Anda di halaman 1dari 31

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Parasit


Parasitologi adalah ilmu yang mempelajari fenomena hidup
parasitis atau fenomena keparasitan. Parasitologi adalah suatu ilmu cabang
Biologi yang mempelajari tentang semua organisme parasit. Tetapi dengan
adanya kemajuan ilmu, parasitologi kini terbatas mempelajari organisme
parasit yang tergolong hewan parasit, meliputi: protozoa, helminthes,
arthropoda dan insekta parasit, baik yang zoonosis ataupun anthroponosis.
Parasit berasal dari kata “Parasitus” (Latin) = “Parasitos” (Grik),
yang artinya seseorang yang ikut makan semeja. Mengandung maksud
seseorang yang ikut makan makanan orang lain tanpa seijin orang yang
memiliki makanan tersebut. Jadi Parasit adalah organisme yang selama
atau sebagian hayatnya hidup pada atau didalam tubuh organisme lain,
dimana parasit tersebut mendapat makanan tanpa ada konpensasi apapun
untuk hidupnya. Dari pengertian tersebut, pada awalnya : Cacing,
Protozoa, Artopoda, Virus, Bakteri dan Jamur termasuk kedalam Parasit,
tetapi karena telah mengalami perkembangan yang sangat pesat, maka
Virologi, Bakteriologi, Mikologi dan di beberapa Negara Entomologi
(Artropoda) telah tumbuh menjadi disiplin ilmu tersendiri.
Parasit ( ~ tinggal berdekatan) adalah organisme yang
eksistensinya tergantung adanya organisme lain yang dikenal sebagai
induk semang atau hospes. Organisme yang hidup sebagai parasit seperti
cacing telah dikenal beratus-ratus tahun yang lalu oleh nenek moyang kita.
Hewan-hewan parasit telah dikenal dan dibicarakan semenjak zamannya
Aristoteles (384-322 SM) dan Hipocrates ( 460-377 SM ) di Yunani tetapi
ilmu parasitnya sendiri baru berkembang setelah manusia menyadari
pentingnya ilmu parasit dalam bidang biologi. Redi, (16264698 ) seorang
Itali menemukan larva di dalam daging yang kemudian berkembang

1
menjadi lalat. Dan penemuan ini maka Redi diduga orang yang pertama
mengembangkan ilmu parasit. Kemudian setelah ditemukan alat pembesar
oleh Leeuwenhoek (1632- 1723) dan Belanda, hewan-hewan parasit bersel
satu banyak ditemukan.
Oleh karena eksistensi parasit tergantung dengan eksistensi
hospesnya, kadang-kadang adanya hospes disuatu daerah dapat digunakan
untuk memprediksi eksistensi parasit di daerah tersebut.
Cakupan parasitologi meliputi taksonomi, morfologi, siklus hidup
masing-masing parasit, serta patologi dan epidemiologi penyakit yang
ditimbulkannya. Organisme parasit adalah organisme yang hidupnya
bersifat parasitis yaitu hidup yang selalu merugikan organisme yang
ditempatinya (hospes). Predator adalah organisme yang hidupnya juga
bersifat merugikan organisme lain (yang dimangsa). Bedanya, kalau
predator ukuran tubuhnya jauh lebih besar dari yang dimangsa, bersifat
membunuh dan memakan sebagian besar tubuh mangsanya. Sedangkan
parasit, selain ukurannyajauh lebih kecil dari hospesnya juga tidak
menghendaki hospesnya mati, sebabkehidupan hospes sangat essensial
dibutuhkan bagi parasit yang bersangkutan.
Tujuan Pengajaran Parasitologi menyadari akibat yang dapat
ditimbulkan oleh gangguan parasit terhadap kesejahteraan manusia, maka
perlu dilakukan usaha pencegahan dan pengendalian penyakitnya.
Sehubungan dengan hal tersebut maka sangat diperlukan
suatupengetahuan tentang kehidupan organisme parasit yang bersangkutan
selengkapnya. Dalam hal ini di antaranya adalah mengajarkan tentang
siklus hidup parasit serta aspek epidemiologi penyakit yang
ditimbulkannya. Dengan mempelajari siklus hidup parasit, kita akan dapat
mengetahui bilamana dan bagaimana kita dapat terinfeksi oleh parasit,
serta bagaimana kemungkinan akibat yang dapat ditimbulkannya.
Selanjutnya ditunjang oleh pengetahuan epidemiologi penyakit, kita akan
dapat menentukan cara pencegahan dan pengendaliannya. Istilah-istilah
umum yang ada hubungannya dengan parasitologi:

2
1. Organisme (manusia atau hewan) yang ditempati oleh
organisme lain (parasit) dimana organisme tersebut merugikan
hospes (inang) yang ditumpanginya karena mengambil
makanan disebut hospes.
2. Hospes , yaitu organisme tempat hidupa parasit ( host = tuan
rumah ) yang dirugikan itu dapat digolongkan menjadi 4
macam yaitu hospes definitif, hospes perantara, hospes
predileksi dan hospes reservoir.
 Hospes definitive yaitu hospes yang membantu hidup
parasit dalam stadium dewasa/stadium seksual.
 Hospes perantara, yaitu menunjukkan suatu pada
hospes, tumbuh menjadi infektif dan berkembang biak
secara aseksual.
 Hospes reservoar, yaitu hewan yang mengandung
parasit dan merupakan sumber infeksi pada manusia.
 Hospes paratenik, yaitu hewan yang parasit stadium
infektif, tanpa menjadi dewasa dan stadium infektif ini
dapat ditularkan dan menjadi dewasa pada hospes
definitif.
3. Carrier, yaitu hospes yang mengandung parasit tetapi tidak
menunjukkan gejala-gejala sakit, tetapi merupakan sumber
penular penyakit.
4. Ektoparasit, yaitu parasit yang hidup pada permukaan tubuh
hospes.
5. Endoparasit, yaitu parasit yang hidup didalam tubuh hospes.
6. Ekologi, yaitu hubungan antar berbagai bentuk kehidupan serta
hubungan timbal balik dengan lingkungannya.
7. Habitat, yaitu tempat tinggal alami suatu spesies parasit.
8. Infeksi, yaitu masuknya parasit kedalam tubuh hospes, hidup
dan berkembang biak dengan menimbulkan gejala atau dapat
juga tanpa gejala sakit.

3
9. Parasit obligat, yaitu parasit dalam menjalankan kelangsungan
hidup, seluruhnya sangat bergantung pada hospes.
10. Parasit fakultatif, yaitu parasit yang dapat hidup sebagai parasit
( mengambil makanan pada hospes ), tetapi juga dapat hidup
bebas ( tidak mengambil makanan pada hospes ).
11. Parasit insidentil, yaitu parasit yang seara kebetulan bersarang
dalam suatu hospes yang biasanya tidak di hinggapinya.
12. Parasit monoksen, yaitu parasit yang hanya ditemukan pada
satu jenis hospes.
13. Parasit poliksen, yaitu parasit yang dapat ditemukan pada lebih
dari satu jenis hospes.
14. Parasit permanen, yaitu parasit yang menetap secara terus
menerus pada hospesnya.
15. Parasit temporer, yaitu parasit yang hidup bebas dan sewaktu-
waktu menghinggapi hospes untuk mendapat makanan.
16. Parasitisme mencakup setiap hubungan timbal balik yang dapat
berlangsung sementara atau permanen dari suatu spesies
dengan spesies lain untuk kelangsungan hidupnya.
17. Patogen, yaitu parasit yang mampu merusak jaringan hospes.
18. Prevalensi, yaitu jumlah seluruh kasus penyakit yang terjadi
pada suatu waktu disuatu daerah tertentu.
19. Vektor, yaitu benda/alat atau organisme hidup yang bertindak
sebagai vector dan berperan pada daur hidup parasit.
20. Vektor biologik, yaitu organisme hidup yang bertindak sebagai
vector dan berperan pada daur hidup parasit
Berdasarkan lama waktu hidupnya parasit dibagi menjadi
dua yaitu parasit temporer dan stasioner. Parasit temporer disebut
juga parasit nonperiodis (nonberkala) yang mengunjungi
hospesnya pada waktu-waktu berselang atau parasit tersebut tidak
menetap pada tubuh hospesnya. Pediculus humanus disebut

4
sebagai ektoparasit karena hidup di kepala atau hidup pada
permukaan luar hospesnya. Hubungan antara Parasit dengan Inang.
Derajat preferensi inang adalah produk adaptasi biologis
dari parasit yang menyebabkan parasit tersebut secara alami
mempunyai pilihan terhadap inang danjuga jaringan tubuh inang.
Semakin tinggi derajat preferensi suatu parasit terhadap inang akan
menyebabkan adanya spesifitas inang.

