Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PENDAHULUAN

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Pneumothorak


di Ruang Medical Surgical RSUP Sanglah Denpasar
Tanggal 16 Maret 2018

Oleh:
I Kadek Ariawan 17089142015

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BULELENG


PROGRAM PROFESI NERS
2017
LEMBAR PENGESAHAN

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Pneumothorak


di Ruang Medical Surgical RSUP Sanglah Denpasar
Tanggal 16 Maret 2018

Telah diterima dan disahkan oleh Clinical Teacher (CT) dan Clinical
Instructure (CI), Stase Keperawatan Gadar & Intensif sebagai syarat memperoleh
penilaian dari departemen Keperawatan Gadar & Intensif Program Profesi Ners
STIKes Buleleng.

Denpasar, 16 Maret 2018

Clinical Instructure (CI) Clinical Teacher (CT)


Ruang Medical Surgical Stase Keperawatan Gadar & Intensif
RSUP Sanglah Denpasar STIKes Buleleng

Ns. I Wayan Swantyasa, S.Kep ………………………………………


NIP. 119770428 200003 1 001 NIK.
A. KONSEP DASAR TEORI PNEUMOTHORAK
1. Anatomi Fisiologi
Letak paru-paru di rongga dada, menghadap ke tengah rongga dada
atau kavum mediastinum. Pada bagian tengah terdapat tampuk paru-paru
atau hilus. Pada mediastinum depan terletak jantung. Paru-paru dibungkus
oleh selaput yang bernama pleura. Pleura dibagi menjadi 2 yaitu, pleura
visceral (selaput pembungkus) yang langsung membungkus paru-paru
dan pleura parietal yaitu selaput yang melapisi rongga dada sebelah luar.
Pada keadaan normal, kavum pleura ini vakum (hampa) sehingga paru-
paru dapat mengembang mengempis dan juga terdapat sedikit cairan
(eksudat) yang berguna untuk melumasi permukaanya (pleura),
menghindarkan gesekan antara paru-paru dan dinding dada sewaktu ada
gerakan bernapas.
Paru-paru merupakan bagian tubuh yang sebagian besar terdiri dari
gelembung (gelembung hawa atau alveoli). Gelembung alveoli ini terdiri
dari sel-sel epitel dan endotel. Jika dibentangkan luas permukaannya
kurang lebih 90 m².
Alveoli merupakan tempat pertukaran udara, O2 masuk ke dalam
darah dan CO2 dikeluarkan dari darah. Banyaknya gelembung paru-paru
ini kurang lebih 700.000.000 buah (paru-paru kiri dan kanan). Paru-paru
terbagi menjadi dua yaitu paru-paru kanan, terdiri dari 3 lobus yaitu lobus
pulmo dekstra superior, lobus media, dan lobus inferior. Tiap-tiap lobus
terdiri dari belahan yang kecil bernama segmen. Paru-paru kiri mempunyai
10 segmen yaitu 5 buah segmen pada lobus superior, dan 5 buah segmen
pada inferior. Paru-paru kanan mempunyai 10 segmen yaitu 5 buah
segmen pada lobus superior, 2 buah segmen pada lobus medialis, dan 3
buah segmen pada lobus inferior. Tiap-tiap segmen ini masih terbagi lagi
menjadi belahan-belahan yang bernama lobulus. Di antara lobulus satu
dengan yang lainnya dibatasi oleh jaringan ikat yang berisi pembuluh
darah, getah bening dan syaraf, dan tiap lobulus terdapat sebuah
bronkiolus. Di dalam lobulus, bronkiolus ini bercabang-cabang banyak
sekali, cabang ini disebut duktus alveolus. Tiap duktus alveolus berakhir
pada alveolus yang diameternya antara 0,2-0,3 mm.
Gambar 1. Anatomi Paru-paru
Persyarafan pada pernapasan disuplai melalui Nervus Phrenicus
dan Nervus Spinal Thoraxic. Nervus Phrenicus mensyarafi diafragma,
sedangkan Nervus Spinal Thoraxic mempersyarafi intercosta. Paru juga
dipersyarafi oleh serabut syaraf simpatis dan para simpatis. Pada paru
terdapat peredaran darah ganda. Darah yang miskin oksigen dari ventrikel
kanan masuk ke paru melalui arteri pulmonalis. Selain sistem arteri dan
vena pulmonalis, terdapat pula arteri dan vena bronkialis, yang berasal dari
aorta, untuk memperdarahi jaringan bronki dan jaringan ikat paru dengan
darah kaya oksigen. Ventilasi paru (bernapas) terdiri otot-otot pernapasan,
yaitu diafragma dan otot-otot interkostal. Selain ini ada otot-otot
pernapasan tambahan eperti otot-otot perut. (Wahyuningsih & Kusmiyati,
2017).
Fisiologi pada paru-paru mengatur proses pernafasan dimana
oksigen dipindahkan dari udara ke dalam jaringan-jaringan, dan
karbondioksida dikeluarkan ke udara ekspirasi dapat dibagi menjadi
tiga proses . Proses yang pertama yaitu ventilasi, adalah masuknya
campuran gas-gas ke dalam dan ke luar paru-paru. Proses kedua,
transportasi yang terdiri dari beberapa aspek yaitu difusi gas-gas antar
alveolus dan kapiler (respirasi eksternal), distribusi darah dalam
sirkulasi pulmonal. Proses ketiga yaitu reaksi kimia dan fisik dari
oksigen dan karbondioksida dengan darah.
1. Ventilasi
Ventilasi adalah pergerakan udara masuk dan keluar dari
paru karena terdapat perbedaan tekanan antara intrapulmonal
(tekanan intraalveoli dan tekanan intrapleura) dengan tekanan
intrapulmonal lebih tinggi dari tekanan atmosfir maka udara akan
masuk menuju ke paru, disebut inspirasi. Bila tekanan
intapulmonal lebih rendah dari tekanan atmosfir maka udara akan
bergerak keluar dari paru ke atmosfir disebut ekspirasi.
2. Transportasi oksigen
Tahap kedua dari proses pernafasan mencakup proses difusi
di dalam paru terjadi karena perbedaan konsentrasi gas yang
terdapat di alveoli kapiler paru, oksigen mempunyai konsentrasi
yang tinggi di alveoli dibanding di kapiler paru, sehingga oksigen
akan berdifusi dari alveoli ke kapiler paru. Sebaliknya,
karbondioksida mempunyai konsentrasi yang tinggi di kapiler paru
dibanding di alveoli, sehingga karbondioksida akan berdifusi dari
kapiler paru ke alveoli. Pengangkutan oksigen dan karbondioksida
oleh sistem peredaran dara, dari paru ke jaringan dan sebaliknya,
disebut transportasi dan pertukaran oksigen dan karbondioksida
darah. Pembuluh darah kapiler jaringan dengan sel-sel jaringan
disebut difusi. Respirasi dalam adalah proses metabolik intrasel
yang terjadi di mitokondria, meliputi penggunaan oksigen dan
produksi karbondioksida selama pengambilan energi dari bahanbahan
nutrisi.
3. Reaksi kimia dan fisik dari oksigen dan karbondioksida dengan
darah.
Respirasi sel atau respirasi interna merupakan stadium akhir
dari respirasi, yaitu saat dimana metabolit dioksidasi untuk
mendapatkan energi, dan karbondioksida terbentuk sebagai sampah
proses metabolisme sel dan dikeluarkan oleh paru-paru.

