Anda di halaman 1dari 35

 

Media petisi.co Biro Sumatera Selatan Nomor Hp : +6282280023160 E-mail : nusantara.kujaya21@gmail.com 


Dibalik Dana PAD Banyuasin “Rekam Jejak Tim Media Petisi.co


Biro Sumatera Selatan” Terkait Eksploid Perusahaan Tambang
Batu Bara

Rekam Jejak Tim Media Petisi.co Biro Sumatera Selatan Terkait


Eksploid Perusahaan Tambang Batu Bara.

Makalah dampak pertambangan batubara


Bab I
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Pencemaran lingkungan berakibat terhadap kesehatan manusia,tata
kehidupan, pertumbuhan flora dan fauna yang berada dalam jangkauan
pencemaran. Gejala pencemaran dapat terlihat pada jangka waktu
singkat maupun panjang, yaitu pada tingkah laku dan pertumbuhan.
Pencemaran dalam waktu relatif singkat, terjadi seminggu sampai
dengan setahun sedangkan pencemaran dalam jangka panjang terjadi

 

setelah masa 20 tahun atau lebih.

Gejala pencemaran yang terjadi dalam waktu singkat dapat diatasi


dengan melihat sumber pencemaran lalu mengendalikannya.
Tanda-tanda pencemaran ini gampang terlihat pada komponen
lingkungan yang terkena pencemaran. Berbeda halnya dengan
pencemaran yang terjadi dalam waktu yang cukup lama. Bahan
pencemar sedikit demi sedikit berakumulasi.
Dampak pencemaran semula tidak begitu kelihatan. Namun setelah
menjalani waktu yang relatif panjang dampak pencemaran kelihatan
nyata dengan berbagai akibat yang ditimbulkan. Unsur-unsur
lingkungan,mengalami perubahan kehidupan habitat. Tanaman yang
semula hidup cukup subur menjadi gersang dan digantikan dengan
tanaman lain. Jenis binatang tertentu yang semula berkembang secara
wajar beberapa tahun kemudian menjadi langka, karena mati atau
mencari tempat lain.
Kondisi kesehatan manusia juga menunjukkan perubahan; misalnya,
timbul penyakit baru yang sebelumnya tidak ada.Kondisi air,
mikroorganisme, unsur hara dan nilai estetika mengalami perubahan
yang cukup menyedihkan.
Bahan pencemar yang terdapat dalam limbah industri ternyata telah
memberikan dampak serius mengancam satu atau lebih unsur
lingkungan: Jangkauan pencemar dalam jangka pendek maupun panjang
tergantung pada sifat limbah,jenis, volume limbah, frekuensinya dan
lamanya limbah berperan.

1.2 Perumusan Masalah


Berdasarkan pemaparan latar belakang masalah di atas, maka dapat
dirumuskan masalah-masalah, yaitu sebagai berikut :
1. Secara keseluruhan dampak apa saja yang diakibatkan oleh eksploitasi
sumber daya alam ?
2. Langkah apa yang dapat dilakukan untuk meminimalisir
dampak-dampak tersebut?

1.3 Tujuan
Berdasarkan masalah di atas dapat diketahui bahwa tujuan dari penulisan
ini adalah untuk mengetahui dampak apa saja yang dihasilkan dari
eksploitasi sumber daya alam serta seberapa jauh pengaruhnya terhadap
lingkungan dan juga untuk mengetahui langkah-langkah apa saja yang
 

perlu dilakukan untuk meminimalisir dampak-dampak tersebut.

1.4 Manfaat
Manfaat dari penulisan ini adalah setidaknya kita dapat meminimalisir
dampak yang dihasilkan dari eksploitasi sumber daya alam dan juga
dapat menentukan langkah apa saja yang harus dilakukan agar setiap
tindakan eksploitasi tidak selalu berdampak besar terhadap lingkungan
dari segi yang negatif.

1.5 Ruang LIngkup


Ruang lingkup dalam penulisan ini adalah meliputi lingkungan yang
mengalami pencemaran akibat eksploitasi dan juga lingkungan di
Sepanjang Sungai Musi.

Bab II
Metode Penulisan
2.1 Objek Penulisan
Objek penulisannya adalah kegiatan eksploitasi dan lingkungan yang
telah tercemar atau rusak akibat kegiatan eksploitasi.
2.2 Dasar Pemilihan Objek
Dasar pemilihan objek dari tulisan ini adalah berdasarkan banyaknya
keluhan Masyarakat dan juga merupakan faktor perusakan atau
pencemaran paling parah dalam ruang lingkup Kabupaten Banyuasin
Provinsi Sumatera Selatan.
2.3 Metode Pengumpulan Data
• Kaji Pustaka

Bab III
Analisis Permasalahan
A. Pembahasan
3.1 Sumber daya alam
Pengertian Sumber Daya Alam adalah semua kekayaan bumi, baik
biotik maupun abiotik yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi
kebutuhan manusia dan kesejahteraan manusia, misalnya: tumbuhan,
hewan, udara, air, tanah, bahan tambang, angin, cahaya matahari, dan
mikroba (jasad renik).

pada dasarnya Alam mempunyai sifat yang beraneka ragam, namun


serasi dan seimbang. Oleh karena itu, perlindungan dan pengawetan
 

alam harus terus dilakukan untuk mempertahankan keserasian dan


keseimbangan tersebut.
Semua kekayaan yang ada di bumi ini, baik biotik maupun abiotik, yang
dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan manusia merupakan sumber
daya alam. Tumbuhan, hewan, manusia, dan mikroba merupakan
sumber daya alam hayati, sedangkan faktor abiotik lainnya merupakan
sumber daya alam nonhayati. Pemanfaatan sumber daya alam harus
diikuti oleh pemeliharaan dan pelestarian karena sumber daya alam
bersifat terbatas.
Berdasarkan urutan kepentingan, kebutuhan hidup manusia, dibagi
menjadi dua yaitu.
1. Kebutuhan Dasar
Kebutuhan ini bersifat mutlak diperlukan untuk hidup sehat dan aman.
Yang termasuk kebutuhan ini adalah sandang, pangan, papan, dan udara
bersih.
2. Kebutuhan sekunder
Kebutuhan ini merupakan segala sesuatu yang diperlukan untuk lebih
menikmati hidup, yaitu rekreasi, transportasi, pendidikan, dan hiburan.
Kerugian bagi masyarakat Sekitar:
Dampak yang sangat Merugikan Masyarakat yang tinggal di Bantaran
Sepanjang Sungai Musi merupakan Has Suku melayu dari Zaman
Sebelum Masehi Sampai Saat ini.

“MUSI asal kata dari mhu : yang artinya Sumber, sie : yang artinya
Kehidupan Sungai musi di ambil dari bahasa Ceines Kuno yang berarti
Sumber Kehidupan’
Sampai saat ini Sungai Musi Masi tetap Multi Pungsi di samping sumber
sarana Air keperluan sehari hari seperti mandi nyuci keperluan ruma
tangga dan juga di gunakan buat minum dan memasak dan juga sebagai
sarana transportasi warga mau berpergian menggunakan perahu ketek
spetboot dll dan yang paling prinsif sungai musi sebagai Tempat
Matapehencarian Masarakat yang tingal di Sepanjang BantaranNya
hampir ± 12.661. Kepala Keluarga yang Menggantungkan Hidupnya di
Sungai Musi ia itu Pelayan Tangkap Ikan tradisional dengan
Menggunakan Bermacam2 jenis alat penangkap ikan Tergantung dengan
Musim adapun alat penangkap ikan yang selalu di gunakan Ialah ?
1. Pukat/ Jaring
2. Tajur/Kail
3. Sengkirai,Bubuh
 

4. Cauk atau Lenggian


5. Tangkul dll

Dengan adanya Aktipitas Lalulalang Tongkang Pembawa Batu bara Dari


Terminal PT SAREVO yang berdiri di Tanah Wilaya Kabupaten PALI
Provinsi Sum-Sel “Berkapasitas ± 14,666 juta Ton Per Tahun.
Namun dampak limbah dan Segalasesuatu yang berpotensi Merugikan
kenanya di Masyarakat Kabupaten Banyuasin Sum-Sel terminal tersebut
tepatnya di Seberang Desa Tanjung Tiga Kecamatan Rantau Bayur
Kabupaten Banyuasin Sumatera Selatan. dari sana di langser
menggunakan Tongkang yang Berkapasitas 300 Fiid, 7000 Ton”
Sehingga banyaknya ruma penduduk Yang Rusak, dikarnakan
Penurunan Permukaan tanah Bantaran (tebing) Sungai musi di akibatkan
kapasitas tongkang 300 Feed dengan muatan 7000 Ton ke dalaman
Tongkang dari permukaan Air Pada saat bermuatan Batu bara lebi
kurang 5 meter sampai 10 meter. Sementara kedalaman Sungai musi rata
rata 4 meter sampai 8 meter.

Dampak bagi kelangsungan hidup ± 10.661 kepala keluarga Para


nelayan tradisional yang menggantung kan hidup dari hasil tangkap
ikan di sungai musi, Nelayan Sangat di rugikan 40% sampai 60%
mengalami penurunan dari pendapatan Biasa biasanya. Sejau ini Belum
ada tindakan Dari Pemerintah Daera Kabupaten Banyuasin

Dari peraturan pemerinta terkait Pendapatan asli daera di sektor bagi


hasil Melintas transpoetasi kalkulasi perhitungannya 10% dari hasil
keseluruhan (penjualan batu bara)
Bisa kita lihat dari Pendapatan 10% bagi hasil dari sektor pertambangan
Kabupaten Banyuasin Sum-Sel di tahun 2016 dan 2017 juga sanggat
Kecil Sejau ini belum ada satu korporasi,atau Instansi pemerintah yang
mendikte atau meng evaluasi masala tersebut seharus nya DPRD
Banyuasin Lebih Cekatan dan jelih dalam melaksanakan Tugas Pokok se
Orang DPR ” Kenerja pemerinta daera kabupaten Banyuasin …?????
(masuk kantong pribadi)
Mutu air Sungai Musi :
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang
Pengolahan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, klasifikasi
mutu air ditetapkan menjadi empat kelas, yaitu: Kelas I, Kelas II, Kelas
III, dan Kelas IV.
 

