Anda di halaman 1dari 63

BAB V

PERENCANAAN KONSTRUKSI SUMUR PANASBUMI


Setelah sumur panas bumi telah selesai di bor, sumur tersebut akan
dipersiapkan untuk menjadi sumur produksi dengan merencanakan desain slotted
liner, casing, dan wellhead yang cocok dengan kriteria sumur tersebut. Tahapan
well completion ini penting untuk menentukan umur suatu sumur panas bumi bisa
bertahan dengan perubahan – perubahan kondisi lubang sumur yang akan terjadi
seiring berjalannya produksi.
4.1. Rock Mechanism
Sebelum sumur panas bumi dibor, batuan di bawah permukaan berada
dalam keadaan seimbang. Tekanan di bumi dengan kondisi ini dikenal sebagai the
far field stress (σv, σH, σh atau tekanan in-situ (Gaurina-Međimurec, 1994). Bila
sumur dibor, tekanan batuan di sekitar lubang sumur didistribusi ulang karena
tekanan batuan yang telah dibor diganti dengan tekanan hidrolik lumpur. Tekanan
dapat dipecahkan menjadi tegangan vertikal atau overburden, σv, tekanan
overburden dapat didefinisikan sebagai berikut:

Poverburden = Pf + Pg…………………………………………………………….(4-1)

Keterangan:
Pf : Tekanan fluida
Pg : Tekanan grain

Seiring jalannya produksi, maka tekanan fluida akan menurun dan menyebabkan
tekanan grain yang semakin membesar. Selain tekanan overburden ada dua
tekanan horisontal, σH (tegangan in situ horisontal maksimum), dan σh (tegangan
in situ minimum horisontal), yang umumnya tidak sama (McLean, 1990).

108
Gambar 4.1 In-situ Stresses

Gambar 4.2 Wellbore Stresses


Jika keadaan tegangan redistribusi melebihi kekuatan batuan, baik dalam
ketegangan atau kompresi, maka ketidakstabilan dapat terjadi. Gambar 4.2.
menunjukkan in-situ stresses pada sumur bor setelah pengeboran. Ini
digambarkan sebagai tegangan radial σr, tegangan tangensial (tegangan melingkar
atau lingkaran) σt, dan tegangan aksial. σa. Tegangan radial bekerja di semua arah
yang tegak lurus terhadap dinding sumur bor, lingkaran tangensial mengelilingi
lubang bor, dan tegangan aksial bekerja sejajar dengan sumur bor sumbu
(McLean, 1990).
Distribusi tegangan lokal di sekitar sumur bor dikendalikan oleh tekanan
mekanik (tekanan in situ), efek kimia, termal, dan hidrolik. Sistem referensi
koordinat yang digunakan untuk menghitung distribusi tegangan di sekitar lubang
sumur, dipicu oleh tekanan in situ dan efek hidrolik, ditunjukkan pada Gambar
4.3.

Gambar 4.3 Sistem Koordinat dari In-situ Stresses


Tekanan lokal yang disebabkan oleh tekanan in situ dan efek hidrolik pada
dinding sumur bor (r = rw), untuk sumur horizontal dapat digambarkan sebagai
berikut:

……………………………………………………………………….(4-2)

………………………(4-3)

…………………………...(4-4)

……………………………………………(4-5)

…………………………………………………………………..(4-6)

Tekanan lokal pada dinding sumur bor (r = rw) yang disebabkan oleh efek kimia
dan termal dapat dinyatakan sebagai berikut
…………………………………………………………………………(4-7)

……………………....(4-8)

…………………………..(4-9)
Dari Persamaan diatas, satu catatan bahwa profil tekanan dan temperatur pori
diperlukan untuk menghitung distribusi tegangan di sekitar sumur bor yang
berasal dari efek kimia dan termal. Profil tekanan pori diubah oleh gerakan air dan
ion ke dalam atau di luar serpih karena potensi hidrolik, kimia, dan elektrik. Profil
tekanan dan temperatur pori dapat diperoleh dengan menggunakan persamaan
yang disajikan dalam literatur (Ottesen dan Kwakwa, 1991; Lomba et al, 2000;
Awal et al., 2001; Zhang et al, 2006; Nguyen et al., 2007). Untuk mengevaluasi
potensi stabilitas sumur bor, model konstitutif yang realistis harus digunakan
untuk menghitung tekanan dan tegangan di sekitar sumur bor. Tekanan dan strain
yang dihitung kemudian harus dibandingkan dengan kriteria kegagalan yang
diberikan.
Pada tahapan well completion harus mempertimbangkan risiko
ketidakstabilan sumur bor. Tujuan dari penilaian stabilitas sumur bor adalah untuk
mengukur pengaruh parameter-parameter yang mempengaruhi integritas sumur
tertentu seperti kurangnya tekanan sumur bor, transmisi tekanan pori, dan lainnya.
Hasil penilaian stabilitas sumur bor harus digunakan untuk mengurangi
konsekuensi ketidakstabilan.

4.2. Formation Completion


4.2.1. Type Completion
Snyder (1978) memberikan perencanaan penyelesaian sumur panasbumi
berdasarkan problem teknis pada sumur-sumur minyal. Beberapa hal yang telah
didiskusikan dari pengulangan metode praktis pada conventional completion yang
umum pada industri migas. Ada 3 tipe dasar formation completion, yaitu:
a. Open Hole Completion – The Geysers, California (capuano, 1979)
Casing produksi di atas zona produktif, sumur diselesaikan dengan
membor daerah produktif tanpa adanya casing yang menembus zona produktif,
sehingga lubang tetap terbuka. Keuntungannya antara lain:
1.) Biaya lebih murah.
2.) Jika lubang diperdalam, biaya akan lebih murah.
Kerugian:
1.) Tidak dapat mengontrol fluida yang hendak diproduksikan.
2.) Bila ikatan batuan lepas, dan dapat pengaruh temepratur tinggi, dapat merusak
fasilitas produksi.
3.) Sumur harus lebih sering dirawat.

b. Liner Completion – Wairakei, New Zealand (Craig, 1961) dan US Gulf Coast
Pada sumur panasbumi, liner completion ada dua macam, yaitu slotted
liner assembly dan downhole perforated liner type completion. Pada screen dan
slotted liner, liner telah memiliki lubang dan tidak diperlukan perforasi. Liner ini
dipasang pada liner hanger di casing produksi, dan tidak dilakukan penyemenan
karena justru apabila disemen dapat mengakibatkan penutupan rekahan rekahan,
dan mengahalangi fluida masuk ke dalam sumur. Keuntungan metode ini adalah:
1.) Dapat menjadi sand control.
2.) Kecil kemungkinan adanya formation damage.
3.) Memperkuat lubang di depan formasi produktif.
Kerugian dari metode ini adalah:
1.) Tidak dapat mengontrol laju produksi.
2.) Diameter lubang berkurang.
3.) Lebih mahal daripada open hole completion.
Jenis komplesi ini yang paling banyak digunakan karena memang yang
paling baik. Cutting pemboran yang masuk ke dalam formasi akan terdorong
fluida produksi ketika akan diproduksikan dan tersangkut di depan lubang-lubang
yang dimiliki oleh slotted liner, walau hal ini terjadi, kemungkinan terganggunya
proses produksi kecil.
Gambar 4.4. menjelaskan tentang screen dan liner assembly.

Gambar 4.4.
Screen dan Liner Assembly (Rudy Rubiandini, 2009)
Pada jenis kedua yaitu perforated liner completion, casing produksi
diletakknya di atas zona produksi, kemudian dibor dan dipasang liner lalu
disemen. Untuk membuka lapisan produktif, liner diperforasi. Keuntungan dari
metode ini adalah:
1.) Formation damage dapat dikurangi.
2.) Dapat menyesuaikan dengan pengontrolan pasir.
Kerugian metode ini adalah:
1.) Mengurangi diameter lubang bor.
2.) Liner produksi susah untuk diambil lagi.
3.) Lebih mahal dari open hole completion
Gambar 4.5 menjelaskan tentang perforated liner completion.

Gambar 4.5
Perforated Liner Completion (Rudy Rubiandini, 2009)
c. Perforated Casing Completion – Roosevelt, Utah (Rudisill, 1978)
Pada komplesi ini, casing produksi dipasang melewati daerah atau zona
produktif kemudian dilakukan penyemenan dan perforasi. Keuntungan dari
metode ini antara lain:
1.) Pengontrolan laju produksi lebih mudah.
2.) Diameter lubang seragam dan dapat mengontrol pasir.
Kerugiannya antara lain:
1.) Menambah biaya operasi untuk perforasi.
2.) Sulitnya menentukan daerah formasi produktif untuk sumur panasbumi.
Gambar 4.6 menjelaskan tentang perforated casing completion.

Gambar 4.6
Perforated Casing Completion (Rudy Rubiandini, 2009)
Secara umum, tipe komplesi yang digunakan pada sumur panasbumi yaitu
slotted liner completion atau liner completion.
4.2.1. Prosedur Completion
Ada beberapa hal yang merupakan prosedur yang umum untuk formation
completion, yaiu:
a. Lokasi top zona produktif harus ditentukan terlebih dahulu.
b. Apakah dari sayatan vertikal pemboran memperlihatkan adanya aliran dan
permeabilitas dari formasi produktif.
c. Mengisolasi zona produktif.
d. Menghindari pengaruh damage dari drilling fluid terhadap permeabilitas
formasi produktif.
e. Jika kondisi batuan memungkinkan digunakan open hole completion. Tetapi
jika formasi tidak kompak (unconsolidated) maka menggunakan liner
completion.
f. Perforasi atau derajat sementasi casing dengan lubang bor harus cukup baik.
g. Instalasi harus mempunyai bentuk pemipaan tubular yang baik.
Parameter yang berpengaruh dalam formation completion yaitu
pembersihan lubang bor, pemilihan ukuran casing, penyumbatan, korosi,
kestabilan lubang bor dan pengaruh temperatur tinggi.
4.2.3. Liner Completion
Liner completion sangat umum digunakan pada sumur panasbumi seperti
yang dijelaskan sebelumnya, terutama jika berasosiasi dengan daerah vulkanik
seperti Wairakei, Indonesia. Dengan tipe ini, penyemenan casing produksi akan
lebih sempurna karena ditempatkan di atas formasi produktif, karena akan
menghindari terjadi channeling yang dapat menyebabkan collapse dan buckling
pada casing. Liner completion yang umum digunakan adalah slotted liner
completion, karena pada perforated liner, dapat menyebabkan formation damage
yang akan menutup rekahan pada zona produktif, mengurangi laju produksi, dan
juga dilihat dari sisi keekonomisan, lebih mahal.
Pada perencanaan liner completion dengan slotted liner, ada beberapa hal
yang direncanakan, antara lain:
4.2.3.1. Bentuk Liner
Bentuk slotted liner/screen
Berdasarkan bentuknya, terdapat 3 tipe dasar yang digunakan:
1.) Wire wrapped pipe base
2.) All welded screen
3.) Slotted liner
Sedangkan bentuk slotted liner yaitu horizontal slotted, single slotted non
staggered row, single slotted staggered row, gang slotted staggered row. Pada
jenis single staggered slot, lebih sering digunakan karena kekuatan pada bagian
pipa lebih tahan lama, pola ini juga lebih memberikan distribusi lubang yang lebih
beragam pada pipa

Gambar 4.7.
Bentuk Slotted Liner (Baker Oil Tools)
Sedangkan bentuk lubang pada slotted liner ada dua, yaitu straight slot dan
keystone slot. Umumnya yang digunaan yaitu Straight Slot dibanding dengna
Keystone Slot, karena apabila partikel batuan atau cutting yang telah melewati
OD pipa, akan diteruskan seiring dengan aliran, dibanding tertahan pada lubang
lubang tersebut.

