Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Indonesia merupakan suatu negara yang memiliki banyak sejarah yang


terjadi pada masa lalu, di antaranya sejarah mengenai pahlawan lokal, maupun
nasional. Dari jasa – jasa pahlawan itu, kita sekarang dapat menikmati
kemerdekaan di Nusantara ini yang dulunya pernah di jajah oleh bangsa asing.
Diantaranya Bangsa Portugis, Belanda, Perancis, Inggris dan Jepang.
Perjuangan melawan penjajah di Indonesia diawali dengan perjuangan bersenjata
di antaranya seperti yang dilakukan oleh Pangeran Diponegoro di Jawa Tengah,
Cut Nyak Dien di Aceh, Sultan Hassanudin dari Makassar dan Pangeran Antasari
dari Kalimantan Selatan. Selain perjuangan bersenjata, perlawanan terhadap
penjajah juga dilakukan melalui jalan diplomasi diantaranya Perundingan
Linggarjati, Renville, Roem Royen dan terakhir KMB .
Dalam perundingan yang dilakukan Indonesia dengan Belanda pada
awalnya disetujui bahwa wilayah Indonesia hanya mencakup Sumatera, Jawa dan
Madura. Namun selanjutnya wilayah Indonesia justru lebih kecil yang hanya
meliputi sebagian Jawa dan Sumatera saja . daerah di luar Jawa dan Sumatera,
misalnya Kalimantan dan Indonesia bagian timur yang lain masih dalam
penguasaan Belanda .
Puncak perjuangan diplomasi Indonesia dengan Belanda terjadi pada masa
KMB yang kemudian menghasilkan pengakuan kedaulatan terhadap NKRI.
Ternyata di Kalimantan Selatan sendiri perjuangan untuk lepas dari Belanda
sudah terjadi sebelum ditandatanganinya KMB. Semangat rakyat Kalimantan
Selatan untuk merdeka di pimpin oleh tokoh yang bernama Hassan Basry , di
mana beliau dengan perjuangannya yang tak kenal lelah telah mampu
mewujudkan Kaliamantan Selatan untuk lepas dari penjajahan Belanda, sehingga
Kalimantan Selatan memproklamirkan diri menjadi bagian dari NKRI .

1.2 Alasan Memilih Judul

Hassan Basry dengan segenap tenaganya berusaha untuk melepaskan


Kalimantan Selatan dari pihak penjajah. Tentunya dalam perjuangannya tersebut
sangat banyak pemahaman nilai–nilai yang terkandung di dalamnya yang dapat
dijadikan sebagai pemahaman pada kehidupan generasi muda kini dan masa
depan.
Untuk itu penulis memilih judul tersebut untuk memberikan pengetahuan
NILAI-NILAI PERJUANGAN HASSAN BASRY DI KALIMANTAN SELATAN bagi generasi
sekarang yang kurang memahami nilai–nilai perjuangan yang telah ditanamkan
oleh beliau.
1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang akan diangkat dan
diuraikan pada karya tulis ini adalah:
1. Bagaimana sejarah perjuangan Hassan Basry di Kalimantan Selatan?
2. Apa saja nilai–nilai perjuangan Hassan Basry untuk generasi muda?
3. Bagaimana penerapan pemahaman nilai-nilai tersebut untuk generasi muda
kini dan masa depan?

1.4 Tujuan penulisan


Pembuatan karya tulis ini memiliki tujuan yang tentunya nanti bisa
bermanfaat bagi pembaca, diantaranya:

1. Mengetahui perjuangan Hassan Basry di Kalimantan Selatan


2. Menggali nilai-nilai perjuangan Hassan Basry.
3. Menjabarkan penerapan nilai-nilai perjuangan Hassan Basry untuk generasi
muda kini dan masa depan.

1.5 Batasan masalah


Pada penulisan karya tulis ini, penulis akan membatasi masalah mengenai
NILAI- NILAI PERJUANGAN HASSAN BASRY DI KALIMANTAN SELATAN. Penulis
membahas mengenai perjuangan, pemahaman nilai–nilai yang terkandung dalam
perjuangan Hassan Basry serta penerapannya dalam generasi muda kini dan masa
depan.

