Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Penyakit jantung koroner merupakan kasus utama penyebab kematian dan kesakitan pada
manusia. Penyakit jantung koroner merupakan pembunuh nomor satu di negara-negara maju dan
dapat juga terjadi di negara-negara berkembang. Organisasi kesehatan duina (WHO) telah
mengemukakan fakta bahwa penyakit jantung koroner (PJK) merupakan epidemi modern dan
tidak dapat dihindari oleh faktor penuaan. Diperkirakan bahwa jika insiden PJK mencapai nol
maka dapat meningkatkan harapan hidup 3 sampai 9%.

Berbagai studi epidemiologik menunjukkan bahwa semakin tinggi kadar lipid dalam darah
maka semakin besar risiko terjadinya PJK. Oleh karena itu kontrol lipid darah, dan pengendalian
kadar lipid darah hingga batas normal akan menekan risiko terjadinya penyakit jantung koroner.

Gambaran kasus di atas menunjukkan pentingnya penyakit ini yang perlu mendapatkan
perhatian khusus,Maka dari itu kami sebagai penulis tertarik untuk mengulas menganai konsep
penyakit PJK (Penyakit Jantung Koroner) dan Asuhan Keperawatannya.

1.2 Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah agar mahasiswa dapat memahami :
1. Konsep penyakit PJK (Penyakit Jantung Koroner)
2. Asuhan Keperawatan pada kasus PJK (Penyakit Jantung Koroner)
BAB II
PEMBAHASAN
A. Konsep Penyakit

2.1 Pengertian

Penyakit Jantung Koroner(PJK) adalah suatu penyakit pada jantung yang terjadi karena
adanya kelainan pada pembuluh koroner,berupa penyempitan pembuluh darah sebagai akibat
dari pengerasan dinding pembuluh darah oleh adanya penimbunan lemak berlebih.

Penyakit Jantung Koroner adalah penyakit jantung yang terutama disebabkan karena
penyempitan arteri koronaria akibat proses atherosklerosis atau spasme atau kombinasi keduanya

Penyakit Jantung Koroner adalah disebabkan oleh aterosklerosis yang merupakan suatu
kelainan degeneratif yang dipengaruhi oleh adanya faktor resiko.(Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam Jilid I)

2.2 Etiologi

Penyakit Jantung Koroner pada mulanya disebabkan oleh penumpukan lemak pada dinding
dalam pembuluh darah jantung (pembuluh koroner),dan hal ini lama kelamaan diikuti oleh
berbagai proses seperti penimbunan jaringan ikat, perkapuran, pembekuan darah,dan lain-lain
yang kesemuanya akan mempersempit atau menyumbat pembuluh darah tersebut.Hal ini akan
mengakibatkan otot jantung di daerah tersebut mengalami kekurangan aliran darah dan dapat
menimbulkan berbagai akibat yang cukup serius,dari Angina Pectoris (nyeri dada) sampai Infark
Jantung, yang dalam masyarakat di kenal dengan serangan jantung yang dapat menyebabkan
kematian mendadak.

Beberapa faktor resiko terpenting Penyakit Jantung Koroner :

Kadar Kolesterol Total dan LDL tinggi

Kadar Kolesterol HDL rendah

Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi)

Merokok
Diabetes Mellitus

Kegemukan

Riwayat keturunan penyakit jantung dalam keluarga

Kurang olah raga

Stress

Pria dan wanita dapat terkena penyakit jantung koroner. Penyakit jantung koroner dapat
diturunkan secara turun temurun (keturunan).Anda bisa terkena penyakit jantung koroner jika
anda mepunyai berat badan yang berlebihan (overweight) atau seseorang dengan tekanan darah
tinggi dan diabetes. Kolesterol tinggi bisa juga menjadi penyakit jantung koroner. Penyakit
jantung koroner bersumber dari aneka pilihan gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok,
kebiasaan makan dengan tinggi lemak dan kurangnya olah raga.

