Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Gastritis adalah inflamasi (peradangan) dari mukosa lambung. Inflamasi ini
mengakibatkan sel darah putih menuju ke dinding lambung sebagai respon
terjadinya kelainan pada bagian tersebut. Berdasarkan pemeriksaan endoskopi
ditemukan eritema mukosa, sedangkan hasil foto memperlihatkan irregularitas
(bentuk tak beraturan) mukosa (Vira, 2008).
Angka kejadian infeksi Gastritis Helicobacter Pylory pada beberapa daerah
di Indonesia menunjukkan data yang cukup tinggi. Menurut Maulidiyah dan
Unun (2006), di Kota Surabaya angka kejadian Gastritis sebesar 31,2%, Denpasar
46% sedangkan di Medan angka kejadian cukup tinggi sebesar 91,6%. Adanya
kebiasaan adat Medan mengkonsumsi obat-obatan, minum-minuman yang keras,
sehingga mengakibatkan lebih tinggi dari yang lain. Adanya penemuan infeksi
Helicobacter Pylory ini mungkin berdampak pada tingginya kejadian Gastritis.
Faktor etiologi Gastritis lainnya adalah alkohol yang berlebihan (20%), merokok
(5%), makanan berbumbu (15%), obat-obatan (18%) dan terapi radiasi (2%)
(Herlan, 2001).
Data di Sumatera Selatan menunjukkan terjadinya Gastritis pada rawat jalan
tahun 2008 berjumlah 213 kasus, rawat inap sebanyak 655 kasus. Sedangkan pada
tahun 2009 pada rawat jalan mengalami peningkatan yaitu 382 kasus dan rawat
inap mengalami penurunan yaitu berjumlah 620 kasus (Profil Dinkes Provinsi
Sumatera Selatan, 2009).
Saat ini dalam proses perawatan Gastritis banyak dijumpai dan menyerang
80%-90% laki-laki. Pasien dan keluarga dengan penyakit Gastritis membutuhkan
pengawasan diet makanan setelah pulang dari rumah sakit dan sangat mudah
terkena bila tidak mematuhi tentang penatalaksanaan diet di rumah. Makan

1
2

makanan yang teratur dan menghindari makan yang dapat mengiritasi lambung
(Syam, A.F, 2010).
Pada pasien penderita Gastritis kronik aktif, bakteri didapatkan pada 80%
kasus. Sedangkan pada penderita tukak lambung 70-80%. Bahkan pada tumor
lambung sekitar 60%. Pada tahun 1994, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO),
menyatakan bahwa infeksi H. Poylori lebih tinggi dengan penyakit kanker
lambung daripada yang tidak. Adanya bakteri ini ditandai dengan tingginya faktor
karsinogenik penyebab kanker. Sementara itu di Jepang, seperti dikutip majalah
Look Japan, setiap 4-5 orang di bawah usia 30-an sudah terinfeksi bakteri ini
walaupun tampak sehat. Orang yang terinfeksi di atas usia 50 tahun bahkan
sampai 50%. Namun, hasil penelitian di Jepang dan Australia menunjukkan,
infeksi pertama justru jarang pada usia dewasa. Jadi, bakteri itu mungkin sudah
mendekam di dalam tubuh selama puluhan tahun, sejak usaia anak-anak atau
remaja. Bukti ini terlihat dalam suatu penelitian di Hiroshima, Jepang terhadap
orang berusia 25-35 tahun (Misnadiarly, 2009).
Di Indonesia, prevalensi kuman ini menggunakan urea breath test. Penelitian
serologis yang dilakukan secara cross sectional bertambahnya prevalensi penyakit
ini sesuai dengan bertambah usia.
Semua orang rentan menderita gastritis dengan bertambahnya usia dan juga
tingkat sosial ekonomi merupakan faktor terpenting untuk terkena penyakit
gastritis ini. Kebanyakan yang mendominasi untuk menderita gastritis pada orang
dewasa dibanding dengan anak-anak. Hal ini dikarenakan orang dewasa yang
berusia 15 tahun ke atas telah banyak mengkonsumsi berbagai jenis makanan
yang pedas, asam, asin ataupun manis dalam jumlah berlebihan sangat
berpengaruh terhadap kondisi lambung. Gastritis merupakan masalah besar di
Indonesia karena pada saat ini belum diketahui dengan jelas cara penularan dan
patofisiologisnya pada saluran pencernaan. Oleh karena itu, perlu dikaji seberapa
jauh hubungan antara infeksi H. Pyolori di Indonesia rendah (36-64%) dengan
5,3-15,4% di antaranya ditemukan pada usia di bawah 5 tahun, sedangkan terbaru
3