1.6 Metode penulisan


Penulis menyusun karya tulis ini dengan cara mengumpulkan bahan dari
berbagai buku, artikel, serta media internet yang bersangkutan . Data-data akurat
yang telah didapat dari berbagai sumber dapat dijadikan sebagai acuan penulisan
karya tulis ini.
BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN

2.1 Perjuangan Hassan Basry

Hassan Basry (lahir di Kandangan, Hulu Sungai Selatan, 17 Juni 1923,


meninggal di Jakarta, 15 Juli 1984 pada umur 61 tahun) adalah seorang tokoh
perjuangan kemerdekaan Indonesia di Kalimantan Selatan dengan pangkat
terakhir Brigadir Jendral . Ia dimakamkan di Simpang Tiga, Liang Anggang, Kota
Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia
berdasarkan Surat Keputusan Presiden No. 110/TK/2001 tanggal 3 November
2001.
Hassan Basry menyelesaikan pendidikan di Hollands Inlandsche School (HIS)
yang setingkat sekolah dasar, kemudian ia mengikuti pendidikan berbasis Islam,
mula-mula di Tsanawiyah al-Wathaniah di Kandangan, kemudian di Kweekschool
Islam Pondok Modern di Ponorogo, Jawa Timur. Setelah proklamasi kemerdekaan,
Hassan Basry aktif dalam organisasi pemuda Kalimantan yang berpusat di
Surabaya. Dari sini ia mengawali kariernya sebagai pejuang. Pada 30 Oktober
1945, Hassan Basry berhasil menyusup pulang ke Kalimantan Selatan dengan
menumpang kapal Bintang Tulen, yang berangkat lewat pelabuhan Kalimas
Surabaya. Sesampainya di Banjarmasin, Hassan Basry menemui H. Abdurrahman
Sidik di Pekapuran, untuk mengirimkan pamflet dan poster tentang kemerdekaan
Indonesia. Selain itu melalui A.A. Hamidhan, juga dikirim pamflet ke Amuntai
dengan Ahmad Kaderi, sedangkan yang ke Kandangan dikirim lewat H. Ismail.
Di Haruyan pada tanggal 5 Mei 1946 para pejuang mendirikan Lasykar Syaifullah.
Program utama organisasi ini adalah latihan keprajuritan, sebagai pemimpin
ditunjuklah Hassan Basry. Pada tanggal 24 September 1946 saat acara pasar
malam amal banyak tokoh Lasykar Syaifullah yang ditangkap dan dipenjarakan
Belanda. Karena itu Hassan Basry mereorganisir anggota yang tersisa dengan
membentuk, Banteng Indonesia.

Pada tanggal 15 November 1946, Letnan Asli Zuchri dan Letnan Muda
M.Mursid anggota ALRI Divisi IV yang berada di Mojokerto, menghubungi Hassan
Basry untuk menyampaikan tugas yaitu mendirikan satu batalyon ALRI Divisi IV di
Kalimantan Selatan. Dengan mengerahkan pasukan Banteng Indonesia Hassan
Basry berhasil membentuk batalyon ALRI tersebut. Ia menempatkan markasnya di
Haruyan. Selanjutnya ia berusaha menggabungkan semua kekuatan bersenjata di
Kalimantan Selatan ke dalam kesatuan yang baru terbentuk itu.
Perkembangan politik di tingkat pemerintah pusat di Jawa menyebabkan posisi
Hasan Basry dan pasukannya menjadi sulit. Sesuai dengan Perjanjian Linggarjati
(25 Maret 1947), Belanda hanya mengakui kekuasaan de facto RI atas Jawa,
Madura dan Sumatera. Berarti Kalimantan merupakan wilayah yang ada di bawah
kekuasaan Belanda. Akan tetapi, Hassan Basry tidak terpengaruh oleh perjanjian
tersebut. Ia dan pasukannya tetap melanjutkan perjuangan melawan Belanda.
Sikap yang sama diperlihatkan pula terhadap Perjanjian Renville (17 Januari 1948).
Ia menolak untuk memindahkan pasukannya ke daerah yang masih dikuasai RI,
yakni ke Jawa.

