Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Kesehatan anak di dunia, khususnya di negara yang sedang berkembang masih
tergolong rendah, 11 juta anak di bawah 5 tahun meninggal setiap tahunnya.Empat
juta dari anak ini masih berusia di bawah 1 bulan. Sedangkan jutaanlainnya hidup
dengan gangguan kesehatan seperti menderita penyakit polio, diare,cacat bawaaan
dan perkembangan seperti lambat berjalan dan bicara.Kematiananak ini, umumnya
dipicu oleh faktor yang masih bisa dicegah, seperti kurang gizidan infeksi misalnya
infeksi saluran Pernafasan dan infeksi saluran pencernaan(Partiwi, 2009).
Sejak penetapan the Expanded Program on Immunisation (EPI) oleh WHO,
cakupan imunisasi dasar anak meningkat dari 5% hingga mendekati 80% di seluruh
dunia. Sekurang-kurangnya ada 2,7 juta kematian akibat campak, tetanus neonatorum
dan pertusis serta 200.000 kelumpuhan akibat polio yang dapat dicegah setiap
tahunnya.Vaksinasi terhadap 7 penyakit telah direkomendasikan EPI sebagai
imunisasi rutin di negara berkembang antara lain: BCG, DPT, Polio, Campak dan
Hepatitis B. (Muhammad,2003).
Target MDGs untuk menurunkan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia
adalah sebesar 23 per 1.000 Kelahiran Hidup (KH) pada tahun 2012 yaitu 34per 1.000
KH,hampir 75% dari semua kematian bayi disebabkan oleh: neonatal, pneumonia,
diare, malaria, campak, dan HIV / AIDS, tujuannya adalah untuk lebih memotong
angka kematian anak sebanyak dua pertiga pada tahun 2015. Pencapaian MDGs
untuk mengurangi angka kematian anak akan membutuhkan cakupan universal
dengan kunci yang efektif, intervensi terjangkausalah satunya dengan cara vaksinasi.
Menurut WHO (World Health Organization) di negara Indonesia sekitar 175.000
penduduk setiap tahunnya meninggal dunia akibat terinfeksi penyakit yang dapat
dicegah oleh imunisasi dan vaksin, sekitar 450.000 setiap tahun.
Pada hasil riset kesehatan dasar tahun 2013, berdasarkan jenis imunisasi
persentase tertinggi adalah BCG (87,6%) dan terendah adalah DPT-HB3
(75,6%). Papua mempunyai cakupan imunisasi terendah untuk semua jenis
imunisasi, meliputi HB-0 (45,7%), BCG (59,4%), DPT-HB 3 (75,6%), Polio 4

1
(48,8%), dan campak (56,8%). Provinsi DI Yogyakarta mempunyai cakupan
imunisasi tertinggi untuk jenis imunisasi dasar HB-0 (98,4%),BCG (98,9%), DPT-
HB 3 (95,1%), dan campak (98,1%) sedangkan cakupan imunisasi polio 4
tertinggi di Gorontalo (95,8%). Dari latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk
membahas aplikasi asuhan kebidanan pada bayi dengan kebutuhan imunisasi
DPT/HB dan polio di BPM Heni Suharni.

B. Rumusan masalah
Bagaimana aplikasi asuhan kebidanan pada Bayi S dengan kebutuhan imunisasi
Campak di Puskesmas Godong 1 ?

C. Tujuan
Untuk mengetahui aplikasi asuhan kebidanan pada Bayi S dengan kebutuhan
imunisasi Campak di Puskesmas Godong 1.

D. Manfaat
1. Menambah Pengetahuan dan pemahaman betapa pentingnya imunisasi Campak
2. Memberikan informasi melalui tulisan tentang imuniasai
3. Menjadikan referensi mengenai tindakan imuniasasi

2
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Pengertian Anak
Anak (menurut UU RI No. 4 tahun 1979) adalah seorang yang belum mencapai usia 21 tahun
dan belum pernah menikah (Suryanah, 1996)
B. Patofisiologis
1. Proses tumbuh kembang anak
Proses pertumbuhan dan perkembangan anak terjadi sejak dalam kandungan. Setiap
organ dan fungsinya mempunyai kecepatan yang berbeda-beda. Perkembangan yang
dialami anak merupakan rangkaian perubahan yang teratur dari satu tahap
perkmebangan ketahap perkembangan berikutnya yang berlaku secara umum misalnya :
anak terdiri dengan satu kaki, berjingkrak (berjinjit), berjalan menaiki tangga, berlari dan
sebagainya (Nardho, 1993).
2. Perkembangan
Adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang kompelks
dalam pola yang teratur dan sebagai hasil dari proses pematangan. Disini menyangkut
adanya proses diferensiasi dari sel-sel tubuh jaringan tubuh, organ-organ dan sistem
organ yang berkembang sedemikian rupa hingga masing-masing dapat memenuhi
fungsinya. Termasuk perkembangan emosi, intelektual dan tingkah laku sebagai hasil
interaksi dengan lingkungan (Soetjiningsih, 1995).
C. Lima Imunisasi Dasar Lengkap
1. Pengertian
Imunisasi merupakan suatu program yang dengan sengaja memasukkan antigen
lemah agar merangsang antibodi keluar sehingga tubuh dapat resisten terhadap penyakit
tertentu. (Proverawati, 2010)
Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak dengan
memasukkan vaksin kedalam tubuh agar tubuh membuat zat anti untuk mencegah
terhada penyakit tertentu. (Alimul, 2009)
2. Tujuan Imunisasi
Program imunisasi bertujuan untuk memberikan kekebalan pada bayi agar dapat
mencegah penyakit dan kematian bayi serta anak yang disebabkan oleh penyakit yang
sering berjangkit. (Proverawati, 2010)

