Anda di halaman 1dari 14

TUGAS MAKALAH

PROSES INDUSTRI KIMIA

Disusun oleh:

ANDI ASMAULHUSNA : 09220150014

WINDA NOVIA : 09220150011

HENDRA : 09220150024

ALFIRA CHAIRUDDIN : 09220150008

JURUSAN TEKNIK KIMIA

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

UNIVERSITAS MUSURUSLIM INDONESIA

MAKASSAR

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami
berhasil menyelesaikan Makalah ini yang berjudul PEMBUATAN
PARFUM.
Makalah ini berisikan tentang informasi mengenai PEMBUATAN
PARFUM atau yang lebih khususnya membahas tentang hal-hal yang
menyangkutpembuatanparfum.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun
selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalh ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa meridhai segala usaha kita.
Amin.

Makassar,18 November 2017

Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan

BAB II LANDASAN TEORI


A. Sejarah parfum
B. Pengerttian parfum
C. Adapun Formulasi dari parfum antara lain
D. Bahaya Penggunaan Parfum
E. Pengolahan limbh parfum

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan
B. Saran

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Parfum adalah produk yang sudah tidak asing lagi dalam kehidupan
sehari-hari. Apalagi saat ini aroma parfum yang ditawarkan sudah semakin
beragam, baik yang dikhususkan untuk pria, wanita, ataupun untuk keduanya.
Kata parfum sendiri berasal dari bahasa latin “per fumum” yang berarti
melalui asap. Riwayat parfum telah ada sejak zaman Mesopotamia kuno
sekitar lebih dari 4000 tahun yang lalu. Pada zaman dahulu, orang-orang
menggunakan tanaman herbal, rempah-rempah dan bunga dan dicampurkan
bersama untuk membuat wewangian. Selanjutnya pada pertengahan abad ke-
15 parfum mulai dicampur minyak dan alkohol. Meskipun demikian, parfum
baru mengalami kemajuan pesat pada abad ke-18 dengan munculnya beragam
aroma wewangian dan botol yang indah.

Dalam 20 tahun terakhir ini terdapat peningkatan yang pesat pada jumlah
produksi parfum (Albano, Goodelman, Kunes, & O’Rourke 2010). Bahkan
industri parfum diperkirakan dapat memperoleh hasil penjualan tahunan
sebesar 25-30 juta dollar (NYtimes, 2009). Hal tersebut menunjukkan adanya
kebutuhan masyarakat akan parfum yang semakin hari semakin meningkat.

Ada beberapa alasan mengapa konsumen menggunakan parfum. Dari hasil


penelitian Borgave & Chaudari (2010), konsumen merasa lebih baik dan
merasa lebih percaya diri setelah menggunakan parfum. Hasil penelitian
lainnya dari Borgave & Chaudari (2010), adalah konsumen menilai wangi
parfum berada di urutan pertama yang dipertimbangkan pada saat akan
membeli parfum. Urutan selanjutnya adalah merek, harga, dan kemasan
parfum itu sendiri.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sejarah Parfum


Parfum sudah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu di timur tengah, bangsa
mesir merupakan pelopor dari budaya tersebut. Kata “parfum” sendiri berasal
dari bahasa latin yaitu “per fumun” yang artinya “melalui asap”. bahwasanya
pada jaman dahulu bangsa mesir menggunakan dupa atau perapian untuk
membakar herbal aromatik dalam ritual keagamaan, sebagai persembahan dan
doa kepada dewa/dewi, karena mereka percaya bahwa dengan membakar
wewangian maka doa-doa mereka akan terkabul. Di mesir pula botol parfum
pertama digunakan.

