Anda di halaman 1dari 36

Nama : Nanda Izky Juliyana

Kelas : III B / 151001076

Mata Kuliah : Komunitas II / Tugas Pak Rifai

Tugas

1. Konsep dasar keperawatan gerontik


 Ilmu
pengetahuan dan sesuatu yang dapat dipelajari.
 Keperawatan
konsisten terhadap hasil lokakarya nasional keperawatan 1983.
 Gerontik merupakan penggabungan dari gerontologi dan geriatrik.
 Gerontologi adalah cabang ilmu yang membahas atau menangani
tentang proses penuaan atau masalah yang timbul pada orang yang
berusia lanjut.
 Geriatrik berkaitan dengan penyakit atau kecacatan yang terjadi pada
orang yang berusia lanjut.
 Keperawatan gerontik
suatu bentuk pelayanan profesional yang didasarkan pada ilmu dan
kiat atau teknik keperawatan yang berbentuk bio-psiko-sosio-spritual
dan kultural yang holistik, ditujukan pada klien lanjut usia, baik sehat
maupun sakit pada tingkat individu, keluarga, kelompok, dan
masyarakat.
 WHO menetapkan pembagian umur mengenai usia lanjut, yaitu :
a. Usia pertengahan (middle age) : 45-59 tahun
b. Usia lanjut (elderly) : 60-74 tahun
c. Tua (old) : 75-90 tahun
d. Sangat tua (very old) : di atas 90 tahun
 Tugas perkembangan lansia :
a) Mempersiapkan diri untuk kondisi yang menurun
b) Mempersiapkan diri untuk pensiun
c) Membentuk hubungan baik dengan orang seusianya

1
d) Mempersiapkan kehidupan baru
e) Melakukan penyesuaian terhadap kehidupan sosial atau masyarakat
secara santai
f) Mempersiapkan diri untuk kematiannya dan kematian pasangan.
2. Teori-teori penuaan
1. Teori biologi
 Teori seluler
Kemampuan sel hanya dapat membelah dalam jumlah tertentu dan
kebanyakan sel-sel tubuh diprogram untuk membelah 50 kali. Jika
sebuah sel pada lansia dilepas dari tubuh dan dibiakkan di
laboratorium, lalu diobservasi, jumlah sel-sel yang akan membelah
akan terlihat sedikit (Spence and Masson in Watson, 1992).
 Teori “genetic clock”
Menua telah diprogram secara genetik untuk spesies-spesies
tertentu. Tiap spesies mempunyai di dalam nuclei (inti selnya)
suatu jam genetik yang telah diputar menurut suatu replikasi
tertentu. Jam ini akan menghitung mitosis dan menghentikan
replikasi sel bila tidak berputar (Hayflck, 1980).
 Sintetis protein (kolagen dan elastin)
Jaringan seperti kulit dan kartilago kehilangan elastisitasnya pada
lansia. Proses kehilangan elastisitas ini dihubungkan dengan
adanya perubahan kimia pada komponen protein dalam jaringan
tersebut. Pada lansia, beberapa protein (kolagen dan kartilago serta
elastin pada kulit) dibuat oleh tubuh dengan bentuk dan struktur
yang berbeda dari protein yang lebih muda. Hal ini dapat lebih
mudah dihubungkan dengan perubahan permukaan kulit yang
kehilangan elastisitasnya dan cenderung berkerut, juga terjadinya
penurunan mobilitas dan kecepatan pada sistem muskuloskeletal
(Tortora and Anagnostakos, 1990).
 Keracunan oksigen
Adanya sejumlah penurunan kemampuan sel di dalam tubuh untuk
mempertahankan diri dari oksigen yang mengandung zat racun

2
dengan kadar yang tinggi, tanpa mekanisme pertahanan diri
tertentu. Ketidakmampuan mempertahankan diri dari toksik
tersebut membuat struktur membran sel mengalami perubahan dari
rigid, serta terjadi kesalahan genetik (Tortora and Anagnostakos,
1990).
 Sistem imun
Mutasi yang berulang atau perubahan protein pasca translasi, dapat
menyebabkan berkurangnya kemampuan sistem imun tubuh
mengenali dirinya sendiri (self recognition). Jika mutasi somatik
menyebabkan terjadinya kelainan pada antigen permukaan sel,
maka hal ini akan dapat menyebabkan sistem imun tubuh
menganggap sel yang mengalami perubahan tersebut sebagai sel
asing dan menghancurkannya. Perubahan inilah yang menjadi
dasar terjadinya peristiwa autoimun (Goldstein, 1989).
 Mutasi somatik (teori error cotastrophe)
Mekanisme pengontrolan genetik dalam tingkat sub seluler dan
molekular yang bisa disebut juga hipotesis “Error Catastrophe”
menurut hipotesis tersebut menua disebabkan oleh kesalahan-
kesalahan yang beruntun. Sepanjang kehidupan setelah
berlangsung dalam waktu yang cukup lama, terjadi kesalahan
dalam proses transkripsi (DNA menjadi RNA) maupun dalam
proses translasi (RNA menjadi protein atau enzim). Kesalahan
tersebut akan menyebabkan terbentuknya enzim yang salah.
Kesalahan tersebut dapat berkembang secara eksponensial dan
akan menyebabkan terjadinya reaksi metabolisme yang salah,
sehingga akan mengurangi fungsional sel. Apalagi jika terjadi pula
kesalahan dalam proses translasi (pembuatan protein), maka terjadi
kesalahan yang makin banyak, sehingga terjadilah katastrop
(Constantinides, 1994 dikutip oleh Darmojo dan Martono, 2000).
 Teori menua akibat metabolisme
Pengurangan intake kalori pada rodentia muda akan menghambat
pertumbuhan dan memperpanjang umur. Perpanjangan umur

3
karena jumlah kalori tersebut antara lain disebabkan karena
menurunnya salah satu atau beberapa proses metabolisme. Terjadi
penurunan pengeluaran hormon yang merangsang pruferasi sel,
misalnya insulin dan hormon pertumbuhan (MC Kay et all, 1935
dikutip Darmojo dan Martono, 2004).
 Kerusakan akibat radikal bebas
Radikal bebas dapat terbentuk di alam bebas dan di dalam tubuh di
fagosit (pecah), dan sebagai produk sampingan di dalam rantai
pernapasan di dalam mitokondria. Radikal bebas bersifat merusak
karena sangat reaktif, sehingga dapat bereaksi dengan DNA,
protein, asam lemak tak jenuh, seperti dalam membran sel, dan
dengan gugus SH. Walaupun telah ada sistem penangkal, namun
sebagian radikal bebas tetap lolos, bahkan makin lanjut usia makin
banyak radikal bebas terbentuk sehingga proses pengrusakan terus
terjadi, kerusakan organel sel makin banyak dan akhirnya sel mati.
2. Teori psikososial
 Activity theory (teori aktivitas atau kegiatan)
seseorang yang di masa mudanya aktif dan terus memelihara
keaktifannya setelah menua, sense of integrity yang dibangun di
masa mudanya tetap terpelihara sampai tua. Pada lanjut usia yang
sukses adalah mereka yang aktif dan ikut banyak dalam kegiatan
sosial. Ukuran optimum (pola hidup) dilanjutkan pada cara hidup
dari usia lanjut. Mempertahankan hubungan antara sistem sosial
dan individu agar tetap stabil dari usia pertengahan ke lanjut usia
(Nugroho, 2000).
 Continuity theory (teori kepribadian berlanjut)
dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada lanjut usia.
Identity pada lansia yang sudah mantap memudahkan dalam
memelihara hubungan dengan masyarakat, melibatkan diri dengan
masalah di masyarakat, keluarga dan hubungan interpersonal.
Perubahan yang terjadi pada seseorang yang lanjut usia sangat

4
dipengaruhi oleh tipe personality yang dimilikinya (Kuntjoro,
2002).
 Disengagement theory (teori pembebasan)
putusnya pergaulan atau hubungan dengan masyarakat dan
kemunduran individu dengan individu lainnya. Dengan
bertambahnya usia, seseorang secara pelan tetapi pasti mulai
melepaskan diri dari kehidupan sosialnya atau menarik diri dari
pergaulan sekitarnya. Keadaan ini mengakibatkan interaksi sosial
lanjut usia menurun, baik secara kualitas maupun kuantitas
sehingga sering terjadi kehilangan ganda (triple loss), yakni :
kehilangan peran (loss of role), hambatan kontak sosial (restriction
of contacts and relationship), dan berkurangnya komitmen
(reduced commitment to social mores and values) (Nugroho,
2002).
3. Perubahan bio-psiko-sosio-spiritual-kultural yang lazim terjadi pada
proses menua
1. Perubahan biologis (perubahan fisik)
 Sel
jumlah berkurang, ukuran membesar, cairan tubuh menurun, dan
cairan intraseluler menurun.
 Sistem pancaindra
o Pendengaran
presbiakusis, gangguan refleks kontrol postural, degenerasi
korti, hilangnya neuron di kokhlea, elastisitas membran
vibrasi basiler menurun, akumulasi serumen meningkat,
atrofi striae vaskularis, degenerasi sel rambut di kanal semi
sirkularis, penurunan pendengaran.
o Penglihatan
presbiopia, lensa kehilangan elastisitas dan kaku, otot
penyangga lensa lemah, ketajaman penglihatan dan daya
akomodasi dari jarak jauh atau dekat berkurang, lapang
pandang menyempit.

