Anda di halaman 1dari 11

PREMATURE RUPTURE OF MEMBRANE

A. Definisi
Premature Rupture of Membrane adalah pecahnya selaput ketuban
pada setiap saat sebelum permulaan persalinan tanpa memandang
usia kehamilan.

B. Etiologi
Etiologi secara pasti belum diketahui, tetapi dihubungkan dengan
hidramnion, kehamilan multiple, persalinan pre term, incompetent
cervical, trauma dan amnionitis.

C. Klasifikasi
Berdasarkan penyebabnya PRoM dibagi menjadi :
 PRoM Spontan; terjadi karena lemahnya selaput ketuban atau
kurang terlindungi karena cervix terbuka (incompetent cervical)
 PRoM dengan penyebab sebelumnya; dapat terjadi karena adanya
trauma jatuh, coitus, hidramnion, infeksi, dll.
D. Patofisiologi
Faktor Predisposisi
Infeksi genetalia, cervix incompetent, gemelli,
hidramnion, persalinan pre term, trauma, amnionitis

PRoM

Selaput ketuban pecah sebelum persalinan

Spontan Ada penyebab sebelumnya

Chorion utuh amnion robek


Selaput janin robek

Kehamilan ekstra amnial


Chorion pecah

Pemisahan amnion dgn permukaan


badan janin kurang sempurna Air ketuban mengalir keluar

Perlekatan amnion pd kulit janin Kontaminasi MO pd cairan cairan ketuban >> partus pre term

Amputasi intrauterine anggota


Bdn janin oleh benang amnion Resiko infeksi intrauterine Gangguan pengeluaran cairan ketuban
Berlebih pada ibu

Cacat kongenital pd bayi Resiko terjadi injury pd janin Resiko infeksi pada ibu
E. Faktor Resiko
Faktor resiko terjadinya PRoM adalah:
1. Faktor Resiko Mayor
- Multiple gestasional
- Hidramnion
- Anomaly uterus
- Cervics >1cm dalam kehamilan 32 minggu
- Previous preterm delivery
- Operasi perut pada saat hamil
- Uterin irritability
- Pemakaian kokain
2. Faktor Resiko Minor
- Suhu tubuh tinggi
- Perdarahan 12 minggu lebih
- Merokok
- Lebih dari 2X abortus

Bila didapatkan 1 atau lebih faktor mayor dan lebih dari 2 faktor
minor, maka termasuk beresiko tinggi terjadi ProM

F. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala yang tampak pada PRoM adalah:
 Keluaer air ketuban warna putih, keruh, kuning, hijau, atau
kecoklatan, sedikit-sedikit atau sekaligus banyak
 Dapat disertai demam bila sudah ada infeksi
 Janin mudah diraba
 Konsistensi rahim lebih keras
 Rahim lebih kecil jika dibandingkan dengan usia kehamilan
 Pada periksa dalam selaput ketuban tidak ada, air ketuban sudah
kering.
 Inspeksi : tampak air ketuban mengalir, selaput ketuban tidak ada,
air ketuban sudah kering

G. Komplikasi
Komplikasi yang mungkin muncul pada PRoM adalah:
1. Infeksi
2. Prolaps tali pusat
3. Distosia
4. Partus preterm

H. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan labaratorium yang dapat dilakukan pada PRoM adalah:
1. Test Lakmus (Nitrazin test)
Dilakukan untuk menentukan cairan ketuban, jumlah cairan
ketuban, usia kehamilan, dan kelainan janin
2. Test LEA (Leukosit Esterace)
Penting dilakukan untuk menentukan apakah terjadi infeksi atau
tidak. Infeksi dapat ditandai dengan peningkatan suhu tubuh ibu
(>380C) air ketuban keruh dan berbau dan test LEA menunjukkan
leukosit darah >15.000/mm
3. Amniocentesis
Dilakukan dengan cara mengambil cairan amnion untuk
mengetahui adanya kelainan congenital pada janin, maturitas paru,
dan hemolitik disease.
4. USG
Untuk menentukan usia kehamilan, indeks cairan amnion
berkurang
I. Penatalaksanaan
PRoM pada kehamilan aterm maupun preterm dengan atau tampa
komplikasi harus dirujuk ke rumah sakit. Pada kehamilan <32 minggu,
dilakukan tindakan konservatif yaitu bed rest, diberikan sedative
berupa fenobarbital 3 x 30mg. Berikan antibiotik selama 5 hari dan
glikokortikosteroid, contoh dexamethasone 3 x 5mg selama 2 hari.
Berikan pula tokolisis. Bila terjadi infeksi akhiri kehamilan.
Pada kehamilan 33-35minggu, lakukan terapi konservatif selama 24
jam lalu induksi persalinan. Bila terjadi infeksi akhiri kehamilan.
Pada kehamilan >36minggu, bila ada his pimpin meneran dan
lakukan akselerasi bila ada inersia uteri. Bila tidak ada his lakukan
induksi persalinan bila ketuban pecah kurang dari 6 jam dan skor
pelvic kurang dari 5 atau ketuban pecah lebih dari 6jam dan skor
pelvic lebih dari 5, SC bila ketuban pecah kurang dari 5 jam dan skor
pelvic kurang dari 5.
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN PROM

A. Pengkajian
 Observasi/temuan
- Cairan ketuban keluar dari vagina
 Pemeriksaan Laboratorium
- Test kertas nitrazin positif
- Kultur cairan sesuai indikasi
- Adanya cairan amnion pada vagina
 Potensial Komplikasi
- Perdarahan
- Leukositosis pada ibu hamil
- Suhu maternal naik
- Takikardi pada ibu hamil
- Takikardi janin >160X/menit
- Bradikardi janin <120X/menit

B. Diagnosa Keperawatan
1. Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan kontaminasi MO
pada cairan sekunder adanya port d’entry kuman
2. Pengeluaran cairan ketuban berlebihan berhubungan dengan
adanya robekan pada selaput ketuban
3. Cemas berhubungan dengan kurang informasi tentang PRoM

C. Planning
1. Klien dapat bebas dari tanda-tanda infeksi
2. Klien dapat terbebas dari rasa cemas
3. Klien dapat mengerti tentang tanda-tanda dan hal yang
berkaitan dengan PRoM
4. Klien dapat menurunkan tingkat ansietas
D. Intervensi
DX 1:
1. Periksa TTV tiap 4 jam
R/: Indikator terjadinya infeksi diperlukan agar dapat dengan
cepat dan langsung dapat diintervensi
2. Auskultasi DJJ, waspadai adanya injury pada janin
R/: Janin yang mengalami takikardi kemungkinan mengalami
infeksi intrauterin
3. Hindari pemeriksaan per vagina
R/: Mengurangi kemungkinan kontaminasi kuman ke dalam
4. Observasi drainage amniotik terhadap warna, jumlah, dan bau
tiap 2-4 jam
R/: Air ketuban yang berwarna keruh dan berbau
menunjukkan terjadinya infeksi. Jumlah air ketuban yang
banyak keluar penting diketahui agar dapat diperkirakan
jumlah air ketuban yang masih ada dalam kandungan
5. Berikan perawatan perineal dengan larutan antiseptik setiap
selesai eliminasi
R/: Antiseptik dibutuhkan untuk membunuh MO agar tidak
menimbulkan infeksi
6. Jaga pasien agar tetap bersih dan kering
R/: Agar pasien merasa kering dan tidak lembab, dan
mencegah tumbuhnya MO
7. Ganti perlak/alas yang kotor
R/: Agar pasien merasa kering dan tidak lembab, dan
mencegah tumbuhnya MO
8. Palpasi fundus uteri untuk mengetahui aktifitas uterus tiap 1-2
jam
R/: Melihat apakah uterus mengalami kontraksi sebagai tanda-
tanda persalinan
9. Laporkan adanya kontraksi pada dokter
R/: Kontraksi menunjukkan tanda-tanda inpartu
10. Berikan antibiotik jika diperlukan
R/: Agar infeksi yang terjadi tidak meluas
11. Siapkan induksi oksitosin sesuai advice jika persalinan tidak
dimulai dalam 24jam dari PRoM
R/: Oksitosin diberikan untuk mempercepat kontraksi uterus,
karena hingga batas waktu yang ditentukan persalinan normal
belum terjadi.
12. Buat catatan tentang PRoM pada lembar bayi
R/: Perawat akanmengamati bayi thd kemungkinan terjadinya
distress, aspirasi meconium dan pneumonia pada persalinan
dan setelahnya.

