Anda di halaman 1dari 42

Laporan Kedokteran Komunitas

KARAKTERISTIK DAN FAKTOR RISIKO PENDERITA DIABETES


MELITUS TIPE 2 DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KUALA
LEMPUING TAHUN 2018

Disusun oleh :

Fiqih Anansyah (H1AP12006)

Nyimas Hoirunisa (H1AP12009)

Merina Selvira Yulianti (H1AP12017)

Nurhapsari (H1AP12019)

Fegi Dwiputra Nugraha (H1AP12021)

Yosie Agni Utami (H1AP12040)

Pembimbing :

dr. Wahyu Sudarsono, MPH

dr. Supardi, MM

dr. Fitri Desimilani

BAGIAN ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS BENGKULU

2018

1
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis ucapkan pada Allah SWT karena dengan izin-Nya
lah penulis dapat menyelesaikan penulisan Laporan Kedokteran Komunitas yang
berjudul “Karakteristik Dan Faktor Risiko Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Di
Wilayah Kerja Puskesmas Kuala Lempuing Tahun 2018” sebagai salah satu syarat
untuk menyelesaikan kepaniteraan klinik Ilmu Kedokteran Komunitas.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada pembimbing dr. Wahyu
Sudarsono M.PH, dr. Supardi, M.M, dan dr. Fitri Desi Milani, serta semua pihak
yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini.
Penulis menyadari bahwa Laporan Kedokteran Komunitas ini masih
banyak kekurangan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari
semua pihak yang membaca demi kesempurnaan laporan ini. Penulis juga
berharap laporan ini dapat memberikan dan meningkatkan pengetahuan serta
pemahaman tentang gambaran faktor – faktor risiko penderita Diabetes Melitus
Tipe 2.

Bengkulu, April 2018

Penulis

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Diabetes Mellitus (DM) merupakan salah satu masalah kesehatan yang
terbesar di dunia. Menurut data dari International Diabetes Federation (IDF)
tahun 2013, didapatkan sebanyak 382 juta orang di dunia yang berumur 20-79
tahun menderita diabetes mellitus, dan Indonesia merupakan negara urutan ke
7 dengan kejadian diabetes mellitus tertinggi dengan jumlah 8,5 juta
penderita setelah Cina (98,4 juta), India (65,1 juta), USA (24,4 juta), Brazil
(11,9 juta), Rusia (10,9 juta), Mexico (8,7), Jerman (7,6 juta), Mesir (7,5
juta), dan Jepang (7,2 juta) (International Diabetes Federation, 2013).
Prevelansi DM di Indonesia berdasarkan wawancara yang terdiagnosis
dokter sebesar 1,5 persen dan 0,4 persen. DM terdiagnosis dokter atau gejala
sebesar 2,1 persen. Prevalensi diabetes yang terdiagnosis dokter tertinggi
terdapat di DI Yogyakarta (2,6%), DKI Jakarta (2,5%), Sulawesi Utara
(2,4%) dan Kalimantan Timur (2,3%). Prevalensi diabetes yang terdiagnosis
dokter atau gejala, tertinggi terdapat di Sulawesi Tengah (3,7%), Sulawesi
Utara (3,6%), Sulawesi Selatan (3,4%) dan Nusa Tenggara Timur 3,3 persen.
Prevalensi Diabetes pada umur >15 tahun dan umur ≥18 tahun di provinsi
Bengkulu 0,9-1,0 % pada tahun 2013 (Riskesdas, 2013).
Prevalensi diabetes melitus berdasarkan diagnosis dokter dan gejala
meningkat sesuai dengan bertambahnya umur, namun mulai umur ≥65 tahun
cenderung menurun. Prevalensi DM cenderung lebih tinggi pada masyarakat
dengan tingkat pendidikan tinggi dan dengan kuintil indeks kepemilikan
tinggi. kelompok pendidikan lebih rendah dan kelompok tidak bekerja,
kemungkinan akibat ketidaktahuan tentang pola makan yang baik.
Diabetes melitus adalah penyakit metabolisme yang merupakan suatu
kumpulan gejala yang timbul pada seseorang karena adanya peningkatan
kadar glukosa darah di atas nilai normal. Bustan (2010), DM sebagai sindrom
dengan terganggunya metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein yang
disebabkan oleh berkurangnya sekresi insulin atau penurunan sensitivitas

3
jaringan terhadap insulin, sedangkan kadar gula darah merupakan parameter
utama dalam menilai metabolisme karbohidrat. Kadar glukosa darah
bervariasi dengan daya penyerapan, gula dalam darah menjadi lebih tinggi
setelah mengkonsumsi makanan dan akan terjadi penurunan jika tidak ada
makanan yang masuk ke tubuh dalam beberapa jam.
Penelitian Jelantik (2014), menjelaskan bahwa faktor usia diatas 40
tahun, obesitas, dan hipertensi mempunyai resiko yang lebih besar mengalami
diabetes mellitus tipe 2 di wilayah Kerja Puskesmas Mataram. Faktor risiko
penyakit tidak menular termasuk DM Tipe 2, dibedakan menjadi dua. Yang
pertama adalah faktor risiko yang tidak dapat berubah misalnya jenis kelamin,
umur, dan faktor genetik. Yang kedua adalah factor risiko yang dapat diubah
misalnya kebiasaan merokok (Bustan, 2008). Demografi, faktor perilaku dan
gaya hidup, serta keadaan klinis atau mental berpengaruh terhadap kejadian
DM Tipe 2 (Irawan, 2010).
Puskesmas Kuala Lempuing merupakan salah satu wilayah yang jumlah
penderita diabetes Melitus pada tahun 2015 sebanyak 105 orang dan pada
tahun 2016 sebanyak 114 orang. Berdasarkan uraian di atas maka peneliti
tertarik untuk melakukan penelitian mengenai karakteristik dan faktor risiko
penderita diabetes melitus tipe 2 di wilayah kerja PKM Lempuing tahun
2017.

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka diagnosis komunitas
yang dibuat ini, menganalisis karakteristik dan faktor risiko penderita
diabetes melitus tipe 2 di wilayah kerja PKM Lempuing, mengingat perlunya
dilakukan identifikasi faktor- faktor yang berpengaruh terhadap penyakit
tersebut, sehingga dapat melakukan solusi penanggulangan yang tepat
mengenai permasalahan mengapa penderita penyakit Diabetes Melitus di
Bengkulu terus meningkat, khususnya di wilayah kerja Puskesmas Lempuing.
Maka dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini adalah: Bagaimana
gambaran karakteristik dan faktor risiko penderita diabetes melitus tipe 2 di
wilayah kerja PKM Kuala Lempuing Tahun 201

4
C. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Mengetahui gambaran karakteristik dan faktor risiko penderita Diabetes
Melitus tipe 2 di wilayah kerja PKM Kuala Lempuing Tahun 2018.
2. Tujuan khusus
a. Menentukan profil penderita Diabetes Melitus di Puskesmas Kuala
Lempuing.
b. Mengidentifikasi gambaran karakteristik dan faktor risiko penderita
Diabetes Melitus tipe 2 di wilayah kerja Puskesmas Kuala
Lempuing periode 2018.
c. Merencanakan solusi yang mampu laksana untuk menurunkan
angka kejadian Diabetes Melitus secara komprehensif dan holistik
di wilayah kerja UPTD Puskesmas Kuala Lempuing.
D. MANFAAT
1. Masyarakat
Memberikan pengetahuan kepada masyarakat mengenai penyakit
hipertensi dan faktor-faktor risiko apa saja yang berkontribusi dapat
menyebabkan Diabetes Melitus sehingga masyarakat mendapat
pengetahuan yang baik dan dapat mengubah pola perilaku hidup.
Masyarakat diharapkan dapat ikut serta menurunkan angka kejadian
penyakit kardiovaskular lainnya.
2. Penulis
Penulis mengetahui gambaran karakteristik dan faktor risiko penderita
Diabetes Melitus Tipe 2 di wilayah kerja PKM Kuala Lempuing.