3
Tujuan pemberian imunisasi adalah diharapkan anak menjadi kebal terhadap
penyakit sehingga dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas serta dapat
mengurangi kecacatan akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. (Alimul,
2009)
3. Manfaat Imunisasi
a. Untuk Anak
Mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit dan kemungkinan cacat atau
kematian.
b. Untuk Keluarga
Menghilangkan kecemasan dan psikologi pengobatan bila anak sakit. Mendorong
pembentukan keluarga apabila orang tua yakin bahwa anaknya akan menjalani
masa kanak-kanak yang nyaman.
c. Untuk Negara
Memperbaiki tingkat kesehatan, mrnciptakan bangsa yang kuat dan berakal untuk
melanjutkan pembangunan negara. (Proverawati, 2010)
4. Jenis Imunisasi
a. Imunisasi Aktif
Merupakan pemberian suatu bibit penyakit yang telah dilemahkan (vaksin) agar
nantinya sistem imun tubuh berespon spesifik dan memberikan suatu ingatan
terhadap antigen ini, sehingga ketika terpapar lagi tubuh dapat mengenali dan
meresponnya. Contoh imunisasi aktif adalah imunisasi polio dan campak. Dalam
imunisasi aktif terdapat beberapa unsur-unsur vaksin, yaitu :
1) Vaksin dapat berupa organisme yang secara keseluruhan dimatikan, eksotoksin
yang didetoksifikasi saja, atau endotoksin yang terikat pada protein pembawa
seperti polisakarida, dan vaksin dapat juga berasal dari ekstrak komponen-
komponen organisme dari suatu antigen. Dasarnya adalah antigen harus
merupakan bagian dari organisme yang dijadikan vaksin.
2) Pengawet/stabilisator, atau antibiotik. Merupakan zat yang digunakan agar
vaksin tetap dalam keadaan lemah atau menstabilkan antigen dan mencegah
tumbuhnya mikroba. Bahan-bahan yang digunakan seperti air raksa atau
antibiotik yang biasa digunakan.
3) Cairan pelarut dapat berupa air steril atau juga berupa cairan kultur jaringan
yang digunakan sebagai media tumbuh antigen, misalnya telur, protein serum,
bahan kultur sel.

4
4) Adjuvan, terdiri dari garam aluminium yang berfungsi meningkatkan sistem imun
dari antigen. Ketika antigen terpapar dengan antibodi tubuh, antigen dapat
melakukan perlawanan juga, dalam hal ini semakin tinggi perlawanan maka
semakin tinggi peningkatan antibodi tubuh.
b. Imunisasi Pasif
Merupakan suatu proses peningkatan kekebalan tubuh dengan cara
memberikan zat immunoglobulin, yaitu zat yang dihasilkan melalui suatu proses
infeksi yang dapat berasal dari plasma manusia (kekebalan yang didapatkan bayi
dari ibu melalui plasenta) atau binatang (bisa ular) yang digunakan untuk mengatasi
mikroba sudah masuk dalam tubuh yang terinfeksi.
Contoh imunisasi pasif adalah penyuntikan ATS pada orang yang mengalami
luka kecelakaan. Contoh lain adalah yang terdapat pada bayi yang baru lahir dimana
bayi tersebut menerima berbagai jenis antibodi dari ibunya melalui darah plasenta
selama masa kandungan, misalnya antibodi terhadap campak. (Proverawati, 2010)
5. Jenis Vaksin Lima Imunisasi Lengkap
a. BCG
Imunisasi BCG merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah
terjadinya penyakit TBC yang berat sebab terjadinya penyakit TBC yang primer atau
yang ringan dapat terjadi walaupun sudah dilakukan imunisasi BCG. TBC yang berat
contohnya adalah TBC pada selaput otak, TBC milier pada seluruh lapangan paru,
atau TBC tulang. Vaksin BCG merupakan vaksin yang mengandung kuman TBC
yang telah dilemahkan.
Frekuensi pemberian imunisasi BCG adalah 1 dosis sejak lahir sebelum umur
3 bulan. Vaksin BCG diberikan melalui intradermal/intracutan. Efek samping
pemberian imunisasi BCG adalah terjadinya ulkus pada daerah suntikan, limfadenitis
regionalis, dan reaksi panas.
b. Hepatitis B
Imunisasi hepatitis B merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah
terjadinya penyakit hepatitis B. kandungan vaksin ini adalah HbsAg dalam bentuk
cair. Frekuensi pemberian imunisasi hepatitis B adalah 3 dosis. Imunisasi hepatitis ini
diberikan melalui intramuscular.
c. Polio
Imunisasi polio merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah
terjadinya penyakit poliomyelitis yang dapat menyebabkan kelumpuhan pada anak.

5
Kandungan vaksin ini adalah virus yang dilemahkan. Frekuensi pemberian imunisasi
polio adalah 4 dosis. Imunisasi polio diberikan melalui oral.
d. DPT
Imunisasi DPT merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah
terjadinya penyakit difteri, pertusis dan tetanus. Vaksin DPT ini merupakan vaksin
yang mengandung racun kuman difteri yang telah dihilangkan sifat racunnya, namun
masih dapat merangsang pembentukan zat anti (toksoid).
Frekuensi pemberian imuisasi DPT adalah 3 dosis. Pemberian pertama zat
anti terbentuk masih sangat sedikit (tahap pengenalan) terhadap vaksin dan
mengaktifkan organ-organ tubuh membuat zat anti. Pada pemberian kedua dan
ketiga terbentuk zat anti yang cukup. Imunisasi DPT diberikan melalui intramuscular.
Pemberian DPT dapat berefek samping ringan ataupun berat. Efek ringan
misalnya terjadi pembengkakan, nyeri pada tempat penyuntikan, dan demam. Efek
berat misalnya terjadi menangis hebat, kesakitan kurang lebih empat jam, kesadaran
menurun, terjadi kejang, encephalopathy, dan syok.
e. Campak
Imunisasi campak merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah
terjadinya penyakit campak pada anak karena termasuk penyakit menular.
Kandungan vaksin ini adalah virus yang dilemahkan. Frekuensi pemberian imunisasi
campak adalah 1 dosis. Imunisasi campak diberikan melalui subkutan. Imunisasi ini
memiliki efek samping seperti terjadinya ruam pada tempat suntikan dan panas.
(Alimul, 2009)
6. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Imunisasi
a. Status imun penjamu
1) Adanya antibodi spesifik pada penjamu keberhasilan vaksinasi, misalnya:
Campak pada bayi, Kolostrum ASI , Imunoglobulin A polio.
2) Maturasi imunologik : neonatus fungsi makrofag, kadar komplemen, aktifasi
optonin.
3) Pembentukan antibodi spesifik terhadap antigen kurang, hasil vaksinasi ditunda
sampai umur 2 tahun.
4) Cakupan imunisasi semaksimal mungkin agar anak kebal secara simultan, bayi
diimunisasi.
5) Frekuensi penyakit : dampaknya pada neonatus berat imunisasi dapat diberikan
pada neonatus.
b. Status imunologik (seperti defisiensi imun) respon terhadap vaksin kurang.

