Anda di halaman 1dari 17

MODUL PERKULIAHAN

Pengetahua
n Bahan
Material Kayu (Wood
Materials)

Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh

08
Teknik Teknik Industri MK16015 Ir. Agung Chandra, MT, MM, IPP

Abstract Kompetensi
Struktur Kayu, Physical properties, Mahasiswa/mahasiswi mengerti dan
Mechanical properties, Faktor yang memahami struktur kayu, sifat fisik
mempengaruhi Strength dan kayu, sifat mekanik kayu, dan
Properties Kayu mengetahui factor – factor yang
mempengaruhi kekuatan dan sifat kayu
Introduction
Kayu berbeda dari material konstruksi lainnya, hal ini dikarenakan dihasilkan dari pohon
hidup (living tree), dengan demikian kayu memiliki material properties yang berbeda sangat
nyata dengan material lainnya yang terdapat pada perancangan struktur.
Pohon (trees) dan kayu yang dipotong (lumber) dikelompokkan menjadi 2 bagian yakni
hardwood dan softwood.
Pada modul ini diterangkan mengenai struktur kayu, physical dan mechanical properties,
proses manufaktur untuk lumber dan glulam, modul ini dibatasi pada softwood species,
meskipun dapat diaplikasikan pada hardwood species

Struktur Kayu
Pertama – tama seseorang harus mengerti struktur dan anatomi kayu. Hal ini bisa
dikategorikan microstructure  bisa dicek dengan bantuan mikroskop dan yang kedua
adalah macrostrukcture  bisa dilihat dengan kasat mata

- Struktru kayu – Microstructure:


Structural building block yang paling utama pada kayu akni wood cell atau disebut
juga tracheid. Pada saat terbungkus rapat, wood cell membentuk system composite
yang kuat, dan ini sering dibandingkan dengan sejumlah sedotan yang banyak (a
bundle of drinking straws).

‘15 Pengetahuan Bahan – Modul 07


2 Dosen Pengampu
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Gambar 1. Struktur Kayu pada saat dibandingkan dengan sejumlah sedotan
Kemudian tiap individu wood cell menjadi lebih berkembang strukturnya karena
terdiri dari beberapa lapisan, filament reinforced, closed end tube ketimbang
homogeny, non reinforced straw

Gambar 2. Struktur Softwood

- Struktur Kayu – Macrostructure

Gambar 3. Tree cross section yang menunjukkan bahwa macrostructure bisa dilihat dengan
kasat mata

Cross section pohon dibagi menjadi 3 bagian yakni bark, cambium, dan wood. Bark
merupakan lapisan eksterior, dan berfungsi untuk melindungi pohon dan nutrient.
Cambium merupakan tissue (cell) yang tipis, continuous ring yang terletak diantara

‘15 Pengetahuan Bahan – Modul 07


3 Dosen Pengampu
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
bark dan kayu. Semua material yang ada di lapisan cambium adalah kayu yang
menyimpan zat berguna dan memberikan pohon sokongan struktur. Pada bagian
tengah kayu terdapat pith / bagian penting dimana pertumbuhan pohon dimulai
Kayu dibagi menjadi 2 kelas yakni sapwood dan heartwood. Sapwood terdiri dari sel
aktif dan tidak aktif dan terletak pada bagian luar pohon, bersebelahan dengan
cambium. Heartwood terdiri dari sel yang tidak aktif dan berbeda secara kimia dan
fisika dengan sapwood. Heartwood cell tidak berfungsi sebagai tempat penyimpan
makanan ataupun untuk transportasi sapwood. Heartwood terdiri dari extractive
substance yang disimpan dalam sel selama perubahan dari sapwood menjadi
heartwood. Simpanan ini membuat heartwood memiliki warna yang lebih gelap
dibandingkan dengan sapwood. Karena heartwood berasal dari sapwood, maka
hanya terdapat perbedaan kecil pada kekuatan (strength) ataupun berat keringnya
(dry weight).

