Anda di halaman 1dari 21

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokok Bahasan : Struma (Gondok)


Sub Pokok Bahasan : Pencegahan Pada Penyakit Gondok
Waktu dan tgl : 14 Desember 2017, 30 menit (jam 07.00 – 08.00)
Sasaran : Pasien Dan Keluarga Pasien
Tempat : RSUD Ngudi Waluyo Ungaran

I. Latar Belakang
Kesehatan masyarakat perkotaan dipengaruhi oleh beberapa faktor,
diantaranya lingkungan, perilaku, akses pelayanan kesehatan dan
kependudukan (Efendi & Makhfudi,2010). Gaya hidup masyarakat perkotaan
saat ini, yang sering mengkonsumsi pola makan yang kurang sehat dan
kurangnya olahraga. Dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat perkotaan itu
sendiri. Keadaan ini memicu berbagai jenis penyakit yang diderita oleh
masyarakat perkotaan. Salah satunya adalah, pembengkakan pada leher atau
biasa disebut struma nodusa atau gondok. Penyebab struma nodusa antara lain
terpaparnya oleh goitrogen, pencemaran lingkungan, gangguan hormonal dan
riwayat radiasi pada area kepala dan leher. Goiter pembesaran kelenjar tiroid
atau gondok adalah, salah satu cara mekanisme kompensasi tubuh terhadap
kurangnya unsur yodium dalam makanan dan minuman. Keadaan ini, dapat
menghambat pembentukan hormon tiroid oleh kelenjar tiroid. Goiter endemik,
sering terdapat di daerahdaerah yang air minumya kurang mengandung
yodium. Di Indonesia, banyak terdapat di daerah pegunungan, namun ada juga
yang ditemukan di dataran rendah ditepi pantai, seperti Minangkabau, Dairi,
Jawa, Bali dan Sulawesi.
Kelenjar tiroid adalah salah satu dari kelenjar endokrin terbesar pada
tubuh manusia. Kelenjar ini dapat ditemui dibagian depan leher, sedikit
dibawah laring. Kelenjar ini, berfungsi untuk mengatur kecepatan tubuh
membakar energi, membuat protein dan mengatur sensivitas tubuh terhadap
hormon lainnya. Kelenjar tiroid mensekresi tiroksin (T4) dan triiodotironin
(T3). Kedua hormon ini, sangat meningkatkan kecepatan metabolisme tubuh.
Kekurangan total sekresi tiroid, biasanya menyebabkan penurunan
metabolisme basal kira – kira 40 -50 persen dibawah normal. Bila kelebihan
sekresi tiroid sangat hebat, dapat meningkatkan kecepatan metabolisme
sampai setinggi 60 -100 persen diatas normal (Guyton,2008). Karena
pentingnya fungsi tiroid ini, kelainan pada kelenjar tiroid akan berpengaruh
besar pada proses fisiologis tubuh. Lokasi anatomik kelenjar tiroid sangat
unik, berada di superfisial maka, nodul tiroid, dengan mudah dapat dideteksi
baik melalui pemeriksaan fisik maupun dengan menggunakan berbagai moda
diagnostik. Pada pemeriksaan penunjang tiroid, teraba nodul satu atau lebih
maka ini disebut struma nodusa. Struma nodusa tampa disertai tanda - tanda
hipertiroidisme disebut struma non toksik. Struma nodusa, dapat
diklasifikasikan berdasarka beberapa hal yaitu berdasarkan jumlah nodul, bila
jumlah nodul hanya satu disebut struma nodusa soliter (unidosa) dan bila lebih
