Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Suppositoria merupakan salah satu sediaan farmasi yang
penggunaannya melalui lubang atau celah pada tubuh. Menurut Ansel,
Suppositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang
diberikan melalui rectal,vaginal atau uretra .Bentuk dan ukurannya harus
sedemikian rupa sehingga dapat dengan mudah dimasukkan ke dalam
lubang atau celah yang diinginkan tanpa meninggalkan kejanggalan begitu
masuk, harus dapat bertahan untuk suatu waktu tertentu.
Sediaan suppostoria biasanya digunakan dalam keadaan-keadaan
tertentu saja misalnya untuk orang yang sedang pingsan, atau pasien yang
tidak memungkinkan untuk sediaan oral maupun injeksi. Sediaan dapat
bekerja secara sistemik maupun lokal. Untuk suppositoria dengan efek
sistemik yaitu sediaan akan masuk ke pembuluh-pembuluh darah melalui
mukosa yang terdapat pada rectum ataupun vagina. Sedangkan untuk efek
lokal sediaan akan ditahan pada bagian dalam rektum atau vagina dan
dibiarkan meleleh atau melunak untuk mencapai efek lokal yang
diinginkan. Adapun metode-metode yang digunakan dalam pembuatan
suppositoria yaitu dengan tangan, cetak tuang, dan kompresi.
Dalam formulasi ini, zat aktif aminofilin dibuat dalam bentuk
suppositoria yang diindikasikan sebagai obat anti asma, yang digunakan
melalui rektum. Pembuatan suppositoria dengan zat aktif aminofilin
dipilih berdasarkan sifat dari zat aktif yang dapat menginfeksi saluran
cerna apabila dibuat dalam sediaan tablet, menginfeksi saluran nafas
apabila dibuat dalam bentuk aerosol, dan mempengaruhi kestabilan zat
aktif apabila dibuat dalam larutan injeksi.
I.2 Maksud dan Tujuan
I.2.1 Maksud Percobaan
Adapun maksud dari percobaan ini yaitu untuk mengetahui cara
pembuatan suppositoria dengan metode tertentu.
I.2.2 Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini adalah membuat sediaan suppositoria
dengan metode cetak tuang.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Teori Umum


II.1.1 Pengertian Suppositoria
Suppositoria adalah bentuk sediaan padat yang pemakaiannya dengan
cara memasukkan melalui lubang atau celah pada tubuh, dimana ia akan
melebur, melunak atau melarut dan memberikan efek lokal atau sistemik.
Suppositoria umumnya dimasukkan melalui rektum, vagina, kadang-kadang
melalui saluran urin dan jarang melalui telinga dan hidung (Ansel, 2008).
Suppositoria adalah sediaan sediaan padat, melunak, melumer, dan
larut pada suhu tubuh, digunakan dengan cara menyisipkan ke dalam
rektum, berbentuk sesuai dengan maksud penggunaannya, umumnya
berbentuk torpedo (Formularium Nasional, 1979). Bentuk dan ukuran
suppositoria harus sedemikian rupa sehingga dapat dengan mudah
dimasukkan kedalam lubang atau celah yang diinginkan tanpa
menimbulkan kejanggalan saat menggunakan.
Selain itu, suppositoria merupakan bentuk sediaan obat padat yang
umumnya dimaksudkan untuk dimasukkan ke dalam rektum, vagina, dan
jarang digunakan untuk uretra. Suppositoria rektal dan uretral biasanya
menggunakan pembawa yang meleleh atau melunak pada temperatur tubuh,
sedangkan suppositoria vaginal kadang-kadang disebut pessaries, juga
dibuat sebagai tablet kompresi yang hancur dalam cairan tubuh (Lachman,
2008).
Suppositoria dapat memberikan efek lokal dan efek sistemik yaitu
utuk mendapatkan efek lokal basis suppositoria meleleh, melunak, dan
melarut menyebarkan obat yang dibawanya ke jaringan-jaringan di daerah
tersebut. Obat yang dimaksudkan untuk ditahan dalam ruangan tersebut agar
mendapatkan keja lokal. Sedangkan untuk efek sistemik membran mukosa