2.3 Patofisiologi

Bila terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung kolesterol, maka kadar
kolesterol dalam darah bisa berlebih (disebut hiperkolesterolemia). Kelebihan kadar kolesterol
dalam darah akan disimpan di dalam lapisan dinding pembuluh darah arteri, yang disebut sebagai
plak atau ateroma (sumber utama plak berasal dari LDL-Kolesterol. Sedangkan HDL membawa
kembali kelebihan kolesterol ke dalam hati, sehingga mengurangi penumpukan kolesterol di
dalam dinding pembuluh darah). Ateroma berisi bahan lembut seperti keju, mengandung
sejumlah bahan lemak, terutama kolesterol, sel-sel otot polos dan sel-sel jaringan ikat.

Apabila makin lama plak yang terbentuk makin banyak, akan terjadi suatu penebalan pada
dinding pembuluh darah arteri, sehingga terjadi penyempitan pembuluh darah arteri. Kejadian ini
disebut sebagai aterosklerosis (terdapatnya aterom pada dinding arteri, berisi kolesterol dan zat
lemak lainnya). Hal ini menyebabkan terjadinya arteriosklerosis (penebalan pada dinding arteri
& hilangnya kelenturan dinding arteri). Bila ateroma yang terbentuk semakin tebal, dapat
merobek lapisan dinding arteri dan terjadi bekuan darah (trombus) yang dapat menyumbat aliran
darah dalam arteri tersebut.
Hal ini yang dapat menyebabkan berkurangnya aliran darah serta suplai zat-zat penting
seperti oksigen ke daerah atau organ tertentu seperti jantung. Bila mengenai arteri koronaria yang
berfungsi mensuplai darah ke otot jantung (istilah medisnya miokardium), maka suplai darah jadi
berkurang dan menyebabkan kematian di daerah tersebut (disebut sebagai infark miokard).

Konsekuensinya adalah terjadinya serangan jantung dan menyebabkan timbulnya gejala


berupa nyeri dada yang hebat (dikenal sebagai angina pectoris). Keadaan ini yang disebut
sebagai Penyakit Jantung Koroner (PJK).
2.4 Pathway

Penurunan curah
jantung

Ketidak
efektifan pola
nafas

Nyeri
2.5 Manifestasi Klinis

1. Sesak napas mulai dengan napas yang terasa pendek sewaktu melakukan aktivitas yang
cukup berat, yang biasanya tak menimbulkan keluhan. Makin lama sesak makin
bertambah, sekalipun melakukan aktivitas ringan.
2. Klaudikasio intermiten, suatu perasaan nyeri dan keram di ekstremitas bawah, terjadi
selama atau setelah olah raga Peka terhadap rasa dingin
3. Perubahan warna kulit.
4. Nyeri dada kiri seperti ditusuk-tusuk atau diiris-iris menjalar ke lengan kiri.
5. Keringat dingindan berdebar-debar
6. Dada rasa tertekan seperti ditindih benda berat, leher rasa tercekik.
7. Denyut jantung lebih cepat
8. Mual dan muntah
9. Kelemahan yang luar biasa

2.7 Komplikasi
1. Serangan jantung yang mengancam jiwa menyebabkan infark myocardium(kematian otot
jantung) karena persediaan darah tidak cukup
2. Angina pectoris yang tidak stabil,syok dan aritmia
3. Gagal jantung kongestif
4. Tekanan Darah Tinggi (hipertensi)
5. Diabetes