dari satu, disebut multinudosa. Kelainan ini sangat sering dijumpai bahkan
dapat dikatakan bahwa dari semua kelainan tiroid struma nodusa non toksik
paling sering ditemukan (Sudoyo,et al 2014).
Struma nodusa merupakan pembesaran pada kelenjar tiroid yang teraba
sebagai satu nodul (Sudoyo dkk,2009). Sekitar 10 juta orang diseluruh dunia
mengalami gangguan tiroid, baik kanker tiroid, struma nodusa non toxic,
maupun struma nodusa toxik (Amerika Thyroid Assosiation, 2013). Prevensi
nodul tiroid berkisar antara 5 % sampai 50%, bergantung pada populasi
tertentu dan sensivitas dari tehnik deteksi. Prevensi nodul tyroid meningkat,
sesuai dengan umur, keterpajanan terhadap radiasi pengion dan defesiensi
iodium (Sudoyo,et al 2009). Pada tahun 2007 sekitar 33.550 orang di Amerika
Serikat menderita gangguan tiroid dan 1.530 orang berakhir dengan kematian
( Newton, Hickey, & Marrs, 2009). Prevalensi struma nodosa yang didapat
melalui palpasi sekitar 4,7 – 51 per 1000 orang dewasa dan 2,2 – 14 er 1000
pada anak - anak (Incidence and Prevalence Data, 2012).Hasil survey
Balitbang pada tahun 2007 didapatkan angka prevalensi struma nodosa di
Indonesia meningkat sebesar 35,38 %.
Laporan akhir survey nasional pemetaan GAKY (Gangguan Akibat
Kekurangan Yodium) Menunjukkan bahwa sebanyak 42 juta penduduk
Indonesia tinggal didaerah endemik dan sebanyak 10 juta menderita struma
nodusa. Struma nodusa banyak ditemukan di daerah pegunungan yang
disebabkan oleh defesiensi yodium dan merupakan salah satu masalah gizi di
Indonesia. Rumah sakit Hasan Sadikin Bandung menemukan diantara 696
klien struma, sebanyak 415 (60%) menderita struma nodusa dan hanya 31
diantaranya, yang bersifat toksik struma nodusa non toksik (Sarwono, 2001).
Penelitian Lukitho di RS. Hasan Sadikin Bandung, didapatkan dari 325 kasus
struma nodosa perbandingan pria dan wanita adalah 1 : 4,2.
Penderita struma nodusa, biasanya tidak mengalami keluhan karena tidak
adanya hipotiroidisme atau hipertiroidisme. Jumlah nodul bermacam macam,
mungkin tunggal dan mungkin banyak terdapat nodul yang berkembang
menjadi mutinodular yang tidak berfungsi. Gejala awal yang ditemui adalah
adanya benjolan di area leher tampa adanya keluhan lain yang menyerupai.
Kasus struma nodusa non toksik, harus dilakukan penanganan yang segera dan
pengobatan, serta perawatan yang adekuat, karena kemungkinan dapat
menimbulkan keganasan. Disamping itu, keluhan klien yang tidak nyaman,
karena adanya tekanan mekanik nodul terhadap organ sekitar serta adanya
pertimbangan masalah kosmetik. Tindakan bedah, juga dapat dilakukan pada
satu nodul jinak. Sebaiknya, bila hasil BAJAH (Biopsi aspirasi jarum halus
positif ganas, maka perlu segera dilakukan tindakan pembedahan (Sudoyo,et
al 2006).
II. Tujuan Intruksional umum :
Setelah mengikuti penyuluhan kesehatan ini keluarga mampu memahami
tentang penyakit gondok (struma)