3
rektum dan vagina memungkinkan absorpsi dari kebanyakan obat dapat
larut.
II.I.2 Macam-Macam Suppositoria
macam suppositoria dapat dibagi sesuai penggunaannya yaitu (Ansel,2008):
a. Suppositoria untuk rectum (rectal)
Suppositoria untuk rektum umumnya dimasukkan dengan jari
tangan. Biasanya suppositoria rektum panjangnya ± 32 mm (1,5 inchi),
dan berbentuk silinder dan kedua ujungnya tajam. Bentuk suppositoria
rektum antara lain bentuk peluru, torpedo atau jari-jari kecil, tergantung
kepada bobot jenis bahan obat dan basis yang digunakan. Beratnya
menurut USP sebesar 2 g untuk yang menggunakan basis oleum cacao
b. Suppositoria untuk vagina (vaginal)
Suppositoria untuk vagina disebut juga pessarium biasanya berbentuk
bola lonjong atau seperti kerucut, sesuai kompendik resmi beratnya 5 g,
apabila basisnya oleum cacao.
c. Suppositoria untuk saluran urin (uretra)
Suppositoria untuk untuk saluran urin juuga disebut bougie, bentuknya
rampiung seperti pensil, gunanya untuk dimasukkan kesaluran urin pria
atau wanita. Suppositoria saluran urin pria bergaris tengah 3-6 mm
dengan panjang ± 140 mm, walaupun ukuran ini masih bervariasi satu
dengan yang lainnya. Apabila basisnya dari oleum cacao beratnya ± 4
g. Suppositoria untuk saluran urin wanita panjang dan beratnya ½ dari
ukuran untuk pria, panjang ± 70 mm dan beratnya 2 g, inipun bila
oleum cacao sebagai basisnya.
II.1.3 Beberapa Faktor Absorbsi Obat dari Suppositoria Rektum
Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi Absorbsi Obat
dari Suppositoria Rektum yaitu (Ansel, 2008):
1. Faktor Fisiologi
Pada waktu isi kolon kosong, rektum hanya berisi 2- 3 mL.
Cairan mukosa yang inert. Dalam keadaan istirahat rektum tidak ada
gerakan, tidak ada villi dan mikrovilli pada mukosa rektum. Akan

4
tetapi terdapat vaskularisasi yang berlebihan dari bagian sub mukosa
dinding rektum dengan darah dan kelenjar limfe.
Diantara faktor fisiologi yang mempengaruhi faktor absorbsi
obat dari rektum adalah kandungan kolo, jalur sirkulasi, dan pH serta
tidak adanya kemampuan mendapar dari cairan rektum.
2. Faktor Fisika Kimia dari Obat dan Basis Suppositoria
Faktorfisika kimia mencakup sifat-sifat seperti kelarutan relatif obat
dalam lemak dan air serta ukuran partikel dari obat yang menyebar.
Faktor fisika kimia basis melengkapi kemampuannya melebur,
melunak, atau melarut pada suhu tubuh. Kemampuannya melepaskan
obat dan sifat hidrofilik atau hidrofobiknya.
II.1.4 Bahan Dasar Suppositoria
Klasifikasi Basis Suppositoria yaitu (Ansel,2008):
1. Basis berminyak/ berlemak
Basis berlemak merupakan basis yang paling banyak dipakai karena
pada dasarnya oleum cacao termasuk kelompok ini. Diantara bahan-
bahan yang bisa digunakan yaitu: macam-macam asam lemakyang
dihigrogenasi dari minyak dari minyak palem dan minyak biji kapas.
2. Basis yang larut dalam air dan basis bercampur dengan air
Komponen yang penting dari basis yang larut dalam air dan basis
bercampur dengan air adalah gelatin gliserin dan basis PEG. Dimana
basis gliserin paling sering digunakan dalam pembuatan suppositoria
vagiana dimana memang diharapkan efek setempar yang cukup lama
dari unsur obatnya.
3. Basis Lainnya
Dalam kelompok ini termasuk campuran bahan bersifat lemak dan yang
larut dalam air atau bercampur dengan air. Bahan-bahan ini mungkin
berbentuk zat kimia atau cmpuran fisika.

5
II.1.5 Metode Pembuatan Suppositoria
Metode yang bisa digunakan dalam pembuatan suppositoria yaitu:
a. Dengan tangan
Yaitu dengan cara menggulung basis suppositoria yang telah
dicampur homogen dan mengandung zat aktif, menjadi bentuk yang
dikehendaki. Mula-mula basis diiris, kemudian diaduk dengan bahan-
bahan aktif dengan menggunakan mortir dan stamper, sampai
diperoleh massa akhir yang homogen dan mudah dibentuk. Kemudian
massa digulung menjadi suatu batang silinder dengan garis tengah dan
panjang yang dikehendaki. Amilum atau talk dapat mencegah
pelekatan pada tangan. Batang silinder dipotong dan salah satu
ujungnya diruncingkan.
II.2 Rancangan Formula
Tiap suppositoria (2 gram) Mengandung :
Aminofilin 250 mg
Oleum cacao 85,914 %
Cera alba 4%
α-Tokferol 0,05 %
II.3 Alasan Penambahan
II.3.1 Alasan Formulasi
 Suppositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bentuk yang
diberikn melalui rektal, vagina atau uretra umumnya meleleh,
melunak, atau melarut pada suhu tubuh (Dirjen POM, 16).
 Aminofilin dibuat dalam bentuk suppositoria karena zat aktif ini
dapat mengiritasi saluran cerna karena dapat meningkatkan
sekresi asam lambung, sehingga dengan dibuat dalam bentuk
suppositoria maka dapat menghindari kontak langsung dengan
saluran cerna (Rusdi, 9).
 Zat aktif ini tidak dibuat dalam bentuk sediaan inhaler atau
aerosol seperti obat asma pada umumnya karena, sediaan aerosol
diperlukan alat dan metode khusus, sukar mengatur dosis, sering

