Anda di halaman 1dari 65

MODUL KEPERAWATAN KOMUNITAS 2

STIKES INSAN CENDEKIA MEDIKA JOMBANG

TIM

Anin Wijayanti, S.Kep.,

Ns, Agustina M, S.Kep.,

Ns, Endang Y, S.Kep.,Ns.,M.Kes,

Marxis U.S.Kep,Ns.MM,

Ifa Nofalia,S.Kep.Ns.
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbil’alamin.
Puji syukur kepada Allah SWT, karena atas perkenan-Nya Modul keperawatan komunitas dapat
diselesaikan sesuai pada waktunya.
Strategi pembelajaran dengan kurikulum berbasis kompetensi sesuai dengan standar kompetensi
pendidikan keperawatan di Indonesia. Buku ini dibuat berdasarkan kompetensi keperawatan komunitas.
Lingkup yang dipelajari adalah berbagai aspek yang terkait dengan Keperawatan Komunitas yaitu
pengkajian Askep Keperawatan Komunitas dan Musyawarah Masyarakat Desa.
Semoga buku ini bermanfaat bagi mahasiswa, staf pengajar serta seluruh komponen terkait dalam
proses pendidikan Sarjana Keperawatan di Program Studi S1 Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan
StiKes Icme Jombang.

Jombang, Juli 2010


Tim Komunitas 2
DAFTAR ISI

Kontributor ............................................................................................................................... 1
Kata Pengantar ....................................................................................................................... 2
Daftar Isi .................................................................................................................................. 3
Lampiran ................................................................................................................................. 4
Pendahuluan ........................................................................................................................... 5
BAB 1. KEBIJAKAN DAN STANDAR ..................................................................................... 6
1.1. Pembelajaran Blok ............................................................................................. 7
1.1.1. Definisi.................................................................................................... 8
1.1.2. Aktivitas Pembelajaran .......................................................................... 9
1.2. Evaluasi Proses Pembelajaran dan Penilaian ............................................... 10
1.2.1. Nilai Lulus Mata Ajar Sistem Blok........................................................ 11
1.2.2. Nilai Lulus ............................................................................................. 12
1.2.3. Kriteria Penilaian .................................................................................. 13
1.2.4. Kriteria Boleh Mengikuti Ujian ............................................................. 14
BAB 2. MODUL DAN TOPIK ................................................................................................ 15
2.1. Tujuan .............................................................................................................. 16
2.2. Learning Outcomes.......................................................................................... 17
2.3. Topic Tree ........................................................................................................ 18
2.4. Unit Belajar 1.................................................................................................... 19
2.5. Unit Belajar 2.................................................................................................... 20
2.6. Unit Belajar 3.................................................................................................... 21
2.7. Unit Belajar 4 ................................................................................................... 22
2.8. Unit Belajar 5 ................................................................................................... 24
BAB 3. PENUTUP ................................................................................................................. 23
BAB I
MODUL

1.1 DESKRIPSI MODUL

Modul ini membahas tentang praktik sistem pemberian pelayanan keperawatan


professional pada satu unit ruang rawat di RS. Dimulai dengan mengumpulkan data tentang profil
unit ruang rawat mencakup : Gambaran umum (struktur organisasi, profil pasen, perawat,
kapasitas ruangan, tatanan, serta fungsi ruangan), sistem klasifikasi pasen, sistem pengambilan
keputusan dan penyelesaian masalah serta pola komunikasi, juga gambaran metode penugasan,
penerapan proses keperawatan serta perencanaan dan penggunaan pembiayaan, dan rencana
pengembangan kompetensi perawat. Peserta pelatihan diberi pengalaman mengobservasi
langsung unit ruang rawat di RS dan selanjutnya berdasarkan data yang dikumpulkan merancang
sistem pemberian pelayanan keperawatan professional.

Setelah pelatihan, peserta diharapkan dapat mengimplementasikan sistem pemberian


pelayanan keperawatan professional secara bertahap di tempat kerja masing-masing. Untuk
penerapan ini peserta akan diberikan BUKU KERJA.

1.2 Deskripsi Mata Kuliah


Mata kuliah ini membahas mengenai konsep asuhan keperawatan komunitas sebagai unit
pelayanan keperawatan. Fokus bahasan dalam mata kuliah ini meliputi konsep asuhan
keperawatan keluarga dan komunitas, strategi dan pendekatan praktik keperawatan komunitas.
Kegiatan belajar dilakukan melalui kuliah, diskusi, dan praktikum.

1.3 Tujuan Mata Kuliah


Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran pada Blok Keperawatan Komunitas 2
mahasiswa akan mampu:
1. Kemampuan Mampu menjelaskan tentang pengkajian asuhan keparawatan komunitas dan
kemampuan dalam memahami MMD (Musyawarah Masyarakat Desa) 1
2. Mampu untuk mengaplikasikan dokumentasi pengkajian dalam Asuhan Keperawatan
komunitas
3. Mampu menjelaskan tentang analisa data dalam asuhan keparawatan komunitas
4. Mampu menjelaskan tentang diagnosa asuhan keperawatan komunitas
5. Mampu mengaplikasikan analisa dan diagnosa keperawatan komunitas
6. Mampu menjelaskan intervensi asuhan keperawatan komunitas dan memahami MMD 2
7. Mampu menjelaskan implementasi keperawatan
8. Mampu mengaplikasikan intervensi dan implementasi dalam asuhan keperawatan
komunitas
9. Kemampuan menjelaskan evaluasi asuhan keperawatan komunitas dan MMD 3
10. Mampu memahami alur kegiatan asuhan keperawatan komunitas
11. Kemampuan untuk mendokumentasikan laporan kelompok praktek keperawatan
komunitas
12. Mampu merevieuw dokumentasi asuhan keperawatan komunitas
13. Mampu menjelaskan tentang pengkajian asuhan keparawatan keluarga
14. Kemampuan untuk mengaplikasikan dokumentasi pengkajian dalam Asuhan Keperawatan
keluarga
15. Kemampuan menjelaskan tentang analisa data dalam asuhan keparawatan keluarga
16. Kemampuan menjelaskan tentang diagnosa asuhan keperawatan keluarga
17. Kemampuan aplikasi analisa dan diagnosa keperawatan keluarga
18. Mampu menjelaskan intervensi asuhan keperawatan keluarga
19. Kemampuan menjelaskan implementasi keperawatan keluarga
20. Mampu menjelaskan evaluasi asuhan keperawatan keluarga
21. Kemampuan mengaplikasikan intervensi, implementasi dan evaluasi dalam asuhan
keperawatan keluarga
22. Mampu merevieuw dokumentasi asuhan keperawatan keluarga
Kompetensi mata kuliah ini diharapkan dapat dicapai dalam proses belajar mengajar
selama 16 minggu. Secara garis besar dari 22 unit kompetensi yang telah dijelaskan diatas dapat
diringkas menjadi 3 kompetensi besar yaitu; 1) mahasiswa mampu menjelaskan Musyawarah
Masarakat Desa, 2) menjelaskan dokumentasi keperawatan komunitas, 3) menjelaskan
dokumentasi keperawatan keluarga. Berikut ini disampaikan penjabaran bahan kajian yang
diperlukan untuk mendukung tercapai kompetensi pada Mata Kuliah Keperawatan Komunitas 2
(tabel 1).

1.4 Tabel 1. Penjabaran Kompetensi dengan Bahan Kajian pada Keperawatan


Komunitas 2

Kompetensi Dasar Bahan Kajian


1 Mampu menjelaskan a. Pengertian tentang pengkajian komunitas
tentang pengkajian b. Pendekatan dan strategi pengkajian di Komunitas
asuhan keparawatan c. Pengumpulan data : jenis data, sumber data
komunitas dan d. Pengolahan data
kemampuan dalam e. Cara mengisi format pengkajian asuhan
memahami MMD keperawatan komunitas
(Musyawarah f. Pemahaman tentang MMD 1
Masyarakat Desa) 1
2 Mampu untuk a. Pemberian tugas tentang pendokumentasian
mengaplikasikan pengkaian
dokumentasi pengkajian b. Pembahasan aplikasi dokumentasi pengkajian pada
dalam Asuhan contoh kasus di asuhan keperawatan komunitas
c. Pengertian tentang analisa data keperawatan
Keperawatan komunitas
komunitas
Mampu menjelaskan d. Penentuan masalah atau perumusan masalah
kesehatan
tentang analisa data e. Penentuan prioritas masalah
dalam asuhan f. Cara pengisian analisa data

keparawatan komunitas
2.
3 Mampu a. Pemberian tugas tentang pendokumentasian
mengaplikasikan analisa analisa dan diagnose
dan diagnosa b. Pembahasan aplikasi dokumentasi analisa dan
keperawatan komunitas diagnosa pada contoh kasus di asuhan keperawatan
komunitas
Mampu menjelaskan c. Pengertian rencana intervensi keperawatan
intervensi asuhan Komunitas
keperawatan komunitas d. langkah mennyusun rencana intervensi
dan memahami MMD 2 keperawatan Komunitas
e. Pendekatan dan strategi rencana intervensi
keperawatan Komunitas
f. Pemahaman MMD (Musyawarah Masyarakat
Desa) 2 dan pembentujan Pokjakes
4 Mampu menjelaskan a. Pengertian implementasi keperawatan Komunitas
implementasi b. langkah implementasi keperawatan Komunitas
keperawatan c. Pendekatan dan strategi implementasi keperawatan
Komunitas
5 Mampu a. Pemberian tugas individu tentang
mengaplikasikan pendokumentasian analisa dan diagnose
intervensi dan b. Pembahasan aplikasi dokumentasi analisa dan
implementasi dalam diagnosa pada contoh kasus di asuhan keperawatan
komunitas
asuhan keperawatan
c. Pengertian evaluasi keperawatan Komunitas
komunitas d. Jenis Evaluasi
e. langkah evaluasi keperawatan Komunitas
Kemampuan
f. Pendekatan dan strategi evaluasi keperawatan
menjelaskan evaluasi
Komunitas
asuhan keperawatan
g. Pemahaman MMD 3
komunitas dan MMD 3
6 Mampu memahami alur a. Persiapan sosial
kegiatan asuhan  Pengenalan masyarakat
keperawatan komunitas  Pengenalan masalah
 Penyadaran masalah
b. Pelaksanaan
c. Evaluasi
d. Penyusunan laporan
7 Kemampuan untuk Penyusunan laporan kelompok praktek asuhan
mendokumentasikan keperawatan komunitas
laporan kelompok
praktek keperawatan
komunitas
8 Mampu mereevieuw a. Revieuw dokumentasi asuhan keperawatan
dokumentasi asuhan komunitas dengan memberikan tugas kelompok
keperawatan komunitas
9 Mampu menjelaskan a. Pengertian tentang pengkajian keluarga
tentang pengkajian b. Pendekatan dan strategi pengkajian di Keluarga
asuhan keparawatan c. Pengumpulan data : jenis data, sumber data
keluarga d. Pengolahan data
e. Cara mengisi format pengkajian asuhan
keperawatan keluarga
10 Kemampuan untuk a. Aplikasi dokumentasi pengkajian pada contoh
mengaplikasikan kasus di asuhan keperawatan keluarga
dokumentasi pengkajian b. Pengertian tentang analisa data keperawatan
dalam Asuhan keluarga
Keperawatan keluarga c. Penentuan masalah atau perumusan masalah
Kemampuan kesehatan
menjelaskan tentang d. Penentuan prioritas masalah
analisa data dalam e. Cara pengisian analisa data
asuhan keparawatan
keluarga
11 Kemampuan a. Pengertian diagnosa keperawatan keluarga
menjelaskan tentang b. Komponen utama diagnosa keperawatan keluarga.
diagnosa asuhan c. Rumusan diagnosa keperawatan Keluarga
keperawatan keluarga d. Macam diagnosa keperawatan keluarga
12 Kemampuan aplikasi a. Memberikan penugasan individu dan
analisa dan diagnosa mengaplikasikan dokumntasi analisa dan diagnosa
keperawatan keluarga dalam asuhan keperawatan sesuai dengan contoh
Mampu menjelaskan kasus yang diberikan
intervensi asuhan b. Pengertian intervensi keperawatan keluarga
keperawatan keluarga c. langkah mennyusun rencana intervensi
keperawatan keluarga
d. Pendekatan dan strategi rencana intervensi
keperawatan keluarga.
13 Kemampuan a. Pengertian implementasi keperawatan keluarga
menjelaskan b. langkah implementasi keperawatan keluarga
implementasi c. Pendekatan dan strategi implementasi
keperawatan keluarga keperawatan keluarga
d. Pengertian evaluasi keperawatan keluarga
Mampu menjelaskan e. Jenis Evaluasi
evaluasi asuhan f. langkah evaluasi keperawatan keluarga
keperawatan keluarga g. Pendekatan dan strategi evaluasi keperawatan
keluarga
14 Kemampuan a. Penugasan secara individu dan mengaplikasikan
mengaplikasikan intervensi, implementasi dan evaluasi asuhan
intervensi, implementasi keperawatan keluarga sesuai dengan contoh kasus
dan evaluasi dalam yang diberikan
asuhan keperawatan
keluarga
15 Mampu merevieuw a. Penugasan kelompok
dokumentasi asuhan b. Review dokumentasi asuhan keperawatan keluarga
keperawatan keluarga

1.5 Rancangan Pembelajaran

Mata Kuliah : Komunitas 2

Beban Studi : 4 sks

PJMK : Agustina MR, S.Kep.,Ns

Fasilitator : Anin Wijayanti, S.Kep.,

Ns, Agustina M, S.Kep.,

Ns, Endang Y, S.Kep.,Ns.,M.Kes,

Marxis U.S.Kep,Ns.MM,

Ifa Nofalia,S.Kep.Ns.

Deskripsi Mata Kuliah :

Mata kuliah ini mempelajari tentang keperawatan komunitas dan keluarga sehingga mahasiswa
S-1 Keperawatan mampu memahami tentang asuhan keperawatan komunitas dan keluarga, yang
dapat diterapkan dalam asuhan keperawatan komunitas dan keluarga. Pemahaman konsep tersebut
sebagai pegangan dalam memberikan asuhan keperawatan professional secara komprehensif (care
giver, educator, manager) melalui pemanfaatan semua sumber daya yang ada potensial dari
keluarga (researcher, community leader).

