Anda di halaman 1dari 20

TUGAS KEPERAWATAN JIWA

KASUS 1

1. KOPING
2. STRES
3. HARGA DIRI
4. HALUSINASI
5. PERAN PERAWAT PADA GANGGUAN JIWA
6. KONSEP DIRI
7. PENYEBAB PASIEN GANGGUAN JIWA
MENGAMUK

Tutor: Ns. Ismuntania Siregar, S.Kep

Disusun Oleh:

RIMA AFRIANI
NIM. 15010079

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes)


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
MEDIKA NURUL ISLAM SIGLI
2018
KOPING

A. Pengertian
Koping adalah cara yang dilakukan individu dalam menyelesaikan
masalah, menyesuaikan diri dengan perubahan, respon terhadap situasi
yang mengancam. Upaya individu dapat berupa perubahan cara berfikir
(kognitif), perubahan perilaku atau perubahan lingkungan yang bertujuan
untuk meyelesaikan stres yang dihadapi. Koping yang efektif akan
menghasilkan adaptasi. Koping dapat diidentifikasi melalui respon,
manifestasi (tanda dan gejala) dan pertanyaan klien dalam wawancara
(Keliat, 2006).

B. Sumber Koping
Menurut Stuart GW & Laraia (2006) mengemukakan sumber koping
ada 5 yaitu: aset ekonomi, kemampuan dan keterampilan, teknik-teknik
pertahanan, dukungan sosial serta dukungan motivasi.

C. Mekanisme Koping
Mekanisme Koping adalah tiap upaya yang diarahkan pada
penatalaksanaan stres, termasuk upaya penyelesaian masalah langsung dan
mekanisme pertahanan yang digunakan untuk melindungi diri (Stuart GW &
Laraia, 2006).

D. Penggolongan Mekanisme Koping


Mekanisme koping berdasarkan penggolongannya dibagi menjadi 2
(dua) (Stuart GW & Laraia, 2006) yaitu :
1. Mekanisme koping adiptif
Adalah mekanisme koping yang mendukung fungsi integrasi,
pertumbuhan, belajar dan mencapai tujuan. Kategorinya adalah berbicara
dengan orang lain, memecahkan masalah secara efektif, teknik relaksasi,
latihan seimbang dan aktivitas konstruktif.
2. Mekanisme koping maladaptif
Adalah mekanisme koping yang menghambat fungsi integrasi,
memecah pertumbuhan, menurunkan otonomi dan cenderung menguasai
lingkungan. Kategorinya adalah makan berlebihan / tidak makan, bekerja
berlebihan, menghindar.
STRES

A. Pengertian
Stres adalah satu kondisi ketika individu berespons terhadap
perubahan dalam status keseimbangan normal (Kozier, 2011).
Menurut Santrock (2003) stres merupakan respon individu terhadap
keadaan atau kejadian yang memicu stres (stressor), yang mengancam dan
mengganggu kemampuan seseorang untuk menanganinya (coping).
Selye (dalam Munandar, 2001) menyatakan bahwa stres adalah
tanggapan menyeluruh dari tubuh terhadap setiap tuntutan yang dating
atasnya. Jadi stres bersifat subyektif tergantung bagaimana orang tersebut
memandang kondisi penyebab stress (stressor).

B. Faktor Penyebab Stres


1. Faktor biologis/fisiologis, berupa ancaman akan kekurangan makanan,
minuman, perlindungan dan keamanan.
2. Faktor psikososial, yaitu ancaman terhadap konsep diri, kehilangan
orang/benda yang dicintai, perubahan status sosial/ekonomi.
3. Faktor perkembangan, yaitu ancaman pada perkembangan masa bayi,
anak, remaja.