DX 2:
1. Jelaskan alasan perlunya tirah baring. Penggunaan posisi
recumben lateral kiri atau miring
R/: Mempertahankan janin jauh dari cervix dan meningkatkan
perfusi uterus, tirah baring dapat menurunkan peka rangsang
uterus
2. Berikan tindakan kenyamanan seperti gosokan punggung,
perubahan posisi atau penurunan stimulus dalam ruangan
misalnya: lampu redup
R/: Menurunkan tegangan otot dan kelelahan serta
meningkatkan rasa nyaman.
3. Kelompokkan aktifitas sebanyak mungkin seperti pemberian
obat, Tv dan pengkajian
R/: Meningkatkan kesempatan klien untuk beristirahat lebih
lama di antara interupsi untuk tindakan berikutnya
4. Berikan periode tanpa interupsi untuk istirahat tidur
R/: Meningkatkan istirahat dan mencegah kelelahan dan dapat
meningkatkan relaksasi
5. Berikan aktifitas pengalihan seperti membaca, mendengarkan
radio, dll.
R/: Membantu klien dalam koping penurunan aktifitas

DX 3:
1. Diskusikan dnegan pasien bagaimana tanda-tanda PRoM,
gejalanya, akibatnya terhadap ibu dan janin
R/: Memberikan informasi yang lengkap pada ibu sehingga ibu
dapat menilai kondisinya sendiri
2. Laporkan tanda awitan persalinan
R/: Persalinan dimulai dalam 24 jam setelah ketuban pecah.
3. Jawab semua pertanyaan klien dengan jelas dan dengan bahasa
yang mudah dimengerti klien
R/: Klien merasa tenang dan nyaman
4. Selalu temani klien dan hibur klien, berikan hal-hal yang dapat
menyenangkan hati klien.
R/: Menurunkan respon cemas klien, sehingga klien lebih
rileks.
5. Jelaskan segala prosedur tindakan yang akan dilakukan pada
klien
R/: Menurunkan ketegangan dan ketakutan klien

E. Evaluasi
- Klien mendapat terapi pencegahan infeksi, serta janin terbebas
dari infeksi
- Klien bebas dari rasa cemas
- Klin mengerti segala hal tentang PRoM, serta setiap prosedur
yang akan dilakukan
- Klioen dapat mengurangi aktifitas dengan bed rest.
DAFTAR PUSTAKA

Doengoes, Marilyn, E. 2001. Rencana Perawatan Maternal/Bayi. Pedoman


untuk Perencanaan dan Dokumentasi Perawatan Klien. EGC: Jakarta

Derek L, Jones. 2002. Dasar-Dasar Obstetri dan Ginekologi. Widya


Medika: Jakarta

Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri, Obstetri Operatif dan Obstetri


Sosial. Jilid 2. EGC:Jakarta

Manuaba, I Gde. 1998. Imu Kebidanan dan Penyakit Kandungan dan KB.
EGC : Jakarta

Prawiroharjo. 2002. Ilmu Kandungan. Yayasan Bina Pustaka: Jakarta