2. 8 Pemeriksaan Penunjang
Tergantung kebutuhannya beragam jenis pemeriksaan dapat dilakukan untuk menegakkan
diagnosis PJK dan menentukan derajatnya. Dari yang sederhana sampai yang invasive sifatnya.
1. Elektrokardiogram (EKG)
Pemeriksaan aktifitas listrik jantung atau gambaran elektrokardiogram (EKG) adalah
pemeriksaan penunjang untuk memberi petunjuk adanya PJK. Dengan pemeriksaan ini kita dapat
mengetahui apakah sudah ada tanda-tandanya. Dapat berupa serangan jantung terdahulu,
penyempitan atau serangan jantung yang baru terjadi, yang masing-masing memberikan
gambaran yang berbeda. Pasien yang mengalami PJK dapat diklasifikasikan dalam dua
kelompok menurut gambaran elektrokardiogram (EKG) dengan STEMI dan NSTEMI/UA.
Perawatan STEMI memerlukan restorasi darurat aliran darah dalam arteri koroner yang
tersumbat total. Pasien dengan NSTEMI mangestasi yang sering muncul dalam perubahan EKG
meliputi inversi gelombang T, depresi ST atau elevasi ST yang bersifat sementara, dan
kadangkala EKG-nya normal secara keseluruhan. Kelompok NSTEMI dapat diklasifikasi lebih
lanjut mengikuti peningkatan enzim-enzim protein jantung yang dapat terdeteksi dengan kadar
troponin positif pada serum pasien.
2. foto rontgen dada
Dari foto roentgen dada dokter dapat menilai ukuran jantung, ada-tidaknya pembesaran. Di
samping itu dapat juga dilihat gambaran paru. Kelainan pada koroner tidak dapat dilihat dalam
foto rontgen ini. Dari ukuran jantung dapat dinilai apakah seorang penderita sudah berada pada
PJK lanjut. Mungkin saja PJK lama yang sudah berlanjut pada payah jantung. Gambarannya
biasanya jantung terlihat membesar.
3. pemeriksaan laboratorium
Dilakukan untuk mengetahui kadar trigliserida sebagai bourgeois resiko. Dari pemeriksaan
darah juga diketahui ada-tidaknya serangan jantung akut dengan melihat kenaikan enzim
jantung.

2.1.7 Penatalaksanaan dan Pengobatan

1. Pertolongan pertama

1. Jika pasien sadar, posisikan pasien pada posisi beristirahat yang paling nyaman. Jika pasien
memiliki obat-obatan untuk problem jantung koroner dan masih dapat menelan, bantu pasien
untuk mengonsumsinya. Kemudian, segera bawa pasien ke rumah sakit terdekat atau hubungi
layanan gawat darurat.

2. Jika pasien menjadi tidak sadar setelah mengeluh nyeri dada, baringkan pasien di tempat yang
datar dan aman. Segera hubungi layanan gawat darurat atau bawa segera pasien ke rumah sakit.
3. Jika Anda terlatih melakukan Bantuan Hidup Dasar (BHD), setelah memastikan pasien tidak
sadar dan memanggil bantuan dengan menghubungi layanan gawat darurat, Anda dapat
melakukan Resusistasi Jantung Paru (RJP) atau pun menggunakan AED (Automated External
Defibrillator) pada pasien,Data menunjukkan, tertundanya RJP dan pemberian defibrilasi dini
pada pasien dengan sindrom koroner akut yang sudah tidak sadar, akan meningkatkan risiko
kematian.,Sebelum membawa pasien ke IGD, lakukan langkah pertolongan yang sudah
dijelaskan, berikan rasa nyaman pada pasien dan pastikan pasien tidak ditinggalkan sendirian.

2.Penanganan di Instalasi Gawat Darurat

Pasien-pasien yang tiba di UGD, harus segera dievaluasi karena kita berpacu dengan waktu
dan bila makin cepat tindakan reperfusi dilakukan hasilnya akan lebih baik. Tujuannya adalah
mencegah terjadinya infark miokard ataupun membatasi luasnya infark dan mempertahankan
fungsi jantung.

