Anda di halaman 1dari 6

CERITA SUKSES

PENENUN DARI
LOMBOK TENGAH
Tahun 2017
AKU DAN SUMURKU

Saya biasa dipanggil Inak Dedek, saya adalah seorang janda beranak tiga. Suami saya
meninggal 15 tahun yang lalu, saat anak-anak saya masih kecil. Anak sulung saya
waktu itu baru kelas satu SD dan 2 orang lainnya masih balita. saya membesarkan
anak-anak saya sendirian dan menafkahinya dari hasil menenun dan menjadi buruh
tani. Kini anak sulung saya telah bekerja, anak kedua baru menamatkan bangku SMA
sedangkan si bungsu masih kelas 2 SMA.

Saya bergabung menjadi anggota kelompok penenun sejak tahun 2016, rumah saya
bersebelahan dengan Learning Centre. Setiap hari saya menenun di Learning Centre,
sebelumnya saya menenun di teras rumah saya yang berlantaikan tanah. Sejak
bergabung di kelompok “Tenar” dengan simpan pinjam dikelompok, saya merasa
sangat terbantu. Ketika saya butuh uang untuk uang saku anak saya, saya bisa
meminjam dikelompok tanpa butuh proses yang lama, saya dan saudara perempuan
saya yang juga anggota kelompok bersama-sama mengajukan pinjaman untuk
membuat sumur. Karena selama ini untuk mandi, memasak dan lainnya saya harus
meminta air dari sumur tetangga, Ini adalah hal yang paling saya syukuri, sebab
saya tidak perlu repot lagi mengangkut air”.
PENGALAMAN PERTAMA KELUAR DAERAH

Nama saya Yuliatin, lebih akrab dipanggil Atin, saya lahir di Pelambik pada tanggal 10
September 1988, saya mulai menenun sejak duduk di bangku Sekolah Menengah
Pertama (SMP). Saya menikah pada tahun 2010 dan memiliki seorang putri, kegiatan
sehari–hari saya hanya menenun di rumah, suami saya menjadi Buruh Migran ke
Malaysia. Selama ditinggal suami, saya menekuni tenun ini untuk mencari belanja
sehari–hari sebelum dikirimkan uang oleh suami saya, namun hasil/upah yang saya
peroleh tidaklah setimpal dengan lamanya pengerjaan menenun karena dari pihak
pengepul juga tidak mau rugi apalagi kalau hasil tenun yang dihasilkan tidak sempurna
(ada cacatnya), upah yang saya peroleh pun sedikit sekali.

Diawal tahun 2017 ini saya ikut bergabung dengan kelompok tenun alam yang ada di
desa saya, dari situ saya banyak mendapatkan pengalaman baru tentang dunia tenun
terutama dari tenun alam.
Saya yang hanya lulusan SMP, dulunya tidak pernah keluar dari desa saya, namun
sejak bergabung dengan kelompok tenun alam ini, banyak sekali perubahan yang saya
sudah alami, saya sudah sering mengikuti pelatihan baik di tingkat desa, kecamatan,
dan kabupaten bahkan sampai tingkat provinsi, beberapa bulan yang lalu saya sempat
mengikuti pameran tenun yang di adakan di Denpasar, hal yang tidak pernah saya
bayangkan sebelumnya, terima kasih atas bantuannya.
AKHIRNYA LEPAS DARI PENGEPUL

Nama saya Taruni kelahiran tahun 1979 di Desa Pelambik, saya mulai menekuni dunia
tenun sejak masih duduk di bangku sekolah MTs kelas 1, saya hanya menenun jika ada
pesanan karena saya sudah agak kapok menenun dan menjualnya kepada pengepul
berhubung harga yang diberikan sangat murah sehingga saya lebih senang jika menjual
hasil tenunan saya ke orang yang memesan saja. saya memiliki seorang anak dan
suami saya bekerja di luar negeri sebagai buruh migran.

Saya mengikuti kelompok tenun sejak tahun 2010 sebagai anggota kelompok, jumlah
anggota kelompok tenun saya waktu itu sebanyak 10 orang. Seiring berjalannya
waktu ketua kelompok yang sebelumnya tiba-tiba berhenti dan saya yang ditunjuk
untuk menggantikannya. saya sudah 3 tahun ini menjadi ketua kelompok tenun Karang
Ampan. Sejak tahun 2017, kelompok tenun Karang Ampan sudah memiliki anggota
sebanyak 31 orang dan kelompok ini sekarang sudah cukup maju serta sering
melakukan pencelupan dengan menggunakan pewarna alam. Sekarang saya sudah
tidak lagi bergantung pada pengepul untuk menjual hasil tenun, hasil tenun kami lebih
banyak di jual di kelompok saja karena jenis tenun yang di buat sekarang ini hanya
tenun alam, tenun sintetis hanya di buat jika ada pesanan. kelompok tenun yang saya
pimpin sekarang ini sudah maju dan sering sekali melakukan pencelupan mandiri untuk
menguatkan ingatan dan kemampuan pencelupan anggota kelompok tenun saya.
Harapan saya kedepan semoga pemasaran untuk tenun alam ini semakin lancar dan
tenun alam semakin diminati.
KELOMPOK TENUN MEMBERI BANYAK PENGALAMAN DAN PELAJARAN

Nama lengkap saya Ade Sopiatun Amriatus Soliha, lahir di Praya 24 tahun yang lalu.
Saya adalah lulusan SMK jurusan managemen. Saya sudah menikah di Desa Batujai
tahun 2012 dan dikaruniai seorang putri, suami saya bekerja di luar negeri menjadi TKI.
saya belajar menenun sejak tahun 2014. Setiap hari juga saya menenun di Learning
Centre, tetapi saya belum memiliki alat tenun sendiri, alat tenun yang saya gunakan
adalah hanya pinjaman dari saudara saya. Sebelumnya saya bekerja sebagai karyawati
sebuah toserba di pasar tradisional, namun sejak suami saya pergi bekerja menjadi TKI,
saya memilih untuk tidak lagi bekerja.

Saya baru bergabung menjadi anggota kelompok tenun sejak bulan Februari 2017,
banyak pengalaman dan pelajaran yang saya dapat setelah ikut kelompok tenun.
Kesan saya selama bergabung dalam kelompok tenun saya bisa menginjakkan kaki di
Pulau Dewata karena dilibatkan dalam acara Maybank Bali Maraton bulan september
lalu. Selain itu juga saya sering diutus kelompok untuk mengikuti pelatihan yang
diadakan Dinas.
MENDAPAT BANYAK ILMU DARI KELOMPOK TENUN

Nama saya Nurdiawati Sri, lebih akrab dipanggil inak Andin, lahir pada tanggal 21 Mei
tahun 1986. Saya seorang janda dan memiliki seorang anak perempuan yang berumur
4 tahun. saya hanya tamatan Sekolah Dasar, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari
saya memperoleh upah dari menenun baik itu dari pengumpul ataupun dari kelompok.
saya belajar menenun sejak tahun 2009 dan bergabung menjadi anggota kelompok
“Tenar” sejak januari 2017. Selama bergabung menjadi anggota kelompok saya
mendapat banyak ilmu terutama tentang pewarnaan alami. saya berharap di dalam
berkelompok bisa saling terbuka jika ada permasalahan yang ada sehingga kelompok
tetap solid dan bisa berkembang.