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Diabetes Melitus
1. Definisi
Diabetes Melitus adalah kelompok penyakit metabolik yang terjadi
akibat pankreas tidak lagi mampu untuk memproduksi insulin, atau ketika
tubuh tidak dapat memanfaatkan insulin yang dihasilkan (American
Diabetes Association, 2013). Ketidakmampuan untuk memproduksi
insulin atau menggunakannya secara efektif, menyebabkan kadar glukosa
di dalam darah meningkat (hiperglikemia). Kondisi ini dalam jangka
panjang dapat merusak tubuh dan menyebabkan kegagalan organ dan
jaringan tubuh (International Diabetes Federation, 2013).
Diabetes Melitus adalah suatu keadaan dimana kadar glukosa di
dalam darah tinggi akibat tubuh tidak dapat melepaskan atau
menggunakan insulin secara adekuat. Sedangkan insulin adalah hormon
yang dilepaskan oleh pankreas, yang bertanggung jawab dalam
mempertahankan kadar glukosa darah yang normal. Insulin menyebabkan
glukosa di dalam darah berpindah ke dalam sel sehingga menghasilkan
energi atau disimpan sebagai cadangan energi (Maulana, 2008).
Insulin yang dihasilkan oleh kelenjar pankreas sangat penting untuk
menjaga keseimbangan kadar glukosa darah. Bila terjadi gangguan pada
insulin, baik secara kuantitas maupun kualitas, keseimbangan tersebut
akan terganggu sehinga kadar glukosa darah cenderung meningkat
(Tjokroprawiro dan Askandar, 2006).

6
Gambar 1. Homeostasis Glukosa
Sumber: The Journal Of Biological Chemistry

2. Epidemiologi
Peningkatan pendapatan perkapita dan perubahan gaya hidup di
negara berkembang termasuk Indonesia, berdampak pula pada
peningkatan prevalensi penyakit degeneratif. Perubahan pola konsumsi
makanan dari makanan tradisional Indonesia ke makanan siap saji dan
berlemak, disertai cara hidup yang sangat sibuk dan kurang berolahraga
merupakan pemicu terjadinya penyakit jantung koroner, hipertensi,
diabetes melitus, dan dislipidemia. Diabetes melitus adalah salah satu di
antara penyakit tidak menular yang akan terus meningkat jumlahnya di
masa yang akan datang (Suyono, 2014).
Prevalensi diabetes melitus akan terus meningkat dengan cepat di
seluruh dunia dan World Health Organization (2003) membuat perkiraan
bahwa pada tahun 2030 jumlah orang dewasa dengan Diabetes Melitus
jumlahnya akan meningkat hampir dua kali lipat di seluruh dunia, dari 177
juta penderita DM pada tahun 2000 menjadi 370 juta penderita DM pada
tahun 2030 (Rowley dan Bezold, 2012).

7
3. Etiologi dan Klasifikasi
Etiologi dan klasifikasi diabetes melitus menurut American Diabetes
Association 2011, dapat dilihat pada tabel 2.1 (Powers, 2012):
Tabel 2.1 Etiologi dan Klasifikasi Diabetes Melitus
a. Diabetes Melitus Tipe 1 (destruksi sel beta, umumnya menjurus
ke defisiensi insulin absolut)
- Melalui proses imunologik
- Idiopatik
b. Diabetes Melitus Tipe 2 (Bervariasi mulai dari yang predominan
resistensi insulin disertai defisiensi insulin relatif sampai yang
predominan gangguan sekresi insulin bersama resistensi insulin)
c. Diabetes Melitus Tipe Lain
1) Defek genetik fungsi sel beta:
- HNF-α (MODY 3)
- Glukokinase (MODY 2)
- HNF-4α (MODY 1)
- Insulin promoter factor ( IPF-1; MODY 4)
- HNF-1β (MODY 5)
- Neuro D1 (MODY 6)
- Mitochondrial DNA
- Subunits of ATP-sensitive potassium channel
- Proinsulin or insulin
2) Defek genetik kerja insulin:
- Resistensi insulin tipe A
- Leprechaunism
- Sindrom Rabson-Mendenhall
- Diabetes lipoatrofik
3) Penyakit Eksokrin Pankreas: pankreatitis,
trauma/penkretektomi, neoplasma, fibrokistik,
hemokromatosis, pankreatopati fibrokalkulus, mutasi
karboksil lipase

8
4) Endokrinopati: akromegali, sindrom cushing,
feokromositoma, hipertiroidisme, somatostatinoma,
aldosteronoma
5) Karena Obat/Zat kimia: vacor, pentamidin, asam nikotinat,
glukokortikoid, hormon tiroid, diazoxid, aldosteronoma,
thiazid, hidantoin, asparaginase
6) Infeksi: congenital rubella, CMV, coxsackievirus
7) Imunologi (jarang): sindrom “Stiffman”, antibodi anti reseptor
insulin, lainnya
8) Sindroma genetik lain: sindrom down, sindrom Klinefelter,
sindrom Turner, sindrom Wolfram’s, ataksia Friedeich’s,
lainnya
d. Diabetes Gestasional (Diabetes kehamilan)

Singkatan: MODY, maturity-onset diabetes of the young.


Sumber: Powers, 2012.

4. Diagnosis
Perkeni membagi alur diagnosis diabetes melitus menjadi dua bagian
besar berdasarkan ada dan tidaknya gejala khas diabetes melitus. Gejala
khas diabetes melitus terdiri dari poliuria, polidipsia, polifagia, dan
penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas. Sedangkan gejala tidak
khas diabetes melitus di antaranya lemas, kesemutan, gatal, mata kabur,
disfungsi ereksi (pria), dan pruritus vulva (wanita). Apabila ditemukan
gejala khas diabetes melitus, pemeriksaan glukosa darah abnormal satu
kali saja sudah cukup untuk menegakkan diagnosis. Namun apabila tidak
ditemukan gejala khas diabetes melitus, maka diperlukan dua kali
pemeriksaan glukosa darah abnormal.
Diagnosis diabetes melitus juga dapat ditegakkan melalui cara pada
tabel 2.2 (Purnamasari, 2014):

9
Tabel 2.2 Kriteria diagnosis DM
1. Gejala klasik DM + glukosa plasma sewaktu >200mg/dL.
Glukosa plasma sewaktu merupakan hasil pemeriksaan sesaat
pada suatu hari tanpa memperhatikan waktu makan terakhir
2. Atau
Gejala klasik DM + Kadar glukosa plasma puasa >126 mg/dL
Puasa diartikan pasien tidak mendapat kalori tambahan
sedikitnya 8 jam
3. Kadar glukosa plasma 2 jam TTGO >200mg/dL
TTGO dilakukan dengan standar WHO, menggunakan beban
glukosa yang setara dengan 75 gram glukosa anhidrus yang
dilarutkan ke dalam air

Cara pelaksanaan TTGO (WHO) :

 Tiga hari sebelum pemeriksaan tetap makan seperti kebiasaan sehari-hari


(dengan karbohidrat yang cukup) dan tetap melakukan kegiatan jasmani
seperti biasa.
 Berpuasa paling sedikit 8 jam (mulai malam hari) sebelum pemeriksaan,
minum air putih tanpa gula tetap diperbolehkan.
 Diperiksa konsentrasi glukosa darah puasa.
 Diberikan glukosa 75 gram (orang dewasa) atau 1,75 gram/kgBB (anak-
anak), dilarutkan dalam air 250 mL dan diminum dalam waktu 5 menit.
 Berpuasa kembali sampai pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan 2
jam setelah minum larutan glukosa selesai.
 Diperiksa glukosa darah 2 jam sesudah beban glukosa.
 Selama proses pemeriksaan subyek yang diperiksa tetap istirahat dan tidak
merokok. (Purnamasari, 2014).

