Anda di halaman 1dari 12

MATERI TAMBAHAN

Macam-macam Hak

Secara garis besar ,Hak dibagi dalam 2 (dua) macam golongan yaitu:

1. Hak Absolut (absolute rechten, onpersoonlijke rechten).Hak absolut adalah hubungan


hukum antara subyek hukum dengan obyek hukum yang menimbulkan kewajiban pada setiap
orang lain untuk menghormati hubungan hukum itu. Hak absolut memberi wewenang bagi
pemegangnya untuk berbuat atau tidak berbuat, yang pada dasarnya dapat dilaksanakan terhadap
siapa saja dan melibatkan setiap orang. Isi hak absolut ini ditentukan oleh kewenangan
pemegang hak. Kalau ada hak absolut pada seseorang maka ada kewajiban bagi setiap orang lain
untuk menghormati dan menanggungnya. Pada hak absolut pihak ketiga berkepentingan untuk
mengetahui eksistensinya sehingga memerlukan publisitas. Hak absolut terdiri dari hak absolut
yang bersifat kebendaan dan hak absolut yang tidak bersifat kebendaan. Hak absolut yang
bersifat kebendaan meliputi hak kenikmatan (hak milik, hak guna bangunan dan sebagainya) dan
hak jaminan.

2. Hak Relatif (nisbi, relative rechten, persoonlijke rechten).Hak relatif adalah hubungan
subyek hukum dengan subyek hukum tertentu lain dengan perantaraan benda yang menimbulkan
kewajiban pada subyek hukum lain tersebut. Hak relatif adalah hak yang berisi wewenang untuk
menuntut hak yang hanya dimiliki seseorang terhadap orang-orang tertentu. Jadi hanya berlaku
bagi orang-orang tertentu; (kreditur dan debitur tertentu). Pada dasarnya tidak ada pihak ketiga
terlibat. Hak relatif ini tidak berlaku bagi mereka yang tidak terlibat dalam perikatan tertentu,
jadi hanya berlaku bagi mereka yang mengadakan perjanjian. Hak relatif ini berhadapan dengan
kewajiban seseorang tertentu. Orang lain, pihak ketiga tidak mempunyai kewajiban. Antara
kedua pihak terjadi hubungan hukum yang menyebabkan pihak yang satu berhak atas suatu
prestasi dan yang lain wajib memenuhi prestasi.

Kasus yang terkait dengan permasalahan hak:

Apakah sebelum lahir, janin yang ada di dalam perut tidak memiliki hak asasi? Pemahaman
yang kurang tepat seperti itu bisa memunculkan fenomena seperti di Belanda terkait dengan kode
etik dokter kandungan. Manakala ada pasien yang secara medis dinyatakan hamil, maka dokter
harus memastikan dengan bertanya sampai tigakali apakah ibu yang mengandung
tersebut bahagia dengan kehamilan itu. Kalau memang ibu tidak bahagia atau tidak menghendaki
kehamilan tersebut, dokter dapat melakukan aborsi terhadap janin tersebut. Aborsi
adalah tindakan yang dilegalkan oleh pemerintah Belanda.
Alasan diperbolehkan aborsi adalah bahwa setiap ibu punya hak untuk hamil atau tidak
hamil.Tidak dipikirkan tentang hak janin untuk hidup. Inilah problem mendasar ketika hak asasi
manusia dipandang hanya melekat pada manusia sejak lahir. Akan lebih tepat dikatakanbahwa
hak asasi melekat pada diri manusia sejak proses terjadinya manusia. Janin punya hak hidup
meskipun belum dapat berbicara apalagi menuntut hak. Aborsi tidak dapat dibenarkan hanya
karena orang tua tidak menginginkan kehamilan, namun tentu bisa dibenarkan manakalaada
alasan-alasan khusus misal secara medis kehamilan tersebut membahayakan sang ibu.Oleh
karena itu tepat kiranya mengacu pada pengertian hak asasi manusia sebagaimana tercantum
dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999 Pasal 1 yang

menyebutkan: “Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat

pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan
anugerah-Ny ayang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum dan
Pemerintahan,dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat
manusia.”

