Anda di halaman 1dari 8

Clinical Science Session

Glaukoma Primer Sudut Terbuka

Disusun Oleh:

Ildiani Ramli 0910312123


Nurhayati 1010313096
Farisah Izzati 1110312033
Mila Permata Sari 1210313008

Preseptor :
dr. Getry Sukmawati, Sp.M (K)
dr. Havriza Vitresia, Sp.M (K)

BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA


RSUP DR. M. DJAMIL PADANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
2017
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Terminologi Glaukoma merujuk pada suatu kelompok penyakit yang biasanya


memiliki karakteristik Neuropati Optik yang berhubungan dengan kehilangan fungsi
penglihatan. Walaupun peningkatan Tekanan Intraokular (TIO) merupakan suatu faktor risiko
utama, tapi sampai saat ini belum ada definisi tepat untuk penyakit ini. 1 Glaukoma berasal
dari bahasa Yunani glaukos yang berarti hijau kebiruan, yang memberikan kesan warna
tersebut pada warna mata penderita glaukoma.2 Glaukoma ini ditandai dengan pencekungan
(cupping) diskus optikus dan pengecilan lapangan pandang, dan biasanya disertai
peningkatan tekanan intraokular.3

Hampir 60 juta orang terkena glaukoma. Diperkirakan 3 juta penduduk Amerika


Serikat terkena glaukoma, dan diantara kasus-kasus tersebut, sekitar 50% tidak terdiagnosis.
Sekitar 6 juta orang mengalami kebutaan akibat glaukoma, termasuk 100.000 penduduk
Amerika, menjadikan peyakit ini sebagai penyebab utama kebutaan yang dapat dicegah di
Amerika Serikat.3

Terminologi Primer dan Sekunder sangat berguna dalam mendefinisikan glaukoma


dan masih banyak digunakan secara luas. Ada beberapa klasifikasi glaukoma secara anatomi,
biokimia, molekuler, dan genetik. Secara definisi glaukoma primer tidak berhubungan
dengan gangguan okular atau sistemik, tetapi berhubungan dengan tahanan aliran aquos dan
tertutup sudut. Glaukoma primer selalu berdampak pada kedua mata. Sedangkan, glaukoma
sekunder berhubungan dengan gangguan okular atau sistemik yang bertanggungjawab pada
penurunan aliran keluar aqueos. Penyakit-penyakit penyebab glaukoma sekunder sering
asimetris/ unilateral. 1

Secara sederhana, glaukoma diklasifikasikan sebagai sudut terbuka atau sudut


tertutup, dan sebagai primer atau sekunder. Diferensiasi dari glaukoma sudut terbuka dan
glaukoma sudut tertutup menjadi poin penting dari terapeutik.1 Glaukoma sudut terbuka
primer adalah bentuk yang tersering pada ras kulit hitam dan putih, meyebabkan penyempitan
lapangan pandang bilateral asimtomatik yang timbul perlahan dan sering tidak terdeteksi
sampai terjadi penyempitan lapangan pandang yang ekstensif. Glaukoma sudut tertutup
didapatkan pada 10% - 15% kasus ras kulit putih, glaukoma sudut tertutup primer berperan
lebih dari 90% kebutaan bilateral akibat glaukoma di China. Glaukoma tekanan normal
merupakan tipe yang paling sering di Jepang.3

Mekanisme peningkatan tekanan intraokular pada glaukoma adalah gangguan aliran


keluar aqueous humor akibat kelainan sistem drainase sudut bilik mata depan (glaukoma
sudut terbuka) atau gangguan akses aqueous humor ke sistem drainase (glaukoma sudut
tertutup). Tekanan intraokular diturunkan dengan cara mengurangi produksi aqueous humor
atau dengan meningkatkan aliran keluarnya, emnggunakan obat, laser atau pembedahan.3