Gambar 4.8.
Bentuk Slot pada Slotted Liner (Baker Oil Tools)
4.2.3.2. Perencanaan Diameter Slotted Liner
Diameter liner ditentukan agar memperoleh kapasitas produksi yang
diinginkan, serta kemudahan dalam penanganan. Sparlin memberikan
rekomendasi untuk pernecanaan diameter liner/screen untuk sumur-sumur, antar
lain:
a. Diameter luar pipa liner/screen paling sedikit 2 inch lebih kecil dari diameter
dalam casing produksi, untuk segi praktis.
OD liner = ID casing produksi – 2”, inch
b. Screen/slotted tidak memerlukan diameter yang sama dengan diameter tubing
bila memakai tubing.
Diameter casing produksi dapat dihitung dan liner menyesuaikan, perhitungan
dengan persamaan berikut:
M 0,5
(4 )
ρv
D=( ) ............................................................................................... (4-10)
𝜋𝑉

Keterangan:
M = Laju aliran massa uap
q = Laju alir (debit) fluida formasi dari dasar sumur ke permukaan
ρv = densitas uap
V = Kecepatan alir rata-rata uap di dalam pipa
D = Diameter dalam liner

Untuk sumur panasbumi dominasi uap, diameter slotted liner dapat dicari
dengan menggunakan tabel Matsuo Tabel IV-1 agar memperoleh laju produksi
uap yang optimum.
Tabel IV-1.
Diameter Liner/Screen yang Dianjurkan Untuk Inside Casing

Casing Prod. Size Max Liner/Screen Diameter


OD (in) WT (lbs) ID (in) Pipe OD (in) Wire OD
(in)
4 9.5 3.548 1 1.815
4½ 11.6 4 1¼ 2.16
5 18 4.276 1½ 2.4
5½ 17 4.892 2 3/8 2.875
6 5/8 24 5.921 3½ 4
7 29 6.184 3½ 4
7 5/8 33.7 6.765 4 4.5
8 5/8 36 7.825 5 5
9 5/8 47 8.681 5½ 6

4.2.3.3. Setting Depth Liner


Pemasangan liner umumnya digantung pada liner hanget di casing
produksi, dengan dasar liner menggantung atau menyandar sampai dasar
kedalaman casing. Pemilihan hal ini tergantung pada perkiraan Helical Buckling
yang terjadi dan besarnya pertambahan panjang pada liner akibat kenaikan
temperatur saat operasi sumur.
Pemasangan liner tanpa screen yang terdiri atas blind liner dan slotted
liner. Penempatan slotted liner ini pada interval di daerah zona total lost dari data
pemboran (hilang lumpur) dan dari hasil survei temperatur. Apabila temperatur
melebihi 150 oC, maka mulai selang kedalaman itu slotted liner dipasang. Sedang
blind liner dipasang ±30meter (3 joint) dan digantung pada casing produksi.

4.2.3.4. Ukuran Lubang Slotted Liner


Pada metode penahan pasir dengan slotted liner, maka pemilihan ukuran
lubang screen/slotted liner ditentukan sesuai dengan ukuran relatif dari pasir
formasi yang bersangkutan. Comberly dan Wagner menyatakan bahwa besarnya
lubang screen/slotted liner dari percobaan harus sedikit lebih besar dari ukuran
pasir yang ada. Berdasarkan hal tersebut, maka Comberly menyarankan untuk
ukuran slotted liner sebesar dua kali dari d10 pada percobaan. Hal tersebut adalah
berdasarkan pada teori sieve analysis. Dimana 90% dari berati total sampel
formasi akan lolos dari saringa yang menahan ukuran pasir pada 10% berat total.
Dari hal tersebut, sebab pertimbangan terhadap permeabilitas, maka
diharapkan dapat tersusun suatu rangkaian penahan pasir berturut turu dari
diameter terbesar hingga yang terkecil.
Metode di atas sesuai untuk diterapkan distribusi pasir formasi yang kasar.
Sedangkan untuk pasir formasi yang lebih seragam dalam hal ukuran maupun
kebundaran maka lebar slope adalah sebanding/sama dengan harga 10% dari
diameter pasir formasi berdasarkan hasil data sieve analysis.
Beberapa persamaan yang digunakan untuk menentukan lebar slot atau
celah liner:
a. Wilson = W = d10
b. Coberly = W = 2d10
c. Gill = W = d15
d. De Priester = 0,05 in =< W=< d20
e. Sclumberger = W = 0,75 diameter gravel terkecil
Keterangan:
W = diameter atau celah screen atau slot, inch
d10 = ukuran butir pada prosen berat kumulatif 10%
d15 = ukuran butir pada prosen berat kumulatif 15%
d20 = ukuran butir pada prosen berat kumulatif 20%
Dalam prakteknya, yang paling sering digunakan adalah metode De
Priester. Hal ini karena persamaan ini memberikan hasil yang memuaskan
terutama pada persoalan pasir pada formasi yang baru. Ukuran 0.005 inch
merupakan ukuran minimum yang dapat digunakan untuk mencegah
tersumbatnya celah tersebut. Apabila harga d20 < 0.005 maka dipakai metode sand
control yang lain.
Pada sumur panasbumi dimana berasosiasi dengan batuan vulkanik,
umunya slotted liner digunakan sebagai formation completion. Liner berfungsi
untuk mengkokohkan lubang sumur, dan menahan serpihan batuan sehingga
hanya memberi media berpori pada fluida produksi.
Pada sumur panasbumi, memiliki rule of thumbs dengan diameter lubang
pada slotted liner sebesar 15 – 20 mm.(Grant et. Al.)

4.2.3.5. Kualitas Perencanaan Liner


Perencanaan kualitas liner seperi casing, maka perencanaan material ini
dipengaruhi oleh kondisi tekanan, temperatur, sifat korosif fluida formasi
sehingga mempengaruhi kelelahan baja. Kualitas disini dimaksudkan sejauh mana
kekuatan material liner mampu menahan beban beban yang dideritanya.
a. Perencanaan grade liner
Perencanaan grade liner harus berdasarkan pada batas limit elastisitas dari
material, kekuatan atau yield strength, tensile strength ,dan modulus elastisitas
material liner. Hasil pengujian untuk beberapa grade casing diuji hingga
temperatur 500 oC terhadap limit elastisitasnya, dapat dilihat pada perencanaan
grade casing. Perencanaan grade liner menggunakan metode yang sama atau
perhitungan dan persamaan yang sama seperti halnya menghitung pada casing.
b. Penentuan pounder (berat nominal) liner
Berat nominal ditentukan dari besarnya gaya yang bekerja, antara lain
collapse, bursting, dan tension. Gaya yang dominan yang akan mempengaruhi
liner, antara lain:
1.) Mechanical stress
Gaya yang disebabkan oleh berat liner itu sendiri, seperti compressive
load, axial tensile, serta adanya gaya yang tak terduga yang disebut beban
impulsive pada saat pemasangan liner yang digeser geser. Perencanaan ini
dimasukkan ke dalam beban tension dari berhitungan berati rangkaian di udara.
Cara perhitungannya sama dengan perhitungan pada saat menghitung beban
tension pada casing. Beban beban lain seperti collapse dan burst juga
diperhitungkan dengan mengambil faktor keamanan yang bervariasi antara 1.5 –
2.0. perhitungan ini sama dengan seperti menghitung pada saat menghitung beban
casing. Faktor 2 merupakan rekomendasi untuk beban impulsive yang
diperkirakan.
Adanya faktor atau gaya apung (Buoyancy effect) dapat diperhitungkan
pada saat penurunan liner ke dalam sumur saat berisi fluida komplesi. Namun
untuk perencanaan nya, beban yang diapakai tidak memperhitungkan adanya
beban apung seperti halnya casing.
2.) Thermal stress
Gaya ini disebabkan oleh adanya perubahan temperatur sehingga memuai.
Thermal load dapat dihitung:
Thermal Load= E Ct A ΔT ............................................................................ (4-11)
= 29x103 (12.4x10-6) x A x ΔT
= 0.36 A ΔT
Keterangan:
E = modulus elastisitas pipa
Ct = koefisien thermal expantion, 1/oC
A = luasan baja, in2
ΔT = perubahan temperatur, oC
= Tw – Tn
= Temperatur sumur – Temperatur Netral
Pada umumnya temperatur netral yaitu Tw/2, tetapi secara praktis
biasanya lebih tinggi.
3.) Formation Induction Stress
Stress yang disebabkan oleh formasi ini berupa getaran, erosi, dan
pengaruh abrasi terhadap casing dan liner. Adanya kandungan H2S pada formasi
hanya berpengaruh kecil terhadap performance daripada liner, tetapi pada
temperatur tinggi dapat menyebabkan kerusakan akibat tingkat korosi atau disebut
steel corrotion cracking.
𝑃2 4 1
𝐸𝑓 = 0.78√( 𝐷 ) ((𝐸𝐼)3 ) .............................................................................. (4-12)
4.) Fluid Induction Stress
Gaya tekanan fluida akan memberi dorongan pada pipa sehingga
menyebabkan axial load. Pengaruh fluida lainnya secara umum adalah kecil dan
biasanya diabaikan. Beban compressive strength dan pengaruh buoyancy harus
diperhitungkan pada perencanaan compressive load.
5.) Pertambahan panjang akibat kenaikan temperatur (thermal elongation)
ΔL= L β ΔT ................................................................................................... ..(4-13)
Dimana:
L = pertambahan panjang, in
β = Koefisien muai panjang, 6.6 x 10-6 in/oF
ΔT = perubahan atau beda temperatur, oF
Axial load, compressive load, impulsive load diperhitungkan pada
perencanaan design factor atau safety factor pada beban tension. Sedangkan pada
formation induction stress, dipertimbangkan pada perhitungan safety factor
collapse dan perhitungan buckling effect. Efek buoyancy diperhitungkan pada
perhitungan tension, sedangkan thermal stress pada perhitungan perencanaan
material atau grade liner.
4.2.3.6. Perhitungan Beban Buckling Pada Liner
Buckling terjadi disebabkan oleh formation induction stress. Perencanaan
perhitungan ini untuk helical buckling berdasarkan konsep dari Lubinsky, dengan
asumsi:
a. Tidak ada perbedaan tekanan di dalam dan di luar liner.
b. Effect coupling dianggap kecil atau diabaikan.
c. Kemiringan liner lebih kecil dari 10o
d. Tidak ada friksi antara liner dengan formasi.
e. Friksi aliran fluida diabaikan.
Gambar 4.9
Helical Buckling pada Liner
Beberapa persamaan perhitungan beban buckling pada liner yaitu:
a. Titik netral buckling (buckling neutral point)
𝑛𝑏 = (Pr − 𝑃𝑠)/𝑊𝑏𝑢𝑜𝑦 ................................................................................ ..(4-14)
Keterangan:
nb = panjang buckling pipa, dari dasar sumur, m
Pr = beban tekanan (compressive load), psi
= NW x panjang liner
Ps = tenaga penstabil (stability force), psi
= Pf x Ap
Ap = luas penampang liner, in2
= 0.25 x π x (OD2 – ID2), in2
Pf = Tekanan fluida, psi
Wbuoy = berat pengapungan per unit panjang pipa.
= BF x panjang pipa
b. Jarak pith (puncak ke puncak), dapat dihitung dengan persamaan:
𝑃 = 𝜋√(8 𝐸𝐼 )(Pr − 𝑃𝑠) ............................................................................. ..(4-15)
Keterangan:
P = jarak pith, inch
E = modulus elastisitas pipa, 29x106 psi
I = momen inertia pipa, in4.
= (π/64)x(OD4 – ID4)
Pr = beban tekanan (compressive load), psi
= NW x panjang liner
Ps = tenaga penstabil (stability force), psi
= Pf x Ap
Ap = luas penampang liner, in2
= 0.25 x π x (OD2 – ID2), in2
c. Induced Helical Bending Stress (SH)
SH= (De/4 I) ( Pr – Ps)................................................................................... (4-16)
Keterangan:
e = clearance antara liner dengan formasi, inch
D = diameter luar pipa, inch
d. Perubahan panjang akibat helical buckling, dapat dihitung:
(𝑒 2 (Pr − 𝑃𝑠)2 )
∆𝐿ℎ = ................................................................................... (4-17)
8 𝐸 𝐼 𝑊𝑏𝑢𝑜𝑦