2.2 Pertumbuhan dan Perkembangan Parasit


Tubuh terdapat suatu mekanisme yaitu mekanisme tanggap kebal
yang akan mengenali dan segera memusnahkan setiap sel yang
berbeda/asing dari sel normal tubuhnya sendiri. Seperti pada kekebalan
terhadap bakteri, cendawan, dan virus,kekebalan dalam parasitologi terdiri
dari kekebalan bawaan yang mungkin disebabkan spesifitas inang,
karakteristik fisik inang, sifat biokimia yang khas dan kebiasaan inang
serta kekebalan didapat. Kekebalan didapat dibedakan menjadi:
 Kekebalan secara pasif, contohnya ialah kekebalan anak yang
didapat dari kolostrum ibunya
 Kekebalan didapat secara aktif. Reaksi kekebalan didapat secara
aktif timbul setelah adanya rangsangan oleh antigen.
Tergantung dari sifat antigen sehingga terjadi pembelahan limfosit-
limfosit menjadi sel-T atau sel B. Sel T mempunyai reseptor khusus
terhadap antigen tertentu,sedangkan sel B akan mengeluarkan antibodi
yang dikenal sebagai imunoglobulin yang akan berikatan secara khas pula
dengan antigen. Modus penularan ialah cara atau metode penularan
penyakit yang biasanya terjadi.
Pada umumnya, cara penularan penyakit parasit adalah secara
kontak langsung, melalui
 mulut (food-borne parasitosis),
 melalui kulit, melalui plasenta,
 melalui alat kelamin dan melalui air susu.

5
Sumber penularan bagi penyakit parasit, seperti halnya bagi
penyakit menular lain terjadi dari inang yang satu ke inang yang lain.
Penularan dapat juga dari sumber penyakit kepada inang baru. Adapun
yang dapat berlaku sebagai sumber penularan penyakit parasit ialah
organisme baik hewan maupun tumbuhan dan benda mati seperti tanah,
air,makanan dan minuman. Ekologi
Parasit Ekologi parasit adalah ilmu yang mempelajari hubungan
antara parasit dengan lingkungan habitatnya, terutama mengenai distribusi
parasit dengan sumbermakanannya dan interaksi jenis-jenis parasit dalam
satu habitat. Parasit yang terdapat di dalam tubuh inang, mungkin terdapat
di dalam sistem pencernaan, sistem sirkulasi,sistem respirasi atau alat-alat
dalam tubuh seperti hati, ginjal, otak dan limpa. Biometeorologi adalah
ilmu tentang atmosfer dan segala fenomena-fenomenanya/ ilmu tentang
cuaca yang berhubungan dengan data kehidupan. Faktor meteorologi yang
berpengaruh pada kelangsungan hidup parasit adalah:
 Data biometeorology
 Penguapan air
 Kandungan air dalam tanah.
 Pengaruh Faktor Cuaca terhadap Siklus Hidup Parasit
Pengaruh jumlah hujan dan temperatur terhadap kelangsungan
hidup suatu jenis parasit berbeda, sebagai contoh Nematoda parasit
membutuhkan lebih sedikit curah hujan dibandingkan dengan Trematoda.
Trematoda membutuhkan jumlah air yang lebih banyak dibandingkan
dengan Nematoda sebab untuk menetaskan miracidium diperlukan
genangan air. Demikian juga pada telur
cacing nematoda umumnya lebihtahan terhadap temperatur yang
lebih tinggi daripada Trematoda dan Cestoda, tetapi fenomena hidup
parasitis adalah hidup bersama antara dua organisme yang berbeda spesies,
dimana organisme yang satu hidup pada atau didalam tubuh organisme
yang lain untuk mendapat makanan tanpa ada konpensasi apapun, baik
bersifat sementara atau permanent. Organisme yang mendapat makanan

6
disebut parasit sedangkan organisme yang kehilangan makanan disebut
hospes. Anak yang masih di dalam kandungan atau anak yang sedang
menyusu walaupun hidup dan mendapat makanan dari induknya, karena
sama spesies sehingga tidak termasuk parasit.

2.3 Klasifikasi Organisme Parasit


A. Berdasarkan sifat parasit.
o Parasit fakultatif.
Parasit fakultatif adalah organisme yang sebenarnya organisme
hidup bebas, tetapi karena kondisi tertentu mengharuskan
organisme tersebut hidup sebagai parasit sehingga sifat hidup
keparasitannya itu tidak mutlak. Sebagai contoh lalat-lalat. seperti
Sarcophaga, Chrysomyia, Caelophora dan lain-lainnya yang
termasuk keluarga Calliphorinae. Stadium larvanya normalnya
hidup di dalam kotoran ternak, tetapi karena tidak ada kotoran
ternak, terpaksa lalat betina bertelur di tubuh yang luka sehingga
waktu menetas larva dan menimbulkan miasis yang biasanya
dijumpai di sela-sela tracak atau bagian belakang kuku bahkan
dibagian lubang telinga luar.
o Parasit obligat.
Parasit obligat adalah semua organisme yang untuk
kelangsungan hidup dan eksistensinya mutlak memerlukan hospes.
Semua organisme yang patogen merupakan parasit obligat.
o Parasit insidentil atau parasit sporadis.
Parasit insidentil adalah suatu parasit yang karena sesuatu
sebab berada pada hospes yang tidak sewajarnya. Contoh parasit
insidentil: Dipylidium caninum. Parasit ini adalah cacing pita pada
anjing yang dikenal dengan cacing pita biji ketimun, tetapi karena
kebetulan atau karena suatu “kecelakaan” terdapat pada manusia.
Kecelakaan itu dapat terjadi sebagai berikut: bila ada segmen yang
gravid lepas dan merayap keluar melalui anus anjing, dan diluar

7
termakan oleh pinjal anjing Ctenocephalus canis atau pinjal
manusia Pulex irritans maka telur yang telah berembrio tumbuh
menjadi sistiserkoid atau kriptosista. Oleh karena kedekatan antara
anjing dan manusia bila pinjal tersebut termakan olehnya maka
didalam saluran pencernaan manusia tersebut dapat ditemukan
cacing biji ketimun.. Gongylonema scutum, Parasit ini adalah
termasuk cacing nematoda yang secara normal parasit pada mulut
sapi, tetapi karena kebetulan mungkin dapat ditemukan pada mulut
orang.
o Parasit eratika.
Parasit eratika adalah parasit yang terdapat pada hospes
yang wajar tetapi lokasinya pada daerah yang tidak sewajarnya.
Contoh parasit eratika : Ascaris lurnbricoides. Parasit ini termasuk
cacing nematoda yang normalnya berlokasi di dalam duodenum
manusia dan babi. Namun demikian karena pengaruh sesuatu hal
seperti misalnya kelaparan atau karena pengaruh gerakan
antiperistaltik dinding usus, cacing tersebut terdorong masuk ke
lambung atau memasuki kandung empedu lewat saluran empedu.
Terjadinga parasit eratika ini mungkin juga karena migrasi cacing
dalam siklus hidupnya tidak normal. Misalnya, larva Ascaris
sesampainya di dalam paru tidak terbatukkan agar tertelan lewat
trakea, tetapi dari paru malah masuk peredaraan darah besar
sehingga cacing datang disembarang jaringan tubuh hospesnya
sehingga pernah cacing ini ditemukan di dalam medula oblongata
seekor kera. Fasciola hepatica, Parasit ini termasuk cacing
trematoda yang secara normal berlokasi di dalam hati sapi, tetapi
karena kecelakaan mungkin ditemukan di dalam jaringan bawah
kulit kelinci atau mungkin di temukan di dalam paru kuda.
Kejadian ini tidak hanya bersifat parasit eratika tetapi juga
termasuk parasit indisentil.

