Anda di halaman 1dari 19

BAB V

UTILITAS

Utilitas yang diperlukan pada pra rancangan pabrik monosodium


glutamate (MSG) dari molasses dengan kapasitas produksi 60.000 ton/tahun ini
meliputi :
1. Unit Penyediaan Listrik
Listrik digunakan untuk alat tangki pelarutan, continuous flow conveyor,
tangki degumming, pompa sentrifugal, tangki seeding, reaktor hidrolisis,
fermentor, netralizer, rotary vacuum filter, kristalizer, screw conveyor,
centrifuge, vibrating screen, horizontal conveyor, dryer, kompresor, bak
pencampur, bak flokulasi, cooling tower, dan boiler. Total listrik yang
dibutuhkan dilihat pada Tabel 5.1.
Tabel 5.1 Kebutuhan Listrik
Komponen Kebutuhan (kW)
Peralatan Proses 39,79
Peralatan Utilitas 70,84
Peralatan Instrumentasi 50
Bengkel 100
Pabrik 150
Perumahan dan perkantoran 72,5
Peralatan Kantor dan Komunikasi 15,8
Total (Faktor Keamanan 20%) 523,11

2. Unit Pengadaan Air


Air yang digunakan untuk pembuatan MSG terbagi tiga, yaitu :
- Air proses, digunakan untuk alat tangki pelarutan NaOH, tangki seeding,
rotary vacuum filter, dan reaktor hidrolisis. Total air proses yang
dibutuhkan dilihat pada Tabel 5.2.
Tabel 5.2 Kebutuhan Air Proses
Nama Alat Kebutuhan (kg/jam)
Hidrolisis 262,29
Tangki seeding 420,50
Tangki Pelarutan NaOH 7.009,26
Rotary vacuum filter 2.816,64
Total 10.508,68

64
65

- Air sanitasi, digunakan untuk para karyawan lingkungan pabrik


(perumahan, perkantoran, laboratorium, masjid/musholla, kantin dan lain-
lain). Kebutuhan air sanitasi dapat dilihat pada Tabel 5.3.
Tabel 5.3 Kebutuhan Air Sanitasi
Nama Alat Kebutuhan (kg/jam)
Perumahan 1.040,99
Perkantoran 426,86
Laboratorium 10,00
Poliklinik 10,00
Pemadam kebakaran 50,00
Masjid 50,00
Total 1.586,85

- Air pendingin, digunakan untuk alat reaktor hidrolisis, tangki seeding,


fermentor, kristalizer. Kebutuhan air pendingin dapat dilihat pada Tabel
5.4.
Tabel 5.4 Kebutuhan Air Pendingin
Nama Alat Kebutuhan (kg/jam)
Reaktor hidrolisis 32.072,80
Tangki seeding 542,55
Fermentor 22.510,96
Kristalizer 27.691,12
Total 82.817,43

- Steam digunakan untuk alat tangki degumming, tangki seeding, fermentor,


netralizer, evaporator, dryer. Kebutuhan steam dapat dilihat pada Tabel 5.5.
Tabel 5.5 Kebutuhan Steam
Nama Alat Kebutuhan (kg/jam)
Tangki degumming 1.437,86
Tangki seeding 104,06
Fermentor 3.053,68
Netralizer 1.057,68
Evaporator 425,14
Dryer 222,70
Total 6.301,12
66

3. Unit Pengolahan Limbah


Unit pengolahan limbah terdiri dari unit pengolahan limbah padat, limbah
cair dan limbah gas.

5.1 Unit Penyediaan Listrik


Kebutuhan tenaga listrik pada pabrik MSG direncanakan untuk non proses
(perumahan, perkantoran, laboratorium, masjid/musholla, kantin dan lain-lain)
dan keperluan proses seperti menggerakkan pompa, penerangan dan peralatan
instrumentasi. Sumber pengadaan listrik untuk kebutuhan-kebutuhan tersebut
diperoleh dari PLTU Barru, Sulawesi Selatan dan sebagai cadangan digunakan
genset.