2. Definisi
Pneumothorak adalah suatu keadaan dimana terdapat akumulasi
udara ekstrapulmoner dalam rongga pleura, antara pleura visceral dan
pariental, yang dapat menyebabkan timbulnya kolaps paru. Pada keadaan
normal rongga pleura tidak berisi udara, supaya paru-paru leluasa
mengembang terhadap rongga dada ( Rahajoe, 2012 dalam Amin Hardhi ,
2016).
Pneumotoraks adalah suatu keadaan dimana terdapat udara di
dalam rongga pleura. Pneumotoraks dibagi menjadi dua, spontan yaitu
terjadi tanpa adanya trauma atau sebab lainnya, dan traumatik yang terjadi
karena adanya trauma langsung atau tidak langsung terhadap dada,
termasuk di dalamnya adalah pneumotoraks iatrogenic (Amanda &
Wijayanti, 2015).
Pneumothoraks adalah kolapsnya sebagian atau seluruh paru yang
terjadi sewaktu udara atau gas lain masuk ke ruang pleura yang
mengelilingi paru (Corwin, E. J., 2009).
Jadi dapat disimpulkan bahwa pneumotoraks yaitu adanya udara
pada pleura antara pleura visceral dan pariental, yang terjadi secara
spontan dan traumatic yang dapat menyebabkan timbulnya kolaps paru.

Gambar 2. Pneumothorak

3. Prevalensi
Kejadian cedera dada merupakan salah satu trauma yang sering
terjadi, jika tidak ditangani dengan benar akan menyebabkan kematian,
kejadian trauma dada terjadi sekitar seperempat dari jumlah kematian
akibat trauma yang terjadi, serta sekitar sepertiga dari kematian yang
terjadi berbagai rumah sakit (Sharma A, Jindal P , 2008).
Kecelakaan kendaraan bermotor paling sering menyebabkan
terjadinya trauma pada toraks. Tingkat morbiditas mortalitas akan
meningkat dan menjadi penyebab kematian kedua didunia pada tahun
2020 menurut WHO (Word Health Organitation) (Sharma A, Jindal P ,
2008).
Insiden dan prevalensi pneumotoraks berkisar antara 2,4 - 17,8
per 100.000 penduduk per tahun. Menurut Barrie dkk, seks ratio laki-laki
dibandingkan dengan perempuan 5:1. Ada pula peneliti yang mendapatkan
8:1. Pneumotoraks lebih sering ditemukan pada hemitoraks kanan daripada
hemitoraks kiri. Pneumotoraks bilateral kira-kira 2% dari seluruh
pneumotoraks spontan. Insiden dan prevalensi pneumotoraks ventil 3 - 5%
dari pneumotoraks spontan. Kemungkinan berulangnya pneumotoraks
menurut James dan Studdy 20% untuk kedua kali, dan 50% untuk yang
ketiga kali (Sharma A, Jindal P , 2008).

