Anda di halaman 1dari 63

1

BAB I
PENDAHULUAN

I. Latar Belakang
Sebelum melakukan praktikum, juga terlebih dahulu kita harus mengenal atau mengetahui
tentang alat-alat yang digunakan dalam melakukan praktikum tersebut. Hal ini berguna untuk
mempermudah kita dalam melaksanakan percobaan, sehingga resiko kecelakaan di
laboratorium dapat ditanggulangi. Kebersihan dan kesempurnaan alat sangat penting untuk
bekerja di laboratorium. Alat yang kelihatan secara kasat mata, belum tentu bersih, tergantung
pada pemahaman seorang analis mengenai apa artinya bersih. Untuk lebih mengenal alat-
alat laboratorium, bagaimana cara pengoperasian alat-alat laboratorium yang benar pada saat
pra analisa maupun saat analisa serta post analisa, maka untuk itu disusunlah makalah ini.

II. Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan alat gelas, non gelas, neraca analitik, mikroskop,
refraktometer, polarimeter, coloni counter, dan spektofotometer?
2. Apa saja yang termasuk jenis-jenis alat gelas, non gelas, neraca analitik, mikroskop,
refraktometer, polarimeter, coloni counter, dan spektofotometer?
3. Bagaimana persiapan yang harus dilakukan pada saat penggunaan alat gelas, non gelas,
neraca analitik, mikroskop, refraktometer, polarimeter, coloni counter, dan
spektofotometer?
4. Bagaimana cara pengoperasian yang benar pada saat penggunaan alat gelas, non gelas,
neraca analitik, mikroskop, refraktometer, polarimeter, coloni counter, dan
spektofotometer?
5. Apa saja hal yang perlu diperhatikan dan dilakukan pada saat sesudah menggunakan alat
gelas, non gelas, neraca analitik, mikroskop, refraktometer, polarimeter, coloni counter,
dan spektofotometer?

III. Tujuan
a. Mengetahui alat gelas, non gelas, neraca analitik, mikroskop, refraktometer, polarimeter,
coloni counter, dan spektofotometer.
b. Mengetahui jenis-jenis alat gelas, non gelas, neraca analitik, mikroskop, refraktometer,
polarimeter, coloni counter, dan spektofotometer.
c. Mengetahui persiapan yang harus dilakukan pada saat penggunaan alat gelas, non gelas,
neraca analitik, mikroskop, refraktometer, polarimeter, coloni counter, dan spektofotometer.
d. Mengetahui bagaimana cara pengoperasian yang benar pada saat penggunaan alat
gelas, non gelas, neraca analitik, mikroskop, refraktometer, polarimeter, coloni counter,
dan spektofotometer.
2

e. Mengetahui hal yang perlu diperhatikan dan dilakukan pada saat sesudah menggunakan
alat gelas, non gelas, neraca analitik, mikroskop, refraktometer, polarimeter, coloni
counter, dan spektofotometer.
3

BAB II
ISI DAN PEMBAHASAN

1. Alat Gelas Laboratorium (Laboratory Glassware)

Alat Gelas Laboratorium atau Laboratory Glassware adalah berbagai peralatan laboratorium
yang terbuat dari kaca, yang digunakan dalam percobaan ilmiah, terutama dalam laboratorium
kimia dan biologi.

1. Kelebihan glassware dibanding plasticware

 Lebih inert
 Lebih transparan
 Lebih tahan terhadap asam pekat (kecuali asam florat), basa pekat, dan pelarut organik
 Tahan terhadap panas
 Tahan terhadap tegangan thermal

2. Bahan pembuat glassware


1. Borosilikat , dahulu disebut pyrex.
Adalah jenis kaca yang terbentuk dari konstituen antara silika dan oksida boron . Gelas
borosilikat terkenal memiliki koefisien ekspansi termal sangat rendah (~ 3 × 10 -6 / ° C pada
20 ° C), membuat mereka tahan terhadap tegangan thermal , lebih daripada kaca umum
lainnya.
Kaca borosilikat dijual dengan nama dagang seperti Pyrex, Duran, Simax,
2. Kuarsa
dalah salah satu mineral yang umum ditemukan di kerak bumi. Mineral ini memiliki struktur
kristal heksagonal yang terbuat dari silika trigonal terkristalisasi (silikon dioksida, SiO2),
dengan skala kekerasan Mohs 7 dan densitas 2,65 g/cm³. Bentuk umum kuarsa adalah
prisma segienam yang memiliki ujung piramida segienam
3. Kelebihan Kuarsa dibanding borosilikat

 Tahan terhadap panas yang tinggi


 Memiliki sifat terawang di beberapa spektrum elektromagnetis

4. Kandungan Borosilikat
Kandungan Borosilikat terdiri dari
 70% sampai 80% silikon dioksida (SiO2 )
 7% sampai 13% borat oksida (B2O3 ).
 4% sampai 8% oksida alkali ( natrium oksida Na2O, kalium oksida K2O)
4

 2% sampai 7% aluminium oksida (Al2O3 )


 0% sampai 5% alkali tanah oksida (CaO, MgO , …)

Hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan glassware

 Prosedur uji yang digunakan, berbeda prosedur uji maka glassware yang digunakan berbeda
pula
 Fungsi dari glassware, masing-masing glassware memiliki fungsi yang berbeda-beda
tergantung tujuan penggunaan.
 Glassware yang akan digunakan harus memiliki akurasi yang memadai.

Glassware dapat dikelompokkan sebagai berikut.

 Peralatan dasar / basic glassware : gelas piala, erlenmeyer, tabung reaksi, cawan, pipet, botol
pereaksi dll.
 Peralatan ukur / volumetric glassware : gelas ukur, pipet ukur, pipet volume, buret, dll.
 Peralatan analisis / analitycal glassware : termometer, piknometer, elektroda, dll.

Pembagian Kelas Akurasi volumetric glassware

Glassware volumetrik dibagi menjadi 2 kelas, yaitu :

 kelas “A” atau “AS”


 kelas “B”.

Kelas-kelas menunjukan tingkat akurasi dari glassware tersebut, kesesuaian dengan sertifikat
resminya dan juga waktu pemindahan (delivery times) dan waktu tunggunya (waiting times).

Kelas “A” atau “AS” adalah tingkat akurasi tertinggi yang umum dipakai untuk semua glassware
volumetrik. Nilai batas kesalahan, akurasi dan variasi harus sesuai dengan batas yang telah
ditentukan oleh DIN dan ISO standard. Kelas “A” dan kelas “AS” memiliki nilai batas toleransi
yang sama.

Perbedaan antara kelas “A” dan “AS” adalah waktu pemindahan dan waktu tunggu nya.
Penambahan “S” berarti pemindahan cepat (quick/ swift delivery). Sedangkan kelas B memiliki
batas toleransi yang lebih besar dibanding kelas “A” atau “AS”.

Delivery Time dan Waiting Time

Delivery time (waktu pemindahan) adalah waktu yang dibutuhkan meniskus untuk bergerak turun
dari tanda batas sampai keujung pipet atau buret, dan tidak bergerak lagi.
5

Waiting time (waktu tunggu) dimulai setelah proses pemindahan selesai. Selama waktu tunggu,
cairan terus mengalir kebawah melalui dinding gelas.Untuk bisa mendapatkan volume yang
akurat dari buret dan pipet, kita harus memperhatikan waktu tunggu nya. Terutama saat
menggunakan pipet, kita harus menyeka ujung pipet di dinding glassware yang digunakan.

Meniskus

Meniskus ialah sifat yang dimiliki zat cair berupa penampakan kelengkungan yang terjadi dan
ada pada permukaan zat cair ketika zat berada dalam tabung atau celah yang sempit.

Meniskus ini punya dua macam jenis yang berbeda,yaitu:

a. Meniskus cekung, yaitu suatu keadaan di mana permukaan zat cair berada dalam
tabung/bejana sempit yang tampak melengkung ke bawah. hal Ini disebabkan karena gaya
adhesi antara molekul zat cair dan molekul wadahnya atau volumenya lebih besar daripada
gaya kohesi antarmolekul zat cair. Contohnya bentuk permukaan air yang cekung di dalam
tabung reaksi.
b. Meniskus cembung, yaitu suatu keadaan di mana permukaan zat cair berada dalam
tabung/bejana sempit yang tampak melengkung ke atas. hal Ini disebabkan karena gaya
kohesi zat cair lebih besar daripada gaya adhesi antara zat cair dan wadah atau volume
tabung/bejana. Contohnya bentuk permukaan raksa yang cembung di dalam tabung reaksi.

Cara pembacaan meniskus

a. Dengan melihat cekungan yang terbentuk


b. Pada cairan yang tidak berwarna maka yang dilihat adalah ujung bawah cekungan,
sedangkan untuk cairan pekat berwarna maka yang dilihat adalah tepi atas cairan (tidak
terlihat cekungan). Untuk hasil yang lebih presisi, maka mata dari pengamat harus sejajar
dengan meniscus
c. Untuk mendapatkan hasil pembacaan dan pengukuran yang lebih baik, lebih cepat dan lebih
presisi, baiknya menggunakan kertas hitam yang diletakkan dibelakang alat gelas volumertik,
dibawah garis batas dan garis meniskus.
6

Macam-macam Alat Gelas

Nama Alat Trouble


No. Fungsi Cara Pengoperasian Trouble
dan Gambar Shooting
1. Beaker Glass  Untuk 1. Larutan yang akan Dapat pecah  Apabila
menampung dikerjakan dimasukkan dan retak, pecah
zat kimia ke dalam beaker glass. sehingga segera ganti
 Umtuk 2. Dikerjakan sesuai apa apabila tidak dengan yang
memanaskan yang dikehendaki, berhati-hati baru.
cairan misalnya mengaduk, dapat  Apabila retak
 Untuk mencampur atau terluka. segera di
menguapkan memanaskan cairan lem atau
larutan/air yang biasanya diperbaiki.
 Untuk bejana digunakan dalam

titrasi dengan laboratorium.

mengguna-
kan bantuan
pengaduk
magnetik.
2 Tabung  Sebagai 1. Pada waktu Tabung Tabung reaksi
reaksi tempat untuk memanaskan media reaksi untuk
mereaksikan yang ada di dalam mengandung pemanasan
zat tabung reaksi, tabung resiko kuat gunakan
 Sebagai reaksi harus harus kemungkinan tabung reaksi
media dalam dalam keadaan miring pecah, baik dari bahan
melakukan di atas nyala api dan karena gelas Pyrek.
reaksi mulut tabung jangan pemanasan,
pemanasan menghadap diri kita jatuh atau
 Untuk atau orang lain. terbentur dan
menampung 2. Tabung reaksi yang lain
bahan kimia disterilkan di dalam sebagainya,
tau larutan autoclave harus ditutup sehingga
dalam jumlah dengan kapas dan dapat
sedikit. aluminium foil. melukai
praktikan.
7

3. Tabung Untuk 1. Larutan yang akan Dapat pecah  Apabila


Nessler mencampur direaksikan terlebih dan retak, pecah
larutan dengan dahulu di letakkan sehingga segera ganti
volume tepat dalam tabung reaksi. apabila tidak dengan yang
2. Diambil 1ml dari hati-hati baru.
masing-masing larutan dapat  Apabila retak
standar ke dalam terluka. segera dilem
tabung nessler, atau
kemudian ditambahkan diperbaiki.
49ml aquadest dan 3ml  Apabila
pereaksi nessler. larutan yang
3. Dipipet 1ml urine ke dikerjakan
dalam labu ukur 50ml tidak
dan ditambahkan mencapai
aquadest hingga tanda atau
tera, kemudian melebihi
dihomogenkan. batas garis
4. Dipipet 1ml larutan yang tabung,
telah homogen tersebut segera
ke dalam tabung ditambah
nessler kemudian atau
tambahkan 49ml dikurangi
aquadest dan 3ml hingga tepat
pereaksi nessler. pada garis
5. Untuk blanko, dipipet skala.
50ml aquadest
kemudian ditambahkan
3ml pereaksi nessler.
6. Sampel, larutan
standar, dan blanko
kemudian diperiksa
dengan alat
spektrofotometer pada
panjang gelombang
420nm untuk
mengetahui secara
kuantitatif jumlah
amoniak dalam sampel.
4. Corong Untuk Untuk menyaring, alasi Menyebab- Dapat
memasukkan terlebih dahulu corong kan luka iris menyebabkan
8

zat cair ke dengan kertas saring dan akibat corong pecah


tempat lain letakkan di atas beaker terkena sehingga
agar tidak glass/erlenmeyer dan beri pecahan harus diganti
tumpah dan udara agar larutan dapat corong atau dan
untuk mengalir. retakan pada menyebabkan
penyaringan bagian larutan tumpah
corong. ke tubuh
praktikan,
sehingga
apabila
praktikan
terluka segera
diobati.
5. Gelas Arloji  Untuk 1. Tempat saat Dapat pecah  Letakkan alat-
menguapkan menimbang bahan dan retak, alat kaca
zat kimia, letakkan zat yang sehingga ditempat yang
 Pembentuka akan ditimbang ke apabila tidak aman.
n hablur dalam gelas arloji. berhati-hati  Jika pecah
 Reaksi 2. Tempat mengeringkan dapat segera ganti
pengukuran padatan dalam terluka. dengan yang
pH desikator. baru.
mengguna- 3. Sebagai penutup gelas
kan kertas kimia saat memanaskan
indikator sampel.