Manajemen yang dilakukan adalah sebagai berikut :

a. Dalam 10 menit pertama harus selesai dilaksanakan adalah:

1) Pemeriksaan klinis dan penilaian rekaman EKG 12 sadapan,

2) Periksa enzim jantung CK/CKMB atau CKMB/cTnT,

3) Berikan segera: O2, infus NaCl 0,9% atau dekstrosa 5%,

4) Pasang monitoring EKG secara kontiniu,

5) Pemberian obat:

 Nitrat sublingual/transdermal/nitrogliserin intravena titrasi (kontraindikasi bila TD sistolik <


90 mmHg, bradikardia (< 50 kpm)
 Aspirin 160-325 mg: bila alergi/tidak responsif diganti dengan dipiridamol, tiklopidin atau
klopidogrel, dan
 Mengatasi nyeri: morfin 2,5 mg (2-4 mg) intravena, dapat diulang tiap 5 menit sampai dosis
total 20 mg atau petidin 25-50 mg intravena atau tramadol 25-50 mg intravena.

B. Asuhan Keperawatan
3.1 Pengkajian

1. Airway. Yang kita kaji sebagai seorang perawat pada tahap airway ini diantaranya yaitu
bagaimana kepatenan jalan nafas penderita, apakah ada sumbatan / penumpukan sekret di
jalan nafas penderita, dan bagaimana bunyi nafasnya, apakah ada bunyi nafas tambahan
pada penderita tersebut.
2. Breathing. Hal yang perlu dilihat, didengar, dan dirasakan adalah bunyi nafas dan
gerakan-gerakan dada. Pada pasien dengan pernafasan yang tak cukup atau hilang,
ventilasi buatan harus dilakukan sesegera mungkin. Oksigenasi pasien merupakan tujuan
utama dan kadar oksigen tertinggi yang tersedia seharusnya diberikan. Hal ini dapat
diraih dengan menggunakan sebuah kantong waduk, yang dapat mengirimkan tingkat
aliran sebesar 10-15 L/menit dengan kadar oksigen 85 %. Volume tidal 400-600 mL
adalah cukup untuk membuat dada naik dan kurang kemungkinannya untuk
menyebabkan insuflasi dan aspirasi gastrik. Antara 1,5 dan 2 detik seharusnya adalah
waktu yang digunakan dalam fase inspiratori
3. Circulation. Yang kita kaji dalam sirkulasi penderita nyeri ada ini diantaranya yaitu
tanda-tanda vital yang meliputi akan tekanan darah, suhu, nadi, respirasi, heart rate.
Selain itu yang dikaji adalah nadi perifer dan nadi karotis yaitu mengenai kualitas (isi dan
tegangan), Terus kita kaji juga capillary refillnya, apakah ada akral dingin, sianosis atau
oliguria. Dan juga kita kaji apakah ada penurunan kesadaran yang terjadi.

Selanjutnya adalah mengenai pengkajian sekunder pada askep nyeri dada. Pada pengkajian
sekunder ini yang kita perlu kaji diantaranya yaitu :

1. Lokasi Nyeri Dada. Pengkajian mengenai lokasi nyeri ini bisa membantu dalam
menegakkan diagnosa apakah nyeri dada tersebut berasal dari jantung apakah dari organ
lainnya. Dimana tempat mulainya, penjalarannya (ciri khas nyeri dada koroner : Nyeri
dada ini dimulai dari sternal menjalar ke leher, dagu atau bahu sampai lengan kiri bagian
ulna).
2. Sifat Nyeri Dada. Khas nyeri dada yang berasal dari jantung doiantaranya yaitu :
perasaan penuh, rasa berat seperti kejang, meremas, menusuk, mencekik / rasa terbakar.
Sensasi nyeri dada ini akan dirasakan berbeda pada tiap pasien nyeri dada koroner.
3. Ciri Rasa Nyeri Dada. Yang dikaji pada bagian ini adalah derajat nyeri, lamanya nyeri,
berapa kali timbul dalam jangka waktu tertentu. Ini akan membantu dalam mendiagnosa
alnya pada penyakit jantung koroner.
4. Kronologis Nyeri Dada. Yang kita kaji adalah awal timbul nyeri serta perkembangannya
secara berurutan. Timbulnya saat aktifitas atau kah sedang beristirahat atau sedang
tertidur.
5. Keadaan pada waktu serangan. Apakah timbul pada saat-saat / kondisi tertentu. Hampir
sama seperti yang disebutkan di atas tentang kondisi pada waktu serangan nyeri dada
terjadi.
6. Faktor yang memperkuat / meringankan rasa nyeri misalnya sikap / posisi tubuh,
pergerakan, tekanan. Apakah nyeri dada.