Physical Properties of Wood


Physical properties kayu menggambarkan karakteristik kuantitatif kayu dan behaviornya
terhadap pengaruh eksternal. Yang termasuk physical properties adalah moisture content,
density, dimensional stability, thermal dan pyrolytic (fire) properties, natural durability,
dan ketahanan terhadap kimia. Dengan mengetahui physical properties kayu maka dapat
mengetahui juga kinerja dan kekuatan kayu yang digunakan dalam aplikasi struktur.
Properties itu sendiri bervariasi terhadap 3 sumbu:
- Longitudinal (L)
- Radial ( R )
- Tangential (T).

Gambar 4. Tiga sumbu utama kayu


Moisture Content

‘15 Pengetahuan Bahan – Modul 07


4 Dosen Pengampu
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Didefinisikan dengan:

Tergantung dari spesiesnya, moisture content kayu yang hidup (living woods) berkisar 30 sd
lebih dari 250%. Pada kebanyakan spesies, moisture content sapwood lebih tinggi
dibandingkan dengan heartwood

Tabel 1. Moisture content

Moisture content pada cell wall yang bersatu dengan air, tapi tidak ada air yang bebas pada
lubang cell-nya, maka disebut fiber saturation point, dan berkisar 30 persen.

Gambar 5. Representasi wood moisture content

‘15 Pengetahuan Bahan – Modul 07


5 Dosen Pengampu
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Kayu merupakan hygroscopic material yang menyerap moisture pada lingkungan yang
lembab dan kehilangan moisture-nya pada lingkungan yang kering. Moisture content kayu
merupakan hasil kondisi atmosfir dan tergantung pada kelembaban dan suhu udara di
sekitarnya. Pada kondisi kelembaban dan suhu yang konstan, maka tercapailah yang
dinamakan dengan equilibrium moisture content (EMC).
Waktu untuk mencapai EMC ini tergantung pada ukuran dan permeabilitas, suhu, dan
perbedaan antara moisture content mula – mula dengan eventual equilibrium moisture
content untuk lingkungan.
Hubungan antara EMC, kelembaban relative (relative humidity) dan suhu ditunjukkan pada
table berikut:

Tabel 2. Moisture content of wood in equilibrium dengan kondisi dry bulb temperature dan
kelembaban relatif

Dimensional Stability
Wood akan stabil pada saat moisture content diatas titik fiber saturation. Jika lebih rendah
dari titik fiber saturation, maka wood akan menciut pada saat tidak ada kelembaban dan
akan menjadi baik (swell) pada saat mendapatkan kelembaban.
Wood shrinkage merupakan fungsi linear dari moisture content-nya dan dimensinya akan
berubah kurang lebih 24%. Untuk penghitungan struktur, wood harus dipertimbangkan
bahwa perubahan dimensi akan terjadi dan wood bukanlah material yang static.

Density
Didefinisikan sebagai mass per unit volume pada kondisi yang dispesifikasikan. Density
tergantung pada 2 faktor yaknik berat dari kayu sendiri (weight of the basic wood substance)
dan berat kelembaban yang tertahan dalam kayu (weight of moisture retained in the wood).

‘15 Pengetahuan Bahan – Modul 07


6 Dosen Pengampu
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Value untuk density pada umumnya tergantung pada berat kayu dan volume pada salah
satu kondisi berikut:
a. Ovendry dimana moisture content adalah nol
b. Green, dimana moisture content lebih besar dari 30 percent
c. In use, dimana moisture content antara ovendry dengan green

Untuk aplikasi jembatan, density 50 lb/ft2 biasanya digunakan sebagai density rata – rata
untu semua species dan moistre content

Specific Gravity
Digunakan sebagai relative moisture of the amount of wood substance yang terdapat pada
sample kayu. Untuk keperluan engineering, specific gravity pada umumnya didasarkan pada
ovendry weight dan volume 12 % moisture content.

Thermal Expansion
Untuk dry wood, thermal expansionnya positif di seluruh arah, dan akan melebar pada saat
dipanaskan dan akan berkontraksi pada saat didinginkan. Wood merupakan insulator yang
baik dan tidak merespon secara tepat pada saat terjadi perubahan suhu. Pada saat aplikasi
jembatan, efek ini diabaikan

Coefficients of Friction
Tergantung pada moisture content dan kasarnya permukaan (roughness of surface). Friksi
ini akan meningkat pada saat moisture meningkat mendekatai titik fiber saturation. Pada
saat direndam dalam air, maka koefisien friksi akan menurun.