Kasus lainnya:

Pada masyarakat Barat hak asasi lebih menjadi wacana yang dominan daripada kewajiban asasi.
Hal ini bisa dipahami dari pandanga nhidup masyarakat Barat yang individualis. Pada
masyarakat individualis segala sesuatu dimulai dari diriku (aku). Meskipun mereka tidak
melupakan hak orang lain, karena pada masyarakat yang individualismenya sudah matang justru
kesadaran akan hakku didasari pula oleh pemahaman bahwa setiap orang juga ingin dihargai
haknya. Sehingga yang terjadi masing-masing individu saling menghargai individu yang lain.
Berangkat dari hakku inilah kemudianlahir kewajiban-kewajiban agar hak-hak individu tersebut
dapat terpenuhi. Berbeda dengan masyarakat Indonesia yang dikenal sebagai masyarakat Timur.
Karakter masyarakat Timur lebih menekankan hak orang lain daripada hak dirinya sendiri. Hak
diri seringkali dileburkan dalam hak kolektif/sosial. Seseorang jarang ingin menonjol secara
pribadi namun cenderunglebih menonjolkan sisi kolektifnya.

Contoh penerapan kewajiban:

seperti banyak lagu-lagu daerah yang tidak dikenal siapa penciptnya. Sang pencipta seringkali
menyembunyikan diri dalam kolektifitas sehingga karya tersebut dikenal sebagai karya bersama.
Misal lagu Gundul-gundulPacul dari Jawa, lagu O Ina Ni Keke dari Sulawesi Utara, tanpa kita
mengetahui siapa pengarang sesungguhnya. Dalam kondisi masyarakat demikian kewajiban
lebih menonjol dari pada hak, karena orang lebih cenderung berbuat untuk orang lain daripada
diri sendiri.Ketika seseorang berbuat untuk orang lain yang itu dipahami sebagai kewajibannya,
maka otomatis orang lain akan mendapatkan haknya, demikian pula ketika orang lain
menjalankan kewajibannya maka kita juga mendapatkan hak kita.

Pasal-pasal dalam UU 1945 yang mengatur tentang Hak dan Kewajiban Warganegara.

Pasal 27 ayat 1-3

Mengatur tentang Kedudukan warga negara , Penghidupan dan pembelaan terhadap negara.

Pasal 28 ayat A – J

Mengatur tentang segala bentuk Hak Asasi Manusia.

Pasal 29 ayat 2

Mengatur tentang kebebasan atau hak untuk memeluk agama (kepercayaan )

Pasal 30 ayat 1-5

Mengatur tentang Kewajiban membela negara , Usaha pertahanan dan keamanan rakyat,
Keanggotaan TNI dan Tugasnya , Kepolisian Indonesia dan tugasnya , Susunan dan kedudukan
TNI & kepolisian Indonesia.

Pasal 31 ayat 1-5

Mengatur tentang Hak untuk mendapat pendidikan yang layak , kewajiban belajar ,Sistem
pendidikan Nasional ,dan Peran pemerintah dalam bidang Pendidikan dan kebudayaan

Pasal 33 ayat 1-5

Mengatur tentang pengertian perekonomian ,Pemanfaatan SDA , dan Prinsip Perekonomian


Nasional.

Pasal 34 ayat 1-4

Mengatur tentang Perlindungan terhadap fakir miskin dan anak terlantar sebagai tanggung jawab
negara.