5
o Raba atau taktil
atrofi, kendur, tidak elastis, kering dan berkerut, liver spot
(pigmen coklat), tipis, berbercak, perabaan menurun.
o Pengecap
hilangnya tanggap terhadap refleks batuk dan menelan,
lipatan suara menghilang, suara gemetar, nada meninggi,
kekuatan dan jangkauan menurun, atrofi dan hilangnya
elastisitas otot dan tulang rawan larings.
o Penciuman
gangguan rasa membau.
 Sistem gastrointestinal
penurunan intake, kehilangan gigi (periodental disease), indra
pengecap menurun (adanya iritasi kronis selaput lendir, atrofi indra
pengecap, hilangnya sensitivitas dari saraf pengecap di lidah
terutama rasa asin, asam, pahit), sensitivitas lapar di lambung
menurun, asam lambung menurun, waktu mengosongkan lambung
lama, peristaltik usus lemah hingga timbul konstipasi, fungsi
absorpsi lemah, liver mengecil, berkurangnya aliran darah, dan
menurunnya tempat penyimpanan lemak, produksi enzim
pencernaan menurun, disfagia, dan berat badan menurun.
 Sistem kardiovaskuler
massa jantung bertambah, ventrikel kiri hipertropi, kemampuan
peregangan jantung berkurang, perubahan jaringan ikat dan
penumpukan lipofusin dan klasifikasi SA node dan jaringan
konduksi berubah menjadi jaringan ikat, konsumsi oksigen pada
tingkat maksimal berkurang sehingga kapasitas paru menurun,
katup jantung menebal dan kaku, menurunnya kontraksi dan
volume, elastisitas pembuluh darah menurun, meningkatnya
resistensi pembuluh darah perifer sehingga tekanan darah
meningkat.

6
 Sistem respirasi
kekuatan otot pernapasan menurun dan kaku, elastisitas paru
menurun, kapasitas residu meningkat sehingga menarik napas lebih
berat, alveoli melebar dan jumlahnya menurun, kemampuan batuk
menurun, penyempitan pada bronkus.
 Sistem endokrin
produksi hormon menurun, penurunan aktivitas tiroid, hormon
seksual dan fertilitas menurun, hormon pertumbuhan menurun
sehingga menimbulkan osteoporosis.
 Sistem hematologi
sumsum tulang mengandung lebih sedikit sel hemopoitik, respon
regeneratif terhadap hilang darah atau terapi anemia pernisiosa
agak berkurang, timbul penyakit anemia defisiensi besi,
megaloblastik, dan anemia penyakit kronis.
 Persendian
jaringan ikat sekitar sendi seperti tendon, ligamen, fasia mengalami
penurunan elastisitas, ligamen dan jaringan periarkular mengalami
daya lentur, terjadi degenerasi, erosi, dan kalsifikasi pada kartilago
dan kapsul sendi, fleksibilitas sendi menurun sehingga luas dan
gerak sendi menurun serta kaku sendi.
 Sistem urogenital dan tekanan darah
terjadi penebalan kapsula bowman, gangguan permeabilitas
terhadap solut yang akan difiltrasi, nefron mengalami penurunan
jumlah dan timbul atrofi pada ginjal, aliran darah di ginjal
menurun, penebalan intima pada pembuluh darah atau tunika
media akibat aterosklerosis dan proses menua, kelenturan
pembuluh darah tepi meningkat sehingga menyebabkan tekanan
darah sistolik meningkat.
 Sistem persarafan
berat otak menurun, meningen menebal, degenerasi pigmen
substantia nigra, parkinson dan demensia, vaskularisasi otak
menurun, tia, stroke, gangguan persepsi analisis berkurang,

7
memori jangka panjang dan pendek menurun, lebih egois dan
introvert, kaku dalam memecahkan masalah, gangguan merasa
panas, dingin, dan nyeri.
 Sistem integumen
kulit menipis, kering, fragil, berubah warna, rambut menipis,
beruban, kuku menipis, mudah patah, pertumbuhan lambat,
beralur, elastisitas kulit menurun, purpura senilis, bercak campbell
de morgan, berkurangnya bantalan akibat penurunan lemak
subkutan, degenerasi kolagen, atrofi epidermis, kelenjar keringat,
folikel rambut, dan perubahan pigmenter.
 Sistem muskuloskeletal
cairan tulang menurun sehingga mudah rapuh (osteoporosis),
bungkuk (kifosis), persendian kaku dan membesar akibat atrofi
otot, kram, tremor, tendon mengerut dan mengalami sklerosis.
 Sistem reproduksi
o Lansia wanita
menciutnya ovarium dan uterus, atrofi pada payudara,
menopouse, selaput lendir vagina menurun, permukaan
menjadi halus, sekresi menjadi berkurang, reaksi sifat
sekresi menjadi alkali.
o Lansia pria
testis masih dapat memproduksi spermatozoa meskipun
terjadi penurunan berangsur-angsur dan dorongan seksual
menetap sampai usia di atas 70 tahun.
2. Perubahan psikologis
Perubahan psikologis pada lansia meliputi frustasi, kesepian, takut
kehilangan kebebasan, takut menghadapi kematian, perubahan
keinginan, depresi dan ansietas.
Beberapa gejala psikologis yang menonjol ketika menopause adalah
mudah tersinggung, sukar tidur, tertekan, gugup, kesepian, tidak sabar,
tegang (tension), cemas dan depresi. Ada juga lansia yang kehilangan
harga diri karena menurunnya daya tarik fisik dan seksual serta mereka

8
merasa tidak dibutuhkan oleh keluarganya. Beberapa keluhan
psikologis yang terjadi pada proses menua:
a. Ingatan menurun
Gejala ini terlihat bahwa sebelum menopause wanita dapat
mengingat dengan mudah, namun sesudah mengalami
menopause terjadi kemunduran dalam mengingat, bahkan
sering lupa pada hal-hal yang sederhana.
b. Kecemasan
Kecemasan yang timbul sering dihubungkan dengan adanya
kekhawatiran dalam menghadapi situasi yang sebelumnya tidak
pernah dikhawatirkan. Misalnya kalau dulu biasa pergi ke luar
kota sendirian, namun sekarang merasa cemas dan khawatir,
hal itu sering juga diperkuat oleh larangan dari anak-anaknya.
Kecemasan pada lansia umumnya bersifat relatif, artinya ada
orang yang cemas dan dapat tenang kembali setelah
mendapatkan semangat atau dukungan dari orang di sekitarnya;
namun ada juga yang terus-menerus cemas meskipun orang-
orang disekitarnya telah memberi dukungan.
c. Mudah tersinggung
Gejala ini lebih mudah terlihat dibandingkan kecemasan.
Lansia lebih mudah tersinggung dan marah terhadap sesuatu
yang sebelumnya dianggap tidak menggangu. Perasaannya
menjadi sangat sensitif terhadap sikap dan perilaku orang-
orang di sekitarnya, terutama jika sikap dan perilaku tersebut
dipersepsikan sebagai menyinggung proses penerimaan yang
sedang terjadi dalam dirinya.
d. Stress
Tidak ada orang yang bisa lepas sama sekali dari rasa was-was
dan cemas, termasuk para lansia. Ketegangan perasaan atau
stress selalu beredar dalam lingkungan pekerjaan, pergaulan
sosial, kehidupan rumah tangga dan bahkan menyelusup ke
dalam tidur.