Tujuan Mata Kuliah

Setelah mengikuti proses pembelajaran keperawatan keluarga diharapkan mahasiswa S-1


Keperawatan dapat :
 Memiliki kemampuan dalam mengarahkan, menginisiasi dan melaksanakan rencana
asuhan keperawatan professional di keluarga sesuai kompetensi dan kewenangan dengan
menggunakan pendekatan proses keperawatan dan menjadikan etika profesi sebagai
tuntunan dalam melakukan praktek professional (care provider)
 Memiliki kemampuan berkreasi dalam berkarya untuk suatu perubahan di komunitas
dalam upaya meningkatkan kesehatan masyarakat melalui kegiatan keperawatan dengan
penekanan pada upaya health promotion dan health prevention sesuai dengan
kecenderungan global bidang keperawatan (community leader)
 Memiliki kemampuan berkomunikasi secara efektif dalam memberikan pendidikan
kesehatan kepada keluarga (educator)
 Memiliki kemampuan mewujudkan pelayanan primer sebagai mekanisme utama dan
melakukan penataan praktik mandiri keperawatan melalui pengenalan praktik keperawatan
keluarga yang professional (manager)
a. Memiliki kemampuan untuk mengelola asuhan keperawatan keluarga berdasarkan
lima tugas keluarga.
b. Memiliki kemampuan dalam mengevaluasi hasil asuhan keperawatan keluarga
 Memiliki kemampuan untuk melakukan penelitian sederhana dengan mengidentifikasi
masalah keluarga melalui analisis yang mendasar tentang hal-hal yang
melatarbelakanginya (researcher)

Bahan Kajian

1. Konsep asuhan keperawatan komunitas


2. Konsep asuhan keperawatan keluarga

Kompetensi Yang Akan Dicapai

1. Kemampuan Mampu menjelaskan tentang pengkajian asuhan keparawatan komunitas dan


kemampuan dalam memahami MMD (Musyawarah Masyarakat Desa) 1
2. Mampu untuk mengaplikasikan dokumentasi pengkajian dalam Asuhan Keperawatan
komunitas
3. Mampu menjelaskan tentang analisa data dalam asuhan keparawatan komunitas
4. Mampu menjelaskan tentang diagnosa asuhan keperawatan komunitas
5. Mampu mengaplikasikan analisa dan diagnosa keperawatan komunitas
6. Mampu menjelaskan intervensi asuhan keperawatan komunitas dan memahami MMD 2
7. Mampu menjelaskan implementasi keperawatan
8. Mampu mengaplikasikan intervensi dan implementasi dalam asuhan keperawatan
komunitas
9. Kemampuan menjelaskan evaluasi asuhan keperawatan komunitas dan MMD 3
10. Mampu memahami alur kegiatan asuhan keperawatan komunitas
11. Kemampuan untuk mendokumentasikan laporan kelompok praktek keperawatan
komunitas
12. Mampu merevieuw dokumentasi asuhan keperawatan komunitas
13. Mampu menjelaskan tentang pengkajian asuhan keparawatan keluarga
14. Kemampuan untuk mengaplikasikan dokumentasi pengkajian dalam Asuhan Keperawatan
keluarga
15. Kemampuan menjelaskan tentang analisa data dalam asuhan keparawatan keluarga
16. Kemampuan menjelaskan tentang diagnosa asuhan keperawatan keluarga
17. Kemampuan aplikasi analisa dan diagnosa keperawatan keluarga
18. Mampu menjelaskan intervensi asuhan keperawatan keluarga
19. Kemampuan menjelaskan implementasi keperawatan keluarga
20. Mampu menjelaskan evaluasi asuhan keperawatan keluarga
21. Kemampuan mengaplikasikan intervensi, implementasi dan evaluasi dalam asuhan
keperawatan keluarga
22. Mampu merevieuw dokumentasi asuhan keperawatan keluarga

Daftar Pustaka

American Nurses Association (ANA) 1986, Standard of Home Care Nursing Practise,
Washington, DC : Author.

Bailon, S.G dan A.S Maglaya 1987, Family Health Nursing : the Proses, Philippiness : UP
College on Nursing Diliman.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan 2006, Panduan Pelayanan Keperawatan Kesehatan Di


Rumah, Depkes RI : Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik.

Effendi, Ferry dan Makhfudli 2009, Keperawatan Kesehatan Komunitas : Teori dan Praktik
dalam Keperawatan, Jakarta : Salemba Medika.

Effendy, Nasrul 1998, Dasar-dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat. Edisi 2, Jakarta : EGC.

FIK UI 2000, Kumpulan Makalah Pelatihan Asuhan Keperawatan Keluarga di Jakarta tanggal 7 –
10 Nopember 2000. Tidak dipublikasikan.

Friedman, M.M 1998, Family Nursing : Research, Theory and Practise. (4th ed), Coonecticut :
Appleton-Century-Cropts.

Friedman, M 1998, Keperawatan Keluarga Teori dan Praktik. Edisi 3, Jakarta : EGC.

Keputusan Menteri Kesehatan No. 908 tahun 2010 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan
Keperawatan Keluarga.

Murwani, Arita 2007, Asuhan Keperawatan Keluarga : Konsep dan Aplikasi Kasus, Yogyakarta :
Mitra Cendekia Press.

Reynata, V 2003, Kekerasan Dalam Rumah Tangga. http://www.fh.iu diakses pada tanggal 12
November 2011.

Sumijatun, dkk 2005, Konsep Dasar Keperawatan Komunitas, Jakarta : EGC.


Suprajitno 2004, Asuhan keperawatan keluarga : aplikasi dalam praktik, Jakarta : EGC.

Swanson, J.M dan A. Nies Mary 1997, Community Health Nursing Promoting the Health og
Aggregates. Edisi 2. Philadelpia : W. B Saunders Company.
Undang-undang No. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.
RANCANGAN PEMBELAJARAN
Pertemuan ke- Kompetensi Akhir Materi Pembelajaran Bentuk Kriteria Bobot Nilai
Yang Diharapkan Pembelajaran Penilaian (%)

I Mampu menjelaskan g. Pengertian tentang Lecture  Tanggap 5%


tentang pengkajian pengkajian komunitas  Inisiatif
asuhan keparawatan h. Pendekatan dan strategi  Antusias
komunitas dan pengkajian di Komunitas
Kamis kemampuan dalam i. Pengumpulan data : jenis (Bu Anin)
memahami MMD data, sumber data
12/3/15 (Musyawarah j. Pengolahan data
Masyarakat Desa) 1 k. Cara mengisi format
pengkajian asuhan
A : 08.00-10.30
keperawatan komunitas
l. Pemahaman tentang MMD 1
B : 10.30-12.45

(1 TM=150 menit)

II Mampu untuk g. Pemberian tugas tentang Small Group  Tanggap 5%


mengaplikasikan pendokumentasian Discussion,  Antusias
dokumentasi pengkaian lecture  Inisiatif
pengkajian dalam h. Pembahasan aplikasi  Komunikasi
Selasa
Asuhan Keperawatan
dokumentasi pengkajian  Kerjasama
pada contoh kasus di asuhan  Sintesa hasil
17/3/15 komunitas keperawatan komunitas (Bu Agustina)  Saling
i. Pengertian tentang analisa menghargai
Mampu menjelaskan
data keperawatan komunitas
tentang analisa data  Inisiatif
A : 08.00-10.30 j. Penentuan masalah atau
dalam asuhan  Leadership
perumusan masalah
B : 10.30-12.45 keparawatan kesehatan
komunitas k. Penentuan prioritas masalah
(1 TM=150 menit) l. Cara pengisian analisa data
III Mampu a. Pengertian diagnosa Lecture  Tanggap 5%
menjelaskan tentang keperawatan Komunitas  Antusias
diagnosa asuhan b. Komponen utama diagnosa  Inisiatif
keperawatan keperawatan komunitas.
Selasa komunitas c. rumusan diagnosa keperawatan
Komunitas
24/3/15 d. macam diagnosa keperawatan
Komunitas
(B. Endang)

A : 08.00-10.30

B : 10.30-12.45

(1TM=150 menit)

IV Mampu g. Pemberian tugas tentang Lecture  Tanggap 10%


mengaplikasikan pendokumentasian  Antusias
Selasa analisa dan diagnosa analisa dan diagnose  Inisiatif
keperawatan h. Pembahasan aplikasi
31/3/15 dokumentasi analisa dan
komunitas
diagnosa pada contoh kasus
Mampu menjelaskan di asuhan keperawatan
B : 08.00-10.30
komunitas
intervensi asuhan (B. ifa nofalia)
i. Pengertian rencana
A : 10.30-12.45
keperawatan intervensi keperawatan
komunitas dan Komunitas
(1 TM=150 menit) memahami MMD 2 j. langkah mennyusun rencana
intervensi keperawatan
Komunitas
k. Pendekatan dan strategi
rencana intervensi
keperawatan Komunitas
l. Pemahaman MMD
(Musyawarah Masyarakat
Desa) 2 dan pembentujan
Pokjakes
V Mampu menjelaskan d. Pengertian implementasi Lecture  Tanggap 5%
implementasi keperawatan Komunitas  Antusias
Selasa keperawatan e. langkah implementasi  Inisiatif
keperawatan Komunitas
7/4/15 f. Pendekatan dan strategi (P. Marsis)
implementasi keperawatan
Komunitas
B : 08.00-10.30

A : 10.30-12.45

(1 TM=150 menit)

VI Mampu h. Pemberian tugas individu Lecture  Tanggap 10%


mengaplikasikan tentang  Antusias
Selasa intervensi dan pendokumentasian  Inisiatif
implementasi dalam analisa dan diagnose
14/4/15 i. Pembahasan aplikasi
asuhan keperawatan
dokumentasi analisa dan
komunitas diagnosa pada contoh kasus (B. Agustina)
B : 08.00-10.30
di asuhan keperawatan
Kemampuan
komunitas
menjelaskan evaluasi
A : 10.30-12.45 j. Pengertian evaluasi
asuhan keperawatan
keperawatan Komunitas
(1 TM=150 menit) komunitas dan MMD
k. Jenis Evaluasi
3
l. langkah evaluasi
keperawatan Komunitas
m. Pendekatan dan strategi
evaluasi keperawatan
Komunitas
n. Pemahaman MMD 3
VII Mampu memahami e. Persiapan social Lecture  Tanggap 5%
alur kegiatan asuhan  Pengenalan  Antusias
Selasa keperawatan masyarakat (B. Agustina)  Inisiatif
komunitas  Pengenalan masalah
21/4/15  Penyadaran masalah
f. Pelaksanaan
g. Evaluasi
A : 9.40-11.20 h. Penyusunan laporan

B : 11.20-13.00

(1TM=100 menit)

VIII Kemampuan untuk a. Penyusunan laporan Lecture, small  Mandiri 5%


mendokumentasikan kelompok praktek asuhan group discusi bersemangat
Selasa laporan kelompok keperawatan komunitas  Kemauan
praktek keperawatan untuk belajar
28/4/15 komunitas (B. Anin)  Kreatif
 Berfikir kritis
 Problem
A : 9.40-11.20 solving

B : 11.20-13.00

(1TM=100 menit)

IX Mampu mereevieuw a. Revieuw dokumentasi asuhan Small group  Komunikasi 5%


dokumentasi asuhan keperawatan komunitas discusi  Kerjasama
Selasa keperawatan dengan memberikan tugas  Sintesa hasil
komunitas kelompok (P. Marsis)  Saling
5/5/15 menghargai
 Inisiatif
B : 08.00-10.30  Leadership
A : 10.30-12.45

(1TM=150 menit)

UTS

X Mampu menjelaskan f. Pengertian tentang Lecture  Tanggap 5%


tentang pengkajian pengkajian keluarga  Inisiatif
Selasa asuhan keparawatan g. Pendekatan dan strategi (B. Endang)  Antusias
keluarga pengkajian di Keluarga
12/5/15 h. Pengumpulan data : jenis
data, sumber data
B : 08.00-10.30
i. Pengolahan data
A : 10.30-12.45 j. Cara mengisi format
pengkajian asuhan
(1TM=150 menit) keperawatan keluarga

XI Kemampuan untuk f. Aplikasi dokumentasi Case study  Mandiri 10%


mengaplikasikan pengkajian pada contoh bersemangat
Selasa dokumentasi kasus di asuhan  Kemauan
pengkajian dalam keperawatan keluarga untuk belajar
19/5/15 Asuhan Keperawatan g. Pengertian tentang analisa  Kreatif
keluarga data keperawatan keluarga (B. ifa novalia)  Berfikir kritis
Kemampuan h. Penentuan masalah atau  Problem
menjelaskan tentang perumusan masalah solving
B : 08.00-10.30
analisa data dalam kesehatan
A : 10.30-12.45 asuhan keparawatan i. Penentuan prioritas masalah
keluarga j. Cara pengisian analisa data
(1TM=150 menit)

XII Kemampuan e. Pengertian diagnosa Lecture  Tanggap 5%


menjelaskan tentang keperawatan keluarga  Antusias
Selasa diagnosa asuhan f. Komponen utama diagnosa (B. Agustina)  Inisiatif
keperawatan keperawatan keluarga.
26/5/15 keluarga g. Rumusan diagnosa
keperawatan Keluarga
B : 8.00-9.40 h. Macam diagnosa
A : 9.40-11.20
keperawatan keluarga

(1TM = 100 menit)