Pedoman Penghayatan dan Pengalaman Pancasila (disingkat P4) atau Eka Prasetya Pancakarsa
adalah sebuah panduan tentang pengamalan Pancasila dalam kehidupan bernegara semasa Orde
Baru. Panduan P4 dibentuk dengan Ketetapan MPR no. II/MPR/1978. Ketetapan MPR no.
II/MPR/1978tentang Ekaprasetia Pancakarsa menjabarkan kelima asas dalam Pancasila menjadi
36 butir pengamalan sebagai pedoman praktis bagi pelaksanaan Pancasila. Saat ini produk
hukum ini tidak berlaku lagi karena Ketetapan MPR no. II/MPR/1978 telah dicabut dengan
Ketetapan MPR no XVIII/MPR/1998 dan termasuk dalam kelompok Ketetapan MPR yang
sudah bersifat final atau selesai dilaksanakan menurut Ketetapan MPR no. I/MPR/2003
Dalam perjalanannya 36 butir pancasila dikembangkan lagi menjadi 45 butir oleh BP7. Tidak
pernah dipublikasikan kajian mengenai apakah butir-butir ini benar-benar diamalkan dalam
keseharian warga Indonesia.

Sila pertama

Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketakwaannya terhadap Tuhan Yang Maha
Esa.

Manusia Indonesia percaya dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama
dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dengan
penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan
Yang Maha Esa.

Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut
hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama
dan kepercayaannya masing-masing.

Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang
lain.

Sila kedua

Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk
Tuhan Yang Maha Esa.

Mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa
membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial,
warna kulit dan sebagainya.

Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.

Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.

Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.

Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.

Berani membela kebenaran dan keadilan.


Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.

Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.

Sila ketiga

Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan
negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.

Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan.

Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.

Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.

Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan
sosial.

Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.

Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.

Sila keempat

Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan,
hak, dan kewajiban yang sama.

Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.

Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.

Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.

Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah.

Dengan iktikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan
musyawarah.

Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan


golongan.

Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.
Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang
Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan
mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.

Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan


pemusyawaratan.

Sila kelima

Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan
dan kegotongroyongan.

Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.

Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.

Menghormati hak orang lain.

Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.

Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain.

Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah.

Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum.

Suka bekerja keras.

Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan
bersama.

Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan
sosial.

PEMBAHASAN

NEGARA HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA

A. Pengertian Negara Hukum dan Hak Asasi Manusia


1. Pengertian Negara Hukum

Negara Hukum adalah negara yang penyelenggaraan kekuasaan pemerintahannya didasarkan


atas hukum. Di dalamnya pemerintah dan lembaga-lembaga lain dalam melaksanakan tindakan
apa pun harus dilandasi oleh hukum dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Dalam
negara hukum, kekuasaan menjalankan pemerintahan berdasarkan kedaulatan hukum (supremasi
hukum) dan bertujuan untuk menyelenggarakan ketertiban hukum (Mustafa Kamal Pasha, 2003)

Negara berdasar atas hukum menempatkan hukum sebagai hal yang tertinggi (supreme) sehingga
ada istilah supremasi hukum. Supremasi hukum harus tidak boleh mengabaikan tiga ide dasar
hukum yaitu keadilan, kemanfaatan dan kepastian (Achmad Ali,2002). Apabila Negara berdasar
atas hukum, pemerintahan Negara itu juga harus berdasar atas suatu konstitusi atau undang-
undang dasar sebagai landasan penyelenggaraan pemerintahan. Konstitusi dalam negara hukum
adalah konstitusi yang bercirikan gagasan kostitusionalisme yaitu adanya pembatasan atas
kekuasaan dan jaminan hak dasar warga negara.