 Untuk
menutup
labu pada
proses
pemanasan.
6. Plat tetes Untuk melaku- Masukkan bahan/sampel  Menyebabka  Apabila tubuh
kan reaksi ke dalam cekungan- n luka kejatuhan plat
utama antara cekungan kecil pada plat memar pada tetes segera
zat padat/cair tetes. tubuh akibat obati
yang ditambah kejatuhan  Apabila pecah
pereaksi tetes plat tetes atau retak
demi tetes  Plat tetes harus segera
dalam jumlah dapat pecah diganti
kecil hingga atau retak. dengan yang
mudah baru.
diamati.
9

7. Kondensor Digunakan 1. Dirangkai dengan alat-  Jika  Perhatikan


untuk alat yang diperlukan rangkaian dan sesuaikan
mendinginkan seperti soxhlet dan labu pendingin ukuran dari
uap yang alas bulat. dengan alat masing-
terjadi pada 2. Dalam penggunaan lain tidak masing alat
proses reaksi. perhatikan pengaliran cocok, maka yang
air yang berasal dari dapat berhubungan
ledeng/sirkulator, yaitu menghambat langsung
air mengalir yang proses kerja. dengan
masuk ke dalam  Apabila suhu kondensor
pendingin (in let) harus terlalu tinggi agar cocok
pada posisi yang maka akan dengan alat
rendah dan keluar dari menyebabka lain.
pendingin (out let) pada n endapan  Pada saat
posisi yang lebih tinggi. yang melakukan
seharusnya destilasi,
didapat akan perhatikan
gosong dan suhunya.
tidak dapat
dilanjutkan
prosesnya
ke rekristali-
sasi.
8. Tabung Untuk 1. Zat yang akan Dapat pecah  Apabila pecah
Sentrifuge memisahkan dipisahkan dimasukkan dan retak, dapat diganti
endapan pada ke dalam tabung apabila tidak dengan yang
reaksi sentrifuge agar udara berhati-hati baru
pemusingan yang masuk tidak dapat  Apabila retak
mempengaruhi zat yang melukai di lem.Apabila
akan dipisah. tangan. pecah dapat
2. Setelah itu tentukan diganti
waktu dan rotasi dengan yang
putaran yang diinginkan baru
dengan menekan  Apabila retak
tombol timer dan di lem.
rotation.
3. Amati apakah ada
endapan yang tebentuk.
10

9. Labu  Untuk titrasi 1. Pegangan leher Kena Bila pecah,


Erlenmeyer dengan erlenmeyer, masukkan pecahan/tan pecahan
pengocokan larutan yang akan gan kita segera
lemah hingga diencerkan/titrasi. panas saat dibuang lalu
sedang 2. Diguncangkan dengan mendidihkan diganti. Serta
 Untuk perlahan dan hati-hati larutan. tangan kita
menampung serta lihat perubahan yang terasa
bahan kima. warna yang terjadi. panas segera
diobati.
10. Cawan Petri Untuk 1. Masukkan Jika cawan  Jika cawan
membiakkan bakteri/khamir/spora, petri ini petri pecah
sel, untuk biji-bijian yang akan pecah dapat lebih baik
mengkultur diamati ke dalam cawan menyebab- dibuang
bakteri, spora, petri. kan luka. karena tidak
khamir, biji- 2. Tutup cawan petri dapat
bijian. dengan penutup cawan. digunakan
lagi, tetapi jika
retak di lem.
 Cawan petri
plastik dapat
dimusnahkan
setelah sekali
pakai untuk
kultur bakteri.
11. Labu Ukur  Untuk 1. Mengisikan larutan Bahaya yang  Tempatkan
menampung yang akan disebabkan alat-alat kaca
dan diencerkan/padatan pecahan di tempat
mencampur yang akan dilarutkan. kaca. yang aman.
bahan kimia 2. Tambahkan cairan yang  Bila terkena
dan cairan dipakai sebagai pelarut pecahan kaca,
 Untuk sampai setengah labu bersihkan
menampung terisi, kocok kemudian sisa-sisa kaca
gas penuhkan labu sampai yang
tanda batas. tertinggal
3. Sumbat labu, pegang pada bagian
tutupnya dengan jari, luka.
kocok dengan cara Usahakan
membolak balikkan labu jangan terlalu
sampai larutan banyak darah
homogen. yang keluar
11

dengan cara
mengikat
bagian dekat
luka, antara
luka dengan
jantung,
segera minta
pertolongan
dokter
terdekat.
12. Objek Glass Untuk 1. Letakkan objek glass  Dapat pecah  Apabila
meletakkan yang terdapat preparat dan retak, pecah, segera
sampel/objek di atas meja benda sehingga ganti yang
yang akan kemudian jepit. Jika apabila tidak baru.
diamati. meja benda belum berhati-hati  Apabila retak
turun, turunkan dengan dapat segera di
sekrup kasar. terluka. lem/diperbaiki.
2. Cari bagian dari objek  Human error  Apabila objek
glass yang terdapat glass buram,
preparat (dicari dan maka harus
diperkirakan memilih dibersihkan
gambar yang jelas) terlebih
dengan memutar dahulu,
sekrup vertikal dan kalaupun tidak
horizontal. bisa, maka
segera
diganti.
13. Corong Untuk 1. Cek tutup dan keran  Mudah  Bila pecah
Pisah mengekstraksi corong pisah. pecah dan diganti
zat dengan zat 2. Campurkan 2 fase retak dengan yang
cair pelarut, dimasukkan sehingga baru.
(memisahkan kedalam corong dari apabila tidak  Bila keran
2 macam zat atas dengan corong, hati-hati mengalami
cair), keran ditutup. dapat masalah laku-
mengatur 3. Corong ditutup dan terluka. kan perbaikan
aliran zat cair dikocok dengan kuat.  Keran atau diganti
pada proses 4. Kocok dengan cara mengalami
kromatografi memutar ke arah tubuh masalah
kolom, dan kita. akan
reaksi kimia 5. Kemudian corong mengham-
12

lain. dibalik dan keran dibuka bat pekerja-


untuk melepaskan an.
tekanan uap yang
berlebihan, kemudian
didiamkan.
6. Penyumbatdan keran
dibuka, dan 2 fase
larutan ini dipisahkan
dengan mengontrol
keran corong.

14. Gelas Ukur  Mengukur Gelas ukur dipegang Dapat pecah,  Apabila pecah
cairan secara dengan tangan dan ibu perhatiakan diganti
tidak teliti jari menuju batas saat dengan yang
dan tidak volume yang menuangkan baru.
masuk dalam dikehendaki. Gelas ukur larutan,  Segera cuci
perhitungan. sehingga batas volume jangan tangan/bersih-
 Untuk setinggi mata dan sampai kan bila
merendam cairan dituangkan larutan larutan yang
pipet dalam sampai batas volume. mengalir diperiksa
asam pen- pada tepi mengenai
cuci. gelas ukur. gelas ukur.
15. Labu Iodium  Untuk 1. Masukkan larutan ke  Dapat pecah  Bila pecah,
(Iodium menem- dalam labu iod. dan reta. segera ganti
Deter- patkan cairan 2. Tutup labu dengan hati- Sehingga dengan yang
mination /larutan/air hati hingga tidak apabila tidak baru.
Flask) yang terdapat gelembung berhati-hati  Bila retak,
berguna udara di dalamnya. dapat segera
untuk mengi- 3. Kemudian dilakukan terluka. lem/diperbaiki
kat uap titrasi dengan  Apabila tutup  Apabila labu
iodium hasil pengocokan kuat. labu kurang kurang ditutup
reaksi dan rapat, maka rapat,
lolos melalui aroma zat sesegera
tutup basah, iodium yang mungkin
maka tidak menyengat rapatkan
ada io-dium akan tutup.
yang hilang tercium.
karena
menguap.
13

16. Tabung Untuk 1. Teteskan delapan tetes Dapat pecah  Apabila pecah
Wintrobe membuat urine ke dalam tabung dan retak segera diganti
analisa (0,5ml) sehingga dengan yang
hematokri. 2. Tambahkan reagen apabila tidak baru.
benedict 5ml. hati-hati  Apabila retak
3. Campur dengan baik dapat segera di lem
dan letakkan dalam terluka. atau
waterbath, didihkan diperbaiki.
selama 5 menit. Angkat,
dan masukkan dalam
waterbath dengan suhu
ruang (dingin) selama
10 menit.
4. Baca segera.
17. Pipet Tetes Untuk 1. Pipet dibilas dengan  Dapat me- Pipet pecah
meneteskan aquadest. lukai akibat
air berukuran 2. Masukkan pipet ke praktikan jika kecerobohan
paling kecil ke dalam larutan yang terkena pe- praktikan,
dalam labu ingin diambil. cahan pipet. sehingga pipet
ukur/erlenmey 3. Ujung bawah pipet  Cairan di harus diganti
er, dan harus tercelup cukup dalam pipet dan pecahan
sebagainya. dalam ke dalam cairan dapat pipet harus
selama proses tumpah. dibersihkan
pengisian. agar tidak me-
4. Untuk mengambil lukai praktikan.
larutan, isap larutan setelah
dengan memencet karet memipet,
penghisap. miringkan
5. Pindahkan larutan yang sedikit agar
telah diambil tetes demi cairan tidak
tetes. tumpah.
6. Larutan yang masih
menggantung pada
ujung bawah pipet
disingkirkan dengan
cara menyentuhkan
ujung pipet dengan
dinding dalam tempat
larutan dipindahkan.
14

18. Buret Untuk 1. Pengisian buret Buret pecah  Jika pecah


memberikan diakukan dari atas resikonya da- dibuang dan
secara tetes dengan menggunakan pat melukai diganti
demi tetes corong. tangan/ang- dengan yang
sejumlah 2. Bila titrasi dimulai, ujung gota tubuh baru.
volume larutan buret tidak boleh lain.  Letakkan
yang diketahui kososng (harus terisi  Kran buret pada
dengan teliti caira) dan semua sulit diputar keranjang
pada proses gelembung dihilangkan,  Dapat terjadi plastic dan
titrasi. tinggi cairan dalam kebocoran. gunakan
buret (titran) harus vaselin pada
diketahui. kran buret
3. Tehnik yang benar pada untuk
titrasi, tangan kiri memudahkan
mengatur keran dan memutar dan
tangan kanan mencegah
memegang labu kebocoran.
erlenmeyer/beaker
glass sambil digoyang.
4. Tetes akhir dari buret
disentuhkan pada
dinding dalam labu
erlenmeyer/beaker
glass.
19. Ekstraktor  Untuk 1. Pelarut dipanaskan Dapat pecah Apabila pecah
Soxhlet mengekstraksi dalam labu didih dan retak, dan retak
zat padat sehingga menghasilkan sehingga diganti dengan
dengan zat uap. Uap tersebut apabila tidak yang baru dan
cair secara kemudian masuk ke berhati-hati alat ini dalam
terus kondensor melalui pipa dapat satu paket,
menerus. kecil dan keluar dalam terluka. jadi jika salah
 Untuk fasa cair. satu bagian
menentukan 2. Kemudian pelarut alat ini pecah
zat minyak masuk ke dalam maka gantilah
dan lemak selongsong berisi dalam satu
yang padatan. Pelarut akan paket.
dikandung membasahi sampel dan
suatu larutan tertahan dalam
sampel. selongsong sampai
tinggi pelarut dalam
15

pipa sifon sama dengan


tinggi pelarut di
selongsong.
3. Kemudian pelarut
seluruhnya akan
menggerojok masuk
kembali ke dalam labu
didih dan begitu
seterusnya. Peristiwa ini
disebut efek sifon.
20. Botol Untuk 1. Botol reagen sebaiknya Dapat pecah Jika pecah,
Reagensia menyimpan diberi label yang mudah jika tidak memakai botol
reagen (botol terbaca dengan jelas, berhati-hati. reagen baru.
yang berwarna yang memuat nama,
coklat zat, konsentrasi.
biasanya 2. Kemudian larutan yang
digunakan ada di dalam botol
untuk zat-zat reagen diambil dengan
yang mudah cara dipipet.
teroksidasi.
21. Botol Untuk 1. Ambil sampel air Dapat pecah  Apabila pecah
Oksigen pemeriksaan dengan water sampler dan retak segera diganti
(Winkler) kadar O2 tipe khremer dan sehingga dengan yang
(oksigen) yang dicegah persinggungan apabila tidak baru.
terlarut dalam langsung dengan udara hati-hati  Apabila retak
air. atmosfer. dapat segera di lem
2. Sampel air kemudian terluka. dan diperbaiki.
dimasukkan ke dalam
botol oksigen gelap dan
terang sampai penuh
dan hindari adanya
gelembung udara.
3. Air dan botol sampel
diukur kadar oksigen
terlarut sebagai kadar
DO awal.
4. Kemudian botol oksigen
gelap dan terang yang
telah diisi penuh sampel
air disuspensikan ke
16

dalam kolom air sesuai


dengan kedalaman
pengambilan
sebelumnya.
5. Wakru inkubasi 04.00-
12.00
6. Selanjutnya sampel
diambil dan diukur
kadar oksigen terlarut
sebagai kadar DO
terakhir.
22. Urinometer Untuk 1. Tuanglah urin yang Jika alat ini Jika alat ini
Set menetapkan harus bersuhu kamar ke pecah dan pecah maka
berat jenis urin dalam gelas urinometer. mengenai tidak dapat
dengan teliti. Busa yang mungkin anggota digunakan lagi
terjadi dibuang dengan tubuh maka dan sebaiknya
memakai sepotong dapat diganti dengan
kertas saring atau menyebabka yang baru.
dengan setetes eter. n luka.
2. Masukkanlah
urinometer ke dalam
gelas urinometer. Agar
urinometer itu bebas
terapung pada wakru
dibaca harus ada
banyak urin dalam
gelas tadi.
3. Sebelum membaca
berat jenis pada tangkai
urinometer, haruslah
urinometer itu lepas dari
dinding gelas, untuk
melepaskan putarlah
urinometer itu dengan
menggunakan ibu jari
telunjuk.
4. Oleh putaran tadi
urinometer akan
terapung di tengah-
tengah gelas dan tidak
17

menempel lagi pada


dinding. Bacalah
sekarang serta jenis
tanpa paralax setinggi
minikus bawah.
23. Stamper dan Untuk 1. Zat yang akan Dapat pecah  Apabila pecah
Mortir menghancurka dikerjakan diletakkan di dan retak, ganti dengan
n dan dalam mortil. sehingga yan baru.
mencampurka 2. Tumbuk/haluskan zat apbila tidak  Apabila retak
n padatan tersebut dengan berhati-hati segera di lem/
kimia. menggunakan stamper. dapat diperbaiki.
terluka.

24. Desikator Digunakan 1. buka tutup desikator  Jika tidak  Gunakan dua
untuk menge- dengan cara berhati-hati buah tangan
ringkan bahan menggeser tutupnya dapat pecah untuk
atau alat sete- kesamping. dan retak membawa
lah dipanas- 2. menaruh silika gel di  Tutup desikator atau
kan dan akan bawah. desikator untuk
ditimbang, 3. menaruh saringan yang tidak rapat. membukanya,
mengeringkan terbuat dari porselin. tangan
bahan atau 4. menaruh median di atas pertama
menyimpan saringan. digunakan
zat atau bahan 5. sebelum menutup sebagai
yang harus oleskan sedikit vaselin penahan
dilindungi di bibir tutup. desikator dan
terhadap 6. menutup kembali tutup tangan yang
pengaruh desikator sama seperti lain digunakan
kelembapan saat membukanya. untuk
udara. mendorong
tutup
desikator.
 Tutup
desikator
pada bagian
permukaan
harus diberi
bahan pelican,
18

misal : silicon
grease, agar
dapat tertutup
lebih rapat.
25. Cawan Untuk 1. Zat yang akan Dapat pcah  Apabila pecah
Porselin menguapkan dimasukkan ke dalam dan retak, segera ganti
larutan cawan porselin. sehingga dengan yang
2. Kemudian diuapkan apabila tidak baru.
dengan pemansan. hati-hati  Apabila retak,
dapat segera di lem
terluka. atau
diperbaiki.

