Anda di halaman 1dari 22

TUGAS NEUROLOGI

APHASIA

Disusun Oleh :

Aminah P27228016030

Elsa Shofiatun F. P27228016042

Fatimah Nur Q. P27228016044

Intan Riyan P. P27228016046

Kiki Habsari P27228016049

Panji Zaka I. P27228016061

D3 OT A

PROGRAM STUDI DIII OKUPASI TERAPI

JURUSAN OKUPASI TERAPI

POLITEKNIK KEMENTERIAN KESEHATAN SURAKARTA

TAHUN 2016/2017

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan YangMaha Esa, karena


rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul
“APHASIA”.

Makalah ini kami buat untuk memenuhi sebagian persyaratan


menyelesaikan mata kuliah neurologi. Kami mengucapkan terima kasih kepada
semua pihak yang telah membantu selama proses pembuatannya. Kami harap para
pembaca dapat mengambil manfaat dari apa yang sudah kami paparkan.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih memilki banyak kekurangan,


untuk itu kritik dan saran sangat kami harapkan demi penyempurnaannya.

ii
DAFTAR LAMPIRAN

1. Gambar Patofisiologi Aphasia

iii
DAFTAR ISI

COVER .............................................................................................. i
KATA PENGANTAR ....................................................................... ii
DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................... iii
DAFTAR ISI ...................................................................................... iv

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ....................................................... 1
B. Rumusan Masalah .................................................. 1
C. Tujuan Penulisan ................................................... 1
BAB II ISI
A. Definisi .................................................................. 3
B. Etiologi .................................................................. 3
C. Patofiologi.............................................................. 4
D. Klasifikasi .............................................................. 7
E. Manifestasi Klinis . ................................................ 8
F. Epidemiologi.......................................................... 10
G. Pronosis.................................................................. 11
H. Penanganan ........................................................... 12

BAB III KESIMPULAN

A. Kesimpulan ......................................................... 13

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

iv
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam berbahasa tercakup berbagai kemampuan yaitu, bicara
spontan, komprehensi, menamai, repetisi (mengulang), membaca dan
menulis.
Bahasa merupakan instrument dasar bagi komunikasi pada
manusia dan merupakan dasar bagi kemampuan kognitif seperti memori
verbal. Interpretasi pepatah dan berhitung lisan menjadi sulit dan mungkin
tidak dapat dilakukan. Kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan
bahasa sangat penting. Bila terdapat gangguan hal ini akan mengakibatkan
hambatan yang berarti bagi penderita.
Gangguan berbahasa tidak mudah dideteksi dengan pemeriksaan
yang tergesa-gesa. Pemeriksaan perlu meningkatkan pengetahuan
mengenai pola gangguan berbahasa.

B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari afasia ?
2. Apa etiologi dari afasia ?
3. Bagaimana patofisiologi penyakit afasia ?
4. Apa saja klasifikasi afasia ?
5. Bagaimana manifestasi klinis afasia ?
6. Bagaimana epidemiologi afasia ?
7. Bagaimana prognosis afasia ?
8. Bagaimana penanganan dari afasia ?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui defini dari afasia.
2. Untuk mengetahui etiologi dari afasia.
3. Untuk mengetahui patofisiologi penyakit afasia.

1
4. Untuk mengetahui klasifikasi afasia.
5. Untuk mengetahui manifestasi klinis afasia.
6. Untuk mengetahui epidemiologi afasia.
7. Untuk mengetahui prognosis afasia.
8. Untuk mengetahui penanganan afasia.