Ø Unsur-unsur Negara Hukum

a. Hak asasi manusia dihargai sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai manusia

b. Adanya pemisahan atau pembagian kekuasaan untuk menjamin hak-hak itu

c. Pemerintahan dijalankan berdasarkan peraturan perundang-undangan

d. Adanya peradilan administrasi dalam perselisihan antara rakyat dengan pemerintahannya

Ø Ciri-ciri Negara Hukum

a. Kekuasaan dijalankan sesuai dengan hukum positif yang berlaku

b. Kegiatan negara berada dibawah kontrol kekuasaan kehakiman yang efektif

c. Berdasarkan sebuah undang-undang yang menjamin HAM

d. Menuntut pembagian kekuasaan

2. Pengertian Hak Asasi Manusia

Hak asasi manusia merupakan hak dasar yang melekat dan dimiliki setiap manusia sebagi
anugerah tuhan yang maha esa.kesadaran akan hak asasi manusia didasaarkan pada pengakuan
bahwa semua manusia sebagai makhluk tuhan memilki drajat dan martabat yang sama,maka
setiap manusia memiliki hak dasar yang disebut hak asai manusia.jadi kesadaran akan adanya
hak asai manusia tumbuh dari pengakuan manusia sendiri bahwa mereka adalah sama dan
sederajat.

v Macam Hak Asasi Manusia berdasarkan pengertian HAM,ciri pokok dari hakikat HAM adalah
:

a. HAM tidak perlu diberikan ,dibeli,ataupun diwarisi.

b. HAM berlaku bagi semua orang

c. HAM tidak boleh dilanggar

v HAM meliputi berbagai bidang,sebagai berikut.

a. Hak asasi pribadi (personal rights)

b. Hak asasi politik (political rights)

c. Hak asasi ekonomi (property rights)

d. Hak asasi social dan kebudayaan (social and cultural rights)

e. Hak untuk mendapatkan perlakuan yang sama dalam hukum dan pemerintahan (rights of
legal equality)

f. Hak untuk mendapat perlakuan yang sama dalam tatacara peradilan dan perlindungan (
procedural rights)

3. Hubungan Negara Hukum dan Hak Asasi Manusia

Negara Hukum haruslah memiliki ciri atau syarat mutlak bahwa negara itu melindungi dan
menjamin Hak Asasi Manusia setiap warganya. Dengan demikian jelas sudah keterkaitan antara
Negara hukum dan Hak Asasi Manusia, dimana Negara Hukum wajib menjamin dan melindungi
Hak Asasi Manusia setiap warganya.

Perumusan ciri-ciri Negara Hukum yang dilakukan oleh F.J. Stahl, yang kemudian ditinjau ulang
oleh International Commision of Jurist pada Konferensi yang diselenggarakan di Bangkok tahun
1965, yang memberikan ciri-ciri sebagai berikut:

Perlindungan konstitusional, artinya selain menjamin hak-hak individu konstitusi harus


pula menentukan cara procedural untuk memperoleh perlindungan atas hak-hak yang dijamin;

Badan Kehakiman yang bebas dan tidak memihak;


Pemilihan Umum yang bebas;

Kebebasan menyatakan pendapat;

Kebebasan berserikat/berorganisasi dan beroposisi;

Pendidikan Kewarganegaraan.

4. Dasar Hukum Hak Asasi Manusia di Indonesia

Berbagai instrumen hak asasi manusia yang dimiliki Negara Republik Indonesia,yakni:

1. Undang – Undang Dasar 1945

2. Ketetapan MPR Nomor XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia

Ketetapan MPR RI yang diharapkan memuat secara adanya HAM itu dapat diwujudkan dalam
masa Orde Reformasi, yaitu selama Sidang Istimewa MPR yang berlangsung dari tanggal 10
sampai dengan 13 November 1988. Dalam rapat paripurna ke-4 tanggal 13 November 1988,
telah diputuskan lahirnya Ketetapan MPR RI No. XVII/MPR/1988 tentang Hak Asasi Manusia.