Cara Merawat Alat Gelas Laboratorium

 Gunakan perlengkapan pelindung, seperti sarung tangan, kaca mata lab, apron, dan jas lab
ketika memakai dan bekerja dengan glassware.
 Jangan gunakan glassware jelek atau rusak sehingga memungkinkan dapat melukai kita.
 Periksa semua glassware untuk kemungkinan kerusakan akibat kerusakan kecil, lubang atau
tergores sesuai dengan kekuatan masing-masing glassware tersebut.
 Jika pada glassware yang pecah mengandung bahan kimia bahaya didalamnya, maka perlu
dilakukan penganan khusus misalnya harus di lakukan penanganan menggunakan (Spil kit).
 Jangan pernah memanaskan gelas yang rusak karena ketahannannya dari pemanasan
menjadi berkurang.
 Gunakan Kassa sebagai alas saat menggunakan pemanasan langsung, atau gunakan tingkat
pemanasan medium ketika menggunakan Hot Plate.
 Pemanasan dan pendinginan untuk glassware harus dilakukan secara perlahan . Temperatur
maksimum saat penggunaan Gelas Bororsilikat adalah 500 C tetapi penanganan khusus
harus dilakukan ketika temperature yang dipakai diatas 150o C.
 Susun glassware berdasarkan bentuk dan bukan berdasarkan susunan kerapuhan glassware
 Ketika memanaskan botol gelas, lepaskan penutup botol
 Jangan pernah memipet dengan mulut. Karena dapat mengakibatkan keracunan, membakar
mulut, atau melukai bibir Anda
 Jangan tinggalkan pipet atau pengaduk berdiiri tegak di dalam gelas piala, atau labu gelas.
 Jangan panaskan glassware melebhi 420o C. Hal ini dapat menyebabkan tekanan dalam
glassware yang kemungkinan berakibat pecahnya glassware tersebut.
 Volumetric glassware dan analitycal glassware tidak boleh dipanaskan di atas hotplate
ataupun ke dalam oven.
 Sebelum digunakan, sebaiknya glassware dibilas terlebih dahulu dengan menggunakan
larutan yang akan dimasukkan kedalamnya.
19

 Glassware yang telah digunakan harus dicuci dan dibersihkan


 Untuk glassware yang terkontaminasi dipisahkan dari glassware yang lain, bila perlu
dilakukan sanitasi.
 Untuk presisi dan akurasi terbaik, semua pengukuran harus dilakukan pada suhu 20 ° C
 Perlu adanya inventarisasi dan pembuatan formulir penggunaan glassware, sehingga ada
kendali keluar masuknya glassware dari gudang glassware.

Cara Membersihan Glassware


Prosedur pembersihan glassware tergantung dari tipe material yang terkandung di dalamnya.
Gelas borosilikat mempunyai pertahanan yang sempurna dari kebanyakan asam kecuali Asam
Hidroflorat.
Larutan Basa kuat akan mempengaruhi gelas, inilah sebabnya kenapa detergen yang dilarutkan
tidak boleh melebihi dari 2%. Menghindari reaksi terhadap deterjen dalam jangka waktu panjang
dan menghindari pengeringan yang sama pada gelas.

2. Alat Non Gelas


Peralatan non gelas biasanya diperlukan sebagai pendukung dalam penggunaan peralatan lain
seperti peralatan gelas, peralatan pemanas dan peralatan untuk menimbang. berikut adalah
beberapa peralatan non gelas.
Nama Alat Trouble
No. Fungsi Cara Pengoperasian Trouble
dan Gambar Shooting
1. Pembakar Untuk 1. Menyalakan. Dapat terbakar  Apabila pecah
Spiritus memanaskan 2. Memanaskan alat- dan pecah, segera ber-
medium, alat tersebut di atas sehingga sihkan cairan
mensterilkan api spiritus sampai apabila tidak spiritusnya,
jarum inokulasi pijar. berhati-hati serta
dan alat-alat menggunakan bersihkan
yang terbuat nya prakti-kan pecahan
dari platina dan dapat terluka. kacanya agar
nikrom seperti tidak melukai
jarum platina praktiakan.
dan ose.
2. Statif Untuk 1. Tegakkan statif Apabila baut- Kelonggaran
menegakkan pastikan semua baut baut tidak pada baut-
corong, corong terpasang dengan terpasang baut dapat
pisah, dan baik. dengan benar diperbaiki
peralatan gelas 2. Letakkan resiko dengan obeng.
lainnya buret/peralatan kecelakaan
20

lainnya pada statif yang terjadi


dengan bantuan adalah alat
klem. gelas yang
terpasang
pada statif
bisa jatuh dan
mengenai
praktikan.
2. Penjepit Ta- Untuk menjepit 1. Penjepit dipegang  Lepas Apabila
bung Reaksi tabung pada kedua ujungnya.  Longgar longgar/penjep
saat pemansan 2. Tabung diambil it lepasan
dengan spiritus. dengan menekan segera
kedua ujungnya, perbaiki.
setelah pas tekanan
dilepas.

3. Klem Buret Untuk 1. Letakkan klem buret Bautnya dapat Perbaikan


memegang pada ujung atas lepas dengan pegas
berbagai ukuran statif. sehingga tidak yang sudah
buret dengan 2. Lewatkan batang dapat menjepit terlalu
mekanisme statif pada lubang buret. renggang tidak
sistem penjepit tengah klem, putar dapat di-
terpegas. hingga terpasang lakukan
kuat. dengan cara
3. Letakkan buret pada yang
penjepit buret. sederhana,
sehingga
dianjurkan
untuk meng-
ganti klem bila
terjadi ke-
rusakan pada
klem.
4. Kawat kasa alat ini biasa Letakkan kasa diatas  Patah Apabila
(wire gauze) digunakan kaki tiga.  Berlubang patah/berluba-
untuk ng segera
menahan/alas perbaiki.
wadah seperti
beaker atau
labu pada
21

waktu
pemanasan,
atau ketika
pembakar
Bunsen
dinyalakan di
bawah kawat
kasa, kawat
kasa berguna di
dalam
penyebaran api
dan panas
secara merata.
5. Rak Tabung untuk Masukkan tabung Apabila tidak Sebaiknya rak
Reaksi menyimpan, reaksi ke dlam rak berhati-hati tabung reaksi
menopang, dan tabung reaksi secar dalam tidak dibawa
meletakkan hati-hati. memegang/me kemana-mana
tabung reaksi. -mindahkan dan berhati-
rak tabung hatilah dalam
reaksi, maka memasukkan
berakibat tabung-tabung
tabung-tabung reaksi ke
reaksi yang dalam rak.
ada di dalam
rak pecah dan
bisa melukai
badan.
6. Pinset Untuk penjepit 1. Kedua ujung pinset  Berkarat.  Apabila
dan untuk dipegang.  Kotor. berkarat,
memegang zat- 2. Jepit benda/sampel bersihkan/di
zat reaktif dan yang akan diambil. -ganti.
berbahaya.  Apabila
kotor, diber-
sihkan.

7. Ose Untuk Ambil mikrorganisme  Jika tidak hati-  Ose menjadi


mengambil atau zat yang ingin hati ujungnya tidak steril
memindahkan dipanaskan dengan dapat patah. apabila tidak
mengisolasi mi- menggunakan ujung  Berhati- langsung
kroorganisme/ dari ose yaitu hatilah saat dipakai
22

mengambil kawatnya. memanaskan setelah dipijar.


sampel untuk karena jika  Pakailah
pemanasan dengan
terkena ujung
/reaksi nyala. semestinya
dari ose yang
agar ujung
dipanaskan kawat ose
dapat meng- tidak bengkok/
akibatkan luka patah.

bakar.
8. Counter Untuk 1. Putar tombol merah Apabila Apabila alat
Diffcount menghitung yang berada terjadi rusak, maka
jumlah sel. disamping alat, kesalahan harus diganti
sampai angkanya dalam dengan yang
menjadi nol. menekan baru.
2. Tekan tombol sesuai tombol maka
dengan sel yang ter- harus
lihat pada hapusan mengulangin
di bawah mikroskop. ya lagi dari
3. Apabila jumlah sel awal.
sudah mencapai
angka 100 maka alat
akan berbunyi.
9. Tourniquette Untuk Tourniquette dibuka Terlalu lama Apabila terlalu
membendung kemudian diletakkan memakai lama
urat aliran pada lengan atas, menyebabkan menggunakan
darah agar lebih pasang tube, eratkan sianosis pada , segera
mudah menda- karet tourniquette. permukaan lepaskan dan
patkan kulit. renggangkan
pembuluh darah tangan.
sehingga
mudah untuk
pengambilan
sampel darah.
10. Bola hisap Untuk Terbuat dari karet Bocor. Apabila cairan
membantu yang disertai dengan /zat masuk ke
dalam proses tanda ‘S’ untuk dalam bola
pengambilan menyedot cairan hisap maka
cairan yang (suction), ‘A’ bola hisap
penggunaannya mengambil udara tidak dapat
diletakkan pada (aspirate), ‘E’ digunakan
23

pangkal pipet mengosongkan lagi, maka


ukur. (empaty). gantilah
dengan yang
baru.
11. Kaki Tiga Untuk menahan 1. Kaki tiga letakkan di Dapat patah  Apabila
kawat kasa atas meja. dan bengkok, bengkok,
dalam 2. Asbes diletakkan di sehingga diluruskan
pemanasan. atasnya. wadah yang hingga dapat
3. Letakkan lampu diletakkan di berdiri tegak.
spiritus pada bagian atasnya dapat  Apabila patah,
bawah kaki tiga. jatuh dan segera ganti
melukai. dengan yang
baru.

12. Rak Tabung Tempat Pasang dan letakkan Apabila tidak Sebaiknya rak
Westergreen meletakkan tabung westergreen berhati-hati tabung
tabung pada rak tabung dalam westergreen
westergreen. westergreen. memegang/m tidak dibawa
e-mindahkan kemana-mana
rak tabung dan berhati-
westergreen, hatilah dalam
maka memasukkan
berakibat tabung-tabung
tabung-tabung westergreen
westergreen ke dalam rak.
yang ada di
dalam rak
pecah dan
bisa melukai
badan.
13. Botol Untuk Masukkan aquadest Bocor Apabila bocor
Semprot memindahkan ke dalam botol, segera di lem
endapan dan kemudian tutup botol, dan diperbaiki.
membersihkan lalu tekan badan
dinding labu tombol semprot
dan sebagai sehingga akan keluar
tempat cairan pada selang
aquadest. tutup botol.
14. Spatula Untuk Siapkan zat yang Jika terlalu
mengambil/me- akan diperiksa, kencang
24

ngaduk zat kemudian ambil zat menyendok


padat yang tersebut dengan dan
basah. menggunakan spatula mengaduk
secara hati-hati, lalu dengan
tempatkan zat pada spatula dapat
wadah yang
digunakan sebagai
tempat reaksi.
15. Blood Lancet Untuk 1. Putar bagian atas  Apabila Apabila rusak,
dan Autoclick pengambilan autoclick. kesalahan ganti dengan
sampel darah. 2. Kemudian atur dalam yang baru.
kedalaman yang menentukan
diinginkan, kedalaman
kedalaman itu bisa meng-
sendiri berkisar 1-5. akibatkan
3. Kemudian tusukkan volume darah
jarumnya tersebut ke yang diambil
bagian yang ingin di tidak sesuai
ambil darahnya. yang
diinginkan.
 Autoclick
mudah rusak
pabila terlalu
sering diputar.
16. Spuit Untuk 1. Tarik piston sampai Pengguna Gunakan spuit
pengambilan atas agar di dalam spuit yang dan jarum
sampel darah berisi udara. berkali-kali suntik hanya
dalam jumlah 2. Masukkan jarum pada pasien, untuk satu kali
banyak. suntik ke dalam beresiko terja- pakai saja
botol yang berisi dinya penula- (satu kali
larutan/cairan. ran penyakit. pakai buang).
3. Setelah dimasukkan,
perlahan-lahan
dorong piston ke
arah dalam hingga
tidak ada lagi ruang
di dalam spuit.
4. Kemudian tarik
perlahan-lahan
piston hingga batas
25

yang diperlukan,
lakukan dengan
perlahan agar tidak
ada gelembung
udara dalam spuit.
17. Korokan Untuk 1. Masukkan korokan Terlalu keras Berhati-hatilah
membersihkan ke dalam tabung memakai ketika
tabung reaksi. reaksi yang ingin untuk menggunakan
dibersihkan dengan membersih- korokan
hati-hati dan kan tabung dalam mem-
perlahan-lahan reaksi dengan bersihkan
supaya bersih. korokan, tabung reaksi.
2. Lalu lakukan tabung reaksi
gerakan naik turun. bisa pecah
dan dapat
melukai
praktikan.
18. Jam Untuk Cara menggunakan Apabila jatuh  Apabila pecah
sukat/Jam mengukur jam sukat dengan dan pecah, diganti
Randek lamanya waktu memulai menekan pecahan dengan yang
(stopwatch) yang akan tombol di atas dan stopwatch baru.
diperlukan berhenti sehingga dapat melukai  Apabila
dalam kegiatan. suatu waktu detik anggota pecahan
ditampilkan sebagai tubuh. mengenai
waktu yang berlalu. tangan,
Kemudian dengan segera diberi
menekan tombol yang P3K.
kedua pengguna
dapat menyetel ulang
jam sukat kembali ke
nol. Tombol yang
kedua juga digunakan
sebagai perekam
waktu.
19. Lab Tong Untuk menjepit Masukkan jari jempol Apabila tidak Menjepit se-
banyak alat. dan telunjuk ke dalam berhati-hati cara perlahan
lubang pegangan, tangan bisa agar tidak
lakukan dengan terjepit dan terjepit, serta
menjepit alat yang apabila terlalu kuatkan
diinginkan. lemah pegangan
26

