan semula. Di Puncak Lawang sendiri,
termasuk hutan sekunder karena dengan
kondisi hutan yang masih alami dibangun
beberapa objek wisata dan tempat bermain
yang banyak mengundang wisatawan lokal
maupun wisatawan mancanegara, ada juga
dibangun area camping yang bisa dinikmati
untuk kalangan remaja dan anak-anak.

Dengan ketinggian rata-rata 1250


mdpl, dan suhu di Sumatera Barat yang
rendah, dihiasi dengan pemandangan Danau
Maninjau adalah ciri khas dari Puncak
Lawang yang telah mendunia. Siapapun yang
menikmati secara langsung akan berdecak
kagum dengan keindahannya yang luar biasa.
“Second place of swedia” demikian kata
sebagian turis mancanegara, karena dari

8
lokasi ini juga dapat dijadikan sebagai tempat
kegiatan olahraga paralayang yang telah
mendunia.

Gambar 2.2 Puncak Lawang sebagai


hutan sekunder dengan keindahan alam
yang asri dan indah.

Sumber : Dinas Kebudayaan dan


Pariwisata Kota Padang

9
C. JENIS HUTAN DI SUMATERA
BARAT
Persebaran hutan di Sumatera Barat
tergolong cukup heterogen. Artinya jenis
hutan yang terdapat di daerah ini bervariasi
tidak hanya satu jenis hutan saja. Banyak
jenis-jenis hutan tersebar merata di seluruh
wilayah Sumatera Barat. Dan semuanya
memiliki karakteristik dan jenis-jenis hutan
tersendiri. Oleh karena itu, Indonesia disebut
paru-paru dunia. Dimana seluruh dunia
bergantung pada hutan-hutan di Indonesia
yang menyuplai 60% oksigen di dunia. Dan
salah satu tempatnya ada di Sumatera Barat.
Sumatera Barat adalah salah satu provinsi di
Indonesia yang berada di pulau Sumatera
dengan jumlah penduduk sekitar 5,4 juta
jiwa. Luas wilayah kurang lebih 4,2 juta
hektar dimana 2,3 juta hektar berupa hutan
dan 0,1 juta hektar adalah lahan gambut.

10
Adapun jenis-jenis hutan di Sumatera
Barat antara lain :

1. Hutan Primer

Hutan primer seringkali merupakan


rumah bagi spesies-spesies tumbuhan dan
hewan yang langka, rentan atau terancam
kepunahan, yang menjadikan hutan ini
penting secara ekologi. Meski demikian,
keanekaragaman hayati di hutan primer bisa
lebih tinggi atau lebih rendah jika
dibandingkan dengan hutan sekunder,
bergantung pada berbagai kondisi lokal, dan
lingkungan setempat, serta letal geografisnya.
Penebangan hutan primer adalah isu yang
penting di banyak bagian dari dunia.
Umumnya karakter itu mencakup adanya
pohon-pohon tua yang sudah besar dan
sangat besar.

11
Taman Raya Bung Hatta (TRBH)
merupakan suatu kawasan cagar alam hutan
primer Sumatera Barat yang berfungsi
melestarikan plasma nutfah, perlindungan
sumber daya alam, pendidikan dan penelitian,
pembinaan cinta alam, dan sekaligus sebagai
tempat rekreasi. TRBH merupakan bagian
dari Taman Nasional Kerinci Seblat.

Gambar 2.3 Kawasan Hutan Raya


Muhammad Hatta yang merupakan hutan
Primer di Sumatera Barat.

12
Sumber : Dinas Kebudayaan dan
Pariwisata Kota Padang

Luas keseluruhan kawasan mencapai


70 ribu hektare. Secara umum kawasan ini
merupakan kawasan pegunungan dan
perbukitan yang berada pada ketinggian 300-
700 mdpl serta merupakan bagian dari jajaran
Bukit Barisan yang membentang dari utara ke
selatan. Dibandingkan dengan pusat Kota
Padang, suhu di kawasan TRBH cukup sejuk
bekisar antara 19-26˚C. Sedangkan curah
hujan rata-rata di kawasan ini cukup tinggi
mencapai 6.000-7.000 mm/tahun dengan
kelembaban udara berkisar antara 52-89%.

Arah angin pada bulan April-Mei


umumnya mengarah ke timur dan bertiup dari
arah Barat dan Barat Laut. Sedangkan pada
bulan Juni-September, angin bertiup dari

13
Timur atau Tenggara ke arah Barat. Kawasan
TRBH merupakan kawasan perembesan air
tanah bagi Kota Padang. Tanah penutup yang
mendominasi terdiri atas bongkahan batu
andesit, pasir lanau, dan pasir lempung yang
mengindikasikan bahwa terdapat perembesan
air berlangsung lambat hingga sedang,
terutama di bagian utara dan selatan area
TRBH.

Di dalam kawasan TRBH mengalir 14


buah sungai, beberapa di antaranya bermuara
ke Padang, seperti Batang Arau, Batang
Kuranji, dan Batang Air Dingin. TRBH
merupakan sebuah surga di Ranah Minang
tropis yang menjanjikan dengan bentuk
bentang alamnya yang bergelombang dan
curam ditumbuhi oleh beraneka ragam jenis
tanaman tropis yang masih asli dan dihuni
oleh ratusan jenis-jenis binatang khas Pulau
Sumatera.

14
Kondisi yang unik menjadikan
kawasan ini sebagai medan jelajah dan
pengamatan satwa liar. Di kawasan ini
terdapat 352 jenis flora dan 170 jenis fauna
yang dilindungi.

Gambar 2.4 Tringgiling adalah salah satu


hewan langka yang terdapat di TRBH
Sumatera Barat.

