Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

Hiperemesis gravidarum adalah mual muntah yang berlebihan pada wanita


hamil sampai mengganggu aktifitas sehari-hari karena keadaan umum pasien yang
buruk akibat dehidrasi. Mual dan muntah adalah gejala yang umum dan wajar
terjadi pada usia kehamilan trimester I. Mual biasanya terjadi pada pagi hari, akan
tetapi dapat juga timbul setiap saat dan pada malam hari. Gejala-gejala ini
biasanya terjadi 6 minggu setelah hari pertama haid terakhir dan berlangsung
selama kurang lebih 10 minggu.

Setidaknya 0,3% hingga 2,3% kehamilan di dunia mengalami hiperemesis


gravidarum . Hiperemesis gravidarum terjadi di seluruh dunia dengan angka
kejadian yang beragam mulai dari 1-3% dari seluruh kehamilan di indonesia.
Mual dan muntah yang berkaitan dengan kehamilan biasanya dimulai pada usia
kehamilan 9- 10 minggu, puncaknya pada usia kehamilan 11-13 minggu, dan
sembuh pada kebanyakan kasus pada umur kehamilan 12-14 minggu. Dalam 1-
10% dari kehamilan, gejala-gejala dapat berlanjut melampaui 20-22 minggu.
Kejadian hiperemesis dapat berulang pada wanita hamil.

Akibat dari kejadian hiperemesis gravidarum sendiri terhadap ibu dan bayi
sampai saat ini masih diteliti. beberapa akibat fatal diantaranya adalah terjadinya
gangguan pertumbuhan pada janin dan juga terjadinya Wernicke encephalopathy
pada ibu . Hiperemesis gravidarum memiliki beberapa gejala yang hampir sama
dengan beberapa penyakit gastrointestinal, metabolik maupun penyakit akibat
etiologi lainnya (Sistem saraf pusat dan lain-lain). Untuk itulah, diagnosa dan
penatalaksanaan yang tepat perlu dilakukan sedini mungkin sehingga bisa
mengurangi komplikasi dari hiperemesis gravidarum.

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 DEFINISI

Menurut The International Statistical Classification of Disease and


Related Health Problems, Tenth Revision, Hiperemesis Gravidarum
didefinisikan sebagai muntah yang menetap dan berlebihan sebelum usia
1
kehamilan 22 minggu . Kondisi ini selain muntah yang berlebihan yang
memerlukan rawat inap juga ditandai dengan dehidrasi berat, berkurangnya
massa otot, ketidak seimbangan elektrolit, ketonuria dan kehilangan berat badan
lebih dari 5% 2 .

II.2 EPIDEMIOLOGI

Mual muntah merupakan salah satu gejala yang umum terjadi pada
kehamilan. Setidaknya 50-90% wanita mengalami mual dan muntah. Hiperemesis
gravidarum adalah muntah yang terjadi dari awal kehamilan sampai umur
kehamilan 20 minggu 3 .

Setidaknya 0,3% hingga 2,3% kehamilan di dunia mengalami hiperemesis


gravidarum . Hiperemesis gravidarum terjadi di seluruh dunia dengan angka
kejadian yang beragam mulai dari 1-3% dari seluruh kehamilan di indonesia,
0,3% dariseluruh kehamilan di Swedia, 0,5% di California, 0,8% di Canada,
10,8% di China, 0,9% di Norwegia, 2,2% di Pakistan dan 1,9% di Turki. Di
Amerika Serikat, prevalensi hiperemesis gravidarum adalah 0,5-2%. Literatur juga
menyebutkan bahwa perbandingan insidensi hiperemesis gravidarum secara
umum adalah 4:1000 kehamilan 2 .

2
II.3 ETIOLOGI

Penyebab kejadian hiperemesis gravidarum belum diketahui dengan pasti.


Tidak ada bukti bahwa penyakit ini disebabkan oleh faktor toksik, juga ditemukan
kelainan biokimia. Perubahan-perubahan anatomik pada otak, jantung, hati dan
susunan saraf, disebabkan olah kekurangan vitain serta zat-zatakibat inanisi.