3.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Gangguan Rasa nyaman nyeri berhubungan dengan iskemik jaringan

2. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan Suplai O2 menurun


3. Penurunan curah jantung b/d respon fisiologis otot jantung, peningkatan frekuensi, dilatasi,
hipertrofi atau peningkatan isi sekuncup.

3.3 INTERVENSI KEPERAWATAN


NO. TUJUAN DAN KRETERIA HASIL INTERVENSI
DX
(NOC) (NIC)
1 Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1. Observasi tanda-tanda vital
pola nafas kembali efektif, dengan kriteria
hasil :
2. Pantau pola pernafasan klien
1. Tidak ada pernafasan cuping hidung
2. Suara nafas vesikular
3. Berikan posisi yang nyaman dengan
3. Tanda-tanda vital dalam batas normal
Tensi : 120/80 mmHg posisi semi fowler
RR : 16 – 20x/menit
Nadi : 80 – 100x/menit
4. Lakukan tindakan kolaborasi dengan
Suhu : 36.5C – 37.5C
tim medis lain dalam pemberian obat-
4. Klien mengatakan secara verbal sudah
obatan
tidak sesak nafas
Berikan terapi O2 nasal sesuai kebutuhan
klien
2 Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1. Jelaskan pada klien tentang penyebab
diharapkan nyeri klien hilang atau nyeri dan penyakit yang diderita
berkurang, dengan kriteria hasil : 2. Kaji skala nyeri klien

1. Klien tampak rileks


3. Ajarkan teknik relaksasi dengan cara
2. Klien secara individu mengatakan
menarik nafas dalam
nyeri berkurang
3. Skala nyeri berkurang (0 - 3)
4. Lakukan teknik distraksi dengan
mengajukan pertanyaan

5. Kolaborasi dengan tim medis dalam


pemberian analgesik
3 setalah dilakukan tindakan keperawatan 1. Auskultasi nadi apical, kaji
penurunan curah jantung teratasi dengan frekuensi, irama jantung.

Kriteria Hasil: 2. Catat bunyi jantung.

- Frekuensi jantung meningkat 3. Palpasi nadi perifer

- Status Hemodinamik stabil 4. Pantau tekanan darah.

- Haluaran Urin adekuat 5. Pantau keluaran urine, catat


penurunan keluaran, dan kepekatan atau
- Tidak terjadi dispnu
konsentrasi urine.
- Akral Hangat 6. Kaji perubahan pada sensori contoh:
letargi, bingung, disorientasi, cemas dan
depresi.

7. Berikan istirahat semi recumbent


(semi-fowler) pada tempat tidur.

8. Kolaborasi dengan dokter untuk


terapi, oksigen, obat jantung, obat diuretic
dan cairan.
BAB III
PEMBAHASAN KASUS
4.1 KASUS
Tn.A berumur 54 tahun datang ke RS dengan keluhan sesak nafas,terlihat adanya retraksi
dinding dada serta pasien mengeluh nyeri pada dada tembus ke punggung, nyeri yang dirasakan
hilang timbul,dengan sekala nyri 7,setelah dilakukan pemeriksaan fisik TD= 160/90 mmhg,HR=
64x/mnt,RR=28X/mnt, T=37,5 x/mnt,SPO2=98x/mnt,hasil pemeriksaan lab ditemukkan
gelombang EKG sinosritem,enzim jantung troponim positif(+).