C. Komplikasi yang Terjadi


Komplikasi Stres yaitu penyakit yang ditimbulkan akibat stress yang
berkepanjangan (Stuart, 2005). Stres yang tidak dapat dikendalikan dan
berkepanjangan dapat menyebabkan perubahan fungsi organ tubuh yang
sangat vital antaranya yaitu :
1. Pengaruh langsung:
a. Jantung dan pembuluh darah: Peningkatan tekanan darah, kelainan
irama denyut jantung sampai hal yang sangat parah yaitu kegagalan
jantung.
b. Mental dan kejiwaan, Gangguan mental /kejiwaan ringan sampai
parah dapat ditimbulkan dan atau diperparah akibat stress yang tidak
dikendalikan.
2. Pengaruh tidak langsung:
Stress dapat mempengaruhi metabolisme tubuh yang berdampak
penurunan atau penambahan berat badan, gangguan fungsi pencernaan
ringan sampai berat, gangguan fungsi hati dan ginjal.

D. Tanda dan Gejala Stres


1. Susah Fokus dan Berkonsestrasi
2. Sakit Kepala Berkepanjangan
3. Pikiran Anda Selalu Kosong
4. Punggung dan Leher Pegal Terus Menerus
5. Pra Menstruasi Bisa Bertambah Buruk
6. Mengalami Kerontokan Rambut Yang Parah
7. Terus Menerus Mengalami Sakit
8. Nafsu Makan Menurun
9. Perubahan Mood Yang Cepat
10. Berubah-ubah Kebiasaan Tidur
11. Nyeri Otot
12. Mudah Lelah
13. Berat Badan Naik Turun Secara Tiba-tiba

E. Pengobatan Stres
1. Reframing: maknai ulang apa yang terjadi dengan lebih positif.
2. Lihat gambaran besarnya: apa sebenarnya yang terjadi jika terjadi dalam
sebulan atau 1 tahun apa yang lebib baik?
3. Atur standar anda–buat standar yang mudah dicapai dan tidak terlalu
muluk.
4. Hipnoterapi.
5. Konseling.

F. Macam-macam Stres
Berikut ini adalah beberapa jenis stres yang perlu Anda kenali
(Munandar, 2001):
1. Stres baik
Stres tidak hanya dipicu sepenuhnya oleh pengalaman negatif.
Bahkan, pengalaman positif juga dapat membawa stres, seperti upacara
kelulusan atau pernikahan. Namun, tipe stres seperti ini dalam dosis kecil
sebenarnya baik untuk sistem imun kita. Selain itu, tipe stres ini juga
dapat membuat banyak orang lebih mudah untuk menciptakan tujuan dan
menikmati proses mencapainya dengan penuh energi.
2. Distres internal
Ini adalah tipe stres yang buruk. Distres merupakan tipe stres
negatif hasil dari pengalaman buruk, ancaman, atau perubahan situasi
yang tidak terduga dan tidak nyaman.
3. Distres akut
Distres akut terjadi ketika seseorang mengalami distres yang
dipicu oleh peristiwa buruk yang berlalu dengan cepat. Sementara stres
kronik terjadi ketika seseorang harus menahan stres dalam waktu yang
lama. Kedua tipe stres ini akan memicu timbulnya hiperstres.
4. Hipostres
Hipostres merupakan “ketidakadaan” stres, tetapi bisa juga
diartikan kebosanan yang ekstrem. Seseorang yang mengalami hipostres
mungkin merasa tidak tertantang, tidak memiliki motivasi untuk
melakukan apa pun. Hipostres dapat memicu perasaan depresi dan kesia-
siaan.
5. Eustres
Eustres merupakan stres yang sangat berguna lantaran dapat
membuat tubuh menjadi lebih waspada. Eustres membuat tubuh dan
pikiran menjadi siap untuk menghadapi banyak tantangan, bahkan bisa
tanpa disadari.