III. Tujuan instruksional khusus :


Setelah mengikuti penyuluhan ini pasien dan keluarga pasien diharapkan
dapat :
1. Menyebutkan pengertian struma (gondok)
2. Mengetahui faktor penyebab struma (gondok)
3. Mengetahui tanda dan gejala struma (gondok)
4. Mengetahui cara pencegahan struma (gondok)

IV. Materi
Terlampir

V. Media
- Leaflet
- flipchart

VI. Metode
Ceramah dan Tanya jawab

VII. Strategi pembelajaran


No Tahap Waktu Kegiatan perawat Kegiatan pasien
1. Pembukaan 5 Menit - Memberikan salam - Membalas salam
- Menjelaskan tujuan tentang - Memberikan respon
pemberian penkes dan mendengarkan.
2 Inti 15menit  Menjelaskan materi  Memperhatikan dan
 Menyebutkan pengertian mendengarkan
dari struma materi yang
 faktor penyebab struma disampaikan.
 Menyebutkan tanda
gejala struma
 Menjelaskan cara
pencagahan dari struma
 Memberikan kesempatan
bertanya
 Menjawab pertanyaan

 Bertanya tentang hal


yang belum jelas
 Mendengarkan
3 Penutup 10menit  Menyimpulkan materi  Bersama perawat
menyimpulkan
materi
 Mengevaluasi dengan  Menjawab
cara memberikan pertanyaan pertanyaan dengan
kepada keluarga pasien benar
tentang materi yang telah di
berikan.
 Menjelaskan bahwa  Membalas salam
kegiatan penkes telah selesai
dan mengucapkan salam
penutup
VIII. Evaluasi
1. Evaluasi proses
a. Pasien atau keluarga pasien mendengarkan dan memahami apa
yang di jelaskan oleh tenaga kesehatan
b. Pesien atau keluarga pasien berani mengutarakan pendapat maupun
bertanya tentang apa yang kurang dimengerti
2. Evaluasi hasil
Bentuk : Somatif
Waktu : 5 Menit
Soal evaluasi :
1. Apa pengertian dari struma (gondok)?
2. Menyebutkan faktor penyebab penyakit struma (gondok)?
3. Sebutkan tanda – tanda penyakit struma (gondok)!
4. Sebutkan cara pencegahan penyakit struma (gondok)!
IX. Referensi
Tambayong, Jan. 2000. Patofisiologi untuk Keperawatan. Jakarta:EGC.
Chalampa, Bams. 2010. Askep pada Penyakit Goiter. Disitasi dari
http://bamschalampa-askep.blogspot.com/2010/10/asuhan-keperawatan-
pada-penyakit-goiter.html. pada tanggal 11 Januari 2013.
Rahza, Putri. 2010. Patofisiologi Goiter Gondok. Disitasi
dari http://putrisayangbunda.blog.com/2010/08/29/patofisiologi-goiter-
gondok.html. pada tanggal 11 Januari 2013
Santoso, Agung. 2009. Asuhan Keperawatan Pasien Struma. Disitasi
dari http://nersgoeng.blogspot.com/2009/05/asuhan-keperawatan-pasien-
struma.html. pada tanggal 11 Januari 2013
Materi Penyuluhan

STRUMA (GONDOK)

A. DEFINISI
Struma (gondok) disebut juga goiter adalah suatu pembengkakan pada
leher oleh karena pembesaran kelenjar tiroid akibat kelainan glandula tiroid
dapat berupa gangguan fungsi atau perubahan susunan kelenjar dan
morfologinya.
Struma adalah reaksi adaptasi terhadap kekurangan atau kelebihan
yodium yang ditandai dengan pembesaran kelenjar tyroid. (Djoko Moelianto,
1993).