4.2 PENGKAJIAN

I.DATA FOKUS
DATA FOKUS

Data subjektif Data objektif

 -Tuan A berumur 54 tahun  -RR =26x/mnt, terlihat otot bantu nafas


mengeluh sesak nafas seperti retraksi dinding dada
 -dan nyeri dada tembus ke  -skala nyeri 7
punggung  -TD=160/90 mmhg,
 -nyeri yang dirasakan hilang  HR= 64x/mnt,
timbul  RR=28X/mnt,
 T=37,5 x/mnt,
 SPO2=98x/mnt,
 hasil pemeriksaan lab ditemukkan
gelombang EKG sinosritem,
 enzim jantung troponim positif(+).

II. PERBANDINGAN DATA PASIEN


NO DATA PASIEN DATA NORMAL
1. Pasien mengeluh sesak nafas Pasien dalam dalam keadaan baik tidak
dengan frekuensi pernafasan menunjukkan sesak nafas dengan frekunsi
28x/mnt, serta terlihat retraksi pernafasan 16-20x/mnt,dan tidak adanya otot
dinding dada bantu nafas

2 Pasien mengeluh nyeri dada tembus Nyeri yang dialami pasien tersebut merupakan
ke punggung, nyeri yang dirasakan gejala dari nyeri dada jantung dimana nyeri seperti
hilang timbul,dengan skala nyeri 7 ditusuk dan menjalar ke punggung dengan
intesitas hialang dan timbu,skala nyeri 7
menunjukkan bahwa nyeri sedang dengan skala
nyeri ringan (1-3),sedang (4-6),(7-9) dan 10
sangat berat

3.  TD =160/90 mmhg, TD normal pada usia tersebut berkisar 120/80


 HR= 64x/mnt, mmhg,tekanan darah pasien termasuk hipertensi.
 T=37,4 x/mnt, HR,T,SPO2,serta gelombang EKG dalam keadaan
 SPO2=98x/mnt, normal dimana HR=60-100X/mnt,T=36,4-37,4
 gelombang EKG sinosritem, c0,SPO2=95-100x/mnt

4 Enzim jantung (troponim) postif menunjukkan


 (enzim jantung) troponim bahwa klien mengalamai NSTMIK atau menderita
positif(+). penyakit jantung koroner

III .ANALISA DATA


ANALISA DATA

SYMPTOM ETIOLOGI PROBLEM

DS: penimbunan lipid dalam Nyeri


 dan nyeri dada arteri koroner
tembus ke punggung
 -nyeri yang lumen pembuluh darah
dirasakan hilang menyempit
timbul
DO; resistensi pada aliran darah
 Skala nyeri 7
iskemia jaringan otot jantung

nyeri
DS penimbunan lipid dalam Pola nafas tidak efektif
 Pasien mengeluh arteri koroner
sesak nafas
lumen pembuluh darah
DO
menyempit
 Terlihat retraksi
dinding dada resistensi pada aliran darah
 RR=28x/mnt meningkat

penurunan kemampuan
pembuluh darah vaskuler
untuk melebar

ketidakcukupan suplai dan


kebutuhan 02 miokardium

Pola nafas tidak efektif


4.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan Rasa nyaman nyeri berhubungan dengan iskemik jaringan ditandai dengan nyeri
dada seperti ditusuk,nyeri menusk punggung dengan skala nyeri 7
2. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan Suplai O2 menurun ditandai dengan
sesak nafas,pernafasasn cuping hidung dan frekuensi pernafasan 29x/mnt

4.3 INTERVENSI
NO. TUJUAN DAN KRETERIA INTERVENSI RASIONAL
HASIL (NIC)
(NOC)
1 Setelah dilakukan tindakan 1. Jelaskan pada klien 1) Menambah
keperawatan selama 1X24 tentang penyebab nyeri pengetahuan klien
jam diharapkan nyeri klien dan penyakit yang 2) Mengetahui
hilang atau berkurang, diderita tingkat keparahan
dengan kriteria hasil : 2. Kaji skala nyeri klien nyeri yang
dirasakan klien
MENAGEMENT NYERI
3. Ajarkan teknik relaksasi 3) Relaksasi dapat
1. Klien tampak rileks dengan cara menarik meniongkatkan
2. Klien secara individu nafas dalam kenyamanan klien
mengatakan nyeri dan mengurangi
berkurang 4. Lakukan teknik nyeri dari sisi
3. Skala nyeri berkurang distraksi dengan psikologis klien
(0 - 3) mengajukan pertanyaan
4) Megalihkan
5. Kolaborasi dengan tim perhatian klien
medis dalam pemberian terhadap nyeri
analgesik yang dirasakan