5.2 Unit Pengadaan Air


Untuk memenuhi kebutuhan air di pabrik MSG digunakan sumber air dari
sungai Wallanae yang ditampung di dalam bak penampung sementara sebelum
digunakan sebagai air sanitasi, air proses dan air umpan boiler. Kualitas air sungai
Wallanae dapat dilihat pada Tabel 5.6.

Tabel 5.6 Kualitas Air Sungai Wallanae


Hasil
No Parameter Satuan Baku Mutu
Analisa
Fisika
0
1 Temperatur C 29,2 Deviasi 3
2 Kekeruhan NTU 38,49 15
3 Zat padat terlarut (TDS) mg/l 163,13 1.000
4 Zat padat tersuspensi (TSS) mg/l 64 50
Kimia
4 pH 8,72 6-8,5
8 DO mg/l 6,13 4
9 BOD mg/l 17,47 3
10 COD mg/l 43,67 25
11 NO2-N mg/l 0,02 0,06
12 NO3-N mg/l 2,05 10
13 NH3-N mg/l 0,15 -
15 Minyak dan Lemak mg/l <0,1 0,8
18 Total Coliform Jumlah/1000 ml 920.000 -
19 Sianida mg/l <0,01 0,02
20 Sulfida (H2S) mg/l <0,002 0,002
21 Sulfat mg/l 15,78 -
22 Fluorida mg/l <0,1 1,5
67

23 Fosfat mg/l 0,2 0,26


24 Tembaga mg/l <0,005 0,02
25 Seng mg/l < 0,001 0,05
26 Besi mg/l 0,45 -
Sumber: Peraturan Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 69 Tahun 2010 (2010)

5.2.1 Air Sanitasi


Air sanitasi adalah air yang mengandung mineral dan tidak mengandung
kotoran atau bakteri. Air sanitasi digunakan untuk para karyawan lingkungan
pabrik (perumahan, perkantoran, laboratorium, masjid / musholla, kantin dan lain-
lain). Karena air ini berhubungan langsung dengan kesehatan, maka air sanitasi
harus memenuhi standar kualitas sebagai berikut :
1. Syarat fisika, yaitu:
 Suhu : di bawah suhu kamar
 Warna : tidak berwarna
 Rasa : tidak berasa
 Bau : tidak berbau
 Kekeruhan : < 1 mg SiO2 / liter
2. Syarat kimia, meliputi:
 Tidak mengandung zat–zat organik maupun anorganik yang terlarut dalam
air, seperti PO43-, Hg2+, Cu2+ dan logam-logam berat lainnya yang beracun.
 Syarat bakteriologis
Air sanitasi tidak mengandung kuman maupun bakteri terutama bakteri
patogen. Untuk memenuhi persyaratan ini, setelah proses penjernihan
harus diberi tambahan desinfektan seperti khlor cair atau kaporit.

Pengolahan air sanitasi dapat dilihat pada Gambar 5.1.


68

Air Sungai
Padatan tersuspensi
Padatan terlarut
Padatan kasar tidak terlarut
Gas terlarut
Prasedimentasi Padatan kasar tidak terlarut

Padatan tersuspensi
Padatan terlarut
Gas terlarut

Alum Koagulasi

Gas terlarut
Flok kecil Flokulasi Sedimentasi Sand Filtration Endapan
Gas terlarut Gas terlarut
Flok besar Endapan Gas terlarut

Air sanitasi

Gambar 5.1 Blok Diagram Proses Pengolahan Air Sanitasi

a. Proses Prasedimentasi
Air sungai sebelum dikirim ke unit utilitas, dipisahkan terlebih dahulu dari
kotoran yang berupa zat padat kasar yang terapung dengan cara memasang
saringan di sekitar suction pompa pengambil air (P-1001), lalu dipompakan
dan dialirkan ke bak penampung (BP-1101).