10
Hasil pemeriksaan glukosa darah 2 jam pasca pembebanan dibagi
menjadi 3 yaitu (Purnamasari, 2014):

 <140mg/dL  normal
 140-<200mg/dL  toleransi glukosa terganggu
 ≥200mg/dL  diabetes

Tes toleransi glukosa oral (TTGO) adalah gold standar untuk


menegakkan diagnosis diabetes melitus tipe 2. Orang dengan kadar
glukosa darah di antara normal dan diabetes melitus memiliki toleransi
glukosa terganggu (TGT). Orang dengan TGT tidak didiagnosis diabetes
melitus, tetapi berisiko tinggi untuk menjadi diabetes melitus yang nyata.
Setiap tahun, sekitar 1%-5% dari orang-orang yang hasil tes menunjukkan
TGT akhirnya mengembangkan diabetes melitus (Purnamasari, 2014).

B. FAKTOR – FAKTOR RISIKO DIABETES

1. Faktor yang tidak dapat dimodifikasi

a. Umur

Prevalensi DM akan meningkat seiring dengan pertambahan usia.

Peningkatan risiko diabetes terutama dimulai dari usia 40 tahun. Hal ini

disebabkan karena pada usia tersebut mulai terjadi peningkatan

intoleransi glukosa. Semakin bertambah usia fungsi organ tubuh semakin

menurun, termasuk fungsi sel beta pankreas dalam memproduksi insulin.

Selain itu sensitifitas sel-sel jaringan juga menurun terhadap insulin.

Pada individu yang berusia lebih tua, terdapat aktivitas mitokondria di

sel-sel otot sebesar 35%. Hal ini berhubungan dengan peningkatan kadar

lemak di otot sebedar 30% dan memicu terjadinya resistensi insulin

(Trisnawati, 2013)

11
b. Jenis Kelamin

Distribusi penderita diabetes mellitus menurut jenis kelamin

sangat bervariasi. Di Amerika Serikat penderita diabetes mellitus lebih

banyak terjadi pada perempuan daripada laki-laki. Namun, mekanisme

yang menghubungkan jenis kelamin dengan kejadian diabetes melitus

masih belum jelas. (Hadisaputro, 2007)

c. Riwayat Keluarga

Riwayat keluarga adalah faktor risiko utama seseorang akan

mengalami diabetes mellitus. Transmisi genetik paling kuat terdapat

dalam penykait diabetes, jika orang tua menderita diabetes maka 90%

pasti membawa carier diabetes yang ditandai dengan kelainan sekresi

insulin. Hal ini dikarenakan seseorang dengan riwayat keluarga diabetes

memiliki kelainan gen yang mengakibatkan tubuh tidak menghasilkan

insulin dengan baik (Price & Wilson, 2006).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien yang memiliki

riwayat keturunan diabetes mellitus lebih berisiko (54%) dibandingkan

pasien yang tidak memiliki riwayat keturunan diabetes mellitus (46%).

(Surani, 2012). Sedangkan menurut Samreen Riaz (2009) menyatakan

bahwa 25% diabetes mellitus tipe 1 dan 50% diabetes mellitus tipe 2

terjadi karena faktor keturunan.

Risiko menderita DM bila salah satu orang tuanya menderita DM

adalah sebesar 15%. Jika kedua orang tua memiliki DM maka risiko

untuk menderita DM adalah 75% (Diabetes UK, 2010)

12
2. Faktor yang dapat dimodifikasi
a. Kebiasaan Merokok

Penelitian oleh Houston mendapatkan bahwa perokok aktif

memiliki risiko 76% lebih tinggi untuk terserang DM Tipe 2 dibanding

dengan yang tidak terpajan asap rokok (Irawan, 2010)

Zat-zat kimia beracun, seperti nikotin dan karbon monoksida

yang diisap melalui rokok, yang masuk kedalam aliran darah dapat

merusak lapisan endotel dan akan mengeluarkan zat-zat oksidan dan sel-

sel inflamasi yang akan melekat di pembuluh darah. Hal ini akan

meningkatkan komplikasi mikrovaskular pada diabetes mellitus.11

b. Pola Makan

Makan secara berlebihan dan melebihi jumlah kadar kalori yang

dibutuhkan oleh tubuh dapat memicu timbulnya kenaikan kadar gula

darah yang menyebabkan diabetes mellitus. Konsumsi makan yang

berlebihan dan tidak diimbangi dengan sekresi insulin dalam jumlah yang

memadai dapat menyebabkan kadar gula dalam darah yang meningkat

dan pastinya akan menyebabkan diabetes mellitus. (Hasdianah, 2012).

c. Obesitas

Obesitas adalah keadaan abnormal atau akumulasi lemak yang

berlebihan yang menyebabkan timbulnya risiko terhadap kesehatan

(WHO, 2012). Obesitas merupakan faktor risiko terjadinya DM Tipe 2

dimana sekitar 80-90% penderita mengalami obesitas. (PERKENI)

Berdasarkan beberapa teori menyebutkan bahwa obesitas merupakan

faktor predisposisi terjadinya resistensi insulin. Lemak dapat memblokir

kerja insulin sehingga glukosa tidak dapat diangkut ke dalam sel dan

13
menumpuk dalam pembuluh darah, sehingga terjadi peningkatan kadar

glukosa darah. (Teixeira-Lemos dkk, 2011)

Menurut Pusat Diabetes dan Lipid RSCM FKUI dan Instalasi

Gizi RSCM (2003) sebagai penelitian abdominal diperlukan rasio lingkar

pinggang (lingkar pinggang normal laki-laki < 90 cm dan wanita < 80

cm). Pada orang gemuk aktivitas jaringan lemak dan otot menurun

sehingga dapat memicu timbulnya DM. Kelainan metabolic tersebut

umumnya berupa resistensi terhadap insulin yang muncul pada jaringan

lemak yang luas, obesitass berhubungan pula dengan adanya kekurangan

reseptor insulin pada otot, hati, monosit dan permukaan sel lemak. Hasil

perhitungan OR menunjukkan seseorang yang obesitas mempunyai risiko

untuk menderita DM. Kelompok dengan risiko DM terbesar adalah

kelompok obesitas dengan odds ratio 7,14 kali lebih besar dibandingkan

dengan kelompok IMT normal. (Sunjaya, 2009)

d. Aktivitas fisik yang kurang

Olahraga adalah jenis aktivitas fisik (jasmani) melalui gerakan-

gerakan anggota tubuh atau gerakan tubuh secara keseluruhan, dengan

maksud untuk meningkatkan dan mempertahankan kebugaran jasmani.

