Anda di halaman 1dari 4

Pengertian Pengambilan Keputusan

Pengambilan keputusan (desicion making) adalah melakukan penilaian dan menjatuhkan pilihan.
Pengambilan keputusan digunakan untuk memberikan suatu pendapat yang dapat menyelesaikan
suatu masalah dengan cara tertentu agar dapat lebih diterima oleh semua pihak. Keputusan itu
sendiri merupakan unsur kegiatan yang sangat penting. Keputusan yang tepat adalah keputusan
yang merupakan keseimbangan antara disiplin yang harus ditegakkan dan sikap manusiawi
terhadap bawahan. Keputusan yang demikian ini dinamakan keputusan yang mendasarkan diri
pada relasi sesama. Keputusan ini diambil setelah melalui beberapa perhitungan dan
pertimbangan alternatif. Sebelum pilihan dijatuhkan, ada beberapa tahap yang mungkin akan
dilalui oleh pembuat keputusan. Tahapan tersebut bisa saja meliputi identifikasi masalah utama,
menyusn alternatif yang akan dipilih dan sampai pada pengambilan keputusan yang terbaik.
Proses Pengambilan Keputusan.
Pengambilan keputusan meliputi empat tahap yang saling berhubungan dan berurutan. Empat
proses tersebut adalah :
Intelligence
Tahap ini merupakan proses penelusuran dan pendeteksian dari lingkup problematika serta
proses pengenalan masalah. Data masukan diperoleh, diproses, dan diuji dalam rangka
mengidentifikasi masalah.
Design
Tahap ini adalah proses menemukan, mengembangkan, dan menganalisis alternatif tindakan
yang bisa dilakukan. Tahap ini meliputi proses untuk mengertimasalah, menurunkan solusi, dan
menguji kelayakan solusi.
Choice
Pada tahap ini dilakukan proses pemilihan diantara berbagai alternatif tindakan yang mungkin
akan dijalankan. Tahap ini meliputi pencarian, evaluasi, dan rekomendasi solusi yang sesuai
untuk model yang telah dibuat. Solusi dari model merupakan nilai spesifik untuk variabel hasil
pada alternatif yang dipilih.
Implementation
Tahap implementasi adalah tahap pelaksanaan dari keputusan yang telah diambil. Pada tahap ini
diperlukan untuk menyusun serangkian tindakan yang terencana, sehingga hasil keputusan dapat
dipantau dan disesuaikan apabila diperlukan perbaikan.
Tipe-tipe keputusan dapat dibagi menjadi 3 yaitu:
1. Keputusan-keputusan yang di program(programmed decisions)adalah satu keputusan
yang dibuat menurut kebiasaan, aturan dan prosedur.keputusan ini rutin dan dilakukan
berulang-ulang.
2. Keputusan-keputusan yang tidak di program(non-programmed decisions)adalah
suatu keputusan yang berkenan dengan masalah-masalah khusus , khas dan tidak terbiasa.
3. Keputusan-keputusan dengan kepastian , resiko dan ketidak pastian, dimana
pembuatan keputusannya untuk masa depan atau masa yang akan datang.
Manajer sebagai Pengambil Keputusan
Manajer sebagai pengambil keputusan, adalah manajer yang memiliki peranan penting untuk
mengambil suatu keputusan demi kemajuan suatu perusahaan. Manajer harus memilih salah satu
tindakan dari semua pilihan yang dirasa tepat, efisien, dan efektif. Dalam proses pengambilan
keputusan, manajer harus memiliki kemampuan untuk melihat, mengenal, dan mengidentifikasi
permasalahan. Hal pertama yang dilakukan oleh manajer yaitu dalam perencanaan sebagai
standar dalam menetapkan rencana perusahaan. Gaya manajer dalam mengambil keputusan akan
banyak diwarnai oleh beberapa hal seperti latar belakang pengetahuan, perilaku, pengalaman dan
sejenisnya.
Dalam mengambil suatu keputusan, manajer memperoleh informasi yang diperlukan dari para
bawahan dan kemudian menetapkan keputusan yang dipandang relevan. Manajer membicarakan
permasalahan yang dihadapi perusahaan dalam konferensi atau pertemuan kelompok sehingga
mendapatkan gagasan dan saran-saran.
Pada pengambilan keputusan yang berdasarkan rasio, keputusan yang dihasilkan bersifat
objektif, logis, lebih transparan dan konsisten untuk memaksimumkan hasil, sehingga dapat
dikatakan mendekati dengan apa yang diinginkan. Manajer sebagai pengambil keputusan harus
rasional karena pengambilan keputusan secara rasional berlaku sepenuhnya dalam keadaan yang
ideal seperti kejelasan masalah, orientasi tujuan, pengetahuan alternatif.