Keterangan:
ΔLH = perubahan panjang akibat helical buckling
E = modulus elastisitas pipa, 29x106 psi
I = momen inertia pipa, in4.
= (π/64)x(OD4 – ID4)
Wbuoy = berat pengapungan per unit panjang pipa.
= BF x panjang pipa
Pr = beban tekanan (compressive load), psi
= NW x panjang liner
Ps = tenaga penstabil (stability force), psi
= Pf x Ap
Ap = luas penampang liner, in2
= 0.25 x π x (OD2 – ID2), in2
e = clearance antara liner dengan formasi, inch
Perencanaan helical buckling ini diperhitungkan pada formation
completion untuk sumur panasbumi, karena umumnya liner tidak disemen dan
hanya digantungkan pada lienr hanger pada casing produksi.

4.3. Casing Completion


Pada lubang pemboran, setelah dibuat adanya lubang, pada interval
kedalaman tertentu akan dimasukkan casing pemboran, tergantung dari beberapa
faktor, termasuk sifat batuan, fluida formasi, setting depth casing, dan kebutuhan
well control. Dengan dibornya sumur sampai kedalaman tertentu, sumur tersebut
memerlukan dinding yang terbuat dari besi yang kokoh dan kuat, yang disebut
dengan casing.
Pemasangan casing dilakukan setelah tahapan pemboran selesai pada
kedalaman tertentu. Antara casing satu dengan casing lainnya di sambung dengan
ulir atau dengan di las. Casing pada sumur panasbumi harus mampu menahan
tekanan dan temperatur yang tinggi, sehingga diperlukan perencanaan yang baik
dalam pemasangan casing dan pemilihannya. Dasar perencanaannya adalah bahwa
casing yang di pasang dapat menanggulangi semua gaya yang bekerja pada casing
akibat pengaruh tekanan dan temperatur yang tinggi juga bernilai ekonomi.
Casing pemboran pada sumur panasbumi memiliki perbedaan dengan
sumur minyak dan gas. Dimana pada sumur panasbumi, casing harus tahan
terhadap temperatur dan tekanan tinggi dan memiliki konfigurasi yang berebda
dengan sumur minyak atau gas. Perbedaan lainnya pada casing pada sumur
panasbumi dengan sumur migas yaitu dimana casing pada sumur panasbumi akan
disemen dari dasar hingga permukaan, sedangkan migas tidak harus disemen
hingga permukaan. Untuk sumur-sumur panasbumi dengan kedalaman menengah
casing yang paling umum digunakan adalah J 55 API kwalitas/kelas baja, dengan
ulir khusus buttress dan mempunyai ketebalan yang lebih besar dari perhitungan
secara teoritis. Alasannya adalah casing harus tetap menjaga kemungkinan
besarnya tekanan yang disebabkan oleh gejala panas yang sangat sulit dikontrol.
Baja J 55 API dapat digunakan pada lingkaran yang korosif.
Pada panasbumi, jenis ulir yang digunakan casing yaitu Butress, dimana
memiliki kekuatan yang tinggi. Hal ini digunakan terutama pada tieback
production casing yang menghadapi gas dan beban axial yang tinggi karena
pengaruh temperatur yang tinggi.
Konfigurasi casing pada sumur panasbumi memiliki contoh dua macam,
yaitu konfigurasi big hole dan sumur standar. Konfigurasi sumur bighole tentu
akan memberikan dampak dimana pada tahap pemboran akan mengeluarkan biaya
lebih besar, tetapi akan memberikan produksi yang lebih banyak dibanding
dengan sumur standar.
Sumur panasbumi umumnya menggunakan casing berukuran 20”, 13 3/8”,
9 5/8” dan 7”, tetapi pada konfigurasi bighole, akan berukuran 30”, 20”, 13 3/8”,
dan 9 5/8”. Pengalaman di beberapa lapangan menunjukkan bahwa konfigurasi
sumur bighole 25% lebih mahal dibanding dengan konfigurasi sumur standar,
tetapi produksinya bisa hingga 50% lebih besar. Hal ini tentunya akan bergantung
pada permeabilitas batuan.

Gambar 4.10
Perbedaan Konfigurasi Sumur Standar dengan Sumur Bighole (Nenny
Saptadji)
Casing berfungsi antara lain:
a. Melindungi aquifer dari kontaminasi lumpur pemboran
b. Menyediakan well control ketika kick terjadi
c. Mengisolasi formasi dan meminimalisir problem pemboran
d. Menyediakan kestabilan lubang bor
e. Tempat dudukan BOP
f. Mencegah hubungan langsung antar formasi
g. Menutup zona bertekanan abnormal dan zona lost
Jenis jenis casing pada panasbumi sama dengan jenis jenis casing pada
migas, yaitu:
Menurut Snyder (1979), macam-macam yang umum dari rancangan di
gambarkan dalam Gambar 4.11. dijumpai di lembah Imperial, California, dengan
memproduksikan melalui pipa permukaan dan liner. Slotted liner yang tidak
disemen ditempatkan pada interval lubang sumur yang produktif.

Gambar 4.11. Rancangan Umum Pemasangan Casing (Snyder, 1979)


a. Conductor Casing
Casing string pertama yang paling luar adalah conductor casing. Panjang
string ini bervariasi dari 40-80 ft dengan diameter luar dari 18-30 ft. biasanya
diameter luar string yang dipakai pada sumur dangkal adalah 18 inch, sedangkan
pada sumur-sumur dalam adalah 24-30 inch.
Fungsi dari conductor casing adalah untuk melindungi lubang bor agar
tidak runtuh. Disamping itu untuk melindungi formasi air tawar ini agar tidak
mencemari daerah sekitarnya. Conductor casing dipasang pertama pada lubang
bor atau lubang sumur. pemasangan conductor casing dapat dengan cara ditumbuk
apabila formasi awalnya tidak keras.
b. Surface Casing
String selanjutnya setelah conductor casing adalah surface casing, yang
panjangnya dapat bervariasi dari 100-400 ft.
Surface casing memiliki fungsi yaitu untuk mensupport beban casing
dibawahnya (kecuali liner). Dan mencegah adanya problem pemboran, serta untuk
mencegah adanya kontaminasi gas rawa.
Pada surface casing juga dipasang peralatan pencegah semburan liar
(BOP), mengingat lubang yang semakin dalam maka tekanan formasi umumnya
juga semakin besar, sehingga dikhawatirkan akan terjadi kick dan akan
mengakibatkan semburan liar pada pemboran selanjutnya.
Pada umumnya di sumur panasbumi, surface casing tidak dipasang, karena
fungsinya yang mengelimasi adanya kontaminasi gas rawa. Sedangkan pada
lapangan panasbumi, kontaminasi gas rawa jarang terjadi.
c. Intermediate Casing
Pemasangan intermediate casing mengharuskan pertimbangan yang
kompleks. Prentice (1970) menggunakan pendekatan yaitu mengevaluasi burst
loading dengan menentukan harga untuk burst di permukaan dan di dasar lubang.
Burst hanya dipertimbangkan untuk sumur-sumur panasbumi yang mempunyai
tekanan lebih besar daripada tekanan hidrostatik.
Fungsi intermediate casing adalah untuk menutupi formasi yang
membahayakan operasi pemboran selanjutnya. Formasi yang membahayakan
tersebut antara lain : formasi bertekanan tinggi, formasi yang menimbulkan loss
circulation, formasi yang mudah runtuh dan lain-lain.
d. Production Casing
Casing produksi dipasang dari permukaan hingga berada di atas zona
produktif. Casing ini sama dengan casing lainnya, yaitu disemen dari dasar hingga
permukaan.
Pada sumur panasbumi dimana tidak menggunakan tubing, fluida produksi
akan diproduksikan melalui casing produksi ini.
Alasan casing produksi hanya sampai di atas zona produksi karena casing
produksi di semen. Apabila melebihi zona produksi, akan menyebabkan
penyemenan kurang sempurna, karena cenderung terjadi channeling di semen
yang mengakibatkan kualitas penyemenan berkurang, dan jika terlalu jauh dari
zona produktif aka nmenyebabkan laju aliran massa yang diharapkan tidak
tercapai karena liner terlalu panjang dengan kapasitas yang lebih kecil dari casing
produksi, lalu liner yang terlalu panjang dan tidak tersemen akan menyebabkan
problem helical buckling. Maka dari itu setting depth casing harus tepat dan
sesuai Hal ini akan dipelajari lebih lanjut pada bagian setting depth casing
produksi.
4.3.1. Penentuan Kapasitas dan Diameter Casing
Untuk menentukan kapasitas casing suatu konstruksi sumur, perlu
menentukan besarnya casing diameter casing produksi, setelah itu barulah
ditentukan diameter lubang dan ukuran casing-casing di atasnya. Untuk sumur
minyak, pada umumnya ditentukan berdasarkan tubing completionnya.
Sedangkan pada sumur panasbumi dimana tidak menggunakan tubing untuk
memproduksikan uap atau air panas (dua fasa), menggunakan casing produksi.
Dengan demikian, ukuran diameter casing produksi harus disesuaikan dengan laju
alur fluida maksimum suatu sumur tersebut. Hal ini dapat berpicu pada sumur
sumur terdekatnya. Besarnya laju aliran massa uap atau liquid dominated fluid
dapat dihitung dengan persamaan:
M= q x ρv....................................................................................................... .(4-18)
Sedang diameter casing produksi dihitung dengan persamaan
4 q 0,5
D = (π V) .................................................................................................. (4-19)