XII Kemampuan aplikasi e. Memberikan penugasan Case study  Mandiri 5%


analisa dan diagnosa individu dan Lecture bersemangat
keperawatan mengaplikasikan  Kemauan
keluarga dokumntasi analisa dan untuk belajar
Selasa Mampu menjelaskan diagnosa dalam asuhan  Kreatif
intervensi asuhan keperawatan sesuai dengan (B. Ifa nofalia)  Berfikir kritis
2/6/15 keperawatan contoh kasus yang diberikan  Problem
keluarga f. Pengertian intervensi solving
keperawatan keluarga  Tanggap
g. langkah mennyusun rencana
A : 8.00-9.40  Antusias
intervensi keperawatan
 Inisiatif
B : 9.40-11.20 keluarga
h. Pendekatan dan strategi
100 rencana intervensi
keperawatan keluarga.
XIII Kemampuan h. Pengertian implementasi Lecture  Tanggap 5%
menjelaskan keperawatan keluarga  Antusias
implementasi i. langkah implementasi  Inisiatif
keperawatan keperawatan keluarga  Tanggap
Selasa keluarga j. Pendekatan dan strategi (P. Marsis)
 Antusias
implementasi keperawatan  Inisiatif
9/6/15 Mampu menjelaskan keluarga
evaluasi asuhan k. Pengertian evaluasi
keperawatan keperawatan keluarga
B : 8.00-9.40
keluarga l. Jenis Evaluasi
m. langkah evaluasi
A : 9.40-11.20 keperawatan keluarga
n. Pendekatan dan strategi
(1TM = 100 menit) evaluasi keperawatan
keluarga

Kemampuan b. Penugasan secara individu Case study  Mandiri 5%


mengaplikasikan dan mengaplikasikan bersemangat
XV intervensi, intervensi, implementasi  Kemauan
implementasi dan dan evaluasi asuhan (P. Marsis) untuk belajar
evaluasi dalam keperawatan keluarga sesuai  Kreatif
Selasa
asuhan keperawatan dengan contoh kasus yang  Berfikir kritis
keluarga diberikan  Problem
16/6/15 solving

B : 8.00-9.40

A : 9.40-11.20

(1TM= 100 menit)


XVI Mampu merevieuw a. Penugasan kelompok Small group  Komunikasi 5%
dokumentasi asuhan b. Review dokumentasi asuhan discusi  Kerjasama
keperawatan keperawatan keluarga  Sintesa hasil
keluarga (B. Anin)  Saling
Selasa menghargai
23/6/15  Inisiatif
 Leadership

B : 08.00-10.30

A : 10.30-12.45

(1TM=150 menit)

Menyesuaikan UAS
Praktek laborat komunitas II

Pertemuan Materi KELOMPOK Fasilitator


pembelajaran

I SAP & KELOMPOK B. Anin


PENYULUHAN
1-7 (KELAS
6A)
B. Agustina
KELOMPOK

1-7 (KELAS
6B)

II MMD II KELOMPOK B. Endang

1-7 (KELAS
6A)
B. Ifa nofalia
KELOMPOK

1-7 (KELAS
6B)

III MMD III KELOMPOK B. Ifa nofalia

1-7 (KELAS
6A)

KELOMPOK

1-7 (KELAS
6B)
Kaproi S1 Keperawatan Penanggungjawab

(Muarrofah S.Kep,Ns.,M.kes) (Agustina Maunaturrohmah S.Kep,Ns.,M.Kes)


1.6 Pokok Bahasan dan Sub Pokok Bahasan
1. Modul pengkajian asuhan keparawatan komunitas
2. Modul analisa data asuhan keperawatan komunitas
3. Modul diagnose asuhan keperawatan komunitas
4. Modul intervensi asuhan keperawatan komunitas
5. Modul implementasi asuhan keperawatan komunitas
6. Modul evaluasi asuhan keperawatan komunitas
7. Modul aplikasi MMD (Musyawarah Masyarakat Desa) 1.
8. Modul aplikasi MMD (Musyawarah Masyarakat Desa) 2.
9. Modul aplikasi MMD (Musyawarah Masyarakat Desa) 3.
1.7 Metode
Metode yang dipergunakan sebagai berikut : Case study, Lecture, small group
discusi.
BAB 2
Modul 1 Konsep pengkajian Askep komunitas

4.1 KEPERAWATAN KOMUNITAS


1.1.1 Pendahuluan
Praktik keperawatan komunitas didasarkan atas sintesa dari praktik kesehatan komunitas dan
praktik kesehatan komunitas, bertujuan untuk meningkatkan dan memelihara kesehatan masyarakat
dengan menekankan pada peningkatan peran serta masyarakat dalam melakukan upaya-upaya
pencegahan, peningkatan dan mempertahankan kesehatan.
Dalam konteks ini, keperawatan komunitas merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan
derajat kesehatan dimana sifat asuhan yang diberikan adalah umum dan menyeluruh, lebih banyak tidak
langsung dan diberikan secara terus menerus melalui kerja sama. Pendekatan yang digunakan dalam
asuhan keperawatan komunitas adalah pendekatan keluarga binaan dan kelompok kerja komunitas.
Strategi yang digunakan untuk pemecahan masalah adalah melalui pendidikan kesehatan, teknologi tepat
guna serta memanfaatkan kebijaksanaan pemerintah.
Keperawatan Kesehatan Komunitas adalah pelayanan keperawatan profesional yang ditujukan
kepada masyarakat dengan penekanan pada kelompok resiko tinggi, dalam upaya pencapaian derajat
kesehatan yang optimal melalui pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan, dengan menjamin
keterjangkauan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan, dan melibatkan klien sebagai mitra dalam
perencanaan pelaksanaan dan evaluasi pelayanan keperawatan. (Pradley, 1985; Logan dan Dawkin,
1987).
1.1.2 Falsafah Keperawatan Komunitas
Berdasarkan pada asumsi dasar dan keyakinan yang mendasar tersebut, maka dapat
dikembangkan falsafah keperawatan komunitas sebagai landasan praktik keperawatan komunitas. Dalam
falsafah keperawatan komunitas, keperawatan komunitas merupakan pelayanan yang memberikan
perhatian terhadap pengaruh lingkungan (bio-psiko-sosio-kultural-spiritual) terhadap kesehatan
komunitas dan membrikan prioritas pada strategi pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan.
Falsafah yang melandasi keperawatan komunitas mengacu kepada paradigma keperawatan yang terdiri
dari 4 hal penting, yaitu: manusia, kesehatan, lingkungan dan keperawatan sehingga dapat dirumuskan
sebagai berikut:
1. Pelayanan keperawatan kesehatan masyarakat adalah pekerjaan yang luhur dan manusiawi yang
ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.
2. Perawatan kesehatan masyarakat adalah suatu upaya berdasarkan kemanusiaan untuk meningkatkan
pertumbuhan dan perkembangan bagi terwujudnya manusia yang sehat khususnya dan masyarakat
yang sehat pada umumnya.
3. Pelayanan perawatan kesehatan masyarakat harus terjangkau dan dapat diterima oleh semua orang
dan merupakan bagian integral dari upaya kesehatan.
4. Upaya preventif dan promotif merupakan upaya pokok tanpa mengabaikan upaya kuratif dan
rehabilitatif.
5. Pelayanan keperawatan kesehatan masyarakat yang diberikan berlangsung secara berkesinambungan.
6. Perawatan kesehatan masyarakat sebagai provider dan klien sebagai consumer pelayanan
keperawatan dan kesehatan, menjamin suatu hubungan yang saling mendukung dan mempengaruhi
perubahan dalam kebijaksanaan dan pelayanan kesehatan ke arah peningkatan status kesehatan
masyarakat.
7. Pengembangan tenaga keperawatan kesehatan masyarakat direncanakan secara berkesinambungan
dan terus-menerus.
8. Individu dalam suatu masyarakat ikut bertanggung jawab atas kesehatannya, ia harus ikut dalam
upaya mendorong, mendidik dan berpartisipasi aktif dalam pelayanan kesehatan mereka sendiri.
1.1.3 Tujuan Keperawatan Kesehatan Komunitas
1. Tujuan Umum
Meningkatkan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat sehingga tercapai derajat kesehatan yang
optimal agar dapat menjalankan fungsi kehidupan sesuai dengan kapasitas yang mereka miliki.
2. Tujuan Khusus
Untuk meningkatkan berbagai kemampuan individu, keluarga, kelompok khusus dan masyarakat
dalam hal:
 Mengidentifikasi masalah kesehatan dan keperawatan yang dihadapi.
 Menetapkan masalah kesehatan/keperawatan dan prioritas masalah.
 Merumuskan berbagai alternatif pemecahan masalah kesehatan/ keperawatan.
 Menanggulangi masalah kesehatan/keperawatan yang mereka hadapi.
 Penilaian hasil kegiatan dalam memecahkan masalah kesehatan/ keperawatan.
 Mendorong dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pelayanan kesehatan/keperawatan.
 Meningkatkan kemampuan dalam memelihara kesehatan secara mandiri (self care).
 Menanamkan perilaku sehat melalui upaya pendidikan kesehatan.
 Menunjang fungsi puskesmas dalam menurunkan angka kematian bayi, ibu dan balita serta
diterimanya norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera.
 Tertanganinya kelompok-kelompok resiko tinggi yang rawan terhadap masalah kesehatan.
1.1.4 Sasaran
Sasaran perawatan kesehatan komunitas adalah individu, keluarga, kelompok dan masyarakat,
baik yang sehat maupun yang sakit yang mempunyai masalah kesehatan/perawatan.
1. Individu
Individu adalah bagian dati anggota keluarga. Apabila individu tersebut mempunyai masalah
kesehatan/keperawatan karena ketidakmampuan merawat diri sendiri oleh suatu hal dan sebab, maka
akan dapat mempengaruhi anggota keluarga lainnya baik secara fisik, mental maupun sosial.
2. Keluarga
Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat, terdiri atas kepala keluarga, anggota keluarga
lainnya yang berkumpul dan tinggal dalam suatu rumah tangga karena pertalian darah dan ikatan
perkawinan atau adopsi, satu dengan lainnya saling tergantung dan berinteraksi. Bila salah satu atau
beberapa anggota keluarga mempunyai masalah kesehatan/keperawatan, maka akan berpengaruh
terhadap anggota keluarga lainnya dan keluarga-keluarga yang aada di sekitarnya.
3. Kelompok Khusus
Kelompok hkusus adalah kumpulan individu yang mempunyai kesamaan jenis kelamin, umur,
permasalahan, kegiatan yang terorganisasi yang sangat rawan terhadap masalah kesehatan. Termasuk
diantaranya adalah:
1) Kelompok khusus dengan kebutuhan khusus sebagai akibat perkembangan dan pertumbuhannya,
seperti:
 Ibu hamil
 Bayi baru lahir
 Balita
 Anak usia sekolah
 Usia lanjut
2) Kelompok dengan kesehatan khusus yang memerlukan pengawasan dan bimbingan serta asuhan
keperawatan, diantaranya adalah:
 Penderita penyakit menular, seperti TBC, lepra, AIDS, penyakit kelamin lainnya.
 Penderita dengan penynakit tak menular, seperti: penyakit diabetes mellitus, jantung koroner,
cacat fisik, gangguan mental dan lain sebagainya.
 Kelompok yang mempunyai resiko terserang penyakit, diantaranya:
o Wanita tuna susila
o Kelompok penyalahgunaan obat dan narkoba
o Kelompok-kelompok pekerja tertentu, dan lain-lain.
o Lembaga sosial, perawatan dan rehabilitasi, diantaranya adalah:
 Panti wredha
 Panti asuhan
 Pusat-pusat rehabilitasi (cacat fisik, mental dan sosial)
 Penitipan balita
4.2 PROSES KEPERAWATAN KOMUNITAS
Setelah klien (individu, keluarga, masyarakat) kontak dengan pelayanan kesehatan (di rumah, di
Puskesmas), perawat melakukan praktik keperawatan dengan cara menggunakan proses keperawatan
komunitas. Sesuai dengan teori Neuman, kelompok atau komunitas dilihat sebagai klien dipengaruhi oleh
dua faktor utama yaitu komunitas yang merupakan klien dan penggunaan proses keperawatan sebagai
pendekatan, yang terdiri dari lima tahapan :
1. Pengkajian
Pada tahap pengkajian, perawat melakukan pengumpulan data yang bertujuan mengidentifikasi
data yang penting mengenai klien.
Yang perlu dikaji pada kelompok atau komunitas adalah :
a. Core atau inti: data demografi kelompok atau komunitas yang terdiri: umur, pendidikan, jenis
kelamin, pekerjaan, agama, nilai-nilai, keyakinan serta riwayat timbulnya kelompok atau
komunitas.
b. Delapan subsistem yang mempengaruhi komunitas (Betty Neuman) :
 Perumahan: Rumah yang dihuni oleh penduduk, penerangan, sirkulasi dan kepadatan.
 Pendidikan: Apakah ada sarana pendidikan yang dapat digunakan untuk meningkatkan
pengetahuan.
 Keamanan dan keselamatan di lingkungan tempat tinggal: Apakah tidak menimbulkan stress.
 Politik dan kebijakan pemerintah terkait dengan kesehatan: Apakah cukup menunjang
sehingga memudahkan komunitas mendapat pelayanan di berbagai bidang termasuk
kesehatan.
 Pelayanan kesehatan yang tersedia untuk melakukan deteksi dini gangguan atau merawat atau
memantau apabila gangguan sudah terjadi.
 System komunikasi: Sarana komunikasi apa saja yang dapat dimanfaatkan di komunitas
tersebut untuk meningkatkan pengetahuan terkait dengan gangguan nutrisi misalnya televisi,
radio, Koran atau leaflet yang diberikan kepada komunitas.
 Ekonomi: Tingkat sosial ekonomi komunitas secara keseluruhan apakah sesuai dengan UMR
(Upah Minimum Regional), dibawah UMR atau diatas UMR sehingga upaya pelayanan
kesehatan yang diberikan dapat terjangkau, misalnya anjuran untuk konsumsi jenis makanan
sesuai status ekonomi tersebut.
 Rekreasi: Apakah tersedia sarananya, kapan saja dibuka, dan apakah biayanya terjangkau oleh
komunitas. Rekreasi ini hendaknya dapat digunakan komunitas untuk mengurangi stress.
c. Status kesehatan komunitas
Status kesehatan komunitas dapat dilihat dari biostatistik dan vital statistic, antara lain angka
mortalitas, angka morbiditas, IMR, MMR, serta cakupan imunisasi.
Modul 2 Konsep diagnosa Askep komunitas
2.1 Diagnosa keperawatan komunitas atau kelompok dan analisa data
Setelah dilakukan pengkajian yang sesuai dengan data-data yang dicari, maka kemudian
dikelompokkan dan dianalisa seberapa besar stressor yang mengancam masyarakat dan seberapa berat
reaksi yang timbul pada masyarakat tersebut. Berdasarkan hal tersebut diatas dapat disusun diagnose
keperawatan komunitas dimana terdiri dari: Masalah kesehatan, Karakteristik populasi, karakteristik
lingkungan.
Contoh :
Resiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh pada komunitas di RW 04 Kelurahan Kampung
Melayu berhubungan dengan kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pemenuhan kebutuhan nutrisi
bagi tubuh.
Masalah kesehatan yang ditemukan di masyarakat disampaikan dalam pelaksanaan lokakarya
mini atau istilah lainnya musyawarah masyarakat desa/RW. Data dapat disajikan dengan menggunakan
grafik, table ataupun melalui sosio drama.
Modul 3 Konsep perencanaan Askep komunitas
3.1 Perencanaan (intervensi)
Tahap kedua dari proses keperawatan merupakan tindakan menetapkan apa yang harus dilakukan
untuk membantu sasaran dalam upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Langkah pertama
dalam tahap perencanaan adalah menetapkan tujuan dan sasaran kegiatan untuk mengatasi masalah yang
telah ditetapkan sesuai dengan diagnosis keperawatan. Dalam menentukan tahap berikutnya yaitu rencana
pelaksanaan kegiatan maka ada dua faktor yang mempengaruhi dan dipertimbangkan dalam menyusun
rencana tersebut yaitu sifat masalah dan sumber/potensi masyarakat seperti dana, sarana, tenaga yang
tersedia.
Dalam pelaksanaan pengembangan masyarakat dilakukan melalui tahapan sebagai berikut :
1. Tahap persiapan
Dengan dilakukan pemilihan daerah yang menjadi prioritas menentukan cara untuk berhubungan
dengan masyarakat, mempelajari dan bekerjasama dengan masyarakat.
2. Tahap pengorganisasian
Dengan persiapan pembentukan kelompok kerja kesehatan untuk menumbuhkan kepedulian terhadap
kesehatan dalam masyarakat. Kelompok kerja kesehatan (Pokjakes) adalah suatu wadah kegiatan
yang dibentuk oleh masyarakat secara bergotong royong untuk menolong diri mereka sendiri dalam
mengenal dan memecahkan masalah atau kebutuhan kesehatan dan kesejahteraan, meningkatkan
kemampuan masyarakat berperanserta dalam pembangunan kesehatan di wilayahnya.
3. Tahap pendidikan dan latihan
 Kegiatan pertemuan teratur dengan kelompok masyarakat
 Melakukan pengkajian
 Membuat program berdasarkan masalah atau diagnose keperawatan
 Melatih kader
 Keperawatan langsung terhadap individu, keluarga dan masyarakat
4. Tahap formasi kepemimpinan
5. Tahap koordinasi intersektoral
6. Tahap akhir
Dengan melakukan supervisi atau kunjungan bertahap untuk mengevaluasi serta memberikan umpan
balik untuk perbaikan kegiatan kelompok kerja kesehatan lebih lanjut.
Untuk lebih singkatnya perencanaan dapat diperoleh dengan tahapan sebagai berikut :
 Pendidikan kesehatan tentang gangguan nutrisi
 Demonstrasi pengolahan dan pemilihan makanan yang baik
 Melakukan deteksi dini tanda-tanda gangguan kurang gizi melalui pemeriksaan fisik dan
laboratorium
 Bekerjasama dengan aparat Pemda setempat untuk mengamankan lingkungan atau komunitas
bila stressor dari lingkungan
 Rujukan ke rumah sakit bila diperlukan
Modul 4 Konsep perencanaan Askep komunitas
4.1 Pelaksanaan (Implementasi)
Perawat bertanggung jawab untuk melaksanakan tindakan yang telah direncanakan yang
sifatnya:
1. Bantuan dalam upaya mengatasi masalah-masalah kurang nutrisi, mempertahankan kondisi seimbang
atau sehat dan meningkatkan kesehatan.
2. Mendidik komunitasi tentang perilaku sehat untuk mencegah kurang gizi.
3. Sebagai advokat komunitas, untuk sekaligus menfasilitasi terpenuhinya kebutuhan komunitas.
Pada kegiatan praktik keperawatan komunitas berfokus pada tingkat pencegahan, yaitu :
1. Pencegahan primer yaitu pencegahan sebelum sakit dan difokuskan pada populasi sehat, mencakup
pada kegiatan kesehatan secara umum serta perlindungan khusus terhadap penyakit, contoh:
imunisasi, penyuluhan gizi, simulasi dan bimbingan dini dalam kesehatan keluarga.
2. Pencegahan sekunder yaitu kegiatan yang dilakukan pada saat terjadinya perubahan derajat kesehatan
masyarakat clan ditemukan masalah kesehatan. Pencegahan sekunder ini menekankan pada diagnosa
dini dan tindakan untuk mnghambat proses penyakit, Contoh: Mengkaji keter¬belakangan tumbuh
kembang anak, memotivasi keluarga untuk melakukan penieriksaan kesehatan seperti mata, gigi,
telinga.
3. Pencegahan tertier yaitu kegiatan yang menekankan pengembalian individu pada tingkat
berfungsinya secara optimal dari ketidakmampuan keluarga, Contoh: Membantu keluarga yang
mempunyai anak dengan resiko gangguan kurang gizi untuk melakukan pemeriksaan secara teratur
ke Posyandu.
Modul 5 Konsep evaluasi Askep komunitas