8
o Parasit spuriosa.
Istilah ini sebenarnya tidak tepat untuk menyatakan parasit
salah duga. Hal ini terjadi pada saat diagnosa pasca mati, misalnya
karena sebelum mati, anjing makan tinja sapi yang mengandung
telur cacing Moniezia expansa, maka pada pemeriksaan pasca mati
bisa saja anjing didiagnosa terinfestasi cacing Moniezia expansa.

B. Berdasarkan waktu atau derajat keparasitannya


1. Parasit temporer atau parasit non periodik.
Parasit temporer adalah organisme yang sebagian waktu
hidupnya harus hidup sebagai parasit sedang sisa hidupnya sebagai
organisme hidup bebas. Contoh-contoh dari parasit temporer :
Nyamuk Anopheles. Anopheles betina sebagian kecil waktu
hidupnya hidup sebagai parasit penghisap darah hanya pada malam
hari yang panas, sedang setelah itu Anopheles betina tersebut hidup
bebas. Cimex lecticularis, Parasit ini dikenal sebagai kutu busuk.
Cimex Lecticularis hidup sebagai parasit hanya 15 menit pada saat
menghisap darah hospesnya, tetapi dengan hidup sebagai parasit 15
menit, kutu tersebut dapat hidup bebas selama satu tahun.
Omithodorus moubata, organisme ini adalah Caplak parasit pada
babi, domba, kambing, anjing, kelinci bahkan pada manusia.
Caplak ini hidup sebagai parasit saat larvanya menghisap darah
selama 5-7 hari, tetapi dengan hidup sebagai parasit hanya
beberapa caplak tersebut dapat hidup bebas selama 14 tahun di
dalam debu atau di dalam celah-celah gubuk.
2. Parasit stasioner.
Parasit stasioner adalah parasit yang selama satu stadium
perkembangannya atau selama hidupnya selalu kontak dengan
hospesnya. Parasit stasioner dibedakan antara:

9
1. Parasit stasioner periodik.
Yang termasuk golongan ini adalah parasit-parasit
protelien (larvanya parasit, dewasa hidup bebas) dan juga
sebaliknya untuk parasit - parasit yang larvanya hidup bebas
sedang dewasanya hidup sebagai parasit. Sebagai contoh
parasit protelien adalah lalat Gastrophilus sp. Lalat ini stadium
larvanya hidup sebagai parasit di dalam lambung kuda,
menempel dan menghisap darah dinding lambung dan setelah
bulan keluar daii hospesnya bersama feses. Di luar tubuh
hospes lalu melanjutkan perkembangannya dan akhirnya
menjadi lalat dewasa yang hidup bebas. Contoh yang hidup
sebagai parasit stadium dewasa sedang larvanya hidup bebas
adalah cacing golongan strongil. Cacing - cacing tersebut
larvanya paling tidak sampai stadium infektif hidup bebas
sedang yang dewasan hidup sebagai parasit di dalam saluran
pencernaan herbivore.
2. Parasit stasioner permanen.
Parasit stasioner permanen adalah organisme yang
selama hidupnya selalu kontak dan hidup sebagai parasit pada
atau di dalam hospesnya. Yang termasuk parasit golongan ini
adalah baik yang stadium larva dan dewasanya hidup sebagai
parasit di dalam satu hospes yang sama maupun yang stadium
larva dan stadium dewasanya hidup sebagai parasit pada atau di
dalam hospes yang berbeda.
Contoh parasit yang stadium larva dan dewasanya
permanen pada atau di dalam satu hospes adalah kutu. Semua
stadium hidupnya mulai telur, larva, nimfa dan dewasa
biasanya berada dalam satu hospes. Contoh parasit yang
stadium larva dan stadium dewasanya selalu berada di dalam

10
hospes yang berbeda adalah protozoa darah seperti
Plasmodium. Plasmodium stadium dewasanya
(dimanifestasikan dengan reproduksi seksual) berparasit dalam
tubuh nyamuk Anopheles sedang stadium mudanya di dalam
tubuh manusia. Jadi untuk Plasmodium tidak ada stadium
hidup bebas.

C. Berdasarkan jumlah hospesnya


1. Parasit holoksenosa atau parasit monoksenosa.
Parasit holoksenosa adalah parasit yang dalam siklus
hidupnya hanya membutuhkan satu organisme lain sebagai hospes.
Contoh-contoh parasit holoksenosa Eimeria tenella. Parasit
termasuk protozoa yang dalam siklus hidupnya hanya
membutuhkan satu hospes yaitu ayam. Cacing golongan Strongil (
Haemonchus sp., Trichostrongylus sp., Oesophagostomwn sp. dll ).
Cacing -cacing tersebut dalain siklus hidupnya hanya
membutuhkan satu hospes yaitu herbivora. Kutu : sernua kutu
umumnya hanya hidup dalam satu hospes.
2. Parasit heteroksenosa.
Parasit heteroksenosa adalah parasit yang dalam siklus
hidupnya membutuhkan lebih dan satu organisme lain sebagai
hospesnya. Contoh-contoh parasit heteroksenosa : Babesia motasi.
Babesia motasi adalah protozoa yang berparasit dalam sel darah
domba. Dalam siklus hidupnya, protozoa tersebut membutuhkan
caplak dan domba sebagai hospesnya. Paragonimus westermani
Parasit ini termasuk cacing trematoda yang berparasit pada paru
manusia. Dalam siklus hidupnya trematoda tersebut membutuhkan
organisme lain selain manusia sebagai hospesnya yaitu keong
(Semisulcospira libertina) dan udang atau kepiting sebagai
hospesnya. Dicrocoelium dendriticum. Parasit ini juga termasuk
cacing trematoda yang berparasit di dalam saluran atau kantung

11
empedu domba. Di dalam siklus hidupnya trematoda tersebut
selain domba juga membutuhkan keong ( Helicella sp. ) dan semut
(Formica fusca) sebagai hospesnya. Parasit poliksenosa, parasit
poliksenosa adalah parasit yang dalam siklus hidupnya
membutuhkan lebih dari satu hospes tetapi hospes tersebut
spesiesnya sama. Sebagai contohnya adalah caplak keras ketualga
Ixodidae yang berhospes dua atau tiga (pada vertebrata) merupakan
parasit poliksenosa, kecuali Ixodes ricinus yang termasuk parasit
heteroksenosa karena stadium larva dan nimfanya membutuhkan
burung sebagai hospesnya dan stadium dewasa hidup berparasit
pada anjing atau mamalia lainnya

D. Berdasarkan lokasi atau predileksinya


1. Ektoparasit atau ektozoa.
Ektoparasit adalah parasit-parasit yang hidup berparasitnya
pada permukaan tubuh hospes atau di dalarn liang-liang pada kulit
yang masih mempunyai hubungan bebas dengan dunia luar.
Termasuk golongan ini adalah parasit temporer atau non periodik
atau dikenal parasit datang pergi. Disebut parasit datang pergi
karena parasit mengunjungi hospesnya hanya pada waktu tertentu
saja. Contoh-contoh ektoparasit Nyamuk dan lalat. Nyamuk dan
lalat seperti nyamuk Anopheles (manusia) dan lalat Stomoxys
(kuda, sapi) termasuk parasit temporer karena keduanya
mengunjungi hospesnya untuk hidup berparasit pada waktu
tertentu untuk menghisap darah. Kutu, pinjal dan caplak. Kutu
seperti Pediculus ( manusia ), Haematopinus (sapi) dan
Linognathus (sapi, domba, kambing, anjing), pinjal seperti Pulex
(tikus), dan Ctenocephalus (anjing, kucing), caplak seperti Ixodes,
Boophilus, Riphicephalus (herbivora, karnivora) semuanya
termasuk ektoparasit karena hidup pada permukaan tubuh
hospesnya. Tungau, tungau-tungau seperti Sarcoptes, Psoroptes,