2
BAB II

ISI

A. Definisi
Afasia adalah gangguan komunikasi yang disebabkan oleh
kerusakan pada bagian otak yang mengandung bahasa (biasanya di
hemisfer serebri kiri otak). Individu yang mengalami kerusakan pada sisi
kanan hemisfer serebri kanan otak mungkin memiliki kesulitan tambahan
di luar masalah bicara dan bahasa. Afasia dapat menyebabkan kesulitan
dalam berbicara, mendengarkan, membaca, dan menulis, tetapi tidak
mempengaruhi kecerdasan. Individu dengan afasia mungkin juga memiliki
masalah lain, seperti disartria, apraxia, akalkulias, agnosia, serta defisit
perilaku neurologis seperti demensia dan delirium. Ini semua bisa muncul
bersama-sama dengan afasia atau muncul sendiri (Pearl, 2014).

B. Etiologi
Afasia adalah suatu tanda klinis dan bukan penyakit. Afasia dapat
timbul akibat cedera otak atau proses patologik pada area lobus frontal,
temporal atau parietal yang mengatur kemampuan berbahasa, yaitu area
Broca, area Wernicke, dan jalur yang menghubungkan antara keduanya.
Kedua area ini biasanya terletak di hemisfer kiri otak dan pada kebanyakan
orang, bagian hemisfer kiri merupakan tempat kemampuan berbahasa
diatur (Sidiarto, Kusumoputro, 1984).
Pada dasarnya kerusakan otak yang menimbulkan afasia
disebabkan oleh stroke, cedera otak traumatik, perdarahan otak dan
sebagainya. Afasia dapat muncul perlahan-lahan seperti pada kasus tumor
otak. Afasia juga terdaftar sebagai efek samping yang langka dari fentanyl,
suatu opioid untuk penanganan nyeri kronis.

3
C. Patofisiologi
Afasia terjadi akibat kerusakan pada area pengaturan bahasa di
otak. Pada manusia, fungsi pengaturan bahasa mengalami lateralisasi ke
hemisfer kiri otak pada 96-99% orang yang dominan tangan kanan (kinan)
dan 60% orang yang dominan tangan kiri (kidal). Pada pasien yang
menderita afasia, sebagian besar lesi terletak pada hemisfer kiri (Guyton,
Hall, 1997).
Afasia paling sering muncul akibat stroke, cedera kepala, tumor
otak, atau penyakit degeneratif. Kerusakan ini terletak pada bagian otak
yang mengatur kemampuan berbahasa, yaitu area Broca dan area
Wernicke.
Korteks terbagi kepada empat lobus yaitu lobus frontalis berfungsi
untuk mongontrol motorik dan fungsi eksekutif yang lebih tinggi, lobus
parietalis untuk fungsi sensoris, lobus temporalis untuk mendengar,
mengestor memori dan pemahaman bahasa, dan lobus occipitalis untuk
persepsi visual (Pearl, 2014).
Serebri terbagi kepada dua yaitu hemisfer serebri kiri dan hemisfer
serebri kanan. Kedua hemisfer dihubungkan oleh corpus callosum, yang
merupakan satu bundel 5 besar serabut saraf. Lebih dari 90% kandal dan
60% kidal mempunyai pusat bahasa di hemisfer serebri kiri. Ini juga
dipanggil lateralisasi atau dominan.
Area Broca terletak di posterior gyrus frontal. Secara
neuroanatomi, daerah ini digambarkan sebagai daerah Brodman 44 dan 45,
bertanggung jawab atas pelaksanaan motorik berbicara. Lesi pada area ini
mengakibatkan kesulitan dalam artikulasi tetapi penderita bisa memahami
bahasa dan tulisan (Lumbantobing, 2008; Guyton, Hall, 1997).
Area Wernicke dimana pusat pemprosesan kata kata yang
diucapkan terletak di posterior gyrus temporal superior. Secara
neuroanatomi, daerah ini digambarkan sebagai daerah Brodmann 41 dan
42, merupakan area sensorik penerima untuk impuls pendengaran. Lesi
pada area ini akan mengakibatkan penurunan hebat kemampuan