b. Proses Pengolahan Raw Water


Air dari bak penampungan (BP-1101) dialirkan ke bak pengolahan raw
water (BPR-2102) yang terdiri dari empat buah bak, yaitu bak koagulasi, bak
pembentukan flok-flok, bak sedimentasi, bak penampungan limpahan air
bersih. Bak pengolahan raw water (BPR-2102) berfungsi untuk
menghilangkan padatan terlarut dengan cara menambahkan bahan kimia
sehingga terbentuk gumpalan dari kotoran-kotoran yang tersuspensi dalam air.
Pengolahan raw water terbagi menjadi tiga tahap.
1) Proses koagulasi
Air dari bak penampungan (BP-1101) dialirkan ke bak koagulasi,
pada bak ini diinjeksikan bahan-bahan kimia sebagai berikut:
 Larutan Alum (Al2(SO4)3.18H2O)
69

Bahan kimia ini untuk menggabungkan beberapa molekul melalui


penetralan muatan.
Reaksi yang terjadi :
Al2(SO4)3.18H2O(aq) + 6H2O(l)  2Al(OH)3(l) + H2SO4(l) + 18H2O(l)
 Larutan Kapur Tohor (Ca(OH)2)
Bahan ini digunakan untuk menetralkan air yang dihasilkan pada unit
pengendapan sehingga memperoleh nilai pH 7.
Reaksi yang terjadi :
H2SO4(l) + Ca(OH)2(aq)  CaSO4(s) + 2H2O(l)
 Larutan Calcium Hypochlorite (Ca(OCl)2)
Penambahan Ca(OCl)2 berfungsi sebagai:
 Desinfektan berfungsi membunuh bakteri yang terdapat dalam air.
 Menghilangkan senyawa nitrogen dalam air, terutama amonia.
 Mengontrol rasa, bau, dan warna.
 Meminimalkan H2S.
 Meminimalkan Mn & Fe.
 Mengontrol alga & lumut.
 Sebagai bahan pendukung koagulasi.

2) Proses Flokulasi
Proses flokulasi yaitu penggabungan flok-flok kecil menjadi flok
yang berukuran besar. Proses flokulasi juga bisa dipercepat dengan
penambahan zat kimia tertentu, seperti Ca(OH)2. Faktor utama yang
mempengaruhi keefektifan koagulasi dan flokulasi air adalah tingkat
kekeruhan air, padatan tersuspensi, pH, durasi dan tingkat agitasi selama
koagulasi dan flokulasi, serta dosis koagulan.
Pengolahan dengan metode koagulasi-flokulasi dapat
menghilangkan padatan tersuspensi sebesar 60-90%, BOD sebesar 40-70%,
COD sebesar 30-60%, fosfor sebesar 70-90%, dan bakteri patogen yang
menempel pada padatan tersuspensi sebesar 80-90% (U.S. EPA, 1987).
Koagulan-koagulan yang terbentuk dialirkan bersama air ke bak
pembentukan flok. Pada bak ini dilengkapi dengan pengaduk yang
70

berputar dengan lambat sehingga koagulan-koagulan saling bergabung


membentuk flok-flok.

3) Proses Sedimentasi
Flok-flok yang terbentuk dialirkan bersama air ke bak sedimentasi.
Flok-flok ini akan mengendap dengan proses sedimentasi, di mana flok
akan terbentuk pada bagian dasar tangki dan air bersih dialirkan pada
bagian atas (limpahan). Bak sedimentasi ini dilengkapi dengan sludge
scrapper yang bertujuan untuk mengangkut lumpur agar lumpur lebih
cepat keluar.