5) Agen
farmakologis
dapat
mengurangi
nyeri secara
adekuat

2. Setelah dilakukan tindakan 5 Observasi tanda-tanda vital 1) Tanda-tanda vital


keperawatan selama 1x60 6 Pantau pola pernafasan merupakan acuan
menit pola nafas kembali klien untuk mengetahui
efektif, dengan kriteria hasil : 7 Berikan posisi yang keadaan umum
nyaman dengan posisi semi klien
5. Tidak ada pernafasan
fowler 2) Membantu
cuping hidung
8 Lakukan tindakan mengetahui
6. Suara nafas vesikular
kolaborasi dengan tim adanya
7. Tanda-tanda vital dalam
medis lain dalam hiperventilasi pada
batas normal
pemberian obat-obatan klien saat respirasi
Tensi : 120/80 mmHg
9 Berikan terapi O2 nasal 3) Posisi semi fowler
RR : 16 – 20x/menit
sesuai kebutuhan klien dapat memberikan
Nadi : 80 – 100x/menit
kenyamanan untuk
Suhu : 36.5C – 37.5C
klien dengan sesak
8. Klien mengatakan secara
nafas
verbal sudah tidak sesak
nafas
4) Pemberian terapi
obat-obatan dapat
mengurangi
etiologi dari sesak
nafas
5) Terapi O2 nasal
membantu
pemenuhan
kebutuhan klien
BAB IV
PENUTUP
4.4 KESIMPULAN
Penyakit Jantung Koroner(PJK) adalah suatu penyakit pada jantung yang terjadi karena
adanya kelainan pada pembuluh koroner,berupa penyempitan pembuluh darah sebagai akibat
dari pengerasan dinding pembuluh darah oleh adanya penimbunan lemak berlebih. Beberapa
faktor resiko terpenting Penyakit Jantung Koroner : Kadar Kolesterol Total dan LDL
tinggi,Kadar Kolesterol HDL rendah,Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi),Meroko, Diabetes
Mellitus

4.5 SARAN

Penyakit jantung koroner merupakan penyakit yang paling berbahaya yang dapat
menyebabkan kematian no.1 di dunia,di Indonesia penderita penyakit jantung koroner semakin
meningkat,pola hidup masyarakat yang kurang sehat maka dari itu diharapkan agar masyarakat
Indonesia dapat mencegah dengan mengetahui factor resiko penyebab PJK,
DAFTAR PUSTAKA

1. Katz MJ. 2010. Coronary artery disease. Atrain Education [serial online] 2010 [cited
2011 Nov 09]; Available from: URL:
http://www.atrainceu.com/pdf/41_Coronary_Artery_Disease_CAD.pdf
2. Bryg RJ. 2009. Coronary artery disease. WebMD [serial online] 2009 [cited 2011 Nov
10]; Available from: URL: http://www.webmd.com/heart-disease/guide/heart-disease-
coronary-artery-disease?page=3
3. Deckelbaum L. Heart attacks and Coronary artery disease. Chapter 11. [cited 2011 Nov
10]; Available from: URL:http://www.med.yale.edu/library/heartbk/11.pdf. p.133.
4. Latif Ch. 2011. Buku panduan pendidikan klinik dokter muda laboratorium ilmu penyakit
dalam. Samarinda: Lab. Penyakit Dalam FK UNMUL.
5. Cabin HS. The heart and circulation. Chapter 1. [cited 2011 Nov 12]; Available from:
URL: http://www.med.yale.edu/library/heartbk/1.pdf. p.5.