6
c. Genetik
Secara genetik respon imun manusia terhadap antigen tertentu baik, cukup, rendah.
Keberhasilan vaksinasi tidak 100%.
d. Kualitas vaksin
Cara pemberian. Misalnya polio oral, imunitas lokal dan sistemik.
e. Dosis vaksin
Tinggi hambatan respon, menimbulkan efek samping; Jika rendah, maka tidak
merangsang sel imunokompeten

f. Frekuensi pemberian.
Respon imun sekunder Sel efektor aktif lebih cepat, lebih tinggi produksinya, afinitas
lebih tinggi. Frekuensi pemberian mempengaruhi respon imun yang terjadi. Bila
vaksin berikutnya diberikan pada saat kadar antibodi spesifik masih tinggi, sedangkan
antigen dinetralkan oleh antibodi spesifik maka tidak merangsang sel
imunokompeten.
g. Ajuvan
1) Zat yang meningkatkan respon imun terhadap antigen
2) Mempertahankan antigen agar tidak cepat hilang;
3) Mengaktifkan sel imunokompeten
h. Jenis vaksin
Vaksin hidup menimbulkan respon imun lebih baik.
i. Kandungan vaksin
1) Antigen virus
2) Bakteri
3) Vaksin yang dilemahkan seperti polio, campak, BCG
4) .Vaksin mati : pertusis.
5) Eksotoksin : toksoid, difteri, tetanus.
6) Ajuvan : persenyawaan aluminium
7) .Cairan pelarut : air, cairan garam fisiologis, kultur jaringan, telur.
7. Faktor Yang Dapat Merusak Vaksin Dan Komposisi Vaksin
a. Panas dapat merusak semua vaksin.
b. Sinar matahari dapat merusak BCG.
c. Pembekuan toxoid.
d. Desinfeksi / antiseptik : sabun. (Marimbi, 2010)
8. Tatacara Pemberian Imunisasi

7
Sebelum melakukan vaksinasi, dianjurkan dianjurkan mengikuti tata cara seperti
berikut:
a. Memberitahukan secara rinci tentang risiko imunisasi dan risiko apabila tidak
divaksinasi.
b. Periksa kembali persiapan untuk melakukan pelayanan secepatnya bila terjadi reaksi
ikutan yang tidak diharapkan.
c. Baca dengan teliti informasi tentang yang akan diberikan dan jangan lupa mendapat
persetujuan orang tua. Melakukan tanya jawab dengan orang tua atau pengasuhnya
sebelum melakukan imunisasi.
d. Tinjau kembali apakah ada kontraindikasi terhadap vaksin yang akan diberikan.
e. Periksa identitas penerima vaksin dan berikan antipiretik bila diperlukan.
f. Periksa jenis vaksin dan yakin bahwa vaksin tersebut telah disimpan dengan baik.
g. Periksa vaksin yang akan diberikan apakah tampak tanda-tanda perubahan. Periksa
tanggal kadaluarsa dan catat hal-hal istimewa, misalnya adanya perubahan warna
yang menunjukkan adanya kerusakan.
h. Yakin bahwa vaksin yang akan diberikan sesuai jadwal dan ditawarkan pula vaksin
lain untuk mengejar imunisasi yang tertinggal (catch up vaccination) bila diperlukan.
i. Berikan vaksin dengan teknik yang benar. Lihat uraian mengenai pemilihan jarum
suntik, sudut arah jarum suntik, lokasi suntikan, dan posisi penerima vaksin.
j. Setelah pemberian vaksin, kerjakan hal-hal seperti berikut:
k. Berilah petunjuk (sebaiknya tertulis) kepada orang tua atau pengasuh, apa yang
harus dikerjakan dalam kejadian reaksi yang biasa atau reaksi ikutan yang lebih
berat.
l. Catat imunisasi dalam rekam medis pribadi dan dalam catatan klinis.
m. Catatan imunisasi secara rinci harus disampaikan kepada Dinas Kesehatan bidang
P2M.
n. Periksa status imunisasi anggota keluarga lainnya dan tawarkan vaksinasi untuk
mengejar ketinggalan, bila diperlukan.
Dalam situasi vaksinasi yang dilaksanakan untuk kelompok besar, pelaksanaannya
dapat bervariasi, namun rekomendasi tetap seperti di atas yang berpegang pada prinsip-
prinsip higienis, surat persetujuan yang valid, dan pemeriksaan/penilaian sebelum
imunisasi harus dikerjakan.
a. Penyimpanan
Vaksin yang disimpan dan diangkut secara tidak benar akan kehilangan
potensinya. Instruksi pada lembar penyuluhan (brosur) informasi produk harus