Table 3. Average coefficients of friction for wood

‘15 Pengetahuan Bahan – Modul 07


7 Dosen Pengampu
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Electrical Conductivity
Kayu kering merupakan insulator listrik yang baik dan hanya mengalami perubahan yang
kecil dalam konduktivitas pada spesies dan density. Pada aplikasi jembatan, hubungan
antara konduktivitas listrik dan moisture content digunakan sebagai dasar ketahanan
terhadap listrik.

Pyrolytic Properties
Pyrolytic atau fire properties dari kayu merupakan properties yang sering disalah artikan.
Pada saat kayu terbakar, orang mengira bahwa performance kayu menjadi sangat jelek,
akan tetapi kayu sebenarnya merupakan fire resistance yang paling baik dibandingkan
dengan bahan konstruksi lainnya.
Pada saat kayu dibakar, maka bagian luarnya akan mulai terbakar. Akan tetapi kayu yang
terbakar, ada lapisan char yang terbentuk yang berfungsi sebagai insulator bagi kayu yang
belum7 terbakar. Pada saat lapisan char tersebut meningkat maka pembakaran akan
menjadi melambat.

Gambar 6. Zona Degradasi pada potongan kayu yang terbakar

Kayu tidak mengalami distorsi pada suhu tinggi dibandingkan dengan material lainnya.
Contoh: material steel, kekuatannya akan tersisa 20% saja jika terkena suhu 1500 derajat
Fahrenheit.

Natural Durability

‘15 Pengetahuan Bahan – Modul 07


8 Dosen Pengampu
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Properties ini merupakan ketahanan untuk melemah dan serangan serangga, dan
tergantung pada species dan anatomical characteristics.
Heartwood pada beberap spesies memiliki durability yang lebih besar dalam tanah (ground)
atau lingkungan air laut (marine environment). Baldcypress (old growth), cedar, dan redwood
merupakan spesies yang diperdagangkan di Amerika, dan telah dikenal durability-nya. Agar
performance-nya seragam, maka kayu yang digunakan diberikan treatment pelindung kayu
untuk melindungi struktur agar tidak rusak selama beberapa tahun.

Table 4. Pengelompokkan spesies menurut daya tahan terhadap kerusakan

Chemical Resistance
Kayu tahan terhadap beberapa zat kimia. Dalam kasus tertentu, asam yang kuat atau basa
yang kuat dapat menyebabkan kayu rusak. Asam yang kuat akan menyerang cellulose dan
hemicelluloses, yang menyebabkan kayu kehilangan berat dan kekuatannya. Karena kayu
tahan terhadap kimia, maka kayu memiliki kelebihan dibandingkan dengan material lainnya
yang mudah rusak seperti steel dan concrete.

Mechanical Properties of Wood


Mechanical properties menggambarkan karakteristik bahan dalam merespon gaya eksternal,
diantaranya elastic properties yang mengukur deformasi dan distorsi; sedangkan strength
properties mengukur ketahanan beban. Mechanical properties biasanya dideskripsikan
dalam stress (force per unit area) dan strain (deformation per unit length).

Elastic Properties

‘15 Pengetahuan Bahan – Modul 07


9 Dosen Pengampu
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Berhubungan dengan ketahanan material terhadap deformasi pada saat diberikan stress
kepada kemampuan material untuk mendapatkan dimensi asal pada saat stress tersebut
dipindahkan.
Wood tidak elastic karena pada saat beban dipindahkan, kayu tidak langsung kembali ke
bentuk asalnya. Meskipun kayu secara teknis dipertimbangkan sebagai material
viscoelastic, namun pada aplikasi teknik dianggap memiliki sifat elastic.
Untuk material isotropic, elastic properties digambarkan memiliki 3 konstanta elastic yakni:
1. Modulus elasticity (E)
2. Shear modulus (G)
3. Poisson ratio (µ)
Karena kayu merupakan orthotropic, maka 12 constant dibutuhkan untuk mendeskripsikan
elastic behavior: 3 moduli elasticity; 3 moduli rigidity; dan 6 poisson ratio.
Konstanta yang sangat banyak dipakai adalah elasticity dalam longitudinal.