5.1 Evaluasi
Evaluasi merupakan penilaian terhadap program yang telah dilaksanakan dibandingkan dengan
tujuan semula dan dijadikan dasar untuk memodifikasi rencana berikutnya. Evaluasi proses dan evaluasi
hasil. Sedangkan fokus dari evaluasi pelaksanaan asuhan keperawatan komunitas adalah :
1. Relevansi atau hubungan antara kenyataan yang ada dengan target pelaksanaan
2. Perkembangan atau kemajuan proses: kesesuaian dengan perencanaan, peran staf atau pelaksana
tindakan, fasilitas dan jumlah peserta.
3. Efisiensi biaya. Bagaimanakah pencarian sumber dana dan penggunaannya serta keuntungan
program.
4. Efektifitas kerja. Apakah tujuan tercapai dan apakah klien atau masyarakat puas terhadap tindakan
yang dilaksanakan.
5. Dampak. Apakah status kesehatan meningkat setelah dilaksanakan tindakan, apa perubahan yang
terjadi dalam 6 bulan atau 1 tahun.
KONSEP DASAR KEPERAWATAN KOMUNITAS

A. Pendahuluan

Para ahli mendefenisikan komunitas atau masyarakat dari berbagai sudut pandang, WHO (1974)
mendefenisikan sebagai kelompok sosial yang ditentukan oleh batas-batas wilayah, nilai-nilai keyakinan
dan minat yang sama serta adanya saling mengenal dan berinteraksi antara anggota masyarakat yang satu
dengan yang lainnya, sedangkan Spradley (1985) mendefenisikan komunitas sebagai sekumpulan orang
yang saling bertukar pengalaman penting dalam hidupnya. Saunders (1991) juga mendefenisikan
komunitas sebagai tempat atau kumpulan orang-orang atau sistem sosial. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa komunitas berarti sekelompok individu yang tinggal pada wilayah tertentu, yang
memiliki nilai-nilai keyakinan minta relatif sama serta ada interaksi satu sama lain untuk mencapai tujuan.
Selain itu komunitas juga dipandang sebagai target pelayanan kesehatan, yang bertujuan mencapai
kesehatan komunitas sebagai suatu peningkatan kesehatan dan kerjasama sebagai suatu mekanisme untuk
mempermudah pencapaian tujuan yang berarti masyarakat/komunitas tersebut dilibatkan secara aktif
untuk mencapai tujuan tersebut.

Dalam pelaksanaannya Asuhan Keperawatan komunitas diupayakan dekat dengan komunitas, sehingga
strategi pelayanan kesehatan utama merupakan pendekatan yang juga menjadi acuan. Artinya upaya
pelayanan atau asuhan yang diberikan merupakan upaya essensial atau sangat dibutuhkan komunitas
secara universal upaya tersebut mudah dijangkau. Dengan demikiaan di dalam keperawatan komunitas
penggunaan teknologi tepat guna, tumbuh kembang pada balita di wilayah binaannya, seyogyanya ia bisa
memilih alat permainan edukatif sederhana yang tersedia di wilayah tersebut.

Apabila daerah tersebut wilayah pengrajin kayu, bekas potongan kayu tersebut diciptakan sebagai balok
atau kubus dan lain-lain sebagainya untuk menstimulus balita, dengan melibatkan orangtua balita
menyiapkan peralatan tersebut, tidak hanya menggunakan permainan yang modern seperti ”LEGO” yang
belum terjangkau oleh komunikasi.

Peran serta komunitas yersebut diartikan sebagai suatu proses dimana individu,keluarg dan komunitas
bertanggung jawab atas kesehatannya sendiri, dengan peran sebagai pelaku kegiatan upaya peningkatan
kesehatannya berdasarkan asas kebersamaan dan kemandirian.

Bantuan yang diberikan karena ketidakmampuan, ketidaktahuan dan ketidakmauan dengan menggunakan
potensi lingkungan untuk mendirikan masyarakat, sehingga pengembangan wilayah setempat (Locality
Development) merupakan bentuk pengorganisasian yang tepat digunakan.

Dalam praktek keperawatan komunitas pendekatan ilmiah yang digunakan adalah proses keperawatan
komunitas yang terdiri dari 4 tahapan yaitu: Pengkajian, Perencanaan, Pelaksanaan dan Evaluasi.

Intervensi keperawatan dilakukan haruslah yang dapat dilakukan oleh perawat secara mandiri, maupun
dengan berkolaborasi dengan tim kesehatan lain melalui lintas program atau lintas sektoral.

Pada kenyataannya belum semua tenaga keperawatan komunitas memberikan pelayanan sesuai konsep,
hal ini antara lain karena pemahaman yang belum sama tentang konsep dasar keperawatan komunitas dan
perannya dalam keperawatan komunitas, dengan materi ini diharapkan para sejawat perawat dapat
mendesiminasikan ilmunya baik kepada peserta didik maupun kepada sejawat perawat lain yang bekerja
di komunitas, selanjutnya akan diuraikan asumsi keyakinan dan falsafah komunitas.

B. ASUMSI, KEYAKINAN DAN FALSAFAH KEPERAWATAN KOMUNITAS


Asumsi Dasar

Menurut American Nurses Association (ANA, 1980) asumsi dasar keperawatan komunitas didasarkan
asumsi berikut :
a. Sistem kesehatan bersifat kompleks

b. Pelayanan kesehatan primer, sekunder dan tersier merupakan komponen sistem pelayanan kesehatan

c. Keperawatan merupakan subsistem pelayanan kesehatan, dimana hasil pendidikan dan penelitian
melandasi praktek

d. Fokus utama adalah keperawatan primer,sehingga keperawatan komunitas perlu dikembangkan


ditatanan pelayanan kesehatan utama.

Dengan demikian perawatan komunitas dikembangkan ditatanan pelayanan kesehatan yang melibatkan
komunitas secara aktif, sesuai keyakinan keperawatan komunitas.
Keyakinan

Beberapa keyakinan yang mendasari praktek keperawatan komunitas, yaitu :

a. Pelayanan kesehatan sebaiknya tersedia, dapat terjangkau dan dapat diterima oleh semua orang.

b. Penyusunan kebijakan seharusnya melibatkan penerima pelayanan, dalam hal ini komunitas.

c. Perawatan sebagai pemberi pelayanan dan klien sebagai penerima pelayanan perlu terjalin kerjasama
yang baik

d. Lingkungan dapat mempengaruhi kesehatan komunitas, baik bersifat mendukung maupun


menghambat, untuk itu harus diantisipasi.

e. Pencegahan penyakit dilakukan dalam upaya meningkatkan kesehatan

f. Kesehatan merupakan tanggung jawab setiap orang

Dari asumsi dan keyainan yang mendasar tersebut dikembangkan falsafah keperawatan komunitas yang
akan menjadi landasan keperawatan komunitas.

Falsafah Keperawatan Komunitas

Keperawatan komunitas merupakan pelayanan yang memberikan pelayanan terhadap pengaruh


lingkungan (bio, psiko, sisio, cultural dan spiritual) terhadap kesehatan komunitas dan memberikan
prioritas pada strategi pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan. Falsafah yang melandasi
keperawatan komunitas mengacu keoada falsafah atau paradigma keperawatan secara umum yaitu
manusia atau kemanusiaan merupakan titik sentral setiap upaya pembangunan kesehatan yang
menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan bertolak dari pandangan ini disusun falsafah atau
paradigma keperawatan komunita yang terdiri dari 4 komponen dasar, seperti yang diuraikan di bawah ini
:

a. Manusia

Komunitas sebagai klien berarti sekumpulan individu/klien yang berada pada lokasi atau batas geografis
tertentu yang memiliki nilai-nilai, keyakinan dan minat relatif sama serta adanya interaksi satu sama lain
untuk mencapai tujuan. Komunitas sebagai klien yang dimaksud termasuk kelompok beresiko tinggi
antara lain; daerah terpencil, daerah rawan, daerah kumuh.

b. Kesehatan

Sehat adalah suatu kondisi terbebasnya dari gangguan pemenuhan kebutuhan dasar klien/komunitas.
Sehat merupakan keseimbangan yang dinamis sebagai dampak dari keberhasilan mengatasi stressor.

c. Lingkungan
Semua faktor internal dan eksternal atau pengaruh disekitar klien, yang bersifat biologis, psikologis, sosial
cultural dan spiritual.

d. Keperawatan

Intervensi/tindakan yang bertujuan untuk menekan stressor atau meningkatkan kemampuan


klien/komunitas menghadapi stressor melalui pencegahan primer, sekunder dan tersier.

