Anda di halaman 1dari 22

I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara yang beriklim tropis yang
memiliki curah hujan yang tinggi. Curah hujan yang tinggi menyebabkan
genangan air dimana-mana dan juga sering menyebabkan banjir. Itulah yang
menyebabkan bakteri-bakteri penyebab anthrax dapat berkembang biak dan
menyebar dengan sangat mudah di Indonesia .
Anthrax adalah penyakit hewan yang dapat menular ke manusia dan
bersifat akut. Penyakit ini umumnya menyerang tenak domestik, seperti domba,
kambing dan sapi. Tetapi manusia juga dapat terinfeksi karena mengkonsumsi
daging yang sudah terkena bakteri, adanya kontak sembrono dengan hewan yang
sedang sakit anthrax atau terkena tanah yang tercemar bakteri. Bakteri anthrax
bisa masuk ke dalam tubuh melalui kulit, paru-paru atau saluran pencernaan.
Gejala umum serangan anthrax pada manusia berupa mengalami halusinasi buruk
dan pernapasannya terganggu , juga bisul berwarna hitam kemerahan yang pabila
pecah akan menimbulkan luka dan meninggalkan cacat.
Penyebab Anthrax adalah bakteri Bacillus anthracis. Bakteri ini bersifat
aerob, memerlukan oksigen untuk hidup. Bakteri ini berbentuk spora bertangkai
dan suka hidup serta berkembang biak di dalam tanah. Keluarnya bakteri tersebut
bisa terjadi di musim kemarau panjang, karena ternak suka menarik rerumputan
kering hingga keakar-akarnya. Akibatnya spora anthrax yang selama ini bertahan
hidup dalam tanah dan menempel di rumput, terbawa keluar dan berubah menjadi
bakteri ganas. Kondisi tubuh ternak yang lemah akibat kekurangan makanan dan
stres oleh suhu udara yang panas, juga semakin memudahkan serangan anthrax.
Selain itu spora ini juga dapat menyebar karena terbawa banjir seperti kasus di
Bogor. Hewan yang mati akibat anthrax harus langsung dikubur atau dibakar,
tidak boleh dilukai supaya bakteri tidak menyebar.
Penyakit Anthrax atau radang limpa adalah salah satu penyakit zoonotik
penting , yang saat ini banyak dibicarakan orang di seluruh dunia. Penyakit
zoonotik berarti dapat menular dari hewan ke manusia. Penyakit ini hampir setiap
tahun selalu muncul di daerah endemis, yang akibatnya dapat membawa kerugian

1
bagi peternak dan masyarakat luas. Infeksi antraks jarang terjadi namun hal yang
sama tidak berlaku kepada herbivora-herbivora seperti ternak, kambing, unta, dan
antelop. Antraks dapat ditemukan di seluruh dunia. Penyakit ini lebih umum
terjadi di negara-negara berkembang atau negara-negara tanpa program kesehatan
umum untuk penyakit-penyakit hewan. Beberapa daerah di dunia seperti
(Amerika Selatan dan Tengah, Eropa Selatan dan Timur, Asia, Afrika, Karibia dan
Timur Tengah) melaporkan kejadian antraks yang lebih banyak terhadap hewan-
hewan dibandingkan manusia.
Penyakit Anthrax diketahui sudah ada sejak zaman Mesir Kuno. Di tahun
1613, Eropa dilanda wabah penyakit ini dan tercatat sekitar 60 ribu orang tewas.
Penyakit anthrax sangat ditakuti, karena bakteri penyebabnya dapat mematikan,
mudah menyebar, sulit dimusnahkan dan bersifat zoonotik (dapat menular pada
manusia). Pada tahun 1877, Robert Koch mencoba mengembangbiakan bakteri ini
untuk pertama kali. Penelitiannya menunjukkan adanya jamur sporadis pada jenis
Bacillus yang terdapat dalam tubuh hewan.
Menurut catatan, anthrax sudah dikenal di Indonesia sejak jaman
penjajahan Belanda, tepatnya pada tahun 1884 di daerah Teluk Betung. Selama
tahun 1899 - 1900 di daerah Karesidenn Jepara tercatat sebanyak 311 ekor sapi
terserang anthrax, dan sejumlah itu 207 ekor mati. Pada tahun 1975, penyakit itu
ditemukan di enam daerah : Jambi, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, Nusa
Tenggara Barat, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Kemudian, 1976-1985,
anthrax berjangkit di 9 propinsi dan menyebabkan 4.310 ekor ternak mati. Dalam
beberapa tahun terakhir ini, hampir setiap tahun ada kejadian anthrax di
Kabupaten Bogor yang menelan korban jiwa manusia. Akhir-akhir ini diberitakan
media elektronik maupun cetak, 6 orang dan Babakan Madang meninggal dunia
gara-gara memakan daging yang berasal dan ternak sakit yang diduga terkena
anthrax. Kejadian ini telah mendorong Badan Litbang Pertanian mengambil
Iangkah proaktif untuk meneiti kejadian ini agar tidak menimbulkan dampak
negatif yang lebih luas.
Inilah yang mendasari saya mengangkat masalah tentang penyakit anthrax
Karena masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui apa dan bagaimana
penyakit anthrax itu sebenarnya. Anthrax termasuk kedalam penyakit yang dapat