Dengan subtitusi besarnya laju aliran massa pada persamaan diameter casing
produksi, maka didapat persamaan:
M 0,5
(4 )
ρv
D=( ) ................................................................................................ (4-20)
𝜋𝑉

Keterangan:
M = Laju aliran massa uap, kg/detik
q = Laju alir (debit) fluida formasi dari dasar sumur ke permukaan
ρv = densitas uap, kg/m3
V = Kecepatan alir rata-rata uap di dalam pipa, m/detik
D = Diameter dalam casing produksi, inch
Setelah dihitung besarnya harga D, harga D dapat disesuaikan dengan
ukuran casing yang umumnya terdapat di pasaran (ambil diameter casing yang
terdekat dengan harga D, sesuai dengan casing table).
Dari data besarnya laju alian massa maksimum yang diperkirakan dapat
dihasilkan sumur, dapat ditentukan ukuran casing produksi, setelah ukuran casing
produksi ditentukan, maka menentukan ukuran diameter lubang dan ukuran liner,
serta ukuran casing lainnya.
Ukuran diameter casing dapat dilihat pada Gambar 4.12
Gambar 4.12
Diameter Ukuran Lubang dan Ukuran Casing
(Neal Adam, 1985)
Matsuo (1973) memberikan gambaran estimasi yang optimum dari ukuran
lubang bor dan casing yang sesuai untuk digunakan pada sumur panasbumi,
berdasarkan laju aliran fluida produksi (ton/jam). Maka ukuran casing dapat
ditentukan, seperti pada tabel:
Tabel IV-2
Petunjuk Pemilihan OD yang Optimum
Steam Flow Open Hole Ukuran Casing Klasifikasi

(ton/jam) (inci) O.D. (inci) Casing

10-25 17 13 3/8 Surface

12 ¼ 9 5/8 Intermediate

8 3/8 7 Production

6¼ 4 1/2 Slotted Liner

25-50 18 16 Surface

14 ¾ 11 ¾ Intermediate

10 3/8 8 5/8 Production

7 3/8 6 3/8 Slotted Liner

50-80 22 18 Surface

17 13 3/8 Intermediate

12 ¼ 9 5/8 Production

8 3/8 7 Slotted Liner


4.3.2 Setting depth casing
Pada perencanaan setting depth casing untuk sumur panasbumi menurut
kekhususannya yang terpenting adalah menentukan setting depth casing
produksinya. Apabila penentuan setting depth casing yang salah akan berakibat:
1. Apabila casing produksi melebihi zona produktif:
a. Penyemenan casing produksi menjadi tidak sempurna, karena akan berakibat
pada channeling atau rongga rongga air pada semen sehingga ikatan casing
menjadi tidak sempurna.
b. Pada saat produksi, nanti air akan mengisi rongga rongga pada semen dan
berubah fasa menjadi fasa uap pada kenaikan temperatur dan adanya kenaikan
temperatur menyebabkan casing menjadi buckling dan collapse, disamping itu
mengakibatkan elongation pada casing.
2. Jika terlalu jauh dari zona produktif, akan berakibat:
a. Laju produksi uap yang diharapkan tidak akan tercapai karena pipa produksi
terlalu jauh dari zona produktif.
b. Blind liner yang terlalu panjang dan tidak tersemen akan berakibat menjadi
buckling, sehingga bentuk liner yang berkelok-kelok dan dapat mengakibatkan
penyumbatan pada sumur.
Maka dari itu, perlu penentuan setting depth casing produksi yang sesuai
dan tepat, hal in idapat ditinjau dari beberapa faktor, berikut ini:
4.3.2.1. Penentuan Setting depth casing Produksi
Agar didapatkan setting depth casing produksi yang sesuai, maka dapat
mengacu pada beberapa hal, antara lain:
1. Menganalisa temperatur formasi dari temperatur lumpur yang keluar.
Temperatur formasi dapat terlihat berdasarkan temperatur lumpur yang
keluar. Apabila temperatur formasi telah mendekati rata-rata temperatur reservoir
yang telah diketahui dari sumur-sumur terdekatnya maka pemboran dihentikan
dan dilakukan pemasangan casing produksinya. Apabila kedalaman telah
mencapai di atas 500 meter, temperatur formasi diperkirakan 3 kali temperatur
lumpur yang keluar dalam oF.
Holmes, C.S. dan Swift, S.T. telah melakukan penyelidikan tentang
bagaimana menentukan besarnya temepratur dasar sumur yang identik dengan
temperatur formasi dari data temperatur sumur yang keluar dari sumur.
perhitungan ini berdasarkan asumsi bahwa perpindahan panas steady state yang
linier. Diasumsikan juga perpindahan panas secara radial dan tidak ada konduksi
longitudinal yang berarti.
Untuk menghitung temperatur lumpur di dalam pipa bor, pada suatu
kedalaman x, dinyatakan:
Tp = K1 eC1x + K2 eC2x + Gx + Ts - GA ........................................................... (4-21)
Sedangkan untuk menghitung temperatur lumpur di dalam annulus dapat dengna
persamaan:
Ta= K1 C3 eC1x + K2 C4 e C2x + Gx + Ts ......................................................... (4-22)
Keterangan:
C1= (B/2A) (1+(1+4/B)0,5) ........................................................................... (4-23)
C2= (B/2A) (1-(1+4/B)0,5) ............................................................................ (5-24)
C3= (1+B/2)(1+(1+4/B)0,5) ........................................................................... (4-25)
C4= (1+B/2)(1-(1+4/B)0,5) ............................................................................ (4-26)
A= (m Cp / (2 π rp hp)) ................................................................................... (4-27)
B= ( r U) / ( rp hp) .......................................................................................... (4-28)
Dimana pada temperatur dasar sumur, harga temperatur dasar annulus
sama dengan temperatur dasar pipa, sehingga ditentukan batas kedalaman x
sebagai beriukut:
Untuk batas 1, dimana x = 0, harga Tp = Tpi
Untuk batas 2, dimana x = H, harga THP = THi, sehingga diperoleh harga
K1 dan K2, yang memenuhi persamaan:
K1= Tpi – K2 – Ts + GA................................................................................... (4-29)
GA −Tpi − Ts + GA eC1H (1−C3)
K2 = ..................................................................... (4-30)
eC2H (1−C4)− eC1H (1−C3)