Perjuangan Hassan Basry di Kalimantan Selatan selalu merepotkan pertahanan


Belanda pada masa itu dengan puncaknya berhasil memproklamasikan kedudukan
Kalimantan sebagai bagian dari Republik Indonesia yang dikenal dengan
Proklamasi 17 Mei 1949. Simaklah di bawah ini, betapa heroik kandungan
proklamasi itu.

PROKLAMASI
Merdeka !

Dengan ini kami rakjat Indonesia di Kalimantan Selatan, mempermaklumkan


berdirinja Pemerintah Gubernur Tentara dari “A.L.R.I.” melingkungi seluruh
daerah Kalimantan Selatan mendjadi bagian dari Republik Indonesia memenuhi
Proklamasi 17 Agustus 1945, jang ditanda tangani oleh Pres. Soekarno dan Wakil
Pres. M. Hatta.

Hal-hal jang bersangkutan dengan pemindahan kekuasaan akan dipertahankan


dan kalau perlu diperdjuangkan sampai tetesan darah jang penghabisan.

Tetap Merdeka.

Kandangan, 17 Mei IV Rep.

Atas nama rakjat Indonesia

di Kalimantan Selatan

Gubernur Tentara

HASSAN BASRY

Pada tanggal 2 September 1949 dilakukan perundingan antara ALRI DIVISI IV


dengan Belanda, beserta penengah UNCI. Pada kesempatan ini, Jenderal Mayor
Suharjo atas nama pemerintah mengakui keberadaan ALRI DIVISI IV sebagai
bagian dari Angkatan Perang Indonesia, dengan pemimpin Hassan Basry dengan
pangkat Letnan Kolonel.

Kemudian pada 1 November 1949, ALRI DIVISI IV dilebur ke dalam TNI


Angkatan Darat Divisi Lambung Mangkurat, dengan panglima Letkol Hassan Basry.
Selesai perang kemerdekaan, beliau melanjutkan pendidikan agamanya ke
Universitas Al Azhar tahun 1951–1953. Selanjutnya diteruskan di American
University Cairo tahun 1953–1955.
Sekembalinya ke tanah air, pada tahun 1956, Hassan Basry di lantik sebagai
Komandan Resimen Infanteri 21/Komandan Territorial VI Kalsel. Dan pada tahun
1959, ditunjuk sebagai Panglima Daerah Militer X Lambung Mangkurat.
Pada saat suasana politik memanas karena kegiatan PKI dan ormasnya, Hassan
Basry mengeluarkan surat pembekuan kegiatan PKI beserta ormasnya pada
tanggal 22 Agustus 1960. Keluarnya surat ini sempat ditegur oleh Presiden
Sukarno, namun Hassan Basry sebagai kepala Penguasa Perang Daerah Kalsel tidak
mentaati teguran presiden. Pembekuan PKI dan ormasnya diikuti oleh daerah
Sulawesi Selatan dan Sumatera Selatan, peristiwa ini dikenal dengan sebutan
peristiwa Tiga Selatan. Pada tahun 1961–1963, menjabat Deputi Wilayah
Komando antar Daerah Kalimantan dengan pangkat Brigadir Jenderal. Pada
tanggal 17 Mei 1961, bertepatan peringatan Proklamasi Kalimantan Selatan,
sebanyak 11 organisasi politik dan militer menetapkan Hassan Basry sebagai
Bapak Gerilya Kalimantan. Kesepakatan ini diikuti oleh ketetapan DPRGR Tingkat II
Hulu Sungai Utara pada tanggal 20 Mei 1962, yaitu ketetapan Hassan Basry
sebagai Bapak Gerilya Kalimantan.