4
memahami serta mengerti suatu bahasa (Suwono, 1995; Price, Wilson,
1995).
Secara umum afasia muncul akibat lesi pada kedua area pengaturan
bahasa di atas. Selain itu lesi pada area disekitarnya juga dapat
menyebabkan afasia transkortikal. Afasia juga dapat muncul akibat lesi
pada fasikulus arkuatus, yaitu penghubung antara area Broca dan area
Wernicke.
Area konduksi terdiri dari fasikulus arkuata yang merupakan satu
bundel saraf yang melengkung dan menguhubungkan antara area Broca
dan area Wernicke. Kerusakan fasikulus arkuata menyebabkan: timbul
defisit unutk mengulang kata kata.
Area Exner terletak tepat di atas area Broca dan anterior area
kontrol motor primer. Ini adalah area untuk menulis,berhampiran dengan
lokasi gerakan 6 tangan. Kerusakan area Exner akan mengakibatkan
agraphia. Dikenali sebagai daerah Brodmann 6 secara neuroanatomi.
Area membaca terletak di bagian media lobus oksipital kiri dan di
splenium corpus callosum. Ini adalah pusat untuk membaca. Ia menerima
impuls dari mata dan mengirimkan impuls tersebut ke daerah asosiasi
untuk dianalisa, kemudian dihantar ke fasikulus arkuata. Lesi pada area ini
menyebabkan kebutaan kata murni. Daerah ini neuroanatomi digambarkan
sebagai daerah Brodmann 17 (Rohkamm, 2004).
Saraf tepi melalui jalur afferen, menangkap informasi dari luar
kemudian dibawa ke sistem saraf pusat, yaitu otak. jika saraf tersebut
menuju pada masing-masing bagian otak pusat pengatur bahasa yang
terdapat lesi, maka akan menyebabkan output yang dibawa oleh saraf
pusat menuju saraf tepi yang akan di teruskan ke otot akan mengalami
gangguan (efferent pathway). Masing-masing otot yang di persarafi pada
area motor oral akan mengeluarkan output yang tidak sesuai dengan yang
diharapkan, yaitu mengeluarkan apa yang akan terjadi jika bagian otak
pusat pengatur bahasa terdapat lesi, seperti yang sudah dijelaskan
dimasing-masing bagian.

5
Saraf kranial V mensarafi M. Temporalis yang berfungsi untuk
elevation of the mandible, side- to-side gliding movements of the mandible.
Saraf kranial V mempersarafi M. Masseter yang berfungsi untuk elevation
of the mandible, side-to-side movement of the mandible. Saraf kranial V
mempersarafi M. Medial pterygoid yang berfungsi untuk elevetion of the
mandible, side-to-side movement of the jaw. Saraf kranial V mempersarafi
M. Lateral Pterygoid yang berfungsi untuk protusion of the mandible,
opening of the mouth, control of the posterior movement of the articular
disc of the temporomandibular joint and condyle of the mandible during
mouth closing, side-to-side movements of the mandible. Saraf kranial V
dan VII mempersarafi M. Suprahyoid Muscles Digastric yang berfungsi
untuk depression of the mandible : elevation of the hyoid bone. Saraf
kranial VII mempersarafi M. Stylohyoid yang berfungsi untuk elevation
and retraction of the hyoid bone, depression of the mandible. Saraf kranial
V mempersarafi M. Mylohyoid yang berfungsi untuk elevation of the floor
of the mouth; elevation of hyoid bone; depression of the mandible. Saraf
kranial XII mempersarafi M. Geniohyoid yang berfungsi untuk elevation
and retraction of the hyoid bone; deprssion of the mandible (Clarkson,
Gilewich, 1989).
Saraf kranial VII mempersarafi M. Orbicularis oris yang berfungsi
untuk closure of the lips, protrusion of the lips. Saraf kranial VII
mempersarafi M. Buccinator yang berfungsi untuk compression of the
cheeks against the teeth. Saraf kranial VII mempersarafi M. Levator anguli
oris yang berfungsi untuk elevation of the angle of the mouth. Saraf kranial
VII mempersarafi M. Risorius yang berfungsi untuk retraction of the
angle of the mouth. Saraf kranial VII mempersarafi M. Zygomaticus major
yang berfungsi untuk draws the angle of the mouth superiorly and
laterally. Saraf kranial VII mempersarafi M. platysma yang berfungsi
untuk depression of the corner of the mouth and lower lip. Saraf kranial
VII mempersarafi M. Depressor anguli oris yang berfungsi untuk
depression of the angle of the mouth. Saraf kranial VII mempersarafi M.