Pada semua pasien glaukoma, perlu tidaknya terapi segera diberikan dan
efektifitasnya dinilai dengan melakukan pengukuran tekanan intraokular (tonometri), inspeksi
diskus optikus, dan pengukuran lapangan secara teratur. Oftalmoskopi (untuk mengtahui
kelainan saraf optikus) dan tonometri harus merupakan bagian dari pemeriksaan fisik rutin
pada pasien yang cukup kooperatif dan tentu saja pada pasien yang lebih dari 30 tahun. Hal
ini terutama penting pada pasien yang memeliki riwayat glakoma pada keluarga.3

Kebutaan akibat glaukoma dapat dicegah apabila diagnosis sudah dibuat sejak dini.
Glaukoma kronik dengan sudut bilik mata depan terbuka sebaiknya dikelola oleh seorang
dokter spesialis mata. Dokter umum dapat membantu dengan mengukur tekanan bola mata
secara rutin, kemudian jika perlu penderita dirujuk ke dokter spesialis mata. Glaukoma akut
sudah harus diobati ketika masih ditangani dokter umum, pertolongan pertama pada
glaukoma akut sering kali menentukan, apakah mata yang bersangkutan akan buta atau
tidak.2

1.2. Tujuan Penulisan


Penulisan Clinical Science Session (CSS) ini bertujuan untuk mengetahui anatomi
dan fisiologi aqueous humor, definisi, epidemiologi, etiologi, faktor risiko, patofisiologi,
manifestasi klinis, diagnosis, diagnosis banding, tatalaksana, komplikasi, dan prognosis
glaukoma primer sudut terbuka.

1.3.Batasan Masalah
Penulisan Clinical Science Session (CSS) ini membahas tentang anatomi dan
fisiologi aqueous humor, definisi, epidemiologi, etiologi, faktor risiko, patofisiologi,
manifestasi klinis, diagnosis, diagnosis banding, tatalaksana, komplikasi, dan prognosis
glaukoma primer sudut terbuka.

1.4. Manfaat Penulisan


Penulisan Clinical Science Session (CSS) ini diharapkan dapat bermanfaat dalam
memberikan informasi dan pengetahuan mengenai anatomi dan fisiologi aqueous humor,
definisi, epidemiologi, etiologi, faktor risiko, patofisiologi, manifestasi klinis, diagnosis,
diagnosis banding, tatalaksana, komplikasi, dan prognosis glaukoma primer sudut terbuka.

1.5 Metode Penulisan


Penulisan Clinical Science Session (CSS) ini menggunakan tinjauan pustaka yang
merujuk kepada berbagai literatur.
Klasifikasi Glaukoma Berdasarkan Etiologi3
A. Glaukoma primer
1. Glukoma sudut terbuka
a. Glaukoma primer sudut terbuka (glaukoma sudut terbuka kronik, glaukoma
sederhana kronik)
b. Glaukoma tekanan normal (glaukoma tekanan rendah)
2. Glaukoma sudut tertutup
a. Akut
b. Sub akut
c. Kronik
d. Iris plateau
B. Glaukoma kongenital
1. Glaukoma kongenital primer
2. Glaukoma berkaitan dengan kelainan perkembangan mata lain
a. Sindrom pembelahan kamera anterior
b. Aniridia
3. Glaukoma yang berkaitan dengan kelainan perkembangan ekstra okular
a. Sindrom Sturge-weber
b. Sindrom Marfan
c. Neurofibromatosis
d. Sindrom Lowe
e. Rubella kongenital
C. Glaukoma sekunder
1. Glaukoma pigmentasi
2. Sidrom eksfoliasi
3. Akibat kelainan lensa (fakogenik)
a. Dislokasi
b. Intumesensi
c. Fakolitik
4. Akibat kelainan traktusuvea
a. Uveitis
b. Sinekia posterior (seklUsio pupilae)
c. Tumor
5. Sindrom iridokornea endotel (ICE)
6. Trauma
a. Hifema
b. KontUsio / resesi sudut
c. Sinekia anterior perifer
7. Pasca operasi
a. Glaukoma sumbatan siliaris (glaukoma maligna)
b. Sinekia anterior perifer
c. Pertumbuhan epitel kebawah
d. Pasca bedah tandur kornea
e. Pasca bedah pelepasan retina
8. Glaukoma neovaskular
a. Diabetes mellitus
b. Sumbatan vena retina sentralis
c. Tumor intra okular
9. Peningkatan tekanan vena episklera
a. Fistula karotis-kavernosa
b. Sindrom Sturge Weber
10. Akibat steroid
D. Glaukoma Absolut
Hasil akhir semua glaukoma yang tidak terkontrol adalah mata yang keras, tidak
dapat melihat, dan sering nyeri.