c. Filtrasi
Filtrasi adalah suatu proses pemisahan zat padat dari fluida (cair maupun
gas) yang membawanya menggunakan suatu medium berpori atau bahan
berpori lain untuk menghilangkan sebanyak mungkin zat padat halus yang
tersuspensi dan koloid. Pada pengolahan air, filtrasi digunakan untuk
menyaring air hasil dari proses koagulasi-flokulasi-sedimentasi sehingga
dihasilkan air yang bersih. Air bersih dari bak pengolahan raw water
(BPR-2102) diteruskan ke sand filter (SF-2301) guna memisahkan kotoran-
kotoran halus yang masih terdapat dalam air dan menghilangkan bau, rasa dan
warna yang masih terdapat pada air tersebut. Penyaring yang digunakan pada
sand filter (SF-2301) adalah pasir silika, karbon aktif, dan kerikil. Agar pasir
tidak terikut di dalam air, maka pada bagian bawah sand filter (SF-2301)
diberi penyaring. Air yang keluar dari sand filter (SF-2301) ditampung pada
tangki penampungan air bersih (BP-2102). Air bersih ini sebagian digunakan
untuk air sanitasi dan sebagian lagi dilakukan demineralisasi untuk
mendapatkan air proses.
71

5.2.2 Air Proses dan Air Umpan Boiler

Air baku yang berasal dari sungai Wallanae, Kabupaten Bone sebagian
digunakan untuk air sanitasi dan sebagian lagi dilakukan demineralisasi untuk
mendapatkan air proses dan air umpan boiler yang diharapkan memiliki
spesifikasi sesuai dengan syarat air yang digunakan untuk air proses dan air
umpan boiler. Kriteria air umpan boiler harus memenuhi standar kualitas seperti
pada Tabel 5.7.

Tabel 5.7 Persyaratan Air Umpan Boiler


Parameter Satuan Pengendalian Batas
pH Unit > 9,2
Konduktivitas µmhos/cm < 6.000
Kesadahan total (Ca
mg/l < 0,01
dan Mg)
Oksigen mg/l < 0,05
Silika mg/l -
Besi mg/l < 0,3
Tembaga mg/l 20 – 50
Minyak/lemak mg/l <1
Zat organik mg/l -
Sumber: metrohm.com, 2016

Selain itu air yang digunakan untuk umpan boiler harus bebas dari mineral-
mineral atau unsur yang menyebabkan kesadahan air menjadi tinggi. Ion-ion
seperti Ca2+ dan Mg2+ akan menyebabkan tingginya kesadahan air di samping
juga Mn2+ dan Fe2+/Fe3+. Ion-ion penyebab kesadahan ini harus dieliminasi
sekecil mungkin sehingga konsentrasi maksimumnya hanya sebesar 0,05 ppm.
Air umpan boiler dengan tingkat kesadahan yang tinggi dapat menyebabkan
pembentukan kerak pada pipa maupun boiler itu sendiri. Kerak ini akan terbentuk
ketika ion-ion seperti Ca2+ bereaksi dengan anion yang secara alami terdapat di
dalam air, seperti ion bikarbonat (HCO3-) yang merupakan hasil reaksi antara CO2
dengan air pada tekanan atmosfer. Ketika larutan yang mengandung Ca2+ dan
HCO3- dipanaskan, endapan kalsium karbonat akan terbentuk sebagai hasil dari
reaksi ion seperti di bawah ini.

- 2-
2HCO3 + panas  CO3 + CO2(g) + H2O(l)
72

Ion karbonat yang dihasilkan kemudian bereaksi dengan ion kalsium menurut
persamaan reaksi :

2+ 2-
Ca + CO3  CaCO3(s)
2+
Ca + 2HCO3-  CaCO3(s) + CO2(g) + H2O(l)

Endapan kalsium karbonat inilah yang akan menempel pada permukaan


peralatan sehingga mengurangi efisiensi alat. Pipa yang sudah ditumbuhi kerak ini
akan memberikan hambatan gesekan sehingga mengurangi laju alir air. Fenomena
terbentuknya kerak ini dapat dilihat pada Gambar 5.2.

Gambar 5.2 Lapisan Kerak pada Pipa

Selain itu, boiler dengan permukaan yang dilapisi oleh kerak juga akan
mengalami penurunan efisiensi panas seperti yang ditunjukkan oleh Tabel 5.8.