Aktivitas fisik dapat mengontrol gula darah. Glukosa akan diubah

menjadi energi pada saat beraktivitas fisik. Aktivitas fisik mengakibatkan

insulin semakin meningkat sehingga kadar gula dalam darah akan

berkurang. Pada orang yang jarang berolahraga, zat makanan yang masuk

ke dalam tubuh tidak dibakar tetapi ditimbun dalam tubuh sebagai lemak

dan gula. Jika insulin tidak mencukupi untuk mengubah glukosa menjadi

14
energy, maka akan timbul DM. Prevalensi DM mencapai 2-4 kali lipat

terjadi pada individu yang kurang aktif dibandingkan dengan individu

yang aktif (Kemenkes, 2010).

C. DIAGNOSIS KOMUNITAS

Diagnosis komunitas, sering juga disebut public health assessment, adalah

suatu kegiatan untuk menentukan masalah yang terdapat dalam komunitas

melalui suatu studi. Diagnosis komunitas adalah suatu komponen penting

dalam perencanaan program kesehatan.

Meskipun seringkali disamakan dengan asesmen kebutuhan, namun

terdapat perbedaan yang jelas: suatu diagnosis komunitas yang baik

diharapkan dapat bersifat luas dan mencakup berbagai aspek komunitas

seperti budaya, struktur social, peran komunitas, dan lain sebagainya; sebuah

diagnosis komunitas yang baik harus dapat memberikan suatu bayangan bagi

para perencana program akan bagaimana kehidupan di daerah tersebut,

masalah-masalah kesehatan yang penting, intervensi yang paling mungkin

berhasil, dan cara evaluasi program yang baik.

Kata “diagnosis” digunakan karena pada dasarnya proses diagnosis

komunitas didasarkan pada prinsip-prinsip diagnosis klinis; perbedaannya

adalah bahwa diagnosis komunitas diaplikasikan pada komunitas dalam peran

dokter yang lebih luas, sedangkan diagnosis klinis diaplikasikan pada tingkat

yang lebih personal. Perbandingan diagnosis klinis dan diagnosis komunitas

dapat dilihat pada tabel 5 berikut:

15
Tabel 6. Perbedaan Antara Diagnosis Komunitas Dan Diagnosis Klinis

Dokter Klinis Dokter Komunitas


Dilakukan oleh dokter Dilakukan oleh dokter atau
epidemiologis
Fokus perhatian : hanya orang sakit Fokus perhatian : pasien
Fokus perhatian : orang sakit dan sehat Fokus perhatian : komunitas /
masyarakat
Dilakukan dengan memeriksa pasien Dilakukan dengan cara survey
Diagnosis didapat berdasarkan keluhan Diagnosis didasarkan atas Riwayat
dan simtom alamiah perjalanan penyakit ( Natural
history of disease)
Memerlukan pemeriksaan Memerlukan penelitian epidemiologi
laboratorium
Dokter menentukan pengobatan Dokter/epidemiologis merencanakan
plan of action
Pengobatan pasien menjadi tujuan Pencegahan dan Promosi menjadi tujuan
utama utama
Diikiuti dengan follow up kasus Diikuti dengan program evaluasi
Dokter tertarik menggunakan Dokter/epidemiologis tertarik dengan
teknologi tinggi nilai statistik

1. Langkah-langkah Diagnosis Komunitas

Adapun langkah-langkah yang harus dilakukan dalam melaksanakan

diagnosis komunitas adalah sebagai berikut:

a. Definisi komunitas : Melalui data demografis, data kesehatan, data

kualitatif ditentukan komunitas yang spesifik.

b. Karakteristik komunitas : Berdasarkan data kuantitatif dan kualitatif,

dapat ditentukan masalah kesehatan dalam komunitas yang terpilih

untuk kandidat intervensi.

c. Prioritas masalah : Dari masalah yang ada, ditentukan masalah yang

paling penting dalam komunitas.

16
d. Penilaian masalah kesehatan terpilih: Masalah yang terpilih dianalisa

dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang terkait dan strategi serta

fasilitas yang ada untuk rencana intervensi.

e. Intervensi : Penentuan intervensi dipengaruhi oleh masalah dan sumber

yang ada.

1. Evaluasi : Evaluasi penting untuk menilai pemecahan masalah melalui

intervensi yang diberikan.

C. KERANGKA KONSEP
Berdasarkan teori sebelumnya, dapat dibuat suatu kerangka konsep
yang berhubungan dengan area permasalahan yang terjadi pada warga
Kuala Lempuing, Kecamatan Ratu Agung, Kota Bengkulu. Kerangka
konsep ini terdiri dari variabel independen dari kerangka teori yang
dihubungkan dengan area permasalahan.

Variabel Independen Variabel Dependen

FAKTOR – FAKTOR
RESIKO

1. Umur
2. Jenis Kelamin
3. Riwayat Keluarga
Diabetes Melitus Tipe 2
4. Konsumsi Rokok
5. Pola Makan
6. IMT (obesitas)
7. Aktivitas Fisik

Gambar 2. Kerangka Konsep.

17
BAB III

METODE PENELITIAN

Tujuan umum dari pengumpulan data adalah untuk memecahkan masalah,

langkah-langkah yang ditempuh harus relevan dengan masalah yang telah

ditetapkan sebelumnya. Dalam setiap melaksanakan langkah tersebut harus

dilakukan secara objektif dan rasional.

Laporan Kedokteran Komunitas ini menggunakan metode deskriptif

obervasional. Hasil dan pembahasan pada penelitian ini bersifat deskriptif, yaitu

data dikumpulkan dari lapangan berbentuk kata-kata, gambar dan tidak diolah

secara statistik analisis. Penelitian dilakukan di poli umum PKM Kuala Lempuing

mulai tanggal 19 Maret 2018 sampai dengan 30 Maret 2018.

A. POPULASI PENGUMPULAN DATA

Dalam kegiatan baik yang bersifat ilmiah maupun yang bersifat sosial,

perlu dilakukan pembatasan populasi dan cara pengambilan sampel. Populasi

adalah keseluruhan objek pengumpulan data Dalam hal ini yang menjadi

populasi adalah masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Kuala Lempuing.

B. SAMPEL PENGUMPULAN DATA

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Sampel

penelitian diambil dengan metode consecutive sampling. Sampel pada

penelitian ini dilakukan pengumpulan data melalui kuesioner diambil dari

responden yang terdiagnosis Diabetes Melitus Tipe 2 yang datang untuk

18
berobat rutin di PKM Kuala Lempuing mulai tanggal 19 Maret 2018 sampai

dengan 30 Maret 2018.

C. JENIS DAN SUMBER DATA

1. Jenis data

 Sumber Data

Sumber data dalam pengumpulan data ini adalah para responden yang

berobat dan berada di wilayah kerja Puskesmas Kuala Lempuing.

1) Data primer

Data yang langsung didapatkan dari kuesioner yang diisi oleh

responden.

2) Data sekunder

Data yang didapat dari profil tahunan yang sudah ada di

Puskesmas Kuala Lempuing.

