Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH KIMIA ORGANIK II

SABUN DAN DETERGEN

KELOMPOK 3

1. LAZUARDIANSYAH ILMAN (16521177)


2. MUHAMMAD ALYM BASTOMY (16521254)
3. PUSPITA CANDRA DEWI (16521069)
4. FADHILA FEBRIANTI (16521125)

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
2017
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I . PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ................................................................................................................
1.2 Rumusan Masalah ...........................................................................................................
1.3 Tujuan

BAB II. PEMBAHASAN


2.1. Sejarah Pembuatan Sabun dan Detergen
2.2. Kegunaan dan Ekonomi
2.3. Detergen
2.3.1. Pengertian
2.3.2. Raw Material (Bahan Mentah)
2.3.2.1. Surfaktan
2.3.2.2. Fatty Alcohol
2.3.2.3. Suds Regulator
2.3.2.4. Builders
2.3.2.5. Aditif
2.3.3. Proses pembuatan detergent
2.3.3.1 Fatty Alcohol Sulfonation
2.4 . Sabun
2.4.1. Pengertian
2.4.2. Raw Material (bahan baku pembuatan sabun)
2.4.3. Proses produksi sabun

BAB III. KESIMPULAN


3.1.Kesimpulan

1
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan negara heterogen dari segi aktifitas perindustriannya, meskipun bukan
termasuk negara perindustrian di Dunia. Perindustrian di Indonesia mulai dari industri rumah
tangga, industri dengan beraggotakan komunitasnya saja, hingga industri global dengan
berbagai kerjasama dan cabang-cabang dari negara lain.

Adapun kota-kota besar di Indonesia yang merupakan kota industri terbesar adalah Surabaya,
Sidoarjo dan Bekasi. Beberapa perusahaan di kota tersebut merupakan cabang/ kerjasama
dari negara lain misalnya PT. Kao Indonesia, yang salah satu hasil produksinya adalah Sabun
dan Detergent. Tidak hanya perusahaan tersebut yang memproduksi sabun di Indonesia,
namun juga PT. Wings Indonesia, PT. Unilever dan lain sebagainya.

Proses pembuatan Sabun dan Detergent pada skala industri rumah tangga atau konvensional
memang tidak terlalu rumit, namun apabila produksi ini dilakukan pada skala besar/ sekitar
beberapa ton perhari tentulah membutuhkan ilmu khusus untuk melakukannya.

Hal yang harus dilakukan pada proses pembuatan Sabun dan Detergent adalah persiapan raw
material (bahan baku), pengendalian proses, pengendalian alat, dan treatment hasil produksi.
Semua hal tersebut akan dibahas pada makalah yang berjudul “Proses Pembuatan Sabun
dan Detergent” ini.

1.2. Rumusan Masalah

1. Bagaimana sejarah pembuatan Sabun dan Detergent?


2. Bagaimana kegunaan dan Ekonomi Sabun dan Detergent?
3. Bagaimana Proses Pembuatan Detergent?
4. Bagaimana Proses Pembuatan Sabun?

1.3. Tujuan

1. Mengetahui sejarah pembuatan Sabun dan Detergent.


2. Mengetahui kegunaan dan Ekonomi Sabun dan Detergent.
3. Mengetahui Proses Pembuatan Detergent.
4. Mengetahui Proses Pembuatan Sabun.

1
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Sejarah Pembuatan Sabun dan Detergen.

Sabun sendiri sebenarnya tidak pernah ditemukan, tetapi terus dikembangkan dari
campuran mentah basa dan lemak. Pada abad pertama, Pliny, sang pencetus menjelaskan
proses pembuatan sabun, hingga pada abad ke-13, sabun diproduksi secara industri. Sampai
awal abad ke-18, sabun diyakini campuran lemak dan basa secara mekanis; hingga Chevruel,
ahli kimia Perancis, menunjukkan bahwa pembuatan sabun sepenuhnya melibatkan reaksi
kimia.