Tetapi beberapa faktor predisposisi dapat dijabarkan sebagai berikut :

Faktor adaptasi dan hormonal. Pada wanita hamil yang kekurangan darah
lebih sering terjadi hiperemesis gravidarum. Dapat dimasukkan dalam ruang
lingkup faktor adaptasi adalah wanita hamil dengan anemia, wanita primigravida,
dan overdistensi rahim pada hamil kembar dan hamil mola hidatidosa. Sebagian
kecil primigravida belum mampu beradaptasi terhadap hormon estrogen dan
korionik gonadotropin, sedangkan pada hamil kembar dan mola hidatidosa,
jumlah hormon yang dikeluarkan terlalu tinggi dan menyebabkan terjadi
hiperemesis gravidarum itu.

Faktor psikologis. Hubungan faktor psikologis dengan kejadian


hyperemesis gravidarum belum jelas. Besar kemungkinan bahwa wanita yang
menolak hamil, takut kehilangan pekerjaan, keretakan hubungan dengan suami
dan sebagainya, diduga dapat menjadi faktor kejadian hiperemesis gravidarum.
Dengan perubahan suasana dan masuk rumah sakit penderitaannya dapat
berkurang sampai menghilang.

Faktor alergi. Pada kehamilan, ketika diduga terjadi invasi jaringan villi
korialis yang masuk ke dalam peredaran darah ibu, maka faktor alergi dianggap
dapat menyebabkan hiperemesis gravidarum 4 .

3
II.4 PATOFISIOLOGI

Gejala mual biasanya disertai muntah umumnya terjadi pada awal


kehamilan, biasanya pada trimester pertama disebut emesis gravidarum atau nama
lainnya nausea gravidarum (NVP) atau lebih dikenal dengan istilah morning
sickness. Kondisi ini umumnya disebabkan karena meningkatnya kadar hormon
estrogen. Dalam beberapa kasus, gejala yang sama pula dialami oleh para wanita
yang menggunakan kontrasepsi hormonal atau menjalani bentuk-bentuk terapi
hormonal tertentu. Gejala ini biasanya timbul di pagi hari dengan frekuensi yang
akan menurun setiap harinya seiring dengan bertambahnya usia kehamilan.
Namun, mual juga disertai muntah dapat bertahan lama bahkan bisa mengalami
mual dan muntah secara berlebihan yang disebut hyperemesis gravidarum.

Adapun penyebab atas gejala yang dapat menimbulkan terjadinya mual dan
muntah belum diketahui secara pasti, namun perkiraan beberapa penyebab antara
lain sebagai berikut :

a. Meningkatnya kadar sirkulasi hormon estrogen dalam tubuh. Kadar


hormone estrogen dalam tubuh umumnya akan meningkat pada masa
kehamilan.
b. Kadar gula dalam darah yang rendah (hipoglikemia) yang disebabkan
penyerapan energi yang dilakukan oleh plasenta.
c. Meningkatnya kadar hormon hCG dikarenakan sel telur yang sudah
dibuahi menempel pada dinding rahim sehingga tubuh akan memproduksi
hormone hCG.
d. Meningkatnya sensivitas terhadap bau atau aroma tertentu.
e. Peningkatan kadar bilirubin yang disebabkan karena meningkatya kadar
enzim dalam hati .

Hiperemesis gravidarum dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan


lemak habis terpakai untuk keperluan energi. Karena oksidasi lemak yang tidak
sempurna terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam aseton-asetik, asam
hidroksi butirik dan aseton dalam darah. Kekurangan cairan yang diminum dan
kehilangan karena muntah menyebabkan dehidrasi sehingga cairan ekstraseluler

4
dan plasma berkurang. Natrium dan klorida darah dan klorida air kemih turun.
Selain itu juga dapat menyebabkan hemokonsentrasi sehingga aliran darah ke
jaringan berkurang. Kekurangan kalium sebagai akibat dari muntah dan
bertambahnya ekskresi lewat ginjal menambah frekuensi muntah-muntah lebih
banyak, dapat merusak hati dan terjadilah lingkaran setan yang sulit dipatahkan.
Selain dehidrasi dan terganggunya keseimbangan elektrolit dapat terjadi robekan
pada selaput lendir esofagus dan lambung (Sindroma Mallory-Weiss) dengan
akibat perdarahan gastrointestinal 5 .

