Anda di halaman 1dari 8

Umar bin Abdul Aziz - Khalifah Bani Umayyah yang

Bikasana dan Sederhana


muhamad nurdin fathurrohman Wednesday, September 17, 2014 Tabiin

Masjid Abuja National di Abuja, Nigeria. [Foto: Master XPO]

Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz adalah seorang pemimpin yang saleh, kharimastik,
bijaksana, dan dekat dengan rakyatnya. Sosoknya yang begitu melegenda tentu membuat hati
penasaran untuk mengenalnya. Peristiwa-peristiwa pada pemerintahannya menimbulkan rasa
cinta untuk meneladaninya.

Beliau merupakan khalifah Bani Umayyah yang berkuasa dari tahun 717 (umur 34–35 tahun)
sampai 720 (selama 2–3 tahun). Tidak seperti khalifah Bani Umayyah sebelumnya, ia bukan
merupakan keturunan dari khalifah sebelumnya, tetapi ditunjuk langsung, dimana ia merupakan
sepupu dari khalifah sebelumnya, Sulaiman.

Ayahnya adalah Abdul Aziz bin Marwan, salah seorang dari gubernur Klan Umayah. Ia seorang
yang pemberani lagi suka berderma. Ia menikah dengan seorang wanita salehah dari kalangan
Quraisy lainnya, wanita itu merupakan keturunan Umar bin Khattab, dialah Ummu Ashim binti
Ashim bin Umar bin Khattab, dialah ibu Umar bin Abdul Aziz. Abdul Aziz merupakan laki-laki
yang saleh yang baik pemahamannya terhadap agama. Ia merupakan murid dari sahabat
senior Abu Hurairah.

Ibunya Ummu Ashim, Laila binti Ashim bin Umar bin Khattab. Bapaknya Laila merupakan anak
Umar bin Khattab, ia sering menyampaikan hadis nabi dari Umar. Ia adalah laki-laki dengan
perawakan tegap dan jangkung, satu dari sekian laki-laki mulia di zaman tabi’in.
Kelahiran dan Wafatnya

Ahli sejarah berpendapat bahwa kelahiran Umar bin Abdul Aziz terjadi di tahun 61 H. Ia
dilahirkan di Kota Madinah An-Nabawiyah, pada masa pemerintahan Yazid bin Muawiyah. Umar
bin Abdul Aziz tidak memiliki usia yang panjang, ia wafat pada usia 40 tahun, usia yang masih
relatif muda dan masih dikategorikan usia produktif. Namun, di balik usia yang singkat tersebut,
ia telah berbuat banyak untuk peradaban manusia dan Islam secara khusus.

Ia dijuluki Asyaj Bani Umayah (yang terluka di wajahnya) sebagaimana mimpi Umar bin Khattab.

Saudara-Saudara Umar bin Abdul Aziz

Abdul Aziz bin Marwan (bapak Umar), mempunyai sepuluh orang anak. Mereka adalah Umar,
Abu Bakar, Muhammad, dan Ashim. Ibu mereka adalah Laila binti Ashim bin Umar bin Kahttab.
Abdul Aziz mempunyai enam anak dari selain Laila, yaitu Al-Ashbagh, Sahal, Suhail, Ummu Al-
Hakam, Zabban dan Ummul Banin. Ashim (saudara Umar) inilah yang kemudian menjadi kunyah
ibunya (Laila Ummu Ashim).

Anak-Anak Umar bin Abdul Aziz

Umar bin Abdul Aziz mempunyai empat belas anak laki-laki, di antara mereka adalah Abdul
Malik, Abdul Aziz, Abdullah, Ibrahim, Ishaq, Ya’qub, Bakar, Al-Walid, Musa, Ashim, Yazid,
Zaban, Abdullah, serta tiga anak perempuan, Aminah, Ummu Ammar dan Ummu Abdillah.

Istri-Istrinya

Istri pertamanya adalah wanita yang salehah dari kalangan kerajaan Bani Umayah, ia
merupakan putri dari Khalifah Abdul Malik bin Marwan yaitu Fatimah binti Abdul Malik. Ia
memiliki nasab yang mulia; putri khalifah, kakeknya juga khalifah, saudara perempuan dari para
khalifah, dan istri dari khalifah yang mulia Umar bin Abdul Aziz, namun hidupnya sederhana.