Pada 1960–1966, Hassan Basry menjadi anggota MPRS. Pada tahun 1970,
beliau diangkat sebagai Ketua Umum Harian Angkatan 45 Kalsel sekaligus sebagai
Dewan Paripurna Angkatan 45 Pusat dan Dewan Paripurna Pusat Legiun Veteran
Republik Indonesia. Pada 1978 – 1982, Hassan Basry menjadi anggota DPR.
Hassan Basry meninggal pada tanggal 15 Juli 1984 setelah sakit dan dirawat di
RSPAD Gatot Subroto Jakarta. Pemakaman beliau dilaksanakan secara militer
dengan inspektur upacara Mayjen AE. Manihuruk. beliau dimakamkan di Liang
Anggang Banjarbaru Kalimantan Selatan. Atas jasa-jasanya, beliau dianugerahi
sebagai Pahlawan Kemerdekaan oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 3
November 2001.

2.2 Nilai–nilai Perjuangan Hassan Basry

Berdasarkan pembahasan mengenai perjuangan Hassan Basry di atas dapat


kita petik nilai–nilai perjuangan Hassan Basry seperti nilai kepahlawanan,
pendidikan, dan sosial.

1. Nilai Kepahlawan

Perjanjian Linggarjati yang mengakui secara De Facto RI hanya meliputi


daerah barat yaitu Sumatra, Jawa dan Madura membuat beliau tergerak untuk
menjadikan Kalimantan Selatan sebagai bagian dari RI. Nilai Kepahlawanan
beliau ini terbukti dengan kembalinya beliau ke Kalimantan Selatan dengan
menyusup kapal Bintang Tulen, yang berangkat lewat pelabuhan Kalimas
Surabaya. Sesampainya beliau di Kalimantan Selatan beliau beserta teman–
temannya membentuk badan pejuang seperti Laskar Syifullah, Banteng
Indonesia dan ALRI DIVISI IV Pertahanan Kalimantan perjuangan untuk
membawa Kalimantan Selatan ikut merdeka bukanlah hal mudah.Hassan Basry
dengan sekuat tenaga telah berjasa dengan jiwa dan raganya memimpin
perlawanan bersenjata di Kalimantan. Hingga pada puncaknya Hassan Basry
berhasil memproklamasikan kedudukan Kalimantan sebagai bagian dari
Republik Indonesia yang dikenal dengan Proklamasi 17 Mei 1949.

2. Nilai Pendidikan

Hassan Basry merupakan seorang tokoh yang sangat memperhatikan


pendidikan sebagai contoh selama beliau menempuh pendidikan dengan segala
keterbatasan pada saat itu beliau berhasil menyelesaikan pendidikan dengan
baik, bahkan beliau bisa berprestasi yang mengantarkannya hingga dapat
bersekolah ke luar negeri di Universitas Al Azhar di Cairo dan melanjutkan lagi
ke American University di Cairo.

3. Nilai Sosial

Nilai Sosial yang terdapat pada Hassan Basry tercermin melalui


kehidupannya. Beliau merupakan orang yang gigih dan sederhana, dengan
kerasnya beliau berusaha untuk memperjuangankan kemerdekaan Kalimantan
Selatan. Padahal pada saat Indonesia merdeka beliau berada di Surabaya, akan
tetapi beliau dengan semangatnya kembali ke Kalimantan Selatan. Betapa
pedulinya beliau pada tanah kelahiranya. Hingga pada saat beliau meninggal
beliau berwasiat agar tidak di makamkan di taman makam pahlawan, dan atas
persetujuan masyarakat beliau di makamkan di Simpang 3 Liang Anggang. Hal
tersebut bertujuan agar semua kalangan masyarakat bisa berkunjung ke
makamnya. Selain itu jiwa sosial beliau yang baik tersebut tersalurkan dalam
beberapa organisasi masyarakat Pada 1960–1966, Hassan Basry menjadi
anggota MPRS dan pada 1978–1982, Hassan Basry menjadi anggota DPR.

2.3 Penerapan nilai-nilai untuk Generasi Muda

Berdasarkan nilai-nilai yang terdapat pada perjuangan Hassan Basry seperti


nilai kepahlawanan, nilai pendidikan dan nilai sosial tentunya nilai–nilai
tersebut akan lebih baik jika kita terapkan dalam kehidupan kita sehari–hari.
Terutama bagi generasi muda kini dan masa depan nanti yang akan menjadi
penerus bangsa di kemudian hari. Penerapan dari tiga nilai tersebut dapat kita
terapkan sebagai berikut.