8
disertakan. Aturan umum untuk sebagian besar vaksin, bahwa vaksin harus
didinginkan pada temperatur 2-8oC dan tidak membeku. Sejumlah vaksin (DPT dan
hepatitis B) menjadi tidak aktif bila beku. Pengguna dinasehatkan untuk melakukan
konsultasi guna mendapatkan informasi khusus vaksin-vaksin individual, karena
beberapa vaksin (polio) dapat disimpan dalam keadaan beku.
b. Pengenceran
Vaksin kering yang beku harus diencerkan dengan cairan pelarut khusus dan
digunakan dalam periode waktu tertentu. Apabila vaksin telah diencerkan, harus
diperiksa terhadap tanda-tanda kerusakan (warna dan kejernihan).
Perlu diperhatikan bahwa vaksin campak yang telah diencerkan cepat
mengalami perubahan pada suhu kamar. Jarum ukuran 21 yang steril dianjurkan
untuk mengencerkan dan jarum ukuran 23 dengan panjang 25 mm digunakan untuk
menyuntikkan vaksin.
c. Pembersihan Kulit
Tempat suntikan harus dibersihkan sebelum imunisasi dilakukan namun
apabila kulit telah bersih, antiseptik kulit tidak diperlukan.
d. Pemberian Suntikan
Sebagian besar vaksin diberikan melalui suntikan intramuskular atau subkutan
dalam. Terdapat perkecualian pada dua jenis vaksin yaitu polio diberikan per-oral dan
BCG diberikan dengan suntikan intradermal.
e. Teknik dan Ukuran Jarum
Para petugas yang melaksanakan vaksinasi harus memahami teknik dasar
dan petunjuk keamanan pemberian vaksin, untuk mengurangi risiko penyebaran
infeksi dan trauma akibat suntikan yang salah. Pada tiap suntikan harus digunakan
tabung suntikan dan jarum baru, sekali pakai dan steril. Sebaiknya tidak digunakan
botol vaksin yang multidosis, karena risiko infeksi. Apabila memakai botol multidosis
(karena tidak ada laternatif vaksin dalam sediaan lain) maka jarum suntik yang telah
digunakan menyuntikkan tidak boleh dipakai lagi mengambil vaksin.
Tabung suntik dan jarum harus dibuang dalam tempat tertutup yang diberi
tanda (label) tidak mudah robek dan bocor, untuk menghindari luka tusukan atau
pemakaian ulang. Tempat pembuangan jarum suntik bekas harus dijauhkan dari
jangkauan anak-anak.
Sebagian besar vaksin harus disuntikkan ke dalam otot. Penggunaan jarum
yang pendek meningkatkan risiko terjadi suntikan subkutan yang kurang dalam.

9
Standar jarum suntik ialah ukuran 23 dengan panjang 25 mm, tetapi ada
perkecualian lain dalam beberapa hal seperti berikut :
1) Pada bayi-bayi kurang bulan, umur dua bulan atau yang lebih muda dan bayi-bayi
kecil lainnya, dapat pula dipakai jarum ukuran 26 dengan panjang 16 mm.
2) Untuk suntikan subkutan pada lengan atas, dapakai jarum ukuran 25 dengan
panjang 16 mm, untuk bayi-bayi kecil dipakai jarum ukuran 27 dengan panjang 12
mm.
3) Untuk suntikan intradermal pada vaksin BCG dipakai jarum ukuran 25-27 dengan
panjang 10 mm.
f. Arah Sudut Jarum pada Suntikan Intramuskular
Jarum suntik harus disuntikkan dengan sudut 45o sampai 60o ke dalam otot
vastus lateralis atau otot deltoid (lengan atas). Untuk otot vastus lateralis, jarum harus
diarahkan ke arah lutut dan untuk deltoid jarum harus diarahkan ke pundak.
Kerusakan saraf dan pembuluh vaskular dapat terjadi apabila suntikan diarahkan
pada sudut 90º. pada suntikan dengan sudut jarum 45 º sampai 60 º akan mengalami
hambatan ringan pada waktu jarum masuk ke dalam otot.
g. Tempat Suntikan yang Dianjurkan
Paha anterolateral adalah bagian tubuh yang dianjurkan untuk vaksinasi pada
bayi-bayi dan anak-anak umur dibawah 12 bulan. Regio deltoid adalah alternatif
untuk vaksinasi pada anak-anak yang lebih besar (mereka yang telah dapat berjalan)
dan orang dewasa.
Daerah anterolateral paha adalah bagian yang dianjurkan untuk vaksinasi
bayi-bayi dan tidak pada pantat (daerah gluteus) untuk menghindari risiko kerusakan
saraf ischiadica (nervus ischiadicus). Risiko kerusakan saraf ischiadica akibat
suntikan didaerah gluteus lebih banyak dijumpai pada bayi karena variasi posisi saraf
tersebut, masa otot lebih tebal, sehingga pada vaksinasi dengan suntikan
intramuskular di daerah gluteal dengan tidak sengaja menghasilkan suntikan
subkutan dengan reaksi lokal yang lebih berat.
Sedangkan untuk vaksinasi BCG, harus disuntik pada kulit di atas insersi otot
deltoid (lengan atas), sebab suntikan-suntikan diatas puncak pundak memberi risiko
terjadinya keloid.
h. Posisi Anak dan Lokasi Suntikan
Vaksin yang disuntikkan harus diberikan pada bagian dengan risiko kerusakan
saraf, pembuluh vaskular serta jaringan lainnya. Penting bahwa bayi dan anak jangan
bergerak saat disuntik, walaupun demikian cara memegang bayi dan anak yang

10
berlebihan akan menambah ketakutan sehingga meningkatkan ketegangan otot.
Perlu diyakinkan kepada orang tua atau pengasuh untuk membantu memegang anak
atau bayi, dan harus diberitahu agar mereka memahami apa yang sedang dikerjakan.
Alasan memilih otot vastus lateralis pada bayi dan anak umur dibawah 12
bulan adalah :
1) Menghindari risiko kerusakan saraf ischiadica pada suntikan daerah gluteal.
2) Daerah deltoid pada bayi dianggap tidak cukup tebal untuk menyerap suntikan
secara adekuat.
3) Sifat imunogenesitas vaksin hepatitis B berkurang bila disuntikkan di daerah
gluteal.
4) Menghindari risiko reaksi lokal dan terbentuk pembengkakan di tempat suntikan
yang menahun.
5) Menghindari lapisan lemak subkutan yang tebal pada paha bagian anterior.
6) Vastus Lateralis, Posisi Anak dan Lokasi Suntikan
Vastus lateralis adalah otot bayi yang tebal dan besar, yang mengisi bagian
anterolateral paha. Vaksin harus disuntikkan ke dalam batas antara sepertiga otot
bagian atas dan tengah yang merupakan bagian yang paling tebal dan padat. Jarum
harus membuat sudut 45o-60o terhadap permukaan kulit, dengan jarum kearah
lutut, maka jarum tersebut harus menembus kulit selebar ujung jari di atas (ke arah
proksimal) batas hubungan bagian atas dan sepertiga tengah otot.
Anak atau bayi diletakkan di atas meja periksa, dapat dipegang oleh orang
tua/pengasuh atau posisi setengah tidur pada pangkuan orang tua atau
pengasuhnya. Celana (popok) bayi harus dibuka bila menutupi otot vastus lateralis
sebagai lokasi suntikan, bila tidak demikian vaksin akan disuntikkan terlalu bawah di
daerah paha. Kedua tangan dipegang menyilang pelvis bayi dan paha dipegang
dengan tangan antara jempol dan jari-jari. Posisi ini akan mengurangi hambatan
dalam proses penyuntikan dan membuatnya lebih lancar. Lokasi suntikan pada
vastus lateralis :
1) Letakkan bayi di atas tempat tidur atau meja, bayi ditidurkan terlentang.
2) Tungkai bawah sedikit ditekuk dengan fleksi pada lutut.
3) Cari trochanter mayor femur dan condylus lateralis dengan cara palpasi, tarik
garis yang menghubungkan kedua tempat tersebut. Tempat suntikan vaksin
ialah batas sepertiga bagian atas dan tengah pada garis tersebut (bila tungkai
bawah sedikit menekuk, maka lekukan yang dibuat oleh tractus iliotibialis
menyebabkan garis bagian distal lebih jelas).