Domeier menemukan bahwa gliserin dapat diperoleh dari proses saponifikasi. Leblanc
juga menemukan bahwa natrium karbonat dapat diproduksi dengan harga yang murah dari
natrium klorida. Bahan mentah yang semakin menipis pada PD I menyebabkan Jerman
mengembangkan “sabun sintetik” atau detergen yang terbuat dari rantai pendek alkil
naphtalene sulfonates sebagai wetting agent yang baik. Pada tahun 1920-an dan 1930-an,
rantai pendek penyusun detergen dikembangkan menjadi rantai panjang alkohol sulfat dan
pada tahun 1950-an dikembangkan menjadi senyawa rantai bercabang. Selama tahun 1960-
an, syarat biodegradability menjadi penting untuk diperhatikan sehingga senyawa penyusun
detergen kembali ke rantai panjang tidak bercabang karena rantai tidak bercabang dapat
dengan mudah diuraikan.

2.2. Kegunaan dan Ekonomi

Digunakan dalam produk laundry, sabun toilet, sampo, sabun cuci piring, dan produk
pembersih pada rumah tangga. Kegunaan pada industri yaitu bahan pembersih, surfaktan
khusus untuk anti kuman di rumah sakit, pengemulsi pada kosmestik, flowing dan wetting
agent untuk bahan kimia pertanian, dan digunakan pada proses pengolahan karet. Secara
umum, sabun dan detergen digunakan untuk menghilangkan minyak.

Tabel 1. Produksi dan Penjualan Sabun dan Detergen

Sabun Surfaktan Total


106$ kt 106$ Kt 106$ Kt
1940 313 1455 7 13 320 1468
1945 527 1717 35 68 562 1785
1950 540 1308 294 655 834 1963
1960 376 558 953 1789 1329 2347
1970 427 567 1379 2565 1806 3132
1980 1030 545 8430 2663 9460 3208

sumber: Austin, 1984

1
2.3. Detergen

2.3.1. Pengertian

Detergen berbeda dengan sabun dalam kerjanya pada air sadah. Sabun membentuk senyawa
tidak larut dengan ion air sadah (Ca dan Mg) yang menyebabkan endapan dan mengurangi
busa dan cleaning actionnya. Detergen bereaksi dengan ion air sadah yang hasil produknya
larut atau terdispersi secara koloid dalam air.
Detergen dibagi dalam 4 kelompok utama, yaitu anionik, kationik, nonionik dan amfoterik.
Kelompok terbesarnya adalah anionik yang biasanya adalah garam natrium dari sulfonat
(organik sulfat).

Pengotor dapat dihilangkan melalui proses pembasahan, pengemulsian, pendispersian dan


atau pelarutan noda oleh cleaning agent. Molekul detergen yang berkelompok dalam air
dinamakan micelles. Bagian hidrokarbon dari molekul detergen berkelompok dengan
micelles dinamakan hidrofobik (tidak suka air) sedangkan bagian polar berada di luar
micelles dinamakan hidrofilik (suka air). Senyawa yang tidak dapat larut dalam air kemudian
terlarut ke dalam bagian tengah micelles yang ditarik oleh grup hidrokarbon. Proses ini
dinamakan solubilisasi.

Dewasa ini, komposisi detergen diubah ke komposisi yang lebih ramah lingkungan. Hal ini
dikarenakan detergen memiliki fosfat yang menyebabkan eutrofikasi dalam air alam.

2.3.2. Raw Material (Bahan Mentah)

Bahan aktif detergen adalah surfaktan. Kebanyakan menggunakan bahan inorganik, seperti
oleum, caustic soda, natrium fosfat dan additives yang 3% dari detergen.

2.3.2.1. Surfaktan

Surfaktan adalah bahan yang dapat meningkatkan sifat rambatan suatu cairan pada suatu
objek. Sifat zat seperti ini dimanfaatkan untuk menurunkan tegangan permukaan suatu cairan
atau pada larutan dimana antara dua larutan memiliki efek interfacial tension.

Proses pencucian meliputi :

1. Dengan membasahi kotoran dan permukaan kotoran yang ingin dicuci dengan larutan
detergen
2. Memindah kotoran dari permukaan
3. Memelihara kotoran pada larutan stabil

Dalam air cucian, detergen mempunyai wetting agent yang dapat mempermudah menembus
ke serat pakaian dan mengangkat kotoran. Setiap molekul larutan pencuci dapat dianggap
sebagai rantai panjang. Ujung rantainya adalah hidrofobik dan ujung yang lainnya adalah
hidrofilik. Bagian hidrofobik bekerja menyelubungi dan mengikat noda. Pada waktu yang

1
bersamaan, bagian hidrofilik dari detergen berikatan dengan air sehingga noda dapat
terangkat dari serat pakaian mengikuti aliran air.