Berdasarkan falsafah tersebut diatas dikembangkan pengertian, tujuan, sasaran dan strategi intervensi
keperawatan komunitas.

C. PENGERTIAN, TUJUAN, SASARAN DAN STRATEGI INTERVENSI KEPERAWATAN


KOMUNITAS

1. Pengertian Keperawatan Komunitas

Pengertian keperawatan komunitas adalah pelayanan keperawatan professional yang ditujukan pada
masyarakat dengan penekanan pada kelompok resiko tinggi, dalam upaya pencapaian derajat kesehatan
yang optimal melalui pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan dengan menjamin keterjangkauan
pelayanan kesehatan yang dibutuhkan dan melibatkan klien sebagai mitra dalam perencanaan dan evaluasi
pelayanan keperawatan (Spradley, 1985; Logan dan Dawkin, 1987).

Keperawatan komunitas memberikan perhatian terhadap pengaruh faktor lingkungan melalui fisik,
biologis, psikologis, sosial dan cultural dan spiritual terhadap kesehatan masyarakat dan memberi prioritas
pada strategi pencegahan peningkatan dan pemeliharaan kesehatan dalam upaya mencapai tujuan.

2. Tujuan Keperawatan Komunitas

Tujuan keperawatan komunitas adalah untuk pencegahan dan peningkatan kesehatan masyarakat melalui :

a. Pelayanan kesehatan langsung (direct care) terhadap individu, keluarga dan kelompok dalam kontes
komunitas

b. perhatian lagsung terhadap seluruh masyarakat dan mempertimbangkan bagaimana masalah/issue


kesehatan masyarakat mempengaruhi keluarga, individu dan kelompok.

3. Sasaran Keperawatan Komunitas

Seluruh masyarakat termasuk individu, keluarga dan kelompok beresiko tinggi (kelompok penduduk di
daerah kumuh, daerah terisolasi dan daerah yang tidak terjangkau termasuk kelompok bayi, balita dan ibu
hamil).

4. Strategi Intervensi Keperawatan Komunitas

Adapun strategi intervensi keperawatan komunitas yaitu proses kelompok pendidikan kesehatan dan
kerjasama (Friendship).

D. LINGKUNGAN BIDANG KEWENANGAN DAN TANGGUNG JAWAB

Keperawatan komunitas merupakan bentuk pelayanan/asuhan langsung yang berfokus kepada kebutuhan
dasar komunitas, yang berkaitan dengan kebiasaan atau pola perilaku masyarakat yang tidak sehat,
ketidakmampuan masyarakat untuk beradaptasi dengan lingkungan internal dan eksternal.

Intervensi keperawatan yang dilakukan mencakup: pendidikan kesehatan/keperawatan (Health


Education), mendemonstrasikan keterampilan dasar yang dapat dilakukan oleh komunitas, melakukan
intervensi keperawatan yang memerlukan keahlian perawat, misalnya konseling remaja, pasangan yang
akan menikah dan sebagainya, melakukan kerjasama lintas program dan lintas sektoral untuk mengatasi
masalah komunitas serta melakukan rujukan keperawatan dan non keperawatan apabila diperlukan.

1. Intervensi keperawatan tersebut difokuskan pada 3 level pencegahan sbb :

a. Prevensi Primer.

Pencegahan dalam arti sebenarnya, terjadi sebelum sakit atau ketidakberfungsian dan diaplikasikan ke
populasi sehat pada umumnya. Pencegahan primer mencakup peningkatan kesehatan pada umumnya dan
perlindungan khusus terhadap penyakit. Contoh; Kegiatan di bidang prevensi primer anatara lain:

1) Stimulasi dan bimbingan dini/awal dalam kesehatan keluarga dan asuhan anak/balita.

2) Imunisasi

3) Penyuluhan tentang gizi balita

4) Penyuluhan tentang pencegahan terhadap kecelakaan

5) Asuhan prenatal.

6) Pelayanan Keluarga Berencana

7) Perlindungan gigi (dental prophylaxis)

8) Penyuluhan untuk pencegahan keracunan

b. Prevensi sekunder

Pencegahan sekunder menekankan diagnosa dini dan intervensi yang tepat untuk menghambat proses
psikologik sehingga memperpendek waktu sakit dan tingkat keparahan/keseriusan penyakit. Contoh:
Kegiatan di bidang prevensi sekunder antara lain:

1) Mengkaji keterbelakangan tumbuh kembang seorang anak/balita

2) Memotivasi keluarga untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala termasuk gigi dan mata
terhadap balita.

c. Prevensi Tersier

Pencegahan tersier mulai pada saat cacat atau ketidakmampuan terjadi sampai stabil/menetap atau dapat
diperbaiki (irreversible). Rehabilitasi sebagai tujuan pencegahan primer lebih dari upaya menghambat
proses penyakit sendiri, yaitu : mengembalikan individu keopada tingkat berfungsi yang optimal dari
ketidakmampuannya. Contoh : Kegiatan dibidang Prevensi tersier antara lain :

1) perawat mengajar kepada keluarga untuk melakukan perawatan anak dengan kolostomi di rumah.

2) Membantu keluarga yang mempunyai anak dengan kelumpuhan anggota gerak untuk latihan secara
teratur di rumah.
2. Pada praktek keperawatan komunitas, prinsip-prinsip kesehatan komunitas haruslah menjadi
pertimbangan yaitu :

a. Pemanfaatan, Intervensi yang dilakukan harus memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi
komunitas artinya ada keseimbangan antara manfaat dengan kerugian.

b. Autonomi, Komunitas diberi kebebasan untuk melakukan atau memilih alternatif yang terbaik yang
disediakan untuk komunitas.

c. Keadilan, Melakukan upaya atau tindakan sesuai dengan kemampuan kapasitas komunitas.

Dengan demikian keperawatan komunitas dan keperawatan di Rumah Sakit memiliki perbedaan sebagai
berikut :

Keperawatan di RS.

Keperawatan di Komunitas

A. Fokus : Pasien di RS

B. Pelayanan keperawatan yang bersifat kejadian kasus (Episodic)

C. Bekerja pada unit tertentu dengan pasien

D. Bekerja pada satu RS/Institusi

E. Koordinasi keperawatan dengan institusi lain pada tatanan RS dari perencanaan pulang.

F. Menerima instruksi untuk pengobatan

G. Merencanakan dan melaksanakan pelayanan keperawatan yang bersifat individu

H. Batasi otonomi pasien di lingkungan RS

I. Observasi terbatas pada interaksi keluarga dan indikator kesehatan.

J. Hubungan terbatas yaitu hanya dengan profesi lain di RS

A. Fokus : Keluarga komunitas (keluarga resiko tinggi)

B. Pelayanan berkelanjutan (terdistribusi)

C. Bekerjasama dengan semua kondisi sehat sakit dan diberbagai tatanan

D. Bekerjasama dengan semua institusi terkait.

E. Koordinasi pelayanan dengan berbagai tatanan di komunitas.

F. Lebih banyak tindakan yang bersifat mandiri.

G. Merencanakan dan melaksanakan keperawatan melalui keluarga.


H. Mendorong otonomi dan kontrol keluarga kecuali kasus menular.

I. Mengobservasi berbagai faktor untuk kesehatan.

J. memfasilitasi hubungan yang professional dengan profesi lain.

E. PERAN PERAWAT KOMUNITAS


Memberikan Pelayanan Kesehatan

Memberikan pelayanan secara langsung dan tidak langsung kepada klien dengan menggunakan
pendekatan proses keperawatan terhadap individu, keluarga dan masyarakat.
Pendidik

Memberikan pendidikan kesehatan kepada kelompok keluarga yang beresiko tinggi, kader kesehatan dan
lain-lain.
Pengelolah

Mengelola (merencanakan, mengorganisasi, menggerakkan dan mengevaluasi) pelayanan keperawatan


baik secara langsung maupun tidak langsung dan menggunakan peran serta aktif masyarakat dalam
kegiatan keperawatan komunitas.
Konselor

Memebrikan konseling/bimbingan kepada kader kesehatan, keluarga dan masyarakat tentang masalah
kesehatan komunitas sesuai prioritas
Pembelaan Klien

Melindungi dan memfasilitasi keluarga dan masyarakat dalam pelayanan keperawatan komunitas
Peneliti

Melakukan penelitian untuk mengembangkan keperawatan komunitas


ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS

Oleh : Muh. Thabran Talib, SKM. MARS

Sesuai dengan fokus keperawatan komunitas maka asuhan keperawatan ditujukan kepada masyarakat dan
keluarga yang merupakan sub sistem komunitas, dengan memperhatikan juga masalah individu yang
merupakan salah satu anggota keluarga. Dengan demikian dalam asuhan keperawatan komunitas dikenal
2 jenis masalah atau diagnosa keperawatan, yaitu : Diagnosa keperawatan komunitas dan diagnosa
keperawatan keluarga , rencana tindakan keperawatan terhadap keluarga merupakan bagian dari
intervensi komunitas.

1. Pengkajian

Kumpulan individu di masyarakat ” Core ” atau inti dari asuhan keperawatan komunitas meliputi :
Demografi , populasi, nilai-nilai, keyakinan, dan riwayat hidup termasuk riwayat kesehatannya serta
dipengaruhi pula oleh delapan sub sistem terdiri dari fisik dan lingkungan perumahan, pendidikan,
keselamatan, dan transportasi, politik dan kebijakan pemerintah, kesehatan dan pelayanan sosial,
komunikasi, ekonomi dan rekreasi dapat dilihat pada diagram 1. dibawah ini :
Model : Pengkajian keperawatan Komunitas

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa Keperawatan Komunitas

Dari data tersebut dianalis seberapa berat stressor mengancam masyarakat tersebut dan seberapa berat
reaksi yang timbul dari komunitas, selanjutnya dirumuskan. Menurut Muke (1984) rumusan diagnosa
keperwatan komunitas terdiri dari :
Masalah sehat dan sakit
Karakteristik Populasi
Karakteristik Lingkungan

Diagnosa keperawatan ini dapat nyata, ancaman, potensi atau resiko

Contoh : Resiko malnutrisi pada anak balita di dusun ............ berrhubungan dengan banyaknya anak balita
yang status nutrisinya dibawah rata – rata di manifestasikan dengan 45 % anak balita dengan status gizi
kurang ( garis kuning KMS ) 2,9 % anak balita berada pada status gizi buruk ( 1,8 % ).
Diagnosa keperawatan

Diagnosa keperawatan keluarga dirumuskan berdasarkan data yang didapatkan pada pengkajian.

Tipologi dari diagnosis keperawatan :

1. Aktual ( terjadi defisit / gangguan kesehatan )

Dari hasil pngkajian didapatkan data mengenai tanda dan gejala dari gangguan kesehatan.

Contoh :

· Perubahan nutrisi : Kurang dari kebutuhan pada balita (anak N), keluarga Bapak Y berhubungan dengan
ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga dengan gangguan moblisasi.

· Keterbatasan pergerakan pada usia lanjut (ibu Y) keluarga Bapak A berhubungan dengan
ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga dengan keterbatasan gerak (rematik)

· Perubahan peran pada keluarga ( bapak A ) berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga mengenal
masalah peran sebagai suami

2. Resiko ( Ancaman Kesehatan )

Sudah ada data yang menunjang namun belum terjad gangguan misalnya :

Lingkungan rumah yang kurang bersih, pola makan yang tidak adekuat, stimulasi tumbuh kembang yang
tidak adekuat.

Contoh :

· Resiko terjadi konflik pada keluarga I berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga mengenal
masalah komunikasi

· Resiko gangguan perkembangan pada balita ( Anak N ) keluarga bapak Y berhubungan dengan
ketidakmampuan keluarga melakukan stimulasi pada balita
· Resiko gangguan pergerakan pada lansia ( Ibu Y ) Keluarga bapak A berhubungan dengan
ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga dengan keterbatasan gerak
Potensial ( Keadaan sejahtera / Wellness )

Suatu keadaan dimana keluarga dalam keadaan dalam keadaan sejahtera sehingga keluarga dapat
ditingkatkan.

Contoh :

· Potensial terjadi peningkatan kesejahteraan pada ibu hamil ( ibu M ) kelurga bapak K

· Potensial peningkatan status kesehatan pad bayi keluarga bapak X

· Potensial peningkatan status kesehatan pada pasangan baru menikah pada keluarga bapak I.

Etiologi dari diagnosis keperawatan komunitas berdasarkan hasil pengkajian tugas perawatan kesehatan
keluarga. Khusus untuk diagnosis keperawatan potensial ( sejahtera / wellness ) menggunakan / boleh
tidak menggunakan etiologi.

3. Rencana Intervensi

Strategi intervensi keperawatan komunitas mencakup 3 aspek yaitu : Proses kelompok kesehatan dan
kerjasama. Untuk mningkatkan kerjasama dan proses kelompok serta mendorong peran serta masyarakat
dalam merencanakan masalah yang dihadapi pada akhirnya untuk mendrikan kemandirian masyarakat,
maka diperlukan pengorganisasi komunitas yang dirancang untuk membuat perubahan.

Menurut Rothman ( 1986 ) ada 3 model / pendekatan perorganisasian komunitas yaitu :

a. Pendekatan pengembangan masyarakat

b. Pendekatan perencanaan sosial

c. Pendekatan Social Action

Ketiga pendekatan ini dapat digunakan secara terpisah dan dapat pula digabungkan. Pendekatan
pengembangan masyarakat dirancang untuk menimbulkan kondisi kemajuan sosial dan ekonomi
masyarakat dengan partisipasi aktif masyarakat dan masalah yang dihadapi. Jika masyarakat dilibatkan
dalam menetapkan kebutuhan – kebutuhan dan keinginannya akan memotivasi mereka untuk
berpartisipasi aktif dalam masalahnya sendiri.

Pendekatan ini sangat tepat untuk pengorganisasian masyarakat dan sesuai dengan prinsip Primary Health
Care terutama dalam meningkatkan partisipasi masyarakat menuju kemandirian. Selain itu sesuai pula
dengan keadaan penduduk masyarakat Sulawesi Selatan yang sebagian berdomisili di pesisir pantai serta
sebagian daratan yang berbukit, serta jumlah tenaga kerja kesehatan khususnya tanaga keperawatan masih
belum terpenuhi. Maka itu diperlukan peran aktif masyarakat menunjang upaya – upaya kesehatan untuk
mencapai sehat kecamatan 2010.