Table 5. Ratio elastic untuk beberapa spesies

Strength Properties
Termasuk yang berhubungan dengan compression, tension, shear, bending, torsion, dan
shock resistance.
Perbandingan antara compression, tension, dan bending dijelaskan pada masing – masing
gambar dibawah ini:

‘15 Pengetahuan Bahan – Modul 07


10 Dosen Pengampu
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Gambar 7. Compression

Gambar 8. Tension

‘15 Pengetahuan Bahan – Modul 07


11 Dosen Pengampu
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Gambar 9, Shear

Gambar 10. Bending

‘15 Pengetahuan Bahan – Modul 07


12 Dosen Pengampu
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Torsion
Secara normal bukanlah factor untuk perancangan jembatan, dan sangat sedikit informasi
yang tersedia mengenai mechanical properties kayu pada torsi.

Shock Resistance
Merupakan kemampuan bahan untuk menyerap secara cepat dan memisahkan diri, energy
by deformation.

Faktor Yang Mempengaruhi Kekuatan (Strength) dan Properties


lainnya dari Kayu
Ada 3 faktor yakni:
1. Anatomical factor: specific gravity, slope of grain, knots, abnormal wood,
compression failure, dan shake and pitch pockets
2. Environmental factor: moisture content, temperatures, decay and insect damage, dan
ultraviolet degradation
3. Service factor: duration of load, creep, fatigue, dan treatment factors

- Anatomical factor
Specific gravity:
Berhubungan dengan berat kayu per unit volume. Semakin tinggi specific gravity maka
semakin banyak bahan kayunya per unit volume dan semakin tinggi kekuatannya. Specific
gravity tergantung pada jumlah air yang ada dalam kayu. Secara umum, specific gravity
kayu secara proporsional berhubungan dengan jumlah latewood. Semakin tinggi persentase
latewood maka semakin tinggi specific gravity dan kekuatannya.

Slope of Grain:
Digunakan untuk menggambarkan penyimpangan dalam orientasi serat kayu dari line
parallel ke pinggi specimen. Slope of grain memiliki peranan penting pada mechanical
properties kayu, kekuatan kayu akan menurun dengan meningkatnya grain deviation.
Gambar dibawah ini menggambarkan pengukuran slope of grain:

‘15 Pengetahuan Bahan – Modul 07


13 Dosen Pengampu
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Gambar 11. Pengukuran slope of grain

Knots
Pada saat kayu dipotong, maka akan ada 2 type knot yakni:
1. Intergrown knots
2. Encase knots
Knot mengurangi kekuatan kayu karena menggangu kelangsungan serat kayu. Knot
tergantung pada ukuran, lokasi, bentuk, soundness, dan jenis stress.

Abnormal Wood
Yang paling penting berhubungan dengan abnormal wood adalah reaction wood dan
juvenile wood. Reaction wood merupakan abnormal wood yang dihasilkan oleh pohon dalam
lingkungan yang tidak teratur atau tekanan fisik; sedangkan juvenile wood dihasilkan oleh
kayu pada tahun tahun pertama pertumbuhan dalam struktur sel kayu yang berbeda dalam
kayu yang kemudian berkembang di tahun – tahun berikutnya.

Compression failure
Extreme bending pada pohon yang berasal dari kondisi lingkungan atau mishandling selama
panen atau sesudah panen dapat menghasilkan compression stress to grain yang
menghasilkan kegagalan compression pada struktur kayu. Kegagalan compression dapat
menghasilkan low shock resistance dan strength properties, khususnya pada tension
dimana strength dapat kurang dari 1/3 clear wood. Compression yang sedikitpun dapat
menyebabkan kayu menjadi berkurang kekuatannya dan mudah patah.

Shake and Pitch Pocket


Dua karakteristik alam dalam struktur kayu yang dapat mempengaruhi kekuatannya adalah
shake dan picth pocket. Pada specimen bending, shakes dapat mengurangi kekuatan geser
secara banyak. Pitch pocket umumnya tidak memiliki efek yang significant pada kekuatan

‘15 Pengetahuan Bahan – Modul 07


14 Dosen Pengampu
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
kayu tetapi pitch pocket yang banyak dapat menunjukkan keberadaan shake dan kurangnya
ikatan diantara lapisan pertumbuhan tahunan dan dapat mengurangi kekuatan khususnya
pada kekuatan geser.