2
menimbulkan kematian, dan berbagai macam kerugian lainnya. Untuk itu saya
berharap dengan makalah ini masyarakat dapat mengetahui bagaimana cara
pencegahan pencegahan penyakit anthrax dan pengobatannya jika telah terserang
penyakit ini.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, maka rumusan masalah pada makalah ini
adalah :
1. BagaimanaPengertian Penyakit Anthraks ?
2. Bagaimana Sejarah Penyakit Anthraks ?
3. Bagaimana Antrhax Sebagai Bioterorisme ?
4. Bagaimana Penyebab Penyakit Anthraks ?
5. Bagaimana Jenis-jenis Penyakit Anthraks ?
6. Bagaimana Gejala Penyakit Anthraks Pada Manusia ?
7. Bagaimana Cara Penularan dan Penyebaran Penyakit Anthraks ?
8. Bagaimana Pintu Penularan Penyakit Anthraks ?
9. Bagaimana Pencegahan Penyakit Anthraks ?
10. Bagaimana Pengobatan Penyakit Anthraks ?
11. Bagaimana Aspek Epidemiologi Penyakit Anthraks ?
12. Bagaimana Segitiga Epidemiologi Penyakit Antraks ?
13. Bagaimana Pengendalian Penyakit Anthrax ?

C. Tujuan Penulisan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk :
1. Untuk Mengetahui Pengertian Penyakit Anthraks
2. Untuk Mengetahui Bagaimana Sejarah Penyakit Anthraks
3. Untuk Mengetahui Bagaimana Antrhax Sebagai Bioterorisme
4. Untuk Mengetahui Apakah Penyebab Penyakit Anthraks
5. Untuk Mengetahui Apasaja Jenis-jenis Penyakit Anthraks
6. Untuk Mengetahui Bagaimana Gejala Penyakit Anthraks Pada Manusia

3
7. Untuk Mengetahui Bagaimana Cara Penularan dan Penyebaran Penyakit
Anthraks
8. Untuk Mengetahui Bagaimana Pintu Penularan Penyakit Anthraks
9. Untuk Mengetahui Bagaimana Pencegahan Penyakit Anthraks
10. Untuk Mengetahui Bagaimana Pengobatan Penyakit Anthraks
11. Untuk Mengetahui Aspek Epidemiologi Penyakit Anthraks
12. Untuk Mengetahui Bagaimana Segitiga Epidemiologi Penyakit Antraks
13. Untuk Mengetahui Serta Bagaimana Pengendalian Penyakit Anthrax

II PEMBAHASAN

4
A. Pengertian Penyakit Anthrax
Antraks adalah penyakit menular akut dan sangat mematikan yang
disebabkan bakteri Bacillus anthracis dalam bentuknya yang paling ganas.
Antraks bermakna "batubara" dalam bahasa Yunani, dan istilah ini digunakan
karena kulit para korbanakan berubah hitam. Antraks paling sering menyerang
herbivora-herbivora liar dan yang telah dijinakkan.Penyakit ini bersifat zoonosis
yang berarti dapat ditularkan dari hewan ke manusia, namun tidak dapat
ditularkan antara sesama manusia. Penyakit Antraks atau disebut juga Radang
Lympha, Malignant pustule, Malignant edema, Woolsorters disease, Rag
pickersdisease, Charbon.
Penyakit Antraks merupakan salah satu penyakit menular yang dapat
menimbulkan wabah, sesuai dengan undang-undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang
wabah penyakit menular dan Peraturan Menteri Kesehatan No. 1501 tahun 2010.
Penyakit Anthrax atau radang limpa adalah salah satu penyakit zoonosis
penting yang saat ini banyak dibicarakan orang di seluruh dunia. Penyakit
zoonosis berarti dapat menular dari hewan ke manusia. Penyakit ini hampir setiap
tahun selalu muncul di daerah endemis, yang akibatnya dapat membawa kerugian
bagi peternak dan masyarakat luas. Hampir semua jenis ternak (sapi, kerbau,
kuda, babi, kambing dan domba) dapat diserang anthrax, termasuk juga manusia.
Anthrax adalah penyakit infeksi gawat yang disebabkan oleh bakteri
yang bernama bacillus anthracis. Antraks paling sering menyerang herbivora-
herbivora liar dan yang telah dijinakkan, namun juga dapat menjangkiti manusia
karena terekspos hewan-hewan yang telah dijangkiti, jaringan hewan yang
tertular, atau tehirup spora antraks. Pada umumnya, penyakit anthrax yang
berakibat fatal itu terjadi apabila orang menghirup bakteri anthrax dalam kadar
yang tinggi saat bakteri berubah menjadi spora. Spora bakteri antrax ini bisa
disebar-luaskan oleh angin karena ukurannya yang sangat kecil.
Spora yang terhirup kemudian masuk ke paru-paru dan kembali
berkembang menjadi bakteri anthrax ganas yang mengakibatkan pendarahan dan
rusaknya paru-paru, sehingga korbannya akan meninggal dalam waktu kira-kira
satu minggu.

5
Anthrax sebetulnya bukan penyakit baru dan sudah diketahui sejak lama
oleh para peternak sapi, kambing dan biri-biri. Khususnya di mana ternak potong
itu tidak di vaksinasi, seperti di dunia berkembang. Para pekerja peternakan
biasanya terkena penyakit anthrax kulit karena bersentuhan dengan dari hewan-
hewan yang sakit. Kata para pakar 95 persen kasus anthrax yang diketahui adalah
anthrax yang menyerang kulit, dan mudah diobati.
Selain penyakit anthrax yang disebabkan oleh spora yang masuk ke tubuh
manusia lewat saluran pernapasan, anthrax juga bisa ditularkan lewat daging yang
tercemar dan tidak dimasak dengan sempurna. Kata para pakar kesehatan, spora
anthrax baru bisa menimbulkan bencana kalau masuk ke dalam tubuh manusia
dalam jumlah cukup banyak, yaitu antara 2,500 sampai 50,000 butir spora yang
kecil. Kalau orang terhirup spora anthrax dalam jumlah cukup banyak, orang itu
akan sakit seperti orang yang terkena demam influenza. Otot-otot sakit, kemudian
demam, yang dilanjutkan dengan kesulitan bernapas dan akhirnya orang yang
bersangkutan akan mati. Karena itulah bakteri anthrax dalam bentuk spora itu
dianggap sebagai bencana potensial kalau digunakan sebagai senjata pemusnah
massal.