Kelas I, air yang dapat digunakan untuk air bahan baku air minum
dan atau peruntukan lain yang mensyaratkan mutu air yang sama dengan
kegunaan tersebut.
Kelas II, air yang dapat digunakan untuk prasarana atau sarana rekreasi
air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi
pertanaman, dan atau peruntukan lain yang mensyaratkan mutu air yang
sama dengan kegunaan tersebut.
Kelas III, air yang dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar,
peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan atau peruntukan lain
mensyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.
Kelas IV, air yang dapat digunakan untuk pertanaman dan atau
peruntukan lain mensyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan
tersebut.
Jumla Kepala Keluarga per Kecamatan Tahun 2016 Kabupaten
Banyuasin Provinsi Sum-Sel.
1 Rantau Bayur 12 661
2 Betung 15 207
3 Suak Tapeh 5 403
4 Pulau Rimau 12 947
5 Tungkal Ilir 8 972
6 Banyuasin III 20 055
7 Sembawa 9 628
8 Talang Kelapa 38 076
9 Tanjung Lago 12 599
10 Banyuasin I 18 585
11 Air Kumbang 7 288
12 Rambutan 14 062
13 Muara Padang 10 943
14 Muara Sugihan 14 187
15 Makarti Jaya 8 874
16 Air Saleh 13 599
17 Banyuasin II 12 501
18 Muara Telang 12 546
19 Sumber Marga Telang 6 554
Banyuasin : 2.54.687 Kepal Keluarga.
Sumber : Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten
Banyuasin Source : Population and Civil Reistration Service of
Banyuasin Regency.
 

https://sangrajalangit99.wordpress.com/2017/10/20/pengertian-pendapat
an-asli-daerah/?preview=true
http://www.tribunus.co.id/2018/05/runtuhnya-tembok-keadilan-hukum-p
unya​.
Pendapatan Asli Daerah (PAD) Tahun Anggaran 2016 /Original Local
Government Revenue Rp: 96 224 068 077

1. Pajak Rp : 39 302 525 099


1.2 Pajak Hotel Rp : 471 904 388
1.3 Pajak Restoran Rp: 1 468 395 157
1.4 Pajak Hiburan Rp : 36 644 600
1.5 Pajak Reklame Rp: 260 874 062
1.6 Pajak Penerangan Jalan Rp: 14 129 527 857
1.7 Pajak Pengambilan dan Pengolahan Bahan Galian Golongan C/ Pjak
Mineral Bukan Logam dan Batuan Rp : 176 332 959.
1.8 Pajak Air Tanah Rp: 20 660 862
1.9 Pajak Sarang Burung Walet Rp: 12 195 000
1.10 BPHTB Rp : 8 094 157 149
1.11 PBB P2 Rp : 14 631 833 065
2. Retribusi / Retribution Rp: 12 867 041 235
2.1 Pelayanan Kesehatan Rp: 644 621 000
2.2 Kapitalisasi dari PT. Akses
2.3 Pelayanan Persampahan/Kebersihan Rp: 660 192 000
2.4 Penggantian Biaya Cetak KTP dan Akte Catatan Sipil
2.5 Pelayanan Parkir di tepi Jalan Umum dan Tempat Parkir Khusus Rp
: 120 365 000
2.6 Pelayanan Pasar Rp: 1 253 257 500
2.7 Pengujian Kendaraan Bermotor Rp: 154 755 000
2.8 Pemeriksaan Alt Pemadam Kebakaran Rp: 21 062 400
2.9 Penyediaan dan/ atau Penyedotan Kakus Rp: 31 779 000
2.10 Pengendalian Menara Telekomunikasi Rp: 2 316 815 770
2.11 Retribusi Jasa Pemakaian Kekayaan Daerah Rp: 59 965 000
2.12 Retribusi Terminal Rp: 652 073 000
2.13 Rumah Potong Hewan Rp: 5 797 500
2.14 Tempat Penginapan / Villa 1 335 000
2.15 Jasa Pengawasan Terminal Khusus Pelabuhan Rp: 1 274 561 615
2.16 Penjualan Produksi Usaha Daerah Rp: 11 800 000

 

2.17 Retribusi Izin Labuh dan Tambat Kendaraan di Atas Air 2.18
Penyelenggaraan Pelelangan Ikan
2.19 Izin Mendirikan Bangunan Rp: 2 406 986 450
2.20 Izin Gangguan/ Keramaian (SITU/HO) Rp: 3 245 735 000
2.21 Izin Trayek Rp: 5 940 000

Pendapatan Asli Daerah (PAD) Tahun Anggaran 2016 /Original Local


Government Revenue Rp: 96 224 068 077
Pendapatan Asli Daerah (PAD) Tahun Anggaran 2017 /Original Local
Government Revenue Rp:110.100.000.000,
Struktur pendapatan dalam APBD 2017 seperti yang disampaikan
Bupati Banyuasin SA Supriono, PAD sebelum perubahan Rp 107.7
milyar, setelah perubahan Rp 110.1.M, bertambah Rp 2.40 M.
Kemungkinan masih banyak sumber sumber Pendapatan Asli Daera
yang belum terserap, sehingga kenaikan PAD Kabupaten Banyuasin
hanya 2.4 M.
Dana perimbangan sebelum perubahan Rp 1.424 Triliun setelah
perubahan naik menjadi Rp 1.457 Trilun, bertambah Rp 33.3 Milyar.
Begitu juga dengan lain-lain pendapatan yang sah, sebelum perubahan
Rp 315 Milyar, setelah perubahan menjadi Rp 446 M, disini bertambah
Rp 131.7 M.
Belanja Tidak Langsung bertambah Rp 61.5 M, sebelum perubahan Rp
1.03 Triliun dan menjadi Rp 1.10 Triliun setelah perubahan. Belanja
Langsung bertambah Rp 132 M dari sebelum perubahan Rp 857 Milyar
menjadi Rp 989 M.
Kemudian jumlah belanja bertambah Rp 194 Milyar dari sebelumnya.
Tahun 2016 Belanja daera Rp 1.897 Terliun.
Tahun 2017 Belanja daera Rp 2.091 Terliun.
http://petisi.co/sa-supriono-pad-kabupaten-banyuasin-naik-rp-2-4-m/
Yang jadi Pertanyaan yang besar dari anggaran ter sebut Untuk tahun
2017 Berapa banyak anggaran yang di tiada kan di kurangi dan
sebagainya :
http://petisi.co/mengapa-kepala-daerah-melakukan-korupsi-kolusi-dan-n
epotisme/
http://petisi.co/mengapa-kepala-daerah-melakukan-korupsi-kolusi-dan-n
epotisme/
https://nusantarakujaya21com.wordpress.com/2018/04/15/literasi-konsis
tensi-mou-bpn-dan-polda-sum-sel-berkomitmen-menindak-habis-kejahat
an-agraria/amp/
 

Dana Imprastruktur Desa Rp: M


Pembangunan Rp : M
Dana ispirasi 35 Angota DPRD Rp: M.
Uang Makan Pegawai PNS/Non PNS
Penurunan Gaji
Pegawai Harian dan lain lain masi banyak lagi anggaran yang pangkas
dengan alasan depisit dan sebagainya …?????????

Sejahu ini Pihak pemerinta daera maupun DPRD Banyuasin Tidak perna
Mengevaluasi Mengenai Pendapatan Asli Daera Pada hal Angka
Korupsi Kolusi dan Nepotisme KKN serta Pencucian Uang di Sektor
Pendapatan yang Paling Tinggi Perbandingannya 70% Pendapatan 30%
di sektor penganggaran.
Bisa di simpul kan di lihat dari Angka KKN di sektor Penganggaran saja
seperti ini Bagaimana di Sektor Pendapatannya
Dari 100% Pendapatan Hanya 30% saja yang Masuk PAD Cobak
bayang kan..?? Suda masuk di Kas daera angka korupsinya Gila gilaan
seakan akan di bumi pertiwi ini tidak ada hukum dan aturan Sehingga
para kuruptor Suka suka hati mereka ?
https://www.scribd.com/document/369401887/Kasus-Kkn-Pembanguna
n-Pdam-Kenten-Laut-Kab-Banyuasin

Ini suatu bukti dan Fakta yang jelas Kalau KKN di Pemerinta Pusat itu
Lebih tinggi di banding dari pemerinta daera kenapa bisa di bilang
demikian..Sejauini apa pun yang kita laporkan di pemerintah pusat
hasilnya O besar” itu artinya keterlibatan mereka terhadap praktik
praktip KKN di pemerinta daera merekala Aktor di balik semuanya.
Lalu apa yang harus masyarakat lakukan kalau suda situasinya demikian
sementara kondisi dan iklim perekonomian di masyarat semakin
mencekik untuk mencari sesuap nasi untuk mempertahan kan hidup saja
sangat susah ”
Lalu ada kah hukuman para kriminalis sii pencari makan /napkah
keluarganya ?
Apa yang anda (pejabat yg kaya raya) lakukan andai di posisi anda ?
Pahami dasar dasar hukum dan Azaz kedaulatan Negara Republik
Indonesia.
UU,D 1945 PANCASILA RAKYAT PEMERINTA RI
Suatu Conto :
https://sangrajalangit99.wordpress.com/2016/10/26/dugaan-pelanggaran
 
10 

-serta-tindak-kkn-yang-melibat-kan-perusahaan-perkebunan-pt-sumatera
-anugerah-jaya-mbm-suda-lapor-kan-di-kejaksaan-negeri-kab-banyuasin
-sum-selnamun-sampai-saat-ini-kejari-kab-bany/
http://petisi.co/program-pisew-amanat-nawacita-jokowi-di-banyuasin-ku
rang-maksimal/
http://petisi.co/jadi-korban-pemerasan-ada-apa-dengan-gapoktan-jalur-m
ulya-13/

http://petisi.co/bantuan-pemerintah-pusat-untuk-gapoktan-di-rantau-bay
ur-menguap/
http://petisi.co/dana-pertanian-program-ip200-di-mukti-jaya-muara-telan
g-disoal/
http://petisi.co/ribuan-hektar-pertanian-padi-di-kecamatan-rantau-bayur-
terancam-gagal-panen/
https://mykonlinedotblist.wordpress.com/2017/09/06/surat-pengaduan-ti
ndak-pidana-kkn-dinas-pertanian-kabupaten-banyuasi-ke-polda-sum-sel/

Nelayan Sepanjang Sungai Musi Protes Tongkang Batu Bara.


Tongkang Mengangkut batu bara melintas dan lalulalang di sungai musi
yang membuat para nelayan penangkap ikan sangat di rugikan

BANYUASIN, PETISI.CO – Kapal tongkang pengangkut batu bara


meresakan nelayan tangkap ikan di Perairan Sepanjang Sungai Musi,
khususnya di wilayah Kecamatan Rantau Bayur Kabupaten Banyuasin
Sumatera Selatan.
Sungai Musi adalah tempat masyarakat yang tinggal di pinggir sungai
Musi mencari nafkah sehari-hari dari zaman dahulu sampai sekang.
Inilah alasannya di sepanjang sungai terpanjang di Sumatera ini
ditinggali masyarakat, terutama di Kecamatan Rantau Bayur dari 21
desa, hanya 3 desa saja yang di daratan. Hampir seluruh desanya di
pingir Sungai Musi.
Muslimin (38), warga Desa Tebing Abang, seorang nelayan ikan jaring
(pukat) mengaku, resah dengan adanya kapal tongkang yang membawa
batu bara yang melintas di Sungai Musi.
“Saat ini kami rugi saat mencari ikan. Penghasilan kami menurun
sampai 45% dari yang sebelumnya,” ujarnya
pada petisi.co, Sabtu (23/7/2017).