2. Definisi Operasional
Tabel. 7 Definisi Operasional
No Variabel Definisi Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala
. Operasional
1. Umur Adalah masa Ceklis Observasi 1. ≤40 thn Nominal
hidup pasien Kuesioner Wawancara
2. 41 – 60 thn
yang dihitung
3. ≥ 61 thn
sejak ia lahir
sampai dengan
menjalani
pengobatan di
PKM yang
dinyatakan
dalam bentuk
tahun.
2. Jenis Adalah tanda Kuesioner Wawancara 1. Laki-laki Nominal
Kelamin fisik yang 2. Perempuan
teridentifikasi
pada pasien
dan dibawa

19
sejak
dilahirkan.
3. Riwayat Adalah sejarah Kuesioner Wawancara 1. YA Nominal
Keluarga keluarga 3 2. TIDAK
generasi yang
pernah
menderita
Diabetes
Melitus Tipe 2
4. Konsumsi Konsumsi Kuesioner Wawancara 1. Tidak Nominal
Rokok rokok sehari- Merokok
hari, atau 2. Konsumsi
pernah Rokok ≤ 1
mengkonsumsi
batang/hari
rokok minimal
3. Konsumsi
1 kali dalam
seumur hidup Rokok ≥ 2
atau 1 batang.hari
hari/batang
5. Konsumsi Konsumsi gula Kuesioner Wawancara 1. Tidak Nominal
Minuman murni dan konsumsi
Manis pemanis minuman
buatan per manis.
hari, seperti 2. Konsumsi
kopi, teh, minuman
sirup, dan manis <3
minuman gelas sehari
bersoda 3. Konsumsi
minuman
manis > 3
sehari
6. Konsumsi Konsumsi Kuesioner Wawancara 1. Tidak Pernah Nominal
Makanan makanan 2. Jarang
tinggi kalori 3. Sering
8. IMT Index massa Kuesioner Wawancara 1. Normal Nominal
tubuh yang Perhitungan 2. Overweight
dihitung Manual 3. Obesitas
berdasarkan
berat badan
(kg) per tinggi
badan (m2).
9. Aktivitas Aktivitas fisik Kuesioner Wawancara 1. Tidak Pernah Nominal
Fisik olahraga Melakukan
Berolahraga aerobik, seperti Aktivitas
berjalan, Olahraga
berlari, maaton 2. Melakukan
berenang, dan Aktivitas
aktivitas fisik olahraga 1

20
yang kali dalam
dianjurkan seminggu
oleh 3. Melakukan
perhimpunan aktivitas fisik
kardiovaskular olahraga 2 –
Indonesia. 3 dalam
seminggu
4. Melakukan
aktivitas
olahraga
seperti
berjalan kaki
minimal 30
mnt/hari
10. Stres Bentuk Kuesioner Wawancara 1. Bekerja Nominal
ketegangan dengan
dari fisik, tuntutan
psikis, emosi beban yang
maupun berat,
mental. sehingga
menyita
pikiran dan
waktu
beristirahat
2. Memiliki
masalah
dalam
keluarga
3. Memiliki
masalah
kesehatan
lainnya
(seperti
penyakit
metabolik,
gagal ginjal
dll)

a. KRITERIA INKLUSI

Kriteria responden survey :

1. Diagnosis Diabetes Melitus Tipe 2

2. Berdomisili dalam wilayah kerja Puskesmas Kuala Lempuing

3. Bersedia mengisi kuesioner dengan lengkap

21
b. KRITERIA EKSKLUSI

1. Responden yang berada diluar wilayah kerja Puskesmas Kuala

Lempuing.

2. Responden yang menolak untuk mengisi kuesioner dengan lengkap.

D. Pengolahan dan Analisa Data

Data diolah secara manual dan komputerisasi. Cara manual yang

digunakan adalah dengan bantuan kalkulator, sedangkan cara komputerisasi

dengan menggunakan program Microsoft Word dan Microsoft Excel.

Kuesioner terdiri dari enam variabel dengan jumlah pertanyaan sebanyak 10

pertanyaan terarah. Masing-masing variabel memiliki penilaian yang

berbeda-beda. Semua jawaban pada variabel ini disajikan dalam bentuk

pilihan ganda.

BAB IV

HASIL DAN PEMBASAHAN

A. PROFIL PUSKESMAS

1. SITUASI LINGKUNGAN DAN KEPENDUDUKAN

a. Data Geografis dan Demografis

Wilayah kerja Puskesmas Kuala Lempuing terletak di tepi

pantai, dengan luas wilayah 1,8 Km2 dan secara administrasi

berbatas dengan :

22
o Sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Tanah Patah

o Sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan Lingkar Barat

o Sebelah Barat berbatasan dengan Samudera Indonesia

o Sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Padang Harapan

Adapun desa binaan di wilayah kerja meliputi 1 (satu) kelurahan

yang terdiri dari 18 Rt dan 3 Rw. Beriklim tropis dengan suhu udara

rata-rata 280 C pada musim hujan dan 330 C pada musim kemarau.

b. Kependudukan

Jumlah penduduk Kelurahan Kuala Lempuing tahun 2016

adalah sebanyak 5035 jiwa. Yang terdiri dari 2.558 jiwa penduduk

laki-laki dan 2.477 jiwa penduduk perempuan.

Komposisi penduduk menurut kelompok umur sebagai berikut

; usia 0 – 6 th berjumlah 729 jiwa, Usia 7 – 12 th berjumlah 713

jiwa, Usia 13 – 18 th berjumlah 813 jiwa, 19 - 24 th berjumlah

1.118 jiwa, 25-55 th berjumlah 1.467 jiwa, 56 - 79 Th berjumlah

193 jiwa dan 80 + th berjumlah 2 jiwa.

2. VISI DAN MISI

a. Visi

Sejalan dengan Visi Dinas Kesehatan Kota Bengkulu, maka Visi

UPTD Puskesmas Kuala Lempuing “ Kelurahan Lempuing Sehat

Mandiri Dan Berkeadilan ”.

b. Misi

Untuk mewujudkan visi tersebut diatas, Puskesmas memiliki 3 (tiga)

Misi yaitu :

23
1) Meningkatkan pelayanan kesehatan yang terpadu, bermutu,

merata dan terjangkau.

2) Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat.

3) Meningkatkan upaya pengendalian penanggulangan masalah

kesehatan.

4) Meningkatkan dan mendayagunakan sumber daya kesehatan.

3. SUMBER DAYA KESEHATAN

UPTD Puskesmas Kuala Lempuing bertanggung jawab

menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan

masyarakat yang merupakan pelayanan kesehatan tingkat pertama. Upaya

Kesehatan dikelompokkan menjadi 2 (dua) yaitu :

a) Program Kesehatan Dasar

1) Promosi Kesehatan

2) Kesehatan Lingkungan

3) Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana

4) Perbaikan Gizi

5) Pemberantasan Penyakit Menular

6) Pengobatan

b) Program Kesehatan Pengembangan

Yaitu program yang ditetapkan berdasarkan permasalahan kesehatan

masyarakat serta sesuai dengan kemampuan sumber daya yang

tersedia, antara lain :

1) Usaha Kesehatan Sekolah

2) Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR)

24
3) Perawatan Kesehatan Masyarakat (Perkesmas)

4) Kesehatan Gigi dan Mulut

5) Kesehatan Usila

6) Kesehatan Jiwa

7) Kesehatan Mata/Indera

8) Pengobatan Tradisional

9) PTM (Penyakit Tidak Menular) / Posbindu

4. TENAGA KESEHATAN

Tenaga yang ada di UPTD Puskesmas Kampung Bali adalah sebagai

berikut :