B. Sejarah Antrhax
Penyakit antraks paling sering terjadi pada binatang herbivora akibat
tertelan spora dari tanah. Spora dapat bertahan hidup dalam jangka waktu yang
lama di dalam tanah. Burung gagak dikatakan dapat berperan dalam penyebaran
mikroorganisme ini. Kejadian luar biasa epizootik pada herbivora pernah terjadi
pada tahun 1945 di Iran yang mengakibatkan 1 juta domba mati. Program
vaksinasi pada binatang secara dramatis menurunkan mortalitas pada binatang
piaraan. Walaupun demikian spora antraks tetap ada dalam tanah pada beberapa
belahan dunia.
Pada manusia terdapat tiga tipe antraks yaitu: antraks kulit, antraks
inhalasi, dan antraks gastrointestinal. Antraks inhalasi secara alamiah sangat
jarang terjadi. Di Amerika Serikat dilaporkan 18 kasus antraks inhalasi dari tahun
1900-1976. Hampir semua kasus terjadi pada pekerja yang mempunyai risiko
tertular antraks, seperti tempat pemintalan bulu kambing atau wool atau

6
penyamakan kulit. Tidak ada kasus antraks inhalasi di AS sejak tahun 1976.
Secara alamiah antraks kulit merupakan bentuk yang paling sering terjadi dan
diperkirakan terdapat 2000 kasus pertahunnya di seluruh dunia. Pada umumnya
penyakit timbul setelah seseorang terpajan dengan hewan yang terinfeksi antraks.
Di AS dilaporkan 224 kasus antraks kulit dari tahun 1944-1994. Centers for
diseases Control and Prevention (CDC) melaporkan kejadian antraks kulit dari
tahun 1984-1993 hanya tiga orang, dan satu kasus dilaporkan terjadi pada tahun
2000. Kejadian luar biasa terjadi di Zimbabwe pada tahun 1978-1980 yang
mengakibatkan 10.000 orang terjangkit antraks kulit terutama pada pekerja
perkebunan. Kejadian itu terjadi akibat perang yang menyebabkan terhentinya
program vaksinasi, kerusakan infrastruktur medis dan veteriner.
Walaupun jarang terjadi, di Afrika dan Asia ledakan kasus antraks gastrointestinal
masih sering dilaporkan. Kejadian luar biasa 24 kasus antraks gastrointestinal
terjadi di Thailand pada tahun 1982. Kejadian itu terjadi akibat konsumsi daging
kerbau yang terkontaminasi dan proses pemasakan yang tidak sempurna. Kejadian
epidemi antraks pada manusia berhubungan langsung dengan epizootik pada
ternak.

C. Antrhax Sebagai Bioterorisme


Pada tahun 1979 di Sverdlovsk bekas Uni Soviet pada fasilitas
mikrobiologi militer terjadi kasus kecelakaan keluarnya aerosol spora antraks
yang mengakibatkan paling tidak 79 kasus antraks dan 66 orang meninggal.
Aerosol antraks tidak berbau, tidak terlihat, dan berpotensi menyebar beberapa
kilometer.
Pada tahun 1970 World Health Organization (WHO) memperkirakan
apabila 50 kg antraks dijatuhkan pada penduduk urban berjumlah lima juta orang
akan mengkibatkan 250.000 terjangkit antraks dan 100.000 orang meninggal. AS
pada tahun 1993 memperkirakan 130.000-.3 juta orang akan meninggal akibat
aerosol spora antraks seberat 100 kg yang terbawa angin di Washington DC, dan
hal itu setara dengan daya bunuh bom hidrogen. Dari model ekonomi diperkirakan
biaya yang harus dikeluarkan sebesar 26.2 milyar dolar tiap 100.000 orang
tertular.

7
Sejak September 2001 tercatat 12 kasus antraks di AS, dua kasus inhalasi
(satu kasus fatal) terjadi pada pekerja penerbit tabloid di Boca Raton, Florida,
empat kasus inhalasi antraks (dua kasus fatal) terjadi pada pekerja pengirim surat
di Washington DC, Trenton, New Jersey. Enam kasus lainnya menderita antraks
kulit. Dari surat kabar dilaporkan 28 orang di kantor senat terpapar antraks pada
swab nasal.

D. Penyebab Penyakit Anthrax


Penyebab penyakit anthrax adalah bakteri Bacillus anthracis. Cara
masuknya ke dalam tubuh kita adalah dengan cara penempelan bakteri Bacillus
anthracis langsung di kulit; mengonsumsi makanan yang terkontaminasi bakteri
Bacillus anthracis; atau menghirup udara yang terkontaminasi spora bakteri
Bacillus anthracis.

E. Jenis-Jenis Penyakit Anthrax


Jenis-jenis penyakit anthrax bisa dibedakan berdasarkan tempat-tempat
bakterinya menyerang.
1. Cutaneous anthrax. Yaitu penyakit anthtrax yang menyerang jaringan kulit.
2. Gastrointestinal anthrax. Yaitu penyakit anthrax yang menyerang perut
akibat memakan makanan yang terkontaminasi bakteri anthrax.
3. Inhalational anthrax. Yaitu penyakit anthrax yang menyerang saluran
pernapasan akibat menghirup spora bakteri anthrax.
4. Oropharyngeal anthrax. Yaitu penyakit anthrax yang menyerang
tenggorokan akibat memakan makanan yang terkontaminasi bakteri
anthrax.
Dari keempat jenis penyakit anthrax di atas, Inhalational anthrax adalah
jenis yang paling mematikan dan cutaneous anthrax adalah yang paling
banyak terjadi.