 
11 

Tongkang batu bara yang melintas di ketahui dari pelabuhan


diantaranya PT SERVO, PT EVIH, PT TITAN Kabupaten Pali di
sebrang Desa Tanjung Tiga Kecamatan Rantau Bayur Kab Banyuasin,
menuju Pelabuhan Pelajo Palembang dengan kapasitas tongkang
rata-rata 300 fid dengan muatan 7000 ton.
Dari dampak yang sangat merugikan nelayan tangkap ikan ini, pihak
Pemerintah Kabupaten Banyuasin, dinas Perhubungan belum ada upaya
atau pun solusi sedikit pun bagi nelayan yang dirugikan.(roni)
http://petisi.co/nelayan-sepanjang-sungai-musi-protes-tongkang-batu-bar
a/

Tongkang Pengangkut Batu Bara Juga Sebagai Amcaman Bagi Simbol


dan Kebesaran Tana Seriwijaya Ia itu Jembatan Ampera Amanat
Penderitaan Rakyat Nama ini di Berikan Oleh Bapak Proklamator
Kemerdekaan Indonesia dan Dunia Internasional terhitung Suda Hampir
4 Kali Tongkang Batu Bara Menabrak Tiyang Jembatan Ampera ‘
Jembatan Ampera la sebagai Pembatas Transportasi Laut lepas (laut
bangka) dan sungai Musi bertujuan menjadi Benteng Pertahanan
kelangsungan kelestarian Sungai musi dan masyarakat yang tinggal di
sekitarnya
http://regional.kompas.com/read/2017/05/17/15192491/tongkang.batu.b
ara.tabrak.jembatan.ampera

Mutu lingkungan :
Pandangan orang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya memang
berbeda-beda karena antara lain dipengaruhi oleh faktor ekonomi,
pertimbangan kebutuhan, sosial budaya, dan waktu.
Semakin tinggi tingkat pemenuhan kebutuhan untuk kelangsungan
hidup, maka semakin baik pula mutu hidup. Derajat pemenuhan
kebutuhan dasar manusia dalam kondisi lingkungan disebut mutu
lingkungan.
Daya dukung lingkungan
Ketersediaan sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan dasar, dan
tersedianya cukup ruang untuk hidup pada tingkat kestabilan sosial
tertentu disebut daya dukung lingkungan. Singkatnya, daya dukung
lingkungan ialah kemampuan lingkungan untuk mendukung
perikehidupan semua makhluk hidup.
Penyebaran sumber daya alam di bumi ini tidaklah merata letaknya.
misalnya ada bagian bagian bumi yang sangat kaya akan mineral, ada
 
12 

pula yang tidak. Ada yang baik untuk pertanian ada pula yang tidak.
Oleh karena itu, agar pemanfaatannya dapat berkesinambungan, maka
tindakan eksploitasi sumber daya alam harus disertai dengan tindakan
perlindungan. Pemeliharaan dan pengembangan lingkungan hidup harus
dilakukan dengan cara yang rasional antara lain sebagai berikut :
1. Memanfaatkan sumber daya alam yang dapat diperbaharui dengan
hati-hati dan efisien, misalnya: air, tanah, dan udara.
2. Menggunakan bahan pengganti, misalnya hasil metalurgi (campuran).
3. Mengembangkan metoda menambang dan memproses yang efisien,
serta pendaurulangan (recycling).
4. Melaksanakan etika lingkungan berdasarkan falsafah hidup secara
damai dengan alam.
Macam-macam sumber Daya Alam
Sumber daya alam dapat dibedakan berdasarkan sifat, potensi, dan
jenisnya.
a. Berdasarkan sifat :
Menurut sifatnya, sumber daya alam dapat dibagi 3, yaitu sebagai
berikut :
1. Sumber daya alam yang terbarukan (renewable), misalnya: hewan,
tumbuhan, mikroba, air, dan tanah. Disebut ter barukan karena dapat
melakukan reproduksi dan memiliki daya regenerasi (pulih kembali).
2. Sumber daya alam yang tidak terbarukan (nonrenewable), misalnya:
minyak tanah, gas bumi, batubara, dan bahan tambang lainnya.
3. Sumber daya alam yang tidak habis, misalnya, udara, matahari, energi
pasang surut, dan energi laut.
b. Berdasarkan potensi :
Menurut potensi penggunaannya, sumber daya alam dibagi beberapa
macam, antara lain sebagai berikut.
1. Sumber daya alam materi; merupakan sumber daya alam yang
dimanfaatkan dalam bentuk fisiknya. Misalnya, batu, besi, emas, kayu,
serat kapas, rosela, dan sebagainya.
2. Sumber daya alam energi; merupakan sumber daya alam yang
dimanfaatkan energinya. Misalnya batubara, minyak bumi, gas bumi, air
terjun, sinar matahari, energi pasang surut laut, kincir angin, dan
lain-lain.
3. Sumber daya alam ruang; merupakan sumber daya alam yang berupa
ruang atau tempat hidup, misalnya area tanah (daratan) dan angkasa.
3.2 Eksploitasi sumber daya alam :
Eksploitasi sumber daya alam yang diangkat dalam tulisan ini mengenai
 
13 

pertambangan batubara, eksploitasi terhadapa sumber daya ini


semakin tidak terkendali salah satu pulau atau daerah yang
mengalami eksploitasi Batubara tiada henti adalah Kalimantan Selatan.
Kualitas yang baik dan penyebaran tambang batubara hampir di seluruh
kabupaten, membuat potensi sumber daya alam (SDA)-nya cukup
diminati oleh pengeruk keuntungan. Ditilik dari pencatatan data yang
dilakukan oleh Indonesian Coal Mining Association, tahun 2001
persediaan batubara adalah 2,428 milyar ton, bahkan masih
diindikasikan tersedia sejumlah 4,101 milyar ton di beberapa tempat.
Jika dijumlahkan, maka tambang batubara di Pulau Kalimantan Selatan
sebanyak 6,529 milyarton. Sedangkan menurut Departemen Energi dan
Sumber Daya Mineral, produksi tambang batubara di Pulau Kalimantan
Selatan pada tahun 2005 mengalami peningkatan sejak 2003. Dimana
sebagian besar produksi tersebut dilakukan oleh perusahaan bermodal
asing.
Hasil produksi yang berlimpah tersebut ternyata memiliki catatan
penjualan domestik dan eksport batubara yang cukup besar. Pada tahun
2003 tercatat penjualan domestik sebesar 13,153 juta ton, sedangkan
pada tahun 2004 meningkat dengan jumlah 14,666 juta ton. Catatan
ekspor batubara pun mengalami peningkatan dari tahun 2003 yang
sebesar 32,805 juta ton, hingga 34,499 juta ton pada tahun 2004.
Besarnya penjualan ternyata tidak berdampak baik bagi masyarakat
sekitar. Bahkan untuk kesejahteraan masyarakat lokalnya pun tidak
mengalami kemajuan, malah sebagian terpinggirkan hampir di segala
bidang. Beberapa permasalahan pun mulai muncul akibat adanya
penambangan batubara.
Terganggunya Arus Jalan Umum Berakibat Penyakit Pernafasan.

Banyaknya lalu lalang kendaraan yang digunakan untuk angkutan


batubara berdampak pada aktivitas pengguna jalan lain. Semakin
banyaknya kecelakaan, meningkatnya biaya pemeliharaan jembatan dan
jalan, adalah sebagian dari dampak yang ditimbulkan.
Belum lagi banyaknya debu batubara menyebabkan polusi udara di
sepanjang jalan yang dijadikan aktivitas pengangkutan batubara. Hal ini
menimbulkan merebaknya penyakit infeksi saluran pernafasan, yang
dapat memberi efek jangka panjang berupa kanker paru-paru, darah atau
lambung. Bahkan disinyalir dapat menyebabkan kelahiran bayi cacat.
Padahal jika dilihat dari aturan perundangan nomor 11 tahun 1967 yang
berisikan tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan yang
 
14 

mewajibkan perusahaan tambang memiliki sarana dan prasarana


sendiri termasuk jalan, jelas aktivitas kendaraan yang masuk jalan
umum tersebut melanggar peraturan.
Konflik Lahan Hingga Pergeseran Sosial-Budaya Masyarakat
Konflik lahan kerap terjadi antara perusahaan dengan masyarakat lokal
yang lahannya menjadi obyek penggusuran. Kerap perusahaan
menunjukkan kearogansiannya dengan menggusur lahan tanpa melewati
persetujuan pemilik atau pengguna lahan. Atau tak jarang mereka
memberikan ganti rugi yang tidak seimbang denga hasil yang akan
mereka dapatkan nantinya.

Tidak hanya konflik lahan, permasalahan yang juga sering terjadi adalah
diskriminasi. Hal ini terjadi saat perusahaan mengambil karyawan dari
luar daerah, padahal janji mereka sebelumnya akan mengutamakan
masyarakat lokal dalam penarikan tenaga kerja. Jika adapun, biasanya
perusahaan hanya memposisikan mereka sebagai satpam atau pembantu
saat survai lapangan. Permasalahan selanjutnya adalah pergeseran sosial
budaya masyarakat. Mereka yang dulunya bekerja sebagai petani atau
nelayan, sekarang lebih memilih menjadi buruh. Akibat dari pergeseran
ini membuat pola kehidupan mereka berubah menjadi lebih konsumtif.
Bahkan kerusakan moralpun dapat terjadi akibat adanya pola hidup yang
berubah.

Kerusakan dan Pencemaran Lingkungan


Dampak yang cukup fatal terjadi akibat penambangan batubara, salah
satunya adalah pencemaran dan kerusakan lingkungan. Seringkali para
pengusaha ini melupakan upaya antisipasi atau penanggulangan dampak
lingkungan, dan hal ini parahnya, diikuti dengan penegakan hukum yang
sangat lemah. Contoh yang terjadi adalah terdapatnya lubang-lubang
besar yang menimbulkan kubangan air berkandungan asam tinggi.
Tingkat asam ini disebabkan, bekas galian batubara memiliki kandungan
senyawakimia, seperti besi, sulfat, mangan, dan lain-lain. Zat-zat ini
akan berdampak buruk bagi tanaman di sekitarnya. Masih banyak lagi
dampak yang diberikan akibat penambangan batubara yang tidak
mempedulikan lingkungan. Sangat penting sekali adanya kesadaran dari
pihak penambang dan masyarakat tentang kelestarian dan kesehatan
lingkungan. Selain itu, tidak lupa peran besar dan tegas dari pemerintah
dalam menanggulangi dan memperingatkan para penambang.