6
Depressor labii interioris yang berfungsi untuk depression and lateral
movement of the lower lip. Saraf kranial VII mempersarafi M. Levator
labii superioris yang berfungsi untuk elevation and eversion of the upper
lip. Saraf kranial VII mempersarafi M. Zygomaticus minor yang berfungsi
untuk elevation of the upper lip. Saraf kranial VII mempersarafi M.
Mentalis yang berfungsi untuk elevation and protrusion of the lower lip.
Saraf kranial XII mempersarafi M. Genioglossus yang berfungsi untuk
tongue protrusion, depression of the middle region of the tongue
(Clarkson, Gilewich, 1989).

D. Klasifikasi
Dasar untuk mengklasifikasi afasia beragam (Sidiarto, Kusumoputro,
1984; Lumantobing, 2008), diantaranya ada yang mendasarkan kepada :
1. Manifestasi klinik
 Afasia tidak lancar atau non-fluent
 Afasia lancar atau fluent
2. Distribusi anatomi dari lesi yang bertanggung jawab bagi defek
 Sindrom afasia peri-silvian
 Afasia Broca (motorik, ekspresif)
 Afasia Wernicke (sensorik, reseptif)
 Afasia Konduksi
 Sindrom afasia daerah perbatasan (borderzone)
 Afasia transkortikal motorik
 Afasia transkortikal sensorik
 Afasia transkortikal campuran
 Sindrom afasia subkortikal
 Afasia talamik
 Afasia striatal
 Sindrom afasia non-lokalisasi
 Afasian anomik

7
 Afasian global
3. Gabungan pendekatan manifestasi klinik dengan lesi anatomik
E. Manifestasi Klinis
1. Afasia tidak lancar
Pada afasiaini, output atau keluaran bicara terbatas. Penderita
menggunakan kalimat pendek dan bicara dalam bentuk sederhana.
Sering disertai artikulasi dan irama bicara yang buruk.
Gambaran klinisnya :
 Penderita tampak sulit memulai bicara
 Panjang kalimat sedikit (5 kata atau kurang per kalimat)
 Gramatika bahasa berkurang dan tidak kompleks
 Artikulasi umumnya terganggu
 Irama bicara terganggu
 Pemahaman cukup baik, tapi sulit memahami kalimat yang
lebih kompleks
 Repetisi buruk
 Kemampuan menamai, menyebut nama benda buruk
2. Afasia lancar
Pada afasia ini penderita bicara lancar, artikulasi dan irama baik,
tetapi isi bicara tidak bermakna dan tidak dapat dimengerti artinya.
Penderita tidak dapat mengerti bahasa sehingga tidak dapat berbicara
kembali.
Gambaran klinisnya :
 Keluaran bicara yang lancar
 Panjang kalimat normal
 Artikulasi dan irama bicara baik
 Terdapat parafasia
 Kemampuan memahami pendengaran dan membaca buruk
 Repetisi terganggu
 Menulis lancar tapi tidak ada arti