F. Gejala Penyakit Anthrak Pada Manusia


Gejala yang terjadi saat menderita penyakit anthrax tergantung kepada
jenis penyakit anthrax yang dideritanya.

8
1. Cutaneous anthrax. Gejalanya berupa benjolan yang awalnya kecil dan
kemudian membesar. Benjolan ini bisa sangat gatal. Masa inkubasinya
(masa yang dibutuhkan dari sejak masuk hingga menjadi penyakit) adalah
sekitar 5 -7 hari. Lalu, benjolan menjadi terisi cairan dengan diameter 1-3
cm. Lama-kelamaan, benjolan berair ini akan membentuk luka seperti
lecet dengan bagian pinggiran yang kemerah-merahan. Di hari ke-7 hingga
ke-10 terjadi pembengkakan kelenjar getah bening; sakit kepala; dan
demam.
2. Inhalational anthrax. Gejalanya pertama muncul di hri ke-1 sampai hari
ke-7. Akan tetapi menghilang setelah 60 hari. Gejala yang terjadi pada
inhalational anthrax biasa adalah berupa flu, sakit tenggorokan, demam,
dan sakit otot. Adapun untuk inhalational anthrax yang tidak biasa
(membahayakan), gejala bisa ditambah dengan sesak napas dan demam
tinggi. Kematian bisa terjadi dalam 24-36 jam setelah gejala berkembang.
3. Gastrointestinal anthrax. Gejala terjadi di hari ke-1 sampai ke-6 yang
berupa kerusakan/borok lambung; borok lidah dan tonsil; sakit
tenggorokan; hilang selera makan; muntah-muntah; dan demam. Gejala ini
bisa ditambah dengan sakit bagian perut; muntah darah; dan berak darah.
Dalam 2 hingga 4 hari; cairan akan mengisi rongga perut. Kematian akan
terjadi di hari ke-2 sampai hari ke-5
4. Oropharyngeal anthrax. Gejala yang terjadi berupa demam;
pembengkakan kelenjar getah bening di leher; sakit tenggorokan yang
berat; susah menelan; serta sakit lambung dan lidah.

G. Gejala Penyakit Anthrak Pada Hewan


1. Perakut (sangat cepat) terjadi sangat mendadak dan segera mengikuti
kematian, sesak napas, gemetar, kemudian hewan rebah kadang terdapat
gejala kejang. Pada sapi kambing dan domba mungkin terjadi kematian
yang mendadak tanpa menimbulkan gejala penyakit terlebih dahulu.

9
2. Bersifat akut (cepat) pada sapi, kambing, domba dan kuda : demam (suhu
tubuh mencapai 41,50C), gelisa, sesak napas, kejang, dan diikuti kematian,
kadang sesaat sebelum kematian kelaur darah kehitaman yang tidak
membeku dari lubang kumlo (lubang hidung, mulut, telinga, anus dan alat
kelamin). Pada kuda dapat terjadi nyeri perut (kolik) diare berdarah,
bengkak daerah leher dada, perut bagian bawah dan alat kelamin bagian
luar.

H. Cara Penularan dan Penyebaran Penyakit Anthrak


Bacillus anthracis tidak berpindah langsung dan ternak satu ke ternak yang
lain, tapi biasanya masuk ke dalam tubuh ternak bersama makanan, perkakas
kandang atau tanah (rumput). Infeksi tanah inilah yang dianggap paling penting
dan berbahaya. Spora yang ada di dalam tanah bisa naik ke atas oleh pengolahan
tanah dan hinggap di rumput, yang kemudian dimakan ternak bersama sporanya.
Demikian juga spora itu bisa masuk ke dalam kulit, apabila hewan itu berada dan
tidur di tempat yang tercemar.
Spora ini akan tumbuh dan berbiak dalam jaringan tubuh dan menyebar ke
seluruh tubuh mengikuti aliran darah. Ternak penderita penyakit anthrax dapat
menulari ternak lain, melalui cairan (eksudat) yang keluar dan tubuhnya. Cairan
ini kemudian mencemari tanah sekelilingnya dan dapat menjadi sumber untuk
munculnya kembali wabah di masa berikutnya. Cara penularan lain, bila ternak
penderita sampai dipotong/bedah atau kalau sudah mati sempat termakan burung
liar pemakan bangkai, sehingga sporanya dapat mencemari tanah sekitarnya, serta
menjadi sulit untuk menghilangkannya.
Hingga kini, para ahli tetap menyatakan penyebab penularan penyakit
antraks adalah kuman Bacillus anthracis Di alam, bakteri antraks ni basanya ada
dalam kondisi tidur. dan bersembunyi dalam tanah hingga mampu bertahan
sampai 50-70 tahun. Bakteri yang tergolong bersel satu ini bisa terbangun kembali
dan tidurnya ketika kondisi lingkungan sangat mendukung untuk menyebarkan
penyakit pada hewan dan manusia.
Dengan kata lain, spora yang tinggal dalam tanah itu akan hidup kembali ,
bila tanah tempat ia tinggal tergenang air atau datang musim hujan. Kuman ini

10
akan tumbuh kembali dan siap menyerang hewan yang ada di sekitarnya.
Hebatnya lagi, kuman ini dapat terserap oleh akar tumbuh-tumbuhan, bahkan
hingga dapat masuk ke dalam daun dan buah. Apa yang terjadi selanjutnya, kita
bisa menebak bahwa akhirnya kuman mampu menginfeksi ternak maupun
manusia yang mengonsumsinya.
Sumber infeksi lainnya ialah bangkai tenak pengindap antraks. Pada
kondisi ini, miliaran Bacillus anthracis bisa memadat di darah dan organ-organ
dalam ternak. Bahkan keterangan lain meriyebutkan bahwa disinyalir di seluruh
bangkai hewan tersebut dianggap mengandung kuman penyakit antraks.