G. Cara Mengatasi Stres


Untuk mencegah dan mengatasi stres agar tidak sampai ke tahap yang
paling berat, maka dapat dilakukan dengan cara :
1. Pengaturan Diet dan Nutrisi
2. Istirahat dan Tidur
3. Olah Raga atau Latihan Teratur
4. Berhenti Merokok
5. Tidak Mengkonsumsi Minuman Keras
6. Pengaturan Berat Badan
7. Pengaturan Waktu
8. Terapi Psikofarmaka
9. Terapi Somatik
10. Psikoterapi
11. Terapi Psikoreligius

H. Tahap Stres
1. Stres tahap pertama (paling ringan), yaitu stres yang disertai perasaan
nafsu bekerja yang besar dan berlebihan, mampu menyelesaikan
pekerjaan tanpa memperhitungkan tenaga yang dimiliki, dan penglihatan
menjadi tajam.
2. Stres Tahap kedua, yaitu stres yang disertai keluhan, seperti bangun pagi
tidak segar dan letih, lekas capek pada saat menjelang sore, lekas lelah
sesudah makan, tidak dapat rileks, lambung atau perut tidak nyaman
(bowel discomfort), jantung berdebar, otot tengkung dan punggung
tegang. Hal tersebut karena cadangan tenaga tidak memadai.
3. Stres tahap ketiga, yaitu tahapan stres dengan keluhan, seperti defekasi
tidak teratur (kadang-kadang diare), otot semakin tegang, emosional,
insomnia, mudah terjaga dan sulit tidur kembali (middle insomnia),
bangun terlalu pagi dan sulit tidur kembali (late insomnia), koordinasi
tubuh terganggu, dan mau jatuh pingsan.
4. Stres tahap keempat, tahapan stres dengan keluhan, seperti tidak mampu
bekerja sepanjang hari (loyo), aktivitas pekerjaan terasa sulit dan
menjenuhkan, respons tidak adekuat, kegiatan rutin terganggu, gangguan
pola tidur, sering menolak ajakan, konsentrasi dan daya ingat menurun,
serta timbul ketakutan dan kecemasan.
5. Stres tahap kelima, tahapan stres yang ditandai dengan kelelahan fisik
dan mental (physical dan psychological exhaustion), ketidakmampuan
menyelesaikan pekerjaan berat, meningkatnya rasa takut dan cemas ,
bingung dan panik.
6. Stres tahap keenam (paling berat), yaitu tahapan stres dengan tanda-
tanda, seperti jantung berdebar keras, sesak napas, badan gemetar,
dingin, dan banyak keluar keringat, loyo, serta pingsan atau collaps.
HARGA DIRI

A. Pengertian
Harga diri adalah penilaian individu tentang nilai personal yang
diperoleh dengan menganalisis seberapa sesuai perilaku dengan ideal diri
(Stuart, 2005).
Harga diri merupakan penilaian individu terhadap kehormatan dirinya,
yang diekspresikan melalui sikap terhadap dirinya. Sementara itu, Buss
memberikan pengertian harga diri (self esteem) sebagai penilaian individu
terhadap dirinya sendiri, yang sifatnya implisit dan tidak diverbalisasikan
(Stuart, 2006).

B. Aspek Harga Diri


1. Keberartian Diri (Significance)
Hal itu membuat individu cenderung mengembangkan harga diri
yang rendah atau negatif. Jadi, berhasil atau tidaknya individu memiliki
keberartian diri dapat diukur melalui perhatian dan kasih sayang yang
ditunjukkan oleh lingkungan.
2. Kekuatan Individu (Power)
Kekuatan di sini berarti kemampuan individu untuk
mempengaruhi orang lain, serta mengontrol atau mengendalikan orang
lain, di samping mengendalikan dirinya sendiri.
3. Kompetensi (Competence)
Kompetensi diartikan sebagai memiliki usaha yang tinggi untuk
mendapatkan prestasi yang baik, sesuai dengan tahapan usianya.
4. Ketaatan Individu Dan Kemampuan Memberi Contoh (Virtue)
Ketaatan individu terhadap aturan dalam masyarakat serta tidak
melakukan tindakan yang menyimpang dari norma dan ketentuan yang
berlaku di masyarakat akan membuat individu tersebut diterima dengan
baik oleh masyarakat.