Klasifikasi surfaktan :

4. hydrofobik merupakan hidrokarbon dengan jumlah 8 hingga 18 atom karbon yang


berbentuk lurus ataupun bercabang. Ada juga benzene yang mengganti ikatan atom karbon
tersebut, contohnya C12H25-, C9H19.C6H4-.
5. hydrofilik dapat berupa anionik, contohnya –OSO4– atau SO32-; kationik, contohnya –
N(CH3)3+ atau C5H5N+; atau nonionik –(OCH2CH2)nOH. Pada senyawa anionik, senyawa
yang paling banyak dipakai adalah linear alkylbenzene sulfonate (LAS) dari minyak bumi
dan alkyl sulfates dari lemak hewan dan tumbuhan. Anionik dan kationik tidak cocok untuk
sabun. Kondensasi etilen oksida dari fatty alkohol adalah contoh non-ionik surfaktan. Non-
ionik lebih efektif dari anionik dalam mengangkat kotoran pada temperatur yang lebih rendah
untuk serat kain.

Rantai Lurus Alkil Benzen

n-Alkana dipisahkan dari kerosin dengan mengadsropsinya menggunakan saringan


molekular. Alkana bercabang dan siklik mempunyai diameter cross-sectional yang lebih
besar dari rantai lurus sehingga memungkinkan pemisahan menggunakan saringan. Metode
pemisahan senyawa parafin dari rantai alkana bercabang dan rantai siklik yang bereaksi
dengan urea atau thiourea. Urea akan bereaksi dengan rantai lurus hidrokarbon (≥7 atom
karbon) untuk memberikan crystalline adduct yang dipisahkan dengan filtrasi. Pengadukan
dapat diperoleh dengan memanaskan air pada 80 sampai 900C. Sebaliknya, thiourea akan
bereaksi dengan rantai hidrokarbon bercabang tetapi tidak akan membentuk adduct dengan
rantai lurus atau aromatik. Parafin yang terpisah diubah menjadi benzene alkylates
atau diretakkan untuk menghasilkan α-olefin.

Olefin rantai lurus dihasilkan dari dehidrogenasi parafin, polimerisasi etilen ke α-olefin
menggunakan katalis aluminum trietil (katalis pada proses perombakan lemak Ziegler),
meretakkan lilin parafin atau dengan dehidrohalogenasi alkil halida. α-Olefin atau alkana
halida dapat digunakan untuk alkylate benzena melalui reaksi Friedel-Crafts dengan
memperkerjakan asam hidrofluorik atau aluminum florida sebagai katalis.

2.3.2.2. Fatty Alcohol

Pembuatan fatty alkohol : Prosedur katalis Ziegler untuk mengubah α-olefin menjadi fatty
alkohol dan proses hidrogenasi metil ester adalah metode penting untuk menyiapkan fatty
alkohol.

Gambar 1. Proses alfol

Sumber: Austin, 1984

Fatty alkohol dibuat dari golongan organometallic yang memiliki panjang rantai karbon
berkisar antara 6 sampai 20 karbon. Proses alfol digunakan oleh Conoco dimulai dengan
mereaksikan logam aluminium, hidrogen, dan etilen pada tekanan tinggi untuk memproduksi

1
aluminium trietil. Senyawa ini kemudian dipolimerisasikan dengan etilen ke bentuk
alumunium alkil. Kemudian dioksidasi dengan udara untuk membentuk alumunium
alkoxides. Saat pemurnian, alkoxides dihidrolisis dengan 23-26% asam sulfat untuk
memproduksi bahan mentah dan utama, alkohol rantai lurus. Kemudian dinetralisasikan
dengan NaOH, dicuci dengan air dan dipisahkan dengan fraksinasi. Setiap grup etil dari
aluminium trietil dapat ditambahkan etilena untuk membentuk aluminium trialkil dari 4
hingga 16 atom karbon per grup alkil.

Gambar 2. Hidrogenolisis metil ester untuk mendapatkan fatty alkohol dan gliserin.

Sumber: Austin, 1984

2.3.2.3. Suds Regulator

Adalah zat tambahan untuk membuat kerja surfaktan efektif pada mesin pencuci
pakaian.