Istrinya yang lain adalah Lamis binti Ali, Ummu Utsman bin Syu’aib, dan Ummu Walad.
Kisah Pengangkatan Umar bin Abdul Aziz Menjadi
Khalifah

Di antara kebaikan-kebaikan Sulaiman bin Abdul Malik adalah bahwa dia berkenan menerima
nasihat dari seorang ulama ahli fikih, Raja’ bin Haiwah al-Kindi, yang mengusulkan ketika
Sulaiman dalam keadaan sakit dan akhirnya wafat, agar mengangkat Umar bin Abdul Aziz
sebagai penerusnya. Akhirnya Sulaiman menetapkan surat wasiat yang tidak memberi celah
bagi setan sedikit pun (Ashr ad-Daulatain al-Umawiyah wa al-Abbasiyah, Hal: 37). Ibnu Sirin
mengatakan, “Semoga Allah merahmati Sulaiman, dia mengawali kekhalifahannya dengan
menghidupkan shalat dan mengakhirinya dengan menunjuk Umar bin Abdul Aziz sebagai
penerusnya.”

Khalifah Sulaiman wafat tahun 99H, Umar bin Abdul Aziz menshalatkan jenazahnya, tertulis
dalam stempelnya, “Aku beriman kepada Allah dengan ikhlas.” (Siyar A’lam Nubala, 5: 11-12).

715 – 717: era Sulaiman

Umar tetap tinggal di Madinah selama masa sisa pemerintahan al-Walid I dan kemudian
dilanjutkan oleh saudara al-Walid, Sulaiman. Sulaiman, yang juga merupakan sepupu Umar
selalu mengagumi Umar, dan menolak untuk menunjuk saudara kandung dan anaknya sendiri
pada saat pemilihan khalifah dan menunjuk Umar.

Kedekatan Umar dengan Sulaiman

Sulaiman bin Abdul-Malik merupakan sepupu langsung dengan Umar. Mereka berdua sangat
erat dan selalu bersama. Pada masa pemerintahan Sulaiman bin Abdul-Malik, dunia dinaungi
pemerintahan Islam. Kekuasaan Bani Umayyah sangat kukuh dan stabil.

Suatu hari, Sulaiman mengajak Umar ke markas pasukan Bani Umayyah.

Sulaiman bertanya kepada Umar "Apakah yang kau lihat wahai Umar bin Abdul-Aziz?" dengan
niat agar dapat membakar semangat Umar ketika melihat kekuatan pasukan yang telah dilatih.
Namun jawab Umar, "Aku sedang lihat dunia itu sedang makan antara satu dengan yang lain,
dan engkau adalah orang yang paling bertanggung jawab dan akan ditanyakan oleh Allah
mengenainya".
Khalifah Sulaiman berkata lagi "Engkau tidak kagumkah dengan kehebatan pemerintahan kita
ini?"
Balas Umar lagi, "Bahkan yang paling hebat dan mengagumkan adalah orang yang mengenali
Allah kemudian mendurhakai-Nya, mengenali setan kemudian mengikutinya, mengenali dunia
kemudian condong kepada dunia".

Jika Khalifah Sulaiman adalah pemimpin biasa, sudah barang tentu akan marah dengan kata-
kata Umar bin Abdul-Aziz, namun beliau menerima dengan hati terbuka bahkan kagum dengan
kata-kata itu.

Menjadi khalifah

Umar menjadi khalifah menggantikan Sulaiman yang wafat pada tahun 716. Ia di bai'at sebagai
khalifah pada hari Jumat setelah salat Jumat. Hari itu juga setelah ashar, rakyat dapat langsung
merasakan perubahan kebijakan khalifah baru ini. Khalifah Umar, masih satu nasab dengan
Khalifah kedua, Umar bin Khattab dari garis ibu.

Zaman pemerintahannya berhasil memulihkan keadaan negaranya dan mengkondisikan


negaranya seperti saat 4 khalifah pertama (Khulafaur Rasyidin) memerintah. Kebijakannya dan
kesederhanaan hidupnya pun tak kalah dengan 4 khalifah pertama itu. Gajinya selama menjadi
khalifah hanya 2 dirham perhari atau 60 dirham perbulan. Karena itu banyak ahli sejarah
menjuluki beliau dengan Khulafaur Rasyidin ke-5. Khalifah Umar ini hanya memerintah selama
tiga tahun kurang sedikit. Menurut riwayat, beliau meninggal karena dibunuh (diracun) oleh
pembantunya.