4. Klasifikasi
Klasifikasi menurut penyebabnya, pneumotoraks dapat
dikelompokkan menjadi dua, yaitu (Wijaya, Andra & Mariza , 2008):
1. Pneumotoraks spontan yaitu setiap pneumotoraks yang terjadi secara
tiba-tiba. Pneumotoraks tipe ini dapat diklasifikasikan lagi ke dalam
dua jenis, yaitu:
1) Pneumotoraks spontan primer, yaitu pneumotoraks yang terjadi
secara tiba-tiba tanpa diketahui sebabnya atau tanpa penyakit dasar
yang jelas. Lebih sering pada laki-laki muda sehat dibandingkan
wanita. Timbul akibat ruptur bulla kecil (12 cm) subpleural,
terutama di bagian puncak paru.
2) Pneumotoraks spontan sekunder, yaitu pneumotoraks yang terjadi
dengan didasari oleh riwayat penyakit paru yang telah dimiliki
sebelumnya, Tersering pada pasien bronkitis dan emfisema
yang mengalami ruptur emfisema subpleura atau bulla. Penyakit
dasar lain: Tb paru, asma lanjut, pneumonia, abses paruatau Ca
paru. fibrosis kistik, penyakit paru obstruktik kronis (PPOK),
kanker paru-paru, asma, dan infeksi paru.
2. Pneumotoraks traumatik, Yaitu pneumotoraks yang terjadi akibat
adanya suatu trauma, baik trauma penetrasi maupun bukan, yang
menyebabkan robeknya pleura, dinding dada maupun paru.
Pneumotoraks tipe ini juga dapat diklasifikasikan lagi ke dalam dua
jenis, yaitu :
1) Pneumotoraks traumatik non-iatrogenik, yaitu pneumotoraks yang
terjadi karena jejas kecelakaan, misalnya jejas pada dinding dada,
barotrauma.
2) Pneumotoraks traumatik iatrogenik, yaitu pneumotoraks yang
terjadi akibat komplikasi dari tindakan medis. Pneumotoraks jenis
ini pun masih dibedakan menjadi dua, yaitu :
a. Pneumotoraks traumatik iatrogenik aksidental Adalah suatu
pneumotoraks yang terjadi akibat tindakan medis karena
kesalahan atau komplikasi dari tindakan tersebut, misalnya
pada parasentesis dada, biopsi pleura.
b. Pneumotoraks traumatik iatrogenik artifisial (deliberate)
Adalah suatu pneumotoraks yang sengaja dilakukan dengan
cara mengisikan udara ke dalam rongga pleura. Biasanya
tindakan ini dilakukan untuk tujuan pengobatan, misalnya pada
pengobatan tuberkulosis sebelum era antibiotik, maupun untuk
menilai permukaan paru.
Berdasarkan jenis fistulanya, maka pneumotoraks dapat
diklasifikasikan ke dalam tiga jenis, yaitu :
1. Pneumotoraks Tertutup (Simple Pneumothorax) Pada tipe ini, pleura
dalam keadaan tertutup (tidak ada jejas terbuka pada dinding dada),
sehingga tidak ada hubungan dengan dunia luar. Tekanan di dalam
rongga pleura awalnya mungkin positif, namun lambat laun berubah
menjadi negatif karena diserap oleh jaringan paru disekitarnya. Pada
kondisi tersebut paru belum mengalami re-ekspansi, sehingga masih
ada rongga pleura, meskipun tekanan di dalamnya sudah kembali
negatif. Pada waktu terjadi gerakan pernapasan, tekanan udara di
rongga pleura tetap negatif.
2. Pneumotoraks Terbuka (Open Pneumothorax), Yaitu pneumotoraks
dimana terdapat hubungan antara rongga pleura dengan bronkus yang
merupakan bagian dari dunia luar (terdapat luka terbuka pada dada).
Dalam keadaan ini tekanan intrapleura sama dengan tekanan udara
luar. Pada pneumotoraks terbuka tekanan intrapleura sekitar nol.
Perubahan tekanan ini sesuai dengan perubahan tekanan yang
disebabkan oleh gerakan pernapasan. Pada saat inspirasi tekanan
menjadi negatif dan pada waktu ekspirasi tekanan menjadi positif.
Selain itu, pada saat inspirasi mediastinum dalam keadaan normal,
tetapi pada saat ekspirasi mediastinum bergeser ke arah sisi dinding
dada yang terluka (sucking wound).
3. Pneumotoraks Ventil (Tension Pneumothorax) Adalah pneumotoraks
dengan tekanan intrapleura yang positif dan makin lama makin
bertambah besar karena ada fistel di pleura viseralis yang bersifat
ventil. Pada waktu inspirasi udara masuk melalui trakea, bronkus serta
percabangannya dan selanjutnya terus menuju pleura melalui fistel
yang terbuka. Waktu ekspirasi udara di dalam rongga pleura tidak
dapat keluar . Akibatnya tekanan di dalam rongga pleura makin lama
makin tinggi dan melebihi tekanan atmosfer. Udara yang terkumpul
dalam rongga pleura ini dapat menekan paru sehingga sering
menimbulkan gagal napas.
Sedangkan menurut luasnya paru yang mengalami kolaps, maka
pneumotoraks dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :
1. Pneumotoraks parsialis, yaitu pneumotoraks yang menekan pada
sebagian kecil paru (< 50% volume paru).
2. Pneumotoraks totalis, yaitu pneumotoraks yang mengenai sebagian
besar paru (> 50% volume paru)