Sumber : www.antaranews.com

15
Daya tarik utama dari taman ini
adalah bunga raksasa, Rafflesia arnoldi,
bunga terbesar di dunia. Dinamai Rafflesia
arnoldi sesuai dengan nama Letnan Gubernur
Pemerintahan Inggris, Sir Thomas Stamford
Raffles yang pernah tinggal di Bengkulu
dalam waktu yang lama, dan ahli botani
Joseph Arnold yang pertama kali menemukan
bunga di lereng pegunungan Bukit Barisan.

Bunga ini adalah suatu keajaiban


dunia dan termasuk langka yang memerlukan
waktu hingga 10 bulan untuk berkembang
dan hanya mekar selama sekitar 15 hari.
Ketika mekar secara penuh, memiliki
diameter satu meter. Tanaman ini tidak
memiliki akar dan batang, tetapi terdiri atas
benang seperti tumbuhan pada tanaman
merambat. Bunga-bunga ini biasanya mekar
antara bulan Juli dan September. Bunga ini
terkenal bukan hanya ukuran besarnya, tapi

16
karena baunya yang busuk. Selain itu di
Taman ini juga ditemukan adanya pohon
Sirsak dan Kweni.

Gambar 2.5 Bunga Bangkai yang


merupakan spesies langka dan terdapat di
TRBH.

Sumber : www.antaranews.com

2.Hutan Sekunder

Adapun jenis hutan selain hutan


primer yang ada di Sumatera Barat adalah

17
jenis hutan sekunder. Hutan sekunder adalah
hutan primer yang ditebang untuk memenuhi
kebutuhan kayu oleh manusia atau dibuka
untuk ladang, atau terbuka karena banjir atau
bencana alam lain, kemudian secara alami
terbentuk hutan baru, yang belum mencapai
klimaks seperti hutan semula. Hutan-hutan
yang terdiri dari jenis-jenis pohon lokal
biasanya didefinisikan sebagai hutan atau
hutan alami, tanpa mempedulikan apakah
hutan tersebut merupakan hutan primer,
hutan bekas tebangan, atau hutan hasil
regenerasi.

Contoh hutan sekunder selain Puncak


Lawang adalah Taman Nasional Siberut
Sumatera Barat. Taman Nasional Siberut
terletak di Pulau Siberut, Kabupaten
Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.
Taman Nasional dengan luas 190.500 hektare
ini ditetapkan melalui Surat Keputusan

18
Menteri Kehutanan Nomor 407/Kpts-II/1993.
Sebelumnya tahun 1981 pulau ini sudah
ditetapkan sebagai cagar biosfer melalui
projek Man and Biosphere UNESCO.

Gambar 2.6 Pulau Siberut termasuk


Hutan Hujan Sekunder yang mempunyai
curah hujan 4000 mm/tahun.

Sumber : Dinas Kebudayaan dan


Pariwisata Kota Padang

Di Pulau Siberut tercatat antara lain


896 spesies tumbuhan berkayu, 31 spesies

19
mamalia, dan 134 spesies burung. Bilou
merupakan jenis primata yang paling terkenal
di Mentawai. Secara anatomis termasuk jenis
ungko tertua yang masih hidup dengan bulu-
bulu yang jarang berwarna hitam gelap dan
selaput antara jari kedua dan ketiga. Pekik
Bilou paling sederhana diantara pekikan
ungko, lebih panjang dan bervariasi serta
tidak dilakukan oleh ungko lainnya. Bilou
hidup berkelompok yang terdiri dari induk
jantan dan betina dengan anak-anaknya yang
belum dewasa. Hewan Bilou termasuk hewan
monogami dengan satu keluarga rata-rata tiga
sampai empat individu, sedangkan jumlah
anggotanya dalam satu kelompok Bilou dapat
mencapai 11 individu.

20
Gambar 2.7 Bilou spesies endemik yang
terdapat di hutan Siberut.

Sumber : Dinas Kebudayaan dan


Pariwisata Kota Padang

Hutan hujan menyelimuti hampir 65


% Pulau Siberut. Hutan ini merupakan istana
bagi kehidupan flora dan fauna dengan
menyediakan sumber makanan dan tempat
tinggal serta hutan ini juga berfungsi sebagai
pendukung kehidupan tradisional masyarakat

21
Mentawai terutama sebagai obat-obatan
tradiosonal.

Gambar 2.8 Flora yang hidup di Taman


Nasional Siberut.

Sumber : LIPI

22
Gambar 2.9 Peta Kawasan Indonesia.

Sumber : www.wordpress.com

Selain hutan primer dan hutan


sekunder yang disebutkan diatas. Terdapat
beberapa lahan yang dijadikan kawasan hutan
diantaranya sebagai hutan produksi, hutan
sebagai objek wisata dan hutan sebagai areal
perkebunan yang banyak menghasilkan
pemasukan untuk anggaran bagi Provinsi
Sumatera Barat.