2.3.2.4. Builders

Kompleks fosfat, seperti natrium tripolifosfat banyak digunakan karena dapat


mencegah menempelnya kembali noda dari air cucian ke serat kain. Polifosfat mempunyai
aksi sinergis dengan surfaktan sehingga meningkatkan efektifitas dalam proses pembersihan
dan mengurangi biaya keseluruhan. Peningkatan cepat produksi detergen dikarenakan
penggunaan polifosfat. Selama tahun 1960-an, pertumbuhan alga dan eutrofikasi di danau
berhubungan dengan adanya fosfat di detergen sehingga banyak negara menganjurkan zat
pengganti fosfat. Senyawa yang pertama kali disarankan untuk mengganti fosfat adalah
nitrilotriacetic acid (NTA), tetapi senyawa tersebut dinyatakan karsinogen pada tahun
1970. Builders lainnya aalah sitrat, karbonat, dan silikat. Pengganti fosfat terbaru yang
menjanjikan adalah zeolit. Di tahun 1982, 136 kt/tahun zeolit digunakan sebagai builders
detergen. Di tahun 1980, builder mengandung 50% fosfat, 12% zeolit, 13% silikat, 12%
karbonat, serta NTA dan sitrat masing-masing 2%.

2.3.2.5. Aditif

Penghambat korosi, seperti natrium silikat melindungi logam dan alat pencuci dari kerja
detergen dan air. Karboksimetil selulosa digunakan sebagai antiredeposition. Penghilang
noda, contohnya benzotriazole bekerja bersama penghambar korosi untuk melindungi logam
seperti stainless steel. Zat untuk membuat serat kain lebih bercahaya adalah pewarna
fluorescent karena memiliki kemampuan untuk mengubah sinar ultraviolet ke cahaya tampak.
Bluings meningkatkan putihnya kain dengan menangkal kencenderungan kain untuk menjadi
kuning secara alami. Agen antimikroba meliputi carbanilides, salicylanilides, dan kationik.
Type pemutih peroxygen (sejenis enzym) digunakan untuk menguraikan kotoran dan
membuat partikel kotoran tersebut lebih mudah untuk terangkat dari serat pakaian.

2.3.3. Proses pembuatan detergent

6. Sulfonasi Alkylbenzene
1. Reaksi utama

1
R + H2SO4.SO3 à R SO3H + H2SO4 H = -420 kj/kg

Alkylbenzene oleum alkylbenzene sulfonat asam sulfat

7.

SO3H

8. Reaksi ke dua

R SO3H + H2SO4.SO3 à R SO3H + H2SO4

Alkylbenzen sulfinat oleum disulfonat asam sulfat


R SO3H + R1 àR SO2 R1 + H2O

Alkylbenzene sulfonat

Alkyl benzene sulfone 1% water

Proses pembuatan detergen dapat dijelaskan melalui gambar berikut ini.

Gambar 3. Proses pembuatan detergen

Sumber: Austin, 1984

2.3.3.1 Fatty Alcohol Sulfonation

9. Reaksi utama

R-CH2OH + SO3.H2O R’OSO3H + H2O H = -325 sampai -350 kj/kg

10. Reaksi sekunder

R-CH2OH + R’-CH2-OSO3H à R-CH2-O-CH2-O-CH2-R’ +H2SO4

R’-CH2-CH2OH + SO3 à R’-CH=CH2 + H2SO4

R-CH2OH + SO3 à RCHO + H2O + SO2

R-CH2OH + 2SO3 à RCOOH + H2O + 2SO2

Susunan proses pembuatan detergen adalah sebagai berikut:

11. Sulfonation-sulfation

Alkilbenzen yang dimasukkan ke dalam sulfonator dengan penambahan sejumlah oleum,


menggunakan dominant bath principle (yang ditunjukanpada gambar 29.8) untuk mengontrol
panas pada proses sulfonasi dan menjaga temperature tetap pada 550C. di dalam campuran
sulfonasidimasukkan fatty tallow alcohol dan oleum. Semuanya dipompa menuju sulfater,

1
beroperasi juga dalam dominant bath principle untuk menjaga suhu agar tetap pada kisaran
500 hingga 550C, pembuatan ini campuran dari surfactant.

