Anda di halaman 1dari 2

SWAMEDIKASI DISMENORE PADA REMAJA

Masa remaja merupakan masa peralihan dimana individu sudah matang secara fisiologik,
psikologik, mental, emosional, dan sosial. Pada remaja yang sudah pubertas ditandai dengan
terjadinya haid atau menstruasi. Haid pertama kali yang dialami disebut menarke, yang pada
umumnya terjadi pada usia 14 tahun. Menarke merupakan pertanda berakhirnya masa pubertas,
masa peralihan dari masa anak menuju dewasa. Sejumlah besar wanita usia reproduksi
mengalami setidaknya beberapa bentuk gejala sebelum dan saat mengalami menstruasi,
diantaranya PMS (Premenstrual Syndrome) dan dismenore.
Dismenore (nyeri haid) adalah nyeri perut yang berasal dari kram rahim yang terjadi
selama haid. Dismenore merupakan masalah ginekologis yang paling umum dialami wanita baik
remaja maupun dewasa. Faktor risiko terjadinya antara lain:
1) menarke usia dini,
2) riwayat keluarga dengan keluhan dismenore,
3) Indeks Masa Tubuh yang tidak normal,
4) kebiasaan memakan makanan cepat saji,
5) gangguan perdarahan uterus saat haid,
6) masalah psikososial.
Tanda-tanda dismenore yang banyak dialami oleh remaja adalah kekakuan atau kejang di
bagian bawah perut, mudah marah, gampang tersinggung, mual, muntah, kenaikan berat badan,
perut kembung, punggung terasa nyeri, sakit kepala, timbul jerawat, lesu, dan depresi. Gejala ini
datang sehari sebelum haid dan berlangsung 2 hari sampai berakhirnya masa haid.
Dismenore terdiri dari dismenore primer dan sekunder. Sebanyak lebih dari 50% dari
wanita haid mengalami dismenore primer. Dismenore primer merupakan nyeri haid yang tidak
didasari kondisi patologis, sedangkan dismenore sekunder merupakan nyeri haid yang didasari
dengan kondisi patologis seperti ditemukannya endometriosis atau kista ovarium. Onset awal
dismenore primer biasanya terjadi dalam waktu 6 sampai 12 bulan setelah menarke dengan
durasi nyeri umumnya 8 sampai 72 jam. Dismenore primer terjadi karena peningkatan
prostaglandin (PG) yang merupakan suatu siklooksigenase (COX-2) yang mengakibatkan
hipertonus dan vasokonstriksi pada miometrium sehingga terjadi iskemia dan nyeri pada bagian
bawah perut, sedangkan dismenore sekunder disebabkan adanya masalah patologis atau kelainan
termasuk nyeri panggul kronis, kista ovarium, dll.
Berdasarkan intensitas relatif nyerinya, dismenore sering di klasifikasikan sebagai
dismenore ringan, sedang, dan berat. Dismenore ringan adalah nyeri haid tanpa adanya
pembatasan aktifitas, tidak diperlukan penggunaan analgetik dan tidak ada keluhan sistemik.
Dismenore sedang adalah nyeri haid yang memengaruhi aktifitas sehari-hari, dengan kebutuhan
analgetik untuk menghilangkan rasa sakit dan terdapat beberapa keluhan sistemik. Sedangkan
dismenore berat adalah nyeri haid dengan keterbatasan parah pada aktifitas sehari-hari, respon
analgetik untuk menghilangkan rasa sakit minimal, dan adanya keluhan sistemik seperti muntah,
pingsan dan lain sebagainya.
Untuk mengatasi terjadinya dismenore dapat dilakukan dengan terapi non-farmakologi
dan terapi farmakologi. Untuk terapi non farmakologi bisa dilakukan dengan olahraga yang
teratur, perubahan gaya hidup misalnya menghindari paparan rokok dan meningkatkan konsumsi
makanan yang kaya omega-3 dan dapat juga dilakukan penggunaan air panas dalam botol untuk
mengatasi nyeri pada perut serta istirahat yang cukup.
Dan untuk terapi farmakologisnya bisa menggunakan obat-obatan seperti: golongan NSAID
yang bekerja dengan menghilangkan rasa sakit dengan memblokir jalur COX dan mengurangi
pelepasan prostaglandin perifer, khususnya PGE2, misalnya ibuprofen dan naproxen sodium.
Biss juga dengan golongan obat analgetik misalnya aspirin, asam mefenamat, paracetamol dan
feminax. Yang kedua bisa digunakan perawatan hormonal yaitu dengan Pil kontrasepsi oral
kombinasi (COCs) terdiri estrogen dan progestin menipiskan miometrium hiperaktif aktivitas
dengan menghambat ovulasi, mengurangi volume cairan menstruasi, kadar COX-2 endometrium
selama menstruasi, dan produksi prostaglandin. Dan yang terakhir bisa dengan terapi alternatif
yaitu mengkonsumsi vitamin dan suplemen mineral (magnesium dan vitamin B1) dan
mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung asam lemak omega-3 dari minyak ikan yang
dapat mengurangi intensitas nyeri haid, meskipun efek samping dari minyak ikan mungkin
termasuk mual dan menimbulkan jerawat.

REFERENSI:
 Bettendorf, Brittany et al. 2008. Dysmenorrhea: Contemporary Perspectives. Obstetrical
And Gynecological Survey Volume 63, Number 9.
DOI: 10.1097/OGX.0b013e31817f15ff
 Ni Made Sri Dewi Lestari.2013. Pengaruh Dismenorea Pada Remaja. FMIPA
UNDIKSHA III
 Larasati, Faridah Alatas. 2016. Primary Dysmenorrhea and Risk Factor of Primary
Dysmenorrhea in Adolescent. Lampung: University Lampung.
DOI : https://doi.org/10.1016/j.maturitas.2015.08.010
 Singh A, Kiran D, Singh H. 2008. Prevalence and severity of dismenorrhea: a problem
related to menstruation, among first and second year female medical students. Indian J
Physiol Pharmacol.