23
Gambar 2.10 Penggunaan Lahan di
Provinsi Sumatera Barat.

Sumber : SLHD Provinsi Sumatera Barat

D. KANDUNGAN KARBON HUTAN


MANGROVE DI SUMATERA BARAT
Terdapat juga hutan magrove yang
sangat indah dan asri. Hutan mangrove
merupakan ekosistem hutan dengan faktor air
dengan salinitas tinggi di pantai dan sungai
dengan kondisi tanah berlumpur. Ekosistem
ini mempunyai fungsi fisik menjaga
kestabilan pantai, penyerap polutan atau
polusi udara, dan sebagai tempat tinggal
hewan atau habitat burung sejenisnya.
Kawasan hutan mangrove selain berfungsi
secara fisik sebagai penahan abrasi pantai,
sebagai fungsi biologinya mangrove menjadi

24
penyedia bahan makanan bagi kehidupan
manusia terutama ikan, udang, kerang dan
kepiting, serta sumber enerji bagi kehidupan
di pantai seperti plankton. Terdapat 38 jenis
mangrove yang tumbuh di Indonesia, di
antaranya yaitu marga atau jenid Rhizophora,
Bruguiera, Avicennia, Sonneratia, Xylocar-
pus, Barringtonia, Luminitzera, dan Ce-riops.
Secara ekologis pemanfaatan hutan mangrove
di daerah pantai yang tidak dikelola dengan
baik akan menurunkan fungsi dari hutan
mangrove itu sendiri yang berdampak negatif
pada potensi biota dan fungsi ekosistem
hutan lainnya sebagai habitat.

Ekosistem mangrove sebagaimana


ekosistem hutan lainnya memiliki peran
sebagai penyerap (rosot) karbondioksida
(CO2) dari udara. Menurut International

Panel on Climate Change/IPCC (2003)


sampai akhir tahun 1980 emisi karbon di

25
dunia adalah sebesar 117±35 G ton C (82-152
G ton C), akibat pembakaran fosil berupa
bahan bakar minyak dan batu-bara, alih
fungsi hutan, dan pembakaran hutan. Untuk
mengatasi masalah tersebut peran hutan
sebagai penyerap CO2 harus ditingkatkan

melalui sistem pengelolaan hutan alam dan


hutan tanaman yang sinergis dengan fungsi
sosial dan nilai ekonomi hutan. Rosot
karbondioksida berhubungan erat dengan
biomasa tegakan. Jumlah biomasa suatu
kawasan diperoleh dari produksi dan ke-
rapatan biomasa yang diduga dari pengu-
kuran diameter, tinggi, berat jenis, dan
kepadatan setiap jenis pohon.

Biomasa dan rosot karbon pada hutan


tropis merupakan jasa hutan di luar potensi
biofisik lainnya, di mana potensi biomasa
hutan yang besar adalah menyerap dan
penyim-pan karbon guna pengurangan kadar

26
CO2 di udara. Manfaat langsung dari pengelo-

laan hutan berupa hasil kayu secara op-timal


hanya 4,1% sedangkan fungsi op-timal dalam
penyerapan karbon bisa mencapai angka
77,9% (Bismark, 2008).

Gambar 3.0 Kondisi Hutan Magrove di


Sumatera Barat.

Sumber : Jurnal Nasional, 2008.

Biomasa dapat dibedakan ke dalam


dua kategori, yaitu biomasa di atas tanah
(batang, cabang, ranting, daun, bunga dan

27
buah) dan biomasa di dalam tanah (akar).
Perlu dari awal perencanaan perlindungan
kawasan mangrove di Pulau Siberut yang
intensif mengingat tingkat ke-suburan tanah
relatif rendah, dengan nilai kerapatan pohon
rendah yang memungkinkan kawasan ini
sangat rentan terhadap kerusakan. Dengan
demikian fungsi dari hutan magrove sebagai
ekosistem dan jasa lingkungannya yang
sangat penting sebagai bagian-bagian dari
ekosistem cagar biosfer tetap terlindungi.

E. STUDI KASUS PT. DUTA MAJU


TIMBER, SUMATERA BARAT
Hutan tropis yang terdapat di dataran
rendah merupakan salah satu tipe ekosistem
hutan yang mendominasi sebagian besar
wilayah daratan di Sumatera. Hutan dataran
rendah Sumatera memiliki kekayaan hayati
yang tinggi. Hutan tropis dataran rendah
memiliki peranan penting dan sangat baik

28
sebagai sumber kayu serta cadangan plasma
nutfah, sebagai sumber bahan obat-obatan
dan juga sebagai penyedia jasa lingkungan
seperti pengatur sistem tata air, pencegah
erosi, pengontrol pola iklim dan penyimpan
karbon.
Hutan primer yang ada pada dataran
rendah di Siberut, Sumatera Barat memiliki
potensi biomassa tumbuhan sebesar 131,92
ton/ha. Pemanenan kayu secara besar-besaran
banyak dilakukan pada hutan tropis dataran
rendah yang ada di Sumatera Barat karena
sebagian besar pohon berukuran besar dan
kebanyakan bernilai ekonomis tinggi. Selain
itu, hutan dataran rendah juga memiliki tanah
yang juga relatif subur yang menyebabkan
daerah tersebut banyak dikonversi menjadi
areal pertanian dan perkebunan. Aktivitas
konversi hutan menjadi areal penggunaan lain
menyebabkan luas tutupan hutan tropis

29
Indonesia mengalami penurunan sebesar 9,3
% pada periode tahun 2000 sampai 2010.
Dan tingginya berbagai tingkat ancaman-
ancaman yang ada terhadap hutan dataran
rendah ini, menyebabkan diperlukan upaya
konservasi yang baik dan dilakukan secara
terus menerus. Meningkatkan nilai hutan
melalui pemanfaatan jasa lingkungan
dianggap menjadi salah satu cara untuk
melindungi hutan dataran rendah dari
kerusakan. Perdagangan karbon menjadi
salah satu alternatif yang dapat digunakan
untuk mempertinggi nilai jasa lingkungan
hutan dataran rendah. Perluasan pasar karbon
ke arah skema REDD+ membutuhkan dasar
ilmiah yang kuat dan data akurat terkait
jumlah karbon tersimpan di dalam hutan
melalui kegiatan kuantifikasi simpanan
karbon hutan. Belum tersedianya data dan
informasi secara lengkap dan terperinci