menjepit alat agar tidak


dapat terjatuh terjatuh.
dan melukai
pengguna.
20. Penjepit Untuk Masukkan jari jempol Apabila Gunakan
Beaker membantu dan telunjuk ke lubang menjepit secara hati-
dalam pegangan penjepit terlalu lemah hati, jangan
mengambil/me- beaker glass, lebarkan beaker glass terlalu keras
mindahkan agar bagian ujung dapat terjatuh, dan juga
beaker glass terbuka dan jepitan tumpah dan jangan
yang masih bagian tengah beaker pecah, menjepit
dalam kondisi glass pada bagian sehingga terlalu lemah.
panas. penjepit, lakukan dapat melukai
dengan hati-hati. praktikan.
21. Indikator dapat sehelai indikator Human error Jika terjadi
Kertas menunjukkan dicelupkan ke dalam kesalahan
(Indikator pH suatu larutan yang akan segera diganti
Stick) larutan dari diukur pH-nya. dengan kertas
perubahan Kemudian indikator yang
warnanya. dibandingkan dengan baru.
peta warna yang
tersedia.
22. Centrifuge berguna untuk 1. Untuk mengoperasi-  Bila bantalan  Periksa
memisahkan kan colokkan alat tidak ada bantalan pada
partikulat padat pada tegangan PLN maka tabung wadah
dalam cairan, 220 V. mudah pecah tabung.
seperti 2. Siapkan sample waktu  Pastikan
memisahkan yang akan diputar dicenrifuge tangan/badan
serum, dan letakkan pada karena dalam keada-
pemeriksaan Ht tempatnya secara adanya gaya an kering.
(Hematokrit), simetris dan seimbang. setrifugal yang
pemeriksaan 3. Persiapan sample kuat menekan
mikroskopis telah selesai tekan tabung kaca
urine. tombol POWER ke dasar
pada posisi ON, wadah.
maka alat akan  Dapat
langsung menyala. tersengat
4. Kemudian set listrik apabila
TIMER pada waktu tangan/badan
yang dikehendaki dalam
27

dengan memutar keadaan


knob,timer akan basah.
berhenti dengan
sendirinya sesuai
dgn capaian
waktunya.
5. Pilih kecepatan
dengan memutar
SPEED LEVEL.
6. Alat akan langsung
berputar ditandai
dengan lampu
operation menyala.
7. Jika selesai
digunakan
kembalikan tombol
SPEED pada posisi
“0 “.
8. Untuk mematikan
tekan POWER pada
posisi OFF.
23. Hot Plate Untuk Pelat (plate) yang  Dapat  Pastikan
Stirrer dan menghomogen- terdapat dalam alat ini tersengat tangan/badan
Stirrer Bar
kan suatu dapat dipanaskan listrik apabila dalam keada-
larutan dengan sehingga mampu tangan/badan an kering.
pengadukan. mempercepat proses dalam.
homogenisasi.
Pengadukan dengan
bantuan batang
magnet Hot plate dan
magnetic stirrer seri
SBS-100 dari SBS®
misalnya mampu
menghomogenkan
sampai 10 L, dengan
kecepatan sangat
lambat sampai 1600
rpm dan dapat
dipanaskan sampai
425oC. Alat ini
28

digunakan untuk
mengocok media cair
sambil dipanasi. Alat
ini juga dapat dipakai
untuk melarutkan ferri
tartrat yang tidak
mudah dilarutkan.
Dilakukan dengan cara
menambah air pada
ferri tartrat lalu
meletakkannya di atas
hot plate. Setelah
dihubungkan dengan
arus listik, alat ini akan
menghomogenkan
sekaligus
memanaskannya
(Lahay, 2004).
24. Pembakar  untuk 1. Gunakan kacamata Resiko Jangan
Bunsen menciptakan pengaman pada kebakaran. tinggalkan jika
kondisi yang saat menyalakan api sedang
steril. pembakar bunsen. menyala
 Untuk 2. Hubungkan selang tanpa
sterilisasi karet pada pengawasan,
jarum ose pembakar dan jangan
atau yang lain. laboratorium dan pernah
katup gas, periksa meninggalkan
lubang atau laboratorium
keretakan pada pada saat
karet. pembakar
3. Sesuaikan panas api menyala.
, dengan menutup
katup udara pada
pembakar bunsen.
4. Putar gas di pompa
lab (catatan;
beberapa pembakar
bunsen memiliki
tombol kontrol gas.
pastikan itu terbuka).
29

5. Pegang striker dari


atas kompor, dan
remas pegangan
sampai api menyala.
6. Mengatur katup
campuran udara:
-Untuk membuat api
pembakar lebih
panas dan lebih
besar, buka
campuran katup
udara, sesuaikan.
-Untuk membuat api
membakar lebih
dingin dan lebih
kecil, tutup
campuran katup
udara, sesuaikan.
25. Colony Untuk 1. Hubungkan Kabel  Kesalahan  Alat hitung
Power ke sumber
Counter menghitung perhitungan dapat di-reset,
listrik.
jumlah koloni 2. Tekan tombol di yang disebab- kemudian
sebelah kiri
mikroba. kan human lakukan
belakang sampai
lampu colony error akibat perhitungan
counter menyala dan
bentuk koloni kembali
stabil.
3. Letakkan cawan yang relative dengan lebih
petri dengan posisi
kecil dan teliti.
terbalik.
4. Tekan tombol set banyaknya  Hubungkan
agar angka pada
koloni yang steaker listrik
display menunjukkan
angka 0. akan dihitung. dengan benar
5. Hitung jumlah colony
mikroba dengan  Apabila prak- dan hati-hati.
menekan koloni tikan kurang
yang terlihat.
6. Jumlah yang tertera berhati-hati
pada display pada saat
menunjukkan jumlah
koloni yang telah di menghubung-
hitung. kan steaker
listrik, dapat
menyebabkan
praktikan ter-
sengat aliran
listrik.
30

3. Neraca Analitik
Neraca analitis (timbangan) digunakan untuk menimbang berat suatu bahan, ada berbagai jenis
dan dibuat oleh berbagai pabrik. Yang paling penting diketahui adalah adalah kapasitas dan
ketelitian neraca. Neraca halus mempunyai ketelitian 0,1 mg bahkan ada yang µg. Jenis neraca
yang dipakai tergantung dari tujuan penimabngan misalnya untuk menentukan kadar air dan abu
digunakan neraca analitik dengan ketelitian 0,1 mg. Supaya penimbangan bahan bisa tepat.
Maka harus dilakukan pada kelembaban udara yang terkontrol (tetap) serta suhu kamar, untuk
hal tersebut pada ruang timbang dilengkapi dengan silika gel dan bahan harus dalam suhu
ruang, bila perlu bahan dimasukkan dulu dalam eksikator sebelum penimbangan dilakukan agar
mencapai kondisi serba sama. Untuk bahan yang bersifat mudah menyerap air (higroskopis)
harus ditimbang dalam botol timbang yang tertutup dan penimbangan dilakukan secepat
mungkin.

Prinsip kerja neraca analitik


Alat penghitung satuan massa suatu benda dengan teknik digital dan tingkat ketelitian yang
cukup tinggi. Prinsip kerjanya yaitudengan penggunaan sumber tegangan listrik yaitu stavolt dan
dilakukan peneraan terlebih dahulu sebelum digunakan kemudian bahan di letakkan pada neraca lalu
dilihat angka yang tertera pada layar, angka itu merupakan berat dari bahan yang ditimbang.

Alat : anak timbangan 1 set, neraca analitis


Cara mempergunakan timbangan
1. Sebelum menimbang
a. Perhatikan apakah betul-betul neraca diletakkan mendatar dengan melihat water pas
pada neraca.
b. Neraca harus selalu berada dalam posisi terkunci sebelum digunakan.
c. Piring neraca bersih dan pintu timbangan tertutup.
d. Tombol pengontrol dan mikrometer berat harus berada dalam posisi nol.
2. Meletakkan timbangan dalam posisi nol
a. Dalam keadaan tanpa beban, pintu timbangan tertutup semua tombol pengontrol berat
pada posisi nol.
b. Kunci dilepaskan dalam keadaan beban penuh.
c. Kalau skala optik telah berhenti bergerak, amati penunjuk skala nol dengan pengatur
nol.
d. Kembalikan tombol pengunci ke posisi semula.
3. Meletakkan beban
a. Neraca dalam posisi terkunci, letakkan beban ditengah piring neraca. Gunakan pinset
(penjepit). Tangan jangan masuk ke dalam ruang neraca untuk menghindari perubahan
suhu atau kelembaban yang lebih besar.
b. Tutup pintu timbagan begitu selesai meletakkan bahan.
31

c. Jangan meletakkan bahan kimia atau contoh analisa langsung pada piring timbangan,
gunakan cawan, kertas saring atau gelas arloji.
4. Penimbangan bahan
a. Lepaskan tombol pengunci dalam posisi setengah terkunci.
b. Dengan tombol satuan gram cari berat kasar dari beban.
c. Kalau beban lebih besar dari 10 gram, gunakan tobol puluhan gram sampai terlihat skala
bergerak bebas
d. Kembalikan tombol pengunci ke posisi terkunci. Setelah berhenti sejenak, lepaskan
tombol pengunci pada posisi bebas penuh.
e. Setelah skala berhenti, pembacaan yang tepat diatur oleh mikrometer.
f. Jumlah gram langsung dibaca disebelah kiri tanda titk dan angka disebelah kanan, titik
dibaca dengan nonius atau dengan cara lain tergantung jenis timbangan. Ada yang
sampai empat angka dibelakang titik.
5. Selesai menimbang
a. Tuliskan angka hasil penimbangan pada catatan saudara
b. Kembalikan tombol pengunci dalam posisi terkunci
c. Ambil bahan (sampel) dari piring timbangan
d. Kembalikan semua tombol pemberat ke posisi nol
PERHATIAN
1. Meletakkan dan mengambil beban hanya apabila neraca dalam posisi terkunci.
2. Mengubah-ubah tombol puluhan atau satuan gram hanya dalam posisi setengan terkunci atau
terkunci penuh.
3. Untuk menstandarisasi neraca, lihat petunjuk (manual) dari masing-masing neraca.
4. Setiap selesai menggunakan, neraca harus dalam keadaan bersih dan kering.
5. Jika menggunakan neraca analisis elektris sebelum digunakan, neraca dipanaskan 10 menit.

Neraca Analitik Listrik (Digital)


Neraca analitik digital merupakan salah satu neraca yang memiliki tingkat ketelitian tinggi, neraca
ini mampu menimbang zat atau benda sampai batas 0,0001 g.
 Neraca analitik adalah neraca yang sangat peka, karena itu bekerjalah dengan neraca ini
harus secara halus dan hati-hati.
 Sebelum mulai menimbang persiapkan semua alat bantu yang dibutuhkan dalam
penimbangan.
 Langakah kerja penimbangan meliputi :
a. Persiapan pendahuluan alat-alat penimbangan, siapkan alat dan zat yang akan ditimbang,
sendok, kaca arloji dan kertas isap.
b. Pemeriksaan pendahuluan terhadap neraca meliputi : periksa kebersihan neraca (terutama
piring-piring neraca), kedatangan dan kesetimbangan neraca.
32

c. Penimbangan, dapat dilakukan setelah diperoleh keadaan setimbang pada neraca dan
timbangan pada posisi nol, demikian pula setelah penimangan selesai posisi timbangan
dikembalikan seperti semula.
1) Neraca Analitik Elektrik Tertutup
33

Keterangan Neraca Analitik Tertutup :


1. Kaca Penutup Neraca, untuk menutup piring timbang. Hal ini dapat juga dimaksudkan
agar bahan yang akan ditimbang tidak mengalami perubahan kondisi/sifat karena
terpengaruh udara ataupun oleh hembusan angin.
2. Piringan Timbangan, sebagai tempat meletakkan bahan yang akan ditimbang (piringan)
3. Layar Angka (display), untuk menampilkan berat bahan yang diukur/menampilkan
beberapa menu lainnya.
4. Water Pass, untuk menentukan posisi neraca di tempat yang datar atau tidak.
5. Tombol Print, untuk mencetak data hasil penimbangan.
6. Tombol O/T, tombol ini dapat digunakan untuk men “TARE” neraca atau pun menentukan
pilihan ON/OFF pada menu-menu yang ada dalam neraca.
7. Tombol Off, untuk memulai penimbangan.
8. Kaki Neraca, sebagai penyangga neraca.
9. Kabel Penghubung Listrik, untuk menghubungkan arus listrik dari sumber listrik menuju
alat neraca.

Pengoperasian
1. Menyalakan neraca
Tekan tombol >O/T< , semua bagian menu akan muncul secara singkat dan muncul
angka 0,000 gr. Biarkan 20 menit untuk memanaskan kerja neraca. Neraca yang pertama
kali di aktifkan dinyalakan sudah dapat digunakan untuk perhitungan berat dalam gram
atau untuk men-TARE berat bahan tanpa mengatur menu terlebih dahulu.
2. Mematikan Neraca
Untuk mematikan neraca, tekan dan tahan tombol “off” hingga tidak ada tampilan lagi
dilayar kemudian lepaskan
3. Penimbangan
Penimbangan dilakukan dengan keadaan neraca menyala
a. Jika pengukuran unit lain yang diinginkan, lihat bagian menu untuk mengatur prosedur
b. Jika tampilan neraca perlu di nol kan kembali, tekan >O/T< sesaat
c. Letakkan bahan yang akan ditimbang di atas piring timbang dan baca beratnya pada
layar. Indikator kestabilan muncul apabila angka yang tertera pada layar sudah stabil.
4. Men”TARE” kan
Ketika menimbangkan bahan-bahan harus diletakkan di atas wadah nimbang
a. Dengan sebuah wadah timbang kosong diatas piring bimbang, tekan >O/T< untuk
me”nol”kan layar pada neraca
b. Bahan ditambahkan di atas wadah timbang, berat bahan kemudian ditampilkan.
Menu
Pengaturan menu memungkinkan anda untuk mengaktifkan, kemudahan
menimbang,perhitungan bagian, kalibrasi secara linear, memilih signal suara dan parameter
print.
34

Menu
- Units : g, kg, mg, ct , N, lb, oz, ozt, GN, dwt, mo, m, Hongkong Taels, Singapore Taels,
Taiwan Taels , cl, dan Pcs.
- Catatan : hanya 1 satuan di satu waktu, lihat spesifikasi untuk unit yang ada.
- LIN : melakukan kalibrasi lurus.
- SYS : melakukan pengaturan on atau off dengan tombol lain.
- PRINT : melakukan pengaturan komunikasi dan mencetak parameter.
- Menu END : kembali ke menu dan kembali pada mode berat.