5. Patofisiologi
Saat inspirasi, tekanan intrapleura lebih negatif daripada tekanan
intrabronkhial, sehingga paru akan berkembang mengikuti dinding thoraks
dan udara dari luar yang tekanannya nol (0) akan masuk ke bronchus
hingga sampai ke alveoli. Saat ekspirasi, dinding dada menekan rongga
dada sehingga tekanan intrapleura akan lebih tinggi dari tekanan di
alveolus maupun di bronchus, sehingga udara ditekan keluar malalui
bronchus. Tekanan intrabronkhial meningkat apabila ada tahanan jalan
napas. Tekanan intrabronkhial akan lebih meningkat lagi pada waktu
batuk, bersin dan mengejan, karena pada keadaan ini epiglitis tertutup.
Apabila di bagian perifer dari bronchus atau alveolus ada bagian yang
lemah, bronchus atau alveolus itu akan pecah dan robek.
Pada waktu ekspirasi, udara yang masuk ke dalam rongga pleura
tidak mau keluar melalui lubang yang terbuka sebelumnya, bahkan udara
ekspirasi yang mestinya dihembuskan keluar dapat masuk ke dalam
rongga pleura. Apabila ada obstruksi di bronchus bagian proximal dari
fistel tersebut akan membuat tekanan pleura semakin lama semakin
meningkat sehubungan dengan berulangnya pernapasan. Udara masuk ke
rongga pleura saat ekspirasi terjadi karena udara ekspirasi mempunyai
tekanan lebih tinggi dari rongga pleura, terlebih jika klien batuk, tekanan
udara di bronchus akan lebih kuat dari ekspirasi biasa.
Secara singkat proses terjadinya pneumotoraks adalah sebagai
berikut:
1. Alveoli disangga oleh kapiler yang lemah dan mudah robek dan udara
masuk kearah jaringan peribronkhovaskular. Apabila alveoli itu
melebar, tekanan dalam alveoli akan meningkat.
2. Apabila gerakan napas kuat, infeksi dan obstruksi endobronkhial
adalah faktor presipitasi yang memudahkan terjadinya robekan
Selanjutnya udara yang terbebas dari alveoli dapat menggoyahkan
jaringan fibrosis di peribronkhovaskular ke arah hilus, masuk
mediastinum, dan menyebabkan pneumotoraks.

6. Etiologi
Pneumothorax spontan dibagi menjadi dua jenis: primary, yang
terjadi tanpa adanya penyakit paru-paru diketahui, dan sekunder, yang
terjadi pada seseorang dengan penyakit paru-paru yang mendasari.
Penyebab pasti pneumotoraks spontan primer tidak diketahui tetapi faktor
risiko termasuk jenis kelamin laki-laki, merokok , dan sejarah
keluarga dari pneumotoraks. yang diduga berbagai mekanisme yang
mendasari pneumothorak.
Pneumotoraks spontan sekunder terjadi pada pengaturan dari
berbagai penyakit paru-paru yang paling umum adalah penyakit paru
obstruktif kronik yang menyumbang sekitar 70% dari kasus. Diketahui
penyakit paru-paru yang dapat meningkatkan risiko untuk pneumotoraks
adalah:
1. Penyakit pada saluran udara : Penyakit paru obstruktif kronis(terutama
ketika emfisema dan bula paru-paru yang hadir), akut berat
asma , cystic fibrosis
2. Infeksi paru-paru: pneumonia (PCP), tuberkulosis , necrotizing
pneumonia
3. Penyakit paru-paru interstisial : sarkoidosis , fibrosis paru
idiopatik ,histiocytosis X , lymphangioleiomyomatosis (LAM).

7. Manifestasi Klinis
Gejala dan tandanya sangat bervariasi, tergantung kepada jumlah
udara yang masuk ke dalam rongga pleura dan luasnya paru-paru yang
mengalami kolaps.
1. Gejalanya bisa berupa :
1) Nyeri dada kejam yang timbul secara tiba-tiba dan semakin nyeri
jika penderita menarik nafas dalam atau terbatuk.
2) Sesak nafas
3) Dada terasa sempit
4) Mudah lelah
5) Denyut jantung cepat
6) Warna kulit menjadi kebiruan akibat kekurangan oksigen.
Gejala-gejala tersebut mungkin timbul pada saat istirahat akan tidur.
Gejala lain yang mungkin ditemukan :
1) Hidung tampak kemerahan
2) Cemas, stress, tegang
3) Tekanan darah rendah (hipotensi) (Faradilla, 2009).

8. Komplikasi
1. Infeksi sekunder sehingga dapat menimbulkan pleuritis, empiema ,
hidropneumotoraks.
2. Gangguan hemodinamika.
Pada pneumotoraks yang hebat, seluruh mediastinum dan jantung
dapat tergeser ke arah yang sehat dan mengakibatkan penurunan
kardiak "output", sehingga dengan demikian dapat menimbulkan syok
kardiogenik.
3. Emfisema; dapat berupa emfisema kutis atau emfisema mediastinalis.
9. Pathway (Web Of Caution)

Pecahnya blebs Trauma / cedera Luka tembus dada Intervensi Medis

Pneumathoraks spontan, traumatic, iatrogenik

Udara masuk ke dalam Sucking chest wound Pergeseran Mediastinum


kavum pleura

hipoksia
Penyumbatan aliran vena
Meningkatkan tekanan kava superior dan inferior
intra pleura
Kehilangan kesadaran