1. Perencanaan strategis
Merupakan kegiatan manajemen yang tingkatannya paling atas, tujuannya sebagai proses
evaluasi lingkungan diluar organisasi, penerapan tujuan-tujuan organisasi dan penentuan strategi-
strategi yang ingin diambil oleh perusahaan.
2. Pengendalian manajemen
Merupakan suatu system yang digunakan untuk meyakinkan bahwa organisasi telah menjalankan
strategi yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien. Tingkatan ini disebut juga tingkatan
taktik (tactical level) yang artinya bagaimana manajemen tingkat menengah menjalankan taktik
supaya perencanaan strategisnya berjalan dengan lancar. Taktik ini bersifat jangka pendek
biasanya 1 tahun. Kegiatan yang dilakukan pada tingkatan ini terdiri dari : pembuatan program
kerja, penyusunan anggaran, pelaksanaan dan pengukuran dan pelaporan dan analisis.
3. Pengendalian operasi
Merupakan system untuk meyakinkan bahwa tiap tugas tertentu telah dilaksanakan secara efektif
dan eifisien, ini merupakan penerapan program yang telah ditetapkan di pengendalian
manajemen, kegiatan ini dilakukan dibawah proses pengendalian manajemen dan berfokus pada
tugas-tugas tingkat bawah.

Contoh Kasus:
PT Unilever Indonesia Tbk
PT Unilever Indonesia Tbk (perusahaan) didirikan pada 5 Desember 1933 sebagai
Zeepfabrieken N.V. Lever dengan akta No. 33 yang dibuat oleh Tn.A.H. van Ophuijsen, notaris
di Batavia. Akta ini disetujui oleh Gubernur Jenderal van Negerlandsch-Indie dengan surat No.
14 pada tanggal 16 Desember 1933, terdaftar di Raad van Justitie di Batavia dengan No. 302
pada tanggal 22 Desember 1933 dan diumumkan dalam Javasche Courant pada tanggal 9 Januari
1934 Tambahan No. 3.
Dengan akta No. 171 yang dibuat oleh notaris Ny. Kartini Mulyadi tertanggal 22 Juli 1980, nama
perusahaan diubah menjadi PT Unilever Indonesia. Dengan akta no. 92 yang dibuat oleh notaris
Tn. Mudofir Hadi, S.H. tertanggal 30 Juni 1997, nama perusahaan diubah menjadi PT Unilever
Indonesia Tbk. Akta ini disetujui oleh Menteri Kehakiman dengan keputusan No. C2-
1.049HT.01.04TH.98 tertanggal 23 Februari 1998 dan diumumkan di Berita Negara No. 2620
tanggal 15 Mei 1998 Tambahan No. 39.
Perusahaan mendaftarkan 15% dari sahamnya di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya
setelah memperoleh persetujuan dari Ketua Badan Pelaksana Pasar Modal (Bapepam) No. SI-
009/PM/E/1981 pada tanggal 16 November 1981.
Perusahaan bergerak dalam bidang produksi sabun, deterjen, margarin, minyak sayur dan
makanan yang terbuat dari susu, es krim, makanan dan minuman dari teh dan produk-produk
kosmetik.
Pada tanggal 22 November 2000, perusahaan mengadakan perjanjian dengan PT Anugrah
Indah Pelangi, untuk mendirikan perusahaan baru yakni PT Anugrah Lever (PT AL) yang
bergerak di bidang pembuatan, pengembangan, pemasaran dan penjualan kecap, saus
cabe dan saus-saus lain dengan merk dagang Bango
Pada tanggal 3 Juli 2002, perusahaan mengadakan perjanjian dengan Texchem Resources
Berhad, untuk mendirikan perusahaan baru yakni PT Technopia Lever yang bergerak di
bidang distribusi, ekspor dan impor barang-barang dengan menggunakan merk dagang
Domestos Nomos
Pada tahun 2007, PT Unilever Indonesia Tbk. (Unilever) telah menandatangani perjanjian
bersyarat dengan PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (Ultra)
sehubungan dengan pengambilalihan industri minuman sari buah melalui pengalihan
merek Buavita dan Gogo dari Ultra ke Unilever.
Penerapan Pengambilan Keputusan dalam PT Unilever.
1. Keputusan terprogram atau keputusan terstruktur
Contoh : Produk Unilever terus memperkenalkan kemasan-kemasan yang terbaru, tetapi
Unilever tetap mempertahankan kualitas produknya. Baik itu kemasan yang botol
kaca, sachet, botol kecil dan masih banyak lagi kemasannya
2. Keputusan setengah terprogram atau setengah terstruktur
Menejer Keuangan pada PT Unilever harus cermat dalam menginvestasikan serta
mengolah keuangan pada PT Unilever. Serta melakukan pemeliharaan dan penggantian
mesin di pabrik dan harus menghitungan dengan cermat sebelum melakukan investasi
pada mesin yang akan dibeli agar investasi yang dilakukan tidak merugikan
perusahaan. Maka manajer keuangan harus melakukan keputusan untuk
menginvestasikan keuangan perushaan secara cermat.

3. Keputusan tidak terprogram atau tidak terstruktur


Contoh : Presiden Direktur PT Unilever harus selalu bisa mengambil keputusan dengan
cepat demi kelangsungan perusahaannya. Pengambilan keputusan yang dia ambil
berdasarkan informasi pasar yang harus selalu ia dengan dan ketahui. Contohnya adalah
harga saham yang selalu berubah. Dia harus bisa menyesuaikan keuangan perusahaan
agar harga saham perusahaan pada bursa efek bisa selalu stabil.