6
mengiritasi epitel paru-paru, sekresi saluran nafas, toksisitas pada
jantung. Oleh karena itu dibuat dalam bentuk sediaan
suppositoria, karena sediaan suppositoria tidak melalui saluran
pernafasan sehingga suppositoria tidak akan mngiritasi saluran
pernafasan (Sanjoyo, 15).
 Zat aktif aminofilin ini tidak dibuat dalam bentuk injeksi, karena
aminofilin dalam larutan apabila terpapar dengan cahaya matahari
dan oksigen, maka akan terurai menjadi 2,3 dimetillalantoin, N.N-
dimetil-oksiamida- dan amonia (Hadyanti, 16).
 Aminofilin suppositoria ini dibuat dalam bentuk torpedo, karena
cara penggunaannya melalui atau secara rektal. Penggunaan rektal
ini ditujukan untuk mempercepat kerja obat seta sifatnya lokal
dan sistemik. Selain itu, suppositoria ini tidak dibuat untuk
penggunaan vagina dalam bnetuk ovula, karena sediaan ovula
umumnya untuk keputihan atau infeksi jamur (Sanjoyo, 15).
 Pembuatan suppositoria ini dibuat dengan metode cetak tuang,
karena metode ini yang paling umum digunakan untuk membuat
suppositoria skala kecil dan skala besar. Selain itu, metode ini
juga, lebih mudah dibandingkan dengan metode tangan dan
mencetak kompresi (Lachman, 1180).
 Suppositoria ini dibuat dengan kandungan zat aktif sebesar 250
mg dalam setiap suppositoria karena menurut fornas kekuatan zat
aktif aminoilin dalam bentuk suppositoria adalah 250 mg (Dirjen
POM, 19).
 Suppositoria ini dibuat dengan aturan pakai 2 kali 1 karena
menurut literatur dosis untuk orang dewasa 3 kali 1 dengan zar
aktif sebesar 200 mg, tetapi menurut literatur lain dengan kadar
zat aktif 250 mg dipakai 1 sampai 2 kali sehari. Hal ini juga
disesuaikan dengan pernyataan literatur lain, dimana aminofilin
baik oral, rektal, maupun intravena diberikan tiap 6 – 8 jam (IAI,
49; Fornas, 19; Dirjen POM, 82).

7
 Aksi sistemik
Obat yang diabsorpsi melalui rektum, tida seperti yang di
absorpsi setelah pemberian secara pemberian secara oral, tidak
melalui sirkulasi portal sewaktu perjalanan pertamanya dalam
sirkulasi yang lazim, dengan cara demikian obat yang
dimungkinkan untuk tidak dihancurkan dalam hati untuk
memperoleh efek sistemik. Pembuluh hemoroid bagian bawah
yang mengelilingi kolon menerima obat yang diabsorpsi lalu
mengedarkannya ke seluruh tubuh tanpa melalui hati. Sirkulasi
melalui getah bening juga membantu pengedaran obat yang
digunakan melalui rektum (Ansel, 579).
 Bentuk-bentuk kristal oleum cacao (Lachman, 1169):
Minyak coklat diperkirakan mampu berada dalam empat
keadaan kristal :
1. Bentuk α meleleh pada 24oC, diperoleh dengan pendinginan
secara tiba-tiba minyak coklat yang sedang meleleh sampai
suhu 0oC.
2. Bentuk β1, diperoleh dari minyak coklat yang dicairkan dan
diaduk aduk pada 18 – 23oC, titik lelehnya terletak antara 28 –
31oC.
3. Bentuk β1 secara perlahan lahan menjadi bentuk β yang stabil,
yang mencair antara 34 dan 35oC, perubahan ini disertai oleh
penyusutan volume.
4. Bentuk γ, meleleh pada 18oC, diperoleh dengan menuang
minyak coklat dingin (20oC), sebelum minyak coklat
memadat, ke dalam suatu wadah yang telah didinginkan pada
temperatur sangat dingin.
 Suppositoria dengan basis minyak coklat pada penyimpanan,
diisimpan pada temperatur lemari pendingin atau temperatur
sejuk yang sama. Suhu lemari pendingin 2 - 8oC (Lachman,
1195).