C. Sumber
1. Penghargaan dari diri sendiri
Penghargaan dari diri sendiri yaitu kepercayaan bahwa individu
terasa safe bersama suasana dirinya, terasa punya nilai dan kuat.
2. Penghargaan dari orang lain
Penghargaan ini dikaitkan bersama penerimaan, perhatian dan
termasuk afeksi yang ditunjukkan lingkungan.

D. Komponen Harga Diri


1. Perasaan Diterima (felling of belonging)
Perasaan individu bahwa dirinya merupakan bagian dari suatu
grup dan dirinya diterima layaknya dihargai bagian kelompoknya.
Kelompok selanjutnya bisa berbentuk keluarga, teman sebaya atau grup
lainnya.
2. Perasaan Mampu (Felling of competence)
Perasaan dan kepercayaan individu dapat kekuatan yang ada
terhadap dirinya sendiri di dalam mencapai suatu hasil yang dikehendaki
bila perasaan seseorang selagi mengalami kesuksesan atau kegagalan.
3. Perasaan Berharga (felling of worth)
Perasaan dimana individu terasa dirinya punya nilai atau tidak,
dimana perasaan ini banyak berbujuk pengalaman yang lalu. Perasaan
yang dimiliki individu yang sering kali ditampilkan dan berasal dari
pertanyaan yang berbentuk privat layaknya pintar, sopan, baik dan lain
sebagainya

E. Faktor yang Mempengaruhi


1. Faktor Predisposisi
a. Faktor yang memiliki harga diri meliputi pendataan orang lain,
harapan orang tua yang tidak realistis, kegagalan yang berulang kali,
kurang mempunyai tanggung jawab personal, ketergantungan pada
orang lain dan ideal diri yang tidak realistis.
b. Faktor yang mempengaruhi penampilan peran adalah peran seks,
tuntutan peran kerja, harapan peran kultural.
c. Faktor yang mempengaruhi identitas personal, meliputi ketidak
percayaan orang tua tekanan dari kelompok sebaya, perubahan dalam
stuktural sosial.
2. Faktor Presipitasi
a. Trauma seperti penganiayaan seksual dan psikologis atau
menyaksikan kejadian yang mengancam kehidupannya.
b. Ketegangan peran berhubungan dengan peran atau posisi yang
diharapkan dimana individu mengalaminya sebagai frustasi.
c. Transisi Peran situasi adalah terjadi dengan bertambah atau
berkurangnya anggota keluarga melalui kelahiran dan kematian.
d. Transisi peran sehat sakit akibat pergeseran dari keadaan sehat ke
sakit dicetuskan oleh kehilangan bagian tubuh, perubahan ukuran
bentuk, penampilan, fungsi tubuh, perubahan fisik berhubungan
dengan tumbang normal moral dan prosedur medis keperawatan.

F. Cara Menumbuhkan dan Meningkatkan Harga Diri


1. Hindari perilaku yang merugikan bagi diri sendiri.
2. Jaga nama baik.
3. Jangan membandingkan diri dengan orang lain.
4. Hargai diri sendiri.
5. Berpakaian sopan dan rapi.
6. Hindari orang yang banyak berfikir negatif.
7. Jalin hubungan baik dengan diri sendiri.
8. Jangan menyalahkan orang lain.
9. Perbaiki diri.
10. Mulai hari dengan senyuman.
11. Perluas wawasan.
12. Bangun simpati dan empati bersama orang lain.
13. Lakukan usaha nyata dan katakan anda bisa dan mampu.
HALUSINASI

A. Pengertian
Halusinasi merupakan gangguan atau perubahan persepsi dimana
klien mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi. Suatu penerapan
panca indra tanpa ada rangsangan dari luar. Suatu penghayatan yang dialami
suatu persepsi melalui panca indra tanpa stimulus eksteren/ persepsi palsu
(Maramis, 2005).
Halusinasi adalah pengalaman panca indera tanpa adanya rangsangan
(stimulus) misalnya penderita mendengar suara-suara, bisikan di telinganya
padahal tidak ada sumber dari suara bisikan itu (Hawari, 2001).