1. Penerapan pada Nilai Kepahlawanan

Hassan Basry tergerak hatinya untuk membawa Kaliamantan Selatan merdeka


menjadi bagian dari RI sampai akhirnya beliaupun berhasil memimpin dan
menyatakan kemerdekaan Kalimantan Selatan. Berdasarkan dari nilai
kepahlawanan tersebut dapat kita terapkan dengan cara membela sesuatu
yang benar dan menegakkan hak seseorang yang dimilikinya. Setiap manusia
memiliki hak yang menjadi miliknya. Begitu juga masyarakat Kalimantan
Selatan. Ikut menjadi bagian dari RI dan lepas dari penjajah merupakan hak
masyarakat Kalimantan Selatan. Dengan perjuangan Hassan Basry dan para
pejuang lainnya di Kalimantan Selatan akhirnya Kalimantan Selatan bisa
merdeka. Nilai ini harus kita junjung di manapun kita berada.

2. Penerapan pada Nilai Pendidikan

Nilai pendidikan dari perjuangan Hassan Basry bisa kita terapkan diantaranya
dengan cara belajar yang tekun dan giat. Karena pada zaman sekarang ini untuk
menikmati pendidikan sangatlah mudah apalagi sekarang pemerintah kita
sangat memperhatikan pendidikan di Indonesia, tidak seperti pada saat zaman
Hassan Basry yang sulit untuk menikmati pendidikan, dimana hanya golongan
tertentulah yang bisa menikmatinya. Oleh karena itu janganlah kita bermalas–
malasan untuk belajar.

3. Penerapan pada Nilai Sosial

Melalui berbagai cara kita bisa menerapkan nilai sosial dari perjuangan Hassan
Basry diantaranya dengan menerapkan hidup sederhana, menggunakan segala
sesuatunya secara wajar tidak berlebih–lebihan. Selain dengan cara
menerapkan hidup sederhana kita juga bisa menerapkan nilai sosial perjuangan
Hassan Basry pada kehidupan kita bermasyarakat, saling peduli terhadap
sesama. Melalui lingkup yang kecil tersebutlah nilai ini bisa di terapkan.
BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan

Setelah melakukan pencarian bahan untuk kepentingan Karya Tulis


Ilmiah ini kemudian menganalisis data yang telah didapatkan, kami dapat
menyimpulakan beberapa hal yaitu perjuangan Hassan Basry di tanah Banjar
memiliki nilai – nilai yang bisa di terapkan pada generasi muda kini dan masa
depan nanti yang tentunya memilik dampak positif bagi kehidupan berbangswa
dan bernegara. Banyak nilai-nilai yang terdapat dalam kisah perjuangan Hassan
Basry antara lain nilai sosial, nilai pendidikan serta nilai kepahlawanan. Nilai-
nilai yang dapat kita peroleh dari Hassan Basry ini tergambar dari perjuangan-
perjuangan yang dilaluinya seperti kembalinya beliau ke Kalimantan Selatan
dengan menyusup kapal Bintang Tulen, yang berangkat lewat pelabuhan
Kalimas Surabaya. Hal ini menunjukkan bahwa perlu adanya kegigihan dalam
mencapai sesuatu hal.
Berdasarkan perjuangan yang dilakukan oleh Hassan Basry juga dapat
kita petik nilai pendidikan yang terdapat pada saat beliau bisa berprestasi yang
mengantarkannya hingga dapat bersekolah ke luar negeri di Universitas Al
Azhar di Cairo dan melanjutkan lagi ke American University di Cairo artinya
dimasa perjuangan beliau juga mementingkan pendidikan yang begitu penting
bagi kehidupan walaupun di masa yang lalu pendidikan tidaklah begitu
diperhatikan oleh masyarakat yang terjajah. Keinginan untuk mengenyam
pendidikan begitu kuat tertanam di hati beliau, hingga beliau mampu
bersekolah hingga keluar negeri.Begitu besar pengorbanan yang beliau berikan
di tengah kemerdekaan yang baru saja terjadi. Hal yang terakhir adalah hidup
sederhana yang diterapkan oleh beliau. Kesederhanaan mengantarkan beliau
pada sebuah kesuksesan. Kesuksesan yang tidak terbayar oleh apapun.

