Anda di halaman 1dari 1

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kentang merupakan makanan yang sangat populer, digemari berbagai kalangan
terutama kentang yang diolah menjadi kentang goreng tipis (french fries), selain itu
kentang juga dapat diolah menjadi perkedel, keripik kentang dan sebagai bahan
tambahan dalam sayuran. Kentang pada sayuran dapat mengurangi kandungan
garam yang berlebihan. Kentang berpotensi sebagai salah satu makanan alternatif
pengganti beras. Hal ini disebabkan karena kentang mengandung karbohidrat yang
tinggi. Produksi kentang di Jawa Barat pada tahun 2015 sebesar 259.228 ton
(Kementerian Pertanian RI dalam Sub Sektor Hortikultura, 2016). Hal ini
menunjukkan bahwa limbah kulit kentang yang dihasilkan cukup besar. Berdasarkan
data tersebut, maka perlu adanya pengurangan limbah kulit kentang dari hasil
industri olahan makanan.
Beberapa orang memanfaatkan kulit kentang sebagai pakan ternak, karena
bahannya mudah dicerna khususnya bagi ternak sapi. Tetapi pada umumnya kulit
kentang sering dibuang begitu saja menjadi sampah. Untuk itu agar kulit kentang
semakin bermanfaat, kulit kentang dapat digunakan sebagai sumber energi dengan
cara diolah menjadi bioetanol.
“Energi merupakan salah satu kebutuhan makhluk hidup yang terus meningkat
seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk. Sumber utama energi adalah
minyak mentah yang berasal dari bahan baku fosil yang tidak terbaharukan. Pada
saat ini, bahan baku fosil tersebut semakin menipis, maka dari itu diperlukan suatu
alternatif untuk memecahkan permasalahan kebutuhan energi tersebut” (Saud dalam
Devi, Iryanti dan Mayun, 1990).
Kulit kentang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku bioetanol karena, kulit
kentang mengandung pati (polisakarida). Kemudian dalam pengolahannya, masih
memerlukan proses hidrolisis sebelum difermentasi menjadi etanol. Pengolahan kulit
kentang menjadi bioetanol sangat bermanfaat terutama untuk mengurangi sampah