II.5 KLASIFIKASI

Ada berbagai klasifikasi dari hiperemesis gravidarum, klasifikasi


hiperemesis gravidarum adalah sebagai berikut 6 :

Tingkat I Muntah terus menerus, timbul


intoleransi terhadap makanan dan
minuman, berat badan menurun, nyeri
epigastrium, muntah pertama keluar
makanan, lendir dan sedikit cairan
empedu, keluar darah
Nadi >100x/menit
Tekanan darah sistolik (TDS) menurun
Mata cekung, lidah kering
Turgor kulit berkurang
Urin sedikit namun masih dalam batas
normal
Tingkat II Gejala lebih berat
Segala yang dimakan dan minum
dimuntahkan
Haus hebat
Subfebril

5
Nadi >100-140 kali/menit
TDS <80 mmHg
Apatis
Kulit pucat, lidah kotor
Kadang ikterus, aseton, bilirubin dalam
urin
Berat bdan cepat menurun
Tingkat III Gangguan kesadaran (delirium-koma)
Muntah berkurang atau berhenti
Dapat terjadi ikterus, sianosis,
nistagmus, gangguan jantung, bilirubin,
proteinuria dalam urin

II.6 DIAGNOSIS

Diagnosis hiperemesis gravidarum ditegakkan melalui anamnesis,


pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang 7 .

 Anamnesis

Dari anamnesis didapatkan amenorea, tanda kehamilan muda, mual, dan


muntah. Kemudian diperdalam lagi apakah mual dan muntah terjadi terus
menerus, dirangsang oleh jenis makanan tertentu, dan mengganggu
aktivitas pasien sehari- hari. Selain itu dari anamnesis juga dapat diperoleh
informasi mengenai hal-hal yang berhubungan dengan terjadinya
hiperemesis gravidarum seperti stres, lingkungan sosial pasien, asupan
nutrisi dan riwayat penyakit sebelumnya (hipertiroid, gastritis, penyakit
hati, diabetes mellitus, dan tumor serebri) .

6
 Pemeriksaan Fisik

Pada pemeriksaan fisik perhatikan keadaan umum pasien, tanda-tanda


vital, tanda dehidrasi, dan besarnya kehamilan. Selain itu perlu juga
dilakukan pemeriksaan tiroid dan abdominal untuk menyingkirkan
diagnosis banding.

 Pemeriksaan penunjang

Dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis dan menyingkirkan


diagnosis banding. Pemeriksaan yang dilakukan adalah darah lengkap,
urinalisis, gula darah, elektrolit, USG (pemeriksaan penunjang dasar),
analisis gas darah, tes fungsi hati dan ginjal. Pada keadaan tertentu, jika
pasien dicurigai menderita hipertiroid dapat dilakukan pemeriksaan fungsi
tiroid dengan parameter TSH dan T. Pada kasus hiperemesis gravidarum
dengan hipertiroid 50- 60% terjadi penurunan kadar TSH. Jika dicurigai
terjadi infeksi gastrointestinal dapat dilakukan pemeriksaan antibodi
Helicobacter pylori. Pemeriksaan laboratorium umumnya menunjukan
tanda-tanda dehidrasi dan pemeriksaan berat jenis urin, ketonuria,
peningkatan blood urea nitrogen, kreatinin dan hematokrit. Pemeriksaan
USG penting dilakukan untuk mendeteksi adanya kehamilan ganda
ataupun mola hidatidosa.