11
4) Supaya vaksin yang disuntikkan masuk ke dalam otot pada batas antara
sepertiga bagian atas dan tengah, jarum ditusukkan satu jari di atas batas
tersebut.
i. Deltoid, Posisi Anak dan Lokasi Suntikan
Posisi seorang anak yang paling nyaman untuk suntikan di daerah deltoid ialah
duduk di atas pangkuan ibu atau pengasuhnya. Lengan yang akan disuntik dipegang
menempel pada tubuh bayi, sementara lengan lainnya diletakkan di belakang tubuh
orang tua atau pengasuh.
Lokasi deltoid yang benar adalah penting supaya vaksinasi berlangsung aman
dan berhasil. Posisi yang salah akan menghasilkan suntikan subkutan yang tidak
benar dan meningkatkan risiko penetrasi saraf.
Untuk mendapatkan lokasi deltoid yang baik membuka lengan atas dari pundak
ke siku. Lokasi yang paling baik adalah pada tengah otot, yaitu separuh antara
akromnion dari insersi pada tengah humerus. Jarum suntik ditusukkan membuat
sudut 45o-60o mengarah pada akromnion. Bila bagian bawah deltoid yang disuntik,
ada risiko trauma saraf radialis karena saraf tersebut melingkar dan muncul dari otot
trisep.
j. Pengambilan Vaksin dari Botol (Vial)
Untuk vaksin yang diambil menembus tutup karet atau yang telah dilarutkan,
harus memakai jarum baru. Apabila vaksin telah diambil dari vial yang terbuka, dapat
dipakai jarum yang sama. Jarum atau semprit yang telah digunakan menyuntik
seseorang tidak boleh digunakan untuk mengambil vaksin dari botol vaksin karena
risiko kontaminasi silang, vaksin dalam botol yang berisi dosis ganda (multidosis)
jangan digunakan kecuali tidak ada alternatif lain.
k. Penyuntikan Subkutan
Perhatian untuk suntikan subkutan :
1) Arah jarum 45 º terhadap kulit.
2) Cubit tebal untuk suntikan subkutan.
3) Aspirasi semprit sebelum vaksin disuntikkan.
4) Untuk suntikan multipel diberikan pada bagian ekstrimitas berbeda.
l. Penyuntikan Intramuscular
Perhatian untuk penyuntikan intramuskular :
1) Pakai jarum yang cukup panjang untuk mencapai otot.
2) Suntik dengan arah jarum 45°-60°, lakukan dengan cepat.

12
3) Tekan kulit sekitar tempat suntikan dengan ibu jari dan telunjuk saat jarum
ditusukkan.
4) Aspirasi semprit sebelum vaksin disuntikkan, untuk meyakinkan tidak masuk ke
dalam vena. Apabila terdapat darah, buang dan ulangi dengan suntikan baru.
5) Untuk suntikan multipel diberikan pada bagian ekstrimitas berbeda.
m. Pemberian Dua atau Lebih Vaksin pada Hari Yang Sama
Pemberian vaksin-vaksin yang berbeda pada umur yang sesuai, boleh diberikan
pada hari yang sama. Vaksin inactivated dan vaksin virus hidup, khususnya vaksin
yang dianjurkan dalam jadwal imunisasi, pada umumnya dapat diberikan pada lokasi
yang berbeda saat hari kunjungan yang sama. Misalnya pada kesempatan yang
sama dapat diberikan vaksin-vaksin DPT, hepatitis B, dan polio.
Vaksin-vaksin yang berbeda tidak boleh dicampur dalam satu semprit. Vaksin-
vaksin yang berbeda yang diberikan pada seseorang pada hari yang sama harus
disuntikkan pada lokasi yang berbeda dengan menggunakan semprit yang berbeda.
(IDAI, 2008)
9. Jadwal Imunisasi
a. BCG
1) Imunisasi BCG diberikan pada umur sebelum 3 bulan. namun dianjurkan
pemberian imunisasi BCG pada umur antara 0-12 bulan.
2) Dosis 0,05 ml untuk bayi kurang dari 1 tahun dan 0,1 ml untuk anak (>1 tahun).
3) Imunisasi BCG ulangan tidak dianjurkan.
4) Vaksin BCG tidak dapat mencegah infeksi tuberculosis, namun dapat mencegah
komplikasinya.
5) Apabila BCG diberikan pada umur lebih dari 3 bulan, sebaiknya dilakukan uji
tuberkulin terlebih dahulu. Vaksin BCG diberikan apabila uji tuberkulin negatif.
b. Hepatitis B
1) Imunisasi hepatitis B-1 diberikan sedini mungkin (dalam waktu 12 jam) setelah
lahir.
2) Imunisasi hepatitis B-2 diberikan setelah 1 bulan (4 minggu) dari imunisasi
hepatitis B-1 yaitu saat bayi berumur 1 bulan.
3) Untuk mendapatkan respon imun optimal, interval imunisasi hepatitis B-2 dengan
hepatitis B-3 minimal 2 bulan, terbaik 5 bulan. Maka imunisasi hepatitis B-3
diberikan pada umur 3-6 bulan.
Departemen kesehatan mulai tahun 2005 memberikan vaksin hepatitis B-0
monovalen (dalam kemasan uniject) saat lahir, dilanjutkan dengan vaksin kombinasi