9
e. Depresi
Simptom-simptom psikologis adanya depresi bila ditinjau dari
beberapa aspek, menurut Marie Blakburn dan Kate Davidson
(1990:5) adalah sebagai berikut :
o Suasana hati, ditandai dengan kesedihan, kecemasan, dan
mudah marah.
o Berpikir, ditandai dengan mudah hilang konsentrasi, lambat
dan kacau dalam berpikir, menyalahkan diri sendiri, ragu-
ragu, dan harga diri rendah.
o Motivasi, ditandai dengan kurang minat bekerja dan
menekuni hobi, menghindari kegiatan kerja dan sosial,
ingin melarikan diri, dan ketergantungan tinggi pada orang
lain.
o Perilaku gelisah terlihat dari gerakan yang lamban, sering
mondar-mandir, menangis, dan mengeluh.
o Simptom biologis, ditandai dengan hilang nafsu makan atau
nafsu makan bertambah, hilang hasrat seksual, tidur
terganggu, dan gelisah.
3. Perubahan psikososial
Perubahan psikososial pada lansia meliputi pensiun, perubahan aspek
kepribadian, perubahan dalam peran sosial di masyarakat, perubahan
minat, penurunan fungsi dan potensi seksual.
Pada umumnya setelah memasuki lansia maka ia mengalami
penurunan fungsi kognitif dan psikomotor. Fungsi kognitif meliputi
proses belajar, persepsi, pemahaman, pengertian, perhatian dan lain-
lain sehingga menyebabkan reaksi dan perilaku lansia menjadi makin
lambat. Sementara fungsi psikomotorik meliputi hal-hal yang
berhubungan dengan dorongan kehendak seperti gerakan, tindakan,
koordinasi, yang berakibat bahwa lansia menjadi kurang cekatan.
Dengan adanya penurunan kedua fungsi tersebut, lansia juga
mengalami perubahan aspek psikososial yang berkaitan dengan

10
keadaan kepribadian lansia. Beberapa perubahan tersebut dapat
dibedakan berdasarkan 5 tipe kepribadian lansia sebagai berikut :
 Tipe kepribadian konstruktif (construction personalitiy)
biasanya tipe ini tidak banyak mengalami gejolak, tenang dan
mantap sampai sangat tua.
 Tipe kepribadian mandiri (independent personality)
pada tipe ini ada kecenderungan mengalami post power sindrome,
apalagi jika pada masa lansia tidak diisi dengan kegiatan yang
dapat memberikan otonomi pada dirinya.
 Tipe kepribadian tergantung (dependent personalitiy)
pada tipe ini biasanya sangat dipengaruhi kehidupan keluarga,
apabila kehidupan keluarga selalu harmonis maka pada masa lansia
tidak bergejolak, tetapi jika pasangan hidup meninggal maka
pasangan yang ditinggalkan akan menjadi merana, apalagi jika
tidak segera bangkit dari kedukaannya.
 Tipe kepribadian bermusuhan (hostility personality)
pada tipe ini setelah memasuki lansia tetap merasa tidak puas
dengan kehidupannya, banyak keinginan yang kadang-kadang
tidak diperhitungkan secara seksama sehingga menyebabkan
kondisi ekonominya menjadi morat-marit.
 Tipe kepribadian kritik diri (self hate personalitiy)
pada lansia tipe ini umumnya terlihat sengsara, karena perilakunya
sendiri sulit dibantu orang lain atau cenderung membuat susah
dirinya.
4. Perubahan spiritual
agama atau kepercayaan lansia makin berintegrasi dalam
kehidupannya, lansia makin teratur dalam kehidupan keagamaannya,
spiritualitas lansia bersifat universal dan sikap menerima terhadap
kematian.
4. Komunikasi terapeutik pada lansia
o Komunikasi keperawatan disebut dengan komunikasi terapeutik,
artinya komunikasi yang dilakukan oleh seorang perawat saat

11
melakukan intervensi keperawatan yang harus mampu memberikan
kasiat terapi dalam proses penyembuhan pasien.
o Prinsip-prinsip komunikasi terapeutik pada lansia
1. Empati
Pelayanan kesehatan harus memandang seorang lansia yang sakit
dengan pengertian, kasih sayang dan memahami rasa penderitaan
yang dialami oleh penderita tersebut. Tindakan empati harus
dilaksanakan dengan wajar, tidak berlebihan, sehingga tidak
memberi kesan over-protective dan belas kasihan.
2. Yang harus dan “jangan”
Yaitu keharusan untuk mengerjakan yang baik untuk penderita dan
harus menghindari tindakan yang menambah penderitaan bagi
penderita. Terdapat adagium primum non nocere (yang terpenting
jangan membuat seseorang menderita). Dalam pengertian ini,
upaya pemberian posisi baring yang tepat untuk menghindari rasa
nyeri, pemberian analgesic (kalau perlu dengan devirat morfin)
yang cukup, pengucapan kata-kata hiburan, seperti: “yang harus
kakek lakukan adalah...” bukan kata “ kakek jangan…”.
3. Otonomi
Yaitu suatu prinsip bahwa seorang individu mempunyai hak untuk
menentukan nasibnya dan mengemukakan keinginanya sendiri.
Hak tersebut mempunyai batasan, akan tetapi dibidang geriatrik hal
tersebut berdasar pada keadaan, apakah penderita dapat membuat
keputusan secara mendiri atau bebas.
4. Keadilan
Yaitu prinsip pelayanan geriatrik harus memberikan perlakuan
yang sama bagi semua penderita. Kewajiban untuk memperlakukan
seorang penderita secara wajar dan tidak mengadakan perbedaan
atas dasar karakteristik yang tidak relevan.
5. Menjaga tingkat kebisingan minimum
Usahakan lingkungan tidak ribut sehingga akan memudahkan
pelaksanaan komunikasi terapeutik pada lansia.

12
6. Menjadi pendengar yang setia
Maksudnya adalah sediakanlah waktu beberapa menit untuk
mendengarkan keluhan dari klien.
7. Menjamin alat bantu berfungsi dengan baik
Ceklah alat bantu komunikasi yang digunakan oleh lansia sebelum
memulai kegiatan.
8. Jangan berbicara dengan kasar (keras)
Lansia sangat sensitif, ucapan yang kasar akan membuatnya
menghentikan komunikasi. Usahakan selalu menanyakan respon
kepada klien tentang apa yang sedang ia rasakan.
9. Gunakan kalimat pendek dan sederhana
Berbicaralah pada tingkat pemahaman klien sehingga klien
mengerti tentang pesan yang ingin disampaikan oleh perawat.
10. Beri kesempatan klien untuk mengenang
Luangkan waktu untuk pasien agar ia bisa mengingat hal-hal yang
menjadi keluhannya.
o Hal-hal yang perlu diperhatikan saat berinteraksi dengan lansia :
1. Menunjukkan rasa hormat, seperti “bapak”, “ibu”, kecuali apabila
sebelumnya pasien telah meminta anda untuk memanggil
panggilan kesukaannya.
2. Hindari menggunakan istilah yang merendahkan pasien
3. Pertahankan kontak mata dengan pasien
4. Pertahankan langkah yang tidak tergesa-gesa dan mendengarkan
adalah kunci komunikasi efektif
5. Beri kesempatan pasien untuk menyampaikan perasaannya
6. Berbicara dengan pelan, jelas, tidak harus berteriak, menggunakan
bahasa dan kalimat yang sederhana.
7. Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti pasien
8. Hindari kata-kata medis yang tidak dimengerti pasien
9. Menyederhanakan atau menuliskan instruksi
10. Mengenal dahulu kultur dan latar belakang budaya pasien

13
11. Mengurangi kebisingan saat berinteraksi, beri kenyamanan, dan
beri penerangan yang cukup saat berinteraksi.
12. Gunakan sentuhan lembut dengan sentuhan ringan di tangan,
lengan, atau bahu.
13. Jangan mengabaikan pasien saat berinteraksi.
5. Askep lansia dengan gangguan biologis
o Pengkajian
Proses pengumpulan data untuk mengidentifikasi masalah keperawatan
meliputi aspek :
 Fisik
o Wawancara
o Pemeriksaan fisik : head to toe dan persistem
 Psikologis
 Sosial ekonomi
 Spiritual
o Diagnosa keperawatan dan intervensi keperawatan
Diagnosa keperawatan yang sering muncul dalam penatalaksanaan
untuk menanggulangi gangguan biologis pada lansia, yaitu :
 Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan tidak mampu dalam memasukkan, mencerna,
mengabsorbsi makanan karena faktor biologis.
o Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 5x24 jam
diharapkan:
a) Asupan nutrisi tidak bermasalah
b) Asupan makanan dan cairan tidak bermasalah
c) Energi tidak bermasalah
d) Berat badan ideal
o NIC :
diskusikan dengan ahli gizi untuk menentukan asupan
kalori setiap hari supaya mencapai dan
mempertahankan berat badan sesuai

