Anda di halaman 1dari 3

MAGNETIC RESONANCE IMAGING (MRI)

A. Pendahuluan
Magnetic Resonance Imaging (MRI) merupakan salah satu teknik
pemeriksaan diagnostik dalam ilmu kedokteran. Pada awalnya, MRI dikenal dengan
NMR (Nuclear Magnetic Resonance) kemudian diganti karena konotasi negatif dari
kata “nuklir”. Akan tetapi prinsip dasar keduanya sama. Secara prinsip pemeriksaan
MRI mengunakan bahan hidrogen dan interaksinya dengan kedua medan magnet
eksternal dan gelombang radio yang akan menghasilkan gambaran tubuh manusia
dengan detail.
Magnetic Resonance Imaging (MRI) juga sebagai alternatif pemeriksaan pada
individu dengan alergi kontras. MRI dapat memberikan keuntungan dalam penilaian
terhadap massa kecil dalam ginjal. Magnetic Resonance Angiografi telah terbukti
dapat menilai adanya stenosis pada arteri ginjal tengah dan proksimal.

B. Tata Cara Pemeriksaan


Tatacara pemeriksaan MRI, yaitu
1. Mengisi formulir Pemeriksaan MRI
2. Berganti baju, dengan baju khusus dari Rumah sakit
3. Melepaskan segala sesuatu yang bersifat logam yang menempel di tubuh
4. Jika pemeriksaan menggunkan kontras, maka akan dipasang kateter IV
5. Berbaring persiapan untuk scaner
6. Medan magnetik pada scanner (biasanya 1 atau 1,5 Tesla) mensejajarkan proton
di dalam tubuh pasien pada aksis longitudinal sejajar medan magnet
7. Dikirimkan pulse elektromagnetik ke dalam scanner sehingga menyebabkan
reorientasi dari proton (biasanya 90̊ terhadap medan eksternal), selanjutnya pulse
dihentikan dan proton akan kembali relaks
8. Pada saat Proton sudah sejajar dan relaks maka dipancarkan signal radio frekuensi
yang ditangkap oleh antena pada scanner.
9. Signal akan diproses menggunakan komputer dengan program software yang
digunakan untuk menghasilkan gambar dari multiple organ pada potongan
orthogonal.

C. Indikasi
Indikasi pemeriksaan MRI terutama untuk pemeriksaan sistem saraf pusat (otak,
tulang belakang) dan persendian (muskuloskeletal). Indikasi lainnya adalah untuk
pemeriksaan thorax (mediastinum), kardiovaskular (jantung), abdomen (organ
viseral), ginekologik dan urogenital.
D. Kontraindikasi
Pada beberapa keadaan yang tidak di sarankan untuk melakukan MRI, yaitu antara
lain pada penderita dengan alat pacu jantung, cochlear implant, adanya klip penjepit
arteri, aorta, dan aneurisma serta benda asing yang bersifat feromagnetik dalam organ
tubuh. Hal lain yang menjadi kendala adalah waktu pemeriksaan yang cukup lama
sehingga tidak di peruntukkan untuk pasien dengan keadaan gawat darurat, non-
kooperatif (kecuali dengan anastesi umum) dan klaustrofobia (takut berada di ruangan
sempit/terowongan.
E. Penyakit sistem urinari
Pada sistem urinari, pemeriksaan MRI dapat digunakan pada kasus :
 Ginjal
1. Sumbata ureter
2. Fibrolipomatosis
Dapat dibedakan dengan kista parapelvis, karena cairan dan lemak dapat
dibedakan.
3. Infeksi
Pada infeksi kronis sukar untuk membedakan medula dan korteks. Pada
infeksi kronis, ginjal tampak mengecil
4. Kista ginjal
Mudah diketahui bila tanpa infeksi atau perdarahan.
5. Tumor

MRI, seperti CT dan USG, dapat membekan jaringan padat dengan kista.
Akan tetapi MRI dapat membedakan stadium tumor ganas lebih baik di
banding CT, keuntungan lain pada MRI ialah dapat mengenal lebih baik
penjalaran tumor ke vena renalis dan vena kava. Invasi dini pada vena
dapat diketahui sama telitinya pada pemeriksaan angiografi. Dan juga
penjalaran tumor yang menyebabkan trombus pada vena kava dapat
diketahui.
 Kandung Kemih
Tumor dikandung kemih dapat diketahui karena ada perbedaan yang jelas
antara urin dengan dinding kandung kemih. Demikian pula infiltrasi dari luar
dinding kandung kemih dapat diketahui.
F. Gambar

MRI : tumor pada ginjal


Non-muscle-invasive bladder cancer. (a) T2-WI shows a papillary tumor on the left wall of the bladder. (b) Gadolinium-enhanced image
shows vessels feeding the tumor in the stalk.

Dapus

Rasad, Sjahriar. 2016.Radiologi Diagnostik edisi kedua. Jakarta.Devisi Radiodiagnostik,


Departemen Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rumah Sakit Dr. Cipto
Mangunkusumo

Satyanegara. 2010. Ilmu Bedah Saraf Satyanegara edisi IV. Jakarta. PT Gramedia Pustaka
Utama

Yueniwati, yuyun. 2014. Prosedur Pemeriksaan Radiologi untuk Mendeteksi Kelainan dan
Cedera Tulang Belakang. Malang.UB press

https://emedicine.medscape.com/article/2165400-overview#a6 di akses tanggal 13-04-2018

https://radiologykey.com/functional-ct-and-mri-of-the-urinary-system-and-adrenal-glands/
diakses tanggal 15-04-2018