Tabel 8. Jenis Ketenagaan Berdasarkan Tingkat Pendidikan UPTD


Puskesmas Kuala Lempuing Tahun 2017

No. Jenis Tenaga Laki-Laki Perempuan Jumlah Ket


1. Dokter Umum - 2 2
2. Dokter Gigi - 1 1
3. Sarjana Kesehatan Masyarakat - 2 2
4. Sarjana Keperawatan - 1 1
5. Sarjana Sains Terapan - 2 2
6. Akper - 2 2
7. Akzi - 1 1
8. AAK - 1 1
9. AKL - 1 1

25
10. Bidan - 2 2
11. SPK 1 2 3
12. SPAG - 1 1
13. SPRG - 1 1
14. SPPH - - -
15. SMAK - 1 1
16. SMF - 1 1
Jumlah 1 21 22

5. SARANA PELAYANAN KESEHATAN

Sarana fisik yang terdapat di wilayah kerja UPTD Kuala Lempuing terdiri

atas sarana kesehatan pemerintah dan sarana kesehatan yang bersumber

daya masyarakat. Uraian sarana tersebut adalah :

 Puskesmas : 1

 Posyandu : 6

 Bidan Praktek Mandiri : 2

 Poskesdes : 1

 Pusling : 1

 Kendaraan Roda Dua : 4

6. PREVALENSI KESEHATAN MASYRAKAT DI WILAYAH


KERJA UPTD PUSKESMAS KUALA LEMPUING
Berikut merupakan daftar sepuluh penyakit terbanyak yang ada di
PKM Kuala Lempuing tahun 2017.
Tabel 8. Data Sepuluh Penyakit Terbanyak UPTD Puskesmas Kuala
Lempuing Tahun 2017

No Jenis Penyakit Jumlah Kasus Persentase (%)

26
1. ISPA 1.612 37.7
2. Gastritis 612 14.3
3. Penyakit Kulit 480 11.2
4. Penyakit Gigi dan Mulut 380 8.89
5. Penyakit Lain pada Saluran 289 6.8
Pernapasan Atas 243 5.7
6. Rematik 164 3.83
7. Diare 161 3.76
8. Hipertensi 114 2,7
9. Diabetes Melitus Tipe 2 112 2.6
10. Tonsilitis 110 2.3
Jumlah 4.277 100

B. HASIL PENELITIAN

Data dikumpulkan dengan mengunakan data primer melalui kuesioner

yang memiliki 9 pertanyaan terarah dan wawancara pribadi antara peneliti

dan subject penelitian. Subject penelitian berjumlah 33 responden. Penelitian

telah dilakukan di poli umum PKM Kuala Lempuing mulai tanggal 19 Maret

2018 sampai dengan 30 Maret 2018.

Tabel 9. Karakteristik Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Berdasarkan

Distribusi Umur

Umur Jumlah (n) Persentase (%)

≤ 40 tahun 5 15.15 %
41 – 60 tahun 21 63.63 %
≥ 61 tahun 7 21. 21 %

27
Tabel 9 menggambarkan sebaran umur penderita Diabetes Melitus Tipe 2

di PKM Kuala Lempuing. Jumlah penderita terbanyak berada pada kelompok usia

41 – 60 tahun dengan persentase sebesar 63.63 %.

Tabel 10. Karakteristik Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Berdasarkan

Distribusi Jenis Kelamin

Jenis Kelamin Jumlah (n) Persentase (%)

Perempuan 18 54.5 %
Laki – Laki 15 45.5 %

Tabel 10 menunjukkan distribusi jenis kelamin penderita Diabetes Melitus

Tipe 2 di PKM Kuala Lempuing. Persentase penderita hipertensi perempuan

sebesar 54.5 % dan laki-laki sebesar 45.5 %.

Tabel 11. Riwayat Keluarga yang Mengalami Diabetes Melitus Tipe 2 atau-

pun Penyakit Kardiovarkular/Cerebrovaskular pada Penderita Diabetes

Melitus Tipe 2

Riwayat Hipertensi pada Jumlah (n) Persentase (%)


Keluarga

YA 24 72.72 %
TIDAK 9 27.3 %

Tabel 11 menunjukkan distribusi riwayat keluarga yang mengalami

hipertensi atau-pun penyakit Kardiovarkular atau cerebrovaskular lainnya pada

penderita Hipertensi di PKM Kuala lempuing. Dari tabel diatas, dapat

disimpulkan 72.72 % penderita hipertensi memiliki riwayat keluarga yang juga

memiliki penyakit kardiovarkular dan cerebrovaskular lainnya.

28
Tabel 12. Distribusi Konsumsi Rokok pada Penderita Diabetes Melitus

Tipe 2

Konsumsi Rokok Jumlah (n) Persentase (%)

Tidak Merokok 15 45.5 %


Konsumsi rokok ≤ 1 2 6.06 %
batang/hari

Konsumsi rokok ≥ 1 16 48.5 %


batang/hari

Tabel 12 menunjukkan persentase terbesar penderita Diabetes Mellitus

Tipe 2 di PKM Kuala Lempuing memiliki kebiasaan konsumsi merokok ≥ 1

batang/hari yaitu sebesar 48.5% dari subject penelitian.

Tabel 13. Distribusi Konsumsi Garam pada Penderita Hipertensi

Konsumsi Garam Jumlah (n) Persentase (%)

≤ 3 g/hari 13 39.4 %
≥ 3.1 g/hari 20 60.6 %

Tabel 13 menunjukkan 60.6 % penderita hipertensi yang berobat ke PKM

Kuala Lempuing memiliki kebiasaan konsumsi garam sehari-hari ≥ 3.1 g/hari.

Tabel 14. Distribusi Konsumsi Makanan Berminyak/Berlemak pada

Penderita Diabetes Melitus Tipe 2

Konsumsi Makanan Jumlah (n) Persentase %


Berminyak

Tidak Pernah 2 6.06 %


Jarang 10 30.3 %
Sering 21 63.6 %

29
Tabel 14 menunjukkan sebesar 63.6 % penderita Diabetes Melitus Tipe 2

yang berobat di PKM Kuala Lempuing memiliki kebiasaan sering mengkonsumsi

makanan berminyak dan berlemak.

Tabel 15. Distribusi Konsumsi Alkohol pada Penderita Hipertensi

Konsumsi Alkohol Jumlah (n) Persentase (%)

Tidak Pernah 29 87.87 %


1 Gelas/hari 3 9.09 %
≥ 1 Gelas/hari 1 3.03 %

Tabel 15 menunjukkan sebesar 87.87 % penderita hipertensi yang berobat

di PKM Kuala Lempuing tidak mengkonsumsi alkohol. Hanya 9.09 % penderita

hipertensi yang berobat di PKM Kuala Lempuing yang mimiliki riwayat

kebiasaan konsumsi alkohol 1 gelas/hari dan 3.03 % yang memiliki riwayat

konsumsi alkohol ≥ 1 gelas/hari.

Tabel 16. Distribusi Index Masa Tubuh pada Penderita Diabetes Melitus

Tipe 2

IMT kg/m2 Jumlah (n) Persentase (%)

Normal 14 42.4 %
18.5 – 24.9 kg/m2

30
Overweight 17 51.5 %
25.0 – 27.0 kg/m2
Obesitas 2 6.06 %
≥ 27.0 kg/m2

Tabel 16 menunjukkan 51.5 % subject penelitian penderita Diabetes

Melitus Tipe 2 memiliki indek masa tubuh kategori overweight (25.0 – 27.0

kg/m2), 42.4 % masuk kategori nomal (18.5 – 24.9 kg/m2) dan 6.06 % pada

kategori obesitas (≥ 27.0 kg/m2).