Dalam satu milimeter darah, setidaknya mengandung satu miliar kuman


antraks. Bila kuman itu berinteraksi dengan oksigen, ia dapat segera mengubah
diri dalam bentuk spora. Bila kondismnya demikian, dipercaya kuman ini memiki
daya tahan tubuh yang lebih kebal dari sebelumnya. Kuman-kuman dalam bentuk
spora inilah yang dapat hidup hingga 70 tahun lamanya.

I. Pintu Penularan Penyakit Anthraks


Pintu masuknya penyakit antraks pada hewan, umumnya bisa melalui
saluran pencernaan hewan, kontak kulit dan terhirup masuk melalui saluran
pernapasan. Sedangkan pada manusia, selain bisa menular melalul kontak atau
mengonsumsi daging hewan ternak yang terkena antraks, penularan antarmanusia
bisa terjadi melalui udara yang tercemar spora antraks dan masuk ke paru-paru
manusia.
Dengan kata lain, bakteri Bacillus anthracis akan bersifat menghancurkan sel-sel
darah, baik pada hewan maupun manusia. Apabila gejala klinis sudah timbul,
biasanya dilkuti dengan kematian, baik pada hewan maupun manusia .Untuk itu,

11
orang yang mengonsumsi daging hewan terkena antraks akan sangat
membahayakan. Apalagi kondisi daging hewan tersebut tidak kita masak teriebih
dahulu secara sempurna.
Selain itu, Bacillus anthracis juga membentuk spora sebagai bentuk resting
cells. Pembentukan spora akan terjadi apabila nutrisi esensial yang diperlukan
tidak memenuhi kebutuhan untuk pertumbuhan, prosesnya disebut sporulasi.
Spora berbentuk elips atau oval, letaknya sentral dengan diameter tidak lebih dari
diameter bakteri itu sendiri. Spora Bacillus anthracis ini tidak terbentuk pada
jaringan atau darah binatang yang hidup, spora tersebut tumbuh dengan baik di
tanah maupun pada jaringan hewan yang mati karena antraks.
Di sinilah keistimewaan bakteri ini, apabila keadaan lingkungan sekitar menjadi
baik kembali atau nutrisi esensial telah terpenuhi, spora akan berubah kembali
menjadi bentuk bakteri. Sporaispora ini dapat terus bertahan hidup selama
puluhan tahun dikarenakan sulit dirusak atau mati oleh pemanasan atau bahan
kimia tertentu, sehingga bakteri tersebut bersifat dormant, hidup tapi tak
berkembang biak.

J. Pencegahan Penyakit Anthrax


Cara pencegahan penyakit anthrax adalah dengan menghindari kontak
langsung dengan binatang atau benda-benda yang membawa bakteri penyakit ini.
Ternyata bakteri ini memiliki kemampuan yang unik . Jangkitan yang disebabkan
oleh penyakit ini tidak mudah untuk di musnahkan, karena bakteri ini memiliki
kecenderungan untuk merubah bentuknya menjadi spora yang amat stabil. Saat
berubah menjadi spora bakteri ini dapat masuk kedalam tanah dan mampu
bertahan selama lima puluh sampai enam puluh tahun di dalam tanah. Uniknya
bila tanah tempat ia tinggal tergenang air, kuman ini dapat tumbuh kembali dan
menyerang hewan ataupun manusia yang ada di sekitamya. Selain itu saat terjadi
musim kemarau biasanya ternak menaik rumput sampai ke akarnya ,inilah yang
membuat penyakit ini akan terus terulang di daerah yang pernah terkena antrax .
Repotnya lagi kuman ini dapat terserap oleh akar tumbuh-tumbuhan, bahkan
hingga dapat masuk ke dalam daun dan buah, hingga mampu menginfeksi tenak
maupun manusia yang mengkonsumsinya. Bahkan serangga, burung, anjing, dan

12
binatang-binatang lain juga dapat menjadi perantara penularan penyakit ini,
apabila telah mengalami kontak langsung dengan bakteri penyebab penyakit ini .
Namun pencegahan dapat di lakukan dengan cara cucilah tangan sebelum makan,
hindari kontak dengan hewan atau manusia yang sudah terjangkit anthrax, belilah
daging dari rumah potong hewan yang resmi, masaklah daging dengan sempurna,
hindari menyentuh cairan dari luka anthrax, melaporkan secepat mungkin bila ada
masyarakat yang terjangkit anthrax.Bagi peternak atau pemilik hewan ternak,
upayakan untuk menvaksinka hewan ternaknya. Dengan Pemberian SC ,untuk
hewan besar 1 ml dan untuk hewan kecil 0,5 ml.Vaksin ini memiliki daya
pengebalannya tinggi berlangsung selama satu tahun.