Faktor Risiko1
1. Usia
Usia merupakan faktor risiko penting pada glaukoma primer sudut terbuka . Baltimore
Eye Survey menemukan prevalensi glaukoma meningkat seiringan peningkatan Usia. Ocular
hypertension treatment study (OHTS) menemukan risiko Usia dengan angka prevelensi
glaukoma primer sudut terbuka perdekade adalah 43 % secara univarian dan 22 % secara
multivarian. Pada Collaborative Initial Glaukoma Treatment Study (CIGTS), kerusakan
lapangan pandang berkembang 7 kali pada pasien 60 tahun atau lebih dibandingkan mereka
di bawah 40 tahun. Walaupun peningkatan tekanan intraocular dengan peningkatan usia telah
diobservasi pada banyak populasi dan dapat dihitung bagian dari hubungan antara usia dan
glaukoma, penelitian di Jepang menunjukkan hubungan antara glaukoma dan usia tanpa
kenaikan tekanan intraokular. Oleh sebab itu Usia bisa dinilai sebagai faktor risiko
independen untuk perkembangan glaukoma.

2. Ras
Prevalensi glaukoma primer sudut terbuka 3-4 kali lebih besar pada kulit hitam
daripada yang lain. Kebutaan akibat glaukoma paling kurang 4 kali lebih banyak pada ras
kulit hitam daripada kulit putih. Ini dikaitkan dengan ketebalan kornea pada kulit hitam lebih
tipis dibandingkan pada kulit putih.

3. Riwayat keluarga
Baltimore Eye Survey membuktikan risiko kejadian glaukoma primer sudut terbuka
meningkat pada seseorang yang memiliki saudara dengan glaukoma primer sudut terbuka
dengan mengambil populasi kembar dengan metode kohort.

4. Peningkatan tekanan intraokular


Berdasarkan penelitian menunjukkkan rata-ata tekanan intraokular adalah 15,5
mmHg, dengan standar deviasi 2,6 mmHg. Ini menunjukkan defenisi dari tekanan intraokular
normal 2 Standar deviasi di atas dan di bawah rata-rata tekanan intraokular, atau dalam
kisaran 10-21 mmHg.
Pada pasien dengan glaukoma memiliki variasi tekanan intraokularyang luas ≥ 10
mmHg selama 24 jam. Pada individu normal range diurnal hanya 2-6 mmHg. Peningkatan ini
bersifat berubah-ubah, walau 10-20 % pada pasien peningkatan ini menetap. Walau
peningkatan tekanan intraokular belum bisa disebut faktor risiko indipenden. Namun, tekanan
intraokulartetap merupakan faktor risiko terbesar terhadp progresivitas glaukoma.1
DAFTAR PUSTAKA

1. American Academy of Ophthalmology. Basic and Clinical Science Course Section 10:
Glaucoma. 2014-1015
2. Ilyas, Sidarta dkk.2015.Glaukoma dalam Ilmu Penyakit Mata Edisi ke 5. Jakarta :
Sagung Seto.Hal 222-229.
3. Vaughan,Daniel G dkk.2014.Glaukoma dalam Oftamologi Umum Edisi 17.Jakarta
:Widya Medika Hal 212-229.