II.7 DIAGNOSIS BANDING

Keluhan muntah yang berat dan persisten tidak selalu menandakan


hiperemesis gravidarum. Penyebab-penyebab lain seperti penyakit
gastrointestinal, pielonefritis dan penyakit metabolik perlu dieksklusi. Satu
indikator sederhana yang berguna adalah awitan mual dan muntah pada
hiperemesis gravidarum biasanya dimulai dalam delapan minggu setelah hari
pertama haid terakhir. Karena itu, awitan pada trimester kedua atau ketiga
menurunkan kemungkinan hiperemesis gravidarum. Demam, nyeri perut atau

7
sakit kepala juga bukan merupakan gejala khas hiperemesis gravidarum.
Pemeriksaan ultrasonografi perlu dilakukan untuk mendeteksi kehamilan ganda
atau mola hidatidosa.

Diagnosis banding hiperemesis gravidarum antara lain ulkus peptikum,


kolestasis obstetrik, perlemakan hati akut, apendisitis akut, diare akut,
hipertiroidisme dan infeksi Helicobacter pylori. Ulkus peptikum pada ibu hamil
biasanya adalah penyakit ulkus peptikum kronik yang mengalami eksaserbasi
sehingga dalam anamnesis dapat ditemukan riwayat sebelumnya. Gejala khas
ulkus peptikum adalah nyeri epigastrium yang berkurang dengan makanan atau
antacid dan memberat dengan alkohol, kopi atau obat antiinflamasi nonsteroid
(OAINS). Nyeri tekan epigastrium, hematemesis dan melena dapat ditemukan
pada ulkus peptikum.

Pada kolestasis dapat ditemukan pruritus pada seluruh tubuh tanpa adanya
ruam. ikterus, warna urin gelap dan tinja berwarna pucat disertai peningkatan
kadar enzim hati dan bilirubin. Pada perlemakan hati akut ditemukan gejala
kegagalan fungsi hati seperti hipoglikemia, gangguan pembekuan darah, dan
perubahan kesadaran sekunder akibat ensefalopati hepatic 8 .

II.8 PENATALAKSANAAN

Pengobatan

Pengobatan dalam keadaan muntah berlebihan dan dehidrasi ringan, ibu


yang mengalami hiperemesis gravidarum tingkat II sebaiknya dirawat. Konsep
pengobatan yang dapat diberikan sebagai berikut :

Isolasi dan pengobatan psikologis. Dengan melakukan isolasi di ruangan


sudah dapat meringankan wanita hamil karena perubahan suasana dari lingkungan
rumah tangga. Petugas dapat memberikan komunikasi, informasi, dan edukasi
tentang berbagai masalah berkaitan dengan kehamilan.

8
Pemberian cairan pengganti. Dalam keadaan darurat diberikan cairan
pengganti sehingga keadaan dehidrasi dapat diatasi. Cairan pengganti yang
diberikan adalah glukosa 5-10% dengan keuntungan dapat mengganti cairan yang
hilang dan berfungsi sebagai sumber energi, sehingga terjadi perubahan
metabolisme dari lemak dan protein menjadi pemecahan glukosa. Dalam cairan
dapat ditambahkan vitamin C, B kompleks atau kalium yang diperlukan untuk
kelancaran metabolisme. Selama pemberian cairan harus mendapat perhatian
tentang keseimbangan cairan yang masuk dan keluar melalui kateter, nadi,
tekanan darah, suhu dan pernapasan. Lancarnya pengeluaran urine memberikan
petunjuk bahwa keadaan wanita hamil berangsur-angsur baik 4 .