Mengurangi Cardiac Preload


Kemampuan dilatasi
koma
alveoli menurun Nyeri
akut
Menurunkan cardiac output
atelektasis Intoleransi aktivitas

Sesak napas

Pola Napas tidak efektif


Nafsu makan
menurun

Nutrisi kurang dari


kebutuhan tubuh
10. Pemeriksaan Penunjang
Berikut beberapa pemeriksaan yang dapat menunjang diagnose
pneumotoraks, diantaranya:
1. Foto rontgen
Gambaran radiologis yang tampak pada fotorontgen kasus
pneumotoraks antara lain:
1) Bagian pneumotoraks akan tampak lusen, rata dan paru yang
kolaps akan tampak garis yang merupakan tepi paru. Kadang-
kadang paru yang kolaps tidak membentuk garis, akan tetapi
berbentuk lobuler sesuai dengan lobus paru.
2) Paru yang mengalami kolaps hanya tampak seperti massaradio
opaque yang berada di daerah hilus. Keadaan ini menunjukkan
kolaps paru yang luas sekali. Besar kolaps paru tidak selalu
berkaitan dengan berat ringan sesak napas yang dikeluhkan.
3) Jantung dan trakea mungkin terdorong ke sisi yang sehat, spatium
intercostals melebar, diafragma mendatar dan tertekan ke bawah.
Apabila ada pendorongan jantung atau trakea ke arah paru yang
sehat, kemungkinan besar telahterjadi pneumotoraks ventil dengan
tekanan intra pleura yangtinggi.
Pada pneumotoraks perlu diperhatikan kemungkinan terjadi keadaan
sebagai berikut
1) Pneumomediastinum, terdapat ruang atau celah hitam pada tepi
jantung, mulai dari basis sampai keapeks. Hal ini terjadi apabila
pecahnya fistel mengarah mendekati hilus, sehingga udara yang
dihasilkan akan terjebak di mediastinum.
2) Emfisema subkutan, dapat diketahui bila ada rongga hitam
dibawah kulit. Hal ini biasanya merupakan kelanjutan dari
pneumomediastinum. Udara yang tadinya terjebak di mediastinum
lambat laun akan bergerak menuju daerah yang lebih tinggi, yaitu
daerah leher. Di sekitar leher terdapat banyak jaringan ikat yang
mudah ditembus oleh udara, sehingga bila jumlah udara yang
terjebak cukup banyak maka dapat mendesak jaringan ikat
tersebut, bahkan sampai ke daerah dada depan dan belakangBila
disertai adanya cairan di dalam rongga pleura,maka akan tampak
permukaan cairan sebagai garis datar di atas diafragma.

Gambar 3. Foto Rontgen pneumotoraks (PA), bagian yang


ditunjukkan dengan anak panah merupakan bagian paru yang
kolaps.
2. Analisa Gas Darah
Analisis gas darah arteri dapat memberikan gambaran hipoksemi
meskipun pada kebanyakan pasien sering tidak diperlukan. Pada
pasien dengan gagal napas yang berat secara signifikan meningkatkan
mortalitas sebesar 10%.
3. CT-scan thorax
CT-scan toraks lebih spesifik untuk membedakan antara emfisema
bullosa dengan pneumotoraks, batas antara udara dengan cairan intra
dan ekstrapulmoner dan untuk membedakan antara pneumotoraks
spontan primer dan sekunder.

11. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pneumothoraks tergantung dari jenis
pneumothoraks antara lain dengan melakukan :
1. Tindakan medis
Tindakan observasi, yaitu dengan mengukur tekanan intra pleura
menghisap udara dan mengembangkan paru. Tindakan ini terutama
ditunjukan pada pneumothoraks tertutup atau terbuka,sedangkan untuk
pneumothoraks ventil tindakan utama yang harus dilakukan
dekompresi tehadap tekanan intra pleura yang tinggi tersebut yaitu
dengan membuat hubungan udara ke luar (Elizabeth, 2009).
2. Tindakan dekompresi
Membuat hubungan rongga pleura dengan dunia luar dengan cara:
1) Menusukan jarum melalui dinding dada terus masuk ke rongga
pleura dengan demikian tekanan udara yang positif dirongga pleura
akan berubah menjadi negatif kerena udara yang positif dorongga
pleura akan berubah menjadi negatif karena udara yang keluar
melalui jarum tersebut.
2) Membuat hubungan dengan udara luar melalui kontra ventil.
a. Dapat memakai infus set
Jarum ditusukkan ke dinding dada sampai ke dalam rongga
pleura, kemudian infus set yang telah dipotong pada pangkal
saringan tetesan dimasukkan ke botol yang berisi air. Setelah
klem penyumbat dibuka, akan tampak gelembung udara yang
keluar dari ujung infus set yang berada di dalam botol
b. Jarum abbocath
Jarum abbocath merupakan alat yang terdiri dari gabungan
jarum dan kanula. Setelah jarum ditusukkan pada posisi yang
tetap di dinding toraks sampai menembus ke rongga pleura,
jarum dicabut dan kanula tetap ditinggal. Kanula ini kemudian
dihubungkan dengan pipa plastik infus set. Pipa infuse ini
selanjutnya dimasukkan ke botol yang berisi air. Setelah klem
penyumbat dibuka, akan tampak gelembung udara yang keluar
dari ujung infuse set yang berada di dalam botol

c. Pipa WSD ( Water Sealed Drainage )