12. Netralization

Produk hasil dari sulfonasi-sulfasi dinetralisasi dengan larutan NaOH dibawah temperature
yang terkontrol untuk menjaga fluiditas bubur surfaktan. Surfaktan dimasukkan dalam
penyimpanan.

Berikut ini merupakan diagram alir pembuatan surfaktan:

Gambar 4. Pembuatan surfaktan

Sumber: Austin, 1984

Bubur surfaktan, sodium tripolipospat , dan bermacam-macam bahan aditif masuk ke dalam
crutcher. Sejumlah air dipindahkan, dan pasta campuran ini menebal oleh tripolipospat yang
terhidrasi.

Na5P3O10 + 6H2O à Na5P3O10.6H2O

Sodium tripolipospat sodium tripolipospat hexahydrate

Campuran ini dipompa ke upper story, dimana campuran ini disemprotkan dibawah tekanan
tinggi ke dalam high spray tower setinggi 24m, melawan udara panas dari tungku api. Butiran
kering ini adalah bentuk yang dapat diterima, ukuran dan densitas yang sesuai dapat
dibentuk. Butiran yang sudah dikeringkan di alirkan ke upper story lagi melalui lift yang
dapat mendinginkan mereka dari 1150C dan menstabilkan butiran. Butiran ini dipisahkan
dalam goncangan, dilapisi, diharumkan dan menuju pengemasan.

2.4 . Sabun

2.4.1. Pengertian

Sabun merupakan zat yang jika bereaksi dengan air sadah akan membentuk endapan. Sabun
terbentuk dari garam sodium atau potassium dari asam karboksilat panjang (seperti asam
stearat, asam oleat atau palmitat dan asam myristat) sebagai hasil hidrolisis terhadap minyak
atau lemak oleh basa (NaOH atau KOH). Sabun berfungsi sebagai emulgator terhadap
kotoran, minyak dan oli sehingga kotoran-kotoran ini mudah terlepas dan terbawa melalui
pembilasan dengan air. Sifat sabun ini menjadi kurang berfungsi apabila air untuk pencuci
atau pembilasnya bersifat sadah.

2.4.2. Raw Material (bahan baku pembuatan sabun)

Bahan dasar sabun adalah minyak/ lemak dan NaOH (soda kaustik) dan KOH dengan bahan
tambahan berupa pengharum, pewarna, bahan pengisi dan lain-lain. Lemak merupakan
komponen utama dalam pembuatan sabun. Lemak ini mengandung campuran gliserida yang
didapat dari lemak padat yang diberi pemanasan. Lemak padat dirombak dengan dipanaskan,
yang setelah itu membentuk lapisan diatas permukaan air sehingga dapat diambil dengan
mudah. Lemak ini biasanya dicampur dengan minyak kelapa di ketel sabun atau

1
penghidrolisis untuk meningkatkan kelarutan sabun tersebut. Dalam pembuatan sabun, fatty
grases (± 20%) adalah bahan baku yang paling penting setelah lemak. Lemak greases dapat
didapatkan dari babi dan hewan domestik dimana bahan ini penting sebagai sumber gliserin
dari asam karboksilat.

Penambahan minyak kelapa pada pembuatan sabun sangatlah penting. Sabun dengan bahan
dasar minyak kelapa bertekstur kuat dan terlihat lebih mengkilat. Minyak kelapa sebagian
besar mengandung gliserida dari asam laurtat dan asam myristat.

Bahan baku pembuatan sabun sangat banyak konsumennya, terutama soda kausatik, garam,
soda ash, dan kausatik potassium, begitu pula sodium silikat, sodium bikarbonat, dan
trisodium pospat.

Bahan anorganik yang ditambahkan pada pembuatan sabun disebut Builders. Tetrasodium
piropospat dan sodium Tripolipospat merupakan bahan tambahan pada sabun yang
dinamakan Builders.

2.4.3. Proses produksi sabun

Teknologi pembuatan sabun semakin berkembang. Computer mengontrol otomatisasi


pabrik dalam saponifikasi continuous oleh NaOH dan lemak, untuk berproduksi dalam waktu
2 jam sama dengan pembuatan sabun secara keseluruhan (lebih dari 300 t/ day) debuat
dengan 2-5 hari dengan metode traditional batch.

Prosedur ini melibatkan proses perombakan secara kontinyu, atau hidrolisis yang
dapat ditunjukkan pada tabel berikut ini.

