Anda di halaman 1dari 3

Taman Gantung Memang Ada, Tapi Bukan

di Babylon
By Erabaru -
19/12/2016

Share on Facebook

Tweet on Twitter

Ilustrasi “Taman gantung Babilonia” karya seniman abad keenam. (Internet)

Menurut legenda, ada “tujuh keajaiban dunia” kuno. Di antaranya termasuk “Hanging Gardens
of Babylon” yang dibangun Raja Nebukadnezar untuk ratunya. Namun, terkait apakah taman
gantung ini memang benar-benar ada, hingga kini masih diperdebatkan.

Hasil studi yang dipublikasikan sejarawan dari Oxford University mengatakan, “Taman Gantung
Babilonia” memang ada, tapi bukan di Hillah (sekarang Irak bagian tengah), melainkan di
negara seterunya, Nineveh ibukota kerajaan Asyur (Mosul-nya Irak sekarang) yang dibangun
dinasti Assyrian.

Adalah Dr Stephanie Dalley dari Universitas Oxford di Institut Oriental yang mengemukakan
teori ini. “Taman gantung Babilonia” dalam legenda itu sebenarnya terletak di Nineveh, 480 km
dari utara Babylon, yang dibangun oleh dinasti Assyrian, yaitu Sennacherib, bukan oleh Raja
Babilonia, Nebuchadnezzar.

Taman gantung Babilonia yang begitu legendaris, selama ini diketahui terletak di Babilonia atau
sekarang bernama Al Hillah, Irak. Keberadaannya yang misterius dan kemegahan yang
digambarkan, membuat Taman gantung Babilonia merupakan satu dari Tujuh Keajaiban Kuno
Dunia.

Dr Dalley telah menghabiskan puluhan tahun waktunya untuk meneliti lokasi taman, yang
disebut oleh beberapa orang sebagai mitos karena kurangnya bukti fisik.

Taman itu diyakini telah dibangun sekitar 600 SM, meskipun tahun tersebut diambil dari teks-
teks kuno yang ditulis ratusan tahun setelah taman tersebut dibuat.

Salah satu teks khusus mengklaim taman dibangun oleh Kaisar Babilonia Nebukadnezar di
provinsi Babel Irak untuk istrinya Amyitis. Namun tidak disebutkan taman itu dalam teks yang
ditulis oleh kaisar atau istrinya.

Hal ini menyebabkan Dr Dalley mempelajari teks-teks ini lebih mendalam dan selama penelitian
dia menemukan sebuah prisma di British Museum di London yang dipenuhi tulisan paku
(cuneiform).

Meskipun beberapa bukti telah diungkapkan oleh Dalley, tak lantas membuat seluruh akademisi
mempercayainya. Sebagian dari mereka berpendapat kurangnya bukti yang dapat dihadirkan, tak
mengubah pandangan mereka mengenai lokasi Taman Gantung Babilonia.

Seperti halnya McGuire Gibson, profesor arkeologi Mesopotamia di University of Chicago


Oriental Institute, yang mengutarakan bahwa ada sebuah lokasi di Babilonia yang memang
cocok untuk taman gantung yakni di sebelah selatan Citadel. Dinding raksasa terdapat di sebelah
kanan sungai. Ini merupakan tempat di mana memudahkan akses air.

Dalley mengungkapan, untuk sekarang ini memang tidak memungkinkan bagi siapapun untuk
melakukan penggalian di Nineveh demi mengakhiri segala perdebatan serta menjawab
keberadaan taman gantung ini sesungguhnya.

Lokasinya juga tidak memungkinkan karena bersebelahan dengan Mosul, yang merupakan
daerah konflik antara kaum minoritas Sunni dan Syiah yang dipimpin pemerintah Irak.

Buruknya lagi, situs ini telah dijarah selama bertahun-tahun dan digunakan sebagai pangkalan
militer oleh pasukan Saddam Hussein, sehingga tim penggalian tidak akan pernah menemukan
jejak dari taman gantung tersebut.
Orang yang paling awal mencetuskan konsep “tujuh keajaiban dunia” kuno adalah wisatawan
Fenisia Antipater of Sidon abad ke-3 SM. Sementara untuk pemilihan Tujuh Keajaiban tersebut
dipilih oleh filsuf Yunani kuno Philo dari Byzantium pada tahun 225 SM.