8
 Suhu peleburan waterbath untuk oleum cacao pada suhu 30 –
35oC atau 35oC (Parrot, 264; Scovile’s, 337).
 Berat tiap suppositoria yang digunakan adalah 2 gram, dimana hal
ini sesuai dengan tetapan USP menyataan berat suppositoria
untuk orang dewasa dengan basis oleum cacao adalah 2 gram
(Ansel, 576).
 Obat yang digunakan memalui rektum dalam bentuk suppositoria
untuk mendapatkan efek sistemiknya antara lain terdiri dari
aminofilin, dan teofilin dipakai untuk meghilangkan asma (Ansel,
578).
 Cara kalibrasi cetakan (Baviskar, 22):
1. Dibuat dan dicetak suppositoria dari basis saja.
2. Dikeluarkan hasil cetakan dari cetakan rata-ratanya (bagi
pemakaian basis tertentu).
3. Suppositoria dilebur dengan hati-hati dalam gelas ukur untuk
menentukan volume cetakan.
4. Volume leburan ditentukan untuk keseluruhan dan rata-rata.
 Perbedaan cera alba dan cera flava (Dirjen POM, 140-141):
- Cera alba (malam putih) dibuat dengan memutihkan malam
yang diperoleh dari sarang lebah (Apis merllifer. L) atau
spesies Apis lain. Sedangkan cera flava diperoleh dari sarang
(Apis merllifer. L) atau spesies Apis lainnya.
- Cera alba pemeriannya berupa zat padat, lapisan tipis bening,
putih kekuningan, bau khas lemah. Sedangkan cera flava
pemeriannya berupa zat padat, coklat kekuningan, bau enak
seperti madu, agak rapuh jika dingin dan menjadi elastik jika
hangat.
- Suhu lebur cera alba dari 62 – 64oC, sedangkan cera flava dari
62 – 65oC.
- Cera alba agak sukar larut dalam etanol 95 % sedangkan cera
flava larut dalam etanol 95 %.

9
 Alasan kontra indikasi dan efek samping aminofilin (Mardjono,
252-257).
Derivat xantin yang terdiri dari kafein, teofilin dan
theobromin ialah alkaloid yang terdapat dalam tumbuhan. Zat
aktif dalam formulasi ini yaitu aminofilin yang merupakan garam
dari teofilin. Efek samping teofilin 250 mg atau lebih pada
pengobatan asma bronkial mirip dengan gejala perngsangan
kafein terhadap SSP. Bila dosis metil xantin ditinggikan akan
menyebabkan gugup, gelisah, insomnia, tremor, hiperostesia,
kejang lokal atau kejang umum. Kejang akibat teofilin ternyata
lebih kuat dibandingkan akibat kafein. Kejang sering terjadi bila
kadar teofilin darah 50 % lebih tinggi daripada kadar terapi (10 –
20 µg/ mL.
Dosis sedang pada kucing dan manusia menyebabkan
kenaikan sekresi lambung yang berlangsung lama. Kombinasi
histamin dan kafein memperoleh efek potensiasi pada peninggian
sekresi pepsin dan asam. Pada hewan coba didapati perubahan
patologis dan pembentuan ulkus pada saluran cerna akibat
pemberian kafein dosis tunggal yang tinggi atau dosis kecil
berulang.
Xantin dapat menyebabkan toleransi terutama terhadap efek
diuresis dan gangguan tidur. Terhadap perangsangan SSP hanya
sedikit terjadi toleransi, juga terdapat toleransi silang antar derivat
xantin.
Teofilin juga banyak digunakan pada penyakit ini denga
tujuan yang sama dengan pengobatan penyakit asma. Tetapi,
gejala lain yang mengangkat sistem kardiovaskular akibat
penyakit paru obstruktif kronik ini misalnya hipertensi pulmonal,
payah jantung kanan pada con pulmonale, tidak diperbaiki oleh
teofilin.

10
II.3.2 Alasan Penambahan Zat Tambahan
1. Oleum cacao
- Oleum cacao merupakan basis suppositoria yang larut dalam
lemak.
- Penggunaan oleum cacao ini berdasarkan kelarutan zat aktif
yang lebih larut dalam air dibandingkan etanol dan pelarut non
polar lainnya. Karena manurut lachman dalam suppositoria
untuk efek sistemik dijelaskan bahwa obat harus didispersikan
secara homogen didalamnya, tetapi obat tersebut dapat
dilepaskan dengan laju yang dikehendaki pada cairan-cairan
tubuh yang encer disekitar suppositoria tersebut. Oleh karena
itu kelarutan bahan-bahan aktif dalam air atau pelarut lainnya
harus diketahui. Jika obat larut dalam air, maka basis lemak
dengan angka air kecil yang dipilih ataupun sebaliknya
(Lachman, 1184).
- Minyak coklat (oleum cacao) merupakan basis suppositoria
yang paling banyak digunakan. Selain itu sebagian besar sifat
minyak coklat memenuhi persyaratan basis ideal, karena
minyak ini tidak berbahaya, lunak dan reaktif, serta meleleh
pada temperatur tubuh (Lachman, 1168)
2. Cera alba
- Berdasarkan basis yang digunakan yaitu olem cacao, maka
dalam formula ini menggunakan cera alba karena menurut
ansel oleum cacao dapat menunjukkan sifat polimerfisme atau
keberadaan zat tersebut dalam berbagai bentuk kristal. Jika
titik lebur menurun sedemikian rupa maka tidak mungkin lagi
dijadikan suppositoria yang padat dengan menggunakan oleum
cacao sebagai basis tunggal, maka bahan pengeras seperti cera
alba kurang lebih 4 % dapat dilebur dengan oleum cacao untuk
mengimbangi pengaruh pelunakan dari bahan yang
ditambahkan (Ansel, 583).