Tabel 5.8 Kehilangan Efisiensi Termal Akibat Lapisan Kerak pada Boiler
Ketebalan Lapisan Kerak (in) Kehilangan Efisiensi Termal (%)
1/16 15
1/8 25
¼ 39
3/8 55
½ 70
Sumber : Peairs (2004)
73

Secara umum, proses pengolahan air proses terlihat pada Gambar 5.3.

Air sanitasi
Padatan terlarut
Gas terlarut

Demineralisasi Padatan terlarut

Gas terlarut

Gas terlarut (O2 dan CO2)


Deaerasi

Air umpan boiler


Air Proses

Boiler Cooling
Cooling Tower
tower
Plant
Plant

Steam
Steam

WTP Kondensat

Gambar 5.3 Blok Diagram Proses Pengolahan Air Proses

 Demineralisasi (Water Softening)


Untuk menanggulangi hal di atas maka diperlukan pretreatment atau
pengolahan awal terhadap air umpan boiler berupa pelunakan air (water
softening). Alat yang digunakan untuk menghilangkan kesadahan ini disebut
dengan water softener. Water softener menggunakan prinsip kerja pertukaran ion.
Pada proses ini, air dialirkan melalui unggun resin yang telah dijenuhkan terlebih
dahulu dengan mengalirkan larutan brine (mengandung ion natrium) melewati
unggun. Resin yang digunakan pada pertukaran air bebas mineral dapat dilihat
pada Tabel 5.9.
74

Tabel 5.9 Resin yang Digunakan


Kation Anion
Jenis resin Lewatit MonoPlus S 100 Lewatit MP 600 WS
Volume 250 L 550 L
Ionic form as shipped Na Cl
Functional group Asam sulfonat Iquartenary amine
Densitas 1.280 kg/m3 1.100 kg/m3
pH 0-14 0-14
Suhu 120˚C 30˚C
Regeneran H2SO4 NaOH
Konsentrasi regeneran 6-10% 3-5%

Proses pertukaran ion terjadi ketika ion penyebab kesadahan seperti Ca2+
dan Mg2+ terikat pada resin dan melepaskan ion Na+ ke dalam air menurut
persamaan reaksi di bawah ini.

2+ 2-
Ca (aq) + R-H(resin) CaR(resin) + HSO4 (aq)

2-
HSO4 (aq) + R-OH(resin) R-SO4-(resin) + H2O (aq)

Kation lainnya, seperti ion Cu2+, Zn2+, Mn2+ dan Fe2+/Fe3+, juga akan
dihilangkan dari dalam air melalui proses ini. Air yang keluar selanjutnya
ditampung pada demin water storage tank (DW-3501) dan dapat digunakan untuk
air proses, air umpan boiler serta air pendingin.
Suatu resin penukar ion yang hanya dapat berlangsung jika bahan penukar
dapat menyediakan hidrogen atau hidroksida untuk menggantikan kation dan
anion dari air mentah. Jika suatu kation dan anion tidak mampu lagi menukar,
kation dan anion tersebut harus dikembalikan kepada keadaan awal melalui
regenerasi. Regenerasi kation dilakukan dengan cara mengganti kembali ion H+
yang telah jenuh dengan mereaksikannya dengan H2SO4.

2R-Na+ + H2SO4  2R-H + Na2SO4

Ada beberapa tahapan yang dilakukan pada proses regenerasi kation yaitu:
- Backwash, backwash adalah suatu proses yang bertujuan untuk
membuang/menghilangkan deposit kotoran yang menempel di resin.
- Pemberian asam langkah pertama yaitu dengan menginjeksikan
H2SO4 1,75%.
75

- Pemberian langkah kedua yaitu dengan menginjeksikan H2SO4 3,5%.


- Pemberian langkah ketiga yaitu dengan menginjeksikan H2SO4 5,25%.
- Slow rinse dimaksudkan untuk pembilasan dan pengangkatan kotoran yang
telah diproses.
- Fast rince sama dengan slow rinse hanya saja melakukannya dengan debit
air yang besar.

Regenerasi resin penukar anion sama dengan regenerasi kation, jika sudah
jenuh maka dapat dikembalikan ke keadaan dengan menggunakan alkali. NaOH
dipakai sebagai penukar anion dari basa kuat.