14
ajarkan dan kuatkan konsep nutrisi yang baik pada
pasien
dorong pasien untuk memonitor diri sendiri terhadap
asupan makanan dan kenaikan berat badan
 Inkontinensia urin fungsional berhubungan dengan keterbatasan
neuromuscular yang ditandai dengan waktu yang diperlukan ke
toilet melebihi waktu untuk menahan pengosongan bladder dan
tidak mampu mengontrol pengosongan.
o Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 5x24 jam
diharapkan:
a) Merespon dengan cepat keinginan buang air kecil
b) Mampu mencapai toilet dan mengeluarkan urin secara
tepat waktu
c) Mengosongkan blader dengan lengkap
d) Mampu memprediksikan pengeluaran urin
o NIC :
Monitor eliminasi urine
Bantu klien mengembangkan sensasi keinginan buang
air kecil
Modifikasi baju dan lingkungan untuk memudahkan
pasien ke toilet
Instruksikan pasien untuk mengkonsumsi air minum
sebanyak 1500 cc per hari
6. Askep lansia menjelang ajal
Kematian adalah penghentian permanen semua fungsi tubuh yang vital,
akhir dari kehidupan manusia (Buku Ajar Keperawatan Gerontik : 435).
Ciri atau tanda klien lanjut usia menjelang kematian :
o Gerakan dan pengindraan menghilang secara berangsur-angsur.
Biasanya dimulai pada anggota badan, khususnya kaki dan ujung kaki
o Badan dingin dan lembab, terutama pada kaki, tangan dan ujung
hidungnya
o Kulit tampak pucat

15
o Denyut nadi mulai tak teratur
o Tekanan darah menurun
o Relaksasi otot muka sehingga dagu menjadi turun.
o Pernafasan cepat dangkal dan tidak teratur.
Pada tahun 1968, World Medical Assembly, menetapkan beberapa
petunjuk tentang indikasi kematian, yaitu :
o Tidak ada respon terhadap rangsangan dari luar secara total.
o Tidak adanya gerak dari otot, khususnya pernapasan.
o Tidak ada reflek.
o Gambaran mendatar pada EKG.
Tahap-tahap kematian :
1) Tahap Pertama (penolakan)
Tahap ini adalah tahap kejutan dan penolakan. Biasanya, sikap itu
ditandai dengan komentar “saya ? Tidak, itu tidak mungkin”. Selama
tahap ini klien lanjut usia sesungguhnya mengatakan bahwa maut
menimpa semua orang, kecuali dirinya. Klien lanjut usia biasanya
terpengaruh oleh sikap penolakannya sehingga ia tidak memerhatikan
fakta yang mungkin sedang dijelaskan kepadanya oleh perawat. Ia
bahkan menekan apa yang telah ia dengar atau mungkin akan meminta
pertolongan dari berbagai macam sumber profesional dan
nonprofesional dalam upaya melarikan diri dari kenyataan bahwa maut
sudah diambang pintu.
2) Tahap kedua (marah)
tahap ini ditandai oleh rasa marah dan emosi tidak terkendali. Klien
lanjut usia itu berkata “mengapa saya?” sering kali klien lanjut usia
akan selalu mencela setiap orang dalam segala hal. Ia mudah marah
terhadap perawat dan petugas kesehatan lainnya tentang apa yang
mereka lakukan. Pada tahap ini, klien lanjut usia lebih menganggap hal
ini merupakan hikmah, daripada kutukan. Kemarahan disini
merupakan mekanisme pertahanan diri klien lanjut usia. Akan tetapi,
kemarahan yang sesungguhnya tertuju kepada kesehatan dan
kehidupan. Pada saat ini, perawat kesehatan harus berhati-hati dalam

16
memberi penilaian sebagai reaksi yang normal terhadap kemtian yang
perlu diungkapkan.
3) Tahap ketiga (tawar-menawar)
Pada tahap ini biasanya klien lanjut usia pada hakikatnya berkata , “ya,
benar aku, tapi...” kemarahan biasanya mereda dan klien lanjut usia
biasanya dapat menimbulkan kesan sudah dapat menerima apa yang
sedang terjadi pada dirinya. Akan tetapi, pada tahap tawar-menawar ini
banyak orang cenderung untuk menyelesaikan urusan rumah tangga
mereka sebelum mau tiba, dan akan menyiapkan beberapa hal,
misalnya klien lanjut usia mempunyai permintaan terkhir untuk
melihat pertandingan olahraga, mengunjungi kerabat, melihat cucu
terkecil, atau makan direstoran. Perawat dianjurkan memenuhi
permohonan itu karena membantu klien lanjut usia memasuki tahap
berikutnya.
4) Tahap keempat (sedih atau depresi)
Pada tahap ini biasanya klien lanjut usia pada hakikatnya berkata “ya,
benar aku” hal ini biasanya merupakan saat yang menyedihkan karena
lanjut usia sedang dalam suasana berkabung. Di masa lampau, ia sudah
kehilangan orang yang dicintainya dan sekarang ia akan kehilangan
nyawanya sendiri. Bersamaan dengan itu, dia harus meninggalkan
semua hal menyenangkan yang telah dinikmatinya. Selama tahap ini,
klien lanjut usia cenderung tidak banyak bicara dan sering menangis.
Saatnya perawat duduk dengan tenang di samping klien lanjut usia
yang melalui masa sedihnya sebelum meninggal.
5) Tahap kelima (menerima atau asertif)
Tahap ini ditandai oleh sikap menerima kematian. Menjelang saat ini,
klien lanjut usia telah membereskan segala urusan yang belum selesai
dan mungkin tidak ingin berbicara lagi karena sudah menyatakan
segala sesuatunya. Tawar-menawar sudah lewat dan tibalah saat
kedamaian dan ketenangan. Seseorang mungkin saja lama dalam tahap
menerima, tetapi bukan tahap pasrah yang berarti kekalahan. Dengan
kata lain pasrah terhadap maut tidak berarti menerima maut.

17
Pemenuhan kebutuhan klien menjelang kematian :
o Kebutuhan jasmaniah
Kemampuan toleransi terhadap rasa sakit berbeda pada setiap
orang. Tindakan yang memungkinkan rasa nyaman bagi klien
lanjut usia (misal sering mengubah posisi tidur, perawatan fisik,
dan sebagainya).
o Kebutuhan fisisologis
o Kebersihan diri
Kebersihan dilibatkan untuk mampu melakukan kebersihan
diri sebatas kemampuannya dalam hal kebersihan kulit,
rambut, mulut, badan dan sebagainya.
o Mengontrol rasa sakit
Beberapa obat untuk mengurangi rasa sakit digunakan
pada klien dengan sakit terminal, seperti morphin, heroin,
dan sebagainya. Pemberian obat ini diberikan sesuai
dengan tingkat toleransi nyeri yang dirasakan klien. Obat-
obatan lebih baik diberikan intravena dibandingkan melalui
intramuskular atau subcutan, karena kondisi system
sirkulasi sudah menurun.
o Membebaskan jalan napas
Untuk klien dengan kesadaran penuh, posisi fowler akan
lebih baik dan pengeluaran sekresi lendir perlu dilakukan
untuk membebaskan jalan napas, sedangkan bagi klien
yang tidak sadar, posisi yang baik adalah posisi sim dengan
dipasang drainase dari mulut dan pemberian oksigen.
o Bergerak
Apabila kondisinya memungkinkan, klien dapat dibantu
untuk bergerak, seperti: turun dari tempat tidur, ganti posisi
tidur untuk mencegah decubitus dan dilakukan secara
periodik, jika diperlukan dapat digunakan alat untuk
menyokong tubuh klien, karena tonus otot sudah menurun.
o Nutrisi