2.2Pengertian Parfum
Parfum atau minyak wangi adalah wewangian yang dihasilkan dari proses
ekstraksi bahan-bahan aromatik yang digunakan untuk memberikan aroma
wangi bagi tubuh, obyek benda ataupun ruangan. Proses ekstraksi tersebut
menghasilkan minyak esensial yang memiliki aroma wangi yang sangat pekat.
Kebayakan parfum dihasilkan dari ekstraksi tumbuh-tumbuhan seperti bunga,
akar, daun atau kayu tapi ada juga yang berasal dari hewan seperti musk
(kasturi) yang dihasilkan dari kelenjar rusa, namun pada konteks nya di jaman
sekarang musk pada parfum sudah diganti dengan senyawa sintetik, karena
adanya pelarangan keras atas perburuan rusa yang merupakan satwa yang
dilindungi. Parfum yang biasa dijual tidak terdiri dari sepenuhnya minyak
sesensial murni, melainkan telah melewati proses pencampuran dan
pengenceran, campuran tersebut terdiri dari minyak esensial itu sendiri, air
destilasi dan alkohol.

2.2.1 Fungsi parfum dalam kehidupan manusia :


 Dapat memberikan kesenangan hidup
 Memberikan wewangian kepada bahan yang tidak wangi dan
menghilangkan bau yang tidak enak pada berbagai macam hasil
industri.
 Dapat meningkatkan kepercayaan diri
 Dapat menarik perhatian lawan jenis

2.3 Adapun Formulasi dari parfum antara lain


1. Zat pewangi (odoriferous substances)

Komponen pewangi terdiri dari persenyawaan kimia yang menghasilkan bau


wangi yang diperoleh dari minyak atsiri atau dihasilkan secara sintetis. Zat
Pewangi Pada umumnya parfum mengandung zat pewangi 2% (weak parfum)
sampai 10% atau 22,5% (strong parfum) dan selebihnya adalah bahan
pengencer dan zat pengikat.

2. Zat pengikat (fixatives)

Wangi parfum akan cepat menguap tanpa zat pengikat karena pada umumnya
zat pewangi dalam alkohol lebih cepat menguap dari alkohol sendiri. Zat
pengikat adalah suatu persenyawaan yang memiliki daya menguap yang lebih
rendah dari zat pewangi atau minyak atsiri serta dapat menghambat atau
mengurangi kecepatan penguapan zat pewangi. Penambahan zat pengikat
bertujuan mempertahankan komponen yang dapat menguap agar dapat
dipertahankan untuk jangka waktu yang lebih lama.Zat pengikat yg ideal:

– Larut sempurna dalam etanol, minyak atsiri, dan persyaratan aromatik


berwujud cair

– Mudah digunakan dalam parfum beralkohol dan bahan berupa bubuk atau
padatan mengurangi daya menyerap parfum dan menghasilkan campuran
wangi yang harmonis

– Berada dalam keadaan murni sehingga efektif jika digunakan dalam


jumlah kecil
– Pada umumnya zat pengikat berasal dari bahan nabati, hewani dan
sentetis. Zat pengikat nabati berasal dari gol: gum, resin, lilin dan
beberapa minyak atsiri bertitik didih tinggi.

2.3. Bahan pelarut atau pengencer (diluent)

Bahan pelarut yang baik digunakan: etil alkohol. Fungsi bahan pengencer:
menurunkan konsentrasi zat pewangi dalam parfum sampai konsentrasi
tertentu, sehingga dihasilkan intensitas wangi yg dikehendaki.

Parfum menggunakan bahan-bahan kimia yang banyak. Berikut uraian apa


saja yang menjadi bagian dari parfum:

Zat Pewangi

Komponen ini terdiri dari persenyawaan kimia yang menghasilkan bau


wangi yang diperoleh dari minyak atsiri atau dihasilkan secara sintetis.
Persenyawaan tersebut terdiri dari alkohol, ester, aldehida, keton, asam
organik, lakton, amin, dan oksida yang berbau wangi. Pada umumnya
parfum mengandung komponen zat pewangi yang berjumlah 2-10%
selebihnya merupakan zat pengikat dan bahan pengencer. Bagian dari zat
pewangi adalah sebagai berikut:

Basic Note

Merupakan zat pewangi yang menjadi dasar dari parum, jumlahnya


paling banyak dibandingkan zat pewangi lainnya. Misalnya ingin
membuat parfum yang dominan mawar jadi yang menjadi base notenya
adalah minyak mawar.

