Anda di halaman 1dari 5

BATUBARA CAIR, SOLUSI KETAHANAN ENERGI YANG BERSAHABAT?

Posted on February 28, 2014

Latar Belakang______________________________________________________________

Dunia memiliki cadangan minyak yang dikenal cukup untuk hanya 41 tahun, tapi memiliki cadangan
batubara hingga 155 tahun. Oleh karena itu dibutuhkan alternatif untuk menggantikan energi minyak
bumi. Saat ini telah dikembangkan teknologi pencairan batubara sebagai bahan bakar yang hampir
setara dengan output minyak bumi. Pengembangan teknologi untuk menghasilkan energi baru juga
berhasil mengembangkan suatu teknologi pencairan batubara bituminous dengan menggunakan tiga
proses, yaitu solvolysis system, solvent extraction system, dan direct hydrogenation to liquefy
bituminous coal. Ketiga proses tersebut terintegrasi dalam proses NEDOL (NEDO Liquefaction), suatu
proses pencairan batubara yang dikembangkan oleh NEDO (lembaga kajian teknologi Jepang), dengan
tujuan untuk mendapatkan hasil pencairan yang lebih tinggi.

Peneliti NEDO mengidentifikasi bahwa cadangan batubara di dunia pada umumnya tidak berkualitas
seperti: sub-bituminous coal dan brown coal yang lebih banyak didominasi oleh kandungan air. Peneliti
kemudian mengubah kualitas batubara yang rendah menjadi produk yang berguna secara ekonomis dan
dapat menghasilkan bahan bakar berkualitas serta ramah lingkungan.

Langkah pertama adalah memisahkan air secara efisien dari batubara yang berkualitas rendah. Langkah
kedua melakukan proses pencairan di mana hasil produksi minyak yang dicairkan ditingkatkan dengan
menggunakan katalisator, kemudian dilanjutkan dengan proses hidrogenasi di mana heteroatom
(campuran sulfur-laden, campuran nitrogen-laden, dan lain lain) pada minyak batubara cair dipisahkan
untuk memperoleh bahan bakar bermutu tinggi, kerosin, dan bahan bakar lainnya. Kemudian sisa dari
proses tersebut (debu dan unsur sisa produksi lainnya) dikeluarkan.

Terdapat dua metode untuk mengkonversi batubara menjadi bahan bakar cair:

Direct liquefaction Pada metode ini, batubara dilarutkan pada temperatur dan tekanan tinggi. Proses ini
sangat efisien, namun produk cair membutuhkan pemurnian lebih jauh untuk dapat menghasilkan
karakteristik bahan bakar yang bagus.
Indirect liquefaction Pada metode ini, batubara digasifikasi untuk membentuk syngas (campuran
hidrogen dan karbon monoksida). Syngas tersebut selanjutnya dikondensasi dengan menggunakan
katalis (tahap Fischer-Tropsch) untuk menghasilkan produk berkualitas tinggi.

Berbagai produk dapat dibuat melalui proses ini, misalnya minyak ultra-bersih dan diesel, serta lilin
sintetis, pelumas, bahan baku kimia dan bahan bakar cair alternatif seperti metanol dan dimethyl ether
(DME). Produksi batubara cair di seluruh dunia diperkirakan akan meningkat dari 150 000 barel per hari
pada tahun 2007 menjadi 600.000 pada tahun 2020 dan 1,8 juta barel per hari pada tahun 2030.

Proses Pembuatan Batubara Cair________________________________________

coal-to-liquid

Gambar 1. Proses Pembuatan Coal to Liquid

Pencairan batubara adalah proses yang digunakan untuk mengubah batubara sebagai bahan bakar
padat menjadi pengganti bahan bakar cair seperti diesel dan bensin. Pencairan batubara secara historis
telah digunakan di negara-negara tanpa keamanan pasokan minyak mentah, seperti Jerman dan Afrika
Selatan. Teknologi yang digunakan dalam pencairan batubara sudah cukup lama, dan pertama kali
diimplementasikan di abad ke-19 untuk penerangan dalam ruangan. Pencairan batubara dapat
digunakan di masa depan guna menghasilkan minyak untuk transportasi dan pemanasan,
mengantisipasi pasokan minyak mentah yang mungkin terganggu.