Pipa khusus (toraks kateter) steril, dimasukkan ke rongga
pleura dengan perantaraan troakar atau dengan bantuan klem
penjepit. Pemasukan troakar dapat dilakukan melalui celah
yang telah dibuat dengan bantuan insisi kulit di sela iga ke-4
pada linea mid aksilaris atau pada linea aksilaris posterior.
Selain itu dapat pula melalui sela iga ke-2 di garis mid
klavikula.
Setelah troakar masuk, maka toraks kateter segera
dimasukkan ke rongga pleura dan kemudian troakar dicabut,
sehingga hanya kateter toraks yang masih tertinggal di rongga
pleura. Selanjutnya ujung kateter toraks yang ada di dada dan
pipa kaca WSD dihubungkan melalui pipa plastik lainnya.
Posisi ujung pipa kaca yang berada di botol sebaiknya berada 2
cm di bawah permukaan air supaya gelembung udara dapat
dengan mudah keluar melalui perbedaan tekanan tersebut.

Penghisapan dilakukan terus-menerus apabila tekanan


intrapleura tetap positif. Penghisapan ini dilakukan dengan
memberi tekanan negatif sebesar 10-20 cm H2O, dengan tujuan
agar paru cepat mengembang. Apabila paru telah mengembang
maksimal dan tekanan intra pleura sudah negatif kembali, maka
sebelum dicabut dapat dilakukuan uji coba terlebih dahulu
dengan cara pipa dijepit atau ditekuk selama 24 jam. Apabila
tekanan dalam rongga pleura kembali menjadi positif maka
pipa belum bisa dicabut. Pencabutan WSD dilakukan pada saat
pasien dalam keadaan ekspirasi maksimal
3. Tindakan bedah
Dengan pembukaan dinding thoraks melalui operasi, dan dicari
lubang yang menyebabkan pneumothoraks dan dijahit.Pada
pembedahan, apabila dijumpai adanya penebalan pleura yang
menyebabkan paru tidak dapat mengembang, maka dilakukan
pengelupasan atau dekortisasi.Dilakukan reseksi bila ada bagian paru
yang mengalami robekan atau ada fistel dari paru yang rusak, sehingga
paru tersebut tidak berfungsi dan tidak dapat dipertahankan
kembali.Pilihan terakhir dilakukan pleurodesis dan perlekatan antara
kedua pleura ditempat fistel.

A. ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS


1. Pengkajian
1) Identitas
Meliputi: Nama, jenis kelamin, usia, alamat, agama, bahasa yang
digunakan, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, asusransi,
golongan darah, nomor register, tanggal masuk rumahsakit, dan
diagnosa medis.
2) Riwayat kesehatan
a. Riwayat penyakit saat ini
Keluhan sesak napas sering kali dating mendadak dan semakin
lama semakin berat.Nyeri dada dirasakan pada sisi yang sakit, rasa
berat, tertekan, dan terasa lebih nyeri pada gerakan pernapasan.
Melakukan pengkajian apakah da riwayat trauma yang mengenai
rongga dada seperti peluru yang menembus dada dan paru, ledakan
yang menyebabkan tekanan dalam paru meningkat, kecelakaan lalu
lintas biasanya menyebabkan trauma tumpul didada atau tusukan
benda tajam langsung menembus pleura.
b. Riwayat penyakit dahulu
Perlu ditanyakan apakah klien pernah menderita penyakit seperti
TB paru dimana sering terjadi pada pneumothoraks spontan.

c. Riwayat penyakit keluarga


Perlu ditanyakan apakah ada anggota keluarga yang menderita
penyakit-penyakit yang mungkin menyebabkan pneumothoraks
seperti kanker paru, asma, TB paru, dan lain-lain.
2. Pemeriksaan Fisik
1) Aktivitas / Istirahat
Gejala : Dispnea dengan aktivitas ataupun istirahat
2) Sirkulasi
Tanda : Takikardia, frekuensi tak teratur/disritmia, irama jantung
gallop. Nadi apical berpindah, hipertensi, hipotensi.
3) Integritas Ego
Tanda : Ketakutan, gelisah, bingung, ansietas
4) Makanan / Cairan
Tanda : Adanya pemasangan IV vena sentral / infuse tekanan
5) Nyeri / Kenyamanan
Gejala : Nyeri dada unilateral, meningkat karena pernapasan, batuk,
tiba-tiba gejala sementara batuk atau regangan.
Tajam dan nyeri, menusuk yang diperberat oleh napas dalam.
Tanda : Berhati-hati pada area yang sakit
Perilaku distraksi
Mengerutkan wajah
6) Pernapasan
Gejala : Kesulitan bernapas, lapar napas
Batuk
Riwayat bedah dada/trauma, inflamasi/infeksi paru
Pneumothorak spontan sebelumnya, PPOM
Tanda : Takipnea, bunyi napas menurun atau tidak ada
Peningkatan kerja napas
Fremitus menurun
Hiperresonan (udara), bunyi pekak (cairan)
Gerakan dada tidak sama
Kulit : pucat, sianosis, berkeringat, krepitasi subkutan
Terapi PEEP
7) Keamanan
Gejala : Adanya trauma dada
Radiasi / kemoterapi untuk keganasan
8) Penyuluhan / pembelajaran
Gejala : Riwayat faktor risiko keluarga : TBC, Kanker
Bukti kegagalan membaik
3. Pengkajian B6
1) B1 (Breathing)
a. Inspeksi
Peningkatan usaha dan frekuensi pernapasan serta penggunaan otot
bantu pernapasan. Gerakan pernapasan ekspansi dada yang
asimetris (pergerakan dada tertinggal pada sisi yang sakit), iga
melebar, rongga dada asimetris (lebih cembung disisi yang sakit).
Pengkajian batuk yang produktif dengan sputum yang purulen.
Trakhea dan jantung terdorong ke sisi yang sehat.
b. Palpasi
Taktil fremitus menurun disisi yang sakit. Disamping itu, pada
palpasi juga ditemukan pergerakan dinding dada yang tertinggal
pada dada yang sakit. Pada sisi yang sakit, ruang antar –iga bisa
saja normal atau melebar.
c. Perkusi
Suara ketuk pada sisi yang sakit hipersonor sampai timpani. Batas
jantung terdorong ke arah thoraks yang sehat apabila tekanan
intrapleura tinggi.
d. Auskultasi
Suara napas menurun sampai menghilang pada sisi yang sakit.