3. Undang – Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Adapun hak-hak
yang ada dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 199 tersebut antara lain sebagai berikut :

a. Hak untuk hidup (Pasal 4)

b. Hak untuk berkeluarga (Pasal 10)

c. Hak untuk mengembangkan diri (Pasal 11, 12, 13, 14, 15, 16)

d. Hak untuk memperoleh keadilan (Pasal 17, 18, 19)

e. Hak atas kebebasan pribadi (Pasal 20-27)

f. Hak atas rasa aman (Pasal 28-35)

g. Hak atas kesejahteraan (Pasal 36-42)

h. Hak turut serta dalam pemerintahan (Pasal 43-44)

i. Hak wanita (Pasal 45-51)

j. Hak anak (Pasal 52-66)

5. Pelaksanaan dan penegakan HAM di Indonesia


Tegaknya HAM selalu mempunyai hubungan korelasional positif dengan tegaknya negara
hukum. Sehingga dengan dibentuknya KOMNAS HAM dan Pengadilan HAM, regulasi hukum
HAM dengan ditetapkannya UU No. 39 Tahun 1999 dan UU No. 26 Tahun 2000 serta dipilihnya
para hakim ad hoc, akan lebih menyegarkan iklim penegakkan hukum yang sehat. Artinya
kebenaran hukum dan keadilan harus dapat dinikmati oleh setiap warganegara secara egaliter.

Kenyataan menunjukkan bahwa masalah HAM di indonesia selalu menjadi sorotan tajam dan
bahan perbincangan terus-menerus, baik karena konsep dasarnya yang bersumber dari UUD
1945 maupun dalam realita praktisnya di lapangan ditengarai penuh dengan pelanggaran-
pelanggaran. Sebab-sebab pelanggaran HAM antara lain adanya arogansi kewenangan dan
kekuasaan yang dimiliki seorang pejabat yang berkuasa, yang mengakibatkan sulit
mengendalikan dirinya sendiri sehingga terjadi pelanggaran terhadap hak-hak orang lain.

6. Permasalahan yang dihadapi pemerintah dalam penegakan HAM di Indonesia

Berbagai permasalahan yang dihadapi pemerintah Indonesia dalam rangka penghormatan,


pengakuan, penegakan hukum dan HAM antara lain :

1. Penegakan Hukum di Indonesia belum dirasakan optimal oleh masyarakat. Hal itu antara
lain, ditunjukan oleh masih rendahnya kinerja lembaga peradilan. Penegakan hukum sejumlah
kasus pelanggaran HAM berat yang sudah selesai tahap penyelidikannya pada tahun 2002, 2003,
dan 2004, sampai sekarang belum di tindak lanjuti tahap penyelidikannya.

2. Masih ada peraturan perundang-undangan yang belum berwawasan gender dan belum
memberikan perlindungan HAM. Hal itu terjadi antara lain, karena adanya aparat hukum, baik
aparat pelaksana peraturan perundang-undangan, maupun aparat penyusun peraturan perundang-
undangan yang belum mempunyai pemahaman yang cukup atas prinsip-prinsip perlindungan hak
asasi manusia.

3. Belum membaiknya kondisi kehidupan ekonomi bangsa sebagai dampak krisis ekonomi
yang terjadi telah menyebabkan sebagian besar rakyat tidak dapat menikmati hak-hak dasarnya
baik itu hak ekonominya seperti belum terpenuhinya hak atas pekerjaan yang layak dan juga hak
atas pendidikan

4. Sepanjang tahun 2004 telah terjadi beberapa konflik dalam masyarakat, seperti Aceh,
Ambon, dan Papua yang tidak hanya melibatkan aparat Negara tetapi juga dengan kelompok
bersenjata yang menyebabkan tidak terpenuhinya hak untuk hidup secara aman dan hak untuk
ikut serta dalam pemerintahan

5. Adanya aksi terorisme yang ditujukan kepada sarana public yang mnyebabkan rasa tidak
aman bagi masyarakat

6. Dengan adanya globalisasi, intensitas hubungan masyarakat antara satu Negara dengan
Negara lainnya manjdi makin tinggi. Dengan demikian kecenderungan munculnya kejahatan
yang bersifat transnasional menjadi makin sering terjadi. Kejahatan-kejahatan tersebut antara
lain, terkait dengan masalah narkotika, pencucian uang dan terorisme. Salah satu permasalahan
yang sering timbul adalah adanya peredaran dokumen palsu. Yang membuat orang-orang luar
bebas datang ke Indonesia