Pencairan batubara berlangsung dalam dua tahapan utama, gasifikasi batubara dan gas-toliquid (GTL).
Selama gasifikasi batubara, udara dan uap ditambahkan ke batubara mentah, yang dipanaskan sampai
beberapa ratus derajat Fahrenheit (Celcius). Karbon dalam batubara bereaksi dengan oksigen dan air,
menghasilkan gas-gas lain seperti karbon dioksida, karbon monoksida, hidrogen, dan metana. Karbon
dioksida adalah limbah dan dapat dibuang ke atmosfer, gas-gas lainnya dapat dibakar atau dikirim untuk
diproses lebih lanjut. Pada abad ke-19, sebelum penerangan listrik, gas ini dibakar sebagai sumber
cahaya untuk bangunan dan jalanan.

Tahap kedua dari pencairan batubara juga dikenal sebagai proses Fischer-Tropsch. Setelah gas batubara
telah disaring dan diolah, air atau karbon dioksida dapat ditambahkan untuk mengatur rasio antara
karbon monoksida dan hidrogen. Gas panas ini kemudian melewati sebuah katalis, yang menyebabkan
karbon monoksida dan hidrogen berkondensasi menjadi rantai hidrokarbon yang panjang dan air. Rantai
hidrokarbon dapat digunakan sebagai pengganti produk minyak seperti bensin, minyak tanah, dan
minyak pemanas, sementara air dapat didaur-ulang dan digunakan sebagai steam pada awal proses
pencairan batubara.

Dalam kasus terjadi gangguan besar dalam pasokan minyak mentah, unit pencairan batubara dapat
diterapkan dengan cukup cepat, karena kesederhanaan teknologi dan ketersediaan batubara mentah
yang tinggi.

Batubara Cair di Indonesia________________________________________________

Di Indonesia, pengembangan batubara cair mulai direspon setelah pemerintah mengeluarkan Inpres No.
2/ 2006 tentang batubara yang dicairkan. Salah satu investor yang tertarik adalah Sugiko MOK Energi
yang bernisiatif untuk membangun pabrik pemrosesan batubara cair di Sumatera Selatan. Proses
produksi batubara cair yang dilakukan oleh Sugico MOK adalah menggunakan sistem hidrogenasi yang
memanfaatkan energi matahari.

Dengan inovasi Photovoltaic, energi panas matahari yang ditangkap melalui solar cell diubah menjadi
energi listrik, yang menghasilkan daya pada setiap panelnya sebesar 1 MW dengan jangka waktu 1 jam
dan biaya tidak lebih dari 5 dollar AS per barel. Energi listrik yang dihasilkan ada dua macam, yaitu arus
listrik yang bersifat bolak-balik (AC) sehingga dapat dimanfaatkan untuk penerangan serta keperluan
lainnya, dan arus listrik yang searah (DC) atau yang digunakan untuk air (H2O). Dalam proses ini air akan
diubah menjadi oksigen dan hidrogen. Unsur hidrogen tersebut akan dimanfaatkan dalam proses
hidrogenasi, yang mengubah batubara padat menjadi cair. Proses hidrogenasi ini dilakukan dalam
reaktorBergius. Setiap satu ton batubara padat yang diolah dalam reaktor ini akan menghasilkan 6,2
barel BBM sintesis berkualitas tinggi.

Saat ini Indonesia memiliki cadangan sekitar 60 milyar ton batubara yang terdapat di seluruh Indonesia.
Dari sekian banyak itu hampir 85% adalah batubara muda (lignit) atau dengan kata lain batubara dengan
kualitas rendah karena 30% berisi kandungan air disamping itu juga mengandung kalori rendah dengan
nilai jual murah. Sedang batubara yang berkualitas atau dikenal dengan Black Coal sebagian besar untuk
di ekspor.

Batubara muda yang juga dikenal dengan nama brown coal akan dikembangkan sebagai alternative
pengganti minyak bumi. Pemerintah Jepang serta para pengusaha Jepang yang tertarik dengan brown
coal ini tengah bekerjasama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk
mewujudkan impian tersebut. Rencananya BPPT akan berupaya bernegoisiasi dengan Pemerintah
Jepang untuk pembangunan pabrik BCL (Brown Coal Liquefaction) sehingga tercipta gasoline dan solar
dari batubara. Biaya yang diperlukan untuk pabrik BCL ini mencapai 5,8 Milyar dolar Amerika. Hal ini
karena para ahli maupun teknologinya belum kita miliki.

Saat ini BPPT sudah mengadakan penelitian untuk BCL ini di daerah Sumatera Selatan, Kalimantan Timur
dan Kalimantan Selatan. Diketahui bahwa 30.000 ton batubara dapat menghasilkan sekitar 130.000
barel minyak per hari. Sebagai contoh pekerjaan Jepang di Australia dan Jepang sendiri yang telah
berhasil membuat master plan BCL ini. PT. Tambang Batubara Bukit Asam rencananya akan membangun
kilang batubara tercairkan di Sumatera Selatan dengan investasi sebesar US$5.2 billion. South Africa’s
Sasol Limited, produsen minyak sintetis terbesar di dunia telah mulai melakukan negosiasi
pembangunan kilang batubara yang dicairkan senilai US$ 10 billion dengan PT Pertamina dan PT.
Tambang Batubara Bukit Asam.