Gambar 12. Pitch pocket dan shake

- Environmental Factor
Moisture content
Kekuatan dan kekakuan kayu berhubungan dengan moisture content antara kondisi ovendry
dan fiber saturation point. Pada saat clear wood dikeringkan dibawah fiber saturation point,
maka strength dan stiffness akan meningkat, begitu juga dengan sebaliknya. Kayu dengan
karakteristik pengurang kekuatan kecil maka properties akan meningkat secara linear
dengan menurunkan moisture content. Pada kayu dnegan large strength reducing
characteristics, mungkin tidak ada peningkatan kekuatan pada saat kayu mengering karena
potential strength meningkat akan dinetralkan dengan kehilangan yang disebabkan oleh
penyusutan dan seasoning defect.
Tabel 6. Efek Moisture content pada mechanical properties clear wood 68 F

Temperature

‘15 Pengetahuan Bahan – Modul 07


15 Dosen Pengampu
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Secara umum mechanical properties akan menurun pada saat dipanaskan dan meningkat
pada saat didinginkan. Permanent reduction pada kekuatan menghasilkan degradasi kayu
pada saat diekspos ke suhu yang lebih tinggi dari 150 derajat Fahrenheit.

Decay and Insect damage


Kayu rentan terhadap kerusakan yang disebabkan decay atau serangga. Agar tahan
serangga maka perlu diberikan zat pelindung yang bisa melindungi kayu terhadap decay
dan insect attack.

Ultraviolet degradation
Pada saat kayu diekspos ke ultraviolet maka akan mengalami petrochemical degradation
terutama pada ligni component dan menghasilkan karakterisitik grayish wood color pada
proses yang dikenal dengan weathering. Treatment yang baik akan melindungi kayu dari
cuaca.

- Service Factor:
Duration of load
Semakin pendek durasi pembebanan maka akan semakin tinggi kekuatan kayunya.

Creep
Dalam kondisi pembebanan, kayu mengalami deformasi yang dikenal dengan creep dan
tidak akan kembali lagi pada saat beban dipindahkan. Creep terjadi secara perlahan lahan
tapi mantap yang akan meningkatkan suhu dan moisture content.

Fatigue
Merupakan kerusakan progresif yang terjadi pada material yang rentan terhadap cyclic
loading. Fatigue tidak termasuk dalam pertimbangan perancangan jembatan

Treatment factor
Pada saat kayu diberikan treatment yang tepat dan memahami keterbatasan, maka tidak
ada gangguan yang ditemukan pada material kayu
Namun pada saat diberikan fire retardant chemical, maka akan mengurangi kekuatan kayu.
Secara umum, fire retardant tidak digunakan pada aplikasi jembatan.

DAFTAR PUSTAKA

‘15 Pengetahuan Bahan – Modul 07


16 Dosen Pengampu
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
- Groover, M.P. 2002. Fundamentals of Modern Manufacturing: Physical Properties of
Materials. John Wiley and Sons.
- Idol, James D., Lehman, Richard L. 2004. Chapter 12: Materials: Polymer. CRC
Press
- Kailas, S.V. Material Science: Chapter 02, Indian Institute of Science, Bangalore,
India.
- Roylance, D. 2008. Mechanical Properties of Material, Massachussets Institute of
Technology (MIT).
- Shelby, Chapter 3: Glass Making.
- The Army Institute for Professional Development, Metal Properties, Characteristics,
Uses, and Codes, Army Correspondence Course Program, 7th edition.
- Tuttle, Mark E. 1992. A Brief Introduction to Polymeric Materials, Department of
Mechanical Engineering, University of Washington, Seattle, Washington.
- U.S. Department of Energy, Pacific Northwest National Laboratory, Introduction to
Materials Science and Technology.
- University of Tennessee, Department of Material Science and Engineering,
Introduction to Material Science and Engineering, Chapter 01 & Chapter 13.
- Van Vlack, L.H. Elements of Material Science and Engineering. Addison Wesley,
Massachussets
- White, Rachel L. 2007. Glass as a Structural Material, a Report for Master of
Science, Kansas State University, Manhattan, Kansas
- -, Chapter 3: Properties of Wood and Structural Wood Product

‘15 Pengetahuan Bahan – Modul 07


17 Dosen Pengampu
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id