Trouble Shooting
1) Beban tidak melebihi muatan maksimum, karena akan berpengaruh menurunkan kepekaan
dan merusak neraca
2) Apabila kaca penutup neraca retak, segera dilem atau diperbaiki. Apabila pecah segera
diganti dengan yang baru
3) Apabila bagian neraca ada yang kotor, segera dibersihkan dengan kuas rambut atau tissue,
agar tidak mengurangi kestabilan neraca.
4) Apabila neraca rusak, neraca harus segera di ganti, apabila tidak dapat digunakan sama
sekali neraca harus diganti.
35

2) Neraca Analitik Terbuka


36

Keterangan :
1. Piring Timbang (daun neraca), sebagai tempat meletakkan wadah timbang atau bahan yang
akan ditimbang.
2. Tombol ON/OFF, untuk menyalakan atau mematikan neraca.
3. Tombol “SET”, untuk melakukan beberapa pengaturan, yaitu pengukuran satuan berat yang
akan digunakan saat penimbangan.
4. Tombol P (Print), untuk mencetak/memprint data hasil penimbangan.
5. Tombol “TARE”, untuk mengembalikan neraca ke posisi nol.
6. Tombol F (Function), untuk mengatur satuan yang akan diinginkan.
7. Layar penunjuk data, untuk menampilkan hasil penimbangan atau beberapa unit menu
lainnya.
8. Water pass, untuk menentukan posisi, neraca di tempat yang datar atau tidak
9. Kabel Penghubung Listrik, menghubungkan arus listrik dari sumber listrik menuju ke alat
(neraca).

Penggunaan neraca secara tidak langsung


1. Disiapkan timbangan analitik dalam kondisi seimbang atau water pass (dengan mengatur
sekrup pada kaki neracasehingga gelembung air di water pass tepat berada di tengah).
2. Dibersihkan ruang dalam neraca analitik dengan menggunakan kuas. Piringan neraca dapat
diangkat dan seluruh timbangan dapat dibersihkan dengan menggunakan etanol/alkohol.
3. Ditancapkan stop kontak pada stavolt.
4. Ditekan tombol On kemudian tunggu hingga muncul angka 0,0000 g.
5. Dimasukkan alas bahan (gelas arloji, kertas atau benda tipis) dengan membuka kaca tidak
begitu lebar supaya tidakmempengaruhi perhitungan karena neraca analitik ini sangat peka.
6. Ditutup kaca neraca analitik.
7. Ditekan tombol zero supaya perhitungan lebih akurat.
8. Dimasukkan bahan yang akan ditimbang dengan membuka kaca tidak begitu lebar, begitu
pun ketika akan menambahkanatau mengurangi bahan untuk menyesuaikan massa yang
diinginkan.
9. Ditutup kaca.
10. Ditunggu hingga angka di layar monitor neraca analitik tidak berubah-ubah dan sesuai
dengan massa yang diinginkan.
11. Diambil bahan yang telah ditimbang.
12. Ditekan tombol Off hingga tidak ada angka di layar monitor neraca analitik.
13. Dilepas stop kontak dari stavolt.
14. Dibersihkan ruang dalam neraca analitik dengan menggunakan kuas. Piringan neraca dapat
diangkat dan seluruhtimbangan dapat dibersihkan dengan menggunakan etanol/alkohol

Penggunaan neraca secara langsung


1. Hubungkan dengan arus listrik dan sebaiknya gunakan penstabil sebagai pengamanan alat
dari tegangan yang berubah-ubah.
37

2. Yakinkan bahwa neraca telah bersih dan posisi neraca dalam keadaan mendatar yang dapat
dilihat dari water pass.
3. Hidupka neraca dengan tombol “ON” dan tunggu sebebntar maka angka akan menunjukan
0,000g. jika tidak, tekan tmbol pengatur angka nol hingga posisi nol (Tombol TARE).
4. Letakkan benda yang akan ditimbang pada daun neraca tepat ditengahnya.
5. Ambil/angkat benda dari daun neraca.
6. Jika penimbangan telah selesai, matikan alat dengan menekan tombol “OFF”.

Trouble Shooting
1. Beban tidak melebihi muatan maksimum, karena akan berpengaruh menurunkan kepekaan
dan merusak neraca
2. Neraca analitik harus dalam keadaan bersih agar neraca dapat bekerja dengan baik
3. Neraca harus ditempatkan pada meja beton, untuk menghindari getaran
4. Apabila bagian neraca ada yang rusak, bagian tersebut segera diperbaiki agar tidak
memperparah kerusakan.

Pemeliharaan neraca listrik/elektrik


1. Neraca harus diletakkan ruang terpisah dari ruang kerja menghindari gas bahan kimia.
2. Neraca harus diletakkan di meja beton untuk menghindari getaran.
3. Bahan yang ditimbang sesuai dengan suhu neraca.
4. Saat menimbang gunakan kertas timbang, botol timbang atau kaca arloji.
5. Beban tidak melebihi kapasitas atau muatan maksimum.
6. Neraca harus bersih.
7. Jika selesai kembalikan ke posisi nol dan sumber listrik dimatikan (off).

4. Mikroskop
Mikroskop merupakan alat yang memungkinkan seseorang bisa mengamati dan mempelajari
struktur terkecil sebuah benda dan atau tubuh mikroorganisme semacam virus juga bakteri.
Mikroskop ini terdiri atas dua kata yang kedua berasal dari Yunani, micros dan scopein. Micros
sendiri berarti kecil sementara kata scopein berarti melihat. Jadi secara sederhana mikroskop
merupakan alat untuk melihat sesuatu yang kecil dengan mata. Pada mulanya, mikroskop yang
ditemukan Thonius Philips Van Leewenhoek hanya mampu melihat dengan pembesaran sampai
200 kali lipat. Namun dewasa ini, seiring perkembangan penelitian yang kemudian
menyempurnakan mikroskop, kemampuannya seolah tak terbatas lagi. Perubahan zaman dan
teknologi ikut menyempurnakan mikroskop. Saat ini ada beragam jenis mikroskop yang memiliki
fungsi dan kelebihan masing-masing.
Berkaitan dengan jenis-jenis mikroskop, pembagiannya cukup rumit sebab tidak seragam.
Secara sederhana, berdasarkan jumlah lensanya, mikroskop dibagi ke dalam dua jenis yakni:
38

1. Mikroskop lensa okuler atau lensa tunggal. Ini merupakan jenis mikroskop yang pertama
diciptakan.
2. Mikroskop multi-lensa. Merupakan jenis mikroskop yang dikembangkan dari mikroskop lensa
okuler dan lazim digunakan dewasa ini.

Sementara itu, berdasarkan sumber cahayanya, jenis-jenis mikroskop dibagi atas:

1. Mikroskop Cahaya. Jenis mikroskop yang satu ini mempunyai kemampuan memperbesar
objek sebanyak 1000 kali lipat. Ia memiliki bagian penyangga yang kokoh juga berat. Bagian
tersebut memiliki fungsi sebagai penopang. Mikroskop cahaya tersusun atas 3 dimensi lensa
antara lain lensa objektif, lensa okuler dan juga lensa kondesor. Lensa kondesor memiliki
fungsi untuk menerangi objek yang hendak diamati serta menerangi lensa lainnya. Adapun
lensa objektif, ia berperan sebagai pembentuk bayangan pada tingkatan pertama. Bagian
lensa ini yang menentukan susunan serta bagian dari objek yang diteliti. Terakhir, lensa
okuler berfungsi memperbesar bayangan yang dihasilkan atau dibentuk oleh lensa objektif.
2. Mikroskop Elektron. Jenis mikroskop yang satu ini bisa mengamati sebuah objek dengan
pembesaran sampai 2 juta kali. Ia menggunakan teknologi elektro magnetic juga elektro static
dalam mensetting pencahayaan juga tampilan objek. Mikrosko jenis ini memang cukup luar
biasa sebab mampu menampilkan gambar lebih jelas juga dengan resolusi yang lebih
sempurna ketimbang jenis mikroskop lainnya.

Lebih detil, mikroskop cahaya kembali dibagi menjadi dua kelompok umum yang didasarkan
pada tingkat kerumitan kegiatan pengamatannya, jenis-jenis mikroskop tersebut adalah:

1. Mikroskop Diseksi, yakni jenis mikroskop yang digunakan untuk mengamati bagian
permukaan.
2. Mikroskop yang digunakan untuk mengamati bagian dalam objek.

Mikroskop jenis kedua ini kemudian dibagi lagi menjadi dua bagian, antara lain:

1. Mikroskop Monokuler, yakni jenis mikroskop yang digunakan mengamati bagian dalam objek
dengan menggunakan 1 lensa okuler saja.
2. Mikroskop Binokuler, adalah jenis mikroskop yang digunakan juga mengamati bagian dalam
objek tetapi lensanya berjumlah 2 lensa okuler.

Jika didasarkan pada tingkat kerumitan objek yang hendak diamati, maka jenis-jenis mikroskop
antara lain:

1. Mikroskop sederhana. Jenis yang satu ini umumnya digunakan di laboratorium sekolah.
2. Mikroskop Riset, yakni jenis mikroskop yang digunakan para ahli dalam penelitian.
39

Masih ada banyak jenis-jenis mikroskop lainnya antara lain mikroskop pender, mikroskop
digital, mikroskop ultraviolet, mikroskop medan gelap dan masih banyak lagi lainnya. Mikroskop
digital merupakan jenis mikroskop modern yang bisa tersambung langsung dengan perangkat
komputer. Mikroskop pendar merupakan jenis mikroskop yang digunakan dalam mengamati
objek asing atau benda asing atau antigen yang terdapat di dalam jaringan. Reaksi antigen ini
cukup khas dan bisa diamati dengan jelas jika ada pewarna pendar. Mikroskop Medan Gelap
merupakan jenis mikroskop yang lazim digunakan dalam mengamati bakteri yang masih hidup
dengan struktur tubuh yang sangat tipis. Terakhir mikroskop ultraviolet, yakni jenis mikroskop
yang menggunakan cahaya ultraviolet sehingga daya pisah objek bisa ditingkatkan sebanyak 2
kali lipat jika dibandingkan dengan jenis mikroskop lainnya.

Prinsip Kerja alat mikroskop :


Mikroskop berfungsi sebagai alat pembesar dua tingkat. Lensa objektif melakukan pembesaran
awal dan lensa okuler akan memperbesar bayangan pertama untuk kedua kalinya. Pembesaran
total adalah hasil kali kekuatan lensa objektif dan lensa okuler.
Lensa kondensor memusatkan cahaya dari sumbernya menjadi suatu berkas sinar terang yang
akan menyinari objek sehingga memberikan cahaya yang cukup terang untuk mengamati
bayangan yang diperbesar tersebut.

Bagian-bagian Mikroskop
40

Komponen-komponen mikroskop terdiri dari :


1. Lensa okuler, merupakan bagian yang dengan mata pengamat saat mengamati objek. Lensa
okuler terpasang pada tabung atas mikroskop. Perbesaran lensa pada okuler ada tiga
macam, yaitu 5x, 10x, 12,5x.\
2. Tabung mikroskop, merupakan penghubung lensa okuler dan lensa objektif. Tabung
terpasang pada bagian bergerigi yang melekat pada pegangan mikroskop sebelah atas.
Melalui bagian yang bergerigi, tabung dapat digerakkan ke dan ke bawah.
3. Makrometer (sekrup pengarah kasar), merupakan komponen untuk menggerakkan tabung ke
atas dank e bawah dengan pergeseran besar.
4. Mikrometer (sekrup pengarah halus), merupakan komponen untuk menggerakkan tabung ke
atas dank e bawah dengan pergeseran halus.
5. Revolver, merupakan pemutar lensa untuk menempatkan lensa objektif yang dikehendaki.
6. Lensa objektif, merupakan komponen yang langsung berhubungan dengan objek atau
spesimen. Lensa objektif terpasang pada bagian bawah revolver.
Perbesaran pada lensa objektif bervariasi, tergantung pada banyaknya lensa objektif pada
mikroskop. Misalnya, ada perbesaran lensa objektif 10x dan 40x (mikroskop dengan dua
lensa objektif); 4x, 10x, dan 40x (mikroskop dengan tiga lensa objektif); dan 4x, 10x, 45x, dan
100x (mikroskop dengan empat lensa objektif).
7. Panggung mikroskop, merupakan meja preparat atau tempat seduaan objek/spesimen. Pada
bagian tengah panggung mikroskop terdapat lubang untuk jalan masuk cahaya ke mata
pengamat. Panggung digunakan untuk meletakkan sediaan objek atau spesimen. Pada
panggung terdapat dua penjepit untuk menjepit objek glass. Pada beberapa mikroskop lain,
panggung dapat digerakkan ke atas dan ke bawah.
8. Diafragma, merupakan komponen untuk mengatur banyak sediktnya cahaya yang masuk
melalui lubang pada panggung mikroskop. Diafargma ini terpasang pada bagian bawah
panggung mikroskop.
9. Kondensor, merupakan alat untuk memfokuskan cahaya pada objek atau spesimen. Alat ini
terdapat di bawah panggung.
10.Lengan mikroskop, merupakan bagian yang dapat dipegang waktu mengangkat mikroskop
atau menggeser mikroskop.
11.Cermin reflektor, digunakan untuk menangkap cahaya yang masuk melalui lubang pada
panggung mikroskop, yakni dengan cara mengubah-ubah letaknya. Cermin ini memiliki
permukaan datar dan permukaan cekung. Permukaan datar digunakan jika sumber cahaya
cukup terang dan permukaan cekung digunakan jika cahaya kurang terang.
12.Kaki mikroskop, merupakan tempat mikroskop bertumpu. Kebanyakan kaki mikroskop
berbentuk seperti tapal kuda.
41

Mempersiapkan Mikroskop
1. Mikroskop diambil dari tempat penyimpanan mikroskop dengan menggunakan kedua tangan
saat mengambil dan membawa mikroskop ke meja. Satu tangan memegang lengan
mikroskop dan tangan lain memegang kaki mikroskop.
2. Mikroskop ditempatkan di meja dengan kedudukan datar dan dihadapkan ke arah cahaya.
3. Sekrup pemutar besar diputar hingga tabung mikroskop turun sampai ke batas bawah.
4. Revolver diputar sehingga lensa objektif dengan pembesaran lemah (misal 10x) tepat pada
posisinya atau tepat berada di atas lubang panggung.
5. Diafragma dibuka secara penuh. Kedudukan cermin di atur agar cahaya yang masuk terpantul
melaui lubang pada panggung sehingga melalui lensa okuler akan tampak lingkaran cahaya
yang terangnya merata. Lingkaran cahaya tersebut dikenal sebagai bidang pandang.
Cara menggunakan mikroskop
1. Jarak mata-okuler, untuk mencegah kelelahan mata, diperlukan penjagaan jarak antara mata
dan okuler. Untuk menentukan jarak ini, mata mendekati okuler dari suatu jarak maksimum
sekitar 1 cm. Jarak optimum dicapai pada saat medan pandang tampak sebesar-besarnya
dan setajam-tajamnya. Selain itu, mata yang sebelah lagi harus tetap terbuka.
2. Pengamatan dimulai dengan menggunakan lensa objektif dengan pembesaran lemah (misal
10x).
3. Sambil mengamati melalui lensa okuler, sekrup pemutar kasar diputar secara perlahan agar
tabung mikroskop naik. Pada saat demikian, gambar dapt teramati meskipun belum begitu
jelas. Untuk memperoleh gambar yang jelas, sekrup pemutar halus di putar sehingga dapat
diamati gambar yang lebih jelas dan lebih fokus.
4. Setelah mengamati gambar dengan menggunakan lensa objektif dengan pembesaran lemah
(10x) , objek yang sama coba diamati dengan menggunakan lensa dengan pembesaran yang
lebih kuat (misal 40x) dengan cara memutar revolver sehingga lensa objektif 40x tepat
mengarah ke lubang pada panggung. Hal yang perlu diingat, selama pengamatan dengan
pembesaran kuat tidak boleh menggunakan sekrup pemutar kasar, untuk mendapat gambar
yang baik (fokus) cukup digunakan sekrup pemutar halus.