Dengan demikian, temperatur dasar sumur dapat dihitung menggunakan


perhitungan temperatur dasar pipa atau temperatur dasar annulis lubang sumur.
adapun data data yang perlu diketahui dalam penentuan ini, antara lain:
Tf = temperatur formasi yang akan dihitung, oF
Ta = temperatur lumpur di annulis, oF
THa = temperatur lumpur di dasar lubang di annulus, oF
THp = temperatur lumpur di dasar lubang di dalam pipa, oF
Tp = temperatur lumpur di dalam pipa, oF
Ts = temperatur permukaan, oF
Tpi = temperatur lumpur yang masuk ke dalam pipa, oF
Qa = aliran panas di dalam annulis, BTU/jam
Qap = aliran panas di dalam pipa, BTU/jam
Q = aliran panas ke dalam formasi, BTU/jam
Cp = kapasitas panas lumpur, BTU (lb oF)
G = Gradient panasbumti, oF/ft
H = Kedalaman sumur, ft
hp = koefisien perpindahan panas di pipa, BTU / (ft2 oF jam)
W = laju aliran massa, lb/jam
r = diameter sumur, ft
rp = diameter pipa, ft
U = koefisien perpindahan panas di dinding sumur, BTU/ oF ft2 jam
X = Kedalaman, ft
2. Melihat Tingkat Alterasi (ubahan)
Alterasi adalah ubahan hidrothermal (Hydrothermal Alteration) yang
sering berasosiasi dengan zona-zona patahan yang merupakan zona produktif dari
suatu sumur panasbumi. Alterasi hidrothermal mengakibatkan berubahnya
mineral primer menjadi mienral sekunder karena adanya kontak antara batuan
dengan fluida panasbumi. Semakin tinggi tingkat alterasi, maka semakin tinggi
termperatur pembentukanya atau semakin dekat dengan struktur patahan atau
rekahan. Pada kasus setting depth casing produksi, yang dicari yaitu dimana telah
terjadi tingkat terubah sangat kuat. Hal ini dapat dilihat dari cutting yang terbawa
oleh fluida pemboran pada sistem sirkulasi.
Tingkat alterasi ini pada operasi pemboran ditentukan dengan jumlah
persentase mineral sekunder dalam massa batuan. Tingkat alterasi antara lain:
a. Terubah lemah, apabila % mineral sekunder 0 – 10%
b. Terubah sedang, jika %mineral sekunder 11-25%
c. Terubah kuat, jika %mineral sekunder 26-50%
d. Terubah sangat kuat, jika %mineral sekunder 51-100%
Alterasi hidrothermal dapat terjadi karena beberapa faktor, antara lain:
a. Temperatur
b. Permeability, terkait dengan konten gas dan sistem hidrologi
c. Komposisi fluida (asam, pH; netral, tinggi atau rendahnya gas, uap atau
dominasi air)
d. Komposisi awal batuan
e. Durasi atau waktu dari aktivitas hidrothermal (immature, mature)
f. Hidrologi, terkait dengan topografi
Jenis mineral sekunder yang ymumnya ada pada batuan vulkanik antara
lain: mineral lempung (Cl), klorit (Ch), phyrite (Py), anhidrite (Anh), oksida besi
(Io), kalsit/karbonat (C), kuarsa sekunder (SQ), dan epidote (E). Jenis alterasi
yang umumnya terjadi antara lain:
a. Tipe potasik
Melimpahnya himpunan muskovit-biotit-alkali felspar-magnetit. Anhidrit
sering hadir sebagai asesori, serta sejumlah kecil albit dan titanit atau rutil kadang
terbentuk. Ubahan potasik terbentuk pada daerah yang dekat dengan batuan beku
intrusif yang terkait, fluida yang panas (>300oC), salinitas tinggi, dan dengan
karakter magmatik yang kuat.
b. Tipe filik
Tersusun oleh himpunan mienral kuarsa-serisit-pirit, yang umumnya tidak
mengandung mineral lempung atau alkali felspar. Kadang mengandung sedikit
anhidrit, klorit, kalsit dan rutil. Terbentuk pada temperatur sedang sampai tinggi (
sekitar 230 – 400 oC), fluida asam hingga netral dengan salinitas yang beragam.
c. Tipe propilitik
Dicirikan oleh kehadiran klorit disertai dengan beberapa mineral epidot,
ilit, kalsit, albit dan anhidrit. Terbentuk pada temepratur 200 – 300 oC pada pH
netral dengan salinitas yang beragam, umumnya pada daerah permeabilitas
rendah. Menurut creasey (1966) terdapat empat kecendurungan himpunan mineral
yang hadir pada tipe propilitik, yaitu:
- Klorit-kalsit-kaolinit
- Klorit-kalsit-talk
- Klorit-epidote-kalsit
- Klorit-epidot
d. Tipe argilik
Pada tipe argilik terdapat dua kemungkinan himpunan mineral, yaitu
kaolinit/dickite-monmorilonit- muskovit dan klorit-monmorilonit-illite/smectite-
muskovit. Himpunan mineral pada tipe argilik terbentuk pada temperatur 100-
300C (Pirajno, 1992), fluida asam hingga neutral dan salinitas yang rendah.
e. Tipe skarn
Terdapat mineralogi yang sangat umum yang sering didapatkan pada
batuan skarn, yaitu kelompok garnet, piroksen, amfibol, epidot dan magnetit.
Mineral lain yang umum adalah wolastonit, klorit, biotit dan kemungkinan
vesuvianit (idokras). Amfibol umumnya hadir pada skarn sebagai mineral tahap
akhir yang meng-overprint mineral-mineral tahap awal. Aktinolit (CaFe) dan
tremolit (CaMg) adalah mineral amfibol yang paling umum hadir pada skarn.
Jenis piroksen yang sering hadir adalah diopsid (CaMg) dan hedenbergit (CaFe).
Terbentuk pada fluida yang mempunyai salinitas tinggi dengan temperatur tinggi
(sekitar 300-700C).
f. Tipe greisen
Himpunan mineral pada greisen adalah kuarsa- muskovit (atau lipidolit)
dengan sejumlah mineral asesori seperti topas, tourmalin, dan fluorit.
3. Mineral Indikator
Mineral indikator adalah suatu mineral yang dapat dijadikan sebagai
patokan bahwa pemboran telah mendekati formasu produktifnya, karena
terbentuknya mineral indikator ini pada temperatur tinggi. Sehingga apabila
ditemukan mineral ini, maka dapat diartikan telah mencapai temperatur yang
tinggi. Mineral indikator pada formasi vulkanik contohnya antara lain epidote,
wairakent, lardaredo. Ambil suatu contoh yaitu epidote.
Untuk mengetahui mengapa epidote dijadikan indikasi memasuki suatu
daerah temperatur tinggi, harus ditinjau dari genesanya sebagai hasil dari
metamorfosa kontak. Proses metamorfosa ini tidak melalui fasa cair dan pada
perubahan mineral, tekstur dan sebagainya, sesuai dengan temperatur dan tekanan
setempat. Di dalam batuan metamorf, susunan kimia batuan tidak berubah. Pada
proses metamorfosa dikenal dua istilah, yaitu progressive metamorphism yaitu
perubahan karena naiknya suhu dan tekanan, sehingga biasanya diikuti dengan
terbentuknya mineral mineral baru berderajat tinggi. Sedangkan retrogressive
metamorphism, disebabkan perubahan suhu dan tekanan yang lebih rendah.
Mineral epidote, sering berasosiasi dengan proses metamorfosa kontak (thermal).
Adapun ciri-ciri dari metamorfosa thermal, antara lain: biasanya
merupakan suatu zona, yaitu zona sekitar intrusi batuan dengan suhu sekitar 300 –
o
800 C, tekanan hidrostatis memegang peranan penting pada saat proses
metamorfosa berjalan. Pada umumnya batuan berstruktur granoblastik (butiran
seragam, , sedangkan skistositi (mineral pipih dominan dibanding mineral mineral
butiran) jarang terjadi. Di lapangan hanya dijumpai di sekitar intrusi saja.
Adapun mineral-mineral yang menyusun batuan pada proses metamorfosa
thermal, antara lain: kuarsa, olivin, feldspar, kordierit, mika, ampibol, andesit,
garnet silimanit, dan epidote.
Tingkat facies metamorfosa thermal, menurut William dibagi menjadi 4,
yaitu:
1. Albit-epidote hornfels facies
2. Hornblende-hornfels facies
3. Piroxen hornfels-facies
4. Senidinit facies
Menurut William, metamorfosa thermal memiliki susunan tingkat, sesuai
gambar 4.13
Gambar 4.13
Facies Metamorphosism Thermal Menurut William
Menurut Winkler (1967) membagi fasies metamorfosa thermal menjadi 3
tingkat, yaitu:
1. Albit-epidote hornfels facies ( suhu 400oC)
2. Hornblende hornfels facies (suhu 520-550 oC)
3. K. Feldspar – kordierit hornfels facies (suhu 580 – 600 oC)
Susunan menurut Winkler dapat dilihat pada gambar 4.14

Gambar 4.14
Facies Metamorfosa Thermal Menurut Winkler
Dari klasifikasi di atas, terlihat bahwa epidote merupakan facies terendah,
yang terjadi pada temperatur 400 oC. Epidote biasanya berisi atau terisolasi oleh
tetrahedral group (Si2O7) dan single tetrahedron (SiO4) dalam bentuk strukturnya.
Kristal-kristal epidote dalam sistem monoklin merupakan bentuk yang
paling sederhana. Epidote mempunyai belahan prisma yang berkembang ke arah
pinggir. Umumnya berbentuk rumping seperti jarum, dapat juga sub-herical dan
bentuk angular atau kumpulan butir, dimana tiap butir umumnya mirkoskopik.
Sifat umumnya belahan sempurna ke arah paralel membentuk bidang belahan dan
tidak terdapat pecahan. Kekerasan antara 6 hingga 7 pada skala Mohs. Spesifik
gravitynya 3,2 – 3,5. Berwarna hijau, umumnya kuning kehijauan, antara hijau
pistackio sampai gelap dan hijau tua, transparan sampai spaque.
Rumus umum mineral epidot K4CaO3(Al,Fe)2O3.6SiO2H2O. epidote
dengan solusi padat memiliki anggota akhir clonozoisite
(Ca2Al2O(SiO4)(Si2O7)(OH). Umumnya epidote mempunyai satu Al3+ diganti
dengan Fe3+ menjadi Ca2FeAl2O(SiO4)(Si2O7)(OH), atau dapat juga dapat
dimungkinkan diganti yang lain. Jika Mn3+ diganti dengan Fe+3, epidote berwarna
merah mudah keunguan dinamakan premonitite. Jika calcium yang diganti
dinamakan Allanite tetapi jarang terjadi. Karakteristik epidote umumnya
merupakan hasil alterasi dari mienral mineral lain, seperti pada proses perubahan
piroksin menjadi hornblende dengan tambahan mineral epidote dan albit. Pada
batuan beku mafik dibawah pengaruh metamorfosa ringan epidote juga dapat
terbentuk. Epitode kemudian berkembang menurut tipe tipe tertentu, dan dapat
berasosiasi dengan mineral silikat dimana bentuk semuanya terjadi pada waktu
yang sama dengan silikat.
Mineral epidote dapat terbentuk pada tingkat metamorfosa yang sangat
rendah (very low grade) sampai tingkat, metamorfosa rendah (low grade).
Terbentuknya mineral epidote bersama-sama dengan mineral lainnya, tetapi yang
khasi bahwa derajat I mineral epidote mengganti mineral prehnite (Pr) untuk
temperatur yang lebih tinggi. Sedangkan untuk derajat II mineral epidote (Ep)
mengganti mineral actinolite (Ac) demikian juga untuk derajat III. Tingkat
terbentuknya mineral epidote pada metamorfosa tingkat sangat rendah, adalah
sebagai berikut:
1. Derajat I: tempreatur 150-200 oC, sampai dengan 225 – 325 oC akan terbentuk
mineral mineral:
Pumpellyte + Prehnite + Chlorite + Quartz
Pumpellyte + Epidote + Chlorite + Quartz
2. Derajat II: temperatur 225-350 oC sampai dengan 350 – 400 oC akan terbentuk
mineral mineral:
Pumpellyte + Actinolite + Chlorite + Quartz
Pumpellyte + Epidote + Chlorite + Quartz
3. Derajat III: temperatur 325 – 400 oC keatas akan terbentuk mineral mineral:
Prehnite + Actinolite + Chlorite + Quartz
Prehnite + Epidote + Chlorite + Quartz
Prehnite + Epidote + Chlorite + Pumpellyte
Menurut Nitsch (1971) reaksi yang terdapat pada tingkat sangat rendah ini
meliputi mineral mineral: prehnite, pumpellyte, chlorite, zeolite, actinolite, dan
quartz, mengikuti reaksi sebagai berikut:
Prehnite + chlorite + quartz = pumpellyte + actinolite + quartz
pumpellyte + actinolite + quartz = clinozoisite + actinolite
pumpellyte + Quartz = prehnite + cilozoisite + actinolite
prehnite + chlorite = pumpellyte + clinozoisite + actinolite
prehnite + chlorite + quartz = diopside + actinolite
pumpellyte + quartz = prehnite + clinozoisite + chlorite
Dalam kesetimbangan reaksi di atas mineral epidote kemungkinan sebagai
pengganti dari bentuk clinozoisite. Sedangkan satu tingkat reaksi mineral epidote
dari bentuk clinozoisite terjadi pada tingkat metamorfosa rendah (low grade) pada
temperatur sampai 500 oC, dengan reaksi:
Actinolite + clinozoisite + chlorite + quartz = hornblende
Korelasi antara tekanan dan temperatur formasi berdasarkan gradient
temperatur dan tekanan lapangan, diplot pada gambar hubungan fasa dalam
tingkat metamorfosa rendah dapat ditentukan pada tingkat epidot keberapa
mineral indikator itu terbentuk dan apa mineral ciri penyertanya.
setting depth casing produksi ditempatkan pada formasi yang telah
kompak atau pada zona profilitik. Pada kebanyakan lapangan panasbumi dengan
temperatur tinggi, zona kompak untuk penentumapatan casing produksi ini
dengan temperatur paling rendah 230 oC (Malcolm Grant, 1982).
4.3.2.2. Penentuan Setting Depth Casing Lainnya
Ada dua cara yang umum untuk menentukan setting depth casing yang
lain yang berada di atas casing produksi (conductor, surface, dan intermediate)
yaitu berdasarkan kondisi lithologi dan berdasarkan beban tekanan terbesar pada
casing.
1. Berdasarkan kondisi lithologi
Pengelompokan lithologi ini berdasarkan atas hambatan dalam operasi
pemboran akibat kondisi lithologi dan struktur geologi. Langkah yang pertama
dilakukan yaitu menentukan caprock dan reservoirnya, kemudian dikelompokkan
menjadi kemungkinan hambatan yang terjadi seperti kontaminasi lumpur dengan
air permukaan ke runtuhan lubang, partial loss, total loss, adanya boulder, dan
lain lain. Dengan metode ini, setting depth casing produksi harus ditentukan
terlebih dahulu.
2. Berdasarkan beban tekanan pada casing
Beban tekanan yang terbesar yang diderita pada rangkaian casing adalah
saat sumur diproduksikan. Apabila tekanan fluida produksi pada suatu rangkaian
casing telah melewati tekanan rekah formasi, maka casing harus dilindungi
dengan rangkaian casing yang lain pada bagian luarnya, dan demikian seterusnya.
Menurut Dench (1980), untuk lapangan dengan vapor dominated, tekanan
reservoir harus diukur pada kedalaman yang memiliki permeabilitas tertinggi.
Dengan menggunakan data tekanan sumur-sumur yang diplot terhadap
kedalaman, terlihat profil tekanan sesuai dengan sifat reservoir yaitu adanya
gradient hidrostatis. Data yang diperlukan adalah kurva tekanan saturasi, densitas
formasi, kurva tekanan uap, dan data setting depth casing produksinya. Konsep
Dench ini memiliki prosedur yaitu:
a. Menentukan kurva tekanan saturasi dari harga temperatur saturasi (boiling
point temperature) dengan menggunakan persamaan:
C = 54.3 H0.2085
Keterangan:
C = boiling point temperature, oC
H = Kedalaman ukur, ft
b. Menentukan kurva densitas formasi. Untuk batuan vulcanic sebesar 2300
kg/m3 atau dengan gradient ±2.3 Ksc/10m.
c. Menentukan kurva tekanan fluida, dengan cara mencari terlebih dahulu
tekanan uap rata-rata sumur sumur terdekatnya.
d. Membuat kurva tekanan saturasi, kurva densitas formasi untuk tiap kedalaman
e. Memperkirakan kedalaman formasi produktif (total lost).
Contoh pada gambar 4.15 yaitu dimana kedalaman 900-1000 m, buat titik
(1), lalu tarik arah panah hingga didapat titik (2) hingga menyentuh kurva tekanan
formasi. Setelah itu buat kurva tekanan uap dengan tarik arah panah dari (2)
hingga menyentuh kurva formation density yang dianggap sebagai tekanan rekah
formasi. Setelah menyentuh kurva formation density, beri titik (3). Dari titik (3),
buat garis yang memotong kurva tekanan tersaturasi pada kedalaman yang sama,
lalu diperoleh titik (4). Demikian selanjutnya hingga titik (5) dan (6).
f. Titik (2), (4), (6) merupakan setting depth dari casing yang lain.
Perpotongan antara kurva tekanan uap atau air panas dari sumur pada saat
berproduksi dengan tekanan uap saturasi (boiling point pressure) dan tekanan
rekah formasi berdasarkan densitas formasi, didapatkan beban tekanan maksimum
dari suatu rangkaian casing, lalu ditentukan setting depth casing. Hal ini tentu saja
pertama harus menentukan setting depth casing produksi terlebih dahulu
berdasarkan kombinasi analisa temperature dari lumpur yang keluar, tingkat
ubahan mineral primer menjadi mineral sekunder (alterasi hidrotermal) dan
mineral indikator yang terbentuk pada suhu tinggi.
Gambar 4.15
Penentuan Setting Depth Casing Secara Grafis Berdasarkan Beban
Tekanan Casing
4.3.2.3. Kualitas Material Casing
Adanya temperatur tinggi dapat menyebabkan casing mengalami
elongation (memanjang), dan expansion (memuai), dan apabila penyemenan
kurang sempurna dapat menyebabkan channeling sehingga buckling, collapse,
dan bursting pada casing dapat terjadi. Peningkatan temperatur ini terjadi pada
saat penurunan casing ke dalam lubang sumur, pada saat menunggu semen
mengeras (WOC / waiting on cement), dan pada saat produksi.
Sifat elastisitas dan plastisitas dari rangkaian casing harus
dipertimbangkan, dengan memperkirakan thermal stress yang diderita casing
dengan cara:
St = β Δt E………………………………………………………………(4-31)
Keterangan:
St = thermal stress, psi
β = koefisien muai panjang (6,6 . 10-6 in/oF)
Δt = beda temperatur, oF
E = modulus elastisitas bahan baja, 29.106 psi
Pertambahan panjang akibat kenaikan temperatur (elongation) dapat
dihitung:
ΔL = L β Δt………………………………………………………………(4-32)
Keterangan:
ΔL = pertambahan panjang atau thermal elongation, inch
β = koefisien muai panjang (6,6 . 10-6 in/oF)
Δt = beda temperatur, oF