B. Jenis Halusinasi
1. Pendengaran: Mendengar suara atau kebisingan, paling sering suara
orang. Suara berbentuk kebisingan yang kurang jelas sampai kata-kata
yang jelas berbicara tentang klien, bahkan sampai pada percakapan
lengkap antara dua orang yang mengalami halusinasi. Pikiran yang
terdengar dimana klien mendengar perkataan bahwa klien disuruh untuk
melakukan sesuatu kadang dapat membahayakan.
2. Penglihatan: Stimulus visual dalam bentuk kilatan cahaya, gambar
geometris,gambar kartun,bayangan yang rumit atau kompleks. Bayangan
bias menyenangkan atau menakutkan seperti melihat monster.
3. Penghidu: Membaui bau-bauan tertentu seperti bau darah, urin, dan feses
umumnya bau-bauan yang tidak menyenangkan. Halusinasi penghidu
sering akibat stroke, tumor, kejang, atau dimensia.
4. Pengecapan: Merasa mengecap rasa seperti rasa darah, urin atau feses.
5. Perabaan: Mengalami nyeri atau ketidaknyamanan tanpa stimulus yang
jelas. Rasa tersetrum listrik yang datang dari tanah, benda mati atau
orang lain.
6. Cenesthetic: Merasakan fungsi tubuh seperti aliran darah di vena atau
arteri, pencernaan makan atau pembentukan urine
7. Kinisthetic: Merasakan pergerakan sementara berdiri tanpa bergerak.
C. Tahapan Halusinasi
1. Tahap I : halusinasi bersifat menyenangkan
Gejala klinis :
a. Menyeringai/ tertawa tidak sesuai
b. Menggerakkan bibir tanpa bicara
c. Gerakan mata cepat
d. Bicara lambat
e. Diam dan pikiran dipenuhi sesuatu yang mengasikkan
2. Tahap 2 : halusinasi bersifat menjijikkan
Gejala klinis :
a. Cemas
b. Konsentrasi menurun
c. Ketidakmampuan membedakan nyata dan tidak nyata
3. Tahap 3 : halusinasi yang bersifat mengendalikan
Gejala klinis :
a. Cenderung mengikuti halusinasi
b. Kesulitan berhubungan dengan orang lain
d. Perhatian atau konsentrasi menurun dan cepat berubah
e. Kecemasan berat (berkeringat, gemetar, tidak mampu mengikuti
petunjuk)
4. Tahap 4 : halusinasi bersifat menaklukkan
Gejala klinis :
a. Pasien mengikuti halusinasi
b. Tidak mampu mengendalikan diri
c. Tidak mampu mengikuti perintah nyata
d. Beresiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan
PERAN PERAWAT DALAM MENANGANI PASIEN JIWA

A. Pengertian
Peran pada dasarnya adalah seperangkat tingkah laku yang
diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang, sesuai kedudukannya dalam
suatu sistem. Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun
dari luar yang besifat stabil (Kozier dan Barbara, 2004).
Peran perawat merupakan tingkah laku yang diharapkan baik oleh
individu, keluarga maupun masyarakat terhadap perawat sesuai
kedudukannya dalam sistem pelayanan kesehatan (Kusnanto, 2005).
Peran perawat adalah segenap kewenangan yang dimiliki oleh
perawat untuk menjalankan tugas dan fungsinya sesuai kompetensi yang
dimilikinya (Gaffar, 2005).

B. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Peran


Menurut Green Lawrence dalam (Notoatmojo, 2005) perilaku
dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu:
1. Predisposing factors
Faktor-faktor ini mencakup pengetahuan dan sikap masyarakat
terhadap kesehatan, tradisi dan kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal
yang berkaitan dengan kesehatan, sistem nilai yang dianut masyarakat,
tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi dan sebagainya.
2. Enabling factors
Faktor-faktor ini mencakup ketersediaan sarana dan prasarana
atau fasilitas kesehatan, bagi masyarakat misalnya air bersih, tempat
pembuangan tinja. Ketersedian makanan yang bergizi dan sebagai-nya.
Temasuk juga fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas, rumah
sakit, poliklinik, posyandu, polindes, pos obat desa, dokter atau bidan,
praktek swasta dan sebagainya.
3. Reinforcing factors
Faktor-faktor ini meliputi faktor sikap dan perilaku tokoh
masyarakat, tokoh agama, sikap dan perilaku para petugas kesehatan.
Untuk berperilaku sehat masyarakat kadang-kadang bukan hanya perlu
pengetahuan dan sikap positif, dan dukungan fasilitaf saja melainkan
diperlukan perilaku contoh (acuan) dari para tokoh masyarakat, tokoh
agama para petugas, lebih-lebih para petugas kesehatan.

C. Peran Perawat pada Pasien Gangguan Jiwa


Peran perawat menurut konsorium ilmu kesehatan terdiri dari peran
sebagai pemberi asuhan keperawatan, advokad pasien, pendidik, koordinator,
konsultan, dan peneliti yang dapat digambarkan sebagai berikut (Hidayat,
2008) terdiri dari :
1. Peran sebagai pemberi asuhan keperawatan
Peran ini dapat dilakukan perawat dengan memperhatikan
keadaan kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan melalui pemberian
pelayanan keperawatan dengan menggunakan proses keperawatan.
2. Peran sebagai advokat pasien
Peran ini dilakukan perawat dalam membantu pasien dan
keluarganya dalam menginterpretasikan berbagai informasi dari pemberi
pelayanan atau informasi lain khususnya dalam pengambilan persetujuan
atas tindakan keperawatan yang diberikan kepada pasien. Juga dapat
berperan mempertahankan dan melindungi hak-hak pasien yang meliputi
hak atas pelayanan sebaik-baiknya, hak atas informasi tentang
penyakitnya dan hak atas privasi.
3. Peran educator
Peran ini dilakukan dengan membantu pasien dalam
meningkatkan tingkat pengetahuan kesehatan, gejala penyakit bahkan
tindakan yang diberikan, sehingga terjadi perubahan perilaku dari pasien
setelah dilakukan pendidikan kesehatan.
4. Peran coordinator
Peran ini dilaksanakan dengan mengarahkan, merencanakan
serta mengorganisasi pelayanan kesehatan dari tim kesehatan sehingga
pemberian pelayanan kesehatan dapat terarah serta sesuai dengan
kebutuhan pasien.
5. Peran kolaborator
Peran perawat di sini dilakukan karena perawat bekerja melalui
tim kesehatan yang terdiri dari dokter, fisioterapis, ahli gizi dan lain-lain
dengan berupaya mengidentifikasi pelayanan keperawatan yang
diperlukan termasuk diskusi atau tukar pendapat dalam penentuan bentuk
pelayanan selanjutnya.
6. Peran konsultan
Di sini perawat berperan sebagai tempat konsultasi terhadap
masalah atau tindakan keperawatan yang tepat untuk diberikan. Peran ini
dilakukan atas permintaan pasien terhadap informasi tentang tujuan
pelayanan keperawatan yang diberikan.
KONSEP DIRI

A. Pengertian
Konsep diri (self-concept) merupakan bagian dari masalah
kebutuhan psikososial yang tidak didapat sejak lahir, akan tetapi dapat
dipelajari sebagai hasil dari pengalaman sesseorang terhadap dirinya. Konsep
diri ini berkembang secara bertahap sesuai dengan tahap perkembangan
psikososial seseorang (Stuart, 2006).