30
tentang kandungan karbon hutan di Indonesia
menjadi salah satu kendala bagi Pemerintah
Indonesia dalam menerapkan kebijakan
alternatif dalam upaya meningkatkan nilai
jasa lingkunganhutan melalui perdagangan
karbon (Departemen Kehutanan, 2008).
Berdasarkan data terhadap kekayaan
jenis pohon di kawasan hutan Pinang-Pinang
ditemukan sebanyak 852 individu yang terdiri
dari155 jenis dan 45 famili. Komposisi jenis
vegetasi pada lokasi di Sumatera Barat yang
meliputi kerapatan relatif, frekuensi relatif,
dominansi relatif dan indeks nilai penting.
Hutan Pinang-Pinang memiliki potensi besar
sebagai penyerap dan penyimpan karbon.
Kelestarian hutan akan tetap terjaga secara
alami karena memiliki keanekaragaman jenis
yang tinggi dan didominasi oleh pohon
berdiameter kecil (< 20 cm).

31
Pohon-pohon yang berdiameter kecil
tersebut akan memberikan kontribusi besar
terhadap peningkatan cadangan karbon di
masa mendatang. Peningkatan dari cadangan
karbon dapat dilakukan melalui penambahan
cadangan pohon pada hutan yang ada.
Aktivitas penanaman dan pemeliharaan
pohon merupakan cara yang paling mudah
untuk meningkatkan cadangan karbon karena
pohon mampu menyerap karbon dan
menyimpannya sebagai biomasa dalam
batang. Pengelolaan kawasan hutan Pinang-
Pinang dengan baik akan berpotensi untuk
meningkatkan Pengelolaan kawasan hutan
Pinang-Pinang dengan baik akan berpotensi
untuk meningkatkan kemampuan hutan
dalam menyerap dan menyimpan karbon.
Perlindungan hutan Pinang-Pinang
terhadap kerusakan yang diakibatkan oleh
aktivitas manusia berupa penebangan pohon

32
atau konversi hutan menjadi kawasan
perkebunan, pertanian dan pemukiman perlu
dilakukan. Konversi hutan menjadi area
penggunaan lain telah terbukti dapat
berdampak pada penurunan cadangan karbon
di suatu daerah. Sebagai contoh, konversi
hutan rawa gambut primer menjadi hutan
tanaman industri untuk bahan pembuatan
kertas (pulp) akan menurunkan cadangan
karbon sekitar 5,3 juta ton C dan konversi
hutan rawa gambut sekunder menjadi hutan
tanaman industri untuk bahan pembuatan
kertas (pulp) akan menurunkan sekitar 3,13
juta ton karbon.
Dalam kondisi krisis multidimensi
yang berkepanjangan yang dimulai sejak
tahun 1998 yang disertai dengan euforia
kebebasan yang tidak terkendali, dan
pertumbuhan ekonomi yang negatif telah
menyebabkan akan meningkatnya jumlah

33
pengangguran dan proporsi masyarakat
miskin yang demikian pesat yang pada
akhirnya telah mendorong masyarakat untuk
mencari solusi instan dengan cara-cara yang
kurang bijaksana dan bahkan ilegal.
Adanya perubahan kewenangan
pemerintah pusat dan daerah yang cukup
besar dan tidak disertai dengan persiapan
kelembagaan yang memadai dan telah terjadi
menyebabkan pemerintah kehilangan kontrol
di bidang pengawasan hutan. Kondisi ini
telah mengakselerasi laju degradasi hutan dan
deforestasi baik karena adanya penebangan
liar (illegal loging), maupun perambahan
hutan (forest encroachment) dengan cara
tebang-bakar (slash and burning) untuk
dijadikan lahan-lahan pertanian.

Kondisi ini juga akan diperparah oleh


meningkatnya pengangguran (unemployment)
dan tingkat kemiskinan (poverty level) . Pada

34
tahun 2002, diperkirakan ada terdapat 25 juta
angkatan kerja aktif (usia 20~64 tahun) yang
menganggur dan terdapat 65 juta penduduk
berpendapatan rendah yang sebagian besar
kerja di sector kehutanan dan juga pertanian.
Kebijakan pengelolaan hutan oleh Unit
Manajemen Hak Pengusahaan Hutan (UM
HPH) sebagai satuan unit pengelola hutan
alam produksi termasuk yang memberikan
kontribusi besar terhadap baik buruknya
potret kondisi hutan hujan tropis saat ini,
disamping faktor-faktor ekonomi sosial
budaya masyarakat sekitar hutan dan
kebijakan-kebijakan pemerintah pusat dan
daerah. Berdasarkan model terpilih maka
dapat diketahui bahwa peubah-peubah yang
sangat mempengaruhi terjadinya degradasi
hutan dan deforestasi perubahan menjadi
tutupan. Berdasarkan koefisien regresi dari
model tersebut dan dapat diketahui bahwa

35
semakin tua umur HBT maka peluangnya
semakin kecil. Ini berarti bahwa peluang
terjadinya perubahan tutupan terjadi pada
lokasi hutan bekas tebangan yang relatif baru.
Hal ini juga sangat terkait dengan kondisi
aksesibilitas di areal tersebut yang masih
cukup baik, dimana keadaan sarana-prasarana
angkutan. kayu masih relatif baik. Pada HBT
yang berumur lama, aksesibilitasnya sangat
rendah karena kondisi jalannya yang tidak
terpelihara dan sebagian besar telah rusak
karena erosi maupun longsor (jalan utama
dan jalan cabang umumnya tidak diperkeras
secara permanen; dan jembatan serta gorong-
gorong terbuat dari kayu yang cepat lapuk).
Sebagaimana diketahui bahwa, HBT
yan masih baru cenderung masih mempunyai
kondisi jalan yang relatif masih mudah
digunakan untuk mengtangkut kayu-kayu
secara illegal. Pada model terpilih juga