12
Chorioptes ( herbivora ), Demodex ( anjing, sapi, manusia ),
Cnemidocoptes (unggas ), Otodectes (kelinci) adalah tungau yang
hidup di dalam liang-liang kulit dan karena liang-liang tersebut
masih berhubungan dengan dunia luar maka tungau juga termasuk
ektoparasit.
2. Endoparasit atau entoparasit atau entozoon.
Endoparasit adalah parasit-parasit yang berlokasi didalam
jaringan tubuh hospesnya kecuali yang hidup dipermukaan tubuh
dan di dalam liang-liang kulit. Contoh-contoh endoparasit: Di
dalam saluran pencernaan. Saluran pencernaan tampaknya lokasi
yang banyak disenangi sebagai tempat tinggal atau predileksi
parasit. Parasit dan berbagai spesies cacing nernatoda, trematoda
dan cestoda banyak tinggai di dalam lumen atau di dalam mukosa
dinding saluran pencernaan. Cacing nematoda yang berlokasi di
dalam lumen contohnya adalah Spirocerca (esophagus anjing),
Ascaridia (Ayam), Ascaris (babi, manusia), Neoascaris (sapi),
Parascaris (kuda), Toxocara (anjing, kucing), Bunostomum,
Haemonchus (sapi, domba, kambing) Strongylus (kuda),
Strongyloides (herbivore), Ancylostoma (anjing, manusia) dll.
Cacing trematoda yang berparasit di dalam lumen usus contohnya:
Paramphistomum (ruminansia), Echinostoma (unggas),
Metagonimus, Platynosomum (anjing)dll, sedang cacing cestoda
yang berlokasi di dalam lumen usus contohnya adalah Taenia
(manusia), Moniezia (ruminansia), Raillietina, Davaina,
Hymenolepis, Choanotaenia (unggas). Selain itu ada juga parasit
yang berlokasi di dalam hati seperti Fasciola hepatica (sapi),
Opistorchis (anjing, babi, manusia), Eimeria stidae (kelinci),
Histomonas (unggas) dan di dalam pancreas seperti Eurythrema
pancreaticum (sapi). Di dalam saluran pernafasan, saluran
pernafasan juga banyak ditempati beberapa spesies parasit seperti
Metrastrongylus, Dictyocaulus (domba), Paragonimus (manusia),

13
Syngamus (ayam) dll. Selain itu banyak stadium larva terutama
cacing nematode yang dalam siklus hidupnya melewati saluran
pernafdasan sebelum mencapai predileksinya di dalam saluran
pencernaan. Di dalam saluran urmasi dan reproduksi. Parasit-
parasit yang berlokasi di dalam organ ini antara lain Stephaneurus
dentatus (babi), Capilaria plica (anjing), Setaria (kantung testis
kuda), Prosthogonimus ( saluran telur dan bursa fabrisius unggas),
Tritrichomonas foetus (sapi), izypanosoma equierdum (kuda) Di
dalam sirkulasi. Banyak parasit juga ditemukan dalam sirkulasi
baik di dalam jantung, dalam plasma darah (ekstra seluler) maupun
pada atau di dalam sel-sel darah (intraseluier). Parasit yang
terdapat di dalam jantung biasanya di bilik kanan antara lain adalah
Dirofflaria (anjing), Dipetalonema ( manusia ). Yang berlokasi di
dalam plasma darah antara lain adalah cacing Schistosoma
(manusia, sapi), Strongylus vuigaris (kuda), Trypanosoma (anjing,
kuda, ruminansia) dan beberapa larva nematoda seperti
Microfilaria bancrofti M malayi (manusia) dan larva dari
Stephanofflaria (sapi). Parasit-parasit intraseluler sel darah antara
lain yang berada pada permukaan sel darah merah adalah
Eperytrozoon (domba), yang berparasit di dalam sel darah merah
antara lain Plasmodium (kera, manusia, ayam) Haemoproteus,
Leucocytozoon (ayam) , Babesia (sapi, domba, anjing ), dan
Theileria ( sapi, domba ), sedang yang berparasit di dalam sel
darah putih adalah Hepatozoon ( anjing ). Parasit di mata. Ada
beberapa parasit yang berlokasi di mata antara lain, Loa-loa
(manusia), Thelazia (sapi) dan Oxyspirura mansoni (ayam). Parasit
di jaringan kulit. Parasit yang terdapat dijaringan kulit antara lain,
Besnoitia, Sarcocystis (sapi), Leishmania (anjing, manusia) sedang
yang di bawah kulit adalah Onchocerca gibsoni ( manusia) dan
Stephanofflaria ( sapi). Parasit di dalam otot serang lintang.
Beberapa larva cacing pita seperti sistiserkus selulosa (pada babi)

14
(larva cacing Taenia solium ), sistiserkus bovis (pada sapi) (larva
Taenia saginata) dan larva Trichinella spfralis berlokasi di dalam
otot seran lintang. Parasit di dalam organ lain seperti di otak adalah
sista Toxoplasma (berbagai hewan) dan Neospora (anjing), di
dalam air susu anjing mungkin ditemukan larva Ancylostoma.
Untuk tujuan mempelajari parasit lebih lanjut berdasarkan
lokasinya penulis membagi 3 golongan parasit yaitu:
- ektoparasit yaitu ektoparasit seperti yang diuraikan sebelumnya,
- mesoparasit adalah parasit-parasit yang lokasinya di dalam
saluran pencernaan, saluran pernafasan dan saluran reproduksi
dan urinasi,
- sedang yang terakhir adalah endoparasit adalah parasit-parasit
yang berlokasi dalam jaringan tubuh hospes yang tidak memiiki
akses ke dunia luar.
Dari penggolongan parasit berdasarkan lokasi muncul istilah
infeksi dan infestasi. Istilah infeksi biasanya diperuntukkan bagi parasit
internal (endoparasit) atau parasit yang berkembang biak di dalam tubuh
hospes sedang istilah infestasi diperuntukkan bagi ektoparasit atau parasit
yang berkembang biak di luar tubuh hospes. Namun demikian parasitolog
British menyebut infestasi untuk menyebut adanya helminth pada atau di
dalam tubuh hospes.

E. Berdasarkan pengaruhnya terhadap hospes.


Adanya parasit di dalam suata hospes akan berpengaruh terhadap
hospesnya. Pengaruh tersebut bervanasi mulai yang pengaruhnya tidak
tampak sampai yang menimbulkan sakit pada hospesnya. Sehingga dalam
parasitologi dikenal istilah parasitiasis dan parasitosis. Parasitiasis adalah
kondisi hospes yang mengandung parasit tapi tidak menimbulkan sakit,
sebaliknya parasitosis adalah kondisi hospes yang mengadung parasit dan
menimbulkan gejala sakit Karena parasit tersebut. Berdasarkan pengaruh
pada hospes dikenal tiga golongan parasit yaitu:

15
1. Parasit patogen : Parasit-parasit seperti Plasmodium falciparum,
Theileria parva, Trypanosoma evans, Babesia bigemina dan
Leishmania donovani dapat digolongkan parasit yang berefek
patogen terhadap hospesnya.
2. Parasit kurang patogen. Parasit Fasciola hepatica kurang patogen
pada domba sedang Fasciola giganlica kurang patogen bagi sapi.
Haemonchus contortus dan cacing kait Bunostomum termasuk
dapat digolongkan parasit kurang patogen.
3. Parasit yang tidak patogen. Termasuk parasit tidak patogen adalah
Ascaris Jumbricoides pada babi dan manusia.
Penggolongan parasit berdasarkan pengaruh parasit terhadap
hospesnya tidak jelas batasnya karena pengaruh parasit terhadap
hospesnya dipengaruhi banyak faktor seperti kepekaan hospes, kondisi
hospes, jumlah parasit dan sebagainya, sehingga parasit yang digolongkan
kurang patogen bisa Lenladi parasit yang patogen bila jumlahnya banyak
dan terdapat pada hospes yang peka. Demikian pula sebalikaya parasit
seperti Trypansoma evansi adalah parasit yang patogen tetapi bagi hospes
tertentu (sapi n’Dama) yang memiliki sifat tripanotoleran Trypanosoma
tersebut menjadi tidak patogen.