No. Perbesaran Pembesaran Cermin Diafragma Kondensor Keterangan


Tanpa minyak
1. 10 x 10 100x Datar Ditutup Diturunkan emersi
Dibuka Dinaikkan Tanpa minyak
2. 10 x 45 450x Datar sebagian setengah emersi
Dinaikkan Menggunakan
3. 10 x 100 100x Cekung Dibuka penuh penuh minyak emersi

Perawatan Mikroskop
1. Memegang mikroskop dengan kedua tangan ketika mengangkatnya.
2. Memulai pengamatan dengan pembesaran lemah sebelum menggunakan pembesaran kuat.
3. Tidak memutar tombol dengan kasar.
42

4. Menghilangkan kotoran pada lensa mikroskop. Seringkali gambar mikroskop tetap kabur
meski telah diusahakan penyetelan fokus halus. Ini seringkali disebabkan lensa depan objektif
yang kotor dan/atau lensa okuler. Untuk memastikan pada bagian mana lensa kotor, pertama-
tama lensa okuler diputar, dan kemudian, bila perlu, lensa objektif diputar sambil mengamati
cuplikan untuk menentukan kapan lapisan kotoran yang kabur bergerak. Kemudian lensa
yang kotor dibersihkan dengan kertas transerat atau kertas lensa. Kondensor yang kotor pun
dapat menghaburkan gambar.
Ketika membersihkan lensa depan objektif, harus diingat bahwa lensa terpasang pada perekat
yang dapat melarut dalam pelarut organik. Oleh karena itu, lebih baik jika digunakan air suling
untuk menghilangkan kotoran, jika tidak bisa, digunakan pelarut organik yang mudah
menguap sesedikit mungkin, misalnya benzene atau eter minyak bumi.
5. Memastikan mikroskop dalam keadaan kering, sebelum dan sesudah digunakan.

Menghitung Pembesaran Gambar


Telah dijelaskan sebelumnya bahwa sebuah mikroskop memiliki dua macam lensa, yaitu lensa
okuler dan lensa objektif. Kedua lensa tersebut memiliki ukuran pembesaran tertentu.
Pembesaran total untuk panjang tabung yang digunakan diperoleh dari pembesaran pada objektif
dikalikan dengan pembesaran yang tertera pada okuler.
Perbesaran objektif x perbesaran okuler = perbesaran total
10 x 8 = 80x
10 x 12,5 = 125x
40 x 8 = 320x
40 x 12,5 = 500x
Perbesaran total 80-125x ( perbesaran rendah) dan 320-500x (perbesaran tinggi) yang diberikan
pada contoh sudah cukup untuk memenuhi persyaratan normal. Perbesaran rendah (3,5x 8 atau
3,5 x 12,5, yaitu perbesaran total 30-40x) dapat memperlihatkan tampak umum dari suatu
cuplikan dan biasanya digunakan pengamatan pertama pada seluruh cuplikan.

Preparasi Sampel
1. Setetes air ditempatkan pada object glass.
2. Objek/spesimen diletakkan pada air tersebut.
3. Cover glass ditempatkan pada bagian atasnya dengan cara miring dan turunkan secara
perlahan serta diusahakan agar tidak terbentuk gelembung udara.
Pembentukkan gelembung udara dapat menyebabkan kualitas gambar menjadi kurang bagus
atau tidak jelas.
4. Air harus mengisi ruang antara object glass dan cover glass; jika air tersebar ke bagian lain
dari object glass, kelebihan ini harus dikeringkan (misal dengan tisu) dengan hati-hati.
5. Jika objek sudah terdapat dalam bentuk suspense cairan, tetesan suspense dapat digunakan
tanpa harus meneteskan air terlebih dahulu pada permukaan object glass.
43

Cara Pengistirahatan Mikroskop


1. Preparat dilepas dari meja objek.
2. Bagian-bagian optic dari mikroskop dibersihkan dengan menggunakan tisu lensa/tisu+xylol.
3. Revolver diputar sampai pembesaran terkecil.
4. Makrometer diturunkan maksimal.
5. Kondensor dinaikkan maksimal dan diafragma ditutup penuh.
6. Cermin ditegakkan.
7. Bagian-bagian mekanik dan mikroskop dibersihkan menggunakan tisu atau lap.

Trouble Shooting
1. Jika tidak digunakan mikroskop sebaiknya disimpan dalam lemari, untuk mencegah
berjamurnya lensa gunakan silica gel atau lampu pengering.
2. Bersihkan sisa-sisa minyak emersi dengan menggunakan xylol, dan kertas lensa. Jangan
menggunakan benzene, etanol, eter, toluene karena akan melarutkan lem diantara lensa
dengan logam.

5. Refraktometer
Refraktometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur kadar/ konsentrasi bahan terlarut
berdasarkan indeks biasnya. Misalnya gula, garam, protein, dan sebagainya. Refraktometer
ditemukan oleh Dr. Ernest Abbe seorang ilmuan dari German pada permulaan abad 20 (Anonim,
2010).
Refraktometer merupakan suatu instrument yang digunakan untuk mengukur pembengkokan dari
cahaya yang dilewatkan dari satu medium ke medium lainnya. Satuan yang digunakan dalam
instrument refractometer ini adalah refractive index (RI).
Prinsip Kerja
Prinsip kerja dari refraktometer sesuai dengan namanya yaitu dengan memanfaatkan refraksi
cahaya.
Seperti pada gambar dibawah ini, sebuah sedotan yang dicelupkan ke dalam geals yang berisi
air akan terlihat terbengkok. Pada gambar kedua sebuah sedotan dielupkan ke dalam sebuah
gelas yang berisi air gula. Terlihat sedotan terbengkok lebih tajam. Hali ini terjadi karena adanya
refraksi cahaya. Semakin tinggi konsentrasi bahan terlarut maka sedotan akan semakin terlihat
bengkok secara proposional
44

Pembiasaan Cahaya
Pembiasan cahaya adalah peristiwa penyimpangan atau pembelokan cahaya karena melalui dua
medium yang berbeda kerapatan optiknya. Arah pembiasan cahaya dibedakan menjadi dua
macam yaitu :
- Mendekati Garis Normal
Cahaya dibiakan mendekati garis normal jika cahaya merambat dari medium optic kurang rapat
kemedium optic lebih rapat, contohnya cahaya merambat dari .udara kedalam air.
- Menjauhi Garis Normal
Cahaya dibiaskan mendekati garis normal jika cahaya merambat dari medium optic lebih rapat
kedalam optic kurang rapat, contoh cahaya merambat dari dalam air ke udara.

Ada empat jenis refraktometer utama:


a. refraktometer genggam tradisional (traditional handheld refractometers),
b. refraktometer genggam digital (digital handheld refractometers),
c. laboratorium ataurefraktometer Abbe( Abbe refractometers), dan
d. proses refraktometer inline(inline process refractometers).

Bagian-bagian Refraktormeter
45

Keterangan Gambar :
1. Eye piece, untuk tempat melihat skala.
2. Pengatur skala, untuk mengatur skala/memperluas bayangan pantulan.
3. Barrel, untuk memegang refraktometer.
4. Penutup, untuk menekan sampel.
5. Prisma, untuk meletakkan sampel.

Cara Menggunakan
1. Bidang-bidang prisma dan penutupnya dibersihkan dengan menggunakan tisu kering (apabila
sudah dipakai), kemudian dibersihkan lagi menggunakan tisu lensa.
2. Dengan posisi datar, sampel diletakkan sebanyak 1 tetes menggunakan pipet tetes.
3. Prisma ditutup dengan perlahan dan hati-hati.
4. Hindari terjadinya gelembung udara.
5. Refraktometer di arahkan ke sumber cahaya, agar skala yang dilihat melalui refraktometer
jelas.
6. Skala dibaca pada garis batas gelap dan terang.

Cara Pembersihan
1. Setelah dipakai, tutup refraktometer dibuka.
2. Sampel pada bidang prisma dibersihkan dengan menggunakan tisu kering, dibiarkan sampel
terserap ke tisu.
3. Setelah itu, dibersihkan lagi menggunakan tisu lensa.
4. Setelah selesai, penutuo prisma ditutup secara perlahan.

Trouble Shooting Refraktrometer


1. Area tampilan tidak menampilkan/menunjukkan pemisahan kedalam cahaya & bidang gelap.
Periksa sebentar jika rentang bawah berada kurang lebih 0,05 unit, indeks bias yang
diharapkan. Jika tidak, pastikan mendekati kisaran ini dengan menggunakan tombol
penyesuaian disisi kanan. Perlu di ingat bahwa itu adalah relatif sensitive.
2. Tidak ada cahaya di area tampilan. Arahkan/posisikan ke arah cahaya.
3. Bila terjadi penyimpangan pada kalibrasi, lakukan prosedur sebagai berikut :
a. Refraktometer diputar sehingga teropongnya tergelar secara horizontal
b. Sistem prisma dibuka lebar & permukaan garis dibersihkan
c. Pada permukaan prisma kerja, tambahkan larutan monobrom naptela
d. Teropong ditegakkan kembali menjadi vertical & alhidadnya di setel pada skala 1,50
e. Kompensator indeks beraksi sampai skala 60
46

f. Harga reflaksi indeks yang terbaca harus sama dengan yang tercantum pada kaca
Lem.Pengukuran dilakukan berulang-ulang sehingga diperoleh kepastian apakah
kalibrasi diperlukan/tidak.

6. POLARIMETER
Polarimeter merupakan alat yang digunakan untuk mengukur besarnya putaran optik yang
dihasilkan oleh suatu zat yang bersifat optis aktif yang terdapat dalam larutan. Jadi polarimeter ini
merupakan alat yang didesain khusus untuk mempolarisasi cahaya oleh suatu senyawa optis
aktif. Senyawa optis aktif adalah senyawa yang dpat memutar bidang polarisasi, sedangkan yang
dimaksud dengan polarisasi adalah pembatasan arah getaran (vibrasi) dalam sinar atau radiasi
elektromagnetik yang lain. Untuk mengetahui besarnya polarisasi cahaya oleh suatu senyawa
optis aktif, maka besarnya perputaran itu bergantung pada beberapa faktor yakni struktur
molekul, temperatur, panjang gelombag, banyaknya molekul pada jalan cahaya, jenis zat,
ketebalan, konsentrasi dan juga pelarut.

Jenis-jenis Polarimeter
a. Manual
Polarimeter paling awal, yang tanggal kembali ke tahun 1830-an, yang dibutuhkan pengguna
secara fisik memutar analyzer, dan detektor itu mata pengguna menilai saat yang paling
bersinar cahaya melalui. Sudut ditandai pada skala yang mengelilingi analyzer tersebut.
Desain dasar masih digunakan dalam polarimeter sederhana.

b. Semi Otomatis
Hari ini ada juga polarimeter semi-otomatis, yang membutuhkan deteksi visual tetapi push
menggunakan-tombol untuk memutar analisa dan menawarkan tampilan digital.

c. Sepenuhnya Otomatis
Yang paling polarimeter modern yang sepenuhnya otomatis, dan hanya memerlukan user
untuk menekan tombol dan menunggu pembacaan digital.
47

Polarimeter dapat dikalibrasi - atau setidaknya diverifikasi - dengan mengukur piring kuarsa,
yang dibangun untuk selalu membaca di sudut rotasi tertentu (biasanya 34 °, tetapi +17 ° dan
8,5 ° adalah juga populer tergantung pada sampel) . piring Quartz yang disukai oleh banyak
pengguna karena contoh padat jauh lebih sedikit dipengaruhi oleh variasi suhu, dan tidak
perlu dicampur on-demand seperti solusi sukrosa.

Sudut rotasi zat optik aktif dapat dipengaruhi oleh:

 Konsentrasi sampel
 Panjang gelombang cahaya melewati sampel (umumnya, sudut rotasi dan panjang
gelombang cenderung berbanding terbalik)
 Suhu sampel (umumnya kedua secara langsung proporsional)
 Panjang sel sampel (masukan oleh pengguna ke polarimeter otomatis paling untuk
memastikan akurasi yang lebih baik)

Polarimeter modern sebagian besar metode kompensasi untuk atau mengendalikan ini.