36
diketahui bahwa peluang yang tinggi terjadi
wilayah-wilayah yang dekat dengan pusat-
pusat permukiman atau perkampungan. Di
lokasi, peluang terjadinya perubahan hutan
baik karena penebangan resmi maupun tidak
(illegal logging) juga dipengaruhi oleh jarak
dari jalan raya dan sungai. Pada penelitian
ini, ditemukan bahwa perubahan tutupan
lahan terjadi pada daerah-daerah yang jauh
dari jalan (umum) dan jauh dari sungai.
Sebagaimana analisis, lokasi perusahaan
DMT relatif jauh dari jalan umum. Demikian
pula sungai. Di wilayah studi, angkutan kayu
umumnya menggunakan angkutan darat, oleh
karena topografi wilayah yang cenderung
bertopografi berat. Dan Jika di perhatikan
berdasarkan koefisien regresinya maka jarak
dari pusat-pusat perkampungan mempunyai
pengaruh tertinggi, selanjutnya jarak dari
jalan dan jarak dari sungai.

37
Gambar 3.1 Kondisi Jembatan di PT. Duta
Maju Timber, Sumatera Barat.
Sumber : Jurnal Nasional
Beberapa penyebab perubahan yang
ada di sekita PT. Duta Maju Timber antara
lain :
a) Peletakan batas-batas RKT tidak jelas dan
sebagian ada pada areal-areal yang telah
ditebang (HBT).
b) Tidak adanya pemeliharaan batas areal
sehingga ada terdapat kemungkinan
kesalahan peletakan batas-batas RKT yang
baru.

38
c) Kebiasaan penduduk untuk melakukan
pembukaan lahan-lahan pertanian di hutan
bekas tebangan dengan cara pembakaran
(slash and burning).
d) Intensitas perladangan pembukaan lahan
untuk pertanian semakin tinggi karena adanya
aksesibilitas yang tinggi
e) Pengamanan hutan oleh pihak manajemen
perusahaan sangat rendah demikian pula
keterlibatan masyarakat lokal sangat rendah
dan umumnya beranggapan bahwa hutan
milik siapa saja.
f) Keterlibatan masyarakat sebagai karyawan
sangat rendah sehingga menumbuhkan
kecemburuan sosial terhadap penduduk
pendatang
g) Partisipasi masyarakatat dalam
menentukan batas-batas areal dan
pengelolaan sumberdaya hutan sangat rendah

39
(tata cara dan batas partisipatif yang tidak
diimplementasikan).
h) Tidak ada kejelasan batas antara wilayah
adat dan batas HPH .
i) Tidak adanya hutan kemasyarakatan
menyebabkan masyarakat yang hidupnya
bergantung pada hutan melakukan
pelanggaran.
j) Kebutuhan masyarakat akan hasil hutan
kayu dan non-kayu (rotan)
k) Maraknya jumlah industri-industri
penggergajian kecil (skala home industry)
yang memicu penebangan hutan.
i) Lokasi penebangan hutan (realisasi RKT)
umumnya menjadi pusat-pusat aktivitas
ekonomi (kebutuhan masyarakat lebih tinggi
sehingga memicu masyarakat untuk
menempuh jalan “pintas” yang salah (illegal
logging)

40
F. HUTAN DAN TANAMAN OBAT
Indonesia berdasarkan fakta alamnya

sepatutnya dijuluki sebagai negara maritim

dan negara hutan tropis, diakui dunia sebagai

komunitas dan habitat yang paling kaya akan

keanekaragaman hayatinya, terdapat sekitar

25.000 spesies tumbuhan berbunga, jumlah

yang melebihi di daerah-daerah tropika

lainnya di dunia seperti Amerika Selatan dan

Afrika Barat, antara lain keanekaragaman

spesies tumbuhan obat. Berdasarkan catatan

WHO, IUCN dan WWF lebih dari 20.000

spesies tumbuhan obat yang digunakan oleh

80 % penduduk seluruh dunia.

Sampai tahun 2001 Laboratorium

Konservasi Tumbuhan, Fakultas Kehutanan

41
IPB telah mendata dari berbagai laporan

penelitian dan literatur tidak kurang dari 2039

spesies tumbuhan obat yang berasal dari

hutan Indonesia. Setiap tipe ekosistem hutan

tropika di Indonesia merupakan pabrik

keanekaragaman hayati tumbuhan obat,

terbentuk secara evolusi dengan waktu yang

sangat panjang, termasuk telah berinteraksi

dengan sosio-budaya masyarakat lokalnya.

Populasi tumbuhan obat yang tumbuh


secara alami di masing-masing tipe ekosistem
hutan merupakan suatu unit terkecil dari
pabrik alami yang melakukan dan pada
proses-proses metabolisme sekunder yang
menghasilkan beranekaragam bahan bioaktif
yang khas, yang sebagian besar tidak mudah
dan tidak murah untuk ditiru oleh manusia.