Tabel 17. Distribusi Aktivitas Olahraga pada Penderita Diabetes Melitus

Tipe 2

Aktivitas Olahraga Jumlah (n) Persentase (%)

Tidak pernah melakukan 13 39.39 %


aktivitas olahraga dalam
seminggu

Berolahraga 1 kali dalam 17 51.51 %


seminggu

Berolahraga 2 – 3 kali 3 9.09 %


dalam seminggu

Berolahraga 0 0%
berlari/berjalan 15 – 30
menit setiap hari

Tabel 17 menunjukkan 51.51 % penderita Diabetes Melitus Tipe 2 yang

berobat di PKM Kuala Lempuing memiliki kebiasaan berolahraga 1 kali dalm

seminggu. Sebanyak 39.39 % penderita hipertensi tidak pernah melakukan

aktivitas olahraga dalam seminggu. Hanya 9.09 % penderita hipertensi yang

melakukan aktivitas olahraga 2 – 3 kali dalam seminggu.

Tabel 18. Distribusi Tingkat Stress pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2

31
Stressor Jumlah (n) Persentase (%)

Bekerja dengan tuntutan 19 57.8 %


beban yang berat,
sehingga menyita pikiran
dan waktu beristirahat
Memiliki masalah dalam 5 15.2%
keluarga
Memiliki masalah 9 27.3%
kesehatan lainnya (seperti
penyakit metabolik, gagal
ginjal dll)

Tabel 18 menunjukkan persentase tertinggi stressor yang dialami oleh

penderita Diabetes Melitus Tipe 2 adalah stres pekerjaan yaitu sebesar 57.8 %.

Tabel 19. Distribusi Pengunaan Kontrasepsi Hormonal pada Penderita

Diabetes Melitus Tipe 2

Kontrasepsi Jumlah (n) Persentase (%)

Kontrasepsi Non – 5 27.8 %

hormonal

Kontrasepsi Hormonal 13 72.2 %

Tabel 19 menunjukan 72.2 % penderita Diabetes Melitus Tipe 2 perempuan

memiliki riwayat penggunaan kontrasepsi atau-pun sedang menggunakan

kontrasepsi hormonal yang mengandung estrogen.

C. INTERVENSI PEMECAHAN MASALAH

32
Dari berbagai rencana intervensi yang telah dibuat untuk memecahkan akar

penyebab masalah yang ada, intervensi yang dapat dilakukan antara lain

adalah:

a. Memberikan sosialisasi dan penyuluhan secara langsung tentang

pentingnya mengetahui faktor resiko hipertensi :

 Melakukan penyuluhan menggunakan poster, brosur, dan video

simulasi tentang faktor resiko hipertensi

b. Meningkatkan pengetahuan warga mengenai faktor resiko hipertensi

sesuai dengan tingkat pendidikan keluarga binaan:

 Menambah pengetahuan, pemahaman, dan rasa ingin tahu

keluarga binaan dengan memberikan penyuluhan yang sesuai

dengan tingkat pendidikannya mengenai pentingnya mengetahui

faktor resiko hipertensi

c. Menambah petugas kesehatan untuk memberikan penyuluhan:

 Memberikan sosialisasi dan penyuluhan secara langsung tentang

pentingnya mengetahui faktor resiko hipertensi

 Membuat pre test dan post test mengenai faktor resiko hipertensi

untuk mengukur pengetahuan keluarga binaan sebelum dan

sesudah penyuluhan

d. Memberikan sosialisasi mengenai pentingnya berobat ke petugas

kesehatan dan membatasi konsumsi makanan tinggi garam dan tinggi

lemak.

 Memotivasi keluarga binaan untuk mengurangi makanan tinggi

garam dan tinggi lemak

33
 Membagikan garam rendah natrium kepada keluarga binaan

 Mengajak keluarga binaan untuk mendukung program berobat ke

puskesmas bagi penderita hipertensi

 Memaparkan resiko yang dapat terjadi jika penyakit hipertensi

tidak dikontrol oleh petugas kesehatan

e. Mensosialisasikan adanya jaminan kesehatan bagi keluarga yang tidak

mampu

 Mengajak keluarga binaan untuk membuat kartu jaminan

kesehatan

34
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

1. Area Masalah

Berdasarkan pengamatan dan pengumpulan data dari Puskesmas

Kuala Lempuing, maka dilakukanlah diskusi kelompok dan merumuskan

serta menetapkan area masalah, yaitu “ Gambaran Faktor – Faktor Risiko

Penderita Hipertensi terbanyak pada kelompok usia 41 – 60 tahun dengan

aktivitas olahraga yang kurang, konsumsi garam ≥ 3 g/hari, tinggi lemak

dan stress akibat pekerjaan.”

5.1.2 Akar Penyebab Masalah

a. Kurangnya kesadaran warga di sekitar wilayah PKM Lempuing

untuk mencari tahu tentang faktor-faktor yang dapat meningkatkan

resiko terjadinya hipertensi.

b. Kurangnya petugas kesehatan yang memberikan penyuluhan

mengenai faktor resiko hipertensi.

c. Kebiasaan pada masyarakat untuk mengonsumsi makanan asin,

makanan berlemak, serta konsumsi rokok.

d. Kurangnya aktivitas olahraga sehari-hari.

e. Stress pekerjaan yang berhubungan dengan peningkatan kejadan

hipertensi.

f. Biaya yang diperlukan untuk berobat ke puskesmas atau ke rumah

sakit.

35
5.1.3 Alternatif Pemecahan Masalah

a. Memberikan sosialisasi dan penyuluhan secara langsung tentang

pentingnya mengetahui faktor resiko hipertensi.

b. Meningkatkan pengetahuan warga mengenai faktor resiko hipertensi

sesuai dengan tingkat pendidikan keluarga binaan.

c. Menambah petugas kesehatan untuk memberikan penyuluhan

d. Memberikan sosialisasi mengenai pentingnya berobat ke petugas

kesehatan dan membatasi konsumsi makanan tinggi garam,

makanan berminyak/berlemak, serta bahaya potensi konsumsi rokok

untuk kesehatan.

e. Pentingnya berolahraga minimal 15 – 30 menit setiap hari.

f. Mengalakkan diet hipertensi.

g. Konseling untuk mengurangi stress individu.

h. Mensosialisasikan adanya jaminan kesehatan bagi keluarga yang

tidak mampu.

5.1.4 Intervensi yang Dilakukan

a. Memberikan sosialisasi dan penyuluhan secara langsung tentang

pentingnya mengetahui faktor resiko hipertensi:

1) Melakukan penyuluhan menggunakan poster, brosur, dan video

simulasi tentang faktor resiko hipertensi

b. Meningkatkan pengetahuan warga mengenai faktor resiko hipertensi

sesuai dengan tingkat pendidikan keluarga binaan:

1) Menambah pengetahuan, pemahaman, dan rasa ingin tahu

keluarga binaan dengan memberikan penyuluhan yang sesuai

36
dengan tingkat pendidikannya mengenai pentingnya mengetahui

faktor resiko hipertensi.

c. Menambah petugas kesehatan untuk memberikan penyuluhan:

1) Memberikan sosialisasi dan penyuluhan secara langsung tentang

pentingnya mengetahui faktor resiko hipertensi.