F. Berdasarkan klasifikasi hewan


Hewan terdiri dari hewan bersel satu ( uniseluler atau protozoa )
dan bersel banyak (multiseluler atau metazoa).
1. Uniseluler parasit. Kebanyakan hewan-hewan bersel satu sebagian
besar hidupnya sebagai parasit seperti misalnya, hewan-hewan
yang termasuk filum Sarcomastigophora, Apicomplexa,
Microspora, Myxospora dan Ciliophora. Contoh parasit yang
termasul dalam filum Sarcomastigophora adalah Trypanosoma,
Trichomonas, Tritrichomonas, Histomonas, Giardia. Contoh parasit
yang termasuk filum Apicomplexa adalah Hepatozoon, Eimeria,
Isospora, Cryptospondia, Toxoplasma, Sarcocystis Besnoitia,

16
Hammondia, Plasmodiuin. Haemoproteus, Leucocytozoon, Baesia
dan Theileria. Contoh parasit yang termasuk Microspora adalah
Encephalotozoon (parasit pada otak dan ginjal kelinci, tikus,
marmut, anjing, hamster). Myxozoa parasit biasanya ditemukan
pada ikan, sedang contoh parasit yang termasuk kedalam filum
Ciliophora adalah Balantidium.
2. Multiseluler parasit. Hewan-hewan multiseluler yang hidupnya
sebagai parasit kebanyakan pada hewan-hewan invertebrata seperti
yang termasuk filum Nemathelininthes, Plathyhelminthes,
Crustacea Arthropoda. Contoh parasit yang termasuk filum
Nemathelininthes adalah Ascaris, Ancylostoma, Haemonchus,
Spirocerca. Contoh parasit yang termasuk filum Platyhelminthes
adalah Taema, Raillietina, Fasciola, Eurythrema,
Paramphistomum. Contoh parasit yang termasuk Crustace adalah
kebanyakan anggota ordo Isopoda, dan sebagian dari ordo
Amphipoda dan Decapoda yang kesemuanya parasit pada hewan
akuatik. Pada filum-filum lainnya dan hewan ertebrata seperti
Spongifera, Porifera, Echinodermata, Coelanterata, dan Mollusca
walaupun ada tapi jarang sekali yang hidup sebagai parasit bahkan
filum Echinodermata mungkin satu-satunya yang tidak miliki
anggota yang hidupnya sebagai parasit. Sedangkan, hewan-hewan
vertebrata yang umumnya ukuran tubuhnya jauh lebih besar dari
hewan-hewan yang disebut sebelumnya hampir tidak ada yang
hidup sebagai parasit bahkan kebanyakan dari mereka berperan
sebagai hospes dalam kehidupn simbiosis parasitik. Walaupun
demikian ada informasi bahwa di Amerika selatan ada hewan
vertebrata yang hidup sebagai parasit yaitu sejenis ikan golongan
uritormis (Branchioica dan Vandeffia) hidup di dalam rongga
insang ikan lain dimana ikan tersebut menghisap darah ikan lain
yang berperan sebagai hospesnya, sedangkan klasifikasi parasit
dapat dilihat pada lampiran.

17
2.4 Ruang Lingkup Parasitisme
Dalam mempelajari parasitologi diperlukan pengertian dan
pendekatan ekologi serta memahami ekologi parasit yang merupakan dasar
pembahasan berbagai masalah antara lain masuknya parasit ke dalam hospes,
kepadatan parasit, inang dan sebagainya. Demikian juga untuk memahami
penyebarannya perlu dipelajari mikro distribusi parasit. Faktor-faktor yang
berpengaruh terhadap kehidupan parasit antara lain air, temperatur, sinar
matahari, waktu, flora dan fauna. Semua makhluk hidup itu bereaksi terhadap
banyak faktor-faktor tersebut secara bersama-sama, tidak terhadap faktor satu
demi satu. Selanjutnya dalam mencegah dan mengobati penyakit secara
umum dengan tindakan praktis, khususnya dalam pencegahan serta
pemberantasannya. Zoonosis adalah penyakit atau penularan-penularan yang
secara alamiah terjadi antara hewan dan manusia. Penggolongan zoonosis
dapat didasarkan pada:
(1) tingkat derajat revervoirnya dalam sistem zoologi,
(2) siklus penularan dan prospek pengendaliannya,
(3) taksonomi parasit penyebabnya.
Hal-hal yang berpengaruh terhadap kasus zoonosis parasiter pada
manusia adalah:
1. Aspek sosial budaya atau ekonomi; di antaranya adalah jenis
pekerjaan. Sebagai pemburu juga pekerja hutan, mereka lebih terbuka
kemungkinannya untuk memperoleh zoonosis parasiter dari hewan
buruan dan hewan liar di hutan sebagai reservoirnya. Berbeda dengan
pekerja pengalengan susu, daging atau ikan yang secara langsung lebih
terbuka terhadap penularan zoonosis parasiter dari jenis
toksoplasmosis, hidatidosis dan larva migran.
2. Aspek ekologi; bertambahnya populasi atau dengan adanya
transmigrasi, yang akan mengubah keadaan lingkungan. Perubahan
ekologi, seperti adanya 2 ekosistem yang semula terpisah, kemudian
bersatu dan dapat menjadi fokus baru bagi berbagai penyakit zoonosis;

18
di antaranya schistosomiasis, trypanosomiasis, paragonimiasis dan
sebagainya.
3. Aspek iklim dan cuaca; sebagai contoh: negara Indonesia dengan iklim
tropis, panas, tetapi curah hujan cukup sehingga kelembabannya cukup
pula. Hal tersebut memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan
berbagai jenis parasit selagi berada di luar tubuh hospesnya. Contoh:
sporulasi ookista Toxoplasma gondii, pembentukan telur infektif
berbagai cacing parasit usus, demikian pula bagi kelangsungan hidup
berbagai vektor dan hospes perantara yang sangat dipengaruhi oleh
iklim dan cuaca. Faktor-faktor yang mendukung siklus hidup zoonosis
parasiter di daerah endemis, di antaranya: faktor bangsa, ethnis, agama,
populasi geografis.
Struktur tubuh protozoa tersusun dari unit-unit (komponen)
fungsional yang disebut sebagai organel-organel bukan organ-organ sebab
Protozoa adalah hewan bersel satu atau terdiri dari satu sel saja. Seluruh
fungsi kehidupannya dilakukan oleh satu sel tersebut. Sedangkan “organ”
terdiri dari banyak sel dan “organel-organel” adalah bagian sel yang
mengalami diferensiasi yang disesuaikan dengan fungsinya.
Pengelompokan Protozoa parasit dalam parasitologi dilakukan
berdasarkan patologi anatomi hospesnya dengan urutan yang disesuaikan
dengan taksonominya. Alasan pengelompokan tersebut, dimaksudkan
untuk mempermudah dalam mempelajarinya.
Protozoa atrial adalah protozoa yang berhabitat pada rongga tubuh
seperti mulut, hidung, vagina, urethera. Dalam kelompok protozoa atrial
yaitu Entomoeba gingivalis (Kelas Sarcodina) dan Trichomonas tenax dan
T. vaginalis (Kelas Flagellata), hanya T. vaginalis yang patogen. E.
gingivalis hanya diketahui bentuk trophozoit saja yang sangat mirip
dengan E. histolytica. Spesies ini tinggal di dalam gingiva manusia bersifat
apatogen sama halnya dengan T. tenax. T. vaginalis habitat pada vagina
dan glandula prostata. Pada wanita menyebabkan vaginistis yaitu dapat
mengeluarkan banyak sekret keputihan yang menyebabkan keputihan.

19
Infeksi pada laki-laki dirasakan setelah adanya infeksi sekunder oleh
bakteri dan mungkin menyebabkan uretritis dan prostata.
- Protozoa Parasit pada Darah Manusia serta Vertebrata lainnya.
Protozoa yang hidup parasit di dalam darah dan jaringan
manusia mencakup berbagai jenis yaitu Trypanosoma spp, Leishmania
spp, Plasmodium spp, dan Toxoplasma gondii. Parasit Trypanosoma
cukup luas penyebarannya, sebagian tidak patogen, di dalam darah
hewan mamalia, reptilia, amfibia, burung, ikan ada ada 3 spesies
patogen pada manusia yaitu Trypanosoma gambiense, T. rhodesiense
dan T. cruzi. Bentuk-bentuk perkembangan familia Trypanosomidae ini
adalah Trypomastigot, Epimastigot, Promastigot, dan Amastigot.
Bentuk-bentuk perkembangan ini ada yang lengkap dan ada pula yang
tidak lengkap. Daur hidup Trypanosoma pada mamalia terjadi berganti-
ganti di dalam inang vertebrata dan invertebrata. Penularan
Trypanosoma dan dapat secara langsung dan dapat secara tidak
langsung yaitu mengalami pertumbuhan siklik (mekanik) di dalam
serangga pengisap darah sebelum menjadi infektif. Vektor bagi
Trypanosoma gambiense dan T. rhodesiense adalah lalat tse-tse,
sedangkan Trypanosoma cruzi adalah serangga reduvidae. Klasifikasi
Trypanosoma didasarkan atas morfologi, cara penularan dan sifat
patogen. Parasit Plasmodium penyebab malaria yang tersebar sangat
luas dan banyak menimbulkan kematian pada manusia ada 4 spesies
yaitu P. vivax, P. malariae, P. falciparum dan P. ovale, sedangkan
spesies lainnya dapat menginfeksi burung, monyet, rodentia dan
sebagainya. Pembasmiannya sangat tergantung pada penggunaan
insektisida, pengobatan dan faktor-faktor sosio ekonomi yang cukup
komplex. Untuk kelangsungan hidup parasit tersebut mempunyai fase
schizogoni, fase gametogami, dan fase sporogoni. Patologinya
menyebabkan pecahnya eritrosit, reaksi humoral kelemahan limpa, hati,
ginjal dan gangguan peredaran darah. Gejala klinis ialah serangan
demam yang intermitten dan pembesaran limpa. Pencegahan mencakup