Gambar 4.16
Casing Buckling
Grant PrideCo-TCA melakukan percobaan untuk mengetahui strength
degradation factor pada casing umum, hal ini dapat dilihat pada Tabel IV-3
Tabel IV-3
Casing Yield Strength Degradation Factor (Grant PrideCo-TCA)

Dimana secara umum, burst rating, collapse resistance, dan tensile


strengh linear terhadap yield strength suatu material.
4.3.2.4. Pemilihan Grade Casing
Pemilihan grade casing yang sesuai dengan temperatur tinggi pada sumur
panasbumi harus dipilih material casing dengan batas pemuaian normal dan yield
streng yang memadai. Pada sumur panasbumi, temperatur merupakan faktor
utama karena dapat menyebabkan thermal stress. Naiknya temperatur dapat
mengurangi yield strength, collapse, burst resistance dan tensile strength dari
suatu material casing tersebut.
Thomas (1967), Holiday (1969), Karlsson (1988), dan Snyder (1981) telah
membicarakan karakteristik dari yield strenght untuk beberapa grade casing di
temperatur di atas 700 oF. Dari data test yang terakhir diperkirakan sekitar 50%
yield strenght casing J-55/K-55 akan hilang pada temperatur lebih dari 625 oF,
dan untuk casing N-80 akan kehilangan yield strenght sebesar 20% pada range
temperatur yang sama dengan di atas. Variasi ini dapat dilihat pada gambar 4.17
Gambar 4.17
Variasi Yield Strength Casing Terhadap Beberapa Temperatur

Gambar 4.18 Variasi Tensile Strength Casing pada Beberapa Temperatur


Snyder (1981) telah memberikan laporan bahwa tensile strength untuk
casing P-110 akan berkurang sebesar 24% pada temperatur 800oF. variasi
kenaikan tensile strength casing pada beberapa temperatur dapat dilihat pada
gambar 4.18
Sedangkan modulus elastisitas casing pada berbagai temperatur dapat
dilihat pada gambar 4.19
Pada paper “Challenges of Casing Design in Geothermal Wells” Angelito
Torres,, apabila terdapat 22% pengurangan pada yield strength casing K-55
tieback casing pada 500 oF, maka burst, collapse resistance dan tensile strength
akan berkurang sebesar 22% pula.
Pemilihan grade casng yang digunakan adalah berdasarkan batas limit
elastisitasnya dan perhitungan modulus elastisitas, serta yield tensile pada
temperatur formasi lapangan panasbumi.
Contoh grade:
1. K-55: casing ini memiliki low strength carbon steel dimana resistensi terhadap
sulfide stress cracking (SSC) pada beberapa temperatur operasi lebih baik
daripada casing yang memiliki kekuatan / strength lebih besar. Jenis ini
direkomendasikan untuk surface casing dan perforated production liner.
2. L-80: casing ini kebutuhan maksimum pada kekerasan dan spesifikasi
penanganan terhadap panas yang menyediakan SSC. Sehingga L-80 dapat
digunakan pada kondisi H2S pada semua temperatur operasi.
3. T-95: casing ini direkomendasikan untuk tieback casing dalam sumur dimana
untuk mengantisipasi aliran wellhead yang melebihi 600 oF.
Gambar 4.19
Variasi Modulus Elastisitas Casing pada Beberapa Temperatur
Tabel IV-4 memberikan minimal yield strength, untuk beberapa grade
menurut API dan ISO serta maksimum yield sterngth, minimum tensile length,
dan minimum elongation.
Tabel IV-4
API Steel Grades (Robert Mitchell, 2011)
Baja yang digunakan dalam casing dan coupling harus memiliki
kebutuhan kimia (chemical requirements). Semua grade baja dalam API dan ISO
casing dan tubing harus memiliki spesifikasi maximum sulphur dan phosphorus
content, yang dinyatakan dalam persentasi berat total. Grade yang lebih tinggi
dapat memiliki tambahan dalam komposisi kimia untuk karbon, manganese,
molybdelum, chromium, nickel, copeer, dan silika. Hal ini dapat dilihat pada tabel
IV-5
Beberapa contoh grade casing yang digunakan pada beberapa lapangan di
dunia (Teodoriu and Falcone (2009), and Hahn (2010)):
a. H-40: Salton Sea (USA), Brawley Well (USA), Geyser Well (USA), Baca
Well (USA), Cerro Prieo M-150 (Mexico), Westmorland Well (USA), East
Mesa Well (USA), Heber Well (USA), Cerro Prieto Well M-110 (Mexico).
b. J-55: Hawaii Well (USA), Cerro Prieto Well M-8 (mexico), Larderello (Italy)
c. K-55: Salton Sea (USA), Hawaii Well (USA), Geyser Well (USA), Baca Well
(USA), Heber Well (USA), Roosevelt Hot Spring (USA), Raft River Well
(USA), Cerro Prieto M-150 (Mexico), Cerror Prieto M-110 (Mexico), Krafla
Well (Iceland), Urach III Well (germany)
d. X 56: Krafla Well (iceland)
e. L-80 (digunakan dalam kehadiran H2S): Larderello (Italy)
f. N-80: Brawley Well (USA), Westmorlan Well (USA), East Messa Well
(USA), Hawaii Well (USA), Cerro Prieto Well M-8 (mexico), Cerro Prieto
Well M-150 (Mexico), Cerro Prieto Well M-110 (Mexico), Krafla Well
(iceland), Urach III Well (Germany)
g. T-95: Krafla Well (iceland)
Tabel IV-5
Chemical Requirements for Selected API Casing Grades, Mass Fraction
Percent (Robert Mitchell, 2011)
4.3.2.5. Pemilihan Berat Nominal Casing (Pounder Casing)
Pemilihan pounder casing berdasarkan beban tekanan yang diterima oleh
casing, dan dikoreksi terhadap temperatur formasinya.
1. Beban yang diterima oleh casing
Beban atau gaya yang bekerja pada casing antara lain: joint/tension load,
external pressur/collapse, internal pressure/burst, dan axial loading.
a. Joint/Tension Load
Tension load adalah beban yang diterima casing pada sambungan casing
akibat berat casing di bawahnya. Sehingga beban yang terbesar yang diterima
adalah casing yang berada di paling atas rangkaian casing. Maka dari itu, casing
yang paling kuat diletakkan paling atas.
Gaya ini dipengaruhi oleh efek Buoyancy yang disebabkan lumpur
pemboran, walau pada umumnya gaya ini tidak dihitung dan perhitungan desain
dibuat apabila casing tergantung secara bebas di udara.
Persamaan tension load:
F= ( W x L ) + BS ......................................................................................... (4-33)
Persamaan tension load apabila efek Buoyancy dihitung:
BF= ( 65,5 – γm ) / 65,5 ................................................................................. (4-34)
F*= BF * F .................................................................................................... (4-35)
Keterangan:
F = beban tension, lb
W = Berat nominal casing (Nominal Weight), lb/ft
L = Panjang casing, ft
BS = Beban penyemenan, lb
65,5 = Asumsi densitas besi, ppg
γm = densitas lumpur, ppg
Apabila densitas lumpur bernilai 10 ppg (normal), maka harga BF yaitu
0,8473 atau pendekatan menjadi 0,85. Sehingga:
F aktual= 0,85 x F ......................................................................................... (4-36)
Apabila harga tension load lebih besar daripada tension resistance, maka
casing akan mengalami tension failure.