2) B2 (Blood)
Perawat perlu memonitor dampak pneumothoraks pada status
kardiovaskular yang meliputi keadaan hemodinamik seperti nadi,
tekanan darah dan pengisian kapiler/CRT.
3) B3 (Brain)
Pada inspeksi, tingkat kesadaran perlu dikaji. Selain itu, diperlukan
juga pemeriksaan GCS, apakah compos mentis, samnolen atau
koma.
4) B4 (Bladder)
Pengukuran volume output urine berhubungan dengan intake cairan.
Perawat perlu memonitor adanya oliguri yang merupakan tanda awal
dari syok.
5) B5 (Bowel)
Akibat sesak napas, klien biasanya mengalami mual dan muntah,
penurunan nafsu makan dan penurunan berat badan.
6) B6 (Bone)
Pada trauma di rusuk dada, sering didapatkan adanya kerusakan otot
dan jaringan lunak dada sehingga meningkatkan risiko infeksi. Klien
sering dijumpai mengalami gangguan dalam pemenuhan kebutuhan
sehari-hari disebabkan adanya sesak napas, kelemahan dan keletihan
fisik secara umum.

4. Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul


1. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan penurunan ekspansi
paru (akumulasi udara), gangguan muskuloskeletal, nyeri/ansietas,
proses inflamasi
2. Nyeri akut b/d trauma jaringan dan reflek spasme otot sekunder
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan intake inadekuat.
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum,
penurunan akan ketahanan nyeri.

5. Intervensi Keperawatan
Tujuan dan Intervensi
Diagnosa
Kriteria hasil Keperawatan Rasional
Keperawatan
(NOC) (NIC)
Ketidakefektif Setelah Airway
an pola napas dilakukan Management
asuhan 1. Monitor 1. Mengetahui pola
berhubungan pernafasan dan kecepatan
keperawatan
dengan selama..x 24 status oksigenasi pernafasan serta
jam, diharapkan menunjukan
penurunan
bersihan jalan kepatenan jalan
ekspansi paru nafas
napas efektif 2. Berikan posisi 2. Memaksimalkan
(akumulasi NOC :
nyaman untuk ventilasi dan
- Respiratory
udara), memaksimalkan
status : mengurangi
gangguan ventilasi sesak, melatih
Ventilation
muskuloskelet - Vital sign teknik nafas yang
status 3. Ajarkan teknik disenangi anak
al,
Kriteria Hasil : 3. Mengurangi
napas dalam
nyeri/ansietas, 1) Tidak ada sesak napas
proses sianosis
2) Tidak ada 4. Kolaborasi dalam
inflamasi dispneu 4. Mengurangi
pemberian terapi
3) Tidak ada sesak dan
oksigen
suara napas memberikan
abnormal asupan oksigen
4) Tanda-tanda
vital dalam
batas normal
(TD: 100-
120
mmHg/70-90
mmHg, S:
˚
36,5 C-
37,5˚C, N:
60-100
kali/menit,
RR: 12-20
kali/menit)