18
Klien seringkali anoreksia dan nausea karena adanya
penurunan peristaltik. Dapat diberikan anti emetik untuk
mengurangi nausea dan merangsang nafsu makan serta
pemberian makanan tinggi kalori dan protein serta vitamin.
Karena terjadi tonus otot yang berkurang, terjadi disfagia,
perawat perlu menguji reflek menelan klien sebelum
diberikan makanan, kalau perlu diberikan makanan cair
atau intravena atau infus.
o Eliminasi
Karena adanya penurunan atau kehilangan tonus otot dapat
terjadi konstipasi, inkontinen urin dan feses. Obat laxant
perlu diberikan untuk mencegah konstipasi. Klien dengan
inkontinensia dapat diberikan urinal, pispot secara teratur
atau dipasang duk yang diganti setiap saat atau dilakukan
kateterisasi. Harus dijaga kebersihan pada daerah sekitar
perineum, apabila terjadi lecet, harus diberikan salep.
o Perubahan sensori
Penglihatan menjadi kabur, klien biasanya menolak atau
menghadapkan kepala ke arah lampu atau tempat terang.
Klien masih dapat mendengar, tetapi tidak dapat atau
mampu merespon, perawat dan keluarga harus bicara
dengan jelas dan tidak berbisik-bisik.
o Kebutuhan emosi.
Untuk menggambarkan ungkapan sikap dan perasaan klien lanjut
usia dalam menghadapi kematian.
o Mungkin klien lanjut usia mengalami ketakutan yang hebat
(ketakutan yang timbul akibat menyadari bahwa dirinya tidak
mampu mencegah kematian).
o Mengkaji hal yang diinginkan penderita selama
mendampinginya. Misalnya, lanjut usia ingin
memperbincangkan tentang kehidupan di masa lalu dan

19
kemudian hari. Bila pembicaraan tersebut berkenaan, luangkan
waktu sejenak.
o Mengkaji pengaruh kebudayaan atau agama terhadap klien.
o Kebutuhan sosial
Klien dengan dying akan ditempatkan diruang isolasi, dan untuk
memenuhi kebutuhan kontak sosialnya, perawat dapat melakukan:
o Menanyakan siapa-siapa saja yang ingin didatangkan untuk
bertemu dengan klien dan didiskusikan dengan keluarganya,
misalnya: teman-teman dekat, atau anggota keluarga lain.
o Menggali perasaan-perasaan klien sehubungan dengan
sakitnya dan perlu diisolasi.
o Menjaga penampilan klien pada saat-saat menerima kunjungan
kunjungan teman-teman terdekatnya, yaitu dengan
memberikan klien untuk membersihkan diri dan merapikan
diri.
o Meminta saudara atau teman-temannya untuk sering
mengunjungi dan mengajak orang lain dan membawa buku-
buku bacaan bagi klien apabila klien mampu membacanya.
o Kebutuhan spiritual
o Menanyakan kepada klien tentang harapan-harapan hidupnya
dan rencana-rencana klien selanjutnya menjelang kematian.
o Menanyakan kepada klien untuk mendatangkan pemuka
agama dalam hal untuk memenuhi kebutuhan spiritual.
o Membantu dan mendorong klien untuk melaksanakan
kebutuhan spiritual sebatas kemampuannya.
Asuhan keperawatan lansia menjelang ajal :
a. Pengkajian
Pengumpulan data dimulai dengan upaya untuk mengenal pasien
dan keluarganya. Siapa pasien itu dan bagimana kondisinya ?
Rencana pengobatan apa yang telah dilaksanakan ? Tindakan apa
saja yang telah diberikan ? Adakah bukti mengenai
pengetahuannya, prognosisnya, dan pada tahap proses kematian

20
yang mana pasien berada ? Apakah ia mengalami nyeri ? Apakah
anggota keluarganya mengetahui prognosisnya dan bagaimana
reaksi mereka ? Filsafat apa yang dianut oleh pasien dan
keluarganya mengenai hidup dan mati. Pengkajian keadaan,
kebutuhan, dan masalah kesehatan atau keperawatan pasien
khususnya. Sikap pasien terhadap penyakitnya, antara lain apakah
pasien tabah terhadap penyakitnya, apakah pasien menyadari
tentang keadaannya ?
1) Perasaan takut
Kebanyakan pasien merasa takut terhadap rasa nyeri yang tidak
terkendalikan yang begitu sering diasosiasikan dengan keadaan
sakit terminal, terutama apabila keadaan itu disebabkan oleh
penyakit yang ganas. Perawat harus menggunakan
pertimbangan yang sehat apabila sedang merawat orang sakit
terminal. Perawat harus mengendalikan rasa nyeri pasien
dengan cara yang tepat. Apabila orang berbicara tentang
perasaan takut mereka terhadap maut, respon mereka secara
tipikal mencakup perasaan takut tentang hal yang tidak jelas,
takut meninggalkan orang yang dicintai, kehilangan martabat,
urusan yang belum selesai, dan sebagainya. Dalam menghadapi
kematian ini, pada umumnya orang merasa takut dan cemas.
Ketakutan dan kecemasan terhadap kematian ini dapat
membuat pasien cemas dan stress.
2) Emosi
Emosi pasien yang muncul pada tahap menjelang kematian,
antara lain mencela dan mudah marah.
3) Tanda vital
Perubahan fungsi tubuh sering kali tercermin pada suhu badan,
denyut nadi, pernapasan, dan tekanan darah. Mekanisme
fisiologis yang mengaturnya berkaitan satu sama lain. Setiap
perubahan yang berlainan dengan keadaan yang normal

21
dianggap sebagai indikasi yang penting untuk mengenali
keadaan kesehatan seseorang.
4) Kesadaran
Kesadaran yang sehat dan adekuat dikenal sebagai awas
waspada, yang merupakan ekspresi tentang apa yang dilihat,
didengar, dialami, dan perasaan keseimbangan, nyeri, suhu,
raba, getar, gerak, gerak tekan, dan sikap, bersifat adekuat,
yaitu tepat dan sesuai ( Mahar Mardjono dan P. Sidharta, 1981.
5) Fungsi tubuh
Tubuh terbentuk atas banyak jaringan dan organ. Setiap organ
mempunyai fungsi khusus.
b. Diagnosa keperawatan dan intervensi keperawatan
Diagnosa keperawatan yang sering muncul adalah :
o Ansietas berhubungan dengan keadaan penyakitnya.
o Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 5x24
jam, diharapkan :
 Rasa cemas berkurang
o NIC :
 Ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang
7. Penyakit-penyakit pada lansia
Sifat penyakit pada lansia :
o Penyebab penyakit
Penyebab penyakit pada lansia umumnya berasal dari dalam tubuh
(endogen), sedangkan pada orang dewasa berasal dari luar tubuh
(eksogen). Hal ini disebabkan karena pada lansia telah terjadi
penurunan fungsi dari berbagai organ-organ tubuh akibat kerusakan
sel-sel karena proses menua, sehingga produksi hormon, enzim, dan
zat-zat yang diperlukan untuk kekebalan tubuh menjadi berkurang.
Dengan demikian, lansia akan lebih mudah terkena infeksi. Sering
pula, penyakit lebih dari satu jenis (multipatologi), dimana satu sama
lain dapat berdiri sendiri maupun saling berkaitan dan memperberat.

22
o Gejala penyakit sering tidak khas atau tidak jelas
Misalnya, penyakit infeksi paru (pneumonia) sering kali didapati
demam tinggi dan batuk darah, gejala terlihat ringan padahal penyakit
sebenarnya cukup serius, sehingga penderita menganggap penyakitnya
tidak berat dan tidak perlu berobat.
o Memerlukan lebih banyak obat (polifarmasi)
Akibat banyaknya penyakit pada lansia, maka dalam pengobatannya
memerlukan obat beraneka ragam dibandingkan dengan orang dewasa.
Selain itu, perlu diketahui bahwa fungsi organ-organ vital tubuh seperti
hati dan ginjal yang berperan dalam mengolah obat-obat yang masuk
ke dalam tubuh telah berkurang. Hal ini menyebabkan kemungkinan
besar obat tersebut akan menumpuk dalam tubuh dan terjadi keracunan
obat dengan segala komplikasinya jika diberikan dengan dosis yang
sama dengan orang dewasa. Oleh karena itu, dosis obat perlu dikurangi
pada lansia. Efek samping obat pada lansia biasanya terjadi karena
diagnosis yang tidak tepat, ketidakpatuhan meminum obat, serta
penggunaan obat yang berlebihan dan berulang-ulang dalam waktu
yang lama.
o Sering mengalami gangguan jiwa seperti depresi
Pada lansia yang telah lama menderita sakit sering mengalami tekanan
jiwa (depresi). Oleh karena itu, dalam pengobatannya tidak hanya
gangguan fisiknya saja yang diobati, tetapi juga gangguan jiwanya
yang justru sering tersembunyi gejalanya. Jika yang mengobatinya
tidak teliti akan mempersulit penyembuhan penyakitnya.
Dikemukakan 4 penyakit yang sangat erat hubungannya dengan proses
menua, yakni :
 Gangguan sirkulasi darah
Seperti : hipertensi, kelainan pembuluh darah, gangguan pembuluh
darah di otak (koroner), dan ginjal
 Gangguan metabolisme hormonal
Seperti : diabetes mellitus, klimakterium, dan ketidakseimbangan
tiroid

