Anda di halaman 1dari 6

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perilaku hidup bersih dan sehat terutama kebersihan perseorangan di

lingkungan pondok pesantren pada umumnya kurang mendapatkan perhatian

dari santri. Kurangnya perhatian dari santri ini disebabkan karena santri belum

memahami tentang kesehatan dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)

dan perwatan diri (self care) santri masih kurang seperti tidak mencuci tangan

sebelum makan, menggantung pakaian di kamar, dan saling bertukar pakaian,

benda pribadi seperti sisir dan handuk, tidak pernah olahraga, dan sampah

berserahkan di lantai-lantai.

Kurangnya pemahaman santri terhadap Perilaku Hidup Bersih dan Sehat

(PHBS) dipengaruhi oleh beberapa faktor yang berasal dari dalam diri

individu (internal) berupa kecerdasan, persepsi, motivasi, minat dan emosi

untuk memproses pengaruh dari luar. Faktor yang berasal dari luar (eksternal)

meliputi objek, orang kelompok, dan hasil-hasil kebudayaaan yang dijadikan

sasaran dalam mewujudkan bentuk perilakunya. Promosi kesehatan yang

berisi nilai-nilai kesehatan yang berasal dari luar diri individu, cenderung

dapat mempengaruhi kondisi internal dan eksternal individu atau masyarakat

(Notoatmodjo, 2010).

Fakta sebagian pesantren tumbuh dan berkembang di lingkungan yang

kumuh, kotor, lembab, jamban yang kurangnya perawatan, dan sanitasi yang

buruk (Badri, 2007). Hal ini dikarenakan para santri mempunyai sifat

kesederhanaan dan kurangnya fasilitas dan sarana yang ada di pondok

1
2

pesantren itu sendiri dan menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi

perilaku kesehatan bagi santri di lingkungan pondok pesantren. Terdapat pula

faktor-faktor lain yang mempengaruhi perilaku hidup bersih dan sehat santri

adalah kurangnya promosi kesehatan dari pondok pesantren itu sendiri

maupun dari berbagai pihak seperti puskesmas dan tim kesehatan lainnya

(Ikhwanudin, 2013).

Penelitian Kesehatan Nasional pada 2013 Kementerian Kesehatan RI,

hanya 32,3% orang yang belajar mencapai perilaku hidup bersih dan sehat.

Selanjutnya, kondisi kesehatan umum di lingkungan pondok pesantren masih

memerlukan perhatian, dalam hal akses terhadap perawatan kesehatan,

perilaku sehat, dan aspek kesehatan lingkungan. Bukti menunjukkan bahwa

perilaku hidup bersih dan sehat santri di Pondok Pesantren buruk, mencakup

konsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan yang cukup (10,7%), mencuci

tangan dengan benar (47,2%), dan olahraga teratur (52,8%). Temuan ini

menunjukkan rendahnya perilaku hidup bersih dan sehat di Indonesia yang

mempengaruhi munculnya masalah perilaku dan kesehatan yang disebabkan

oleh lingkungan yang tidak sehat (Depkes, 2013).

Dalam hasil penelitian Fatmawati dan Saputra (2016) dengan judul

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Santri Pondok Pesantren As’ad dan Pondok

Pesantren Al-Hidayah Jambi masih didapat Perilaku Hidup Bersih dan Sehat

yang kurang baik, di Pondok Pesantren As’ad sebanyak 48,1 % dan di Pondok

Pesantren Al-Hidayah 32,3 %. Masih kurangnya Perilaku Hidup Bersih dan

Sehat (PHBS) dapat dipengaruhi oleh pengetahuan para santri yang tidak
3

memahami cara menjaga Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) karena

belum mendapatkan informasi mengenai PHBS di lingkungan pesantren.

Bukti Selanjutnya pada penelitian Hadi (2017) dengan judul Hubungan

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) terhadap angka kejadian diare akut

pada santri Pondok Tremas Kabupaten Pacitan, bahwa dari 51 santri terdapat

sebagian besar responden penelitian memeiliki Perilaku Hidup Bersih dan

Sehat (PHBS) yang kurang sehat sebanyak 30 (58,8%) santri, sedangkan

sebanyak 21 (41,2%) santri memeliki perilaku hidup bersih yang baik.

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti pada tanggal

09 Agustus 2017 terhadap 15 santri di Pondok Pesantren Al-Hidayah

Tanggulangin Sidoarjo, 10 santri dari mereka mengatakan dalam perawatan

diri (Self Care) seperti sebelum makan tidak mencuci tangan menggunakan

sabun, kadang jajan di luar kantin, biasanya menggunakan jamban yang kotor,

tidak pernah olahraga, tidak pernah menimbang berat badan dan mengukur

tinggi badan, kadang membuang sampah sembarangan (66,7%). 5 diantaranya

mengatakan bahwa perawatan diri (Self Care) sebelum makan mencuci tangan

menggunakan sabun terlebih dahulu, jajan di kantin karena sudah disediakan

oleh pondok pesantren, sebelum menggunakan jamban selalu disirim sampai

bersih, olahraga di kamar dengan gerakan-gerakan ringan, setiap libur selalu

menimbang berat badan dan tinggi badan di rumah masing-masing (33,3%).