Gambar 4.20
Tension Failure (Bourgoyne, 1986)
b. External Pressure/Collapse
Collapse yaitu tekanan yang disebabkan dari luar casing. Pada
perencanaan, diangga casing dalam keadaan kosong. Ditinjau dari besarnya
collapse yang bekerja, maka casing yang paling kuat harus diletakkan di dasar
lubang sumur, karena harus cukup untuk menahan tekanan hidrostatis
lumpur.harga collapse besarnya sama dengan tekanan hidrostatis lumpur, karena
untuk mengimbanginya.
Pc= Sf x Ph .................................................................................................... (4-37)
Keterangan:
Ph= 0,052 x ρm x D........................................................................................ (4-38)
Keteranga:
Pc = collapse pressure, psi
Ph = tekanan hidrostatis, psi
Sf = angka keselamatan ( safety factor ) = 1.00 hingga 1.125
D = tinggi kolom fluida, ft.
ρm = densitas lumpur
Panjang casing yang direncanakan berdasarkan collapse pressure, yaitu:
MCR
L = Sf x ρm x 0,052 ............................................................................................ (4-39)

Keterangan:
L = panjang rangkaian casing, ft
MCR = Minimum Collapse Resistance, psi
Harga MCR telah diketahui sesuai jenis casing yang digunakan, setiap jenis akan
memiliki harga MCR yang berbeda beda.
Apabila harga collapse pressure akan melebihi harga collapse resistance,
maka casing akan mengalami failure berupa collapse atau dinding casing akan
mengalami pembengkokan ke dalam.
Gambar 4.21
Casing Collapse
c. Internal Pressure / Burst Pressure
Tekanan ini bekerja dari dalam casing dengan anggapan bahwa bagian luar
casing dalam keadaan kosong, gambar 4.22. Tekanan dianggap sama mulai dari
dasar sampai ke permukaan dianggap sebagai tekanan formasinya. Perhitungan
tekanan burst akan sama dengan perhitungan tekanan formasi. Persamaan
menurut rumus Barlow
Pb= 2 S t/de.................................................................................................... (4-40)
Atau dapat juga:
Pb= Pf ............................................................................................................ (4-41)
Keterangan:
Pb = Burst Pressure, psi
Pf = tekanan formasi, psi
S = tensile strength, psi
t = tebal csaing, inch
de = diameter luar casing, inch
besarnya t/de akan berganti ganti sesuai dengan jenis casing yang digunakan.
Dalam perencanaan casing, beban yang bekerja didasarkan pada harga
yield strength, maka untuk rumus Barlow, harga S dapat digantu dengan yield
strength minimum (Ym), sehingga besaran burst pressure nya yaitu:
Pb= 1,75 Ym t/de ............................................................................................ (4-42)
Gambar 4.22
Burst Pressure (Bourgoyne, 1986)
d. Axial Loading
Efek dari pembebanan yang memanjang ini selain membuat deformasi
secara longitudinal (memanjang) juga menurunkan collapse resistance casing.
Besarnya axial loading yang menyebabkan longitudinal yielding (deformasi
permanen) adalah:
Fa= Ym Aj ...................................................................................................... (4-43)
Keterangan:
Fa = axial loading, lb
Ym = yield strength minimum, psi
Aj = root tread area, in

2. Design Factor / Safety Factor


Safety factor atau design factor adalah angka keselamatan perencanaan
yang harus diperhitungkan dalam merencanakan casing. Besarnya harga safety
factor (SF) ini biasanya ditentukan oleh setiap perusahaan. Terdapat beberapa
faktor yang mempengaruhi besarnya SF, antara lain:
a. Ketelitian daripada strength data yang digunakan
b. Keteliatan dari pada asumsi-asumsi yang digunakan untuk loading atau
pembebanan.
c. Perbandingan antara kondisi tes sebenarnya.
d. Besarnya akibat jika terjadi failure.
e. Memperhitngkan biaya atau keekonomisan.
Harga SF dapat ditentukan berdasarkan persamaan:
a. Collapse Pressure
SFC= Minimum Collapse Resistance / Collapse Pressure ............................ (4-44)
atau
MCR
SFc = 0,052 x ρm x D ........................................................................................ (4-45)

Besarnay SFC menurut API yaitu berkisar antara 1.00 – 1.125

b. Burst Pressure
SFB= Internal Yield Pressure / Burst Pressure .............................................. (4-46)
Atau
(Internal Yield Pressure)
SFb = ......................................................................... (4-47)
Gf x D

Besarnya SFB menurut API yaitu berkisar antara 1.0 hingga 1.33

c. Tension Load
Ultimate Joint Strength
SFt = (Nw x D)+BS
............................................................................. (4-48)

Besarnya SFT menurut API yaitu berkisar antara 1.6 hingga 2.00
Keterangan:
SFC = safety factor collapse
SFB = safety factor burst
SFT = safety factortension
ρm = mud density, ppg
Nw = nominal weight, lb/ft
BS = beban penyemenan, lb
Besarnya MCR, IYP, dan Ultimate Joint Strength tergantung dari jenis
casing yang digunakan. Harga tersebut harus dikoreksi dengan temperatur
perencanaan, untuk lebih jelasnya, dapat dilihat prencanaan material casing
terhadap temperatur formasi pada sumur panasbumi pada gambar 4.23
Gambar 4.23
Rekomendasi Perencanaan Material Casing terhadap Temperatur

4.3.2.6.Pengaruh Komposisi Kimia Fluida Formasi terhadap Casing


Pengaruh fluida formasi dapat menyebabkan terbentuknya scale dan
korosif pada material casing. Scale adalah padatan yang tidak terlarut, yang terjadi
jika air yang mengandung ion-ion membentuk komponen-komponen yang
kelarutannya terbatas, serta adanya perubahan fisis atau komposisi air yang
menurunkan kelarutan di bawah konsentrasi yang ada. Scale dapat melekeat pada
dinding pipa maupun menyebabkan terjadinya penyumbatan pada formasi
produktif di sekitar lubang bor. Scale yang umum terbentuk dapat terlihat pada
terlihat pada tabel IV-6.
Tabel IV-6
Scale yang Umum Terbentuk dari Air Formasi
Nama Rumus Kimia Variable Utama
Calcium Carbonat CaCO3 Tekanan parsiil CO2
(Calsit) tekanan total padatan
Calcium Sulfate CaSO4.2H2O Temperatur, total padatan
terlarut, tekanan
Gypsum (umumnya CaSO4 Temperatur, total padatan
anhidrite) terlarut, tekanan
Barium Sulfate BaSO4 Temperatur, total padatan
terlarut
Strontium Sulfate SnSO4 Temperatur, total padatan
terlarut
Komponen Besi
Besi Karbonat FeCO3 Korosi, gas terlarut pH
Besi Sulfida FeS Korosi, gas terlarut pH
Ferrour Hydroxide Fe(OH)2 Korosi, gas terlarut pH
Ferric Hydroxide Fe(OH)3 Korosi, gas terlarut pH
Ferric Oxide Fe2O3 Korosi, gas terlarut pH

Scale calcium carbonate dibentuk oleh kombinasi ion calcium dengan ion-
ion carbonate atau bicarbonat, pada reaksi kimia sebagai berikut:
CaP++ + CO3  CaCO3
Ca++ + 2 (HCO3-)  CaCO3 + CO2 + H2O
Beberapa faktor yang menyebabkan kenaikan pembentukan scale calcium
carbonate, antara lain: naiknya temperatur, naiknya pH, turunnya tekanan parsiil
CO2, dan turunnya konsentrasi total garam yang terlarut.
Pengedapan CaSO4 dari air formasi dihasilkan oleh reaksi kimia sebagai
berikut:
Ca++ + SO42-  CaSO4
Kebanyakan CaSO4 yang diendapkan di lapangan adalah gypsum ( CaSO4.2H2O )
yang dominan pada temperatur di bawah atau sama dengan 100oF. Di atas
temperatur tersebut anhydrite lebih mungkin ditemui. Kelarutan gypsum akan
naik dengan naiknya temperatur sampai 100oF, kemudian akan turun dengan
naiknya temperatur di atas 100oF. Adanya NaCl atau garam terlarut selain dari ion
calcium atau ion sulfat menaikkan kelarutan gypsum dan anhydrite sampei ke
konsentrasi garam sekitar 150.000 mg/lt. Kenaikan lebih lanjut justru akan
menurunkan kelarutan gypsum. Sedang penurunan tekanan mengendapkan
CaSO4, sehingga penurunan tekanan pada sumur produksi aka membantu
terbentuknya scale tadi.
Terbentuknya scale barium sulfate:
Ba2+ + SO42-  BaSO4
Kelarutan BaSO4 akan naik dengan meningkatnya temperatur, juga dengan
meningkatnya kadar garam lain yang terlarut seperti CaCO3 dan CaSO4. Ketidak
larutan BaSO4 yang ekstrim membuat BaSO4 mengendap menjadi scale.
Pada lapangan panasbumi dimana pasti terdapat H2S, H2S dapat
menyebabkan korosi pada casing. Korosi pada casing ini akibat penguraian
kontaminasi dengan CO2, H2S, atau oksigen yang terlarut dalam fluida formasi.
Proses korosi dari lingkunkan asam akan menghasilkan hidrogen bebas dengan
reaksi:
Fe + 2H+  Fe++ + 2H+
Fe – 2e  Fe2+ (anoda)
2H+ + 2e  2H+ (katoda)
Waktu penghancuran akibat pemecahan hydrogen sulfide akan dipercepat
dengan peningkatan konsentrasi H2S, stress serta kekerasan dan kekuatan baja.
Untuk kondisi dimana H2S diatas 3000ppm, kekuatan baja yang diperlukan yield
strength nya harus lebih tinggi dari 90000 psi atau kekerasan di atas standar
Rockwell C-20 sampei C-22.
Kebanyakan scale yang mengandung besi adalah produksi korosi dari
material casing. CO2 akan bereaksi dengan besi untuk membentuk scale besi
karbonat. Ada tidaknya pembentukan scale tergantung pada pH sistem. Scale
lebih mungkin terebntuk pada pH diatas 5. Sedangkan HsS akan membentuk besi
sulfida sebagai korosi yang sukar terlarut dan biasanya membentuk sulfida
sebagai korosi yang sukar terlarut dan membentuk scale yang tipis. Besi sulfida
yang tipis merupakan penyebab terjadinya “black water”. Black water yaitu
korosi yang disebabkan besi sulfida pada besi atau baja, dinamakan black water
karena hydrogen sulfide dalam air akan membuat barang silver menjadi gelap, dan
kerusakan pada besi atau baja. Fe(OH)2 atau ferrous hudroxide, ferric hydroxide
(Fe(OH)3) dan ferric oxide (Fe2O3) adalah scale yang umum ditemui bila air
formasi bereaksi dengan oksigen. Ion Fe akan teroksidasi dengan adanya udara
menghasilkan Fe3+ yang membentuk Fe(OH)3 yang tidak terlarut pada pH diatas
4. Jika oksigen tidak memasuki sistem, 100 ppm Fe(OH)2 akan tetap dalam
bentuk larutan pada pH = 6