Pemeriksaan yang perlu dilakukan adalah darah, urine, dan bila mungkin
fungsi hati dan ginjal. Bila keadaan muntah berkurang, kesadaran membaik,
wanita hamil dapat diberikan makan minum dan mobilisasi. Obat yang dapat
diberikan. Memberikan obat untuk hyperemesis gravidarum sebaiknya obat yang
tidak bersifat teratogenik (kelainan kongenial-cacat bawaan bayi). Obat yang
dapat diberikan adalah sedatif ringan yang sering digunakan, yaitu 6 :

a) Vitamin B1, B2 dan B6 masing-masing 50-100 mg/hari/infus.


b) Vitamin B12 200 mcg/hari/infus, vitamin C 200/hari/infus.
c) Fenobarbital 30 mg IM 2-3 kali/hari atau chlorpromazine 25-50 mg/hari
IM atau kalau diperlukan diazepam 5 mg 2-3 kali/hari IM.
d) Antiemetik: prometazine (avopreg) 2-3 kali 25 mg/hari/oral atau mediamer
B6 3x1/hari/oral.
e) Antasida: acidrine 3x1 tablet/hari/oral atau mylanta 3x1 tablet/hari/oral

atau magnam 3x1 tablet/hari/oral .

Menghentikan kehamilan. Pada beberapa kasus, pengobatan hiperemesis


gravidarum tidak berhasil malah menjadi kemunduran dan keadaan semakin
menurun sehingga diperlukan pertimbangan untuk melakuakan gugur kandung.
Keadaan yang memerlukan pertimbangan gugur kandung diantaranya 4 :

9
a) Gangguan kejiwaan (delirium, apatis, somnolen sampai koma, terjadi
gangguan kejiwaan ensefalopati Wernicke)
b) Gangguan penglihatan (perdarahan retina, kemunduran penglihatan)
c) Gangguan faal (hati dalam bentuk ikterus, ginjal dalam bentuk anuria,
jantung dan pembuuh darah terjadi meningkat, tekanan darah menurun)

Dengan memperhatikan keadaan tersebut, gugur kandung dapat


dipertimbangkan pada hiperemesis gravidarum .

Diet

Diet hiperemesis gravidarum adalah penekanan karbohidrat kompleks


terutama pada pagi hari, serta menghindari makanan yang berlemak dan goreng-
gorengan untuk menekan rasa mual dan muntah, sebaiknya diberi jarak dalam
pemberian makan dan minum. Diet bertujuan untuk mengganti persediaan
glikogen tubuh dan mengontrol asodosis secara berangsur memberikan makanan
berenergi dan zat gizi yang cukup.

Adapun beberapa syarat diet hiperemesis gravidarum diantaranya adalah


karbohidrat tinggi yaitu 75-80% dari kebutuhan energi total, lemak rendah yaitu
<10% dari kebutuhan energi total, protein sedang yaitu 10-15% dari kebutuhan
energi total. Makanan diberikan dalam bentuk kering, pemberian cairan di
sesuaikan dengan keadaan pasien yaitu 7-10 gelas/hari, makanan mudah di cerna,
tidak merangsang saluran pencernaan dan diberikan sering dalam porsi kecil, bila
makan pagi dan sulit diterima, pemberian di optimalkan pada makan malam dan
selingan malam, makanan yang berangsur di tingkatkan dalam porsi dan nilai gizi
sesuai dengan keadaan dan kebutuhan gizi pasien 9.

Ada tiga macam diet pada hiperemesis gravidarum, yaitu 9 :

a) Diet hiperemesis tingkat I

Diberikan kepada pasien hyperemesis gravidarum ringan. Diet diberikan


secara berangsung dan dimulai dengan memberikan bahan makanan yang
bernilai gizi tinggi. Makanan hanya berupa roti kering dan buah-buahan,

10
makanan ini kurang mengandung zat gizi, kecuali vitamin C. Minuman
tidak diberikan bersamaan dengan makanan tetapi 1-2 jam sesudahnya.
Pemilihan bahan makanan yang tepat dapat memenuhi kebutuhan gizi
kecuali kebutuhan energi.

b) Diet hiperemesis gravidarum tingkat II

Diberikan kepada pasien hiperemesis gravidarum sedang. Diet diberikan


sesuai kesanggupan pasien dan minuman tidak boleh diberikan bersama
makanan. Makanan mencukupi kebutuhan energi dan semua zat gizi
kecuali vitamin A dan D.

c) Diet hiperemesis tingkat III

Diberikan pada pasien hyperemesis gravidarum berat. Makanan hanya


terdiri dari roti kering, singkong/ubi bakar atau rebus, dan buah-buahan.
Cairan tidak diberikan bersama makanan tetapi 1-2 jam sesudahnya karena
zat gizi yang terkandung didalamnya kurang, maka tidak diberikan dalam
waktu lama.