Modifier Note

Merupakan zat pewangi yang digunakan untuk menambahkan kesan


wangi pada parfum yang kita buat. Zat pewangi untuk modifier note
digunakan pada jumlah yang sangat sedikit kurang lebih 3-10 tetes yang
ditambahkan pada basic note yang kita miliki.

End Note

Merupakan zat pewangi yang digunakan untuk menambah titik didih dari
parfum agar tidak menguap. Zat pewangi pada note ini dapat menggunkan
jenis minyak seperti cendana, akar wangi, nilam, kenanga, dan beberapa jenis
resin seperti damar dan kemenyan.Zat Pengikat

Pada umumnya larutan zat pewangi dalam alkohal akan mudah menguap
sehingga wangi parfum cepat hilang. Untuk menghindari itu maka dibutuhkan
fixative. Fixative disini dapat juga digunakan sebagai end note pada parfum
karena jenis minyak seperti minyak nilam memiliki kemapuan fixative yang
bagus. Intinya penggunaan zat pengikat tidak boleh sampai merusak
harmonisasi parfum atau membuat baunya menjadi tidak enak.

Bahan Pelarut

Fungsi pelarut disini adalah untuk melarutkan minyak dan mengencerkan


konsentrasi minyak agar tidak terlalu pekat. Bahan pelarut yang baik
digunakan adalah etil alkohol atau etanol. Sama halnya dengan zat pengikat
penggunaan bahan pelarut jangan sampai merusak harmonisasi yang
dihasilkan dari zat pewangi.

Campuran bahan-bahan di atas harus diformulasikan agar diperoleh wangi


yang pas. kombinasi masing-masing bahan dapat dikreasikan sendiri agar
sesuai selera.

1. Bibit minyak wangi

Bibit minyak wangi umumnya berupa ekstrak atsiri. Dimana ekstrak dapat
dihasilkan dari beberapa jenis tetumbuhan, bisa berasal dari bunga, kayu atau
akarnya.

2. Alcohol 96% deodorized


Alcohol deodorized artinya alkohol yang telah dihilangkan bau alaminya,
sehingga tidak lagi berbau tajam alkohol. Alkohol pada dasarnya digunakan
dalam formulasi parfum untuk melarutkan bibit minyak wangi dan
memperbesar volume parfum.

Selain menjadikan parfum tidak terlalu “nyegrak” baunya juga menjadikan


sebuah parfum lebih ekonomis. Sebab harga bibit minyak wangi ( yang murni
) memang sangat mahal. Takaran jualnya dalam mililiter ( cc ).

3. Aquadest atau aqua Destilata

Yaitu air yang telah “dimurnikan” dengan proses penyulingan atau destilasi.
Fungsinya hampir serupa dengan alkohol. Karena itulah saat ini terdapat
parfum bebas alkohol.

Karena memang menggunakan aquadest ini. Namun demikian ada beberapa


jenis bibit minyak wangi yang kelarutannya hanya akan baik jika digunakan
alkohol.

4. Bahan pelembab

Bahan pelembab digunakan dalam formulasi parfum untuk mencegah resiko


kulit menjadi kering, terutama sekali ketika digunakan Alkohol di dalamnya.
Sebagai contoh bahan pelembab, misalnya adalah MPG/Mono Propylene
Glycol, yang umum digunakan pada pembuatan body spray.

5. Solubilizer

Yaitu bahan yang befungsi untuk menyempurnakan pencampuran antara bibit


minyak wangi dan alcohol atau air. Dengan penambahan Solubilizer akan bisa
didapatkan hasil yang bening (clear). Contohnya : Fixolite

6. Long Lasting agent

Yaitu bahan yang digunakan untuk memperpanjang daya tahan dan daya guna
parfum.Parfum akan lebih tahan lama aromanya. Contohnya Pearl Fix.
7. Fixative

Beberapa formulasi juga digunakan Fixative yang berfungsi sebagai


“pengikat” aroma.