 
15 

Dampak negatif dari aktifitas pertambangan batubara bukan hanya


menyebabkan terjadi kerusakan lingkungan. Melainkan, ada bahaya
lain yang saat ini diduga sering disembunyikan parapengeoloa
pertambangan batubara di Indonesia. Kerusakan permanent akibat
terbukanya lahan, kehilangan beragama jenis tanaman, dan sejumlah
kerusakan lingkungan lain ternyata hanya bagian dari dampak negative
yang terlihat mata.

Pertambangan batubara ternyata menyimpan bahaya lingkungan yang


berbahaya bagi manusia. Bahaya lain dari pertambangan batubara adlaah
air buangan tambang berupa luput dan tanah hasil pencucian yang
diakibatkan dari proses pencucian batubara yang lebih popular disebut
Sludge, saat ini banyak analis pertambangan yang tidak mamu
mengekspose secara detail tentang bahaya air cucuian batubara. Limbah
cucian batubara yang ditampung dalam bak penampung sangat
berbahaya karena mengandung logam-logam beracun yang jauh lebih
berbahaya disbanding proses pemurnian pertambangan emas yang
mengunakan sianida (CN).

Proses pencucian dilakukan untuk menjadi batubara lebih bersih dan


murni sehingga memiliki nilai jual tinggi. Proses ini dilakukan karena
pada saat dilakukan eksploitasi biasanya batubara bercampur tanah dan
batuan.
Agar lebih mudah dan murah, dibuatlah bak penampung untuk
pencucian. Kolam penampung itu berisi air cucian yang bercampur
lupur. LSM lingkungan JATAM menyebutnya dana beracun yang berisi
miliaran gallon limbah cair batubara. Sluge mengandung bahan kimia
karsinogenik yang digunakan dalam pemrosessan batubara yang logam
berat berancun yang terkandung di batubara seperti arsenic, merkuri,
kromium, boron, selenium dan nikel.

Dibandingkan tailing dari limbah luput pertambangan emas, unsure


berancun dari logam berat yang ada limbah pertambangan batubara jauh
lebih berbahaya. Sayangnya sampai sekarang tidak ada publikasi atau
informasi dari perusahan pertambangan terhadap bahaya sluge kepada
masyarakat di sekitar pertambangan.

Unsure beranu menyebabkan penyakit kulit, gangguan pencernaan, paru


dan penyakit kanker otak. Air sungai tempat buangan limbah digunakan
 
16 

masyarkat secara terus menerus. Gejala penyakit itu biasa akan


tampka setelah bahan beracun terakumulasi dalam tubuh manusia.
Beberapa perusahaan tambang di Kalimantan Timur ditengarai tridak
melakukan pengelolaan water treatmen terhadap limbah buangan
tambang dan juga tanpa penggunaan bahan penjernih Aluminum
Clorida, Tawar dan kapur. Akibatnya limbang buann tambang
menyebabkan sungai sarana pembuagan limbah cair berwarna keruh.

3.3 Peminimalisiran dan perbaikan dampak dari tambang batubara :


Lahan bekas tambang merupakan lahan sisa hasil proses pertambangan
baik berupa tambang emas, timah, maupun batubara. Pada lahan pasca
tambang biasanya ditemukan lubang-lubang dari hasil penambangan
dengan lapisan tanah yang mempunyai komposisi dan warna berbeda.
Misalnya, ada lapisan tanah berpasir yang berseling dengan lapisan
tanah liat, tanah lempung atau debu. Ada pula lapisan tanah berwarna
kelabu pada lapisan bawah, berwarna merah pada bagian tengah dan
berwarna kehitam-hitaman pada lapisan atas.
Degradasi pada lahan bekas tambang meliputi perubahan sifat fisik dan
kimia tanah, penurunan drastis jumlah spesies baik flora, fauna serta
mikroorganisme tanah, terbentuknya kanopi (area tutupan) yang
menyebabkan suatu tanah cepat kering dan terjadinya perubahan
mikroorganisme tanah, sehingga lingkungan tumbuh menjadi kurang
menyenangkan. Dengan kata lain, bahwa kondisi lahan terdegradasi
memiliki tingkat kesuburan yang rendah dan struktur tanah yang kurang
baik.

Reklamasi merupakan kegiatan yang dilakukan untuk memperbaiki


lahan pasca penambangan. Reklamasi adalah kegiatan pengelolaan tanah
yang mencakup perbaikan kondisi fisik tanah overburden agar tidak
terjadi longsor, pembuatan waduk untuk perbaikan kualitas air masam
tambang yang beracun, yang kemudian dilanjutkan dengan kegiatan
revegetasi. Revegetasi sendiri bertujuan untuk memulihkan kondisi fisik,
kimia dan biologis tanah tersebut. Namun upaya perbaikan dengan cara
ini masih dirasakan kurang efektif, hal ini karena tanaman secara umum
kurang bisa beradaptasi dengan lingkungan ekstrim, termasuk bekas
lahan tambang. Oleh karena itu aplikasi lain untuk memperbaiki lahan
bekas tambang perlu dilakukan, salah satunya dengan mikroorganisme.
Memanfaatkan Mikroorganisme

 
17 

Fungi atau jamur merupakan salah satu mikroorganisme yang secara


umum mendominasi (hidup) dalam ekosistem tanah. Mikroorganisme
ini dicirikan dengan miselium berbenang yang tersusun dari hifa
individual. Hifa-hifa tersebut mungkin berinti satu, dua atau banyak,
bersekat atau tidak bersekat. Berkembangbiak secara aseksual dengan
membentuk spora atau konidia. Secara umum fungi ini diklasifikasikan
menjadi Phycomycetes, Ascomycetes, Basidiomycetes dan fungi
Imperfecti.
Berikut ini adalah contoh beberapa genus fungi yang paling umum
dijumpai di dalam tanah, meliputi: Acrostalagmus, Aspergillus, Botrytis,
Cephalosporium, Gliocladium, Monilia, Penicillium, Scopulariopsis,
Spicaria, Trichoderma, Trichothecium, Verticillum, Alternaria,
Cladosporium, Pullularia, Cylindrocarpon, dan Fusarium.

Aspergillus merupakan genus fungi yang mempunyai sebaran dan


keanekaragaman yang luas. Raper dan Fennel (1965) dalam
monografinya menyampaikan sedikitnya terdapat 150 spesies
Aspergillus yang terbagi kedalam 18 kelompok, dengan sebaran yang
luas baik di daerah kutub maupun tropik, atau pada setiap substrat
dengan spora berhamburan di udara maupun tanah.

Saat ini beberapa jenis fungi telah dimanfaatkan untuk mengembalikan


kualitas/kesuburan tanah. Hal ini karena secara umum fungi mampu
menguraikan bahan organik dan membantu proses mineralisasi di dalam
tanah, sehingga mineral yang dilepas akan diambil oleh tanaman. Rao
(1994) melaporkan bahwa beberapa genus tertentu seperti Aspergillus,
Altenaria, Cladosporium, Dermatium, Cliocladium,
Hewlminthosporium, dan Humicoli menghasilkan bahan yang mirip
humus dalam tanah dan karenanya penting dalam memelihara bahan
organik tanah.
Beberapa fungi juga mampu membentuk asosiasi ektotropik dalam
sistem perakaran pohon-pohon hutan yang dapat membantu
memindahkan fosfor dan nitrogen dalam tanah ke dalam tubuh
tanaman.Yulinery dkk. (2001), menyarankan bahwa paling tidak tiga
kelompok fungi tanah, yaitu Aspergillus, Euphenicillium dan
Penicillium disertakan dalam usaha perbaikan lahan, hal ini karena akan
membantu mempercepat proses perbaikan lahan tersebut.

Salah satu cara lainnya untuk meminimalisir dampak negatif yang


 
18 

dihasilkan dari pertambangan batubara adalah dengan cara mengisi


pertambangan dengan residu pembakaran batubara yang mana
merupakan cara yang viable untuk membuang material ini, ditempatkan
sedemikian rupa sehingga bisa menghindari pengaruh akan kesehatan
dan lingkungan, residu yang tertinggal setelah batubara dibakar
digunakan untuk membangkitkan tenaga – sering disebut abu batubara –
terdiri dari materi batubara tak terbakar (noncombustible coal matter)
dan material yang terperangkap oleh alat pengendali polusi. Hal ini
dapat dilakukan untuk memperkecil resiko kesehatan dan kerusakan
lingkungan. Mengembalikan residu pembakaran batubara ke
pertambangan memiliki keuntungan tertentu, misalnya residu
menyediakan pengisi untuk usaha reklamasi tambang yang
mengembalikan kondisi kegunaan lahan, dan mengemballikan residu ini
ke pertambangan mengurangi kebutuhan landfill baru. Residu juga bisa
menetralkan drainase pertambangan yang asam, mengurangi potensi
kontaminan dari pertambangan yang masuk ke lingkungan.
http://www.tribunus.co.id/2018/04/bargaining-kasus-pembangunan-pda
m.html?m=1
http://petisi.co/semua-pihak-diminta-ikut-mengawasi-keuangan-kabupat
en-banyuasin/
http://petisi.co/anggota-dprd-banyuasin-kecewa-proyek-pengecoran-jala
n-rp-15-m-untuk-3-km/
http://www.kabarakyatsumsel.com/2017/05/minta-adili-anggota-dprd-ba
nyuasian.html?m=1
http://petisi.co/hutang-pamkab-banyuasin-kepada-kontraktor-mencapai-r
p-90-m/
http://www.tribunus.co.id/2018/04/kebablasan-anggaran-titipan-pemega
ng.html?m=1#.WusRrCBqw_k.twitter
http://www.rmolsumsel.com/read/2017/05/27/72722/GPMBM-Dukung-
Kejari-Banyuasin-Selsaikan-Kasus-Ini-

https://nusantarakujaya21727943526.wordpress.com/2018/05/21/repotas
i-dan-legalitas-antirasua-komisi-pemberantasan-korupsi%e2%80%8e-kp
k-saat-ini-di-pertaruh-kanpolitik-transaksionalbalter-selalu-di-tuding-ka
n/?preview=true
h​ttps://nusantarakujaya21727943526.wordpress.com/2018/04/14/bargain
ing-kasus-pembangunan-pdam-kenten-lautla-menghantar-kan-ir-s-a-supr
iono-menjadi-penguasa-banyuasin/?preview=true

 
19 

Kesimpulan :
Setiap kegiatan pastilah menghasilkan suatu akibat, begitu juga dengan
kegiatan eksploitasi bahan tambang, pastilah membawa dampak yang
jelas terhadap lingkungan dan juga kehidupan di sekitarnya, dampak
tersebut dapat bersifat negatif ataupun positif, namun pada setiap
kegiatan eksploitasi pastilah terdapat dampak negatifnya, hal tersebut
Dapat diminimalisir apabila pihak yang bersangkutan bertanggung
jawab terhadap pengolahan sumber daya alamnya dan juga
memanfaatkannya secara bijaksana.
Sebagai contoh adalah kegiatan pertambangan batubara di pulau
Kalimantan yang bisa dibilang telah mencapai tahap yang kronis,
dengan menyisakan lubang-lubang besar bekas kegiatan pertambangan
dan juga dampak-dampak yang lainnya. Hal tersebut setidaknya dapat
diminimalisir dan dikurangi dampaknya apabila kita melakukan tindakan
perbaikan dan juga memanfaatkan SDA secara bijaksana.