11
- Penggunaan cera alba dalam suppositoria dengan basis oleum
cacao digunakan konsentrasi 4% karena dapat memberikan
suhu lebur yang paling mendekati persyaratan farmasetik
(Nursal, 1).
3. α-Tokoferol
- α-Tokoferol digunakan sebagai antioksidan
- Berdasarkan basis yang digunakan yaitu oleum cacao memiliki
ketengikan yang disebabkan oleh antioksidasi dan penguraian
berturut-turut dari lemak tidak semua menjadi aldehid jenuh,
agar tidak terjadi autooksidasi maka digunakan antioksidan
(Lachman, 1191)
- Penggunaan anti oksidan ini untuk mengurangi atau
meminimalisir timbulnya bau tengik dari basis oleum cacao
karena menurut lachman oleum cacao mempunyai kelemahan
dapat menjadi tengik (Lachman, 1191; Rowe, 31)
- Konsentrasi yang digunakan adalah 0,05 % (Rowe, 31).
II.4 Uraian Bahan
1. Aminofilin (Dirjen POM, 90; Martindale, 114; Walter, 722)
Nama resmi : Aminophyllinum
Nama lain : Aminofilin, Teofilin, Etilendiamin
RM/BM : C16H24N10O6/ 420,43
Rumus struktur :

Pemerian : Butir atau serbuk putih atau agak kekuningan , bau


amonia lemah, rasa pahit, jika dibiarkan di udara
terbuka, perlahan-lahan kehilangan etilendiamina
dan menyerap karbondioksida dengan melepaskan

12
teofilin. Larutan bersifat basa terhadap kertas
lakmus.
Kelarutan : Tidak larut dalam etanol, dan dalam eter, larutan 1
gram dalam 25 mL air menghasilkan larutan jernih
larutan dalam 1 gram dalam 5 mL air menghablur
jika didiamkan dan larut kembali jika ditambahkan
sedikit etilendiamin
Stabilitas : Aminofilin dapat menyerap karbondioksida dari
udara yang mengakibatkan terjadinya pembebasan
teofilin. Dalam bentuk larutan akan menyerap
karbon dioksida dari udara. Dalam solitan terkena
sinar dan oksigen, aminofilin telah ditemukan
untuk menurunkan 1,3- dimethyllalatoin, N.N-
dimetil- oxamide, dan amonia
Inkompatibilitas : Aminofilin seharusnya tidak diperbolehkan
bersentuhan dengan logam.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan : Sebagai zat aktif
DM : 250 mg/ 1500 mg
2. Oleum cacao (Dirjen POM, 456; Rowe, 725)
Nama Resmi : Oleum cocos
Nama Lain : Lemak coklat
Pemerian : Lemak padat, putih kekuningan, bau khas aromatik
rasa khas lemak, agak rapuh
Kelarutan : Sukar larut dalam etanol (95%), mudah larut dalam
kloroform, dalam eter, dan dalam eter minyak
tanah
Stabilitas : Pemanasan oleum cacao diatas suhu tubuh 360C
selama dalam persiapan suppositoria dapat
mengakibatkan penurunan titik beku karena

13
terbentuknya metastabil, hal ini dapat mempersulit
dalam pembuatan suppositoria
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Konsentrasi : 77, 571%
3. Cera alba (Dirjen POM, 186)
Nama Resmi : Cera alba
Nama Lain : Malam putih kekuningan, sedikit tembus cahaya
dalam keadaan lapisan tipis; bau khas lemah dan
bebas bau tengik
Kelarutan : Tidak larut dalam air; agak sukar larut dalam
etanol dingin
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Konsentrasi : 4%
4. α-Tokoferol (Dirjen POM, 796; Rowe, 32)
Nama resmi : Tocopherolum
Nama lain : α-Tokoferol
RM/BM : C29H50O2/ 430
Rumus struktur :