8
3. Afasia Broca (motorik, ekspresif)
Disebabkan lesi di area Broca. Pemahaman auditif dan membaca
tidak terganggu, tetapi sulit mengungkapkan isi pikiran.
Gambaran klinis afasia broca ialah sama dengan afasia non-fluent.
4. Afasia Wernicke (sensori, resptif)
Disebabkan lesi di area Wernicke. Pada kelainan ini pemahaman
bahasa terganggu. Penderita tidak mampu memahami bahasa lisan dan
tulisan sehingga ia juga tidak mampu menjawab dan tidak mengerti
apa yang dia sendiri katakan.
Gamabaran klinis afasia wernicke ialah sama dengan afasia fluent.
5. Afasia konduksi
Disebabkan lesi di area fasciculus arcuatus yaitu penghubung
antara sensorik (wernicke) dan area motorik (broca). Lesi ini
menyebabkan kemampuan berbahasa dan pemahaman yang baik tetapi
didapati adanya gangguan repetisi.
6. Afasia transkortikal
Disebabkan lesi disekitar pinggiran area pengaturan bahasa. Pada
dasarnya afasia transkortikal ditandai oleh terganggunya fungsi
berbahasa tetapi didapati repetisi bahasa yang baik dan terpelihara.
7. Afasia trankortikal motorik
Ditandai dengan tanda afasia broca dengan bicara non-fluent, tetapi
kemampuan repetisi baik dan terpelihara.
8. Afasia transkortikal sensorik
Ditandai dengan tanda afasia wernicke dengan bicara fluent, tetapi
kemampuan repetisi baik dan terpelihara.
9. Afasia transkortikal campuran
Ditandai dengan campuran tanda afasia broca dan wernicke.
Penderita bicara non-fluent atau tidak lancar, tetapi juga disertai
kemampuan memahami bahasa yang buruk, sementara kemampuan
repetisi tetap baik.
10. Afasia talamik

9
Disebabkan lesi pada talamus, dan afasia striatal disebabkan lesi
pada capsular-striatal, yang keduanya juga berperan dalam pengaturan
bahasa. Pada kedua afasia ini terdapat tanda afasia anomik.
11. Afasia anomik
Merupakan suatu afasia dimana penderita kesulitan menemukan
kata dan tidak mampu menamai benda yang dihadapkan kepadanya.
Bicara, gramtika dan irama lancar, tetapi sering tertegun ketika
mencari kata dan mengenal objek.
12. Afasia global
Merupakan bentuk afasia yang paling berat. Disebabkan lesi yang
luas yang merusak sebagian besar atau semua area bahasa pada otak.
Keadaan ini ditandai oleh tidak ada lagi atau berkurang sekali bahasa
spontan dan menjadi beberapa patah kata yang diucapkan secara
berulang-ulang. Repetisi, membaca dan menulis juga terganggu berat.
Afasia global hampir selalu disertai hemiparese atau hemiplegia.

F. Epidemiologi
Diperkirakan ada 80.000 kasus baru afasia per tahun di Amerika
Serikat (National Stroke Association, 2008).
Prevalensi afasia mengacu pada jumlah orang yang hidup dengan
afasia dalam jangka waktu tertentu. The National Institute of Neurological
Disorders and Stroke (NINDS) memperkirakan bahwa sekitar 1 juta orang,
atau 1 dari 250 di Amerika Serikat saat ini, menderita afasia (NINDS, nd).
Lima belas persen dari individu-individu di bawah usia 65
menderita afasia; Persentase ini meningkat menjadi 43% bagi individu
usia 85 tahun dan lebih tua (Engelter et al., 2006).
Tidak ada perbedaan yang signifikan telah ditemukan dalam
kejadian afasia pada pria dan wanita. Namun, beberapa data menunjukkan
perbedaan yang mungkin ada menurut jenis dan tingkat keparahan afasia.
Sebagai contoh, Wernicke dan afasia global yang terjadi lebih sering pada

10
wanita dan afasia Broca terjadi lebih sering pada pria (Hier, Yoon, Mohr,
& Price, 1994; Afasia National Association, 2011).
Afasia merupakan dampak post strok. Strok merupakan empat
penyebab utama kematian di ASEAN sejak 1992 – yang pertama di
Indonesia, tempat ketiga di Filipina dan Singapura, tempat keempat di
Brunei, Malaysia dan Thailand.