Secara operasional pelaksanaan pengembangan masyarakat dilakukan melalui tahap – tahap sbb :
Tahap persiapan dilakukan dengan memilih araea/daerah yang menjadi prioritas, menentukan cara untuk
berhubungan dengan masyarakat, mempelajari dan bekerjasama dengan masyarakat
Tahap pengorganisasian dengan persiapan pembentukan kelompok dan penyesuaian pola dalam
masyarakat yang dilanjutkan dengan pemilihan ketua kelompok dan pemilihan pengurus inti
Tahap pendidikan dan latihan meliuputi kegiatan-kegiatan pertemuan teratur dengan kelompok
masyarakat yang melakukan pengkajian, membuat program berdasarkan masalah atau diagnosa
keperawatan, melatih kader kesehatan akan membina warga masyarakat di lingkungannya dan pelayanan
keperawatan langsung terhadap individu, keluarga dan masyarakat.
Fase formasi kepemimpinan yaitu: memberi kepemimpinan latihan keterampilan yang meliputi
perencanaan, pengorganisasian, pergerakan dan pengawasan kegiatan pemeliharaan kesehatan.
Fase koordinasi

Kerjasama dengan sektor-sektor terkait dalam upaya kemandirian masyarakat


Fase akhir dilanjutkan dengan supervisi bertahap dan diakhiri dengan evaluasi dan pemberian umpan
balik dari hasil evaluasi untuk perbaikan kegiatan kelompok kerja berikutnya.

Langkah-langkah tersebut diatas sejalan dengan langkah-langkah pembinaan masyarakat tingkat desa di
Indonesia dan khususnya di Sulawesi Selatan yang telah dilaksanakan sampai saat ini :
Pertemuan tingkat desa yang dihadiri camat dan perangkat desa serta tokoh-tokoh masyarakat serta sektor
yang terkait untuk membahas masalah kesehatan secara umumdan program-program kerja
Survey dini yang dilakukan oleh kelompok masyarakat agar masyarakat mengenal masalah kesehatannya
sendiri
Musyawarah masyarakat desa yang dipimpin oleh kader agar masyarakat mengenal masalah
kesehatannya dan bersama-sama untuk mengatasinya
Pelatihan kader/pengajar kader kesehatan untuk mempersiapkannya agar mau dan mampu berperan serta
dalam mengembangkan program kesehatan dan desanya
Pelaksanaan upaya kesehatan oleh masyarakat setelah kader memiliki bekal pengetahuan dia dapat
bekerjasama dalam memberikan pelayanan kesehatan di Posyandu untuk membina anggota masyarakat di
lingkungannya.
Pembinaan kader oleh tokoh masyarakat dan petugas kesehatan termasuk perawat komunitas, melalui
kegiatan mawas diri berkala guna dilakukan tindakan perbaikan terhadap kekurangan yang ditemui

Intervensi keperawatan ditujukan pada 3 level pencegahan Yaitu 1. Prevensi Primer, 2. Prevensi sekunder,
3. Prevensi tersier sesuai lingkup praktek keperawatan komunitas baik untuk diagnosa komunitas maupun
untuk diagnosa keperawatan keluarga.

Implementasi Askep komunitas

Tujuan utama adalah menolong masyarakat untuk dapat menolong dirinya sendiri mencapai level sehat
yang optimal

Pelaksanaan implementasi dibagi dalam dua kegiatan yaitu :

1, Fase persiapan :

Ns harus yakin terhadap : What, Who, Why, When, Where. How. Digunakan Ns, mengklasifikasi rencana
askep dan berbagai fasilitas yang diperlukan, perinsip dasar fleksibel dan penyesuaian terhadap hal-hal
yang tidak dapat diantisipasi sebelumnya

2. Fase tindakan

mengaplikasikan teori yang tepat kedalam tindakan yang dilaksanakan menolong menfasilitasi dalam
menciptakan lingkungan yang kondusif untuk mengimplemtasikan askep, mempersiapkan masyarakat
untuk menerima pelayanan kesehatan memonitor dan mendokumentasikan perkembangan dari
implementasi

Evaluasi askep komunitas

a. merujuk pada pengukuran dan penetapan dari efektifitas dalam pencapaian tujuan yang ditetapkan

b. berdasarkan pada standar dan kriteria keberhasilan

c. dapat digunakan untuk mengukur mutu pelayanan program dan penampilan ners

d. Evaluasi askep komunitas bermakna pada manajemen kualitas yang berarti :


1. Pengorganisasian yang hasilkan dari pengkajian yang berkualitas

2. Penetapan standar kriteria

3. Pengumpulan informasi yang terus menerus sebagai kegiatan rutin

4. Jaminan à bahwa informasi yang didasarkan pada total populasi sampel yang direpresentatif

5. Suatu proses yang menyajikan hasil pada riview pada klien

1. Konsep Komunitas dan Kesehatan Masyarakat


Komunitas adalah kelompok sosial yang tinggal dalam suatu
tempat, saling berinteraksi satu sama lain, saling mengenal serta
mempunyai minat dan interest yang sama. Komunitas adalah
kelompok dari masyarakat yang tinggal di suatu lokasi yang sama
dengan dibawah pemerintahan yang sama, area atau lokasi yang
sama dimana mereka tinggal, kelompok sosial yang mempunyai
interest yang sama (Riyadi, 2007).

Menurut Kontjaraningrat Komunitas adalah sekumpulan manusia


yang saling bergaul, atau dengan istilah lain saling berinteraksi
(Mubarak, 2007).

Perawatan kesehatan adalah bidang khusus dari keperawatan yang


merupakan gabungan dari ilmu keperawatan, ilmu kesehatan
masyarakat dan ilmu sosial yang merupakan bagian integral dari
pelayanan kesehatan yang diberikan kepada individu, keluarga,
kelompok dan masyarakat baik yang sehat atau yang sakit secara
komprehensif melalui upaya promotif, preventif, kuratif dan
rehabilitatif serta resosialitatif dengan melibatkan peran serta aktif
dari masyarakat. Peran serta aktif masyarakat bersama tim
kesahatan diharapkan dapat mengenal masalah kesehatan yang
dihadapi serta memecahkan masalah tersebut (Elisabeth, 2007).

Sasaran pelayanan kesehatan masyarakat adalah individu,


keluarga/ kelompok dan masyarakat dengan fokus upaya
kesehatan primer, sekunder dan tersier. Oleh karenanya
pendidikan masyarakat tentang kesehatan dan perkembangan
sosial akan membantu masyarakat dalam mendorong semangat
untuk merawat diri sendiri, hidup mandiri dan menentukan
nasibnya sendiri dalam menciptakan derajat kesehatan yang
optimal (Elisabeth, 2007).

Peran serta masyarakat diperlukan dalam hal perorangan.


Komunitas sebagai subyek dan obyek diharapkan masyarakat
mampu mengenal, mengambil keputusan dalam menjaga
kesehatannya. Sebagian akhir tujuan pelayanan kesehatan utama
diharapkan masyarakat mampu secara mandiri menjaga dan
meningkatkan status kesehatan masyarakat (Mubarak, 2005).

1. B. KONSEP KEPERAWATAN KOMUNITAS


Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan professional sebagai
bagian integral pelayanan kesehatan berbentuk pelayanan biologi,
psikologi, social dan spiritual secara komprehensif, ditujukan
kepada individu keluarga dan masyarakat baik sehat maupun sakit
mencakup siklus hidup manusia (Riyadi, 2007).

Keperawatan komunitas ditujukan untuk mempertahankan dan


meningkatkan kesehatan serta memberikan bantuan melalui
intervensi keperawatan sebagai dasar keahliannya dalam
membantu individu, keluarga, kelompok dan masyarakat dalam
mengatasi barbagai masalah keperawatan yang dihadapinya dalam
kehidupan sehari-hari (Efendi, 2009).

Asuhan keperawatan diberikan karena adanya kelemahan fisik


maupun mental, keterbatasan pengetahuan serta kurang kemauan
menuju kepada kemampuan melaksanakan kegiatan sehari-hari
secara mandiri. Kegiatan ini dilakukan dalam upaya peningkatan
kesehatan, pencegahan penyakit, penyembuhan, pemulihan serta
pemeliharaan kesehatan dengan penekanan pada upaya pelayanan
kesehatan utama (Primary Health care) untuk memungkinkan
setiap orang mencapai kemampuan hidup sehat dan produktif.
Kegiatan ini dilakukan sesuai dengan wewenang, tanggung jawab
serta etika profesi keperawatan (Riyadi, 2007).

Dalam rapat kerja keperawatan kesehatan masyarakat dijelaskan


bahwa keperawatan komunitas merupakan suatu bidang
keperawatan yang merupakan perpaduan antara keperawatan
(Nursing) dan kesehatan masyarakat (Public health) dengan
dukungan peran serta masyarakat secara aktif dan mengutamakan
pelayanan promotif dan preventif secara berkesinambungan tanpa
mengabaikan pelayanan kuratif dan rehabilitatif secara
menyeluruh dan terpadu yang ditujukan kepada individu, keluarga,
kelompok dan masyarakat sebagai kesatuan utuh melalui proses
keperawatan (Nursing process) untuk meningkatkan fungsi
kehidupan manusia secara optimal sehingga mampu mandiri
dalam upaya kesehatan (Mubarak, 2005).

Perawatan komunitas adalah perawatan yang diberian dari luar


suatu institusi yang berfokus pada masyarakat atau individu dan
keluarga (Elisabeth, 2007).

Pada perawatan kesehatan masyarakat harus mempertimbangkan


beberapa prinsip, yaitu:

1. Kemanfaatan
Semua tindakan dalam asuhan keperawatan harus memberikan
manfaat yang besar bagi komunitas. Intervensi atau pelaksanaan
yang dilakukan harus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi
komunitas, artinya ada keseimbangan antara manfaat dan
kerugian (Mubarak, 2005).

1. Kerjasama
Kerjasama dengan klien dalam waktu yang panjang dan bersifat
berkelanjutan serta melakukan kerja sama lintas program dan
lintas sektoral (Riyadi, 2007).

1. Secara langsung
Asuhan keperawatan diberikan secara langsung mengkaji dan
intervensi, klien dan lingkunganya termasuk lingkungan sosial,
ekonomi serta fisik mempunyai tujuan utama peningkatan
kesehatan (Riyadi, 2007).

1. Keadilan
Tindakan yang dilakukan disesuaikan dengan kemampuan atau
kapasitas dari komunitas itu sendiri. Dalam pengertian melakukan
upaya atau tindakan sesuai dengan kemampuan atau kapasitas
komunitas (Mubarak, 2005).

1. Otonomi
Klien atau komunitas diberi kebebasan dalam memilih atau
melaksanakan beberapa alternatif terbaik dalam menyelesaikan
masalah kesehatan yang ada (Mubarak, 2005).

Manusia sebagai sasaran pelayanan atau asuhan keperawatan


dalam praktek keperawatan. Sebagai sasaran praktek keperawatan
klien dapat dibedakan menjadi individu, keluarga dan masyarakat
(Riyadi, 2007).

1. Individu sebagai klien


2. Individu adalah anggota keluarga yang unik sebagai kesatuan
utuh dari aspek biologi, psikologi, social dan spiritual. Peran
perawat pada individu sebagai klien, pada dasarnya memenuhi
kebutuhan dasarnya mencakup kebutuhan biologi, sosial,
psikologi dan spiritual karena adanya kelemahan fisik dan
mental, keterbatasan pengetahuan, kurang kemauan menuju
kemandirian pasien/ klien (Riyadi, 2007).
3. Keluarga sebagai klien
Keluarga merupakan sekelompok individu yang berhubungan erat
secara terus menerus dan terjadi interaksi satu sama lain baik
secara perorangan maupun secara bersama-sama, di dalam
lingkungannya sendiri atau masyarakat secara keseluruhan.
Keluarga dalam fungsinya mempengaruhi dan lingkup kebutuhan
dasar manusia dapat dilihat pada Hirarki Kebutuhan Dasar
Maslow yaitu kebutuhan fisiologis, rasa aman dan nyaman, dicintai
dan mencintai, harga diri dan aktualisasi diri (Riyadi, 2007).

1. Masyarakat sebagai klien


Kesatuan hidup manusia yang brinteraksi menurut suatu sistem
adat istiadat tetentu yang bersifat terus menerus dan terikat oleh
suatu indentitas bersama (Riyadi, 2007).

Strategi pelaksanaan keperawatan komunitas yang dapat


digunakan dalam perawatan kesehatan masyarakat adalah :
1. Pendidikan kesehatan (Health Promotion)
Penyuluhan kesehatan adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan
dengan cara menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan,
sehingga masyarakat tidak saja sadar, tahu dan mengerti, tetapi
juga mau dan bisa melakukan suatu anjuran yang ada
hubungannya dengan kesehatan (Elisabeth, 2007).

Penyuluhan kesehatan adalah gabungan berbagai kegiatan dan


kesempatan yang berlandaskan prinsip-prinsip belajar untuk
mencapai suatu keadaan, dimana individu, keluarga, kelompok
atau masyarakat secara keseluruhan ingin hidup sehat, pendidikan
kesehatan adalah suatu penerapan konsep pendidikan di dalam
bidang kesehatan (Mubarak, 2005).

1. Proses kelompok (Group Process)


Bidang tugas perawat komunitas tidak bisa terlepas dari kelompok
masyarakat sebagai klien termasuk sub-sub sistem yang terdapat di
dalamnya, yaitu: individu, keluarga, dan kelompok khusus,
perawat spesialis komunitas dalam melakukan upaya peningkatan,
perlindungan dan pemulihan status kesehatan masyarakat dapat
menggunakan alternatif model pengorganisasian masyarakat,
yaitu: perencanaan sosial, aksi sosial atau pengembangan
masyarakat. Berkaitan dengan pengembangan kesehatan
masyarakat yang relevan, maka penulis mencoba menggunakan
pendekatan pengorganisasian masyarakat dengan model
pengembangan masyarakat (community development) (Elisabeth,
2007).