Nyeri akut b/d Setelah Pain


trauma dilakukan Management
asuhan 1. Lakukan 1. Mengetahui
jaringan dan pengkajian nyeri skala nyeri yang
keperawatan
reflek spasme selama…x24 secara dirasakan pasien
jam, diharapkan komprehensif secara spesifik
otot sekunder
nyeri dapat (PQRST)
berkurang atau 2. Berikan posisi 2. Memberikan
yang nyaman kenyamanan bagi
hilang.
pasien dan
NOC :
1. Pain level meminimalkan
2. Pain control rasa nyeri
Kriteria Hasil : 3. Ajarkan tentang 3. Mengalihkan rasa
1. Menyatakan teknik non nyeri yang
nyeri farmakologi dirasakan pasien
berkurang seperti teknik
dengan relaksasi nafas
menggunaka dalam
n skala nyeri 4. Kolaborasi dengan 4. Untuk
dokter terkait mengurangi nyeri
dengan
pemberian secara
rentang 1-
analgetik farmakologi
10.
2. Mampu
melakukan
teknik non
farmakologi
(nafas
dalam)
Ketidakseimba Setelah Nutrition
ngan nutrisi dilakukan Management
1. Mengetahui
tindakan 1. Kaji adanya alergi
kurang dari makanan adanya alergi
keperawatan
kebutuhan selama …. x 24 makanan
2. Berikan makan 2. Menurunkan
tubuh jam diharapkan
sedikit tapi sering perasaan penuh
kebutuhan
berhubungan pada mulut
nutrisi dapat
dengan intake terpenuhi sehingga pasien
tidak muntah
inadekuat dengan : 3. Berikan informasi
NOC: atau mual.
tentang kebutuhan 3. Meningkatkan
- Nutritional nutrisi
Status: food pemahaman
andfluid tentang
intake 4. Kolaborasi kebutuhan nutrisi
- Nutritional 4. Memberikan
dengan ahli gizi
Status: asupan nutrisi
untuk menentukan
nutrient yang tepat
jumlah kalori dan
intake nutrisi yang
Kriteria hasil dibutuhkan
1. Mampu pasien.
mengidentifi
kasi
kebutuhan
nutrisi
2. Tidak ada
tanda
malnutrisi
3. Menunjukka
n
peningkatan
fungsi
pengecapan
dan menelan
Intoleransi Setelah Activity therapy
aktivitas dilakukan 1. Monitor respon 1. Mengetahui
tindakan fisik, emosi, status aktifitas
berhubungan
keperawatan sosial, spiritual pasien
dengan selama…x24 2. Bantu memilih 2. Meningkatkan
kelemahan jam diharapkan aktivitas konsisten aktifitas pasien
fisik. intoleransi yang sesuai
aktfitas dapat dengan
teratasi kemampuan fisik,
NOC psikologi dan
- Energy sosial
conservatio 3. Sediakan 3. Penguatan positif
n penguatan positif dapat
- Activity
bagi yang aktif meningkatkan
tolerance
beraktifitas aktifitas pasien
- Self care :
4. Kolaborasi dengan 4. Meningkatkan
ADLs
tenaga fisioterapi kemampuan fisik
Kriteria hasil:
pasien
1. Berpartisipa
si dalam
aktivitas
fisik dgn
TD, HR,
RR yang
sesuai
2. Mampu
melakukan
aktivitas
sehari-hari
secara
mandiri
3. Mampu
berpindah :
dengan atau
tanpa
bantuan alat
Sumber : Amin Hardhi (2016)

6. Implementasi
Implementasi keperawatan merupakan pelaksanaan tindakan
keperawatan sesuai dengan apa yang telah di rencanakan pada intervensi
yang telah di buat sebelumnya. Implementasi dilakukan 3 x 24 jam pada
setiap diagnose untuk mengetahui hasil dari intervensi yang telah di
implementasikan pada pasien. Setelah itu dilakukan evaluasi dari setiap
diagnose yang telah diangkat dan diimplementasikan.
7. Evaluasi
1. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan penurunan ekspansi
paru (akumulasi udara), gangguan muskuloskeletal, nyeri/ansietas,
proses inflamasi
1) Tidak ada sianosis
2) Tidak ada dispneu
3) Tidak ada suara napas abnormal (wheezing, ronchi, krekel)
4) Tanda-tanda vital dalam batas normal (TD: 100-120 mmHg/70-90
mmHg, S: 36,5˚C-37,5˚C, N: 60-100 kali/menit, RR: 12-20
kali/menit)
2. Nyeri akut b/d trauma jaringan dan reflek spasme otot sekunder
1) Menyatakan nyeri berkurang dengan menggunakan skala nyeri
dengan rentang 1-10.
2) Mampu melakukan teknik non farmakologi (nafas dalam)
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan intake inadekuat.
1) Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi
2) Tidak ada tanda malnutrisi
3) Menunjukkan peningkatan fungsi pengecapan dan menelan
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum,
penurunan akan ketahanan nyeri.
1) Berpartisipasi dalam aktivitas fisik dengan TD, HR, RR yang
sesuai (TD: 100-120 mmHg/70-90 mmHg, S: 36,5 ˚C-37,5˚C, N:
60-100 kali/menit, RR: 12-20 kali/menit)
2) Mampu melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri
3) Mampu berpindah : dengan atau tanpa bantuan alat
DAFTAR PUSTAKA

Amanda, A. P., & Wijayanti, O. (2015). Pneumotoraks Pada Tuberkulosis Milier:


Sebuah Laporan Kasus. Indonesian Journal Of CHEST Critical And
Emergency Medicine .

Amin Hardhi . (2016). Asuhan Keperawatan Praktis Berdasarkan Penerapan


Diagnosa NANDA NIC NOC dalam Berbagai Kasus. Yogyakarta:
Mediaction.

Corwin, E. J. (2009). Buku Saku Patofiologis. Jakarta: EGC.

Elizabeth. (2009). Patofisiologi . Jakarta: EGC.

Faradilla, N. (2009). Hidropneumotoraks. Pekanbaru: Ulty Of Medicine –


University Of Riau.

Sharma A, Jindal P . (2008). Priciples Of Diagnosis And Management Of


Traumatic.

Wahyuningsih, H. P., & Kusmiyati, Y. (2017). Anatomi Fisiologi. Jakarta:


Kemenkes RI.

Wijaya, Andra & Mariza . (2008). Keperawatan Medikal Bedah. Yogyakarta:


Nuha Medika.