Makanan yang tidak dianjurkan untuk hiperemesis I, II, dan III adalah
makanan yang umumnya merangsang saluran pencernaan dan berbau tajam.
Bahan makanan yang mengandung alkohol, kopi, dan yang mengandung zat
tambahan (pengawet, pewarna, dan bahan penyedap) juga tidak dianjurkan.

11
II.9 PENCEGAHAN

Pencegahan terhadap hiperemesis gravidarum perlu dilaksanakan dengan


jalan memberikan penerapan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu
proses yang fisiologik, memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang – kadang
muntah merupakan gejala yang fisiologik pada kehamilan muda dan akan hilang
setelah kehamilan 4 bulan, menganjurkan mengubah makan sehari-hari dengan
makanan dalam jumlah kecil tapi sering. Waktu bangun pagi, jangan segera turun
dari tempat tidur, terlebih dahulu makan roti kering atau biskuit dengan teh
hangat. Makan yang berminyak dan berbau lemak sebaiknya dihindarkan.
Makanan seyogyanya disajikan dalam keadaan panas atau sangat dingin. Defekasi
teratur, menghindari kekurangan karbohidra merupakan faktor penting, dianjurkan
makanan yang banyak megandung gula 5 .

II.10 KOMPLIKASI

Muntah yang terus-menerus disertai dengan kurang minum yang


berkepanjangan dapat menyebabkan dehidrasi. Jika terus berlanjut, pasien dapat
mengalami syok. Dehidrasi yang berkepanjangan juga menghambat tumbuh
kembang janin. Oleh karena itu, pada pemeriksaan fisik harus dicari apakah
terdapat abnormalitas tanda-tanda vital, seperti peningkatan frekuensi nadi (>100
kali per menit), penurunan tekanan darah, kondisi subfebris, dan penurunan
kesadaran.

Dampak yang di timbulkan dapat terjadi pada ibu dan janin, seperti ibu akan
kekurangan nutrisi dan cairan sehinga keadaan fisik ibu menjadi lemah dan lelah
dapat pula mengakibatkan gangguan asam basa, pneumoni aspirasi, robekan
mukosa pada hubungan gastroesofagus yang menyebabkan perdarahan ruptur
esofagus, kerusakan hepar dan kerusakan ginjal, ini akan memberikan pengaruh
pada pertumbuhan dan perkembangan janin karena nutrisi yang tidak terpenuhi
atau tidak sesuai dengan kehamilan, yang mengakibatkan peredaran darah janin
berkurang. Pada bayi, jika hiperemesis ini terjadi hanya di awal kehamilan tidak

12
berdampak terlalu serius, tetapi jika sepanjang kehamilan si ibu menderita
hyperemesis gravidarum, maka kemungkinan bayinya mengalami BBLR (Berat
Badan Lahir Rendah), IUGR (Intraunterine Growth Retardation), Prematur
hingga terjadi abortus. Ada peningkatan peluang retradasi pertumbuhan
intrauterus jika ibu mengalami penurunan berat badan sebesar 5% dari berat badan
sebelum kehamilan, karena pola pertumbuhan janin terganggu oleh metabolism
maternal. Terjadi pertumbuhan janin terhambat sebagai akibat kurangnya
pemasukan oksigen dan makanan yang kurang adekuat dan hal ini mendorong
terminasi kehamilan lebih dini 9 .