2) Membuat pre test dan post test mengenai faktor resiko hipertensi

untuk mengukur pengetahuan keluarga binaan sebelum dan

sesudah penyuluhan.

d. Memberikan sosialisasi mengenai pentingnya berobat ke petugas

kesehatan dan membatasi konsumsi makanan tinggi garam

1) Memotivasi keluarga binaan untuk mengurangi makanan tinggi

garam.

2) Memotivasi keluarga binaan untuk mengurangi makanan

berminyak dan berlemak.

3) Menggalakkan kampanye berhenti merokok.

4) Membagikan garam rendah natrium kepada keluarga binaan.

5) Mengalakkan diet hipertensi.

6) Menggalakkan pentingnya aktivitas berolahraga setiap hari.

7) Mengajak keluarga binaan untuk mendukung program berobat ke

puskesmas bagi penderita hipertensi

8) Memaparkan resiko yang dapat terjadi jika penyakit hipertensi

tidak dikontrol oleh petugas kesehatan

e. Mensosialisasikan adanya jaminan kesehatan bagi keluarga yang

tidak mampu

37
1) Mengajak keluarga binaan untuk membuat kartu jaminan

kesehatan.

B. Saran

1. Menambah jumlah petugas kesehatan.

 Berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kota guna menambah jumlah

petugas kesehatan di Puskesmas Kuala Lempuing.

2. Mensosialisasikan adanya jaminan kesehatan bagi keluarga yang tidak

mampu.

 Berkoordinasi dengan kader puskesmas beserta aparat masyarakat

untuk mensosialisasikan mengenai kartu jaminan kesehatan

masyarakat.

 Merekomendasikan kepada dinas ketenagakerjaan untuk

menghimbau dan mempermudah pinjaman modal kepada

masyarakat guna mampu secara swadaya membuka usaha kecil

menengah.

38
LAMPIRAN I

KUESIONER PENELITIAN KARAKTERISTIK DAN FAKTOR RISIKO


PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS KUALA LEMPUING TAHUN 2018

NO.
IDENTITAS RESPONDEN
RESPONDEN
1. Nama :
2. Umur :
3. Jenis Kelamin : Laki-laki/Perempuan
4. Alamat :
5. Pendidikan :
6. Pekerjaan :

PERTANYAAN
1. Apakah didalam keluarga yang memiliki penyakit hipertensi/stroke/gagal
jantung/TIA/Penjakit Jantung Koroner/ Dislipidemia ?
a. YA
b. TIDAK
2. Apakah anda mengkonsumsi rokok ?
a. Tidak Merokok
b. Mengkonsumsi rokok ≤ 1 batang/hari
c. Mengkonsumsi rokok ≥ 1 batang/hari
3. Berapa konsumsi garam sehari-hari ?
a. 1 sendok teh perhari ( ≤ 3.0 g/hari)
b. Lebih dari 1 sendok teh perhari ( ≥ 3.1 g/hari)
4. Apakah anda sering mengkonsumsi makan-makanan berminyak ?
a. Tidak pernah
b. Jarang (konsumsi makan-makanan berminyak seperti gorengan,
bersantan, tinggi kolesterol seperti makanan seafood 1 kali dalam
seminggu)

39
c. Sering (konsumsi makan-makanan berminyak seperti gorengan,
bersantan, tinggi kolesterol seperti makanan seafood ≥ 3 kali dalam
seminggu)
5. Apakah anda mengkonsumsi alkohol ?
a. Tidak pernah konsumsi alkohol sama sekali
b. Konsumsi alkohol 1 gelas/hari
c. Konsumsi alkohol ≥ 1 gelas/hari
6. Hitung Index Massa Tubuh
BB :...........kg
TB :...........cm
7. Apakah anda sering berolahraga ?
a. Tidak pernah melakukan aktivitas olahraga dalam seminggu.
b. Melakukan aktivitas olahraga seperti senam, lari merathon, lari pagi,
berenang, bersepeda 1 minggu sekali.
c. Melakukan aktivitas olahraga seperti senam, lari merathon, lari pagi,
berenang, bersepeda 2 – 3 kali dalam seminggu.
d. Melakukan aktivitas olahraga seperti berlari/berjalan kaki 15 – 30
menit sehari.
8. Apakah hal-hal dibawah ini pernah/sedang anda alami saat ini ?
a. Bekerja dengan tuntutan beban yang berat, sehingga menyita pikiran
dan waktu beristirahat.
b. Memiliki masalah dalam keluarga.
c. Memiliki masalah kesehatan lainnya (seperti penyakit metabolik,
gagal ginjal dll).
9. Apakah anda pernah menggunakan atau sendang menggunakan
kontrasepsi ? Jenis apa itu ?
a. Kontrasepsi non-hormonal (IUD spiral, T – couper, tubektomi,
kondom, vasektomi)
b. Kontrasepsi hormonal (pil KB, estrogen-progesteron kombinasi,
progesteron only, implan)

40
DAFTAR PUSTAKA

American Diabetes Association (2013). Diagnosis and classification of diabetes


mellitus. Diabetes Care, Vol.36(1):567-574.

Hadisaputro, S. dan H, Setyawan (2007). Epidemiologi dan Faktor-Faktor Risiko


terjadinya Diabetes Melitus Tipe 2. Naskah Lengkap Diabetes Melitus
Ditinjau dari Berbagai aspek Penyakit Dalam. Semarang: Badan Penerbit
Universitas Diponegoro.

IDF. 2013. IDF Diabetes Atlas Sixth Edition, International Diabetes Federation
2013.http://www.idf.org/sites/default/files/EN_6E_Atlas_Full_0.pdf.

Maulana, Mirza (2008). Mengenal diabetes melitus. Panduan praktis menangani


penyakit kencing manis. Jogjakarta: Katahati.

PERKENI (2011). Konsensus pengelolaan dan pencegahan diabetes melitus tipe 2


di Indonesia. Jakarta : PB PERKENI.

Powers AC (2012). Diabetes mellitus. Dalam: Fauci AS, Kasper D L, Longo DL,
Braunwald E., Hauser SL, Jameson J L, Loscalzo J. Harrison’s principles of
internal medicine. Ed. 18. Vol. II. United states of America: McGraw-Hill,
pp:2968-2974.

Price Sylvia A, Wilson Lorraine M (2012). Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-


Proses Penyakit. Jakarta: EGC

Purnamasari D (2014). Diagnosis dan Klasifikasi Diabetes Melitus. Dalam: Setiati


S, Alwi I, Sudoyo AW, Simandibrata KM, Setiyohadi B, Syam AF (eds).
Buku ajar ilmu penyakit dalam jilid II. Ed.6. Jakarta: InternaPublishing,
pp:2323-2324.

Rowley WR, Bezold C (2012)."Creating public awareness: state 2025 diabetes


forecasts." Population Health Management, No.15.

Suyono S (2014). Diabetes melitus di Indonesia. Dalam: Setiati S, Alwi I, Sudoyo


AW, Simandibrata KM, Setiyohadi B, Syam AF (eds). Buku ajar ilmu
penyakit dalam jilid II. Ed.6. Jakarta: InternaPublishing, p:2316.

41
Tjokoprawiro, Askandar (2006). Hidup sehat dan bahagia bersama diabetes
melitus. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Trisnawati SK (2013), Setyogo S. Faktor Risiko Kejadian Diabetes Melitus Tipe 2


Di Puskesmas Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat Tahun 2012. Jurnal
Ilmiah Keshatan.

42