Pada awal tahun 2010 telah ditandatangani MOU antara Pemerintah Indonesia dengan Sasol (salah satu
raksasa pemain CTL (coal to liquid) di dunia yang berasal dari Afrika Selatan) untuk memulai kajian
kelayakan pembangunan kilang. Diperkirakan kilang tersebut mempunyai kapasitas produksi sebesar 1,1
juta barrels setara bahan bakar minyak perhari. Bila semuanya berjalan sesuai rencana maka konstruksi
kilang akan selesai pada akhir tahun 2014 dan mulai produksi tahun 2015. Terdapat empat lokasi yang
potensial untuk pembangunan kilang batubara yang dicairkan meliputi Musi Banyuasin di Sumatera
Selatan yang memiliki cadangan sebesar 2,9 milyar ton dan Berau Kalimantan Timur dengan

cadangan sebesar 3 milyar ton Untuk suplai batu bara, Sasol akan mendapatkannya dari PT Tambang
Batu Bara Bukit Asam Tbk (PTBA). Sementara itu, untuk bertindak sebagai pembeli (off taker) adalah PT
Pertamina (Persero).

Sisi lain Batubara Cair _____________________________________________________

Penyebaran skala besar pabrik batubara cair dapat menyebabkan peningkatan yang signifikan dari
penambangan batubara. Penambangan batubara akan memberikan dampak negatif yang berbahaya.
Penambangan ini dapat menyebabkan limbah yang beracun dan bersifat asam serta akan
mengkontaminasi air tanah. Selain dapat meningkatkan efek berbahaya terhadap lingkungan,
peningkatan produksi batubara juga dapat menimbulkan dampak negatif pada orang-orang yang tinggal
dan bekerja di sekitar daerah penambangan. Produksi batubara cair membutuhkan batubara dan energi
dalam jumlah yang besar. Proses ini juga dinilai tidak efisien. Faktanya, 1 ton batubara hanya dapat
dikonversi menjadi 2 barel bensin. Proses konversi yang tidak efisien, sifat batubara yang kotor, dan
kebutuhan energi dalam jumlah yang besar tersebut menyebabkan batubara cair menghasilkan hampir
dua kali lipat emisi penyebab global warming dibandingkan dengan bensin biasa. Walaupun karbon yang
terlepas selama produksi ditangkap dan disimpan, batubara cair tetap akan melepaskan 4 hingga 8
persen polusi global warming lebih banyak dibandingkan dengan bensin biasa.

ghg_bargraph_4

Grafik 1. Emisi berbagai bahan bakar

untitled

Grafik 2. Emisi CO2 Coal to Liquid

Beberapa ahli menyatakan bahwa penggunaan batubara cair termasuk kategori “bersih” karena bebas
sulfur, namun saat batubara diubah menjadi bahan bakar transportasi, dua aliran karbon dioksida
terbentuk: satu dari pabrik produksi batubara cair dan satu dari pipa pembuangan kendaraan yang
membakar bahan bakar tersebut. Emisi dari pabrik produsen batubara cair lebih besar daripada pabrik
produsen dan pemurnian minyak mentah untuk memproduksi bensin, diesel, dan bahan bakar
transportasi lainnya. Selain berdampak negatif pada global warming, batubara cair juga memiliki
dampak negatif lain terhadap lingkungan. Lebih dari 4 gallon air dibutuhkan untuk setiap gallon bahan
bakar yang diproduksi. Hal ini akan mengancam persediaan air yang terbatas. Dampak-dampak di atas
menjelaskan bahwa penggunaan batubara sebagai bahan bakar alternatif berbahaya bagi lingkungan
dan tidak sejalan dengan pencarian solusi masalah global warming. Beberapa pihak menilai
dibandingkan dengan menggunakan batubara cair sebagai bahan bakar alternatif, lebih baik berinvestasi
untuk industri energi yang lebih ramah lingkungan dan membantu kita menyelesaikan permasalahan
global warming. Sooo, apa idemu dalam memberikan solusi permasalahan ketahanan energi kita?
Ditunggu kontribusinya ya! 🙂

Sumber:

http://www.esdm.go.id

http://www.worldcoal.org/pages/content/index.asp?PageID=423

http://www.nrdc.org/globalWarming/coal/liquids.pdf

http://www.sierraclub.org/coal/liquidcoal/