B. ETIOLOGI
Berbagai faktor diidentifikasikan sebagai penyebab terjadinya hipertropi
kelenjar tiroid termasuk didalamnya defisiensi yodium, goitrogenik
glikosida agent (zat atau bahan ini dapat mensekresi hormon tiroid)
seperti ubi kayu, jagung, lobak, kangkung, kubis bila dikonsumsi secara
berlebihan, obat-obatan anti tiroid, anomali, peradangan dan
tumor/neoplasma.
Hipotiroidisme dapat terjadi akibat malfungsi kelenjar tiroid, hipofisis,
atau hipotalamus. Apabila disebabkan oleh malfungsi kelenjar tiroid, maka
kadar HT yang rendah akan disertai oleh peningkatan kadar TSH dan TRH
karena tidak adanya umpan balik negative oleh HT pada hipofisis anterior dan
hipotalamus. Apabila hipotiroidisme terjadi akibat malfungsi hipofisis, maka
kadar HT yang rendah disebabkan oleh rendahnya kadar TSH. TRH dari
hipotalamus tinggi karena. tidak adanya umpan balik negatif baik dari TSH
maupun HT. Hipotiroidisme yang disebabkan oleh malfungsi hipotalamus
akan menyebabkan rendahnya kadar HT, TSH, dan TRH.
Penyebab Goiter adalah:
1) Auto-imun (dimana tubuh menghasilkan antibodi yang
menyerang komponen spesifik pada jaringan tersebut).
Tiroiditis Hasimoto’s juga disebut tiroiditis otoimun, terjadi akibat
adanya otoantibodi yang merusak jaringan kelenjar tiroid. Hal ini
menyebabkan penurunan HT disertai peningkatan kadar TSH dan
TRH akibat umpan balik negatif yang minimal, Penyebab tiroiditis
otoimun tidak diketahui, tetapi tampaknya terdapat kecenderungan
genetic untuk mengidap penyakit ini. Penyebab yang paling sering
ditemukan adalah tiroiditis Hashimoto.Pada tiroiditis Hashimoto,
kelenjar tiroid seringkali membesar dan hipotiroidisme terjadi
beberapa bulan kemudian akibat rusaknya daerah kelenjar yang
masih berfungsi.
Penyakit Graves. Sistem kekebalan menghasilkan satu protein,
yang disebut tiroid stimulating imunoglobulin (TSI). Seperti dengan
TSH, TSI merangsang kelenjar tiroid untuk memperbesar
memproduksi sebuah gondok.
2) Penyebab kedua tersering adalah pengobatan terhadap
hipertiroidisme baik yodium radioaktif maupun pembedahan
cenderung menyebabkan hipotiroidisme.
3) Obat-obatan tertentu yang dapat menekan produksi hormon tiroid.
4) Peningkatan Thyroid Stimulating Hormone (TSH) sebagai akibat
dari kecacatan dalam sintesis hormon normal dalam kelenjar tiroid
5) Gondok endemik adalah hipotiroidisme akibat defisiensi iodium
dalam makanan. Gondok adalah pembesaran kelenjar tiroid. Pada
defisiensi iodiurn terjadi gondok karena sel-sel tiroid menjadi aktif
berlebihan dan hipertrofik dalarn usaha untuk menyerap sernua iodium
yang tersisa dalam darah. Kadar HT yang rendah akan disertai kadar
TSH dan TRH yang tinggi karena minimnya umpan balik.
Kekurangan yodium jangka panjang dalam makanan, menyebabkan
pembesaran kelenjar tiroid yang kurang aktif (hipotiroidisme
goitrosa).
6) Kurang iodium dalam diet, sehingga kinerja kelenjar tiroid
berkurang dan menyebabkan pembengkakan. Yodium sendiri
dibutuhkan untuk membentuk hormon tyroid yang nantinya akan
diserap di usus dan disirkulasikan menuju bermacam-macam kelenjar.
Kelenjar tersebut diantaranya:
a. Choroid
b. Ciliary body
c. Kelenjar mammae
d. Plasenta
e. Kelenjar air ludah
f. Mukosa lambung
g. Intenstinum tenue
h. Kelenjar gondok
Sebagian besar unsur yodium ini dimanfaatkan di kelenjar
gondok. Jika kadar yodium di dalam kelenjar gondok kurang,
dipastikan seseorang akan mengidap penyakit gondok.
7) Beberapa disebabkan oleh tumor (Baik dan jinak tumor kanker)
Multinodular Gondok. Individu dengan gangguan ini memiliki
satu atau lebih nodul di dalam kelenjar tiroid yang menyebabkan
pembesaran. Hal ini sering terdeteksi sebagai nodular pada kelenjar
perasaan pemeriksaan fisik. Pasien dapat hadir dengan nodul tunggal
yang besar dengan nodul kecil di kelenjar, atau mungkin tampil
sebagai nodul beberapa ketika pertama kali terdeteksi.
Kanker Tiroid. Thyroid dapat ditemukan dalam nodul tiroid
meskipun kurang dari 5 persen dari nodul adalah kanker. Sebuah
gondok tanpa nodul bukan merupakan resiko terhadap kanker.
Karsinoma tiroid dapat, tetapi tidak selalu, menyebabkan
hipotiroidisme. Namun, terapi untuk kanker yang jarang dijumpai ini
antara lain adalah tiroidektomi, pemberian obat penekan TSH, atau
terapi iodium radioaktif untuk mengbancurkan jaringan tiroid. Semua
pengobatan ini dapat menyebabkan hipotiroidisme. Pajanan ke radiasi,
terutama masa anak-anak, adalah penyebab kanker tiroid. Defisiensi
iodium juga dapat meningkatkan risiko pembentukan kanker tiroid
karena hal tersebut merangsang proliferasi dan hiperplasia sel tiroid.
8) Kerusakan genetik, yang lain terkait dengan luka atau infeksi di tiroid,
Tiroiditis. Peradangan dari kelenjar tiroid sendiri dapat
mengakibatkan pembesaran kelenjar tiroid.
9) Kehamilan, Sebuah hormon yang disekresi selama kehamilan yaitu
gonadotropin dapat menyebabkan pembesaran kelenjar tiroid.