Prisip Kerja Polarimeter

Prinsip kerja alat polarimeter adalah sebagai berikut: sinar yang datang dari sumber cahaya
(misalnya lampu natrium) akan dilewatkan melalui prisma terpolarisasi (polarizer), kemudian
diteruskan ke sel yang berisi larutan. Dan akhirnya menuju prisma terpolarisasi kedua
(analizer). Polarizer tidak dapat diputar-putar sedangkan analizer dapat diatur atau di putar
48

sesuai keinginan. Bila polarizer dan analizer saling tegak lurus (bidang polarisasinya juga tega
lurus), maka sinar tidak ada yang ditransmisikan melalui medium diantara prisma polarisasi.
Pristiwa ini disebut tidak optis aktif.
Jika zat yang bersifat optis aktif ditempatkan pada sel dan ditempatkan diantara prisma
terpolarisasi maka sinar akan ditransmisikan. Putaran optik adalah sudut yang dilalui analizer
ketika diputar dari posisi silang ke posisi baru yang intensitasnya semakin berkurang hingga
nol.Untuk menentukan posisi yang tepat sulit dilakukan, karena itu digunakan apa yang
disebut “setengah bayangan” (bayangan redup). Untuk mancapai kondisi ini, polarizer diatur
sedemikian rupa, sehingga setengah bidang polarisasi membentuk sudut sekecil mungkin
dengan setengah bidang polarisasi lainnya. Akibatnya memberikan pemadaman pada kedua
sisi lain, sedangkan ditengah terang. Bila analyzer diputar terus setengah dari medan menjadi
lebih terang dan yang lainnya redup. Posisi putaran diantara terjadinya pemadaman dan
terang tersebut, adalah posisi yang tepat dimana pada saat itu intensitas kedua medan sama.
Jika zat yang bersifat optis aktif ditempatkan diantara polarizer dan analizer maka bidang
polarisasi akan berputar sehingga posisi menjadi berubah. Untuk mengembalikan ke posisi
semula, analizer dapat diputar sebesar sudut putaran dari sampel.
Sudut putar jenis ialah besarnya perputaran oleh 1,00 gram zat dalam 1,00 mL larutan yang
barada dalam tabung dengan panjang jalan cahaya 1,00 dm, pada temperatur dan panjang
gelombang tertentu. Panjang gelombang yang lazim digunakan ialah 589,3 nm, dimana 1 nm
= 10-9m. Sudut putar jenis untuk suatu senyawa (misalnya pada 25 o C) Macam macam
polarisasi antara lain, polarisasi dengan absorpsi selektif, polarisasi akibat pemantulan, dan
polarisasi akibat pembiasan ganda.
a. Polarisasi dengan absorpsi selektif, dengan menggunakan bahan yang akan melewatkan
(meneruskan) gelombang yang vektor medan listriknya sejajar dengan arah tertentu dan
menyerap hampir semua arah polarisasi yang lain.
b. Polarisasi akibat pemantulan, yaitu jika berkas cahaya tak terpolarisasi dipantulkan oleh
suatu permukaan, berkas cahya terpanyul dapat berupa cahaya tak terpolarisasi,
terpolarisasi sebagian, atau bahkan terpolarisasi sempurna.
c. Polarisasi akibat pembiasan ganda, yaitu dimana cahaya yang melintasi medium
isotropik (misalnya air). Mempunyai kecepatan rambat sama kesegala arah. Sifat bahan
isotropik yang demikian dinyatakan oleh indeks biasnya yang berharga tunggal untuk
panjang gelombang tertentu. Pada kristal – kristal tertentu misalnya kalsit dan kuartz,
kecepatan cahaya didalamnya tidak sama kesegala arah. Bahan yang demikian
disebut bahan anisotropik ( tidak isotropik). Sifat anisotropik ini dinyatakan dengan indeks
bias ganda untuk panjang gelombang tertentu. Sehingga bahan anisotropik juga disebut
bahan pembias ganda

Cara kerja
1. Siapkan larutan sampel yang akan diuji.
2. Tabung porselin dibersihkan dengan air.
49

3. Tabung porselin diisi dengan aquades sampai penuh, diusahakan jangan sampai timbulgelembung udara,
kemudian tabung ditutup hingga rapat..
4. Tabung dimasukkan ke dalam polarimeter.
5. Analizer diputar hingga medan pandang yang nampak pada teropong gelap semua.
6. Kedudukan sudut polarizer dapat dibaca pada skala polarimeter.
7. Kemdian atur cahaya hingga terlihat setengah terang, terang, setengah gelap dan diukurPutaran optiknya..
8. Suhu aquades diukur dengan menggunakan thermometer.
9. Tabung porselin dicuci hingga bersih.
10. Bagian-bagian Polarimeter.

Bagian-Bagian Alat Polarimeter


a. Sumber Cahaya
Alat polarimeter terdiri dari beberapa bagian. Bagian yang pertama ialah sumber cahaya.
Sumber cahaya terdiri dari dua jenis, yaitu sumber cahaya filament dan sumber cahaya
natrium. Sumber cahaya filament digunakan untuk alat model lama, sedangkan sumber
cahaya natrium digunakan untuk alat model baru. Filter dari sumber cahaya natrium ialah
filter orange dengan panjang gelombang 589 nm. Sumber cahaya ditutup agar
cahayanya focus dan tidak ada udara.
b. Prisma Nicole
Bagian lain dari polarimeter ialah prisma Nicole. Bagian ini disebut polarisator yang
berfungsi mengubah cahaya monokromatis menjadi lebih terpolarisasi. Ilustrasi
perubahannya yakni sebagai b
c. Tabung Sampel
Bagian berikutnya ialah tabung sampel. Tabung sampel terbuat dari kaca yang memiliki
dua pengaman, yaitu karet dan skrup. Pemasangan pengaman harus dilakukan secara
berurutan jika tidak akan merusak lensa. Urutan pemasangan ialah lensa, karet, setelah
itu baru skrup. Tabung sampel terdiri dari bermacam-macam ukuran tergantung jumlah
sampel yang diuji. Pada saat memasukkan sampel lebih baik yang dibuka ialah bagian
bawahnya supaya tidak ada gelembung udara pada tabung. Pengisian sampel jangan
sampai ada gelembung udara karena dapat menyebabkan pembiasan cahaya. Bagian
gondok pada tabung dirancang untuk menjebak udara dalam tabung.
d. Prisma Analisator
Prisma analisator merupakan bagian lain dari alat ini. Fungsi prisma ini ialah untuk
mensejajarkan sudut yang dihasilkan dari senyawa aktif optik. Bagian lain dari
polarimeter ialah mikroskop dan skala. Mikroskop berguna untuk menentukkan cahaya
yang sudah sejajar sehingga sudut hitung rotasinya dapat dilihat dari skala. Bagian yang
diatur pada alat polarimeter ini ialah lensa analisator. Sudut putar adalah sudut yang
ditunjukkan oleh analisator setelah sinar melewati larutan dan membentuk cahaya yang
redup. Apabila bidang polarisasi berputar kea rah kiri (levo) dilihat dari pihak pengamat,
50

peristiwa ini disebut polarisasi putar kiri. Demikian juga untuk peristiwa sebaliknya
(dextro).

Beberapa hal yang harus diperhatikan pada penggunaan polarimeter, yaitu:

1. Larutan sampel harus jernih atau tidak mengandung partikel yang tersuspensi
di dalamnya. Partikel tersebut akan menghamburkan cahaya yang melewati larutan.
2. Tidak terdapat gelembung udara pada tabung sampel saat diisi larutan.
3. Selalu dimulai dengan menentukan keadaan nol untuk mengkoreksi pembacaan.
4. Pembacaan rotasi optik dilakukan beberapa kali, sampai didapat data yang dapat dihitung
rata-ratanya.

7. Colony Counter

Colony counter merupakan alat yang berfungsi sebagai penghitung jumlah mikroba pada cawan
petri menggunakan sinar dan luv. Perhitungan mikroba dapat dilakukan dengan perbesaran
menggunakan luv atau dengan menandai beberapa koloni yang terdapat pada cawan petri
menggunakan bulpoint yang terdapat pada coloni counter dan juga menggunakan tombol check
(Anonim, 2009).

Bagian-bagian Colony Counter Tipe DC-3


51

Keterangan Bagian bagian dari Colony Counter :


1. Pen jack (tempat memasukkan count pen)

2. Tombol reset ( untuk mengatur tayangan dari indikator hitung dalam keadaan 000 )

3. Power Switch (untuk menghidupkan lampu fluoresen sebelah kiri)


4. Power Switch (untuk menghidupkan lampu fluoresen sebelah kanan)

5. Source Switch (untuk menghidupkan lampu pada count indicator)

6. Tombol hitung (tombol untuk memulai hitungan pada count indicator)


7. Lampu signal Count indicator

8. Pembesar (Loupe)

9. Indikator hitung / Count indicator (maksimal 3 digit/3 angka)


10. Petridish/cawan petri yang akan dihitung jumlah koloninya

11. Penjepit petridish/Cawan petri

12. Pen hitung / Count pen


13. Sambungan Pen hitung / Count pen

Cara Kerja Colony Counter


1. Hubungkan Kabel Power ke sumber listrik.
2. Tekan tombol di sebelah kiri belakang sampai lampu colony counter menyala dan stabil.
3. Letakkan cawan petri dengan posisi terbalik.
4. Tekan tombol set agar angka pada display menunjukkan angka 0.
5. Hitung jumlah colony mikroba dengan menekan koloni yang terlihat.
6. Jumlah yang tertera pada display menunjukkan jumlah koloni yang telah di hitung.

Trouble
1. Kesalahan perhitungan yang disebab-kan human error akibat bentuk koloni yang relative
kecil dan banyaknya koloni yang akan dihitung.
2. Apabila prak-tikan kurang berhati-hati pada saat menghubung-kan steaker listrik, dapat
menyebabkan praktikan ter-sengat aliran listrik.
Trouble Shooting
1. Alat hitung dapat di-reset, kemudian lakukan perhitungan kembali dengan lebih teliti.
2. Hubungkan steaker listrik dengan benar dan hati-hati.
52

8. Spektrofotometer
Pengertian Dasar Spektrofotometer Vis, UV, UV-Vis
Spektrofotometri merupakan salah satu metode dalam kimia analisis yang digunakan untuk
menentukan komposisi suatu sampel baik secara kuantitatif dan kualitatif yang didasarkan pada
interaksi antara materi dengan cahaya. Peralatan yang digunakan dalam spektrofotometri disebut
spektrofotometer. Cahaya yang dimaksud dapat berupa cahaya visibel, UV dan inframerah,
sedangkan materi dapat berupa atom dan molekul namun yang lebih berperan adalah elektron
valensi.
Sinar atau cahaya yang berasal dari sumber tertentu disebut juga sebagai radiasi
elektromagnetik. Radiasi elektromagnetik yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari adalah
cahaya matahari.
Dalam interaksi materi dengan cahaya atau radiasi elektromagnetik, radiasi elektromagnetik
kemungkinanan dihamburkan, diabsorbsi atau dihamburkan sehingga dikenal adanya
spektroskopi hamburan, spektroskopi absorbsi ataupun spektroskopi emisi.
Pengertian spektroskopi dan spektrofotometri pada dasarnya sama yaitu di dasarkan pada
interaksi antara materi dengan radiasi elektromagnetik. Namun pengertian spektrofotometri lebih
spesifik atau pengertiannya lebih sempit karena ditunjukan pada interaksi antara materi dengan
cahaya (baik yang dilihat maupun tidak terlihat). Sedangkan pengertian spektroskopi lebih luas
misalnya cahaya maupun medan magnet termasuk gelombang elektromagnetik.
Radiasi elektromagnetik memiliki sifat ganda yang disebut sebagai sifat dualistik cahaya yaitu:

1. Sebagai gelombang
2. Sebagai partikel-partikel energi yang disebut foton.

Karena sifat tersebut maka beberapa parameter perlu diketahui misalnya panjang gelombang,
frekuensi dan energi tiap foton. Panjang gelombang (l) didefinisikan sebagai jarak antara dua
puncak.
53

Hubungan dari ketiga parameter di atas dirumuskan oleh Planck yang dikenal dengan
persamaan Planck. Hubungan antara panjang gelombang frekuensi dirumuskan sebagai

c = λ . v atau λ = c/v atau v = c/λ

Persamaan Planck: hubungan antara energi tiap foton dengan frekuensi

E=h.v

E = h . c/ λ

Keterangan :

E = energi tiap foton

h = tetapan Planck (6,626 x 10-34 J.s),

v = frekuensi sinar

c = kecepatan cahaya (3 x 108 m.s-1).

Dari rumus di atas dapat diketahui bahwa energi dan frekuensi suatu foton akan
berbanding terbalik dengan panjang gelombang tetapi energi yang dimiliki suatu foton
akan berbanding lurus dengan frekuensinya.

Misalnya: energi yang dihasilkan cahaya UV lebih besar dari pada energi yang dihasilkan sinar
tampak. Hal ini disebabkan UV memiliki panjang gelombang (λ) yang lebih pendek (100–400 nm)
dibanding panjang gelombang yang dimiliki sinar tampak (400–800 nm).

Berbagai satuan energi beserta faktor konversinya dapat dilihat pada tabel:

Erg Joule Kalori l.atm E.volt


1 erg = 1 10-7 2,3901×10-8 9,8687×1010 6,2418×1011
J joule = 107 1 2,3901×10-1 9,8687×10-3 6,2418×1018
1 kalori 4,1849×107 4,1840 1 4,1291×10-2 2,6116×1019
1 atm = 1,0133×109 1,0133×102 24,218 1 16,6248×1020
1 E.volt = 1,6021×10-12 1,6021x-19 3,8291×10-20 1,5611×10-20 1
54

Interaksi antara materi dengan cahaya disini adalah terjadi penyerapan cahaya, baik cahaya Uv,
Vis maupun Ir oleh materi sehingga spektrofotometri disebut juga sebagai spektroskopi
absorbsi.

Dari 4 jenis spektrofotometri ini (UV, Vis, UV-Vis dan Ir) memiliki prinsip kerja yang sama yaitu
“adanya interaksi antara materi dengan cahaya yang memiliki panjang gelombang
tertentu”. Perbedaannya terletak pada panjang gelombang yang digunakan.

Secara sederhana Instrumen spektrofotometri yang disebut spektrofotometer terdiri dari :

sumber cahaya – monokromator – sel sampel – detektor – read out (pembaca).

Fungsi masing-masing bagian:

1. Sumber sinar polikromatis berfungsi sebagai sumber sinar polikromatis dengan berbagai
macam rentang panjang gelombang. Untuk sepktrofotometer

 UV menggunakan lampu deuterium atau disebut juga heavi hidrogen


 VIS menggunakan lampu tungsten yang sering disebut lampu wolfram
 UV-VIS menggunan photodiode yang telah dilengkapi monokromator.
 Infra merah, lampu pada panjang gelombang IR.

2. Monokromator berfungsi sebagai penyeleksi panjang gelombang yaitu mengubah cahaya


yang berasal dari sumber sinar polikromatis menjadi cahaya monaokromatis. Jenis
monokromator yang saat ini banyak digunakan adalan gratting atau lensa prisma dan filter
optik.
55

Jika digunakan grating maka cahaya akan dirubah menjadi spektrum cahaya. Sedangkan filter
optik berupa lensa berwarna sehingga cahaya yang diteruskan sesuai dengan warnya lensa
yang dikenai cahaya. Ada banyak lensa warna dalam satu alat yang digunakan sesuai dengan
jenis pemeriksaan.

Pada gambar di atas disebut sebagai pendispersi atau penyebar cahaya. dengan adanya
pendispersi hanya satu jenis cahaya atau cahaya dengan panjang gelombang tunggal yang
mengenai sel sampel. Pada gambar di atas hanya cahaya hijau yang melewati pintu keluar.
Proses dispersi atau penyebaran cahaya seperti yang tertera pada gambar.