Tallow + Hydrolysis (splitting fats) à tallow fatty acid

Tallow fatty acid + NaOH à sodium salt

Tallow of fatty acid + Builders, etc à soap

Setelah terjadi pemisahan gliserin, asam karboksilat dinetralisasikan menjadi sabun.


Proses kimia dasar dalam pembuatan sabun disebut saponifikasi, dengan reaksi sebagai
berikut:

3NaOH + (C17H35COOH)3C3H5 à 3C17H35COONa + C3H5(OH)3

Caustic soda gliseril stearat sodium stearat gliserin

Prosedur ini untuk merombak atau menghidrolisis lemak dan kemudian setelah
terpisah dari gliserin, asam lemak dinetralisasikan dengan larutan soda kaustik:

(C17H35COO)3C3H5 + 3H2O à 3C17H35COOH +C3H5(OH)3

C17H35COOH + NaOH à C17H35COONa + H2O

1
Biasanya lemak dan minyak dijual tidak terkomposisi gliserin dari asam lemak satu
pun, tetapi dalam bentuk campuran. Namun demikian, beberapa asam lemak dengan
kemurnian 90% atau lebih dapat ditempuh dengan proses yang khusus.

Selanjutnya, perombakan secara countercurrent lemak ini dikondisikan dalam


keadaan vacuum untuk mencegah terjadinya oksidasi selama proses. Ini terisi dari bawah dari
menara hidrolisis yang berbentuk seperti palung dengan kecepatan yang terkontrol yang akan
memecah lemak menjadi tetesan tetesan. Menara mempunyai ukuran dengan tinggi 20 meter
dan berdiameter 60 cm, dirancang dengan bahan stailess steel tipe 316.

Minyak dimasukkan melalui bagian bawah tanki menara, karena densitasnya relative
kecil (lebih kecil dari densitas air), maka lemak akan terangkat keatas dan sebagian kecil
bahan lemak akan terlarut menjadi cairan gliserin. Pada waktu yang sama, H2O murni
dimasukkan ke dalam menara melalui bagian atas, sehingga inilah yang disebut dengan
proses hidrolisis lemak secara countercurret dimana proses ini akan mengekstrak gliserin
yang terlarut dalam lemak. Kedua aliran ini bereaksi dalam keadaan tekanan dan suhu tinggi.
setelah perombakan selesai, asam lemak keluar dari bagian atas menara, sedangkan larutan
gliserin keluar dari bawah menara yang otomatis akan terkontrol pada settling tank.

Meskipun campuran asam lemak yang dihasilkan dari metode di atas digunakan
sebagai bahan pembuatan sabun, asam lemak dapat diproduksi sebagai produk keluaran, dan
dapat dipisahkan lagi menjadi komponen yang berguna. Komposisi asam lemak dari
perombakan tergantung pada lemak atau minyak yang dimasukkan. Pada umumnya yang
digunakan untuk produksi asam lemak meliputi lemak hewani, minyak kelapa, palm, biji
kapas dan minyak kedelai. Proses lama yang banyak digunakan adalah panning dan pressing.
Proses kristalisasi fraksional ini terbatas pada campuran asam lemak dimana yang siap untuk
dipadatkan seperti Tallow Fatty Acid. Lelehan asam lemak mengalir ke panic, didinginkan,
dibungkus dengan kain goni, dan ditekan. Pengekstrakan ini dapat direalisasikan pada
penghasilan minyak merah (umumnya oleic acid ) dari padatan asam stearat. Total angka
penekanan dapat mengindikasikan kemurnian produk. Untuk memisahkan asam lemak dari
rantai panjang yang berbeda dapat ditempuh dengan cara distilasi, vacuum distillation adalah
yang umum digunakan.