23
 Gangguan pada persendian
Seperti : osteoartitis, gout artritis, ataupun penyakit kolagen lainnya
 Berbagai macam neoplasma.
Penyakit lanjut usia :
1. Penyakit sistem paru dan kardiovaskuler.
a. Paru-paru
Fungsi paru-paru mengalami kemunduran disebabkan
berkurangnya elastisitas jaringan paru-paru dan dinding dada,
berkurangnya kekuatan kontraksi otot pernafasan sehingga
menyebabkan sulit bernafas. Infeksi sering diderita pada lanjut usia
diantaranya pneumonia. Tuberkulosis pada lansia diperkirakan
masih cukup tinggi.
b. Jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler).
Pada orang lanjut usia, umumnya besar jantung akan sedikit
menurun. Yang paling banyak mengalami penurunan adalah
rongga bilik kiri, akibat semakin berkurangnya aktivitas dan juga
mengalami penurunan adalah besarnya sel-sel otot jantung hingga
menyebabkan menurunnya kekuatan otot jantung. Pada lansia,
tekanan darah meningkat secara bertahap. Elastisitas jantung pada
orang berusia 70 tahun menurun sekitar 50% dibanding orang
berusia 20 tahun. Tekanan darah pada wanita tua mencapai 170/90
mmHg dan pada pria tua mencapai 160/100 mmHg masih
dianggap normal. Pada lansia banyak dijumpai penyakit jantung
koroner yang disebut jantung iskemik. Perubahan-perubahan yang
dapat dijumpai pada penderita jantung iskemi adalah pada
pembuluh darah jantung akibat arteriosklerosis serta faktor
pencetusnya bisa karena banyak merokok, kadar kolesterol tinggi,
penderita diabetes mellitus dan berat badan berlebihan serta kurang
berolah raga. Masalah lain pada lansia adalah hipertensi yang
sering ditemukan dan menjadi faktor utama penyebab stroke dan
penyakit jantung koroner.

24
2. Penyakit pencernaan makanan.
Penyakit yang sering terjadi pada saluran pencernaan lansia antara lain
gastritis dan ulkus peptikum, dengan gejala yang biasanya tidak
spesifik, penurunan berat badan, mual-mual, perut terasa tidak enak.
Namun keluhan seperti kembung, perut terasa tidak enak seringkali
akibat ketidakmampuan mencerna makanan karena menurunnya fungsi
kelenjar pencernaan.
3. Penyakit sistem urogenital.
Pada pria berusia lebih dari 50 tahun bisa terjadi pembesaran kelenjar
prostat (hipertrofi prostat), yang mengakibatkan gangguan buang air
kecil, sedang pria lanjut usia banyak dijumpai kanker pada kelenjar
prostat. Pada wanita bisa dijumpai peradangan kandung kemih sampai
peradangan ginjal akibat gangguan buang air kecil. Keadaan ini
disebabkan berkurangnya tonus kandung kemih dan adanya tumor
yang menyumbat saluran kemih.
4. Penyakit gangguan endokrin (metabolik).
Dalam sistem endokrin, ada hormon yang diproduksi dalam jumlah
besar di saat stress dan berperan penting dalam reaksi mengatasi stress.
Oleh karena itu, dengan mundurnya produksi hormon inilah lanjut usia
kurang mampu menghadapi stress. Menurunnya hormon tiroid juga
menyebabkan lansia tampak lesu dan kurang bergairah. Kemunduran
fungsi kelenjar endokrin lainnya seperti adanya menopause pada
wanita, sedang pada pria terjadi penurunan sekresi kelenjar testis.
Penyakit metabolik yang banyak dijumpai ialah diabetas melitus dan
osteoporosis.
5. Penyakit pada persendian tulang.
Penyakit pada sendi ini adalah akibat degenerasi atau kerusakan pada
permukaan sendi-sendi tulang yang banyak dijumpai pada lansia.
Lansia sering mengeluhkan linu-linu, pegal, dan kadang-kadang terasa
nyeri. Biasanya yang terkena adalah persendian pada jari-jari, tulang
punggung, sendi-sendi lutut dan panggul. Gangguan metabolisme
asam urat dalam tubuh (gout) menyebabkan nyeri yang sifatnya akut.

25
Terjadinya osteoporosis menjadi menyebab tulang-tulang lanjut usia
mudah patah. Biasanya patah tulang terjadi karena lanjut usia tersebut
jatuh, akibat kekuatan otot berkurang, koordinasi anggota badan
menurun, mendadak pusing, penglihatan yang kurang baik, dan bisa
karena cahaya kurang terang dan lantai yang licin.
6. Penyakit yang disebabkan proses keganasan.
Penyebab pasti belum diketahui, hanya nampak makin tua seseorang
makin mudah dihinggapi penyakit kanker. Pada wanita, kanker banyak
dijumpai pada rahim, payudara dan saluran pencernaan, yang biasanya
dimulai pada usia 50 tahun. Kanker pada pria paling banyak dijumpai
pada paru-paru, saluran pencernaan dan kelenjar prostat.
7. Penyakit-penyakit lain.
Penyakit saraf yang terpenting adalah akibat kerusakan pembuluh
darah otak yang dapat mengakibatkan perdarahan otak atau
menimbulkan kepikunan (senilis).
Penyakit-penyakit pada lansia yang sering terjadi :
1. Hipertensi
Penyakit hipertensi pada usia lanjut bisa dianggap biasa oleh
kebanyakan orang yang belum paham tentang kesehatan.
Kebanyakan dari mereka mengatakan jika tekanan darah 150/90
mmHg dialami oleh lansia, maka hal itu sangatlah biasa. Hipertensi
pada lansia dianggap biasa karena pada lansia telah terjadi
perubahan fungsi tubuh terkait proses penuaan, sehingga menurut
mereka, normal saja jika terjadi peningkatan tekanan darah pada
lansia. Padahal kenyataannya, tekanan darah tinggi 150/90 mmHg
pada lansia dapat meningkatkan risiko terjadinya komplikasi akibat
tekanan darah yang tidak normal tersebut seperti penyakit jantung
dan stroke.
2. Penyakit jantung koroner
Timbulnya penyakit jantung koroner biasa dikaitkan dengan
seseorang yang memiliki riwayat tekanan darah tinggi yang tidak
terkontrol dengan baik dan memiliki profil lipid darah yang buruk.

26
Penyakit jantung koroner bisa disebabkan akibat adanya sumbatan
akibat penumpukan lemak pada pembuluh darah yang keluar atau
menuju jantung. Akibat adanya sumbatan lemak pada pembuluh
darah jantung timbul gangguan peredaran darah yang keluar masuk
jantung. Akibatnya jantung kesulitan mendapatkan oksigen untuk
meregenerasi sel-sel yang rusak. Dengan demikian, jantung mudah
mengalami kerusakan dan akhirnya muncul penyakit jantung
koroner.
3. Stroke
Stroke pada usia lanjut paling banyak disebabkan oleh tekanan
darah tinggi yang tidak terkontrol dan penyakit kolesterol yang
biasanya tidak disadari tanpa melakukan cek darah untuk
kolesterol. Tekanan darah tinggi dapat menekan pembuluh darah
dari dalam sehingga pembuluh darah dapat pecah. Pecahnya
pembuluh darah dalam otak menyebabkan stroke akibat perdarahan
yang bisa mengancam nyawa saat itu juga. Sedangkan kadar
kolesterol jahat dalam darah yang tinggi dapat menyumbat
pembuluh darah tak terkecuali pembuluh darah dalam otak
menyebabkan stroke tanpa perdarahan, yang dalam istilah medis
disebut sebagai stroke ischemic.
4. Kanker
Penyakit kanker dahulu paling banyak ditemui pada usia lanjut,
tapi tidak pada zaman sekarang. Gaya hidup serba instan membuat
kebanyakan orang jarang melakukan olahraga dan makan makanan
sehat yang alami. Apalagi mereka yang bekerja dari pagi hingga
larut malam. Kebanyakan orang akan memakan makanan yang
mudah ditemui dan siap saji (junk food) yang sebenarnya sangat
minim nilai gizi. Makanan junk food biasanya mengandung
pengawet makanan dan penyedap rasa yang jika dikonsumsi secara
berlebihan bisa memicu timbulnya kanker.