42
Hutan sebagai pendukung kesehatan
hidup manusia yang bernilai tinggi, baru
disadari saat ini setelah hutan tropika banyak
mengalami kerusakan dan kepunahan. Saat
ini ekosistem hutan tropika alam Indonesia
yang masih tersisa ada dalam bentuk
kawasan-kawasan hutan konservasi, terutama
di kawasan taman nasional – taman nasional
dan hutan lindung. Namun demikian hutan-
hutan produksi ke depan harus dilihat sebagai
penghasil multi-produk, baik kayu maupun
non-kayu harus dikelola totalitas dengan
pendekatan multi-sistem silvikultur.
Sudah turun temurun berbagai etnis
(suku asli) yang hidup di dalam dan sekitar
hutan di seluruh wilayah Nusantara, dari
Sabang sampai Merauke memanfaatkan
berbagai spesies tumbuhan dari hutan untuk
memelihara kesehatan serta pengobatan dari
berbagai macam penyakit-penyakit. Berbagai

43
penelitian etnofitomedika-etnobotani yang
dilakukan oleh para peneliti Indonesia telah
diketahui, paling tidak ada 78 spesies
tumbuhan obat yang digunakan oleh 34 etnis
untuk mengobati penyakit malaria, 133
spesies tumbuhan obat untuk mengobati
penyakit demam oleh 30 etnis, 110 spesies
tumbuhan obat untuk mengobati penyakit
gangguan pencernaan oleh 30 etnis dan 98
spesies tumbuhan obat digunakan untuk
mengobati penyakit kulit oleh 27 etnis.

Hutan alam tropika Indonesia dan


budaya, pengetahuan tradisional atau kearifan
lokal berbagai etnis yang hidup dan sudah
bertungkus lumus dengan ekosistem hutan
merupakan aset bangsa yang tak terhingga
nilainya bagi pembangunan serta kesehatan
bangsa. Banyak pengetahuan tradisional
tentang penggunaan tumbuhan obat dari
berbagai etnis telah dikembangkan oleh

44
industri jamu dan farmasi menjadi produk
jamu

Secara umum dapat diketahui bahwa


tidak kurang 82% dari total spesies tumbuhan
obat hidup di ekosistem hutan tropika dataran
rendah pada ketinggian di bawah 1000 meter
dari permukaan laut. Saat ini ekosistem hutan
dataran rendah adalah kawasan hutan yang
paling banyak rusak dan punah karena
berbagai kegiatan manusia baik secara legal
maupun tak legal. Berbagai ekosistem hutan
dataran rendah, antara lain: tipe ekosistem
hutan pantai, tipe hutan mangrove/payau, tipe
hutan rawa, tipe hutan rawa gambut, tipe
hutan hujan dataran rendah, tipe hutan musim
bawah, tipe hutan kerangas, tipe hutan
savana, tipe hutan pada tanah kapur, tipe
hutan pada batuan ultra basa, tipe hutan tepi
sungai dan lain-lain. Masing-masing tipe
ekosistem hutan tropika Indonesia merupakan

45
wujud proses evolusi, interaksi yang
kompleks dan teratur dari komponen tanah,
iklim (terutama cahaya, curah hujan dan
suhu), udara dan organisme termasuk sosio-
budaya manusia untuk mendukung kehidupan
keanekaragaman hayati, antara lain berbagai
spesies tumbuhan obat.

Berdasarkan kelompok familinya,


spesies-spesies tumbuhan obat yang ada
dapat dikelompokkan kedalam 203 macam
famili, dimana jumlah spesies tumbuhan obat
yang terbanyak termasuk dalam famili
fabaceae, yaitu sebanyak 110 spesies. Secara
umum terdapat 22 macam famili yang
memiliki spesies tumbuhan obat lebih dari
20, sedangkan 181 famili lainnya memiliki
jumlah spesies tumbuhan obat yang kurang
dari 20.

Salah satu spesies tumbuhan obat


penting yang termasuk famili Fabaceae

46
adalah spesies kedawung (Parkia timoriana
(DC.) Merr.). Spesies ini merupakan
tumbuhan obat yang strategis dan penting
bagi pembangunan kesehatan masyarakat dan
bangsa. Pohon ini terutama bijinya berkhasiat
untuk memelihara kesehatan pencernaan
masyarakat dan berarti sekaligus dapat
membantu mencegah agar masyarakat
terhindar dari penyakit-penyakit lainnya,
karena awal dari semua penyakit adalah
bermula dari proses pencernaan yang
terganggu. Pohon obat spesies Kedawung
sudah lama dikenal dan digunakan oleh
masyarakat dari etnis Jawa dan etnis Dayak
sebagai obat anti kembung dan penyakit
lambung lainnya.

Tipe ekosistem hutan hujan dataran


rendah. Hutan ini terdapat pada ketinggian 0
– 1000 mdpl. paling luas di Indonesia dan
mempunyai keanekaragaman hayati yang

47
paling tinggi, terdapat di wilayah beriklim
basah, terutama di Sumatera dan Kalimantan.
Contoh spesies tumbuhan obat yang hidup di
tipe ini adalah pasak bumi (Eurycoma
longifolia Jack.), akar kuning (Arcangelisia
flava Merr.), kamper (Dryobalanops
aromatica Gaertn f.), kepayang (Scaphium
macropodum Beumee), tabat barito (Ficus
deltoidea Jack.), kemiri (Aleurites moluccana
Wild.), kedawung (Parkia timoriana (DC)
Merr.), gaharu (Aquilaria malaccensis
Lamk.), kemaitan (Lunasia amara Blanco)
dan lain-lain.

48
Gambar 3.2 Tumbuhan Pasak Bumi yang
bisa dijadikan obat.

Sumber : www.google.com

Tipe ekosistem hutan pantai. Hutan


ini terdapat di wilayah pantai, tanah kering
berpasir, berbatu dan tanah regosol pasir,
berada di atas garis pasang tertinggi, terutama
ditemukan di Sumatera, Jawa, Bali dan
Sulawesi. Contoh spesies tumbuhan obat
yang hidup di tipe ekosistem ini bintangur
(Calphyllum inophyllum L.), keben

49
(Barringtonia asiatica Kurz), waru (Hibiscus
tiliaceus L.), ketapang (Terminalia catappa
L) dan lain-lain.
Tipe ekosistem hutan mangrove. Hutan ini
terdapat di pantai dan tepian sungai
berlumpur atau sedikit berpasir, dipengaruhi
pasang surut air laut, tidak terkena ombak
keras, tanah aluvial payau, terutama
ditemukan di Sumatera.