13
DTwP/hepatitis B pada umur 2-3-4 bulan. Tujuan vaksin hepatitis B diberikan dalam
kombinasi dengan DTwP untuk mempermudah pemberian dan meningkatkan cakupan
hepatitis B-3 yang masih rendah.
Apabila sampai dengan usia 5 tahun anak belum pernah memperoleh imunisasi
hepatitis B, maka secepatnya diberikan imunisasi hepatitis B dengan jadwal 3 kali
pemberian.
c. DPT
1) Imunisasi DPT primer diberikan 3 kali sejak umur 2 bulan (DPT tidak boleh
diberikan sebelum umur 6 minggu) dengan interval 4-8 minggu. Interval terbaik
diberikan 8 minggu, jadi DPT-1 diberikan pada umur 2 bulan, DPT-2 pada umur
4 bulan dan DPT-3 pada umur 6 bulan.
2) Dosis DPT adalah 0,5 ml, intramuskular, baik untuk imunisasi dasar maupun
ulangan.
3) Vaksin DPT dapat diberikan secara kombinasi dengan vaksin lain yaitu
DPT/Hepatitis B dan DPT/IPV.
d. Polio
1) Terdapat 2 kemasan vaksin polio yang berisi virus polio -1, 2, dan 3. (1.OPV,
hidup dilemahkan, tetes, oral.; 2.IPV, in-aktif, suntikan.)
2) Polio-0 diberikan saat bayi lahir sesuai pedoman PPI sebagai tambahan untuk
mendapatkan cakupan imunisasi yang tinggi.
3) Untuk imunisasi dasar (polio-2, 3, 4) diberikan pada umur 2,4, dan 6 bulan,
interval antara dua imunisasi tidak kurang dari 4 minggu.
4) OPV diberikan 2 tetes per-oral.
5) IPV dalam kemasan 0,5 ml, intramuscular. Vaksin IPV dapat diberikan tersendiri
atau dalam kemasan kombinasi (DPT/IPV).
e. Campak
Vaksin campak rutin dianjurkan diberikan dalam satu dosis 0,5 ml secara subkutan
dalam, pada umur 9 bulan. (IDAI, 2008)
10. Kontraindikasi Imunisasi
Anafilaksis atau reaksi hipersensitifitas yang hebat merupakan kontraindikasi mutlak
terhadap dosis vaksin berikutnya. Riwayat kejang demam dan panas lebih dari 38℃
merupakan kontraindikasi pemberian DPT, hepatitis B-1 dan campak.
Jangan berikan vaksin BCG kepada bayi yang menunjukkan tanda dan gejala AIDS,
sedangkan vaksin yang lain sebaiknya diberikan.

14
Jika orang tua sangat berkeberatan terhadap pemberian imunisasi kepada bayi
yang sakit, lebih baik jangan diberikan vaksin, tetapi mintalah ibu kembali lagi ketika bayi
sudah sehat. (Proverawati, 2010)

15
BAB III
TINJAUAN KASUS
ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI
By. S UMUR 9 BULAN DENGAN KEBUTUHAN IMUNISASI CAMPAK
DI PUSKESMAS GODONG 1
I. PENGKAJIAN

Tanggal : 20 November 2017

Waktu : 10.45 WIB

Tempat : Puskesmas Godong 1

II. IDENTITAS

a. Identitas Bayi
Nama : By. S

Tanggal/Jam lahir : 6 Februari 2017 /10.15 WIB

Jenis kelamin : Perempuan

b. Identitas Orang tua

Nama ibu : Ny I Nama suami : Tn . N

Umur : 30 tahun Umur : 35 tahun

Agama : Islam Agama : Islam

Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Pendidikan : Swasta

Alamat : Brakas Alamat : Brakas

III. DATA SUBYEKTIF


1. Alasan Datang : Ibu mengatakan ingin mengimunisasikan anaknya
Keluhan Utama : Ibu mengatakan tidak ada keluhan pada anaknya

16
2. Riwayat Kesehatan:
a. Dahulu : Ibu mengatakan anaknya tidak pernah menderita penyakit menular,,
penyakit menurun dan kronis seperti , jantung, asma, campak, kejang dan lain-
lain. Ibu mengatakan anaknya belum pernah dirawat di Rumah Sakit.
b. Sekarang : Ibu mengatakan saat ini anaknya dalam keadaan sehat, tidak
mengalami deman, batuk, pilek, diare, mual, muntah.
c. Keluarga : Ibu mengatakan dalam keluarga bayi tidak ada yang menderita
penyakit yang mengarah ke penyakit jantung, hipertensi, hepatitis, malaria,
asma, DM, TBC, PMS, HIV/ AIDS.
3. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas
Dahulu :
Hamil Persalinan Nifas
Ke Komplikasi Tahun UK Jenis Penol tempa penyul BB J Laktasi Komplik
ong t it Lahir k asi
1 Tidak ada 2010 39 Norm Bidan BPM Tidak 3500 L Ya Tidak
mg al ada gr ada

Sekarang : Bayi S lahir spontan UK 38 mgg BB lahir 3400 gr


4. Riwayat tumbuh kembang:
Pertumbuhan BB :
a. BB lahir : 3400 gram
b. BB sekarang : 7,9 kg

Perkembangan anak : Anak sudah dapat memindahkan mainan atau kue


kering dari satu tangan ke tangan lain, dapat duduk sendiri selama 60 detik, anak
dapat memungut benda-benda kecil.
Kelainan bawaan : Tidak ada kelainan bawaan

5. Riwayat Imunisasi :
Jenis imunisasi Usia

0 Bulan (6 Februari 2017)


Hb 0

BCG POLIO 1 1 bulan (19 Maret 2017)

17
2 bulan (20 April 2017)
DPT 1 POLIO 2

3 bulan (19 Mei 2017)


DPT 2 POLIO 3

4 bulan (20 Juni 2017)