4.4 Wellhead Completion


Wellhead adalah suatu rangkaian peralatan permukaan yang digunakan
untuk mengontrol, mengawasi dan memelihara kondisi sumur dan aliran di
permukaan. Wellhead juga tempat untuk seal untuk mencegah blowing dan
kebocoran sumur di permukaan. Bentuk dari wellhead terusun dari bagian-
bagiannya yaitu casing headi, tubing head, christmas tress, dan peralatan
pengukuran tekanan. Pada umumnya sumur panasbumi tidak menggunakan tubing
karena fluida produksi diproduksikan melalui casing produksi, sehingga tubing
head tidak ada pada wellhead. Untuk head-head nya sendiri terdiri atas hanger,
susunan wellhead pada panasbumi hampir sama dengan pada migas kecuali tubing
head, lalu adanya peralatan peredam pertambahan panjang casing produksi karena
pada saat produksi, casing produksi akan berkontak dengan fluida produksi dan
mengalamai pertambahan atau kenaikan temperatur. Alat peredam ini dinamakan
expantion spool. Seluruh rangkaian wellhead ini didudukan pada casing head,
maka dari itu proses pemasangan mulai dari kondisi lithologi, casing shoe, dan
kualitas casing harus optimal.
Gambar 4.24
Contoh Wellhead pada Lapangan Panasbumi Wairakei (Liquid Dominated
System) (Nenny Saptadji)

Gambar 4.25
Contoh Wellhead pada Lapangan Panasbumi Dominasi Uap (Nenny
Saptadji)
Pada gambar 4.25 valve A merupakan valve utama, atau dikenal dengan
master valve atau shut off valve, valve in digunakan untuk menutup sumur saat
keperluan perawatan. Valve B adalah service valve, yaitu valve yang digunakan
untuk mengatur aliran fluida yang akan diproduksikan, biasa juga disebut wing
valve. Valve C yaitu untuk mengatur aliran fluida yang akan dibuang ke silencer
atau pembuangan. Sedangkan valve D yaitu untuk memungkinkan peralatan atau
reamer diturunkan secara vertikal. Valve D ini dapat digunakan untuk
memasukkan alat alat downhole measurement.
Disamping valve valve diatas, terdapat juga bleed valve, yaitu valve atau
katup kecil yang digunakan untuk menyemburkan fluida ke udara dengna laju alir
yang sangat kecil, pada saat sumur tidak diproduksikan. Hal ini disebut bleeding,
bleeding sangat diperlukan untuk menjaga temperatur sumur, dan membuang uap
sehingga H2S tidak terakumulasi dalam sumur dan berbahaya saat sumur dibuka.
Terdapat juga ball fload valve yang ditempatkan pada pipa transmisi uap, untuk
mengamankan dari keumungkinan terbawanya air ke dalam pipa alir uap. Bila ada
air yang terbawa, bola dalam katup tersebut akan naik dan menghentikan aliran.
4.4.1. Dudukan dan Kapasitas Wellhead
Wellhead didudukan pada ujung rangkaian casing yang menopangnya, dan
pada ujungnya dipasang wellhead casing. Untuk itu, kualitas penyemenan dan
kualitas casing yang menopangnya harus mampu menahan beban berat
keseluruhan rangkaian. Dudukan casing terutama untuk casing produksi harus
pada formasi yang keras, dan penyemenannya penuh dari dasar casing sampai ke
permukaan guna ikatan casing kuat.
Kapasitas casing produksi harus sama dengan diameter wellhead
terkecilnya, demikian juga untuk casing expantion spool. Besarnya rate produksi
yang diharapkan akan menentukan besarnya casing produksi, dan ukuran liner
serta wellheadnya. Untuk itu, ukuran casing produksi ditentukan terlebih dahulu
dengan tabel Matsuo
4.4.2. Kualitas Wellhead
Perencanaan Wellhead dilihat dari kehilangan kekuatan pada steels casing,
terhadap perubahan temperatur yang diasumsikan seperti gambar 4.26 untuk
wellhead standar API 6-A. tekanan kerja yang diijinkan oleh API dan ASI
flanging dapat dilihat pada gambar 4.27. dan terbagi dalam kondisi saturasi, dari
besarnya harga tekanan dan besarnya tekanan saat test.
Sedangkan kondisi tekanan dan temperatur suatu sumur panasbumi yang
digunakan untuk perencanaan wellhead ini, dapat dilihat pada gambar 4.28

Gambar 4.26
Kehilangan Strength pada Steels Casing dan Tekanan kerja yang Diijinkan
untuk Klasifikasi API dan ASI
Gambar 4.27
Variasi Kondisi Tekanan dan Temperatur Pada Sumur Panasbumi
Wellhead working pressure derated for temperature dapat dilihat pada
gambar 4.28
Gambar 4.28
Wellhead Working Pressure Derated For Temperature (Hole, 2008)
Pada perencanaan wellhead yang terpenting adalah mendapatkan hasil
terbaik,, mampu untuk menahan tekanan dan temperatur pada kondisi operasi,
tidak bocor dan ekonomis.
Penekanan pada perencanaan ini adlaah untuk menentukan besarnya
strength yang ditunjukan oleh intermediate casing dan casing produksi terhadap
dudukan wellhead. Persamaan yang digunakan untuk pernecanaan ini adalah:
Prat.wh> IYPh.ac. ............................................................................................... (4-49)
IYPa.hc = IYP x R........................................................................................... (4-50)
Keterangan:
Prat.wh = perssure rating dari wellhead, psi
IYPh.ac = omterma; yield pressure dari intermediate casing, psi
IYP = internal yield pressure pada keadaan dingin, psi
R = temperatur derate factor
4.4.3. Perencanaan Tekanan Aliran pada Wellhead
Tekanan kepalasa sumur selain dipengaruhi oleh besarnya tekenan dan
kedalaman sumur dan temperaturnya, juga dipengaruhi oleh kondisi tekanan dan
temperatur pada perencanaan turbin yang digunakan untuk merubah menjadi
tenaga listrik. Ada beberapa parameter yang harus diukur dan ditentukan pad
asuatu kepala sumur dari sumur panasbumu, yaitu:
a. Kapasitas panas suatu sumur
b. Kapasitas daya
c. Kecepatan fluida di kepala sumur
d. Besarnya laju alir massa di kepala sumur
Parameter parameter tersebut selain dipengaruhi oleh kondisi temperatur dan sifat
fisik lainnya, juga ditentukan oleh tekanan kepala sumur. untuk itu perlu
direncanakan besarnya WHP atau Pwh yang optimum.
Pada Pwh dan WHT (Wellhead Temperature) yang tinggi, panas yang
dihasilkan uap lebih sedikit daripada airpanas. Untuk kondisi sumur basah (wet
bore), dengan anggapan enthalpy konstan 278 cal/gal, total heat akan konstan
pada WHP rendah, dan akan turun dengan tajam pada WHP tinggi. Kapasitas
panas dari suatu sumur wet bore dapat dilihat pada gambar 5.37. dari gambar
tersebut, kurva A merupakan total panas dari sumur pada temperatur di atas 0 oC,
kurva B merupakan panas yang dihitung pada temperatur di atas 0 oC (temperatur
sekitar atau temperatur lingkungan), dan kurva C merupakan panas yang telah
dikurangi dengan heat loss antara kepala sumur hingga fasilitas produksi yang
diperkirakan sebesar 5% dimana kurva ini disebut sebagai usable heat.
Naiknya WHP berpengaruh terhadap turunnya produksi, tetapi energi yang
diekstrak per kg naik. Hasil ini memberikan kurva steam power potential atau
disebut dry bore. Dapat dilihat pada gambar 4.30

Gambar 4.29
Bentuk Aliran Wet Bor dengan Asumsi Enthalpy Konstan 278 cal/g
Gambar 4.30
Power Potential dari Suatu Sumur Dry Bore
WHP yang rendah akan menghasilkan volume uap yang lebih besar, maka
perlu sistem pemipaan yang besar pula, dan WHP yang rendah juga cenderung
memperpendek umur reservoir karena produksi yang besar,. Tekanan kepala
sumur yang tinggi menyebabkan tekanan pada turbin sehingga memerulkan turbin
dengan sudu (blade) pendek yang memiliki power loss lebih besar dari turbin
sudu panjang, dan lebih mudah terkena endapan kimia. Valve tekanan tinggi lebih
mahal dan dalam kaitannya dengan temperatur tinggi, maka dibutuhkan isolasi
yang tebal. James memberikan suatu rekomendasi untuk fluida dengan enthalpy
diatas 220 cal/g bahwa besarnya overal economic pressure untuk lapangan dry
dan wet sekitar 6.0 ata.
Besarnya pressure drop, pada sistem di dalam pipa dari sumur yang
diberikan oleh Babcock atau Gutermuth dan Fischer:
3.6
( 1+( ))(𝐿 𝑉 𝑊2)
𝑑
∆𝑃 = 0.4718 ....................................................................... (4-51)
𝑑5

Keterangan:
ΔP = pressure drop, psi
L = Panjang pipa, ft
V = spesifik volume dari steam, cuft/lb
D = diameter dalam pipa, inch
W = mass flow, lb/sc
Apabila fluida produksi dari sumur panasbumi terdiri atas dua fasa, maka
perhitungan kehilangan tekanan:
ΔPm= (ΔPs / d0.5)............................................................................................ (4-52)
Keterangan:
ΔPm = kehilangan tekanan pada pipa alir dua fasa, psi
ΔPs = kehilangan tekanan yang diberikan pipa yang sama untuk fluida dry
saturated steam, psi
d = gravimetric dryness fraction dari campuran
Untuk kondisi fluida uap, kecepatan alir di pipa berkisar antara 40-50 m/s,
apabila kurang dari itu, maka akan menyebabkan terbentuknya kondensat.
Sedangkan untuk kondisi fluida air, kecepatan alir di pipa berkisar antara 3-5 m/s.