R-Cl- + NaOH  R-OH + NaCl

Sama dengan regenerasi pada kation, pada anion juga terdapat beberapa
tahapan. Tahap-tahap yang dilakukan pada proses regenerasi anion, yaitu :
- Backwash, backwash adalah suatu proses yang bertujuan untuk
membuang/menghilangkan deposit kotoran yang menempel di resin.
- Preheat bed.
- Caustic injection yaitu penambahan kaustik dengan cara menginjeksian
NaOH 4%.
- Slow rinse dimaksudkan untuk pembilasan dan pengangkatan kotoran yang
telah diproses.
- Fast rince sama dengan slow rinse hanya saja melakukannya dengan debit
air yang besar.
Selama proses regenerasi, limbah air yang dihasilkan ditampung pada bak
penampung regenerasi (neutral basin) untuk dinetralkan sebelum akhirnya
dibuang ke sungai.
76

5.2.3 Unit Pembangkit Steam


Unit ini berfungsi memenuhi kebutuhan steam pabrik MSG dari molasses,
steam dihasilkan oleh boiler dan digunakan untuk keperluan proses.
5.2.3.1 Deaerator (D-3701)
Selain bebas dari ion-ion penyebab kesadahan, air umpan boiler juga harus
bebas dari kandungan gas terlarut, seperti oksigen dan karbon dioksida.
Keberadaan oksigen dan karbon dioksida terlarut di dalam air umpan boiler akan
memicu terjadinya korosi pada perpipaan, boiler, dan peralatan lainnya.
Pemisahan gas terlarut dari air umpan boiler ini dapat dilakukan dalam suatu
alat deaerator. Penghilangan oksigen terlarut di dalam air dilakukan dengan
penambahan hidrazin (N2H4). Hidrazin akan bereaksi dengan oksigen membentuk
air dan gas nitrogen, sehingga kandungan oksigen terlarut dalam air berkurang.
Reaksi hidrazin dengan oksigen adalah sebagai berikut.
N2H4(l) + O2(g)  N2(g) + 2H2O(l)
Air umpan boiler disemprotkan melalui nozzle dari bagian atas kolom yang
terdiri atas tray. Dari bagian bawah dialirkan steam dengan arah yang berlawanan
dengan arah air umpan (counterflow). Kontak antara steam dengan air umpan
pada tray ini akan menaikkan temperatur air sehingga gas terlarut akan terpisah
dan keluar melalui gas vent. Sementara itu, air yang bebas dari kandungan gas
terlarut akan turun dan masuk ke dalam storage tank yang terletak di bagian
bawah deaerator untuk kemudian dialirkan ke dalam boiler. Temperatur air keluar
dari alat ini berkisar antara 102-104 ºC. Air keluaran deaerator dialirkan ke boiler (B-
3801) untuk menghasilkan uap atau steam yang dibutuhkan pada proses pabrik.

5.2.3.2 Boiler (B-3801)

Air umpan boiler yang telah bebas dari kesadahan dan gas terlarut
kemudian dialirkan ke dalam steam boiler. Jenis boiler yang digunakan adalah fire
tube boiler. Gas yang telah dipanaskan akan melewati tube dan memanaskan air
yang ada di sekitar tube. Energi panas yang dilepaskan gas diserap oleh air
sehingga air mengalami perubahan dari fasa cair menjadi fasa uap (saturated atau
superheated steam). Steam yang dihasilkan ini kemudian dikirim ke plant untuk
digunakan pada tangki degumming, tangki seeding, fermentor, netralizer,
77

evaporator, dan dryer. Kondensat yang dihasilkan kemudian dialirkan ke


deaerator (D-3701) kembali. Steam yang dihasilkan bersuhu 152˚C.

5.2.4 Unit Menara Pendingin


Cooling tower (CT-3601) digunakan untuk kembali mendinginkan air
yang telah digunakan di unit produksi seperti pada alat reaktor hidrolisis, tangki
seeding, fermentor, dan kristalizer.