20
pengurangan sumber infeksi, pengendalian nyamuk malaria.
Pengobatan meliputi penghancuran parasit praeritrositik, obat represif,
obat penyembuh dan obat radikal untuk bentuk eksoeritrositik,
gametositik dan gametastatik.

- Protozoa Parasit Pada Jaringan.


Protozoa parasit jaringan merupakan protozoa parasit yang
hidup berparasit di dalam jaringan hospesnya. Protozoa parasit ini
merupakan penyebab penyakit bagi manusia dan hewan khususnya dan
berperan penting dalam dunia kesehatan pada umumnya. Protozoa yang
bersifat parasit pada jaringan hospes ini meliputi 2 kelas yaitu kelas
Flagellata dan Sporozoa. Pada kelas Flagellata berupa genus
Leishmania sedangkan pada kelas Sporozoa berupa genus Toxoplasma.
Dari genus Leishmania ini hanya terdapat 3 spesies penting terutama
bagi kesehatan manusia yaitu dapat menyebabkan penyakit
leishmaniasis. Adapun ketiga spesies tersebut adalah Leishmania
donovani penyebab leishmaniasis visceral; Leishmania tropica
penyebab leishmaniasis kulit dan Leishmania brazilliennis penyebab
leishmaniasis muko kutis. Meskipun ketiga genus Leishmania ini
merupakan protozoa parasit pada jaringan, tetapi di dalam daur (siklus)
hidupnya masih tetap membutuhkan hospes perantara untuk
kelangsungan hidupnya. Adapun sebagai hospes perantaranya adalah
lalat Phlebotomus dan darah manusia. Di antara genus Toxoplasma
hanya satu spesies saja yang mampu menginfeksi berbagai macam
hospes yaitu spesies Toxoplasma gondii. T. gondii ini merupakan
penyebab penyakit toxoplasmosis pada manusia. Di dalam daur
hidupnya mempunyai tiga bentuk perkembangan yaitu bentuk zoite,
kista dan ookista. Sebagai berikut infektifnya adalah sporozoit,
kestozoit dan endozoit. Sedangkan cara infeksinya adalah bukan dengan
melalui vektor, tetapi dengan berbagai cara yaitu per-os, transplantasi,
transfusi ataupun dengan kista, trophozoit atau ookista selama

21
melakukan penelitian di laboratorium. Peristiwa ini dapat
mengakibatkan toxoplasmosis kongenital dan toxoplasmosis dapatan
(perolehan). Penularan dari manusia ke manusia terjadi dengan melalui
plasenta penyebab toxoplasmosis kongenital.

- Trematoda Usus
Trematoda merupakan cacing pipih yang berbentuk seperti daun,
dilengkapi dengan alat-alat ekskresi, alat pencernaan, alat reproduksi
jantan dan betina yang menjadi satu (hermafrodit) kecuali pada
Trematoda darah (Schistosoma). Mempunyai batil isap kepala di bagian
anterior tubuh dan batil isap perut di bagian posterior tubuh. Dalam
siklus hidupnya Trematoda pada umumnya memerlukan keong sebagai
hospes perantara I dan hewan lain (Ikan, Crustacea , keong) ataupun
tumbuh-tumbuhan air sebagai hospes perantara kedua. Manusia atau
hewan Vertebrata dapat menjadi hospes definitifnya. Habitat Trematoda
dalam tubuh hospes definitif bermacam-macam, ada yang di usus, hati,
paru-paru, dan darah. Macam-macam spesies Trematoda usus adalah: F.
buski, H. heterophyes, M. yokagawai, Echinostoma, Hypoderaeum dan
Gastrodiscus. Manusia menjadi hospes definitifnya dan hewan-hewan
lain seperti mamalia (anjing, kucing) dan burung dapat menjadi hospes
reservoar. Siklus hidup selalu memerlukan keong sebagai hospes
perantara I dan hospes perantara II (keong : Echinostoma, tumbuhan air
F.buski; ikan H.heterophyes dan M.yokogawai). Patologi penyakit yang
disebabkan oleh Trematoda usus disebabkan oleh perlekatan cacing pada
mukosa usus dengan batil isapnya. Semakin besar ukuran cacing maka
semakin parah kerusakan yang ditimbulkan. Gejala klinis tergantung
jumlah parasit dalam usus, pada infeksi ringan gejala tidak nyata,
sedangkan pada infeksi berat gejala yang timbul adalah sakit perut, diare,
dan akibat terjadinya malabsorpsi bisa timbul edema. Diagnosis
dilakukan dengan menemukan telur dalam tinja penderita. Bila bentuk
telur hampir sama maka perlu menemukan cacing dewasanya dalam tinja

22
penderita. Obat-obatan untuk trematoda usus hampir sama, yaitu
tetrakloretilen, heksilresorsinol, dan praziquantel.

- Cestoda Usus.
Cestoda merupakan cacing berbentuk seperti pita memanjang.
tubuh terdiri dari kepala (skolek), dan proglottid (segmen tubuh) yang
terdiri dari: proglottid immature, mature, dan gravid. Proglottid gravid
dapat digunakan untuk identifikasi spesies berdasarkan bentuknya dan
bentuk uterus di dalamnya. Terdapat 2 golongan besar Cestoda, yaitu: 1.
Pseudophyllidean yang mempunyai skolek berbentuk seperti sendok
dengan dilengkapi 2 buah alat isap yang berbentuk celah memanjang
yang disebut bothria, contoh spesies: Diphyllobothrium latum. 2.
Cyclophyllidean yang mempunyai skolek dengan alat isap berbentuk
seperti mangkuk yang disebut asetabulum, jumlahnya 4 buah.
Diphyllobothrium latum merupakan pseudophyilidean. Cestoda yang
hidup di usus manusia sebagai hospes definitifnya. Hospes reservoarnya
adalah hewan/mamalia pemakan ikan. Memerlukan 2 buah hospes
perantara dalam daur hidupnya yaitu: (1) Cyclops atau Diaptomus di
mana larva cacing disebut proserkoid, dan (2) Ikan air tawar dengan larva
cacing di dalamnya disebut pleroserkoid. Fam.Taeniidae yang termasuk
Cyclophyllidean Cestoda mempunyai 3 spesies penting bagi kesehatan
manusia maupun hewan, yaitu T.saginata, T.solium, dan E.granulossus.
Bentuk telur antara ketiga cacing tersebut sukar dibedakan satu sama
lain. Ketiganya mempunyai skolek yang dilengkapi dengan batil isap
berbentuk mangkuk yang disebut asetabulum. Pada skolek T.solium dan
E.granulossus dilengkapi dengan rostellum dan kait-kait . Sedangkan
skolek T.saginata tidak ada rostrumnya. T.saginata dan T.solium
merupakan cacing pita yang panjang sampai bermeter-meter ukurannya,
sedangkan E.granulossus merupakan cacing pita yang terpendek, hanya
mempunyai 3 buah proglottid saja. Manusia dapat terinfeksi T.saginata
bila makan daging sapi yang mengandung kista yang disebut sistiserkus

23
bovis, dan menderita taeniasis saginata (terdapat cacing dewasa dalam
ususnya). Infeksi T.solium pada manusia dapat terjadi melalui 2 cara
yaitu:
1. Bila menelan telurnya akan terjadi larva dalam jaringan tubuh
manusia, disebut menderita sistiserkosis.
2. Bila makan daging babi yang mengandung larva sistiserkus
selulose, manusia akan menderita taeniasis solium.