C. MANIFESTASI KLINIS
Gejala utama :
1. Pembengkakan, mulai dari ukuran sebuah nodul kecil untuk sebuah
benjolan besar, di bagian depan leher tepat di bawah Adam’s apple.
2. Perasaan sesak di daerah tenggorokan.
3. Kesulitan bernapas (sesak napas), batuk, mengi (karena kompresi
batang tenggorokan).
4. Kesulitan menelan (karena kompresi dari esofagus).
5. Suara serak.
6. Distensi vena leher.
7. Pusing ketika lengan dibangkitkan di atas kepala
8. Kelainan fisik (asimetris leher)

Dapat juga terdapat gejala lain, diantaranya :


D. PENCEGAHAN
Pencegahan Primer
Pencegahan primer adalah langkah yang harus dilakukan untuk
menghindari diri dari berbagai faktor resiko. Beberapa pencegahan yang
dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya struma adalah :
1. Memberikan edukasi kepada masyarakat dalam hal merubah pola
perilaku makan dan memasyarakatkan pemakaian garam yodium
2. Mengkonsumsi makanan yang merupakan sumber yodium seperti
ikan laut
3. Mengkonsumsi yodium dengan cara memberikan garam
beryodium setelah dimasak, tidak dianjurkan memberikan
garam sebelum memasak untuk menghindari hilangnya yodium dari
makanan
4. Iodisai air minum untuk wilayah tertentu dengan resiko tinggi. Cara
ini memberikan keuntungan yang lebih dibandingkan dengan
garam karena dapat terjangkau daerah luas dan terpencil. Iodisasi
dilakukan dengan yodida diberikan dalam saluran air dalam pipa,
yodida yang diberikan dalam air yang mengalir, dan penambahan
yodida dalam sediaan air minum.
5. Memberikan kapsul minyak beryodium (lipiodol) pada penduduk di
daerah endemik berat dan endemik sedang. Sasaran pemberiannya
adalah semua pria berusia 0-20 tahun dan wanita 0-35 tahun,
termasuk wanita hamil dan menyusui yang tinggal di daerah endemis
berat dan endemis sedang. Dosis pemberiannya bervariasi sesuai
umur dan kelamin.
6. Memberikan suntikan yodium dalam minyak (lipiodol 40%)
diberikan 3 tahun sekali dengan dosis untuk dewasa dan anak-anak
di atas 6 tahun 1 cc dan untuk anak kurang dari 6 tahun 0,2-0,8 cc.
7. Hindari mengkonsumsi secara berlebihan makanan-makanan
yang mengandung goitrogenik glikosida agent yang dapat menekan
sekresi hormone tiroid seperti ubi kayu, jagung, lobak, kankung, dan
kubis.
Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder adalah upaya mendeteksi secara dini suatu
penyakit, mengupa yakan orang yang telah sakit agar sembuh,
menghambat progresifitas penyakit yang dilakukan melalui beberapa cara
yaitu :
1. Diagnosis
a. Inspeksi
Inspeksi dilakukan oleh pemeriksa yang berada di depan
penderita yang berada pada posisi duduk dengan kepala sedikit fleksi
atau leher sedikit terbuka. Jika terdapat pembengkakan atau nodul,
perlu diperhatikan beberapa komponen yaitu lokasi, ukuran, jumlah
nodul, bentuk (diffus atau noduler kecil), gerakan ada saat
pasien diminta untuk menelan dan palpasi pada permukaan
pembengkakan.
b. Palpasi
Pemeriksaan dengan metode palpasi dimana pasien diminta
untuk duduk, leher dalam posisi fleksi. Pemeriksa berdiri di belakang
pasien dan meraba tiroid dengan menggunakan ibu jari kedua tangan
pada tengkuk penderita.
2. Pemeriksaan penunjang
a. Tes Fungsi Hormon
Status fungsional kelenjar tiroid dapat dipastikan dengan
perantara tes-tes fungsi tiroid untuk mendiagnosa penyakit tiroid
diantaranya kadar total tiroksin dan triyodotiroin serum diukur
dengan radioligand assay. Tiroksin bebas serum mengukur kadar
tiroksin dalam sirkulasi yang secara metabolik aktif. Kadar TSH
plasma dapat diukur dengan assay radioimunometrik.
Kadar TSH plasma sensitif dapat dipercaya sebagai indikator
fungsi tiroid. Kadar tinggi pada pasien hipotiroidisme sebaliknya
kadar akan berada di bawah normal pada pasien peningkatan
autoimun (hipertiroidisme). Uji ini dapat digunakan pada awal
penilaian pasien yang diduga memiliki penyakit tiroid. Tes ambilan
yodium radioaktif (RAI) digunakan untuk mengukur kemampuan
kelenjar tiroid dalam menangkap dan mengubah yodida.
b. Foto Rontgen leher
Pemeriksaan ini dimaksudka n untuk melihat struma telah
menekan atau menyumbat trakea (jalan nafas).
c. Ultrasonografi (USG)
Alat ini akan ditempelkan di depan leher dan gambaran
gondok akan tampak di layar TV. USG dapat memperlihatkan
ukuran gondok dan kemungkinan adanya kista/nodul yang
mungkin tidak terdeteksi waktu pemeriksaan leher. Kelainan-kelainan
yang dapat didiagnosis dengan USG antara lain kista, adenoma, dan
kemungkinan karsinoma.
d. Sidikan (Scan) tiroid
Caranya dengan menyuntikan sejumlah substansi radioaktif
125 131
bernama technetium-99m dan yodium /yodium ke dalam
pembuluh darah. Setengah jam kemudian berbaring di bawah suatu
kamera canggih tertentu selama beberapa menit. Hasil pemeriksaan
dengan radioisotop adalah teraan ukuran, bentuk lokasi dan yang
utama adalh fungsi bagian-bagian tiroid.
e. Biopsi Aspirasi Jarum Halus
Dilakukan khusus pada keadaan yang mencurigakan suatu
keganasan. Biopsi aspirasi jarum tidak nyeri, hampir tidak
menyebabkan bahaya penyebaran sel-sel ganas. Kerugian
pemeriksaan ini dapat memberikan hasil negatif palsu karena lokasi
biopsi kurang tepat. Selain itu teknik biopsi kurang benar dan
pembuatan preparat yang kurang baik atau positif palsu karena salah
intrepertasi oleh ahli sitologi.