Dampak Hidrologi Tambang Batubara


Proses penambangan batubara, di samping melakukan penebangan
ataupun pembukaan hutan juga dilakukan pengangkatan ataupun
pembuangan top soil. Dampak pembukaan ataupun pembuangan top soil
adalah hilangnya lapisan tanah yang subur. Lebih fatal lagi hasil dari
penggalian batubara akan tebentuk kubangan-kubangan yang
mengakibatkan banjir pada bekas area penambangan.

​Tingginya tindak kreminal bergesernya nilai sosial di dalam masyara

kat itu merupakan Cara pengusaha untuk melemah kan hak hak adat.
apa guna pemerinta di mana Hasil bumi dan pendapatan daera kalau
 
20 

untuk mengurus sarana transportasi saja tidak bisa dimana CSR


Proses penambangan batubara menghasilkan cairan asam yang cukup
banyak. Pembuangan larutan/cairan asam ke lingkungan akan
berpengaruh pada penurunan kualitas aliran air tanah, unsure beracun,
tingginya kandungan padatan terlarut dalam drainase air tambang,
sehingga akan meningkatkan beban sedimen yang dibuang ke sungai.
Selain itu tumpukan sampah dan tumpukan penyimpanan batubara dapat
menghasilkan sedimentasi pada sungai, dan air sisa yang dihasilkan dari
tumpukan batubara tersebut bersifat asam dan mengandung unsur
beracun lainnya.

Akibat adanya kadar asam yang tinggi maka lahan tidak lagi layak untuk
digunakan sebagai lahan pertanian, serta cadangan air yang ada tidak
akan layak konsumsi baik untuk keperluan mandi, atau kebutuhan rumah
tangga lainnya. Efek pada air tanah, Akibat banyaknya sedimentasi yang
dihasilkan pada sungai-sungai maka konsekwensi terjadinya banjir
sangat luas. Peristiwa banjir yang bersifat asam dapat menyebabkan
kerusakan yang benar-benar parah pada infrastruktur jalan yang telah
dibangun. Selain membahayakan kehidupan dan harta benda, sebadian
besar sedimen dan kualitas air yang buruk dapat membrikan efek yang
merugikan setelah terjadinya banjir pada daerah tambang. Pada
umumnya, hal ini akan banyak menyebabkan pencemaran pada air
minum. Ativitas pertambangan batubara membutuhkan air dalam jumlah
besar untuk yang diperlukan untuk proses pencucian. Untuk itu
memenuhi kebutuhan air dalam jumlah yang besar, pemenuhan
kebutuhan air diperoleh dari air permukaan atau air tanah yang
seharusnya digunakan untuk keperluan pertanian atau domestic. Akibat
dari aktivitas pertambangan ini maka dapat mengurangi produktivitas
pertanian. Sementara itu penambangan bawah tanah memiliki efek yang
serupa namun kebutuhna air lebih kecil. Persediaan air tanah dapat
dipengaruhi oleh aktivitas pertambangan permukaan. Dampak hidrologi
akibat pertambangan ini berpengaruh pada penggunaan air akuifer
dangkal, dimana dapat menurunkan level air di sekitarnya dan juga dapat
mengubah arah aliran dalam akuifer; pencemaran akuifer akibat aktivitas
penambangan terjadi karena infiltrasi atau perkolasi air tambang, serta
aibat peningkatan infiltrasi curah hujan pada tumpukan batubara. Pada
tumpukan batubara, akibat adanya infiltrasi air hujan pada tumpunkan
batubara dapat mengakibatkan peningkatan limpasan air yang
mempunyai kualitas buruk serta membawa material yang tererosi. Hal
 
21 

ini mengakibatkan terjadinya peresapan air dengan kualitas rendah


pada akuifer air tanah dangkal, atau terjadinya aliran air dengan
kualitas buruk menuju sungai, sehingga dapat mencemari air tanah
dalam jangka panjang baik pada akuifer dangkal maupun sungai. Danau
yang terbentuk akbat penambangan batubara, airnya cenderung bersifat
asam.Sementara itu asam sulfat yang terbentuk ketika mineral yang
mengandung sulfida teroksidasi pada saat terjadinya kontak udara dapat
menyebabkan terjadinya hujan asam. Di samping itu sisa-sisa bahan
kimia dari bahan peledak biasanya bersifat racun dan meningkatkan
jumlah air yang tercemar dalam jangka waktu panjang.
http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,14-id,36174-lang,id-c,tekn
ologi-t,Dampak+Hidrologi+Tambang+Batubara-.phpx
Dampak Penambangan Batubara Terhadap Lingkungan dan Manusia.
Tak Penah Dijelaskan Kepada Masyarat Sumsel Secara Umum.
​hak ulayat tidak di berikan pelemah hukum itu hal yang biasa sehingga
posisi masyarakat semakin terjepit melalui Premanisme dan Aparat
penegak hukum di berdaya oleh uang sang pengusaha

Bininfor.com. Sumsel, Provinsi Sumatera Selatan, di era orde baru


Masyarakatnya hanya mengenal PT Bukit Asam Badan Usaha Milik
Negara satu-satunya perusahaan penambangan batubara.
Sehubungan Tahun 1998 lalu, kondisi dan situasi Negeri ini mengalami
perobahan. dari hasil perjuangan Rakyat dan Mahasiswa yang diusung
Gerakan Reformasi mampu membawa Indonesia kesuatu perobahan
besar, sehingga dengan berjalannya waktu dari pemerintahan dibawah
pimpinan Presiden Habibie., dan hasil Pemilu Legislatif tahun 1998
/1999 menjadikan Indonesia berubah, perubahan yang sangat nyata,
terutama pada tampak pemimpinan Negeri ini, tahun 1999 hingga 2004
indonesia dipimpin 2 kali oleh seorang Presiden, pertama, Gusdur
berpasangan Megawati Sukarno Putri, dan Presiden Gusdur kandas di
perjalanan pemerintahannya, sehingga langsung digantikan oleh
Megawati Sukarno Putri berpasangan dengan Hamzahas. Tahun 2004
ke 2009 negeri ini dipimpin oleh Presiden SBY berpasangan Yusuf
kalla, dan tahun 2009 hingga sekarang 2011 dipimpin Presiden SBY dan
Budiyono, artinya masyarakat awam tau benar bahwa persiden negeri ini
sejak tahun 1998 hingga 2011, sudah empat orang presiden yang
memimpin negeri ini. Dan tentunya berbagai kebijakan dari pusat hingga
ke daerah mengalami banyak perobahan juga, lebih lagi ketika sistem
pemilihan kepala negara dan kepala daerah secara langsung , Presiden,
 
22 

Gubernur, Bupati, Walikota dipilih langsung oleh rakyat, kewenangan


pusat dan daerah semakin jelas, dengan adanya UU otonomi daerah,
jelas semua ini membawa suatu perobahan. kepentingan pusat dan
daerah, perimbangan keuangan pusat dan daerah, kewenangan pusat dan
daerah, dijadikaan suatu barometer untuk menentukan
kebijakan-kebijakan kepentingan daerah masing masing.

Ketika bicara soal pemanfaatan potensi sumber daya alam yang ada di
setiap daerah, maka tentunya muncul berbagai pertanyaan masyarakat,
yang mempertanyakan benarkah,,? Kebijakan dan program pemanfaatan
sumber daya alam , antara lain seperti Tambang Batubara dan
penambangan Batubara sekala besar, merupakan kebijakan dari seorang
Presiden, ataukah, sebatas kebijakan dan program kementerian
Pertambangan dan Energi atau mungkin itu merupakan kebijakan dari
Gubernur atau bupatinya.
Yang jelas di Provinsi Sumatera Selatan mulai tahun 2009 hingga 2011
masyarakat sumsel tau secara pasti di provinsi ini memiliki
penambangan batu bara sekala besar, di beberapa daerah seperti
kabuapten Muara Enim, Lahat, Muba, Baturaja. di tiga wilayah ini
sedikitnya ada puluhan Perusahaan yang melakukan penambangan
batubara sekala besar, dan hasil tambangnya di ekspor ke berbagai
negara.
Ironisnya sekarang berkembang isu di masyarakat, bahwa
penambangan batubara memiliki dampak kepada lingkungan dan
manusia, pertanyaannya benarkah semua ini,..? kenapa, ? para
pengusaha batubara ketika menapakkan kakinya di bumi Sumatera
Selatan tidak pernah membicarakan dampak yang sangat
membahanyakan lingkungan dan mausia, kepada masyarakat, dan kami
mencoba memberikan penjelasan tentang hal itu.

Mengutif Sumber wikipedia.com mengatakan Debu Batubara Dan


Dampak Terhadap Lingkungan Dan Kesehatan bagi kehidupan manusia,
dan Dampak posistifnya bagi kepentingan secara ekonomi. Kali ini kami
akan mencoba mengupas mengenai dampak negatif yang ditimbulkan
oleh kegiatan penambangan dan pemanfaatan dari batubara.
Bila berbicara mengenai dampak negatif dari batubara pasti kita
langsung mengacu pada gas yang di timbulkan oleh kegiatan
penambangnya, tidak lama ini ledakan terjadi di tambang dalam sawah
lunto, yang disebabkan oleh munculnya gas yang timbul dari proses
 
23 

penambangan. Namun dari semua hal itu masih banyak lagi tentang
dampak negatif mengenai batubara.