Tingkat Konsentrat Parfum

Minyak parfum perlu diencerkan dengan pelarut karena minyak murni (alami
atau sintetis) mengandung konsentrat tinggi dari komponen volatil yang
mungkin akan mengakibatkan reaksi alergi dan kemungkinan cedera ketika
digunakan langsung ke kulit atau pakaian. Pelarut juga menguapkan minyak
esensial, membantu mereka menyebar ke udara.

Sejauh ini pelarut yang paling umum digunakan untuk pengenceran minyak
parfum adalah etanol atau campuran etanol dan air. Minyak parfum juga dapat
diencerkan dengan cara menetralkan bau lemak menggunakan jojoba, minyak
kelapa difraksinasi atau lilin.

Beberapa parfum punya konsentrat wewangian yang rendah, sementara yang


lainnya lebih banyak. Berdasarkan tingkat konsentrat ini parfum dibagi
menjadi 4 golongan, yakni:

1. Ekstrak parfum adalah yang paling berkonsentrat dan paling halus diantara
keempat tipe parfum. Biasanya terdiri dari 20-40% konsentrat bahan
wewangian, tentu menjadi yang paling mahal harganya.

2. Eau de Parfum (EDP) – biasanya terdiri dari 8-16% konsentrat bahan


wewangian. Wangi EDP biasanya mulai menghilang setelah beberapa jam,
tapi jejak wanginya masih akan ada dalam jangka waktu 24 jam. EDP cocok
jika anda butuh wangi yang tahan seharian. Parfum ini kandungan alkoholnya
rendah dengan kadar essence yang paling tinggi diantara jenis parfum yang
lain, tapi aromanya kuat dan dapat bertahan cukup lama. Cocok digunakan
untuk pesta atau acara pada malam hari.
3. Eau de Toilette (EDT) adalah yang paling banyak terdapat di pasaran. EDT
terdiri dari 4-8% konsentrat. Wangi EDT bertahan untuk beberapa waktu
lamanya, tapi paling cocok digunakan untuk waktu malam dimana
penggunaannya tidak lama. Jenis ini kadar alkoholnya tinggi dengan kadar
essence yang sesuai untuk aromanya yang ringan, tidak terlalu tanjam dan
awet. Cocok untuk digunakan pada setiap kesempatan.

4. Eau de Cologne (EDC) sudah jarang ditemukan pada produk wewangian.


Wanginya hanya bertahan sebentar, dan biasanya terdiri dari 2-4% konsentrat
bahan wewangian. Wewangian ini jenis wewangian yang ringan dan standar
dengan kadar alkohol yang paling banyak diantara jenis parfum diatas. Jenis
wewangian ini memiliki kadar essence yang rendah juga dan biasa digunakan
setelah habis mandi untuk menyagarkan tubuh.

Jenis parfum yang dijual di pasaran semakin banyak karena para produsen
berusaha keras membuat produknya berbeda dengan produk kompetitor
lainnya. Secara umum, semua parfum termasuk salah satu dari 6 kategori yang
berbeda berdasarkan top note yang dominan. Kategori yang berbeda cocok
untuk orang yang berbeda dan suasana yang berbeda pula.

Dagram pembuatan parfum :