1. Kerjasama atau kemitraan (Partnership)


Kemitraan adalah hubungan atau kerja sama antara dua pihak atau
lebih, berdasarkan kesetaraan, keterbukaan dan saling
menguntungkan atau memberikan manfaat. Partisipasi
klien/masyarakat dikonseptualisasikan sebagai peningkatan
inisiatif diri terhadap segala kegiatan yang memiliki kontribusi
pada peningkatan kesehatan dan kesejahteraan (Elisabeth, 2007).

Kemitraan antara perawat komunitas dan pihak-pihak terkait


dengan masyarakat digambarkan dalam bentuk garis hubung
antara komponen-komponen yang ada. Hal ini memberikan
pengertian perlunya upaya kolaborasi dalam mengkombinasikan
keahlian masing-masing yang dibutuhkan untuk mengembangkan
strategi peningkatan kesehatan masyarakat (Elisabeth, 2007).

1. Pemberdayaan (Empowerment)
Konsep pemberdayaan dapat dimaknai secara sederhana sebagai
proses pemberian kekuatan atau dorongan sehingga membentuk
interaksi transformatif kepada masyarakat, antara lain: adanya
dukungan, pemberdayaan, kekuatan ide baru, dan kekuatan
mandiri untuk membentuk pengetahuan baru (Elisabeth, 2007).

Perawat komunitas perlu memberikan dorongan atau


pemberdayaan kepada masyarakat agar muncul partisipasi aktif
masyarakat. Membangun kesehatan masyarakat tidak terlepas dari
upaya-upaya untuk meningkatkan kapasitas, kepemimpinan dan
partisipasi masyarakat (Elisabeth, 2007).

Sasaran dari perawatan kesehatan komunitas adalah individu,


keluarga, kelompok khusus, komunitas baik yang sehat maupun
sakit yang mempunyai masalah kesehatan atau perawatan
(Effendy, 1998), sasaran ini terdiri dari :

1. Individu
Individu adalah anggota keluarga yang unik sebagai kesatuan utuh
dari aspek biologi, psikologi, social dan spiritual. Peran perawat
pada individu sebagai klien, pada dasarnya memenuhi kebutuhan
dasarnya mencakup kebutuhan biologi, social, psikologi dan
spiritual karena adanya kelemahan fisik dan mental, keterbatasan
pengetahuan, kurang kemauan menuju kemandirian pasien/klien.
1. Keluarga
Keluarga merupakan sekelompok individu yang berhubungan erat
secara terus menerus dan terjadi interaksi satu sama lain baik
secara perorangan maupun secara bersama-sama, di dalam
lingkungannya sendiri atau masyarakat secara keseluruhan.
Keluarga dalam fungsinya mempengaruhi dan lingkup kebutuhan
dasar manusia dapat dilihat pada Hirarki Kebutuhan Dasar
Maslow yaitu kebutuhan fisiologis, rasa aman dan nyaman, dicintai
dan mencintai, harga diri dan aktualisasi diri.

1. Kelompok khusus
Kelompok khusus adalah kumpulan individu yang mempunyai
kesamaan jenis kelamin, umur, permasalahan, kegiatan yang
terorganisasi yang sangat rawan terhadap masalah kesehatan.

1. Tingkat Komunitas
Pelayanan asuhan keperawatan berorientasi pada individu,
keluarga dilihat sebagai satu kesatuan dalam komunitas. Asuhan
ini diberikan untuk kelompok beresiko atau masyarakat wilayah
binaan. Pada tingkat komunitas, asuhan keperawatan komunitas
diberikan dengan mamandang komunitas sebagai klien.

1. PERAN PERAWAT KOMUNITAS (PROVIDER OF NURSING


CARE)
Banyak peranan yang dapat dilakukan oleh perawat kesehatan
masyarakat diantaranya adalah :

1. Sebagai penyedia pelayanan (Care provider)


Memberikan asuhan keperawatan melalui mengkaji masalah
skeperawatan yang ada, merencanakan tindakan keperawatan,
melaksanakan tindakan keperawatan dan mengevaluasi pelayanan
yang telah diberikan kepada individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat.
1. Sebagai Pendidik dan konsultan (Nurse Educator and
Counselor)
Memberikan pendidikan kesehatan kepada individu, keluarga,
kelompok dan masyarakat baik di rumah, puskesmas, dan di
masyarakat secara terorganisir dalam rangka menanamkan
perilaku sehat, sehingga terjadi perubahan perilaku seperti yang
diharapkan dalam mencapai derajat kesehatan yang optimal.

Konseling adalah proses membantu klien untuk menyadari dan


mengatasi tatanan psikologis atau masalah sosial untuk
membangun hubungan interpersonal yang baik dan untuk
meningkatkan perkembangan seseorang. Di dalamnya diberikan
dukungan emosional dan intelektual.

Proses pengajaran mempunyai 4 komponen yaitu : pengkajian,


perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Hal ini sejalan dengan
proses keperawatan dalam fase pengkajian seorang perawat
mengkaji kebutuhan pembelajaran bagi pasien dan kesiapan untuk
belajar. Selama perencanaan perawat membuat tujuan khusus dan
strategi pengajaran. Selama pelaksanaan perawat menerapkan
strategi pengajaran dan selama evaluasi perawat menilai hasil yang
telah didapat (Mubarak, 2005).

1. Sebagai Panutan (Role Model)


Perawat kesehatan masyarakat harus dapat memberikan contoh
yang baik dalam bidang kesehatan kepada individu, keluarga,
kelompok dan masyarakat tentang bagaimana tata cara hidup sehat
yang dapat ditiru dan dicontoh oleh masyarakat.

1. Sebagai pembela (Client Advocate)


Pembelaan dapat diberikan kepada individu, kelompok atau
tingkat komunitas. Pada tingkat keluarga, perawat dapat
menjalankan fungsinya melalui pelayanan sosial yang ada dalam
masyarakat. Seorang pembela klien adalah pembela dari hak-hak
klien. Pembelaan termasuk di dalamnya peningkatan apa yang
terbaik untuk klien, memastikan kebutuhan klien terpenuhi dan
melindungi hak-hak klien (Mubarak, 2005).

Tugas perawat sebagai pembela klien adalah bertanggung jawab


membantu klien dan keluarga dalam menginterpretasikan
informasi dari berbagai pemberi pelayanan dan dalam
memberikan informasi hal lain yang diperlukan untuk mengambil
persetujuan (Informed Concent) atas tindakan keperawatan yang
diberikan kepadanya. Tugas yang lain adalah mempertahankan
dan melindungi hak-hak klien, harus dilakukan karena klien yang
sakit dan dirawat di rumah sakit akan berinteraksi dengan banyak
petugas kesehatan (Mubarak, 2005).

1. Sebagai Manajer kasus (Case Manager)


Perawat kesehatan masyarakat diharapkan dapat mengelola
berbagai kegiatan pelayanan kesehatan puskesmas dan masyarakat
sesuai dengan beban tugas dan tanggung jawab yang dibebankan
kepadanya.

1. Sebagai kolaborator
Peran perawat sebagai kolaborator dapat dilaksanakan dengan cara
bekerjasama dengan tim kesehatan lain, baik dengan dokter, ahli
gizi, ahli radiologi, dan lain-lain dalam kaitanya membantu
mempercepat proses penyembuhan klien Tindakan kolaborasi atau
kerjasama merupakan proses pengambilan keputusan dengan
orang lain pada tahap proses keperawatan. Tindakan ini berperan
sangat penting untuk merencanakan tindakan yang akan
dilaksanakan (Mubarak, 2005).

1. Sebagai perencana tindakan lanjut (Discharge Planner)


Perencanaan pulang dapat diberikan kepada klien yang telah
menjalani perawatan di suatu instansi kesehatan atau rumah
sakit. Perencanaan ini dapat diberikan kepada klien yang sudah
mengalami perbaikan kondisi kesehatan.

1. Sebagai pengidentifikasi masalah kesehatan (Case Finder)


Melaksanakan monitoring terhadap perubahan-perubahan yang
terjadi pada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat yang
menyangkut masalah-masalah kesehatan dan keperawatan yang
timbul serta berdampak terhadap status kesehatan melalui
kunjungan rumah, pertemuan-pertemuan, observasi dan
pengumpulan data.

1. Koordinator Pelayanan Kesehatan (Coordinator of Services)


Peran perawat sebagai koordinator antara lain mengarahkan,
merencanakan dan mengorganisasikan pelayanan kesehatan yang
diberikan kepada klien. Pelayanan dari semua anggota tim
kesehatan, karena klien menerima pelayanan dari banyak
profesional (Mubarak, 2005).

1. Pembawa perubahan atau pembaharu dan pemimpin (Change


Agent and Leader)
Pembawa perubahan adalah seseorang atau kelompok yang
berinisiatif merubah atau yang membantu orang lain membuat
perubahan pada dirinya atau pada sistem. Marriner torney
mendeskripsikan pembawa peubahan adalah yang
mengidentifikasikan masalah, mengkaji motivasi dan kemampuan
klien untuk berubah, menunjukkan alternative, menggali
kemungkinan hasil dari alternatif, mengkaji sumber daya,
menunjukkan peran membantu, membina dan mempertahankan
hubungan membantu, membantu selama fase dari proses
perubahan dan membimibing klien melalui fase-fase ini (Mubarak,
2005).

Peningkatan dan perubahan adalah komponen essensial dari


perawatan. Dengan menggunakan proses keperawatan, perawat
membantu klien untuk merencanakan, melaksanakan dan menjaga
perubahan seperti : pengetahuan, ketrampilan, perasaan dan
perilaku yang dapat meningkatkan kesehatan (Mubarak, 2005).

1. Pengidentifikasi dan pemberi pelayanan komunitas (Community


Care Provider And Researcher)
Peran ini termasuk dalam proses pelayanan asuhan keperawatan
kepada masyarakat yang meliputi pengkajian, perencanaan,
pelaksanaan dan evaluasi masalah kesehatan dan pemecahan
masalah yang diberikan. Tindakan pencarian atau
pengidentifikasian masalah kesehatan yang lain juga merupakan
bagian dari peran perawat komunitas.

1. KONSEP MASALAH KESEHATAN KOMUNITAS


A. Kesehatan Lingkungan
Lingkungan dapat didefinisikan sebagai tempat pemukiman
dengan segala sesuatunya dimana organisme hidup beserta segala
keadaan dan kondisi yang secara langsung maupun tidak langsung
disuga ikut mempengaruhi tingkat kehidupan maupun kesehatan
dari organisme tersebut (Efendi, 2009).

Kesehatan lingkungan dapat dijabarkan sebagai suatu kondisi


lingkungan yang mampu menopang keseimbangan ekologi yang
dinamis antara manusia dan lingkungannyauntuk mendukung
tercapainya kualitas hidup manusia yang sehat dan bahagia
(Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia). Menurut
WHO (2005), lingkungan merupakan suatu keseimbangan ekologi
yang harus ada antara manusia dengan lingkungan agar dapat
menjamin keadaan sehat dari manusia (Efendi, 2009).

Kesehatan lingkungan pada hakekatnya adalah suatu kondisi atau


keadaan lingkungan yang optimal sehingga mempengaruhi
dampak positif terhadap terwujudnya status kesehatan yang
optimal pula (Efendi, 1998).
Dalam mengatasi masalah kesehatan lingkungan, Pemerintah
menggalakkan Program Nasional Sanitasi Total Berbasis
Masyarakat (STBM). Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM)
Merupakan Program Nasional yang bersifat lintas sektoral di
bidang sanitasi. Program Nasional STBM dicanangkan oleh
Menteri Kesehatan RI pada Agustus 2008.

Tujuan dari Program Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat


(STBM) adalah menurunkan kejadian diare melalui intervensi
terpadu dengan menggunakan pendekatan sanitasi total. Sanitasi
total adalah kondisi ketika suatu komunitas:

1. Tidak buang air besar (BAB) sembarangan.


2. Mencuci tangan pakai sabun.
3. Mengelola air minum dan makanan yang aman.
4. Mengelola sampah dengan benar.
5. Mengelola limbah cair rumah tangga dengan aman.
Menurt WHO, terdapat 17 ruang lingkup kesehatan lingkungan
yaitu sebagai berikut:

1. Penyediaan air minum


2. Pengelolaan air buangan (limbah) dan pengendalian
pencemaran
3. Pembuangan sampah padat
4. Pengendalian vector
5. Pencegahan atau pengandalian pencemaran tanah oleh ekskreta
manusia
6. Higiene makanan, termasuk higiene susu
7. Pengendalian pencemaran udara
8. Pengendalian radiasi
9. Kesehatan kerja
10. Pengendalian kebisingan
11. Perumahan dan pemukiman
12. Aspek kesehatan lingkungan dan transportasi udara
13. Perencanaan daerah dan perkotaan
14. Pencegahan kecelakaan
15. Rekreasi umum dan pariwisata
16. Tindakan-tindakan sanitasi yang berhubungan dengan
keadaan epidemi (wabah), bencana alam dan perpindahan
penduduk
17. Tindakan pencegahan yang diperlukan untuk menjamin
lingkungan
Menurut pasal 22 ayat 3 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992,
terdapat delapan ruang lingkup kesehatan lingkungan yaitu
sebagai berikut:

1. Penyehatan air dan udara


2. Pengamanan limbah padat atau sampah
3. Pengamanan limbah cair
4. Pengamanan limbah gas
5. Pengamanan radiasi
6. Pengamanan kebisingan
7. Pengamanan vektor penyakit
8. Penyehatan dan pengamanan lainnya seperti pada situasi pasca
bencana
1. Perilaku Masyarakat
Perilaku adalah respon individu terhadap suatu stimulus atau
suatu tindakan yang dapat diamati dan mempunyai frekuensi
spesifik, durasi dan tujuan baik disadari maupun tidak. Perilaku
merupakan kumpulan berbagai faktor yang saling berinteraksi
(Wawan, 2010).

Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah suatu respon seseorang


terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit,
sistem pelayanan kesehatan , makanan serta lingkungan. Batasan
ini mempunyai 2 unsur pokok, yakni respon dan stimulus atau
perangsangan. Respon atau reaksi manusia, baik bersifat pasif
(pengetahuan, persepsi dan sikap) maupun bersifat aktif (tindakan
yang nyata atau practice). Sedangkan stimulus atau rangsangan
disini terdiri dari 4 unsur pokok, yakni: sakit dan penyakit, sisitem
pelayanan kesehatan, makanan dan lingkungan (Wawan, 2010).

Perilaku yang mempengaruhi kesehatan dapat digolongkan dalam


dua kategori (Wawan, 2010), yaitu:

1. Perilaku yang terwujud secara sengaja dan sadar


2. Perilaku yang terwujud secara tidak sengaja atau tidak sadar
Ada perilaku-perilaku yang sengaja atau tidak sengaja membawa
manfaat bagi kesehatan individu atau kelompok kemasyarakatan
sebaliknya ada yang disengaja atau tidak disengaja berdampak
merugikan kesehatan (Wawan, 2010).

1. ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS


A. 1. Pengkajian
Pengkajian adalah merupakan upaya pengumpulan data secara
lengkap dan sistematis terhadap masyarakat untuk dikaji dan
dianalisis sehingga masalah kesehatan yang dihadapi oleh
masyarakat baik individu, keluarga atau kelompok yang
menyangkut permasalahan pada fisiologis, psikologis, sosial
elkonomi, maupun spiritual dapat ditentukan. Dalam tahap
pengkajian ini terdapat 5 kegiatan, yaitu : pengumpulan data,
pengolahan data, analisis data, perumusan atau penentuan
masalah kesehatan masyarakat dan prioritas masalah (Mubarak,
2005).

Beberapa teori yang membahas tentang pengkajian


komunitas:

1. Sanders Interactional Framework


Model ini menekankan pada proses interaksi komunitas. Model ini
juga dikenal sebagai model tiga dimensi dengan komponen
pengkajian:
1) Komunitas sebagai system sosial (dimensi system)

2) Masyarakat sebagai tempat (dimensi tempat)

3) Masyarakat sebagai kumpulan/kelompok manusia (dimensi


populasi)

1. Kliens interactional framework


1) Masyarakat sebagai system social

a) Pola komunikasi

b) Pengambilan keputusan

c) Hubungan dengan system lain

d) Batas wilayah

2) Penduduk dan lingkungannya

a) Karakter penduduk (demografi)

b) Faktor lingkungan, biologi dan social

c) Lingkungan psikis (nilai-2, agama, kepercayaan)

1. Community assessment wheel (community as client model)


Pada model ini terdapat 8 komponen yang harus dikaji, ditambah
dengan data inti dari masyarakat itu sendiri (community core)

1) Community core (data inti)

Aspek yang dikaji:

a) Historis dari komunitas, kaji sejarah perkembangan


komunitas

b) Demografi : umur, jenis kelamin, ras, type keluarga, status


perkawinan

c) Vital statistik : angka kelahiran, angka kematian, angka


kesakitan
d) Sistem nilai/norma/kepercayaan dan agama

2) Phisical environment pada komunitas

Sebagaimana mengkaji fisik pada individu. Pengkajian lingkungan


dilakukan dengan metode winshield survey atau survey dgn
mengelilingi wilayah komunitas

3) Pelayanan kesehatan dan social

Pelayanan kesehatan :

a) Hospital

b) Praktik swasta

c) Puskesmas

d) Rumah perawatan

e) Pelayanan kesehatan khusus

f) Perawatan di rumah

g) Counseling support services

h) Pelayanan khusus (social worker)

Dari tempat pelayanan tsb aspek yg didata:

a) Pelayanannya (waktu, ongkos, rencana kerja)

b) Sumber daya (tenaga, tempat, dana & perencanaan)

c) Karakteristik pemakai (penyebaran geografi, gaya hidup,


sarana transportasi)

d) statistik, jumlah pengunjung perhari/ minggu/bulan

e) Kecukupan dan keterjangkauan oleh pemakai dan pemberian


pelayanan

4) Ekonomi
Aspek/komponen yang perlu dikaji:

a) Karakteristik pendapatan keluarga/RT

@ rata-2 pendapatan keluarga/rumah tangga

% pendapatan kelas bawah

% keluarga mendapat bantuan social

% keluarga dengan kepala keluarga wanita

@rata-2 pendapatan perorangan

b) Karakteristik pekerjaan

@ status ketergantungan

JUmlah populasi secara umum (umur > 18 th)

% yg menganggur

% yg bekerja

% yg menganggur terselubung

Jumlah kelompok khusus

@ kategori yang bekerja, jml dan %

5) Keamanan transportasi

a) Keamanan

- Protection service

- Kwalitas udara, air bersih

b) Transportasi (milik pribadi/umum)

6) Politik & Government

- Jenjang pemerintahan

- Kebijakan Dep.Kes
7) Komunikasi

- Formal

- In formal

8) Pendidikan

a) Status pendidikan (lama sekolah, jenis sekolah, bahasa)

b) Fasilitas pendidikan (SD, SMP dll) baik di dalam maupun di


luar komunitas

9) Recreation

Menyangkut tempat rekreasi

Kerangka pengkajian profile masyarakat (modifikasi)


Pengkajian ini merupakan hasil modifikasi dari beberapa teori
sebelumnya tentang pengkajian komunitas

1. Pengumpulan data
Pengumpulan data dimaksudkan untuk memperoleh informasi
mengenai masalah kesehatan pada masyarakat sehingga dapat
ditentukan tindakan yang harus diambil untuk mengatasi masalah
tersebut yang menyangkut aspek fisik, psikologis, sosial ekonomi
dan spiritual serta faktor lingkungan yang mempengaruhi
(Mubarak, 2005).

Pengumpulan data dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

1) Wawancara atau anamnesa

Wawancara adalah kegiatan komunikasi timbal balik yang


berbentuk tanya jawab antara perawat dengan pasien atau keluarga
pasien, masyarakat tentang hal yang berkaitan dengan masalah
kesehatan pasien. Wawancara harus dilakukan dengan ramah,
terbuka, menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah
dipahami oleh pasien atau keluarga pasien, dan selanjutnya hasil
wawancara atau anamnesa dicatat dalam format proses
keperawatan (Mubarak, 2005).

2) Pengamatan

Pengamatan dalam keperawatan komunitas dilakukan meliputi


aspek fisik, psikologis, perilaku dan sikap dalam rangka
menegakkan diagnosa keperawatan. Pengamatan dilakukan
dengan menggunakan panca indera dan hasilnya dicatat dalam
format proses keperawatan (Mubarak, 2005).

3) Pemeriksaan fisik

Dalam keperawatan komunitas dimana salah satunya asuhan


keperawatan yang diberikan adalah asuhan keperawatan keluarga,
maka pemeriksaan fisik yang dilakukan dalam upaya membantu
menegakkan diagnosa keperawatan dengan cara Inspeksi, Perkusi,
Auskultasi dan Palpasi (Mubarak, 2005).

1. Pengolahan data
Setelah data diperoleh, kegiatan selanjutnya adalah pengolahan
data dengan cara sebagai berikut :

1) Klasifikasi data atau kategori data

2) Penghitungan prosentase cakupan

3) Tabulasi data

4) Interpretasi data

1. Analisis data
Analisis data adalah kemampuan untuk mengkaitkan data dan
menghubungkan data dengan kemampuan kognitif yang dimiliki
sehingga dapat diketahui tentang kesenjangan atau masalah yang
dihadapi oleh masyarakat apakah itu masalah kesehatan atau
masalah keperawatan (Mubarak, 2005).
1. Penentuan masalah atau perumusan masalah
kesehatan
Berdasarkan analisa data dapat diketahui masalah kesehatan dan
keperawatan yang dihadapi oleh masyarakat, sekaligus dapat
dirumuskan yang selanjutnya dilakukan intervensi. Namun
demikian masalah yang telah dirumuskan tidak mungkin diatasi
sekaligus. Oleh karena itu diperlukan prioritas masalah (Mubarak,
2005)

1. Prioritas masalah
Dalam menentukan prioritas masalah kesehatan masyarakat dan
keperawatan perlu mempertimbangkan berbagai faktor sebagai
kriteria diantaranya adalah (Mubarak, 2005):

1) Perhatian masyarakat

2) Prevalensi kejadian

3) Berat ringannya masalah

4) Kemungkinan masalah untuk diatasi

5) Tersedianya sumberdaya masyarakat

6) Aspek politis

Seleksi atau penapisan masalah kesehatan komunitas menurut


format Mueke (1988) mempunyai kriteria penapisan, antara lain:

1) Sesuai dengan peran perawat komunitas

2) Jumlah yang beresiko

3) Besarnya resiko

4) Kemungkinan untuk pendidikan kesehatan

5) Minat masyarakat

6) Kemungkinan untuk diatasi


7) Sesuai dengan program pemerintah

8) Sumber daya tempat

9) Sumber daya waktu

10) Sumber daya dana

11) Sumber daya peralatan

12) Sumber daya manusia

1. 2. Diagnosis Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah respon individu pada masalah
kesehatan baik yang aktual maupun potensial. Masalah aktual
adalah masalah yang diperoleh pada saat pengkajian, sedangkan
masalah potensial adalah masalah yang mungkin timbul kemudian.
Jadi diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang jelas,
padat dan pasti tentang status dan masalah kesehatan yang dapat
diatasi dengan tindakan keperawatan. Dengan demikian diagnosis
keperawatan ditetapkan berdasarkan masalah yang ditemukan.
Diagnosa keperawatan akan memberi gambaran masalah dan
status kesehatan masyarakat baik yang nyata (aktual), dan yang
mungkin terjadi (Mubarak, 2009).

1. 3. Rencana Asuhan Keperawatan


Perencanaan keperawatan adalah penyusunan rencana tindakan
keperawatan yang akan dilaksanakan untuk mengatasi masalah
sesui dengan diagnosis keperawatan yang telah ditentukan dengan
tujuan terpenuhinya kebutuhan klien (Mubarak, 2009). Jadi
perencanaan asuhan keperawatan kesehatan masyarakat disusun
berdasarkan diagnosa keperawatan yang telah ditetapkan dan
rencana keperawatan yang disusun harus mencakup perumusan
tujuan, rencana tindakan keperawatan yang akan dilakukan dan
kriteria hasil untuk menilai pencapaian tujuan (Mubarak, 2009).
Langkah-langkah dalam perencanaan keperawatan kesehatan
masyarakat antara lain sebagai berikut:

1. Identifikasi alternatif tindakan keperawatan


2. Tetapkan tehnik dan prosedur yang akan digunakan
3. Melibatkan peran serta masyarakat dalam menyusun
perencanaan melalui kegiatan musyawarah masyarakat desa
atau lokakarya mini
4. Pertimbangkan sumber daya masyarakat dan fasilitas yang
tersedia
5. Tindakan yang akan dilaksanakan harus dapat memenuhi
kebutuhan yang sangat dirasakan masyarakat
6. Mengarah kepada tujuan yang akan dicapai
7. Tindakan harus bersifat realistis
8. Disusun secara berurutan
1. 4. Implementasi
Pelaksanaan merupakan tahap realisasi dari rencana asuhan
keperawatan yang telah disusun. Dalam pelaksanaan tindakan
keperawatan, perawat kesehatan masyarakat harus bekerjasama
dengan anggota tim kesehatan lainya. Dalam hal ini melibatkan
pihak Puskesmas, Bidan desa dan anggota masyarakat (Mubarak,
2009). Prinsip yang umum digunakan dalam pelaksanaan atau
implementasi pada keperawatan komunitas adalah:

1. Inovative
Perawat kesehatan masyarakat harus mempunyai wawasan luas
dan mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan tehnologi (IPTEK) dan berdasar pada iman dan
taqwa (IMTAQ) (Mubarak, 2009)

1. Integrated
Perawat kesehatan masyarakat harus mampu bekerjasama dengan
sesama profesi, tim kesehatan lain, individu, keluarga, kelompok
dan masyarakat berdasarkan azas kemitraan (Mubarak, 2009).
1. Rasional
Perawat kesehatan masyarakat dalam melakukan asuhan
keperawatan harus menggunakan pengetahuan secara rasional
demi tercapainya rencana program yang telah disusun (Mubarak,
2009).

1. Mampu dan mandiri


Perawat kesehatan masyarakat diharapkan mempunyai
kemampuan dan kemandirian dalam melaksanakan asuhan
keperawatan serta kompeten (Mubarak, 2009).

1. Ugem
Perawat kesehatan masyarakat harus yakin dan percaya atas
kemampuannya dan bertindak dengan sikap optimis bahwa asuhan
keperawatan yang diberikan akan tercapai. Dalam melaksanakan
implementasi yang menjadi fokus adalah : program kesehatan
komunitas dengan strategi : komuniti organisasi dan partnership
in community (model for nursing partnership) (Mubarak, 2009).

1. 5. Evaluasi
Evaluasi memuat keberhasilan proses dan keberhasilan tindakan
keperawatan. Keberhasilan proses dapat dilihat dengan
membandingkan antara proses dengan pedoman atau rencana
proses tersebut. Sedangkan keberhasilan tindakan dapat dilihat
dengan membandingkan antara tingkat kemandirian masyarakat
dalam perilaku kehidupan sehari-hari dan tingkat kemajuan
kesehatan masyarakat komunitas dengan tujuan yang telah
ditetapkan atau dirumuskan sebelumnya (Mubarak, 2009).
Kegiatan yang dilakukan dalam penilaian menurut Nasrul Effendi,
1998:

1. Membandingkan hasil tindakan yang dilaksanakan dengan


tujuan yang telah ditetapkan.
2. Menilai efektifitas proses keperawatan mulai dari tahap
pengkajian sampai dengan pelaksanaan.
3. Hasil penilaian keperawatan digunakan sebagai bahan
perencanaan selanjutnya apabila masalah belum teratasi.
4. Perlu dipahami bersama oleh perawat kesehatan masyarakat
bahwa evaluasi dilakukan dengan melihat respon komunitas
terhadap