Antaranya dampak negatifnya adalah kerusakan lingkungan dan masalah


kesehatan yang ditimbulkan oleh proses penambangan dan
penggunaannya. Batubara dan produk buangannya, berupa abu ringan,
abu berat, dan kerak sisa pembakaran, mengandung berbagai logam
berat : seperti arsenik, timbal, merkuri, nikel, vanadium, berilium,
kadmium, barium, cromium, tembaga, molibdenum, seng, selenium, dan
radium, yang sangat berbahaya jika dibuang di lingkungan.
Batubara juga mengandung uranium dalam konsentrasi rendah, torium,
dan isotop radioaktif yang terbentuk secara alami yang jika dibuang
akan mengakibatkan kontaminasi radioaktif. Meskipun
senyawa-senyawa ini terkandung dalam konsentrasi rendah, namun akan
memberi dampak signifikan jika dibung ke lingkungan dalam jumlah
yang besar. Emisi merkuri ke lingkungan terkonsentrasi karena terus
menerus berpindah melalui rantai makan dan dikonversi menjadi
metilmerkuri, yang merupakan senyawa berbahaya dan membahayakan
manusia. Terutama ketika mengkonsumsi ikan dari air yang
terkontaminasi merkuri.

​Dampak Penambangan Batubara Terhadap Lingkungan


Seperti halnya aktifitas pertambangan lain di Indonesia, Pertambangan
batubara juga telah menimbulkan dampak kerusakan lingkungan hidup
yang cukup parah, baik itu air, tanah, Udara, dan hutan, Air
Penambangan Batubara secaralangsung menyebabkan pencemaran air,
yaitu dari limbah penducian batubara tersebut dalam hal memisahkan
batubara dengan sulfur. Limbah pencucian tersebut mencemari air
sungai sehingga warna air sungai menjadi keruh, Asam, dan
menyebabkan pendangkalan sungai akibat endapan pencucian batubara
tersebut. Limbah pencucian batubara setelah diteliti mengandung zat-zat
yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia jika airnya dikonsumsi.
Limbah tersebut mengandung belerang ( b), Merkuri (Hg), Asam Slarida
(Hcn), Mangan (Mn), Asam sulfat (H2sO4), dan Pb. Hg dan Pb
merupakan logam berat yang dapat menyebabkan penyakit kulit pada
manusia seperti kanker kulit.
Adapun Nilai atau dampak positif dari batubara itu sendiri, Sumber
wikipedia.com mengatakan Tidak dapat di pungkiri bahwa batubara
adalah salah satu bahan tambang yang memiliki nilai ekonomis yang
 
24 

cukup tinggi. Indonesia adalah salah satu negara penghasil batubara


terbesar no.2 setelah Australia hingga tahun 2008. Total sumber daya
batubara yang dimiliki Indonesia mencapai 104.940 Milyar Ton dengan
total cadangan sebesar 21.13 Milyar Ton. Nanun hal ini tetap
memberikan efek positif dan negatif, dan hal positifnya Sumber
wikipedia.com mengatakan. Hal positifnya adalah bertambahnya devisa
negara dari kegiatan penambanganya.
Disisi lain sumber dari Masters thesis, Program Pasca Sarjana
Universitas Diponegoro. Menempatkan diri untuk bicara soal .

KEBIJAKAN HUKUM PIDANA DALAM PENANGGULANGAN


DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP AKIBAT PENGUSAHAAN
PERTAMBANGAN BATUBARA.

SARI, NIRMALA TAHUN 1999 LALU MENGATAKAN


KEBIJAKAN HUKUM PIDANA DALAM PENANGGULANGAN
DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP AKIBAT PENGUSAHAAN
PERTAMBANGAN BATUBARA.

Indonesia memiliki cadangan batubara yang sangat besar dan


menduduki posisi ke-4 di dunia sebagai negara pengekspor batubara. Di
masa yang akan datang batubara menjadi salah satu sumber energi
alternatif potensial untuk menggantikan potensi minyak dan gas bumi
yang semakin menipis. Pengembangan pengusahaan pertambangan
batubara secara ekonomis telah mendatangkan hasil yang cukup besar,
baik sebagai pemenuhan kebutuhan dalam negeri maupun sebagai
sumber devisa.

Bersamaan dengan itu, eksploitasi besar-besaran terhadap batubara


secara ekologis sangat memprihatinkan karena menimbulkan dampak
yang mengancam kelestarian fungsi lingkungan hidup dan menghambat
terselenggaranya sustainable eco-development.

Untuk memberikan perlindungan terhadap kelestarian fungsi lingkungan


hidup, maka kebijakan hukum pidana sebagai penunjang ditaatinya
norma-norma hukum administrasi (administrative penal law) merupakan
salah satu kebijakan yang perlu mendapat perhatian, karena pada tataran
implementasinya sangat tergantung pada hukum administrasi.
Diskresi luas yang dirniliki pejabat administratif serta pemahaman
 
25 

sempit terhadap fungsi hukum pidana sebagai ultimum remedium


dalam penanggulangan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan
hidup, seringkali menjadi kendala dalam penegakan norma-norma
hukum lingkungan.
Akibatnya, ketidaksinkronan berbagai peraturan perundang-undangan
yang disebabkan tumpang tindih kepentingan antar sektor mewarnai
berbagai kebijakan di bidang pengelolaan lingkungan hidup.

Bertitik tolak dari kondisi di atas, maka selain urgennya sinkronisasi


kebijakan hukum pidana, diperlukan pula pemberdayaan upaya-upaya
lain untuk mengatasi kelemahan penggunaan sarana hukum pidana,
dalam rangka memberikan perlindungan terhadap kelestarian fungsi
lingkungan hidup dan korban yang timbul akibat degradasi fungsi
lingkungan hidup. Demikian dikatakan SARI, NIRMALA tahun 1999
lalu. ***RED

ttp://bininfor.com/dampak-penambangan-batubara-terhadap-lingkungan-
dan-manusia-tak-penah-dijelaskan-kepada-masyarat-sumsel-sec
Dampak lingkungan ekspoitasi tambang batubara.

Dampak lingkungan Eksploiitasi Batu bara

 
26 

dari hasil diskusi POKJA PWLH banjarmasin yang menghadirkan


Walhi, Kompas Borneo, Lsm lainnya menyoroti mengenai
pertambangan batubara khususnya di daerah Kalimantan Selatan.
perubahan alam KalSel sudah tersasa akibat dampak tambang batu bara.
kawasan daratan kalsel telah hancur, hutan gundul akibat penebangan
secara membabibuta, ditambah dengan penambangan yang tak
terkendali. di kawasan pertambangan PT Adaro terdapat beberapa
tandon raksaas atau kawah bekas tambang yang menyebabkan bumi
menganga tak mungkin bisa direklamasi . kawasan Satui tempat operasi
PT Arutmin menyebabkan alam berganit menjadi hutan buatan hasil
reboisasi dan menghilangkan hutan alam penjaga lingkungan. yang
paling parah, ratusan bahkan ribuan hektar lahan bekas tambang yang
dikelola masyarakat baik perusahaan kecil atau individu, dimana mereka
hanya mengambil batu bara dan dibiarkan tanpa reklamasi. sekarang ini
sungai martapura yang berhulu di pegunungan Meratus telah berubah
warna dan tingkat kekeruhannya akhibat partikel kaolin, lumpur dan
material lainnya. tambang batubara juga telah mengubah tingkat plusi
udara dan debu diberbagai wilayah Sum-Sel.Pt Sarvo Perusahaan
tersebut Bergerak di bidang Layanan jasah Terminal dan Akses Jalan
selain itu tambang telah melahirkan gas metana yang berakibat
meningkatkan tingkat keasaman tahanh disekitar tambang sehingga
kawasan tambang tidak subur dan cenderung gersang. keluhan lain yang
merisaukan akibat kegiatan tambang yaiut terjadinya pendangkalan
sungai, pencemaran air limbah dll, berikut beberapa dampak dari
pertambangan batubara:

1. lubang tambang.
2. Air Asam tambang: mengandung loga berat yang berpotensi
menimbulkan dampak lingkungan jangka panjang
3. Tailing: teiling mengandung logam-logam berat dalam kadar yang
mengkhawatirkan seperti tembaga, timbal, merkuri, seng, arsen yang
berbahaya bagi makhluk hidup.
4. Sludge: limbah cucian batubara yang ditampung dalam bak
penampung yang juga mengandung logam berbahaya seperti boron,
selenium dan nikel dll.
5. polusi udara: akibat dari flying ahses yang berbahaya bagi kesehatan
penduduk dan menyebabkan infeksi saluran pernapasan.
6. Chompeorr live cerobong Batu Bara ubtuk Mengisi Tongkang

 
27 

7. mengganti rugi kerugian para nelayan tradisional tersebut

8. di bentuk suatu tim satgas di setiap desanya guna memediasi


permasalahan yang di timbul kan oleh Esplorasi dan kegiatan lalu
lalangnya tongkang batu bara di sungai dan wilayanya

9. di berikan uang ataupun sebentuk Konpensasi untuk setiap warga


yang kena dampaknya

Reklamasi
reklamasi adalah kegiatan yang bertujuan memperbaiki atau menata
kegunaan lahan yang terganggu akibat kegiatan usaha pertambangan,
agar dapat berfungsi dan berdaya guna sesuai peruntukannya. agar
menghasilkan lingkunga ekosistem yang baik.
permasalahan yang perlu diperhatikan dalam penetapan rencana
reklamasi meliputi:
* pengisian kembali bekas tambang, penebaran tanah pucuk dan
penataan kembali lahan bekas tambang serta lahan bagi pertambangan
yang kegiatannya tidak dilakukan pengisian kembali
* stabilitas jangka panjang, penampungan tailing, kestabilan lereng, dan
permukaan timbunan, pengendalian erosi dan pengelolaan air.
* Keamanan tambang terbuka, longsoran, pengelolaan B3 dan bahaya
radiasi
* Karakteristik kandungan bahan nutrien dan sifat beracun tailing atau
limbah batuan yang dapat berpengaruh pada kegiatan revegatasi
* Pencegahan dan penanggulangan air asam tambang
* Penanganan potensi timbulnya gas metan dan emisinya dari tambang
batubara.
* Penanganan bahan galian yang masih potensial dan bernilai ekonomi
baik dalam kondisi in-sitiu, berupa tailing atau waste
* Rekonstruksi tanah
* Revegatasi
* Penanganan air asam tambang

* Pengaturan Drainase
http://haniyahsofyan.blogspot.com/2009/11/dampak-lingkungan-ekspoit
asi-tambang.html
DILEMATIKA PERTAMBANGAN BATUBARA DAERAH BAG IV