Pencegahan Tertier
Pencegahan tersier bertujuan untuk mengembalikan fungsi mental,
fisik dan sosial penderita setelah proses penyakitnya dihentikan. Upaya yang
dapat dilakukan adalah sebagai berikut :
a. Setelah pengobatan diperlukan kontrol teratur/berkala untuk
memastikan dan mendeteksi adanya kekambuhan atau penyebaran.
b. Menekan munculnya komplikasi dan kecacatan
c. Melakukan rehabilitasi dengan membuat penderita lebih percaya diri,
fisik segar dan bugar serta keluarga dan masyarakat dapat menerima
kehadirannya melalui melakukan fisioterapi yaitu dengan rehabilitasi
fisik, psikoterapi yaitu dengan rehabilitasi kejiwaan, sosial terapi yaitu
dengan rehabilitasi sosial dan rehabilitasi aesthesis yaitu yang
berhubungan dengan kecantikan.
SATUAN ACARA PENYULUHAN

“Struma”

Departemen medical bedah di Poliklinik Onkologi RSU Dr. Saiful Anwar Malang

Oleh:
TIM PKRS

PROGRAM STUDI PENDIDKAN PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KEPANJEN
MALANG
2017
SATUAN ACARA PENYULUHAN

“Struma”
Untuk memenuhi tuga kelompok Departemen medical bedah di Poliklinik
Onkologi RSU Dr. Saiful Anwar Malang

Oleh:

1. Ditto Tri Asmoro P


2. Dwi Ayunawati
3. Novichs Putri

PROGRAM STUDI PENDIDKAN PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KEPANJEN
MALANG
2017
LEMBAR PENGESAHAN

Penyuluhan ini telah disarankan dan disetujui oleh :


Hari/tanggal : …………………………………..
Tempat : Ruang penyuluhan Poliklinik Onkologi dr. Saiful Anwar Malang

MENGETAHUI,

PEMBIMBING AKADEMIK PEMBIMBING KLINIK

(...........................................) (.............................................)
SATUAN ACARA PENYULUHAN

“Struma”
Untuk memenuhi tuga kelompok Departemen medical bedah di Poliklinik
Onkologi RSU Dr. Saiful Anwar Malang

Oleh:

1. Ditto Tri Asmoro P


2. Dwi Ayunawati
3. Novichs Putri

PROGRAM STUDI PENDIDKAN PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KEPANJEN
MALANG
2017