Pemerian : Praktis tidak berbau dan tidak berasa, bentuk α-


Tokoferol asetat berupa minyak kental jernih,
warna kuning atau kuning kehijauan
Kelarutan : α-Tokoferol asam suksinat tidak larut dalam air,
etanol, dalam eter, dalam aseton, dan dalam
minyak nabati, sangat mudah larut dalam
kloroform
Stabilitas : Tokoferol teroksidasi oleh oksigen dan garam
berisi serta perak. Tokoferol ester lebih stabil untuk

14
yang mudah teroksidasi, tokoferol bebas yang
biasanya digunakan untuk bahan yang stabil.
Inkompatibilitas : Tokoferol tidak kompatibel dengan peroksida dan
ion logam, terutama zat besi, tembaga dan perak.
Konsentrasi : 0,05 %

15
BAB III
METODE KERJA
III. 1 Perhitungan bahan
- Aminofilin tiap suppositoria = 250 mg
= 250 mg x banyaknya suppositoria
= 250 mg x 20
= 5000 mg = 5 g
Nilai tukar = 0,86 x 250 mg = 215 mg
=0,215 gram
-α-Tokoferol = 0,05 %
0,05
= x 2 g = 0,001 g
100
Per batch = 0,001 x 20 = 2 x 10 -3
= 0,002 gram
- Cera alba =4%
4
= x2g
100
= 0,008 gram
Per batch = 0,008 x 20 = 1,6 gram
- Bobot suppositoria = 2,1 x 20 = 42 gram
- Oleum cacao = 2,1- (0,215 g + 0,001 g + 0,08 g)
= 2,1 – 0,296
= 1,804 g
Per batch = 1,804 x 20
= 36, 08 gram
1,804
- Persentase = x 100 %
2,1

= 85,914 %
III. 2 Perhitungan α-Tokoferol
Dik : 1 mg α-Tokoferol = 1,29 iu
dalam 1 kapsul = 100 iu

16
α-Tokoferol = 0,02 gram
= 20 gram
Dit : jumlah α-Tokoferol yang di gunakan ?
100 𝑖𝑢
peny : x 1 mg
1,49 𝑖𝑢

= 67, 11 mg
- α-Tokoferol dilarutkan dalam 4 ml minyak jarak, maka :
20 𝑚𝑔
- x 4 ml = 1,19 ml
67,11

1 mg = 20 tetes
1 1,19
=
20 𝑥

x = 1,19 x 20
= 23, 8 atau 24 tetes
III. 3 Alat dan Bahan
III. 3.1 Alat
1. Alu
2. Aluminium foil
3. Batang pengaduk
4. Cawan porselin
5. Cetakan suppositoria
6. Lap halus
7. Lap kasar
8. Lemari pendingin
9. Lumpang
10. Plastik Obat
11. Sendok tanduk
12. Sudip
13. Water bath
III. 3. 2 Bahan
1. Aminofilin
2. Cera alba

17
3. Oleum cacao
4. α-Tokoferol
III. 4 Cara kerja
1. Ditimbang Aminofilin, Oleum cacao, α-Tokoferol, dan Cera alba
sesuai yang dibutuhkan
2. Dikalibrasi cetakan dan dibasahi dengan paraffin cair
3. Diletakkan cera alba ke dalam cawan porselin dan dipanaskan diatas
waterbath pada suhu 350 C
4. Ditambahkan Oleum cacao dan dileburkan
5. Ditambahkan α-Tokoferol dan diaduk hingga homogeny
6. Ditambahkan zat aktif sedikit demi sedikit dalam leburan tersebut
dan diaduk hingga homogen
7. Dimasukkan leburan tersebut dalam cetakan yang telah dikalibrasi
8. Didiamkan selama 5-10 menit
9. Didinginkan dalam lemari pendingin pada suhu 2-80 C selama ± 15
menit
10. Dikeluarkan suppositoria dari cetakan
11. Dibungkus dengan aluminium foil dan dikemas dalam plastic obat
12. Diberi etiket dan brosur