K. Pengobatan Penyakit Anthrax


Pemberian antibiotik intravena direkomendasikan pada kasus antraks
inhalasi, gastrointestinal dan meningitis. Pemberian antibiotik topikal tidak
dianjurkan pada antraks kulit. Antraks kulit dengan gejala sistemik, edema luas,
atau lesi di kepala dan leher juga membutuhkan antibiotic intravena. Walaupun
sudah ditangani secara dini dan adekuat, prognosis antraks inhalasi,
gastrointestinal, dan meningeal tetap buruk. B. anthracis alami resisten terhadap
antibiotik yang sering dipergunakan pada penanganan sepsis seperti sefalosporin
dengan spektrum yang diperluas tetapi hampir sebagian besar kuman sensitif
terhadap penisilin, doksisiklin, siprofloksasin, kloramfenikol, vankomisin,
sefazolin, klindamisin, rifampisin, imipenem, aminoglikosida, sefazolin,
tetrasiklin, linezolid, dan makrolid. Bagi penderita yang alergi terhadap penisilin
maka kloramfenikol, eritromisin, tetrasikilin, atau siprofloksasin dapat diberikan.
Pada antraks kulit dan intestinal yang bukan karena bioterorisme, maka pemberian
antibiotik harus tetap dilanjutkan hingga paling tidak 14 hari setelah gejala reda.
Oleh karena antraks inhalasi secara cepat dapat memburuk, maka pemberiaan
antibiotik sedini mungkin sangat perlu. Keterlambatan pemberian antibiotik
sangat mengurangi angka kemungkinan hidup. Oleh karena pemeriksaan
mikrobiologis yang cepat masih sulit dilakukan maka setiap orang yang memiliki
risiko tinggi terkena antraks harus segera diberikan antibiotik sambil menunggu

13
hasil pemeriksaan laboratorium. Sampai saat ini belum ada studi klinis terkontrol
mengenai pengobatan antraks inhalasi. Untuk kasus antraks inhalasi Food and
Drug Administration (FDA) menganjurkan penisilin, doksisiklin, dan
siprofloksasin sebagai antibiotik pilihan.
Untuk hewan tersangka sakit dapat dipilih salah satu dari perlakuan
sebagai berikut :
1. Penyuntikan antiserum dengan dosis pencegahan (hewan besar 20-30 ml,
hewan kecil 10-1 ml)
2. Penyuntikan antibiotika
3. Penyuntikan kemoterapetika
4. Penyuntikan antiserum dan antibiotika atau antiserum dan kemoterapetika.

Cara penyuntikan antiserum homolog ialah IV atau SC, sedangkan untuk


antiserum heterolog SC. Dua minggu kemudian bila tidak timbul penyakit,
disusul dengan vaksinasi.

L. Aspek Epidemiologi Penyakit Anthrax


1. Etiologi
Penyebab penyakit Anthrax adalah Bacillus anthracis. Pertama kali
ditemukan oleh DAVAINE dan BAYER tahun 1849. Selanjutnya dilakukan
identifikasi oleh POLLENDER tahun 1855. Dua tahu setelah itu (1857)
BRAVEL berhasil memindahkan penyakit ini dengan cara menginokulasikan
darah hewan yang terkena Anthrax. Pada tahun 1877 ROBERT KOCH dapat
membuat biakan murni dari B. anthracis, membuktikan kemampuan bakteri
tersebut membentuk spora serta mengenali lebih lanjut sifat-sifat bakteri
tersebut. Bakteri ini merupakan bakteri pertama yang diketahui mampu
menyebabkan penyakit. Pada biakan agar koloni terlihat mempunyai
permukaan seperti serpihan kaca atau “ground glass”. Pinggiran koloni
terlihat sebagai “Medussa”, oleh karena pembentukan filament yang panjang
sehingga seakan-akan terlihat bagaikan rambut yang panjang dan ikal dari
DEWI YUNANI MEDUSSA (LAY, 1992; GYLES and THOEN, 1993;

14
BISPING and AMTSBERG,Lokakarya Nasional Penyakit Zoonosis 132
1988). Bacillus anthracis merupakan bakteri berbentuk batang, ujung-
ujungnya persegi dengan sudut-sudut yang tampak jelas, tersusun berderet
sehingga tampak seperti ruasruas bambu (BISPING and AMTSBERG, 1988)
atau seperti bentuk mobil boks/”box car” (ANON, 2005).

Bacillus anthracis, kuman berbentuk batang ujungnya persegi dengan


sudut-sudut tersusun berderet sehingga nampak seperti ruas bambu atau
susunan bata, membentuk spora yang bersifat gram positif. Basil bentuk
vegetatif bukan merupakan organisme yang kuat, tidak tahan hidup untuk
berkompetisi dengan organisme saprofit.Basil Antraks tidak tahan terhadap
oksigen, oleh karena itu apabila sudah dikeluarkan dari badan ternak dan jatuh
di tempat terbuka, kuman menjadi tidak aktif lagi, kemudian melindungi diri
dalam bentuk spora.
Apabila hewan mati karena Antraks dan suhu badannya antara 28 -30
°C, basil antraks tidak akan didapatkan dalam waktu 3-4 hari, tetapi kalau suhu
antara 5 -10 °C pembusukan tidak terjadi, basil antraks masih ada selama 3-4
minggu. Basil Antraks dapat keluar dari bangkai hewan dan suhu luar di atas
20°C, kelembaban tinggi basil tersebut cepat berubah menjadi spora dan akan
hidup. Bila suhu rendah maka basil antraks akan membentuk spora secara
perlahan - lahan (Christie 1983). Bacillus antracis penyebab penyakit antraks
mempunyai dua bentuk siklus hidup, yaitu fase vegetatif dan fase spora
a) Fase Vegetatif
Berbentuk batang, berukuran panjang 1-8 mikrometer, lebar 1-1,5
mikrometer. Jika spora antraks memasuki tubuh inang (manusia atau hewan
memamah biak) atau keadaan lingkungan yang memungkinkan spora segera
berubah menjadi bentuk vegetatif, kemudian memasuki fase berkembang biak.
Sebelum inangnya mati, sejumlah besar bentuk vegetatif bakteri antraks
memenuhi darah.Bentuk vegetatif biasa keluar dari dalam tubuh melalui
pendarahan di hidung, mulut, anus, atau pendarahan lainnya.Ketika inangnya