Dilihat dari segi habitusnya, spesies-


spesies tumbuhan obat yang terdapat di
berbagai formasi hutan dapat dikelompokkan
kedalam 7 (tujuh) macam, yaitu habitus
bambu, herba, liana, pemanjat, perdu, pohon
dan semak. Dari ketujuh habitus ini, spesies
tumbuhan obat yang termasuk kedalam
habitus pohon mempunyai jumlah spesies dan
prosentase yang lebih tinggi dibandingkan
habitus lainnya, yaitu sebanyak 717 spesies
(40,58%)

50
Taman Nasional sebagai bank plasma
nutfah dari tumbuhan obat yang ada di
Indonesia Berdasarkan hasil inventarisasi
potensi keanekaragaman spesies tumbuhan
obat di berbagai kawasan hutan konservasi
taman nasional di Indonesia, menunjukkan
bahwa setiap unit kawasan hutan taman
nasional ditemukan berbagai spesies-spesies
tumbuhan obat yang dapat mengobati 25
kelompok penyakit yang diderita masyarakat.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa setiap
kawasan hutan alam tropika pada setiap
tempat menyediakan bahan baku obat untuk
berbagai kelompok penyakit.

51
BAB III

SEPETAK PARU-PARU DUNIA DI


RANAH MINANG

Luas wilayah Provinsi Sumatera Barat


adalah ± 4.228.730 Ha seluas ± 2.600.286 Ha
(61,48 %) merupakan Kawasan Hutan yang
terdiri dari :

1. Hutan Suaka Alam (termasuk TNKS)


seluas ± 846.175 Ha
2. Hutan Lindung (HL) ± 910.533 Ha
3. Hutan Produksi Terbatas (HPT)
seluas ± 247.385 Ha
4. Hutan Produksi (HP) seluas ±
434.538 Ha
5. Hutan Produksi Konversi (HPK)
seluas ± 161.655 Ha

52
6. Areal Pengguaan Lain (APL) seluas
1.628.444 Ha

Kegiatan pengelolaan hutan selama


ini belum memberikan hasil yang optimal.
Hal ini terjadi dikarenakan pengelolaan hutan
produksi masih menitikberatkan hasil hutan
kayu, sementara yang menyangkut kegiatan
pengeloan hutan lestari seperti pengelolaan
DAS, perlindungan hutan, menjaga keawetan
keanekaragaman jenis, hasil hutan non kayu
dan jasa lingkungan serta tanaman obat-
obatan belum memperoleh perhatian yang
seimbang.

Laju kerusakan hutan alam tropika di


Indonesia, direfleksikan dari angka kerusakan
hutan alam di Indonesia mencapai 59,63 juta
hektar. Kawasan hutan alam yang rusak
terdiri dari hutan konservasi mencapai 4,7
juta hektar, hutan lindung mencapai 10,5 juta

53
hektar dan hutan alam produksi mencapai
44,4 juta hektar.
Intensitas eksploitasi pohon hutan
selama 4 dekade ini dampak negatifnya sudah
sangat mengkhawatirkan. Eksploitasi pohon
kayu besar-besaran tak terkendali saat ini
sudah merambah di kawasan-kawasan
konservasi, seperti taman nasional dan hutan
lindung di Sumatera dan Kalimantan. Juga
kerusakan hutan berpotensi menjadi suatu
masalah sosial politik, karena ekosistem
hutan ini menjadi hunian beribu-ribu
penduduk asli, suku dan penduduk tradisional
lainnya yang menggantungkan kehidupan
mereka pada hutan, termasuk kelangsungan
kebudayaannya.

Salah satu spesies tumbuhan obat


yang saat ini paling terancam kelestariannya
dan kepunahan karena banyak dieksploitasi
dari hutan alam Sumatera dan Kalimantan

54
tanpa budidaya adalah pasakbumi (Eurycoma
longifolia Jack.). Pasakbumi terutama
digunakan untuk bahan baku obat aprodisiak,
saat ini industri herbal dari negara jiran
Malaysia secara besar-besaran membeli
pasak bumi dari pulau Sumatera melalui
black market. Berdasarkan pengalaman
perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi
dan seni (IPTEKS) saat ini, IPTEKS
kehutanan banyak terabaikan dan belum
banyak diintegrasikan dengan disiplin ilmu-
ilmu lainnya. Hal ini terjadi antara lain
karena ilmu dan teknologi kehutanan
umumnya berwawasan jangka panjang,
bahkan sampai antar generasi, sehingga perlu
mendapat perhatian dan pemahaman semua
pihak dengan menggunakan pendekatan
holistik dan jangka panjang.