proses pasca
atsiri pemotongan
panen

pengecilan
pengeringan peranjangan
ukuran

proses
penyulingan parfum
deterpinasi
2.4 Bahaya Penggunaan Parfum
Setiap produk wewangian mengandung pelarut tambahan yang berfungsi
sebagai media atau fondation baik parfum itu asli atau sintesis. Persentase
kandungan bahan kimia dalam parfum antara kisaran 30 % tergantung dari
jenis produknya. Namun dari beberapa analisa pasar, 95 % bahan kimia
yang terkandung di dalam produk wangian adalah bahan kimia sintetik yang
berbahan dasar petroleum yang merupakan turunan benzena, aldehid atau zat
yang umumnya terkenal beracun. Salah satu organisasi di Amerika yang
menangani masalah kesehatan lingkungan menemukan zat kimia beracun
dari 815 sampel yang mereka ambil. Tes yang dilakukan pada tahun 1991
menemukan zat-zat yang terkandung adalah kloroform yang dapat juga
ditemui pada pelembut pakaian dan p-diklorobenzena yang telah diketahui
bersifat karsinogenik pada produk penyegar ruangan dengan dosis yang
tinggi.
Selain itu juga terdapat pengharum yang beraroma musk, yang dicurigai
mengakibatkan sakit kepala dan juga bersifat karsinogenik meskipun pada
kandungan yang lemah. Berdasarkan riset dari FDA pada tahun 1968-1972,
bahan kimia seperti alfa-terpineol, benzil asetat, benzil alcohol, limonin,
lioanalol yang sering terdapat dalam kosmetik, bahan-bahan ini dicurigai
sering memberikan efek samping pada kulit pemakai.
Menurut Michelle Schoffro Cook, ahli gizi holistik dan naturopati sekaligus
penulis buku kesehatan populer, mengatakan terdapat 500 lebih bahan kimia
berbahaya yang menjadi bahan dasar pembuatan wewangian di parfum.
Kebanyakan berasal dari bahan kimia sintetis yang diperoleh dari bahan
petrokimia, dan telah terbukti mengandung neurotoxin (racun yang bisa
merusak pembuluh darah atau syaraf otak). Dan, terdapat juga kandungan
karsinogen (bahan yang dianggap sebagai penyebab kanker). Penelitian ini
amat mengejutkan, karena hampir semua wanita, bahkan pria mengenakan
parfum. Siapa sangka, banyak bahan kimia yang terkandung dalam parfum
atau wewangian lain yang tak kalah berbahaya dibandingkan bahaya asap
rokok
Pemanfaatan Limbah

Limbah tanaman pangan dan perkebunan memiliki potensi yang besar dalam
penyediaan pakan hijauan bagi ruminansia, seperti sapi, kambing, domba, dan
kerbau. Limbah serai wangi dapat dimanfaatkan sebagai pakan hijauan untuk
ternak. Limbah serai wangi mempunyai mutu yang lebih baik dibandingkan
dengan jerami . Kandungan proteinnya 7%, jauh di atas limbah jerami yang hanya
3,9%. Kadar protein dapat ditingkatkan dengan melakukan fermentasi
menggunakan probion dan molase sehingga protein menjadi 11,2%. Limbah serai
wangi memiliki kandungan serat kasar yang lebih baik (lebih rendah)
dibandingkan dengan jerami dan rumput gajah, yaitu 25,7%. Limbah penyulingan
serai wangi dapat digunakan langsung atau 1- 2 hari setelah penyulingan. Bila
limbah telah kering dapat diperciki air hingga agak basah sebelum diberikan
kepada ternak. Takaran untuk sapi adalah 10 kg limbah serai wangi ditambah
ampas tahu 10 kg untuk setiap kali pemberian. Pemberian pakan dilakukan setiap
pagi dan sore. Penggunaan limbah serai wangi sebagai pakan dapat mengurangi
bau kurang sedap pada pupuk kandang. Serai wangi dapat dipanen

setiap 3 bulan. Dengan mengatur waktu panen, serai wangi dapat dipanen
sepanjang tahun sehingga menjamin ketersediaan pakan.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2012. Sumber Bahan Baku Parfum. http://perfume-


scent.blogspot.com/2012/03/sumber-bahan-baku-parfum.html. Didownload
pada Selasa, 26 Februari 2013 Pukul 19.20 WIB.
Anonim. 2012. Mawar, Kesturi, Sperma Ikan Paus Bahan-Bahan Pembuat
Parfum. http://identics.tripod.com/parfum/bahan_aromatis.htm.
Didownload pada Selasa, 26 Februari 2013 Pukul 19.20 WIB.
Mitsui, Takeo. 1997. New Cosmetic Science. The Netherlands : Elsevier Science.
Salvador, Amparo dan Alberto Chisvert. 2007. Analysis of Cosmetic Product. The
Netherlands : Elsevier Science