II.11 PROGNOSIS

Apabila Hiperemesis Gravidarum tanpa penyulit maka prognosisnya adalah


baik. Hiperemesis gravidarum sendiri biasanya menurun pada usia kehamilan >20
minggu, namun demikian pada tingkatan yang berat, penyakit ini dapat
membahayakan jiwa ibu dan janin. Dapat menjadi fatal bila terjadi deplesi
elektrolit dan ketoasidosis yang tidak dikoreksi dengan tepat dan cepat.
Komplikasi pada ibu adalah peningkatan risiko terjadinya ruptur esofagus,
Sindrom Mallory Weiss akibat peningkatan tekanan secara akut, pneumothorax,
neuropati, ensefalopati Wernicke’s akibat kekurangan thiamin, preeklampsia.
Sedangkan pada janin dapat mengakibatkan retardasi pertumbuhan janin 3 .

13
BAB III

KESIMPULAN

Hiperemesis gravidarum adalah mual muntah yang berlebihan sehingga


menimbulkan gangguan aktivitas sehari-hari dan bahkan dapat membahayakan
hidup ibu, hal ini merupakan gejala yang wajar dan sering terjadi pada kehamilan
trimester I. Gejala ini terjadi kurang lebih setelah hari pertama haid terakhir
berlangsung selama kurang lebih 10 minggu. Penyebab hiperemesis gravidarum
belum diketahui secara pasti tetapi beberapa faktor seperti faktor psikologis,
faktor fisik, faktor konsentrasi HCG yang tinggi dan faktor gizi menjadi
penyebabnya .

Diagnosis dan penatalaksanaan mual dan muntah dalam kehamilan yang


tepat dapat mencegah komplikasi hiperemesis gravidarum yang membahayakan
ibu dan janin. Ketepatan diagnosis sangat penting, karena terdapat sejumlah
kondisi lain yang dapat menyebabkan mual dan muntah dalam kehamilan.
Komplikasi pada ibu adalah peningkatan risiko terjadinya ruptur esofagus,
Sindrom Mallory Weiss akibat peningkatan tekanan secara akut, pneumothorax,
neuropati, ensefalopati Wernicke’s akibat kekurangan thiamin, preeklampsia.
Sedangkan pada janin dapat mengakibatkan retardasi pertumbuhan janin .

Tata laksana komprehensif dimulai dari istirahat, modifikasi diet dan


menjaga asupan cairan. Jika terjadi komplikasi hiperemesis gravidarum, penata-
laksanaan utama adalah pemberian rehidrasi dan perbaikan elektrolit. Terapi
farmakologi dapat diberikan jika dibutuhkan, seperti Vitamin B1, B2, B6, B12,
Fenobarbital, antiemetic dan antasida .

14
DAFTAR PUSTAKA

1. McCarthy, Fergus P. Jennifer E. dan Richard A G. 2014. Hyperemesis


gravidarum: current perspectives. International Journal of Women’s Health .
2. Wegrzyniak, Lindsey J., John T. Repke, dan Serdar H. Ural. 2012.
Treatment of Hyperemesis Gravidarum.Obstet Gynecol.
3. Mylonas, I., Andrea G., Franz Kainer. 2007. Nausea and Vomiting in
Pregnancy.Dtsch Arztebl .
4. Manuaba, IAC. 2014. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB Untuk
Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC.
5. Rahmawati, N.E. 2011. Ilmu Praktis Kebidanan. Surabaya: Victory Inti
Cipta.
6. Prawirodihardjo,S. 2014. Ilmu Kebidanan. Jakarta : PT Bina Pustaka Sarwono
Prawirodihardjo.
7. Verberg MF, Gillott DJ, Al-Fardan N. 2005. Hyperemesis gravidarum, a
literature review. Hum Reprod Update.
8. Gunawan K, Manengkei PSK, Ocviyanti D. 2011. Diagnosis dan tatalaksana
hiperemesis gravidarum. Vol.61. Jakarta: J Indon Med Assoc .
9. Rukiyah, dkk. 2010. Asuhan Kebidanan 4 Patologi Kebidanan. Jakarta: Trans
Info Media .

15