G. Prognosis
Prognosis hidup untuk penderita afasia tergantung pada penyebab
afasia. Suatu tumor otak dapat dihubungkan dengan angka harapan hidup
yang keecil, sedangkan afasia dengan stroke minor mungkin memiliki
prognosis yang sangat baik. Prognosis hidup ditentukan oleh penyebab
afasia tersebut (Krishner, Jacobs, 2009).
Prognosis kesembuhan kemampuan berbahasa bervariasi,
tergantung pada ukuran lesi dan umur serta keadaan umum penderita.
Secara umum, penderita dengan tanda klinis yang lebih ringan memiliki
kemungkinan sembuh yang lebih baik. Afasia broca secara fungsional
memiliki prognosis yang lebih baik daripada afasia wernicke. Terakhir,
afasia akibat penyakit yang tidak dapat atau sulit disembuhkan, misalanya
tumor tak, memiliki tingkat prognosis yang buruk (Krishner, Jacobs,
2009).

H. Penanganan
Penanganan afasia terlebih dahulu didasarkan pada penyebabnya,
misalnya stroke, perdarahan akut, tumor otak, dan sebagainya.
Tidak ada penanganan atau terapi untuk afasia yang benar-benar
efektif dan terbukti mengobati. Saat ini, penanganan yang paling efektif
untuk mengobati afasia adalah dengan melakukan terapi wicara/bina
wicara.
Bina wicara (speech therapy) pada afasia didasarkan pada:

11
1. Dimulai seawal mungkin. Segera diberikan bila keadaan umum
pasien sudah memungkinkan pada fase akut penyakitnya.
2. Dikatakan bahwa bina wicara yang diberikan pada bulan
pertama sejak mulai sakit mempunyai hasil yang paling baik.
3. Hindarkan penggunaan komunikasi non-linguistik (seperti
isyarat)
4. Program terapi yang dibuat oleh terapis sangat individual dan
tergantung dari latar belakang pendidikan, status sosial dan
kebiasaan pasien.
5. Program terapi berlandaskan pada penumbuhan motivasi pasien
untuk mau belajar (re-learning) bahasanya yang hilang.
Memberikan stimulus supaya pasien memberikan tanggapan
verbal. Stimuli dapat berupa verbal, tulisan ataupun taktil.
Materi yang telah dikuasai pasien perlu diulang-ulang (repetisi)
6. Terapi dapat diberikan secara pribadi dan diseling dengan
terapi kelompok dengan pasien afasia yang lain.
7. Penyertaan keluarga dalam terapi sangat mutlak.

12
BAB III

KESIMPULAN

Afasia adalah gangguan komunikasi yang disebabkan oleh kerusakan pada


bagian otak yang mengandung bahasa. Pada manusia, fungsi pengaturan bahasa
mengalami lateralisasi ke hemisfer kiri otak pada 96-99% orang yang dominan
tangan kanan (kinan) dan 60% orang yang dominan tangan kiri (kidal). Pada
pasien yang menderita afasia, sebagian besar lesi terletak pada hemisfer kiri.
Afasia merupakan suatu tanda klinis dan bukan penyakit. Afasia dapat timbul
akibat cedera otak atau proses patologik pada area lobus frontal. Afasia dapat
menyebabkan kesulitan dalam berbicara, mendengarkan, membaca, dan menulis,
tetapi tidak mempengaruhi kecerdasan.

Afasia dapat diklasifikasikan menjadi beberapa bagian, yaitu: Afasia tidak


lancar, afasia lancar, afasia broca (motorik, ekspresif), afasia wernicke (sensori,
resptif), afasia konduksi, afasia transkortikal, afasia trankortikal motorik, afasia
transkortikal sensorik, afasia transkortikal campuran, afasai talamik, afasia
anomik, afasia global.