Penyebab dari masalah kesehatan dan perilaku yang tidak sehat adalah

pengetahuan tentang hidup bersih dan sehat di lingkungan pondok pesantren

dan perawatan diri (Self Care) masih kurang terutama para santri. Informasi,

pengetahuan kesehatan, asumsi budaya kebersihan dan kesehatan masih


4

kurang. Hal ini disebabkan sumber informasi yang masuk ke dalam pondok

pesantren masih terbatas, sehingga dibutuhkan buku bacaan dan promosi

kesehatan tentang perilaku kesehatan dan kebersihan (Ikhwanudin, 2013).

Penelitian yang ada di pesantren di Jawa Timur, salah satunya penelitian

Rahardian (2008) mengenai kebersihan perorangan santri dan sanitasi pondok

pesantren putri KHA. Wahid Hasyim Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan.

Hasil penelitian menunjukkan kondisi sanitasi pondok pesantren masih kurang

baik dan kebanyakan para santri sering menderita flu, pusing, batuk, sakit

kepala, sakit gigi, penyakit kulit dan sebagainya.

Pemahaman santri terhadap self care untuk menjaga pola hidup bersih dan

sehat (PHBS) sejak dini akan mendorong tingkat kesadaran untuk melakukan

praktik perawatan diri (self care) yang tepat, sehingga dapat meningkatkan

kesehatan pada santri. Pengetahuan tentang self care pada Perilaku Hidup

Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan faktor penting dalam menentukan

perilaku hidup sehat.

Peran perawat sebagai pendidik melakukan upaya promotif dan preventif

yang mempunyai peranan penting untuk memberikan pendidikan kesehatan

tentang self care dalam berperilaku hidup sehat yang baik dan benar. Menurut

The Ottawa Charter dalam (WHO, 2013). Kebersihan diri para santri dan

lingkungan pondok pesantren menjadi permasalahan yang harus diperhatikan.

Oleh karena itu peneliti melakukan intervensi berupa pendidikan kesehatan

tentang self care agar para santri dapat menjaga kebersihan diri dan

lingkungannya.
5

B. Batasan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, penelitian ini memfokuskan

masalah tentang pengaruh pendidikan kesehatan tentang self care terhadap

perubahan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada santri Kamar Al-

Firdaus 18 dan 22 di Pondok Pesantren Al-Hidayah Tanggulangin Sidoarjo.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, rumusan masalah penelitian ini

adalah “adakah pengaruh pendidikan kesehatan tentang self care terhadap

perubahan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada santri Kamar Al-

Firdaus 18 dan 22 di Pondok Pesantren Al-Hidayah Tanggulangin Sidoarjo ?”

D. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum.

Mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan tentang self care terhadap

perubahan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada santri Kamar Al-

Firdaus 18 dan 22 di Pondok Pesantren Al-Hidayah Tanggulangin Sidoarjo.

2. Tujuan Khusus.

a. Mengidentifikasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada santri

Kamar Al-Firdaus 18 dan 22 sebelum dilakukan pendidikan kesehatan

tentang self care di Pondok Pesantren Al-Hidayah Tanggulangin Sidoarjo.

b. Mengidentifikasi perubahan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)

pada santri Kamar Al-Firdaus 18 dan 22 sesudah dilakukan pendidikan

kesehatan tentang self care di Pondok Pesantren Al-Hidayah Tanggulangin

Sidoarjo.
6

c. Menganalisis pengaruh pendidikan kesehatan tentang self care terhadap

perubahan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada santri Kamar Al-

Firdaus 18 dan 22 di Pondok Pesantren Al-Hidayah Tanggulangin

Sidoarjo.

E. Manfaat Penelitian

1. Manfaat secara teoritis.

Hasil penelitian ini dapat dijadikan tambahan ilmu bagi profesi

keperawatan khususnya tentang pengaruh pendidikan kesehatan tentang self

care terhadap perubahan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) santri.

2. Manfaat secara praktis.

a. Bagi peneliti

Menambah wawasan peneliti mengenai pengaruh pendidikan kesehatan

tentang self care terhadap perubahan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)

santri dan dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

b. Bagi tempat penelitian

Mengharapkan hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan bagi

santri khususnya Kamar Al-Firdaus 18 dan 22 di Pondok Pesantren Al-

Hidayah Tanggulangin Sidoarjo agar bisa menerapkan cara berperilaku hidup

bersih dan sehat dengan baik dan benar.

c. Bagi institusi

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi dan wacana

kepustakaan dan juga dapat digunakan sebagai referensi untuk penelitian

selanjutnya.