di Jakarta dan Surabaya menunjukkan prevalensi H. Pyolori pada penderita


pepticulculer masing-masing sebesar 100%-85,7-93.9% (Ali Imron, 2008).
Berdasarkan data dari medical record Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin
Palembang, jumlah penderita penyakit gastritis tahun 2008 berjumlah 337 orang,
tahun 2009 berjumlah 265 orang, tahun 2010 berjumlah 259 orang. Hal ini
menunjukkan bahwa angka penderita gastritis menurun. Oleh karena itu, penulis
tertarik untuk meneliti tentang Gambaran Pengetahuan dan Tindakan Pasien
tentang Penyakit Gastritis di Ruang Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Dr.
Muhammad Hoesin Palembang tahun 2011.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dalam penelitian adalah
bagaimana pengetahuan dan tindakan pasien tentang penyakit gastritis di Ruang
Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Dr. Muhammad Hoesin Palembang Tahun
2010.

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Diketahuinya gambaran pengetahuan dan tindakan pasien tentang penyakit
gastritis di Ruang Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Dr. Muhammad
Hoesin Palembang.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Diketahuinya pengetahuan pasien tentang definisi, etiologi, manifestasi
klinis, komplikasi di Ruang Penyakti Dalam Rumah Sakit Umum Dr.
Muhammad Hoesin Palembang Tahun 2011.
b. Diketahuinya tindakan pasien tentang pencegahan dan penatalaksanaan
penyakit gastritis di Ruang Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Dr.
Muhammad Hoesin Palembang Tahun 2011.
4

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Bagi Institusi Rumah Sakit
Diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dan acuan bagi
Rumah Sakit Umum Dr. Muhammad Hoesin Palembang.
1.4.2 Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai referensi dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan
pengetahuan bagi mahasiswa Akper Sapta Karya Palembang.
1.4.3 Bagi Masyarakat
Diharapkan dapat menambah pengetahuan dan tindakan masyarakat tentang
penyakit gastritis.
1.4.4 Bagi Peneliti
Merupakan sarana belajar untuk meningkatkan pengetahuan, pengalaman
dan wawasan dengan menerapkan ilmu pengetahuan.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian


Penelitian ini mengenai gambaran pengetahuan dan tindakan pasien tentang
penyakit gastritis. Pengambilan sampel dalam penelitian ini dengan teknik total
sampling yaitu seluruh pasien yang menderita penyakit gastritis yang dirawat di
Ruang Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Dr. Muhammad Hoesin Palembang.
Penelitian akan dilaksanakan pada bulan April 2011.
5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Penyakit Gastritis


2.1.1 Definisi Gastritis
Gastritis adalah merupakan suatu peradangan mukosa lambung yang
dapat bersifat akut, kronis difus atau lokal (Priyanto & Lestari, 2008).
Gastritis terbagi dua, yaitu :
a. Gastritis Akut
Gastritis akut merupakan proses inflamasi yang bersifat akut dan
biasanya terjadi sepintas pada mukosa lambung. Keadaan paling sering
berkaitan dengan penggunaan obat-obat anti inflamasi non steroid
(khususnya aspirin) dalam waktu yang lama dan dengan dosis tinggi,
konsumsi alkohol yang berlebihan dan perokok berat. Stres berat (luka
bakar, pembedahan), iskemia dan syok juga menyebabkan gastritis akut.
Seperti hal kemoterapiurimia, infeksi sistemtik, tertelan zat asam atau
alkali, iritasi lambung, trauma mekanik dan gastrektomi distal (Robbins
& Cotran, 2009).
b. Gastritis Kronis
Penyebabnya tidak jelas, sering bersifat multifaktor dengan
perjalanan klinik yang bervariasi. Kelainan ini berkaitan erat dengan
infeksi H. Pyolori (J. Reeves dkk, 2001).