 
28 

Posted on November 19, 2011

Berdasarkan data yang dikutip dari wahana lingkungan hidup sumsel,


pada Tahun 2010 terjadi Pencemaran terhadap Sungai sungai yang ada
di Sumatera selatan, sedikitnya terjadi 4 kali pencemaran oleh
perusahaan Pertambangan yang beroperasi di Kabupaten Muara Enim
dan Lahat. Adapun sungai sungai yang tercemar tersebut adalah Sungai
enim di Muara Enim, Sungai Lematang di Lahat dan Sungai Musi di
Palembang.Selain dari kerusakan lingkungan akibat pertambangan
batubara diatas, Tambang Batubara pun yang dalam hal ini sistem
pengangkutannya, mengancam Transportasi Umum Kereta Api yang ada
di Sumatera selatan, yang menghubungkan Lubuk Linggau – Palembang
(260 Km). Setiap harinya jalur ini dilewati oleh 8 Buah Kereta api yang
hilir mudik mengangkut 40 Gerbong batubara yang ada di tanjung Enim.
Sedangkan untuk jalur Tanjung Enim – Tarahan Lampung (420 KM),
setiap hari Rel ini di lewati oleh 14 buah kereta Babaranjang (Batubara
Rangkaian panjang) yang hilir mudik dengan 40 gerbong berisi Batubara
dengan muatan pergerbongnya 45 Ton, yang sangat tidak berbanding
dengan kereta pengangkut Penumpang, setiap harinya hanya berangkat 2
Kali sehari (Pagi Kereta Ekonomi – Malam eksekutif dan bisnis) yang
masing masing setiap berangkat mengangkut sekitar 600 Orang
penumpang. Dampak atau Daya rusak dari intensifnya aktifitas
pengangkutan batubara Tanjung Enim – Palembang – Tarahan lampung,
setiap harinya kereta penumpang mengalami keterlambatan jadwal
sampai di Tujuan 3-5 Jam dikarenakan harus menunggu kereta
Babaranjang lewat. Selain itu juga setidaknya selama tahun 2010, telah
terjadi sedikitnya 2 kali kecelakaan kereta api pengangkut Batubara yang
terjadi pada bulan Januari di Km 333+34 di Basmen Penimur, Desa
Lubuk Raman, Kecamatan Rambang Dangku, Muara Enim dan pada
bulan Desember di Stasiun Blambangan umpu, Waykanan lampung.
Anjloknya kereta Babaranjang tersebut telah menyebabkan 3 ribu orang
penumpang kereta Api Ekonomi, eksekutif dan bisnis yang berangkat
pada Pagi dan malam hari dengan tujuan Palembang – Lubuk Linggau
atau sebaliknya, Palembang – lampung dan sebaliknya terlantar 6-9 Jam.
Fakta lainnya kerusakan akibat dari Pengangkutan Batubara ini, juga
dialami di angkutan sungai, dan mengancam terputusnya Transportasi
darat di Kota Palembang yang dalam hal ini Jembatan AMPERA yang
merupakan satu satunya jembatan di tengah Kota Palembang yang
menghubungkan wilayah Palembang seberang ilir dan seberang Ulu.
 
29 

Yaitu pada tahun 2008 terjadi 5 kali kejadian tongkang pengangkut


Batubara yang berisi 1000 – 2000 Ton, menabrak tiang penyangga
jembatan Ampera berakibat terjadinya keretakan pada tiang jembatan
yang berumur setengah abad tersebut dan terancam Roboh.

Banyaknya persoalan kerusakan yang ditimbulkan atas ekploitasi


batubara di sumatera selatan ini ternyata tidaklah berhenti pada tahun
2010 karena di awal tahun 2011 masyarakat Sumsel disodorkan kembali
berita tentang Kerusakan Jalan Negara sepanjang 230 Km yang
menghubungkan Lahat-Muara Enim-Prabumulih- Ogan Ilir- Palembang,
akibat aktifitas truk pengangkut Batubara dari Kabupaten Lahat dan
Muara enim menuju lokasi penampungan (Stockpile) di Dermaga
Kertapati, Dermaga Zikon Plaju Palembang dan Tanjung Lago
Kabupaten Banyuasin. Berdampak terjadinya kemacetan, dahulunya
sebelum dilakukannya Eksploitasi Batubara di Kabupaten Lahat dan
Kabupaten Muara enim jarak tempuh 2 kota ini dengan kecepatan rata
rata 60 Km/jam hanya memerlukan waktu 3 – 4 jam tapi kini dengan
kondisi jalan yang rusak setidaknya membutuhkan waktu 5 – 6 Jam.

Fakta diatas semakin menguatkan kita semua bahwa Pertambangan


Batubara sangatlah lekat dengan Ketimpangan-ketimpangan di berbagai
bidang kehidupan. Rencana Pembangunan Rel Khusus Oleh perusahaan
Patungan antara BUMN dan swasta asing untuk pengangkutan Batubara
di Sumatera Selatan sepanjang 270 KM dari Tanjung Enim ke Dermaga
Tanjung Lago (Tanjung Api Api) Kabupaten Banyuasin dan juga
Rencana pembangunan Jalan darat khusus Batubara dari Kabupaten
Lahat ke Tajung Api Api Kabupaten Banyuasin, tidak akan dapat
menyelesaikan dan menghentikan Kerusakan Lingkungan Hidup, Sosial,
Budaya, dan Ekonomi Rakyat akibat Pertambangan Batubara dan malah
akan mempercepat proses Hancurnya semua aspek aspek tersebut.
Sebagi contoh bahwa Pohon-pohon karet yang masih tegak berdiri pun
ditebang dan lahannya digunakan untuk memperluas penambangan
batubara. Sekitar 500 hektar kebun karet rakyat berganti menjadi area
galian batubara tradisional sejak dua tahun lalu. lebih dari 1.000 warga
menggali tanah di bekas kebun karet untuk mengambil batubara.
Aktivitas itu tersebar di banyak lokasi yang menghasilkan sekitar 200
lubang galian pada kedalaman 5-15 meter. Setelah mengambil dan
mengemas batubara ke dalam karung, mereka langsung mengangkut ke
truk-truk yang telah menunggu di sepanjang tepi jalan desa itu. Di salah
 
30 

satu lokasi, aktivitas ini telah merusak aliran sungai yang melintasi
kebun karet sehingga aliran air terhenti. Yandri, warga setempat,
mengatakan, kebun mulai dibuka menjadi galian batubara sekitar dua
tahun lalu ketika masyarakat mengetahui bahwa wilayah mereka telah
dipatok pengusaha besar sebagai area tambang swasta. ”Pengusaha
mendapat izin usaha penambangan (IUP) dari pemerintah daerah tanpa
sepengetahuan kami. Bahkan, rumah kami ini masuk dalam lokasi izin
tambang mereka,” ujar Yandri. Sebagian warga telah menerima ganti
rugi lahan dan kebun karet sebesar Rp 150 juta-Rp 200 juta. Warga
menerima ganti rugi setelah dibujuk berulang kali oleh investor swasta.

”Masyarakat diiming-imingi ganti rugi sehingga mau menyerahkan


lahan,” ujar Syahwal. Sudah dua kali Syahwal menolak bujukan untuk
menyerahkan 9 hektar kebun karetnya menjadi tambang batubara skala
besar. Namun, lama-lama kami sadar kami sebenarnya rugi sebab
kehilangan mata pencarian. Uang ganti rugi tak bertahan lama. Setelah
habis, kami tak bisa apa-apa lagi,” ungkap Yandri. Berdasarkan data
Asosiasi Penambang Batubara Tradisional (Asmara), saat ini terdapat
7.824 warga petambang batubara tradisional di Desa Darmo dan
sekitarnya, serta ribuan orang yang menjadi buruh, tukang ojek, dan
penjual makanan di sekitar lokasi galian. Seorang penggali batubara,
Irwan, mengatakan bisa memperoleh 40-50 karung dengan upah Rp
3.000 per karung. ”Saya bisa mendapat uang lebih banyak sejak bekerja
di sini,” katanya. Bahkan, sebagian warga setempat yang semula
menganggur, setelah menekuni usaha galian batubara, kesejahteraan
mereka kian membaik. Usaha galian batubara disebut sebagai aktivitas
ilegal. Pertengahan 2011 ini, Asmara Muara Enim mendesak pemerintah
untuk mengatur usaha ini. Menurut Kejohn, pengurus Asmara, sudah 68
izin usaha pertambangan bagi perusahaan swasta diterbitkan, tetapi
masyarakat justru tak bisa memperoleh izin galian batubara. Itu
menyebabkan seolah-olah usaha rakyat ilegal. ”Padahal, kami menggali
(batubara) ini di tanah kami sendiri,” ujarnya.
http://tanjungenimunions.wordpress.com/2011/11/19/dilematika-pertam
bangan-batubara-daerah-bag-iv/
Cara Menghentikan Daya Rusak Batubara adalah membiarkan Batubara
dalam Perut Bumi
_Salah satu Daya Rusak Tambang Batubara berdasarkan catatan
WALHI Sumsel pada Tahun 2010 adalah Pencemaran terhadap Sungai
sungai yang ada di Sumatera selatan, sedikitnya terjadi 4 kali
 
31 

pencemaran oleh perusahaan Pertambangan yang beroperasi di


Kabupaten Muara Enim dan Lahat. Adapun sungai sungai yang
tercemar tersebut adalah Sungai enim di Muara Enim, Sungai Lematang
di Lahat dan Sungai Musi di Palembang. dan sampai saat ini sungai
sungai yang tercemar tersebut belum juga di pulihkan.
Selain dari kerusakan lingkungan akibat pertambangan batubara yang
telah kami sebutkan diatas, Tambang Batubara pun yang dalam hal ini
sistem pengangkutannya, mengancam Transportasi Umum Kereta Api
yang ada di Sumatera selatan, yang menghubungkan Lubuk Linggau –
Palembang (260 Km). Setiap harinya jalur ini dilewati oleh 8 Buah
Kereta api yang hilir mudik mengangkut 40 Gerbong batubara dari
Wilayah Kuasa Pertambangan (KP) PT. Bukit Asam yang ada di tanjung
Enim. Sedangkan untuk jalur Tanjung Enim – Tarahan Lampung (420
KM), setiap hari Rel ini di lewati oleh 14 buah kereta Babaranjang
(Batubara Rangkaian panjang) yang hilir mudik dengan 40 gerbong
berisi Batubara dengan muatan pergerbongnya 40 Ton, yang sangat
tidak berbanding dengan kereta pengangkut Penumpang, setiap harinya
hanya berangkat 2 Kali sehari (Pagi Kereta Ekonomi – Malam eksekutif
dan bisnis) yang masing masing setiap berangkat mengangkut sekitar
600 Orang penumpang.