Selain itu cara hidup bermasyarakat yang cukup menglobal juga


mempermudah beliau untuk menyusun pertahanan, terutama pertahanan yang
ada di Kalimantan Selatan. Selain itu juga cara berinteraksi beliau membawa
persatuan di wilayah Kalimantan Selatan dan mampu merangkul masyarakat
Kalimantan Selatan bersama – sama melawan penjajah dan memerdekakan
Kalimantan Selatan menjadi bagian dari RI Dengan perjuangan beliau tersebut
Hassan Basry pun diangkat sebagai Bapak Gerilya Kalimantan berdasarkan
ketetapan DPRGR Tingkat II Hulu Sungai Utara pada tanggal 20 Mei 1962, yaitu
ketetapan Hassan Basry sebagai Bapak Gerilya Kalimantan.
Setelah beliau berhasil menjadikan Kalimantan selatan menjadi bagian
dari RI beliau pun aktif di bidang politik diantaranya Hassan Basry pernah
menjadi anggota MPRS (1960 – 1966). Pada tahun 1970, beliau diangkat
sebagai Ketua Umum Harian Angkatan 45 Kalsel sekaligus sebagai Dewan
Paripurna Angkatan 45 Pusat dan Dewan Paripurna Pusat Legiun Veteran
Republik Indonesia. Pada 1978 – 1982, Hassan Basry menjadi anggota DPR. Dari
keaktifan beliau di bidang politk juga dapat kita petik sesuatu yaitu walaupun
telah berhasil menjadikan Kalimantan Selatan sebagai bagian dari RI , beliau
tetap saja ingin memberikan pengabdiannya kepada masyrakat melalui
organisasi yang ada.

3.2 Saran

Berdasarkan hasil pembahasan dan kesimpulan yang telah dipaparkan,


maka penulis menyarankan beberapa hal sebgai berikut :

1. Agar negara kita ikut berperan dalam penulisan mengenai pemahamnan


nilai–nilai perjuangan tokoh lokal dan nasional pada kehidupan generasi muda
kini dan masa depan.

2. Diharapkan nilai-nilai perjuangan Hassan Basry seperti nilai kepahlawanan,


pendidikan, dan sosial dapat diaplikasikan dalam kegiatan berbangsa dan
bernegara, serta pembangun di Indonesia

3. Diharapkan kita senantiasa mengasah, memberdayakan segala potensi diri


yang luar biasa untuk senantiasa belajar, menggali ilmu pengetahuan disertai
niat yang kuat, tujuan yang jelas dan motivasi yang tinggi.

4. Bagi para pembaca, penulis berharap apabila ada penulisan yang keliru
dimohonkan partisipasinya untuk dapat menyampaikan kekurangan tersebut
agar karya tulis ini dapat disempurnakan kembali dan bermanfaat bagi
pembaca.
DAFTAR PUSTAKA

Basry, Hassan. 2003. Kisah Gerilya Kalimantan Periode Tahun 1945-


1949, Jilid I dan II. Banjarmasin: Yayasan Bhakti Banua.

Gafuri, Ahmad. 1984. SejarahPerjuangan Gerilya Menegakkan Republik


Indonesia di Kalimantan Selatan (1945-1949). Kandangan: Departemen
Penerangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Ideham, M. Suriansyah dkk (ed.). 2003. Sejarah Banjar. Banjarmasin:


Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Kalimantan
Selatan.
Wajidi. 2007. Proklamasi Kesetiaan Kepada Republik. Pustaka Banua:
Banjarmasin.
http://bubuhanbanjar.wordpress.com/2009/09/24/hassan-basry-
pahlawan-nasional-dari-kalsel/, di akses 29 juli 2011.
Lampiran