18
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil Pengamatan


Berdasarkan evaluasi penampilan umum, dimana suppositoria dibelah
menjadi dua yaitu Nampak bagian dalam dan bagian luar dari suppositoria
yang homogen. Jadi dapat disimpulkan bahwa sediaan suppositoria dengan
zat aktif aminofilin memenuhi syarat penampilan umum.
IV.2 Pembahasan
Pada praktikum teknologi sediaan padat ini dibuat rancangan formula
suppositoria dengan zat aktif aminofilin 250 mg dengan bahan tambahan
berupa oleum cacao 5 % sebagai basis, cera alba 4 % untuk menaikkan
titik lebur, dan α-tokoferol 0,05 % sebagai anti oksidan (Sweetman, 2009).
Zat aktif aminofilin suppositoria dibuat 2 mg setiap tablet, hal ini telah
berdasarkan literature (Lachman, 2008). Dimana sediaan suppositoria ini
memiliki keunggulan dibandingkan sediaan yang lain yaitu dapat
menutupi kelemahan dari zat aktif aminofilin yang dapat mengiritasi
saluran cerna karena dapat meningkatkan sekresi asam lambung (IAI,
2012).
Sediaan suppositoria dengan zat aktif aminofilin diindikasikan untuk
mengurangi dan mengobati penyakit asma. Cara kerjanya yaitu dalam
system cAMP hormone atau obat-obatan akan berperan sebagai first
messenger yang akan membawa pesan pertama ke ekstra seluler. Yang
selanjutnya hormone atau obat-obatan tersebut akan masuk ke dalam
reseptor serta akan mengaktifkan adenilsiklase yang terdapat di membrane
sel. Dengan adanya ion magnesium, adenilsiklase akan menghambat
perubahan dari cAMP menjadi AMP. Inhibisi terhadap enzim
fosfidiesterase oleh aminofilin akan mengakibatkan peningkatan kadar
cAMP dan mengakibatkan terjadinya respon fisiologis yaitu bronkodilatasi
(Karmini, 1998).
Pada proses pembuatan sediaan suppositoria akan membutuhkan
keterampilan yang cukup khusus, dimana suppositoria ini dibuat dalam

19
bentuk torpedo, dimana hal ini sesuai cara penggunaannya melalui dubur
atau secara rektal. Penggunaan rektal ini ditujukan untuk mempercepat
kerja obat secara sistemik sesuai indikasinya yaitu untuk mengurangi dan
mengobati asma (Sanjoyo, 2007).
Dalam tahap pembuatan digunakan metode cetak tuang, karena metode
cetak tuang merupakan metode paling umum digunakan untuk membuat
suppositoria skala kecil dan skala besar, serta metode ini lebih mudah
dibandingkan dengan metode mencetak dengan tangan dan mencetak
kompresi (Lachman, 2008). Langkah awal yang dilakukan yaitu
membersihkan alat dengan alcohol 70%. Hal ini bertujuan untuk
mensterilkan alat, sehingga bebas dari mikroba (Dirjen POM, 1979).
Selanjutnya ditimbang aminofilin, oleum cacao, α-tokoferol dan cera alba
sesuai perhitungan bahan. Dikalibrasi cetakan dan dibasahi dengan
paraffin cair. Kemudian diletakkan α-tokoferol ke dalam cawan porselin
dan dipanaskan diatas water bath pada suhu 35o C. Dileburkan satu pesatu
oleum cacao, cera alba dan ditambahkan zat aktif sedikit demi sedikit
dalam leburan tersebut, serta diaduk hingga homogen. Apabila telah
homogeny, dimasukkan hasil leburan tersebut ke dalam cetakan.
Didiamkan selama 5 menit, hal ini untuk mengindari bentuk meta stabil
dari oleum cacao. Didinginkan dalam lemari pendingin pada suhu 2–8o C
selama kurang lebih 15 menit sampai suppositoria siap dikeluarkan dari
cetakan (Lachman, 2008).
Setelah sediaan suppositoria telah terbentuk, maka sediaan ini siap
dibungkus dalam aluminium foil dan dikemas dalam plastik obat, serta
diberi etiket dan brosur.
Apabila semua proses pencetakan telah selesai, dilanjutkan evaluasi
suppositoria. Evaluasi suppositoria yang dilakukan yaitu uji penampilan
umum yang dilakukan dengan menggunakan membelah dua suppositoria
dari bagian atas sampai bawah sehingga Nampak bagian dalam dan bagian
luar suppositoria. Hasil yang nampak yaitu bagian dalam dan luar
suppositoria adalah tampak homogeny. Jadi dapat disimpulkan bahwa

20
sediaan suppositoria yang dibuat memenuhi syarat penampilan umum
(Voigt, 1994).

21
BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulakan
bahwa metode yang cocok digunakan dalam pembuatan suppositoria
dengan zat aktif aminofilin yaitu metode cetak tuang.
V.2 Saran
Diharapkan dalam penimbangan dan pencampuran bahan,
praktikan harus lebih terampil dan teliti, sehingga dapat mengurangi
kesalahan dalam praktikum dan dapat menghasilkan evaluasi yang akurat.

22
DAFTAR PUSTAKA

Ansel, H.C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Edisi Ke empat.