Sebelum menjabat

Menjelang wafatnya Sulaiman, penasihat kerajaan bernama Raja’ bin Haiwah menasihati beliau,
"Wahai Amirul Mukminin, antara perkara yang menyebabkan engkau dijaga di dalam kubur dan
menerima syafaat dari Allah di akhirat kelak adalah apabila engkau tinggalkan untuk orang Islam
khalifah yang adil, maka siapakah pilihanmu?". Jawab Khalifah Sulaiman, "Aku melihat Umar Ibn
Abdul Aziz".
Surat wasiat diarahkan supaya ditulis nama Umar bin Abdul-Aziz sebagai penerus kekhalifahan,
tetapi dirahasiakan dari kalangan menteri dan keluarga. Sebelum wafatnya Sulaiman, beliau
memerintahkan agar para menteri dan para gubernur berbai’ah dengan nama bakal khalifah
yang tercantum dalam surat wasiat tersebut.

Naiknya Umar sebagai Amirul Mukminin

Seluruh umat Islam berkumpul di dalam masjid dalam keadaan bertanya-tanya, siapa khalifah
mereka yang baru. Raja’ Ibn Haiwah mengumumkan, "Bangunlah wahai Umar bin Abdul-Aziz,
sesungguhnya nama engkaulah yang tertulis dalam surat ini".

Umar bin Abdul-Aziz bangkit seraya berkata, "Wahai manusia, sesungguhnya jabatan ini
diberikan kepadaku tanpa bermusyawarah dahulu denganku dan tanpa pernah aku memintanya,
sesungguhnya aku mencabut bai’ah yang ada dileher kamu dan pilihlah siapa yang kalian
kehendaki".

Umat tetap menghendaki Umar sebagai khalifah dan Umar menerima dengan hati yang berat,
hati yang takut kepada Allah dan tangisan. Segala keistimewaan sebagai khalifah ditolak dan
Umar pulang ke rumah.

Ketika pulang ke rumah, Umar berfikir tentang tugas baru untuk memerintah seluruh daerah
Islam yang luas dalam kelelahan setelah mengurus jenazah Khalifah Sulaiman bin Abdul-Malik.
Ia berniat untuk tidur.

Pada saat itulah anaknya yang berusia 15 tahun, Abdul-Malik masuk melihat ayahnya dan
berkata, "Apakah yang sedang engkau lakukan wahai Amirul Mukminin?".

Umar menjawab, "Wahai anakku, ayahmu letih mengurusi jenazah bapak saudaramu dan
ayahmu tidak pernah merasakan keletihan seperti ini".
"Jadi apa engkau akan buat wahai ayah?", Tanya anaknya ingin tahu.

Umar membalas, "Ayah akan tidur sebentar hingga masuk waktu zuhur, kemudian ayah akan
keluar untuk salat bersama rakyat".
Apa pula kata anaknya apabila mengetahui ayahnya Amirul Mukminin yang baru “Ayah, siapa
pula yang menjamin ayah masih hidup sehingga waktu zuhur nanti sedangkan sekarang adalah
tanggungjawab Amirul Mukminin mengembalikan hak-hak orang yang dizalimi” Umar ibn Abdul
Aziz terus terbangun dan membatalkan niat untuk tidur, beliau memanggil anaknya mendekati
beliau, mengucup kedua belah mata anaknya sambil berkata “Segala puji bagi Allah yang
mengeluarkan dari keturunanku, orang yang menolong aku di atas agamaku”

Pemerintahan Umar bin Abdul-Aziz

Hari kedua dilantik menjadi khalifah, beliau menyampaikan khutbah umum. Dihujung
khutbahnya, beliau berkata “Wahai manusia, tiada nabi selepas Muhammad saw dan tiada kitab
selepas al-Quran, aku bukan penentu hukum malah aku pelaksana hukum Allah, aku bukan ahli
bid’ah malah aku seorang yang mengikut sunnah, aku bukan orang yang paling baik dikalangan
kamu sedangkan aku cuma orang yang paling berat tanggungannya dikalangan kamu, aku
mengucapkan ucapan ini sedangkan aku tahu aku adalah orang yang paling banyak dosa di sisi
Allah” Beliau kemudian duduk dan menangis "Alangkah besarnya ujian Allah kepadaku"
sambung Umar Ibn Abdul Aziz.