Diagnosis taeniasis saginata/solium dengan menemukan


telur/proglottid gravid pada tinja penderita. Sedangkan sistiserkosis dapat
diketahui dengan pemeriksaan serologis, CT-scan atau dengan
pembedahan (tergantung letak kista dalam jaringan tubuh manusia).
Infeksi E.granulossus pada manusia dapat terjadi bila menelan telurnya,
manusia akan menderita hidatidosis (terjadinya kista hidatida dalam
jaringan tubuh manusia). Tempat yang sering terjadi kista adalah hati
(66%). Diagnosis dengan pemeriksaan serologis, sinar rontgen, dan
pembedahan bila letaknya memungkinkan. Cacing pita yang kecil H.nana
hospes definitifnya manusia, dan penularan dapat terjadi secara langsung
bila manusia menelan telur cacing tersebut. H.nana var.fraterna dan
H.diminuta yang hospes definitifnya tikus memerlukan hospes perantara,
yaitu pinjal tikus, dan kumbang tepung. Hospes perantara bila menelan
telur cacing tersebut akan menetas menjadi larva sistiserkoid. Bila manusia
menelan hospes perantara yang mengandung sistiserkoid akan menderita
hymenolepsis.Cacing pita D.caninum merupakan cacing pita anjing
/carnivora lainnya. Habitat dalam hospes adalah dalam usus halus.
Manusia terinfeksi secara kebetulan/aksidental terutama terjadi pada anak-
anak yang menelan pinjal anjing/kucing yang mengandung larva
sistiserkoid. Akibat infeksi ini pada anak-anak tidak begitu nyata bila
infeksinya ringan namun bila infeksi berat dapat terjadi gangguan
pencernaan, diare, dan reaksi alergi. Pencegahan dengan meningkatkan
kebersihan perorangan serta lingkungan dengan mengobati anjing dari

24
pinjal yang menempel pada tubuhnya. Pengobatan dipylidiasis seperti
pada infeksi cacing pita lainnya, yaitu dengan: niklosamid, praziquantel,
atau kuinakrin.
Cacing tambang terdiri dari beberapa spesies, yang menginfeksi
manusia adalah N.americanus dan A.duodenale, yang menginfeksi hewan
(anjing/kucing) baik liar maupun domestik adalah A.ceylanicum meskipun
cacing ini dilaporkan dapat menjadi dewasa dalam usus halus manusia dan
tidak pernah menyebabkan creeping eruption, A.caninum dan
A.braziliense yang tidak dapat menjadi dewasa dalam usus halus manusia
dan menyebabkan creeping eruption pada manusia. Perbedaan morfologi
antar spesies dapat dilihat dari bentuk rongga mulut, ada tidaknya gigi, dan
bentuk bursa kopulatriks cacing jantan. Akibat utama yang ditimbulkan
bila menginfeksi manusia atau hewan adalah anemia mikrositik
hipokromik, karena cacing tambang menyebabkan perdarahan di usus
akibat luka yang ditimbulkan juga cacing tambang mengisap darah hospes.
Penyakit cacing tambang tersebar luas di daerah tropis, pencegahan
tergantung pada sanitasi lingkungan, kebiasaan berdefikasi, dan memakai
alas kaki. Strongyloides stercoralis merupakan cacing Nematoda usus
yang hidup parasit pada manusia, namun dalam siklus hidupnya terdapat
fase hidup bebas di tanah. Bentuk telurnya sulit dibedakan dengan telur
cacing tambang. Manusia dapat terinfeksi melalui 3 cara: yaitu langsung,
tak langsung, dan autoinfeksi. Cara pencegahan dan penyebaran cacing ini
sama seperti cacing tambang. Obat yang efektif untuk strongyloidiasis
adalah thiabendazol. Akibat utama yang ditimbulkan adalah peradangan
pada usus, disentri terus-menerus dan rasa sakit pada perut bagian kanan
atas. Diagnosis dengan menemukan larva dalam tinja atau dalam sputum
penderita. Pada cacing Nematoda usus ada beberapa spesies yang
menginfeksi manusia maupun hewan. Nematoda usus terbesar adalah
A.lumbricoides yang bersama-sama dengan T.trichiura, serta cacing
tambang sering menginfeksi manusia karena telur cacing tersebut
semuanya mengalami pemasakan di tanah dan cara penularannya lewat

25
tanah yang terkontaminasi sehingga cacing tersebut termasuk dalam
golongan soil-transmitted helminths. A.lumbricoides, T.trichiura dan
E.vermicularis mempunyai stadium infektif yaitu telur yang mengandung
larva. Siklus hidup A.lumbricoides lebih rumit karena melewati siklus
paru-paru, sedangkan T.trichiura dan E.vermicularis tidak. Gejala klinis
penyakit cacing ini bila infeksi ringan tidak jelas, biasanya hanya tidak
enak pada perut kadang-kadang mual. Infeksi askariasis yang berat dapat
menyebabkan kurang gizi dan sering terjadi sumbatan pada usus.
Trikhuriasis berat biasanya dapat terjadi anemia, sedangkan pada
enterobiasis gejala yang khas adalah gatal-gatal di sekitar anus pada waktu
malam hari saat cacing betina keluar dari usus untuk meletakkan telunya di
daerah perianal. Diagnosis askariasis dan trikhuriasis dengan menemukan
telur dalam tinja penderita, sedangkan untuk enterobiasis dapat ditegakkan
dengan anal swab karena telur E. vermicularis tidak dikeluarkan bersama
tinja penderita. Infeksi cacing usus ini tersebar luas di seluruh dunia baik
daerah tropis maupun sub tropis. Anak-anak lebih sering terinfeksi dari
pada orang dewasa karena kebiasaan main tanah dan kurang/belum dapat
menjaga kebersihan sendiri. Semua infeksi cacing usus dapat dicegah
dengan meningkatkan kebersihan lingkungan, pembuangan tinja atau
sanitasi yang baik, mengerti cara-cara hidup sehat, tidak menggunakan
tinja sebagai pupuk tanaman dan mencuci bersih sayuran/buah yang akan
di makan mentah. Obat cacing, seperti piperasin, mebendazole,
tiabendazol, dan lain-lain dapat diberikan dengan hasil yang cukup
memuaskan.

- Trematoda dan Cstoda yang Hidup Parasit pada Darah/Jaringan Tubuh


Manusia dan Hewan.
Spesies trematoda hati yang dapat menginfeksi manusia adalah C.
sinensis dan O. viverini, sedangkan O. felineus, F. hepatica dan F.
gigantica lebih banyak menginfeksi hewan. Stadium infektil cacing hati
adalah metaserkaria. Telur dari C. sinensis dan Opistorchis pada waktu