Patofisiologis dari afasia adalah saraf tepi melalui jalur afferen,


menangkap informasi dari luar kemudian dibawa ke sistem saraf pusat, yaitu otak.
jika saraf tersebut menuju pada masing-masing bagian otak pusat pengatur bahasa
yang terdapat lesi, maka akan menyebabkan output yang dibawa oleh saraf pusat
menuju saraf tepi yang akan di teruskan ke otot akan mengalami gangguan
(efferent pathway). Masing-masing otot yang di persarafi pada area motor oral
akan mengeluarkan output yang tidak sesuai dengan yang diharapkan, yaitu
mengeluarkan apa yang akan terjadi jika bagian otak pusat pengatur bahasa
terdapat lesi, seperti yang sudah dijelaskan dimasing-masing bagian.

Penanganan afasia terlebih dahulu didasarkan pada penyebabnya, misalnya


stroke, perdarahan akut, tumor otak, dan sebagainya. Tidak ada penanganan atau
terapi untuk afasia yang benar-benar efektif dan terbukti mengobati. Saat ini,

13
penanganan yang paling efektif untuk mengobati afasia adalah dengan melakukan
terapi wicara/bina wicara.

Prognosis kesembuhan kemampuan berbahasa bervariasi, tergantung pada


ukuran lesi dan umur serta keadaan umum penderita. Secara umum, penderita
dengan tanda klinis yang lebih ringan memiliki kemungkinan sembuh yang lebih
baik.

14
DAFTAR PUSTAKA

Clarkson, Hazel M., Gilewich, Gail B. (1989). Musculoskeletal assesment: joint


range of motion and manual muscle strength. USA: Williams & Wilkins

Glamcevski, M.T. (2000). Prevalance of Post stroke depression, a Malaysian


Study, Neurol J Southeast Asia. Diakses dari
http://www.neurologyasia.org/articles/20002_051.pdf pada 7 oktober 2017

Gupta, A., Singhal, G. (2011). Understanding Aphasia in a simplified Manner.


Journal Indian Academy of Clinical Medicine. Diakses dari
http://medind.nic.in/jac/t11/i1/jact11i1p32.pdf pada 10 oktober 2017

Guyton, A. C. Hall, J. E. (1997). Buku ajar fisiologi kedokteran edisi 9 BAB 57:
korteks serebri; fungsi intelektual otak; dan proses belajar dan mengingat.
Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC

Krishner, H. S., Jacobs, D. H. (2009). eMedicine neurology specialties : Aphasia.


Diakses dari http://emedicine.medscpae.com/article/1135944-print pada 10
oktober 2017

Lumbantobing, S. M. (2008). Neurologi Klinis Pemeriksaan fisik dan mental


BAB XI: Berbahasa. Jakarta: Fakultas kedokteran universitas indonesia

Pearl, L. P., Emsellem, A. H. (2014). The Central Nervous System : Brain and
Cord dalam Neurologic a primer on localization.

Price, S. A., Wilson, L. M. (1995). Patofisiologi: konsep klinis proses penyakit


edisi 4 Bagian IX: penyakit neurologi, pemeriksaan neurologis, evaluasi
penderita neurologis. Jakarta: Buku kedokteran EGC

Rohkamm, R. (2004). Middle Cerebral Artery, Language dalam M.D. Color Atlas
of Neurology. Diakses dari
https://umfmed.files.wordpress.com/2013/03/color-atlas-of-neurology.pdf
pada 12 oktober 2017

15
Sidiarto, L., Kusumoputro S. (1984). Cermin dunia kedokteran No. 34, Afasia
sebagai gangguan komunikasi pada kelainan otak bagian neurologi.
Jakarta: Fakultas kedokteran UI

Suwono, W. J. (1995). Afasia sensorik atau wernicke diagnosis topik neurologi:


anatomi, fisiologi, tanda, gejala edisi II. Jakarta: Penerbit buku kedokteran
EGC

16
17
18