Beliau pulang ke rumah dan menangis sehingga ditegur isteri “Apa yang Amirul Mukminin
tangiskan?” Beliau mejawab “Wahai isteriku, aku telah diuji oleh Allah dengan jawatan ini dan
aku sedang teringat kepada orang-orang yang miskin, ibu-ibu yang janda, anaknya ramai,
rezekinya sedikit, aku teringat orang-orang dalam tawanan, para fuqara’ kaum muslimin. Aku
tahu mereka semua ini akan mendakwaku di akhirat kelak dan aku bimbang aku tidak dapat
jawab hujjah-hujjah mereka sebagai khalifah kerana aku tahu, yang menjadi pembela di pihak
mereka adalah Rasulullah saw’’ Isterinya juga turut mengalir air mata.

Umar Ibn Abdul Aziz mula memerintah pada usia 36 tahun selama 2 tahun 5 bulan 5 hari.
Pemerintahan beliau sangat menakjubkan. Pada waktu inilah dikatakan tiada siapa pun umat
Islam yang layak menerima zakat sehingga harta zakat yang menggunung itu diberikan kepada
sesorang yang tidak memiliki biayavntuk pernikahan dan lain-lain.

Surat dari Raja Sriwijaya

Tercatat Raja Sriwijaya pernah dua kali mengirimkan surat kepada khalifah Bani Umayyah. Yang
pertama dikirim kepada Muawiyah I, dan yang ke-2 kepada Umar bin Abdul-Aziz. Surat kedua
didokumentasikan oleh Abd Rabbih (860-940) dalam karyanya Al-Iqdul Farid. Potongan surat
tersebut berbunyi:

Dari Rajadiraja...; yang adalah keturunan seribu raja ... kepada Raja Arab yang tidak
menyekutukan tuhan-tuhan yang lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada Anda
hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekedar tanda
persahabatan; dan saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat
mengajarkan Islam kepada saya, dan menjelaskan kepada saya hukum-hukumnya.

Hari-hari terakhir Umar bin Abdul-Aziz

Umar bin Abdul-Aziz wafat disebabkan oleh sakit akibat diracun oleh pembantunya. Umat Islam
datang berziarah melihat kedhaifan hidup khalifah sehingga ditegur oleh menteri kepada
isterinya, "Gantilah baju khalifah itu", dibalas isterinya, "Itu saja pakaian yang khalifah miliki".

Apabila beliau ditanya “Wahai Amirul Mukminin, tidakkah engkau mau mewasiatkan sesuatu
kepada anak-anakmu?”

Umar Abdul Aziz menjawab: "Apa yang ingin kuwasiatkan? Aku tidak memiliki apa-apa"

"Mengapa engkau tinggalkan anak-anakmu dalam keadaan tidak memiliki?"

"Jika anak-anakku orang soleh, Allah lah yang menguruskan orang-orang soleh. Jika mereka
orang-orang yang tidak soleh, aku tidak mau meninggalkan hartaku di tangan orang yang
mendurhakai Allah lalu menggunakan hartaku untuk mendurhakai Allah"

Pada waktu lain, Umar bin Abdul-Aziz memanggil semua anaknya dan berkata: "Wahai anak-
anakku, sesungguhnya ayahmu telah diberi dua pilihan, pertama : menjadikan kamu semua kaya
dan ayah masuk ke dalam neraka, kedua: kamu miskin seperti sekarang dan ayah masuk ke
dalam surga (karana tidak menggunakan uang rakyat). Sesungguhnya wahai anak-anakku, aku
telah memilih surga." (beliau tidak berkata : aku telah memilih kamu susah).

Pada saat Umar bin Abdul Aziz wafat, ia tidak meninggalkan harta untuk anak-anaknya kecuali
sedikit. Setiap anak laki-laki hanya mendapatkan jatah 19 dirham saja, sementara satu anak dari
Hisyam bin Abdul Malik (khalifah Bani Umayah lainnya) mendapatkan warisan dari bapaknya
sebesar satu juta dirham. Namun beberapa tahun setelah itu salah seorang anak Umar bi Abdul
Aziz mampu menyiapkan seratus ekor kuda lengkap dengan perlengkapannya dalam rangka
jihad di jalan Allah, pada saat yang sama salah seorang anak Hisyam menerima sedekah dari
masyarakat.

Setelah kejatuhan Bani Umayyah dan masa-masa setelahnya, keturunan Umar bin Abdul-Aziz
adalah golongan yang kaya berkat doa dan tawakkal Umar bin Abdul-Aziz.