DPT 3 POLIO 4

6. Pola kebiasaan sehari- hari:


a. Pola nutrisi : Ibu mengatakan anaknya hanya minum ASI, frekuensi minum ASI
2-3 jam sekali. Susu formula diberikan apabila bayi rewel dan pengeluaran ASI
sedikit.
b. Pola eliminasi : Ibu mengatakan anaknyan BAB 2x dalam sehari, konsistensi
lembek, warnan kuning kecoklatan ,bau khas feces. Sedangkan BAK 9-10x
dalam sehari konsistensi cair, warna kuning jernih, bau khas urine. Tidak ada
keluhan pada pola eliminasi
c. Pola istirahat : Ibu mengatakan anaknya tidur siang selama ±3 jam per hari dan
tidur malam 9-10 jam per hari
d. Pola aktifitas : Ibu mengatakan anaknya selalu aktif dan sering mengeluarkan
suara (ngoceh) sendiri.
e. Personal hygiene: Ibu mengatakan anaknya mandi 2x /hari, keramas setiap hari,
ganti baju 2-3x/hari setelah mandi atau apabila baju sudah kotor, ganti popok
menyesuaikan dengan kondisi (setelah BAB/BAK)
f. Pola Sosial Ekonomi : Ibu mengatakan anak diasuh langsung oleh orang
tuanya, dalam keluarga yang harmonis. Ibu mengatakan penopang
perekonomian keluarga adalah ayah, penghasilan keluarga mampu untuk
mencukupi kebutuhan keluarga dan kebutuhan anaknya.

18
IV. DATA OBYEKTIF
1. Pemeriksaan Umum:
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
Vital signs : N = 110 x/mnt
RR = 38 x/mnt
T = 36,6 ℃
2. Pengukuran antropometri:
BB : 7,9 KG Lingkar kepala/ LK : 37 CM
PB : 75 CM LILA : 14 CM

3. Status Present:
Kepala : rambut hitam, pertumbuhan rambut tidak merata, mesochepal,
tidak ada
benjolan abnormal
Muka : tidak pucat, tidak oedem
Mata : simetris, konjungtiva merah muda, sklera tidak ikterik
Hidung : tidak terdapat sekret, tidak ada polip, simetris
Mulut : simetris, bibir lembab, gusi tidak berdarah
Telinga : tidak ada penumpukan serumen, tidak ada benjolan abnormal
Leher : tidak ada pembesaran kelenjar thyroid, kelenjar limfe, dan vena
jugularis, Tidak ada nyeri tekan, tidak ada biang keringat
Dada :simetris, tidak ada tarikan dinding dada, tidak ada nyeri tekan
Pulmo/COR : tidak ada wheezing, tidak ada ronkhi dan stridor. Deyut jantung
teratur
Abdomen : tidak ada pembesaran limpa dan hepar, tidak kembung
Genetalia : tidak dilakukan pemeriksaan.
Punggung : tidak ada kelainan tulang punggung, tidak ada ruam-ruam kulit
Anus : tidak dilakukan pemeriksaan.
Ekstremitas : ekstrimitas atas dan bawah pergerakan normal, tidak ada oedem,
jari-jari lengkap, kuku bersih dan tidak pucat
Kulit : Turgor kulit baik

19
V. ANALISA :
Diagnosa: Bayi S usia 9 bulan dengan kebutuhan imunisasi Campak
Masalah: tidak ada
Kebutuhan: Imunisasi Campak

VI. PENATALAKSANAAN
1. Memberitahukan hasil pemeriksaan pada ibu bahwa bayinya dalam keadaan sehat
dan memenuhi syarat imunisasi. BB 7,9 kg, N = 110 x/mnt, RR = 38 x/mnt, T =
36,6 ℃
Hasil : Ibu mengetahui hasil pemeriksaan bahwa bayinya dalam keadaan sehat
dan memenuhi syarat imunisasi. Ibu tampak senang.
2. Memberikan pendidikan kesehatan pada ibu tentang imunisasi Campak yang berfungsi
untuk :
a. Vaksin Campak diberikan untuk mendapatkan kekebalan dari penyakit campak.
b. Campak adalah penyakit yang disebabkan oleh virus morbilii dan menyebab lewat
udara.
c. Campak diberikan sebanyak pada usia 9 bulan dan diulang pada usia 24 bulan.
d. Efek samping umumnya tidak ada, pada beberapa anak bisa menyebabkan demam
dan diare namun kasusnya sangat kecil.
Hasil : Ibu mengangguk sebagai tanda paham setelah diberikan penjelasan.
3. Menyuntikkan vaksin Campak pada lengan kiri secara IM dengan dosis 0,5 ml
Hasil : vaksin Campak sudah disuntikkan.
4. Menganjurkan ibu untuk memberikan stimulasi sesuai dengan usia perkembangan anak
Hasil : Ibu bersedia untuk memberikan stimulasi sesuai dengan usia perkembangan anak
5. Menganjurkan ibu untuk selalu memantau tumbuh kembang anak sesuai usia
perkembangannya
Hasil : Ibu bersedia untuk memantau tumbuh kembang anaknya
6. Memberikan obat penurun demam (paracetamol 3x1 dosis 1/6 500 mg) yang
diminumkan sesampainya dirumah dan menganjurkan agar ibu tetap memberikan
ASI pada anaknya
Hasil : Ibu paham dan bersedia memberikan obat penurun demam dan
memberikan ASI pada anaknya.

20
7. Menganjurkan ibu untuk datang kembali saat anak usia 18 bulan guna imunisasi
Pentabio Ulang
Hasil : Ibu mengerti dan bersedia datang kembali saat anak usia 18 bulan
8. Menganjurkan ibu untuk membawa anaknya ke fasilitas kesehatan apabila
anaknya sakit atau mengalami masalah terkait dengan tumbuh kembang anak
Hasil: Ibu bersedia memeriksakan anaknya ke petugas kesehatan apabila
mengalami gangguan dengan tumbuh kembang.
Grobogan, November 2017
Pembimbing Klinik Praktikan

Eka Sri Hariati, SKM, S.ST.Keb Harisatul Qoyyimah


NIP. 19721113 199302 2 002 NIM.P1337424415040
Pembimbing Institusi

Nur Khafidhoh, S.SiT, M.Kes


NIP. 19801026 200604 2 003

21
BAB IV
PEMBAHASAN

Berdasarkan pengkajian yang telah dilakukan, penulis akan membandingkan asuhan


yang diberikan antara teori dan praktek.