27
5. PPOK
Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) sebenarnya sudah mulai
berproses ketika seseorang mulai merokok. Paru-paru akan
kesulitan untuk mendapatkan oksigen karena saluran napas yang
menuju paru-paru mengalami gangguan. Pada penyakit paru
obstruktif kronik (PPOK), perjalanan penyakitnya makin lama
makin progresif. Tidak ada obat yang bisa mengembalikan fungsi
paru seperti keadaan semula sebelum orang tersebut merokok.
6. Diabetes mellitus tipe 2
Kebanyakan lansia memang mengidap penyakit diabetes melitus
tipe-2 ini. Tapi sekarang zaman sudah bergeser, penyakit ini
sekarang menyerang anak dan remaja. Diabetes melitus tipe-2 pada
usia lanjut tanpa general check up, biasanya baru diketahui ketika
lansia mengalami berbagai komplikasi
7. Osteoporosis
Sebenarnya, osteoporosis atau pengeroposan tulang sudah terjadi
sejak usia 40 tahun, yang kemudian berlanjut hingga usia 85-90
tahun. Osteoporosis adalah suatu keadaan di mana massa tulang
semakin lama semakin berkurang per unit volume, sampai tulang
tidak bisa menopang berat badan lagi. Puncaknya, jika
pengeroposan tulang ini terus berlangsung, maka dapat mengalami
patah tulang spontan meskipun tanpa aktivitas. Yang terjadi pada
tulang ketika osteoporosis ini, dapat dicegah dengan rajin
berolahraga, terpapar sinar matahari pagi sebelum jam 8 untuk
mendapatkan asupan vitamin D alami, makan makanan tinggi
kalsium dan suplemen kalsium.
8. Osteoarthritis
Pengapuran sendi sering terjadi pada usia lanjut. Namun, tidak
menutup kemungkinan, pengapuran sendi dapat terjadi bahkan
sebelum usia 40 tahun. Osteoarthritis yang terjadi sebelum usia 40
tahun terkait dengan banyak tidaknya faktor risiko untuk terjadinya

28
pengapuran sendi. Semakin banyak faktor risiko pengapuran sendi,
semakin mungkin orang itu mengalami pengapuran sendi.
9. Kolelitiasis
Kolelithiasis adalah istilah medis untuk penyakit batu empedu.
Penyakit batu empedu sering dialami lansia terkait pola makan
yang tinggi lemak dan minim serat. Kelebihan berat badan dapat
meningkatkan risiko terkena penyakit batu empedu.

Cara hidup sehat adalah cara-cara yang dilakukan untuk dapat menjaga,
mempertahankan dan meningkatkan kesehatan seseorang. Adapun cara-
cara tersebut adalah:

 Makan makanan yang bergizi dan seimbang


Banyak bukti yang menunjukkan bahwa diet adalah salah satu faktor
yang mempengaruhi kesehatan seseorang. Dengan tambahnya usia
seseorang, kecepatan metabolisme tubuh cenderung turun, oleh karena
itu, kebutuhan gizi bagi para lanjut usia, perlu dipenuhi secara adekuat.
Kebutuhan kalori pada lanjut usia berkurang, hal ini disebabkan karena
berkurangnya kalori dasar dari kegiatan fisik. Kalori dasar adalah
kalori yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan tubuh dalam
keadaan istirahat, misalnya : untuk jantung, usus, pernafasan, ginjal,
dan sebagainya. Jadi kebutuhan kalori bagi lansia harus disesuaikan
dengan kebutuhannya. Petunjuk menu bagi lansia adalah sebagai
berikut (Depkes, 1991):
o Menu bagi lansia hendaknya mengandung zat gizi dari berbagai
macam bahan makanan yang terdiri dari zat tenaga, pembangun
dan pengatur.
o Jumlah kalori yang baik untuk dikonsumsi lansia 50% adalah
hidrat arang yang bersumber dari hidrat arang komplex (sayur-
sayuranan, kacang-kacangan, biji-bijian).
o Sebaiknya jumlah lemak dalam makanan dibatasi, terutama
lemak hewani.

29
o Makanan sebaiknya mengandung serat dalam jumlah yang
besar yang bersumber pada buah, sayur dan beraneka pati, yang
dikonsumsi dengan jumlah bertahap.
o Menggunakan bahan makanan yang tinggi kalsium, seperti
susu non fat, yoghurt, ikan.
o Makanan yang mengandung zat besi dalam jumlah besar,
seperti kacang-kacangan, hati, bayam, atau sayuran hijau.
o Membatasi penggunaan garam, hindari makanan yang
mengandung alkohol.
o Makanan sebaiknya yang mudah dikunyah.
o Bahan makanan sebagai sumber zat gizi sebaiknya dari bahan-
bahan yang segar dan mudah dicerna.
o Hindari makanan yang terlalu manis, gurih, dan berminyak.
o Makan disesuaikan dengan kebutuhan
 Minum air putih 1.5-2 liter
Manusia perlu minum untuk mengganti cairan tubuh yang hilang
setelah melakukan aktivitasnya dan minimal minum air putih 1,5-2
liter per hari. Air sangat besar artinya bagi tubuh karena air membantu
menjalankan fungsi tubuh, mencegah timbulnya berbagai penyakit di
saluran kemih seperti kencing batu, batu ginjal dan lain-lain. Air juga
sebagai pelumas bagi fungsi tulang dan engselnya, jadi bila tubuh
kekurangan cairan, maka fungsi, daya tahan dan kelenturan tulang juga
berkurang, terutama tulang kaki, tangan dan lengan. Padahal tulang
adalah penopang utama bagi tubuh untuk melakukan aktivitas.
Manfaat lain dari minum air putih adalah mencegah sembelit. Untuk
mengolah makanan di dalam tubuh usus sangat membutuhkan air.
Tentu saja tanpa air yang cukup kerja usus tidak dapat maksimal, dan
muncul sembelit. Air mineral atau air putih lebih baik daripada kopi,
teh kental, soft drink, minuman beralkohol, es maupun sirup. Bahkan
minuman-minuman tersebut tidak baik untuk kesehatan dan harus
dihindari terutama bagi para lansia yang mempunyai penyakit-penyakit
tertentu seperti DM, darah tinggi, obesitas dan sebagainya.

30
 Olah raga teratur dan sesuai
Usia bertambah, tingkat kesegaran jasmani akan turun. Penurunan
kemampuan akan semakin terlihat setelah umur 40 tahun, sehingga
saat lansia kemampuan akan turun antara 30-50%. Oleh karena itu, bila
usia lanjut ingin berolahraga harus memilih sesuai dengan umur
kelompoknya, dengan kemungkinan adanya penyakit. Olah raga usia
lanjut perlu diberikan dengan berbagai patokan, antara lain beban
ringan atau sedang, waktu relatif lama, bersifat aerobik dan atau
kalistenik, tidak kompetitif atau bertanding. Beberapa contoh olahraga
yang sesuai dengan batasan diatas yaitu, jalan kaki, dengan segala
bentuk permainan yang ada unsur jalan kaki misalnya golf, lintas alam,
mendaki bukit, senam dengan faktor kesulitan kecil dan olah raga yang
bersifat rekreatif dapat diberikan. Dengan latihan otot manusia lanjut
dapat menghambat laju perubahan degeneratif.
 Istirahat dan tidur yang cukup
Sepertiga dari waktu dalam kehidupan manusia adalah untuk tidur.
Diyakini bahwa tidur sangat penting bagi pemeliharaan kesehatan dan
proses penyembuhan penyakit, karna tidur bermanfaat untuk
menyimpan energi, meningkatkan imunitas tubuh dan mempercepat
proses penyembuhan penyakit juga pada saat tidur tubuh mereparasi
bagian-bagian tubuh yang sudah aus. Umumnya orang akan merasa
segar dan sehat sesudah istirahat. Jadi istirahat dan tidur yang cukup
sangat penting untuk kesehatan.
 Menjaga kebersihan
Yang dimaksud dengan menjaga kebersihan disini bukan hanya
kebersihan tubuh saja, melainkan juga kebersihan lingkungan, ruangan
dan juga pakaian dimana orang tersebut tinggal. Yang termasuk
kebersihan tubuh adalah: mandi minimal 2 kali sehari, mencuci tangan
sebelum makan atau sesudah mengerjakan sesuatu dengan tangan,
membersihkan atau keramas minimal 1 kali seminggu, sikat gigi setiap
kali selesai makan, membersihkan kuku, memakai alas kaki jika keluar
rumah dan pakailah pakaian yang bersih. Kebersihan lingkungan,