Dibawah ini merupakan susunan prinsip pembuatan sabun padat:

1. Pengangkutan lemak dan minyak.


2. Pengangkutan dan pembuatan soda kaustik.
3. Pencanpuran katalis, ZnO, dengan leburan lemak dan pemanasan pada tanki
pencampur.
4. Lemak panas dan katalis masuk ke dalam menara hidrolisis melalui bagian bawah.
5. Perombakan lemak terjadi secara countercurrent di dalam hydrolyzer pada suhu
2500C dan tekana 4,1 MPa. butiran lemak akan naik ke atas berlawanan dengan fase
cairnya.
6. Fasa cairnya (H2O) akan melarutkan rombakan gliserin (±12%), jatuh ke bawah dan
terpisah.
7. Kemudian fasa gliserin-air di uapkan dan dimurnikan. Didapatkan gliserin.
8. Fasa asam lemak yang keluar dari bagian atas hydrolizer dikeringkan dalam flash tank
menggunakan cahaya kilasan dan dipanaskan dengan cepat.
9. Di dalam high-vacuum still, asam lemak didistilasi dari bawah.

1
10. Sabun di bentuk dengan melanjutkan penetralisasian menggunakan 50% soda kaustik
dalam mixer-neutralizer dengan kecepatan tinggi.
11. Sabun murni ini dibebaskan pada suhu 93oC kedalam tanki pencampuran dengan
digoncangkan secara perlahan untuk keluar dari penetralisasian. Pada saat ini sabun
murni dapat dianalisis: 0.002 hingga 0.10 % NaOH, 0.3 hingga 0.6% NaCl, dan ±30%
H2O. sabun murni ini dapat diolah, dipotong atau dikeringkan, tergantung pada
permintaan produk. Diagram alir pada gambir 29.3 menggambarkan proses finishing
sabun padat.
12. Proses finishing ini dapat di detailakan: tekanan yang dilakukan pada sabun murni
mencapai 3.5 MPa, dan sabun dipanaskan pada suhu 200oC dalam steam exchanger
dengan tekan tinggi. Sabun panas ini, dilepaskan pada tanki yang bertekanan
atmosfer, dimana dikeringkan (hingga mencapai 20 %) karena larutan sabun dapat
terbentuk diatas titik didihnya pada tekanan atmosfer. Pada hubungan ini, pasta sabun
dicampur dengan udara dalam mesin, dimana sabun juga didinginkan oleh sirkulasi
air laut, yang kemudian keluar dari 105oC menjadi 65oC. Pada temperatur ini, sabun
dilanjutkan dengan pemotongan dengan ukuran sabun padat. Lalu segera didinginkan,
dicap, dan dibungkus dengan operasi mesin. Proses ini berlangsung selama 6 jam.

1
BAB III
PENUTUP

3.1.Kesimpulan

13. Pembuatan detergen dan sabun pada skala industri merupakan gabungan dari ilmu-ilmu
exact sebegitu rupa, dan memerlukan alat-alat yang perlu pengendalian khusus dan
mempunyai spesifikasi tertentu.
14. Pada proses pembuatan detergen, yang pertma kali dilakukan adalah dengan pembuatan
surfaktan. Lalu hasil surfaktan ini, untuk membuat detergent dicampur dengan phospat,
silikat dan dry scrap. Adapun komposisi surfaktan adalah alkyl benzene sulfonat, fatty
alcohol, oleum dan larutan NaOH. Proses pembuatan detergen melalui alat crutcer yang
dilanjutkan ke drop tank setelah itu dipompa ke spray tower untuk pembentukan serbuk.
Serbuk ini di angkat dengan lift udara dan diberi aroma (parfum) kemudian menuju
packing.
15. Pada proses pembuatan sabun, raw material (bahan baku) yang digunakan adalah lemak,
basa kausatik (NaOH atau KOH), dan katalis. Pertama-tama lemak dan katalis
dimasukkan sebagai feed awal menuju ke blend tank, setelah itu menuju Hidrolizer. Pada
hidrolizer lemak dihidrolisis yang dapat membentuk asam lemak (gas) dan gliserin.
Setelah itu asam lemak menuju heat exchanger, lalu ke high vacuum still yang
dilanjutkan ke kondensor dan distillate receiver. Pada distillate receiver muncul hasil
samping berupa asam lemak. Kemudian dari distillate receiver dilanjutkan ke mixer
neutralizer dimana ditambahkannya soda kausatik yang setelah itu menuju soap blender
dan menghasilkan sabun padat. Untuk produksi sabun cair, maka proses tidak cukup
sampai disini, dilanjutkan menuju high pressure pump lalu heat exchanger, flash tank dan
packing. Selain sabun yang diproduksi pada proses ini, gliserin dan asam lemak
merupakan hasil samping yang cukup besar pemroduksiannya.