2.1.2 Etiologi
Penyebab penyakit ini antara lain :
a. Gastritis kronis obat-obatan (aspirin) obat anti inflamasi non steroid
(AINS)
b. Alkohol

5
6

c. Gangguan mikro sirkulasi mukosa lambung : trauma, luka bakar, sepsis.


Secara makroskopik terdapat lesi erosi mukosa dengan lokasi berbeda.
Jika ditemukan pada korpus dan fundus. Biasanya disebabkan oleh
stress. Jika disebabkan oleh obat-obatan AINS, terutama ditemukan di
daerah antrum, namun dapat juga menyeluruh. Sedangkan secara
mikroskopik, terdapat erosi dengan regenerasi epitel, dan ditemukan
reaksi sel inflamasi neorofil yang minimal (Arif Mansjoer, 2000).

2.1.3 Manifestasi Klinis


Sindrom dispepsia berupa nyeri epigastrum, mual, kembung, muntah
merupakan salah satu keluhan yang sering muncul. Ditemukan pula
pendarahan saluran cerna berupa hematemesis dan melena, kemudian
disusul dengan tanda-tanda anemia pasca pendarahan. Biasanya jika
dilakukan amnesis lebih dalam terdapat riwayat penggunaan obat-obatan
atau bahan kimia tertentu (Arif Mansjoer, 2000).
2.1.4 Komplikasi
Pendarahan saluran cerna bagian atas (SCBA) berupa hematemesis
dan melena, dapat berakhir syok hemoragik. Untuk pendarahan SCBA,
perlu dibedakan dengan tukak peptik. Gambaran klinis yang diperlihatkan
hampir sama. Namun pada tukak peptik penyebab utamanya adalah infeksi
helicobacterium H. Pylori, sebesar 10% pada tukak duodenum dan 60-90%
pada tukak lambung. Diagnosis pasti dapat ditegakkan dengan endoskopi
(Arif Mansjoer, 2000).

2.1.5 Pencegahan
Pencegahan utama dari gastritis adalah dengan menjaga keseimbangan
zat yang ada dalam lambung misalnya dengan mengatur pola makan yang
teratur dan tidak mengkonsumsi obat-obatan dalam jangka waktu lama,
alkohol atau zat kimia lain yang dapat merusak dinding lambung.
7

Sebaiknya dihindari makanan dengan rasa asam dan pedas (Handriani


Kristanti, 2009).
2.1.6 Penatalaksanaan
Faktor utama adalah dengan menghilangkan etiologinya. Diet
lambung, dengan porsi kecil dan sering. Obat-obatan H2, inhibator pompa
proton antikolinergik, dan antacid. Juga ditujukan sebagai sitoprotektor.
Penyebabnya tidak jelas, sering bersifat multifaktor dengan perjalanan
klinik yang bervariasi. Kelainan ini berkaitan erat dengan H. Pylori
(Brunner & Suddarth, 2002).

2.2 Pengetahuan
2.2.1 Pengertian
Pengetahuan merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan
terjadi melalui panca indra, penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan
raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan
telinga (Notoatmodjo, 2003).
Pengetahuan dan kognitif merupakan domain yang sangat penting
untuk terbentuknya tindakan seseorang (over behavior) karena dari
pengalaman dan penelitian ternyata prilaku yang didasari oleh pengetahuan
akan lebih langgeng daripada prilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan.
Penelitian Roger (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang
mengadopsi prilaku baru (berprilaku baru), di dalam diri seseorang tersebut
terjadi proses berurutan, yakni :
a. Awareness (kesadaran), di mana orang tersebut menyadari dalam arti
mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek).
b. Interest (merasa tertarik), terhadap stimulus atau objek tersebut, di sini
sikap subjek sudah mulai timbul.
8

c. Evalution (menimbang-menimbang), terhadap baik dan tidaknya


stimulus bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik
lagi.
d. Trial (mencoba), di mana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu
sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus.
e. Adoption, dimana subjek telah berprilaku baru sesuai dengan
pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.