Dampak atau Daya rusak dari intensifnya aktifitas pengangkutan


batubara Tanjung Enim – Palembang – Tarahan lampung, setiap harinya
kereta penumpang mengalami keterlambatan jadwal sampai di Tujuan
3-5 Jam dikarenakan harus menunggu kereta Babaranjang lewat ( baca:
PT.KAI lebih mengutamakan angkutan Batubara dari keselamatan
Penumpang).
Selain itu juga setidaknya selama tahun 2010, telah terjadi sedikitnya 2
kali kecelakaan kereta api pengangkut Batubara (baca;anjlok) yang
terjadi pada bulan Januari di Km 333+34 di Basmen Penimur, Desa
Lubuk Raman, Kecamatan Rambang Dangku, Muara Enim dan pada
bulan Desember di Stasiun Blambanganumpu, Waykanan lampung.
Anjloknya kereta Babaranjang tersebut telah menyebabkan 3 ribu orang
penumpang kereta Api Ekonomi, eksekutif dan bisnis yang berangkat
pada Pagi dan malam hari dengan tujuan Palembang – Lubuk Linggau
atau sebaliknya, Palembang – lampung dan sebaliknya terlantar 6-9 Jam.

Fakta lainnya kerusakan akibat dari Pengangkutan Batubara ini, juga


dialami di angkutan sungai, dan mengancam terputusnya Transportasi
 
32 

darat di Kota Palembang yang dalam hal ini Jembatan AMPERA


yang merupakan satu satunya jembatan di tengah Kota Palembang
yang menghubungkan wilayah Palembang seberang ilir dan seberang
Ulu. Yaitu pada tahun 2008 terjadi 5 kali kejadian tongkang pengangkut
Batubara yang berisis 1000 – 2000 Ton, menabrak tiang penyangga
jembatan Ampera berakibat terjadinya keretakan pada tiang jembatan
yang berumur setengah abad tersebut dan terancam Roboh.

Banyaknya persoalan kerusakan yang ditimbulkan atas ekploitasi


batubara di sumatera selatan ini ternyata tidaklah berhenti pada tahun
2010 karena di awal tahun 2011 masyarakat Sumsel disodorkan kembali
berita tentang Kerusakan Jalan Negara sepanjang 230 Km yang
menghubungkan Lahat-Muara Enim-Prabumulih- Ogan Ilir- Palembang,
akibat aktifitas truk pengangkut Batubara dari Kabupaten Lahat dan
Muara enim menuju lokasi penampungan (Cockpile) di Dermaga
Kertapati, Dermaga Zikon Plaju Palembang dan Tanjung Lago
Kabupaten Banyuasin. Berdampak terjadinya kemacetan, sehingga
dalam Pengamatan WALHI Sumsel, dahulunya sebelum dilakukannya
Eksploitasi Batubara di Kabupaten Lahat dan Kabupaten Muara enim
oleh PT. Bara Alam Utama, PT. Batubara lahat, PT. Bara Merapi Energi,
PT. Satria Mayangkara Sejahtera, PT. Andalas, PT. MME, PT Bara
Alam Sejahtera dan PT.Muara Alam Sejahtera dan juga eksploitasi
Batubara secara besar besaran oleh PT. Bukit Asam, jarak tempuh 2 kota
ini dengan kecepatan rata rata 60 Km/jam hanya memerlukan waktu 3 –
4 jam tapi kini dengan kondisi jalan yang rusak setidaknya
membutuhkan waktu 5 – 6 Jam.
Fakta diatas semakin menguatkan kita semua bahwa Pertambangan
Batubara sangatlah lekat dengan DAYA RUSAK sehingga dengan ini
WALHI Sumsel tanpa hentinya kembali menginggatkan dan meminta
kepada pemerintah Republik Indonesia dibawah Pimpinan SBY dan
Khususnya Pemerintah Daerah Sumsel yang dipimpin oleh Gubernur
Alex Noerdin yang merupakan pelayan dan pelindung Masyarakat.
Bahwa
Rencana Pembangunan Rel Khusus untuk pengangkutan Batubara di
Sumatera Selatan sepanjang 270 KM dari Tanjung Enim ke Dermaga
Tanjung Lago (Tanjung Api Api) Kabupaten Banyuasin dan juga
Rencana pembangunan Jalan darat khusus Batubara dari Kabupaten
Lahat ke Tajung Api Api Kabupaten Banyuasin, tidak akan dapat
menyelesaikan dan menghentikan Kerusakan Lingkungan Hidup, sosial,
 
33 

Budaya, dan ekonomi rakyat akibat Pertambangan Batubara dan


malah akan mempercepat proses Hancurnya semua aspek aspek
tersebut.
Satu satunya Cara untuk menghentikan semua Daya Rusak
Pertambangan Batubara adalah membiarkan Batubara tetap dalam perut
Bumi.
Menyerukan kepada masyarakat Sumatera Selatan untuk terus
mengumpulkan kekuatan dan mengorganisir diri untuk Pulihkan
Sumatera selatan, dengan melakukan perlawanan dan menolak segala
bentuk Pertambangan di Sumatera selatan.
http://www.walhi.or.id/id/kampanye-dan-advokasi/tematik/tambang/211
-cara-menghentikan-daya-rusak-batubara-adalah-membiarkan-batubara-
dalam-perut-bumi.html

Dampak pertambangan batubara :


Dampak Penambangan Batubara pada Lingkungan
Batubara merupakan salah satu bahan galian strategis yang sekaligus
menjadi sumber daya energy yang sangat besar. Indonesia pada tahun
2006 mampu memproduksi batu bara sebesar 162 juta ton dan 120 juta
ton diantaranya diekspor. Sementara itu sekitar 29 juta ton diekspor ke
Jepang.
Indonesia memiliki cadangan batubara yang tersebar di Pulau
Kalimantan dan Pulau Sumatera, sedangkan dalam jumlah kecil, batu
bara berada di Jawa Barat, Jawa Tengah, Papua dan Sulawesi.
Sedangkan rumus empirik batubara untuk jenis bituminous adalah
C137H97O9NS, sedangkan untuk antrasit adalah C240H90O4NS.

Jenis Batubara ;
Jenis dan kualitas batubara tergantung pada tekanan, panas dan waktu
terbentuknya batubara. Berdasarkan hal tersebut, maka batubara dapat
dikelompokkan menjadi 5 jenis batubara, diantaranya adalah antrasit,
bituminus, sub bituminus, lignit dan gambut.
1. Antrasit merupakan jenis batubara dengan kualitas terbaik, batubara
jenis ini mempunyai cirri-ciri warna hitam metalik, mengandung unsur
karbon antara 86%-98% dan mempunyai kandungan air kurang dari 8%.
2. Bituminus merupakan batubara dengan kualitas kedua, batubara jenis
ini mempunyai kandungan karbon 68%-86% serta kadar air antara
8%-10%. Batubara jenis ini banyak dijumpai di Australia.
3. Sub Bituminus merupakan jenis batubara dengan kualitas ketiga,
 
34 

batubara ini mempunyai ciri kandungan karbonnya sedikit dan


mengandung banyak air.
4. Lignit merupupakan batubara dengan kwalitas keempat, batubara
jenis ini mempunyai cirri memiliki warna muda coklat, sangat lunak dan
memiliki kadar air 35%-75%.
5. Gambut merupakan jenis batubara dengan kwalitas terendah, batubara
ini memiliki cirri berpori dan kadar air diatas 75%.
Sedangkan berdasarkan kalori pembakaran yang dihasilkan, batubara
dikelompokkan menjadi tiga;

1. Batubara Kalori Sangat Tinggi adalah batubara yang mempunyai


kalori hasil pembakaran sangat tinggi dengan jumlah kalori lebih dari
7100 kal/gr
2. Batubara Kalori Tinggi adalah batubara yang mempunyai kalori hasil
pembakaran antara 6100-7100 kal/gr.
3. Batubara Kalori Rendah adalah batubara yang mempunyai kalori hasil
pembakaran kurang dari 5100 kal/gr.
Dampak Penambangan Batubara
Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan ekspor, Indonesia
memiliki beberapa tambang batubara yang tersebar di Pulau Sumatera
dan Pulau Kalimantan, baik yang dioperasikan oleh Perusahaan Milik
Negara maupun swasta.
Pada tahun 2006, Indonesia menduduki peringkat kedua setelah
Australia dalam urutan Negara pengekspor batubara. Sekitar 74%
batubara Indonesia merupakan hasil penambangan perusahaan swasta,
sementara itu satu-satunya BUMN yang melakukan penambangan
batubara adalah PT Tambang Bukit Asam. Berdasarkan informasi
PUSLITBANG Teknologi Mineral dan Batubara, 2006, sebagian besar
batubara digunakan untuk pembangkitan energy.
Penambangan batubara menimbulkan beberapa dampak yang merugikan
penduduk sekitar dan lingkungan. Jika permukaan batubara yang
mengandung pirit (besi sulfide, disebut juga dengan emas bodoh)
berinteraksi dengan air dan udara maka akan terbentuk asam sulfat. Jika
terjadi hujan di daerah pertambangan, maka asam sulfat tersebut akan
bergerak sepanjang aliran air, dan sepanjang terjadinya hujan di daerah
tailing pertambangan maka produksi asam sulfat terus terjadi, baik
selama penambangan beroperasi maupun tidak. Jika batubara pada
tambang terbuka, seluruh lapisan yang terbuka berinteraksi dengan air
dan menghasilkan asam sulfat, maka akan merusak kesuburan tanah dan
 
35 

pecemaran sungai mulai terjadi akibat kandungan asam sulfat yang


tinggi , hal ini berdampak pada terbunuhnya ikan-ikan di sungai,
tumbuhan, dan biota air yang sensitive terhadap perubahan pH yang
drastis.
Disamping itu, penambagan batubara juga menghasilkan gas metana,
gas ini mempunyai potensi sebagi gas rumah kaca. Kontribusi gas
metana yang diakibatkan oleh aktivitas manusia, memberikan kontribusi
sebesar 10,5% pada emisi gas rumah kaca.
Dari hasil panel antar Pemerintah Negara anggota PBB tentang
Perubahan Iklim, gas metana mempunyai potensi pemanasan global 21
kali lebih besar dibandingkan dengan karbon dioksida selama 100 tahun
terakhir. Jika PLTU batubara menghasilkan bahaya pada emisi hasil
bakarnya, maka proses penambangan batubara dapat menghasilkan
gas-gas berbahaya. Gas-gas berbahaya ini dapat menimbulkan ancaman
bagi para pekerja tambang dan merupakan sumber polusi udara.
Disamping itu penambangan batubara merusak vegetasi yang ada,
menghancurkan profil tanah genetic, menggantikan profil tanah genetic,
menghancurkan satwa liar dan habitatnya, degradasi kualitas udara,
mengubah pemanfaatan lahan dan hingga pada batas tertentu dapat
megubah topografi umum daerah penambangan secara permanen.
https://nusantarakujaya21727943526.wordpress.com/2018/03/09/sriwija
ya-suda-tidak-berasah-lagi-di-mana-sultan-dan-diraja-sriwijaya-ku-yang
-sumber-dari-sejarah-dan-adat-istiadat-bumiputra-nusantara-negara-indo
nesia/amp/?__twitter_impression=true

Dari hasil rekam jejak Tim Media Petisi.co