5.2.5. Flowsheet Utilitas


Flowsheet utilitas ditampilkan pada Gambar 5.4.
79

5.3 Unit Pengolahan Limbah


Limbah suatu industri merupakan hal yang tidak dapat diabaikan
keberadaannya. Limbah yang tidak dikelola dengan baik bisa berdampak bagi
lingkungan. Kandungan bahan-bahan organik yang tinggi pada limbah yang
dihasilkan dapat menjadi sumber pertumbuhan mikroba. Sehingga limbah industri
secara langsung maupun tidak langsung akan berpengaruh terhadap kesehatan
masyarakat apabila tidak dikelola dengan benar. Pabrik MSG dalam memproduksi
MSG juga menghasilkan bermacam-macam limbah. Penanganan limbah di pabrik
MSG dikelola oleh bagian UPL (Unit Pengolahan Limbah). Standar baku mutu air
limbah pabrik MSG dapat dilihat pada Tabel 5.10.

Tabel 5.10 Baku Mutu Air Limbah Pabrik MSG


Parameter Satuan Standar Mutu
TSS mg/l 100
BOD mg/l 80
COD mg/l 150
pH 6-9
Sumber: Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, No. 5 tahun 2014

a. Macam dan Asal Limbah


Dalam proses memproduksi MSG menghasilkan bermacam-macam
limbah, yaitu limbah padat, limbah cair dan limbah gas. Limbah padat yang
dihasilkan berupa endapan PPT (precipitate) dari proses molasses treatment,
biomassa di proses fermentasi. Limbah cair berasal dari proses molasses
treatment, fermentasi, laboratorium, unit pengolahan limbah, dan cucian mobil.
Limbah gas yang dihasilkan berasal dari unit fermentasi, dan gas buangan dari
Unit Pengolahan Limbah Cair.

b. Penanganan Limbah
1) Penanganan Limbah Padat
Penanganan limbah padat tergantung dari jenis limbah yang dihasilkan.
Limbah padat merupakan cake, gum dan partikel yang terpisah dari proses
molases treatment. Pengolahan limbah dilakukan dengan cara dikeringkan
di bawah sinar matahari. Hasilnya dapat digunakan untuk campuran pupuk.
80

Limbah biomassa berasal dari proses fermentasi dan dapat diolah


menjadi pupuk kompos karena mengandung bahan-bahan organik yang
tinggi, yaitu 13-14%. Prinsip pembuatan pupuk kompos adalah humus
dinetralkan dengan dicampur air kapur hingga pH 6,5 – 7, kemudian
ditambah kotoran sapi/ayam yang berfungsi untuk meningkatkan jumlah
bakteri, setelah itu difermentasi selama 15 hari. Selama fermentasi humus
dibolak-balik untuk menjaga aerasi agar tetap baik. Kemudian kompos
ditambah dengan abu sekam yang mempunyai kandungan kalium dan
magnesium tinggi. Setelah itu kompos digiling dan diayak kemudian
dikemas.
2) Penanganan Limbah Cair
Limbah cair berasal dari unit proses dan hasil pencucian yang akan
diolah pada unit UPL. Pengolahan limbah cair dilakukan dengan cara
aerob dan anaerob. Pengolahan secara aerob untuk pengolahan limbah
dengan COD rendah sekitar 200 ppm, sedangkan anaerobi untuk mengolah
limbah yang mempunyai kadar COD tinggi sekitar 400 ppm. Limbah yang
akan dibuang ke sungai (efluent) terlebih dahulu dianalisa kadar COD,
BOD dan TSS-nya.
Proses pengolahan limbah cair dilakukan dengan menampung air
limbah dari setiap unit proses pada bak penampung yang ada di UPL.
Selanjutnya limbah masuk ke bak equalisasi yang berfungsi
menyeragamkan karakteristik limbah dari setiap unit yang berbeda-beda
kondisinya. Limbah berada di bak equalisasi sekitar 24 jam. Limbah
kemudian dipompa ke bak pretreatment yang konstruksinya dibuat
berkelok-kelok untuk mengendapkan. Setelah itu, ditambahkan Ca(OH)2
atau NaOH disertai pengadukan agar diperoleh pH netral 7. Sebelum
keluar dari bak pretreatment limbah ditambah kotoran sapi (sebagai
sumber bakteri metan), 10 kg urea dan 3 liter fosfat. Kotoran sapi
digunakan sebagai sumber bakteri karena kotoran sapi tidak berbahaya
bagi lingkungan yang bersifat fakultatif anaerob. Bakteri-bakteri tersebut
mampu berfungsi dalam kondisi aerobik maupun anaerobik.
81