B. Komponen Konsep Diri


Konsep diri terdiri atas komponen-komponen berikut:
1. Citra tubuh adalah kumpulan dari sikap individu yang disadari dan tidak
disadari terhadap tubuhnya. Termasuk persepsi masa lalu dan sekarang,
serta perasaan tentang ukuran, fungsi, penampilan dan potensi yang
secara berkesinambungan dimodifikasi dengan persepsi dan pengalaman
baru.
2. Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana dia seharusnya
berprilaku berdasarkan standar, aspirasi, tujuan, atau nilai personal
tertentu.
3. Harga diri adalah penilaian individu tentang nilai personal yang diperoleh
dengan menganalisa seberapa baik prilaku seseorang sesuai dengan
identitas diri, harga diri yang tinggi adalah perasaan yang berakar dalam
penerimaan diri sendiri tanpa syarat, walaupun melakukan kesalahan,
kekalahan dan kegagalan, tetapi merasa sebagai seorang yang penting
dan berharga.
4. Penampilan peran adalah serangkaian pola prilaku yang diharapkan oleh
lingkungan sosial berhubungan dengan fungsi diberbagai kelompok
sosial. Peran yang ditetapkan adalah peran dimana seseorang tidak
mempunyai pilihan. Peran yang di terima adalah peran yang terpilih atau
dipilih oleh individu.
5. Identitas personal adalah pengorganisasian prinsip dari kepribadian yang
bertanggung jawab terhadap kesatuan, kesinambungan, konsistensi dan
keunikan individu. Pembentukan identitas dimulai pada masa bayi dan
terus berlangsung sepanjang hidupnya, tetapi merupakan tugas utama
pada masa remaja. Gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai
perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, merasa
gagal mencapai keinginan.

C. Jenis-Jenis Konsep diri


Menurut Rahkmat (2005), bahwa dalam menilai dirinya seseorang
ada yang menilai positif dan ada yang menilai negatif.
1. Konsep Diri Positif
a. Yakin akan kemampuan dalam mengatasi masalah.
b. Merasa setara dengan orang lain.
c. Menerima pujian tanpa rasa malu.
d. Menyadari bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan dan
keinginan serta perilaku yang tidak seharusnya disetujui oleh
masyarakat.
e. Mampu memperbaiki karena ia sanggup mengungkapkan aspek-
aspek kepribadian tidak disenangi dan berusaha mengubahnya.
2. Konsep Diri Negatif
a. Peka terhadap kritik.
b. Responsif sekali terhadap pujian.
c. Cenderung bersikap hiperkritis.
d. Cenderung merasa tidak disenangi oleh orang lain.
e. Bersikap psimis terhadap kompetisi.
PENYEBAB PASIEN GANGGUAN JIWA MENGAMUK

A. Pengertian
Gangguan jiwa mengamuk adalah suatu keadaan di mana seseorang
melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik, baik kepada diri
sendiri maupun orang lain. Sering di sebut juga gaduh gelisah atau amuk di
mana seseorang marah berespon terhadap suatu stressor dengan gerakan
motorik yang tidak terkontrol (Yosep, 2007).