Sesuai dengan hukum alam ekologi,


apabila suatu ekosistem telah terkuras dan

55
pengeksploitasian yang sangat besar dimana
energi dan materi keluar dari ekosistem
tersebut, maka ekosistem itu akan terganggu
keseimbangannya hutannya dan bahkan akan
mengalami kerusakan yang pada akhirnya
membawa bencana bagi manusia sepanjang
masa. Inilah yang telah dan sedang terjadi
kerusakan secara revolusi selama 40 tahun
terakhir pada ekosistem hutan alam tropika
Indonesia. Pohon telah dieksploitasi secara
tidak rasional, materi dan energi telah
dikeluarkan dari ekosistem hutan alam secara
drastis dan besar-besaran tanpa ada feed back
(pengembalian) ke ekosistem hutan kembali.
Percepatan kemampuan ekosistem hutan
termasuk tanah dalam penyediaan hara untuk
memulihkan dirinya sangatlah tidak imbang
dengan laju dari eksploitasi materi kayu.
Ekosistem hutan alam tropika selama ini
telah menyediakan dengan murah kebutuhan

56
manusia, berupa kayu, air bersih, oksigen dan
jasa lainnya, tetapi berdampak negatif dengan
biaya social yang tinggi. Selama ini semua
pihak dan sektor yang telah mendapatkan
manfaat dari hutan, seperti pertanian,
perindustrian, masyarakat perkotaan dan
termasuk industri jamu atau obat tradisional,
namun belum atau sangat minim memberikan
energi dan materi balik untuk memelihara
kelestarian hutan.

Penyelamatan ekosistem hutan alam


yang masih tersisa hendaknya diawali dengan
merubah paradigma atau pandangan dari
pembangunan kehutanan, bahwa “hutan alam
tropika Indonesia” bukan hanya sebagai
penghasil kayu untuk mendapatkan devisa
negara, melainkan sebaliknya saat ini dia
adalah makhluk ciptaan Allah yang sedang
sakit, harus masuk unit gawat darurat yang
sangat membutuhkan obat berupa input kasih

57
sayang, ilmu pengetahuan dan teknologi
berupa kegiatan rehabilitasi dan perlindungan
hutan. Hutan harus dinilai dan dipandang
sebagai suatu ekosistem berupa pabrik alami
ciptaan Tuhan penghasil berbagai komoditi
ekologi, sosial-budaya dan ekonomi, yaitu
mulai dari biota medika, sumber pangan, air,
oksigen, madu, objek ekoturisme, budaya dan
hasil hutan non-kayu lainnya.
Berdasarkan hal-hal di atas, maka
pembangunan kehutanan masa kini dan
mendatang, hendaknya melalui pendekatan
pengelolaan hutan yang holistik tidak hanya
berdasarkan ilmu kehutanan konvensional,
namun juga dapat menembus mengendalikan
kekuatan-kekuatan ekonomi, politik dan
sosial-budaya yang pada akhirnya dan
umumnya menentukan masa depan hutan itu.
Hutan alam tropika Indonesia dengan
berbagai tipe ekosistem hutannya adalah aset

58
bangsa dan nasional yang sangat besar
artinya bagi pembangunan kesehatan bangsa
yang tidak dipunyai oleh hampir semua
negara lain di dunia ini. Disinilah letak
keunggulan Indonesia yang harus kita sadari,
kembangkan dan syukuri, melalui upaya-
upaya pelestarian pemanfaatan dengan
menggunakan ilmu pengetahuan, teknologi
dan seni yang ramah lingkungan untuk
sebesar-besar kesejahteraan dan kemakmuran
seluruh rakyat Indonesia. Unit ekosistem
hutan alam tropika di setiap lokasi di
Indonesia masing-masing menyediakan
berbagai spesies tumbuhan obat yang cukup
untuk memelihara kesehatan dan mengobati
semua kelompok penyakit yang diderita oleh
masyarakat. Sumberdaya keanekaragaman
hayati hutan (kayu dan non-kayu) serta
budaya masyarakat di setiap lokasi hutan tak
dapat dipisahkan satu sama lain sebagai satu

59
kesatuan utuh kehidupan manusia sejak awal
keberadaannya.

Apa yang kita peroleh dari hutan


sekarang ini, seperti tumbuhan obat, kayu,
air, oksigen, satwa dan lain-lain merupakan
suatu proses evolusi yang panjang dan
kompleks, memerlukan ratusan bahkan
ribuan tahun untuk tercapainya fungsi hutan
yang maksimal.

Menurunnya kemampuan hutan alam


menghasilkan beberapa balok dan kayu untuk
kebutuhan di masyarakat dan pembangunan,
maka kedepan harus dipacu usaha untuk
meningkatkan kemampuan hutan produksi
pada hutan alam. Dan disamping itu juga
harus segera dilaksanakan pembangunan
hutan rakyat, artinya (milik masyarakat) oleh
masyarakat, dan disamping akan membantu
memenuhi akan kebutuhan kayu juga akan
menambah pendapatan bagi masyarakat itu

60
sendiri. Tantangan kedepan yang dihadapi
Kehutanan di wilayah Sumatera Barat adalah
kelangkaan bahan baku kayu baik untuk
keperluan baik lokal ataupun untuk
diperdagangkan antar provinsi, oleh sebab itu
orientasi pengelolaan kehutanan kedepan
adalah dengan mengoptimalkan keberadaan
Hutan Rakyat (HR) disamping tetap dengan
memanfaatkan hutan alam secara alami.

61
DAFTAR PUSTAKA
Abidin R. 1994. Pengendalian Manajemen
Pengusahaan Hutan Badan Pengaturan
Manajer Logging. Proyek Kerjasama
Fakultas Kehutanan IPB dengan
Departemen Kehutanan. Bandung.
Bismark M, E Subiandono dan NM
Heriyanto. 2008. Keragaman dan
potensi jenis serta kandungan karbon
hutan mangrove di Sungai Sibelen
Siberut, Sumatera Barat. Jurnal
Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
5 (3), 297-306.
Departemen Kehutanan. 1990. Keputusan
Direktur Jenderal Pengusahaan Hutan
No. 212/Kpts/IV-PHH/1990 Tentang
Pedoman Teknis Penekanan dan
Pemanfaatan Kayu Limbah
Pemanenan. Jakarta.

62