31
dihalaman rumah, jauh dari sampah dan genangan air. Di dalam
ruangan atau rumah, bersihkan dari debu dan kotoran setiap hari, tutupi
makanan di meja makan. Sprei, gorden, karpet, seisi rumah, termasuk
kamar mandi dan WC harus dibersihkan secara periodik. Namun perlu
diingat dan disadari bahwa kondisi fisik perlu mendapat bantuan dari
orang lain, tetapi bila lansia tersebut masih mampu diusahakan untuk
mandiri dan hanya diberi pengarahan.
 Minum suplemen gizi yang diperlukan
Pada lansia akan terjadi berbagai macam kemunduran organ tubuh,
sehingga metabolisme di dalam tubuh menurun. Hal tersebut
menyebabkan pemenuhan kebutuhan sebagian zat gizi pada sebagian
besar lansia tidak terpenuhi secara adekuat. Oleh karena itu jika
diperlukan, lansia dianjurkan untuk mengkonsumsi suplemen gizi.
Tapi perlu diingat dan diperhatikan pemberian suplemen gizi tersebut
harus dikonsultasikan dan mendapat izin dari petugas kesehatan.
 Memeriksa kesehatan secara teratur
Pemeriksaan kesehatan berkala dan konsultasi kesehatan merupakan
kunci keberhasilan dari upaya pemeliharaan kesehatan lansia.
Walaupun tidak sedang sakit lansia perlu memeriksakan kesehatannya
secara berkala, karena dengan pemeriksaan berkala penyakit-penyakit
dapat diketahui lebih dini sehingga pengobatanya lebih mudah dan
cepat dan jika ada faktor yang beresiko menyebabkan penyakit dapat
di cegah.
 Mental dan batin tenang dan seimbang
Cara-cara yang dapat dilakukan untuk menjaga agar mental dan batin
tenang dan seimbang adalah:
o Lebih mendekatkan diri kepada Tuhan YME dan menyerahkan diri
kita sepenuhnya kepadaNya. Hal ini akan menyebabkan jiwa dan
pikiran menjadi tenang.
o Hindari stres, hidup yang penuh tekanan akan merusak kesehatan,
merusak tubuh dan wajahpun menjadi nampak semakin tua. Stres

32
juga dapat menyebabkan atau memicu berbagai penyakit seperti
stroke, asma, darah tinggi, penyakit jantung dan lain-lain.
o Tersenyum dan tertawa sangat baik, karena akan memperbaiki
mental dan fisik secara alami. Penampilan kita juga akan tampak
lebih menarik dan lebih disukai orang lain. Tertawa membantu
memandang hidup dengan positif dan juga terbukti memiliki
kemampuan untuk menyembuhkan. Tertawa juga ampuh untuk
mengendalikan emosi kita yang tinggi dan juga untuk melemaskan
otak kita dari kelelahan. Tertawa dan senyum murah tidak perlu
membayar tapi dapat menadikan hidup ceria, bahagia, dan sehat.
 Rekreasi
Untuk menghilangkan kelelahan setelah beraktivitas selama seminggu
maka dilakukan rekreasi. Rekreasi tidak harus mahal, dapat
disesuaikan denga kondisi dan kemampuan. Rekreasi dapat dilakukan
di pantai dekat rumah, taman dekat rumah atau halaman rumah jika
mempunyai halaman yang luas bersama keluarga dan anak cucu,
duduk bersantai di alam terbuka. Rekreasi dapat menyegarkan otak,
pikiran dan melemaskan otot yang telah lelah karena aktivitas sehari-
hari.
 Hubungan antar sesama yang sehat
Pertahankan hubungan yang baik dengan keluarga dan teman-teman,
karena hidup sehat bukan hanya sehat jasmani dan rohani tetapi juga
harus sehat sosial. Dengan adanya hubungan yang baik dengan
keluarga dan teman-teman dapat membuat hidup lebih berarti yang
selanjutnya akan mendorong seseorang untuk menjaga,
mempertahankan dan meningkatkan kesehatannya karena ingin lebih
lama menikmati kebersamaan dengan orang-orang yang dicintai dan
disayangi.
 Back to nature (kembali ke alam)
Salah satu upaya untuk hidup sehat adalah back to nature atau kembali
lebih dekat dengan alam. Kita tidak harus menjauhi tekhnologi tetapi
paling tidak kita harus menghindari bahan makanan kalengan,

33
minuman kalengan, makanan yang diawetkan, makanan siap saji dan
harus lebih banyak mengkonsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan
yang segar dan juga minum air putih.
 Semua yang dilakukan tidak berlebihan
Untuk menciptakan hidup yang sehat segala sesuatu yang kita lakukan
tidak boleh berlebihan karena hal tersebut bukannya menjadikan lebih
baik tetapi sebaliknya akan memperburuk keadaan. Jadi lakukanlah
atau kerjakanlah sesuatu hal itu sesuai dengan kebutuhan
8. Pemahaman konsep panti
Panti werdha atau PSLU adalah unit pelaksana teknis di bidang
pembinaan kesejahteraan sosial lansia yang memberikan pelayanan
kesejahteraan sosial bagi lansia berupa pemberian penampungan,
jaminan hidup, seperti pakaian, pemeliharaan kesehatan, pengisian
waktu luang termasuk rekreasi, bimbingan sosial mental serta agama
sehingga mereka dapat menikmati hari tua diliputi dengan ketentraman
lahir batin.
Tujuan pelayanannya adalah:
a. Terpenuhinya kebutuhan lansia yang mencakup biologis,
psikologis, sosial dan spiritual.
b. Memperpanjang usia harapan hidup dan masa produktifitas
lansia.
c. Terwujudnya kesejahteraan sosial lansia yang diliputi rasa
tenang, tenteram, bahagia, dan mendekatkan diri kepada Tuhan
Yang Maha Esa.
Tugas pelayanan meliputi:
a) Memberi pelayanan sosial kepada lansia yang meliputi pemenuhan
kebutuhan hidup, pembinaan fisik, mental, dan sosial, member
pengetahuan serta bimbingan keterampilan dalam mengisi
kehidupan yang bermakna.
b) Memberi pengertian kepada keluarga lanjut usia, masyarakat untuk
mau dan mampu menerima, merawat, dan memenuhi kebutuhan
lansia.

34
Fungsi pelayanan dapat berupa pusat pelayanan sosial lanjut usia,
pusat informasi pelayanan sosial lanjut usia, pusat pengembangan
pelayanan sosial lanjut usia, dan pusat pemberdayaan lanjut usia.
Sasaran pelayanan ini adalah lanjut usia potensial, yaitu lanjut usia
yang berusia 60 tahun ke atas, masih mampu melakukan pekerjaan
atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang dan jasa. Lanjut usia
tidak potensial adalah lanjut usia yang berusia 60 tahun ke atas, tidak
berdaya mencari nafkah sehingga hidupnya bergantung pada bantuan
orang lain, keluarga lanjut usia, masyarakat, kelompok, dan organisasi
sosial.
Kebutuhan lansia
Dengan memperhatikan keanekaragaman latar belakang bo-psiko-
sosial dan spiritual lanjut usia, kebutuhan dan tindakan dalam
pelayanan untuk lanjut usia dapat diidentifikasi. Dalam tindakan ini,
petugas berkewajiban memotivasi, mengarahkan, mengajarkan, dan
membantu melaksanakan kegiatan lanjut usia.
1) Kebutuhan biologis
 Makan dan minum
 Pakaian
 Tempat tinggal
 Olahraga
 Istirahat atau tidur
2) Kebutuhan psikologis
 Sering marah
 Rasa aman dan tenang
 Ketergantungan
 Sedih dan kecewa
 Kesepian
3) Kebutuhan sosial
 Aktifitas yang bermanfaat
 Kesulitan menyesuaikan diri
 Kesulitan berhubungan dengan orang lain

35
 Bersosialisasi dengan sesama lansia
 Kunjungan keluarga
 Rekreasi atau hiburan (di dalam dan di luar panti)
 Mengikuti pendidikan usia ketiga
 Tabungan atau simpanan bagi lansia yang berpenghasilan
4) Kebutuhan spiritual
 Bimbingan kerohanian
 Akhir hayat yang bermartabat

36