B. Penyebab
1. Faktor Predisposisi
a. Psikologis
b. Perilaku
c. Sosial Budaya
d. Bioneurologis
2. Faktor Presipitasi
Faktor-faktor yang dapat mencetuskan perilaku kekerasan sering kali
berkaitan dengan (Yosep, 2007):
a. Ekspresi diri, ingin menunjukkan eksistensi diri atau simbol
solidaritas seperti dalam sebuah konser, penonton sepak bola, geng
sekolah, perkelahian masal dan sebagainya.
b. Ekspresi dari tidak terpenuhinya kebutuhan dasar dan kondisi sosial
ekonomi.
c. Kesulitan dalam mengkomunikasikan sesuatu dalam keluarga serta
tidak membiasakan dialog untuk memecahkan masalah cenderung
melalukan kekerasan dalam menyelesaikan konflik.
d. Ketidaksiapan seorang ibu dalam merawat anaknya dan
ketidakmampuan dirinya sebagai seorang yang dewasa.
e. Adanya riwayat perilaku anti sosial meliputi penyalahgunaan obat dan
alkoholisme dan tidak mampu mengontrol emosinya pada saat
menghadapi rasa frustasi.
f. Kematian anggota keluarga yang terpenting, kehilangan pekerjaan,
perubahan tahap perkembangan, atau perubahan tahap perkembangan
keluarga.
C. Cara Mengatasi Pasien Gangguan Jiwa Mengamuk
Dalam menangani pasien yang mengamuk sebaiknya dilakukan oleh
sebuah team yang sudah terlaltih. Beberapa prinsip yang perlu dilaksanakan
adalah:
1. Jaga jarak
2. Jangan melakukan konfrontasi atau menantang penderita
3. Ajak penderita untuk bicara
4. Bicara jelas dan pendek.
5. Kenali kebutuhan dan keinginan penderita
6. Dengarkan dengan sungguh sungguh apa yang dikatakannya.
7. Setuju atau setuju untuk tidak setuju
8. Sampaikan ketentuan dan peraturan yang harus diikuti.
9. Berikan berbagai pilihan dan optimisme
10. Berikan penjelasan singkat kepada penderita dan keluarga bila diperlukan
tindakan paksa (mengikat pasien atau memberi suntikan)
DAFTAR PUSTAKA

A.S. Munandar. (2001). Psikologi Industri dan Organisasi. Depok : Penerbit


Universitas Indonesia (UI Press).

Barbara, Kozier, (2008), Fundamental of Nursing, Seventh Edition, Vol.2,


Jakarta: EGC

Davison, G.C & Neale J.M. (2006). Psikologi Abnormal. Jakarta: Raja Grafindo
Persada.

Depkes RI., (2000), Keperawatan Jiwa Teori dan Tindakan Keperawatan,


Jakarta: Depkes RI.

Gaffar, L. O. (2005). Pengantar Keperawatan Profesional . Jakarta: EGC.

Handayani, (2000). Efektifitas Pelatihan Pengenalan terhadap Peningkatan


Penerimaan Diri Pada Remaja. Insan, Vol 2, No l, edisi Nopember.

Hawari, Dadang. 2001. Manajemen Stres, Cemas, dan Depresi. Jakarta : Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia

Keliat, B.A., (2001), Gangguan Konsep Diri. Jakarta: EGC.

__________, (2005), Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, Edisi 2, EGC, Jakarta.

___________, (2006). Proses Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC

Kozier, B. (2011). Fundamental Keperawatan. Jakarta: EGC.

Kusnanto. (2005). Pengantar Profesi dan Praktik Keperawatan Profesional.


Jakarta: EGC.

Maramis, W.F. (2005). Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Ed. 9 Surabaya: Airlangga
University Press.

Notoademodjo, S. (2005). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka


Cipta

Rahmat. J. (2005). Psikologi Komunikasi, Rineka Cipta, Jakarta.

Riyadi, Sujono dan Purwanto, Teguh (2009), Asuhan Keperawatan Jiwa (Edisi1),
Cetakan pertama, Yogyakarta : Graha Ilmu

Santrock (2003). John W. Adolescence. Perkembangan Remaja. Edisi Keenam.


Jakarta: Erlangga
Stuart GW & Laraia, (2005), Principles and practice of psychiatric nursing,
Elsevier Mosby, Alih Bahasa Budi Santosa, Philadelphia.

________________.(2007). Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi 5. Jakarta. EGC.

________________. 2006. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC

Yosep, Iyus. (2007). Keperawatan Jiwa. Bandung : Refika Aditama.