Beberapa masalah Hak Asasi di Indonesia yaitu:

1. Perlindungan Perempuan : Keadilan dan kesetaraan gender.

UUD 1945 pasal 27 menjamin persamaan Hak perempuan dan Laki-laki ; dan Bahwa perempuan
adalah bagian dari HAM yang tercantum dalam UU No. 7/198-4 tentang anti diskriminasi dan
UU No. 39/1999 tentang HAK. Ada pun hak-hak politik perempuan tercantum dalam UU No.
68/1958

2. Rencana Aksi Nasional (RAN) Penghapusan perdagangan perempuan dan Anak

Indonesia telah memiliki rencana aksi nasional penghapusan trafficking perempuan dan anak
2003-2007. RAN tersebut merupakan implementasi dari konvensi PBB menentang kejahatan
Terorganisir antar Negara

3. Perlindungan Hak Anak

Pemerintah Indonesia telah mengambil langkah legislative dan administrative untuk lebih
memperbaiki perlindungan hak-hak anak dan perempuan. Langkah-langkah legislative tersebut
antara lain dengan keluarnya UU No. 32 tahun 2002 tentang perlindungan anak dan UU No. 20
tahun 2003 dengan system pendidikan nasional. Sedangkan langkah administrative dalam
menetukan rencana aksi dan penentuan penjuru untuk pemajuan dan perlindungan HAM antara
lain, melalui kepres No. 59 tahun 2002 tentang rencana aksi nasional penghapusan Bentuk-
bentuk pekerjaan terburuk anak. Dan juga pembentukan komisi perlindungan anak Indonesia di
bentuk pada tahun 2003 melalui keppres No. 77 tahun 2003.

7. Upaya Pemerintah dalam hal penghormatan, pengakuan , dan penegakan Hukum dan HAM

Untuk mewujudkan dan menegakkan Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia tidaklah semudah
menuliskan serta mengucapkannya. Hal ini disebabkan banyak hambatan dan tantangan yang
tidak lagi sebatas terorika, melainkan sudah menjadi realita yang tidak dapat dihindari apalagi
ditunda-tunda. Dalam penegakan HAM melalui sistem hukum pidana yang telah berlaku di
Indonesia terdapat kendala-kendala atau hambatan yang bersifat prinsipil substansil dan klasik.

Pemerintah wajib dan bertanggung jawab menghormati, melindungi, menegakkan, Dan


memajukan Hak asasi manusia melalui langkah implementasi yang efektif dalam bidang hukum,
politik, social, budaya, pertahanan dan keamanan Negara, dan bidang lainnya.

Program pemerintah dalam penegakan Hukum dan HAM (PP Nomor 7 tahun 2005) yaitu
meliputi pemberantasan korupsi, anti terorisme, dan pembasmian penyalahgunaan narkotika dan
obat berbahaya. Oleh sebab itu, penegakan hukum dan HAM harus selalu ditegakkan secara
tegas, tidak diskriminatif dan konsisten.

Partisipasi masyarakat dapat pula berpartisipasi dalam perlindungan, penegakan, dan pemajuan
hak asasi manusia. Masyarakat disini meliputi antara lain : setiap orang, kelompok, organisasi
politik, organisasi masyarakat, lembaga swadaya masyarakat atau lembaga kemasyarakatan
lainnya seperti Perguruan Tinggi, lembaga studi

Partisipasi masyarakat ini dapat berupa :

a. Pengajuan usulan mengenai perumusan dan kebajikan yang berkaitan dengan hak asasi
manusia

b. Melakukan penelitian

c. Melakukan pendidikan

d. Melakukan penyebarluasan informasi mengenai hak asasi manusia.