26
dikeluarkan sudah mengandung mirasidium, ukurannya lebih kecil
dibandingkan dengan telur Fasciola yang besar dan tidak berembrio pada
waktu dikeluarkan bersama tinja. Habitat cacing-cacing tersebut terutama
adalah di saluran empedu, kecuali F. gigantica yang habitatnya di hati.
Hospes perantara I cacing-cacing tersebut adalah keong, namun hospes
perantara II C. sinensis dan Opistorchis adalah ikan air tawar dan hospes
perantara II Fasciola adalah tumbuh-tumbuhan air. Patologis dan gejala
klinis terutama karena peradangan yang disebabkan oleh hasil
metabolisme cacing yang bersifat toksin. Gejala utama dalah demam, sakit
daerah perut, pembesaran hati yang lunak, diare dan anemia. Diagnosis
dengan menemukan telur dalam tinja penderita. Pencegahan dengan
memasak ikan dan tumbuhan air yang akan dimakan. Pengobatan dengan
bithionol. Paragonimus westermani merupakan trematoda yang
menginfeksi paru-paru manusia dan hewan (mamalia). Stadium infektifnya
adalah metasekaria yang mengkista dalam tubuh ketam atau udang (HP
perantar II). Keong merupakan hospes perantara I nya. Patologi dan gejala
klinis disebabkan oleh cacing dewasa dalam alveoli paru-paru dan
mengeluarkan telur yang menyebabkan gejala batuk dengan bercak seperti
serbuk besi dan sputum yang mengandung telur. Diagnosis dengan
menemukan telur dalam sputum atau tinja penderita. Pencegahan dengan
memasak dengan baik ketam atau udang yang akan dimakan. Trematoda
darah pada manusia adalah Schistosoma japonicum, S. haematobium dan
S. mansoni. Infeksi terjadi dengan cara serkaria menembus kulit hospes.
hanya mempunyai 1 hospes perantara yaitu keong Oncomelania (S.
japonicum); Biomphalaria (S. mansoni) dan Bulinus (S. mansoni).
Berbagai hewan dapat terinfeksi oleh cacing ini dan menjadi hospes
reservoarnya. Habitat S. japonicum dan S. mansoni adalah pada vena
meseterika dan cabang-cabangnya, telur yang dikeluarkan oleh cacing
dewasa dapat ditemukan dalam tinja penderita (untuk diagnosis).
Sedangkan habitat S. haematobium adalah pada vena kandung kencing,
sehingga untuk diagnosis dengan menemukan telur dalam urin penderita.

27
Pencegahan dengan perbaikan irigasi, pemberantasan keong dan
pengobatan dengan kalium ammoniumnitrat, nitridazole dan astiban.

- Nematoda Darah/Jaringan Tubuh Manusia dan Hewan.


Nematoda darah atau dikenal sebagai Nematoda filaria,
menyebabkan penyakit kaki gajah atau elefantiasis/filariasis. Di Indonesia
terdapat 3 spesies cacing ini yang dikenal juga sebagai cacing filaria
limfatik, sebab habitat cacing dewasa adalah di dalam sistem limfe
(saluran dan kelenjar limfe) manusia yang menjadi hospes definitifnya,
maupun dalam sistem limfe hewan yang menjadi hospes reservoar (kera
dan kucing hutan). Spesies cacing filaria yang ada di Indonesia adalah:
Wuchereria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori. Cacing filaria ini
ditularkan melalui gigitan nyamuk yang menjadi vektomya. Filariasis
bancrofti mempunyai 2 tipe, yaitu: 1.Tipe urban, atau terdapat di daerah
perkotaan, vektornya nyamuk Culex quenquefasciatus/C. fatigans. 2.Tipe
rural, vektornya nyamuk Anopheles atau nyamuk Aedes tergantung pada
daerahnya. Periodisitasnya adalah periodik nokturna, di mana mikrofilaria
banyak ditemukan dalam darah tepi penderita pada waktu malam hari.
Filariasis malayi lebih banyak terjadi di daerah rural, vektornya adalah
nyamuk Mansonia yang tempat perindukannya di rawa-rawa dekat hutan
dan beberapa jenis dari nyamuk Anopheles dapat pula menjadi vektor
penyakit ini. Perbedaan nyamuk yang menjadi vektornya tergantung pada
daerah geografis. Periodisitas filariasis malayi adalah subperiodik
nokturna, artinya mikrofilaria dapat ditemukan dalam darah tepi penderita
pada waktu siang dan malam hari, meskipun jumlahnya lebih banyak pada
malam hari. Bila mikrofilaria dalam darah tepi penderita masuk ke dalam
tubuh nyamuk vektor pada waktu nyamuk rnengisap darah, maka akan
berubah menjadi larva stadium I-III (L1-L2-L3). L3 bila nyamuk
mengisap darah manusia akan terbawa masuk ke dalam tubuh dan menuju
saluran limfe serta menjadi dewasa dalam kelenjar limfe. Gejala utama
filariasis adalah: limfangitis, limfadenitis, limfedema, yang bisa terjadi

28
berulang-ulang sampai akhimya bila sudah kronis (bertahun-tahun) akan
terjadi elefantiasis. Pada infeksi W. bancrofti biasa menyerang ekstremitas
bagian atas, alat genital, yang bisa menimbulkan hidrokel dan juga buah
dada, namun juga bisa menyerang kaki. Filariasis malayi lebih banyak
menyerang bagian kaki. Diagnosis dengan menemukan mikrofilaria dalam
darah tepi penderita, tergantung periodisitasnya maka biasanya
pemeriksaan dilakukan pada malam hari untuk menemukan
mikrofilarianya. Lalu sediaan darah dicat dengan Giemsa, sehingga dapat
dilihat perbedaan bentuk mf-nya untuk menentukan spesiesnya.
Pengobatan filariasis sampai saat ini yang efektif adalah pemberian DEC
(dietil karbamasin).
Pencegahan terutama menjaga diri agar tidak digigit nyamuk,
dengan memakai kelambu waktu tidur atau menggunakan repelen.
Membasmi tempat perindukan nyamuk vektor, namun untuk yang
habitatnya di rawa-rawa akan sulit dilakukan. Nematoda jaringan adalah
beberapa spesies cacing Nematoda yang hospes yang definitifnya hewan,
di mana cacing dewasa hidup dalam usus halus hewan tersebut. Bentuk
larvanya yang menginfeksi jaringan tubuh manusia dan menimbulkan
masalah penyakit. Tiga jenis cacing tersebut adalah: Trichinella spiralis
yang hospes definitifnya adalah babi dan hewan lain (tikus, beruang,
anjing liar dll), juga manusia. Habitat cacing dewasa dalam usus halus
hospes. Manusia terinfeksi karena makan daging babi yang mengandung
sista yang berisi larva di dalamnya. Daging tersebut bila dimakan tanpa
dimasak dengan baik, maka larva akan menetas dalam usus dan menjadi
dewasa. Cacing betina yang bersifat vivipar, menghasilkan larva yang
akan menembus mukosa usus terbawa aliran darah sampai ke jaringan otot
dan menyebabkan trikhinosis.

A. Cara Penularan Parasit


Secara garis besar cara penularan parasit dikelompokan menjadi 2 yaitu
Secara vertical dan horizontal

29
1. Penularan secara vertical
Penularan secara vertical adalah penularan yang terjadi melalui
induk kepada anak yang baru dilahirkannya. Penularan dengan cara ini
dapat terjadi melalui :telur , air ,susu , atau plasenta.Mis. Nyamuk
A.aegypty menularkan virus dengue ke telurnya
(transovarial transmition)
2. Penularan secara horizontal
adalah cara penularan yang umumnya terjadi antara individu
yang satu dengan indvidu yang lainnya, atau termasuk juga melalui
bahan –bahan tercemar
a. Kontak langsung adalah cara penularan yang terjadi karena
adanya kontak fisik antara dua individu atau lebih. Mis :
penularan kutu, tungau
b. Kontak tidak langsung adalah penularan yang terjadibukan
karena terjadinya kontak fisik antara individu, tetapi ok sarana
lain seperti bahan yang tercemar oleh parasit atau parasit sendiri
yang aktif mencari hospes
c. Perkutan atau melalui kulit.
Kulit merupakan barier pertama terhadap masuknya organism
asing kedalam tubuh. Sehingga kerusakan kulit apapun termasuk
stadium infektif parasit akan mempermudah masuknya organisme
lain kedalam tubuh.
d. Melalui makanan
Penularan parasit jenis ini dikarenakan masuknya sel telur /inang/
parasit kedalam tubuh manusia melalui makanan yang sudah
terpapar inang /sel telur parasit tersebut. Parasit yang menular
lewat makanan yang tertelan yaitu :
1) Cacing Kremi( EnterobiusVermicularis atau Oxyuris
Vermicularis)
2) Cacing gelang( Ascaris Lumbricoides)
3) Cacing Cambuk( Trichuris Trichiura)

30
4) Cacing Pita (Taenia Sangiata/Taenia Sollium)
e. Melalui minuman( air)
Penularan parasit dikarenakan terminumnya air yang terinfeksi
iang cacing atau inang parasit lainnya. Misalnya air yang
terinfeksi inang kutu air genus Cyclops menyebabkan masuknya
parasit Draculuncus Medinensis .
c. Kontaminasi hewan
Penularan melalui kontaminasi hewan merupakan penularan yang
Disebabkan oleh hewan parasit tersebut sehingga menyebabkan
kerugian serta penyakit pada manusia

31