Selanjutnya limbah mengalami proses anaerob I dan anaerob II. Bak


anaerob I berfungsi untuk mengurai bahan-bahan organik sehingga dapat
menurunkan kadar COD limbah. Setelah dari bak anaerob I, limbah masuk
ke bak antara sebelum masuk ke bak anaerob II atau UASB (Upflow
Anaerob Sludge Blanket). Di dalam bak antara, limbah ditambah dengan
urea, pfosfat dan kotoran sapi (sumber metan) untuk proses anaerob II.
Bakteri metan dalam metabolismenya akan menghasilkan produk akhir
berupa gas metana. Di dalam bak UASB terdapat lumpur aktif (sludge)
yang digunakan untuk menguraikan zat-zat organik dalam limbah. Bak
anaerob I dan UASB ditutup dengan plastik HDPE (High Density Poly
Ethylen) untuk mencegah keluarnya bau dan gas metan. Pada umumnya
pengolahan limbah cair secara anaerob akan menimbulkan bau yang
menyengat. Bau tersebut timbul karena adanya aktivitas bakteri metan
yang digunakan untuk mengurai zat-zat organik yang terkandung dalam air
limbah tersebut. Sehingga para pekerja dianjurkan memakai masker untuk
menghindari bau dan menjaga keselamatan pekerja karena di dalam
limbah terdapat kandungan zat-zat yang berbahaya bagi kesehatan.
Selanjutnya limbah masuk ke bak aerasi untuk proses aerob yang
dapat meningkatkan kadar oksigen terlarut (DO). Bak aerasi terdiri dari
bak aerasi I dan bak aerasi II. Pada setiap bak aerasi ditambahkan 1 liter
fosfat setiap hari. Untuk membantu proses aerasi digunakan aerator yang
terletak ditengah-tengah tiap-tiap bak aerasi. Bakteri ditambahkan pada
bak aerasi setiap 1 minggu sekali sebesar 1 kiloliter. Output dari bak aerasi
masuk ke bak settling untuk pengendapan selama 1 jam. Sepertiga dari
lumpur yang terbentuk di bak settling dimasukkan ke bak aktivasi dengan
ditambah urea, fosfat dan kadang-kadang lumpur sawah serta dilakukan
aerasi untuk perkembangbiakan bakteri aerob. Sedangkan sisanya diolah
untuk dijadikan kompos. Output dari bak settling dialirkan keluar melalui
pipa efluent ke sungai Wallanae.
Proses Pengolahan limbah cair dapat dilihat pada Gambar 5.5.
82

Air Limbah Tangki


Penampung

Equalisasi

Ca(OH)
Ca(OH)22
Kotoran sapi
Kotoran sapi
Urea
Urea Equalisasi
Fosfat
Phospat

Settler Air Bersih


Aerasi Tank

Lumpur

Urea
Urea
Bak Aktivasi
Fosfat
Phospat Bakteri
Aerob

Gambar 5.5 Blok Diagram Proses Pengolahan Limbah Cair

3) Penanganan Limbah Gas


Gas berasal dari gas buangan pada proses fermentasi. Gas tersebut
mengandung CO2 tinggi yang masih tercampur dengan cairan. Proses
pengolahannya dilakukan dengan memisahkan antara gas dan cairannya.
Gas CO2 dilepas ke udara.