3. Sel sampel berfungsi sebagai tempat meletakan sampel

 UV, VIS dan UV-VIS menggunakan kuvet sebagai tempat sampel. Kuvet biasanya terbuat
dari kuarsa atau gelas, namun kuvet dari kuarsa yang terbuat dari silika memiliki kualitas
yang lebih baik. Hal ini disebabkan yang terbuat dari kaca dan plastik dapat menyerap UV
sehingga penggunaannya hanya pada spektrofotometer sinar tampak (VIS). Cuvet
biasanya berbentuk persegi panjang dengan lebar 1 cm.
 R, untuk sampel cair dan padat (dalam bentuk pasta) biasanya dioleskan pada dua
lempeng natrium klorida. Untuk sampel dalam bentuk larutan dimasukan ke dalam sel
natrium klorida. Sel ini akan dipecahkan untuk mengambil kembali larutan yang dianalisis,
jika sampel yang dimiliki sangat sedikit dan harganya mahal.

4. Detektor berfungsi menangkap cahaya yang diteruskan dari sampel dan mengubahnya
menjadi arus listrik. Syarat-syarat sebuah detektor :

 Kepekaan yang tinggi


 Perbandingan isyarat atau signal dengan bising tinggi
 Respon konstan pada berbagai panjang gelombang.
 Waktu respon cepat dan signal minimum tanpa radiasi.
 Signal listrik yang dihasilkan harus sebanding dengan tenaga radiasi.
56

Macam-macam detektor :

 Detektor foto (Photo detector)


 Photocell, misalnya CdS.
 Phototube
 Hantaran foto
 Dioda foto
 Detektor panas

5. Read out merupakan suatu sistem baca yang menangkap besarnya isyarat listrik yang berasal
dari detektor.

Proses Absorbsi Cahaya pada Spektrofotometri

Ketika cahaya dengan panjang berbagai panjang gelombang (cahaya polikromatis) mengenai
suatu zat, maka cahaya dengan panjang gelombang tertentu saja yang akan diserap. Di dalam
suatu molekul yang memegang peranan penting adalah elektron valensi dari setiap atom yang
ada hingga terbentuk suatu materi. Elektron-elektron yang dimiliki oleh suatu molekul dapat
berpindah (eksitasi), berputar (rotasi) dan bergetar (vibrasi) jika dikenai suatu energi.

Jika zat menyerap cahaya tampak dan UV maka akan terjadi perpindahan elektron dari keadaan
dasar menuju ke keadaan tereksitasi. Perpindahan elektron ini disebut transisi elektronik.
Apabila cahaya yang diserap adalah cahaya inframerah maka elektron yang ada dalam atom
atau elektron ikatan pada suatu molekul dapat hanya akan bergetar (vibrasi). Sedangkan
gerakan berputar elektron terjadi pada energi yang lebih rendah lagi misalnya pada gelombang
radio.

Atas dasar inilah spektrofotometri dirancang untuk mengukur konsentrasi suatu suatu yang ada
dalam suatu sampel. Dimana zat yang ada dalam sel sampel disinari dengan cahaya yang
memiliki panjang gelombang tertentu. Ketika cahaya mengenai sampel sebagian akan diserap,
sebagian akan dihamburkan dan sebagian lagi akan diteruskan.

Pada spektrofotometri, cahaya datang atau cahaya masuk atau cahaya yang mengenai
permukaan zat dan cahaya setelah melewati zat tidak dapat diukur, yang dapat diukur adalah I t/I0
atau I0/It (perbandingan cahaya datang dengan cahaya setelah melewati materi (sampel)). Proses
penyerapan cahaya oleh suatu zat dapat digambarkan sebagai berikut:
57

Gambar Proses penyerapan cahaya oleh zat dalam sel sampel. dari
gambar terlihat bahwa zat sebelum melewati sel sampel lebih terang atau
lebih banyak di banding cahaya setelah melewati sel sampel

Cahaya yang diserap diukur sebagai absorbansi (A) sedangkan cahaya yang hamburkan diukur
sebagai transmitansi (T), dinyatakan dengan hukum lambert-beer atau Hukum Beer, berbunyi:

“jumlah radiasi cahaya tampak (ultraviolet, inframerah dan sebagainya) yang diserap atau
ditransmisikan oleh suatu larutan merupakan suatu fungsi eksponen dari konsentrasi zat
dan tebal larutan”.

Berdasarkan hukum Lambert-Beer, rumus yang digunakan untuk menghitung banyaknya cahaya
yang hamburkan:

dan absorbansi dinyatakan dengan rumus:


58

dimana I0 merupakan intensitas cahaya datang dan It atau I1 adalah intensitas cahaya setelah
melewati sampel.

Rumus yang diturunkan dari Hukum Beer dapat ditulis sebagai:

A= a . b . c atau A = ε . b . c

Keterangan :

A = absorbansi

b atau terkadang digunakan l = tebal larutan (tebal kuvet diperhitungkan juga umumnya 1 cm)

c = konsentrasi larutan yang diukur

ε = tetapan absorptivitas molar (jika konsentrasi larutan yang diukur dalam molar)

a = tetapan absorptivitas (jika konsentrasi larutan yang diukur dalam ppm).

Secara eksperimen hukum Lambert-beer akan terpenuhi apabila peralatan yang digunakan
memenuhi kriteria-kriteria berikut:

1. Sinar yang masuk atau sinar yang mengenai sel sampel berupa sinar dengan dengan panjang
gelombang tunggal (monokromatis).
2. Penyerapan sinar oleh suatu molekul yang ada di dalam larutan tidak dipengaruhi oleh
molekul yang lain yang ada bersama dalam satu larutan.
3. Penyerapan terjadi di dalam volume larutan yang luas penampang (tebal kuvet) yang sama.
4. Penyerapan tidak menghasilkan pemancaran sinar pendafluor. Artinya larutan yang diukur
harus benar-benar jernih agar tidak terjadi hamburan cahaya oleh partikel-partikel koloid atau
suspensi yang ada di dalam larutan.
5. Konsentrasi analit rendah. Karena apabila konsentrasi tinggi akan menggangu kelinearan
grafik absorbansi versus konsntrasi.

Faktor-faktor yang sering menyebabkan kesalahan dalam menggunakan spektrofotometer dalam


mengukur konsentrasi suatu analit:

1. Adanya serapan oleh pelarut. Hal ini dapat diatasi dengan penggunaan blangko, yaitu larutan
yang berisi selain komponen yang akan dianalisis termasuk zat pembentuk warna.
2. Serapan oleh kuvet. Kuvet yang ada biasanya dari bahan gelas atau kuarsa, namun kuvet
dari kuarsa memiliki kualitas yang lebih baik.
59

3. Kesalahan fotometrik normal pada pengukuran dengan absorbansi sangat rendah atau sangat
tinggi, hal ini dapat diatur dengan pengaturan konsentrasi, sesuai dengan kisaran sensitivitas
dari alat yang digunakan (melalui pengenceran atau pemekatan).

Spektrum UV, VIS, UV-VIS dan IR

Data-data yang dikeluarkan oleh UV atau VIS dapat berupa absorbansi atau transmitansi yang
langsung dibaca pada spektrofotometer. Namun untuk UV, VIS, UV-VIS dan IR data yang
dikeluarkan dapat berupa spektrum jika telah dihubungkan dengan komputer.

Spektrum yang dikeluarkan oleh UV, VIS dan UV-VIS berupa pita yang lebar sedangkan pada
pita yang dikeluarkan oleh IR berupa garis atau puncak tajam.

Pita melebar dari UV-VIS disebabkan karena energi yang dimiliki selain menyebabkan transisi
elektronik terjadi pula rotasi dan vibrasi elektron dalam molekul. Sedangkan pada IR hanya
terjadi vibrasi elektron maka spektrum yang dihasilkan berupa garis atau puncak tajam. Selain
pada IR, spektrum berupa garis dapat terjadi pula pada spektroskopi NMR karena hanya terjadi
rotasi elektron.

Spektrum yang dihasilkan dari setiap spektroskopi berbeda antara satu dengan yang lainnya.
Para kimiawan spektrum UV, VIS maupun IR dapat dibedakan dengan mudah. Spektrum yang
dihasilkan oleh UV, VIS dan UV-VIS tidak berbeda jauh namun sangat sangat berbeda bila
dibanding spektrum IR. Untuk membedakannya dapat dilihat pada gambar:

Gambar spektrum UV. Namun spektrum dari spektrofotometer VIS dan UV-
VIS menyerupai spektrum UV
60

Gambar spektrum IR. Pita tertinggi mengarah ke bawah sedangkan pada UV pita yang
paling tinggi mengarah ke atas hal ini disebabkan spektrofotometer IR ditulis dalam
bentung bilangan gelombang

Bagian-bagian Spektrofotometer
61

Keterangan Gambar Spektrofotometer


1. Layar display
2. Pengatur ke menu awal
3. Tombol pengatur pilihan
4. Tombol pengatur abs
5. Tombol untuk menolkan abs (tare)
6. Tombol pilihan A/T/C
7. Tombol utility
8. Tomboluntuk mencetak data (print)
9. Penutup holder sel
Steker listrik
Tombol ON/OFF
Kuvet

Prinsip kerja spektrofotometer


Cahaya dengan panjang gelombang tertentu menembus larutan di mana sebagian cahayanya
akan diserap dan sebagiannya lagi akan diteruskan. Cahaya yang diteruskan masuk ke dalam
lubang kecil dan menembus cermin dan kemudian dipantulkan sehingg mengenai detector.

Kegunaan Alat
Untuk mengukur kadar atau konsentrasi suatu larutan dengan mengukur absorbansi dan
transmitran larutan tersebut dengan panjang gelombang maksimum.

Prosedur Kerja
1. Kuvet diisi dengan sampel
2. Panjang gelombang diatur, blanko dimasukkan. [T] ditekan untuk menolkan.
3. Sampel dimasukkan untuk mengetahui panjang gelombang maksimum dengan cara
mencoba 1 per 1 x.
4. Alat ditutup ketika cahaya melewati fase gas dari sampel (diasumsikan tidak ada cahaya yang
dipantulkan).
5. Cahaya masuk dan melewati sampel. Cahaya sebagian diserap dan sebagian lagi diteruskan
dan masuk ke dalam cermin yang ada di seberangnya.
6. Gas yang telah disaring masuk ke dalam blower (untuk serapan atom).
7. Cahaya yang masuk ke cermin mengenai layar yang ada dibelakangnya yang sudah
dihubungkan dengan defektor.
8. Data keluar pada layar komputer (data konsentrasi).
9. Kurva dibuat dari data-data konsentrasi yang di dapat dari sampel

Yang mempengaruhi hasil pengukuran sampel :


1. Kepekatan sampel
62

2. Udara
3. Kotornya kuvet akibat lemak
4. Cahaya
5. Volume

Hal-hal yang perlu diperhatikan


1. Selama pengoperasian, tegangan listrik harus konstan (gunakan stavolt).
2. Jika terjadi, putus fene (sekring) gantilah yang sesuai (lakukan kalibrasi ulang).
3. Jika lampu putus, ganti yang sesuai dan setting kembali kedudukan lampu.
4. Selama penyalaan sumber sinar (UV) jangan biarkan sinar keluar dan berinteraksi langsung
dengan mata.

Pemeliharaan dan perawatan


 Simpan alat di tempat sejuk, selimuti dengan penutup untuk menghindarkan debu.
 Secara berkala bersihkan cermin dan bagian dalam instrumen optis alat dengan kertas
penghisap/kain khusus untuk cermin (misal 1 kali dalam sebulan).
 Jangan terlalu sering menghidupkan dan mematikan alat.
 Untuk jenis lampu (sumber sinar) tertentu, memiliki waktu pakai tertentu, misal lampu Hg
(4000 menit) maka sebelum habis waktu pakai tersebut kita harus menyiapkan cadangan.
 Jangan terlalu takut untuk mempelajari seluk beluk alat.
 Untuk instrumen lain yang memakai alat digital dan printer maka harus dihindarkan dari semut
dan debu yang dapat merusak pemakaian elektriknya.

Trouble dan Trouble Shooting Spektrofotometer


No. Indikasi Error Kemungkinan Penyebab Perlakuan
-Volter tidak dalam jangkauan
Power button tidak -Kabel listrik tidak tersambung atau -Cek tegangan :
1
menyala rusak kisaran 90v - 264v
-Power supply rusak
Kipas mulai berjalan
2 Kipas rusak atau tidak tersambung Cek konektor kabel
dengan kecepatan tinggi
Kipas melambat – -Salah firmware
3 Load firmware baru
kecepatan rendah -Papan utama yang cacat
-Spring dari shutter longgar Menyambung kembali
4 shutter tidak klik
-Spring dari shutter Spring
LED panel depan tidak -LED Orang (lampu OFF)
5. Menghidupkan lampu
hijau -Instrumen LED merah yang rusak
63

BAB III
PENUTUP

a. Kesimpulan
 Alat Gelas Laboratorium atau Laboratory Glassware adalah berbagai peralatan laboratorium
yang terbuat dari kaca, yang digunakan dalam percobaan ilmiah, terutama dalam laboratorium
kimia dan biologi.
 Peralatan non gelas biasanya diperlukan sebagai pendukung dalam penggunaan peralatan
lain seperti peralatan gelas, peralatan pemanas dan peralatan untuk menimbang. berikut
adalah beberapa peralatan non gelas.
 Neraca analitis (timbangan) digunakan untuk menimbang berat suatu bahan, ada berbagai
jenis dan dibuat oleh berbagai pabrik. Yang paling penting diketahui adalah adalah kapasitas
dan ketelitian neraca.
 Mikroskop merupakan alat yang memungkinkan seseorang bisa mengamati dan mempelajari
struktur terkecil sebuah benda dan atau tubuh mikroorganisme semacam virus juga bakteri.
 Refraktometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur kadar/ konsentrasi bahan terlarut
berdasarkan indeks biasnya.
 Polarimeter merupakan alat yang digunakan untuk mengukur besarnya putaran optik yang
dihasilkan oleh suatu zat yang bersifat optis aktif yang terdapat dalam larutan.
 Colony counter merupakan alat yang berfungsi sebagai penghitung jumlah mikroba pada
cawan petri menggunakan sinar dan luv.
 Spektrofotometri merupakan salah satu metode dalam kimia analisis yang digunakan untuk
menentukan komposisi suatu sampel baik secara kuantitatif dan kualitatif yang didasarkan
pada interaksi antara materi dengan cahaya.

b. Saran
Pada saat kita melaksanakan praktikum menggunakan alat-alat laboratorium seperti alat gelas,
non gelas, neraca analitik, mikroskop, refraktometer, polarimeter, coloni counter, dan
spektofotometer sebaiknya kita harus mengetahui terlebih dahulu mengenai alat-alat tersebut,
meliputi fungsi, cara kerja, perawatan, dan lain-lain.
Selain itu kita juga harus mengetahui apa saja yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan
pada saat pelaksanaan praktikum di laboratorium, agar terhindar dari segala resiko kecelakaan
yang mungkin dapat terjadi di laboratorium.