2.2.2 Ruang Lingkup Tingkat Pengetahuan


Menurut Notoatmodjo (2003), pengetahuan mempunyai 6 tingkatan yang
dicakup di dalam domain yakni :
a. Tahu (know)
Tahu artinya sebagian mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya, termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah
mengingat kembali (recall) suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang
dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.
b. Memahami (comprehension)
Memahami artinya sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan
secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat
menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
c. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menggunakan
materi yang sudah dipelajari pada situasi atau kondisi yang real
(sebenarnya).
d. Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau
suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu
struktur organisasi tersebut dan maish ada kaitannya satu sama lain.
9

e. Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan
atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan
yang baru. Dengan kata lain, sintesis itu suatu kemampuan untuk
menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.
f. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan
justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.

2.3.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pengetahuan


a. Pendidikan
Makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah menerima
informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki.
Sebaliknya pendidikan yang kurang menghambat perkembangan sikap
seseorang terhadap nilai-nilai yang baru diperkenalkan.
b. Pekerjaan
Pekerjaan bukanlah sumber kesenangan, tetapi lebih banyak
merupakan cara mencari nafkah yang membosankan, berulang dan
banyak tantangan.
c. Umur
Umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai
berulang tahun. Tiap jenis pengetahuan pada dasarnya menjawab jenis
pertanyaan tertentu yang dianjurkan. Oleh sebab itu, agar kita dapat
memanfaatkan segenap pengetahuan kita secara maksimal, maka harus
kita ketahui jawaban apa saja yang mungkin bisa diberikan oleh suatu
pengetahuan tertentu. Atau dengan kata lain, perlu kita ketahui kepada
pengetahuan mana suatu pertanyaan tertentu harus kita ajukan. Setiap
jenis pengetahuan mempunyai ciri-ciri yang spesifik mengenai apa
10

(ontology), bagaimana (epistemology) dan untuk apa (aksiology) (Suria


Sumantri, 2003).

2.3 Tindakan (Practice)


2.3.1 Pengertian
Tindakan adalah suatu sikap yang belum otomatis terwujud dalam
suatu tindakan (over behavior) untuk mewujudkan sikap menjadi suatu
perbuatan nyata diperlukan faktor-faktor pendukung atau suatu kondisi
yang memungkinkan antara lain adalah fasilitas, juga diperlukan faktor
pendukung (support) dari pihak lain.

2.3.2 Pembagian Tingkatan Tindakan


Adapun tindakan ini mempunyai beberapa tingkatan sebagai berikut :
a. Persepsi (perception)
Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan
yang akan diambil adalah merupakan tindakan tingkat pertama.
b. Respon (guided respon)
Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai
dengan contoh adalah merupakan tindakan tingkat kedua.
c. Mekanisme (mechanism)
Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara
otomatis atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan maka ia sudah
mencapai tindakan tingkat ketiga.
d. Adopsi (adaption)
Adopsi adalah suatu praktek atau tindakan yang sudah berkembang
dengan baik, artinya tindakan itu sudah dimodifikasi tanpa mengurangi
kebenaran tindakan tersebut (Notoatmodjo, 2003).
11

GAMBARAN PENGETAHUAN DAN TINDAKAN PASIEN TENTANG


PENYAKIT GASTRITIS DI RUANG PENYAKIT DALAM
RSUP DR. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG
TAHUN 2011

PROPOSAL

ASRI
09.01.107 P

AKADEMI KEPERAWATAN SAPTA KARYA PALMEBANG


TAHUN AKADEMIK 2010-2011

Beri Nilai