1. Pengkajian
PENGKAJIAN TEORI PRAKTEK

DS Identitas bayi dan Bayi : Nama, tanggal / jam lahir, Sama dengan teori
orang tua jenis kelamin

Orang tua :Nama, Umur, Agama,


Pendidikan,Pekerjaan, Suku,
Alamat

Riwayat Kesehatan sekarang, dahulu, dan Sama dengan teori


Kesehatan ibu keluarga
dan keluarga

Riwayat Umur Kehamilan,abortus atau Sama dengan teori


kehamilan, tidak, jenis partus, penolong,
persalinan, dan penyulit, berat bayinya ketika lahir,
nifas ibu yang lalu keadaan anak, dan nifasnya

Pola pemenuhan Pola nutrisi,eliminasi, istirahat, Sama dengan teori


kebutuhan sehari aktivitas
– hari

DO Pemeriksaan KU,Kesadaran, vital sign, Tanda vital hanya suhu


umum pengukuran antropometri dan denyut jantung.
Pengukuran
antopometri hanya
berat badan saja

Status present Head to toe dan refleks – refleks Hanya muka, kulit,
abdomen, pulmo/COR
saja

22
2. Analisa
Analisa / diagnosa yang ditegakkan dalam praktek umumnya sesuai dengan teori
dan tidak ada perbedaan.

3. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan yang dilakukan dalam praktek sudah sesuai dengan teori, dan
tidak ada perbedaan yang signifikan. Ibu juga sudah dijelaskan efek samping
setelah penyuntikkan vaksin Campak serta diberikan terapi obat penurun panas
(paracetamol).

23
BAB V
PENUTUP

A. Simpulan
1. Bahwa dalam menegakkan diagnosa yang tepat maka haruslah dilakukan
pengkajian secara menyeluruh pada bayi yaitu meliputi anamnesa pada orang
tua, pemeriksaan fisik, pemeriksaan dalam dan pemeriksaan laboratorium.
2. Dalam memberikan asuhan kebidanan pada bayi dengan kebutuhan imunisasi,
maka penolong (bidan) harus memahami kondisi fisik bayi serta tetap
memperhatikan faktor steril dan cara penyuntikan pada bayi, mengingat gerakan
bayi yang masih terhitung sangat aktif sering kali menggagalkan injeksi.
3. Tumbuh kembang bayi memerlukan pemantauan dan stimulasi yang kontinu
agar bayi tidak mengalami kegagalan perkembangan atau keterlambatan
perkembangan yang juga dapat menghambat perkembangan psikologis dan
fisiknya.
B. Saran
1. Sebagai mahasiswi kebidanan, sebaiknya memperhatikan teknik penyuntikan
yang benar dan aman.
2. Sebagai mahasiswi, sebaiknya lebih memperhatikan dosis vaksin serta mengerti
kapan jadwal ibu harus kembali.
3. Sebaiknya dalam memberikan pelayanan terhadap anak-anak (bayi),
memperhatikan kebutuhan prinsip asah, asuh, asih.

24
DAFTAR PUSTAKA

Soetjiningsih. 1995. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC

Suryanah, 1996. Keperawatan Anak untuk Siswa SPK. Jakarta: EGC

Hidayat, A. Aziz Alimul.2009. Pengantar Ilmu Kesehatan Anak untuk Pendidikan


Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika.

Proverawati, Atikah.2010.Imunisasi dan Vaksinasi.Yogyakarta:Nuha Offset.

25
ASUHAN KEBIDANAN BAYI FISIOLOGIS
PADA BAYI S USIA 9 BULAN DENGAN KEBUTUHAN IMUNISASI CAMPAK
DI PUSKESMAS GODONG 1

LAPORAN
Disusun untuk Memenuhi Tugas Kuliah
Praktik Klinik Kebidanan Fisiologi dan
Praktik Kegawatdaruratan Maternal Neonatal Semester V

Oleh
Harisatul Qoyyimah
P1337424415040

PRODI S1 TERAPAN KEBIDANAN SEMARANG


JURUSAN KEBIDANAN POLTEKKES KEMENKES SEMARANG
2017

i
HALAMAN PENGESAHAN

Judul Laporan Ilmiah : ASUHAN KEBIDANAN BAYI FISIOLOGIS PADA BAYI S USIA
9 BULAN DENGAN KEBUTUHAN IMUNISASI CAMPAK DI PUSKESMAS GODONG 1
Nama Penulis : Harisatul Qoyyimah
NIM : P1337424415040
Program Studi : S1 Terapan Kebidanan Semarang
Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Semarang

Grobogan, November 2017


Pembimbing Klinik Praktikan

Eka Sri Hariati, SKM, S.ST.Keb Harisatul Qoyyimah


NIP. 19721113 199302 2 002 NIM.P1337424415040
Pembimbing Institusi

Nur Khafidhoh, S.SiT, M.Kes


NIP. 19801026 200604 2 003

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat-Nya
maka penulis dapat menyelesaikan penulisan Asuhan Kebidanan pada ibu hamil fisiologis.
Penulisan makalah ini merupakan salah satu persyaratan untuk menyelesaikan
tugas mata kuliah Praktik Kegawatdaruratan Maternal Neonatal dan Praktik Klinik Fisiologi
di Prodi S1 Terapan Kebidanan Semarang Poltekkes Kemenkes Semarang.
Dalam penulisan makalah ini, tidak lepas dari adanya bantuan dari berbagai pihak,
untuk itu penulis menyampaikan terima kasih kepada :
1. Bidan pembimbing klinik pada Praktik Kegawatdaruratan Maternal Neonatal dan
Praktik Klinik Fisiologi
2. Ibu Nur Khafidhoh, S.SiT, M.Kes selaku dosen pembimbing pada Mata Kuliah
Praktik Kegawatdaruratan Maternal Neonatal dan Praktik Klinik Fisiologi
3. Rekan-rekan yang mengikuti Mata Kuliah Praktik Klinik Kebidanan.
4. Keluarga yang selalu mendukung penulis.
5. Semua pihak yang ikut membantu penulisan makalah yang tidak dapat penulis
sebutkan satu persatu.
Dalam penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan baik pada
teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk
itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan
pembuatan makalah ini.

Semarang, November 2017

Penulis

iii