15
mati dan oksigen tidak tersedia lagi di darah bentuk vegetatif itu memasuki
fase tertidur (dorman/tidak aktif).Jika kemudian dalam fase tertidur itu terjadi
kontak dengan oksigen di udara bebas, bakteri antraks membentuk spora
(prosesnya disebut sporulasi). Pada fase ini juga dikaitkan dengan penyebaran
antraks melalui serangga, yang akan membawa bakteri dari satu inang ke inang
lainnya sehingga terjadi penularan antraks kulit, akan tetapi hal tersebut masih
harus diteliti lebih lanjut.
b) Fase Spora
Berbentuk seperti bola golf, berukuran 1-1,5 mikrometer. Selama fase
ini bakteri dalam keadaan tidak aktif (dorman), menunggu hingga dapat
berubah kembali menjadi bentuk vegetatif dan memasuki inangnya.Hal ini
dapat terjadi karena daya tahan spora antraks yang tinggi untuk melewati
kondisi tak ramah--termasuk panas, radiasi ultraviolet dan ionisasi, tekanan
tinggi, dan sterilisasi dengan senyawa kimia.Hal itu terjadi ketika spora
menempel pada kulit inang yang terluka, termakan, atau--karena ukurannya
yang sangat kecil--terhirup.Begitu spora antraks memasuki tubuh inang, spora
itu berubah ke bentuk vegetatif.
2. Frekuensi
Di Indonesia,kasus antraks pada manusia pertama kali dilaporkan
di Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 1832. Tercatat 36
penderita meninggal setelah makan daging pada tahun 1969.
Empat tahun kemudian 4 orang lagi meninggal setelah makan
daging yang terinfeksi antraks pada pelacakan.
Infeksi antraks menyebar keselutuh tanah air. Telah dilaporkan KLB
antraks di teluk Betung privinsi Lampung tahun 1884, Kabupaten
Buleleng Propinsi Bali dan Palembang, Sumatera Selatan tahun 1885.
Kabupaten Bima, NTB tahun 1976 dan Kabupaten Paniai, Irian Jaya pada
tahun 1985 dan ribuan ternak babi mati dan 11 orang meninggal karena
makan daging babi.
KLB juga menyerang Jawa Tengah pada tahun 1990 k di
Kabupaten Semarang, Boyolali dan Demak dengan total kasus 48 orang

16
tanpa kematian. Pada tahun 200 terjadi KLB di Kabupaten
Purwakarta,Jawa Barat dengan 32 kasusu, tahun 2001 di Kabupaten Bogor
dengan 22 orang penderita dengan kematian 2 orang.
Saat ini sudah 11 propinsi di Indonesia tertular antraks yaitu : DKI
Jakarta,Jawa Barat,Jawa Tengah,NTB,NTT,Sumatera Barat,Jambi,Sulawesi
Tengah,Sulawesi Utara,dan Papua.Total kasus di Indonesia pada tahun
1992-2001 adalah 599 kasus dengan kematian 10 orang.
Kejadian antraks di Indonesia dalam kurun waktu 10 tahun terakhir telah
terjadi lima kali wabah yaitu tahun 1996 di Kabupaten
Purwakarta,Subang,Bekasi, dan Karawang, pada tahun 1997 di Kabupaten
Purwakarta,Subang dan Karawang,pada tahun 1999 di kabupaten
Purwakarta,Subang dan Bekasi , pada tahun 2000 di Kabupaten Purwakarta
dan tahun 2001 di Kabupaten Bogor di tiga kecamatan yaitu
Citeureup,Cibinong,dan Babakan Madang yang mengakibatkan 2 orang
meninggal dunia. Kejadian terakhir pada tahun 1992 di Boyolali saat itu
wabah antraks memyerang Desa Kopen,Kecamatan Teras, pada kejadian itu
tercatat 25 orang dinyatakan positif terjangkit antraks dan 18 orang
meninggal. Situasi Antraks di Jawa Tengah menunjukan tahun 2007 : 10
kasus,tahun 2008 dan tahun 2009 masing-masing 2 kasus sedangkan tahun
2010 dan 2011 masing-masing 28 kasus.

3. Distribusi
a. Menurut Orang
Antrakx merupakan penyakit akibat kerja terutama para pekerja
yang memproses kulit, bulu (terutama kambing) tulang, produk tulang
dan wol, dokter hewan dan pekerja pertanian, pekerja yang menangani
binatang liar dan mengenai mereka yang menangani binatangsakit.
b. Menurut Tempat
Antrachis biasanya hidup di :
1) Lingkungan peternakan
2) Lingkungan Perindustrian

17
3) Lingkungan Laboratorium
Antraks tahan terhadap cuaca panas dan dingin spora ini akan
mati apabila suhu lingkungan mencapai 100°C.
c. Menurut Waktu :
Penyakit ini dapat terjadi sepanjang tahun. B. Antrhacis ini dapat
bertahan hidup selama 60 tahun pada suhu sesuai atau sulit dirusak atau
mati oleh pemanasan atau bahan kimia tertentu sehingga bekteri ini
bersifat dormant, hidup tetapi tidak berkembang lagi.
4. Determinan
Penyakit ini di pengaruhi oleh beberapa hal, yaitu : sporulasi
dan germinasi, seperti PH, suhu lingkungan aktivitas air, kandungan
mineral. Faktor lain yaitu faktor yang berhubungan dengan musim seperti
aktivitas merumput, kesehatan dari inang, dan aktivitas manusia.