Diterjemahkan oleh Ibrahim Farida. Jakarta: UI-Press

Baviskar, P.dkk. 2013. Formularium and Evaluation Of Lornoxicam Suppositoria


Vol. 2 No. 7. Jakarta: The Pharma Innovation

Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi ke Tiga. Jakarta: Depertemen


Kesehatan Republik Indonesia

Dirjen POM. 1989. Formularium Nasional Edisi Ke dua. Jakarta: Depertemen


Kesehatan Republik Indonesia

Dirjen POM. 1995. Farmakope Indonesia Edisi ke empat. Jakarta: Depertemen


Kesehatan Republik Indonesia

Hadyanti. 2008. Pengaruh Tretinoin. Jakarta: FMIPA UI-Press

I.A.I. 2012. Infomasi Spesialite Obat Indonesia Vol. 47. Jakarta: ISFI penerbitan

Karmini. 1998. Respon Faal Paru Setelah Pemberian Aminofilin. Semarang:


Universitas Diponegoro

Lachman, L. Lieberman, H.A dan Kaning, J.I. Teori Dan Praktek Farmasi
industri Edisi III. Diterjemahkan oleh : Siti Suyatmi. Jakarta: UI-Press

Mardjono, M. 2007. Farmakologi dan Terapi Edisi Lima. Jakarta: UI-Press

Nursal, F.K. 2012. Formulasi Sediaan Suppositoria Ekstrak Etanol Daun


Handeuleum (Graptophylumpictum. L) Dalam Basis Oleum
Cacao. Jakarta: FMIPA Universitas Muhammadiyah

Parrot, F.I. 1971. Pharmaceutical Teknologi Fundamental : Pharmaceutical


Mineapoin. Burgers Publishing Company

Rowe, R.C..dkk. 2009. Handbook Of Pharmaceutical Excipient Sixth Edition.


London: Pharmaceutical Press And America

Sanjoyo, R. 2007. Obat (Biomedik Farmakologi). Yogyakarta: FMIPA


Universitas Gadjah Mada

Scoville’s. 1957. The art Of Compounding Edisi 19. New york: McGraw_hill
Book Company

23
Sweetman, S.C. 2009. Martindale. USA: Pharmaceutical Press

Walter,L. 1994. The Pharmaceutical Codex edisi XII. London: Pharmaceutical


Press

24
LAMPIRAN
a. Cara Kerja

Aminofilin, oleum cacao, cera alba,


Cetakan
α-Tokoferol

- Dikalibrasi
- Dibasahi dengan
parafin cair

- Diletakkan cera alba kedalam cawan porselin


dan dilebur pda suhu 35°C
- Ditambahkan oleum cacao
- Ditambahkan α-tokoferol, diaduk hingga
homogen
- Ditambahkan zat aktif aminofilin sedikit
demi sedikit ke dalam leburan
- Dimasukkan leburan ke dalam cetakan
- Didiamkan selama 5 – 10 menit
- Didinginkan dalam lemari pendingin
- Dibungkus dengan aluminium foil
- Diberi etiket dan brosur

Aminofilin suppo

25
b. Etiket

Aminofann Suppo®

 Aminofilin suppositoria
 Komposisi
tiap suppositoria mengandung:
aminofilin 250 mg
zat tambahan q.s
 Indikasi
Untuk mengurangi dan mengobati penyakit asma
 Kontra indikasi
Hipersensitif terhadap xantin, ulkus peptikum dan gangguan kejang
 Efek samping
Insomnia dan gangguan pencernaan
 Dosis
Untuk dewasa; 2x1 atau atas petunjuk dokter
 Perhatian dan peringatan
Digunakan dengan hati-hati pada penderita kerusakan fungsi hati
dan penderita paru-paru kronik. Dimasukkan dalam dubur.
 Penyimpanan
Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya dan ditempat
yang sejuk

No. Reg : DKL 14 808 212 53 A1


No. Batch : E4 808 212
Diproduksi oleh
PT. Abdi Farma
Gorontalo-Indonesia

26
c. Brosur

Aminofann Suppo®
• Tiap suppositoria mengandung:
Aminofilin 250 mg
Zat tambahan q.s
• Farmakologi
Aminofilin merupakan garam dari teofilin, menyebabkan relaksasi otot polos,
terutama otot polos bronkus, merangsang SSp, otot jantung dan meningkatkan
diuresis. Sehingga merupakan obat yang terpilih untuk terapi pada penderita
gangguan napas akibat dari bronkokonstriksi.
• Indikasi
Untuk mengurangi dan mengobati penyakit asma
• Kontra indikasi
Hipersensitif terhadap xantin, ulkus peptikum dan gangguan kejang
• Efek samping
Insomnia dan gangguan pencernaan
• Dosis
Untuk dewasa; 2x1 atau atas petunjuk dokter
• Perhatian dan peringatan
Digunakan dengan hati-hati pada penderita kerusakan fungsi hati dan penderita
paru-paru kronik. dimasukkan dalam dubur.
• Penyimpanan
Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya dan ditempat yang sejuk
No. reg : dkl 14 808 212 53 a1
No. batch : e4 808 212
Diproduksi oleh
Pt. abdi farma
Gorontalo-Indonesia

27