M. Segitiga Epidemiologi Penyakit Anthrax


1. Agent
Pada penyakit antraks agent utamanya yaitu bakteri Bacillus
anthracis. Bakteri tersebut berbentuk batang (ruas-ruas) dengan ukuran
panjang 3-8 m. Dalam biakan agar darah biasanya berbentuk rantai
(Streptobacilli), dapat juga berbentuk tunggal (soliter) atau berantai dua
terutama dalam tubuh penderita.
Dalam kondisi buruk B.anthracis akan membentuk spora yang
tahan terhadap lingkungan yang buruk misalnya pemanasan bahkan air
mendidih. Spora B.anthracis tahan sampai bertahun-tahun dalam kondisi
lingkungan sesuai.
2. Host
a) Manusia
Menginfeksi melalui permukaan kulit yang terluka, dan melalui
pernafasan – terhirup spora antraks melalui bulu, dll
b) Hewan

18
Basil Antraks berkerumun didalam jaringan hewan yang kemudian
disekresi dan ekskresi, maka sporanya akan terbentuk dan mencemari
tanah sekitarnya dan kemudian dimakan burung maka disini akan
terjadi penularan

3. Environment
Lingkungan yang kemungkinan penyebaran penyakit antraks
lebih cepat yaitu pada daerah peternakan dan pada iklim kering dan
cuaca panas. Dalam hal ini, iklimkemungkinan mempengaruhi secara
langsung maupun tidak langsung cara bagaimana ternak kontak
dengan spora antraks.

N. Pengendalian Penyakit Anthrax


Disamping pengobatan, perlu cara-cara pengendalian khusus untuk
menahan penyakit dan mencegah perluasannya. Seperti dilakukannya tindakan
mengasingkan hewan -hewan yang menderita anthrax, hewan ternak yang sakit
dilarang disembelih karena ada kemungkinan hewan tersebut terkena penyakit
antrhax , bangkai hewan yang mati karena anthrax harus segera dibinasakan
dengan dibakar habis atau dikubur dalam-dalam, untuk mencegah perluasan
penyakit melalui serangga dipakai obat-obat pembunuh serangga, hewan yang
mati karena anthrax dicegah agar tidak dimakan oleh hewan pemakan bangkai ,
dan tindakan sanitasi umum terhadap orang yang kontak dengan hewan penderita
penyakit dan untuk mencegah perluasan penyakit. Selain itu, penyembelihan
hewan di laksanakan di RPH resmi dibawah pengawasan dokter hewan dan
Pelaksanaan pemeriksaan kesehatan hewan sebelum penyembelihan (ante
mortem) yaitu pemeriksaan kesehatan daging, karkas, jeroan dan kepala setelah
penyembelihan (post mortem) oleh dokter hewan atau para medis kesehatan
hewan dibawah pengawasan dokter hewan pun juga perlu di lakukan.

19
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
a. Perlunya Mengetahui Penyebab Penyakit Anthrax
Penyakit anthrax memang sudah sepatutnya diketahui oleh masyarakat
karena penyakit ini dapat menimbulkan kematian. Selain dapat
menimbukan kematian, penyakit ini juga dapat menimbulkan cacat
permanen bagi pederitanya.Untuk itu masarakat perlu mengetahui tentang
penyakit anthax untuk dapat mencegah berkembangnya kembali penyakit
ini di masyarakat.
b. Cara Pencegahan Penyakit Anthrax
Anthrax pada manusia dapat dicegah dengan tindakan-tindakan
pencegahan yang bisa kita lakukan antara lain:
1. Cuci tangan sebelum makan

20
2. Hindari kontak dengan hewan atau manusia yang sudah terjangkit
anthrax
3. Beli daging dari rumah potong hewan yang resmi
4. Masaklah daging dengan sempurna
5. Hindari menyentuh cairan dari luka anthrax
6. Melaporkan secepat mungkin bila ada masyarakat yang terjangkit
anthrax. Bagi peternak atau pemilik hewan ternak, upayakan untuk
menvaksinka hewan ternaknya. Dengan Pemberian SC ,untuk
hewan besar 1 ml dan untuk hewan kecil 0,5 ml.Vaksin ini
memiliki daya pengebalannya tinggi berlangsung selama 1 tahun.
c. Cara Pengobatan Penyakit Anthrax
Semua penyakit anthrax secara efektif dapat diobati dengan menggunakan
antibiotik, seperti penicillin, doksisiklin, atau ciproflaksin.Pada
inhalational dan gastrointestinal anthrax, pemberian antibiotik harus segera
diberikan pada saat penderita melakukan kontak dengan bakteri anthrax.
Hal ini karena pada saat gejala timbul, anthrax jenis ini tidak merespon
terhadap antibiotik. Perawatan di rumah sakit yang berfasilitas lengkap
merupakan keharusan bagi penderita penyakit anthrax.

B. Saran
Saran saya agar dengan dibuatnya makalah ini, masyarakat lebih membuka
mata terhadap penyakit anthrax. Selain itu juga agar nantinya masyarakat dapat
mengusahakan seoptimal mungkin agar angka kasus penyakit anthrax di daerah
masing-masing tidak mengalami peningkatan.

21
DAFTAR PUSTAKA

Dewan Redaksi Hamparan Dunia Ilmu. 2008. Penyakit Anthrax. Jakarta : Tiara
Pustaka.
Prawirahartono, Slamet. 2008. Cara Penyakit Anthrax. Jakarta : Bumi Aksara.
http://www.google.co.id/anthrax/subject/09834?id&/ diakses Oktober 2010.

22